Author: detikcom

  • Ini Putri Nabi Muhammad SAW yang Menikah Beda Agama


    Jakarta

    Melalui pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid RA, Rasulullah SAW memiliki 7 keturunan yang terdiri dari putra maupun putri. Salah satu putrinya tersebut dikisahkan menikah dengan pria yang berbeda agama.

    Dialah Sayyidah Zainab RA, putri sulung Rasulullah SAW dalam pernikahannya dengan Khadijah RA. Dikisahkan, Zainab RA menikahi salah seorang pemuka Quraisy yang bernama Abul Ash atau Abu Al Ash bin Rabi.

    Menurut buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam karya Bassam Muhammad Hamami, Zainab bernama lengkap Zainab binti Muhammad al-Amin bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyah. Saat itu, Zainab dilahirkan saat Rasulullah SAW berusia 30 tahun atau sekitar 23 tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah.


    Hari demi hari tahun demi tahun berlalu. Zainab RA tumbuh menjadi gadis dewasa. Hingga datanglah Abu Al Ash Bin Rabi untuk melamar.

    Pernikahan Beda Agama Putri Rasulullah SAW

    Dilansir dari buku Khadijah: Cinta Sejati Rasulullah karya Abdul Mun’im Muhammad Umar disebutkan, saat Zainab RA telah memasuki usia untuk menikah, banyak orang tua dari kaum Quraisy menginginkan anak lelakinya menikahi Zainab RA.

    Hal ini lantaran Zainab RA adalah anak dari seorang yang dikenal paling jujur dan terpercaya yaitu Rasulullah SAW, serta menikahi Zainab RA artinya menjadi bagian dari keluarga yang terhormat di kota.

    Hingga kemudian, Khadijah RA ingat bahwa saudaranya, Halah binti Khuwailid, mempunyai anak laki-laki yang seumuran dengan Zainab RA, bernama Abu Al Ash bin Rabi. Pemuda tersebut juga dikenal akan kejujurannya, sukses dalam berdagang, dan sifatnya yang bisa dipercaya.

    Selanjutnya, Khadijah RA menemui Rasulullah SAW untuk menceritakan perihal Abu Al Ash yang ingin meminang Zainab RA.

    Tidak diketahui apakah Abu Al Ash datang bersama keluarganya atau sendirian. Namun, Rasulullah SAW menyambut pinangannya dengan terbuka.

    Pernikahan antara Zainab RA dan Abul Ash dilaksanakan setahun sebelum turunnya wahyu atau sebelum masa kenabian Rasulullah SAW Pada pernikahan itu Khadijah RA menghadiahkan sebuah kalung kepada Zainab RA.

    Gejolak Pernikahan Zainab RA dan Abu Al Ash

    Melansir buku Perempuan-Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah karya Muhammad Ibrahim Salim disebutkan, meski wahyu kenabian sudah diturunkan kepada Rasulullah SAW, Abu Al Ash tetap mempertahankan kepercayaan nenek moyang dengan menyembah berhala.

    Pernikahan keduanya menjadi pernikahan beda agama hingga perpisahan mereka berdua tidak bisa dihindari. Pada masa hijrah ketika kaum muslimin pergi menuju Madinah, Zainab RA termasuk rombongan yang hijrah ke Madinah.

    Suatu hari peperangan kaum kafir Quraisy dengan umat Islam pun terjadi, dalam rombongan kaum kafir Quraisy juga terdapat Abu Al Ash. Peperangan terus berlanjut hingga umat Islam berhasil meraih kemenangan.

    Abu Al Ash termasuk dalam tawanan kaum muslimin Ketika kaum Quraisy menebus para tawanan dengan harta mereka, Zainab RA pun mengirim harta dan kalungnya untuk menebus suaminya, Abu Al Ash bin Rabi.

    Ketika melihat kalung itu, hati Rasulullah SAW tersentuh sambil berkata kepada para sahabat, “Jika kalian berpendapat untuk membebaskan tawanan Zainab, dan mengembalikan uang tebusannya maka lakukanlah.”

    Para sahabat menjawab, “Baik wahai Rasulullah SAW.” Dibebaskanlah Abu Al Ash, dan dikembalikan uang tebusan Zainab RA.

    Hukum Islam melarang seorang wanita mukmin tidak boleh menikahi laki-laki kafir. Abu Al Ash yang mendengarnya kemudian menyetujui hal tersebut. Ketika kembali ke Makkah keluarga Abul Ash berkata, “Biarlah engkau menceraikan istrimu itu, dan kami akan mencarikan bagimu gadis yang jauh lebih cantik daripadanya.”

    Keduanya pun berpisah. Abu Al Ash melepaskan Zainab RA ke Madinah. Hingga pada akhirnya, dikutip dalam buku 40 Putri Terhebat, Bunda Terkuat karya Tethy Ezokanzo Abu Al Ash diberi hidayah oleh Allah SWT dan masuk Islam.

    Abu Al Ash kembali menyusul Zainab RA pada tahun ke 7 Hijriah. Rasulullah SAW sangat senang menerima menantunya kembali.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ibu Pengasuh Rasulullah SAW yang Dijaminkan Surga


    Jakarta

    Semasa hidup Rasulullah SAW telah menjadi seorang yatim piatu sejak kecil, sebab itu kakeknya mencarikan seorang ibu pengasuh. Salah satu nama pengasuh Rasulullah SAW adalah Ummu Aiman. Sosok yang sekaligus bertugas untuk membantu dan menemani perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

    Dilansir dari buku Berbakti kepada Orang Tua karya Muhammad Al-Fahham, Ummu Aiman selalu mendampingi Rasulullah SAW sejak anak-anak hingga beliau menjadi dewasa sebagai orang tua asuh. Ummu Aiman selalu menjaga dan memperhatikan Rasulullah SAW.

    Melalui kedekatan tersebut, Nabi Muhammad SAW pun bisa melihat bayangan ibu kandung yang tidak pernah hilang dari ingatannya. Dikisahkan, Rasulullah SAW pernah bersabda:


    أُمُّ أَيْمَنَ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي

    Artinya: “Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibu (kandung)-ku.”

    Rasulullah SAW juga selalu memanggil Ummu Aiman dengan sebutan “Wahai ibu.” Apabila beliau menatapnya maka beliau selalu mengatakan, “Ini adalah (anggota) keluargaku yang masih tersisa.”

    Muslim meriwayatkan dari Anas RA, dikisahkan saat itu Rasulullah SAW pergi menemui Ummu Aiman. Sang ibu pengasuh itu kemudian memberikan wadah yang berisi minuman kepada Rasulullah SAW.

    Namun, Ummu Aiman memberikan minuman tersebut dengan nada yang cenderung memaksa sebab Rasulullah SAW tidak meminumnya. Disebutkan Anas RA, entah Ummu Aiman tidak tahu bila Rasulullah SAW sedang berpuasa atau beliau tidak menginginkan minuman tersebut.

    Syekh Mansur ‘Ali Nashif pernah menjelaskan maksud dari hadits tersebut. Disebutkan, hadits tersebut menunjukkan betapa tingginya kedudukan Ummu Aiman di sisi Rasulullah.

    Melansir buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam karya Bassam Muhammad Hamami dijelaskan setelah Rasulullah SAW menikah dengan Sayyidah Khadijah RA, beliau kemudian memerdekakan Ummu Aiman sebagai bentuk pengorbanan dan penghormatan atas ketulusan dan kebaikan selama mendidik dan membesarkannya.

    Selanjutnya, Ummu Aiman pun mendeklarasikan untuk masuk Islam dan menjadi muslimah yang baik dan taat agama. Ummu Aiman bahkan termasuk dalam deretan wanita pertama yang ikut hijrah ke Habsyah dan Madinah.

    Ummu Aiman Wanita yang Istimewa

    Masih melansir sumber sebelumnya, pada saat hijrah ke Madinah Al Munawwarah, kala itu Ummu Aiman berpuasa dan bangun malam. Wanita itu pun melanjutkan hijrah dengan berjalan kaki. Ia tidak membawa minum atau bekal sehingga kehausan karena panas yang menyengat menyiksanya.

    Tiba waktu berbuka, saat matahari terbenam Allah SWT turunkan karamah yang besar dan tidak bisa terlihat oleh seseorang pun yang berjalan bersamanya. Dikisahkan, Allah SWT menurunkan ember berisi air, Ummu Aiman segera mengambil ember itu dan meminum airnya.

    Ummu Aiman juga ternyata mempunyai kedudukan istimewa di sisi Rasulullah SAW, karena ia adalah satu-satunya keluarga beliau yang masih hidup. Kalimat di atas didukung oleh sabda Rasulullah SAW setiap melihat Ummu Aiman, “Ini ahli baitku yang masih ada,” serta kabar bahagia saat Nabi Muhammad SAW mengabarkan kepada Ummu Aiman akan kedudukanya di surga, “Siapa yang ingin menikahi seorang wanita penduduk surga, maka hendaklah ia menikahi Ummu Aiman.”

    Zaid bin Haritsah mendengar ucapan beliau, dan segera meminang dan menikahi Ummu Aiman. Lalu, dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang anak bernama Usamah bin Zaid.

    Selain itu, bahkan saat di usia yang sudah tuanya dan kesehatannya menurun, Ummu Aiman tidak pernah sekalipun melewatkan bergabung dengan pasukan Islam dan berperang dengan musuh-musuh Allah SWT.

    Ummu Aiman tercatat ikut dalam perang Uhud, perang Khaibar, dirinya bersama pasukan wanita menyediakan air minum dan mengobati prajurit yang terluka.

    Begitulah kisah Ummu Aiman pengasuh Rasulullah SAW. Berkat ketulusannya dalam mendidik dan membesarkan Nabi Muhammad SAW, dia pun menjadi budak merdeka. Hingga sampai masuk Islam dan telah dikabarkan sebagai salah satu penghuni surga.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang Sering Mengingat Kematian



    Jakarta

    Umar bin Abdul Aziz merupakan salah satu khalifah Bani Umayyah. Ia merupakan keturunan dari Umar bin Khattab dari ibunya.

    Menurut buku Sejarah Peradaban Islam susunan Akhmad Saufi dan Hasmi Fadillah, nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abu Al-Ash bi Umayyah bin Abd Syams bin Manaf. Ayahnya bernama Abdul Aziz bin Marwan yang tak lain seorang gubernur Mesir.

    Ia lahir pada 61 H di Madinah, tepatnya pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah dan memiliki 4 saudara kandung serta 6 saudara lain ibu.


    Dikisahkan dalam buku Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi susunan Siti Nurlaela, jabatan khalifah yang diperoleh Umar bin Abdul Aziz didasarkan atas wasiat sang sepupu, Sulaiman bin Abdul Malik yang merupakan khalifah Bani Umayyah sebelumnya.

    Meski demikian, mulanya Umar bin Abdul Aziz menolak menjadi khalifah. Ia ingin agar rakyat memilih sendiri pemimpinnya sehingga diadakan pemungutan suara.

    Hasilnya, Umar bin Abdul Aziz mendapat suara yang bulat dari rakyatnya. Setelah itu, barulah ia menerima jabatan khalifah.

    “Wahai, rakyatku! Patuhilah aku selama aku patuh kepada Allah dalam memimpin kalian. Jangan sekali-kali kalian patuhi aku jika aku telah melenceng dari ajaran-Nya.
    Sesungguhnya, aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Akan tetapi, aku adalah orang yang paling berat tanggung jawabnya di antara kalian!” serunya lantang.

    Umar bin Abdul Aziz menganggap jabatannya sebagai amanah dari rakyat. Kelak, ia akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah SWT.

    Bahkan, Umar bin Abdul Aziz sering menangis apabila mengingat tanggung jawabnya. Selain itu, ia merupakan sosok yang kerap mengingat kematian.

    Setiap malam, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para ulama. Di sana, mereka membicarakan kematian dan keadaan di akhirat kelak.

    Apabila larut dalam percakapan tersebut, mereka menangis seolah-olah ada jenazah di dekat mereka. Pada waktu lain, Umar bin Abdul Aziz tengah duduk di sisi sahabatnya.

    “Aku selalu merenung setiap malam, sampai-sampai aku sulit tidur,” kata Umar bin Abdul Aziz.

    “Apa yang engkau renungkan?” tanya sahabatnya.

    “Tentang kubur dan penghuninya,” jawab sang khalifah.

    Ia lalu menjelaskan, ketika seseorang wafat maka tiga hari setelah dimakamkan tubuhnya mulai membusuk. Bau tak sedap meruap di dalam liang diikuti belatung dan cacing yang berpesta pora menyantap jasad dengan nikmat. Kemudian, kafan yang semula putih berubah menjadi kotor hingga berujung rusak.

    “Andai aku menyaksikan semua itu,” katanya. Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Umar bin Abdul Aziz pingsan.

    Suatu ketika ia melihat iring-iringan orang yang mengantar jenazah. Matahari pada saat itu bersinar terik, angin pun bertiup kencang hingga debu-debu beterbangan.

    Beberapa orang menyingkir, mereka mencari tempat berteduh agar terhindar dari debu dan sengatan terik matahari. Menyaksikan hal tersebut, Umar bin Abdul Aziz tampak sedih dan bersyair:

    Barang siapa takut akan cacat dan kusut
    ketika matahari atau debu menimpa keningnya
    dan ia berteduh di bawah naungan agar tetap rupawan
    suatu hari kelak ia akan hina dan tinggal dalam kubur

    Dalam ruangan yang gelap berdebu dan menakutkan
    ia akan lama berada dalam ruangan itu di bawah tanah
    Wahai jiwa, bersiap-siaplah sebelum mati dengan perbekalan
    yang menyampaikanmu padanya
    Tidaklah engkau diciptakan sia-sia begitu saja

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Wahsyi, Pembunuh Paman Rasulullah yang Tobat dan Masuk Islam



    Jakarta

    Pada perang Uhud Rasulullah SAW bersama para sahabatnya berjuang untuk memerangi kaum kafir Quraisy. Tetapi suatu ketika seorang budak bernama Wahsyi mengincar Hamzah (Paman Rasulullah SAW). Setelah menunggu dalam waktu yang tepat, dia berhasil membuat Hamzah syahid di tempat. Inilah kisah Wahsyi si pembunuh Hamzah yang masuk Islam.

    Dari buku 99 Kisah Menakjubkan Sahabat Nabi karya Tethy Ezokanzo seorang budak bernama Wahsyi bin Harb RA milik Jubair bin Muth’im. Suatu ketika Jubair ini menjanjikan kemerdekaan kepada Wahsyi asalkan bisa membunuh Hamzah.

    Kebencian orang-orang kafir Quraisy terjadi setelah berlangsungnya perang Badar. Hal ini karena banyaknya anggota keluarga mereka yang menjadi korban kekalahan. Termasuk korbannya adalah Thu’aimah bin Adi bin Al Khiyar sebagai paman Jubair bin Muth’im.


    Kemudian Jubair memerintahkan Wahsyi untuk membunuh salah seorang diantara Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA, dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

    Wahsyi pun menyanggupi untuk membunuh Hamzah, dia berkata:

    “Aku tidak mampu mendekati Muhammad karena para sahabatnya selalu berada di sampingnya. Sedangkan Ali, ia selalu waspada dalam medan perang. Aku akan membunuh Hamzah karena ada kemungkinan aku akan menjatuhkannya saat dia lengah.”

    Jubair dengan senang akan ucapan Wahsyi dan segera membawanya ke medan perang uhud.

    Ketika perang Uhud tiba, sembari bersembunyi di balik pepohonan dan bebatuan, dia terus mengintai Hamzah. Saat perang, Hamzah begitu sibuk seperti singa yang marah. Wahsyi terus menunggu momen yang tepat.

    Waktu yang tepat pun datang, Wahsyi langsung melempar pisaunya hingga mengenai pinggang Hamzah sampai menembus bawah selangkangnya. Hamzah mencoba menyerang balik Wahsyi. Namun karena lukanya dia mengurungkan niatnya kembali, sampai ajal tiba menjemput Hamzah.

    Kemudian Wahsyi mengambil pisau itu dan kembali kepada kaum Quraisy. Namun bukannya senang Wahsyi malah merasa tidak tenang, dia terus gelisah karena perbuatannya itu.

    Wahsyi Memeluk Islam

    Dari buku Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi karya Siti Nurlaela dijelaskan bahwa pasukan Islam berhasil menaklukan Makkah, Wahsyi pun mengungsi ke Thaif. Namun Thaif juga telah dikuasai umat Islam.

    Sampai Wahsyi berpikir, “Aku mendengar kabar bahwa sebesar apapun dosa seseorang, jika ia bertobat maka dosanya akan diampuni.”

    Lantas Wahsyi menemui Rasulullah SAW dan mengucapkan syahadat. Rasulullah SAW menatap Wahsyi dan bertanya, “Apakah engkau Wahsyi yang telah membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib?”

    Wahsyi mengangguk. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Bagaiman engkau dapat membunuhnya?”

    Wahsyi pun menjawab, “Selama Hamzah berperang aku terus mengintainya. Ketika ia lengah, kulemparkan tombakku ke tubuhnya.” Wahsyi berkata dengan penyesalannya.

    Rasulullah SAW seketika berpaling, beliau enggan melihat wajah Wahsyi lagi. Dan sejak saat itu Wahsyi tidak berani mendekati Nabi Muhammad SAW. Ia takut membuat Rasulullah SAW sedih. Hingga dalam hatinya Wahsyi bertekad menebus kesalahannya.

    Wahsyi Membunuh Musailamah Al-Khazab

    Saat terlibat dalam pertempuran melawan Musailamah al-Kadzab, penguasa Yamamah, Wahsyi turut serta dengan membawa pisau yang pernah ia gunakan untuk menghabisi Hamzah. Ketika kedua belah pihak telah saling berhadapan, Wahsyi melihat Musailamah al-Kadzab berdiri dengan pedangnya tersiap. Meskipun Wahsyi tidak mengenalnya, Wahsyi bersiap-siap untuk mengincarnya dengan pisaunya. Namun, dalam waktu yang sama, seorang Anshar juga bersiap-siap dari arah lain, tampaknya kami berdua memiliki niat yang sama untuk menyerangnya. Wahsyi mencari posisi yang tepat, kemudian melemparkan pisau hingga mengenainya. Orang Anshar tersebut juga maju menyerang dan berhasil menyabetnya dengan pedangnya.

    “Tuhanmu lebih tahu siapa yang telah membunuhnya. Jika akulah yang menewaskannya, berarti aku telah membunuh sebaik-baik manusia dan seburuk-buruk manusia setelah Rasulullah.”

    Abdullah bin Fadhl bercerita kepada Ibnu Ishaq dari Sulaiman bin Yasar, dari Abdullah bin Umar bin Khaththab, yang ikut dalam Perang Yamamah, “Saat itu aku mendengar seseorang berteriak: ‘Musailamah al-Kadzab telah dibunuh oleh budak hitam’!”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Meninggalnya Husain bin Ali, Cucu Kesayangan Rasulullah SAW


    Jakarta

    Pernikahan Ali bin Abi Thalib RA dan Fatimah Az-Zahra RA dikaruniai dua orang putra bernama Hasan dan Husain. Kedua putra mereka adalah orang yang beriman dan taat kepada Allah SWT. Namun suatu hari insiden besar bernama Karbala menewaskan Husain. Berikut kisahnya.

    Nama lengkap Husain bin Ali adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusyai al-Qurasyi al-Hasyimi. Sayyidina Husain RA. lahir pada 3 Sya’ban 5 H/8 Januari 626 M dan wafat pada 10 Muharram 61 H/10 Oktober 680 M.

    Mengutip dari buku Sejarah Agung Hasan dan Husain karya Ukasyah Habibu Ahmad ada hikmah ketika Husain bin Ali lahir yang bisa menjadi pelajaran bagi umat Islam selanjutnya.


    Rasulullah Mengumandangkan Adzan dan Iqamah

    Saat Husain lahir Rasulullah SAW segera mengadzaninya di telinga kanan dan mengucapkan iqamah di telinga kirinya. Oleh karena itu, setiap orang tua disunnahkan mengadzankan anak mereka yang baru lahir.

    Supaya kalimat pertama yang didengar anak baru lahir adalah kalimat thayyibah, semoga Allah SWT menjauhkan anak itu dari keburukan.

    Arti Nama Yang Baik

    Nama yang baik sama halnya dengan doa dan harapan untuk disandang mereka sampai meninggalkan dunia. Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat Hasan dan Husain cucunya lahir.

    Akikah dan Mencukur Rambut

    Rasulullah SAW mengakikahkan dan mencukur rambut Hasan dan Husain. Seperti pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, bersama mayoritas ulama fikih lainnya berpendapat hukum akikah adalah sunnah muakkad.

    Melakukan Tabrik

    Tabrik adalah mendoakan anak yang baru lahir disertai dengan mengusapnya. Kata tabrik berasal dari kata ‘Barakah’ artinya ‘ada dan melimpahnya kebaikannya’

    Wafatnya Husain bin Ali

    Mengutip buku Hikayat Syahid Paling Wangi karya AF. Rozi terdapat kisah peperangan antara pasukan yang dipimpin oleh Husain melawan Muawiyah.

    Pada hari Asyura tepatnya 10 Muharram, Husain bin Ali membawa pasukannya berjumlah 72 orang untuk berperang melawan Muawiyah dan pasukannya berjumlah 5000 orang.

    Saat perang berlangsung, Husain beserta pasukannya tidak mendapatkan pasokan minuman sama sekali, karena jalan menuju sungai Eufrat ditutup oleh Muawiyah.

    Menjelang sore ditengah kehausan, musuh bertindak semakin kejam, tanpa memandang lawannya, musuh membunuh Ali Asgar yang masih berusia 6 bulan, serta membakar kemah-kemah perempuan dan anak.

    Ribuan pasukan berhasil mengepung Husain dan pengikutnya, hingga Husain pun kalah dan syahid. Parahnya pasukan Muawiyah sambil menunggang kuda menginjak-injak jasad Husain dan pasukannya.

    Selanjutnya, mereka pun memenggal kepala Husain lalu ditancapkan di ujung tombak dan diarak sejauh 965 KM. Serta dibelakangnya, terdapat wanita dan anak-anak dalam keadaan terikat yang diseret mengikuti jalan.

    Kisah tragis mengenai wafatnya Husain bin Ali ini menambah sejarah kelam dalam peperangan umat Islam. Mengutip buku Kun Fayakun Kun La Takun Menyegarkan Kembali Gagasan Islam karya Irfan Latifulloh dari 4 khalifah pertama dalam Islam, hanya ada 1 khalifah meninggal bukan karena dibunuh.

    Umar bin Khattab sang Amir Al-Mukminin dibunuh oleh kafir bukan dari Arab yang menyusup ke Madinah bernama Abu Lu’Luah Al-Majusi. Utsman bin Affan meninggal saat pengepungan terhadap dirinya.

    Ali bin Abi Thalib meninggal karena disabet pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam di bagian kepalanya saat melaksanakan salat Subuh. Serta konflik antara pengikut Ali RA dan Muawiyah menyebabkan Hasan dan Husain meninggal dunia.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Aku telah memohon kepada Allah SWT tentang tiga perkara,” Rasulullah SAW bersabda, “Dalam tiga perkara itu, Allah hanya mengabulkan dua perkara saja, sedang satu lagi ditolak. Aku telah memohon kepada Allah SWT. Agar tidak membinasakan umat ku dengan kesusahan yang berkepanjangan. Doaku ini dikabulkan.”

    Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda: “Aku telah memohon kepada Allah SWT. agar umatku ini tidak dibinasakan dengan bencana banjir (seperti banjir Nabi Nuh AS). Doaku ini dikabulkan. Aku telah memohon kepada Allah SWT agar umatku ini tidak dibinasakan dengan perselisihan antar sesama mereka. Doaku ini tidak dikabulkan.” (HR Amr bin Said)

    Demikianlah kisah Husain bin Ali Cucu Rasulullah SAW. Dari penjelasan di atas detikers mesti menyadari bahwa perjuangan para sahabat Nabi Muhammad SAW tidaklah mudah. Berada di jalan yang benar adalah jalan penuh rintangan dan tantangan.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Abdullah bin Ummi Maktum, Sahabat Nabi SAW yang Buta sejak Kecil



    Jakarta

    Sosok sahabat nabi yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum RA. Beliau merupakan seorang penyandang tunanetra sejak kecil.

    Mengutip buku Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur’an susunan Ridwan Abqary, kekurangannya itu tidak menjadikan Abdullah untuk beriman kepada Allah SWT. Ia termasuk satu dari sekumpulan orang yang pertama kali memeluk Islam.

    Sosok Abdullah dikenal sebagai muslim yang taat. Dirinya tidak pernah absen menghadiri ceramah yang disampaikan Rasulullah SAW. Bahkan, Abdullah juga menghafal ayat suci Al-Qur’an yang diajarkan sang rasul.


    Menurut buku Sosok Para Sahabat Nabi karya Dr Abdurrahman Raf’at al-Basya yang diterjemahkan Abdulkadir Mahdamy, Abdullah bin Ummi Maktum memiliki ikatan keluarga dengan Nabi Muhammad SAW. Ia adalah putra dari bibi istri Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwalid dari pihak ibu.

    Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah. Penamaan Abdullah bin Ummi Maktum menjadi sebutan karena dirinya terlahir dalam keadaan tunanetra.

    Meski buta sejak lahir, semangat Abdullah tidak pernah padam ketika mempelajari Islam. Padahal, kala itu kaum muslimin mengalami banyak penindasan di Makkah.

    Rasulullah SAW pada masa tersebut sibuk berdiplomasi. Hal tersebut dilakukan untuk menarik tokoh-tokoh terkemuka Quraisy agar memeluk Islam.

    Pada saat yang bersamaan, ada momen yang berkaitan dengan Abdullah bin Ummi Maktum yang mana menyebabkan Rasulullah SAW menerima teguran dari Allah SWT. Teguran tersebut termaktub dalam surah Abasa ayat 1-11,

    “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan diri nya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pelajaran), sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS ‘Abasa: 1-11)

    Ketika ayat-ayat tersebut turun, Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Rasulullah SAW yang sedang sibuk berdiplomasi. Dirinya yang tidak dapat melihat dan tidak paham akan kegiatan yang dikerjakan Nabi SAW meminta sang rasul mengajari apa yang Allah SWT ajarkan kepada dirinya.

    Merasa terganggu, Nabi Muhammad SAW memalingkan wajahnya dengan ekspresi masam. Beliau kembali mengarahkan fokusnya pada orang-orang Quraisy.

    Setelahnya, turunlah surah ‘Abasa ayat 1-11. Pada Tafsir Ar Rahmah susunan Dr KH Rachmat Morado Sugiarto, saat itu Rasulullah SAW tidak bermaksud memalingkan wajah dari Abdullah Ummi Maktum, ia hanya menunda pembicaraan dengannya. Ini dimaksudkan agar obrolannya dengan kaum Quraisy tidak terganggu.

    Usai turunnya firman Allah SWT itu, Rasulullah SAW lebih menghormati Abdullah bin Ummi Maktum. Tiap Abdullah bin Ummi Maktum datang dan duduk di sisi Nabi SAW, ia langsung menanyakan keperluan dan merespons segala pertanyaannya.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Nuh AS yang Menangis selama 300 Tahun



    Jakarta

    Nabi Nuh AS pernah menangis selama 300 tahun setelah ditegur Allah SWT. Beliau diutus untuk berdakwah kepada Bani Rasib selama ratusan tahun

    Semasa kenabiannya, Nuh AS memperoleh kurang lebih 70 orang pengikut beserta 8 anggota keluarganya. Nabi Nuh AS memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa, karenanya ia termasuk rasul Ulul Azmi, seperti disebutkan dalam buku Sang Rasul Terkasih oleh Khalid Muhammad Khalid terjemahan Ganny Pryadharizal Anaedi.

    Bani Rasib memperlakukan Nuh AS dengan sangat hina. Mereka bahkan tak segan menyekutukan Allah SWT dan memiliki sifat congkak sekaligus zalim.


    Adapun, teguran yang diperoleh Nabi Nuh AS dari Allah SWT berkaitan dengan sang anak yang bernama Kan’an. Melansir buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul susunan Ustaz Fatih, Kan’an adalah putra pertama Nuh AS. Ia sangat durhaka dan menyembunyikan rasa benci pada ayahnya.

    Kan’an bahkan tak segan untuk pura-pura beriman. Kala itu, saat Nabi Nuh AS diminta untuk mengumpulkan seluruh umatnya di bahtera besar, ia memanggil Kan’an agar ikut dengannya.

    Kan’an yang angkuh menolak ajakan sang ayah, ia tidak ingin beriman kepada Allah SWT begitu pula untuk ikut sang nabi naik ke bahtera. Sebagai seorang ayah, Nuh AS terus membujuk Kan’an meski air bah sudah mulai meninggi.

    Percakapan keduanya termaktub dalam surah Hud ayat 43,

    قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ

    Artinya: “Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang yang ditenggelamkan.”

    Saat keduanya sedang berdebat, muncul gelombang besar yang memisahkan antara bahtera Nuh AS dan anaknya, Kan’an. Gelombang itu melenyapkan Kan’an dari pandangan Nabi Nuh AS.

    Sang nabi memohon kepada Allah SWT untuk menyelamatkan putra sulungnya itu. Lalu Allah SWT berfirman dalam surah Hud ayat 46,

    قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ ٤٦

    Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.”

    Bunyi ayat itu merupakan teguran Allah SWT terhadap Nabi Nuh AS. Setelah itu, Nuh AS menangis berkepanjangan hingga 300 tahun lamanya, seperti dikisahkan dalam riwayat Imam Ahmad dalam Kitab Az-Zuhud yang dikutip dari buku Tuhan Izinkan Aku Menangis Padamu: 200 Kisah Air Mata yang Menetes karena Takut pada Allah tulisan Majdi Fathi Sayyid terbitan Mirqat Publishing Group.

    Saking sayangnya Nabi Nuh AS terhadap Kan’an, tangisannya selama ratusan tahun itu menyebabkan kedua matanya seperti ada garis bekas aliran air mata.

    Wallahu a’lam

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Keberanian Khadijah Nyatakan Cinta pada Rasulullah SAW


    Jakarta

    Kisah cinta Khadijah dengan Rasulullah SAW sepertinya perlu diketahui muslim. Tak hanya kebahagiaan akan tetapi pengorbanan sampai pada akhirnya keduanya menikah.

    Dr. Muhammad Abduh Yamani dalam bukunya Khadijah Binti Khuwailid Cinta Sejati Rasulullah menjelaskan bahwa Khadijah berasal dari keluarga yang harmonis, dan lingkungan bermartabat. Keluarganya berasal dari nasab yang tinggi, berkedudukan, dan kaya raya.

    Sayyidah Khadijah mempunyai ayah bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul Uza, ibunya bernama Fatimah binti Zaidah, dan juga memiliki saudara laki-laki bernama Abdul Manaf.


    Pertemuan Pertama Khadijah RA dengan Muhammad SAW

    Mengutip buku Khadijah Cinta Sejati Rasulullah karya Abdul Mun’im Muhammad Umar,
    suatu hari Khadijah akan mengirimkan kafilah dagangnya ke Syam. Untuk itu ia mencari seseorang yang dapat dipercaya supaya mengawasi dan memimpin rombongan dagangnya.

    Saat itu penduduk Makkah sedang ramai membicarakan seseorang pemuda bernama Muhammad Ibnu Abdillah yang memiliki kejujuran dan keluhuran budi pekerti diantara orang-orang seumurannya yang sibuk berfoya-foya.

    Lantas Khadijah berpikir sebaiknya Muhammad SAW saja yang diutus untuk mengurusi urusan perdagangan di negeri Syam. Namun Khadijah belum pernah mendengar mengenai pengalaman berdagang Muhammad SAW.

    Akhirnya Khadijah pun memanggil Muhammad SAW dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dari sanalah Khadijah menyadari Muhammad adalah orang yang cerdas, santun, dan pandai menjaga diri serta penampilannya.

    Khadijah RA Menyatakan Perasaannya

    Ibnu Watiniyah dalam buku Menjadi istri seperti Khadijah menjelaskan bahwa Sayyidah Khadijah RA lah yang pertama kali mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah SAW.

    Suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW akan pulang setelah melaksanakan tawaf bertemu dengan pelayan dari Sayyidah Khadijah RA. Pelayan itu mengundang Rasulullah ke rumah majikannya (Rumah Khadijah). Beliau pun menyanggupi permintaan pelayan tersebut.

    Ketika keduanya duduk berhadapan Khadijah bertanya, “Wahai Muhammad apakah kamu tidak ingin menikah?”

    “Dengan siapa?” tanya Rasulullah.

    “Denganku.” Jawab Khadijah.

    “Tetapi aku tidak setara denganmu. Engkau adalah pemuka wanita Quraisy, sedangkan aku hanyalah anak yatim yang tidak punya apa-apa.” Kata Nabi Muhammad SAW.

    Khadijah pun menjawab, “Wahai putera pamanku, aku telah menyukaimu sejak lama karena kekerabatan, kemuliaan, dan kemuliaan akhlak mu, dan karena kau dikenal sebagai orang yang jujur dan terpercaya di tengah-tengah kaummu.”

    Mendengar hal ini, Rasulullah SAW menerima tawarannya, Khadijah pun berkata, “Pergilah kepada pamanmu, mintalah agar ia dan pemuka keluargamu untuk melamarku. Dan katakan padanya, segerakan pernikahan kita besok.”

    Pernikahan Khadijah RA dengan Muhammad SAW

    Mengutip dari buku The Golden Stories of Ummahatul Mukminin karya Ukasyah Habibu Ahmad pernikahan Khadijah RA dan Nabi Muhammad SAW dilaksanakan.

    Khadijah RA segera menemui pamannya, Amr bin Asad, untuk mengabarkan hal tersebut. Di sisi lain, Abu Thalib bersiap untuk mengajukan lamaran kepada Khadijah RA untuk keponakannya, Muhammad SAW. Bersama dengan Hamzah bin Abdul Muthalib dan beberapa anggota keluarga Bani Hasyim, Abu Thalib menyampaikan niatnya kepada Amr bin Asad. Setelah perundingan, kedua keluarga setuju untuk menikahkan Muhammad SAW dengan Khadijah RA. Dan mahar 20 ekor unta (atau menurut pendapat lain, 500 dirham).

    Pernikahan tersebut kemudian diadakan. Menurut para ulama dan sejarawan Muslim, peristiwa ini terjadi sekitar dua bulan setelah Muhammad SAW kembali dari ekspedisi dagang ke Syam. Saat itu, Khadijah RA berusia sekitar 40 tahun, sementara Rasulullah SAW baru berusia sekitar 25 tahun. Acara pernikahan dihadiri oleh keluarga dari Bani Hasyim dan tokoh-tokoh dari Bani Mudhar.

    Demikianlah kisah cinta Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah RA. Sebuah cerita kisah yang sangat romantis, penuh pembelajaran sehingga patut diteladani.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abdurrahman bin Auf Sahabat Rasulullah SAW yang Gemar Bersedekah


    Jakarta

    Dahulu dalam berdakwah Rasulullah SAW didampingi oleh sahabat-sahabat yang luar biasa dengan masing-masing kelebihannya. Seperti Abdurrahman bin Auf sahabat nabi kaya raya yang dermawan. Berikut kisah Abdurrahman bin Auf yang senang bersedekah meraih pahala dari Allah SWT.

    Mengutip buku Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, dan Jihad Para Sahabat Nabi yang Kaya Raya karya Ustadz Imam Mubarok Bin Ali, dijelaskan Abdurrahman bin Auf salah satu sahabat nabi yang kaya raya sebab jago berdagang. Beliau bahkan dijuluki “Manusia bertangan Emas.”

    Nama asli Abdurrahman bin Auf di masa jahiliyah adalah Abdu Amru, ada juga yang berpendapat nama aslinya Abdul Ka’bah, lalu Rasulullah SAW baru mengganti namanya menjadi seperti nama yang dikenal sekarang.


    Abdurrahman memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Auf Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah Al-Quraisy Al-Zuhri. Dikenal juga sebagai sosok sahabat nabi yang gemar bersegera dalam berinfak dan pandai berdagang.

    Beliau dilahirkan pada tahun kesepuluh dari tahun gajah atau 581 M, Abdurrahman bin Auf sepuluh tahun lebih muda dari Rasulullah SAW.

    Kisah Kedermawanan Abdurrahman bin Auf

    Mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein dijelaskan suatu hari Rasulullah SAW pergi ke Tabuk untuk menghadapi ancaman bangsa Romawi. Namun kala itu buah-buahan belum matang, sehingga kaum Muslimin belum bisa menjualnya dan menyedekahkannya ke pasukan Muslim. Semua mengeluh akan kondisi ini.

    Karena perintah Allah SWT wajib ditegakkan, Abu Bakar memberikan seluruh hartanya, Umar juga memberikan separuh hartanya, tidak ketinggalan juga Utsman yang menyerahkan harta semampunya. Sayangnya jumlah harta yang terkumpul masih belum cukup.

    Dalam kerisauan itu, Abdurrahman bin Auf datang membawa sebuah kantong yang berisi dua ratus keping emas. Beliau menyerahkan kantong itu kepada Rasulullah SAW. Membuat semua sahabat keheranan, bahkan Umar bin Khattab menduga Abdurrahman melakukan perbuatan dosa, dan ingin bertobat dengan cara menyerahkan hartanya.

    Lantas Allah SWT menunjukkan kemurnian hati Abdurrahman melalui pertanyaan Rasulullah SAW, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?”

    Jawab Abdurrahman, “Banyak wahai Rasulullah. Lebih banyak daripada apa yang aku sedekahkan ini.”

    Rasulullah kembali bertanya, “Berapa banyak yang kamu tinggalkan untuk mereka?”

    Abdurrahman menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasulnya untuk mereka.” Lalu Rasulullah dan para sahabat pun kagum dengan sikap ikhlas Abdurrahman bin Auf.

    Kisah kedermawanan Abdurrahman bin Auf lainnya. Bermula pada suatu hari, semua penduduk Madinah mendengar suara keras. Mereka mengira suara itu muncul dari pasukan musuh yang menyerang Madinah.

    Ternyata suara tersebut adalah suara kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang berjumlah tujuh ratus unta sambil membawa berbagai barang dagangan.

    Saat itu Aisyah RA berkata,” Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merayap.” Mendengar perkataan ini, Abdurrahman segera menyedekahkan kafilahnya.

    Abdurrahman percaya kepada perkataan Aisyah RA, sambil berkata, “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai saksi bahwa kafilah ini beserta seluruh muatannya, pelana, dan alas pelananya, telah aku sedekahkan di jalan Allah SWT.”

    Selain itu, Abdurrahman bin Auf juga pernah menjadi imam shalat yang diantara makmumnya ada Rasulullah SAW. Maka Abdurrahman bin Auf menjadi orang beruntung yang telah menyedekahkan hartanya, berjihad, dan menjadi imam Rasulullah dan umat Islam.

    Pesan Abdurrahman bin Auf

    Masih mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein, sebelum Abdurrahman bin Auf meninggal dunia, dirinya berpesan supaya kaum Muslimin dalam perang Badar yang masih hidup mendapatkan 400 dinar dari harta warisannya.

    Serta berpesan sebagian hartanya diberikan untuk istri-istri Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Aisyah RA berdoa, “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di Surga.”

    Demikianlah kisah Abdurrahman bin Auf seorang yang luar biasa ikhlas untuk menyedekahkan hartanya pada jalan Allah SWT. Abdurrahman bin Auf meninggal di usia 75 tahun, jenazahnya dishalati Utsman bin Affan dan para sahabat lainnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketabahan Urwah bin Zubair dalam Menghadapi Musibah yang Menimpanya



    Jakarta

    Ada banyak kisah-kisah Islami dari orang-orang beriman di masa lalu yang menunjukan sisi positif sehingga bisa diteladani. Seperti kisah seorang yang tetap sabar dan tabah saat ditimpa sakit dan anaknya meninggal. Inilah kisah Urwah bin Zubair.

    Mengutip buku Cahaya Abadi Muhammad Saw. 3 karya M. Fethullah Gulen disebutkan bahwa Urwah bin Zubair adalah putra dari sahabat Rasulullah SAW bernama Zubair bin Awwam RA yang merupakan anak dari bibi Rasulullah SAW bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib.

    Sementara itu, ibu Urwah bin Zubair bernama Asma’ RA yang merupakan saudara kandung dari Sayyidah Aisyah RA, putri Abu Bakar As-Siddiq. Maka Urwah tumbuh besar diantara orang-orang mulia membuatnya memiliki keimanan dan keutamaan.


    Kisah Urwah bin Zubair

    Mengutip buku Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi karya Imron Mustofa keutamaan Urwah bin Zubair juga dijelaskan oleh anaknya bernama Hisyam yang menuturkan:

    “Ia (Urwah bin Zubair) terkena penyakit kanker pada kakinya, dan seseorang pernah berkata, ‘Maukah Anda aku panggilkan tabib?’ Ia berkata, Jika kamu berkenan.’ Lalu, sang tabib datang dan berkata, ‘Aku akan memberikan minuman kepada Anda dan minuman itu menghilangkan kesadaran Anda untuk beberapa saat.’ Mendengar itu, Urwah berkata, ‘Urus saja dirimu, aku tidak yakin kalau ada seseorang yang mau meminum obat yang menghilangkan kesadarannya, sehingga ia tidak ingat lagi kepada Tuhannya.”

    Ia berkata, “Kemudian sang tabib itu akhirnya memotong lutut- nya tanpa obat bius, dan kami semua berada di sekelilingnya me- nyaksikan. Hebatnya, ia tidak mengeluh sedikitpun. Ketika kakinya telah terpotong, ia berkata, ‘Kalaulah memang Engkau Ya Allah telah mengambil kakiku, Engkau pun telah menyisakan hidup kepadaku. Kalaulah engkau memberikan cobaan sakit kepadaku, Engkau pun telah memberikan kesembuhannya. Dan hebatnya, pada malam itu juga ia tidak meninggalkan rutinitasnya, yaitu melakukan shalat malam dengan membaca seperempat al-Qur’an.”

    Dari ‘Am bin Shalih dari Hisyam bin Urwah mengatakan bahwa ayahnya pergi menghadap Khalifah al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ketika sampai di lembah Qura, ia mendapati kakinya terkena sesuatu dan terluka. Kemudian, ia pun merasakan sakitnya semakin parah.

    Sesampainya di hadapan Khalifah al-Walid, ia (al-Walid) berkata, “Wahai Abu Abdillah, potong saja kakimu itu!” Urwah berkata, “Boleh saja.” Lalu, sang khalifah memanggilkan tabib untuknya. Tabib itu berkata, “Minumlah ramuan yang mengandung obat tidur.” Namun ia (Urwah) tidak mau meminumnya. Kemudian, tanpa obat bius, tabib itu memotongnya sampai sebatas lutut dan tidak lebih.”

    Setelah itu, Urwah berkata, “Cukup, cukup!” Al-Walid berkata, “Aku sama sekali belum pernah melihat orang tua yang kesabarannya seperti ini.”

    Apalagi disaat Urwah melakukan perjalanan, ia ditimpa musibah sebeba putranya bernama Muhammad meninggal dunia (Diserang keledai saat berada di kandang) namun dia tidak berkomentar apapun hingga di lembar Qura, Urwah bin Zubair pun berkata (Kutipan surah Al-Kahfi ayat 62):

    لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا ٦٢

    Artinya: “Bawalah kemari makanan kita. Sungguh, kita benar-benar telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

    Selanjutnya urwah bin Zubair pun berkata, “Ya Allah, aku telah mempunyai tujuh keturunan dan Engkau telah mengambil satu dari mereka dan Engkau masih meninggalkan yang enam. Aku juga mempunyai anggota tubuh yang empat, dan Engkau telah mengambil salah satunya, dan Engkau masih tinggalkan yang tiga. Jikalau Engkau memberikan cobaan sakit, Engkau pun telah menyembuhkannya. Jikalau Engkau telah mengambilnya (kaki), Engkau masih memberikan hidup.”

    Hikmah Kisah Urwah bin Zubair

    Mengutip buku 88 Kisah Orang-Orang Berakhlak Mulia karya Harlis Kurniawan hikmah yang bisa dipetik dari kisah ketabahan Urwah bin Zubair adalah.

    Siapa saja yang ridha dengan takdir Allah SWT, maka dia adalah hamba yang bersyukur. Karena dia senantiasa melihat nikmat Allah SWT yang banyak daripada melihat berkurangnya nikmatnya yang sedikit.

    Demikianlah kisah ketabahan Urwah bin Zubair dalam menghadapi cobaan yang diberikan Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com