Author: detikcom

  • Bertemu Malaikat Munkar dan Nakir, Umar bin Khattab: Siapa Tuhan Kalian?



    Jakarta

    Sayyidina Umar bin Khattab termasuk salah satu sahabat Rasulullah SAW yang setia dan berani. Bahkan keberaniannya pun dibawa sampai ke alam kubur ketika bertemu Malaikat Munkar dan Nakir.

    Setiap manusia yang meninggal dunia maka akan memasuki alam kubur. Di alam kubur ini ada dua malaikat yakni Munkar dan Nakir yang bertugas menyampaikan pertanyaan yang harus dijawab.

    Tugas dari malaikat Munkar dan Nakir dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,


    إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ

    Artinya: “Apabila mayat atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Munkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata: Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)? Maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia…” (HR Tirmidzi).

    Setiap orang yang beriman akan dengan mudah menjawab pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Sebaliknya, bagi orang yang zalim maka mereka akan kesulitan menjawabnya.

    Kisah Umar bin Khattab Bertemu Malaikat Munkar dan Nakir

    Mengutip laman NU Online (6/5/2023) dijelaskan Imam Jalaludin As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hâwî lil Fatâwî menuliskan sebuah riwayat dari Al-Jazuli dalam kitab Syarhur Risâlah, bahwa satu ketika Rasulullah berbicara kepada para sahabat perihal Munkar dan Nakir.

    Digambarkannya malaikat Munkar dan Nakir akan mendatangi seorang mayit di kuburan dalam bentuk yang begitu menyeramkan; berkulit hitam, seram, keras, dan sifat-sifat buruk dan menakutkan lainnya. Lalu kedua malaikat itu akan menanyai si mayit ketika di alam kubur.

    Mendengar penuturan Rasulullah itu Umar bin Khattab bertanya, “Rasul, apakah saat di kuburan nanti aku sebagaimana sekarang ini?” “Ya,” jawab Rasul.

    “Kalau begitu,” timpal Umar kemudian, “demi Allah akan aku lawan kedua malaikat itu!”

    Keberanian Umar bin Khattab memang tidak bisa diragukan. Dalam membela Islam, ia selalu berada di deretan terdepan. Tak ada yang ia takuti kecuali Allah SWT.

    Konon, ketika Sayyidina Umar bin Khattab meninggal dunia putra beliau yang bernama Abdullah bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu Abdullah menanyakan tentang keadaan sang ayah di alam kubur.

    Oleh Umar pertanyaan anaknya itu dijawab, “Aku didatangi dua malaikat. Keduanya bertanya kepadaku, siapa Tuhanmu, siapa nabimu? Aku jawab, Tuhanku Allah dan nabiku Muhammad. Lalu kepadanya aku tanyakan, kalian berdua, siapa Tuhanmu? Mendapat pertanyaan seperti itu kedua malaikat itu saling berpandangan. Salah satunya berkata, ini Umar bin Khattab. Lalu keduanya pergi meninggalkanku.”

    Malaikat Munkar dan Nakir justru pergi meninggalkan Umar bin Khattab yang justru bertanya balik. Tingkat keimanan yang tinggi menjadikan Umar bin Khattab berani dan bisa melontarkan pertanyaan tersebut.

    Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir

    Mengutip buku At-Tadzkirah Jilid 1 Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi oleh Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa sebelum bertemu dengan malaikat Munkar dan Nakir, roh seseorang akan diminta untuk mencatat amal perbuatannya. Setelah itu barulah datang Malaikat Munkar dan Nakir yang akan mengajukan pertanyaan.

    Maka kedua malaikat tersebut, Munkar dan Nakir lantas menyuruh mayit itu duduk, dan memulai pertanyaannya dengan keras. Mereka membentaknya dengan bengis, padahal tanah bagi mayit itu sudah seperti air saja, ke mana dia bergerak, tanah itu tembus.

    Kedua malaikat itu bertanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Apa kiblatmu?”

    Barangsiapa mendapat pertolongan Allah dan dimantapkan dengan perkataan yang teguh, maka dia bisa balik bertanya, “Siapa yang menugaskan kalian berdua datang kemari? Siapa yang mengutus kalian kepadaku?” Tapi, ini hanya bisa dikatakan oleh para ulama pilihan.

    Maka salah satu dari malaikat itu berkata kepada temannya, “Dia benar. Dia dilindungi dari keburukan kita.”

    Kemudian kedua malaikat itu membangun kubur mayit, dijadikan seperti kubah yang besar, dan mereka bukakan untuknya sebuah pintu menuju ke surga di sebelah kanannya. Lalu mereka hamparkan pula untuknya permadani dari sutra surga, ditaburi wewangian surga.

    Kemudian melalui pintu itu berhembuslah angin lembut dari surga, kesegaran dan wewangiannya. Sesudah itu datanglah kepadanya amalnya sendiri dalam rupa manusia yang paling dia sukai. Amal itu menghiburnya, mengajaknya bicara dan memenuhi cahaya dalam kuburnya.

    Oleh karenanya, mayit itu selalu gembira dan bahagia sepanjang umur dunia, sampai datangnya hari kiamat kelak. Bahkan dia bertanya-tanya, kapankah datangnya kiamat. Karena tidak ada yang lebih dia sukai selain datangnya kiamat.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Musa Menerima Wahyu di Gunung Sinai, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Nabi Musa menerima wahyu berupa kitab Taurat pertama kali di Gunung Sinai (Thur Sinai). Gunung tersebut berada di Mesir, tepatnya di Semenanjung Sinai sebagaimana disebutkan dalam buku Quranku Sahabatku Jilid 2 oleh H Prof Dr Arif Muhammad.

    Dalam Al-Qur’an, Gunung Sinai dikatakan sebagai tempat Nabi Musa AS berdialog dengan Allah SWT. Hal ini tercantum pada surat Al A’raf ayat 143,

    وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ


    Arab latin: Wa lammā jā`a mụsā limīqātinā wa kallamahụ rabbuhụ qāla rabbi arinī anẓur ilaīk, qāla lan tarānī wa lākininẓur ilal-jabali fa inistaqarra makānahụ fa saufa tarānī, fa lammā tajallā rabbuhụ lil-jabali ja’alahụ dakkaw wa kharra mụsā ṣa’iqā, fa lammā afāqa qāla sub-ḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu`minīn

    Artinya: “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman,”

    Menukil dari buku Fi Zhilal Al-Qur’an tulisan Sayyid Quthb, Gunung Sinai menjadi tempat yang penting dalam sejarah Nabi Musa. Bahkan, saking istimewanya Gunung Sinai, dalam surat At Tin disebutkan juga mengenai gunung tersebut.

    وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيْتُونِ

    Arab latin: wat-tīni waz-zaitụn
    Artinya: 1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,

    وَطُورِ سِينِينَ

    Arab latin: wa ṭụri sīnīn
    Artinya: 2. dan demi bukit Sinai,

    Kisah Nabi Musa Menerima Wahyu di Gunung Sinai

    Kala itu Nabi Musa dipanggil Allah ke Gunung Sinai untuk menerima wahyu yaitu kitab Taurat seperti dikisahkan dalam buku Mengenal Tuhan susunan Bey Arifin. Selama 40 hari 40 malam di Gunung Sinai, Nabi Musa berdialog dengan Allah SWT hingga timbul keinginan untuk melihat wujud Allah SWT.

    Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al A’raf ayat 143, Allah kemudian memperlihatkan diri-Nya. Namun, ketika wujud Allah muncul, justru gunung tersebut menjadi cair dan lenyap sepenuhnya dari permukaan Bumi.

    Kejadian itu lantas membuat Nabi Musa AS pingsan. Setelah sadar, ia kemudian bersimpuh menyembah dan meminta ampun kepada Allah SWT seraya berkata, “Mahasuci Engkau Tuhan, aku tobat minta ampun, dan ya akulah orang yang benar-benar percaya kepada-Mu,”

    Menurut buku Peradaban Prasejarah Nusantara Berdasarkan Kisah Para Nabi karya Ki Jambalawuh, setelah menerima wahyu di Gunung Sinai, Nabi Musa meminta agar Harun saudara sepupunya diangkat menjadi rasul untuk menemani dirinya berdakwah kepada Fir’aun karena ia lebih fasih dalam berbicara. Ini disebabkan Musa kecil sempat memakan bara api hingga lidahnya terbakar dan mengakibatkan dia tidak fasih dalam berbicara.

    Isi dari Kitab Taurat

    Kitab Taurat berisikan 10 pokok peraturan atau perintah. Perintah itu bertujuan untuk mengesakan Allah SWT, menghormati ayah ibu, dan menyucikan hari Sabtu.

    Adapun larangan di dalamnya meliputi menyembah berhala, menyebut nama Allah SWT dengan sia-sia, membunuh manusia, berzina, mencuri, menjadi saksi palsu, dan mengambil hak orang lain. Berikut isi kitab Taurat seperti dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam oleh Tuti Yustiani:

    1. Jangan ada pada Tuhan lain di kehadirat-Ku
    2. Jangan membuat patung ukiran dan jangan pula menyembah patung karena Aku Tuhan Allahmu
    3. Jangan kamu menyebut Tuhan Allahmu dengan sia-sia
    4. Ingatlah kamu akan hari sabat (Sabtu), supaya kamu sucikan dia
    5. Berilah hormat kepada ibu bapakmu
    6. Jangan membunuh sesama manusia
    7. Jangan berzina
    8. Jangan mencuri
    9. Jangan menjadi saksi palsu
    10. Jangan berkeinginan memiliki hak orang lain

    Cerita Singkat Nabi Musa dan Fir’aun

    Kemudian, Nabi Musa meneruskan perjalanannya ke Mesir. Sesampainya di Mesir, beliau menemui ibu dan saudaranya yaitu Nabi Harun sambil menyampaikan bahwa Allah telah mengirim wahyu kepadanya. Selanjutnya, Musa dan Harun berangkat menemui Fir’aun untuk mengajaknya menyembah Allah.

    Sayangnya, Fir’aun menolak dan mengajukan tantangan kepada Musa untuk menunjukkan mukjizat sebagai bukti akan kenabian dan kerasulan dirinya. Bahkan, Fir’aun menyuruh tukang sihir untuk melemparkan tali mereka dan seketika tali-tali itu berubah menjadi ular.

    Allah lalu mewahyukan kepada Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya, atas izin Allah maka tongkat itu berubah menjadi ular besar dan memakan ular-ular tukang sihir Fir’aun. Kejadian itu membuat Fir’aun marah dan menyebut Musa sebagai penyihir.

    Singkat cerita, Fir’aun meminta mukjizat yang lain, akhirnya Nabi Musa memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan kembali. Dengan kuasa Allah, tangan Musa mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan pandangan Fir’aun dan bala tentaranya, sampai-sampai ia meminta Nabi Musa untuk memasukkan tangannya kembali.

    Meski telah dibuktikan dengan berbagai mukjizat, tetap saja Fir’aun yang ingkar tidak percaya kepada Musa yang merupakan nabi sekaligus rasul Allah. Dalam buku Cerita Teladan 25 Nabi dan Rasul tulisan Lip Syarifah, akhirnya Nabi Musa mengajak para pengikutnya untuk keluar dari Mesir, hal itu sampai ke telinga Fir’aun dan bala tentaranya.

    Mereka mengejar Nabi Musa dan kaumnya yang beriman hingga ke Laut Merah. Maha Suci Allah, Nabi Musa dan pengikutnya selamat karena mukjizatnya yang dapat membelah lautan ketika tongkat Musa dipukulkan ke Laut Merah. Sementara itu, Fir’aun dan tentaranya hanyut di Laut Merah karena mencoba menyebrangi lautan.

    Itulah kisah mengenai Nabi Musa yang menerima wahyu di Gunung Sinai beserta informasi terkaitnya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Daud Diangkat Menjadi Raja yang Adil dan Bijaksana



    Jakarta

    Nabi Daud diangkat menjadi raja menggantikan Raja Thalut. Usai wafatnya Raja Thalut, Bani Israil dipimpin oleh salah satu putranya.

    Sayangnya, sang putra pengganti Raja Thalut bukan pemimpin yang baik. Dia justru sering bertindak tidak adil hingga berujung munculnya perpecahan, seperti dikisahkan dalam buku Kisah Teladan & Menakjubkan 25 Nabi yang disusun oleh Ariany Syurfah M Hum M Ag.

    Pada perpecahan tersebut, muncul dua kubu yang dipimpin oleh Nabi Daud dan putra Raja Thalut. Peperangan antar keduanya dimenangkan oleh kubu Daud hingga akhirnya beliaulah yang diangkat menjadi raja untuk menempati kekuasaan.


    Kisah mengenai Nabi Daud AS diabadikan dalam sejumlah surat di Al-Qur’an, seperti surat Al Baqarah, Al Anbiya, An Naml, Saba’ dan Shad.

    Masa Kepemimpinan Nabi Daud sebagai Seorang Raja

    Mengacu pada sumber yang sama, Nabi Daud memerintah rakyatnya berdasarkan hukum Allah dan membela orang-orang yang tertindas. Karenanya, rakyat menjalani kehidupan yang bahagia semasa kepemimpinannya.

    Kerajaan Nabi Daud sangatlah kuat dan sulit dikalahkan oleh musuh. Disebutkan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul tulisan Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, kerajaan beliau selalu memperoleh kemenangan atas semua musuhnya.

    Nabi Daud AS menetap di Kota Bethlehe, Palestina dan memimpin Bani Israil. Dirinya merupakan seorang raja yang bijak dan adil.

    Alih-alih terlena akan kekayaannya sebagai seorang raja, Nabi Daud justru selalu bersyukur kepada Allah atas semua yang ia miliki. Mengutip dari buku Kisah-kisah Terbaik Al-Qur’an karangan Kamal As-Sayyid, Nabi Daud AS juga dikaruniai suara yang indah. Siapa saja yang mendengar suara beliau akan merasa terkesima.

    Bergabungnya Nabi Daud dalam Pasukan Raja Thalut

    Sebelum Raja Thalut wafat, dirinya menyusun kekuatan militer untuk mengumpulkan pemuda dan orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentara. Nantinya, pasukan tersebut dilatih untuk menghadapi bangsa yang terkenal kuat, berani, dan telah lama menguasai Palestina.

    Dijelaskan dalam buku Dahsyatnya Doa Para Nabi oleh Syamsuddin Noor, Nabi Daud dan dua orang kakaknya diminta sang ayah untuk bergabung ke barisan laskar Thalut. Ia meminta Nabi Daud berada di barisan belakang karena usianya sangat muda dan belum memiliki pengalaman perang.

    Setelah menjalani pelatihan, tibalah waktu di mana pasukan Raja Thalut menghadapi musuh yang dipimpin oleh panglima bernama Jalut. Panglima Jalut terkenal berani, terlatih dan tidak pernah kalah dalam peperangan.

    Kala itu, rombongan pasukan Jalut berjumlah 8.000 orang, sementara pasukan Raja Thalut hanya 300 tentara dan Nabi Daud termasuk ke dalam salah satunya. Meski merasa takut, mereka bertawakal dan beriman kepada Allah serta mengucap doa dalam surat Al Baqarah ayat 250.

    وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Arab latin: Wa lammā barazụ lijālụta wa junụdihī qālụ rabbanā afrig ‘alainā ṣabraw wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

    Artinya: “Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir,”

    Ketika pertempuran dimulai, panglima Jalut menantang pasukan Raja Thalut. Tidak seorang pun di antara mereka berani keluar, alhasil Jalut mengejek dan menghina mereka.

    Melihat hal itu, Nabi Daud lupa pesan ayahnya untuk berada di barisan belakang. Ia lantas menawarkan diri kepada Raja Thalut untuk melawan Jalut.

    Meski merasa ragu-ragu karena Nabi Daud bertubuh kecil, Thalut akhirnya mengizinkannya dan memberikan Nabi Daud perlengkapan perang. Kala itu, Nabi Daud enggan memakainya karena berat dan tidak terbiasa menggunakan perlengkapan tersebut.

    “Bagaimana engkau dapat bertarung dengan hanya bersenjatakan tongkat, ketapel, dan batu-batu melawan Jalut yang bersenjatakan pedang, panah, dan pakaian perang yang lengkap?” tanya Raja Thalut yang heran.

    Mendengar hal itu Nabi Daud menjawab, “Tuhan yang telah melindungiku. Taring singa dan kuku beruang juga akan melindungiku dari sabetan pedang dan panah Jalut yang durhaka itu,”

    Ketika Nabi Daud menuju Jalut, dia berkata,

    “Untuk apa tongkat yang engkau bawa itu? Untuk mengejar anjing atau untuk memukul anak-anak yang sebaya dengan engkau? Di mana pedang dan zirahmu? Rupanya engkau sudah bosan hidup dan ingin mati, padahal engkau masih muda. Engkau belum merasakan suka-dukanya kehidupan. Engkau masih harus banyak belajar dari pengalaman. Majulah engkau ke sini! Aku akan habiskan nyawamu dalam sekejap mata. Dagingmu akan kujadikan makanan yang lezat bagi binatang- binatang di darat dan burung-burung di udara,”

    Nabi Daud AS menjawab, “Engkau boleh bangga dengan zirah dan topi bajamu. Engkau boleh merasa kuat dan ampuh dengan pedang dan panahmu. Akan tetapi, ingatlah! Ia tidak akan sanggup menyelamatkan nyawamu dari tanganku yang masih halus dan bersih ini. Aku datang ke sini dengan nama Allah SWT, Tuhan Bani Israil yang telah lama engkau hinakan, engkau jajah, dan engkau tundukkan. Sebentar lagi, engkau akan mengetahui, apakah pedang dan panah yang akan mengakhiri hayatku atau kehendak dan kekuasaan Allah SWT yang akan merenggut nyawamu dan mengirimkan engkau ke neraka Jahanam?”

    Ketika Jalut hendak melangkah mendekati Nabi Daud, dilemparkanlah batu dengan ketapel tepat ke arah kening Jalut. Darah mengalir deras dari kepala Jalut hingga menutupi kedua matanya.

    Atas izin Allah SWT, pada lemparan batu kedua dan ketiga oleh Nabi Daud, Jalut lalu terjatuh. Ia tersungkur di atas tanah dan mengembuskan nafasnya yang terakhir. Matinya Jalut membuat tentaranya mundur dan lari karena dikejar oleh Raja Thalut.

    Atas keberhasilan Nabi Daud itulah, Raja Thalut menjadikan beliau sebagai menantu dan dinikahkan dengan putrinya, bernama Mikyal. Sesuai janji Thalut bahwa putrinya akan dinikahkan dengan orang yang bisa mengalahkan Jalut.

    Demikian pembahasan mengenai Nabi Daud yang diangkat menjadi raja menggantikan Raja Thalut. Semoga bermanfaat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Adam Menangis Ratusan Tahun usai Diturunkan dari Surga, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Allah SWT menurunkan Nabi Adam AS ke bumi setelah sebelumnya tinggal di surga. Menurut sejumlah riwayat, ketika itu Nabi Adam AS menangis hingga ratusan tahun.

    Kisah turunnya Nabi Adam AS ke bumi diceritakan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 35-36. Allah SWT berfirman,

    وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ٣٥ فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ ٣٦


    Artinya: “Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”

    Menurut Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiyaa, ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Adam AS dan Siti Hawa diturunkan langsung ke bumi dalam satu tahap. Al-Hafizh ibnu Asakir meriwayatkan dari Mujahid bahwa Allah SWT memerintahkan dua malaikat untuk mengeluarkan Nabi Adam dan Hawa dari sisi-Nya.

    Pada saat itu, Jibril melepas mahkota dari kepala Nabi Adam AS, sementara Mikail melepas tanda kehormatan dari jidatnya. Selanjutnya, benda-benda berharga itu digantungkan pada sebatang dahan.

    Menurut riwayat yang terdapat dalam Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali karya M. Abdul Mujieb dkk, Nabi Adam AS menangis selama 300 tahun ketika diturunkan dari surga. Riwayat ini berasal dari Hasan, ia berkata,

    “Sesungguhnya Nabi Adam AS menangis ketika diturunkan dari surga selama tiga ratus tahun, hingga jurang Sarandib penuh dengan air matanya.”

    Sufi besar dan ahli makrifat abad ke-7, Syaikh Abdul Aziz ad-Dirini, dalam Kitab Thaharatul Qulub turut menceritakan kisah menangisnya Nabi Adam AS selama 300 tahun. Ia menceritakan dari Wahab bin Munabbih.

    Dikatakan, ketika turun ke bumi, Nabi Adam AS diam selama tujuh hari, menangis hingga air matanya kering, dan kepalanya menunduk. Lalu, Allah SWT bertanya, “Beban berat apa yang Aku lihat menimpa dirimu?”

    Nabi Adam AS menjawab, “Wahai Tuhan, musibahku besar dan kesalahan mengelilingiku. Aku dikeluarkan dari malakut Tuhanku, hingga kini berada di negeri kehinaan, padahal sebelumnya berada di negeri kemuliaan. Aku berada di negeri kesengsaraan, padahal sebelumnya berada di negeri kebahagiaan. Aku berada di negeri keletihan, padahal sebelumnya berada di negeri kesenangan. Aku berada di negeri ujian, padahal sebelumnya berada di negeri kesehatan. Karenanya, bagaimana mungkin aku tidak menangisi kesalahanku?”

    Lalu, Allah SWT mewahyukan, “Wahai Adam, bukankah Aku memilihmu untuk diri-Ku menghalalkan negeri-Ku, mengistimewakanmu dengan kemuliaan-Ku, serta memerintahkanmu untuk mewaspadai amarah-Ku? Bukankah Aku menciptakanmu dengan tangan-Ku, meniup roh-Ku ke dalam dirimu, memerintahkan para malaikat bersujud kepada-Mu, namun kamu malah bermaksiat kepada perintah-Ku, melupakan janji-Ku, dan perlahan mendekati amarah-Ku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, seandainya bumi penuh dengan para lelaki yang semuanya sepertimu, mereka beribadah kepada-Ku, bertasbih kepada-Ku, lalu bermaksiat kepada-Ku, maka Aku benar-benar akan menempatkan mereka di tempat orang-orang yang bermaksiat.”

    Lalu, Nabi Adam AS menangis selama 300 tahun.

    Sementara itu, dalam riwayat lain yang berasal dari Hasan, Nabi Adam AS menangisi surga selama 70 tahun karena menyesali kesalahannya dan menangis selama 40 tahun ketika anaknya terbunuh.

    Sebagaimana Al-Auza’i menceritakan dari Hasan (Ibnu Athiyah) yang berkata, “Adam menempati surga selama seratus tahun.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Enam puluh tahun. Beliau menangisi surga selama tujuh puluh tahun. Menangis selama tujuh puluh tahun karena menyesali kesalahannya dan menangis selama empat puluh tahun ketika anaknya terbunuh.” (HR Ibnu Asakir)

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha, Berpisah sebelum Menikah



    Jakarta

    Nabi Yusuf AS banyak dikenal dalam masyarakat sebagai nabi yang memiliki wajah tampan dan memiliki sifat baik hati dengan suara yang lembut. Terdapat kisah unik dan menarik untuk diketahui muslim mengenai kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha.

    Mengutip buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul karya Ustad Fatih, dikatakan bahwa kisah ini menjadi salah satu kisah yang dapat dijadikan rujukan bagi umat khususnya ketika mengagumi seseorang. Berikut ini adalah kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha selengkapnya.

    Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha

    Kisah cinta ini berawal dari pertemuan antara Nabi Yusuf dan Zulaikha. Keduanya diketahui bertemu lantaran Nabi Yusuf saat itu adalah budak yang diangkat menjadi anak oleh Qithfir Al Aziz, yaitu suami Zulaikha yang saat itu sedang menjabat menjadi menteri keuangan di Mesir.


    Singkat cerita, Nabi Yusuf pun tinggal bersama dengan anak angkat lainnya hidup bersama dengan Zulaikha dan suaminya. Dengan wajah yang tampan, Nabi Yusuf menarik perhatian dari Zulaikha hingga menarik pujian yang keluar dari mulut Zulaikha.

    Kejadian ini pun terjadi berulang kali dan dapat dikatakan semakin parah. Terlebih lagi fakta bahwa Zulaikha memiliki paras yang cantik jelita dan bahkan berias hanya untuk menggoda Nabi Yusuf semata.

    Akan tetapi, Nabi Yusuf adalah sosok yang sangat taat pada Allah sehingga ia melindungi diri dan tidak terhasut tipu daya istri tuannya itu. Dalam kondisi seperti itu, melansir Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi, Nabi Yusuf terus menolak sebagaimana termaktub dalam surah Yusuf ayat 23,

    وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۗقَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

    Artinya: Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.”

    Zulaikha yang merasa cintanya tidak berbalas pun kemudian memfitnah Nabi Yusuf. Suatu waktu, ia mengejar dan menangkap Nabi Yusuf yang hendak lari darinya hingga gamis yang dipakai Nabi Yusuf terkoyak. Suami dari Zulaikha pun muncul hingga membuat wanita itu menuduh Yusuf sebagai pelakunya.

    Setelah beradu argumen serta saksi, Al Aziz menyadari bahwa penggoda utamanya ialah Zulaikha. Ia pun meminta sang istri agar segera berdoa dan memohon ampun.

    Kabar dan cacian kepada istri Al Aziz pun menjadi perbincangan dari para istri pejabat tinggi dan pembesar di Mesir saat itu. Mereka menyebarkan berita tentang kekejian perilaku istri Al Aziz yang berusaha menggoda pelayannya, Nabi Yusuf.

    Hal itu pun membuat Zulaikha berinisiatif mengundang mereka makan di rumahnya. Para tamu wanita itu diberikan pisau untuk memotong makanan. Zulaikha pun dengan sengaja memanggil Nabi Yusuf untuk hadir demi menunjukkan ketampanan beliau pada para tamu.

    Akibatnya, para tamu tersebut terpana dengan ketampanan Nabi Yusuf hingga mereka tidak menyadari mengiris tangan mereka sendiri dengan pisau. Hal ini terabadikan dalam surah Yusuf ayat 31.

    Setelah itu, Zulaikha dan Raja Qithfir memasukkan Yusuf ke penjara. Maksud tujuan ini supaya rumor tentang keluarganya tidak berkepanjangan dan membuat masyarakat melupakannya. Yusuf tidak keberatan dimasukkan ke penjara, ia pun mendekam di sana cukup lama hingga lebih dari lima tahun.

    Bertemunya Kembali Nabi Yusuf dan Zulaikha

    Seiring berjalannya waktu berlalu, Zulaikha mengakui kesalahan dirinya hingga Nabi Yusuf pun dikeluarkan dari penjara. Al Aziz juga turut membersihkan nama Nabi Yusuf atas tuduhan palsu yang dialamatkan padanya.

    Setelah terbebas dari segala tuduhan, Al Aziz memberikan kepercayaan jabatan kepada Nabi Yusuf untuk memimpin Mesir dan berhasil menggantikan posisi raja yang sebelumnya memimpin.

    Tidaknya hanya itu, sebelum wafat, Al Aziz sudah lebih dulu mempertemukan kembali Nabi Yusuf dengan Zulaikha dan menikahkan keduanya. Dari pernikahannya tersebut, Nabi Yusuf dikaruniai dua putra yang bernama Afrayin dan Mansa.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hakim bin Hizam, Satu-Satunya Orang yang Lahir di dalam Kakbah



    Jakarta

    Hakim bin Hizam bin Abdul Gazi, sosok sahabat sekaligus keponakan Nabi Muhammad SAW yang satu ini memiliki keteguhan hati dan keberanian dalam membuat keputusan. Ia merupakan satu-satunya orang yang dilahirkan di tempat suci umat Islam, yaitu Kakbah.

    Dalam sejarah Islam, tercatat Hakim bin Hizam merupakan seseorang yang lahir di dalam naungan kemuliaan Kakbah. Bahkan, menjadi orang pertama sekaligus satu-satunya yang dilahirkan di dalam Kakbah. Saat itu, sang ibu yang tengah hamil tua masuk ke dalam Kakbah bersama dengan rombongan di Baitullah.

    Ketika di tengah Kakbah, tiba-tiba perut ibunya terasa sakit seperti hendak melahirkan (kontraksi). Dikarenakan tidak sempat untuk keluar Kakbah, akhirnya lahirlah Hakim bin Hizam bin Khuwailid, yaitu anak laki-laki dari saudara Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid.


    Hakim bin Hizam dididik di tengah keluarga yang berada. Ia tumbuh besar di lingkungan bangsawan kaya raya tanpa kekurangan suatu apapun. Dengan segala faktor yang mendukungnya, ia pun tumbuh menjadi sosok yang kuat, pandai, lagi dihormati.

    Ketika menjelang dewasa, ia pun diangkat oleh kaumnya untuk menjadi kepala dan membantu mengurus lembaga penyedia bekal orang-orang yang berhaji. Bahkan, Hakim bin Hizam banyak merelakan hartanya demi kepentingan lembaga.

    Masa Keislaman Hakim bin Hizam

    Sebelum masa kenabian, Hakim bin Hizam sudah berteman akrab dengan Rasulullah SAW, meskipun usianya lebih tua lima tahun. Hubungan kekerabatan mereka semakin erat ketika Rasulullah SAW menikahi bibinya, yakni Khadijah binti Khuwailid.

    Saat itu, Hakim bin Hizam masih belum memeluk Islam. Namun, bagaimanapun Rasulullah tetap menghormati dan berkawan baik dengannya.

    Dalam buku Intisari Sirah Nabawiyah Kisah-Kisah Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad oleh Ibnu Hazm al-Andalusi, Hakim bin Hizam baru masuk Islam ketika terjadi peristiwa penaklukkan Mekkah atau Fathu Makkah, kala itu ia termasuk ke dalam orang-orang mualaf (yang perlu dilunakkan hatinya).

    Barulah setelah merasakan nikmatnya menjadi seorang muslim, penyesalan mendalam tumbuh dalam hati Hakim bin Hizam. Ia merasa terlalu lama mengingkari Allah SWT dan Rasulullah SAW dan berkubang dalam kemusyrikan.

    Hakim bin Hizam pun kemudian semakin bertekad untuk selalu menjunjung Rasulullah dan mendukung segala yang dilakukan Rasulullah SAW untuk menebus waktu ketika ia masih belum memeluk Islam.

    Kisah Kedermawanan Hakim bin Hizam

    Hakim bin Hizam dikenal karena kedermawanannya. Berdasarkan buku 88 Kisah Orang-Orang Berakhlak Mulia yang ditulis oleh Harlis Kurniawan, ia bahkan tidak mau meminta dan menerima pemberian.

    Hal ini terjadi ketika masa pemerintahan Abu Bakar, ia tidak pernah mengambil gajinya dari Baitul Mal. Hingga jabatan bergulir kepada Umar bin Khattab, Hakim tetap tidak juga mengambil gajinya meskipun sudah dipanggil berkali-kali.

    Ia turut serta dalam Perang Hunain, sehingga ia berhak mendapatkan bagian dari harta rampasan perang yang dibagikan langsung oleh Rasulullah SAW. Awalnya, ia meminta tambahan lagi dari harta yang didapatnya.

    Namun, Rasulullah menasihatinya perihal kepemilikan harta yang membuatnya tersadar. Ia pun menuruti nasihat Rasulullah SAW dan bersumpah tidak akan meminta-minta lagi hingga ajal menjemputnya.

    Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Hakim bin Hizam menepati janjinya. Ia menolak pembagian harta rampasan perang yang menjadi haknya sampai-sampai Umar harus meminta persaksian orang-orang tatkala pembagian harta tersebut tengah berlangsung.

    Umar berkata, “Wahai orang-orang muslim, saya ingin mempersaksikan kepada kalian semua perihal Hakim. Sesungguhnya saya telah mengajukan kepadanya haknya dari harta rampasan perang ini, tetapi dia sendiri yang menolaknya dan tidak mau mengambilnya.”

    Hal tersebut dilakukan agar menjadi bukti bahwa Hakim bin Hizam memang menolak harta tersebut karena ia ikhlas menjalankan apa yang telah dinasihatkan Rasulullah SAW kepadanya. Bahkan hingga Rasulullah SAW wafat, ia tetap tidak pernah lagi meminta dan menerima apapun dari siapapun.

    Sementara itu, mengutip buku Seri Ensiklopedia Anak Muslim: 125 Sahabat Nabi Muhammad SAW oleh Mahmudah Mastur disebutkan bahwa Hakim bin Hizam pernah menyumbangkan 100 ekor unta demi perjuangkan dakwah Islam. Selain itu, ia juga pernah menyembelih 1.000 ekor kambing untuk dibagikan kepada orang miskin.

    Itulah kisah Hakim bin Hizam, satu-satunya orang yang lahir di dalam Kakbah dan menjadi sahabat Rasulullah. Keteguhan dan keberaniannya dalam membela kebenaran patut dicontoh oleh setiap umat muslim.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Latar Belakang Terjadinya Perang Tabuk antara Kaum Muslimin dan Bangsa Romawi



    Jakarta

    Perang Tabuk adalah salah satu perang yang terjadi pada masa Rasulullah SAW. Perang ini melibatkan kaum Muslimin dan bangsa Romawi.

    Latar belakang terjadinya Perang Tabuk adalah keinginan Rasulullah SAW untuk menyerang Romawi sebagai kekuatan militer terbesar di muka bumi pada waktu itu dan dalam rangka menyebarkan agama Islam.

    Merangkum Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, keinginan Rasulullah SAW tersebut terjadi setelah dibunuhnya duta Rasulullah SAW, Al-Harits bin Umair di tangan Syuhrabil bin Amr Al-Ghasaani, tepatnya saat Al-Harits membawa surat beliau yang ditujukan kepada pemimpin Bushra.


    Setelah itu beliau mengirimkan satuan pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah yang kemudian bertempur dengan pasukan Romawi dengan pertempuran yang besar dan meninggalkan pengaruh bagi bangsa Arab.

    Pada saat Rasulullah SAW memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap menyerang Romawi. Saat itu kaum Muslimin sedang berada di masa-masa sulit.

    Biasanya saat hendak berperang, Rasulullah SAW selalu memberikan kiasan mengenai tujuan. Namun dalam Perang Tabuk, Rasulullah SAW menjelaskan secara terus terang kepada kaum Muslimin.

    Hal ini dikarenakan mereka akan melakukan perjalanan jauh, melalui masa-masa sulit, dan banyak musuh yang akan dihadapi. Tujuan dari Rasulullah SAW langsung mengatakan hal tersebut supaya kaum Muslimin melakukan persiapan yang matang.

    Rasulullah SAW memerintahkan kaum Muslimin untuk mempersiapkan perbekalan, menganjurkan orang-orang kaya untuk berinfak dan membiayai jihad di jalan Allah SWT.

    Setiap orang yang mendengar suara Rasulullah SAW menyerukan perang melawan Romawi ini segera menjalankan perintah beliau. Dengan cepat, orang-orang Islam mempersiapkan pertempuran. Kabilah-kabilah berdatangan ke Madinah dari segala penjuru, tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang rela tertinggal dalam pertempuran ini.

    Perang antara kaum Muslimin dan bangsa Romawi ini berhasil dimenangkan oleh kaum Muslimin. Meskipun dalam keadaan yang sulit mereka berhasil memenangkan peperangan tersebut.

    Tentara Islam kembali dari Tabuk dengan kemenangan dan keberhasilan gemilang. Mereka menyudahi misi ini dengan tidak menemukan kesulitan berarti Allah SWT menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan

    Di tengah perjalanan, tepatnya di atas sebuah bukit, dua belas orang munafik berusaha membunuh Rasulullah SAW. Namun, hal itu berhasil digagalkan oleh Hudzaifah.

    Maka Hudzaifah bangkit dan memukul kuda orang-orang yang hendak menyerang tersebut dengan menggunakan tongkat yang ia bawa. Orang orang itu pun melarikan diri Rasulullah SAW memberitahu Hudzaifah tentang nama-nama orang itu, serta apa tujuan mereka. Karena kejadian ini, Hudzaifah dijuluki sebagai penjaga rahasia Rasulullah SAW.

    Peperangan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pamor orang-orang mukmin dan menguatkan mereka di Jazirah Arab. Kini orang-orang mulai menyadari bahwa tidak ada satu kekuatan kecuali kekuatan Islam.

    Sisa harapan dan angan-angan yang masih bersemayam di hati orang-orang munafik dan jahiliyah mulai sirna. Sebelumnya mereka masih berharap banyak terhadap pasukan Romawi untuk melumat pasukan muslimin.

    Namun, setelah peperangan ini membuat mereka sudah kehilangan nyali dan pasrah terhadap kekuatan yang ada karena mereka sudah tidak mempunyai celah dan peluang untuk melakukan konspirasi.

    Maka tidak ada yang mereka lakukan kecuali mengiba kepada orang-orang muslim agar diperlakukan dengan lemah lembut sementara Allah SWT memerintahkan untuk bersikap keras terhadap mereka.

    Bahkan Allah SWT memerintahkan untuk menolak sedekah mereka, melakukan salat jenazah untuk mereka, memintakan ampunan dan berdiri di atas kubur mereka.

    Allah SWT juga memerintahkan untuk menghancurkan sentral makar mereka yang diatasnamakan masjid (Masjid Dhirar) melecehkan dan menyingkap keburukan mereka, sehingga tidak ada lagi rahasia yang bisa mereka tutup-tutupi.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Abu Thalib Tetap Lindungi Nabi Muhammad SAW Meski Menolak Islam?



    Jakarta

    Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad SAW yang telah mengasuhnya sejak kepergian sang kakek, Abdul Muththalib. Abu Thalib sangat menyayangi Nabi Muhammad seperti anak kandungnya sendiri.

    Disebutkan dalam buku Orang Kafir dalam Keluarga Nabi SAW oleh Ahmad Sarwat, Abu Thalib merupakan salah satu kerabat Nabi Muhammad SAW yang tidak mau mengakui kenabiannya tatkala semua orang beriman di usia 40 tahun.

    Meskipun selalu melindungi semua perjuangan Nabi Muhammad SAW, hingga akhir hayatnya Abu Thalib tetap tidak mau bersyahadat. Lantas, mengapa Abu Thalib tetap melindungi Nabi Muhammad SAW meski tidak memeluk Islam semasa hidupnya?


    Alasan Abu Thalib Melindungi Nabi Muhammad SAW

    Abu Thalib tetap melindungi Nabi Muhammad SAW meski tidak memeluk Islam semasa hidupnya karena ia adalah paman Nabi Muhammad yang telah merawatnya sejak yatim piatu pada usia 8 tahun.

    Mengutip dari Buku Pintar Sejarah Islam karya Qasim A. Ibrahim & Muhammad A. Saleh, Abu Thalib telah mengasuh dan melindungi Nabi dengan baik selama kurang lebih 42 tahun. Bahkan, Abu Thalib lebih mengutamakan Nabi dibanding anak-anak kandungnya sendiri.

    Selama itu, Abu Thalib selalu setia melindungi, menemani, dan membela keponakannya hingga ajal menjemputnya, yakni sepuluh tahun setelah Nabi Muhammad SAW diutus sebagai nabi dan rasul.

    Dilansir dari buku Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik karya Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A. ketika Nabi Muhammad menyiarkan Islam, beliau turut melarang adanya berhala-berhala yang disembah oleh para pembesar Quraisy dan kaumnya.

    Suatu hari Abu Thalib pernah didatangi oleh pemuka kafir Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, kemudian ia berkata,

    “Abu Thalib, keponakanmu itu sudah mencaci maki berhala-berhala kita, mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita, dan menganggap sesat nenek moyang kita. Sekarang harus kau hentikan ia. Kalau tidak, biarlah kami sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah engkau mewakili pihak kami menghadapi dia.”

    Namun, permintaan dari pemuka kafir Quraisy tersebut ditolak dengan baik oleh Abu Thalib. Kafir Quraisy pun tetap terus-terusan bersekongkol melawan dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Di hari yang lain, mereka mendatangi Abu Thalib dengan membawa seorang pemuda rupawan bernama Umarah bin Walid bin Mughirah yang akan mereka berikan kepada Abu Thalib sebagai anak angkat.

    Sebagai gantinya, Abu Thalib harus menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada mereka. Akan tetapi, usaha dan upaya kafir Quraisy ini kembali ditolak oleh Abu Thalib.

    Dengan kemauan yang keras dan gigih, para elite Quraisy mendatangi Abu Thalib lagi seraya berkata, “Engkau sebagai orang yang terhormat di kalangan kami. Kami telah meminta kepadamu agar menghentikan kemenakanmu itu, tapi tidak juga kau lakukan. Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek moyang kita, tidak menghargai harapan-harapan kita, dan mencela berhala-berhala kita. Kau suruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia sampai salah satu pihak nanti binasa.”

    Berat sekali bagi Abu Thalib untuk berpisah atau bermusuhan dengan masyarakatnya. Namun, di sisi lain ia tak sampai hati menyerahkan atau membuat keponakannya itu kecewa atau ditimpa mara bahaya yang dirancang oleh pemuka Quraisy itu.

    Abu Thalib kemudian memanggil Nabi Muhammad SAW dan menceritakan maksud para pemuka Quraisy tersebut. Ia mengimbau kepada Nabi Muhammad, “Jagalah aku, begitu juga jagalah dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.”

    Mendengar ucapan Abu Thalib itu, Nabi Muhammad SAW mengira pamannya tidak bersedia lagi melindunginya. Dengan nada yang santun, Nabi SAW pun berkata kepada pamannya,

    “Paman, demi Allah! Kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku, atau aku binasa karenanya.”

    Setelah mengucapkan pernyataan itu, Nabi Muhammad SAW dengan ekspresi sedih menundukkan wajahnya seraya menangis meneteskan air mata. Ketika membalikkan badan hendak pergi, Abu Thalib memanggilnya, “Menghadaplah kemari, Anakku!”

    Nabi Muhammad SAW pun berpaling mengharap ke arah Abu Thalib lalu pamannya berkata, “Pergilah dan lakukanlah apa yang kamu kehendaki. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan kamu kepada mereka karena alasan apapun untuk selama-lamanya.”

    Pernyataan Abu Thalib itu sangat membesarkan dan meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan gerakan dakwahnya.

    Demikianlah sosok Abu Thalib yang senantiasa melindungi dan membela Nabi Muhammad SAW dengan tulus meskipun dirinya tidak memeluk Islam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Menikah dengan Putri Nabi SAW, Apa Mahar dari Ali bin Abi Thalib?



    Jakarta

    Mahar atau maskawin menjadi suatu persyaratan yang wajib ada dalam pernikahan. Mahar menjadi salah satu hak istri yang jadi kewajiban bagi suami.

    Mengutip dari buku Fiqh Keluarga Terlengkap karya Rizem Aizid, mahar adalah wadh (ganti) yang wajib diberikan kepada istri sebagai konsekuensi dari perkawinan (menikahi dan menyetubuhinya).

    Dalam Islam, besar kecilnya mahar sangat bergantung pada kebiasaan, situasi, serta kondisi. Besar kecilnya mahar dalam Islam berpedoman pada sifat kesederhanaan dan ajaran kemudahan. Hal ini juga dapat dilihat salah satunya pada kisah Ali bin Abi Thalib ketika menikah dengan Fatimah, putri Rasulullah SAW.


    Saat menikah dengan putri Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib adalah pemuda yang belum mapan dalam hal kepemilikan harta. Meski demikian, Rasulullah SAW memintanya untuk memberikan sesuatu terlebih dahulu kepada calon istrinya.

    Lantas, apa mahar dari Ali bin Abi Thalib yang diberikan kepada putri Nabi? Berikut kisahnya tatkala Ali memberanikan diri melamar putri Rasulullah.

    Ali bin Abi Thalib Melamar Fatimah Putri Rasulullah

    Dikisahkan dalam buku Ali bin Abi Thalib RA karya Abdul Syukur al-Azizi, sebelum menikah dengan Fatimah, Sayyidina Ali pernah merasa tidak yakin kalau dirikan akan menjadi menantu yang ditunggu oleh Rasulullah SAW.

    Ali bin Abi Thalib menyadari dirinya hanyalah pemuda miskin dan banyak dari kalangan sahabat Rasulullah SAW yang terlihat lebih pantas meminang Fatimah. Ia juga merasa bahwa secara ekonomi tidak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.

    Namun, Ali bin Abi Thalib tidak bisa meminta Fatimah menantikannya hingga dirinya siap. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib pun memberanikan diri untuk menghadap Rasulullah SAW dan menyampaikan keinginannya untuk menikahi Fatimah RA.

    Sesampainya di rumah Rasulullah SAW, Ali RA hanya duduk di samping beliau dan tertunduk diam. Rasulullah SAW pun bertanya, “Wahai putra Abu Thalib, apa yang kamu inginkan?”

    Sejenak Ali bin Abi Thalib RA terdiam dan tubuhnya penuh keringat. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah.”

    Seluruh beban yang selama ini menghimpit batinnya terasa lepas setelah mengutarakan perasaannya itu. Mendengar pernyataan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW tidak terkejut karena beliau mengetahui Ali mencintai putrinya.

    Sebagai ayah yang bijak, Rasulullah SAW tidak langsung menerima lamaran Ali bin Abi Thalib. Beliau menanyakan dahulu kepada putri tercintanya atas ketersedian menerima lamaran tersebut.

    Setelah Fatimah menyetujui, kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada Ali bin Abi Thalib RA, apakah ia memiliki sesuatu yang bisa dijadikan mahar?

    Ali bin Abi Thalib merasa malu kepada Rasulullah SAW karena ia tidak memiliki apapun yang dapat dijadikan mahar. Apalagi sejak kecil ia dihidupi oleh beliau. Peristiwa tersebut turut dikisahkan dalam sebuah riwayat dari Ummu Salamah RA.

    Mahar dari Ali bin Abi Thalib Saat Menikahi Putri Nabi

    Dikisahkan bahwa pada saat itu, wajah Rasulullah SAW tampak berseri-seri. Seraya tersenyum, beliau bertanya kepada Ali bin Abi Thalib.

    “Wahai Ali, apakah kamu mempunyai sesuatu yang bisa dijadikan sebagai mas kawin?”

    “Demi Allah, Anda sendiri mengetahui keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak Anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang, dan seekor unta,” Jawab Ali bin Abi Thalib.

    “Tentang pedangmu itu, kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT. Dan, untamu itu kamu perlukan untuk mengambil air bagi keluargamu dan kamu memerlukannya dalam perjalanan jauh.

    Oleh karena itu, aku hendak menikahkan kamu dengan maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkanmu di langit sebelum aku menikahkan kamu di bumi.”

    Akhirnya, Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fatimah dengan mahar baju besi yang dijualnya seharga 500 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW.

    Kemudian, Rasulullah SAW membagi uang tersebut menjadi 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian, dan satu bagian lagi dikembalikan kepada Ali RA sebagai biaya untuk jamuan makan bagi para tamu yang menghadiri pernikahan.

    Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah pada bulan Dzulhijjah tahun kedua Hijriyah. Pernikahan mereka melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Putranya bernama Hasan dan Husein, sedangkan putrinya bernama Zainab dan Ummu Kultsum.

    Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Islam tidak menetapkan jumlah baku mahar yang harus dibayar, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan calon suami dan kesepakatan dengan calon istri.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Allah Memilih Nabi Isa Membunuh Dajjal? Ini Alasannya



    Jakarta

    Allah SWT telah memilih Nabi Isa AS untuk membunuh Dajjal dan menegakkan kebenaran. Dajjal adalah seorang keturunan manusia bermata satu dan memiliki banyak pengikut yang akan menjadi musuh paling nyata di akhir zaman.

    Munculnya Dajjal di akhir zaman akan menyesatkan manusia dengan kemampuannya sehingga iman manusia menjadi goyah dan menjadi pengikutnya. Lantas, mengapa Allah SWT memilih Nabi Isa membunuh Dajjal?


    Alasan Allah SWT Memilih Nabi Isa Membunuh Dajjal

    Mengutip dari buku Kiamat dan Akhirat karya S. Royani Marhan, alasan Allah SWT memilih Nabi Isa AS untuk membunuh Dajjal yaitu sebagai bukti bahwa Nabi Isa AS masih hidup.

    Bukti Nabi Isa akan turun di akhir zaman telah termaktub dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 159, Allah SWT berfirman:

    ن مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِۦ قَبْلَ مَوْتِهِۦ ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

    Artinya: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS An-Nisa: 159).

    Turunnya Nabi Isa AS menjelang kiamat disebutkan dalam hadits Abu Syuraihah Hudzaifah bin Usaid, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian melihat sepuluh tanda-tandanya: (1) terbitnya matahari dari barat, (2) asap, (3) binatang melata, (4) munculnya Ya’juj dan Ma’juj, (5) keluarnya Dajjal, (6) munculnya Isa bin Maryam, (7) tiga gerhana; gerhana di barat (8) gerhana di timur, (9) gerhana di Jazirah Arab, (10) api yang keluar dari dasar Aden yang menggiring manusia atau mengumpulkan manusia dan bersama mereka di mana saja berada.” (HR Muslim, Ahmad, dan lainnya. Ibnu Katsir mengatakan hadits ini shahih).

    Turunnya Nabi Isa AS ke Bumi dan Membunuh Dajjal

    Disebutkan dalam buku Kemunculan Dajjal & Imam Mahdi Semakin Dekat oleh Ust. Khalilurrahman El-Mahfani, Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawanya mengemukakan bahwa Isa bin Maryam AS akan diturunkan ke bumi di menara putih di sebelah timur Damaskus.

    Dalam Kitab Kasyf al-Minan fi ‘Alamat as-Sa’ah wa al-Malahim wa al-Fitan karya Mahmud Rajab Hamady yang diterjemahkan oleh Ibnu Tirmidzi, sebelum dibunuh oleh Nabi Isa AS, Dajjal akan muncul membawa 70 ribu pasukan bersenjata pedang dan memakai jubah tebal untuk menghancurkan Khilafah Islam.

    Pada waktu tersebut, kaum muslimin ditimpa kesulitan dan memilih untuk pergi ke gunung. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, keadaan ini membuat Imam Mahdi, yang telah diutus lebih dulu, memohon pertolongan kepada Allah SWT.

    Kemudian, Allah SWT menurunkan Nabi Isa AS untuk membunuh Dajjal dan menyelamatkan kaum tertindas dari kejahatan Dajjal dan Yahudi untuk selamanya. Hal ini diriwayatkan oleh Nawas ibn Sam’an, hadits Abu Umamah dan lainnya.

    Disebutkan dalam Qishshatu al-masiih ad-dajjal karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang diterjemahkan oleh Ahmad Zubaidi, Nabi Isa AS membunuh Dajjal setelah salat subuh. Dikatakan, ketika Nabi Isa AS sudah selesai salat, ia berkata, “Bukalah pintu.” Kemudian, pintu dibuka.

    Tiba-tiba, di belakang pintu ada Dajjal bersama 70 ribu orang Yahudi dengan membawa pedang. Nabi Isa AS lalu meminta pedang tersebut. Hal ini diterangkan dalam riwayat Muslim dari an-Nawwas.

    Dalam riwayat Ahmad dalam al-Musnad dikatakan, Nabi Isa AS kemudian membawa tombaknya ke arah Dajjal. Ketika Dajjal melihat Nabi Isa AS, tiba-tiba ia lemah lunglai seperti garam laut di dalam air. Allah SWT membunuhnya dengan perantara tangan Nabi Isa AS.

    Demikian penjelasan kenapa Allah SWT menurunkan Nabi Isa untuk membunuh Dajjal di akhir zaman kelak, wallahu ‘alam bishawab.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com