Author: detikcom

  • Diserang Belalang, Katak, Kutu hingga Darah



    Jakarta

    Firaun era Nabi Musa AS adalah seorang raja yang ingkar dan enggan beriman kepada Allah SWT. Ia dan kaumnya ditimpa azab berupa serangan belalang, katak dan kutu.

    Kisah tentang azab yang menimpa Firaun ini terjadi pada masa Nabi Musa AS dan termaktub dalam Al-Qur’an surah Al A’Raf ayat 130-133. Allah SWT berfirman yang artinya,

    “Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.” Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”


    Azab bagi Firaun

    Dalam buku Qashash Al-Anbiyaa’ karya Imam Ibnu Katsir yang diterjemahkan Dudi Rosyadi dijelaskan adanya bencana yang melanda Firaun dan kaumnya yakni masyarakat Mesir. Bencana tersebut berupa musim paceklik yang mengeringkan tanah Mesir sehingga tidak ada tanaman yang tumbuh dan tidak ada susu hewan yang dapat dimanfaatkan.

    Meskipun telah dilanda musibah ini selama bertahun-tahun, Firaun dan kaumnya tetap enggan beriman. Mereka tetap kufur dan ingkar.

    Ketika kebaikan datang kepada mereka, yakni berupa kesuburan, mereka berkata “Ini adalah karena (usaha) kami.”

    Firaun dan kaumnya tidak mengakui bahwa kebaikan ini diterima karena keimanan Nabi Musa AS dan kaumnya. Pada masa itu Firaun dan Nabi Musa AS hidup berdampingan.

    Apabila Firaun ditimpa kesusahan maka mereka akan melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa AS dan pengikutnya. Bila datang kesusahan maka mereka menyalahkan orang-orang beriman.

    Dalam surah Al A’raf ayat 133, Allah SWT berfirman, “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

    Mengenai ath thufan (topan), sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa maksudnya adalah hujan deras yang diturunkan dengan kapasitas tinggi, hujan yang menyebabkan banjir, dan hujan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dan pepohonan.

    Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Utsman An Nahdi, dari Salman Al Farisi, ia berkata, “Nabi SAW pernah ditanya mengenai belalang, lalu beliau menjawab, “Belalang adalah salah satu jenis tentara Allah yang paling banyak jumlahnya. Aku tidak memakannya namun aku juga tidak mengharamkannya.”

    Ayat ini juga menyebutkan jaraad (belalang) sebagai bencana bagi Fir’aun dan kaumnya sebagai hewan yang menyerang tanaman mereka hingga tidak tersisa sayuran, buah, dedaunan atau rerumputan.

    Ayat ini juga menyebutkan al-qummal (kutu). Ibnu Abbas menjelaskan maksudnya adalah sejenis ulat yang keluar dari hasil tanaman, terutama gandum.

    Azab bagi Firaun juga berupa dhafadi (katak). Maksud dari katak sebagai bencana adalah hewan yang menyerbu istana Fir’aun dan rumah-rumah kaumnya hingga masuk ke bejana dan makanan. Bahkan ketika seorang ingin menyuap makanan maka seekor katak akan melompat lebih dulu ke dalam mulutnya.

    Adapun terkait damm (darah) sebagai bencana adalah bercampurnya darah ke dalam air-air yang mereka gunakan untuk minum, mandi, dan lain sebagainya sehingga mereka tidak dapat memanfaatkan air Sungai Nil, air sumur dan sumber air lainnya.

    Meskipun bencana itu diturunkan untuk seluruh masyarakat Mesir, tapi bani Israil kaum Nabi Musa AS sama sekali tidak merasakannya. Ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada orang-orang beriman.

    Wallahu a’lam.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Usia Rasulullah SAW Menikah dan Pertemuannya dengan Cinta Pertama


    Jakarta

    Rasulullah SAW bertemu dengan cinta pertamanya, Khadijah, pada waktu mereka berdagang. Dalam Sirah Nabawiyah, Khadijah menurut riwayat Ibn al-Atsir dan Ibn Ishaq adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya raya.

    Ia sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Kala itu, ia mendengar kabar kejujuran Nabi SAW dan kemuliaan akhlaknya. Khadijah coba mengamati Nabi SAW yang membawa barang dagangannya ke Syam.

    Dikutip dalam buku Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad dalam Kajian Sosial-Humaniora karya Dr. Ajid Thohir disebutkan bahwa Khadijah menitipkan barang dagangan yang lebih dari apa yang dibawakan orang lain. Dalam perjalanan dagang ini, Nabi SAW ditemani Maisarah, seorang pegawai kepercayaan Khadijah.


    Nabi Muhammad SAW menerima tawaran ini dan berangkat ke Syam bersama Maisarah untuk meniagakan barang-barang Khadijah. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah terhadapnya.

    Selama perjalanan tersebut Maisarah sangat mengagumi akhlak dan kejujuran Nabi. Semua sifat dan perilaku itu dilaporkan oleh Maisarah kepada Khadijah.

    Khadijah tertarik pada kejujurannya, dan ia pun terkejut oleh berkah yang diperoleh dari perniagaan Nabi SAW. Khadijah kemudian menyatakan keinginan untuk menikah dengan Nabi SAW dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi menyetujuinya, hingga kemudian beliau menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya.

    Pernikahan Pertama Rasulullah SAW

    Setelah itu, mereka meminang Khadijah untuk Nabi SAW kepada paman Khadijah, Amr bin Asad. Ketika menikahi Khadijah, Rasulullah SAW berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

    Sebelum menikah dengan Nabi SAW, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan Atiq bin A’idz at-Tamimi dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi, yang juga dikenal dengan Hindun bin Zurarah.

    Khadijah menjadi istri yang sosoknya sangat berpengaruh terhadap kehidupan Nabi SAW. Disebutkan dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali RA pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    “Sebaik-baik wanita (langit) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita (bumi) adalah Khadijah binti Khuwailid.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi SAW kecuali kepada Khadijah, sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Rasulullah SAW apabila menyembelih kambing, maka ia berpesan, ‘Kirimkan daging ini kepada teman-teman Khadijah. Pada suatu hari, aku marah kepada beliau, lalu aku katakan, ‘Khadijah?’ Maka Nabi SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku telah dikaruniai cintanya.’

    Sementara Ahmad dan Ath-Thabarani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah RA, ia berkata, “Hampir Rasulullah SAW tidak pernah keluar rumah sehingga menyebut Khadijah dan memujinya. Pada suatu hari, beliau menyebutnya, sehingga membuatku cemburu. Lalu aku katakan, ‘Bukankah ia hanya seorang wanita tua dan Allah telah mengganti dengan orang yang lebih baik darinya untuk engkau?’ Rasulullah SAW seketika marah seraya bersabda, ‘Demi Allah, Allah tiada menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakanku, dia membelaku dengan hartanya ketika orang- orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya, sementara aku tidak dikaruniai anak sama sekali dari istri-istriku yang lain.’

    Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah ini berlangsung hingga Khadijah meninggal dunia, tepatnya pada usia 65 tahun, sementara Rasulullah SAW telah mendekati usia 50 tahun.

    Dalam rentang waktu tersebut, beliau tidak pernah berpikir untuk menikah dengan wanita atau gadis lain.

    (lus/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Keledai Nabi Uzair Hidup Lagi Meski Tinggal Tulang Selama Ratusan Tahun



    Jakarta

    Kisah Nabi Uzair dan keledainya diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 259. Keledai Nabi Uzair yang telah menjadi tulang belulang bisa kembali hidup dan utuh.

    Kisah ini termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 259,

    أَوْ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْىِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُۥ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِا۟ئَةَ عَامٍ فَٱنظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَٱنظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَٱنظُرْ إِلَى ٱلْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ


    Artinya: Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minuman yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

    Dijelaskan dalam buku 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Quran karya Ridwan Abqary, Uzair adalah seorang nabi dari kaum bani Israil. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an dan disebutkan sebagai orang yang tertidur selama 100 tahun lamanya.

    Tidurnya Nabi Uzair ini terjadi atas kuasa Allah SWT. Bersama Nabi Uzair, ada seekor keledai yang mati. Setelah 100 tahun, tulang belulang keledai ini kembali berkumpul, terlapisi daging dan kembali hidup atas kehendak Allah SWT. Peristiwa ini disaksikan oleh Nabi Uzair.

    Nabi Uzair Tertidur 100 Tahun

    Merangkum kitab Qashash al-Anbiyaa karya Imam Ibnu Katsir yang diterjemahkan Dudi Rosyadi, suatu hari Nabi Uzair berteduh usai memetik buah-buahan, ia ditemani seekor keledai.

    Nabi Uzair beristirahat di sebuah tempat tua sambil menikmati sepotong roti dan air perasan anggur yang baru saja ia petik. Sambil menyandarkan kaki, ia merenungi pemandangan rumah yang atap-atapnya hampir roboh karena ditinggal penghuninya.

    Ia juga melihat tulang belulang yang tergeletak di sana seraya berkata, “Bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Ia tidak meragukan bahwa Allah dapat menghidupkan kembali negeri itu. Ia berkata seperti itu karena merasa takjub dengan kuasa Allah SWT.

    Di saat itu juga, Allah SWT mengutus malaikat maut untuk mencabut nyawanya, lalu ia dimatikan selama seratus tahun. Keledai Nabi Uzair pun mati beberapa hari setelahnya karena ia tak mendapatkan makan dan minum sementara ia diikat dengan kuat.

    Kisah Keledai Nabi Uzair

    Dalam kurun waktu 100 tahun itu, banyak peristiwa yang telah terjadi. Kemudian Allah SWT mengutus kembali malaikat untuk menghidupkan Nabi Uzair.

    Semua anggota tubuh Nabi Uzair mulai dihidupkan kembali. Pertama akalnya agar ia dapat berpikir, lalu matanya agar ia dapat melihat bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali orang yang sudah mati.

    Malaikat yang bertugas menghidupkan Nabi Uzair lantas berseru, “Sekarang lihatlah keledaimu.” Lalu Nabi Uzair segera melihat ke arah keledainya yang ternyata tinggal tulang belulang.

    Malaikat tersebut berseru kepada tulang belulang itu untuk bersatu kembali, lalu tulang belulang itu pun menyatu dan membentuk seekor keledai.

    Makailat itu menunggangi tulang belulang yang membentuk seekor keledai, sementara Uzair memperhatikannya.

    Keledai itu kemudian dibungkus dengan urat-urat syaraf, lalu dibungkus dengan daging, kemudian dibungkus lagi dengan kulit dan bulu, kemudian ditiupkan kembali nyawanya. Keledai itu pun dapat bergerak lagi dan langsung menghadapkan kepala dan kedua telinganya ke atas langit karena mengira Hari Kiamat telah tiba.

    Firman Allah SWT, “Tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.”

    Peristiwa ini membuat Nabi Uzair kemudian berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Wallahu a’lam.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Orang-orang Jurhum yang Menimbun Sumur Zamzam


    Jakarta

    Sumur Zamzam terletak sekitar 21 meter dari lokasi Ka’bah. Kedalaman sumur ini mencapai 30 meter yang terbagi dalam tiga bagian, dari arah bukit Shafa, Ka’bah dan bukit.

    Sumur Zamzam pernah ditimbun oleh penguasa Jurhum yang kalah dalam peperangan melawan Khuza’ah agar musuh mereka tidak dapat memanfaatkannya. Dilansir dalam buku Haji dan Umrah Bersama MQS yang ditulis oleh M Quraish Shihab dijelaskan bahwa Zamzam baru ditemukan kembali oleh kaki Nabi SAW, Abdul Muththalib.

    Beberapa sejarawan, seperti halnya Ibnu Hisyam, meriwayatkan bahwa ‘Abdul Muththalib suatu ketika berbaring dekat Hijr Ismail dan bermimpi bahwa ia diperintahkan untuk menggali Zamzam sambil ia diisyaratkan lokasinya. “Penimbunan Zamzam oleh Jurhum dan penemuannya kembali oleh Abdul Muththalib adalah sekitar 300 tahun,” tulis Quraish Shihab dalam bukunya.


    Dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam yang ditulis Abu Muhammad dan diterjemahkan oleh Fadhli Bahri diceritakan tentang orang-orang Jurhum dan penimbunan sumur Zamzam.

    Pengelola Baitullah Berasal dari Keturunan Ismail

    Ibnu Hisyam berkata, “Pembahasan tentang orang-orang Jurhum, penimbunan Sumur Zamzam oleh mereka, kepergian mereka dari Makkah, dan pihak yang menguasai Makkah sepeninggal mereka hingga Abdul Muththalib menggali Sumur Zamzam adalah seperti yang dikatakan kepada kami oleh Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq yang berkata, bahwa ketika Ismail bin Ibrahim wafat, maka sepeninggalnya Baitullah dikelola anaknya yang bernama Nabit bin Ismail selama jangka waktu tertentu, kemudian pengelolaan Baitullah sesudahnya dilanjutkan Mudzadz bin Amr Al-Jurhumi.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Konon ada yang mengatakan, Midzadz bin Amr Al-Jurhumi.”

    Konflik antara Jurhum dengan Qathura’

    Karena kebiasaan orang-orang Yaman, jika mereka keluar dari Yaman, mereka tidak keluar kecuali dipimpin orang yang mengurusi segala persoalan mereka.

    Ibnu Ishaq berkata, “Anak-anak Ismail, anak-anak Nabit bersama kakek mereka, Mudzadz bin Amr, paman-paman mereka dari jalur ibu dari Jurhum, Jurhum, dan Qathura’ adalah penduduk Makkah ketika itu.”

    Jurhum dan Qathura’ adalah saudara misan dan datang dari Yaman. Keduanya ikut rombongan musafir.

    Orang-orang Jurhum dipimpin Mudzadz bin Amr, dan orang-orang Qathura’ dipimpin As-Samaida’. Salah seorang dari mereka, tiba di Makkah.

    Jurhum dan Qathura’ melihat daerah yang kaya air, Mudzadz bin Amr dan orang-orang Jurhum yang ikut bersamanya singgah di Makkah atas, tepatnya di Qu’aiqi’an dan tidak keluar darinya.

    Sedangkan As-Samaida’ singgah di Makkah bawah, tepatnya di Jiyad dan tidak keluar daripadanya.

    Mudzadz memungut uang sepersepuluh bagi orang yang masuk Makkah dari Makkah atas. As-Samaida’ juga memungut uang sepersepuluh bagi siapa saja yang memasuki Makkah dari Makkah bawah. Masing-masing dari keduanya berada di kaumnya masing-masing dan tidak masuk kepada yang lain.

    Dalam perjalanan waktu, Jurhum dan Qathura’ saling serang terhadap yang lain dan bersaing memperebutkan jabatan raja. Ketika itu, Mudzadz didukung anak keturunan Ismail dan anak keturunan Nabit. Mudzadz mempunyai hak mengelola Baitullah dan bukannya As-Samaida’.

    Sebagian dari mereka berjalan menuju sebagian yang lain. Mudzadz bin Amr berangkat dari Qu’aiqi’an bersama pasukannya dengan tujuan As-Samaida’. Pasukannya bersenjatakan tombak, perisai, pedang, dan tempat anak panah yang menimbulkan suara gemerincing.

    Konon Qu’aiqi’an dinamakan Qu’aiqi’an karena kejadian tersebut (suara gemerincing). As-Samaida’ juga keluar dari Jiyad dengan membawa kuda dan pasukannya.

    Konon, Ajyad tidak dinamakan Ajyad melainkan karena keluarnya kuda-kuda bersama As- Samaida’ dari Ajyad. Kedua belah pihak bertemu di Fadhih, kemudian mereka bertempur dalam perang yang sengit.

    As-Samaida’ tewas dalam pertempuran tersebut dan orang-orang Qathura’ dikecam habis-habisan. Konon Fadhih tidak dinamakan Fadhih kecuali karena kecaman tersebut.

    Setelah itu, kedua belah pihak mengajak berdamai. Mereka berjalan hingga tiba di Al-Mathabikh, jalan di antara dua bukit di Makkah atas.

    Mereka berdamai di sana dan menyerahkan permasalahannya kepada Mudzadz. Ketika pengelolaan Makkah diserahkan kepada Mudzadz, dan ia menjadi raja di Makkah, ia menyembelih hewan untuk manusia, memberi mereka makan, menyuruh manusia masak, dan makan.

    Konon, Al-Mathabikh tidak dinamakan Al-Mathabikh melainkan karena kejadian tersebut. Sebagian orang-orang berilmu menduga, bahwa Al-Mathabikh dinamakan Al-Mathabikh, karena orang-orang Tubba’ (Yaman) menyembelih hewan di tempat tersebut, memberi makan warganya, dan tempat tersebut adalah tempat kediaman mereka. Apa yang terjadi antara Mudzadz dengan As-Samaida’ adalah kezaliman pertama di Makkah, menurut sebagian besar orang.

    Kemudian Allah SWT menyebarkan anak keturunan Ismail di Makkah, dan paman-paman mereka dari Jurhum menjadi pengelola Baitullah dan penguasa di Makkah tanpa ada satu pun dari anak keturunan Ismail yang memprotesnya, karena orang-orang Jurhum adalah paman mereka, dan kerabat mereka, serta karena menjaga keagungan Makkah agar tidak terjadi pelanggaran dan peperangan di dalamnya.

    Ketika Makkah terasa sempit bagi anak keturunan Ismail, mereka berpencar-pencar ke banyak negeri. Jika mereka diperangi musuh, Allah SWT menolong mereka karena agama mereka hingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan menguasai negeri mereka.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Cerita Aminah Selama Mengandung Nabi, Disebut Tak Kelelahan

    Cerita Aminah Selama Mengandung Nabi, Disebut Tak Kelelahan


    Jakarta

    Aminah binti Wahab dinikahkan dengan seorang lelaki bernama Abdullah. Pernikahan sah keduanya melahirkan seorang nabi panutan umat Islam yakni Nabi Muhammad SAW.

    Menurut Sirah Nabawiyah Jilid 1 oleh Ibnu Hisyam terjemahan Fadhli Bahri, saat itu, Abdul Muthalib pergi bersama putranya, Abdullah, ke kediaman Wahb bin Abdu Manaf. Dia adalah sosok bani Zuhrah terhormat yang paling baik nasabnya.

    Abdul Muthalib kemudian menikahkan putranya dengan putri dari Wahb bin Abdu Manaf, Aminah binti Wahb. Tak lama setelah keduanya menikah, Aminah mengandung seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Muhammad.


    Banyak riwayat yang mengisahkan selama Aminah mengandung dan melahirkan Rasulullah SAW. Salah satunya diriwayatkan dari Yazid bin Abdillah bin Wahab bin Zam’ah yang meriwayatkan dari bibinya. Dia bercerita bahwa Aminah pernah berkata padanya saat sedang mengandung Rasulullah SAW.

    Saat Aminah Mengandung Rasulullah SAW

    Dinukil dari Shifatush Shafwah Edisi Indonesia oleh Ibnu Al Jauzi yang diterjemahkan Wawan Djunaedi Soffandi, Aminah mengaku tidak pernah merasa kesulitan sebagaimana wanita hamil pada umumnya. Aminah berkata,

    “Sesungguhnya aku tidak merasa kalau sedang mengandung, sebab aku sama sekali tidak merasakan berat sebagaimana yang dirasakan kebanyakan wanita yang sedang hamil. Hanya saja, aku tidak bisa mengingkari terputusnya darah haidku (sebagai tanda kehamilan).”

    Aminah kemudian bercerita, ada seseorang yang datang kepadanya saat dia berada di antara kondisi terjaga dan tidur. Orang tersebut bertanya padanya apa yang dirasakan Aminah selama mengandung.

    Hingga kemudian orang tersebut berkata, “Sesungguhnya kamu sedang mengandung sayyid dan nabinya umat ini.”

    Singkat cerita, pada masa persalinan hampir tiba, orang tersebut kembali mendekati Aminah. Ia berkata, “Ucapkanlah lafaz Uiidzuhu bil waahidish-shamad min syarri kulli haasid (aku memohon perlindungan terhadap bayi ini kepada Dzat Yang Maha Tunggal lagi Dzat yang menjadi tempat bergantung dari kejahatan segala sesuatu yang memiliki sifat hasud)’.”

    Riwayat lainnya menyebut, Aminah didatangi orang misterius tersebut di dalam mimpinya. Ia berkata, “Sesungguhnya engkau mengandung pemimpin umat ini. Jika engkau melahirkannya, ucapkan, ‘Aku meminta perlindungan untuknya kepada Allah Yang Mahakuasa dari keburukan semua pendengki dan beri nama dia Muhammad’.”

    Selama mengandung Rasulullah SAW, Aminah juga bersaksi ia melihat seberkas sinar keluar dari perutnya. Dengan sinar-sinar tersebut, Aminah bisa melihat istana Busra di Syam.

    Sayangnya, belum sempat sang suami menyaksikan kelahiran putranya, ajal sudah lebih dulu menjemput Abdullah. Tepatnya saat usia kandungan Aminah menginjak ke- 6 bulan. Ibnu Ishaq berkata,

    “Tidak lama kemudian, Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Rasulullah SAW meninggal dunia ketika ibunda Rasulullah SAW sedang mengandung beliau.”

    Menurut Syekh Shafiyur Rahman al-Mubarakpuri dalam Sirah Nabawiyah terjemahan Abd Hamid, Abdullah pergi ke Yatsrib (Madinah) atau Syria untuk urusan perdagangan. Namun, saat perjalanan pulang, Abdullah menderita sakit hingga kemudian meninggal dunia di Yatsrib dan dimakamkan di Nabgha Dzabyani.

    Lahirnya Rasulullah SAW

    Menurut riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah SAW lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun gajah. Aminah pun mengutus seseorang kepada mertuanya, Abdul Muthalib, untuk mengabarkan berita kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Abdul Muthalib pun bergegas mendatangi Aminah. Setelahnya, Aminah bercerita kepada Abdul Muthalib apa pun yang dilihatnya selama mengandung Rasulullah SAW hingga perintah untuk menamai bayi tersebut dengan nama Muhammad.

    Dikisahkan Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam kitab Hadza al Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb terjemahan Iman Firdaus, Rasulullah SAW dilahirkan dalam kondisi telah dikhitan. Ia tidak perlu dikhitan seperti layaknya anak-anak lain. Abdul Muthalib, sang kakek, turut merasa aneh dan heran. Ia pun berkata,

    “Anakku ini kelak akan membawa perkara besar, dengannya aku akan mendapatkan kedudukan yang paling mulia.”

    Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Dar al-Maulid yang dikenal sebagai rumah Muhammad ibn Yusuf, saudara al-Hajjaj ibn Yusuf. Saat ini, rumah tersebut dijadikan Maktabah ‘Ammah (perpustakaan umum) di Makkah.

    (rah/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Dakwah Nabi Nuh Dicemooh oleh Umatnya Sendiri

    Saat Dakwah Nabi Nuh Dicemooh oleh Umatnya Sendiri


    Jakarta

    Dalam sejarah Islam, cerita Nabi Nuh AS dikenal sebagai salah satu Rasul yang menghadapi tantangan terbesar dalam menyebarkan ajaran tauhid. Selama ratusan tahun, beliau berdakwah dengan penuh kesabaran, namun sayangnya, hanya sedikit orang yang bersedia mengikuti ajarannya dan beriman kepada Allah SWT.

    Umatnya sering kali mencemooh dan menolak pesan-pesan yang disampaikannya, menganggap dakwahnya sebagai sebuah kebodohan.

    Kisah Nabi Nuh Berdakwah

    Nabi Nuh AS memiliki nama lengkap Nuh bin Lamik bin Muttawsyalakh bin Khanukh (Idris AS) bin Yarid bin Mahylayil bin Qanin bin Anusy bin Syaits bin Adam AS dan lahir 146 tahun setelah wafatnya Nabi Adam AS.


    Diceritakan dalam buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul oleh M. Arief Hakim, bahwa kaum Nabi Nuh AS, yang dikenal sebagai bani Rasib, terkenal dengan sifat congkak dan zalim.

    Mereka terperangkap dalam kemewahan yang dikaruniakan oleh Allah SWT dan menjadikan kekayaan sebagai ukuran utama martabat dan harga diri manusia. Pada masa itu, kaum fakir miskin sering diremehkan dan mengalami penindasan.

    Bahkan, saking besarnya kesombongan mereka, para budak dan hewan pun menjadi saksi dari ketidakadilan tersebut. Meski begitu, Nabi Nuh AS tetap berdakwah dengan penuh kesabaran untuk mengajak kaumnya kembali kepada ajaran tauhid.

    Menurut Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiyaa yang diterjemahkan oleh H. Dudi Rosyadi, Nabi Nuh AS diutus untuk menghapus kesesatan dan kegelapan yang melanda kaumnya, bani Rasib, yang juga menyembah patung-patung orang saleh seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, serta meminta berkah dan rezeki dari mereka.

    Dakwah Nabi Nuh AS berlangsung sangat lama, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Ankabut ayat 14.

    وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٤

    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.”

    Selama 950 tahun, Nabi Nuh AS berdakwah dengan segala usaha, tanpa mengenal waktu, baik siang maupun malam, dalam keadaan sepi atau ramai, dengan membawa kabar gembira maupun peringatan. Meskipun demikian, kaum Nuh AS tetap saja berada dalam kesesatan dan berlaku kejam.

    Banyak di antara mereka yang justru menolak Nabi Nuh AS. Merasa putus asa, Nabi Nuh AS akhirnya berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam surah Asy-Syu’ara ayat 117-118.

    قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ ١١٧ فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ١١٨

    Artinya: Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”

    Akhirnya, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membangun sebuah bahtera besar agar beliau dan para pengikutnya dapat diselamatkan dari azab yang akan diturunkan. Selama proses pembangunan bahtera, Nabi Nuh AS terus-menerus mendapatkan ejekan dan cemoohan dari bani Rasib.

    Meskipun begitu, beliau tidak pernah merasa putus asa dan tetap bersemangat menyelesaikan kapal tersebut.

    Setelah bahtera itu selesai, Allah SWT memenuhi janji-Nya. Bahtera yang besar itu tidak hanya membawa kaum muslimin, tetapi juga berbagai jenis hewan.

    Kemudian, Allah SWT menurunkan hujan deras dari langit selama 40 hari 40 malam, dan memerintahkan bumi untuk mengeluarkan air dari segala penjuru sehingga seluruh permukaan bumi tertutup oleh air. Banjir yang sangat besar ini menyebabkan air naik tinggi hingga membentuk gelombang seperti gunung. Bahtera itu terombang-ambing di tengah banjir yang menenggelamkan kaum kafir.

    Istri dan Anak Nabi Nuh yang Durhaka

    Nabi Nuh AS memiliki istri dan anak yang durhaka, keduanya menolak ajaran tauhid yang dibawanya. Meskipun Nabi Nuh AS berusaha sekuat tenaga untuk mengajak mereka ke jalan yang benar, mereka tetap berpaling dan tidak mau menerima dakwahnya.

    Dikutip dari buku Ulumul Qur’an: Kajian Kisah-kisah Wanita dalam Al-Qur’an karya Muhammad Roihan Nasution, kisah pembangkangan istri Nabi Nuh diceritakan Allah SWT dalam surah At-Tahrim ayat 10:

    ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

    Artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam jahanam bersama orang-orang yang masuk (neraka jahanam)’.”

    Istri Nabi Nuh AS yang durhaka juga melahirkan anak yang membangkang kepada ayahnya. Anak Nabi Nuh AS, seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an, menolak untuk naik ke dalam bahtera, sehingga ia akhirnya terseret dalam banjir besar. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Hud ayat 43:

    قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ

    Artinya: “Anaknya menjawab ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang’. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Nabi yang Punya Mukjizat Air Zamzam-Sosok Penunggang Kuda Pertama

    Sosok Nabi yang Punya Mukjizat Air Zamzam-Sosok Penunggang Kuda Pertama


    Jakarta

    Nabi Ismail AS adalah nabi dan rasul yang wajib diimani dalam Islam. Beliau merupakan keturunan seorang nabi juga yaitu Ibrahim AS.

    Menukil dari Ibrahim Khalilullah: Da’iyah At-Tauhid wa Din Al-Islam wa Al-Uswah Al-Hasanah oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi yang diterjemahkan Muhammad Misbah, ibu dari Ismail AS adalah Siti Hajar. Kala itu, Nabi Ibrahim AS belum juga dikaruniai keturunan meski sudah puluhan tahun pindah ke Palestina.

    Sang nabi lalu berdoa sebagaimana tercantum dalam surah Ash-Shaffat ayat 100-101. Berikut bunyinya,


    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّلِحِينَ * فَبَشَّرْنَهُ بِغُلَمٍ حَلِيمٍ

    Artinya: “(Ibrahim berdoa), ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun.”

    Kelahiran Nabi Ismail AS

    Kelahiran Nabi Ismail AS disambut dengan bahagia. Meski demikian, kelahirannya ini juga menjadi ujian bagi Ibrahim AS dan sang istri.

    Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membawa Siti Hajar dan Ismail AS bayi ke sebuah lembah tandus, yaitu Makkah. Kala itu, Makkah masih belum berpenghuni.

    Saking tandusnya, lembah itu bahkan tanpa tanaman dan air. Hanya ada batu dan pasir kering yang terlihat di sana.

    Siti Hajar dan Nabi Ismail AS diuji dengan rasa haus karena tak adanya air. Pada kondisi tersebut, Siti Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air hingga akhirnya malaikat Jibril tiba dan air zamzam memancar dari tanah dekat kaki Ismail AS.

    Perintah Menyembelih Nabi Ismail AS

    Masih dari sumber yang sama, Nabi Ibrahim AS menerima wahyu lainnya dari Allah SWT dalam mimpi. Ia diperintahkan menyembelih sang putra, Nabi Ismail AS yang masih remaja.

    Mendengar hal itu, Nabi Ismail AS rela menerima nasib sebagai bentuk kepatuhan terhadap Allah SWT. Kisah ini termaktub dalam surat As Saffat ayat 102,

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

    Ibrahim AS lantas membawa Ismail AS ke tempat yang ditentukan. Ketika ia hendak menyembelih putranya, tiba-tiba Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor hewan. Peristiwa tersebut menjadi asal muasal ibadah kurban yang kini dilakukan oleh umat Islam.

    Diterangkan dalam Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid, ulama nasab dan sejarah peperangan mengatakan bahwa Nabi Ismail AS adalah orang pertama yang naik kuda. Sebelumnya, kuda merupakan hewan liar dan dijinakkan oleh Ismail AS untuk ditunggangi.

    Sa’id bin Yahya Al-Umawi menuturkan dalam Al Maghazi sebagai berikut, “Seorang syaikh Quraisy bercerita kepada kami, Abdul Malik bin Abdul Aziz bercerita kepada kami, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Pergunakan kuda (sebagai tunggangan) naiklah secara bergantian , karena ia adalah warisan ayah kalian, Ismail.”

    Wafatnya Nabi Ismail AS

    Nabi Ismail AS semasa hidupnya membimbing suku Amalika di Yaman. Selama lebih dari 50 tahun masa kenabian beliau, Ismail AS menyampaikan firman Allah SWT kepada orang-orang musyrik. Ia mengajak mereka untuk memeluk Islam dan mempercayai keberadaan Allah SWT.

    Berkat jasanya itu, Islam menyebar luas di Yaman. Beliau lalu kembali ke Makkah setelah sebagian besar masyarakat Yaman memeluk Islam.

    Nabi Ismail AS wafat pada usia 137 tahun, tepatnya pada 1779 SM di Makkah, Arab Saudi. Beliau dimakamkan di dekat ibunya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan dalam Al-Qur’an

    Kisah Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan dalam Al-Qur’an


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW dianugerahi sejumlah mukjizat di sepanjang kenabiannya oleh Allah SWT. Salah satunya adalah mukjizat membelah bulan dengan jarinya yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

    Menurut surah Al Qamar ayat 1-3, Allah SWT menurunkan firman-Nya mengenai keajaiban ini:

    (1) اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ


    (2) وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ

    (3) وَكَذَّبُوْا وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ

    Artinya: Hari Kiamat makin dekat dan bulan terbelah. Jika mereka (kaum musyrik Makkah) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.” Mereka mendustakan (Nabi Muhammad) dan mengikuti keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya.”

    Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Jilid 7 yang diterjemahkan Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, ayat di atas menceritakan tentang penduduk Makkah pernah meminta Rasulullah SAW untuk menunjukkan tanda kekuasaan Allah SWT. Untuk itulah, bulan pernah terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah SAW.

    Meski demikian, para golongan kafir Quraisy di Makkah menolak tunduk atau meyakini tanda-tanda yang sudah ditunjukkan kepada mereka. Sebaliknya, mereka beranggapan bahwa tanda tersebut semata hanya pertunjukkan sihir.

    Kisah Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan

    Diceritakan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW karya Fuad Abdurahman, kisah ini bermula saat Abu Jahal mengirim surat undangan kepada Habib ibn Malik, seorang raja di Syam. Habib berangkat bersama 12.000 pasukan berkuda menuju Makkah.

    Saat tiba, Abu Jahal beserta para pembesar Quraisy menyambutnya dengan memberikan budak dan perhiasan.

    Setelah duduk berhadapan, Habib bertanya kepada Abu Jahal tentang Nabi Muhammad SAW, namun Abu Jahal membantahnya, “Tuan, bertanyalah tentang bani Hasyim!” pinta Abu Jahal.

    Habib menukas, “Siapakah Muhammad?”

    Pembesar Quraisy yang menemui Abu Jahal menjawab, “Kami mengenalnya sejak kecil sebagai orang yang jujur dan bisa dipercaya. Saat berusia 40 tahun, ia berbalik menghina dan merendahkan Tuhan kami. Ia dakwahkan agama baru yang berbeda dari agama kami!”

    “Bawalah ia ke hadapanku dengan suka rela! Bila tidak mau, paksalah!” kata Habib.

    Kemudian, seseorang pergi memanggil Rasulullah SAW yang tanpa rasa takut sedikit pun datang menemui Habib ditemani sahabat setianya, Abu Bakar, dan istrinya, Khadijah.

    Ketika Rasulullah SAW tiba di hadapan Habib, wajah beliau tampak bercahaya sehingga Habib tertegun dan berkata, “Hai Muhammad, engkau tahu bahwa setiap nabi memiliki mukjizat. Apakah kau juga memilikinya?”

    “Apa yang engkau inginkan?” tanya Rasulullah SAW.

    Habib berkata, “Aku ingin kau membuat matahari terbenam dan bulan merendah ke bumi, terbelah menjadi dua. Kemudian bulan itu bersatu lagi di atas kepalamu dan bersaksi atas kerasulanmu! Setelah itu, bulan kembali lagi ke langit dan bercahaya seperti purnama dan selanjutnya terbenam kembali serta matahari muncul seperti sedia kala!”

    Mendengar permintaan Habib, Abu Jahal tersenyum jahat dan berkata, “Sungguh benar apa yang Tuan katakan! Permintaan Tuan sungguh luar biasa!”

    Rasulullah SAW pergi meninggalkan Habib menuju Jabal Abu Qubaisy dan mendirikan salat dua rakaat. Setelah itu, beliau berdoa kepada Allah SWT.

    Kemudian, Jibril datang dan berkata, “Assalamualaikum, ya Rasulullah. Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman, ‘Kekasihku, janganlah kau bersedih dan bersusah hati! Aku selalu bersamamu. Pergilah temui mereka! Kuatkan hujahmu. Ketahuilah, Aku telah menundukkan matahari dan bulan, juga siang dan malam’.”

    Saat itu hari beranjak sore dan matahari condong ke barat hingga akhirnya terbenam di ufuk barat. Semesta diliputi kegelapan, kemudian muncul bulan purnama.

    Setelah bulan berada tepat di atas Rasulullah SAW, beliau memberi isyarat dengan jarinya. Bulan itu bergerak turun dan berhenti di hadapan beliau.

    Lalu ia terbelah dua bagian. Selanjutnya, bulan berpadu lagi di atas kepala beliau dan bersaksi, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

    Setelah itu bulan kembali naik ke langit dan matahari muncul kembali seperti semula, karena saat itu belum datang waktunya untuk terbenam.

    Meskipun mukjizat ditampakkan begitu nyata di hadapan Abu Jahal, tetap saja Abu Jahal dan para pengikutnya menganggapnya sebagai sihir. Mereka tetap tak mau beriman.

    Dikutip dari buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim, kisah ini juga diriwayatkan dalam salah satu hadits,

    “Pada zaman Rasulullah SAW, bulan terbelah menjadi dua. Orang-orang kafir Makkah ikut menyaksikannya.” (HR Bukhari)

    Dilansir dari buku Misteri Kedua Belah Tangan dalam Shalat, Dzikir, dan Doa karya Dr. KH. Bachruddin Hasyim Subky, untuk menjawab semua keraguan tentang kemungkinan terjadinya peristiwa luar biasa ini Imam Razi berpendapat dari berbagai hadits bahwa peristiwa tersebut mirip dengan gerhana bulan, di mana separuh bulan tampak di langit.

    Namun, para ulama sepakat bahwa tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran hadits-hadits Nabi tentang pembelahan bulan menjadi dua bagian. Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Perang Mu’tah, Pertempuran Dahsyat Tentara Muslim dan Pasukan Heraklius

    Kisah Perang Mu’tah, Pertempuran Dahsyat Tentara Muslim dan Pasukan Heraklius



    Jakarta

    Perang Mu’tah adalah salah satu pertempuran dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi pada 629 M pada Jumadil Awwal tahun ke-8 Hijriyah.

    Menurut buku Para Panglima Perang Islam tulisan Rizem Aizid, Perang Mu’tah dilatarbelakangi dengan terbunuhnya utusan Rasulullah SAW oleh seseorang bernama Shurabhil bin Amr. Mendengar kabar itu, umat Islam yang sudah berada di Madinah marah. Nabi Muhammad SAW lantas mengirim sejumlah pasukan untuk menyerang pasukan Ghassanid.

    Diterangkan dalam Jami’us Sirah oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang diterjemahkan Abdul Rosyad Shiddiq, utusan Rasulullah SAW itu bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi. Ia merupakan salah seorang dari keluarga besar bani Lahab yang pergi ke Syam.


    Al-Harits mengantarkan sepucuk surat kepada penguasa Bushra yang tunduk kepada penguasa Romawi, seperti dikutip dari Ghazawat Ar-Rasul Durus Wa ‘Ibra Wa Fawa ‘Id karya Ali Muhammad Ash-Shallabi terjemahan Masturi Irham.

    Sayangnya, ia dicegat dan diringkus oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, seorang gubernur Ghassanid di bawah Kekaisaran Bizantium kala itu. Menurut Sirah Nabawiyah oleh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri yang diterjemahkan Suchail Yuti, Syurahbil adalah penguasa yang mendapat mandat dari Kaisar atas Provinsi Balqa’, salah satu daerah Syam.

    Al-Harits diborgol dan dihadapkan kepada Kaisar yang kemudian menebas batang lehernya. Padahal, pembunuhan terhadap utusan atau delegasi termasuk bentuk kriminal paling keji dan melebihi pernyataan kondisi perang pada saat itu.

    Dalam Perang Mu’tah, Nabi Muhammad SAW menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandannya. Namun, sebelum pasukannya berangkat ia berpesan,

    “Kalau nanti terjadi sesuatu pada Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib yang akan menggantikan posisinya sebagai komandan pasukan. Dan jika terjadi sesuatu kepada Ja’far, maka kan diambil alih Abdullah bin Rawahah.”

    Sebanyak 3.000 pasukan muslim siap berperang. Mereka bergerak sampai berhenti di daerah Ma’an. Di situlah tentara muslim mendengar informasi bahwa Heraklius yang merupakan kaisar tertinggi Byzantium Romawi sudah berada di daerah Balqa’ dengan membawa 100.000 pasukan Romawi.

    Selain itu, orang-orang dari suku Lakham, suku Jadzam, suku Balqin, suku Bahra’, dan suku Billi ikut bergabung dengan pasukan Heraklius yang jumlahnya 100.000. Secara total, tentara Heraklius ini berjumlah 200.000 yang mana sangat jauh berbeda dengan pasukan umat Islam.

    Mengetahui hal itu, pasukan umat Islam memilih tinggal di daerah Ma’an selama dua hari untuk menunggu perkembangan apa yang akan terjadi. Salah seorang dari mereka mengatakan,

    “Kita harus menulis surat kepada Rasulullah SAW untuk melaporkan besarnya pasukan musuh. Kita berharap beliau mengirimkan tambahan pasukan, dan kita tunggu apa perintahnya lebih lanjut kepada kita.”

    Singkat cerita, pada Perang Mu’tah sahabat-sahabat yang diamanahkan Nabi Muhammad SAW untuk memimpin semuanya wafat. Pasukan muslim awalnya bingung menunjuk pemimpin perang, lalu seorang tentara muslim bernama Tsabit bin Arqam maju mengambil bendera Islam dan menunjuk Khalid bin Walid sambil berkata,

    “Ambillah wahai Khalid. Sebab engkau yang lebih tahu mengenai strategi dalam perang dan tahu tentang muslihat peperangan. Dan demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kecuali aku serahkan kepadamu!”

    Tsabit bin Arqam kemudian berteriak ke arah pasukan muslim, “Bersediakah kalian wahai pasukan muslimin berada di bawah pimpinan Khalid?”

    Mendengar hal itu, para tentara muslim menyetujui penunjukkan Khalid bin Walid untuk memerangi tentara Heraklius. Sebagaimana diketahui, Khalid adalah salah satu panglima ternama dan selalu memenangi peperangan.

    Waktu itu, Perang Mu’tah adalah pertempuran pertama yang diikuti Khalid setelah memeluk Islam. Dengan sigap ia menata barisan pasukan muslim dan menyusun strategi dengan melakukan tipu muslihat.

    Khalid bin Walid memerintahkan tentara muslim di barisan belakang agar pindah ke depan dan pasukan sayap kiri berpindah ke sayap kanan, begitu sebaliknya. Pasukan di belakang terus bergerak menuju depan sampai debu-debu berterbangan dan mengganggu penglihatan musuh.

    Akibatnya, musuh pada Perang Mu’tah mengira tentara muslim sebagai pasukan mereka. Oleh sebab itu, tentara Heraklius tidak gegabah menggempurnya.

    Akhirnya Perang Mu’tah dimenangkan oleh pasukan muslim. Qutbah bin Qatadah yang merupakan komandan sayap kanan tentara membunuh jenderal pasukan musuh yaitu Ghasan Malik. Kematiannya menyebabkan tentara Heraklius menahan serangan, ini jadi peluang pasukan tentara muslim melakukan konsolidasi. Secara perlahan dan tertata, pasukan muslim mengundurkan diri dari peperangan akibat jumlah yang tak seimbang.

    Pasukan musuh tidak berani mengejar sampai memutuskan untuk menghentikan pertempuran. Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW menyampaikan rasa bangganya kepada pasukan muslim karena telah berhasil mengalahkan musuh.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Syits, Sosok yang Diwasiatkan Jaga Nur Rasulullah SAW


    Jakarta

    Nabi Syits AS adalah putra dari Nabi Adam AS. Tapi, Nabi Syits AS tidak termasuk dalam 25 Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

    Menukil buku Akidah dan Akhlak untuk Kelas VII MTs oleh Taofik Yusmansyah, sebenarnya jumlah Nabi dan Rasul lebih dari 25. Pada sebuah riwayat dikatakan, jumlah Nabi dan Rasul mencapai 124 ribu, 312 di antaranya adalah rasul.

    Dari Abi Dzar Al-Ghifari RA, Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi. “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.”


    Para sahabat bertanya lagi, “Lalu berapa jumlah rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312).” (HR At Tirmizi)

    Mengutip dari buku Qashash al-Anbiyaa yang diterjemahkan oleh Saefullah MS, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa makna nama Syits adalah anugerah dari Allah SWT. Nama itu diberikan oleh Nabi Adam dan istrinya, Hawa, kepada Nabi Syits yang baru lahir setelah terbunuhnya Habil di tangan saudara sendiri.

    Meski tidak setenar nabi lain, Nabi Syits AS mendapatkan 50 lembar suhuf dari Allah SWT agar disampaikan kepada umat manusia. Suhuf adalah kumpulan lembaran yang berisi firman Allah SWT.

    Awal Kehidupan Nabi Syits AS

    Mengutip buku Akhlak Para Nabi oleh Taj Langroodi, ketika Nabi Syits AS dilahirkan, Nabi Adam AS sudah berusia 930 tahun.

    Nabi Adam AS sengaja memilih Nabi Syits AS untuk melanjutkan perjuangannya, sebab anak Nabi Adam AS yang satu ini memiliki kelebihan dari segi keilmuan, kecerdasan, ketakwaan, dan kepatuhan dibandingkan anak lainnya.

    Nabi Syits AS adalah pelaksana wasiat Nabi Adam setelah beliau kehilangan putra kesayangannya, Habil. Ia lahir lima tahun setelah Qabil membunuh Habil, tepatnya 235 tahun setelah Nabi Adam AS diturunkan dari langit ke bumi.

    Nabi Syits AS memilih bertempat tinggal di Makkah, tempat dia bisa secara terus menerus melaksanakan haji kecil (umrah) dan haji besar di sana. Ia membangun kembali Ka’bah menggunakan lumpur kental dan tumpukan batu.

    Diwasiatkan Menjaga Nur Nabi Muhammad SAW

    Nabi Syits AS adalah penerus setelah Nabi Adam AS dan Hawa yang dipercaya untuk menjaga nur Nabi Muhammad SAW.

    Menukil buku Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan karya Kyai Abdullah Alif, pada sebuah riwayat dikatakan bahwa Allah SWT pertama kali menciptakan nur Nabi Muhammad sebelum Dia menciptakan Adam, Hawa, alam semesta beserta isinya.

    Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam Kitab Hujatullah menyebutkan bahwa sebelumnya nur Nabi Muhammad SAW selalu tampak bersinar di wajah Nabi Adam, bercahaya seperti matahari yang bersinar terang.

    Kemudian, Allah SWT mengambil sumpah perjanjian dari Nabi Adam AS agar selalu menjaga nur tersebut. Nabi Adam AS menerimanya dengan suka cita, kemudian nur itu bersemayam di dalam diri Siti Hawa.

    Setelah itu, lahirlah seorang putra yang bernama Nabi Syits.

    Awalnya nur yang berada di dalam diri Hawa kemudian dipindahkan ke dalam Nabi Syits AS. Nur tersebut tampak pada wajah Nabi Syits AS, sehingga Nabi Adam AS selalu memperhatikan dan menjaga Nabi Syits AS.

    Nabi Syits AS tumbuh menjadi pribadi dengan akhlak yang mulia. Bahkan, Allah SWT mengirimkan seorang bidadari yang cantik dan rupawan untuknya.

    Mengacu pada buku The Prophet: Kisah Hikmah 25 Nabi Allah karya Diah Noviyanti, wafatnya Nabi Syits AS terjadi ketika beliau jatuh sakit. Sebagai gantinya, ia menunjuk putranya yang bernama Anush untuk melaksanakan wasiatnya.

    Nabi Syits AS meninggal pada usia 912 tahun dan dimakamkan di samping makam kedua orang tuanya, yaitu di Gua Gunung Abu Qubais.

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com