Category: Domestik

  • Ambisi Pulau Payung di Kepulauan Seribu Jadi Surga Glamping



    Jakarta

    Pulau Payung di Kepulauan Seribu berbenah untuk menjadi destinasi wisata yang siap bersaing secara global. Sebuah wisata glamping ditawarkan.

    Pulau Payung bukan pulau kosong. Pulau itu adalah pulau berpenduduk dan ada akomodasi komersial, Asha Resort.

    Dengan luas sekitar 40 hektare dan populasi mencapai 40 ribu jiwa, Pulau Payung bertekad untuk bertransformasi menjadi kawasan wisata berkelanjutan.


    Pada sektor pariwisata, Pulau Payung dikunjungi oleh 1.500-2.000 jiwa per bulan.

    Pulau Payung tidak mengunggulkan hutan mangrove sebagai daya pikat pariwisata, sebab pulau itu tidak memiliki hutan mangrove. Kendati tidak memiliki hutan mangrove, masyarakat setempat memanfaatkan batu karang alami sebagai penahan abrasi, langkah sederhana namun efektif menjaga garis pantai dari pengikisan laut.

    Akses Mudah Menuju Pulau Payung

    Wisatawan dapat menempuh perjalanan menuju Pulau Payung melalui empat jalur berbeda. Dua di antaranya menggunakan kapal cepat dari Marina Ancol dan Pelabuhan Baywalk Pluit, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Alternatif lainnya, kapal kayu dari Muara Angke dan Muara Kamal (Jakarta Barat) membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan.

    “Ada empat cara menuju Pulau Payung atau Asha, masing-masing menempuh waktu 1-3 jam perjalanan, yakni dari Marina Ancol, Pelabuhan Baywalk di PIK 2 Jakarta, serta dari Muara Angke dan Muara Kamal. Muara Kamal berbatasan dengan PIK 2, Jakarta, dan Banten, dengan pilihan kapal cepat maupun kapal kayu,” ujar Yulia, pemandu wisata dari Asosiasi Himpunan Pramuwisata Indonesia (AHPI) yang bekerja sama dengan Suku Dinas Ekonomi Kreatif dan Pariwisata yang mendampingi detikTravel dalam Agenda Walking Tour Disparekraf DKI Jakarta pada 22-23 Oktober 2025.

    Asha Resort beroperasi pada 2023. Meski banyak yang mengenalnya sebagai Pulau Asha, sebenarnya lokasi resort ini berada di wilayah Pulau Payung Besar.

    “Sebenarnya di sini (Asha Resort) letaknya di Pulau Payung Besar, tapi masyarakat lebih mengenalnya dengan Pulau Asha,” kata Yulia.

    Asha Resort: Glamping Mewah Bernuansa Alam

    Asha Resort dibangun di Pulau Payung dengan mengusung konsep glamping (glamorous camping), Resor itu menawarkan 16 unit penginapan eksklusif di tepi pantai. Proyek kedua berlanjut dengan jenama Cora.

    Untuk menginap di sini, pengunjung tidak perlu lagi repot mendirikan tenda, karena setiap glamping dilengkapi fasilitas modern layaknya hotel.

    Selain menginap, wisatawan juga bisa menikmati berbagai aktivitas seperti ATV menyusuri hutan konservasi dan bersantai di kafe tepi laut yang menjual paket makanan dan minuman tanpa tiket masuk tambahan. Harga paket Asha Resort dibanderol sekitar Rp 400 ribu pada weekday dan Rp 500 ribu saat weekend yang sudah termasuk transportasi kapal pulang pergi.

    Menariknya, baik pengunjung yang memilih paket one day trip maupun menginap akan menikmati fasilitas transportasi laut yang sama. Terdapat dua dermaga utama, yaitu Dermaga Payung dan Dermaga Asha, tergantung paket perjalanan yang dipilih.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kutablang, Stasiun Paling Barat Indonesia, dan Relasi Erat dengan KA Cut Meutia



    Jakarta

    Stasiun Kutablang hidup lagi. Stasiun kereta api yang berada di ujung barat Indonesia itu, berdenyut setelah layanan Kereta Api (KA) Perintis Cut Meutia beroperasi kembali.

    KA Cut Meutia melayani lintas Krueng Geukueh – Kutablang di Provinsi Aceh. Jalur itu menjadi simbol keterhubungan masyarakat sekaligus bagian penting dari sistem pertahanan nasional berbasis rel.

    Sepanjang Januari-September 2025, KA Cut Meutia melayani 31.412 pelanggan. Angka ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik yang aman, efisien, dan berkelanjutan.


    “KA Cut Meutia menjadi alat transportasi dan lambang semangat Aceh untuk kembali bangkit melalui infrastruktur yang memperkuat konektivitas dan pertahanan wilayah barat Indonesia,” ujar Vice President Public Relations KAI Anne Purba dalam rilis kepada detikTravel, Jumat (24/10/2025).

    Stasiun KA Kutablang AcehStasiun KA Kutablang Aceh (dok. PT KAI)

    Terletak di Gle Putoh, Kabupaten Bireuen, Stasiun Kutablang kini menjadi stasiun aktif paling barat di Indonesia. Dari sinilah perjalanan KA Cut Meutia berakhir setelah melintasi jalur sepanjang 21,45 kilometer dari Stasiun Krueng Geukueh. Kutablang menjadi penanda batas geografis perkeretaapian nasional dan simbol kedaulatan transportasi di wilayah Aceh.

    “Kutabalang mewakili semangat menjaga wilayah terluar bangsa. Saat ini, selain untuk pertahanan juga menjadi fasilitas yang menghubungkan masyarakat, pendidikan, serta wisata,” kata Anne.

    Dari Rel Perang ke Jalur Pertahanan dan Harapan

    Sejarah perkeretaapian Aceh dimulai tahun 1876, ketika jalur pertama dari Ulee Lheue ke Kutaraja (Banda Aceh) sepanjang 5 kilometer dibangun untuk kepentingan militer. Rel ini digunakan sebagai jalur logistik dan mobilisasi pasukan dalam Perang Aceh. Dalam dua dekade berikutnya, jalur terus diperluas hingga mencapai 502 kilometer, menghubungkan Banda Aceh – Sigli – Lhokseumawe – Langsa – Pangkalan Susu (Sumatera Utara).

    Sejak awal, rel di Aceh berperan strategis bagi keamanan dan pertahanan. Jalur ini memungkinkan pasokan logistik dan pergerakan personel secara cepat di kawasan perbatasan barat. Setelah Indonesia merdeka, peran itu berlanjut sebagai infrastruktur dasar untuk membangun konektivitas nasional.

    Stasiun KA Kutablang AcehKA Cut Meutia hidupkan Stasiun KA Kutablang Aceh (dok. PT KAI)

    Meski operasional kereta api di Aceh sempat berhenti pada 1982 akibat kerusakan jembatan dan penurunan aktivitas ekonomi, semangat untuk menghidupkannya tidak pernah padam. Kini, melalui jalur Krueng Geukueh – Kutablang, rel yang dahulu dibangun untuk kepentingan militer kembali berfungsi sebagai jalur penguatan konektivitas dan pertahanan bangsa.

    Selain sebagai infrastruktur pertahanan dan transportasi publik, lintas KA Cut Meutia juga berkembang menjadi jalur wisata edukatif. Penumpang dapat menikmati panorama sawah, perdesaan, dan pantai yang membentang di sepanjang jalur.

    Beberapa sekolah dan komunitas di Aceh menjadikan perjalanan ini sebagai sarana belajar sejarah, mengenalkan generasi muda pada kisah perjuangan dan teknologi rel bangsa.

    Perintis untuk Pemerataan dan Ketahanan Wilayah

    KA Cut Meutia merupakan satu dari sembilan kereta api perintis di Indonesia. Bersama KA Datuk Belambangan di Sumatera Utara, KA Lembah Anai di Sumatera Barat, dan KA Makassar-Parepare di Sulawesi Selatan, layanan ini memperluas pemerataan transportasi sekaligus memperkuat fondasi pertahanan wilayah dari barat hingga timur Nusantara.

    “Kereta api adalah infrastruktur strategis. Di Aceh, KA Cut Meutia menjadi penghubung masyarakat sekaligus bagian dari kesiapan bangsa menjaga dan membangun wilayah Indonesia,” kata Anne.

    (fem/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ngopi di Toko Merah, Ngopi di Kafe dengan Nuansa Batavia



    Jakarta

    Toko Merah nan bersejarah di Kota Tua itu kini disulap menjadi kafe Rode Winkel Coffee & Savoury. Sebuah tempat ngopi bernuansa Batavia tempo dulu.

    Bangunan ikonik Toko Merah itu berada di kawasan Kota Tua, tepatnya di Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Toko Merah itu mencolok dengan dinding betul-betul berwarna merah, bukan sekadar namanya.

    Toko Merah yang sudah ada sejak 1730 itu hidup kembali melalui kafe Rode Winkel. detikTravel singgah di kafe itu akhir pekan lalu, Sabtu (25/10/2025).


    Saat melangkah masuk, suasana klasik langsung terasa. Alunan lagu keroncong menyambut pengunjung yang datang, menciptakan nuansa nostalgia di tengah bangunan kolonial. Namun, kesan orisinal bangunan tetap dipertahankan, tangga berkarpet yang tampak kotor dengan debu, dinding putih yang catnya mulai mengelupas, serta ornamen tua yang dibiarkan apa adanya untuk menjaga nilai historis.

    Bagian dalam Toko Merah tidak merah. Bagian dalam Toko Merah berwarna putih yang mulai pudar dimakan waktu. Kontras warna merah di bagian luar dan putih di bagian dalam itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Kedua warna itu seolah memperlihatkan lapisan sejarah yang masih hidup di setiap sudutnya.

    Hampir seluruh interiornya unik, mulai dari lantai kayu tua, tangga melingkar, meja, hingga jendela besar bergaya Belanda. Setiap sudut membawa pengunjung kembali ke masa Batavia lama, saat kawasan Kali Besar menjadi pusat perdagangan penting di Asia.

    Toko Merah dibangun oleh Meneer Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, di atas lahan seluas 2.471 meter persegi. Sejak berdiri, Toko Merah telah melalui berbagai perubahan fungsi, mulai dari rumah pejabat kolonial, asrama maritim, toko milik warga Tionghoa, hingga kantor bank dan gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang.

    Toko Merah di Kota Tua, Jakarta BaratToko Merah di Kota Tua, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    Kini, bangunan cagar budaya golongan A yang dimiliki PT Dharma Niaga ini dikelola oleh pemerintah dan disewa sebagian oleh Rode Winkel Café. Area yang difungsikan sebagai kafe berada di lantai 1 bawah dan sebagian lantai 2 bagian depan, sementara area lainnya masih dikosongkan dan belum difungsikan.

    Rode Winkel juga membagi dua jenis ruangan yang berbeda di kafenya, ada ruangan yang non AC dan ber-AC untuk para pengunjung.

    “Awalnya ke sini buat foto-foto, ternyata nggak semua ruangan dibuka, hanya lantai 1 bagian depan dan lantai 2 depan sebagai kafe,” kata Dila, pengunjung asal Bekasi saat ditemui detikTravel.

    Salah satu staf kafe bernama Resti ramah menyambut detikTravel. “Memang gedung ini disewakan untuk kafe kami (Rode Winkel). Kita yang nyewa ke pemerintah, nyewa satu gedung tapi nggak semua ruang dibuka,” ujar Resti.

    Saat itu juga Resti menyodorkan lembaran menu. Di sana terpampang menu minuman dan makanan. Di bagian minuman di antaranya Espresso Based, Baby Sugar, Tea (Blended, manual Brew), Signature (Coffee & Non-Coffee), Juice, smoothies, Lite bites & Main Course. Adapun di bagian makanan ada nasi goreng, sop buntut, sop iga dll.

    Makanan dan minuman itu memiliki kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu.

    Merujuk sejumlah sumber, Toko Merah mengalami revitalisasi adaptif agar tetap hidup tanpa kehilangan nilai sejarahnya. Nah, Rode Winkel menjadi bagian kecil dari upaya menghidupkan kembali Toko Merah sebagai ikon heritage di jantung Kota Tua Jakarta.

    Meski beberapa bagian bangunan masih menunjukkan usia dan belum dipugar sempurna, justru di situlah daya tariknya. Setiap detail di dalam kafe ini seolah mengisahkan perjalanan panjang Toko Merah yang dulu menjadi saksi kejayaan Batavia sebagai kota perdagangan Asia.

    Kini, sambil menyeruput kopi dan mendengarkan alunan keroncong, detikers bisa menikmati nostalgia sejarah di antara dinding-dinding tua yang penuh cerita.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Koleksi Brankas di Museum Mandiri, Ada yang Beratnya Setara Gajah!



    Jakarta

    Museum Mandiri menyimpan koleksi brankas lawas di ruang bawah tanahnya. Di sana tersimpan brankas seberat 5 ton hingga sistem keamanan ganda peninggalan era kolonial.

    Bagi traveler pencinta wisata sejarah, berkunjung ke Museum Mandiri di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat bisa menjadi pilihan. Salah satu spot yang paling unik di museum ini terletak di lantai bawah (souterrain). Di sini pengunjung disambut brankas-brankas lawas dengan beragam bentuk dan ukuran.

    Traveler pasti sudah familiar dengan istilah ‘Brandkast’ atau lemari besi. Dilansir dari akun resmi Instagram Museum Mandiri (@museum_mandiri), kata ‘Brandkast’ berasal dari bahasa Belanda ‘Branden’ berarti membakar, dan ‘Kast’ berarti lemari, yang jika digabung bermakna lemari tahan api. Dalam bahasa Indonesia, dikenal dengan sebutan lemari besi.


    Koleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta BaratKoleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    Saat menuruni tangga menuju basement, traveler akan melihat deretan benda antik yang tertata rapi. Di antara koleksi tersebut, yang paling mencuri perhatian adalah berbagai model brankas lengkap dengan kuncinya. Ukurannya bervariasi, mulai dari yang kecil hingga sebesar lemari.

    Koleksi brankas di museum ini merupakan peninggalan bank-bank pendahulu Bank Mandiri, seperti NHM (Nederlandsche Handel-Maatschappij) dan beberapa bank lain yang berdiri setelah masa kemerdekaan. Brankas-brankas itu berfungsi sebagai pelindung aset penting seperti uang dan dokumen berharga.

    Terbuat dari baja tebal, brankas didesain tahan terhadap berbagai ancaman. Bahkan, jika terjadi kebakaran atau banjir, isi di dalamnya tetap aman dan utuh.

    Koleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta BaratKoleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    Salah satu koleksi paling mencolok adalah pintu brankas raksasa seberat sekitar 5 ton, setara dengan berat seekor gajah asia. Pintu nitu dulu digunakan sebagai pengaman ruang deposit ketika gedung Museum Mandiri masih difungsikan sebagai kantor NHM, dengan dinding setebal 100 cm.

    Terletak di lantai bawah Museum Mandiri, ruang koleksi ini bisa diakses melalui pintu samping gedung atau menuruni tangga dari lantai dasar. Di sisi timur ruangan, pengunjung bisa menemukan berbagai merk brankas lawas seperti Fichet, De Haas, Lips Belanda, Hobs, Hart & Co, Milners, hingga Waltz Safe & Lock Co asal Prancis.

    Brankas terbesar memiliki ukuran panjang 170 cm, lebar 75 cm, dan tinggi 200 cm. Semua koleksi ini diperoleh dari berbagai cabang Bank Mandiri di Indonesia, seperti dari Bandung, Cirebon, Surabaya, dan Medan.

    Ruang Kluis

    Lantai bawah gedung De Factorij NHM atau Museum Mandiri ini memiliki Ruang Kluis dengan luas 924 meter persegi. Setiap pintu baja di ruangan ini dilengkapi dua sistem keamanan ganda. Pertama, pemutar dial system dengan kombinasi nomor rahasia. Kedua, sistem waktu berbasis tiga jam mekanik yang terhubung langsung ke pengunci pintu.

    Menariknya, konsep keamanan seperti ini juga diterapkan di kantor pusat NHM di Amsterdam. Berdasarkan kontrak tertanggal 24 Februari 1925, perusahaan tersebut memasok 13 pintu lemari besi dengan konstruksi baja berat dan lapisan tahan api ganda, sebuah teknologi keamanan canggih di zamannya.

    Suasana sejarah itulah yang menjadi magnet masyarakat untuk berkunjung ke Museum Mandiri.

    Koleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta BaratKoleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    “Alasan datang ke sini (Museum Mandiri) pengen nyari spot liburan yang murah dan antik sama teman-teman, karena kalau liburan di Depok paling ke Margonda sudah biasa, jadi lagi pengen nyari suasana yang berbeda aja,” kata Karina, pengunjung asal Depok, kepada detikTravel, Sabtu (25/10/2025).

    Ruangan yang wajib dikunjungi di museum ini tentu saja adalah ruang bawah tanah, tempat brankas-brankas antik itu disimpan. Beberapa di antaranya berasal dari Inggris, seperti Retner Safe London dan Milner’s Patent London buatan awal 1900-an.

    Uniknya, brankas-brankas ini tersimpan di dalam brankas besar berbentuk ruangan dengan pintu baja berlapis jeruji besi, brankas di dalam brankas. Di dalamnya, terdapat 12 ruang kecil yang dahulu digunakan sebagai ruang privat nasabah prioritas.

    Koleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta BaratKoleksi brankas di Museum Mandiri, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    “Di sini (ruang brankas) ada 12 ruangan kecil atau privat room yang zaman dulu digunakan untuk nasabah prioritas untuk menyimpan uang biar lebih privasi,” kata Icha, petugas Museum Mandiri.

    “Museum Mandiri lebih bagus dari museum lain di Kota Tua, dari interior dan infografik yang disajikan mudah dipahami pengunjung.” kata Silvi, pengunjung ruang brankas Museum Mandiri.

    Dengan melihat koleksi brankas itu, traveler bisa mendapatkan gambaran betapa ketatnya sistem keamanan perbankan zaman kolonial. Jadi, kalau detikers ingin menyelami sejarah dan melihat teknologi pengamanan uang di masa lampau, ruang bawah tanah Museum Mandiri wajib masuk daftar kunjungan berikutnya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Taman Menteng Bintaro, Tempat Ngadem Cantik dan Gratis Dekat Jakarta


    Jakarta

    Traveler mungkin sempat terkecoh dengan namanya. Meski bernama Taman Menteng, taman yang satu ini bukan berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, melainkan di Bintaro, Tangerang Selatan. Berada di Kecamatan Pondok Aren, taman ini jadi ruang terbuka hijau (RTH) yang berfungsi sebagai tempat rekreasi sekaligus ruang publik bagi warga sekitar.

    Taman Menteng Bintaro memiliki luas sekitar 1,3 hektare, dengan lanskap cantik yang mampu membantu pengunjung melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan. Taman ini dialiri kanal kecil yang menambah kesejukan suasana, lengkap dengan jalur jogging, area pedestrian, playground anak, serta jembatan oranye yang menghubungkan taman dengan restoran di sekitarnya.

    Menteng Park di BintaroMenteng Park di Bintaro (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

    Gratis dan Strategis

    Untuk masuk ke taman ini, detikers nggak perlu bayar alias gratis. Lokasinya pun sangat strategis, tepat di Jalan Cut Mutia 1, Sektor 7 Bintaro Jaya, dekat pusat perbelanjaan. Pengunjung bisa datang menggunakan KRL Commuter Line dan turun di Stasiun Jurangmangu, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek online atau berjalan kaki sekitar 10-15 menit.


    Bagi pengunjung yang membawa kendaraan, area parkir tersedia di samping taman. Pengunjung harus membayar tarif parkir jika menitipkan kendaraannya di area tersebut. Besar tarif berbeda sesuai kendaraan yang digunakan pengunjung dan tujuannya.

    “Untuk motor buat orang yang ke taman itu Rp 3.000, kalau buat orang kantor Rp 5.000, tapi kalau mobil seikhlasnya karena kita kan nggak tahu mereka mau ke mana,” ujar Rozi, juru parkir kepada detikTravel, Minggu (26/10/2025).

    Menteng Park di BintaroMenteng Park di Bintaro (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

    Suasana Asri dan Ramah Keluarga

    Taman Menteng Bintaro memiliki suasana yang rindang dan asri dengan deretan pepohonan tinggi serta aneka bunga seperti kamboja, bunga kencana ungu, hingga pucuk merah. Di dalamnya terdapat 24 kursi taman berbentuk melingkar, area bermain anak, serta ruang terbuka luas yang kerap digunakan warga untuk bermain bola atau bulu tangkis.

    Keunikan taman ini ada pada jalur pedestrian berkelok yang mengitari hampir seluruh area taman. Jalur tersebut berfungsi ganda sebagai jogging track ber-paving block yang nyaman untuk berjalan kaki santai. Tak hanya itu, di taman juga terdapat instalasi arsitektur unik dengan tujuh lubang estetik, menjadikannya spot foto menarik bagi pengunjung.

    “Biasanya ke sini buat jogging, karena disini sudah ada jogging tracknya jadi kita tinggal ikuti tracknya itu, dan kita nggak perlu repot nentuin track jogging kemana aja. Adem juga suasananya, walau tepi jalan aku bisa ngerasain sejuknya dari taman ini,” kata Bela, salah satu pengunjung Taman, asal Pondok Aren.

    Mudah Diakses dan Dekat Wisata Kuliner

    Taman ini buka setiap hari, dan paling ramai dikunjungi pada pagi serta sore hari. Letaknya yang berada di pertigaan Jalan Cut Mutia dan Jalan Menteng Raya membuatnya mudah diakses dari berbagai arah, baik oleh warga lokal maupun luar kota.

    Kalau traveler lapar setelah berolahraga, tinggal melangkah sedikit ke restoran sushi yang bisa dicapai lewat jembatan oranye di sisi taman. Di sekitarnya juga terdapat deretan kafe, tempat makan, perkantoran, dan kompleks perumahan.

    Dengan segala fasilitas dan keasriannya, Taman Menteng Bintaro jadi salah satu spot rekreasi gratis yang wajib traveler kunjungi di wilayah Tangerang Selatan. Cocok banget buat yang ingin melepaskan penat, olahraga ringan, atau sekadar duduk santai menikmati udara segar.

    (row/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Bunker Misterius di Solo, Konon Tempat Sembunyi dan Menyimpan Harta


    Jakarta

    Masih ingat bunker misterius dalam salah satu rumah di Laweyan, Solo? Ruang bawah tanah yang disebut Bunker Setono ini zaman dulu digunakan sebagai brankas dan benteng persembunyian dari musuh. Kini, Bunker Setono jadi destinasi wisata sejarah baru di Jawa Tengah.

    “Keren, apalagi pas malam,” tulis akun Aznan Adviis dalam google review tentang Bunker Setono dilihat detikTravel, Selasa (28/10/2025).

    Lokasi Bunker Setono

    Bunker Setono berlokasi di Kampung Batik, RT 02/RW 02, Kampung Setono, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah. Saat ini, bunker yang berada di salah satu rumah tak berpenghuni tersebut dikelola langsung oleh warga setempat.


    “Dulunya rumah (tempat bunker) ini adalah milik pengusaha batik Wiryosupadmo. Setelah dia meninggal, istrinya menempati rumah ini bersama pembantu bernama Harun Muryadi. Setelah Bu Wiryo wafat, Muryadi tinggal sendirian di rumah ini hingga meninggal juga,” kata pengelola bunker Setono, Sutanto, dikutip dari detikJateng.

    Suasana di bunker Setono milik pengusaha batik asal Laweyan, Senin (15/9/2025).Suasana di bunker Setono (dok. Tara Wahyu NV/detikJateng)

    Wujud Bunker Setono

    Menurut pengelola pariwisata Laweyan yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Widiharso, Bunker Setono telah berusia sekitar tiga abad. Usia bunker sama dengan rumah yang menjadi lokasi ruangan spesial ini. Bunker dan rumah menjadi saksi sejarah perkembangan Laweyan.

    “Dilihat dari kayu dan bangunan terlihat seperti tahun 1700-an di era Mataram. Bunker ini peninggalan suami istri pemilik rumah,” kata Widiharso.

    Bunker ini memiliki luas 2×2 meter dengan ketinggian 2 meter. Lubang bunker berukuran 0,5 x 1 meter dengan permukaan lubang yang ditutupi oleh papan. Untuk masuk ke dalam bunker, terdapat empat buah anak tangga, tidak terdapat ventilasi di dalamnya, hanya dihiasi oleh satu lampu temaram berwarna kuning.

    Lokasi bunker berada di bagian tengah ruangan yang disebut sitinggil. Tempat tersebut digunakan sebagai tempat atasan untuk melihat hasil kerja membatik karyawan. Ruang sitinggil lebih tinggi 30 cm daripada area lain di dalam rumah.

    Rumah tempat Bunker Setono berada memiliki luas 500 meter persegi, dengan pelataran berukuran 7 x 8 meter. Dulunya, pelataran digunakan sebagai tempat karyawan Wiryosupadmo membatik. Lalu, pengusaha tersebut akan memeriksa hasil pekerjaan karyawan dari sitinggil.

    Pernah Jadi Tempat Sembunyi dan Menyimpan Harta

    Pada zaman dulu, bunker biasanya berada di ruang utama pemilik rumah. Letaknya berada tepat di bawah kolong kasur atau ditutupi oleh lemari. Bunker digunakan untuk bersembunyi atau menyimpan harta kekayaan.

    “Kalau ada tentara atau rampok, penghuni rumah bisa masuk ke sini untuk bersembunyi. Tapi fungsi utama bunker itu untuk menyimpan perhiasan atau harta kekayaan,” jelas Sutanto.

    Fungsi bunker sebagai tempat sembunyi dan menyimpan harta, tentu kini tak lagi dijalankan. Namun kesan misterius dan sejarah yang pernah terjadi di bunker masih bisa disaksikan publik. Detikers yang ingin melihat langsung Bunker Setono, bisa datang Senin-Jumat pukul 09.00-17.00 WIB tanpa dipungut biaya alias gratis.

    (row/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mau ke Taman Menteng Bintaro? Ini Rute dan Transportasi Terdekatnya!


    Jakarta

    Taman Menteng Bintaro kini jadi salah satu ruang terbuka hijau favorit warga Tangerang Selatan. Lokasinya yang strategis di kawasan Bintaro Sektor 7, membuat taman ini mudah dijangkau dengan berbagai moda transportasi, mulai dari KRL, angkot, hingga kendaraan pribadi.

    Cara ke Taman Menteng Bintaro Naik Transportasi Umum dan Kendaraan Pribadi

    Berikut panduan lengkap menuju Taman Menteng Bintaro untuk detikers yang ingin rekreasi gratis sambil menikmati suasana hijau di tengah kota.


    Naik KRL Commuter Line

    Bagi detikers yang menggunakan transportasi umum, KRL Commuter Line Green Line jadi pilihan paling praktis.

    • Naik KRL jurusan Tanah Abang-Serpong/Parung Panjang
    • Turun di Stasiun Jurang Mangu, yang menjadi stasiun terdekat dari Taman Menteng Bintaro.
    • Lanjutkan perjalanan menggunakan ojek online sejauh sekitar 2 km menuju lokasi taman di Jalan Cut Mutia 1, Bintaro Sektor 7.

    Perjalanan ini hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit dari stasiun, tergantung kondisi lalu lintas.

    Naik Angkutan Umum

    Kalau detikers berangkat dari arah Ciputat, bisa memilih angkot D18 dan turun di Bintaro Jaya Xchange Mall. Dari sana, lanjutkan perjalanan dengan ojek online atau berjalan kaki sejauh sekitar 1 km menuju taman.

    Alternatif lainnya adalah:

    • Naik angkot S10, turun di Stasiun Pondok Ranji
    • Lalu disambung naik KRL dan turun di Stasiun Jurang Mangu
    • Kemudian lanjut dengan kendaraan online ke taman.

    Rute ini cocok buat detikers yang ingin lebih hemat dan tetap fleksibel dalam perjalanan.

    Naik Motor atau Mobil Pribadi

    Bagi detikers yang membawa kendaraan pribadi, cukup arahkan peta ke Bintaro Sektor 7 atau Jalan Menteng Raya Bintaro. Lokasinya tidak jauh dari pusat perbelanjaan yang bisa dijadikan patokan utama.

    Setibanya di sana, pengunjung bisa memarkir kendaraan di area halaman kosong samping taman. Biaya parkir, motor dikenakan Rp 3 ribu, sedangkan mobil seikhlasnya.

    Menteng Park di BintaroMenteng Park di Bintaro (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

    Patokan Lokasi Taman Menteng Bintaro

    Alamat Taman Menteng Bintaro ada di Jalan Cut Mutia I, Sektor 7 Bintaro Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, stasiun terdekatnya adalah Jurangmangu (Green Line), dan akses jalannya detikers bisa melewati rute jalan berikut, Menteng Raya-Cut Mutia-Sektor 7 Bintaro.

    Taman Menteng Bintaro jadi destinasi yang ramah bagi semua kalangan, dari anak muda hingga keluarga. Dengan akses yang mudah dan gratis, taman ini cocok untuk melepas penat setelah aktivitas seharian di kota.

    (row/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Suhu Terdingin Ada di Sini, Bagaimana Sekarang?


    Jakarta

    Liburan ke Puncak, Bogor tidak lengkap rasanya jika belum menikmati hamparan kebun teh dan menginap di tempat yang sangat sejuk. Nah, ada satu tempat yang bisa memberikan pengalaman staycation tak terlupakan.

    Tempat Terdingin Puncak Bogor

    Agrowisata Gunung Mas, menjadi tempat yang disebut-sebut memiliki suhu paling dingin di kawasan Puncak Bogor. Dikutip dari pengalaman salah satu d’Traveler, Sutriyanto, suhu di kawasan tersebut bisa mencapai 14°C sehingga sangat cocok bagi yang ingin liburan.

    “Ketika malam tiba memang benar udaranya begitu dingin apalagi di tambah hujan waktu sore. Sungguh dingin sekali. Jangan lupa bawa selimut tebal supaya tidak kedinginan saat bermalam,” kata Sutriyanto yang pernah merasakan sejuknya Agrowisata Gunung Mas pada 2024.


    Selain sensasi super dingin pada malam hari, pemandangan Agrowisata Gunung Mas di pagi hari juga sangat keren. Sutriyanto menyarankan pengunjung menikmati kebun teh dengan jalan-jalan menyusuri tea bridge yang sangat panjang. Dia juga menyarankan traveler untuk memotret suasana atau selfie sebagai cara menyimpan memori indah alam kebun teh di Puncak, Bogor tersebut.

    Rest Area Gunung Mas akan menjadi tempat relokasi para PKL Puncak. Begini kondisi Rest Area Gunung Mas sebelum ditempati PKL.Rest Area Gunung Mas (dok. Rifkianto Nugroho/detikcom)

    Sempat Disegel KDM

    Agrowisata Gunung Mas adalah kawasan wisata di Puncak, Bogor yang dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang kerap disapa KDM, menyegel PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 Agro Wisata Gunung Mas pada Maret 2024.

    Kendat begitu, bangunan tak langsung dibongkar karena masih menunggu selesainya proses penyelidikan. Kepala Sapol PP Jabar Ade Afriandi mengatakan jika bangunan benar-benar melanggar administrasi perizinan, maka Agrowisata Gunung Mas akan dibongkar untuk mengembalikan fungsi awal lahan sebagai serapan air.

    Dikutip dari situs Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), destinasi wisata di Kawasan Gunung Mas memang jadi perhatian. Fasilitas liburan di area tersebut sudah disegel, tapi masih terus beroperasi. Pemerintah sempat memberi deadline pembongkaran pada Agustus 2025, namun kegiatan masih terus berlangsung.

    Kondisi Agrowisata Gunung Mas Sekarang

    Dikutip dari Google Review Agrowisata Gunung Mas, aktivitas hiburan alam di kawasan tersebut masih beroperasi. Memang tidak semua merasakan sensasi menginap di suhu super dingin khas kebun teh Gunung Mas. Mereka memilih fasilitas lain yang tersedia di area tersebut.

    “Ke sini sebentar karena ngincer gokartnya aja buat anak. Kayanya ini yang termurah dan puas dibanding tempat wisata tempat lain. Masih banyak yang bisa di eksplor karena tempatnya luas banget,” tulis akun Mponk Kamala.

    Pernyataan senada disampaikan oleh akun Harry Sudarsono terkait pengalaman liburan di Agro Wisata Gunung Mas. Menurutnya, kawasan itu memiliki keunggulan dengan banyak pilihan tempat makan dengan parkir luas. Pengunjung sebaiknya membayar parkir di awal agar dapat tarif flat.

    Dengan kondisi tersebut, detikers sebaiknya update informasi lebih dulu terkait fasilitas liburan di Agrowisata Gunung Mas. Sekiranya tersedia detikers bisa langsung capcus menikmati hawa sejuk, pemandangan serba hijau super indah, dan healing yang sangat menyenangkan di destinasi wisata favorit kawasan Puncak, Bogor.

    (row/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Oma Huis, Tempat Nongkrong Bernuansa Vintage di Jaksel



    Jakarta

    Sebuah bangunan kecil bergaya klasik bernama Oma Huis bisa menjadi jujugan buat traveler yang ingin merasakan nuansa tempo dulu. Bangunan berarsitektur Eropa itu menonjol dengan dinding putih dan jendela besar bergaya vintage, memberi kesan hangat sekaligus elegan.

    Terletak di Jl. Cikajang No. 74, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Oma Huis relatif mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Pengunjung bisa naik Trans Jakarta 6W dari Blok M dan turun di bus stop depan Oma Huis.

    Gedung itu juga memiliki area parkir dengan kapasitas terbatas, namun cukup untuk mobil dan motor pengunjung.


    Jika dilihat sekilas, Oma Huis tampak seperti bangunan sederhana. Namun, begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut oleh suasana temaram, ornamen kayu, serta pencahayaan lembut yang menciptakan kesan hangat dan nyaman.

    Dibangun dengan konsep artisan retail space bertema vintage, setiap sudut Oma Huis terlihat estetik dan penuh karakter. Desain interiornya yang klasik dan detail dekoratif yang rapi menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang, baik untuk bersantai maupun sekadar berfoto.

    Nama “Oma Huis” diambil dari Bahasa Belanda yang berarti Rumah Nenek. Nama ini terinspirasi dari Warung Nasi Kuning Cakalang Oma, sebuah usaha nasi kuning yang menjadi konsep utama berdirinya tempat ini. Filosofinya sederhana namun menciptakan ruang yang hangat dan akrab seperti rumah nenek sendiri.

    Pada sudut-sudut toko, digantung sebuah lampu taman yang menambah kesan klasik tempat tersebut. Di bagian ujung lorongm terdapat ruang outdoor yang memberikan pencahayaan langsung, memberikan spot foto estetik bagi pengunjung.

    Tangga yang didesain dari kayu dan melingkar menjadi spot ikonik di gedung ini juga memberikan kesan klasik yang kental. Dihiasi dengan lampu-lampu berwarna temaram yang menghangatkan suasana. Selain menyediakan Wifi gratis, Oma Huis juga dilengkapi oleh toilet yang bersih dan area duduk outdoor.

    “Udah sering ke sini buat kerja, tempatnya emang enak sih,” ujar Nia, salah satu pengunjung yang datang untuk bekerja di Oma Huis, Jumat (24/10/2025).

    Di dalam bangunan itu, pengunjung bisa menemukan beragam gerai kuliner dan toko. Di lantai satu ada gerai Latteria Gelato, Abadi Noodle, Gudi Bake, Kantin Oma, hingga toko bunga. Bagi pengunjung yang ingin bekerja atau belajar, Oma Huis menyediakan kotak space yang difasilitasi oleh AC yang nyaman serta area outdoor dengan cahaya alami.

    Kemudian, pada lantai dua terdapat gerai Ice Honey, Burnt Burger, hingga gerai butik. Rentang harga yang dijual di Oma Huis berkisar Rp 30.000-Rp 80.000, sedangkan minuman berkisar Rp 25.000. Oma Huis menerima pembayaran tunai maupun non-tunai.

    Gudi Bake menjadi salah satu gerai yang paling banyak dikunjungi pengunjung. Kedai itu menjual berbagai jenis roti. Terletak di lantai satu gerai nomor dua di sebelah kanan. Gudi Bake memberikan cita rasa khas butter yang membuat pengunjung ketagihan.

    “Kami membuat cita rasa khas yang menghadirkan rasa ‘rumah’ bagi pelanggan” ujar Henny, penjaga gerai Gudi Bake.

    Menurutnya cita rasa tidak hanya berasal dari bahan dan cara membuat semata, tetapi melalui sentuhan ketulusan dan kehangatan.

    “Menu favorit disini Pastry Danish, kalo untuk best seller nya ada Gudi Signature Set,” kata dia.

    Gudi Bake menyajikan berbagai bentuk kehangatan untuk menciptakan ‘rumah’ bagi siapa saja yang mencicipi lembutnya kue – kue yang mereka jual.

    “Kalo menu favorit aku croissant di Gudi Bake yang rasa cheese, itu enak banget,” kata Naura, salah satu pengunjung Oma Huis yang sudah langganan di Gudi Bake.

    Oma Huis buka setiap hari pada Senin-Kamis pukul 07.00-20.00 WIB dan Jumat-Minggu pukul 07.00-22.00 WIB. Pengunjung yang berminat menikmati kulineran dengan suasana vintage yang instagramable bisa berkunjung ke Oma Huis.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Post, Surga Bagi Pencinta Buku Indie, di Pasar Santa



    Jakarta

    Bagi para pecinta sastra, deretan rak kayu berisi buku-buku memiliki daya tarik tersendiri. Di era banyaknya toko dan buku digital, Post A Living Room & Press tetap memberi ruang nyaman bagi siapa saja yang rindu pada pengalaman membaca buku fisik.

    Terletak di lantai dua gedung Pasar Santa, Jakarta Selatan, toko buku ini sudah berdiri sejak tahun 2014 dan masih eksis hingga saat ini.

    Berbeda dari toko buku lain, Post hanya menjual buku-buku baru, mulai dari karya penerbit independen, penulis lokal, hingga internasional. Koleksi yang tersedia juga beragam, mulai dari buku-buku fiksi hingga nonfiksi, termasuk karya penulis ternama seperti Aan Manshur dan Pramoedya Ananta Toer.


    “Bedanya kita cuma jual buku baru, nggak ada buku bekas. Jadi kualitasnya terjamin. Genrenya ada fiksi dan nonfiksi, tapi yang paling banyak dijual di sini itu buku indie,” ujar Putri, penjaga Post A Living Room Bookshop & Press, beberapa waktu lalu.

    Buku berbahasa Inggris dan buku terjemahan menjadi buku paling banyak dicari pengunjung.

    “Biasanya pengunjung nyari buku terjemahan atau buku-buku impor yang nggak ada di toko lain,” dia menambahkan.

    Selain koleksi yang eksklusif, suasana hangat Post membuat siapa saja betah berlama lama disana. Diiringi musik dari lagu lagu indie memberikan kesan homey yang nyaman.

    Menariknya, sejak berdiri pada 2014, Post banyak menggandeng penulis penulis lokal untuk menerbitkan buku dalam usaha penerbitan Post Press. Sejauh ini sudah ada 10 buku yang diterbitkan, termasuk satu buku kolaborasi penulis berjudul “Museum Teman Baik” yang dapat dibeli di toko Post secara langsung maupun toko digital postpress melalui kanal Tokopedia.

    Melalui lini penerbitannya ini, Post memberi kesempatan bagi para penulis lokal untuk turut mengembangkan karyanya.

    “Post Press nantinya mengkurasi sendiri untuk pilihan karya dari penulis-penulis lokal, biasanya nanti akan dihubungi atau diumumkan,” kata Putri.

    Pengunjung Post A Living Room & Press datang dari berbagi kalangan, mulai dari anak muda, mahasiswa, hingga orang tua yang mencari bacaan santai selepas kerja. Bahkan toko ini menjalin hubungan baik dengan para pengunjung yang sudah mengikuti perkembangan Post sejak dulu.

    Post a living room & press menjadi ruang baca bagi para pecinta sastra. Buka setiap Senin-Jum’at pukul 14.00-19.00 WIB dan khusus Sabtu-Minggu buka mulai pukul 12.00-19.00 WIB. Toko ini biasanya ramai dikunjungi pengunjung saat akhir pekan atau saat jam pulang kerja.

    (fem/ddn)



    Sumber : travel.detik.com