Tag: tionghoa

  • Ngopi di Toko Merah, Ngopi di Kafe dengan Nuansa Batavia



    Jakarta

    Toko Merah nan bersejarah di Kota Tua itu kini disulap menjadi kafe Rode Winkel Coffee & Savoury. Sebuah tempat ngopi bernuansa Batavia tempo dulu.

    Bangunan ikonik Toko Merah itu berada di kawasan Kota Tua, tepatnya di Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Toko Merah itu mencolok dengan dinding betul-betul berwarna merah, bukan sekadar namanya.

    Toko Merah yang sudah ada sejak 1730 itu hidup kembali melalui kafe Rode Winkel. detikTravel singgah di kafe itu akhir pekan lalu, Sabtu (25/10/2025).


    Saat melangkah masuk, suasana klasik langsung terasa. Alunan lagu keroncong menyambut pengunjung yang datang, menciptakan nuansa nostalgia di tengah bangunan kolonial. Namun, kesan orisinal bangunan tetap dipertahankan, tangga berkarpet yang tampak kotor dengan debu, dinding putih yang catnya mulai mengelupas, serta ornamen tua yang dibiarkan apa adanya untuk menjaga nilai historis.

    Bagian dalam Toko Merah tidak merah. Bagian dalam Toko Merah berwarna putih yang mulai pudar dimakan waktu. Kontras warna merah di bagian luar dan putih di bagian dalam itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Kedua warna itu seolah memperlihatkan lapisan sejarah yang masih hidup di setiap sudutnya.

    Hampir seluruh interiornya unik, mulai dari lantai kayu tua, tangga melingkar, meja, hingga jendela besar bergaya Belanda. Setiap sudut membawa pengunjung kembali ke masa Batavia lama, saat kawasan Kali Besar menjadi pusat perdagangan penting di Asia.

    Toko Merah dibangun oleh Meneer Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, di atas lahan seluas 2.471 meter persegi. Sejak berdiri, Toko Merah telah melalui berbagai perubahan fungsi, mulai dari rumah pejabat kolonial, asrama maritim, toko milik warga Tionghoa, hingga kantor bank dan gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang.

    Toko Merah di Kota Tua, Jakarta BaratToko Merah di Kota Tua, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    Kini, bangunan cagar budaya golongan A yang dimiliki PT Dharma Niaga ini dikelola oleh pemerintah dan disewa sebagian oleh Rode Winkel Café. Area yang difungsikan sebagai kafe berada di lantai 1 bawah dan sebagian lantai 2 bagian depan, sementara area lainnya masih dikosongkan dan belum difungsikan.

    Rode Winkel juga membagi dua jenis ruangan yang berbeda di kafenya, ada ruangan yang non AC dan ber-AC untuk para pengunjung.

    “Awalnya ke sini buat foto-foto, ternyata nggak semua ruangan dibuka, hanya lantai 1 bagian depan dan lantai 2 depan sebagai kafe,” kata Dila, pengunjung asal Bekasi saat ditemui detikTravel.

    Salah satu staf kafe bernama Resti ramah menyambut detikTravel. “Memang gedung ini disewakan untuk kafe kami (Rode Winkel). Kita yang nyewa ke pemerintah, nyewa satu gedung tapi nggak semua ruang dibuka,” ujar Resti.

    Saat itu juga Resti menyodorkan lembaran menu. Di sana terpampang menu minuman dan makanan. Di bagian minuman di antaranya Espresso Based, Baby Sugar, Tea (Blended, manual Brew), Signature (Coffee & Non-Coffee), Juice, smoothies, Lite bites & Main Course. Adapun di bagian makanan ada nasi goreng, sop buntut, sop iga dll.

    Makanan dan minuman itu memiliki kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu.

    Merujuk sejumlah sumber, Toko Merah mengalami revitalisasi adaptif agar tetap hidup tanpa kehilangan nilai sejarahnya. Nah, Rode Winkel menjadi bagian kecil dari upaya menghidupkan kembali Toko Merah sebagai ikon heritage di jantung Kota Tua Jakarta.

    Meski beberapa bagian bangunan masih menunjukkan usia dan belum dipugar sempurna, justru di situlah daya tariknya. Setiap detail di dalam kafe ini seolah mengisahkan perjalanan panjang Toko Merah yang dulu menjadi saksi kejayaan Batavia sebagai kota perdagangan Asia.

    Kini, sambil menyeruput kopi dan mendengarkan alunan keroncong, detikers bisa menikmati nostalgia sejarah di antara dinding-dinding tua yang penuh cerita.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Musala Bersejarah Berusia 158 Tahun Itu Kondisinya Terbengkalai

    Musala Bersejarah Berusia 158 Tahun Itu Kondisinya Terbengkalai



    Sidoarjo

    Sebuah musala bersejarah di Sidoarjo yang usianya konon sudah 158 tahun kondisinya memprihatinkan. Bangunannya terbengkalai dan ditelan rimbunan rumput liar.

    Musala itu berdiri di Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur. Warga setempat mengenalnya sebagai Langgar Sawo.

    Bangunan musala kecil itu menjadi saksi sejarah perjalanan Islam di kawasan yang dulunya dikenal sebagai pusat perekonomian kerajaan Jenggolo pada masa kolonial Belanda.


    Bangunan yang didirikan pada tahun 1867 ini memiliki ciri khas berbeda dengan musala pada umumnya. Atapnya berbentuk unik dengan ornamen menyerupai mahkota bergaya Tionghoa.

    Sementara itu, penanda waktu salat dalam musala tersebut menggunakan kentongan kayu, bukan pengeras suara seperti musala modern zaman sekarang.

    Dari pantauan di lokasi, musala kuno tersebut saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunannya dikelilingi oleh rerumputan yang tinggi.

    Saat menuju musala, kami sangat kesulitan karena banyak rumput liar yang tumbuh. Bahkan saat akan masuk ruang musala, kami juga sangat kesulitan.

    Kepala Desa Penambangan, Helmy Firmansyah menuturkan, musala ini awalnya merupakan milik seorang Belanda, sebelum kemudian dibeli oleh seorang saudagar Tionghoa yang memeluk agama Islam. Sejak itulah, bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat ibadah umat Muslim setempat.

    “Menurut cerita, setelah Belanda, musala ini dibeli oleh orang Tionghoa yang kemudian masuk Islam. Nah, sekitar tahun 1867 itulah musala ini berdiri dan sampai sekarang masih kokoh,” ujar Helmy, Minggu (28/9).

    Kini, Langgar Sawo sudah tak lagi dipakai untuk salat berjamaah karena kondisi bangunannya sudah sangat memprihatinkan.

    “Yang merawat ada, tapi sifatnya sosial. Musala ini awalnya masih difungsikan untuk ibadah, meski jemaahnya tidak banyak, karena saat ini kondisinya seperti itu akhirnya tidak difungsikan sebagai musala. Bagi kami, keberadaan musala ini adalah ikon desa sekaligus bukti sejarah yang harus tetap dijaga,” lanjut Helmy.

    Selain musala, di Desa Penambangan juga masih berdiri rumah bergaya kolonial Belanda yang hingga kini ditempati keturunan pemilik lama. Kehadiran bangunan-bangunan tua itu menambah kekayaan sejarah kawasan Penambangan.

    Helmy berharap, keberadaan Langgar Sawo mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait agar bisa dipugar tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.

    “Bangunan ini punya nilai historis. Dari Belanda, lalu ke Tionghoa Muslim, tapi sayang sampai sekarang tidak dipakai untuk salat. Kalau dirawat dengan baik, musala ini bisa jadi ikon wisata sejarah religi di Balongbendo,” ujarnya.

    Efendy (39) warga Penambangan mengatakan bahwa musala kuno yang disebut oleh warga desa Langgar Sawo itu akhir-akhir ini sudah tidak dipakai untuk sholat berjamaah.

    “Karena tidak ada yang merawat akhirnya Langgar Sawo saat ini ditumbuhi rumput liar, dan tidak digunakan untuk aktifitas sholat berjamaah,” kata Efendy.

    “Kami berharap Pemkab Sidoarjo Langgar Sawo ini dirawat, karena sebagai aikon sejarah Sidoarjo, eman pak gak dirawat,” pungkas Efendy.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Hotel Baru di Jakarta Ini Bikin Betah, Tiap Sudutnya Dihiasi Karya Seni!

    Hotel Baru di Jakarta Ini Bikin Betah, Tiap Sudutnya Dihiasi Karya Seni!



    Jakarta

    Jakarta kembali kedatangan hotel baru yang siap memanjakan para pelancong kota dan pebisnis. Artotel Harmoni – Jakarta resmi dibuka pada 17 September 2025, menjadi tambahan terbaru dalam koleksi hotel bergaya seni dan gaya hidup yang dikelola Artotel Group.

    Dengan mengusung tagline “Your Harmonized Urban Stay”, hotel ini menawarkan pengalaman menginap yang memadukan kenyamanan modern, nuansa seni kontemporer, dan lokasi strategis di jantung ibu kota.

    Lokasi Strategis di Tengah Jakarta

    Terletak di Jl. KH. Zainul Arifin No. 5-7, Petojo Utara, Jakarta Pusat, Artotel Harmoni hanya beberapa menit dari pusat bisnis, kawasan kuliner legendaris, pusat perbelanjaan, hingga area pemerintahan.


    Baik untuk urusan bisnis, staycation singkat, maupun liburan urban, hotel ini menjawab kebutuhan traveler modern yang ingin akses mudah ke mana saja.

    “Enaknya menginap di sini, mau ke mana-mana gampang! Dekat dari pusat bisnis dan kuliner, cocok buat liburan ataupun kerja,” kata seorang tamu yang sempat menginap di hotel ini.

    Kamar Nyaman dengan Sentuhan Seni

    Artotel Harmoni Jakarta memiliki 150 kamar dengan tiga tipe pilihan:

    • Studio 25 (Superior)
    • Studio 30 (Deluxe)
    • Studio 37 (Suite)

    Setiap kamar dirancang dengan desain modern dan sentuhan seni kontemporer khas Artotel. Interiornya terasa hangat, dengan palet warna lembut dan elemen artistik hasil kolaborasi dua seniman Indonesia – Diela Maharani dan Donald Saluling.

    Karya mereka terinspirasi dari tema “Trace of Heritage”, yang merefleksikan sejarah kawasan Harmoni dan budaya Tionghoa di Jakarta tempo dulu.

    Fasilitas Lengkap:

    Meski terletak di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Artotel Harmoni menawarkan suasana yang menenangkan. Hotel ini dilengkapi dengan:

    • Kolam renang outdoor untuk bersantai di sore hari
    • EATSPACE, restoran dengan menu modern dan cita rasa khas lokal
    • Lounge Bar yang nyaman untuk menikmati koktail setelah seharian bekerja
    • Selain itu, tersedia 7 ruang pertemuan berkapasitas hingga 360 orang, menjadikannya pilihan ideal untuk rapat bisnis, workshop, hingga acara komunitas kreatif.

    Galeri Seni di Dalam Hotel

    Sesuai DNA Artotel, hotel ini tak sekadar tempat tidur – tapi juga ruang apresiasi seni. Area lobby menampilkan ARTSPACE, galeri mini yang menampilkan karya seniman muda Indonesia. Konsepnya selaras dengan misi Artotel Group untuk menjadikan setiap propertinya sebagai “ikon destinasi kreatif” di kota tempatnya berdiri.

    “Setiap kamar dan fasilitas hotel seperti lobby dan restoran akan menjadi ruang yang artistik dan modern. Kami ingin Artotel Harmoni jadi ruang kreatif yang menyatukan seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari,” ujar Eduard Rudolf Pangkerego, COO Artotel Group.

    Kesan Akhir:

    Artotel Harmoni Jakarta bukan sekadar hotel bisnis – ia adalah ruang inspiratif bagi kaum urban. Dengan perpaduan lokasi strategis, interior penuh karakter, fasilitas lengkap, dan atmosfer yang berjiwa muda, hotel ini cocok untuk siapa pun yang ingin merasakan “energi Jakarta” tanpa kehilangan kenyamanan.

    Bagi kamu yang sedang mencari tempat menginap di pusat Jakarta dengan harga kompetitif dan nuansa artistik yang segar, Artotel Harmoni Jakarta wajib masuk ke wishlist kamu!

    Promo spesial berlaku hingga 31 Oktober 2025!

    Nah, gimana detikers? Udah pada memasukkan Artotel Harmoni – Jakarta jadi list hotel impiannya dong? Ditambah lagi ada promo spesial yang berlaku sampai 31 Oktober 2025 loh. Untuk reservasi dan informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi artotelharmonijakarta.com atau akun Instagram resmi @artotelharmoni ya!

    (ddn/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Jelajah Petak 9, Pecinan Tertua di Jakarta yang Penuh Cerita

    Jelajah Petak 9, Pecinan Tertua di Jakarta yang Penuh Cerita


    Jakarta

    Petak 9 di Glodok, Jakarta, adalah kawasan Pecinan tertua di Indonesia. Traveler bakal menemukan suasana autentik, kuliner, dan wihara megah di sini.

    Petak 9 terletak di Jalan Kemenangan Raya nomor 40, RT 5/RW 1, Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Kawasan ini dikenal sebagai bagian dari Pecinan Jakarta, yang disebut-sebut sebagai kawasan Pecinan terbesar sekaligus tertua di Indonesia.

    Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi bisa memarkir mobil di tepi jalan sekitar Petak 9 dengan tarif sekitar Rp 10 ribu.


    Petak 9 tidak memiliki papan nama resmi yang menandakan kawasan ini, sehingga traveler yang baru kali pertama berkunjung sebaiknya bertanya kepada warga sekitar agar tidak tersesat.

    Bagi detikers yang hobi membuat konten vlog atau fotografi, tempat ini bisa jadi spot seru untuk menangkap suasana khas Pecinan yang autentik. Deretan kios di sepanjang gang menjajakan berbagai kebutuhan, mulai dari buah, sayur, ikan segar, hingga jajanan tradisional Tionghoa. Beberapa toko juga menjual perlengkapan ibadah umat Tionghoa seperti dupa, angpau, dan lampion.

    “Toko biasanya ramai menjelang Imlek. Banyak warga Tionghoa datang untuk membeli kue keranjang dan perlengkapan sembahyang,” ujar Li Xau, pedagang di Toko Kuh Kok di Petak 9.

    Di kawasan ini juga banyak pedagang pakaian, perabot rumah tangga, buah, sayur, dan ikan. Traveler yang ingin membeli ikan segar, waktu terbaik datang adalah pagi hari karena stok ikan masih baru dan kualitasnya lebih baik.

    Jalanan sempit dengan genangan air dari kios ikan menjadi ciri khas Petak 9. Suasana ramai membuat pengunjung kadang harus bergantian lewat dengan pengendara motor yang melintas. Meski padat, atmosfernya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan khas Pecinan Jakarta.

    Kawasan Petak 9 juga dikenal dengan deretan wihara yang berdiri megah di antara bangunan tua. Dua wihara paling terkenal di area ini adalah:

    Wihara Dharma Bakti

    Vihara Petak 9 Glodok Jakarta BaratVihara Petak 9 Glodok Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    Terletak di pertigaan pertama Petak 9 sebelah kanan. Aroma dupa langsung menyambut begitu pengunjung masuk ke dalam area wihara. Jam operasional mulai pukul 06.00 hingga 16.00.

    Wihara Dharma Jaya Toasebio

    Vihara Petak 9 Glodok Jakarta BaratVihara Petak 9 Glodok Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

    Berada di Jalan Kemenangan III nomor 48, Jakarta Barat, sekitar 450 meter dari Wihara Dharma Bakti. Vihara ini menjadi tempat sembahyang sekaligus destinasi religi yang sering dikunjungi wisatawan.

    Petak 9 yang kental dengan nuansa Tionghoa memang jadi destinasi pilihan bagi penyuka wisata budaya, sejarah, dan fotografi. Buat kamu yang mau jalan-jalan di sini, jangan lupa bawa payung atau sunscreen sehingga tetap nyaman traveling saat panas atau hujan.

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Rute dan Akses Menuju Destinasi Wisata Petak Sembilan, Glodok

    Rute dan Akses Menuju Destinasi Wisata Petak Sembilan, Glodok


    Jakarta

    Kawasan wisata budaya dan kuliner Petak Sembilan di Glodok, Jakarta Barat bisa diakses dengan kendaraan umum. Simak di sini informasinya.

    Akhir pekan belum mempunyai rencana liburan? Petak Sembilan di kawasan Pecinan Glodok bisa jadi pilihan menarik. Kawasan ini dikenal sebagai surga kuliner khas Tionghoa, lengkap dengan suasana pasar yang dipenuhi toko China.

    Bukan hanya menyuguhkan makanan lezat, Petak Sembilan juga menawarkan pengalaman berjalan di antara gang sempit dengan aroma dupa, jajanan tradisional, hingga toko Cina yang legendaris. Tak heran jika kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.


    Masih bingung soal transportasi umum menuju ke sana? detikTravel sudah merangkum beberapa cara mudah menuju Petak Sembilan.

    Naik TransJakarta

    Perjalanan bisa dimulai dengan naik TransJakarta koridor 1 (Blok M-Kota) dan turun di Halte Glodok. Setelah itu, lanjutkan berjalan kaki sekitar 250 meter menuju kawasan Pecinan Jakarta atau dikenal juga sebagai Chinatown.

    Setelah melewati gapura khas Tionghoa di pintu masuk, lanjutkan berjalan sekitar 50 meter hingga menemukan Gang Petak 9 di sisi kanan jalan. Bagi yang baru pertama kali datang, disarankan bertanya kepada warga sekitar, karena gang ini tidak memiliki papan nama resmi yang menandai sebagai Petak Sembilan.

    Naik KRL

    Alternatif lain adalah menggunakan KRL. Naik kereta menuju arah Kampung Bandan dan turun di Stasiun Duri. Dari sana, berjalan sekitar 100 meter ke Jalan Duri Utama 1, kemudian naik mikrolet M41. Turun di Jalan Kemenangan 1 dan lanjutkan berjalan sekitar 200 meter menuju kawasan Petak Sembilan.

    Naik MRT

    Moda transportasi modern ini juga bisa jadi pilihan. Turun di Stasiun Bundaran HI, lalu lanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta koridor 1 dan turun di Halte Glodok. Selanjutnya, cukup berjalan kaki menuju kawasan Pecinan untuk menemukan Petak Sembilan.

    Petak Sembilan bukan sekadar destinasi kuliner, tetapi juga tempat untuk merasakan atmosfer budaya Tionghoa yang masih terjaga di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Jadi, siapkan kamera dan selera makan terbaikmu, karena setiap sudutnya siap memanjakan mata dan perut!

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com