Tag: mobil listrik

  • Apakah Mobil Listrik Aman Terobos Banjir dan Bagaimana Perawatannya?



    Jakarta

    Curah hujan yang deras di berbagai wilayah akhir-akhir ini kerap menimbulkan genangan air atau banjir. Curah hujan yang tinggi ini menimbulkan kekhawatiran bagi pemilik kendaraan listrik. Apakah aman mobil listrik kena air sampai banjir-banjiran?

    Tenang, kebanyakan mobil listrik telah dirancang aman untuk kena air. Apalagi kalau mobil listrik tersebut sudah mengantongi sertifikasi IP (Ingress Protection)

    “Mobil listrik Hyundai sebetulnya aman jika terkena genangan air, asalkan air tidak naik sampai menutupi roda mobil. Mobil listrik Hyundai telah dirancang dengan perlindungan khusus terhadap air, termasuk baterai yang tertutup rapat dan sistem kelistrikan yang terisolasi dengan baik. Baterai dan sistem kelistrikannya memiliki isolasi yang kuat serta sertifikasi IP (Ingress Protection) yang melindunginya dari air dan debu,” kata Manager Aftersales Hyundai Gowa, Widi Mulyadi.


    “Semakin tinggi IP maka perlindungan terhadap air semakin besar. Namun, untuk menjaga performa kendaraan tetap optimal terutama dalam keadaan ekstrem seperti di musim hujan dengan curah hujan yang tinggi, kami sangat menyarankan agar pelanggan melakukan pengecekan rutin pada mobil listriknya,” lanjut Widi.

    Jika terkena dampak banjir atau melewati genangan air dalam batas aman (biasanya tidak lebih dari setengah tinggi roda), mobil listrik tetap dapat beroperasi dengan normal tanpa risiko korsleting atau mogok. Namun, jika terendam dalam air yang terlalu dalam untuk waktu yang lama, risiko kerusakan pada komponen lain, seperti motor listrik dan sistem elektronik, bisa meningkat.

    Pelanggan tetap disarankan untuk menghindari menerjang banjir. Jika terpaksa harus melewati genangan air atau bahkan banjir, pastikan untuk mengemudikannya secara perlahan dan hati-hati. Kurangi kecepatan dan hindari pengereman mendadak.

    Hyundai Gowa juga memberikan tips aman mempersiapkan kendaraan untuk musim hujan. Pertama, mengemudi pada kondisi hujan deras membuat pengemudi biasanya sulit melihat jalanan dengan jelas dan hal ini dapat membahayakan pengemudi. Sebaiknya ganti karet wiper apabila sudah terlihat tanda-tanda goresan pada kaca depan mobil supaya wiper dapat bekerja secara maksimal dan jarak pandang saat mengemudi tampak lebih jelas.

    Pengemudi perlu memastikan ban mobil memiliki tapak yang cukup. Jika ban mobil tidak memiliki tapak yang cukup, menghentikan secara cepat pada jalan yang basah dapat menyebabkan slip dan mungkin menyebabkan kecelakaan.

    Pastikan untuk selalu mengecek daya baterai mobil listrik sebelum berkendara, terutama saat hujan deras, untuk memastikan kendaraan siap digunakan dan menghindari kemungkinan kehabisan daya di tengah perjalanan.

    Pastikan selalu membawa perlengkapan darurat lainnya, seperti jas hujan dan payung untuk berjaga-jaga jika kondisi darurat dan harus keluar mobil saat hujan deras. Obat-obatan pribadi dan kotak P3K juga perlu disiapkan untuk pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • 5 Tips Mudik Pakai Mobil Listrik agar Aman dan Nyaman


    Jakarta

    Menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak masyarakat yang mulai pulang ke kampung halaman. Apabila kamu berniat mudik pakai mobil listrik, ada beberapa tips penting yang perlu diketahui.

    Mudik jadi salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Tanah Air. Ada yang memilih menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, dan pesawat, lalu ada juga yang mengendarai kendaraan pribadi.

    Bagi kamu yang berencana mudik dengan mengendarai mobil pribadi, khususnya yang bertenaga listrik, ada beberapa hal penting yang harus diketahui. Langkah ini agar tetap aman dan nyaman selama di perjalanan.


    Lantas, apa saja tips mudik pakai mobil listrik? Simak pembahasannya dalam artikel ini.

    Tips Mudik Pakai Mobil Listrik

    Dilansir situs Wuling Indonesia, berikut sejumlah tips mudik pakai mobil listrik agar aman dan nyaman sampai di tujuan:

    1. Merencanakan Perjalanan

    Tips yang pertama adalah merencanakan perjalanan sebelum berangkat mudik. Sebagai pemilik kendaraan, kamu wajib tahu soal kapasitas baterai, jarak tempuh yang mampu dicapai saat kondisi baterai penuh, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang baterai.

    Selain itu, detikers juga harus mengkalkulasikan jarak dan waktu perjalanan yang akan ditempuh selama mudik. Kamu bisa mengecek estimasi perjalanan di Google Maps, tetapi itu belum termasuk dengan waktu istirahat sejenak di rest area.

    2. Mengetahui Lokasi SPKLU

    Selain merencanakan perjalanan, kamu juga harus melakukan riset mendalam soal lokasi SPKLU pengisian baterai dengan jenis-jenis soket pengisian daya (port charging), seperti CHAdeMO, CCS, dan AC Charging.

    Pada umumnya, saat ini SPKLU terdiri dari empat kategori, mulai dari slow charging (≥ 7 kW), medium charging (≥ 25 kW), fast charging (≥ 50 kW), dan ultrafast charging (≥100 kW).

    3. Mengecek Kondisi Mobil

    Langkah yang paling penting sebelum mudik adalah mengecek seluruh kondisi mobil. Lakukan pemeriksaan terhadap tekanan ban, sistem pendingin, hingga kondisi baterai mobil listrik.

    Sebaiknya, lakukan pengecekan mobil listrik ke bengkel resmi yang terdekat dari rumah. Langkah ini guna memastikan bahwa mobil dalam kondisi prima, sehingga dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

    4. Perhatikan Gaya Berkendara

    Selama perjalanan mudik, perhatikan juga kecepatan dan gaya berkendara. Berbeda dengan mobil konvensional yang lebih boros energi saat melaju dalam kecepatan rendah, khususnya di jalanan macet, mobil listrik justru lebih boros energi ketika digunakan dalam kecepatan tinggi seperti di jalan tol.

    Soalnya, mobil listrik mendapatkan torsi secara instan dengan semakin besarnya hambatan udara yang dihadapi kendaraan. Maka dari itu, hindari menyetir mobil secara agresif dan jaga rata-rata kecepatan mobil tetap stabil di rentang 60-80 km per jam.

    Selain lebih hemat energi agar tidak bikin baterai cepat habis, langkah ini juga untuk memberikan rasa aman selama perjalanan.

    5. Istirahat jika Sudah Lelah

    Selama mudik, detikers akan menempuh jarak hingga ratusan kilometer untuk bisa sampai di tempat tujuan. Hal ini terkadang membuat tubuh cepat lelah sehingga mudah kantuk.

    Kalau sudah lelah, segera melipir sejenak ke rest area untuk beristirahat. Pastikan kamu mencari rest area yang juga menyediakan SPKLU agar mobil bisa diisi ulang baterainya.

    Ketika badan sudah segar, baterai mobil listrik juga sudah kembali penuh. Kini, detikers tinggal melanjutkan perjalanan menuju ke kampung halaman.

    Cara Cek Lokasi SPKLU saat Mudik Lebaran

    Pemudik yang akan mengendarai mobil listrik tak perlu khawatir soal ketersediaan SPKLU. Sebab, PLN sudah menyiapkan 1.000 unit SPKLU di sepanjang jalur mudik Trans Jawa-Sumatera.

    Secara rinci, jumlah SPKLU di Sumatera sebanyak 431 unit, Jawa 2.448 unit, Bali 166 unit, Kalimantan 215 unit, Sulawesi 145 unit, Maluku 26 unit, Nusa Tenggara 72 unit dan Papua 26 unit.

    “Guna memastikan para pemudik nyaman dalam melakukan pengisian daya, PLN juga menyiagakan sebanyak 12 unit SPKLU mobile yang tersebar di jalur Trans Jawa-Sumatera. Keberadaan unit ini juga penting khususnya dalam membantu pemudik EV jika sewaktu-waktu kehabisan daya di perjalanan,” kata Direktur Ritel dan Niaga PLN Edi Srimulyani dikutip Antara, Jumat (14/3/2025).

    Kini, detikers bisa mengetahui lokasi SPKLU dengan mudah dan cepat lewat aplikasi Google Maps di smartphone. Berikut langkah-langkahnya:

    • Buka aplikasi Google Maps
    • Di bagian sub menu, geser layar ke kiri untuk memilih kolom ‘Lainnya’ atau ‘More’
    • Geser layar ke bawah dan pilih opsi ‘Charging stations’ atau tempat pengisian mobil listrik
    • Setelah itu, akan muncul lokasi SPKLU yang terdekat dari lokasi kamu saat ini.

    Demikian lima tips mudik pakai mobil listrik agar aman dan nyaman. Semoga bermanfaat!

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • 4 Tips Beli Ban Mobil Listrik, Harus Tepat Biar Jarak Tempuh Jauh


    Jakarta

    Mengganti ban mobil listrik tak bisa sembarangan. Soalnya, ban mobil listrik memiliki perbedaan dibandingkan dengan ban mobil konvensional.

    Dunlop mengingatkan setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan saat melakukan pergantian ban mobil listrik. Sebab, pemilihan ban yang tepat sangat diperlukan guna mengoptimalkan performa serta efisiensi energi.

    4 Tips Sebelum Membeli Ban Mobil Listrik


    1. Perhatikan Konstruksi Ban dan Kompon Karet yang Kuat

    Mesin mobil listrik menghasilkan torsi instan yang tinggi. Kondisi ini menciptakan kebutuhan akan ban dengan konstruksi dan kompon karet yang lebih kuat. Selain itu, ban yang kuat juga mampu mengurangi risiko keretakan atau deformasi yang disebabkan oleh daya torsi tinggi pada permukaan jalan yang kasar atau tidak rata.

    2. Cari yang Rolling Resistance Rendah

    Rolling resistance, atau hambatan gulir, adalah salah satu aspek terpenting dalam desain ban mobil listrik. Hambatan gulir yang rendah membantu:

    • Mengimbangi bobot kendaraan:Mobil listrik memerlukan ban dengan rolling resistance rendah agar dapat bergerak lebih efisien.
    • Menghemat penggunaan baterai:Pilih ban yang mampu meminimalkan energi untuk mempertahankan gerakan kendaraan, sehingga memperpanjang jarak tempuh per pengisian daya.

    3. Pastikan Daya Cengkeram Baik

    Mengapa daya cengkeram penting? Mobil listrik sering kali mampu mencapai kecepatan tinggi dalam waktu singkat. Ban dengan daya cengkeram tinggi memastikan kendaraan tetap stabil selama akselerasi. Selain itu, ban yang berkualitas dapat mengurangi jarak pengereman, terutama di jalan yang licin atau basah. Ban dengan grip yang baik memberikan pengalaman berkendara yang lebih halus dan responsif. Desain tapak ban (tread design) juga berperan besar dalam meningkatkan daya cengkeram.

    4. Memiliki Teknologi Peredam Kebisingan

    Salah satu keunggulan mobil listrik adalah suara mesinnya yang hampir tidak terdengar. Namun, hal ini juga berarti bahwa suara ban menjadi lebih jelas terdengar oleh penumpang. Untuk itu, perlu dipastikan bahwa ban memiliki peredam kebisingan agar perjalanan nyaman.

    Itu tadi empat tips yang wajib diperhatikan sebelum membeli ban untuk mobil listrik. Terlebih buat yang mau melakukan perjalanan mudik, sebaiknya melakukan pengecekan mendalam terhadap ban. Kalau memang harus diganti, jangan ditunda. Buat kamu pengguna ban Dunlop yang ingin membeli ban baru, bisa juga memanfaatkan program Kejutan Dunlop.

    Kejutan Dunlop Spesial diluncurkan pada awal Maret 2025 hingga 31 Mei 2025, di mana setiap konsumen yang melakukan pembelian ban Dunlop berkesempatan untuk mendapatkan hadiah utama, Mitsubishi X-Force Ultimate.

    Selain itu, masih sederet hadiah menarik lainnya, seperti 2 unit Yamaha X-Max 250, 9 unit Smart TV 65″ inch, dan cashback sampai dengan 3 Juta Rupiah dengan pajak ditanggung Dunlop diberikan kepada konsumen.

    Dunlop Grandtrek SeriesDunlop Grandtrek Series Foto: dok. Dunlop

    “Spesial Bannya, Spesial Promonya melekat pada program ini. Ada 100 konsumen pertama pada tiap bulannya mendapat Rp 100 ribu. Cashback lainnya berlaku bagi konsumen yang bertransaksi dengan pembelian min.4 ban RIM 17 ke atas, akan mendapatkan cashback hingga Rp 3 juta,” ujar Marketing Department Head PT Sumi Rubber Indonesia, Johan Tri dalam siaran persnya.

    Caranya pun cukup mudah, konsumen cukup mendatangi Dunlop Shop terdekat dan melakukan pembelian min. 2 ban Dunlop dengan tipe SP Sportmaxx 050+, SP Sport LM705, Direzza DZ102, Enasave Series, Grandtrek Series, dan OEM series tipe tertentu atau min.4 ban SP Touring R1 akan mendapatkan 1 nomor undian (berlaku kelipatan). Sementara untuk line-up Dunlop di atas RIM 17 inci mendapatkan 2 nomor undian.

    Setelah itu, scan barcode untuk mengisi form Kejutan Dunlop Spesial, lalu menunggu konfirmasi dari Dunlop Tyres Indonesia ke WA aktif pelanggan yang berisikan info transaksi dan kode unik. Untuk lebih jelasnya, konsumen dapat mengunjungi kejutandunlop.com.

    Sementara pengumuman pemenang akan dilaksanakan tanggal 23 Juni 2025 di hadapan Notaris, Kepolisian setempat, Dinas Sosial, dan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Puncak pengumuman Kejutan Dunlop Spesial akan ditayangkan secara live di Youtube Channel Dunlop Tyre Indonesia

    (lth/dry)



    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari Kecelakaan Maut Ioniq 5 N Tabrak Bokong Truk di Tol JORR



    Jakarta

    Mobil listrik performa tinggi Hyundai Ioniq 5 N menabrak truk yang sedang mogok di Tol JORR. Akibat kecelakaan ini, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.

    Kanit Gakkum Satlantas Polres Metro Jakarta Barat AKP Joko Siswanto mengatakan peristiwa terjadi pada Sabtu (29/3) pukul 19.00 WIB. Tabrakan terjadi mulanya Ioniq yang dikemudikan pria KI (32) melaju dari arah utara menuju selatan.

    Sesampainya di lokasi, Ioniq tersebut menabrak truk mogok yang terparkir. “Sesampainya di dekat Km 05.200 Wilayah Cengkareng Jakarta Barat menabrak kendaraan light truk yang berhenti di lajur 1 sedang memperbaiki as roda belakang patah,” kata Joko dikutip detikNews.


    Mobil listrik Ioniq 5 N itu berbeda dengan Ioniq 5 biasa. N dalam penamaan mobil tersebut mengindikasikan bahwa mobil itu adalah performa tinggi. Mobil ini dapat melesat dari posisi diam hingga kecepatan 100 km/jam dalam 3,4 detik. Kecepatan tertingginya bisa mencapai 260 km/jam.

    Berdasarkan pengalaman detikOto, nyetir Ioniq 5 N memang memacu adrenalin. Tenaga dan torsinya yang besar ditambah raungan suara mesin virtual ala mobil sport bikin pengemudinya ingin bejek gas terus hingga kecepatan tinggi. Jika tidak bijak dalam berkendara dengan mobil ini, terlebih di jalan raya, risiko kecelakaan akan semakin besar.

    Hyundai Ioniq 5 NHyundai Ioniq 5 N Foto: Dok. Hyundai

    Menurut praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, berkendara dengan kecepatan tinggi tak hanya asal ngegas. Perlu ada banyak perhitungan agar tak memicu kecelakaan.

    “Berkendara dengan kecepatan tinggi itu mudah, tinggal tekan pedal gas dalam-dalam. Tapi semakin kencang mobil berlari semakin sulit mobil tersebut diberhentikan, apalagi mobil listrik yang tenaganya spontan dan torsinya besar. Kedua, daya pandang pengemudi semakin sempit. Juga semakin besar mobil kehilangan keseimbangan,” beber Sony kepada detikOto, Minggu (30/3/2025).

    Menurut Sony, mengemudi mobil listrik itu spesial. Teknologinya canggih sehingga pengemudi harus bisa beradaptasi.

    “Mungkin secara operasional sama, tapi secara teknik berbeda. Contoh, injak pedal gas harus smooth, injak pedal rem ada rasa delay, di tanjakan/turunan/tikungan harus cover brake dan mengaktifkan fitur hill assist atau regeneratif brake. Masih banyak lagi, terutama mobil listrik itu diciptakan untuk lebih ramah lingkungan,” ujar Sony.

    Sony juga menyoroti kemungkinan mobil listrik tersebut dipacu di bahu jalan, tempat truk mogok sedang diperbaiki. Sony menegaskan, bahu jalan hanya untuk keadaan darurat. Maka dari itu, ada bahaya mengintai di bahu jalan, salah satunya kendaraan yang berhenti karena keadaan darurat.

    “Bahu jalan itu seharusnya untuk darurat yang kecepatannya rendah atau berhenti dan bukan untuk mendahului. Jika ada mobil yang rusak/mogok berhentinya pasti di bahu jalan, memang harusnya relatif lebih kosong. Kalau maksa lewat bahu jalan dengan konsep mendahului (kecepatannya tinggi) ketemu dengan mobil yang statis atau berhenti, maka bisa dibayangkan benturannya,” tegas Sony.

    (rgr/mhg)



    Sumber : oto.detik.com

  • APAR Biasa Gak Bisa Padamkan Baterai Lithium Mobil Listrik yang Terbakar



    Jakarta

    Kasus mobil listrik terbakar memang jarang terjadi, namun bagi pemilik mobil listrik disarankan untuk tidak hanya menyediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) biasa atau konvensional. Soalnya api pada baterai mobil listrik tidak akan bisa padam jika menggunakan APAR konvensional.

    Dalam liputan detikOto sebelumnya, dijelaskan mengapa APAR konvensional atau APAR biasa tidak bisa memadamkan api yang dikeluarkan dari baterai lithium. Soalnya APAR konvensional itu dibuat berbahan dasar bubuk, dan hal tersebut tidak dapat digunakan untuk memadamkan kobaran api yang dihasilkan baterai lithium.

    Disarankan para pemilik kendaraan listrik atau mobil listrik, selalu menyediakan APAR yang mengandung water based chemical dan mengandung senyawa Potassium yang mampu memadamkan api dari baterai lithium yang memiliki temperatur lebih dari 1.200 derajat celcius.


    Proses pemadaman mobil listrik BYD Seal yang terbakar di dalam garasi rumah di Jakbar.Ilustrasi Proses pemadaman mobil listrik BYD Seal yang terbakar di dalam garasi rumah di Jakbar. Foto: Dok. istimewa

    “Karena APAR jenis powder based didesain untuk memadamkan api dengan temperatur 600 derajat celcius ke bawah. Sedangkan api pada baterai lithium memiliki temperatur dari 1.200 derajat celcius,” terang Willy Hadiwijaya selaku CEO PT FAST waktu itu.

    Willy juga menambahkan untuk pemilik kendaraan listrik, selain harus memiliki APAR yang mengandung water based chemical, disarankan untuk menggunakan alat yang berbasis food grade. Sehingga APAR ini tidak berbahaya bagi makhluk hidup yang terpapar.

    Walaupun sangat berbahaya ketika terbakar, namun perlu diketahui bahwa sebenarnya baterai berjenis lithium sendiri tidak mudah terbakar. Dalam simulasi baterai lithium terbakar waktu itu, ditunjukkan bahwa baterai dibakar menggunakan api secara langsung, tapi baterai tidak langsung terbakar dengan signifikan.

    (lth/rgr)



    Sumber : oto.detik.com

  • Tips Aman Tinggalkan Mobil Listrik Berhari-hari di Garasi



    Jakarta

    Pakar kendaraan listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi membagikan tips atau cara aman meninggalkan mobil listrik berhari-hari di garasi rumah. Harapannya, insiden BYD Seal keluar asap di Palmerah, Jakarta Barat, tak terulang lagi di masa depan.

    Agus menjelaskan, ketika mobil listrik mau ditinggal lama, maka pastikan ruang garasinya tak panas atau lembab. Maka, pilihlah tempat yang sejuk dan berventilasi baik. Hal tersebut untuk menjaga suhu kendaraan tetap ideal.

    “Terkait tips umum agar lebih aman bila ingin EV (electric vehicle) ingin ditinggal cukup lama maka perlu diperhatikan kondisi area penyimpanan tidak panas maupun lembab tapi sejuk dan berventilasi baik,” ujar Agus Purwadi saat dihubungi detikOto, Kamis (15/5).


    Selain itu, kata Agus, ada satu komponen mobil listrik yang perlu mendapat perhatian lebih, yakni baterai. Dia mengingatkan, pastikan baterai tidak kosong atau terlalu penuh saat kendaraan ditinggal berhari-hari di garasi.

    “Kemudian (yang harus diperhatikan lagi), kondisi muatan baterai kendaraan tidak kosong ataupun terisi penuh. Pastikan muatan baterai di angka sekitar 50 persen atau sesuai rekomendasi dari pabrikannya,” ungkapnya.

    Proses pemadaman mobil listrik BYD Seal yang terbakar di dalam garasi rumah di Jakbar.BYD Seal mengeluarkan asap. Foto: Dok. istimewa

    Di kesempatan yang sama, Agus Purwadi juga menyampaikan analisisnya mengenai kasus BYD Seal yang mengeluarkan asap di Palmerah, Jakarta Barat. Dia mengira, ada tiga pemicu utama di balik insiden tersebut.

    Pertama, kata Agus, kepulan asap tersebut berasal dari baterai kendaraan. Sebab, komponen itu mudah bermasalah ketika overheat atau terlalu panas. Kerusakan pada baterai tak melulu memunculkan api, melainkan bisa hanya kepulan asap.

    Kedua, lanjut dia, ada kerusakan di sistem kelistrikan seperti hubung singkat. Kondisi tersebut bisa memicu panas berlebih dan menyebabkan asap atau kebakaran.

    “Lalu yang ketiga, komponen elektronika daya. Kerusakan pada komponen elektronika daya seperti inverter atau charger bisa juga menyebabkan masalah (di kendaraan),” ungkapnya.

    Meski punya analisis pribadi, namun Agus menyarankan agar publik menunggu hasil pemeriksaan tim BYD Indonesia. Sebab, perusahaan asal China itu berjanji akan melakukan investigasi secara menyeluruh.

    “Untuk lebih jelasnya maka sebaiknya bisa tunggu hasil investigasi Tim BYD yang pasti sedang menangani secara serius dan mendalam karena saat ini merupakan market leader baik di Indonesia maupun dunia,” kata dia.

    (sfn/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Ngecas HP di Mobil Listrik Bikin Baterai jadi Boros?



    Jakarta

    Ada anggapan kalau ngecas HP di mobil listrik bisa bikin baterai lebih boros? Kedengarannya sepele, tapi ternyata banyak yang salah kaprah soal ini. Lantas seperti apa faktanya?

    Menurut Aldi Ruvian dari After Sales Department AION Indonesia, hal-hal kecil seperti ngecas HP di mobil listrik memang bisa berpengaruh terhadap konsumsi daya secara keseluruhan. Apalagi kalau dilakukan bersamaan dengan penggunaan elektronik lainnya.

    “Minimalkan penggunaan elektronik di dalam mobil seperti charging atau menyolok untuk charging sesuatu, gadget dan lainnya. Jadi hal-hal seperti itu memang dapat memberikan efisiensi yang lebih baik ketika menggunakan mobil listrik,” ujar Aldi beberapa waktu lalu.


    Tapi tentu saja, ngecas HP enggak serta-merta langsung bikin baterai mobil jebol. Yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan kecil yang menumpuk, ditambah dengan gaya berkendara yang tidak efisien.

    Nah, biar konsumsi daya mobil listrik tetap irit, AION Indonesia juga membagikan beberapa tips simpel tapi penting:

    1. Hindari Akselerasi Mendadak

    “Salah satunya adalah yang pertama terkait dengan cara berkendara yaitu akselerasi. Jadi yang pertama adalah hindari akselerasi yang berlebihan seperti stop n go secara tiba-tiba,” jelas Aldi.
    Kebiasaan injak gas dan rem mendadak bikin sistem kerja baterai lebih berat. Kondisi ini diklaim dapat membuat baterai jadi cepat habis.

    2. Jaga Kecepatan Stabil

    “Yang kedua adalah jaga batas kecepatan. Jadi seperti kita tahu bahwa batas kecepatan di tol itu kan ya ada yang 80 ada yang mungkin 100 ya, nah jadi jangan lebih dari segitu.”
    Menurut Aldi, saat kecepatan sudah tembus 100 atau 120 km/jam, konsumsi baterai cenderung tinggi. Ia mengibaratkan sama seperti mobil bensin yang semakin boros ketika diajak ngebut.

    3. Aktifkan ECO Mode atau Gunakan E-Pedal

    “Tips ketiga adalah memaksimalkan penggunaan fitur ECO mode atau E Pedal. Yang dimana sistem regenerative braking, sehingga ketika pedal gas dilepas, daya akan terisi kembali ke dalam baterai.”

    Dengan fitur ini, energi yang biasanya terbuang saat deselerasi bisa dikembalikan ke baterai. Sedikit banyak, penggunaan fitur regenerative braking dapat membuat konsumsi baterai kian efisien.

    (mhg/dry)



    Sumber : oto.detik.com

  • Jalan Jauh Pakai Mobil Listrik? Lakukan Ini Biar Gak Abis Baterai di Jalan!



    Jakarta

    Bepergian jarak jauh dengan mobil listrik kini bukan lagi hal yang sulit. Teknologi dan infrastruktur pengisian daya yang terus berkembang membuat perjalanan jadi lebih praktis.

    Meski begitu, ada satu hal yang tetap penting diperhatikan yakni kondisi baterai dan jangan sampai kehabisan baterai di tengah jalan. Karena itu, perencanaan rute dan pengisian daya jadi kunci utama untuk memastikan perjalanan tetap lancar.

    Menurut Aldi Ruvian dari After Sales Department AION Indonesia, sekarang udah ada fitur bernama trip planner yang bisa bantu perhitungan titik-titik charging selama perjalanan.


    “Ada yang namanya trip planner gitu ya. Jadi trip planner itu bisa dipakai dari aplikasi-aplikasi untuk pengisian daya (charging) seperti yang saya contohkan dari PLN Mobile misalkan, dia sudah ada semacam trip planner. Jadi misalkan pelanggan ingin melakukan perjalanan ke suatu kota, di titik mana aja sih yang nanti sebaiknya dilakukan charging,” jelas Aldi.

    Di sisi lain, Marketing Communications dan Public Relations AION Indonesia, Valdo Prahara, juga menyebutkan bahwa pengguna mobil listrik sekarang umumnya sudah paham dengan kondisi mobilnya serta tantangan yang mereka hadapi saat perjalanan jauh.

    AION Indonesia sudah berulang menguji mobilnya untuk perjalanan jauh, bahkan mengajak awak media untuk tes mobil listriknya dari Jakarta ke Semarang tanpa mengecas. Terbukti aman tanpa perlu khawatir.

    “Tabiatnya orang-orang yang pakai mobil listrik itu yang sekarang pasti udah bisa banget nge-plan dan juga gak perlu khawatir lagi ya karena produk AION sendiri kan jaraknya cukup jauh,” kata Valdo.

    SPKLU PLNSPKLU PLN Foto: 20detik

    Tips Berkendara Jauh dengan Mobil Listrik

    Agar perjalanan jarak jauh dengan mobil listrik tetap aman dan nyaman, berikut beberapa tips yang disarankan oleh PLN:

    1. Pastikan Kendaraan dalam Kondisi Prima

    Periksa seluruh komponen kendaraan, termasuk tekanan ban, sistem kelistrikan, dan kondisi rem. Pastikan juga baterai dalam keadaan terisi penuh sebelum memulai perjalanan.

    2. Manfaatkan Fitur Trip Planner

    Gunakan aplikasi seperti PLN Mobile untuk merencanakan rute perjalanan sekaligus melihat lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Perencanaan ini penting untuk menghindari risiko kehabisan daya di tengah perjalanan.

    3. Hindari Akselerasi dan Kecepatan Berlebih

    Jaga kecepatan agar tetap stabil dan hindari akselerasi mendadak. Kebiasaan berkendara yang agresif dapat mempercepat konsumsi daya baterai.

    4. Maksimalkan Fitur Regenerative Braking

    Aktifkan mode berkendara hemat seperti ECO Mode atau E-Pedal untuk mengoptimalkan fitur regenerative braking. Fitur ini memungkinkan daya listrik dikembalikan ke baterai saat kendaraan melambat.

    5. Siapkan Kabel Charging Pribadi

    Saat ini, penyebaran SPKLU belum merata di seluruh daerah. Lantas penting juga bagi pemilik mobil listrik untuk membawa kabel charging sendiri untuk berjaga-jaga baterai lemah di jalan atau untuk mengecas saat di penginapan di kota tujuan.

    6. Hindari Jalur dengan Kemacetan Parah

    Meski daya yang termakan lebih banyak saat melaju kencang, mobil listrik tetap mengkonsumsi daya saat berhenti apalagi jika sistem AC menyala. Oleh sebab itu, efisiensi akan lebih optimal saat melintasi jalan yang bebas dari kemacetan. Gunakan aplikasi navigasi untuk memantau lalu lintas dan memilih jalur yang lebih lancar.

    7. Siapkan Rencana Cadangan

    Sebaiknya tentukan titik SPKLU alternatif di sepanjang rute perjalanan. Hal ini berguna apabila lokasi pengisian utama tidak tersedia atau sedang antre.

    (mhg/lth)



    Sumber : oto.detik.com

  • Pasang Dashcam di Mobil Listrik, Kelistrikan Aman Nggak Ya?



    Jakarta

    Kamera dasbor atau dashcam saat ini menjadi kebutuhan buat pemilik kendaraan. Rekaman dari dashcam dapat menjadi bukti jika terjadi sesuatu di jalan. Namun, ada kekhwatiran soal instalasi dashcam di mobil listrik, apakah kelistrikan dan kesehatan baterai tetap aman?

    Dashcam berfungsi sebagai “saksi mata digital” yang tidak memihak. Dalam kasus kecelakaan, rekaman dashcam bisa menjadi alat bukti yang kuat dan mencegah konflik hukum. Selain itu, dashcam juga membantu mencegah penipuan lalu lintas, mendeteksi aksi kriminal seperti pencurian, pemalakan dan vandalisme, memberikan pemantauan saat parkir, dan mendokumentasikan perjalanan.

    Namun, ada kekhawatiran umum yang sering muncul dari pengguna kendaraan listrik (EV), apakah dashcam bisa mengganggu sistem kelistrikan EV atau memperpendek usia baterai?


    Salah satu produsen dashcam, BlackVue, mengklaim, kamera dasbornya tetap aman digunakan oleh kendaraan listrik. “Banyak pengguna EV kami di Asia, AS, dan Eropa memilih BlackVue karena sistem kami aman, efisien, dan tidak mengganggu sistem kendaraan modern, termasuk EV dengan fitur ADAS sekalipun,” kata Direktur Pemasaran Blackvue Indonesia, Rudy.

    Salah satunya karena adanya fitur dashcam yang tidak memiliki daya tinggi. Di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, BlackVue meluncurkan dashcam flagship terbarunya, Elite 8 Series. Dashcam itu diklaim memiliki kualitas rekaman tinggi, efisiensi daya, dan konektivitas canggih.

    Dashcam Elite 8 memiliki fitur Power Saving Parking Mode. Fitur itu memastikan kamera tetap aktif hingga berminggu-minggu tanpa menguras aki, berkat konsumsi daya ultra-rendah di bawah 1mA. Kamera akan aktif otomatis saat ada benturan, dengan waktu respon kurang dari 1 detik.

    Dengan konsumsi daya di bawah 1mA dan sistem voltase cut-off otomatis, ELITE 8 cocok untuk kendaraan listrik seperti Tesla, Hyundai IONIQ, Nissan Leaf, Wuling EV, hingga BYD yang mementingkan efisiensi penggunaan baterai.

    Dashcam ini dilengkapi dengan Dual HDR dan sensor Sony STARVIS 2, ELITE 8 memberikan video jernih di segala kondisi, termasuk cahaya rendah di bawah 0.03 Lux atau hampir gelap total. ELITE 8 juga memiliki fitur Full-Color Night Vision, hasil rekaman tetap berwarna dalam kondisi gelap, hal ini berguna untuk melihat detail seperti warna kendaraan, pelat nomor dan rambu lalu lintas.

    Ketika terjadi tabrakan, dashcam Blackvue Elite 8 memiliki Event buffer. Ketika mobil mengalami tabrakan, Blackvue akan memastikan rekaman 10 detik sebelum terjadinya tabrakan tetap terekam dan bisa digunakan untuk memperjelas bukti rekaman sebelum kejadian. Ini berarti klip video peristiwa yang direkam saat mengemudi atau parkir menyertakan rekaman lima detik yang terjadi sebelum peristiwa pemicu terjadi.

    ELITE 8 juga menyertakan Built-in GPS, Wi-Fi.GPS yang menyematkan data kecepatan dan lokasi dalam video yang direkam, memungkinkan pengguna untuk melihat lokasi kamera di peta selama pemutaran di Aplikasi Blackvue atau BlackVue Viewer.Wi-Fi memungkinkan pengguna untuk terhubung ke aplikasi BlackVue mereka dengan smartphone atau tablet untuk transfer file cepat.

    Fitur penting lainnya dari ELITE 8 termasuk speaker internal, sensor benturan, dan deteksi gerakan.Kamera dasbor memberi tahu pengguna saat menyala, mati, atau mendeteksi kesalahan, melalui speaker yang disematkan di kamera depan. Akselerometer internal kamera depan mendeteksi benturan untuk memicu perekaman event, dan mengaktifkan Mode Parkir saat tidak bergerak selama lima menit. BlackVue menandai semua video (Normal, Event, Mode Parkir, dll.) sehingga pengguna dapat memfilternya dan dengan cepat menemukan yang mereka butuhkan di aplikasi atau BlackVue Viewer.

    Blackvue memiliki fitur tahan panas, sehingga bisa tetap beroperasi pada suhu yang sangat tinggi. Hasil rekaman akan selalu ada pada saat dibutuhkan.

    (rgr/riar)



    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari Mobil Listrik Tabrak Driver Ojol Hingga Tewas



    Jakarta

    Kecelakaan maut terjadi di Jalan Pangeran Antasari, Cilandak, Jakarta Selatan. Seorang pengendara (ojek online) ojol tewas pada kecelakaan yang melibatkan mobil listrik.

    Dikutip detikNews, insiden ini melibatkan mobil listrik Hyundai Ioniq dengan motor yang dikendarai ojol. Driver ojol meninggal dunia, sementara pemboncengnya mengalami luka-luka.

    Peristiwa ini terjadi pada Rabu (30/7) dini hari sekitar pukul 00.36 WIB. Kecelakaan tersebut juga mengakibatkan kerusakan warung yang turut ditabrak mobil Ioniq.


    Kecelakaan diawali saat pengemudi Ioniq melaju dari selatan ke utara di Jalan Antasari. Setiba di persimpangan Pasar Inpres, pengendara mobil diduga tidak hati-hati dan tidak konsentrasi sehingga kendaraan menabrak pengemudi sepeda motor dari arah utara ke selatan.

    “Berakibat pengendara sepeda motor meninggal dunia dan pemboncengnya berinisial MG luka ringan,” ujarnya.

    Dari kecelakaan ini, bisa diambil pelajaran penting agar tak terulang peristiwa serupa. Menurut Road Safety Comission Ikatan Motor Indonesia dan Wakil Ketua Umum Bidang Diklat Perkumpulan Keamanan dan Keselamatan Indonesia (Kamselindo) Erreza Hardian, waktu kecelakaan di tengah malam itu memang berisiko.

    “Kebanyakan orang sedang istirahat dan tidur, tapi untuk lalu lintas Jakarta aktivitas hampir 24 jam. Jadi ketika di atas jam 22.00 (sebagai acuan dasar jam biologis manusia istirahat) tapi ini tetap beraktivitas, artinya ada penurunan kondisi fisik dan mental tubuh. Sering dianggap aman, padahal justru bahaya makin banyak di atas jam tersebut,” kata Reza kepada detikOto, Kamis (31/7/2025).

    Tak cuma itu, Reza menyoroti ojol dan penumpangnya banyak yang lalai, tidak menggunakan peralatan keamanan dengan benar. Sedangkan pengguna kendaraan listrik dengan torsi yang besar, juga turut menjadi sorotan. Ketika torsi besar kendaraan listrik menabrak pemotor dengan perlindungan yang minim, maka fatal akibatnya.

    “Pengguna kendaraan listrik dengan torsi awal sangat besar, mungkin dia sudah mengurangi kecepatan saat perempatan. Tapi karena dianggap aman, tambah akselerasi. Dan ini yang membuat risiko bertambah adalah pemicu ketika korbannya tanpa perlindungan terbaik, apalagi pengguna motor tanpa perlengkapan yang baik dan benar,” sebutnya.

    Reza menyarankan, pengemudi mobil bertransmisi otomatis sebaiknya jangan anteng di gear D. Manfaatkan gigi lain agar kecepatan kendaraan dapat dibatasi.

    “Saya sering memberikan teknis mengemudi mengendalikan kendaraan matic dengan cara membatasi transmisi. Kecepatan kendaraan kita dipengaruhi oleh transmisi, maka jangan melulu di D ketika potensi bahaya meningkat contoh di atas jam rawan. Pindahkan ke 3 atau 2, jadi kalau kaki kanan mulai out of control, rpm tinggi, tapi kecepatan terkendali pada batas transmisinya. Tidak usah takut rusak ketika sering memainkan transmisi matic, udah banyak insinyur dan ada teknologi mahal di dalamnya. Inilah yang saya sebut pengendalian risiko, bahaya tetap ada tapi risiko crash dengan kecepatan rendah akan berbeda,” beber Reza.

    Sementara dengan mobil listrik yang biasanya menggunakan single speed atau direct drive, pengemudi sebaiknya jangan melulu meletakkan kakinya di pedal gas. Pada saat mulai lelah dan jam rawan biologis manusia, biarkan mobil menggelinding, pengendaliannya dengan rem kaki.

    “Hindari akselerasi mendadak karena ini akan memunculkan tenaga dorong selain putaran roda. Rajin-rajinlah lihat rpm. Akselerasi secara gradual atau bertahap/benjenjang jangan kaya orang mau lari saat start gas, ini mobil bukan tenaga orang,” pungkas Reza.

    (rgr/dry)



    Sumber : oto.detik.com