Author: detikcom

  • Kisah Teladan Ali Bin Abi Thalib, Berani-Pemimpin yang Adil



    Jakarta

    Kehidupan Ali bin Abi Thalib RA penuh dengan keteladanan yang dapat ditiru oleh kaum muslimin. Bagaimana kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA tersebut?

    Ali bin Abi Thalib RA adalah sepupu Nabi Muhammad SAW. Tepatnya, ia merupakan putra dari Abi Thalib, paman Rasulullah SAW. Pernyataan ini sebagaimana dituliskan oleh Abdul Syukur Al Azizi dalam bukunya yang berjudul Ali bin Abi Thalib RA.

    Selain menjadi kerabat terdekat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA juga merupakan menantu beliau, yakni suami dari Fatimah Az Zahra RA.


    Sepeninggal Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA juga ditunjuk menjadi salah satu dari empat khalifah yang memimpin umat Islam. Tepatnya, ia adalah khalifah terakhir yang menggantikan khalifah Utsman bin Affan RA.

    Kisah Teladan Ali bin Abi Thalib RA

    Banyak hal yang bisa diteladani dari sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW ini. Keteladanan tersebut sudah detikHikmah rangkum dari sebuah buku karya Masan AF yang berjudul Pendidikan Agama Islam: Akidah Akhlak untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas IX.

    1. Lebih Mementingkan Ilmu Pengetahuan daripada Harta

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA yang pertama adalah dirinya termasuk orang yang sangat cerdas dan selalu mementingkan ilmu pengetahuan daripada harta kekayaan.

    Saking cerdasnya Ali bin Abi Thalib RA, khalifah Abu Bakar RA, khalifah Umar RA, dan khalifah Utsman RA sering datang kepadanya untuk meminta pendapat dan bantuan untuk memecahkan sebuah masalah.

    Suatu hari, ada 10 orang yang terkenal pandai datang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib RA, “Mana yang lebih baik antara pengetahuan dan kekayaan? Beri kami jawaban yang memuaskan dan berbeda untuk masing-masing kami.”

    Ali bin Abi Thalib RA menjawab bahwa pengetahuan lebih baik dari kekayaan. Ia juga berhasil memberikan jawaban memuaskan yang berbeda-beda untuk mereka.

    2. Teguh Pendirian dalam Beragama

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA ditunjukkan dari sikap teguh pendirian dalam beragama beliau yang tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT dan rasul-Nya.

    Hal ini dibuktikan dengan kesediaan Ali bin Abi Thalib RA menggantikan Rasulullah SAW untuk tidur di kasur beliau ketika diburu oleh kafir Quraisy yang hendak membunuh beliau.

    Karena keberanian dan keteguhan hati Ali bin Abi Thalib RA akan Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW bisa lolos dari pembunuhan dan kejaran kaum kafirin.

    3. Bersikap Adil ketika Jadi Pemimpin

    Ali bin Abi Thalib RA terkenal sebagai seorang pemimpin yang adil. Hal ini ditunjukkan ketika ia melihat putrinya, Zainab memakai baju dan perhiasan yang mahal dari baitul mal.

    Ali bin Abi Thalib RA bersikap tegas kepada putrinya dengan memerintahkan ia segera mengembalikan harta tersebut ke baitul mal dan tidak mengulangi hal yang sama lagi.

    4. Tidak Pelit dan Bersikap Dermawan

    Keteladanan Ali bin Abi Thalib RA yang keempat adalah ia memiliki sifat dermawan dan tidak bakhil sama sekali.

    Meski Ali bin Abi Thalib RA tidak sekaya Abu Bakar RA atau Utsman bin Affan RA, tapi kekayaan hati beliau begitu besar. Ia berderma dengan hatinya dan ketulusannya.

    Rasa kasih sayangnya kepada orang yang tidak berdaya, orang-orang lemah serta fakir miskin begitu besar. Ketika beliau menyalurkan harta yang diambil dari baitul mal, maka yang ia utamakan adalah santunan untuk fakir miskin.

    5. Berani Membela Agama Allah SWT

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA yang terakhir adalah dirinya merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan keberaniannya menghadapi musuh dan membela agama Islam.

    Dalam Perang Badar dan pertarungan perorangan, Ali bin Abi Thalib RA dengan keberaniannya melawan dan mengalahkan musuhnya. Begitu pula ketika Perang Uhud, dirinya berhasil mengalahkan orang paling kuat dari kaum kafirin, yaitu Abu Saad bin Abi Thalhah.

    Ketika Abu Saad sudah tidak berdaya akibat perlawanan dari Ali bin Abi Thalib RA, sahabat pemberani Rasulullah SAW ini justru menyarungkan kembali pedangnya dan tidak membunuhnya.

    Ketika ditanyai perihal ini, Ali bin Abi Thalib RA menjawab kepada muslimin, “Aku tidak tega melihat dia sudah tak berdaya, tiba-tiba saja aku merasa kasihan.”

    Dengan demikian menunjukkan bahwa walaupun Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang pemberani, ia tetap memiliki rasa kasih sayang yang tinggi.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nasihat Kematian Imam Syafi’i, Jadikan Akhirat di Hatimu Dunia di Tanganmu



    Jakarta

    Nasihat kematian Imam Syafi’i berisi tentang peringatan kepada manusia untuk fokus terhadap akhirat. Bagaimana kata beliau?

    Kehidupan dunia ini tidaklah kekal dan hanya sementara. Akan ada masa di mana semuanya berakhir termasuk dunia dan seisinya. Ketika itu, manusia dan makhluk lainnya akan binasa.

    Hari kiamat tidak diketahui kapan akan terjadi. Namun yang pasti, kiamat kecil atau kematian sangat dekat dengan setiap manusia dan bisa terjadi kapan saja.


    Oleh sebab itu, tidak semestinya seorang muslim terlalu asyik terhadap kehidupan duniawi, sehingga lalai atau lupa akan akhirat, tulis M. Robi Awamy dalam bukunya yang berjudul La Tusrifu! Jangan Lebay.

    Allah SWT sering memperingatkan manusia untuk tidak hanya mementingkan kehidupan duniawi saja, namun harus fokus pada akhirat. Di antara peringatan tersebut adalah umur yang semakin bertambah, tubuh yang semakin lemah, dan sakit-sakitan.

    Allah SWT berfirman dalam surah Ar-Ruum ayat 54 yang berbunyi,

    ۞ اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ ٥٤

    Terjemahan: Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban.595) Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

    Nasihat Kematian Imam Syafi’i

    Sadar atau tidak, sesungguhnya seluruh manusia sedang menuju kepada kematian. Siap atau tidak, cepat atau lambat, tua atau muda, semua manusia akan menghadapinya.

    Orang yang cerdas akan menjadikan kematian sebagai nasihat dan guru dalam kehidupan. Sedikit saja lengah, maka ia telah kehilangan guru terbaik dalam hidupnya.

    Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

    “Cukuplah kematian itu sebagai penasihat.” (HR Thabrani dan Baihaqi)

    Sementara itu, Imam Syafi’i juga memberi nasihat perihal kematian. Nasihat kematian Imam Syafi’i tersebut di antaranya:

    “Tidak sepantasnya seorang mukmin lalai dari mengingat mati dan menyiapkan diri untuk menyambutnya.”

    Pesan yang dapat diambil dari nasihat ini, setiap mukmin harus senantiasa mengingat kematian setiap saat. Dengan begitu, dirinya akan selalu terhindar dari perbuatan tercela maupun perbuatan dosa.

    Mukmin tersebut tidak mungkin menyia-nyiakan waktunya yang hanya sebentar sebelum kematian menjemput ini dengan perbuatan sia-sia atau bahkan tercela. Oleh karena itu, dirinya akan senantiasa memperbanyak perbuatan baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Nasihat kematian Imam Syafi’i yang kedua tercantum dalam buku Samudra Hikmah Para Imam Mazdhab karya Muhammad Ainur Rasyid. Nasihat tersebut berbunyi,

    “Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.”

    Nasihat ini memiliki pesan yang hampir sama dengan nasihat sebelumnya. Nasihat ini muncul karena banyaknya orang yang di dunia yang sangat tidak memprioritaskan akhirat dan malah fokus pada kehidupan duniawi.

    Banyak dari manusia yang berpikiran bahwa akhirat adalah ilusi atau cerita fiksi yang keberadaannya tidak diyakini. Itulah sebabnya, Imam Syafi’i menasihati agar menjadikan akhirat senantiasa ada di hati kita.

    Sementara itu, mestinya hal-hal yang duniawi harus ditempatkan di “tangan.” Artinya manusia tidak boleh menjadikannya tujuan utama dalam kehidupan. Sebab semua hal yang ada di dunia ini adalah fana dan tidak kekal.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rabiah Al Adawiyah, Wanita Cantik Bersuara Merdu yang Cinta kepada Allah



    Jakarta

    Kisah Rabiah Al Adawiyah tidak bisa dilewatkan ketika kita membahas tentang wanita solehah. Ceritanya begitu menarik dan inspiratif sebab ia tidak tertarik pada kehidupan duniawi.

    Rabiah Al Adawiyah adalah seorang wanita yang terkenal di dunia tasawuf. Dirinya banyak diketahui karena ia memilih untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya demi beribadah dan mendekat kepada Allah SWT.

    Diambil dari arsip detikHikmah, Rabiah Al Adawiyah adalah seorang wanita yang lahir pada tahun 713 Hijriah di Basrah, Irak. Ia sudah menjadi sebatang kara setelah ditinggal orang tuanya wafat dan ketiga kakaknya yang juga wafat karena wabah kelaparan.


    Oleh sebab itu, Rabiah Al Adawiyah sudah harus hidup sendiri dan jauh dari masyarakat. Dirinya menghidupi diri sendiri dengan bekerja menjadi budak.

    Ketika ia punya waktu luang atau tidak sedang bekerja, maka ia memilih untuk menghabiskan waktunya untuk bermeditasi.

    Rabiah Al Adawiyah hidup dalam kemiskinan. Harta yang ia punya hanyalah sebuah tikar lusuh, sebuah periuk tanah, dan sebuah batu bata.

    Meski demikian, hidup Rabiah Al Adawiyah penuh dengan kemuliaan. Setiap hari, dia senantiasa berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT tanpa mempedulikan urusan dunianya. Tujuannya hanya satu, yaitu surga-Nya yang amat dirindukan.

    Besarnya Cinta Rabiah Al Adawiyah kepada Allah SWT

    Rabiah Al Adawiyah begitu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Takwanya bahkan sudah mencapai tahap cinta yang besar kepada Sang Khalik. Dirinya memilih dalam kesederhanaan, meskipun bisa hidup mewah mengandalkan parasnya yang cantik dan suaranya yang merdu.

    Dalam sebuah buku yang berjudul Rabiah Al Adawiyah karya Makrum Gharib disebutkan pernyataannya mengenai cintanya yang besar kepada Allah SWT bisa mengalahkan rasa takutnya kepada Dia.

    “Aku tidak menyembah Allah karena takut akan neraka, tidak juga karena mengharap surga. Jika aku menyembah-Nya karena takut neraka atau mengharap surga maka aku seperti buruh yang buruk yang bekerja karena rasa takut. Aku menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya.”

    Kecintaan Rabiah Al Adawiyah yang besar kepada Allah SWT ini biasa dikenal dengan istilah “mahabbah,” jelas Abrar M. Daud Faza dalam bukunya yang berjudul Moderasi Beragama Para Sufi.

    Bagi Rabiah Al Adawiyah, mahabbah adalah cinta yang besar yang dilandasi rasa iman yang sangat tulus dan ikhlas, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat manusia menuju Allah SWT.

    Mahabbah yang dimiliki Rabiah Al Adawiyah sudah memenuhi aspek makhluk dan Khalik. Ketika itu, dirinya bermunajat kepada Allah SWT dengan berbicara, “Tuhanku, akankah kau bakar kalbu yang mencintai mu oleh api neraka?”

    Tiba-tiba saja, ada sebuah suara yang menjawabnya dengan berkata, “Kami tidak akan melakukan itu. Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami.” Hal ini sebagaimana dinukil dari buku Risalah Al-Qusyairiyah.

    Mahabbah yang diajarkan oleh Rabiah Al Adawiyah menunjukkan betapa besarnya cintanya kepada Allah SWT sampai-sampai tidak ada perasaan benci sedikitpun kepada yang lainnya, baik alam maupun manusia.

    Semua hal yang berkaitan dengan Rabiah Al Adawiyah dipenuhi dengan cinta dan kasih atau mahabbah. Konsep mahabbahnya juga sangat berkaitan erat dengan konsep aulawiyah atau mendahulukan yang prioritas.

    Rabiah Al Adawiyah pasti mendahulukan sesuatu yang menjadi prioritas atau yang lebih penting. Salah satu contohnya adalah ketika ada dua pemuka agama yang kelaparan hendak bertamu ke rumah Rabiah Al Adawiyah.

    Di sana, keduanya sudah mendapati dua buah roti di atas meja. Mereka sudah senang akan segera mendapat roti tersebut. Namun, ternyata ada seorang pengemis datang untuk meminta makanan.

    Maka, Rabiah Al Adawiyah pun memberikan kedua roti tadi kepada si pengemis. Dua orang pemuka agama tadi kecewa karena tentunya mereka tidak jadi mendapat makanan.

    Lalu, ternyata ada seorang pelayan datang ke rumah Rabiah Al Adawiyah dengan membawa dua buah roti yang baru saja matang. Maka ia langsung memberikan roti itu kepada kedua tamunya.

    Tentunya, Rabiah Al Adawiyah memberikan roti kepada pengemis tadi bukan karena ingin mengecewakan tamunya. Namun, ia tahu mana yang lebih menjadi prioritas.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan



    Jakarta

    Ali bin Thalib adalah salah satu sahabat yang juga merupakan sepupu Rasulullah SAW. Nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutalib bin Hasyim bin Abdul Manaf.

    Ali menjabat sebagai khalifah menggantikan Utsman bin Affan. Masa kekhalifahannya tidak lama karena hanya berjalan selama 5 tahun sebelum ia wafat.

    Menukil Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh Dr H Murodi MA, setelah Utsman bin Affan meninggal kaum muslimin merasa bingung seakan-akan kehilangan tokoh yang akan menggantikan beliau. Pada situasi itu, Abdullah bin Saba yang merupakan seorang pemimpin di Mesir mengusulkan agar Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah.


    Usulan tersebut lantas disetujui oleh mayoritas masyarakat muslim kecuali mereka yang berada di sisi Muawiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib mulanya menolak usulan tersebut dan tidak ingin menerima jabatan karena situasinya kurang tepat. Kala itu banyak terjadi kerusuhan di berbagai tempat.

    Menurutnya, situasi demikian harus diatasi terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah kepemimpinan. Namun, para pengikutnya kian mendesak Ali bin Abi Thalib sehingga ia menerima tawaran tersebut dan menjabat sebagai khalifah pada 23 Juni 656 M.

    Sejak saat itu, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah menggantikan kedudukan Utsman bin Affan. Dijelaskan dalam buku Parlemen di Negara Islam Modern oleh Prof Dr Ali Muhammad Ash Shallabi, pada dasarnya pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dilakukan oleh mayoritas masyarakat dan sebagian besar dari mereka memilih secara langsung .

    Masyarakat umum dan anggota dewan perwakilan berpartisipasi bersama-sama dalam pembaiatan tersebut. Alasannya karena Ali bin Abi Thalib menolak pembaiatan kecuali dilaksanakan di masjid secara terbuka dan di hadapan semua orang.

    Saat masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ia meneruskan cita-cita Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Selain itu, ia juga mengembalikan semua kekayaan yang diperoleh para pejabat melalui cara-cara yang tidak baik ke dalam perbendaharaan negara atau Baitul Mal.

    Kemudian, Ali bin Abi Thalib juga bertekad mengganti semua gubernur yang ia anggap tidak mampu memimpin dan tidak disenangi masyarakat. Ia mencopot jabatan gubernur Basrah dari tangan Abu Bakar bin Muhammad bin Amr dan digantikan oleh Utsman bin Hanif.

    Mengutip buku Sejarah Peradaban Islam karya Akhmad Saufi dan Hasmi Fadhilah, Ali bin Abi Thalib merupakan sosok pemimpin yang berakhlak baik. Ia sering berkeliling hanya untuk menantikan siapa saja yang menghampirinya untuk meminta bantuan atau bertanya.

    Suatu ketika, pada siang yang terik Ali tiba di pasar. Sang khalifah mengenakan dua lapis pakaian, gamis sebatas betis, sorban melilit tubuhnya, dan bertumpu pada sebatang tongkatnya. Ali berjalan menyusuri pasar untuk berdakwah, mengingatkan manusia agar senantiasa bertakwa pada Allah SWT dan melakukan transaksi jual beli dengan baik.

    Dirinya memiliki kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri. Umumnya ia menasehati orang yang tersesat, menunjukkan arah pada orang yang kehilangan, menolong orang yang lemah, serta menasehati para pedagang dan penjual sayur.

    Meski masa kepemimpinannya sebagai khalifah cukup singkat, ada sejumlah prestasi yang Ali capai. Salah satunya ialah memajukan bidang ilmu bahasa.

    Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu nahwu, yaitu ilmu yang mempelajari tata bahasa Arab. Keberadaan ilmu nahwu diharapkan dapat membantu orang-orang non-Arab dalam mempelajari sumber utama agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadits.

    Pada bidang pembangunan Ali juga berhasil membangun Kota Kuffah secara khusus. Mulanya, kota tersebut disiapkan sebagai pusat pertahanan oleh Mu’awiyah bin Abi Sofyan, namun pada akhirnya Kota Kuffah berkembang sebagai pusat ilmu tafsir, hadits, nahwu, dan ilmu pengetahuan lainnya.

    Ali bin Abi Thalib wafat pada Jumat, 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Ia meninggalkan 33 anak yang terdiri atas 15 laki-laki dan 18 perempuan. Penyebab kematiannya ialah ditikam ketika hendak salat Subuh.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Burung Elang Hari Uhud yang Jadi Perisai Rasulullah


    Jakarta

    Burung elang hari Uhud adalah julukan salah satu sahabat nabi yang berperan besar dalam Perang Uhud. Ia tak gentar melawan musuh dan sigap melindungi Rasulullah SAW.

    Sosok yang menjapat julukan Burung elang hari Uhd adalah Thalhah bin Ubaidillah RA. Thalhah RA merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga.

    Lantas, bagaimana Thalhah RA bisa dijuluki dengan burung elang hari Uhud? Berikut kisahnya.


    Gelar Thalhah bin Ubaidillah

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Sahabat Nabi karya Muhammad Raji Hasan Kinas dan buku Al Akhbar Titisan yang Tertulis karya Tebyan A’maari Machalli, Thalhah bin Ubaidillah RA adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang berasal dari suku Quraisy keturunan Bani Tayyim. Thalhah RA termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

    Thalhah RA adalah pemuda yang berprofesi sebagai saudagar. Meski masih muda, Thalhah RA memiliki kelebihan dalam strategi berdagang. Ia sosok yang cerdik dan pintar, sehingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua.

    Rasulullah SAW memberikan gelar untuk Thalhah RA saat Perang Dzatil Asyirah, “Thalhah al-Fayyadh” yang artinya yang berlimpah kebaikan. Saat Perang Uhud, Rasulullah SAW memberikannya gelar “Thalhah al-Khayr” yang artinya pemilik kebajikan. Saat Perang Hunain, Rasulullah SAW juga memberinya gelar “Thalhah al-Jud” yang artinya sang dermawan.

    Keislaman Thalhah bin Ubaidillah

    Thalhah RA termasuk salah satu dari delapan orang yang lebih dulu memeluk Islam. Suatu ketika, Thalhah RA datang menemui Abu Bakar As Siddiq RA. Mereka saling bercerita. Setelah giliran Thalhah RA bercerita tentang pertemuannya dengan pendeta Bushra, Abu Bakar As Siddiq RA tercengang. Lalu Abu Bakar RA mengajak Thalhah RA untuk menemui Rasulullah SAW.

    Di hadapan Rasulullah SAW, Thalhah RA langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika Thalhah RA dan al-Zubair RA memeluk Islam, Rasulullah SAW mempersaudarakan mereka di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Thalhah RA dengan Abu Ayyub al-Anshari RA.

    Banyak rintangan yang dihadapi oleh Thalhah RA setelah ia masuk Islam. Siksaan demi siksaan mulai mendera tubuh Thalhah RA. Bahkan ibunya sendiri mencaci makinya.

    Tak hanya itu, seorang lelaki Quraisy yang bernama Naufal bin Khuwailid menyeret dan mengikat Abu Bakar RA dan Thalhah RA dan mendorong mereka ke algojo sehingga darah mengalir dari tubuh mereka. Maka dari itulah mereka mendapatkan gelar “Al-Qarinain” yang artinya sepasang sahabat yang mulia.

    Dari banyaknya siksaan yang menimpa Thalhah RA, ia tetap mempertahankan dan menegakkan Islam. Hal ini menyebabkan Thalhah RA memiliki banyak gelar dan sebutan.

    Kisah Thalhah Dapat Julukan Burung Elang Hari Uhud

    Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, Thalhah RA mendapat kehormatan untuk menyertai mereka. Beberapa saat kemudian, Perang Uhud terjadi.

    Saat itu barisan kaum Muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari sisi Rasulullah SAW. Hanya sebelas orang Anshar dan Thalhah RA yang tersisa.

    Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke bukit, namun mereka dihadang oleh kaum musyrikin.

    Rasulullah SAW berseru, “Siapa berani melawan mereka, dia akan menjadi temanku kelak di surga.” Thalhah bin Ubaidillah RA berkata, “Aku Wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW kemudian menahannya dan berkata, “Tidak, jangan engkau, kau harus berada di tempatmu.”

    Salah satu prajurit Anshar berkata, “Aku wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW berkata, “Ya, majulah.” Kemudian prajurit Anshar itu maju melawan prajurit kafir. Pertempuran yang tak seimbang mengantarkannya menemui kesyahidan.

    Thalhah RA selalu menjadi orang pertama yang mengajukan diri, namun Rasulullah SAW menahannya agar untuk tetap ditempat. Hingga sebelas prajurit Anshar gugur menemui syahid dan tinggal Thalhah RA bersama Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW berkata, “Sekarang engkau, wahai Thalhah.” Kemudian dengan semangat jihad yang berkobar, Thalhah RA menerjang menyerang kafir agar tidak menghampiri Rasulullah SAW. Hingga tak sedikit orang kafir yang tewas.

    Ketika Abu Ubaidah bin Jarrah RA hampir sampai di dekat Rasulullah SAW, Rasulullah SAW memerintahkan untuk membantu Thalhah RA. Thalhah RA ditemukan tergeletak dan berlumuran darah. Tak kurang dari 79 luka bekas pedang, lembing, hingga panah.

    Kaum musyrikin mengira bahwa Rasulullah SAW telah tewas. Akhirnya mereka pergi meninggalkan medan perang.

    Kemudian Rasulullah SAW bersama Thalhah RA naik ke bukit di ujung medan pertempuran. Thalhah RA menciumi tangan, tubuh, dan kaki Rasulullah SAW seraya berkata, “Aku tebus engkau Ya Rasulullah dengan ayah ibuku.” Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, “Engkau adalah Thalhah kebajikan.”

    Di hadapan para sahabat, Rasulullah SAW bersabda, “Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh…” Yang dimaksud Rasulullah SAW adalah memperoleh surga. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah RA mendapat julukan “Burung elang hari Uhud.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel


    Jakarta

    Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II selalu identik dengan kisahnya yang menaklukan Konstantinopel. Beliau merupakan anak dari Sultan Murad II yaitu khalifah sebelum Muhammad Al-Fatih.

    Dikatakan ketika sedang menunggu proses kelahiran putranya, Sultan Murad II menenangkan dirinya dengan membaca Al-Qur’an dan lahir anaknya saat bacaan sampai di surat Al-Fath, surat yang berisikan janji-janji Allah akan kemenangan kaum muslim.

    Merujuk buku yang berjudul Muhammad Al-Fatih karya Abdul Latip Talib, beliau dilahirkan oleh permaisuri Aishah, istri Sultan Murad II pada 27 Rajab 835 H bertepatan dengan tanggal 29 Maret 1432 M di Adrianapolis, yang sekarang lebih dikenal dengan kota Edirne (perbatasan Turki – Bulgaria), setelah 8 tahun pengepungan kota Konstantinopel oleh ayahnya.


    Syaikh Ramzi Al-Munyawi dalam bukunya Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel mengatakan, Muhammad Al-Fatih diberi gelar sebagai khalifah atau sultan pada saat usianya 19 tahun. Beliau menjadi sultan ketujuh dari silsilah para sultan Dinasti Utsmani.

    Sejarah Singkat Muhammad Al-Fatih

    Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi gubernur Amasya saat umurnya baru menginjak 6 tahun. Setelah dua tahun memimpin Amasya, Muhammad Al-Fatih dipindah tugaskan ke Manisa oleh ayahnya.

    Mengutip buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Y. Siauw, saat di Manisa, Muhammad Al-Fatih dikelilingi oleh ulama-ulama terbaik pada zamannya dan mempelajari berbagai disiplin ilmu. Baik itu yang berkaitan dengan Al-Qur’an maupun ilmu-ilmu lainnya seperti tsafaqah Islam, ilmu fiqh, bahasa, astronomi, matematika, kimia, fisika, serta teknik perang dan militer.

    Sultan Murad II mengetahui jika anaknya memiliki sifat yang keras. Tetapi beliau menganggap bahwa sifat yang dimiliki anaknya bisa menjadi modal utama dalam belajar dan menjadi pemimpin.

    Guru Muhammad Al-Fatih yang pertama adalah Syaikh Ahmad Al-Kurani. Di bawah bimbingan beliau, Muhammad Al-Fatih mulai menghafal Al-Qur’an dan mempelajari etika belajar pada usia 8 tahun.

    Saat belajar, Syaikh Ahmad Al-Kurani tidak berperilaku istimewa dan mencium tangannya, seperti yang dilakukan ulama-ulama lain. Beliau justru tidak segan menegur Muhammad Al-Fatih dengan keras jika melanggar syariah Allah.

    Guru kedua Muhammad Al-Fatih adalah Syaikh Aaq Syamsudin. Berbeda dengan guru pertamanya, Syaikh Aaq Syamsudin adalah ulama yang berpengaruh dalam membentuk mental Muhammad Al-Fatih. Beliau tidak hanya mendidik Muhammad Al-Fatih dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, melainkan juga senantiasa mengingatkannya akan kemuliaan ahlu bisyarah yang akan membebaskan Konstantinopel, ibukota Romawi Timur (Bizantium).

    Syaikh Aaq Syamsudin setiap hari menceritakan kisah perjuangan Rasulullah SAW dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam. Syaikh Aaq Syamsudin senantiasa meyakinkan dan mengulang-ngulang perkataannya kepada Muhammad Al-Fatih bahwa dirinya adalah pemimpin yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW sebagai penakluk Konstantinopel.

    Setelah Sultan Murad II wafat, pemerintahan kerajaan Turki Utsmani dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II. Dirinya berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukan Konstantinopel.

    Usaha penaklukan Konstantinopel pertama dilancarkan pada tahun 44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Kemudian pada zaman khalifah Ummayah, Abbasiyah, zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 190 H, akan tetapi semua mengalami kegagalan.

    Usaha awal umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan mendirikan benteng Bosporus. Benteng ini didirikan umat Islam pada zaman Sultan Mehmed II dan dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel.

    Akhirnya kota Konstantinopel berhasil jatuh di tangan umat Islam pada 29 Mei 1453 M. Setelah memasuki Konstantinopel di sana terdapat gereja Hagia Sophia yang kemudian dijadikan masjid bagi umat Islam.

    Sultan Muhammad Al-Fatih kemudian tutup usia pada saat mempersiapkan untuk menaklukan Roma 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun. Bagi umat Islam, wafatnya Sultan Mehmed II adalah kehilangan yang sangat besar.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pemboikotan Kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW merupakan penutup para nabi bagi umat Islam. Selama menjalani tugasnya untuk menegakkan agama Islam, Nabi Muhammad menghadapi banyak tantangan.

    Pemboikotan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Rasulullah SAW.

    Pemboikotan Quraisy terhadap Bani Hasyim

    Dirangkum dari buku Sirah Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi, Islam mulai tersebar di berbagai kabilah. Kaum Quraisy pun mengadakan pertemuan dan merencanakan untuk menulis surat kesepakatan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib.


    Kaum Quraisy sepakat untuk tidak mengadakan pernikahan dan tidak melakukan jual beli dengan kedua kaum tersebut. Hasil pertemuan mereka ditulis dalam sebuah lembaran sebagai surat perjanjian yang akan dipatuhi bersama. Mereka menggantungkan surat tersebut di dalam Kakbah dalam rangka memperoleh legitimasi.

    Ketika pemboikotan dilaksanakan, Bani Hasyim dan Bani Muthalib berpihak kepada Abu Thalib. Mereka masuk bersama Abu Thalib ke dalam kelompok yang diboikot. Hal ini terjadi pada bulan Muharram tahun ke-7 dari kenabian.

    Sedangkan Abu Lahab bin Abdul Muthalib menyatakan keluar dari Bani Hasyim. Ia memilih bergabung dengan kaum Quraisy.

    Kaum Bani Hasyim yang bertahan harus merasakan kepayahan karena sempitnya blokade. Mereka memakan daun samur, anak-anak mereka kejang karena kelaparan, hingga tangisan mereka terdengar dari jauh.

    Mereka berada dalam pemboikotan selama tiga tahun. Rasulullah SAW tetap melakukan dakwah kepada kaumnya baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Kaum Bani Hasyim pun tetap bersabar dan mempertimbangkan segala sesuatunya.

    Rusaknya Kesepakatan dan Berakhirnya Pemboikotan

    Beberapa orang dari kaum Quraisy yang memiliki kedudukan dan rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi beraksi. Di antara mereka yang menonjol adalah Hisyam bin ‘Amr bin Rabi’ah.

    Mereka beraksi karena jiwa mereka bertentangan dengan surat keputusan Quraisy. Mereka tidak setuju dengan surat yang bersifat menzhalimi tersebut.

    Hisyam adalah lelaki dari kaum Quraisy yang gandrung akan perdamaian. Ia memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaumnya.

    Ia membangkitkan perasaan empati dan harga diri sebagai kaum laki-laki. Mereka yang berjumlah lima orang itu berkumpul dan sepakat untuk menghapuskan surat pemboikotan.

    Keesokan harinya saat kaum Quraisy berada di majelis pertemuan mereka, Zuhair bin Abi Umaiyah berkata, “Wahai penduduk Makkah! Apakah kita akan memakan makanan dan memakai pakaian, sedangkan Bani Hasyim dalam keadaan menderita, tidak boleh mengadakan hubungan jual beli dengan kita? Sungguh, aku tidak akan duduk hingga surat pemboikotan yang jahat itu hancur.”

    Abu Jahal yang hendak ikut campur dalam pembicaraan tersebut tidak diperkenankan. Kemudian al-Muth’im bin ‘Adi bangkit dan mendatangi surat pemboikotan itu untuk merobeknya.

    Namun al-Muth’im menemukan bahwa hampir seluruh surat pemboikotan tersebut telah dimakan rayap. Hanya kalimat “bismikallahumma” (dengan nama-Mu, ya Allah) yang tersisa.

    Ketika itu, Rasulullah SAW telah mengetahui hal tersebut dan memberitahukannya kepada Abu Thalib. Maka, lembaran surat tersebut dihancurkan dan seluruh isinya tidak berlaku.

    Dampak Pemboikotan yang Dilakukan Kaum Quraisy

    Dirangkum dari buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih karya M. Quraish Shihab, pemboikotan oleh kaum Quraisy sangat merugikan kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Bukan hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga pada perkembangan dakwah islamiyah. Bahkan Abu Thalib dan Khadijah yang mendampingi Nabi SAW pun wafat setelah masa pemboikotan tersebut.

    Meskipun sangat merugikan, pemboikotan tersebut tidak seluruhnya berakibat negatif. Pemboikotan oleh kaum Quraisy tersebut membuka mata masyarakat secara umum tentang kehadiran satu ajaran baru yang mengajak kepada keluhuran budi pekerti, yang penganutnya bersedia berkorban demi mempertahankan agamanya atau karena simpati terhadap penganjurnya.

    Kaum Bani Hisyam dan Bani Muthalib mendapatkan bagian tertentu dari harta rampasan perang, apalagi mereka tidak dibenarkan menerima zakat. Kedua kaum ini memperoleh hak tersebut sebagai ganjaran Ilahi atas dukungan mutlak kepada Nabi Muhammad SAW.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Keteladanan Sahabat Nabi Umar bin Khattab dan Contoh Kisahnya


    Jakarta

    Selain meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW, umat Islam juga bisa mencontoh perilaku dan kebaikan para sahabat nabi. Salah satu sahabat nabi yang patut dicontoh adalah Umar bin Khattab RA.

    Umar bin Khattab RA adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang memiliki sikap bijaksana. Ia lahir pada tahun 581 M dari salah satu keluarga suku Quraisy, seperti dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh Murodi.

    Ayah Umar bin Khattab RA bernama Nufail bin Abdul ‘Uzza Al-Quraisyi yang berasal dari suku Bani ‘Adi. Sedangkan ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin Mughairah bin Abdillah.


    Ketika Umar bin Khattab RA masih muda, ia dikenal sebagai pemuda yang gagah perkasa, tegap, dan pemberani. Setelah masuk Islam, sikap kerasnya mulai melemah apabila menghadapi sesama muslim. Namun masih bersikap keras bila menghadapi musuh.

    Banyak sekali sikap dan keteladanan Umar bin Khattab RA yang bisa dicontoh oleh kaum muslimin. Apa sajakah keteladanan tersebut?

    4 Keteladanan yang Dimiliki Sahabat Nabi Umar bin Khattab RA

    Ada sejumlah keteladanan yang dimiliki sahabat nabi Umar bin Khattab RA. Harjan Syudaha dan Fida’ Abdilah dalam bukunya yang berjudul Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas IX menyebutkan ia merupakan seorang pemimpin yang terkemuka.

    Sikapnya sangat pemberani dan tidak takut mati apabila harus membela sebuah kebenaran. Keteladanan Umar bin Khattab RA antara lain adalah sebagaimana berikut:

    • Sikap berani dan tegas dalam menegakkan kebenaran
    • Pandai dalam menyelesaikan perselisihan
    • Berani mempertaruhkan nyawa untuk membela kebenaran
    • Tegas dalam memisahkan antara yang hak dan yang batil

    Sahabat Umar bin Khattab RA ketika menjabat sebagai khalifah untuk umat Islam terkenal sebagai pemimpin yang meletakkan dasar-dasar demokrasi dalam Islam. ia sangat mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadinya.

    Dalam pemerintahannya, ia memilih pejabat yang benar-benar dapat dipercaya. Umar bin Khattab RA juga selalu membuka diri untuk menerima saran langsung dari rakyatnya.

    Kisah Keteladanan Umar bin Khattab RA

    Kisah keteladanan Umar bin Khattab RA pernah diceritakan oleh pelayannya yang bernama Aslam. Ia berkata bahwa suatu malam ia dan Umar bin Khattab RA keluar menelusuri Kota Madinah.

    Dari kejauhan, keduanya melihat ada segerombolan musafir yang kedinginan dan kemalaman. Keduanya pun segera menghampiri gerombolan musafir itu.

    Sesampainya di tempat musafir itu, betapa terkejutnya Umar bin Khattab RA dan Aslam melihat seorang perempuan bersama anak-anaknya yang menangis. Mereka duduk di depan sebuah periuk yang dimasak di atas api.

    Umar bin Khattab RA bertanya, “Apa yang terjadi?”

    Wanita itu menjawab, “Kami kemalaman dan kedinginan,”

    “Lalu mengapa anak-anakmu menangis?” tanya Umar bin Khattab RA lagi.

    “Mereka lapar,” jawab wanita itu.

    Umar RA heran sebab ia melihat wanita itu seakan-akan memasak di dalam sebuah periuk di depannya. Lalu mengapa anak-anak itu tetap menangis dan tidak segera diberi makanan di dalamnya.

    Namun, ternyata wanita itu berkata, “Di periuk itu hanya ada air, aku sengaja memasaknya agar mereka bisa tenang hingga tertidur. Allah akan menjadi hakim antara kami dan Umar.”

    Wanita tadi tidak tahu jika yang diajak berbicara adalah Umar bin Khattab RA. Lalu beliau berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sedangkan Umar tidak mengetahui keadaanmu.”

    Wanita itu berkata, “Ia mengatur kami, memimpin kami, tetapi melupakan kami,”

    Tanpa pikir panjang, Umar bin Khattab RA langsung mengajak Aslam untuk pulang dan mengambil sekarung gandum dengan seember daging. Ia segera memberikan semua itu kepada wanita dan anak-anaknya tadi.

    Tak sampai di situ saja, Umar bin Khattab RA bahkan bersedia untuk memasakkan bahan makanan tadi untuk mereka sehingga mereka merasa kenyang dan aman.

    Wanita tadi lalu berkata kepada Umar bin Khattab RA, “Semoga Allah membalas kebaikanmu, sungguh engkau lebih mulia dibanding Amirul Mukminin (Umar bin Khattab RA).”

    Umar bin Khattab RA pun menjawab, “Bicaralah yang santun, jika engkau menemui Amirul Mukminin, Insyaallah engkau akan mendapatiku di sana.” Kemudian ia menjauhi wanita itu.

    Setelah wanita dan anak-anaknya tadi tertidur dalam keadaan perut kenyang, Umar bin Khattab RA pergi dari sana bersama Aslam. Ia pun berkata kepada pelayannya tersebut,

    “Wahai Aslam, sesungguhnya rasa lapar membuat anak-anak itu tidak bisa tidur dan menangis. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan mereka sudah tidur dan tidak menangis lagi.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Yusuf AS Menafsirkan Mimpi, Salah Satu Mukjizat dari Allah SWT



    Jakarta

    Nabi Yusuf AS diberi ilmu berupa kemampuan menafsirkan mimpi. Ilmu ini termasuk ke dalam mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT.

    Yusuf AS adalah anak dari Yaqub AS yang juga merupakan keturunan Nabi Ibrahim AS, dari anaknya yaitu Ishaq AS. Dirinya diperintahkan berdakwah untuk bangsa Kan’an dan Firaun di Mesir, kisah mengenai Nabi Yusuf AS tercantum dalam surat Yusuf.

    Mengutip dari buku Takdir dan Mukjizat Manusia Tertampan Yusuf Alaihi Salam oleh Sulistyawati Khairu, dakwah Nabi Yusuf AS kali pertamanya terjadi di dalam penjara. Penyebab sang nabi dijebloskan ke dalam penjara sendiri dikarenakan terlalu tampan dan membuat majikannya Al-Aziz tidak nyaman.


    Ketika di penjara, Nabi Yusuf AS bertemu dengan dua orang pegawai istana Raja, mereka saling bercerita dan berbagi kisah. Kepribadian Yusuf AS yang baik menyebabkan dirinya dapat berteman akrab dengan kedua pekerja itu.

    Dahulu, mereka adalah pelayan kerajaan, namun karena dituduh memasukkan racun ke dalam makanan dan minuman akhirnya mereka dimasukkan ke dalam penjara. Suatu malam, saat semua orang dalam penjara itu tertidur, kedua orang bekas pelayan kerajaan itu mendapat sebuah mimpi yang sungguh menakjubkan.

    Keduanya sama-sama bermimpi memiliki kaitan dengan pekerjaan mereka sebelum masuk penjara. Karena merasa ada hal yang aneh, maka mereka menceritakan perihal mimpi itu kepada Nabi Yusuf AS.

    Melalui mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Nabi Yusuf AS, beliau mengetahui arti mimpi dari kedua bekas pelayan itu. Namun, Yusuf AS tidak menceritakan secara langsung, melainkan menggunakan kesempatan tersebut untuk berdakwah dan mengajarkan kepada mereka untuk menyembah Allah SWT.

    Kemampuan Yusuf AS dalam menafsirkan mimpi ini juga menjadi penyelamat bagi dirinya. Dikisahkan dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 43, seorang Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai gandum yang hijau, dan tujuh tangkai lainnya yang kering.

    Tidak ada seorang pun yang dapat menafsirkan mimpi sang raja. Akhirnya, salah seorang pemuda yang mengingat kemampuan Nabi Yusuf AS mengusulkan kepada raja.

    وَقَالَ ٱلْمَلِكُ إِنِّىٓ أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَٰتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنۢبُلَٰتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَٰتٍ ۖ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَأُ أَفْتُونِى فِى رُءْيَٰىَ إِن كُنتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُونَ

    Artinya: “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”. Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat menabirkan mimpi’

    Raja Mesir itu kemudian memanggil Nabi Yusuf AS dan memintanya menafsirkan mimpi serba tujuh itu. Jadi, tujuh sapi gemuk mewakili kebaikan dan kesuburan, sedangkan tujuh sapi kurus menandakan keburukan dan kekeringan. Nabi Yusuf memaknainya sebagai tujuh tahun musim panen dan tujuh tahun kekeringan panjang.

    Sementara itu, biji gandum mewakili hasil pertanian. Menurut Nabi Yusuf, selama tujuh tahun musim panen dan tanah sedang subur, pemerintah dan rakyat perlu berhemat dengan menyimpan sebagian hasil pertanian untuk tujuh tahun berikutnya.

    Setelahnya, sang raja langsung memerintahkan anak buahnya untuk membuat lumbung. Lumbung tersebut digunakan untuk menyimpan bahan makanan perbekalan yang sekiranya cukup untuk tujuh tahun kemarau panjang seperti yang diramalkan.

    Berkat mukjizatnya itu, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara dan diangkat menjadi bendahara kerajaan.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Musa Pernah Sakit Gigi, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Nabi Musa Alaihissalam pernah mengalami sakit gigi yang luar biasa. Ia sampai mengeluh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saking tak kuat menahan kesakitan tersebut.

    Mengutip laman Kemenag, Nabi Musa yang merasakan sakit gigi itu memohon doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar sakit giginya segera sembuh. Pada saat itu juga, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menyembuhkan sakit giginya dengan menggunakan tanaman obat.

    “Ambillah rumput itu dan letakkan di gigimu,” perintah Allah kepada Nabi Musa, sebagaimana dikisahkan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nurudh Dholam.


    Setelah menerima petunjuk dari Allah, Nabi Musa melaksanakan perintah-Nya dengan memetik tanaman obat dan meletakkannya di giginya yang sedang bermasalah. Pada saat itu juga, sakit giginya segera sembuh berkat penggunaan tanaman obat sebagai wasilah.

    Beberapa waktu setelahnya, Nabi Musa mengalami kekambuhan sakit gigi. Tanpa mengeluh atau berdoa kepada Allah seperti sebelumnya, ia langsung memetik tanaman obat dan meletakkannya di gigi yang sakit.

    Tindakan tersebut dilakukan oleh Nabi Musa dengan keyakinan bahwa tanaman obat sebelumnya telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan sakit gigi.

    Namun sayang, usahanya tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, sakit gigi Nabi Musa justru semakin parah.

    Dalam buku Genius Dari Syurga karya Ainizal Abdul Latif, Nabi Musa bertanya kepada malaikat mengapa sakit giginya tak hilang meskipun sudah banyak daun yang dikunyahnya. Malaikat mengatakan bahwa dulu ia meletakkan seluruh kepercayaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tapi kali ini Nabi Musa meletakkan kepercayaannya kepada daun.

    Di tengah keadaan tersebut, Nabi Musa segera mencurahkan keluhannya dan berdoa kembali kepada Allah. Kemudian Allah berfirman:

    “Ya Musa, Aku adalah Dzat yang memberi kesembuhan, Dzat yang memberikan kesehatan, Dzat yang memberikan bahaya, Dzat yang memberikan manfaat. Pada sakit pertama kamu datang menghadap kepada-Ku maka Aku hilangkan penyakitmu. Kali ini, kamu tidak datang kepada-Ku tapi kamu datang kepada tanaman obat itu.”

    Dari kisah ini, setidaknya dapat diambil dua hikmah. Pertama, Allah memiliki sifat Jaiz yang memberikan-Nya kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

    Allah dapat meningkatkan atau menurunkan derajat seseorang sesuai kebijakan-Nya. Selain itu, Allah juga memiliki kuasa untuk menimpakan penyakit atau memberikan kesembuhan kepada siapa pun sesuai dengan kehendak-Nya.

    Kedua, Allah adalah pemilik segala yang ada di langit dan bumi, termasuk kesehatan dan kesembuhan. Oleh karena itu, tindakan yang perlu dilakukan oleh umat Islam ketika sakit adalah memohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah melalui doa.

    Selain itu, mereka diwajibkan untuk tetap melakukan usaha nyata seperti penggunaan obat dan berbagai bentuk pengobatan, sambil meyakini bahwa hal tersebut hanya sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai kesehatan dan kesembuhan.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com