Tag: kisah

  • Detik-detik Malaikat Izrail Mencabut Nyawa Sang Rasul



    Jakarta

    Meski Rasulullah SAW merupakan utusan Allah SWT, beliau tetap merasakan sakitnya sakaratul maut. Setiap makhluk yang hidup akan mengalami pencabutan nyawa.

    Nabi Muhammad SAW wafat pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Abu Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi melalui Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa sang rasul mulai jatuh sakit pada akhir bulan Safar tahun ke-11 Hijriah.

    Dikatakan oleh Aisyah RA, Rasulullah SAW jatuh sakit setelah mengunjungi pemakaman para sahabat di Baqi’ al Gharqadd. Setelah itu,belia menemui Aisyah di rumah.


    Nabi Muhammad SAW kemudian memanggil istri-istrinya dan meminta izin tinggal di rumah Aisyah selama sakit. Di rumah Aisyah inilah Rasulullah wafat.

    “Maut datang kepada Rasulullah ketika kepala Beliau berada di pangkuanku,” kata Aisyah.

    Sebelum wafat, Rasulullah sempat pingsan sebentar, lalu tersadar. Saat sadar pandangan Nabi Muhammad mengarah ke atap rumah dan berkata, “Allahumma Ar-Rafiqal A’la (Ya Allah Dzat yang Maha Tinggi).” Setelah mengucapkan kalimat itu, Rasulullah wafat.

    Mengutip dari buku Kisah-kisah Islami Inspiratif for Kids oleh A. Septiyani, kisah tersebut diketahui saat ada yang bertamu ke kediaman Rasulullah SAW namun Fatimah, putri nabi, tidak mengetahui siapa dia.

    “Aku mohon maaf, tapi aku tidak bisa membiarkanmu masuk karena ayahku sedang demam,” kata Fatimah seraya menutup pintu.

    Fatimah segera mendekati ayahnya, dan Rasulullah SAW bertanya, “Wahai anakku, siapa tamu itu?”

    “Aku tidak tahu, Ayah. Tapi sepertinya ini pertama kalinya aku bertemu dengannya.” jawab Fatimah.

    Rasulullah SAW menatap putri tercintanya dengan tatapan yang menggetarkan. Beliau berkata, “Wahai anakku, ketahuilah bahwa orang yang kamu lihat adalah yang mengakhiri kenikmatan sesaat. Dia yang memisahkan pertemuan di dunia. Dia adalah Malaikat Maut.” Mendengar itu, Fatimah tidak bisa menahan tangisnya.

    Lalu, Malaikat Maut mendekati Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW menanyakan keberadaan Malaikat Jibril, Malaikat Maut memanggil Malaikat Jibril untuk menemani Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bertanya, “Wahai Jibril, katakan padaku apa hakku di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?”

    Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Rasulullah, pintu-pintu langit akan terbuka dan para malaikat sudah menantikanmu di sana. Semua pintu surga telah terbuka lebar menantikan kedatanganmu.”

    Meskipun mendengar kabar gembira dari Malaikat Jibril, Rasulullah SAW masih terlihat cemas.

    Melihat kecemasan sang rasul, Malaikat Jibril bertanya, “Mengapa engkau masih cemas seperti itu? Apakah engkau tidak bahagia mendengar kabar ini, ya Rasulullah?”

    Rasulullah SAW kembali bertanya, “Beritahukanlah kepadaku, bagaimana nasib umatku kelak?”

    Malaikat Jibril menjawab, “Jangan khawatirkan nasib umatmu, ya Rasulullah. Aku mendengar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepadaku: ‘Aku telah mengharamkan surga bagi selain umat Muhammad, hanya umatmu yang berhak memasukinya.’”

    Mendengar itu, Rasulullah SAW merasa sedikit tenang. Tak terasa, saat-saat kepergian sang rasul semakin dekat.

    Malaikat Izrail terlihat menjalankan tugasnya. Dengan perlahan, ruh Nabi Muhammad SAW diambil. Tubuh beliau dibanjiri oleh keringat.

    Urat-uratnya sang nabi tampak tegang. Sembari merasakan sakit yang tiada tara, Nabi Muhammad SAW berkata, “Wahai Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”

    Melihat Rasulullah SAW kesakitan, Malaikat Jibril hanya bisa memalingkan wajahnya. Ia tidak tega melihat beliau dalam penderitaan.

    “Wahai Malaikat Jibril, apakah engkau merasa jijik melihatku sehingga kau memalingkan wajahmu?” tanya Rasulullah SAW.

    Malaikat Jibril menjawab, “Siapakah yang akan tega melihat kekasih Allah menghadapi ajalnya?”

    Dikisahkan dalam Kitab Maraqi Al-‘Ubudiyyah susunan Syekh Nawawi Al-Bantani, hingga di penghujung hidupnya, Nabi Muhammad SAW tetap memikirkan nasib umatnya. Ketika merasakan dahsyatnya sakit sakaratul maut, Rasulullah SAW masih sempat berdoa untuk keselamatan umatnya.

    “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku. Jangan (timpakan) kepada umatku,” doa Nabi Muhammad SAW.

    Tubuh beliau semakin dingin. Bibirnya bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu. Ali bin Abi Thalib mendekati beliau, dan Rasulullah SAW berbisik, “Jagalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antara kalian.”

    Tangisan terdengar di sekeliling dan Fatimah menutup wajahnya dengan tangannya. Ali bin Abi Thalib mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah SAW, dan Beliau berbisik, “Ummatii, ummatii, ummatii… (Umatku, umatku, umatku…).”

    Mustofa Murod melalui bukunya yang berjudul Dialog Malaikat Maut dengan Para Nabi AS yang bersandar pada hadits riwayat dari Aisyah RA menceritakan terkait perjumpaan Malaikat Maut dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagian menyebut Rasulullah tengah bersama Ali bin Abi Thalib di ujung ajalnya, sebagian lagi mengatakan bersama dengan Aisyah RA.

    Wallahu a’lam bishawab.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ashabul Aikah, Penduduk Zaman Nabi Syu’aib yang Dibinasakan Allah



    Jakarta

    Al-Qur’an menceritakan berbagai kisah dari kaum yang tinggal pada zaman nabi terdahulu. Salah satunya tentang Ashabul Aikah yang disebut hidup pada zaman Nabi Syu’aib AS.

    Allah SWT berfirman dalam surah As Syu’araa ayat 176-177,

    كَذَّبَ اَصْحٰبُ لْـَٔيْكَةِ الْمُرْسَلِيْنَ ۖ ١٧٦ اِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ ١٧٧


    Artinya: “Penduduk Aikah telah mendustakan para rasul. Ketika Syu’aib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?”

    Ulama tafsir dan pengarang kitab tarikh Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa memaparkan sejumlah pendapat terkait penduduk Aikah atau Ashabul Aikah dalam firman Allah SWT tersebut. Ada yang berpendapat Aikah adalah Madyan dan ada pula yang menyebut bahwa keduanya berbeda karena azab yang diturunkan berbeda.

    Menurut Qatadah dan beberapa ulama tafsir, Ashabul Aikah adakah nama sebuah kaum yang berbeda dengan penduduk Madyan. Mereka berpendapat bahwa firman Allah SWT dalam surah Asy Syu’araa hanya dikatakan Syu’aib dan tidak disertakan akhuhum Syuaib (saudara mereka sendiri) seperti penduduk Madyan. Mereka juga berpendapat Ashabul Aikah mendapat azab berupa hari yang gelap, sedangkan penduduk Madyan ditimpa gempa dan suara dahsyat.

    Ibnu Katsir menilai pendapat Qatadah itu lemah. Ada dua dalil yang membantah hal ini. Pertama, tidak disebutkannya kata “saudara pada firman Allah, “Penduduk Aikah telah mendustakan para Rasul: ketika Syu’aib berkata kepada mereka…” karena penisbatan mereka kepada berhala yang bernama Aikah.

    Sebaliknya, jika firman tersebut dinisbatkan kepada nama kabilah (penduduk Madyan) maka, kata Ibnu Katsir, tidak ada salahnya jika Syu’aib disebutkan sebagai saudara mereka karena berasal dari kota yang sama.

    Dalil kedua yang menyangkal pendapat Qatadah itu adalah jika hanya bersandar pada dua azab yang berbeda, maka itu tidak realistis karena tidak ada ulama lain yang berpendapat demikian. Apalagi ada dua azab lain yang berbeda yang menimpa penduduk Madyan. Demikian penjelasan Ibnu Katsir.

    Kemudian, untuk riwayat yang disampaikan Al-Hafizh Ibnu Asakir saat menuliskan biografi Nabi Syu’aib AS melalui jalur sampai Abdullah bin Amru secara marfu, yang menyebut penduduk Madyan dan Aikah adalah dua umat yang berbeda namun Allah SWT hanya mengutus Nabi Syu’aib untuk dua kaum itu, adalah pendapat yang lemah. Hadits ini dinilai gharib karena terdapat sanad yang lemah.

    Ada juga pendapat yang menyebut bahwa Aikah adalah nama sebuah pohon. Diceritakan dalam Qishash Al-Anbiyaa lil Athfal karya Hamid Ahmad Ath-Thahir, Allah SWT mengutus Nabi Syu’aib AS. Nabi Syu’aib AS kemudian mengajak kaumnya untuk menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya, melarang menyembah pohon Aikah, dan memerintahkan mereka untuk berbuat adil dan tidak berbuat zalim.

    Dari beberapa pendapat tersebut, Ibnu Katsir sendiri meyakini bahwa Ashabul Aikah dan penduduk Madyan adalah umat yang sama. Hanya saja mereka dibinasakan dengan sejumlah azab yang berbeda-beda.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Ja’far bin Abu Thalib, Sahabat yang Paling Mirip Nabi Muhammad SAW



    Jakarta

    Ja’far bin Abu Thalib merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Ja’far terkenal sebagai pria yang lemah lembut, penuh kasih sayang, pemurah, serta rendah hati.

    Abdurrahman bin Abdul Karim melalui karyanya yang berjudul Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Ja’far bin Abi Thalib merupakan putra dari Abu Thalib, paman dari Nabi SAW. Ja’far dibesarkan oleh pamannya yaitu Abbas bin Abdul Muthalib karena sang ayah miskin dan harus menghidupi keluarga besar.

    Saat Nabi SAW memberi izin untuk hijrah ke Habasyah, Ja’far bersama sang istri turut serta. Padahal, hal tersebut cukup berat bagi Ja’far karena meninggalkan tempat kelahirannya, seperti dinukil dari buku Seri Ensiklopedia Anak Muslim susunan Mahmudah Mastur.


    Penguasa Habasyah kala itu adalah Najasyi, seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana. Ia suka melindungi orang-orang lemah.

    Sesampainya di Habasyah, kaum muslimin mendapat perlindungan dari Najasyi. Dengan demikian, mereka dapat lebih leluasa dan lebih tenang dalam beribadah kepada Allah SWT.

    Sayangnya, ketenangan tersebut terusik ketika orang-orang kafir Quraisy mengetahui perlindungan keamanan yang diperoleh muslim di Habasyah. Mereka memfirnah kaum muslimin di depan Najasyi dan jajaran menterinya.

    Kaum kafir Quraisy bahkan tak segan menghasut Raja Najasyi agar menyerahkan umat Islam ke Makkah. Raja Najasyi lalu memanggil Ja’far dan beberapa orang sahabat.

    “Apakah kalian memiliki sesuatu yang dibawa oleh Nabi kalian?” tanyanya.

    Ja’far lalu menjawab dengan membaca ayat Al-Qur’an surat Maryam. Raja Najasyi menangis mendengarnya, ia memutuskan untuk tetap melindungi kaum muslimin hingga tiba masa hijrah ke Madinah.

    Selain itu, sosok Ja’far bin Abu Thalib juga dikatakan memiliki kemiripan dengan Rasulullah SAW, baik dari segi fisik maupun sifatnya. Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW bersabda:

    “Engkau wahai Ja’far, wajahmu mirip dengan wajahku dan akhlakmu mirip dengan akhlakku,” (HR Bukhari)

    Nabi SAW sendiri memanggil Ja’far dengan sebutan “Bapak orang-orang miskin,” karena beliau selalu menolong dan membantu mereka dengan apa yang dimiliki.

    Ja’far bin Abu Thalib wafat secara syahid pada Perang Mut’ah bulan Jumadil Awwal tahun ke-8 Hijriyah. Kala itu, ia ditunjuk oleh Nabi SAW untuk menjadi komandan.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Istri Nabi Ibrahim, Wanita Pilihan yang Lahirkan Para Nabi


    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS memiliki dua istri yang bernama Siti Sarah dan Siti Hajar. Mereka merupakan wanita yang dipilih Allah SWT untuk melahirkan para nabi.

    Dari istri keduanya, Siti Hajar, lahirlah anak pertama Nabi Ibrahim AS yang diberi nama Ismail AS. Sedangkan dari istri pertamanya, Siti Sarah, ia dikaruniai putra kedua yang bernama Ishaq AS ketika usianya sudah cukup tua.

    Sosok Sarah Istri Nabi Ibrahim yang Pertama

    Diceritakan dalam buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi oleh Rizem Aizid, Nabi Ibrahim AS bersama istri pertamanya semula hidup di Babilonia, Irak. Sarah merupakan wanita yang sangat cantik, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara akhlak dan budi pekerti.


    Sarah begitu patuh dengan sang suami dan mengikuti risalahnya untuk beriman kepada Allah SWT. Suatu hari, Sarah mendapat cobaan ketika ia masuk ke Mesir sebab kecantikannya itu.

    Kecantikan Sarah yang mengagumkan membuat penguasa Mesir, Raja Firaun, ingin mempersuntingnya sebagai selir. Akan tetapi, kekukuhan iman Sarah doa-doanya yang begitu tulus akhirnya membuatnya lepas dari godaan raja. Bahkan, ia diminta oleh raja Mesir untuk pulang dan diberi hadiah seorang budak bernama Hajar.

    Tahun demi tahun berjalan, Sarah yang sudah semakin tua tak kunjung dikaruniai keturunan oleh Allah SWT. Atas petunjuk dari Allah SWT, sarah kemudian dengan ikhlas menawarkan suaminya untuk menikah dengan Hajar agar diberi keturunan.

    Ia berkata kepada suaminya, “Hai suamiku, hai kekasih Allah, inilah Hajar, aku berikan kepadamu. Mudah-mudahan Allah memberi anak keturunan kepada kita darinya.”

    Akhirnya, Nabi Ibrahim AS pun menikah dengan Siti Hajar. Keduanya dikaruniai putra pertama yang diberi nama Ismail.

    Kecemburuan Sarah setelah Kelahiran Ismail

    Imam Ibnu Katsir mengisahkan dalam buku Qashash Al-Anbiyaa, ketika Siti Hajar melahirkan putra pertama Nabi ibrahim AS yang bernama Ismail, kecemburuan Sarah terhadapnya semakin membara. Sarah kemudian meminta Nabi Ibrahim AS untuk menyingkirkan Siti Hajar dari pandangannya.

    Nabi Ibrahim AS lalu membawa Siti Hajar dan bayi Ismail keluar dari rumah mereka untuk meringankan kecemburuan Sarah. Mereka berjalan sampai di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Kota Makkah.

    Setelah menemukan tempat tersebut, Nabi Ibrahim AS pun berniat kembali dan melihat keadaan Sarah yang mengalami guncangan. Siti Hajar yang merasa asing dengan tempat tersebut pun memegangi baju Nabi Ibrahim agar ia tidak meninggalkannya.

    “Wahai Ibrahim, hendak ke mana kah kamu pergi, apakah kamu tega meninggalkan kami di sini, kami tidak kenal dengan lingkungan ini.”

    Nabi Ibrahim AS hanya terdiam menjawabnya. Lantas Siti Hajar bertanya kembali, “Apakah Allah memerintahkanmu untuk berbuat seperti ini?”

    Nabi Ibrahim AS menjawab, “Benar.” Selanjutnya Siti Hajar dengan ikhlas berkata, “Baiklah kalau demikian adanya, kamu boleh pergi sekarang, karena jika Allah yang menghendaki, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

    Setelah cukup jauh berjalan, Nabi Ibrahim AS berbalik ke belakang dan melihat tempat yang ditinggalkannya dari kejauhan. Ia kemudian mengangkat tangannya seraya berdoa:

    رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

    Artinya: “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)

    Siti Hajar yang telah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS pun tetap memberikan asi kepada anaknya, sedangkan air yang ada digunakan untuk diminum olehnya. Namun, semakin lama air itu pun habis hingga membuat ia dan anaknya kehausan sebab air susunya pun telah mengering.

    Siti Hajar kemudian memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan mencari air minum, sebab tak kuasa mendengar anaknya yang terus menangis.

    Perjalanan Siti Hajar di Bukit Shafa-Marwah hingga Munculnya Air Zamzam

    Dalam kepergiannya, Siti Hajar tiba di Bukit Shafa, bukit yang paling dekat dengan tempat peristirahatannya. Ia berdiri di atas bukit dan memandang sekelilingnya untuk mencari seseorang yang bisa membantunya, tetapi ia tidak menemukan siapa pun.

    Selanjutnya Siti Hajar turun dari bukit itu hingga sampai di Bukit Marwah dan menaikinya. Namun, lagi-lagi ia tidak menemukan seorangpun yang bisa membantunya. Siti Hajar terus mencoba untuk berjalan pulang pergi dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sampai tujuh kali perjalanan.

    Disebutkan dalam buku Sejarah Ibadah oleh Syahruddin El-Fikri, saat kali ketujuh sampai di Bukit Marwah, tiba-tiba Siti Hajar mendengar suara yang mengejutkan. Alangkah kagetnya mengetahui bahwa suara itu berasal dari air yang memancar dari dalam tanah dengan derasnya di bawah telapak kaki Ismail.

    Sumber air yang memancar tersebut hingga saat ini dikenal sebagai sumur Zamzam. Di lokasi ini pula, Siti Hajar mendengar suara malaikat Jibril yang berkata kepadanya, “Jangan khawatir, di sini Baitullah (rumah Allah) dan anak ini (Ismail) serta ayatnya akan mendirikan rumah itu nanti. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

    Dari air zamzam yang terus mengalir, Siti Hajar dan Ismail mampu meneruskan kehidupannya. Sementara itu, Nabi Ibrahim AS kembali menjalani kehidupannya dengan Siti Sarah. Hingga saat usia keduanya sudah sangat tua, malaikat datang ke rumahnya dan memberi kabar gembira.

    فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ

    Artinya: “Maka kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq, dan dari Ishaq (akan lahir putranya), Ya’qub.” (QS Hud: 71).

    Peristiwa itu menunjukkan bentuk kebesaran Allah SWT. Istri Nabi Ibrahim AS yang pertama ini dikaruniai putra di usia yang sudah tidak muda lagi, yakni 90 tahun. Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Istri Nabi Nuh yang Turut Diazab Allah karena Durhaka



    Jakarta

    Terdapat dua orang istri nabi yang diazab oleh Allah SWT karena durhaka kepada-Nya. Salah satunya adalah istri Nabi Nuh AS. Lalu, bagaimanakah kisah istri Nabi Nuh yang durhaka itu?

    Disebutkan di dalam Al-Qur’an, istri Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS adalah dua perempuan yang durhaka kepada Allah SWT dan kepada suaminya. Tentu saja, mereka pasti mendapat azab dari-Nya meskipun menyandang gelar istri nabi sebab Allah SWT Maha Adil.

    Allah SWT berfirman dalam surah At-Tahrim ayat 10 yang berbunyi,


    ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ ١٠

    Artinya: “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

    Lantas, bagaimanakah kisah istri Nabi Nuh yang durhaka itu? Berikut penjelasannya.

    Azab Istri Nabi Nuh AS yang Durhaka

    Mengutip dari buku Tafsir Qashashi Jilid IV: Umat Terdahulu, Tokoh, Wanita, Istri, dan Putri Nabi Muhammad SAW karya Sofyan Hadi, istri Nabi Nuh AS adalah wanita yang durhaka sebab selalu membenci kegiatan dakwah suaminya yang merupakan seorang nabi.

    Seperti yang diketahui, Nabi Nuh AS hidup berdakwah untuk meluruskan akidah umatnya selama ratusan tahun, tepatnya 950 tahun lamanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Ankabut ayat 14 yang berbunyi,

    وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٤

    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.”

    Selama seribu kurang lima puluh tahun inilah Nabi Nuh AS berdakwah tak kenal lelah kepada kaumnya. Namun, karena watak umat beliau yang sangat bebal, beliau pun hanya memiliki sedikit pengikut.

    Selama 950 tahun ini pula, keadaan rumah tangga Nabi Nuh AS tidak stabil. Terlebih lagi, Nabi Nuh AS hidup jauh dari kemewahan dan penuh dengan kesederhanaan, atau bahkan bisa dibilang hidup miskin.

    Harta yang dimiliki Nabi Nuh AS habis digunakan untuk berdakwah di jalan Allah SWT dan membantu orang-orang miskin. Beliau juga tidak mengharap apa pun dari dakwah yang disebarkannya sehingga tidak mungkin bagi beliau untuk mendapat penghasilan dari jihadnya itu.

    Kondisi ekonomi yang tidak stabil inilah yang kemudian memicu istri Nabi Nuh AS untuk berkhianat kepada beliau. Konon disebutkan, bahwa pada saat rumah tangga yang tidak stabil itulah datang seorang nenek hendak menyogok istri Nabi Nuh AS.

    Nenek itu membawa setumpuk uang kepada istri Nabi Nuh AS dengan syarat dia bersedia menjadi mata-mata pemuka kaum Nabi Nuh AS yang durhaka. Ternyata, nenek tadi adalah setan yang menyamar menjadi manusia.

    Istri Nabi Nuh AS yang durhaka ini tentu menerima dengan senang hati tawaran tersebut. Akhirnya ia pun menjadi pengkhianat yang melaporkan setiap aktifitas dakwah Nabi Nuh AS kepada orang-orang kafir.

    Terlebih lagi, istri Nabi Nuh AS juga berhasil mempengaruhi dan mendidik anaknya yang bernama Kan’an untuk juga turut durhaka kepada ayahnya. Usahanya untuk mengkafirkan anaknya yang lain, Sam, Ham, dan Yafits, gagal. Mereka tetap berada di jalan Allah SWT.

    Akhirnya, janji Allah SWT untuk orang-orang yang durhaka kepada-Nya pun terjadi. Seluruh bumi dipenuhi oleh air yang muncul dari permukaan bumi dan dari langit. Banjir yang sangat dahsyat pun tidak terelakkan.

    Saat itulah, istri Nabi Nuh AS yang durhaka bersama anaknya, Kan’an turut ditenggelamkan oleh Allah SWT bersama orang-orang kafir lainnya.

    Nabi Nuh AS sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengajak anak dan istrinya tersebut naik ke atas kapal. Namun, mereka tetap durhaka dan tidak mau mendengar beliau bahkan sampai akhir hayatnya.

    Nabi Nuh AS berdoa kepada Allah SWT untuk menyelamatkan anak dan istrinya tersebut dari azab-Nya yang sangat dahsyat. Namun, Allah SWT berkata lain. Dia berfirman dalam surah Hud ayat 46 yang berbunyi,

    قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ ٤٦

    Artinya: Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Seorang Penggembala Jujur yang Digoda Ibnu Umar



    Jakarta

    Dalam kitab ‘Uyunul Hikayat karya Imam Ibnu Jauzi, terdapat kisah menarik antara Abdullah bin Umar dengan seorang penggembala kambing. Di mana, Ibnu Umar menggoda penggembala tersebut yang sedang melintas di depannya.

    Kisah ini disampaikan oleh Abdul Aziz, yang diperolehnya dari Nafi’. Mengutip buku berjudul 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah yang ditulis oleh Imam Ibnul Jauzi, begini ceritanya.

    Pada suatu hari, Abdullah bin Umar dan sahabat-sahabatnya pergi ke pinggiran kota Madinah. Saat beristirahat dan makan, mereka bertemu dengan seorang penggembala yang sedang melintas.


    Ketika berjumpa dengan penggembala tersebut, Ibnu Umar mengundangnya untuk bergabung dan makan bersama.

    “Silakan bergabung, mari makan bersama kami,” ajak Ibnu Umar kepada penggembala yang tengah melintas.

    “Terima kasih, tapi saya sedang puasa,” jawab si penggembala singkat.

    Ibnu Umar kagum melihat penggembala tersebut. Bisa-bisanya ia tetap menjalankan ibadah puasa di tengah terik matahari.

    “Di hari yang begitu panas seperti ini, di tengah perbukitan sambil menggembala kambing, engkau masih tetap berpuasa?” tanya Ibnu Umar.

    “Waktu berlalu dengan cepat, saya tidak ingin menyia-nyiakannya,” kata penggembala itu.

    Ibnu Umar kemudian menawarkan kepada penggembala untuk menjual salah satu kambingnya. Nantinya, sebagian dari daging tersebut akan ia bagikan untuk si penggembala sebagai bekal berbuka puasa.

    Namun si penggembala enggan untuk menjualnya. Sebab kambing tersebut bukanlah miliknya.

    “Mereka bukanlah milikku, melainkan milik majikanku,” jawab si penggembala menolak tawaran Ibnu Umar.

    Kemudian Ibnu Umar mencoba untuk menggoda penggembala tersebut. Ia mengajarkan si penggembala untuk berbohong jika ditanya oleh majikannya ke mana satu ekor kambingnya yang hilang.

    “Mudah, katakan saja pada majikanmu bahwa salah satu kambingnya dimakan oleh serigala,” kata Ibnu Umar.

    Jawaban si penggembala cukup mencengangkan. Ia sama sekali tidak tergoda oleh rayuan Ibnu Umar.

    “Namun, di mana Allah berada?” jawab penggembala dengan tegas meyakinkan Ibnu Umar bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya.

    Tak lama kemudian, penggembala itu melanjutkan perjalanannya. Ia meninggalkan Ibnu Umar yang sedang beristirahat bersama kawan-kawannya.

    Setelah kembali ke Madinah, Umar menemui majikan penggembala yang ternyata adalah seorang hamba sahaya. Ibnu Umar lalu membeli kambing-kambingnya.

    Namun, tak hanya itu, Ibnu Umar juga memerdekakan penggembala tersebut dan memberikannya kambing-kambing yang baru saja dibelinya.

    Berkat sebuah kejujuran, si penggembala akhirnya memperoleh kambing yang berlimpah dan mendapatkan kemerdekaan. Seandainya penggembala itu mau menjual kambingnya saat pertama kali bertemu dengan Ibnu Umar, ia mungkin akan tetap menjadi budak dan hanya menerima bayaran seharga satu kambing beserta sepotong daging.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah



    Jakarta

    Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dimaksudkan untuk menyebarluaskan ajaran Islam. Dalam berhijrah, banyak tantangan yang dilalui oleh sang rasul.

    Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 1 yang disusun oleh Moenawar Khalil, ketika di Makkah pun sang nabi berdakwah dan bertabligh selama 10 tahun pada penduduk asli Makkah.

    Mengutip Kisah Nabi Muhammad SAW oleh Ajen Dianawati, setelah berlangsungnya peristiwa Isra Mi’raj dan Nabi SAW kembali ke Makkah, banyak pengikutnya yang tidak mempercayai beliau. Bahkan, banyak yang memilih untuk murtad dan menganggap Rasulullah SAW gila.


    Lain halnya dengan Abu Bakar yang justru percaya dan selalu membenarkan perkataan sang nabi. Kebencian kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW semakin memuncak, mereka tak segan menghentikan sang nabi dengan iming-iming harta.

    Meski begitu, usahanya gagal. Mereka tidak dapat menghentikan Rasulullah SAW dalam mensyiarkan agama Islam.

    Tak kenal lelah menghentikan Nabi Muhammad SAW, kaum kafir Quraisy semakin kejam terhadap beliau dan para pengikutnya. Mereka bahkan tak segan mengusir kaum muslimin dari kota Makkah dengan harapan Rasulullah SAW berubah pikiran.

    Sikap keji kaum kafir Quraisy inilah yang menyebabkan Nabi SAW untuk membawa kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Perjalanan tersebut mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi.

    Anif Sirsaeba dalam bukunya Agar Kekayaan Dilipatkan dan Kemiskinan Dijauhkan juga menceritakan bagaimana kejamnya kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW beserta dengan para pengikutnya.

    Kaum kafir Quraisy juga mengancam akan membunuh dan mencincang hidup-hidup Nabi Muhammad SAW beserta dengan pengikutnya. Tak hanya itu, mereka juga diboikot dalam perniagaan dan perdagangan. Hingga membuat para pengikut Rasulullah SAW mengalami kesulitan dan tidak memiliki apa-apa.

    Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain memasrahkan nasib dan keberlangsungan hidup kepada Allah SWT. Hingga pada akhirnya, Rasulullah SAW melakukan hijrah dari tanah kelahirannya menuju Kota Madinah atas dasar perintah Allah SWT.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 218,

    اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢١٨

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Maka Rasulullah SAW beserta seluruh pengikutnya pun menuruti perintah Allah SWT. Mereka meninggalkan rumah dan kampung halaman serta mengumpulkan sisa-sisa kekayaan yang mereka miliki untuk diinfakkan dalam jalan Allah SWT.

    Ketika mereka benar-benar telah hijrah di jalan-Nya, maka semakin dilimpahkan rezeki kepada mereka. Di Madinah kehidupan dan dakwah mereka semakin membesar bahkan kesuksesan, kemakmuran, keberhasilan, dan kejayaan mereka tersiar hingga ke Makkah.

    Saat di Madinah pun, kedatangan sang rasul dan kaum muslimin disambut baik oleh penduduk Madinah. Dalam buku Kisah Teladan Sepanjang Zaman: Rasullullah dan Para Sahabat karya Syaikh Muhammad Yusuf, orang yang pertama kali melihat kedatangan Rasulullah SAW adalah seorang Yahudi.

    Pada saat itu orang Yahudi tersebut melihat kedatangan mereka dari atap rumahnya, setelah itu ia langsung berteriak keras memanggil penduduk Madinah untuk memberitahukan mengenai kedatangan Rasulullah SAW.

    Penduduk Madinah pun segera keluar dan pergi ke batas kota untuk menyambut kedatangan mereka. Namun, orang-orang belum pernah melihat wujud dari Rasulullah SAW.

    Pada saat itu kaum Anshar langsung mendatangi dan menyalami Abu Bakar RA, karena mereka mengira Abu bakar RA adalah Rasulullah SAW.

    Al Baihaqi telah meriwayatkan dalam Al-Bidayah: 3/197, dari Aisyah RA mengatakan, “Ketika Rasulullah dan Abu Bakar tiba di kota Madinah, saking bahagianya penduduk di sana banyak kaum wanita dan anak-anak membacakan syair:

    “Telah muncul bulan purnama ke atas kami yang datang dari bukit, Tsaniyatil Wada’, wajib bersyukur atas kami dan atas ajakanya kepada Allah.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi dengan Seekor Burung



    Jakarta

    Cerita ini tentang dua sufi terkemuka yang bernama Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi. Saat bertemu di Makkah, Ibrahim bin Adham mampu mengubah pandangan Syaqiq Al-Balkhi tentang konsep perjalanan spiritual.

    Kisah ini tercatat di kitab ‘Uyunul Hikayat karya Imam Ibnu Jauzi. Ia mendapatkan cerita tersebut dari Khalaf bin Buhaim.

    Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham memulai obrolannya pada Syaqiq dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Ia penasaran dengan kisal awal perjalanan spriritual Syaqiq.


    “Bagaimana kisah awal perjalanan spiritualmu?” tanya Ibrahim kepada Syaqiq.

    Syaqiq segera berbagi pengalaman pribadinya kepada Ibrahim. Seekor burunglah yang menjadi titik awal perjalanan spiritualnya.

    Syaqiq menceritakan bahwa suatu hari ia sedang melakukan perjalanan di sebuah gurun. Merasa kelelahan, ia memutuskan untuk beristirahat untuk mengembalikan energi yang telah terkuras oleh teriknya matahari.

    Ketika sedang istirahat, tiba-tiba Syaqiq terkejut karena melihat seekor burung jatuh tak jauh dari tempat ia duduk. Setelah diperhatikan, ternyata sayap burung tersebut patah, sehingga burung itu tak mampu terbang dan mencari makanan.

    “Kita perhatikan dari mana burung ini bisa mendapatkan makanan,” gumam Syaqiq di dalam hati.

    Sambil mendekati, Syaqiq terus memperhatikan burung itu. Ibrahim bin Adham pun fokus mendengarkan kisah Syaqiq Al-Balkhi hingga tak berkomentar.

    Tiba-tiba, kata Syaqiq, datanglah seekor burung sehat dan normal mendekati burung yang sakit dan terjatuh itu. Burung yang sehat ini membawa belalang di paruhnya, kemudian menyodorkan belalang tersebut ke paruh burung yang sayapnya patah.

    Syaqiq terkesima oleh peristiwa tersebut. Ia memuji kekuasaan Allah yang memberikan rezeki kepada burung tak berdaya di tengah gurun.

    Dengan penuh keyakinan, Syaqiq percaya hal yang sama juga bisa terjadi padanya. Sejak saat itu, Syaqiq akhirnya memutuskan diri untuk fokus ibadah dan tidak bekerja.

    Ia percaya bahwa Allah akan tetap memberikan rezeki kepada Syaqiq, seperti yang dialami oleh burung yang sayapnya patah itu.

    “Saya yakin, Allah juga akan memberikan rezeki kepada saya di mana pun saya berada,” ujar Syaqiq.

    Setelah cerita Syaqiq selesai, Ibrahim bin Adham memberikan tanggapan yang membuat Syaqiq tercengang. Ia melontarkan sebuah pertanyaan dan pernyataan yang tidak terpikirkan oleh Syaqiq.

    “Ya Syaqiq, mengapa kamu memilih menjadi seperti burung yang sayapnya patah? Mengapa tidak memilih menjadi burung yang sehat dan memberi makan burung yang sakit itu?” ucap Ibrahim bin Adham.

    Ibrahim kemudian mengeluarkan dalil yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

    “Tidakkah kamu pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang menerima?’” imbuh Ibrahim.

    “Dan bukankah di antara tanda seorang mukmin yang sejati adalah keinginannya untuk mendapatkan salah satu dari dua derajat yang lebih tinggi dalam berbagai hal, sehingga ia mencapai tingkatan Al-Abrar?” lanjutnya.

    Setelah mendengar penjelasan dari Ibrahim bin Adham, Syaqiq Al-Balkhi langsung memegang dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata, “Anda adalah guru kami, wahai Abu Ishaq.”

    Dari kisah ini, dapat diambil hikmah bahwa menempuh perjalanan spiritual tidak selalu berarti meninggalkan aspek kehidupan ekonomi dan sosial. Lebih dari itu, perjalanan spiritual dapat ditingkatkan dengan selalu menyebarkan kebaikan dan terus memberikan manfaat kepada orang lain.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Thalhah bin Ubaidillah Jatuh Cinta pada Istri Rasulullah



    Jakarta

    Salah seorang sahabat Nabi SAW pernah mengalami cinta yang tak semestinya. Adalah Thalhah bin Ubaidillah RA, ia jatuh cinta pada istri Rasulullah SAW.

    Kisah seperti ini termasuk cinta yang terlarang dalam Islam. Apalagi Thalhah bin Ubaidillah RA sampai ingin menikahi istri Rasulullah SAW sepeninggalan beliau.

    Bagaimana kisahnya?


    Diceritakan dalam buku Rumah Tangga Seindah Surga karya Ukasyah Habibu Ahmad, pada saat itu, Thalhah RA menaruh hatinya pada salah satu istri yang paling disayangi dan dicintai oleh Rasulullah SAW, Sayyidah Aisyah RA.

    Syekh Jalaludin As Suyuthi menulis dalam Lubabun Nuqul fi Ashhabin Nuzul, sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Sa’ad yang bersumber dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, ia menceritakan bahwa suatu hari Thalhah datang menemui kepada Aisyah RA.

    Sebagaimana yang diketahui, Aisyah RA masih merupakan saudara Thalhah bin Ubaildillah RA. Ia merupakan saudara sepupu.

    Thalhah bin Ubaidillah RA dan Aisyah RA pun terlibat dalam sebuah perbincangan. Hal ini lalu diketahui oleh suami Aisyah RA, Rasulullah SAW.

    Ketika Nabi Muhammad SAW melihat hal tersebut, beliau memberi isyarat kepada Aisyah RA untuk masuk ke rumah. Beliau lalu berkata kepada Thalhah RA,

    “Jangan engkau mengulangi tindakanmu itu untuk kedua kalinya!”

    Thalhah bin Ubaidillah RA berkata,

    “Wahai Rasulullah, ia adalah anak pamanku. Demi Allah, aku tidak mengucapkan kata-kata yang tidak baik kepadanya. Demikian juga ia tidak juga mengatakan kata-kata yang tidak kepadaku.”

    Rasulullah SAW menjawab pembelaan Thalhah RA itu dengan berkata,

    “Engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang lebih pencemburu dibanding Allah SWT dan, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu dibanding aku.”

    Thalhah RA kemudian pergi dari rumah beliau. Ia berkata di dalam hati,

    “Bagaimana mungkin beliau melarangku berbicara dengan anak perempuan pamanku sendiri. Sungguh, aku akan menikahinya setelah beliau wafat.”

    Rasa cinta Thalhah bin Ubaidillah RA kepada Aisyah RA sebenarnya sudah diketahui oleh Rasulullah SAW. Beliau pun bisa merasa cemburu sebagaimana manusia lainnya.

    Beliau sudah mencoba untuk mengingatkan Thalhah bin Ubaidillah RA perihal hal ini. Namun, Thalhah RA malah mengatakan bahwa ia kelak akan menikahi Aisyah RA jika Rasulullah SAW sudah meninggal.

    Perkataan Thalhah RA ini menyakiti hati Rasulullah SAW. Tidak menutup kemungkinan bahwa kelak Aisyah RA benar-benar menjadi istri Thalhah RA. Mengetahui keduanya masih sangat muda.

    Larangan Allah SWT atas Perbuatan Thalhah bin Ubaidillah

    Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling disayangi dan dicintai Allah SWT. Tentu saja Dia tidak akan membiarkan hal yang menyakiti hati kekasih-Nya itu berlalu begitu saja.

    Terkait hal ini, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 53 yang berbunyi,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ النَّبِيِّ اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ اِلٰى طَعَامٍ غَيْرَ نٰظِرِيْنَ اِنٰىهُ وَلٰكِنْ اِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَاِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوْا وَلَا مُسْتَأْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيٖ مِنْكُمْ ۖوَاللّٰهُ لَا يَسْتَحْيٖ مِنَ الْحَقِّۗ وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍۗ ذٰلِكُمْ اَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّۗ وَمَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَلَآ اَنْ تَنْكِحُوْٓا اَزْوَاجَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖٓ اَبَدًاۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمًا ٥٣

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya) tetapi jika kamu diundang, masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar). Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Kamu tidak boleh menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah Nabi (wafat). Sesungguhnya yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

    Setelah ayat ini turun dan didengar oleh Thalhah RA, ia pun merasa terpukul dan menangis menyesali perbuatannya. Ia kemudian segera bertobat kepada-Nya atas perbuatannya tersebut.

    Ibnu Abbas RA meriwayatkan, “Sebagai bentuk penyesalan dan tobatnya terhadap ucapannya, Thalhah kemudian memerdekakan seorang budak, menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT seberat yang bisa diangkut sepuluh ekor unta, serta menunaikan haji dengan berjalan kaki.”

    Meski menyesal telah berniat menikahi Aisyah RA, cintanya kepada istri Rasulullah SAW itu tidak bisa hilang begitu saja. Ia mewujudkan rasa cinta itu dengan memberi nama salah satu putrinya dengan nama Aisyah pula.

    Putri Thalhah RA itu bernama Aisyah binti Thalhah. Ia adalah anak yang cantik, cerdas, dan cemerlang bagaikan permata. Ia pun juga berguru kepada bibinya, Aisyah RA, yang terkenal sebagai salah satu tabi’in dan periwayat hadits yang terpercaya.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Rasulullah Sempat Talak Hafshah hingga Didatangi Jibril


    Jakarta

    Kesedihan pernah melanda hati Hafshah RA kala itu. Tepatnya saat Rasulullah SAW menjatuhkan talak padanya hingga membuat Malaikat Jibril datang untuk meminta keduanya rujuk.

    Hafshah RA adalah salah satu istri Rasulullah SAW. Ia sangat terkenal karena kedermawanannya dan Malaikat Jibril mengabarkan bahwa ia akan menjadi istri Rasulullah SAW di surga nanti.

    Dikatakan dalam buku Wanita-Wanita Teladan di Zaman Rasulullah karya Desita Ulla R, Hafshah RA adalah putri dari Umar bin Khattab RA. Nama lengkapnya adalah Hafshah binti Umar bin Khattab RA.


    Hafshah RA lahir lima tahun sebelum tahun kenabian dari ibu yang bernama Zainab binti Maz’un bin Wahab, saudara dari Utsman bin Maz’un.

    Hafshah RA meninggal pada bulan Jumadil Awal tahun 45 H. Ia meninggal di usianya yang ke-63 tahun. Namun, sebagian ulama berpendapat Hafshah RA meninggal pada bulan Syakban tahun 41 H di usianya yang ke-60 tahun. Ada juga pendapat yang menyebut Hafshah RA wafat pada 47 H pada era Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

    Kala itu, Hafshah binti Umar bin Khattab RA meninggal di Madinah dan jenazahnya dimakamkan di Baqi’. Ia dimakamkan bersama dengan Ummul Mukminin lainnya.

    Lalu bagaimana kisah pernikahan dan saat Rasulullah sempat talak Hafshah RA?

    Kisah Pernikahan Hafshah RA dengan Rasulullah SAW

    Hafshah binti Umar bin Khattab RA sebelumnya adalah istri dari Sayidina Khunais bin Khuzafah As Sahmi. Kala itu keduanya menikah di Makkah dan menjadi keluarga yang harmonis dan taat kepada Allah SWT beserta Rasul-Nya.

    Khunais bin As Sahmi sendiri termasuk dalam salah satu golongan sahabat yang pertama masuk Islam. Ia dan istrinya, Hafshah RA, juga turut ikut hijrah ke Madinah imbas kekejaman dari para kafir Quraisy.

    Khunais RA juga merupakan sahabat Rasulullah SAW yang ikut berjihad dalam Perang Uhud dan Perang Badar. Saat itu pula dirinya gugur dalam salah satu pertempuran dan meninggalkan istrinya.

    Umar bin Khattab RA juga merasakan kesedihan atas kepergian menantunya. Ia pun berusaha mencarikan suami untuk putrinya. Umar RA pun menawarkan kepada Abu Bakar RA dan Utsman bin Affan RA, namun keduanya menolak tawaran tersebut.

    Umar RA pun sangat kecewa dan pergi mengadu kepada Rasulullah SAW. Beliau pun menjawab aduan Umar RA dengan berkata, “Hafshah akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Utsman. Sedangkan Utsman akan menikah dengan yang lebih baik dari Hafshah.” (HR Bukhari)

    Tak disangka-sangka, yang menikahi Hafshah RA setelah kepergian Khunais RA adalah Rasulullah SAW sendiri. Hafshah RA menjadi Ummul Mukminin pada tahun ketiga Hijriah.

    Saat Rasulullah SAW Talak Hafshah

    Istri Rasulullah SAW, Hafshah binti Umar bin Khattab RA adalah seorang perempuan yang sangat suka menyedekahkan hartanya, sehingga ia dikenal sebagai orang yang dermawan.

    Hafshah RA juga banyak menyerap ilmu dari Rasulullah SAW, sehingga membuat dirinya sebagai seorang murid yang cerdas dan memiliki peran besar dalam menyebarkan hukum Islam, terutama setelah wafatnya Rasulullah SAW.

    Selebihnya, Hafshah RA juga merupakan seorang ahli ibadah yang selalu melakukan zuhud terhadap perkara duniawi. Ketika malam ia jarang tidur dan lebih memilih melakukan melakukan ibadah malam, sedangkan siangnya ia habiskan untuk berpuasa.

    Namun, Hafshah pernah merasakan kesedihan yang sangat mendalam untuk kedua kalinya. Yaitu saat Rasulullah SAW menalaknya atau menceraikannya.

    Diceritakan dalam buku Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber yang Otentik karya Mahdi Rizqullah Ahmad, sebuah riwayat menuturkan, Rasulullah SAW pernah menalak Hafshah RA sekali.

    Pada saat itu, Umar RA masuk ke bilik Hafshah dan menemukan putrinya sedang menangis. Umar RA lalu bertanya kepada Hafshah RA,

    “Apa yang membuatmu menangis? Apakah karena Rasulullah telah menceraikanmu? Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah memang telah menceraikanmu, tetapi sekarang sudah merujukmu kembali demi aku. Demi Allah, seandainya beliau menjatuhkan talak kepadamu lagi, aku tidak akan berbicara sepatah kata pun kepadamu selamanya!”

    Sumber sebelumnya menyebutkan malaikat Jibril bahkan sampai datang kepada Rasulullah SAW untuk menyelesaikan perkara ini. Maka, malaikat Jibril berkata,

    “Allah SWT memerintahkan agar engkau merujuk Hafshah, karena ia orang yang ahli puasa dan salat malam. Serta untuk menjaga perasaan Umar.”

    Jibril berkata, “Dia (Hafshah) adalah seorang ahli puasa dan salat. Dia adalah istrimu di surga.” (HR Abu Daud)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com