Tag: kisah

  • Kisah Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan



    Jakarta

    Ali bin Thalib adalah salah satu sahabat yang juga merupakan sepupu Rasulullah SAW. Nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutalib bin Hasyim bin Abdul Manaf.

    Ali menjabat sebagai khalifah menggantikan Utsman bin Affan. Masa kekhalifahannya tidak lama karena hanya berjalan selama 5 tahun sebelum ia wafat.

    Menukil Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh Dr H Murodi MA, setelah Utsman bin Affan meninggal kaum muslimin merasa bingung seakan-akan kehilangan tokoh yang akan menggantikan beliau. Pada situasi itu, Abdullah bin Saba yang merupakan seorang pemimpin di Mesir mengusulkan agar Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah.


    Usulan tersebut lantas disetujui oleh mayoritas masyarakat muslim kecuali mereka yang berada di sisi Muawiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib mulanya menolak usulan tersebut dan tidak ingin menerima jabatan karena situasinya kurang tepat. Kala itu banyak terjadi kerusuhan di berbagai tempat.

    Menurutnya, situasi demikian harus diatasi terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah kepemimpinan. Namun, para pengikutnya kian mendesak Ali bin Abi Thalib sehingga ia menerima tawaran tersebut dan menjabat sebagai khalifah pada 23 Juni 656 M.

    Sejak saat itu, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah menggantikan kedudukan Utsman bin Affan. Dijelaskan dalam buku Parlemen di Negara Islam Modern oleh Prof Dr Ali Muhammad Ash Shallabi, pada dasarnya pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dilakukan oleh mayoritas masyarakat dan sebagian besar dari mereka memilih secara langsung .

    Masyarakat umum dan anggota dewan perwakilan berpartisipasi bersama-sama dalam pembaiatan tersebut. Alasannya karena Ali bin Abi Thalib menolak pembaiatan kecuali dilaksanakan di masjid secara terbuka dan di hadapan semua orang.

    Saat masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ia meneruskan cita-cita Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Selain itu, ia juga mengembalikan semua kekayaan yang diperoleh para pejabat melalui cara-cara yang tidak baik ke dalam perbendaharaan negara atau Baitul Mal.

    Kemudian, Ali bin Abi Thalib juga bertekad mengganti semua gubernur yang ia anggap tidak mampu memimpin dan tidak disenangi masyarakat. Ia mencopot jabatan gubernur Basrah dari tangan Abu Bakar bin Muhammad bin Amr dan digantikan oleh Utsman bin Hanif.

    Mengutip buku Sejarah Peradaban Islam karya Akhmad Saufi dan Hasmi Fadhilah, Ali bin Abi Thalib merupakan sosok pemimpin yang berakhlak baik. Ia sering berkeliling hanya untuk menantikan siapa saja yang menghampirinya untuk meminta bantuan atau bertanya.

    Suatu ketika, pada siang yang terik Ali tiba di pasar. Sang khalifah mengenakan dua lapis pakaian, gamis sebatas betis, sorban melilit tubuhnya, dan bertumpu pada sebatang tongkatnya. Ali berjalan menyusuri pasar untuk berdakwah, mengingatkan manusia agar senantiasa bertakwa pada Allah SWT dan melakukan transaksi jual beli dengan baik.

    Dirinya memiliki kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri. Umumnya ia menasehati orang yang tersesat, menunjukkan arah pada orang yang kehilangan, menolong orang yang lemah, serta menasehati para pedagang dan penjual sayur.

    Meski masa kepemimpinannya sebagai khalifah cukup singkat, ada sejumlah prestasi yang Ali capai. Salah satunya ialah memajukan bidang ilmu bahasa.

    Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu nahwu, yaitu ilmu yang mempelajari tata bahasa Arab. Keberadaan ilmu nahwu diharapkan dapat membantu orang-orang non-Arab dalam mempelajari sumber utama agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadits.

    Pada bidang pembangunan Ali juga berhasil membangun Kota Kuffah secara khusus. Mulanya, kota tersebut disiapkan sebagai pusat pertahanan oleh Mu’awiyah bin Abi Sofyan, namun pada akhirnya Kota Kuffah berkembang sebagai pusat ilmu tafsir, hadits, nahwu, dan ilmu pengetahuan lainnya.

    Ali bin Abi Thalib wafat pada Jumat, 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Ia meninggalkan 33 anak yang terdiri atas 15 laki-laki dan 18 perempuan. Penyebab kematiannya ialah ditikam ketika hendak salat Subuh.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel


    Jakarta

    Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II selalu identik dengan kisahnya yang menaklukan Konstantinopel. Beliau merupakan anak dari Sultan Murad II yaitu khalifah sebelum Muhammad Al-Fatih.

    Dikatakan ketika sedang menunggu proses kelahiran putranya, Sultan Murad II menenangkan dirinya dengan membaca Al-Qur’an dan lahir anaknya saat bacaan sampai di surat Al-Fath, surat yang berisikan janji-janji Allah akan kemenangan kaum muslim.

    Merujuk buku yang berjudul Muhammad Al-Fatih karya Abdul Latip Talib, beliau dilahirkan oleh permaisuri Aishah, istri Sultan Murad II pada 27 Rajab 835 H bertepatan dengan tanggal 29 Maret 1432 M di Adrianapolis, yang sekarang lebih dikenal dengan kota Edirne (perbatasan Turki – Bulgaria), setelah 8 tahun pengepungan kota Konstantinopel oleh ayahnya.


    Syaikh Ramzi Al-Munyawi dalam bukunya Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel mengatakan, Muhammad Al-Fatih diberi gelar sebagai khalifah atau sultan pada saat usianya 19 tahun. Beliau menjadi sultan ketujuh dari silsilah para sultan Dinasti Utsmani.

    Sejarah Singkat Muhammad Al-Fatih

    Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi gubernur Amasya saat umurnya baru menginjak 6 tahun. Setelah dua tahun memimpin Amasya, Muhammad Al-Fatih dipindah tugaskan ke Manisa oleh ayahnya.

    Mengutip buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Y. Siauw, saat di Manisa, Muhammad Al-Fatih dikelilingi oleh ulama-ulama terbaik pada zamannya dan mempelajari berbagai disiplin ilmu. Baik itu yang berkaitan dengan Al-Qur’an maupun ilmu-ilmu lainnya seperti tsafaqah Islam, ilmu fiqh, bahasa, astronomi, matematika, kimia, fisika, serta teknik perang dan militer.

    Sultan Murad II mengetahui jika anaknya memiliki sifat yang keras. Tetapi beliau menganggap bahwa sifat yang dimiliki anaknya bisa menjadi modal utama dalam belajar dan menjadi pemimpin.

    Guru Muhammad Al-Fatih yang pertama adalah Syaikh Ahmad Al-Kurani. Di bawah bimbingan beliau, Muhammad Al-Fatih mulai menghafal Al-Qur’an dan mempelajari etika belajar pada usia 8 tahun.

    Saat belajar, Syaikh Ahmad Al-Kurani tidak berperilaku istimewa dan mencium tangannya, seperti yang dilakukan ulama-ulama lain. Beliau justru tidak segan menegur Muhammad Al-Fatih dengan keras jika melanggar syariah Allah.

    Guru kedua Muhammad Al-Fatih adalah Syaikh Aaq Syamsudin. Berbeda dengan guru pertamanya, Syaikh Aaq Syamsudin adalah ulama yang berpengaruh dalam membentuk mental Muhammad Al-Fatih. Beliau tidak hanya mendidik Muhammad Al-Fatih dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, melainkan juga senantiasa mengingatkannya akan kemuliaan ahlu bisyarah yang akan membebaskan Konstantinopel, ibukota Romawi Timur (Bizantium).

    Syaikh Aaq Syamsudin setiap hari menceritakan kisah perjuangan Rasulullah SAW dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam. Syaikh Aaq Syamsudin senantiasa meyakinkan dan mengulang-ngulang perkataannya kepada Muhammad Al-Fatih bahwa dirinya adalah pemimpin yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW sebagai penakluk Konstantinopel.

    Setelah Sultan Murad II wafat, pemerintahan kerajaan Turki Utsmani dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II. Dirinya berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukan Konstantinopel.

    Usaha penaklukan Konstantinopel pertama dilancarkan pada tahun 44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Kemudian pada zaman khalifah Ummayah, Abbasiyah, zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 190 H, akan tetapi semua mengalami kegagalan.

    Usaha awal umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan mendirikan benteng Bosporus. Benteng ini didirikan umat Islam pada zaman Sultan Mehmed II dan dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel.

    Akhirnya kota Konstantinopel berhasil jatuh di tangan umat Islam pada 29 Mei 1453 M. Setelah memasuki Konstantinopel di sana terdapat gereja Hagia Sophia yang kemudian dijadikan masjid bagi umat Islam.

    Sultan Muhammad Al-Fatih kemudian tutup usia pada saat mempersiapkan untuk menaklukan Roma 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun. Bagi umat Islam, wafatnya Sultan Mehmed II adalah kehilangan yang sangat besar.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Musa Pernah Sakit Gigi, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Nabi Musa Alaihissalam pernah mengalami sakit gigi yang luar biasa. Ia sampai mengeluh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saking tak kuat menahan kesakitan tersebut.

    Mengutip laman Kemenag, Nabi Musa yang merasakan sakit gigi itu memohon doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar sakit giginya segera sembuh. Pada saat itu juga, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menyembuhkan sakit giginya dengan menggunakan tanaman obat.

    “Ambillah rumput itu dan letakkan di gigimu,” perintah Allah kepada Nabi Musa, sebagaimana dikisahkan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nurudh Dholam.


    Setelah menerima petunjuk dari Allah, Nabi Musa melaksanakan perintah-Nya dengan memetik tanaman obat dan meletakkannya di giginya yang sedang bermasalah. Pada saat itu juga, sakit giginya segera sembuh berkat penggunaan tanaman obat sebagai wasilah.

    Beberapa waktu setelahnya, Nabi Musa mengalami kekambuhan sakit gigi. Tanpa mengeluh atau berdoa kepada Allah seperti sebelumnya, ia langsung memetik tanaman obat dan meletakkannya di gigi yang sakit.

    Tindakan tersebut dilakukan oleh Nabi Musa dengan keyakinan bahwa tanaman obat sebelumnya telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan sakit gigi.

    Namun sayang, usahanya tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, sakit gigi Nabi Musa justru semakin parah.

    Dalam buku Genius Dari Syurga karya Ainizal Abdul Latif, Nabi Musa bertanya kepada malaikat mengapa sakit giginya tak hilang meskipun sudah banyak daun yang dikunyahnya. Malaikat mengatakan bahwa dulu ia meletakkan seluruh kepercayaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tapi kali ini Nabi Musa meletakkan kepercayaannya kepada daun.

    Di tengah keadaan tersebut, Nabi Musa segera mencurahkan keluhannya dan berdoa kembali kepada Allah. Kemudian Allah berfirman:

    “Ya Musa, Aku adalah Dzat yang memberi kesembuhan, Dzat yang memberikan kesehatan, Dzat yang memberikan bahaya, Dzat yang memberikan manfaat. Pada sakit pertama kamu datang menghadap kepada-Ku maka Aku hilangkan penyakitmu. Kali ini, kamu tidak datang kepada-Ku tapi kamu datang kepada tanaman obat itu.”

    Dari kisah ini, setidaknya dapat diambil dua hikmah. Pertama, Allah memiliki sifat Jaiz yang memberikan-Nya kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

    Allah dapat meningkatkan atau menurunkan derajat seseorang sesuai kebijakan-Nya. Selain itu, Allah juga memiliki kuasa untuk menimpakan penyakit atau memberikan kesembuhan kepada siapa pun sesuai dengan kehendak-Nya.

    Kedua, Allah adalah pemilik segala yang ada di langit dan bumi, termasuk kesehatan dan kesembuhan. Oleh karena itu, tindakan yang perlu dilakukan oleh umat Islam ketika sakit adalah memohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah melalui doa.

    Selain itu, mereka diwajibkan untuk tetap melakukan usaha nyata seperti penggunaan obat dan berbagai bentuk pengobatan, sambil meyakini bahwa hal tersebut hanya sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai kesehatan dan kesembuhan.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Asiyah binti Muzahim, Istri Fir’aun Wanita Mulia Penghuni Surga


    Jakarta

    Asiyah binti Muzahim atau Asiyah adalah istri Fir’aun pada zaman Nabi Musa AS dan dipandang menjadi salah satu perempuan mulia dalam sejarah Islam. Dalam Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab dikatakan, jika Asiyah adalah seorang Bani Israil.

    Asiyah merupakan wanita yang beriman dan tidak menyembah Fir’aun. Oleh karenanya, dia adalah salah satu dari keempat wanita penghuni surga yang paling utama.

    Dari Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas r.a mengatakan:


    سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ

    “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.”

    Asiyah Menjadi Istri Fir’aun

    Fir’aun adalah sosok raja Mesir yang kejam dan angkuh. Saat menjabat jadi raja, Fir’aun membedakan dua suku yang ada pada zaman itu, yakni Qibthi dan Bani Israil.

    Suku Qibthi adalah pembela raja, maka mereka memiliki kebebasan dan memiliki apapun yang dikehendaki karena mereka membela raja. Sedangkan Bani Israil, para lelaki dijadikan budak dan perempuan sebagai pemuas nafsunya.

    Merujuk buku Siti Asiyah karya Syukur Yanuardi, suatu hari kecantikan Asiyah dan beberapa kelebihannya sampai ke telinga Fir’aun. Ia tertarik untuk melamar Asiyah dan mengutus seorang menteri.

    Ternyata lamaran itu ditolak oleh Asiyah dan keluarganya. Mendengar lamarannya ditolak, Fir’aun sangat murka kemudian menyuruh tentaranya untuk menangkap kedua orang tua Asiyah dan mengancam akan membakar mereka berdua jika Asiyah tidak mau menerima lamaran Fir’aun.

    Karena tidak mau melihat orang tuanya disiksa, akhirnya Asiyah mau menerima lamaran Fir’aun tapi dengan beberapa syarat. Salah satu syaratnya adalah Asiyah akan menghadiri acara-acara Fir’aun tetapi tidak tidur bersama Fir’aun. Fir’aun pun setuju dan mereka berdua akhirnya menikah.

    Asiyah Disiksa Fir’aun

    Mengutip buku Wanita-Wanita Hebat Pengukir Surga oleh Ibrahim Mahmud Abdul Radi, ketika mendengar mukjizat kenabian Nabi Musa, Asiyah langsung beriman kepada ajaran Nabi Musa dan Asiyah menjadi perempuan pertama yang beriman dan mengikuti ajarannya. Saat mengetahui istrinya beriman kepada Allah SWT, Fir’aun pun menyiksa Asiyah dan memaksanya meninggalkan keyakinannya itu.

    Kedua tangan Asiyah diikat oleh suaminya sendiri di bawah terik matahari. Namun, siksaan dari Fir’aun justru kian meneguhkan keyakinannya.

    Tatkala Fir’aun dan para pengawalnya meninggalkan Asiyah sendiri di bawah terik matahari, malaikat datang memberikan naungan karena doa yang telah ia panjatkan. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat At-Tahrim ayat 11:

    وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا امۡرَاَتَ فِرۡعَوۡنَۘ اِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ابۡنِ لِىۡ عِنۡدَكَ بَيۡتًا فِى الۡجَـنَّةِ وَنَجِّنِىۡ مِنۡ فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِىۡ مِنَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَۙ

    Artinya: Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim,”

    Setelah itu Fir’aun meminta pengawalnya untuk mengawasi Asiyah. Namun, saat para pengawal Fir’aun datang ke Padang pasir, tempat Asiyah diikat di bawah terik matahari, mereka melihatnya tengah memandang langit.

    Saat itu Asiyah tengah memandang rumah yang telah dibangun untuknya di dalam surga. Dan dia tetap teguh pada ucapan serta keyakinannya hingga ajal menjemputnya.

    Sungguh Asiyah adalah sosok wanita yang teguh memegang keyakinannya kepada Allah SWT, meskipun ia harus menerima siksaan dari suaminya sendiri. Dia adalah pribadi wanita tangguh dan memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi ujian dan siksaan fisik lainnya.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengemis Buta Yahudi yang Rindukan Rasulullah SAW



    Jakarta

    Rasulullah SAW terkenal dengan pribadinya yang ramah dan akhlaknya yang mulia. Hal ini bahkan dibuktikan dari sebuah kisah mengenai sang rasul dengan pengemis buta.

    Mengutip buku Jubah Kanjeng Nabi: Kisah Menakjubkan Para Ulama yang Berjumpa Nabi oleh A Yusrianto Elga dan Nor Fadhilah, dahulu ada seorang pengemis buta di sudut pasar Madinah. Pengemis Yahudi tersebut kerap kali mengatakan hal-hal buruk mengenai Rasulullah SAW.

    Dirinya bahkan merasa jijik sekaligus muak jika mendengar nama Nabi Muhammad SAW. Sampai-sampai, pengemis buta itu menuduh sang rasul sebagai tukang sihir dan pembohong besar.


    Mendengar dan menyaksikan hal itu, Rasulullah SAW sama sekali tidak benci kepada si pengemis. Beliau malah meluangkan waktu untuk menyuapi makanan kepada pengemis buta itu.

    Si pengemis sama sekali tidak tahu bahwa yang menyuapinya ialah Nabi Muhammad SAW. Setiap hari, sang rasul melakukan kebiasaan itu.

    Usai wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi yang menyuapi makanan kepada di pengemis. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq baru menggantikannya bebetapa waktu setelahnya berkat informasi dari istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah RA.

    Si pengemis lalu bertanya setelah Abu Bakar sampai di sana,

    “Siapa engkau?”

    Abu Bakar lalu menjawab, “Aku orang yang biasa,”

    Pengemis itu tidak percaya, ia lalu membalas perkataan Abu Bakar.

    “Apabila orang yang biasa mendatangiku datang, ia selalu menyuapiku. Ia juga menghaluskan makanan tersebut dan barulah diberikan kepadaku,” ujarnya.

    Ucapan si pengemis membuat Abu Bakar tersedu seraya berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku merupakan salah satu sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia merupakan Nabi Muhammad, Rasulullah SAW,”

    Pengemis buta yang mendengar Abu bakar langsung menangis, dirinya tak menyangka bahwa orang yang selama ini ia hina dan caci maki ternyata adalah orang yang menyuapinya makanan setiap hari.

    “Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan tiap pagi, ia begitu mulia,” kata pengemis tersebut.

    Setelah kejadian itu, pengemis buta tersebut lalu masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat di depan Abu Bakar.

    Kisah tersebut menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW selalu bersikap ramah, meski dengan orang yang menentangnya. Dia tidak dendam, marah, apalagi membenci. Sebaliknya, Nabi Muhammad SAW malah menyayanginya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kezaliman Firaun terhadap Bani Israil Demi Kekuasaan



    Jakarta

    Firaun zaman Nabi Musa AS terkenal sebagai raja yang sangat biadab dan kejam kepada rakyatnya, terutama kepada Bani Israil. Lantas, apa saja kezaliman Firaun terhadap Bani Israil?

    Kisah kekejaman Firaun terhadap Bani Israil diceritakan dalam Al-Qur’an. Di antaranya dalam surah Al Qashash, surah Al Baqarah, dan surah Taha. Ada juga sejumlah riwayat yang membahas kekejaman Firaun terhadap Bani Israil.

    Ulama tafsir dan sejarawan Imam Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa memaparkan sejumlah ayat Al-Qur’an dan riwayat yang menjelaskan kekejaman Firaun terhadap Bani Israil. Berikut di antaranya.


    Kezaliman Firaun terhadap Bani Israil

    Bani Israil pada awalnya merupakan bagian dari kelompok masyarakat terbaik di Mesir. Namun sayangnya, mereka dipimpin oleh seorang raja yang zalim, durhaka, melampaui batas, dan kafir.

    Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam surah Al-Qashash ayat 4 yang berbunyi,

    اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ٤

    Artinya: Sesungguhnya Firʻaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Firʻaun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, maksud kekejaman Firaun dalam ayat tersebut adalah bertindak di luar batas, zalim, dan sewenang-wenang demi menuruti nafsu duniawi. Firaun juga telah menyimpang dari ajaran Tuhan.

    Beberapa kekejaman Firaun sebagaimana diterangkan Ibnu Katsir adalah menjadikan penduduk di negerinya terpecah belah. Ia membeda-bedakan rakyatnya atas dasar strata sosial dan kelompok tertentu.

    Firaun juga terus menindas dan bertindak sewenang-wenang terhadap kelompok yang tidak disukainya, yaitu Bani Israil yang berasal dari keturunan Nabi Ya’qub AS.

    Raja Mesir era Nabi Musa AS tersebut memerintahkan rakyatnya untuk selalu taat dan menyembah dirinya. Bahkan ia juga menuntut para prajuritnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang ada di wilayah kekuasaannya.

    Pada masa itu, kaum Bani Israil memang rajin dan aktif dalam mempelajari kitab yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Dalam kitab itu disebutkan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki keturunan Ibrahim AS yang akan menghancurkan raja Mesir.

    Berita mengenai kelahiran bayi laki-laki Bani Israil yang akan memimpin Mesir sudah menyebar luas di kalangan masyarakat. Sampai suatu saat terdengar oleh Firaun.

    Firaun pun takut kekuasaannya akan hancur, sehingga ia membuat sebuah peraturan biadab yakni membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di bawah kerajaannya.

    Dia membentuk sebuah tim khusus yang ditugaskan untuk mendata semua wanita yang hamil. Sehingga, apabila anak mereka lahir dengan kelamin laki-laki, maka algojo akan langsung merebut dan membunuhnya.

    Namun demikian, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tentu saja takdir-Nya akan tetap terjadi tidak peduli seberapa kuat seorang manusia mencoba menghambat. Dialah Tuhan sesungguhnya, Yang Maha Perkasa.

    Ternyata, anak laki-laki yang diberitakan dalam kitab orang-orang Bani Israil itu benar-benar ada dan selamat hingga ia dewasa. Bahkan, bayi itu dirawat sendiri oleh Firaun layaknya anak kandungnya.

    Ia memakan makanan yang sama, mengenakan pakaian yang sama, dan mengendarai kendaraan yang sama dengan Firaun. Anak laki-laki itu kemudian tumbuh menjadi seorang nabi utusan Allah SWT, Nabi Musa AS.

    Nabi Musa AS, anak angkat Firaun, sendirilah yang kemudian menghancurkan dan menumpas kezalimannya terhadap rakyatnya, terutama kepada Bani Israil.

    Pada akhirnya, raja zalim, kejam, dan melampaui batas ini diazab oleh Allah SWT dengan ditenggelamkan di Laut Merah bersama pengikutnya yang sama sesatnya. Sebagaimana firman Allah SWT,

    وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ٥٠

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).” (QS Al Baqarah: 50)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Hud AS dan Kaum Ad yang Diazab Allah SWT



    Jakarta

    Nabi Hud AS adalah salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui kaum muslimin. Beliau diutus untuk mengajak kaum Ad yang mana merupakan penyembah berhala.

    Kaum Ad diceritakan sebagai kelompok yang musyrik dan ingkar kepada Allah SWT. Mereka bahkan menyembah tiga berhala yang dinamai Shamda, Shamud dan Hira.

    Dikisahkan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, kaum Ad diberikan kekayaan yang melimpah. Hal ini dibuktikan dengan tanah yang subur, sumber-sumber air yang mengalir dari berbagai penjuru dan memudahkan mereka bercocok tanam, hingga tempat tinggal yang dikelilingi kebun bunga.


    Sayangnya, mereka tidak pernah bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan. Tingginya ilmu pengetahuan yang mereka miliki justru membuat mereka tidak percaya akan keberadaan Allah SWT.

    Karenanya, Nabi Hud AS diutus untuk mengajak kaum Ad ke jalan yang benar. Beliau berdakwah tanpa lelah dan menyeru kepada kaum Ad untuk berhenti menyembah berhala yang merupakan warisan nenek moyang mereka.

    Meski demikian, alih-alih mempercayai dakwah Hud AS, kaum Ad justru menuduh sang nabi dengan banyak alasan. Mereka bahkan tak segan melontarkan ejekan hingga hinaan kepada Nabi Hud AS.

    Hud AS lantas meminta Allah SWT untuk menimpakan azab kepada kaum Ad yang enggan beriman kepada-Nya. Sebelum azab itu turun, Nabi Hud AS kembali memperingati kaumnya namun mereka tidak menggubris perkataan Hud AS.

    Tak sampai di situ, kaum Ad bahkan meminta pertolongan dan perlindungan kepada berhala-berhala yang mereka sembah. Azab kaum Ad ditandai dengan adanya kekeringan dan kemarau panjang selama tiga tahun yang membuat menderita, kemudian mereka memohon turunnya hujan.

    Mereka awalnya gembira karena mengira hujan akan turun dengan timbulnya awan hitam yang nantinya membasahi ladang mereka. Hud AS lalu kembali memperingati kalau awan hitam itu bukan awan rahmat, melainkan membawa kehancuran. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman dalam surah Al Ahqaf ayat 24:

    فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

    Artinya: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih..”

    Lalu, ada seorang dari mereka yang menyaksikan azab apa yang terkandung di dalam awan hitam itu. Ia menjerit dan pingsan sesudah melihatnya.

    Kala itu, Allah SWT menimpakan azab kepada kaum Ad selama tujuh malam delapan hari berturut-turut. Peristiwa tersebut berlangsung hingga seluruh kaum Ad yang enggan beriman kepada Allah SWT binasa.

    Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa pusaran angin itu sama sekali tidak terasa bagi Nabi Hud AS dan pengikutnya yang beriman kepada Allah SWT. Angin itu terasa seperti angin segar yang nyaman dan menyentuh kulit.

    Wallahu’alam bishawab.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Daud dan Gunung yang Bertasbih Bersamanya



    Jakarta

    Nabi Daud AS adalah nabi yang dianugerahi Allah SWT dengan suara yang sangat indah dan merdu. Bahkan, ada cerita tentang kisah Nabi Daud dan gunung yang bertasbih. Bagaimanakah kisah tersebut?

    Nabi Daud AS adalah utusan Allah SWT dan khalifah-Nya di wilayah Baitul Maqdis. Nama lengkapnya adalah Daud bin Aisya bin Uwaid bin Abir bin Salmun bin Nahsyun bin Uwainadzib bin Iram bin Hashrun bin Farshun bin Yahudza bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil.

    Ibnu Katsir menceritakan hal ini dalam bukunya yang berjudul Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi Sejak Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Isa Alaihissalam.


    Sejak kecil, Nabi Daud AS sudah dikaruniai banyak hal oleh Allah SWT. Kehebatannya terlihat dari keberhasilannya mengalahkan Jalut. Selain itu, ia juga dikaruniai Allah SWT suara yang sangat merdu.

    Berkaitan dengan suaranya yang sangat indah, ada sebuah cerita yang sangat terkenal, di mana ada kisah Nabi Daud dan gunung yang bertasbih.

    Bagaimanakah kisah tersebut? Berikut ulasannya!

    Kisah Nabi Daud dan Gunung yang Bertasbih

    Allah SWT berfirman dalam surah Saba ayat 10 yang berbunyi,

    ۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضْلًاۗ يٰجِبَالُ اَوِّبِيْ مَعَهٗ وَالطَّيْرَ ۚوَاَلَنَّا لَهُ الْحَدِيْدَۙ ١٠

    Artinya: Sungguh, benar-benar telah Kami anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang kali bersama Daud!” Kami telah melunakkan besi untuknya.

    Kemudian, Allah SWT juga berfirman dalam ayat selanjutnya, yakni surah Saba ayat 18 yang berbunyi,

    وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَّقَدَّرْنَا فِيْهَا السَّيْرَۗ سِيْرُوْا فِيْهَا لَيَالِيَ وَاَيَّامًا اٰمِنِيْنَ ١٨

    Artinya: Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman.)

    Ibnu Abbas, Mujahid, dan beberapa ulama lainnya berkomentar mengenai ayat ini. Gunung-gunung ikut bertasbih kepada Allah SWT sebab Dia telah menganugerahkan suara yang sangat merdu kepada Nabi Daud AS, suatu karunia yang tidak diberikan kepada siapa pun.

    Oleh karena itu, ketika Nabi Daud AS membaca kitab Zabur, burung-burung yang terbang di angkasa mendarat untuk mendengar lantunan suaranya, gunung-gunung ikut bertasbih bersamanya di waktu pagi dan sore hari.

    Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mendengarkan kemerduan suara Nabi Daud AS, melainkan ia akan berjalan dengan sebelah kakinya seperti berdansa.

    Manusia dan segala jenis hewan akan rela berhenti untuk mendengarkan kemerduan suaranya. Bahkan ada dari hewan-hewan itu mati kelaparan dan sungai pun berhenti mengalir.

    Ibnu Juraij pernah bertanya kepada Atha’ tentang membaca kitab suci dengan dilagukan. Kemudian, ia menjawab,

    “Hal itu tidak mengapa. Aku pernah mendengar Ubaid bin Umar berkata: Dulu Daud AS pernah mengambil rebana dan menabuhnya. Lalu beliau membaca kitab suci. Beliau mengulang-ulang suaranya. Beliau sengaja melakukan hal itu agar beliau bisa menangis. begitu juga yang mendengarkannya.”

    Di samping memiliki suara yang amat merdu dan indah, Nabi Daud AS juga sangat cepat dalam membaca kitab Zabur. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

    “Daud sangat lincah dalam membaca (kitab). Beliau pernah memerintahkan seseorang memasang pelana kudanya sementara beliau sendiri membaca kitab. Sebelum pelana kuda itu selesai dipasang, beliau lebih dulu selesai membaca Al-Qur’an (kitab)-nya. Beliau juga tidak makan, kecuali dari hasil kerjanya sendiri.” (HR Bukhari dan Ahmad)

    Mengenai anugerah suara yang sangat indah milik Nabi Daud AS, salah seorang sahabat Rasulullah SAW ternyata juga memiliki suara yang mirip dengan milik Daud AS.

    Diriwayatkan oleh Ahmad, bahwasanya Aisyah RA pernah berkata, “Rasulullah SAW pernah mendengar suara Abu Musa Al Asy’ari ketika ia sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian beliau bersabda,

    “Abu Musa Al Asy’ari dianugerahi keindahan suara dari seruling kepunyaan Daud.” (HR Ahmad)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Cinta Salman Al Farisi RA, Merelakan Pujaan Hati Demi Sahabat Sejati



    Jakarta

    Kisah cinta Salman Al Farisi RA menunjukkan perilaku ikhlas itu tidak terbatas apa pun. Keikhlasan ini dibuktikan dengan kerelaan dirinya melihat sang pujaan hati menikah dengan sahabat sejatinya. Berikut cerita selengkapnya.

    Siapa yang tidak kenal dengan Salman Al Farisi RA. Seorang sahabat Rasulullah SAW yang sangat cerdas dan berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy dengan idenya membangun parit di sekeliling kota Madinah saat Perang Khandaq.

    Ada sebuah kisah yang menarik dari Salman Al Farisi RA yang menyangkut dengan hati dan cintanya terhadap seorang perempuan salihah. Dari cerita ini, banyak hikmah yang bisa diambil, salah satunya adalah perilaku ikhlas yang amat besar.


    Kisah Cinta Salman Al Farisi RA

    Dikisahkan dalam buku Cinta di Sujud Terkahir karya Cinta Mulia, Salman Al Farisi RA pernah jatuh cinta pada seorang muslimah Anshar dari Madinah. Ia kemudian membulatkan tekadnya untuk melamar wanita tersebut.

    Masalah pun muncul saat ia hendak melamar wanita itu. Salman Al Farisi RA merasa ia belum mengetahui bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah dan bagaimana tradisi Anshar dalam mengkhitbah wanita.

    Salman Al Farisi RA kemudian mendatangi sahabat yang merupakan penduduk asli Madinah, yaitu Abu Darda RA. Ia meminta tolong untuk ditemani ketika proses khitbah wanita yang ia dambakan itu.

    Mendengar pengakuan dari Salman Al Farisi RA yang hendak melamar wanita ini, Abu Darda RA pun sangat senang dan bahkan memeluknya sebagai bentuk dukungan.

    Tak ada perasaan ragu dalam diri seorang Abu Darda RA. Ia merasa, inilah saatnya untuk membantu saudara seimannya, sahabat sejatinya.

    Beberapa hari kemudian, Abu Darda RA mempersiapkan segala kebutuhan untuk lamaran tersebut. Salman Al Farisi RA pun mendatangi rumah sang pujaan hati ditemani sahabatnya itu.

    Selama perjalanan tidak ada perasaan lain melainkan kebahagiaan memenuhi hati keduanya. Setibanya rumah wanita tadi, keduanya disambut dengan baik oleh orang tua sang pujaan hati Salman Al Farisi RA.

    Di sinilah misi Abu Darda RA sebagai sahabat mulai dilancarkan. Ia memperkenalkan dirinya dan Salman Al Farisi RA dengan sangat baik dan tujuan mereka berkunjung.

    Tak lupa, ia pun menyinggung kedekatan Salman RA dengan Rasulullah SAW untuk dapat mendapatkan hati calon mertuanya.

    Mendengar itu semua, kedua orang tua wanita tadi merasa sangat terhormat. Ia senang dan langsung menanyakan hal ini kepada putrinya karena keputusan ada di tangan dirinya.

    Ternyata, sang putri sudah mendengar percakapan antara ayah dengan dua sahabat Rasulullah SAW itu. Ia pun segera memberikan jawabannya kepada ibunya untuk kemudian disampaikan kepada Salman Al Farisi RA dan Abu Darda RA.

    Jantung Salman Al Farisi RA pun sangat berdebar menunggu jawaban wanita idamannya itu. Dari balik hijab, terdengar suara sang ibu dari putri itu berkata,

    “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” kalimat ini membuat Salman Al Farisi RA dan Abu Darda RA berdebar menanti jawaban.

    “Namun karena kalian berdualah yang datang dan mengharap rida Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda RA juga memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi RA.”

    Jawaban ini sangat mengejutkan baik untuk Salman Al Farisi RA dan Abu Darda RA. Niat hati ingin membantu sahabatnya untuk menggapai pujaan hatinya, yang terjadi malah cinta itu bertepuk sebelah tangan. Lebih mengejutkan lagi, bahwa yang disukai wanita itu adalah dirinya sendiri.

    Bukannya bersedih, marah, atau mencela sahabatnya sendiri, Salman Al Farisi RA adalah pria yang saleh, taat dan mulia. Oleh karena itu ia dengan segala ketegaran hati dan keikhlasannya malah berseru,

    “Allahuakbar!”

    Salman Al Farisi RA justru sangat senang dengan jawaban wanita itu. Ia bahkan menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya.

    Tanpa perasaan hati yang sakit, ia dengan ikhlas memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. Bahkan, mahar dan nafkah yang telah dipersiapkannya diberikan kepada Abu Darda RA.

    Bahkan, Salman Al Farisi RA jugalah yang menjadi saksi pernikahan sahabatnya dan wanita tersebut.

    Begitu besar hati Salman Al Farisi RA bersamaan dengan sifat ikhlas dan tabah dalam menerima takdir dari Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Shuhaib bin Sinan, Sahabat Nabi yang Dermawan tapi Kaya Raya



    Jakarta

    Islam adalah agama yang berperan besar dalam mengubah dunia dari jaman jahiliyah menuju jaman yang terang benderang. Berbagai tokoh Islam juga memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran agama Islam.

    Di antara tokoh Islam tersebut adalah para Nabi utusan Allah SWT hingga para sahabat Nabi SAW. Salah satu sahabat Nabi yang berperan menyebarkan Islam adalah Shuhaib bin Sinan.

    Shuhaib bin Sinan adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang selalu untung. Berikut kisahnya.


    Biografi Shuhaib bin Sinan

    Merujuk pada buku Ensiklopedia Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, Shuhaib bin Sinan merupakan putra Sinan bin Malik dan Salma binti Qa’id. Orang tua Shuhaib adalah orang Arab tulen.

    Ketika kecil, Shuhaib bin Sinan dipanggil al-Rumi karena ia pernah ditawan oleh Bangsa Romawi. Sedangkan Rasulullah SAW memanggilnya Abu Yahya.

    Shuhaib merupakan seorang anak yang sangat dicintai dan disayangi orang tuanya. Keluarga mereka hidup damai di dekat Sungai Efrat.

    Kisah Shuhaib bin Sinan, Sahabat Nabi yang Selalu Untung

    Dirangkum dari buku Rijal Haula Ar-Rasul oleh Khalid Muhammad Khalid, bahwa pada suatu ketika, negeri yang menjadi tempat tinggal Shuhaib diserang oleh Romawi. Tak hanya menyerang, Romawi juga menawan sejumlah penduduk untuk dijual belikan sebagai budak, termasuk Shuhaib bin Sinan.

    Shuhaib bin Sinan adalah anak yang cerdas, rajin, dan jujur. Atas dasar itulah, majikannya tertarik dan memerdekakan Shuhaib bin Sinan. Majikannya juga memberinya kesempatan untuk berniaga bersamanya.

    Suatu ketika, Shuhaib bin Sinan dan Ammar bin Yasir pergi ke rumah Arqam. Mereka menuju ke sana dengan penuh keberanian dalam menghadapi bahaya.

    Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Pernah diceritakan keadaan yang membuktikan besarnya rasa tanggung jawabnya sebagai seorang muslim yang telah bai’at kepada Rasulullah SAW dan bernaung di bawah panji-panji Islam.

    Shuhaib bin Sinan menjadi pribadi yang keras, ulet, zuhud tak kenal lelah, hingga dengan bekal tersebut ia berhasil mengatasi berbagai peristiwa dan menjinakkan marabahaya. Ia selalu menghadapinya dengan keberanian yang luar biasa. Shuaib tak pantang mundur dari segala pertempuran dan bahaya.

    Ketika Rasulullah SAW hendak hijrah, kafir Quraisy mencegahnya. Shuhai terjebak dan terhalang untuk hijrah, sedangkan Rasulullah SAW dan sahabatnya berhasil lolos atas barkah Allah SWT.

    Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan cara bersilat lidah. Hingga ketika mereka lengah, Shuhaib naik ke punggung untanya dan melarikan diri menuju Sahara. Mengetahui hal itu, Quraisy menyusulnya dan usaha mereka hampir berhasil.

    Shuhaib kemudian menawar Quraisy yang hendak menangkapnya dengan menunjukkan tempat penyimpanan harta bendanya dengan syarat Quraisy harus membebaskannya. Quraisy pun menerima tawaran itu.

    Setelah menunjukkan tempat hartanya disimpan, Quraisy membiarkan Shuhaib hijrah hingga berhasil menyusul Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk dikelilingi beberapa sahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya.

    Rasulullah SAW yang melihatnya berseru dengan gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya! Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”

    Kemudian turunlah surah Al Baqarah ayat 207,

    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ ٢٠٧

    Artinya: “Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba(-Nya).”

    Memang, Shuhaib menebus dirinya yang beriman itu dengan segala harta kekayaannya. Shuhaib tidak merasa rugi sedikit pun karena hartanya tidak begitu berarti baginya.

    Di samping keshalihan dan ketaqwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka. Shuhaib juga merupakan sosok yang pemurah dan dermawan.

    Shuhaib membelanjakan tunjangannya dari Baitul Mal untuk di jalan Allah SWT. Uang itu ia gunakan untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan.

    Ketika Umar bin Khattab RA dipilih sebagai imam salat kaum muslim, beliau memilih enam sahabat untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Khalifah kaum muslimin biasanya menjadi imam dalam salat-salat mereka.

    Saat ruhnya yang suci hendak menghadap Allah SWT, Umar bin Khattab RA kemudian memilih Shuhaib bin Sinan RA sebagai imam kaum muslimin menunggu munculnya khalifah baru. Maka peristiwa ini merupakan kesempurnaan karunia Allah SWT terhadap hamba-Nya yang shalih, Shuahaib bin Sinan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com