Tag: kisah

  • Saat Nabi Muhammad Bertemu Nabi Adam di Surga


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW pernah bertemu Nabi Adam AS di surga. Peristiwa ini terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Mikraj, perjalanan dari Masjid Al Aqsa ke Sidratul Muntaha.

    Kisah pertemuan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Adam AS diceritakan Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa dan diterjemahkan oleh Umar Mujtahid. Ibnu Katsir menyandarkan kisah ini dengan hadits Isra’ dalam kitab Shahihain.

    Diceritakan, dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril melewati setiap lapisan langit. Beliau bertemu Nabi Adam AS di langit paling bawah.


    Saat melihat kedatangan Nabi Muhammad SAW, Nabi Adam AS berkata, “Selamat datang anak saleh dan nabi saleh.”

    Nabi Muhammad SAW melihat di samping kanan dan kiri Nabi Adam AS ada kumpulan banyak manusia. Saat melihat ke kanan, Nabi Adam AS tertawa dan saat melihat ke kiri, Nabi Adam AS menangis.

    Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapa dia?” Jibril menjawab, “Dia Adam, dan mereka itu anak keturunannya. Saat melihat ke sebelah kanan–mereka adalah para penghuni surga, Adam tertawa, dan saat melihat ke sebelah kiri, mereka adalah para penghuni neraka, Adam menangis.”

    Terkait Nabi Adam AS, Abu Bakar Al-Bazzar menyebut riwayat dari Muhammad bin Mutsanna, dari Yazid bin Harun, dari Hisyam bin Hassan yang mengatakan, “Akal Adam sama seperti akal seluruh anak keturunannya.”

    Dalam riwayat lain dikatakan, Nabi Muhammad SAW melintas di hadapan Nabi Yusuf AS, beliau bersabda, “Aku melintas di hadapan Yusuf, ternyata ia diberi separuh ketampanan.”

    Sebagian ulama menafsirkan makna hadits tersebut adalah Nabi Yusuf AS diberi separuh ketampanan Nabi Adam AS. Ibnu Katsir berpendapat makna ini sesuai karena Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dan membentuknya dengan tangan-Nya, meniupkan roh padanya dan makhluk yang Allah SWT ciptakan pasti memiliki keindahan yang paling baik.

    Dalam Shahihain juga terdapat riwayat lain dari sejumlah jalur yang menyebut Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah menciptakan Adam sesuai wujud-Nya (sifat-sifat-Nya).” (HR Bukhari)

    Nabi Muhammad Bertemu Nabi-nabi Lain

    Nabi Muhammad SAW juga bertemu nabi-nabi lain saat melakukan perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab al-Isra’ wa al-Mi’raj yang diterjemahkan oleh Arya Noor Amarsyah menceritakan, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS di langit kedua.

    Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS di langit ketiga dan berjumpa Nabi Idris AS di langit keempat.

    Beliau kemudian melanjutkan perjalanan. Saat tiba di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun AS dan bertemu dengan Nabi Musa AS di langit keenam.

    Terakhir, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh. Menurut riwayat Nabi Ibrahim AS saat itu sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Ma’mur–Ka’bah-nya para malaikat penduduk langit.

    Para nabi terdahulu itu memberikan sapaan hangat kepada Nabi Muhammad SAW dan mendoakan kebaikan untuk beliau.

    Kisah bertemunya Nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu di setiap lapisan langit itu mengacu pada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Syaiban ibn Farukh, dari Hamad ibn Salamah, dari Tsabit al-Banani, dari Anas ibn Malik RA yang menceritakan dari Rasulullah SAW. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan ini adalah hadits yang paling kuat dan tidak diperselisihkan.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Yazid Al-Busthami dan Pengabdiannya kepada Sang Ibu



    Jakarta

    Seorang sufi dan ulama ternama pada zamannya, Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusan Al-Busthami, memiliki kisah menyentuh. Kasih sayangnya kepada sang ibu sangat luar biasa dan bisa dijadikan teladan.

    Fariduddin Aththar menceritakan kisah itu dalam kitab Tadzkiratul Auliya (Damaskus: Al-Maktabi, 2009), halaman 184-187, sebagaimana dikutip oleh Kemenag.

    Diceritakan, Abu Yazid pada saat itu masih muda. Ia sedang mengemban ilmu di sebuah pondok pesantren.


    Ketika mengaji tafsir Al-Qur’an, hati Abu Yazid tiba-tiba saja tersentuh mendengar gurunya menjelaskan surat Lukman ayat 14.

    اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ

    Artinya: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”

    Hati Abu Yazid yang terguncang langsung mengingatkannya pada sang ibu di rumah. Kemudian Abu Yazid memohon izin kepada gurunya untuk pulang menjumpai ibunya.

    Sang guru pun mengizinkan Abu Yazid pulang. Ia kemudian pergi ke rumahnya dengan tergesa-gesa.

    Saat melihat kehadiran Abu Yazid di rumah, ibunya merasa terkejut dan heran.

    “Thaifur, mengapa kamu kembali?” tanya ibunya.

    Abu Yazid kemudian menjelaskan kejadian yang dialaminya. Ketika tengah mengaji hingga mencapai Surat Lukman ayat 14, hatinya tersentuh dan bergetar.

    “Aku tak mampu melaksanakan dua ibadah syukur secara bersamaan,” kata Abu Yazid.

    Menyaksikan anak tercintanya berada dalam dilema, sang ibu memutuskan untuk membebaskan Abu Yazid dari segala kewajiban terhadapnya. Ia minta Abu Yazid lebih baik menuntut ilmu daripada merawatnya.

    “Anakku, aku melepaskan segala kewajibanmu terhadapku dan menyerahkanmu sepenuhnya kepada Allah. Pergilah dan jadilah seorang hamba Allah,” ucap ibunya.

    Setelah itu, Abu Yazid meninggalkan kota Bustham dan menjadi “santri kelana,” merantau dari satu negeri ke negeri lain selama 30 tahun. Selama perjalanan itu, ia berguru kepada 113 guru spiritual.

    Hari-hari Abu Yazid diisi dengan puasa dan tirakat, hingga akhirnya ia menjadi seorang ulama sufi yang memiliki pengaruh di dunia tasawuf.

    Kisah yang berbeda juga dijelaskan dalam kitab yang sama. Abu Yazid pernah memegang tempat minum ibunya selama berjam-jam.

    Hal itu terjadi pada suatu malam, sang ibu terbangun dan merasa haus. Namun ternyata stok air minum sudah habis.

    Akhirnya Abu Yazid keluar rumah untuk mencari air. Setibanya di rumah, ia menemukan ibunya telah kembali tertidur.

    Semenjak itu, Abu Yazid memutuskan untuk melawan rasa kantuknya. Ia begadang semalam suntuk untuk memastikan sang ibu tidak kesulitan mendapatkan air minum.

    “Nak, kenapa kamu belum tidur?” tanya sang ibu.

    “Jika aku tidur, aku takut ibu tidak menemukan air minum ini,” jawab Abu Yazid.

    Dari cerita ini, kita dapat menarik hikmah bahwa persetujuan dan doa orang tua, terutama dari seorang ibu, memiliki nilai yang besar dan dapat mempengaruhi arah hidup seseorang. Berbakti kepada orang tua membawa berkah dan keberuntungan.

    Sebaliknya, jika berlaku durhaka terhadap orang tua kita akan mendapatkan keburukan. Baik di dunia maupun di akhirat.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Al Mahdi Penuhi Kehidupan Akhir Zaman dengan Keadilan



    Jakarta

    Umat Islam disebut akan memasuki kehidupan yang penuh keadilan di bawah kepemimpinan Al Mahdi. Hal ini terjadi saat mendekati kiamat.

    Kisah keadilan kepemimpinan Al Mahdi ini diceritakan dalam hadits shahih sebagaimana termuat dalam Qashash Al Ghaib Fii Shahih Al Hadits An-Nabawi karya Umar Sulaiman Al-Asyqar yang diterjemahkan Asmuni.

    Diriwayatkan dari Abu Sa’id dan Jabir bin Abdullah, keduanya berkata, “Di akhir zaman adalah seorang khalifah yang membagi-bagikan harta dengan tidak menghitungnya lagi.”


    Khalifah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Al Mahdi. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan dari Nabi SAW yang bersabda, “Hadir di tengah-tengah umatku Al Mahdi. Jika masanya sebentar, maka itu berlangsung selama tujuh tahun dan jika tidak, maka selama sembilan tahun. Selama durasi tersebut umatku menikmati kenikmatan yang mereka belum pernah menikmati situasi seperti itu sebelumnya sama sekali. Diberikan segala buah-buahan dan tidak ada di antara umatku yang menyimpannya sedikit pun. Ketika itu harta ditolak, sehingga seseorang berdiri dan berkata, ‘Wahai Mahdi, beri aku sesuatu.’ Maka, dia mengatakan, ‘Ambillah’.”

    Terkait hadits tersebut, Umar Sulaiman Al-Asyqar menjelaskan, nama Al Mahdi yang diucapkan Rasulullah SAW adalah seorang khalifah yang menangani segala urusan kaum muslimin di akhir zaman. Dia memenuhi dunia dengan keadilan di tengah dunia yang penuh kedustaaan dan kezaliman,

    Allah SWT menguatkan Al Mahdi dengan kemenangan untuk mengalahkan kekuatan jahat dan perusak yang berkuasa. Sosoknya menjadi contoh hakim muslim yang wara’ dan kuat dalam menegakkan keadilan dan menghancurkan kezaliman.

    Para ahli ilmu memandang Al Mahdi sebagai seorang khalifah yang banyak mengeluarkan harta pada zamannya. Dia memberikan hartanya kepada siapa pun yang memintanya dan ia tidak pernah menghitungnya lagi.

    Menurut penuturan Umar Sulaiman Al-Asyqar, kesejahteraan kaum muslimin di zaman Al Mahdi lebih besar daripada di zaman Khalifah Ar Rasyid Umar bin Abdul Aziz. Kemakmuran di zaman Khalifah Umar sampai pada tingkatan seseorang tidak menemukan orang yang berhak mengambil sedekahnya, sedangkan di zaman Al Mahdi sampai pada kondisi orang-orang bersedekah memberikan hartanya.

    Sejarawan dan ahli tafsir, Imam Ibnu Katsir, dalam kitab An Nihayah seperti diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan, mengatakan bahwa Al Mahdi merupakan salah seorang Khulafaur Rasyidin dan imam yang mendapat petunjuk Allah SWT (Al-A’immah Al-Mahdiyyin). Menurut riwayat Ummu Salamah, ia Al Mahdi adalah keturunan Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bersabda,

    الْمَهْدِي مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ

    Artinya: “Al Mahdi itu dari keturunanku, dari anak cucu Fatimah.” (HR Abu Dawud)

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Abbas bin Abdul Muthalib, Sahabat Sekaligus Paman Nabi



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT untuk menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam yang benar. Dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan, Nabi Muhammad SAW dibantu oleh sejumlah sahabat.

    Abbas bin Abdul Muthalib adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Abbas bin Abdul Muthalib menjadi penyedia minuman jamaah haji.

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, Abbas bin Abdul Muthalib adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku Quraisy. Ia juga merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Usianya dua tahun lebih tua dari usia Nabi Muhammad SAW.


    Abbas menikahi Lubabah al-Kubra, putri Harits bin Hazn al-Hilaliyah yang dipanggil dengan sapaan “Ummu al-Fadhal”. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai oleh sepuluh anak laki-laki, diantaranya al-Fadhal, Ubaidillah, Qutsam, Abdurrahman, Ma’bad, al-Harits, Katsir, Aun, dan Tammam.

    Dirangkum dari buku Edisi Indonesia: Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah oleh Muhhammad Sa’id Mursi, Abbas adalah nenek moyang dari seluruh khalifah Dinasti Abbasiyah. Abbas adalah pemakmur sekaligus penghidang minuman di Masjid Al-Haram.

    Abbas bin Abdul Muthalib terkenal dengan sosoknya yang memiliki ide cemerlang, suara yang lantang, cerdas, dermawan, toleran, dan sangat membenci perbudakan. Suatu hari, ia membeli 70 budak, dan kemudian ia memerdekakan semua budak itu.

    Saat proses Bai’at ‘Aqabah II, Abbas bin Abdul Muthalib adalah juru bicaranya. Saat itu, ia belum memeluk Islam.

    Setelah memeluk Islam, Abbas ingin hijrah ke Madinah. Mendengar kabar itu, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepadanya yang berisi, “Anda lebih baik tetap tinggal di Makkah”. Abbas pun mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW tersebut.

    Selama tinggal di Makkah, Abbas menyembunyikan keislamannya. Ia selalu menulis surat kepada Nabi Muhammad SAW dan memberikan informasi tentang orang-orang kafir Quraisy di Makkah. Ketika Perang Badar terjadi, Nabi Muhammad SAW melarang kaum muslim untuk membunuh Abbas bin Abdul Muthalib.

    Abbas terkenal memiliki suara yang lantang. Maka dari itulah Nabi Muhammad SAW menyuruhnya untuk memanggil kaum Anshar dan Muhajirin setelah barisan mereka terpencar. Abbas pun mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW dan akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh kaum muslimin.

    Abbas juga merupakan orang yang terhormat. Jika Abbas bin Abdul Muthalib bertemu Umar bin Khattab RA dan Utsman bin Affan RA, mereka pasti akan turun dari hewan tunggangannya sebagai penghormatan (takzim) kepada Abbas.

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi, pada saat Perang Badar terjadi, Abbas bin Abdul Muthalib menjadi tawanan Perang Badar. Orang yang berhasil menawan Abbas saat Perang Badar adalah Abu al-Sair bin Ka’b bin Amr dari Bani Salamah yang memiliki tubuh jauh lebih pendek daripada Abbas.

    Rasulullah SAW pun bertanya, “Bagaimana kau bisa menawan Abbas, hai Abu al-Sair?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki yang membantuku dan aku belum pernah melihat laki-laki itu sebelum atau setelahnya. Ciri-ciri orang itu begini dan begini.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kau telah ditolong oleh malaikat yang mulia.”

    Abbas bin Abdul Muthalib wafat di Madinah. Ia wafat pada usia 88 tahun dan dimakamkan di Baqi.

    Di hari kematiannya, Utsman bin Affan RA ikut menyalati jenazahnya. Hal tersebut terjadi sekitar dua tahun sebelum terbunuhnya Utsman bin Affan RA.

    Semoga Allah SWT merahmatinya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ismail AS, Ditinggal di Padang Tandus dan Asal Mula Air Zamzam


    Jakarta

    Nabi Ismail AS adalah anak dari Nabi Ibrahim AS dan istri keduanya, Siti Hajar. Sejak kecil Ismail dikenal sebagai anak yang saleh, taat kepada Allah SWT dan orang tuanya.

    Istri pertama Ibrahim adalah Siti Sarah. Ibrahim menikahi Siti Hajar atas suruhan Siti Sarah sebab Ibrahim tak kunjung memiliki keturunan ketika menikah dengannya.

    Peristiwa Kurban

    Merangkum buku Belajar dari Para Nabi dan Rasul oleh Abu Azka ibn Abbas, Ibrahim begitu sayang dengan Ismail, selalu memandang sang anak dengan penuh cinta dan kasih. Melihat begitu sayangnya Ibrahim kepada anaknya, maka Allah hendak menguji kesalehan Ibrahim.


    Lewat mimpi Ibrahim, Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya. Mimpi itu muncul beberapa kali, membuat Ibrahim amat sedih begitu memandang ke arah anaknya yang lucu itu.

    Meskipun tak tega menceritakan kesedihannya, Ibrahim memberanikan diri untuk menceritakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail. Di luar dugaan, Ismail kecil justru tersenyum dan mengusap air mata sang ayah seraya berkata, “Ayahku, janganlah kamu berduka cita. Lakukanlah yang Allah SWT perintahkan.”

    Lalu, Ibrahim membawa Ismail ke tempat penyembelihan. Ketika Ibrahim hendak menyembelih Ismail, Allah SWT memerintahkan malaikatnya untuk menukar Ismail dengan binatang ternak (kambing). Sehingga yang disembelih Ibrahim bukanlah Ismail, melainkan seekor kambing.

    Ditinggal di Padang Tandus

    Kisah Nabi Ismail tidak dapat dipisahkan dari kisah sang ayah, Nabi Ibrahim. Salah satu kisah yang menarik adalah ketika Nabi Ibrahim hijrah meninggalkan Mesir bersama kedua istrinya.

    Nabi Ibrahim juga turut membawa hewan ternak dan harta miliknya yang telah diperoleh dari hasil berdagang di Mesir. Dengan penuh tawakal pada Allah SWT, Nabi Ibrahim berangkat meninggalkan rumah bersama kedua istrinya dan juga Ismail yang waktu itu masih bayi.

    Mereka bersama-sama keluar dari kota lalu masuk ke lautan pasir yang terbuka, di mana terik matahari menyengat tubuh dengan pedihnya. Nabi Ibrahim membawa istrinya serta Ismail yang masih menyusui ke Mekkah, kemudian singgah di bawah pohon yang kini menjadi sumur zamzam.

    Pada masa itu tidak ada seorang pun yang tinggal di Mekkah dan tidak ada pula sumber air. Nabi Ibrahim meninggalkan sebuah wadah berisi kurma dan satu wadah lagi berisikan air.

    Nabi Ibrahim kemudian beranjak pergi meninggalkan anak dan istrinya dari tempat itu karena perintah Allah. Tidak ada yang tahu secara pasti bagaimana perasaan Nabi Ibrahim ketika meninggalkan istri dan putranya di padang pasir yang tandus tanpa mata air. Beliau harus berlapang dada karena itu adalah perintah Allah.

    Asal Mula Air Zamzam

    Beberapa hari setelah ditinggalkan Nabi Ibrahim, perbekalan Siti Hajar telah habis. Ismail yang kehausan terus menangis tanpa henti karena Siti Hajar tidak bisa lagi menyusui anaknya.

    Siti Hajar mencoba mencari pertolongan dengan berlari bolak balik Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Hal tersebut tidak dilakukannya hanya sekali, melainkan tujuh kali sembari berdoa kepada Allah.

    Setelah bolak balik Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali, Siti Hajar hampir putus asa karena tidak ada sumber air atau pun manusia yang bisa menolongnya. Setelah lama mencari, Siti Hajar teringat Ismail yang telah dia tinggal cukup lama dan kemudian bergegas kembali.

    Siti Hajar memutuskan kembali untuk melihat kondisi putranya. Sesampainya di tempat Ismail berbaring, Siti Hajar terkejut karena keluar sebuah mata air jernih.

    Air tersebut terus mengalir hingga membuat genangan. Siti Hajar berkata zam…zam…zam… yang berarti banyak, melimpah-ruah.

    Wallahu’alam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Salahuddin Al-Ayyubi, Penakluk Perang Salib yang Bijaksana


    Jakarta

    Salahuddin Al-Ayyubi adalah salah satu pahlawan besar dalam sejarah Islam. Ia mendapat gelar al-Malik al-Nashir yang artinya penguasa yang bijaksana.

    Yusuf bin Ayyub atau yang lebih dikenal dengan Salahuddin Al-Ayyubi terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit pada tahun 532 H/1137 M. Ayahnya bernama Najm ad-Din Ayyub, seorang Gubernur Baalbek.

    Biografi Singkat Salahuddin Al-Ayyubi

    Menukil buku Sejarah Islam oleh Mahayudin Hj. Yahaya, masa kecil Salahuddin Al-Ayyubi dihabiskan untuk belajar di Damaskus. Selain belajar agama Islam, Salahuddin Al-Ayyubi juga mendapat pelajaran militer dari pamannya Asaddin Syirkuh, yang merupakan seorang panglima perang Turki Saljuk.


    Bersama dengan pamannya, Salahudin berhasil menguasai Mesir dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimiyah di Mesir. Berkat keberhasilannya, Salahuddin diangkat menjadi panglima perang pada 1169 M.

    Salahuddin dikenal karena kecerdasan dalam menyusun strategi, baik dalam peperangan maupun dalam pemerintahan. Tak membutuhkan waktu lama, Salahuddin mampu memimpin Mesir dengan baik.

    Salahuddin juga mendirikan dua sekolah besar yang mengajarkan tentang Islam yang benar. Tujuan beliau adalah untuk menghapus ajaran Syi’ah yang menyebar di Mesir kala itu.

    Salahuddin Memenangkan Perang Salib

    Merangkum buku 55 Tokoh Dunia yang Terkenal dan Paling Berpengaruh Sepanjang Waktu oleh Wulan Mulya Pratiwi, et.al, butuh waktu yang panjang bagi Salahuddin mempersiapkan perang salib. Selain persiapan fisik dan strategi jitu, beliau juga melakukan persiapan secara rohani.

    Adapun persiapan lainnya adalah membangun benteng-benteng pertahanan yang kuat, perbatasan-perbatasan yang jelas, membangun markas-markas perang dan menyiapkan kapal-kapal perang terbaik. Persiapan juga dilakukan dengan mendirikan rumah sakit dan menyuplai obat-obatan.

    Meskipun Salahuddin sakit keras, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk memperjuangkan tanah Nabi, Jerusalem. Justru semakin kuat tekad Salahuddin untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan kristen.

    Perjuangan pertama disebut dengan perang Hathin, atau perang pembuka di mana pasukan Salahuddin pada saat itu berjumlah 63.000 prajurit. Pada perang Hathin, pasukan Salahuddin membunuh 30.000 pasukan salib dan menahan 30.000 pasukan salib.

    Perjuangan selanjutnya di kota Al-Quds dan Jerusalem, di mana pasukan Salahuddin banyak yang syahid. Bahkan ketika pasukan Salib memasang salib besar pada batu Shakharkh, hal tersebut membuat pasukan semakin bersemangat dan akhirnya berhasil memenangkan perang salib yang kedua.

    Kebijaksanaan Salahuddin Al-Ayyubi

    Dengan segala kesabaran dan kebijaksanaan dalam perjuangan, Salahuddin Al-Ayyubi mampu mengalahkan pasukan Salib di Medan perang Hathin. Selain itu, ada tiga hal penting dari kebijaksanaan Salahuddin yang menjadikan peperangan yang dipimpinnya memperoleh hasil menakjubkan, yaitu:

    1. Pemberian Cuti Kepada para Tentara

    Pemberian cuti sangatlah berharga, terlebih lagi seorang tentara juga memerlukan waktu untuk beristirahat demi memperbaharui semangat jiwa dan mempertebal cita-cita meraih kemenangan. Salahuddin menjadikan kesempatan ini untuk mendekatkan diri secara personal serta menyiarkan dakwah kepada mereka.

    2. Pemberian Grasi Kepada Pihak Musuh

    Salahuddin saat menaklukan Jerusalem menampilkan keluhuran Budi kepada pasukan Salib, berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan pasukan Salib dahulu saat menaklukan Jerusalem. Salahuddin justru memberikan grasi kepada beberapa orang di antara mereka yang dinilai tidak melakukan penindasan keji terhadap umat Islam.

    3. Mengadakan Perjanjian Damai Kepada Pihak Musuh

    Meski para pendahulu Salahuddin cenderung melakukan perlawanan secara fisik, Salahuddin justru mengambil kebijakan dengan mengadakan perjanjian damai bersyarat dengan pihak musuh. Hal ini dilakukan untuk menghindari jatuhnya banyak korban dan kerugian yang lebih besar.

    Demikian kisah teladan yang dicerminkan dari sikap Salahuddin Al-Ayyubi di dalam sejarah peradaban Islam. Kegemilangan perjuangan dari sosok Salahuddin dapat menjadi teladan kita semua.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kesabaran Ayyub AS saat Diuji Penyakit Kulit Belasan Tahun



    Jakarta

    Nabi Ayyub AS adalah seseorang yang kaya raya. Hartanya berlimpah serta meliputi berbagai hewan ternak seperti unta, keledai, sapi dan lain sebagainya.

    Nama Ayyub AS disebutkan dalam surah An Nisa ayat 163,

    اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ


    Artinya: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.”

    Dikisahkan dalam Kisah Para Nabi susunan Ibnu Katsir yang diterjemahkan oleh Saefulloh MS, Nabi Ayyub AS juga memiliki tanah pertanian yang terbentang luas di daerah Hauran. Selain itu, istri dari Nabi Ayyub AS juga melahirkan anak-anak yang baik serta saleh.

    Dalam kenikmatan yang Allah SWT limpahkan itu, Nabi Ayyub AS tiba-tiba diberi cobaan kehilangan seluruh harta yang dimilikinya. Deretan musibah menimpa sang nabi, mulai dari anak-anaknya yang meninggal dunia hingga penyakit kulit yang dideritanya selama belasan tahun.

    Pada rentang waktu itu, hanya hati dan lidah Ayyub AS yang sehat. Meski ditimpa ujian berat, Nabi Ayyub AS tak henti-hentinya berdzikir kepada Allah SWT. Ia sabar dan tabah menghadapi cobaan yang diberikan Sang Khalik.

    Kondisi Nabi Ayyub AS yang seperti itu membuat dirinya dikucilkan oleh masyarakat. Bahkan, ia diusir dari kampung halamannya.

    Sampai-sampai, Nabi Ayyub AS dibuang ke tempat sampah milik bani Israil hingga tubuhnya dipenuhi lalat dan berbagai macam serangga. Tak ada seorang pun yang merasa iba kepadanya kecuali sang istri.

    Diceritakan oleh As-Saddiy, “Daging yang melekat pada tubuh Nabi Ayyub AS mulai berjatuhan hingga tidak ada yang tersisa di tubuhnya, kecuali tulang belulang dan otot-ototnya saja. Sementara itu, istrinya tiada henti menemui beliau sembari membawa abu gosok sebagai alas untuk berbaring,”

    Istrinya berkata, “Duhai Ayyub, seandainya engkau berdoa memohon kepada Tuhanmu, niscaya Dia akan menyembuhkanmu,”

    Kemudian Nabi Ayyub AS menjawabnya, “Aku telah menjalani hidup dalam keadaan sehat walafiat selama tujuh puluh tahun. Oleh sebab itu, tidak sewajarnyakah jika aku bersabar kepada Allah dalam menjalani ujian yang lebih pendek dari tujuh puluh tahun?”

    Mendengar jawaban Nabi Ayyub AS, sang istri terkejut. Kemudian, ia bekerja pada orang lain agar dapat mencukupi kebutuhan hidup bersama suaminya.

    Dikisahkan juga ketika istri Nabi Ayyub AS tidak kunjung mendapat pekerjaan, ia lalu menjual salah satu dari dua kepang rambutnya kepada putri pejabat agar ditukarkan dengan makanan yang banyak. Mengetahui hal itu, sang nabi berdoa pada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam surah Al Anbiya ayat 83,

    وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

    Dikisahkan dalam buku Cara Nyata Mempercepat Pertolongan Allah karya Syafi’ie el-Bantanie, penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub AS akhirnya sembuh atas pertolongan dari Allah SWT dengan mengabulkan doa-doanya.

    Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ayyub AS agar menghentakkan kakinya ke tanah hingga terpancarlah air yang dapat digunakan untuk mandi serta minum. Perintah itu dijelaskan dalam surah Sad ayat 42,

    ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

    Artinya: (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”

    Wallahu a’lam.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Adzan Terakhir Bilal bin Rabah dan Kesedihan setelah Wafatnya Rasulullah



    Jakarta

    Adzan adalah panggilan suci yang mengajak umat Islam untuk menjalankan ibadah. Mengenai adzan, pasti umat Islam teringat akan kisah Bilal bin Rabah.

    Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal karena adzannya. Berikut kisah tentang adzan terakhir Bilal bin Rabah.

    Kisah Bilal Bin Rabah

    Dirangkum dari buku Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW oleh Khalid Muhammad Khalid, Bilal bin Rabah adalah seorang lelaki berkulit hitam, kurus, tinggi jangkung, berambut lebat, dan bercambang tipis. Ia merupakan seorang budak dari Habasyah milik beberapa orang dari Bani Jumah di Mekah.


    Bilal bin Rabah sering mendengar Umayah membicarakan Rasulullah SAW, hingga mengeluarkan kata-kata buruk yang penuh kebencian. Melalui pembicaraan mereka yang keras penuh kecaman itu, Bilal bin Rabah menangkap pengakuan mereka akan kemuliaan, kejujuran, dan amanah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW.

    Bilal bin Rabah kagum dan penasaran terhadap agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Pada suatu hari, Bilal bin Rabah melihat cahaya Allah SWT dan mendengar suara-Nya di dalam relung jiwanya yang bersih. Ia pun bergegas menemui Rasulullah SAW dan memeluk Islam.

    Kabar keislaman Bilal terdengar hingga ke telinga majikannya dari Bani Jumah. Majikan Bilal merasa bahwa keislaman Bilal merendahkan kehormatan mereka semua.

    Mereka menyiksa Bilal dengan membaringkannya dalam keadaan telanjang di atas bara api agar ia melepaskan agamanya. Namun Bilal menolak keluar dari Islam dan tetap teguh menerima berbagai siksaan.

    Bilal bin Rabah mendapatkan siksaan yang kejam berulang setiap hari, hingga beberapa algojo kasihan kepada Bilal. Hingga pada akhirnya, Bilal pun dilepas dengan syarat agar ia menyebut nama-nama Tuhan mereka dengan sebutan yang baik.

    Bilal pun tetap menolak untuk mengucapkannya. Alih-alih mengucapkannya, Bilal menggantinya dengan senandung abadi yang ia ulang-ulang, “Ahad… Ahad…”.

    Ketidakmauan Bilal menyebut Tuhan mereka menyebabkan Bilal mendapatkan siksaan yang tiada henti. Saat Bilal sedang disiksa, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dan menawarkan harga pemerdekaan Bilal. Setelah menemukan kesepakatan, Bilal pun dijual kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan segera memerdekakannya saat itu juga.

    Abu Bakar kemudian membawa Bilal menghadap Rasulullah SAW sambil menyampaikan kabar gembira tentang kemerdekaan Bilal.

    Setelah Rasulullah SAW dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah dan menetap di sana, beliau mensyariatkan adzan sebelum salat. Rasulullah SAW kemudian memilihnya menjadi muadzin Islam pertama dengan suara yang merdu dan indah.

    Perang Badar pun pecah. Pasukan Quraisy datang menyerang Madinah, dan Bilal berjuang dengan keras.

    Di tengah pertempuran yang hebat, Bilal melihat Umayah yang pernah menyiksa tubuhnya. Sekelompok kaum Muslimin mengepung Umayah dan putranya. Umayah pun meninggal karena tebasan pedang-pedang kaum Muslimin. Peperangan pun dimenangkan oleh kaum Muslimin.

    Tibalah saatnya Mekah ditaklukkan. Rasulullah SAW memasuki Mekah sambil bersyukur dan mengumandangkan takbir dengan puluhan ribu kaum Muslimin.

    Rasulullah SAW menyuruh Bilal bin Rabah untuk naik ke atas masjid dan mengumandangkan adzan. Bilal pun melaksanakan perintah Rasulullah SAW tersebut. Seluruh masyarakat pun terkejut dan terpukau dengan suara adzan Bilal.

    Adzan Terakhir Bilal bin Rabah

    Beberapa saat kemudian, Rasulullah SAW wafat. Urusan kaum Muslimin dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq.

    Bilal bin Rabah datang kepada Abu Bakar Ash-Shidiq dan berkata dengan air mata yang berlinang, “Sungguh aku tidak akan lagi mengumandangkan adzan untuk siapa pun sesudah Rasulullah.”

    Singkat cerita, Bilal bin Rabah bertekad untuk berjuang di jalan Islam. Suaranya yang merdu, lebut, dan menyentuh itu tidak lagi mengumandangkan adzan seperti biasa. Sebab, ketika ia mengucap kalimat “Asyahu anna Muhammadarrasulullah”, maka ia akan sedih karena ingat kepada Rasulullah SAW.

    Adzan terakhir yang ia kumandangkan adalah ketika Amirul Mukminin Umar berkunjung ke Syam. Ketika itu, kaum Muslimim meminta Umar agar membujuk Bilal untuk mengumandangkan adzan bagi mereka.

    Amirul Mukminin Umar pun memanggil Bilal ketika waktu salat tiba. Umar berharap kepada Bilal agar dirinya mau mengumandangkan adzan.

    Hingga pada akhirnya, Bilal bin Rabah naik ke menara dan segera mengumandangkan adzan. Para sahabat dan orang-orang yang mendengar suara adzan Bilal pun menangis. Umar adalah orang yang paling keras tangisannya di antara mereka.

    Wafatnya Bilal bin Rabah

    Bilal wafat di Syam sebagai seorang pejuang di jalan Allah SWT. Merujuk pada buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, eberapa sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai wafatnya Bilal bin Rabah.

    Sebagian mengatakan bahwa Bilal bin Rabah wafat di Damaskus dan dimakamkan di Bab al-Saghir. Sebagian lain mengatakan bahwa Bilal bin Rabah wafat di Halb Aleppo dan dimakamkan di Bab al-Arba’in.

    Bilal bin Rabah wafat tanpa meninggalkan keturunan seorang pun. Semoga Allah SWT merahmatinya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Zakaria AS saat Mengharapkan Keturunan



    Jakarta

    Nabi Zakaria AS adalah keturunan Nabi Sulaiman AS. Seluruh usianya dipergunakan untuk menyeru kaum bani Israil agar bertakwa kepada Allah SWT, tapi mereka malah membangkang.

    Hingga usia senja, Nabi Zakaria AS tak kunjung diberi keturunan. Padahal ia sangat berharap memiliki anak yang kelak bisa meneruskan dakwahnya.

    Merangkum buku Belajar dari Para Rasul dan Nabi Jilid 5 oleh Abu Azka Ibn Abbas, Nabi Zakaria AS terus berdoa siang-malam. Ia tak henti-hentinya memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak.


    Nabi Zakaria AS berharap Allah SWT memberinya seorang putra yang dapat meneruskan tugasnya memimpin bani Israil. Beliau khawatir jika kelak meninggal, kaumnya akan mengubah syariat Nabi Musa AS dengan menambah atau mengurangi isi Taurat dengan seenak hati mereka.

    Setelah Nabi Zakaria AS menginjak 90 tahun, Allah SWT akhirnya mengabulkan doa Nabi Zakaria AS dan istrinya, Hanna. Mereka diberi keturunan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya.

    Padahal, Nabi Zakaria AS sudah tua. Istrinya pun mandul sehingga tidak memungkinkan untuk memiliki anak. Namun, karena kasih sayang Allah SWT kepada Nabi Zakaria AS, ia pun akhirnya diberi keturunan.

    Yahya adalah nama yang diberikan langsung oleh Allah SWT. Sebelumnya, Allah SWT tidak pernah menciptakan orang yang serupa dengan Yahya.

    Kelak anak Zakaria inilah yang akan memberikan firman Allah SWT tentang Nabi Isa AS. Ia meneruskan perjalanan dakwah Nabi Zakaria AS dan menjadi seorang nabi.

    Demikian kisah singkat Nabi Zakaria AS yang berharap memiliki keturunan. Karena kesabarannya itu, ia pun akhirnya dikaruniai seorang anak.

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Biografi Abdul Qadir Jailani, Tokoh Sufi Termasyur di Indonesia


    Jakarta

    Syekh Abdul Qadir Jailani merupakan tokoh sufi yang paling termasyur di Indonesia. Tokoh sufi ini lebih dikenal masyarakat dengan cerita-cerita karamahnya dibandingkan ajaran spiritualnya.

    Selain di Indonesia, ulama Persia ini sangat dihormati umat muslim di India dan Pakistan dan disebut sebagai wali yang mempunyai banyak kelebihan. Beliau memperoleh banyak julukan, seperti penghidup agama dan Ghaus-e-Azam yang berarti orang suci terbesar dalam Islam.

    Selain itu, Abdul Qadir Jailani juga dikenal sebagai ulama yang mendirikan Tarekat Qadiriyah dan ulama bermazhab Hambali. Pada artikel ini akan dibahas mengenai biografi singkat dari Abdul Qadir Jailani.


    Biografi Singkat Abdul Qadir Jailani

    Syekh Abdul Qadir Jailani adalah Syeikh pertama dalam Tarekat Qadariyah. Nama asli ulama fikih ini lengkap dengan nasabnya adalah Asy-Syekh Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan bin Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailani.

    Menukil Tasfir Jailani oleh Syekh Abdul Qadir Jailani, beliau lahir di Jalan, sebelah selatan laut Kaspia Iran pada tahun 470 H/1077 M. Dari pihak ibunya Sayyidina Fatimah, beliau ada keturunan Sayyidina Husain (cucu Nabi Muhammad SAW), sedangkan dari pihak ayah masih ada keturunan Sayyidina Hassan (cucu Nabi Muhammad SAW) .

    Setelah menyelami pengetahuan agama di kota kelahirannya, pada tahun 1095 M beliau terdorong untuk merantau ke Baghdad, kota yang pada saat itu menjadi pusat peradaban dan pengetahuan Islam. Beliau bermaksud menimba ilmu lebih dalam lagi mengenai Islam di sana.

    Selama di Baghdad, Abdul Qadir Jailani muda menjumpai para ulama, berguru dan bersahabat dengan mereka, sehingga ia berhasil menguasai ilmu lahir dan batin. Salah seorang yang menjadikan beliau seorang ahli sufi yang dihormati adalah ad-Dabbas yang membimbingnya dalam bidang tasawuf.

    Karya-Karya Abdul Qadir Jailani

    Menukil Al-Kisah no. 07 yang diterbitkan pada 7 April 2011, berikut karya-karya Abdul Qadir Jailani:

    1. Tafsir al-Jailani
    2. Al-Fatthu ar-Rabbani wa al-faydh ar-Rahmani
    3. As-Sholawat wa al-Aurad
    4. Al-rasail
    5. Yawaqit al-hikam
    6. al-Ghunyah li thalibi Thariqil Haqq
    7. Futuh al-Ghaib
    8. Ad-diwan
    9. Sirrul asrar
    10. Asrarul asrar
    11. Jalaul khathir
    12. Al-amru al-muhkam
    13. Ushulus Saba’
    14. Mukhtasar ihya ulumuddin
    15. Ushuluddin

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com