Blog

  • 5 Komponen Mobil yang Perlu Dicek Setelah Dipakai Jarak Jauh



    Jakarta

    Momen libur telah usai, bagi detikers yang berpergian keluar kota menggunakan mobil pribadi, maka akhir pekan ini menjadi waktu yang tepat buat mengecek kondisi mobil. Dijelaskan Daihatsu dalam keterangan resminya, ada beberapa komponen mobil yang wajib diperiksa setelah digunakan untuk perjalanan jauh. Ini daftarnya.

    1. Oli

    Kendaraan yang digunakan pada jarak jauh dan waktu yang lebih lama dari biasanya, maka tinggi suhu mesin bisa membuat performa oli menurun dan volumenya berkurang. Pastikan tidak terdapat kebocoran dengan melihat adanya rembesan oli atau tidak.


    2. Kaki-kaki

    Kondisi medan jalan yang bervariasi, memaksa komponen ini bekerja ekstra dalam menopang bodi kendaraan. Pastikan kamu memeriksa kondisi shockabsorber, lower-arm, dan jangan lupa keausan ban beserta tekanan angin.

    3. Rem

    Perjalanan panjang dan macet dalam waktu lama memberikan beban pengereman bekerja lebih keras. Pastikan ketebalan kampas rem masih dalam keadaan baik. Kamu bisa mengganti komponen ini apabila memang sudah mencapai batas maksimal dan jangan lupa untuk mengecek minyak rem sesuai rekomendasi yang telah ditentukan.

    4. Filter Bahan Bakar

    Selama perjalanan mudik, kadang kita terpaksa mengisi bahan bakar tidak sesuai dengan kualitas yang direkomendasikan karena ketersediaan bahan bakar di area itu.
    Pastikan juga mengecek filter bahan bakar, dan dapat menggantinya bila diperlukan untuk mengurangi kotoran yang masuk ke dalam komponen ruang bakar.

    5. Interior dan Filter AC

    Pastikan interior kendaraan bersih dari sisa makanan dan minuman di dalam kabin. Lakukan pembersihan secara menyeluruh mulai dari kabin hingga bagasi agar tidak menyebabkan aroma yang tidak sedap dan terhindar dari masuknya serangga ke dalam kabin. Jangan lupa bersihkan saringan udara AC.

    Selain pemeriksaan manual secara mandiri, kamu juga dapat mempercayakan kendaraan kesayangannya dengan membawa ke bengkel resmi yang dilengkapi fasilitas lengkap serta teknisi profesional agar kondisi mobilnya tetap prima setelah digunakan dalam perjalanan panjang.

    (lua/rgr)



    Sumber : oto.detik.com

  • Belajar dari Kecelakaan Maut Pajero, Ngebut dan Ban Pecah Kombinasi Mematikan



    Jakarta

    Pajero Sport yang dikendarai salah satu caleg DPRD Kabupaten Ogan Ilir mengalami kecelakaan. Caleg DPRD dari PPP itu meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.

    Peristiwa kecelakaan itu terjadi di Tol Palembang-Indralaya (Palindra) di Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan. Dilaporkan detikSumbagsel, sopir Pajero itu tewas usai terpental dan terkapar di badan jalan.

    Mobil diduga melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba mobil mengalami pecah ban belakang. Akhirnya sopir hilang kendali dan mobil tersebut menabrak pembatasan jalan bagian kanan.


    “Diduga mobil itu ngebut dan pecah ban bagian belakang kemudian hilang kendali dan menabrak median masih yang berada di tengah jalan (sisi kanan pengendara),” kata Kanit PJR Ditlantas Polda Sumsel ruas Tol Palindra, Iptu Rudi Suwarman.

    Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan ban pecah memang membuat pengendara sulit mengendalikan laju mobil. Apalagi kalau mobil tengah dipacu di kecepatan tinggi.

    “Ban kendaraan pecah dan kendaraan masih bisa dikontrol itu di kecepatan maksimal 60 km/jam. Di atas itu rata-rata berujung kecelakaan,” kata Sony kepada detikOto, Minggu (7/1/2024).

    Bukan tanpa alasan, Sony pernah melakukan simulasi di lingkungan tertutup. Menurutnya, ketika ban mobil pecah di atas 80 km/jam, mobil cenderung sulit dikendalikan.

    “Tahun 1994-2008 saya tugas di Sirkuit Sentul (Sentul Safety Driving). Materi yang berulang-ulang saya praktikkan adalah Tire Blowup (simulasi ban pecah). Itu pun saya tetap nggak bisa kontrol jika simulasi pecah ban dan kecepatan kendaraan di atas 80 km/jam,” sebut Sony.

    Kecelakaan akibat ban pecah juga beberapa kali membuat mobil terguling. Menurut Sony, mobil bisa terguling saat ban pecah karena benturan atau setelah ban pecah rem diinjak sehingga sudut mobil berubah kemudian rem langsung dilepas.

    “Tetapi ada tindakan yang mungkin bisa meminimalisir risiko bahaya. Pertama tahan setir ke arah tujuan. Kedua, lepaskan kaki dari pedal-pedal yang ada di bawah. Kenapa?
    Pedal rem diinjak maka mobil melintir, pedal gas diinjak maka arah mobil liar. Pedal kopling (mobil manual) diinjak maka free wheel (tidak ada perlambatan). Pindah gear ke rendah buang-buang waktu,” jelasnya.

    Sony juga menyoroti kondisi pengemudi yang terlempar keluar dari mobil. Dia meyakini sopir tersebut kemungkinan tidak pakai sabuk pengaman.

    “Kalau dia pakai safety belt, kecil kemungkinan terlempar keluar dari kabin,” sebutnya.

    (rgr/mhg)



    Sumber : oto.detik.com

  • Bukan Hanya Karena Benda Tajam, Kondisi Ini Juga Bisa Bikin Ban Bocor



    Jakarta

    Ban merupakan komponen vital pada sebuah kendaraan. Hal tersebut yang membuat kita perlu menjaga kondisinya dan mempelajari apa saja yang dapat membahayakan performanya. Salah satu kondisi yang berbahaya bagi ban adalah bocor.

    Umumnya ban bocor disebabkan karena terkena objek tajam dan membuat permukaannya bolong. Namun dilansir dari Hyundai Mobil Indonesia, ada hal lain yang perlu diperhatikan dan dianggap dapat membuat ban bocor.

    Pemasangan Tidak Tepat

    Ketika memasang ban baru atau ban serep, penting untuk melakukannya dengan tepat dan presisi. Sebab, menurut Hyundai Mobil Indonesia, pemasangan ban yang tidak tepat berpotensi merusak ban tersebut hingga bocor.


    Tepat yang dimaksud di sini, tak serta-merta dari posisinya, tapi juga dari kondisi bannya. Seluruh bagian dari ban hingga pelek harus dalam kondisi bersih dari kotoran agar tidak memunculkan kemungkinan ban bocor halus di area bibirnya.

    Ban Retak dan Berumur

    Kondisi yang juga dapat membuat ban bocor adalah karena masa pakainya sudah habis. Menurut Hyundai Mobil Indonesia, ban memiliki masa pakai yang spesifik sehingga ketika kondisinya sudah rusak, bukan tak mungkin membuatnya jadi bocor.

    “Ketika ban sudah berumur dan sudah kurang layak dipakai, ban seringkali mengalami retak. Udara bisa keluar dari keretakan ini dan menyebabkan ban bocor,” tulis Hyundai lewat artikel yang mereka unggah pada Kamis (28/12/23) lalu.

    Pentil Ban

    Komponen lain yang penting untuk diperhatikan karena dapat menjadi sumber kebocoran pada ban adalah bagian pentilnya. Peran pentil cukup vital pada ban, sehingga penting untuk melihat kondisinya.

    “Pentil ban yang sudah kurang baik atau kurang tepat pemasangannya bisa menyebabkan ban bocor. Apalagi pentil ban memanglah tempat keluar masuknya udara ketika memompa ban,” tutup Hyundai.

    (mhg/rgr)



    Sumber : oto.detik.com

  • Belajar dari Kecelakaan Maut Avanza Terbelah Dua



    Jakarta

    Kecelakaan nahas terjadi di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Mobil Toyota Avanza Veloz sampai terbelah dua akibat menabrak tiang reklame. Diduga kecelakaan terjadi karena aquaplaning.

    Peristiwa itu dilaporkan terjadi di jalan menuju Bandara Internasional Minangkabau pada Selasa (9/1/2024) sore. Kecelakaan ini menyebabkan satu orang meninggal dunia.

    Dari data Samsat Jambi, mobil dengan nomor polisi BH 1003 LE itu merupakan Toyota Avanza Veloz 1.5 M/T tahun 2012. Dari foto yang beredar, mobil Avanza Veloz tersebut ringsek. Bagian depan dan belakang mobil sampai terpisah. Mobil ringsek diduga karena menabrak tiang reklame dengan kecepatan tinggi.


    [Gambas:Instagram]

    Pelajaran dari Kecelakaan Avanza hingga Terbelah

    Diduga mobil Avanza Veloz itu mengalami gejala aquaplaning mengingat jalanan saat itu tampak basah. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menjelaskan, aquaplaning merupakan sebuah fenomena ketika ban mobil kehilangan traksi saat melewati genangan air dalam kecepatan tinggi. Efeknya, mobil serasa melayang di atas air.

    “Nggak ada satu pun pengemudi yang bisa mengontrol mobilnya ketika terjebak aquaplaning di kecepatan tinggi. Kalaupun pernah berhasil itu karena faktor lucky (keberuntungan),” kata Sony kepada detikOto, Kamis (11/1/2024).

    Ada beberapa hal yang bisa menjadi pelajaran agar kejadian serupa tak terulang. Pertama, menurut Sony, pastikan kondisi ban masih baik, sesuai dan tekanan angin ban normal. Pastikan juga seluruh sistem suspensi dalam keadaan baik.

    “Turunkan kecepatan saat hujan kira-kira 10 km/jam (lebih lambat) dari kondisi kering. Semakin deras hujan semakin dikurangi lagi kecepatannya,” ucap Sony.

    Kalau dirasa kecepatan terlalu tinggi, lakukan pengereman secara mulus sebelum masuk genangan air. Saat masuk genangan air jangan ngerem.

    “Putaran ban (terkontrol) di genangan itu membelah air, tapi kalau tidak berputar (ngerem) maka ban akan terangkat oleh lapisan air (hilang kontak). Ini yang berakibat selip,” jelas Sony.

    Tahan dan arahkan setir ke depan. Hindari mengoreksi setir secara berulang-ulang. Karena koreksi setir bisa membuat arah mobil berubah.

    “Jangan panik, info ke penumpang kalau terkena aquaplaning dan tetap fokus ke sekeliling kendaraan,” ujar Sony.

    Simak juga Video: Korban Tewas Pajero Tabrak Pembatas Tol Palindra Ternyata Caleg PPP

    [Gambas:Video 20detik]

    (rgr/dry)





    Sumber : oto.detik.com

  • Avanza Hancur sampai Terbelah Dua, Ini Ngerinya Kena Aquaplaning



    Jakarta

    Viral di media sosial Toyota Avanza Veloz hancur sampai terbelah. Kecelakaan ini diduga disebabkan oleh efek aquaplaning.

    Peristiwa ini dilaporkan terjadi di jalan sekitar Bandara Internasional Minangkabau pada Selasa (9/1/2024) sore. Kecelakaan ini menyebabkan satu orang meninggal dunia.

    Dari data Samsat Jambi, mobil dengan nomor polisi BH 1003 LE itu merupakan Toyota Avanza Veloz 1.5 M/T tahun 2012. Dari foto yang beredar, mobil Avanza Veloz tersebut ringsek. Bagian depan dan belakang mobil sampai terpisah. Mobil ringsek diduga karena menabrak tiang reklame dengan kecepatan tinggi.


    [Gambas:Instagram]

    Sebelum menabrak tiang reklame, Avanza Veloz ini diduga mengalami aquaplaning. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menjelaskan, aquaplaning merupakan sebuah fenomena ketika ban mobil kehilangan traksi saat melewati genangan air dalam kecepatan tinggi. Efeknya, mobil serasa melayang di atas air.

    Menurut Sony, jika mobil mengalami aquaplaning tentu sangat berbahaya. Mobil cenderung tidak bisa dikontrol karena ban kehilangan traksi.

    “Seperti yang kita tahu bahwa empat ban yang ada di mobil itu nggak sampai 10 persen dari total bodi mobil yang terhubung ke jln. Nah aquaplaning bahaya, karena bisa menghilangkan kontak ban dengan alas jalan (aspal),” ujar Sony kepada detikOto, Kamis (11/1/2024).

    “Artinya kalau sudah terjebak aquaplaning maka arah mobil berubah tidak terkontrol,” sambungnya.

    Kalau sudah begitu, mobil bisa melintir atau bahkan menabrak benda di sekitarnya. Efeknya semakin parah kalau kecepatan kendaraan tinggi.

    “Semakin kencang lajunya semakin parah benturannya,” sebut Sony.

    Untuk itu, Sony menyarankan saat turun hujan atau jalanan basah sebaiknya pengendara mengurangi kecepatan. Pastikan laju kendaraan setidaknya 10 km/jam lebih rendah dibanding kondisi normal.

    “Semakin deras hujan semakin dikurangi lagi kecepatannya,” sarannya.

    Simak Video ‘Rekaman Dashcam Kecelakaan Avanza Veloz Terbelah 2 di Padang Pariaman’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (rgr/dry)





    Sumber : oto.detik.com

  • Perawatan Motor Setelah Digunakan Touring Jarak Jauh, Cek 6 Komponen Ini



    Jakarta

    Bagi Anda yang melakukan touring jarak jauh menggunakan motor saat momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kemarin, jangan lupa untuk mengecek kondisi motor Anda. Sebab ada kemungkinan motor yang dikendarai tidak lagi dalam kondisi prima. Maka disarankan bagi para pemilik kendaraan untuk melakukan pengecekan untuk memastikan performa motor kembali prima.

    Dijelaskan Yamaha dalam keterangannya, berikut adalah tips perawatan dan pengecekan sepeda motor bagi para pemilik kendaraan selepas menempuh perjalanan libur Nataru:

    Membersihkan Motor


    Langkah pertama yang perlu dilakukan oleh pengendara selepas menempuh perjalanan jarak jauh tentunya adalah membersihkan motor dari kotoran yang menempel, seperti debu, tanah dan juga minyak. Karena kotoran tersebut berpotensi menghambat kinerja komponen kendaraan atau bahkan membuatnya rusak seperti berkarat.

    Cek Oli Mesin

    Salah satu bagian penting dari sepeda motor yang perlu dilakukan pengecekan setelah melakukan perjalanan jarak jauh adalah oli mesin. Baik itu volume, kekentalan, maupun warna dari cairan oli itu sendiri. Oli mesin yang masih layak pakai biasanya memiliki tekstur cairan yang masih kental dan berwarna bening serta volume-nya tidak berkurang sesuai standar yang ditentukan oleh pabrikan. Idealnya penggantian oli dilakukan setiap 3.000 kilometer atau per 3 bulan.

    Adapun cara melakukan pengecekan kualitas oli mesin dapat dilakukan secara manual dengan memanfaatkan stik yang menyatu pada tutup oli pada mesin sepeda motor, atau jika pengendara menggunakan sepeda motor Yamaha yang sudah dilengkapi dengan fitur konektivitas, dapat lebih praktis lagi karena pengecekannya bisa dilakukan via aplikasi Y-Connect.

    Cek Aki/Battery

    Komponen lain yang perlu dilakukan pengecekan adalah aki untuk memastikan kondisinya tidak lemah atau rusak sehingga fungsi kelistrikan sepeda motor bekerja dengan baik, termasuk fungsi starter engine untuk menghidupkan mesin. Pengecekan aki dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti meraba permukaan bodi aki dan memastikan tidak menggembung yang mengindikasikan bahwa kondisi aki sudah mulai rusak. Lalu gunakan juga voltmeter untuk memantau voltase aki motor yang pada kondisi normal berada di kisaran 12,4 volt.

    Jika ingin lebih praktis, pengecekan voltase aki juga dapat dilakukan dengan melihat indikator voltase aki yang tertera di speedometer, atau melalui aplikasi Y-Connect khusus pada sepeda motor Yamaha yang sudah dilengkapi dengan fitur konektivitas.

    Cek Filter Udara

    Komponen filter udara juga dinilai perlu untuk dilakukan pengecekan setelah berkendara jauh. Pasalnya, jika filter udara kotor dan tidak segera dibersihkan, maka tarikan motor akan terasa berat dan dalam kasus yang lebih parah bisa membuat mesin motor menjadi tersendat. Hal ini tentunya juga akan berdampak pada konsumsi bahan bakar yang menjadi tidak efisien. Cara melakukan pengecekan filter udara cukup mudah, pemilik kendaraan hanya perlu membuka box filter udara dengan obeng. Biasanya, penggantian filter udara dilakukan setiap 12.000 – 15.000 kilometer atau per 12 – 15 bulan pemakaian.

    Cek Kampas Rem

    Libur Nataru identik dengan perjalanan jauh yang disertai dengan kondisi lalu lintas yang padat, sehingga kondisi melakukan pengereman cukup sering dilakukan. Hal ini tentunya membuat kinerja rem menjadi lebih berat yang berimbas pada menipisnya kampas rem depan maupun belakang. Indikasi kampas rem yang sudah mulai menipis dan perlu diganti ditandai dengan beberapa hal seperti suara berdecit saat mengerem, tuas rem menjadi lebih dalam dan volume minyak rem yang berkurang.

    Cek Kinerja Suspensi

    Pasca perjalanan jauh yang melewati berbagai kondisi medan, sangat mungkin membuat kinerja suspensi motor menjadi tidak lagi optimal. Beberapa cara pengecekan mudah yang dapat dilakukan untuk memastikan kondisinya masih layak pakai adalah dengan melihat tampilan selongsong tabung suspensi. Jika terlihat ada bekas lecet dan berminyak yang disertai debu menempel, ada indikasi suspensi motor mengalami masalah seperti terjadinya kebocoran oli suspensi. Jika demikian, segera bawa sepeda motor ke bengkel resmi terdekat untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut.

    Cek Kondisi Ban

    Ban juga menjadi salah satu komponen penting pada sepeda motor yang harus dilakukan pengecekan, mengingat fungsinya yang begitu vital dalam menopang beban motor dan menjaga traksi kendaraan ke permukaan jalan. Hal yang perlu dicek dari ban sepeda motor adalah kondisi fisik, dimana tidak adanya sobek, lubang, maupun tidak aus atau botak. Terkait dengan keausan ban, salah satu cara pengecekannya bisa dengan melihat Tread Wheel Indicator (TWI) yang berbentuk tanda panah. Jika permukaan ban sudah menyentuh tanda panah tersebut, artinya karet ban sudah menipis dan perlu diganti. Selain itu, perhatikan pula tekanan anginnya apakah sudah sesuai dengan standard yang disarankan oleh pabrikan.

    (lua/lth)



    Sumber : oto.detik.com

  • Gak Mau Mobil Jadi Karat! Pilihlah Cairan Anti Karat Berbahan Material Karet



    Jakarta

    Kendaraan tidak akan pernah bisa terlepas dari permasalahan karat, wajar karena bahan material yang digunakan didominasi oleh besi atau plat baja. Meski demikian detikers bisa mengantisipasinya, salah satunya dengan menggunakan cairan anti karat.

    Di saat detikers ingin menggunakan anti karat, detikOto ingatkan untuk menggunakan cairan anti karat yang berbahan material dari karet ya, soalnya dengan menggunakan cairan anti karat dengan bahan material karet bisa melindungi kendaraan jauh lebih lama.

    Seperti yang diterangkan spesialis anti karat mobil dari Rustpro, Aryanto dalam siaran resminya. Aryanto mengatakan jika kebanyakan anti karat mobil menggunakan bahan dasar aspal, anti karat mobil dari RUSTPRO justru menggunakan bahan dasar yang beda serta diklaim lebih unggul dibandingkan aspal.


    Aryanto meneruskan dengan bahan dasar rubber yang telah diformulasikan khusus, anti karat mobil RUSTPRO lebih cepat kering, memiliki bobot yang lebih ringan, serta tahan di suhu tinggi.

    “Selain itu, anti karat mobil RUSTPRO juga tahan dari percikan bahan bakar, seperti bensin atau solar. Karena untuk anti karat berbahan aspal, seringkali lapisannya jadi pecah-pecah atau luntur jika terkena percikan bahan bakar. Lain halnya dengan anti karat berbahan dasar rubber yang lebih tahan oleh paparan zat tersebut,” ujar Aryanto atau yang akrab disapa Popo RUSTPRO, Co-Founder dari RUSTPRO.

    “RUSTPRO itu anti karat mobilnya garansi sampai 8 tahun. Jadi setiap tahun ada free maintenance. Kalau misalnya mau dilapisi lagi untuk perlindungan yang lebih kuat, bisa semprot ulang, dan itu gratis.” katanya.

    Anti karat Rustpro hadir di Surabaya, Jawa Timur.Anti karat Rustpro hadir di Surabaya, Jawa Timur. Foto: dok. Rustpro

    Dalam kesempatan yang sama Aryanto juga mengatakan kini RUSTPRO semakin meluaskan jangkauannya untuk membantu para pengguna mobil dari ancaman karat dan keropos di kolong mobil dengan membuka cabang terbarunya di Wiyung, Surabaya.

    Awalnya RUSTPRO membuka cabang di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sehingga seringkali banyak para pengguna mobil di luar wilayah Jakarta Utara harus menyempatkan waktu jauh-jauh untuk datang ke Kelapa Gading untuk dapatkan semprot anti karat.

    RUSTPRO sendiri saat ini sudah membuka cabang lain di beberapa daerah di Indonesia, terdiri dari cabang Pegangsaan Dua – Jakarta Utara, Cirendeu – Tangerang Selatan, Depok, dan Cirebon.

    “RUSTPRO sudah buka di Surabaya. Bagi temen-temen yang pengin anti karat mobilnya, bisa bawa ke RUSTPRO Surabaya di (daerah) Wiyung,” pungkas Aryanto.

    (lth/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Ternyata Mobil Listrik yang Mogok Nggak Boleh Asal Diderek, Ini Sebabnya



    Jakarta

    Mobil listrik memerlukan perawatan yang khusus. Misalnya saat mobil listrik mogok di jalan, ternyata nggak boleh asal derek. Mobil listrik harus diderek dengan cara yang baik dan benar. Gimana caranya?

    Dijelaskan DFSK dalam keterangan resminya, apabila ingin menderek mobil listrik yang mogok, maka pastikan dilakukan dengan benar dan tepat agar tidak menambah rusak komponen lainnya yang bisa membuat biaya perbaikan semakin bengkak.

    Perhatikan juga kendaraan derek yang digunakan menggunakan model flatbed, sehingga posisi kendaraan yang mogok bisa digendong sepenuhnya di atas kendaraan derek.


    Penggunaan kendaraan derek model flatbed ini untuk meminimalisir kerusakan di motor penggerak apabila dipaksa diderek atau bahkan di dorong terlalu jauh.

    “Kendaraan listrik menggunakan motor penggerak untuk memutar roda dan komponen ini tidak bisa bekerja apabila kendaraan dalam kondisi mati. Oleh sebab itu gunakan derek flatbed apabila kondisi kendaraan mogok, dan segera antarkan kendaraan ke bengkel resmi untuk mendapatkan penanganan yang optimal dari mekanik kami yang sudah terlatih dan jaminan suku cadang yang original,” ungkap Deputy Head of Customer Service Division PT Sokonindo Automobile, Herry Bertus Windyarto.

    Herry mencontohkan model Seres E1 menggunakan Permanent Magnet Synchronous Motor di roda belakang dengan dukungan transmisi otomatis. Jika kendaraan yang dihargai mulai dari Rp 189 juta (on the road DKI Jakarta) ini mengalami mogok dan hendak diderek, hal pertama yang dilakukan adalah memindahkan transmisi ke posisi Netral.

    Kemudian Seres E1 bisa didorong untuk naik ke atas truk derek dan digendong di atasnya. Para insinyur memberikan toleransi untuk mendorong Seres E1 sejauh ±10 Meter. Setelah sampai di atas flatbed, transmisi bisa dipindah ke posisi parking dan roda dikunci untuk mengamankan selama di atas.

    (lua/riar)



    Sumber : oto.detik.com

  • Fortuner Nekat Terobos Banjir, Ini Risikonya



    Jakarta

    Viral di media sosial pengendara Toyota Fortuner nekat menerobos banjir di kawasan Dayeuhkolot Bandung. Nekat menerobos banjir bisa berisiko besar, baik bagi pengendara maupun bagi mobilnya. Apa saja risiko itu?

    Praktisi keselamatan berkendara Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, tidak menyarankan mobil menerobos banjir dengan air terlalu dalam. Soalnya, risikonya bukan cuma merusak mobil, tapi juga berisiko buat keselamatan pengendaranya.

    “(Risiko) water hammer sudah pasti. Yang banyak juga terjadi roda masuk lubang entah got, selokan dan lain-lain,” kata Sony kepada detikOto. Selain itu, risiko lainnya mobil atau ban juga bisa terkena benda-benda tajam yang terbawa arus. Benda-benda tersebut juga bisa menghambat putaran roda atau merusak bodi mobil.


    “(Risiko lainnya) mobil terbawa arus kalau genangan sudah tinggi,” ucap Sony.

    Untuk itu, Sony menyarankan agar pengendara membuang kebiasaan nekat main tancap gas terobos banjir. Selain itu, jaga emosi supaya bisa berpikir jernih dalam mengambil keputusan.

    Dari sisi teknis, kalau nekat menerobos banjir berisiko membuat mesin jebol. Hal itu disebabkan oleh air yang masuk ke dalam ruang bakar sehingga tidak bisa terkompresi. Gejala itu disebut dengan water hammer.

    Water hammer adalah kondisi ketika air masuk ke ruang mesin. Air tidak bisa terkompresi oleh mesin sehingga yang terjadi setang piston bengkok bahkan bisa menyebabkan silinder mesin pecah.

    Lalu kalau terpaksa menerobos banjir, Sony bilang, sebaiknya ketinggian air tidak melebihi setengah ban.

    “Lebih baik berhenti dan melihat kondisi genangan di depan untuk titik patokan kemampuan mobil menerabas dengan aman. Lihat roda kendaraan yang ada di depan, ketinggian genangannya maksimal 1/2 ban. Jika aman segera melintas,” sebut Sony.

    Nah, untuk melewati genangan air juga tidak bisa sembarangan. Untuk mobil manual, lewati genangan air dengan gigi rendah. Sony tidak menyarankan menggunakan setengah koplng dan memainkan rpm tinggi. “Supaya tidak menciptakan efek ombak yang bisa membuat air tersedot ke dalam air intake,” katanya lagi.

    Jadi mobil jangan asal terobos banjir kalau tidak mau mendapat masalah besar, atau bahkan terlibat kejadian yang bisa membahayakan diri sendiri.

    (lua/riar)



    Sumber : oto.detik.com

  • Ketahui Fungsi Air Radiator Mobil dan Cara Kerjanya


    Jakarta

    Ada banyak komponen yang terdapat pada mobil, salah satunya adalah radiator. Sedikit informasi, radiator berfungsi sebagai sistem pendingin pada mesin mobil.

    Ketika mobil dihidupkan, maka suhu mesin lama-lama akan meningkat. Untuk mencegah overheat, maka radiator punya peran besar untuk mendinginkan mesin.

    Agar radiator dapat berfungsi secara optimal, maka dibutuhkan komponen lain yaitu coolant atau air radiator. Lantas, apa fungsi dari air radiator mobil? Simak pembahasannya dalam artikel ini.


    Fungsi Air Radiator

    Dilansir laman Auto2000, air radiator berfungsi untuk membuang panas yang terdapat pada dinding silinder. Sebab, radiator memiliki peran penting dalam meredam udara panas yang dihasilkan oleh silinder mesin saat proses pembakaran terjadi.

    Maka dari itu, coolant yang dipakai pada radiator mobil wajib memiliki kualitas yang baik. Hal ini agar air radiator bisa tahan terhadap suhu panas yang tinggi.

    Cara Kerja Radiator Mobil

    Cara kerja radiator mobil dimulai dari mengalirnya air (coolant) bersuhu netral ke saluran yang mengelilingi mesin untuk menyerap panas. Saat mengalir, air akan menyerap dan membawa suhu panas untuk kemudian dibawa kembali menuju radiator.

    Setibanya di radiator, air yang membawa suhu panas akan masuk ke upper tank. Di bagian ini, proses pendinginan akan terjadi. Setelah itu, coolant akan diteruskan untuk masuk menuju radiator core yang berfungsi membuang suhu panas ke udara.

    Untuk mempercepat proses pembuangan suhu panas, radiator core akan dibantu oleh kipas radiator dalam menyerap udara. Hal ini agar terjadi aliran di antara sirip-sirip udara pada radiator core.

    Ketika suhu panas sudah dipindahkan seluruhnya ke udara dan air kembali dingin, maka coolant akan dialirkan lagi mengitari mesin untuk menyerap panas.

    Jenis-jenis Air Radiator

    Perlu diketahui, ada tiga jenis air radiator yang umum digunakan oleh pabrikan untuk kendaraannya. Ketiga jenis air radiator ini juga punya fungsi yang berbeda-beda.

    Apa saja jenis-jenis air radiator tersebut? Simak di bawah ini:

    1. Inorganic Additive Technology (IAT)

    IAT merupakan jenis air radiator yang umumnya dipakai oleh mobil keluaran lama. Masa pakainya bisa mencapai 2 tahun atau maksimal 38.000 kilometer.

    2. Organic Acid Technology (OAT)

    OAT merupakan jenis air radiator yang masa penggantiannya jauh lebih lama, yakni bisa dilakukan setiap lima tahun sekali atau maksimal 80.000 kilometer.

    3. Hybrid Organic Acid Technology (HOAT)

    HOAT merupakan air radiator jenis terbaru yang dikembangkan dari coolant OAT. Dengan begitu, masa pakai dan waktu penggantiannya tidak jauh berbeda.

    Apakah Aman Isi Air Radiator dengan Air Biasa?

    Masih banyak pengendara mobil yang menggunakan air biasa untuk mengisi radiator ketimbang memakai coolant. Lantas, apakah aman?

    Ternyata, air radiator tak cukup apabila diisi dengan air biasa saja. Bahkan, sebaiknya pemilik kendaraan menghindari penggunaan air biasa untuk radiator mobil.

    “Kalau bisa dihindari. Untuk mobil-mobil sekarang, karena mereka punya mesin berkinerja tinggi, kompresi tinggi maka dianjurkan menggunakan coolant, bukan air biasa,” kata Wahono dari bengkel resmi Auto2000 BSD beberapa waktu lalu.

    Menurutnya, radiator lebih baik diisi dengan coolant atau cairan khusus untuk radiator. Sebab, ada sejumlah zat kimia yang terkandung di dalam cairan khusus radiator, sehingga dapat membantu kinerja radiator lebih optimal.

    “Adanya zat anti panas yaitu glycol pada radiator coolant Toyota yang membuatnya tidak bisa digantikan oleh air kran. Zat tersebut bekerja dengan menaikkan titik didih cairan radiator. Selain itu juga membantu menyerap panas dari mesin,” jelas Wahono.

    Demikian pembahasan mengenai fungsi air radiator dan cara kerjanya. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan detikers.

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com