Categories: Kisah

Kisah Penuh Hikmah Imam Al-Ghazali Bersama Murid-muridnya


Jakarta

Imam Al-Ghazali, atau yang bernama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi An Naysaburi, merupakan salah seorang tokoh tasawuf modern. Dia lahir pada tahun 1059 M di Ghazaleh, sebuah kota yang terletak di dekat Thus, Iran.

Imam Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang pandai dalam ilmu tafsir Al-Qur’an, ilmu hadis, ilmu kalam, dan ilmu filsafat. Sepanjang hidupnya, beliau banyak mengeluarkan pendapat dan nasihat yang penuh hikmah.

Tidak hanya itu, beliau juga memberikan banyak pengajaran melalui kisah hidupnya yang banyak diceritakan di kalangan para penuntut ilmu.


Kisah Nasihat Imam Al-Ghazali kepada Murid-muridnya

Dikutip dari buku Kumpulan Kisah Teladan yang disusun oleh Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA dan H. Zamakhsyari Hasballah, Lc, MA, Ph.D, yang mereka nukil dari kitab Qashash wa Ma’ani, karya Ala’ Sadiq, berikut ini salah satu kisah penuh hikmah dari Imam Al-Ghazali.

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Beliau memulai dengan bertanya:

Pertanyaan pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”

Murid-muridnya memberikan berbagai jawaban seperti orang tua, guru, teman, dan kerabat. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban tersebut benar, namun yang paling dekat dengan kita adalah kematian.

“Sebab itu sudah menjadi janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati,” (QS. Ali Imran: 185), jelas beliau.

Lalu Imam Al-Ghazali melanjutkan dengan pertanyaan kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?

Beberapa murid menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa jawaban mereka benar, tetapi yang paling jauh adalah masa lalu.

“Bagaimanapun kita mencoba, dengan kendaraan apapun, kita tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai ajaran agama,” pesan beliau.

Selanjutnya, Imam Al-Ghazali bertanya, “Apa yang paling besar di dunia ini?

Murid-murid menjawab gunung, bumi, dan matahari. Imam Al-Ghazali mengakui semua jawaban itu benar, tetapi yang paling besar adalah nafsu.

“Sebagaimana firman Allah SWT ‘Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah)…’ (Al-A’raf: 179). Maka, kita harus berhati-hati agar nafsu tidak membawa kita ke neraka,” tegas beliau.

Pertanyaan keempat: “Apa yang paling berat di dunia ini?”

Murid-murid menjawab baja, besi, dan gajah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa jawaban mereka benar, tetapi yang paling berat adalah memegang amanah.

“Sebagaimana firman Allah SWT ‘Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.’ (Al-Ahzab: 72). Sayangnya, banyak manusia yang gagal memegang amanahnya sehingga mereka masuk ke neraka,” jelas Imam Al-Ghazali.

Selanjutnya, Imam Al-Ghazali memberi pertanyaan kelima, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”

Murid-murid menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Imam Al-Ghazali setuju bahwa jawaban itu benar, tetapi beliau menambahkan bahwa yang paling ringan adalah meninggalkan salat.

“Gara-gara pekerjaan, rapat, atau perkumpulan, kita sering meninggalkan salat. Padahal salat adalah kewajiban utama seorang hamba kepada Tuhannya,” kata beliau.

Imam Al-Ghazali lalu melontarkan pertanyaan terakhir, “Apa yang paling tajam di dunia ini?”

Dengan serentak, murid-murid menjawab pedang.

Imam Al-Ghazali membenarkan jawaban tersebut, namun beliau menekankan bahwa yang paling tajam adalah lidah manusia.

“Melalui lidah, manusia dengan mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya. Oleh karena itu, jagalah lidah kita agar tidak menimbulkan keburukan bagi orang lain,” pungkasnya.

Pelajaran-pelajaran dari Imam Al-Ghazali ini mengingatkan kita untuk senantiasa introspeksi diri, menjaga amal perbuatan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari nasihat beliau.

(inf/erd)



Sumber : www.detik.com

detikcom

Recent Posts

Konsumsi 7 Makanan Putih Ini Ampuh Tingkatkan Imunitas Tubuh

Jakarta - Makanan berwarna putih rupanya memiliki manfaat kesehatan. Salah satunya meningkatkan kekebalan tubuh. Berikut…

3 weeks ago

Begini Tips Minum Kopi agar Tekanan Darah Tak Melonjak

Jakarta - Kopi memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, tapi ada beberapa tips ngopi agar tidak…

3 weeks ago

12 Makanan dan Minuman Ini Bisa Bantu Turunkan Kolesterol Lho

Jakarta - Kolesterol tinggi menjadi salah satu momok menakutkan bagi banyak orang. Tidak hanya pada…

3 weeks ago

5 Perbedaan Yoghurt dan Greek Yoghurt, Mana Lebih Sehat?

Jakarta - Ada banyak jenis yoghurt yang bisa ditemukan di supermarket. Ternyata antara yoghurt dan…

3 weeks ago

8 Kebiasaan Minum yang Dapat Mencegah Perut Buncit, Cobain Yuk!

Jakarta - Memiliki pola makan yang tidak sehat dan jarang olahraga membuat perut jadi mudah…

3 weeks ago

10 Manfaat Kopi Hitam Tanpa Gula untuk Kesehatan

Jakarta - Kopi hitam adalah minuman kopi tanpa gula, krim, susu, atau tambahan pemanis apa…

3 weeks ago