Author: Import

  • 5 Tempat Wisata di Kepulauan Seribu yang Masih Sepi dan Murah



    Jakarta

    Kepulauan Seribu adalah wajah lain Jakarta yang jauh dari hiruk-pikuk dan kebisingan. Cocok untuk rehat, ini pulau-pulau wisata yang sepi dari wisatawan.

    Seperti namanya, Kepulauan Seribu merupakan untaian pulau-pulau kecil di utara Jakarta. Saking banyaknya, maka diberi nama Pulau Seribu.

    Meski jauh dari daratan, pulau-pulau ini berpenghuni dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Jakarta. Pulau yang paling banyak diminati adalah Pulau Tidung dan Pulau Pramuka.


    Jangan cuma tahu dua pulau itu, detikTravel akan kasih kamu 5 rekomendasi pulau wisata yang masih sepi dari wisatawan dan tentu saja murah!

    5 Tempat Wisata di Pulau Seribu Yang masih Sepi dan Murah

    1. Pulau Harapan

    – Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
    – Harga tiket: Rp 40.000-75.000
    – Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
    – Keunikan: Terumbu karang yang indah dan memiliki taman biota laut yang jadi tempat konservasi.

    2. Pulau Kelor

    – Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
    – Harga tiket: Rp 40.000-75.000
    – Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
    – Keunikan: Pantainya tenang dan jernih. Selain itu terdapat benteng peninggalan Belanda.

    3. Pulau Untung Jawa

    – Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
    – Harga tiket: Rp 40.000-75.000
    – Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
    – Keunikan: Pantai pasir putih yang indah dan hutan mangrove yang rindang.

    4. Pulau Putri

    – Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
    – Harga tiket: 40.000-75.000
    – Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
    – Keunikan: Terowongan kaca bawah laut yang unik. Fasilitas penginapan yang nyaman dan aktivitas watersport yang lengkap.

    5. Pulau Sepa

    – Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
    – Harga tiket: Rp 40.000-75.000
    – Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
    – Keunikan: Pantainya memiliki pasir putih yang masih terjaga. Suasananya sangat tenang, cocok untuk rileksasi.

    Tips:

    – Pastikan untuk memeriksa cuaca sebelum berangkat
    – Bawa perlengkapan yang diperlukan seperti kacamata renang, sepatu, dan tabir surya
    – Jangan lupa untuk membawa kamera untuk mengabadikan momen-momen indah
    – Jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

    (bnl/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tradisi yang Pikat Ribuan Wisatawan



    Jakarta

    Setiap 10 Muharam, yang tahun ini bertepatan pada 6 Juli 2025, warga Kota Pariaman, Sumatera Barat menggelar Pesona Hoyak Tabuik Piaman.

    Di balik dentuman tambur dan riuh rendah keramaian, terdapat belasan pasang tangan terampil merakit kayu, bambu, rotan, dan pernak-pernik menjadi ornamen setinggi belasan meter.

    Tabuik adalah tradisi budaya dan keagamaan yang berasal dari Kota Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat setempat setiap 10 Muharam untuk memperingati Hari Asyura, yaitu hari wafatnya Imam Husain Bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam perang Karbala.


    Ornamen itu dibangun menyerupai burak. Burak diyakini umat muslim sebagai kendaraan Nabi Muhammad SAW saat Isra Miraj. Makhluk ini juga dipercaya membawa jasad cucu orang yang paling dimuliakan dalam islam yakni Husain Bin Ali yang mati dipenggal di Karbala oleh tentara Yazid Bin Muawiyah.

    Karena dikisahkan membawa jenazah cucu kesayangan Nabi, maka di atas makhluk bersayap dan berkepala manusia itu terdapat wadah yang difungsikan sebagai keranda.

    Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/7/2024). Dua tabuik dihoyak dan dibuang ke laut dalam rangka memperingati Hari Asyura (10 Muharram) 1446 Hijriyah sekaligus masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat tahun lalu. Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    Siang dan malam dengan cekatan para pembuat Tabuik menyelesaikan setiap tahapan agar tabuik dengan berat ratusan kilogram itu dapat selesai sebelum 10 Muharam. Mereka membuat berbagai komponen mulai dari rangka, badan burak, sayap, ekor, keranda, payung hingga hiasan dan pernik yang tidak saja untuk keindahan namun memiliki makna dan filosofi tersendiri.

    Proses pembuatan yang panjang dan detail itu cerminan dari penghormatan dan kecintaan masyarakat terhadap tradisi yang berkembang di daerah itu semenjak abad ke-19 Masehi.

    Ornamen yang merupakan representasi simbolik dari kendaraan burung dan keranda cucu Nabi Muhammad SAW itu dibuat tidak saja satu, namun dua. Masing-masing dibuat oleh kelompok berbeda yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.

    Keduanya saling menampilkan karya terbaik pada puncak kegiatan yakni saat prosesi Hoyak Tabuik, dan tabuik dilarung ke laut pada 10 Muharam.

    Salah seorang perajin Tabuik Subarang, Ade Ratman (43), mengatakan dirinya sudah enam tahun membuat ornamen yang diangkat dan dihoyak (digoyang-goyang) oleh puluhan orang itu. Ilmu itu didapatkannya dari mengikuti orang-orang di kelompoknya saat membuat tabuik.

    Menurut pemuda yang berprofesi sebagai perajin dan penjual suvenir tabuik itu, kesulitan dalam menyelesaikan ornamen tersebut yaitu saat membentuk burak. Hal tersebut karena tidak ada cetakan dan standar ukuran sedangkan badan makhluk itu direpresentasikan berlekuk.

    Namun, kesulitan itu merupakan tantangan tersendiri karena bagian tersebutlah yang paling digemari oleh ribuan pasang mata. Sebab, orang ingin melihat representasi dari burung yang ditunggangi Nabi Muhammad SAW.

    Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/7/2024). Dua tabuik dihoyak dan dibuang ke laut dalam rangka memperingati Hari Asyura (10 Muharram) 1446 Hijriyah sekaligus masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.Tradisi Tabuik Pariaman Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    Tidak hanya prosesi pelarungan tabuik, proses pembuatannya juga digemari oleh wisatawan. Biasanya tempat pembuatan tabuik akan banyak dikunjungi wisatawan pada malam hari.

    Salah seorang wisatawan asal Padang Pariaman Muhammad Ari mengatakan dirinya sengaja membawa kedua anak dan istrinya ke lokasi pembuatan tabuik untuk mengenalkan bagaimana ornamen itu dibuat.

    Ornamen yang kerap mereka lihat ketika melintasi salah satu persimpangan di Pariaman, Simpang Tabuik. Di persimpangan itu dibangun Tugu Tabuik dengan dihiasi lampu sehingga memancarkan cahaya saat malam.

    Melihat proses pembuatan tabuik tersebut juga dapat menjawab rasa penasaran Ari dan keluarga bagaimana ornamen yang menarik ribuan wisatawan hingga rela berdesakan hanya untuk menyaksikan tabuik dihoyak dan dilarung ke laut itu dibuat.

    Proses pembuatan ini juga ditawarkan oleh Pemerintah Kota Pariaman kepada wisatawan. Bahkan untuk menarik minat wisatawan menyaksikan kegiatan yang menguras energi, komunitas di daerah itu pernah menggelar kegiatan hiburan tradisional.

    Selain itu, Pemerintah Kota Pariaman juga meminta pengelola penginapan untuk menjaga kesiapan kamar selama proses pembuatan tabuik hingga dibuang ke laut.

    Tidak heran di lokasi pembuatannya, yaitu di rumah tabuik, terdapat sejumlah pedagang kaki lima yang memanfaatkan momen tersebut untuk mengais rezeki. Makanan dan minuman yang dijual tidak saja yang bersifat tradisional khas daerah namun juga makanan kekinian.

    Prosesi Hoyak Tabuik serta pembuangan Tabuik ke laut juga membutuhkan puluhan orang yang bekerja sama dengan kompak. Sebab, dengan kekompakan itulah ornamen seberat 300 kilogram itu dapat diangkat dan dihoyak sehingga memukau ribuan wisatawan yang menyaksikan agenda tahunan di daerah itu.

    Pemerintah Kota Pariaman bersama masyarakat menjadwalkan pelaksanaan Pesona Hoyak Tabuik Piaman pada tahun ini dimulai sejak 27 Juni hingga 6 Juli 2025. Menurut Wali Kota Pariaman Yota Balad, tabuik bukan hanya sekadar tontonan belaka. Lebih dari itu, tabuik merupakan warisan budaya turun temurun yang sudah berusia ratusan tahun dan harus terus dilestarikan.

    “Jangan hubung-hubungkan tabuik dengan agama. Ini adalah tradisi,” ujarnya seperti dilansir dari Antara.

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Wisata Pegunungan Yang Tidak Kalah Menarik dari Bromo


    Jakarta

    Kamu penyuka wisata pegunungan dan lagi nyari lokasi selain Bromo? Berikut rekomendasi gunung yang memberikan hawa sejuk, adem, pohon hijau, dan pastinya pemandangan indah. Kamu bisa langsung datang ke salah satu destinasi atau ambil paket liburan untuk mengunjungi area wisata gunung.

    Wisata Pegunungan Tidak Kalah Bagus dari Bromo

    Berikut adalah rekomendasinya

    Gunung Rinjani

    SENARU, LOMBOK, INDONESIA - MAY 19: A view of Mount Rinjani, also known as Gunung Rinjani, is seen on May 19, 2009 in Lombok, West Nusa Tenggara Province, Indonesia. The 3,726m active volcano is the third highest in Indonesia, and has been erupting this time around April 27, peaking on May 10. The volcano's crater lake, known as Segara Anak, is home to many goldfish and mujair fish and is a popular fishing spot for locals.  (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)Gunung Rinjani (dok. Ulet Ifansasti/Getty Images)

    Lokasi: Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)


    Ketinggian: 3.726 mdpl

    Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia ini menyimpan banyak pesona yang sulit terlupakan. Di tengah lanskapnya yang berbatu, penuh tebing terjal, pasir, dengan cuaca ekstrem, Rinjani menyimpan baik-baik harta karun hanya bagi yang mengunjunginya.

    Danau Segara Anak

    Telaga ikonik Gunung Rinjani ini tersimpan rapat di ketinggian 2.004 meter, setelah pendaki melintasi lembah dan bukitnya yang menguras stamina. Setiap pendaki yang berniat muncak, pasti melewati danau berair jernih ini dan terhipnotis akan keindahannya. Tak heran jika pinggir Danau Segara Anakan jadi lokasi favorit pendaki ngecamp sebelum sampai di puncak.

    Sabana Sembalun Lawang

    Padang rumput luas menyambut para pendaki di titik awal jalur menuju puncak Rinjani. Berada di ketinggian 1.156-1.800 mdpl bergantung lokasi, sabana Sembalun seperti mengucapkan selamat datang kepada siapa saja yang ingin mencoba trekking Rinjani. Padang rumput sepanjang 6 km yang diselingi pepohonan ini seolah tak bertepi saking luasnya. Padang Sembalun menjadi pos pertama pendakian Gunung Rinjani di ketinggian 1.300 mdpl.

    Plawangan Sembalun

    Area ini adalah lokasi berikutnya yang menjadi favorit pendaki untuk ngecamp. Dengan area yang rata dan landai plus menghadap Danau Segara anak, tenda para pendaki tidak terlalu sulit berdiri. Plawangan Sembalun adalah spot terbaik melihat matahari terbenam di Gunung Rinjani. Di momen ini, pendaki bisa melihat pemandangan Pulau Lombok, Gunung Barujari, dan kawasan lain di Rinjani berwarna keemasan seperti jingganya matahari senja.

    Gunung Barujari

    Kerap disebut anaknya Rinjani, Barujari memang terlihat mungil di tengah besar dan kuatnya tebing sang orang tua. Berada di Danau Segara Anak, Barujari berdiri kokoh setinggi 2.296-2.376 mdpl dengan lebar kawah kurang lebih 170 x 200 m. Pesona Gunung Barujari terlihat jelas tanpa kabut atau awan gelap yang menggantung di Rinjani. Gunung Barujari terlihat megah berpadu dengan air jernih Danau Segara Anak, meski imut jika dibandingan dengan Rinjani.

    Gunung Semeru

    Gunung SemeruGunung Semeru (dok. ANTARA/HO-PVMBG)

    Lokasi: Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur

    Ketinggian: 3.676 mdpl

    Wilayah puncak Atap Atap Pulau Jawa ini disebut Mahameru yang siap menyambut siapa saja yang sampai ke titik terakhir Gunung Semeru. Dengan medan berpasir yang sangat licin, Semeru menyediakan jalur pendakian populer dari Ranu Pani hingga yang ekstrem di Gunung Sawur dan Pronojiwo.

    Ranu Pani

    Kerap ditulis Ranu Pane, danau vulkanik ini terlihat begitu dramatis dikelilingi megahnya dinding Semeru. Kaldera dengan aneka flora fauna di sekeliling dan kedalaman airnya ini terlihat sangat indah, apalagi ketika tidak ada kabut. Tak heran jika Ranu Pani yang terletak di ketinggian 2.200 mdpl menjadi tempat favorit ngecamp pendaki sebelum berjalan sampai puncak.

    Ranu Regulo

    Berlokasi tidak jauh dari Ranu Pani, Ranu Regulo juga menjadi lokasi favorit ngecamp para pendaki. Pesona Ranu Regulo terlihat jelas saat matahari terbit, berpadu dengan jernihnya air danau dan hijau pohon. Hawa yang segar dan sejuk sangat cocok bagi pendaki pemula atau pengunjung yang hanya ingin trekking di Semeru. Pendaki bersiap memasuki Ranu Kumbolo, selepas dari Ranu Regulo.

    Air Terjun Tumpak Sewu

    Curug di lereng Gunung Semeru ini adalah alasan lain kamu perlu healing ke area Lumajang, Jawa Timur. Berjuluk Niagara kecil, air terjun ini tampak bertumpuk-tumpuk memberikan panorama yang sangat indah. Air terjun di ketinggian 500 mdpl ini juga memberikan hawa sejuk, adem, dan tenang sehingga cocok untuk trekking. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi keanekaragaman flora dan fauna diiringi suara khas aliran air terjun.

    Goa Tetes

    Pesona Lereng Semeru lainnya adalah Goa Tetes yang berlokasi tak jauh dari Air Terjun Tumpak Sewu. Goa Tetes adalah sebuah gua yang tersembunyi di balik air terjun. Aliran air terjun menetes lewat stalaktit gua yang menjadi inspirasi Goa Tetes. Pengunjung harus melewati tangga buatan sebelum sampai di gua yang berada di balik akar pohon dan batuan tebing air terjun.

    Dataran Tinggi Dieng

    Wisatawan menikmati hawa dingin dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jumat (28/7/2023).Wisatawan menikmati hawa dingin dataran tinggi Dieng (dok. Uje Hartono/detikJateng)

    Lokasi: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah

    Ketinggian: kurang lebih 2.000 mdpl

    Dieng adalah destinas populer sebagai lokasi healing, trekking, wisata sejarah dan budaya. Pengunjung bisa lanjut mendaki Gunung Sindoro, atau berhenti di berbagai spot wisata yang tersebar di area Dieng. Pengunjung juga bisa mengunjungi Desa Sembungan yang dinobatkan sebagai salah satu desa tertinggi di Indonesia. Pesona lain Dataran Tinggi Dieng adalah:

    • Kawah Sikidang
    • Kawah Sileri
    • Batu Pandang Ratapan Angin
    • Candi Arjuna
    • Kawah Candradimuka
    • Bukit Sikunir
    • Telaga Pengilon.

    Gunung Kelimutu

    Pengunjung berfoto di Danau Kelimutu, Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (2/6/2024). Gunung api jenis strato yang memiliki tiga danau kawah, yakni Kawah I (Tiwu Ata Polo), Kawah II (Tiwu Koofai Nuwamuri), dan Kawah III (Tiwu Ata Bupu) tersebut mengalami kenaikan status dari level I atau normal ke level II atau waspada pada tanggal 24 Mei 2024 karena adanya perubahan yang signifikan warna air danau kawah I maupun kenampakan dan sebaran belerang di permukaan air danau kawah II yang semakin intensif. ANTARA FOTO/Mega Tokan/sgd/foc.Danau Kelimutu di Gunung Kelimutu (dok. ANTARA FOTO/Mega Tokan/sgd/foc)

    Lokasi: Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur

    Ketinggian: 1.639 mdpl

    Lanskap alam di Kecamatan Kalimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ini dikenal dengan danaunya yang sangat ikonik. Danau tiga warna ini adalah kaldera hasil letusan Gunung Kelimutu bertahun-tahun yang lalu. Konon menurut kepercayaan masyarakat setempat, danau dengan air berwarna merah adalah tempat berkumpulnya jiwa orang jahat setelah meninggal. Biru adalah tempat bagi jiwa anak remaja hingga dewasa, sedangkan putih menjadi lokasi orang tua.

    Kawah Ijen

    Kawah IjenKawah Ijen Foto: Chuk Shatu Widarsha

    Lokasi: perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur

    Ketinggian: 2.769 mdpl

    Lokasi wisata ini berada satu lokasi dengan Gunung Bromo, namun pengunjung tak perlu sampai puncak untuk menikmatinya. Danau seluas 160 x 1.160 m2 di bagian atas dan 960 x 600 m2 di area bawah menyimpan fenomena blue fire. Api biru berasal dari kontak gas belerang dengan udara di sekitarnya dengan suhu pembakaran mencapai lebih dari 3600C. Pengunjung yang tak biasa melakukan pendakian, sebainya menyewa jasa guide atau biro traveling menuju Kawah Ijen.

    Gimana detikers, sudah menentukan lokasi wisata pegunungan? Sebelum ke lokasi pilihan, pastikan tubuh dalam kondisi sehat dengan stamina cukup untuk melakukan pendakian. Detikers tidak perlu memaksakan diri untuk sampai ke puncak, apalagi sampai merugikan kita sendiri dan lingkungan sekitar.

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • 6 Tempat Healing di Sekitar Jogja yang Lebih Sepi dari Kaliurang



    Jogja

    Jogja punya banyak tempat menarik untuk kamu yang ingin menepi sejenak dari keramaian. Mulai dari museum, pantai hingga bukit dengan pemandangan memukau.

    detikTravel telah merangkum pada Senin (7/7/2025), 6 tempat healing sekitar Jogja untuk liburan kamu nanti. Berikut 6 pilihannya:

    1. Pantai Kesirat


    Pantai Kesirat, Gunung KidulPantai Kesirat, Gunung Kidul Foto: Ignatius Damario Susanto/d’Traveler

    Pantai Kesirat berada di Dusun Karang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Pantai ini jaraknya sekitar 45 km dari pusat kota Yogyakarta, dan bisa diakses melalui Jalan Imogiri Barat, Jalan Imogiri Siluk, Jalan Siluk Panggang, atau melalui rute dari Solo.

    Yang membuat pantai ini unik karena tak memiliki hamparan pantai berpasir, namun berupa tebing karang yang curam dengan vegetasi hijau.

    Pantai ini salah satu tempat cantik untuk menikmati sunset dan juga spot memancing. Di sini kamu juga bisa kemping di hamparan vegetasi hijaunya dan menikmati sunrise cantik keesokan harinya.

    Harga tiket menikmati keindahan pantai ini mulai Rp 5.000 saja.

    2. Hutan Pinus Pengger

    Di kawasan Bantul terdapat hutan pinus yang Instagramable bernama Pinus Pengger. Untuk mencapai tempat wisata yang berlokasi di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini, pengunjung hanya perlu melakukan perjalanan darat sejauh 23 kilometer dari jantung Kota Yogyakarta ke Desa Mangunan, Dlingo.

    Selain menawarkan pemandangan alam, di sini (Pinus Pengger) ada 7 spot foto dengan beragam bentuk telapak tangan, jempol, jembatan setengah lingkaran. Tiket masuknya murah kok, mulai Rp 5.000 saja.

    3. Bukit Paralayang Watugupit

    Spot cantik lainnya untuk menikmati sunset di Jogja adalah Bukit Paralayang Watugupit yang lokasinya tidak jauh dari Pantai Parangtritis. Dari sini kamu juga bisa melihat keindahan Pantai Parangtritis dan Samudra Hindia dari ketinggian.

    Nah traveler yang ingin memacu adrenalin, bisa juga mencoba wahana paralayang yang ditawarkan dengan harga Rp 500 ribu untuk sekali terbang. Tapi pertimbangkan juga kondisi cuaca ya.

    4. Plunyon Kalikuning

    Jembatan Plunyon Kalikuning merupakan destinasi di lereng Gunung Merapi. Jembatan ini makin populer setelah muncul sebagai latar ikonik di film KKN Desa Penari.Jembatan Plunyon Kalikuning merupakan destinasi di lereng Gunung Merapi. Jembatan ini makin populer setelah muncul sebagai latar ikonik di film KKN Desa Penari. Foto: Arawinda Dea Alisia

    Destinasi ini menjadi terkenal jembatan Plunyon Kalikuning, Cangkringan, Sleman menjadi salah satu lokasi syuting film KKN di Desa Penari. Plunyon merupakan destinasi wisata alam di lereng Gunung Merapi.

    Di sini mata akan dimanjakan oleh hamparan hijau nan sejuk dan asri. Bila hari cerah, kamu bisa menikmati megahnya Gunung Merapi dari sini lho. Dan jangan lewatkan juga kesegaran dari mata air bernama Umbul Wadon.

    5. Pantai Pandansari

    Walau tidak sepopuler Parangtritis, Pandansari menjadi satu-satunya pantai di Jogja yang mempunyai mercusuar. Menara suar ini berdiri menjulang setinggi 160 m dari bibir Pantai Pandansari. Tertulis jelas bangunan itu disebut Mercusuar Kala Jivam Asti.

    Lokasinya ada di Pantai Pandansari yang beralamat di Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan dari pusat Kota Jogja.

    Akses menuju lokasi sangat mudah dengan plakat penunjuk arah yang jelas. Cukup melewati Jalur Lintas Selatan Bantul kemudian belok sedikit ke arah selatan traveler akan dengan mudah menemukannya. Terlebih, tinggi mercusuar laksana menopang langit terlihat jelas meski dari kejauhan.

    Puncak mercusuar ini bisa didaki atas seizin petugas dengan membayar Rp 5.000 per orang. Lebih dari 100 anak tangga berbentuk spiral melingkar yang harus ditaklukkan. Namun bila sampai di atas, kamu akan dimanjakan dengan pemandangan daratan Bantul.

    6. Museum Ullen Sentalu

    Relief keprihatinanRelief keprihatinan di Museum Ullen Sentalu Foto: Ria Rahmawati/d’Traveler

    Traveler yang ingin mengenal budaya jawa lebih dalam lagi, datan saja ke Museum Ullen Sentalu. Museum yang berada di Jl Boyong Kaliurang, Sleman buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 08.30-16.00 WIB.

    Harga tiket masuk museum museum ini mulai Rp 10 ribu. Di sini terdapat beberapa tur yang bisa kamu ikuti, yaitu tur Adiluhung Mataram Rp 50 ribu, tur Skriptorium Rp 60 ribu dan tur Vorstenlanden Rp 100 ribu.

    Museum Ullen Sentalu berisi peninggalan dari kebudayaan masa Kerajaan yang ada di Indonesia. Juga berisi koleksi narasi berupa mahakarya lukisan, foto-foto tokoh sejarah budaya Mataram Islam, kain batik vorstenlanden, arca dari kebudayaan Hindu Buddha, koleksi etnografi era Mataram Islam, hingga patung bercorak agama Hindu dan Budha.

    Beberapa koleksi patung dan kolam juga ada di berbagai sudut museum ini. Selain itu, Karya-karya museum juga banyak diwakili oleh para tokoh wanita Jawa, para permaisuri, hingga putri dari Dinasti Mataram.

    (sym/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Destinasi di Jawa Tengah yang Sama Ademnya dari Dieng untuk Healing



    Temanggung

    Dieng jadi salah satu destinasi sejuk di Jawa Tengah. Selain Dieng, ternyata masih ada beberapa tempat lain yang tidak kalah ademnya. Apa saja?

    Selama ini kita mengenal Dieng sebagai destinasi yang sejuk dan nyaman untuk healing. Padahal ada banyak destinasi lain di Jawa Tengah yang punya kesejukan serupa. Dirangkum detikTravel, Senin (7/7/2025), berikut 5 destinasi itu:

    1. Wisata Alam Posong

    Objek wisata alam di Temanggung.Objek wisata alam di Temanggung. Foto: (uzisofyan/d’Traveler)

    Posong adalah destinasi wisata pegunungan yang berada di kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Keindahannya dijamin akan membuat traveler terpana.


    Alam yang begitu indah dan dikelilingi oleh pegunungan yang sangat indah, pasti akan menarik perhatian para wisatawan yang liburan ke sana.

    Cuaca yang sangat menantang akan membuat badan traveler terasa menggigil, bagaikan di dalam kulkas, akan tetapi itulah salah satu keunikan Posong.

    2. Baturraden

    Curug Pinang BaturradenCurug Pinang di Baturraden Foto: Dok. Laman Dolan Banyumas oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Banyumas

    Lokawisata Baturraden merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Purwokerto dan Banyumas. Lokasinya yang berada di dekat kaki Gunung Slamet membuat suasana di Lokawisata Baturraden terasa sejuk dan menenangkan.

    Traveler bisa berenang di kolam renang, bermain sepeda air, hingga pemandian air panas. Alhasil, tempat wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh rombongan keluarga besar.

    Wisatawan bisa menikmati indahnya pemandangan hijau sekaligus merasakan suasana alam yang sejuk dan segar. Baturraden buka setiap hari dari pukul 07.00-16.00 WIB.

    3. Guci, Tegal

    Kemping Asyik di Guci ForestKemping Asyik di Guci Foto: Imam Suripto/detikTravel

    Guci adalah nama salah satu kawasan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Lokasinya di lereng Gunung Slamet membuat suasana udara di Guci begitu sejuk dan segar. Tempat ini menawarkan view pemandangan alam yang indah.

    Selain itu, travelers juga bisa berkeliling kawasan Guci sambil menghirup udara segar khas pegunungan. Kalian juga bisa mencoba sensasi menginap di glamping dan camping.

    Selama di tempat wisata ini, traveler juga bisa mandi air panas, berjalan-jalan di hutan pinus, nongkrong di kedai kopi, atau menyantap makanan lezat di restoran.

    4. Tawangmangu

    Air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.Air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu Foto: Getty Images/iStockphoto/benito_anu

    Berada di lereng Gunung Lawu, kawasan Tawangmangu dan sekitarnya menawarkan keindahan alam dan kesejukan khas pegunungan.

    Tawangmangu adalah nama kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur. Kecamatan sekitar Tawangmangu pun memiliki beragam tempat wisata menarik, seperti di Kecamatan Ngargoyoso dan Jenawi.

    Ada air terjun Grojogan Sewu dimana traveler bisa main air sampai puas, lalu dilanjutkan dengan main-main ke aneka wahana The Lawu Park. Perjalanan bisa diteruskan ke Kemuning Sky Hills dan berziarah ke candi Cetho.

    5. Nepal Van Java

    Nah kampung warna warni sudah kelihatan dari kejauhanNepal van Java Foto: detik

    Terakhir, ada Nepal van Java yang merupakan julukan bagi desa wisata yang terdapat di Gunung Sumbing. Disebut Nepal karena pemukiman tersebut mempunyai tata ruang bertingkat yang tampak mirip dengan pemukiman di Negara Nepal.

    Lokasinya berada di Dusun Butuh, Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mengutip laman Jadesta Kemenparekraf, Dusun Butuh merupakan dusun tertinggi di Kabupaten Magelang dengan ketinggian 1750 mdpl.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mitos Ikan Raksasa Penguasa Sungai Citarum



    Jakarta

    Di balik derasnya arus Sungai Citarum, yang terbentang sejak Kabupaten Bandung-Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tersimpan sebuah kisah yang turun-temurun diceritakan warga sekitar. Konon, di dasar sungai itu hidup seekor ikan raksasa, makhluk gaib yang dipercaya sebagai penguasa Sungai Citarum.

    Kisah itu bermula dari Desa Cihea. Di desa itu di bagian Sungai Citarum ada sebuah leuwi atau bagian sungai yang dalam bernama Leuwi Dinding. Karena dalam, air di Leuwi Dinding nyaris selalu dalam keadaan tenang. Airnya juga bersih.

    Leuwi itu ada penunggunya. Dia Kiai Layung.


    Kiai Layung adalah makhluk air berupa ikan kancra raksasa. Jika umumnya kancra berukuran kecil-sedang, maka Kiai Layung adalah pengecualian. Dia berukuran jumbo, dibilang sebagai ikan raksasa.

    Dikutip dari detikjabar, dalam “Asal-usul Hayam Pelung jeung Dongeng-dongeng Cianjur Lianna” tulisan Tatang Setiadi (2011), disebutkan mitos Kiai Layung, kancra raksasa penguasa Sungai Citarum itu.

    Siapa Kiai Layung?

    Kiai Layung dipercaya sebagai orang sakti yang kena hukuman dari dewata karena orang tersebut berambisi menjadi yang terkuat di bumi dan ingin menguasai surga. Dalam masa hukuman itu, Kiai Layung Harus menjalani ritual berjemur di bawah sinar matahari senja atau dalam bahasa Sunda disebut layung.

    Maka, tiap pagi hingga petang, Kiai Layung muncul ke bawah permukaan air dan berjemur di dekat batu pipih di sana. Bertahun-tahun, dia hidup tenang di leuwi itu bersama ikan-ikan kancra.

    Diganggu Badak

    Hingga kemudian petaka itu muncul. Kiai Layung dan ikan kancra terusik dengan kehadiran badak-badak yang berenang dan berkubang tanpa etika di sekitar Leuwi Dinding. Akibatnya, banyak ikan-ikan kancra mati terinjak, tempat berenang ikan-ikan itu juga menjadi keruh ulah para badak.

    Meskipun bekas orang sakti, Kiai Layung yang kini berwujud ikan tidak kuasa untuk mengusir badak-badak bertubuh besar dan memiliki tenaga yang kuat. Dia pun kemudian meminta bantuan kepada manusia. Dengan “Aji Panggentra” yang masih dimiliki, Kiai Layung yang ikan kancra itu memanggil manusia bernama Kiai Padaratan.

    Bantuan Orang Sakti

    Kiai Padaratan merespons dan bergegas menuju Leuwi Dinding. Setelah berada di Leuwi Dinding, Kiai Padaratan segera menyadari bahwa yang meminta pertolongan kepadanya adalah ikan kancra raksasa yang sedang berjemur di dekat batu. Mereka pun berbincang dan Kiai Padaratan bersedia mengusir badak-badak itu.

    Sebelum menjalankan misi itu, mereka membuat kesepakatan. Kiai Layung minta kehidupan yang tenang sebagai ikan kancra sedangkan Kiai Padaratan mendapatkan air dan segala kehidupan yang terkandung di dalam sungai itu untuk kelangsungan hidup manusia.

    Kiai Padaratan berhasil mengusir badak-badak itu. Hingga kini, diyakini Kiai Layung bisa berjemur setiap hari dengan damai di Leuwi Dinding di Sungai Citarum itu. Sementara itu, warga sekitar bisa mengambil air dan memanfaatkan isi leuwi di sana.

    (fem/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Penginapan Unik dengan View Sawah Ini di Bawah Rp 600 Ribu Semalam



    Jakarta

    Bagi traveler yang bosan dengan hiruk-pikuk kota dan ingin kembali menyatu dengan alam, menginap di vila atau penginapan yang berada di tepi sawah bisa menjadi pilihan terbaik.

    Suasana alami, udara segar, dan pemandangan hijau yang terbentang luas menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Lebih dari sekadar tempat bermalam, penginapan tepi sawah kini menjadi destinasi itu sendiri, menyuguhkan pengalaman menginap yang intim, tenang, dan menyegarkan jiwa.

    Bayangkan bangun pagi dengan suara gemericik air irigasi, burung-burung bernyanyi, dan kabut tipis yang masih menyelimuti hamparan padi hijau. Berikut beberapa penginapan yang memiliki suasananya tenang berada di tepi sawah dan tentunya dengan harga yang terjangkau, tak lebih dari Rp 600 ribu.


    1. Amatara Agung Raka, Bali

    Penginapan ini merupakan vila dengan lanskap persawahan yang menenangkan, tempatnya berada Desa Mas, Ubud. Tamu di Amatara Agung Raka juga bisa menikmati ketenangan dengan berkunjung ke Museum Seni Agung Rai, Galeri Gajah Mas.

    Kemudian, secara fasilitas cukup lengkap seperti restoran, kolam renang, dan lainnya, serta ikon bangunan penginapan bergaya joglo. Dan dengan harga yang mulai dari Rp 600 ribu.

    2. Ubud Sawah Scenery Villa and Homestay, Bali

    Masih di wilayah Ubud yang terkenal dengan suasana alam yang lebih tenang, Ubud Sawah Scenery Vila and Hometay juga menyuguhkan pengalaman menginap yang lebih dekat dengan alam. Letaknya berada di Jalan Banjar Dukuh, Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.

    Penginapan tepi sawah Ubud Sawah Scenery Vila and Homestay di BaliPenginapan tepi sawah Ubud Sawah Scenery Vila and Homestay di Bali. (Instagram/@ubudsawahhomestay)

    Ragam fasilitas penginapan juga diberikan oleh Ubud Sawah Scenery Villa and Homestay seperti kolam renang, fasilitas anak, Wi-Fi hingga bagi traveler yang membawa peliharaan tempat ini sangat pet friendly. Harga Ubud Sawah Scenery Villa and Homestay dimulai dari Rp 400 ribuan saja.

    3. Inang Vila, Bali

    Inang Vila juga menyuguhkan pengalaman menginap di tepi sawah yang akan membuat traveler lebih santai, tenang, dan menyatu dengan alam. Penginapan bintang tiga ini terdapat aktivitas yang bisa traveler nikmati yakni bersepeda, tentu dengan suasana persawahan yang menenangkan.

    Letaknya berada di Kelabangmoding, Temukuaya, Ubud, fasilitas yang diberikan juga terdapat kolam renang, Wi-Fi, hingga layanan antar-jemput bandara. Harga untuk per malan di Inang Vila ini dibanderol mulai dari Rp 350 ribu.

    4. Omah Minggir Homestay, Yogyakarta

    Omah Minggri Homesay ini berada di Jalan Ladrang Slamet, Dusun Ngaranan, Desa Sendangrejo, Sleman, Yogyakarta. Jadi bagi traveler yang sedang berada di area Yogyakarta dan hendak menginap dengan suasana berbeda bisa coba untuk merasakan Omah Minggir Homestay.

    Penginapan tepi sawah Omah Minggir di SlemanPenginapan tepi sawah Omah Minggir di Sleman. (Instagram/@omah_minggir)

    Dari segi fasilitas pun sangat mendukung, selain perlengkapan kamar yang disediakan juga terdapat restoran, fasilitas anak, dan juga Wi-Fi. Harga yang ditawarkan oleh Omah Minggir Homestay ini mulai dari harga Rp 200 ribuan.

    5. Rumah Kina Putih, Bandung

    Penginapan-penginapan di Kota Bandung, memang banyak pilihannya tapi jika ingin merasakan suasana yang jauh dari perkotaan, traveler bisa coba menginap di Rumah Kina Putih. Tempatnya berada di Jalan Raya Curug Sindulang, Cicalengka, Bandung.

    Penginapan tepi sawah Rumah Kina Putih di BandungPenginapan tepi sawah Rumah Kina Putih di Cicalengka, Bandung. (Instagram/@rumah.kina.putih)

    Landskap persawahan yang indah membuat traveler akan merasa tenang dan nyaman saat menginap di Rumah Kina Putih ini. Fasilitas yang diberikan mulai dari kelengkapan peralatan hingga Wi-Fi sudah tersedia di sini dan harga per malamnya dimulai dengan harga Rp 500 ribu.

    (upd/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • 7 Fakta Kampung Warna-Warni Jodipan yang Sampai Bikin Turis Asing Terkesan



    Malang

    Kampung Wisata Jodipan menjadi salah satu destinasi wisata paling ikonik dan instagramable di Kecamatan Blimbing, Malang, Jawa Timur. Deretan rumah warna-warni yang membuat kagum wisatawan lokan dan turis-turis internasional.

    Bahkan, dalam salah satu ulasan daring, seorang turis asal Singapura menyampaikan testimoni kaget dengan apa yang dilihatnya di Kampung Jodipan. Ternyata, kampung warna-warni itu jauh lebih indah dari yang ia lihat di media sosial.

    Biasa disebut Kampung Warna-warni, Jodipan berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Brantas, Malang. Sebenarnya, ada dua kampung warna-warni, yaitu Jodian dan Tridi. Dua kampung warna-warni itu dihubungkan dengan jembatan kaca Ngalam.


    Merujuk arsip pemberitaan detikcom, kampung itu digagas oleh kelompok mahasiswa yang sedang melakukan Event Public Relation.

    Selain itu, masih ada sejumlah fakta lain tentang desa warna-warni di Malang itu.

    Berikut tujuh fakta tentang desa warna-warni Jodipan:

    1. Praktikum Mahasiswa UMM

    Desa Jodipan berubah menjadi desa warna-warni berkat inisiasi delapan mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diketuai Nabila Firdausiyah.

    Saat itu, Nabila mengatakan semua anggota timnya adalah mahasiswa Komunikasi UMM yang sedang menempuh mata kuliah Praktikum Event Public Relations. Tugas praktikum itulah yang mengharuskan mereka membuat program bermanfaat untuk masyarakat dengan menggandeng klien dari perusahaan swasta atau pemerintah.

    Kampung warna-warni di MalangKampung warna-warni di Malang (nisyanisyoong/d’Traveler)

    “Kami harus membuat sebuah event yang bisa mencakup semuanya, partisipasi masyarakat, kebersihan, keindahan, kreativitas, dan yang penting kontinuitas,” kata Nabila.

    Kelompok mahasiswa itu menyulap kampung yang dulunya kumuh menjadi destinasi wisata baru. Mereka mengubah kampung itu dengan pengecatan warna-warni pada dinding, atap, pagar rumah hingga jalan setapak dan tangga-tangga batu.

    Salah satu anggota kelompok itu Salis Fitria mengatakan ide mengecat Jodipan menjadi desa warna-warni terinspirasi oleh konsep kawasan Kickstater, Rio De Janeiro, Brazil, Yunani, dan Kota Cinque Terre, Italia.

    2. Menghabiskan Cat 2 Ton

    Praktikum itu dilakukan dengan membuat program kerja bakti bersih-bersih, mengecat pagar, dan membuat mural. Mereka kemudian menggandeng produsen cat di Malang yang memproduksi cat merk Decofresh. PT Indana Paint sangat tertarik.

    Pemilik cat merk Decofresh ini siap menggelontorkan dana Corporate Social Responsibility (CSR)-nya untuk program itu. Mereka manamainya sebagai “Decofresh Warnai Jodipan”. Tak kurang 2 ton cat dihabiskan untuk menyulap kampung di bantaran sungai itu.

    3. Diresmikan Wali Kota Malang

    Pada perjalanannya, pengecatan desa itu melibatkan berbagai elemen masyarakat dilibatkan untuk memulai bersih-bersih dan pengecatan lingkungan.

    Pada 4 September 2016, Kampung Wisata Jodipan diresmikan oleh Wali Kota Malang H. Mochamad Anton.

    4. Lokasi dan Rute

    Kampung Jodipan MalangKampung Jodipan Malang (Joel Wakanno/d’traveler)

    Kampung Warna Warni Jodipan berada di Jalan Ir H Juanda Nomor 9 RT 9 RW 2, Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Lokasinya yang strategis membuat akses menuju kampung wisata ini terbilang mudah dijangkau.

    Dari Alun-alun Kota Malang, traveler bisa melewati Jalan Gatot Subroto. Hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk tiba ke lokasi ini.

    Bagi traveler dari luar kota dan menggunakan kereta api, dari Stasiun Malang, desa Jodipan itu bisa dicapai 2.

    5. Harga Tiket

    Harga masuk ke satu kampung ini Rp 10.000 per orang. Jika ingin menyeberang, traveler akan dikenakan biaya Rp 5.000 dan Rp 10.000 untuk masuk ke kampung Tridi. Harganya masih cukup murah, ya.

    6. Fasilitas buat Wisatawan

    Fasilitas yang ditawarkan Kampung Warna Warni Jodipan cukup lengkap untuk kunjungan singkat. Seperti toilet, musala, parkir kendaraan, dan warung makan ringan.

    7. Daya Tarik

    Dari jauh, Kampung Wisata Jodipan langsung membetot perhatian. Rumah dengan warna-warni menjadi daya tarik utama desa itu.

    Selain itu, di sini terdapat Jembatan Kaca Ngalam yang menghubungkan Kampung Jodipan dengan Kampung Tridi. Jembatan yang panjangnya 25 meter dan tingginya 8 meter ini sangat aman, karena bisa menampung beban sekitar 250 kg. Pengunjung juga bisa berfoto-foto di atas jembatan ini dengan latar belakang Kampung Jodipan yang penuh warna.

    Kampung Tridi sebagai tetangga Kampung Jodipan juga bisa disinggahi sekaligus.

    (fem/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Tempat Wisata Baru di Jakarta yang Wajib Disambangi



    Jakarta

    Jakarta tidak hanya dikenal dengan gedung pencakar langit dan hiruk-pikuknya. Kota ini terus memperbarui wajahnya dengan menghadirkan ruang-ruang publik dan destinasi wisata baru yang lebih modern, ramah keluarga, dan Instagramable.

    Buat kamu yang ingin jalan-jalan singkat tanpa perlu jauh-jauh ke luar kota, berikut 5 tempat wisata baru di Jakarta yang wajib banget disambangi!

    1. Big Bounce Indonesia

    Selama libur sekolah ini sampai 19 Juli 2025, traveler bisa menikmati permainan mantul-mantul di The Big Bounce Indonesia yang digelar di Community Park, Pantai Indah Kapuk 2. Jadi andalan PIK untuk menggaet pengunjung selama libur sekolah kali ini.


    Wahana The Big Bounce dibangun dengan standar keamanan internasional. Seluruh arena dilengkapi SOP keselamatan. Wahana dibangun dengan menggunakan ratusan pasak fondasi yang mampu menahan beban hingga 200 kg per pasak, serta bumper pengaman di setiap sisi wahana. Tim medis dan kru profesional juga selalu siaga selama acara berlangsung.

    Tiket dan Jadwal:

    Wahana ini dibagi menjadi dua sesi per hari:

    Pagi-Sore /Bounce Bright (10.00-15.30): Rp 185.000 (weekday) / Rp275.000 (weekend)
    Sore-Malam/After Dark, pukul 16.30 WIB-21.30 WIB: Harga sama dengan sesi siang

    Beberapa hari tertentu akan menampilkan pertunjukan spesial dengan harga berbeda. Terdekat Sabtu 12 Juli ini bakal ada DJ Una dan Kahitna yang menghibur pengunjung.

    Anak-anak bermain di wahana The Big Bounce Indonesia di Community Park PIK 2, Tangerang, Banten, Jumat (20/6/2025). The Big Bounce Indonesia adalah wahana inflatable terbesar di Asia Tenggara yang memiliki luas 35 ribu meter persegi.Anak-anak bermain di wahana The Big Bounce Indonesia di Community Park PIK 2, Tangerang, Banten, Jumat (20/6/2025). The Big Bounce Indonesia adalah wahana inflatable terbesar di Asia Tenggara yang memiliki luas 35 ribu meter persegi. Foto: Andhika Prasetia

    2. Family Mart, Trinity Tower

    Family Mart Trinity TowerFamily Mart Trinity Tower Foto: 20Detik – Daffa Ridwan

    Buat traveler yang menikmati pemandangan gedung indah di Jakarta bisa mendatangi Family Mart, Trinity Tower. Kalian juga bisa melihat Light Rail Transit (LRT) yang lewat di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

    Tempat nongkrong gratis dengan view gedung tertinggi di Jakarta ini berlokasi di lantai 3 (area retail & food court Trinity Tower), tepatnya berada di Jalan H.R. Rasuna Said No. 6, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Jadi bisa nongkrong sambil ngopi-ngopi bareng rekan kerja di sini.

    3. Up At Thamrin Nine

    Wisata baru di Jakarta berikutnya adalah UP at Thamrin Nine di Autograph Tower menawarkan pengalaman menatap Jakarta dari titik tertinggi. Dari ketinggian 385 meter, hamparan gedung-gedung menjulang, siluet pegunungan, hingga Kepulauan Seribu di ibu kota tampak memukau dari angkasa.

    Autograph Tower memiliki tinggi 385 meter dan 109 lantai. Autograph Tower menjadi sejarah sebagai gedung tertinggi di Jakarta yang sekaligus menjadi wajah baru kawasan pusat bisnis di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.

    Di sini traveler juga bisa menatap lurus ke kaki gedung melalui glass floor alias lantai kaca. Juga, menatap Jakarta dengan berayun-ayun dengan ayunan selama 2-3 menit.

    Untuk menuju ‘puncak’ Jakarta itu, traveler bisa datang langsung ke Autograph Tower. Pengunjung dikenai tarif masuk Rp 100 ribu pada pagi hari dan Rp 130 ribu saat jam-jam favorit mulai sore hingga malam.

    Banyak yang bilang, lokasi ini asyik banget buat menyaksikan sunset dan city light Jakarta. Setelah mengantongi tiket yang bisa dibeli secara online dan offline, pengunjung bakal diarahkan menuju lift yang memiliki kecepatan menakjubkan. Lift ini menjadi lift tercepat di Indonesia dengan kecepatan 540 m/menit. Lift itu juga spesial dengan mampu melakukan perjalanan sampai 344 meter.

    Sejumlah pengunjung tampak antusias menikmati panorama kota Jakarta dari ketinggian di Sejumlah pengunjung tampak antusias menikmati panorama kota Jakarta dari ketinggian di “Up at Thamrin Nine”, Autograph Tower, Jakarta Pusat, Jumat (4/7/2024). Berada di ketinggian 385 meter, destinasi ini menawarkan pengalaman menakjubkan menikmati pemandangan 360 derajat Ibu Kota dari gedung pencakar langit tertinggi di Indonesia. Foto: Grandyos Zafna

    4. Kepulauan Seribu

    Meski bukan tempat wisata yang baru, namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta minggu lalu baru menambah 2 kapal dua kapal wisata baru menuju Kepulauan Seribu yang diluncurkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo.

    Untuk menuju Kepulauan Seribu, wisatawan dapat mengakses Dermaga Kali Adem dan Marina Ancol dengan tarif yang berbeda-beda. Melalui Dermaga Kali Adem, para pengunjung bisa memanfaatkan kapal kayu dengan tarif sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu, serta bisa juga menggunakan kapal Dishub DKI Jakarta dengan tarif sekitar Rp 44 ribu hingga Rp74 ribu.

    Rute operasional kapal wisata untuk pulau cagar budaya, yakni Pelabuhan Penumpang Muara Angke – Pulau Cipir – Pulau Onrust – Pulau Kelor – Pulau Bidadari – (kembali ke Pelabuhan Muara Angke).

    Sedangkan waktu operasional dibagi menjadi empat waktu keberangkatan yakni pukul 08.00; 10.00; 12.00; dan 14.00 WIB. Kapal wisata Paus 2 dan Paus 3 memiliki kapasitas delapan puluh penumpang dengan biaya retribusi tiket kapal wisata sebesar Rp 49.000.

    Pramono luncurkan dua kapal untuk transportasi di Kepulauan Seribu. (Brigitta/detikcom)Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat meluncurkan dua kapal untuk transportasi di Kepulauan Seribu. (Brigitta/detikcom) Foto: Pramono luncurkan dua kapal untuk transportasi di Kepulauan Seribu. (Brigitta/detikcom)

    5. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu – Blok M

    Pemprov DKI Jakarta juga kini mengaktifkan kembali area Blok M. Selain terminal yang lebih segar, kehadiran Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang baru direvitalisasi juga bisa menarik pengunjung. Taman ini mengusung tema literasi dengan area baca terbuka, ruang komunitas, taman bermain anak, amfiteater mini, hingga kafe estetik. Lokasinya super strategis dekat MRT Blok M BCA, jadi gampang banget buat dikunjungi saat akhir pekan.

    – Lokasi: Blok M, Jakarta Selatan
    – Tiket masuk: Gratis
    – Fasilitas: Area baca, taman bermain, kafe

    Suasana warga menikmati libur akhir pekan di Taman Literasi, Jakarta.Suasana warga menikmati libur akhir pekan di Taman Literasi, Jakarta. Foto: Kurniawan Fadilah/detikcom

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ini Tempat untuk Melukat Tanpa Busana di Bali



    Gianyar

    Banyak wisatawan sengaja datang ke Bali untuk mengikuti prosesi Melukat. Berikut tempat melukat di Gianyar, Bali yang mewajibkan pesertanya tanpa busana.

    Berkunjung ke Bali, tak luput dari wisata spiritualitas. Wisatawan asing maupun domestik biasanya memilih melukat (pembersihan diri) yang belakangan menjadi tren.

    Banyak lokasi di Bali yang bisa dipakai oleh wisatawan untuk melukat. Namun, pernahkah traveler terbayang untuk melukat di tanpa sehelai kain pun?


    Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, akan memberikan pengalaman melukat yang berbeda. Bagian dari Pura Telaga Waja ini dibangun pada abad ke-10 masehi dan hanya pernah sekali direnovasi sekitar tahun 1990-an.

    Nuansa alam di sini sangat kental dengan perpaduan pepohonan rimbun, gemericik air pancuran, suara burung, hingga aliran sungai di dekat lokasi.

    Apabila beruntung, pemedek (pengunjung tempat peribadatan) bisa bertemu dengan monyet-monyet yang terkadang mencari makan di antara pepohonan.

    Selain alam, nilai sejarah yang tinggi nampaknya mendorong minat pemedek untuk melukat di lokasi spiritual tersebut. Diketahui bahwa selama ratusan tahun sudah menjadi tempat pertapaan.

    Tercatat dalam naskah Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada abad ke-13 Masehi, lokasi tersebut dinamai Pusat Pertapaan Talaga Dhwaja.

    Bahkan, dikatakan Dang Hyang Dwijendra dan Patih Kebo Iwa pernah melakukan pertapaan dan penglukatan di lokasi yang bisa ditempuh selama 25 menit dari pusat Kota Gianyar tersebut.

    Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali. (Ni Komang Ayu Leona Wirawan)Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali. (Ni Komang Ayu Leona Wirawan)

    Bekas telapak kaki Kebo Iwa juga pernah ada pada salah satu batu padas telaga (kolam). Namun, kini menghilang akibat pengikisan. Tiap telaga dinamai Siwa dan Buddha sesuai ajaran Siwa Buddha yang dahulu ada dan dianut.

    Jejak sejarah lainnya dapat dilihat dari adanya relief menyerupai huruf H pada pintu masuk menuju beji yang sekaligus berada di lokasi bekas peserta pasraman (lembaga belajar agama) melakukan meditasi.

    Ini mirip sekali dengan pengunci pada pintu gebyok rumah Bali. Untuk itu, diyakini relief itu menjadi pintu masuk sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia gaib).

    Tradisi dan Pantangan Melukat

    “Sebelum masuk ke beji untuk melukat, pemedek perlu ke bagian relief itu dulu. Memohon izin sambil mengetuknya sebanyak tujuh kali”, jelas Jero Mangku Besang, salah satu orang suci sekaligus pengelola Beji Telaga Waja saat dijumpai beberapa waktu lalu.

    Pemedek yang hadir tidak harus dari kalangan umat Hindu. Namun bila ia beragama Hindu, wajib melakukan persembahyangan dahulu di Pura Telaga Waja, posisinya berada di atas beji.

    Saat memasuki area pura hingga beji juga diwajibkan berbusana adat dan tidak sedang dalam keadaan menstruasi maupun berduka karena pihak keluarga maupun kerabat meninggal dunia.

    Menanggalkan Pakaian dengan Aman

    Prosesi melukat kemudian bisa dilakukan dengan menanggalkan pakaian hingga alas kaki. Pemedek masuk secara privat dan bergilir. Bahkan pemangku juga tidak diperkenankan masuk ketika pemedek sedang melukat.

    Lalu, hanya diperkenankan berkelompok jika dalam satu jenis kelamin. Anggota kelompoknya yang berbeda jenis kelamin akan menunggu antrian di lokasi bekas pasraman tersebut, posisinya di tengah-tengah antara beji dengan pura.

    “Orang kadang ragu ke sini karena takutnya diintip. Di sini aman karena sekelilingnya tertutup dan bergilir juga pemedeknya. Pantang untuk berpakaian saat melukat karena dipercaya nanti malah bernasib kurang baik”, tutur Jero Mangku Suwaja, pengelola beji lainnya.

    Filosofi Melukat Tanpa Busana di Beji Telaga Waja

    “Memang bedanya di sini tidak berpakaian. Sebenarnya sama seperti mandi di rumah. Tapi, itu kan pembersihan jasmani. Kalau yang ini pembersihan rohani. Dan, perlu dilepas semua supaya bersihnya menyeluruh,”” terang Jero Mangku Besang menyoal alasan di balik pemedek tidak diperkenankan berpakaian saat melukat.

    Pemedek melakukan prosesi melukat di 11 air pancuran yang berada di bawah telaga Siwa dan Buddha. Terdapat undakan (tangga) menuju telaga yang posisinya di tengah-tengah sehingga membagi tempat melukat menjadi enam dan lima air pancuran.

    “Enam pancuran berarti pembersihan diri untuk mengurangi Sad Ripu (6 musuh dalam diri manusia). Tidak mungkin hilang 100% karena kita lahir membawa karma. Kalau yang lima pancuran berarti pembersihan terhadap panca indera kita,” jelas Jero Mangku Besang.

    Tidak hanya melukat di tempat, pemedek juga bisa membawa pulang air dari Beji Telaga Waja untuk anggota keluarga di rumah.

    Bedanya, air tidak diambil dari 11 pancuran tersebut, melainkan dari klebutan ibu. Diyakini mampu memberikan kemakmuran, kesembuhan dari penyakit hingga healing.

    Belum Tersohor di Masyarakat

    Rupanya tempat melukat di Beji Telaga Waja belum cukup tersohor di masyarakat umum. Mereka yang kenal pun umumnya menghubungi Jero Mangku Suwarja untuk reservasi.

    Tidak ada biaya yang dipungut. Hanya saja untuk memastikan para pemangku ada di tempat dan air pancuran dalam kondisi yang layak digunakan melukat diperlukan sumbangan seikhlasnya. Sebab, warga Banjar Kepitu yang menjadi pengemong pura akan melakukan pembersihan secara berkala.

    Selain itu, wisatawan disarankan datang menggunakan kendaraan roda dua karena jalan menuju lokasi sempit. Kalau membawa mobil, maka dapat parkir di Banjar Kepitu yang berjarak 100 meter dari lokasi.

    Pemedek juga baiknya tidak datang saat musim hujan karena hampir keseluruhan bangunan masih terbuat alami dari bebatuan dan cukup berlumut.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikBali.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com