Author: Import

  • Penampakan Sawah Seribu Bendera di Kulon Progo



    Kulon Progo

    Menyambut HUT RI ke-80, warga Kulon Progo mengibarkan seribu bendera sang merah putih di area persawahan. Sawah Seribu Bendera itu pun menyita perhatian warga.

    Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan ke-80 RI. Salah satunya menciptakan Sawah seribu bendera di Kulon Progo.

    Area persawahan yang dipenuhi dengan ribuan bendera merah putih itu terletak di Dusun Dobangsan, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kulon Progo.


    Julukan ini muncul karena banyaknya bendera merah putih yang berkibar di lokasi tersebut. Bendera itu terpasang rapi di sepanjang jalan kampung yang membelah persawahan dari Jalan Pahlawan menuju permukiman penduduk Dobangsan.

    Saat melintasi jalan sepanjang 500 meter ini menggunakan kendaraan bermotor, kita seakan berada di dalam lorong yang sekelilingnya terbungkus warna merah dan putih.

    Ilusi ini terjadi karena pemasangan bendera berdekatan dengan jarak antar tiang kurang dari 1,5 meter. Hal ini membuat area persawahan Dobangsan jadi daya tarik wisata baru.

    Setiap sore hari, area persawahan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat yang ingin mengabadikan gambar. Mereka asyik foto-foto dengan latar Sawah Seribu Bendera.

    Suasana area sawah yang terpasang ribuan bendera merah putih di Dobangsan, Giripeni, Wates, Kulon Progo, Kamis (7/8/2025)Sawah Seribu Bendera di Kulon Progo Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

    Dukuh Dobangsan, Teguh Supriyono, mengatakan pemasangan bendera di area persawahan Dobangsan merupakan program rutin yang diinisiasi oleh warganya sendiri. Program yang diberi nama memasang 1.000 bendera ini sudah dilakukan sejak awal Agustus 2025 lalu.

    “Untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 80 di Dobangsan, rutinitas tiap tahun itu ada program memasang 1.000 bendera, utamanya di jalan turi (lokasi pemasangan bendera),” ucapnya saat ditemui wartawan di lokasi, Kamis (7/8).

    Tujuan Membuat Sawah Seribu Bendera

    Teguh mengatakan program 1.000 bendera di Dobangsan bertujuan untuk mengenang jasa pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Di samping itu juga jadi ajang penguat nasionalisme dan solidaritas antarwarga.

    “Tujuan pertama buat mengenang jasa pahlawan yang telah membela dan membuat bangsa Indonesia merdeka. Sekaligus menanamkan cinta nasionalisme kepada semua warga yang ada di Dobangsan. Dengan menanamkan rasa nasionalisme itu nantinya untuk kegotongroyongan dan kerukunan warga di Dobangsan terjaga, jadi program apa pun yang akan dilakukan di Dobangsan warga akan mendukung,” ujarnya.

    Teguh mengatakan anggaran pemasangan 1.000 bendera mencapai lebih dari Rp 5 juta. Uang tersebut diperoleh dari swadaya masyarakat dan iuran rutin setiap RT.

    “Anggarannya dari swadaya masyarakat. Jadi setiap tahunnya di Dobangsan, per RT menyetorkan uang. Kemudian untuk bendera dan lain-lainnya itu bisa sampai Rp 5-7 jutaan. Sedangkan bambu swadaya dari warga,” jelasnya.

    Selain memasang bendera, warga Dobangsan khususnya yang tinggal di wilayah RT 20 juga punya kreativitas lain untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI tahun ini. Mereka memasang sejumlah maskot bergambar tokoh pahlawan di sepanjang jalan kampung.

    “Kalau di sepanjang jalan RT 20 sudah terpasang 100 bendera disertai dengan tokoh-tokoh pahlawan yang telah berjuang menegakkan kemerdekaan RI, ada Sukarno, Hatta, Imam Bonjol yang dipasang di sepanjang jalan,” ucap Ketua RT 20 Dobangsan, Ariyanton.

    Ariyanton berharap kegiatan ini bisa memacu jiwa nasionalisme masyarakat terutama bagi warga Dobangsan. Di samping itu juga jadi media pemersatu warga karena proses pemasangannya dilakukan secara gotong royong.

    “Dengan cara ini kami ingin agar jiwa nasionalisme warga semakin kuat sehingga momen kemerdekaan bisa benar-benar terasa,” ujarnya.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pesona Patung Rp 53 Miliar di Baubau, Sulawesi Tenggara Ini Faktanya!


    Jakarta

    Media sosial TikTok belakangan ramai dengan unggahan patung seharga Rp 53 miliar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sosok berkharisma yang diabadikan dalam patung ini ternyata adalah Sultan Himayatuddin Muhammad Saydi seorang Pahlawan Nasional. Pemberian gelar secara resmi tercantum dalam Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 120/TK/2019.

    Dikutip dari Antara, bangunan ini disebut Patung Oputa Yii Koo yang merupakan gelar bagi Sulton Buton ke-20 dan ke-23. Total biaya ini memang sangat fantastis, bahkan situs Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara menyebut ongkos pembangunan mencapai Rp 60 miliar. Pembangunan dimulai sejak 2022 dengan APBD Provinsi Sultra.

    Fakta Patung Oputa Yii Koo Rp 53 Miliar

    Patung yang digadang-gadang menjadi ikon wisata terbaru di Baubau ini sudah selesai dibangun dan bisa dilihat secara utuh. Berikut beberapa fakta patung yang terlihat gagah ini


    1. Apakah Rp 53 miliar terlalu mahal?

    Pembangunan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sulawesi TenggaraPembangunan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sulawesi Tenggara (dok google maps September 2022)

    Anggaran Rp 53 miliar memang sangat besar, namun patung ini diharapkan bisa memberi dampak positif bagi masyarakat Sultra. Area terbuka sekitar patung dapat digunakan untuk kegiatan sosial, menambah ruang publik baru bagi masyarakat, sekaligus menarik kunjungan wisata ke Baubau.

    2. Lokasi patung di tepi pantai

    Patung Oputa Yii Koo berlokasi di Kotamara, Kelurahan Kaobula, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau. Bangunan patung berada di tepi pantai menjorok ke laut berpadu dengan warna air laut biru hijau. Hasilnya, patung terlihat sangat indah dan sangat eyecatching serta Instagramable.

    3. Patung terbuat dari perunggu dan tembaga

    Penampakan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sualwesi TenggaraPenampakan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sualwesi Tenggara Foto: google maps Juli 2024

    Bahan penyusun Patung Oputa Yii Koo adalah perunggu dan tembaga, sehingga menghasilkan warna merah orange yang khas. Patung dibangun setinggi 22-23 meter dengan pose jari telunjuk kanan menunjuk ke arah matahari terbenam di sebelah barat. Saat sunset, patung terlihat sangat indah dan epik sebagai latar foto.

    4. Area patung nyaris mencapai satu hektare

    Patung Oputa Yii Koo berdiri di layan seluas 8.897 m² atau 0,89 hektare. Pembangunan patung dilakukan dalam dua tahap dengan total dana Rp 17 miliar dan Rp 36 miliar. Tahap pertama fokus pada pembangunan pondasi di dalam laut, pemasangan plat, sekalian dengan dudukan patungnya. Selanjutnya adalah pembangunan patung hingga selesai.

    5. Patung belum diresmikan

    Bangunan Patung Oputa Yii Koo sudah selesai dibangun, namun belum diresmikan pemerintah setempat. Patung rencananya diresmikan pada 2024, namun belum dilaksanakan hingga kini. Selain menjadi ikon wisata, komplek Patung Oputa Yii Koo direncanakan punya museum dan ruang kantor.

    (row/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • 978 Warung di Ciater Dibongkar, Jalur Wisata Kini Gelap dan Rawan Kriminalitas



    Bandung Barat

    Jalan Raya Subang, tepatnya daerah Ciater yang berbatasan dengan kawasan wisata Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini terlihat gelap setelah ratusan warung di sana dibongkar.

    Selasa (12/8/2025) malam, detikJabar menyusuri jalanan berhawa sejuk itu. Perjalanan ditempuh dari Kota Cimahi dengan jarak sekitar 19 kilometer. Membutuhkan waktu 1 jam 12 menit menggunakan mobil. Kini tak ada lagi terang dari warung-warung jagung di sepanjang Jalan Raya Subang. Tak lagi terlihat barisan kendaraan yang terparkir melepas lelah sekejap.


    Hilang juga rasa aman terutama buat mereka pemotor yang datang dari arah Subang menuju Lembang maupun sebaliknya. Berganti jadi kelam dan seram di tengah luas pelukan kebun teh tak produktif dan tegak Gunung Tangkuban Parahu yang sewaktu-waktu bisa bangun dari tidurnya.

    Warung-warung milik ‘orang kecil’ itu dianggap ilegal, sebab berdiri di atas lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Beberapa hari lalu, alat berat Satpol PP Jabar dan Kabupaten Subang meruntuhkan konstruksi bangunan semi permanen tersebut.

    Puing-puing bangunan yang telah memberi kenangan banyak orang sejak puluhan tahun lalu itu masih berserakan. Sementara orang yang dulu menggantungkan hidup dari warung itu kini entah kemana rimbanya.

    “Ya jadi seram lewat sini, soalnya biasa ada warung 24 jam sekarang sudah dibongkar. Jadinya kan gelap,” kata Rizaldi, pengendara asal Cimahi, Selasa (12/8/2025).

    Sebagai pengendara motor, keberadaan warung-warung itu serupa juru selamat. Jika hujan, maka menjadi tempat berteduh. Jika lelah, juga menjadi tempat merebahkan badan.

    “Kadang sengaja juga dari rumah sama keluarga kesini cuma mau makan mie, karena kan suasananya sejuk, lihat kebun teh, liburan murah lah istilahnya. Sekarang enggak bisa lagi,” kata Rizaldi.

    Buat Deni, warga Subang, hilangnya warung-warung itu menjadi kerugian besar. Risiko tindak kriminal di malam hari kian meningkat gegara tak ada sumber penerangan dan kehadiran orang-orang.

    “Jelas takut nanti lewat sini, risiko ada begal semakin besar. Kemudian kecelakaan, waktu warung ada saja kan sering ada kecelakaan, apalagi sekarang kalau malam hari jalan sepi terus gelap. Makanya enggak kebayang sama kami,” kata Deni.

    Artikel ini sudah tayang di detikJabar. Klik di sini untuk membaca selengkapnya.

    (sud/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • 8 Wisata Sejarah di Bandung, Jejak Peninggalan Perjuangan Kemerdekaan



    Jakarta

    Kota Bandung tidak hanya memiliki wisata kuliner dan wisata alam. Kota kembang juga memiliki wisata sejarah saat memperjuangkan merebut kemerdekaan.

    Perayaan hari ulang tahun ke-80 RI menjadi momentum untuk mengenang jasa pahlawan. Kota Bandung memiliki jejak perjuangan mereka, mulai dari Gedung Sate yang ikonik hingga Taman Sejarah.

    Rekomendasi 8 Tempat Wisata Sejarah Kemerdekaan di Bandung

    1. Gedung Sate


    Gedung Sate.Gedung Sate. (Bima Bagaskara/detikJabar)

    Alamat: Jalan Diponegoro nomor 22, Bandung

    Gedung Sate amat lekat sebagai identitas Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Nama Gedung Sate berasal dari suara warga, bahkan bermula dari bentuk protes yang bernuansa satire.

    Adalah desain bangunan berupa ornamen menyerupai tusuk sate di bagian puncaknya, sebuah struktur menara kecil berbentuk tumpeng bertingkat dengan hiasan enam bola di ujungnya, yang menjadikan gedung itu dinamai dengan Gedung Sate. Menara itu penangkal petir.

    Gedung megah bergaya Indo-Eropa itu mulai dibangun pada 1920 sebagai Departement Verkeer en Waterstaat atau Gedung Departemen Pekerjaan Umum. Arsiteknya berasal dari Belanda Ir. J. Gerber, yang menggabungkan unsur klasik Eropa dengan sentuhan arsitektur lokal Nusantara.

    Penamaan Gedung Sate itu karena warga kesulitan menyebut nama bangunan tersebut, yakni Departement Verkeer en Waterstaat. Saat pembangunan rampung, warga Bandung yang melihat bentuk gedung ini punya reaksi unik. Alih-alih menyebut nama resminya yang panjang dan rumit dalam bahasa Belanda, masyarakat lebih nyaman menyebutnya Gedung Sate.

    Protes yang dibungkus dengan guyonan ini pun menyebar cepat. Dari warung kopi hingga pasar, orang-orang menyebut bangunan megah itu dengan nama Gedung Sate hingga akhirnya nama itu bertahan hingga sekarang.

    2. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

    Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Jalan Japati, Kota Bandung, Jawa Barat, tengah direvitalisasi. Revitalisasi monumen bersejarah ini terus dikebut.Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Jalan Japati, Kota Bandung, Jawa Barat, tengah direvitalisasi. Revitalisasi monumen bersejarah ini terus dikebut. (Wisma Putra)

    Alamat: Jalan Dipatiukur nomor 58

    Dikutip dari detikjabar, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat berhadapan dengan Gedung Sate dan di depan Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Kota Bandung. Monumen berdiri di atas tanah seluas ± 72.040 m² dan luas bangunan ± 2.143 m².

    Monumen itu berbentuk bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Monumen diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995.

    Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat memiliki koleksi hanya berupa tujuh diorama pada ruang pameran tetap. Ada pun koleksi diorama pada ruang pameran tetap tersebut adalah:

    1. Diorama Perjuangan Sultan Agung Tirtayasa Bersama Rakyat Menentang Kolonial Belanda Tahun 1658
    2. Diorama Partisipasi Rakyat Dalam Pembangunan Jalan di Sumedang
    3. Diorama Perundingan Linggarjati 1946
    4. Diorama Bandung Lautan Api 24 Maret 1946
    5. Diorama Long Mach Siliwangi Januari 1949
    6. Diorama Konfrensi Asia Afrika di Bandung 1955
    7. Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962.

    3. Goa Belanda dan Goa Jepang

    Monumen Patung Taman Hutan Raya DjuandaMonumen Patung Taman Hutan Raya Djuanda (detik)

    Alamat: Kompleks Tahura Juanda, Jalan Ir.H.Juanda nomor 99

    Goa Belanda dan Goa Jepang terletak di kompleks Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda. Traveler hanya perlu berjalan sekitar 500 meter dari pintu masuk utama.

    Sementara itu, Hutan Raya Ir. H. Juanda, adalah hutan lindung seluas 590 ha dibangun Hindia Belanda pada 1912. Hutan lindung dengan nama Hutan Lindung Pulosari, dibangun bersamaan dengan terowongan penyadap air Sungai Cikapundung atau Gua Belanda diresmikan pada 1922.

    Sejak Indonesia merdeka, kawasan Hutan Lindung Pulosari menjadi aset pemerintah Republik Indonesia dan dikelola oleh Djawatan Kehutanan. Pada 1960, ketika Mashudi menjabat Gubenur Jawa Barat, digagas Pembangunan Taman Hutan Wisata Alam sekaligus berfungsi sebagai Kebun Raya.

    Saat ini, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung, banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara dan warga Bandung.

    4. Museum Pos Indonesia

    MuseumMuseum Pos Indonesia (Satria Nandha/detikTravel)

    Alamat: Jalan Cilaki nomor 73

    Museum ini terletak di dalam kompleks Gedung Sate Bandung. Dikutip dari situs resmi pos indonesia, Museum Pos Indonesia sudah ada sejak masa Hindia Belanda dengan nama Museum PTT (Pos Telegrap dan Telepon), tepatnya pada 1931.

    Museum itu memiliki koleksi prangko, baik dalam maupun luar negeri. Sayangnya, akibat peristiwa Perang Dunia ke II Museum itu kurang terurus, bahkan nyaris terlupakan.

    Hingga kemudian, muncul gagasan untuk mendirikan Museum Pos dan Giro yang koleksinya tidak hanya terdiri dari prangko-prangko tetapi juga benda-benda lainnya berupa foto-foto, peralatan pos dan lain sebagainya yang bernilai sejarah.

    Untuk mewujudkan gagasan yang sudah lama ada ini maka pada tanggal 18 Desember 1980 oleh Direksi Perum Pos dan Giro telah dibentuk sebuah panitia dengan nama Panitia Persiapan Pendirian Museum Pos dan Giro dengan tugas utama melakukan inventarisasi dan mengumpulkan benda-benda bersejarah yang layak dijadikan isi museum.

    Pada 27 September 1982 dilakukan peresmian penerapan Sistem Kode Pos Indonesia untuk keperluan intern Perum Pos dan Giro oleh Direktur Utama Perum Pos dan Giro di ruangan lantai bawah gedung Kantor Pusat Perum Pos dan Giro. Dan setahun kemudian pada 27 September 1983 bertepatan dengan Hari Bakti Postel ke 38 ruangan lantai bawah tersebut oleh Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Achmad Tahir telah diresmikan sebagai museum dengan nama Museum Pos dan Giro.

    Kemudian, seiring perkembangan perusahaan pos, mulai 20 juni 1995 nama dan status perusahaan berubah dari Perusahaan Umum Pos dan Giro menjadi PT. Pos Indonesia (persero) maka nama museum juga diubah menjadi Museum Pos Indonesia.

    5. Museum Mandala Wangsit Siliwangi

    Museum Mandala Wangsit Bandung.Museum Mandala Wangsit Bandung. (Elia Amaliana)

    Alamat: JalanLembong nomor 38

    Dikutip dari situs Kemdikbud, Museum Mandala Wangsit merupakan museum khusus yang diresmikan pada 23 Mei 1996 oleh Panglima Divisi Siliwangi, yakni Kolonel Ibrahim Adjie. Nama Mandala Wangsit diartikan sebagai tempat untuk menyimpan amanat dan nasihat. Adapun, Siliwangi merupakan nama Kodam TNI-AD di Jawa Barat dan Banten yang diambil dari nama Raja Kerajaan Sunda.

    Museum ini menjadi institusi sejarah yang berperan penting dalam melestarikan warisan dari divisi Siliwangi. Sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kontribusi dan pengorbanan TNI dalam mempertahankan Indonesia.

    Ruangan dalam museum dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan kejadian-kejadian yang ada di masa lampau. Seperti ruangan koleksi penumpasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Operasi Seroja Timor Timur, Pemberontakan DI/TII, Palagan Bandung, dan peristiwa lainnya yang terjadi di masa pergerakan Indonesia.

    Sejumlah koleksi senjata tajam yang pernah digunakan di masa pergerakan seperti Kujang Pajajaran, keris, golok, pedang, bambu runcing, panah juga tersusun rapih di dalam etalase. Di setiap ruangan juga memajang diorama dan lukisan realis yang menggambarkan kondisi pada saat itu.

    6. Gedung Merdeka

    Gedung MerdekaGedung Merdeka Bandung (detikcom)

    Alamat: Jalan Asia Afrika nomor 65

    Gedung Merdeka adalah gedung bersejarah yang terletak tak jauh dari Alun-alun Kota Bandung. Gedung ini pernah digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Aisa Afrika di tahun 1955, sekaligus gedung tempat kelahiran Dasasila Bandung.

    Dikutip dari bandung.go.id, bangunan itu dirancang pada 1926 oleh Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker. Mereka adalah Guru Besar pada Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng, yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung atau ITB).

    Gedung itu kental sekali dengan nuansa art deco dan gedung megah ini terlihat dari lantainya yang terbuat dari marmer buatan Italia yang mengkilap, ruangan-ruangan tempat minum-minum dan bersantai terbuat dari kayu cikenhout, sedangkan untuk penerangannya dipakai lampu-lampu bias kristal yang tergantung gemerlapan. Gedung ini menempati areal seluas 7.500 m2.11.

    7. Taman Sejarah Bandung

    Taman Sejarah BandungTaman Sejarah Bandung (Fitroh Rara Azzahro)

    Alamat: Jalan Aceh nomor 53

    Taman yang terletak di area belakang Balai Kota Bandung ini didesain untuk mengenang para pemimpin daerah sejak awal berdirinya Kota Bandung. Di area taman ini juga sempat ada wahana kolam air yang kerap digunakan warga untuk bermain air. Areanya cukup luas, cocok digunakan untuk duduk bersantai.

    8. Penjara Banceuy Soekarno

    Warga berduyun-duyun mengunjungi Situs Penjara Banceuy yang ada di Jalan ABC, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/6/2022) pagi. Kunjungan warga ini memperingati Hari Kelahiran Pancasila.Situs Penjara Banceuy yang ada di Jalan ABC, Kota Bandung, Jawa Barat (Wisma Putra)

    Alamat: Jalan Banceuy

    Penjara Banceuy menjadi salah satu saksi bisu perjalanan perjuangan Soekarno. Di penjara ini, Soekarno pernah ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1930 sebelum diadili di Gedung Indonesia Menggugat.

    Kini, bangunan bekas sel Soekarno masih dilestarikan dan bisa dikunjungi oleh masyarakat. Di dalamnya terdapat sel tahanan yang masih mempertahankan bentuk aslinya, lengkap dengan tiruan perabot yang digunakan Bung Karno selama ditahan.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • dari Bawah Laut Hingga Puncak Gunung



    Jakarta

    Hari Kemerdekaan RI ke-80 akan segera tiba. Upacara bendera untuk merayakannya tak selalu di lapangan, banyak juga tempat unik untuk melakukannya.

    Masyarakat Indonesia memiliki beberapa tradisi upacara bendera yang unik. Entah siapa dalangnya, tapi upacara kemerdekaan HUT RI pernah dilakukan di tempat-tempat yang tidak biasa, bahkan ekstrem.

    Tak hanya darat, di dalam laut pun pernah dilakukan. Berikut lima upacara bendera paling untuk di Indonesia.


    Upacara Unik HUT RI

    1. Upacara di Puncak Gunung

    Bendera Merah Putih 1.000 Meter Hiasi Puncak Gunung PenanggunganBendera Merah Putih 1.000 Meter Hiasi Puncak Gunung Penanggungan (Istimewa)

    Upacara di puncak gunung sering dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Kebanyakan gunung di Indonesia biasanya juga dipenuhi pendaki saat HUT RI. Mereka biasa naik pada 16 Agustus dan menjalankan upacara pada 17 Agustus pagi.

    Gunung-gunung yang biasanya menjadi tujuan adalah Gunung Prau, Gunung Batur, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, hingga Gunung Papandayan.

    2. Upacara di bawah laut

    Upacara di KRI Siwar dan penanaman terumbu karang (Bahtiar/detikcom) dan pengibaran bendera di bawah laut (istimewa).Upacara di KRI Siwar dan penanaman terumbu karang (Bahtiar/detikcom) dan pengibaran bendera di bawah laut (istimewa).

    Upacara di bawah laut juga sering diberitakan. Salah satunya di Pulau Sangiang, Banten yang diikuti oleh ratusan penyelam. Upacara pada HUT ke-74 Kemerdekaan RI itu dipimpin oleh Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Banten Letkol Laut (P) Golkariansyah.

    Upacara seperti ini sangat menarik dilakukan di berbagai daerah yang memiliki keindahan bawah laut, misalnya Pulau Derawan, Bunaken, Raja Ampat, dan Karimunjawa.

    3. Upacara di Sungai

    Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung gelar upacara bendera peringatan HUT RI. Upacara berlangsung di tengah sungai.Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung gelar upacara bendera peringatan HUT RI. Upacara berlangsung di tengah sungai. (Adhar Muttaqin)

    Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung menggelar upacara bendera peringatan HUT RI ke-76 pada 17 Agustus 2021. Upacara ini berlangsung di tengah sungai yang berlokasi di Kelurahan Tertek, Tulungagung ini.

    Baik petugas maupun peserta upacara menceburkan diri dan rela berbasah-basahan demi mengikuti upacara ini. Meskipun setengah bagian tubuhnya terendam air, tetapi upacara tetap berjalan lancar dan khidmat.

    4. Upacara di dalam Goa

    PurbalinggaGoa Lawa, Purbalingga (Vandi Romadhon/detikcom)

    Tak habis-habis kekayaan alam Indonesia untuk dijadikan sebagai tempat upacara. Memperingati HUT RI ke-76, objek wisata Goa Lava di Purbalingga mengadakan acara upacara bendera anti mainstream. Di dalam goa dilakukan pengibaran bendera merah putih pada tiang yang sebelumnya sudah disiapkan.

    Layaknya upacara pada umumnya, dalam kegiatan ini juga ada petugas dan peserta upacara yang terdiri dari karyawan dan pengelola Goa Lava. Sebanyak 30 orang mengikuti upacara di dalam goa ini. Penerangan berupa lampu juga ikut dipasang di dalam goa.

    5. Upacara di Sawah/Kebun

    Petani juga bisa ikut merayakan upacara di kebun atau sawah mereka. Seperti yang dilakukan anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kegiatan upacara kemerdekaan ini dilakukan rutin setiap tahun.

    Mereka mengibarkan bendera dengan memakai pakaian kerja mereka sehari-hari. Selain Tani Sumber Rejeki, ada pula Tani Lewu Taheta yang juga melakukan upacara kemerdekaan setiap tahunnya.

    (bnl/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Keajaiban Jembatan Kaca Transparan Pemisah Kebun Teh dan Langit



    Jakarta

    Jembatan kaca Kemuning Sky Hills di Karanganyar, Jawa Tengah menawarkan keajaiban arsitektur dan keindahan alam khas perkebunan teh. Jembatan sepanjang 65 meter dengan komponen utama kaca transparan ini memungkinkan pengunjung melihat langsung di ketinggian 60 meter.

    Selain menawarkan sensasi memandang hamparan perkebunan dari ketinggian, jembatan ini menawarkan keunikan view transparan antara alam dan langit. Pada pagi hari, jembatan dibasahi embun yang menempel di permukaan kaca. Embun dan jembatan kaca memantulkan cahaya matahari menghasilkan bias sinar serta kilauan memukau.

    jembatan kaca Kemuning Sky Hills.Jembatan kaca Kemuning Sky Hills (dok. Instagram @kemuningskyhills)

    Pemandangan yang menyegarkan mata dan pikiran ini berlanjut ke siang hari, ketika matahari mulai naik bersinar terik. Pemandangan sekitar terlihat makin jelas dengan detail yang memikat. Panasnya sinar matahari ternyata tidak menghalangi keinginan untuk menikmati keindahan Kemuning Sky Hills.


    Beranjak senja saat langit menjadi jingga, permukaan jembatan kaca seperti berganti warna seiring perubahan langit. Jingga dipantulkan menjadi aneka warna, misal ungu dan kuning, yang membentuk lukisan alam. Pergantian momen inilah yang bikin kunjungan ke Kemuning Sky Hills tidak terlupakan

    Mengunjungi jembatan kaca Kemuning Sky Hills, setiap orang seperti diajak berhenti sejenak dan menikmati alam. Kemuning Sky Hills telah menjadi magnet bagi fotografer, seniman, dan para petualang yang mencari inspirasi perpaduan kemegahan pemandangan alam dan kecanggihan arsitektur serta teknologinya.

    Kemuning Sky Hills sesungguhnya tidak hanya menawarkan keindahan dan layanan khas spot wisata. Destinasi ini mengajak wisatawan benar-benar menikmati alam, sambil berkreasi bikin konten yang menarik. Jika ada waktu luang, Kemuning Sky Hills sangat wajar masuk dalam wish list tempat wisata yang wajib dikunjungi.

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Rayakan Semarak Kemerdekaan 17 Agustus di Enchanting Valley Puncak Bogor



    Jakarta

    Liburan kemerdekaan menjadi momen yang ditunggu untuk melepas penat dan menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Tahun ini, Enchanting Valley, destinasi wisata penuh pesona di kawasan Puncak Bogor, menghadirkan beragam aktivitas seru dan promo spesial selama bulan Agustus.

    Mengusung tema ‘Semarak Kemerdekaan di Enchanting Valley’, taman wisata ini menyuguhkan pengalaman menyenangkan di tengah alam yang sejuk dan asri. Menyambut Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, pengunjung bernama ‘Agus’ bisa masuk gratis pada 17 – 18 Agustus 2025, khusus untuk 100 orang pertama setiap harinya. Jangan lewatkan juga beragam promo kejutan lainnya yang sayang untuk dilewatkan!

    Di Enchanting Valley, setiap sudut menghadirkan keajaiban dan petualangan. Wahana seru seperti Super Wheels dan River Zipline cocok untuk pecinta adrenalin. Sementara itu anak-anak bisa bermain bebas di Tree of Life, Petting Zoo, The Playground, dan Pelican Island. Ada pula Tree Top Trail, Nets Play, dan zona interaktif Plaza Carnival yang cocok untuk segala usia.


    Enchanting ValleyLila & The Magical Forest Show Foto: dok. Enchanting Valley

    Tak hanya itu, berbagai pertunjukan juga siap menghibur, mulai dari Animal Education Show, Angklung Show, hingga atraksi andalan Lila and The Magical Forest yang penuh warna dan edukatif.

    “Kami ingin menjadikan momen kemerdekaan ini penuh semangat dan keceriaan, sekaligus menghadirkan pengalaman liburan yang tak terlupakan,” ujar General Manager Enchanting Valley Puncak, Allison Williams dalam keterangan tertulis, Kamis (14/8/2025).

    Ia menambahkan, mulai 17 hingga 31 Agustus, akan ada beragam permainan tematik kemerdekaan di titik-titik tertentu serta pertunjukan spesial bertema Indonesia. Agar liburan ke Enchanting Valley Puncak Bogor semakin nyaman dan menyenangkan, berikut beberapa tips:

    • Siapkan payung atau jas hujan, karena cuaca di Puncak sering berubah.
    • Cek jadwal pertunjukan melalui Instagram @enchantingvalley.bogor agar tidak ketinggalan momen seru.
    • Bawa tumbler sendiri untuk tetap terhidrasi selama menjelajah area outdoor.
    • Jangan lupa mengenakan outfit instagramable karena banyak spot foto menarik di Enchanting Valley!

    Jadi tunggu apa lagi? Yuk ajak keluarga dan sahabat menjelajah keindahan Enchanting Valley di Puncak Bogor, tempat sempurna untuk merayakan kemerdekaan dengan penuh keceriaan, edukasi, dan petualangan!

    Informasi lebih lanjut, dapat mengunjungi situs resmi www.enchanting-valley.com atau media sosial Instagram/TikTok @enchantingvalley.bogor.

    (prf/ega)



    Sumber : travel.detik.com

  • 17 Destinasi Wisata dengan Nama Pahlawan Nasional, Ada yang Tersembunyi

    Destinasi wisata ini memiliki ombak tenang, angin sejuk, dan pasir halus yang bikin pengunjung betah main bersama di pesisirnya. Kita juga bisa berkunjung ke Kura-kura Ocean Park berupa akuarium besar, main Spoor Mini, atau naik perahu ke Pulau Panjang.

    Berdiri sebagai oase seni dan kebudayaan di Jakarta, TIM kini menjadi tempat hype yang dikunjungi masyarakat urban. Di sini ada perpustakaan yang Instagramabel, tenang, dan buka 24 jam. Belakangan, komplek TIM jadi spot wisata yang wajib dikunjungi para gen Z di Jakarta dan sekitarnya.

    Pulau di Banda Neira, Maluku ini adalah tempat pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Di sini, kita bisa menikmati pemandangan bawah laut yang pastinya mempesona lewat diving atau snorkeling. Tentunya, kita juga bisa sekadar jalan-jalan menikmati keindahan Pulau Hatta.

    Destinasi wisata pendidikan ini menyimpan berbagai jejak perjuangan RA Kartini dalam bidang pendidikan dan emansipasi. Kita bisa melihat langsung ruang kerjanya yang terdiri dari satu set meja dan kursi tamu, kotak surat, anyaman sulam dan mesin jahit kuno.

    Lokasi tak hanya menyimpan jejak sejarah, tapi juga keindahan dan keunikan bangunan khas Sumatra Barat. Di lantai satu ada barang pribadi Tuanku Imam Bonjol misal senjata yang digunakan dalam pertempuran, lukisan, dan silsilah keluarga. Sementara di lantai dua ada barang-barang kuno seperti peralatan dapur, uang kuno, dan keramik antik.

    Spot di Gunung Soemantri ini terletak di bagian barat Barisan Sudirman setinggi 4.870 meter. Puncak dengan salju abadi ini mungkin jadi sala satu impian para pendaki gunung. Namun hanya yang benar-benar kompeten dan punya perlengkapan memadai bisa menjajal Puncak Soemantri.

    Lokasi Puncak Soekarno atau Puncak Jaya di Gunung Carstensz bukan destinasi untuk semua orang. Terletak setinggi 4.884 meter, Puncak Soekarno adalah salah satu spot tertinggi dunia dengan salju abadi di atasnya. Pendaki yang ingin menjajal atap dunia ini harus punya kualifikasi khusus dan dibekali perlengkapan memadai serta rencana perjalanan yang matang.

    Wilayah yang tergabung dengan Kabupaten Merauke ini punya beberapa nama lain yaitu Pulau Kolepom, Pulau Dolok, atau Pulau Kimaam sesuai dengan nama suku yang menghuni. Warga di sini punya tradisi Ndambu atau bersaing sehat saat masa panen tiba. Penduduk memperlihatkan hasil panen yang paling banyak atau besar untuk ditentukan sebagai pemenang.

    Patung salah satu pahlawan nasional ini terletak di bagian barat kawasan Monumen Nasional (Monas). Sosok MH Thamrin semasa hidup dikenal sebagai orang Betawi yang aktif dalam pergerakan nasional bidang politik dan sosial. Dia adalah anggota volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), pendiri Perkoempoelan Kaoem Betawi, dan Partai Indonesia Raya (Panindra).

    Destinasi wisata sejarah dengan nama lain Museum Dewantara Kirti Griyaini menyimpan koleksi yang berkaitan dengan hidup Ki Hajar Dewantara. Di sini ada perabot rumah tangga, naskah, foto, koran, buku, majalah, surat-surat, dan benda-benda lainnya. Museum juga menjadi saksi bisu lahirnya Sumpah Pemuda.

    Kawasan ruang terbuka hijau ini dulunya adalah Monumen Van Heutsz yang didedikasikan untuk Letnan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz dari Belanda. Dia adalah tokoh militer yang berperan penting dalam penaklukan Aceh. Monumen ini dihancurkan tahun 1953 dan menjadi salah satu taman dan ruang terbuka hijau populer di Jakarta.

    Spot wisata ini dibuat untuk menghormati Si Jalak Harupat yang diculik dan dibunuh pada 1945. Warga Bandung dan sekitar bisa olahraga bersama, jalan-jalan, atau sekadar duduk santai. Di sekitar taman ini ada sejarah dan informasi terkait kehidupan pahlawan yang kerap disapa Otista ini.

    Monumen ini berada di dalam Taman Dewi Sartika yang merupakan bagian dari Balai Kota Bandung. Dewi Sartika adalah sosok pahlawan yang aktif dalam bidang pendidikan khususnya untuk perempuan. Patung Dewi Sartika mengingatkan pentingnya nilai perjuangan dan pendidikan untuk masyarakat Indonesia.

    Wisata sejarah ini adalah penghormatan atas jasa dan perjuangan Pahlawan Nasional Panglima Besar Jenderal Sudirman. Museum terdiri dari dua lantai dengan bagian bawah berisi diorama, foto-foto perjuangan, dan duplikat peninggalan Jenderal Soedirman. Sedangkan bagian atas menampilkan relief sejarah perang kemerdekaan 1945, perjuangan Jenderal Soedirman dalam merebut Yogyakarta, dan patung Jenderal Soedirman di atas kuda.

    Di dalam ruangan museum ini ada barang-barang yang dulunya dipakai Pangeran Diponegoro. Barang tersebut antara lain satu meja, empat kursi, meja lainnya untuk perundingan, serta tempat salat. Koleksi lainnya adalah Al-Quran, Kitab Taqrib yang berisi siasat perang, serta lukisan dari Daud Yusuf dan Raden Saleh tentang Pangeran Diponegoro.

    Destinasi ini sebetulnya adalah Grha Bung Karno yang dibangun Pemerintah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Gedung ini dibuka untuk publik dengan fasilitas lengkap berupa area VVIP, ruang rapat, family room, ruang rias di belakang, katering, dan fasilitas pendukung lainnya.

    Museum ini adalah cagar budaya milik Roekiyem Soepratijah, kakak WR Supratman, sekaligus tempat pencipta Indonesia Raya ini menghembuskan napas. Dalam rumah ini hanya terdapat dua kamar tidur di sisi kanan dan ruang tamu di sisi kiri. Di ruang tamu terpampang foto-foto WR Soepratman bersama keluarga dan teman dekat.

    Simak Video “Video Purwacaraka Soroti Biaya Sewa TIM: Sejak Kapan BUMD Ambil Profit?
    [Gambas:Video 20detik]



    Sumber : travel.detik.com

  • Wisata di Kota Pahlawan, 10 Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia di Surabaya

    Lokasi: Jl. Pemuda Nomor 39, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

    Mulai dibuka untuk umum pada 1998, Monkasel adalah bukti sejarah dahsyatnya perang laut yang dihadapi Indonesia untuk mempertahakankan kedaulatan. Monumen ini sebelumnya adalah kapal selam KRI Pasopati yang mulai diistirahatkan pada 26 Januari 1990.

    Sebelumnya, KRI Pasopati 410 berpartisipasi dalam Operasi Trikora untuk mengembalikan Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tugas utamanya adalah mengangkut senjata dan personel militer ke garis tempur tanpa diketahui musuh. KRI juga bertugas memberikan serangan balik, melindungi konvoi kapal, dan menjalankan misi rahasia. Setelah 28 tahun bertugas sejak 1962 dan mengalami kerusakan parah, KRI Pasopati 410 dipensiunkan.

    Lokasi: Jl. Pahlawan, Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur

    Monumen setinggi 41,15 meter ini adalah bentuk penghargaan dan menghormati jasa Arek-arek Surabaya saat perang 10 November 1945. Perang usai proklamasi kemerdekaan tersebut melawan sekutu dan Belanda yang ingin menaklukkan Indonesia.

    Perang ini menewaskan 20 ribu pejuang Indonesia, serta korban luka dan hilang yang tidak terdata. Selama dua minggu berperang, rakyat Surabaya menunjukkan keberanian dan semangat meski dengan perlengkapan minim. Dipimpin Bung Tomo, Komandan BKR Mayjen Sungkono, dan KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan resolusi jihad, para pejuang mengangkat senjata serta melakukan taktik gerilya hingga sekutu menyerah.

    Lokasi: Jl. Jembatan Merah, Krembangan Selatan, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, Jawa Timur

    Jembatan Merah adalah spot penting dalam Pertempuran Surabaya 10 November. Komandan tentara sekutu Jenderal AWS Mallaby tewas dekat Jembatan Merah yang kemudian memicu perang. Jembatan Merah juga menjadi titik pertempuran pejuang Surabaya melawan sekutu dan Belanda.

    Fisik jembatan yang memang berwarna merah ini dibangun VOC sekitar tahun 1809 untuk mempermudah jalur perdagangan di Sungai Kalimas. Jembatan awalnya berbahan kayu yang terus diperbaiki hingga menggunakan besi, sesuai kebutuhan sekarang. Hingga saat ini, Jembatan Merah di Kota Lama Surabaya masih digunakan masyarakat.

    Lokasi: Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Jawa Timur

    Bangunan ini adalah saksi bisu kejamnya era kolonialisme terhadap kehidupan rakyat Indonesia. Sejumlah Pahlawan Nasional pernah merasakan dindingnya yang dingin dan kejamnya neraka di atas bumi tersebut. Mereka adalah WR Soepratman, HOS Tjokroaminoto, dan dr Mustopo dari BKR.

    Para napi Penjara Kalisosok dirantai dengan bandul bola besi di pergelangan kaki dan memperoleh stempel G (Gevangene=napi) pada tangan. Tekanan fisik, mental, dan penyebaran penyakit kolera serta pes mengakibatkan para tahanan mati lalu dikubur di Makam Peresan.

    Lokasi: Jl. Pahlawan 120, Krembangan Selatan, Krembangan

    Bangunan cagar budaya ini dulunya adalah perusahaan NV Lindetes Stokvis yang menguasai bisnis, jasa, industri, dan perdagangan. Gedung yang dibangun pada 1913 ini sempat digunakan sebagai bengkel kendaraan perang dan gudang senjata semasa pendudukan Jepang. Gedung ini menjadi Kitahama Butai karena luas dan pernah jadi pabrik konstruksi baja.

    Selanjutnya, bangunan beberapa kali beralih fungsi di era usai kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1993, gedung pernah digunakan untuk operasional Bank Niaga dan Bank Dagang Negara (BDN). Sejak tahun 2001, gedung digunakan Bank Mandiri Cabang Surabaya Pahlawan hingga kini. Bangunan ini menjadi landmark Surabaya karena unik dan terletak di posisi strategis.

    Lokasi: Jl. Tunjungan Nomor 1, Genteng, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

    Dulu, Gedung Siola adalah adalah bangunan toserba asal Inggris bernama Whiteaway Laidlaw di bawah perusahaan Whiteaway Laidlaw & Co. Di tahun 1900an, Whiteaway menjadi pusat pertokoan terbesar di Hindia Belanda dan bikin pengunjung yang sempat datang sangat terkesan.

    Selepas proklamasi, gedung ini sempat jadi area bertahan Arek-arek Surabaya saat perang 10 November 1945. Seiring waktu, gedung berubah fungsi hingga mendapatkan namanya sebagai Siola. Nama tersebut adalah kependekan dari tiga nama Soemitro, Ing Wibisono, Ong Liem Ang yang membuat gedung ini sebagai landmark Jalan Tunjungan. Gedung Siola sempat jadi mall pelayanan publik sebelum jadi Museum Surabaya yang berisi koleksi terkait sosial budaya Kota Surabaya.

    Lokasi: Jl. Jayengrono, dekat Jembatan Merah Plaza, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur

    Gedung dengan nama lengkap Internationale Crediten Handelvereeninging dulunya adalah perusahaan investasi dan pengelolaan perdagangan untuk menarik pebisnis Hindia Belanda. Bangunan yang mulai berdiri tahun 1927 dan selesai pada 1931 ini menjadi saksi awal meletusnya Pertempuran 10 November.

    Ketika sekutu datang pada 25 Oktober 1945, Gedung Internatio menjadi markas pasukan sekutu yang dipimpin Mayor V Gopal. Bangunan ini menjadi saksi tewasnya Mallaby dalam keadaan chaos di halaman Gedung Internatio. Ketika itu, warga Surabaya tidak yakin dengan komitmen sekutu yang mengklaim datang tidak untuk perang. Apalagi, tiba-tiba meletus tembakan yang mengarah pada kerumunan warga Surabaya yang dilanjutkan dengan lemparan granat pada mobil Mallaby.

    Lokasi: Jl. Tunjungan Nomor 65, Genteng, Kecamaatn Genteng, Surabaya, Jawa Timur

    Hotel bintang lima yang berdiri sejak tahun 1942 ini masih aktif hingga sekarang. Berdiri sejak 1942, hotel ini menyaksikan sendiri era pendudukan Belanda, Jepang, hingga berhasil merdeka. Di tahun-tahun pertama berdiri, hotel ini bernama Oranje yang dikelola Sarkies Family.

    Selanjutnya, hotel ini berganti nama menjadi Yamato yang menjadi hotel sekaligus headporter atau base camp saat pertempuran. Hotel ganti nama menjadi Merdeka selepas proklamasi, lalu Majapahit sekitar tahun 1969 hingga kini. Kendati melewati berbagai era, pengelola mempertahankan tampilan fisik dan keramik yang menjadi ciri khasnya sebagai bangunan Belanda.

    Lokasi: Jl. Rajawali Nomor 7, Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur

    Seperti namanya, gedung ini punya menara yang mirip cerutu saat dibakar. Awalnya, gedung ini adalah kantor perusahaan gula NV Maatschappij Tot Exploitatie van Het Bureau Gebroeders Knaud. Selanjutnya, bangunan yang berlokasi depan Gedung Internatio ini sempat jadi kantor Said bin Oemar Bagil dan Bank Bumi Daya. Sejak tahun 2009, gedung menjadi cagar budaya hingga kini.

    Lokasi: Jl. Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

    Tempat bersejarah di Surabaya ini menyimpan cerita perundingan antara Ir Soekarno dengan Jenderal DC Hawthorn dari sekutu. Presiden pertama RI ini berusaha mendorong sekutu berdamai dan menghentikan gencatan senjata. Gedung ini berdiri sejak 1975 dengan gaya Romawi.

    Simak Video “Video: Melihat Teatrikal Parade Surabaya Juang Peringati Hari Pahlawan
    [Gambas:Video 20detik]



    Sumber : travel.detik.com

  • Ulasan Destinasi Bersejarah di Jogja, dari Benteng Vredeburg-Monjali



    Yogyakarta

    Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seperti namanya kota ini begitu istimewa dan selalu punya cerita. Yogyakarta juga punya andil besar dalam kemerdekaan RI dengan bukti tinggalan sejarahnya.

    Berbagai situs bersejarah terkait perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah masih terawat. Bahkan, kini ada museum untuk mengenang perjuangan itu.

    Bangunan atau tempat bersejarah bahkan dibuka sebagai tempat wisata. Mulai dari peninggalan keraton sampai penjajahan Belanda, wisata sejarah Jogja punya banyak pilihan.


    5 Wisata Sejarah Jogja

    1. Museum Benteng Vredeburg

    Museum Benteng Vredeburg, Jogja. Foto diunggah pada Selasa (10/10/2023).Museum Benteng Vredeburg, Jogja. (Anandio Januar-Novi Vianita/detikJogja)

    Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta

    Buka: Setiap hari Selasa – Minggu (08.00 WIB – 15.00 WIB)

    Harga tiket masuk: Rp 2.000 (anak), Rp 3.000 (dewasa), dan Rp 10.000 (turis asing)

    Museum Benteng Vredeburg dibangun pada 1765 oleh pemerintah Belanda. Museum ini awalnya adalah benteng pertahanan dari serangan Kraton Yogyakarta.

    Di dalam museum ini, kamu akan menemukan sejumlah koleksi, seperti diorama yang menceritakan perjuangan rakyat pra-proklamasi, bangunan-bangunan peninggalan Belanda, serta benda-benda bersejarah lainnya yang sangat khas dengan budaya masa lalu.

    2. Situs Warungboto

    Situs Warungboto Jogja. Foto diambil Senin (3/9/2023).Situs Warungboto Jogja. (Anandio Januar/detikJogja)

    Lokasi: Jalan Veteran No. 77, Kalurahan Warungboto, Kêmantrèn Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

    Buka: Setiap hari (08.00 WIB – 17.00 WIB)

    Harga tiket masuk: Gratis

    Situs Warungboto merupakan wisata sejarah yang memiliki banyak nama lain, yakni Umbul Warungboto, Pesanggrahan Warungboto, dan Pesanggrahan Rejowinangun. Banyaknya nama ini bisa jadi karena situs ini berada di dua kalurahan yang berbeda.

    Dikutip dari website resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, situs bersejarah ini dulunya dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono II ketika beliau sedang menjadi putra mahkota pada periode 1765-1792. Selain menjadi tempat beristirahat, Pesanggrahan Rejowinangun juga merupakan sebuah benteng pertahanan dari sisi timur Keraton Ngayogyakarta.

    Pesanggrahan ini juga dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, dan kebun di sisi timur. Sementara, di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dan dua kolam pemandian.

    3. Keraton Yogyakarta

    Keraton YogyakartaKeraton Yogyakarta (Pradita Utama/detikTravel)

    Lokasi: Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

    Buka: Setiap hari (08.30 WIB – 14.00 WIB)

    Harga tiket masuk: mulai dari Rp 5.000 – Rp 15.000 per orang.

    Salah satu wisata sejarah di Jogja yang wajib kamu kunjungi tentu saja Keraton Yogyakarta. Tempat wisata sekaligus salah satu ikon kota ini memiliki nama asli Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hingga kini, istana ini masih dihuni oleh para keturunan raja-raja Yogyakarta.

    Tidak hanya melihat bangunan bersejarah saja, kamu juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan atau upacara adat yang masih sering dilakukan oleh pihak keraton. Jika masuk ke dalam, kamu juga akan menemukan barang-barang pusaka peninggalan zaman dulu.

    Barang-barang pusaka tersebut misalnya seperti kereta kencana, keris, tombak, ampilan, panji-panji, pelana kuda, dan regalia. Tak heran, lokasi ini juga sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia.

    4. Taman Sari Keraton Yogyakarta

    Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X menutup sementara wisata milik Keraton Yogyakarta antara lain Museum Kereta Keraton, Kompleks Pagelaran, Keben/Kompleks Kedhaton (Museum Keraton), Tamansari, serta Puralaya Imogiri dan Kotagede selama satu pekan mulai Sabtu (26/6) hingga Jumat (2/7) untuk menekan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/rwa.Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

    Lokasi: Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

    Buka: Setiap hari (09.00 WIB – 15.00 WIB)

    Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.

    Wisata sejarah di Jogja lainnya yang wajib kamu kunjungi adalah Kampung Wisata Taman Sari. Bangunan yang sudah ada sejak abad ke-17 ini dibangun pada masa kesultanan Hamengkubuwono I dengan lama waktu pengerjaan sekitar 9 tahun (1758 hingga 1765).

    Dulunya, bangunan ini memiliki luas awal 10 hektar dengan 57 bangunan, yang terdiri dari kompleks kolam pemandian, pulau buatan, danau buatan, jembatan gantung, taman, lorong bawah tanah, kanal air, serta beberapa gedung dengan beragam arsitektur.

    Kini, salah satu bangunan yang masih tersisa dan bisa kamu nikmati adalah masjid bawah tanah. Masjid yang sangat populer di kalangan wisatawan ini sukses menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen liburan yang menyenangkan.

    5. Monumen Yogya Kembali

    Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016 (Sukma Indah P/detikcom)

    Lokasi: Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman

    Buka: Setiap hari Selasa – Minggu pukul 08.00 – 16.00 WIB.

    Harga tiket masuk: mulai dari Rp 10.000 – Rp 15.000 per orang.

    Museum ini mulai dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto.

    Museum ini didirikan dengan tujuan untuk memperingati peristiwa sejarah ditariknya tentara kolonial Belanda dari Ibu Kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949, yang sekaligus juga menjadi penanda berfungsinya kembali Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia yang direbut dari penjajah Belanda.

    Gagasan awal pendirian Museum Monjali disampaikan oleh Kolonel Sugiarto dalam peringatan Yogya Kembali yang diselenggarakan pada 29 Juni 1983.

    Keunikan Museum Monjali terletak pada struktur bangunannya. Bangunan Monjali berbentuk kerucut yang terdiri dari 3 lantai. Bentuk bangunan yang unik ini sangat ikonik dan telah menjadi ciri khas dari Museum Monjali.

    Selain itu, keunikan lain dari Museum Monjali adalah bangunan induk museum yang dikelilingi oleh kolam ikan.

    (bnl/fem)



    Sumber : travel.detik.com