Author: detikcom

  • Kisah Qarun, Orang Terkaya yang Tenggelam Bersama Hartanya



    Jakarta

    Dalam bahasa Indonesia, harta karun diartikan sebagai harta benda yang tidak diketahui pemiliknya. Harta karun identik dengan harta yang terkubur. Ternyata hal ini berkaitan dengan kisah Qarun yang tenggelam bersama harta kekayaannya akibat kekufuran dan kesombongannya.

    Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai bentuk peringatan sekaligus menjadi pengingat bagi manusia. Sungguh Allah tidak menyukai hamba-Nya yang sombong dan tidak mengakui nikmat pemberian-Nya. Bahkan, dalam sebuah hadits, nama Qarun dijejerkan bersamaan dengan nama-nama lain yang tercela perilakunya.

    Abdullah bin Amr berkata bahwa suatu hari Nabi SAW menjelaskan tentang sholat. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menjaganya (shalat), maka ia akan menjadi cahaya, hujjah, dan keselamatan baginya dari neraka pada hari kiamat.


    Dan barangsiapa yang tidak menjaganya (shalat), maka ia tidak akan menjadi cahaya, tidak pula keselamatan dan hujjah baginya. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ad-Darimi).

    Kekayaan Qarun yang Melimpah Ruah

    Dalam Ensiklopedia Al-Qur’an dan Hadis per Tema yang diterbitkan oleh Alita Aksara Media, disebutkan bahwa Qarun adalah salah seorang sepupu Nabi Musa, anak dari Yashar yang merupakan adik kandung ayah Nabi Musa, Imran.

    Baik Nabi Musa dan Qarun masih termasuk keturunan Nabi Ya’qub karena keduanya merupakan cucu dari Quhas bin Lewi. Adapun Lewi bersaudara dengan anak Nabi Ya’qub, Yusuf. Oleh karena itu apabila diurutkan nasabnya maka nama lengkapnya adalah Qarun bin Yashar bin Qahit/Quhas bin Lewi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

    Sebelum menjadi hartawan yang bergelimang kekayaan, Qarun sangatlah miskin dan memiliki banyak anak. Ia bahkan sempat meminta Nabi Musa untuk mendoakannya agar diberikan harta benda dan permintaan tersebut dikabulkan oleh Allah.

    Dikisahkan pula, dia sering mengambil harta dari Bani Israil yang lain dan memiliki ribuan gudang harta, penuh berisi emas dan perak. Saking kayanya, kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar karena terlampau berat untuk dibawa oleh satu orang.

    Meskipun berkerabat dengan Nabi Musa, pada masa itu Qarun yang pandai berbisnis memihak Raja Fir’aun dengan mendukung dan menyokong pemerintahannya. Maka tak heran apabila hartanya melimpah ruah.

    Sikap Sombong Qarun

    Yana Adam (Abu Alwi bin Nasrudin bin Sudir) dalam bukunya yang berjudul Rahasia Dahsyat di Balik Kata Syukur menyebutkan bahwa Qarun sering disebut dengan julukan ‘Munawwir’ karena keindahan suaranya dalam membaca kitab Taurat. Qotadah, Muqotil dan al-Kalbi mengatakan bahwa Qarun adalah kaum Bani Israil yang paling bagus bacaan Tauratnya.

    Ia bahkan merupakan ahli kitab Taurat setelah Nabi Musa dan Harun. Namun, di balik ilmu dan hartanya yang berlimpah, Qarun termasuk ke dalam golongan orang-orang yang munafik karena harta bendanya telah membutakan hatinya.

    Banyak orang saleh yang mengingatkannya dan menasihati agar ia tidak bersikap berlebihan dan tinggi hati. Namun, Qarun mengabaikannya dan menganggap bahwa harta yang dimilikinya didapat dari ilmu dan usahanya tanpa campur tangan dari Allah.

    Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 78,

    قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًا ۗوَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ

    Artinya: Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan generasi sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Orang-orang yang durhaka itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.

    Bahkan, Qarun seringkali melewati kaum Bani Israil dengan pakaian beserta harta yang mewah. Ia diiringi oleh para pembantu dan juga budak yang siap sedia melayaninya. Tentu saja hal itu membuat orang-orang iri bahkan sampai berangan-angan memiliki kekayaan seperti Qarun.

    Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 79,

    فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ فِيْ زِيْنَتِهٖ ۗقَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ قَارُوْنُۙ اِنَّهٗ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ

    Artinya: Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

    Qarun Mendapatkan Azab dari Allah

    Pada akhirnya Qarun diazab oleh Allah, yakni dengan dibenamkan ke dalam tanah dalam waktu semalam. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Allah menurunkan gempa bumi yang dahsyat beserta tanah longsor.

    Tempat Qarun ditenggelamkan bersama dengan harta dan pengikutnya telah menjadi danau yang dikenal sebagai Danau Qarun (Bahirah Qarun). Adapun yang tersisa hanya puing-puing istana Qarun yang terletak di daerah Al-Fayyum, Mesir.

    Hal ini tercantum dalam firman Allah yakni Al-Qur’an surat Al Qashas ayat 81,

    فَخَسَفْنَا بِهٖ وَبِدَارِهِ الْاَرْضَ ۗفَمَا كَانَ لَهٗ مِنْ فِئَةٍ يَّنْصُرُوْنَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖوَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ

    Artinya: Lalu, Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka, tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.

    Qarun tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi dan tidak ada satupun yang tersisa. Tidak ada pula satu orang saja dari keluarga, kerabat, teman, maupun pengikutnya yang mampu menyelamatkannya. Harta dan ilmu yang dimiliki dan diagung-agungkan olehnya justru menjadi malapetaka baginya.

    Melihat apa yang telah menimpa Qarun, orang-orang yang tadinya merasa iri hati dan berandai-andai ingin memiliki harta seperti Qarun kemudian menjadi semakin beriman dan memperbanyak kesabaran.

    Mereka juga memuji Allah atas peringatan yang telah disampaikan, sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 82,

    وَاَصْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَنَّوْا مَكَانَهٗ بِالْاَمْسِ يَقُوْلُوْنَ وَيْكَاَنَّ اللّٰهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُۚ لَوْلَآ اَنْ مَّنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۗوَيْكَاَنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ

    Artinya: Orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudukannya (Qarun) itu berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya dan Dia (juga) yang menyempitkan (rezeki bagi mereka). Seandainya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah tidak akan beruntung orang-orang yang ingkar (terhadap nikmat).”

    Demikian kisah dari Qarun, seorang kaya raya yang mendapatkan peringatan keras dari Allah berupa azab atas sikap sombongnya. Bagaimanapun, setiap rezeki dan nikmat yang didapatkan setiap manusia adalah atas izin dan karunia Allah. Semoga kita semua dapat mempelajari kisah ini untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Umar dengan Janda Tua yang Masak Batu untuk Makan



    Jakarta

    Banyak sekali kisah inspiratif dan menambah keimanan dalam berbagai keterangan dalam dunia Islam. Salah satunya adalah kisah dari sahabat, Umar bin Khattab RA dengan janda tua.

    Umar bin Khattab atau yang kerap dipanggil Umar merupakan salah satu orang terhebat di dalam sejarah Islam mungkin setelah Rasulullah SAW. Beliau merupakan Amirul Mukminin atau pemimpin orang-orang yang beriman sekaligus menjadi khalifah pertama setelah sepeninggalnya Rasulullah SAW.

    Catatan dan rekaman sepak terjangnya semenjak masih menjadi musuh Islam hingga akhirnya menjadi ujung tombak Islam menyimpulkan dirinya sebagai orang yang besar dan tangguh. Namun, dalam satu kisah kita dapat mengetahui bagaimana hati seorang Umar yang ternyata lembut dan sangat perasa.


    Umar diceritakan gemar melakukan blusukan ke rumah-rumah rakyatnya untuk mengetahui secara langsung bagaimana kondisi mereka. Seperti dikisahkan dalam buku Memang untuk Dibaca, 100 Kisah Islami Inspiratif Pembangkit Jiwa karya Rian Hidayat Abi, kisah ini berawal ketika suatu malam pada salah satu jadwal blusukan rutin sang khalifah.

    Suatu malam, Umar bersama seorang sahabat bernama Aslam mengunjungi sebuah desa terpencil. Ketika sedang berkeliling, ia mendengar terdapat suara tangisan anak kecil yang bersumber dari sebuah rumah.

    Rumah tersebut dihuni oleh seorang perempuan tua dan anaknya yang sedang menangis tadi. Alangkah terkejutnya ketika Umar ini mengetahui ternyata ibu tersebut sedang memasak batu seolah-olah sedang memasak makanan.

    Hal ini membuat Khalifah umar merasa penasaran sekaligus merasa iba dengan perilaku yang ditunjukkan oleh janda tua tersebut, sehingga ia bertanya kepadanya perihal anaknya yang sedang menangis itu. Wanita tersebut kemudian menjawab,

    “Saya memasak batu-batu ini hanya untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan yang dilakukan Umar bin Khattab (wanita itu tidak mengetahui sedang berbicara dengan Umar) yang tidak mau melihat rakyatnya sengsara. Sungguh kejam! Seharian ini kami belum makan satu suap pun, bahkan anakku pun sampai harus berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, saya mengharap bakal ada rezeki yang datang, namun kenyataannya tidak! Saya harus mengumpulkan batu-batu ini kemudian memasaknya untuk membohongi anakku yang kelaparan dengan harapan dia akan lekas tertidur. Ternyata anakku tidak bisa tertidur, kemudian ia menangis meminta makan.”

    Sembari mendengar keluh kesah yang diutarakan oleh perempuan tua itu, Amirul Mukminin berlinang air mata. Kemudian. Umar segera beranjak dari tempat itu dan kembali ke Madinah untuk mengambil gandum yang dipikul di punggungnya untuk diantar ke janda tua itu.

    Tanpa istirahat, Umar kemudian sampai ke rumah janda tua itu dan membawakan gandum serta beberapa liter minyak samin untuk bisa dimasak oleh janda tua itu. Setelahnya, janda tua itu bergegas memasak makanan untuk dia dan anaknya.

    Setelah mampu menikmati makanan tersebut, wanita tua itu berkata, “Terima kasih, Semoga Allah SWT membalas amal perbuatanmu.”

    Setelah kejadian yang menguras hati dan tenaga itupun akhirnya Umar lega karena bisa membantu rakyatnya agar tidak kelaparan lagi sekaligus menghentikan tangisan anak kecil tersebut. Umar kemudian berpamitan, sebelum pergi, ia menyampaikan kepada wanita tua itu untuk segera menemui Umat karena akan diberikan kepadanya hak penerima santunan negara.

    Esok harinya, wanita itu bergegas untuk menemui Umar bin Khattab. Alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui ternyata yang semalaman membantunya mengangkat gandum dan minyak adalah Umar sendiri.

    Dikutip dari buku Umar Ibn Al-Khattab His Life and Times Vol. 1, kekeringan dan kelaparan parah sempat terjadi pada tahun ke 18 setelah hijrah. Tahun ini disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu atau Ar-Ramad. Bencana ini mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya.

    Umar yang merasa bertanggung jawab melakukan berbagai usaha untuk membantu rakyatnya, termasuk mendistribusikan makanan dari Dar Ad-Daqeeq. Umar membagikan hingga berdoa memohon pengampunan pada Allah SWT hingga akhirnya turun hujan dan mengakhiri bencana tersebut.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Sayyidah Aisyah pada 17 Ramadan



    Jakarta

    Tepat hari ini, 17 Ramadan 58 H silam, Sayyidah Aisyah RA menghembuskan napas terakhirnya. Ummul Mukminin wafat setelah salat Witir.

    Sayyidah Aisyah RA adalah istri ketiga dan merupakan istri kesayangan Rasulullah SAW. Satu hal yang membuat Rasulullah SAW sangat mencintai dan menyayangi Sayyidah Aisyah RA adalah kecerdasan dan keleluasaan wawasannya.

    Semasa hidupnya Sayyidah Aisyah RA memiliki akhlak yang sangat baik, hingga menjelang wafatnya Sayyidah Aisyah RA juga menunjukkan sifat rendah hatinya.


    Dalam buku The Way of Muslimah karya Nurfaisya dikatakan, kecerdasan yang dimiliki oleh istri yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW itu sudah terlihat sejak dia masih kecil.

    Sayyidah Aisyah RA mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi pada masa kecilnya, termasuk hadis-hadis yang didengarnya dari Rasulullah SAW.

    Dia mampu memahami, meriwayatkan, menarik kesimpulan, serta memberikan penjelasan detail hukum fiqih yang terkandung di dalam hadits. Sayyidah Asiyah RA juga sering menjelaskan hikmah-hikmah dari peristiwa yang dialaminya pada masa kecil.

    Selain itu, Sayyidah Aisyah RA mampu mengingat dan memahami rahasia-rahasia hijrah secara terperinci hingga bagian-bagian terkecilnya.

    Wafatnya Sayyidah Aisyah pada Malam 17 Ramadan

    Merangkum dari buku Agungnya Taman Cinta sang Rasul karya Ustadzah Azizah Hefni dan buku Aisyah Ummul Mukminin, Keanggunan Sejati karya Sulaiman an-Nadawi, menjelang wafatnya Sayyidah Aisyah RA berkeinginan untuk menjadi hamba Allah SWT yang biasa dan tak dikenang. Ia bahkan merasa malu jika dimakamkan di dekat Rasulullah SAW.

    Sayyidah Aisyah RA tidak menghendaki hal tersebut dan berpesan agar kelak jika wafat, ia dikubur bersama dengan para sahabat lainnya di Baqi’.

    Sayyidah Aisyah RA berwasiat supaya beliau dikebumikan pada waktu malam. Imam Muhammad meriwayatkan dalam Kitab al-Muwatta’ yang Aisyah pernah ditanya mengapa beliau tidak mau dikebumikan di sisi Nabi Muhammad SAW? Aisyah RA menjawab, “Jika saya dikuburkan bersama mereka, saya adalah satu-satunya orang yang pernah melakukan amalan buruk yang dikuburkan di sana.”

    Aisyah meninggal dunia pada malam 17 Ramadan tahun 58 Hijriah setelah salat Witir. Utsman bin Abu Atiq berkata bahwa, “Saya melihat perempuan berkumpul di Baqi’ pada malam Sayyidah Aisyah RA meninggal dunia seolah-olah itu malam Raya.” Kisah ini diambil dari Kitab ath-Thabbaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad.

    Pada malam itu pula, Ummu Salamah mendengar bunyi hiruk pikuk seperti orang bergaduh. Beliau menyuruh pembantunya melihat apakah yang sudah terjadi. Tidak lama kemudian, pembantunya pulang dan menyampaikan berita bahwa Sayyidah Aisyah RA sudah meninggal dunia.

    Ummu Salamah berkata, “Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, Aisyah adalah orang yang paling dicintai pesuruh Allah SWT setelah ayahnya (Abu Bakar). Hakim mencatatkan kisah ini.

    Sewaktu Sayyidah Aisyah RA meninggal dunia, Abu Hurairah RA merupakan gubernur sementara di Kota Madinah. Beliau menjadi imam sembahyang jenazah. Setelah selesai Aisyah dikebumikan di Baqi’ yang menurunkan jenazah Aisyah ke dalam kubur adalah Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar, Abdullah bin Atiq, Urwah bin Zubair, dan Abdullah bin Zubair.

    Pada saat itu pula, Madinah seolah-olah sedang dilanda kiamat pada malam itu, mereka sedang tenggelam pada masa-masa kesedihannya. Cahaya yang terang-benderang menyinari kota Madinah sudah padam untuk selama-lamanya.

    Masruq, salah seorang pemimpin tabiin berkata, “Jika bukan karena takut timbulnya masalah, tentu saya sudah dirikan tempat berkabung untuk Aisyah, Ummul Mukminin.”

    Sementara itu, ada pendapat lain sebagaimana diceritakan dalam buku Aisyah Ummul Mu’Minin, Ayyamuha Wa Siratuha Al-Kamilah karya Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Sayyidah Aisyah RA wafat pada malam Selasa, 17 Ramadan. Salah satu ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Ibnu Katsir.

    Sayyidah Aisyah RA wafat pada usia 66 tahun.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Utsman bin Affan yang Masuk Islam Atas Ajakan Abu Bakar



    Yogyakarta

    Utsman bin Affan adalah salah seorang sahabat Nabi dan khulafaur rasyidin ketiga setelah Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Utsman bin Affan dilahirkan dari keluarga suku Quraisy Bani Umayyah dan hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyah.

    Disebutkan dalam buku Biografi Utsman bin Affan oleh Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Utsman bin Affan termasuk salah satu Assabiqunal Awwalun, yaitu golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Ia adalah umat laki-laki keempat yang masuk Islam, setelah Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

    Utsman bin Affan masuk Islam atas ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq. Saat Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi, Utsman berusia 34 tahun. Tidak ada perasaan bimbang dalam dirinya untuk segera memeluk Islam dan masuk ke agama Allah SWT.


    Ajakan Abu Bakar kepada Utsman bin Affan untuk Masuk Islam

    Mengutip dari buku Tarikh Khulafa karya Ibrahim Al-Quraibi, Utsman bin Affan memiliki bibi yang bernama Sa’da binti Kuraiz, seorang peramal di masa Jahiliyah. Bibinya pernah menyampaikan kepada Utsman mengenai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

    Sa’da mengatakan bahwa Muhammad itu berada di pihak yang benar serta agama yang diajarkannya akan unggul dan mengalahkan seluruh kaum yang memusuhinya. Pernyataan bibinya tersebut selalu terngiang dalam benaknya. Kemudian ia mendapati Abu Bakar yang sedang sendirian lalu duduk di sampingnya.

    Abu Bakar yang melihat kegundahan Utsman bin Affan kemudian bertanya tentang persoalannya. Lantas, Utsman menceritakan semua hal yang didengar dari bibinya.

    Abu Bakar kemudian berkata, “Celakalah engkau wahai Utsman! Demi Allah engkau adalah orang yang punya tekad kuat. Tidak sulit bagimu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bukanlah berhala-berhala yang disembah kaum mu itu hanyalah batu yang tuli, tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak bisa mencelakai, dan tidak bisa memberikan pertolongan?”

    Utsman menjawab, “Benar. Demi Allah, begitulah berhala-berhala itu.”

    Abu Bakar lalu melanjutkan, “Demi Allah, bibimu telah berkata benar kepadamu. Sesungguhnya, Muhammad bin Abdullah telah diutus oleh Allah dengan risalah-Nya untuk segenap makhluk. Apakah engkau mau menemui beliau dan mendengar penyampaian beliau?”

    Utsman langsung menjawab dengan yakin, “Ya, aku mau.”

    Tak selang lama, Rasulullah SAW bersama Ali bin Abi Thalib lewat. Abu Bakar pun langsung berdiri menghampiri beliau dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Ketika duduk, Rasulullah SAW menghadap Utsman lalu beliau bersabda, “Wahai Utsman, sambutlah panggilan Allah menuju surga-Nya. Sesungguhnya aku adalah utusan-Nya kepadamu dan seluruh makhluk-Nya.”

    Utsman menuturkan, “Ketika mendengar ucapan beliau, aku tidak bisa menahan diri untuk masuk Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”

    Keislaman Utsman bin Affan

    Sama halnya dengan orang-orang yang telah masuk Islam lainnya, ketika kaumnya mendengar dan mengetahui keislaman Utsman bin Affan, ia mendapat penentangan dan tekanan yang keras dari kaumnya, Bani Abdusy Syams. Penentangan tersebut terutama berasal dari pamannya sendiri, Hakam bin Ash bin Umayyah.

    Dikisahkan dalam buku Utsman bin Affan Ra. karya Abdul Syukur al-Azizi, Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin Harits at-Taimi, ia mengisahkan bahwa sewaktu Utsman bin Affan memeluk Islam, pamannya menangkapnya lalu membelenggunya dengan tali.

    Pamannya mengatakan, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu sehingga mengganti dengan agama baru? Demi Tuhan, tidak akan kulepas belenggumu sampai kamu meninggalkan agama yang kau anut sekarang!”

    Utsman bin Affan menjawab dengan tegas, “Demi Allah, aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini selama-lamanya. Aku juga tidak akan berpisah dari nabiku sepanjang hayat.”

    Melihat keteguhan Utsman bin Affan r.a. dalam memegang agama barunya, Hakam pun meninggalkannya.

    Semenara dalam riwayat lain, diceritakan bahwa Utsman bin Affan merupakan pemuda Quraisy terkemuka yang memiliki harta melimpah, berakhlak mulia, dan memiliki nasab yang terhormat di antara kaumnya.

    Namun, setelah orang-orang mengetahui keislaman Utsman bin Affan, mereka menjadi membencinya. Mereka menganggap apabila seseorang laki-laki sekaliber Utsman masuk Islam, maka keislamannya akan membuat banyak pemuda di Makkah ikut masuk Islam dan meniru jejaknya.

    Seperti banyak sahabat lainnya yang disiksa karena keislamannya, Utsman bin Affan juga mengalami nasib serupa. Disebutkan dalam riwayat, Utsman bin Affan diikat dengan tali-tali dan tidak diberi makan oleh pamannya, Hakam bin Ash.

    Pamannya berkata padanya, “Kembalilah kepada agama bapak-bapakmu! Demi Allah aku tidak akan meninggalkanmu sampai kamu meninggalkan agama Muhammad!”

    Namun, Utsman tetap teguh dengan pilihannya memeluk agama Rasulullah SAW. Ia sabar dan rela menanggung siksaan agar tetap berada di jalan-Nya. Hakam tidak menemukan cara penyiksaan lain selain siksaan setan.

    Konon, ia juga pernah membungkus Utsman bin Affan dengan tikar lalu menyalakan api di bawahnya hingga keluar asap. Akibatnya, Utsman r.a. hampir tercekik mati tetapi tetap tidak bergeming. Ia berteriak dengan lantang, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku, aku tidak akan berpisah dengan Nabiku!”

    Setiap pamannya menambah siksaan pada dirinya, maka bertambah pula keteguhan Utsman bin Affan dalam memegang agamanya. Pada akhirnya, pamannya putus asa dalam menyiksa sehingga ia meninggalkan Utsman r.a. begitu saja.

    Itulah kisah Utsman bin Affan yang masuk Islam atas ajakan Abu Bakar. Meskipun mendapatkan penyiksaan dari kaum dan pamannya sendiri, ia tetap memegang teguh keislamannya.

    Hal tersebut juga dapat dijadikan sebagai teladan bagi umat muslim agar menjadi pribadi layaknya Utsman bin Affan yang kuat meyakini keimanannya dan ikhlas melakukan perjuangan karena Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Rasulullah Urungkan Niat Kabarkan Waktu Lailatul Qadar



    Jakarta

    Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat diagungkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Menurut sebuah riwayat, Rasulullah SAW sempat ingin memberitahukan kapan waktu persis jatuhnya lailatul qadar, namun beliau mengurungkan niatnya.

    Perihal lailatul qadar telah disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al Qadr. Allah SWT berfirman,

    اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ ٥


    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam lailatul qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatulqadar itu ? Malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5)

    Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya, malam lailatul qadar sebagaimana disebutkan dalam surah di atas adalah malam yang penuh dengan keberkahan. Hal ini turut dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya,

    إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةٍ مُبارَكَةٍ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (lailatul qadar).” (QS Ad Dukhan: 3)

    Disebutkan dalam sebuah hadits yang termuat dalam Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari yang disusun oleh M. Nashiruddin al-Albani, lailatul qadar terletak pada 10 malam terakhir Ramadan. Tidak ada yang mengetahui kapan waktu persisnya kecuali Allah SWT.

    Dari Aisyah RA, ia berkata,

    كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، وَيَقُولُ : تَحَرَّوا (وَفِي رِوَايَةٍ : الْتَمِسُوا) لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

    Artinya: “Rasulullah SAW beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, dan beliau mengatakan, ‘Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR Bukhari)

    Dalam Shahih Bukhari juga terdapat riwayat yang menyebut bahwa Rasulullah SAW sempat akan memberitahukan waktu lailatul qadar. Namun, beliau mengurungkan niatnya.

    Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah SAW pergi untuk menemui para sahabatnya untuk mengabarkan tentang lailatul qadar, akan tetapi di sana terdapat perselisihan antara dua orang muslim.

    Rasulullah bersabda,

    إِنِّيْ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فتلاحَى فُلَانٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوْهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

    Artinya: “Aku datang kemari untuk mengabarkan tentang lailatul qadar, tetapi si Fulan dan si Fulan berselisih, maka kabar itu (tanggal turunnya) pun telah diangkat, mungkin itu yang lebih baik bagi kalian carilah ia (lailatul qadar) pada tanggal tujuh, sembilan, atau kelima (maksudnya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan).”

    Doa Malam Lailatul Qadar

    Shabri Shaleh Anwar dalam buku 10 Malam Akhir Ramadhan, menjelaskan mengenai sunah untuk memperbanyak doa pada malam tersebut. Diriwayatkan dari Aisyah RA, dia bertanya kepada Rasulullah SAW,

    يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Artinya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).’” (HR At-Tirmidzi dengan sanad shahih)

    Bacaan doa malam lailatul qadar dalam hadits tersebut adalah sebagai berikut,

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni

    Artinya: “Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku”

    Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa paginya malam lailatul qadar agar seorang muslim mengetahuinya dari Ubai RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim)

    Ibnu Abbas RA juga meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Malam lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas, dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Ibnu Khuzaimah)

    Lailatul Qadar Disebut Malam Penentuan

    Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengatakan dalam Kitab Syifa’ul ‘Alil fi Masa’ilil Qadha wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil, kata al-qadar merupakan bentuk masdar dari kata qadara. Kata qadara asy-syai’a artinya seseorang menentukan sesuatu sementara kata yuqaddiruhu qadran artinya seseorang akan menentukan sesuatu dengan ukuran tertentu. Jadi, lailatul qadar artinya malam penetapan dan penentuan.

    Sufyan meriwayatkan dari Ibnu Abi Najih dan dari Mujahid bahwa lailatul qadar adalah malam penentuan. Sufyan juga meriwayatkan dari Muhammad Ibn Sauqah, dari Sai’is ibn Jubair, ia berkata, “Diserukan kepada orang-orang yang menunaikan ibadah haji pada malam lailatul qadar kemudian ditulislah nama-nama mereka juga nama-nama ayah mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ketinggalan, ditambah atau dikurangi.”

    Sementara itu, Ibnu Aliyyah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Rabi’ah ibn Kultsum, ia berkata: ‘Ada seorang laki-laki bertanya kepada Hasan dan kebenaran saat itu aku mendengarkannya: ‘Menurutmu, apakah lailatul qadar turun di setiap bulan Ramadan?’ Hasan menjawab: ‘Ya benar. Demi Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh lailatul qadar itu turun di setiap bulan Ramadan. Pada malam itu juga Allah menentukan setiap ajal, perbuatan, dan rezeki seorang hamba’.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan saat Puasa, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Qais bin Shirmah Al-Anshari namanya. Sahabat Rasulullah SAW yang satu ini berasal dari golongan kaum Anshar.

    Kala itu pada bulan Ramadan, suhu udara di Madinah sangat terik. Sampai-sampai, panas Matahari terasa seperti menyengat tubuh.

    Setelah selesai bekerja tepat pada waktu berbuka, Qais pulang ke rumah dan bertanya kepada sang istri, “Apa kita punya makanan?”


    Si istri yang tidak berpuasa karena tengah haid, menjawab Qais dengan perasaan sedih bahwa tidak ada makanan di rumah. Merasa tak tega, ia berkata “Tunggulah sebentar, aku akan mencarikan makanan untukmu,”

    Dikisahkan dalam buku Pesona Ibadah Nabi oleh Ahmad Rofi’ Usmani, sang istri lalu pergi mencari makanan untuk Qais. Merasa lelah setelah seharian bekerja, Qais pun tertidur pulas.

    Sekembalinya si istri membawa makanan, ia merasa tak tega membangunkan suaminya yang tengah terlelap karena seharian bekerja. Akhirnya, tidurlah Qais semalaman tanpa berbuka.

    Walau begitu, keesokan harinya Qais tetap berpuasa. Alhasil, pada tengah hari dirinya jatuh pingsan karena belum makan dan minum sejak kemarin.

    Peristiwa tersebut lantas sampai ke telinga Rasulullah SAW. Lalu turunlah surat Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:

    أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

    Arab latin: Uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā`ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn, ‘alimallāhu annakum kuntum takhtānụna anfusakum fa tāba ‘alaikum wa ‘afā ‘angkum, fal-āna bāsyirụhunna wabtagụ mā kataballāhu lakum, wa kulụ wasyrabụ ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr, ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-laīl, wa lā tubāsyirụhunna wa antum ‘ākifụna fil-masājid, tilka ḥudụdullāhi fa lā taqrabụhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la’allahum yattaqụn

    Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa,”

    Mengutip dari buku Bekal Ramadhan dan Idhul Fitri 2 oleh Saiyid Mahadhir Lc MA, pada ayat tersebut dijelaskan terkait benang putih dan benang hitam. Maksud dari kata benang ialah gelapnya malam dan terangnya siang atau fajar.

    Hal tersebut dikatakan oleh salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Adi bin Hatim RA, ia bertanya kepada Nabi SAW mengenai maksud dari benang putih dan benang hitam pada surah Al Baqarah ayat 187, beliau bersabda: “(Bukan) akan tetapi ia adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar).” (HR Bukhari)

    Pada zaman itu, puasa Ramadan baru diwajibkan sehingga belum ada ketentuan jelas terkait batasan-batasan kapan diperbolehkan makan-minum serta kapan tidak boleh. Sebagian sahabat yang berpuasa bahkan tertidur sebelum berbuka hingga sepanjang malam.

    Ada juga yang tertidur lelap sampai-sampai tidak melaksanakan sahur, namun tetap harus puasa keesokan harinya, seperti yang dialami oleh Qais ibn Shirmah. Dengan demikian, turunnya surah Al Baqarah ayat 187 menjadi pedoman bagi kaum muslimin menjalankan puasa Ramadan.

    Terlebih, pada ayat tersebut dijelaskan mengenai waktu berpuasa Ramadan, yaitu dari terbit fajar hingga terbenamnya Matahari.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Terjadinya Nuzulul Qur’an, Benarkah Diturunkan Secara Bertahap?



    Yogyakarta

    Nuzulul Quran adalah salah satu peristiwa yang paling penting di dalam sejarah umat Islam. Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya Al-Qur’an yang terjadi di bulan Ramadan dan selalu diperingati oleh masyarakat muslim khususnya Indonesia.

    Lalu, bagaimanakah kisah nuzulul Quran itu terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menilik beberapa pendapat khususnya mengenai cara diturunkannya Al-Qur’an.

    Sebelumnya, penurunan Al-Qur’an ini difirmankan oleh Allah SWT melalui surah Al Qadr ayat 1-5 yang berbunyi,


    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan apakah kamu mengetahui mengenai malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dibandingkan dengan seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (dipenuhi) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5)

    Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama mengenai cara turunnya Al-Qur’an diturunkan. Berikut adalah pendapat beberapa ulama dikutip dari Buku Permata Al-Qur’an karya Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin yaitu:

    Pertama,

    Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada malam lailatul qadar secara sekaligus, artinya lengkap dari awal hingga akhir. Kemudian, Al-Qur’an yang lengkap tersebut diturunkan secara bertahap dengan tempo selama 23 tahun sesuai dengan masa kenabian Rasulullah SAW.

    Pendapat ini berpegangan pada riwayat at-Thabari melalui Ibnu Abbas yaitu,

    “Al-Qur’an itu diturunkan dalam lailatul qadar di bulan Ramadan ke langit dunia sekaligus semuanya, kemudian dari sana diturunkan sedikit demi sedikit ke dunia.” Dari segi isnad, menurut informasi yang diolah oleh Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin disebutkan bahwa riwayat tersebut tidak kuat.

    Kedua,

    Pendapat kedua menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam 23 Lailatul Qadar selama 23 tahun.

    Ketiga,

    Pendapat ketiga menyebutkan bahwa permulaan turunnya Al-Qur’an adalah pada malam lailatul qadar, kemudian diturunkan dengan berangsur-angsur dalam berbagai waktu selama 23 tahun.

    Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril sebagai utusan-Nya. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa dan atau kebutuhan Rasulullah SAW.

    Allah SWT berfirman dalam beberapa ayat surat Al-Qur’an yaitu,

    Kitab Al-Qur’an itu diturunkan dari Allah Yang Mahaagung dan Bijaksana. (QS. Al Jatsiyah: 2); Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al Isra: 106).

    Dari penjelasan ayat di atas dibahas oleh Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin untuk arti menurunkan, semuanya menggunakan kata tanzil bukan inzal. Hal ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur.

    Berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya, yakni Taurat, Injil, dan Zabur yang turun sekaligus, Al-Qur’an turun bertahap, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,

    “Dan berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al Furqa: 32)

    Dilansir dalam Aneka Keistimewaan Al-Qur’an karya Zakiyal Fikri, ayat di atas, menurut jumhur ulama dan mufasirin adalah dalil penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur yakni dengan menyesuaikan dan mengiringi peristiwa terjadi saat itu supaya meneguhkan hati Muhammad dan manusia tatkala menerimanya. Dan tentu, ini merupakan keistimewaan Al-Qur’an yang tak dimiliki oleh kitab manapun.

    Begitulah pembahasan kali ini mengenai kisah nuzulul Qur’an yang diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur dengan beberapa dalil dan pembahasan. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan sekaligus iman kita kepada Allah SWT. Amiin yaa Rabbalalamiin.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Idris Melihat Surga dan Neraka



    Jakarta

    Nabi Idris AS adalah salah satu nabi yang terkenal karena kesalehan dan ketaatannya dalam beribadah. Nabi Idris AS mendapatkan mukjizat dari Allah, yakni “bertamasya” ke surga dan neraka.

    Nabi Idris AS dipuji oleh Allah SWT karena dua hal. Pertama, Nabi Idris AS dijuluki “asad al-asad” (singa dari segala singa) karena berani, gagah, cekatan dalam menunggang kuda, dan tidak pernah berputus asa dalam menjalankan perintah Allah.

    Kedua, Nabi Idris AS dijuluki “harmasul haramisah” (ahli perbintangan). Konon, ia menguasai banyak bahasa dan mahir dalam berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu perhitungan, ilmu alam, ilmu perbintangan, dan lain sebagainya.


    Salah satunya diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 56-57,

    وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِدْرِيْسَۖ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا ۙ وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

    Artinya: Ceritakanlah (Nabi Muhammad kisah) Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang sangat benar dan membenarkan lagi seorang nabi. Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

    Terdapat beberapa tafsir bahwa ‘martabat yang tinggi’ berarti adalah peristiwa ketika Allah mengangkat Nabi Idris AS ke surga setelah kunjungannya. Berikut ceritanya.

    Mukjizat untuk Mengunjungi Surga dan Neraka

    Mengutip buku Kisah Luar Biasa 25 Nabi & Rasul karya Henni Nur’aeni, pada suatu ketika, Nabi Idris AS didatangi Malaikat Izrail yang menyamar sebagai seorang laki-laki tampan atas izin Allah SWT.

    Kedatangan Malaikat Maut tersebut bukan untuk mencabut nyawa Nabi Idris AS, melainkan sekadar bertamu karena ia kagum terhadap Nabi Idris AS yang ahli ibadah dan selalu berzikir kepada Allah SWT.

    Singkat cerita, Nabi Idris AS pun menanyakan siapa sebenarnya lelaki tampan yang mengunjunginya itu. Akhirnya Malaikat Izrail pun mengakui siapa dirinya dan menyampaikan maksud kedatangannya.

    Nabi Idris AS mengajukan sebuah permintaan, yakni ingin mengetahui tentang bagaimana surga dan neraka untuk mengingatkannya akan azab Allah.

    Malaikat Izrail lantas meminta izin kepada Allah untuk membawa Nabi Idris AS ke neraka. Permintaan itu dikabulkan oleh Allah. Mereka lalu pergi untuk melihat neraka. Ketika hampir sampai, Nabi Idris AS langsung pingsan sebab melihat malaikat penjaga neraka yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang mendurhakai Allah semasa hidup di dunia.

    Ternyata Nabi Idris AS tidak sanggup menyaksikan berbagai macam siksaan yang mengerikan itu. Seumur hidupnya, tidak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan dengan dahsyatnya api neraka. Api yang sangat panas berkobar-kobar disertai bunyi bergemuruh yang menakutkan.

    Ia tidak bisa membayangkan apabila hal itu menimpa umatnya kelak. Oleh karenanya Nabi Idris AS semakin giat berdakwah agar tidak ada umatnya yang tersesat dari jalan Allah dan tergulung oleh api neraka.

    Nabi Idris AS kemudian meninggalkan neraka dengan tubuh lemas dan penuh rasa takut. Bayangan api neraka dan segala siksaan di dalamnya masih menghantui dirinya. Namun, dengan hal itu Nabi Idris AS semakin menguatkan tekad dan imannya untuk selalu patuh pada perintah Allah SWT.

    Nabi Idris Takjub dengan Pesona Surga

    Setelah mengunjungi neraka, Malaikat Izrail mengantarkan Nabi Idris AS ke surga. Di sana, ia juga nyaris pingsan. Ahmad Fatih menyebutkan dalam bukunya Menengok Kisah 25 Nabi dan Rasul bahwa Nabi Idris AS bukan pingsan karena ketakutan melainkan terpesona oleh segala keindahan yang tampak di depan matanya.

    Nabi Idris AS melihat sungai-sungai yang begitu bening airnya, seperti kaca. Sementara itu, di pinggir sungai terdapat pohon-pohon yang bagian batangnya terbuat dari emas dan perak. Ia pun melihat-lihat istana yang disediakan untuk para penghuni surga.

    Sepanjang mata memandang Nabi Idris AS menemui begitu banyak pohon yang menghasilkan buah-buahan yang segar, ranum, dan harum. Setelah puas berkeliling, Malaikat Izrail mengajak Nabi Idris AS untuk pulang ke bumi. Namun, Nabi Idris AS enggan pulang.

    Malaikat Izrail lantas memberinya peringatan, “Kamu boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti. Setelah semua amal ibadah dihisab oleh Allah SWT, barulah kamu bisa menghuni surga bersama para nabi dan orang beriman lainnya.”

    Awalnya Nabi Idris AS teguh pendirian tidak ingin meninggalkan surga. Namun, pada akhirnya Nabi Idris AS pun mengangguk dan bertekad akan selalu beribadah kepada Allah sampai pada hari kiamat tiba. Adapun Allah Yang Maha Pengasih terutama kepada nabi-Nya kemudian mengaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit.

    Ahmad Sobiriyanto dalam bukunya Dipuji dan Dihina Allah mengatakan, Nabi Idris AS pun menjadi satu-satunya nabi yang menghuni surga (tepatnya di langit keempat) tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Idris AS berusia 82 tahun.

    Kelak, ketika Rasulullah SAW melakukan mi’raj ke langit menghadap Allah bersama malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Idris AS. Rasulullah menghampiri Nabi Idris AS dan singgah sejenak sebelum akhirnya naik ke langit paling atas. Hal tersebut didasarkan pada hadits berikut,

    Rasulullah bersabda, “Gerbang telah terbuka, dan ketika aku pergi ke surga keempat, di sana aku melihat Idris. Jibril berkata (kepadaku), ‘Ini adalah Idris; berilah ia salammu.’ Maka, aku mengucapkan salam kepadanya, dan ia mengucapkan, ‘Selamat datang, wahai saudaraku yang alim dan nabi yang shalih’, sebagai balasan salamnya kepadaku.” (HR Bukhari)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sahabat Nabi yang Diberi Julukan ‘Pintu Ilmu’, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Sahabat yang disebut Nabi sebagai pintu ilmu adalah Ali bin Abi Thalib. Sebagai salah satu sahabat, Ali bin Abi Thalid dianugerahi gelar Babul ‘Ilm atau pintu ilmu pengetahuan karena kepribadian dan dedikasinya yang luar biasa di mata Rasulullah SAW.

    Kisah yang terkait dengan Ali bin Abi Thalib sebagai pintu ilmu, disampaikan salah satunya melalui Buku Oase Spiritual 1 karya M. Syaiful Bakhri. Kisah tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

    Kisah Ali bin Abi Thalib, Sang Pintu Ilmu

    Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan, “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya.” Ketika orang-orang Khawarij (penentang Ali bin Abi Thalib) mendengar hadits ini, mereka menjadi tidak suka kepada Ali. Sepuluh orang pembesar Khawarij segera berkumpul.


    Mereka semua kemudian berkata, “Kami hendak bertanya kepada Ali tentang satu masalah agar bisa meyakinkan kami, bagaimana kira-kira jawaban Ali. Apabila Ali dapat menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang berlainan, maka kami percaya bahwa Ali adalah seorang yang banyak pengetahuannya, sebagaimana ucapan Nabi Muhammad SAW.”

    Kemudian datanglah satu demi satu dari mereka dan bertanya, “Ya Ali, manakah yang lebih utama apakah ilmu ataukah harta?” Ali lantas menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.” Kemudian orang itu bertanya lagi “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Ilmu adalah peninggalan para Nabi sedangkan harta adalah warisan Qarun, Syaddat, Fir’aun, dan lain- lainnya.”

    Setelah mendengar jawaban tersebut, kemudian orang kedua Khawarij datang dan bertanya sebagaimana pertanyaan orang pertama, kemudian Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang itu bertanya lagi, “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Ilmu akan menjaga dirimu, sedangkan harta engkaulah yang harus menjaganya.”

    Orang ketiga dari mereka kemudian datang mengajukan pertanyaan sebagaimana pertanyaan orang pertama dan kedua, lalu Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang yang datang ketiga itu menjawab balik, “Tunjukkan dasarnya.” Ali kemudian menjawab, “Kepada si pemilik harta akan mempunyai banyak musuh dan kepada orang yang memiliki banyak ilmu akan mempunyai banyak teman.’

    Datanglah orang keempat yang kemudian dia bertanya ilmu ataukah harta yang lebih utama? Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Laki-laki itu minta ditunjukkan dasarnya. Ali menjawab, “Apabila kamu memberikan harta kepada orang lain maka sesungguhnya harta itu menjadi berkurang dan apabila kamu memberikan ilmu maka ilmu itu akan bertambah.”

    Kemudian datang orang kelima, dia mengajukanpertanyaan sebagaimana pertanyaan teman-temannya. Ali menjawab bahwasanya ilmu lebih utama daripada harta. Dia juga meminta dasar yang menunjukkan pendapat tersebut. Ali lalu menunjukkan, “Orang yang mempunyai harta mendapat julukan bakhil (pelit) dan tercela, sedangkan orang yang berilmu mendapatkan sebutan terhormat dan mulia.”

    Selanjutnya datang lagi orang keenam dan bertanya masih mengenai persoalan yang sama. Maka Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang itu bertanya “Tunjukkan dasarnya.” Ali menjawab, “Harta itu perlu dijaga dari para pencuri sedangkan ilmu tidak perlu dijaga dari pencuri.” Maka orang itu pun pergi dengan membawa jawaban.

    Kemudian datang lagi orang ketujuh dan bertanya dengan soal yang sama, selanjutnya setelah terjawab mereka bertanya, “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Orang yang mempunyai harta akan dihisab kelak di hari kiamat, sedangkan ilmu akan memberikan pertolongan pada hari kiamat.”

    Lalu datang lagi orang kedelapan dan bertanya, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali menjawab, “Harta akan menjadi musnah jika diendapkan terlalu lama, sedangkan ilmu tidak akan musnah dan tidak menjadi busuk.”

    Berikutnya datang lagi orang urutan kesembilan sembari bertanya dengan pertanyaan yang sama, Ali tetap menjawab ilmu lebih utama. Orang itu bertanya, “Apa dasarnya?” Ali menjelaskan bahwa harta dapat mengeraskan hati sedangkan ilmu akan menerangi hati.

    Kemudian datang orang terakhir atau kesepuluh, dia kemudian bertanya tentang perihal yang sama. Ali menjawab,”Ilmu lebih utama daripada harta.” Lalu dia juga melanjutkan pertanyaan, “Apa dasarnya?” Ali menjelaskan bahwa, “Orang yang memiliki harta mengagung-agungkan diri karena hartanya, sedangkan ilmu menjadikan manusia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Andaikan semua orang Khawarij bertanya kepadaku tentang pertanyaan di atas, maka akan aku jawab dengan masing-masing jawaban yang berlainan pula sepanjang hidupku, maka justru merekalah yang akan datang dan menjalankan Islam dengan benar.” Subhanallah.

    Itulah kisah mengenai sahabat yang disebut Nabi sebagai pintu ilmu yaitu Ali bin Abi Thalib. Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan sekaligus bermanfaat bagi kita semua. Amiin yaa Rabbalalamiin.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Paman Nabi Muhammad yang Merawat dan Mengajaknya Berdagang



    Yogyakarta

    Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad yang mengasuh dan merawatnya selepas meninggalnya sang kakek, Abdul Muththalib. Abu Thalib juga menjadi sosok yang mengajak dan mengajari Nabi Muhammad untuk berdagang, berikut kisahnya.

    Nabi Muhammad di Bawah Asuhan Sang Paman

    Diceritakan dalam buku Sirah Nabawiyah oleh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Nabi Muhammad SAW dulunya lahir tanpa seorang ayah. Beliau juga hanya diasuh oleh ibu kandungnya dalam waktu yang sangat singkat.

    Dalam tradisi bangsa Arab saat itu, anak yang baru lahir tidak boleh disusui oleh ibunya sehingga mereka mencari wanita yang bisa menyusui anaknya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari penyakit yang bisa menjalar di daerah perkotaan serta agar tubuh bayi menjadi kuat.


    Pada usia enam tahun, Nabi Muhammad SAW baru diserahkan kembali kepada ibunda kandungnya. Tatkala perjalanan pulang dari makam ayahnya di Kota Yatsrib, ibunda Nabi, Siti Aminah, jatuh sakit dan meninggal dunia di kota Abwa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah.

    Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW telah menjadi seorang yatim piatu di usianya yang keenam tahun. Kemudian ia hidup bersama kakeknya, Abdul Muthalib, di kota Makkah. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Di usia delapan tahun, Abdul Muthalib wafat dan Muhammad kecil kembali kehilangan kasih sayang dari kakek tercintanya.

    Sepeninggalan kakeknya, Abdul Muththalib, Nabi Muhammad SAW dirawat oleh pamannya, Abu Thalib. Sebelum meninggal, Abdul Muththalib sudah berpesan sebelumnya untuk menitipkan pengasuhan sang cucu kepada pamannya, Abu Thalib, saudara kandung ayah beliau.

    Abu Thalib melaksanakan hak pengasuhan anak saudaranya dengan sepenuh hati dan menganggap Nabi Muhammad seperti anaknya sendiri. Bahkan, Abu Thalib lebih mendahulukan kepentingan beliau daripada anak-anaknya sendiri.

    Sikap Abu Thalib tetap sama hingga Nabi Muhammad berusia lebih dari empat puluh tahun. Beliau mendapatkan kehormatan di sisi Abu Thalib, hidup di bawah penjagaannya, rela menjalin persahabatan dan bermusuhan dengan orang lain demi membela beliau.

    Abu Thalib Mengajak Nabi Muhammad Berdagang ke Syiria dan Bertemu dengan Bahira

    Mengutip dari buku Muhammad di Makkah dan Madinah karya Tabari, suatu hari Abu Thalib melakukan perjalanan dagang ke Syiria dengan kelompok Quraisy. Ketika semua persiapannya telah selesai dan siap untuk pergi, Rasulullah SAW tidak mau ditinggal oleh pamannya.

    Abu Thalib yang merasa kasihan padanya lalu berkata, “Sungguh, aku akan membawanya bersamaku dan kita tidak boleh saling terpisah.”

    Abu Thalib mengajak Nabi Muhammad pergi berdagang bersamanya ke Syiria di usianya yang masih sembilan tahun. Tatkala rombongan pedagang berhenti di Bushra, Syria, di sana terdapat seorang rahib bernama Bahira yang tinggal dalam biaranya.

    Di dalam biara tersebut, ada seorang biarawan beragama Kristen yang memiliki pengetahuan tentang tanda-tanda kenabian yang tertulis dalam kitab terdahulu. Saat rombongan pedagang tersebut berhenti di biaranya dan singgah di sana, Bahira menyiapkan hidangan yang banyak.

    Bahira dapat melihat Rasulullah SAW yang selalu dipayungi oleh awan sehingga membuatnya terlihat mencolok di antara orang-orang dalam rombongannya. Ketika melihat Rasulullah SAW dari dekat, Bahira mengamati beliau dengan sungguh-sungguh. Ciri-ciri fisik pada diri Nabi Muhammad benar-benar persis dengan yang tertulis dalam kitabnya.

    Seusai rombongan tersebut selesai makan, rahib itu bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang hal-hal yang telah terjadi, baik ketika beliau sedang terjaga maupun sedang tidur. Ketika mengamati punggung Rasulullah SAW, Bahira dapat melihat tanda (cincin) kenabian di antara kedua pundak beliau.

    Bahira pun bertanya kepada Abu Thalib paman Rasulullah SAW, “Apa hubungan anak laki-laki ini denganmu?”

    Abu thalib menjawab, “Anakku.”

    “Ia bukan anakmu. Ayah anak itu tidak mungkin masih hidup” ucap Bahira.

    “Ia anak saudara laki-lakiku,” terang Abu Thalib.

    Bahira lalu bertanya kembali, “Apa yang terjadi pada ayahnya?”

    “Ayahnya meninggal ketika ia masih ada di dalam kandungan ibunya,” jawab Abu Thalib.

    “Kamu mengatakan hal yang sebenarnya. Bawa anak itu kembali ke negaramu dan jadilah pelindungnya dari kaum Yahudi. Sebab, demi Tuhan, jika mereka melihatnya dan mengenali apa yang aku temukan pada dirinya, mereka akan berusaha membinasakannya. Hal-hal luar biasa tersimpan dalam diri anak ini. Maka, segeralah bawa ia kembali ke negaramu,” kata Bahira.

    Hal tersebut lantas membuat Abu Thalib segera membawa Nabi Muhammad SAW kembali ke kota Makkah. Sejak saat itulah, Abu Thalib menjadi sosok paman yang selalu melindungi Nabi Muhammad dan membelanya tatkala mendapat perlawanan dari kafir Quraisy.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com