Tag: nama

  • Disebut Dalam Pembangunan Bandara Bali Utara, Profil Desa Sumberklampok

    Disebut Dalam Pembangunan Bandara Bali Utara, Profil Desa Sumberklampok


    Jakarta

    Desa Sumberklampok kini menjadi sorotan karena masuk dalam rencana pembangunan Bandara Bali Utara. Terletak di wilayah strategis, desa ini menyimpan potensi sekaligus tantangan yang harus diperhatikan dalam mewujudkan proyek infrastruktur besar tersebut.

    Bali akan membangun sejumlah insfrastruktur baru sesuai arahan dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 12 tahun 2025. Salah satunya adalah Bandara Bali Utara yang berada di Kabupaten Buleleng yang sudah ada desainnya. Namun lokasi tepatnya belum ditentukan pemerintah.

    Kendati begitu, nama Desa Sumberklampok sempat disebutkan sebagai lokasi pembangunan Bandara Bali Utara. Terlepas dari jadi atau tidaknya pembangunan Bandara Internasional Bali di Sumberklampok, tak ada salahnya mengetahui profil desa adat ini lebih lanjut.


    Lokasi Desa Sumberklampok

    Taman Nasional Bali Barat. (Dok menlhk.go.id)Taman Nasional Bali Barat (dok. menlhk.go.id)

    Desa Adat Sumberklampok berada di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, seperti disebutkan dalam situs PWNU Bali. Area desa berada di tengah kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan disebut cukup terisolir dibanding kawasan sekitarnya.

    Kawasan Desa Sumberklampok berada di ujung paling barat Kabupaten Buleleng, berbatasan langsung dengan Kabupaten Jembrana. Total luasan Desa Sumberklampok adalah 28,96 km2 dengan jumlah penduduk 3.541 jiwa. Desa ini punya lima banjar dinas (dusun) yaitu Tegalbunder, Bukit Sari, Sumberklampok, Sumberbatok, dan Teluk Terima.

    Sejarah Jadi Desa Adat

    Masyarakat Sumberklampok punya sejarah panjang hingga menjadi sebuah desa adat. Sejak kali pertama dihuni pada 1922, Sumberklampok resmi berstatus desa secara definitif pada 1 Juni 1967. Selama kurun waktu tersebut, masyarakat desa terus menjaga kelestarian budaya lokal.

    Warga Sumberklampok juga berhasil memperjuangkan hak milik tanah secara turun-temurun. Pada tanggal 18 Mei 2021, Gubernur Bali I Wayan Koster memberikan Sertipikat Hak Milik kepada semua Masyarakat Sumberklampok. Sebelumnya, tanah Desa Sumberklampok diklaim milik Pemerintah Provinsi Bali.

    Ada Pura Lesung Emas dan Segara Rupek

    Di Desa Sumberklampok punya dua pura yang penting bagi kehidupan religius masyarakat Bali. Berikut rinciannya dikutip dalam arsip tulisan detikcom.

    Pura Lesung Emas

    Tempat ibadah ini berlokasi di dalam TNBB dengan jarak kurang lebih 3 km dari jalan raya. Pura bisa dicapai dengan jalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua, meski tidak sampai tepat di lokasi. Pura Lesung Emas tidak hanya penting bagi kehidupan beragama, namun juga keberlanjutan masyarakat Bali.

    Di area selatan pura terdapat mata air yang mendukung kehidupan warga Sumberklampok. Sayang sempat terjadi bajir di area tersebut, sehingga debit air bersih makin berkurang. Warga desa kini berusaha melestarikan lingkungan agar mata air bisa terjaga dan terus dimanfaatkan warga.

    Pura Segara Rupek

    Potret Pura Segara Rupek.Potret Pura Segara Rupek (dok. Tangkapan layar Youtube/Kesra Setda Kabupaten Buleleng)

    Lokasi pura ini benar-benar berada di ujung barat Bali dan sangat dekat dengan Jawa. Pengunjung tidak hanya bisa melihat keindahan pura yang sudah sangat tua ini, tapi juga berburu pemandangan pantai serta spot foto Instagrammable. Jika beruntung, pengunjung bisa melihat kijang dan kera di sekitar pura.

    Kendati begitu, jalan menuju pura ini tidak mudah. Perjalanan menuju Pura Segara Rupek dimulai dari Pura Prapat Agung menyusuri jalan setapak hutan TNBB. Pengunjung bisa menggunakan mobil offroad menuju pura yang ditemukan jejaknya pada 2001.

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cara Beli Tiket Open Top Tour of Jakarta, Cek Langkah-langkahnya

    Cara Beli Tiket Open Top Tour of Jakarta, Cek Langkah-langkahnya


    Jakarta

    Open Top Tour of Jakarta jadi alternatif healing masyarakat urban yang murah dan mudah diakses. Tiket open top tour of Jakarta secara online dapat dilakukan melalui aplikasi TJ: Transjakarta.

    Wisata open top tour biasa beroperasi mulai sore hingga malam hari pukul 16.00-20.30. Bagi traveler yang ingin berwisata keliling Kota Jakarta, berikut langkah-langkah membeli tiketnya secara online.


    Open Top Tour of Jakarta rute Jakarta HeritageOpen Top Tour of Jakarta rute Jakarta Heritage (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

    Cara Beli Tiket Open Top Tour of Jakarta Online

    1. Sebelum membeli tiket, pastikan traveler sudah mengunduh aplikasi TJ: Tranjakarta. Berikut langkah selanjutnya
    2. Buat akun TJ: Transjakarta
    3. Masuk/Login apabila sudah memiliki akun
    4. Kemudian, klik menu ‘Tiket’ lalu klik ‘Open Top Tour of Jakarta’
    5. Pilih jenis tur yang diinginkan
    6. Isi identitas: nama, email, nomor handphone dan isi jumlah tiket yang akan dibeli
    7. Jika sudah benar, centang kotak persetujuan, lalu klik
    8. Pilih metode pembayaran
    9. Pembayaran dapat dilakukan melalui: TJPay, AstraPay, Gopay, Kredivo, blu by BCA Digital
    10. Setelah pembayaran berhasil, e-tiket akan diterbitkan dan tersedia di fitur MyTicket dalam aplikasi.

    Pada hari keberangkatan tur, traveler wajib melakukan check-in di lounge Open Top Tour of Jakarta yang berlokasi di Pos Bloc atau Gedung Filateli Jakarta. Pastikan traveler datang tepat waktu sesuai jadwal yang telah dipilih, mengingat bus hanya berangkat empat kali dalam sehari dan tiket dapat habis dengan cepat.

    (row/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pembangunan Bandara Bali Utara Perlu Berdamai dengan Lingkungan

    Pembangunan Bandara Bali Utara Perlu Berdamai dengan Lingkungan



    Jakarta

    Pembangunan bandara Bali utara hingga deretan rencana pembangunan untuk wilayah Bali disorot lagi setelah tarik ulur lokasi. Ahli tanah mengatakan pembangunan sah-sah saja selagi prasyaratannya terpenuhi.

    Rencana pembangunan bandara Bali utara itu dicantumkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

    “Kalau mau bikin bandara itu pasti nanti infrastruktur lainnya, seperti jalan, kemudian pemukiman, perkantoran pasti akan mengikuti, kan? Nah, itu yang harus diatur. Pastikan persyaratan-persyaratan lingkungannya terpenuhi dulu,” kata peneliti BRIN, Destika Cahyana, saat dihubungi detikcom, Rabu (8/10/2025).


    Selain soal lokasi, poin penting lain yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan kontraktor dalam pembangunan Bandara Bali Utara adalah desain yang ramah lingkungan. Destika mencontohkan pengalaman di Kalimantan, bahwa sebagian besar wilayahnya merupakan rawa. Jika jalan dibangun langsung di atas tanah tanpa perencanaan khusus, akan muncul warung, rumah, bahkan pemukiman baru di sepanjang jalan tersebut. Akibatnya, lahan yang awalnya alami dan sensitif bisa rusak karena pembangunan yang tidak terkendali.

    Untuk menghindari hal itu, pembangunan jalan di Kalimantan digunakan desain jalan layang yang ditopang dengan tiang-tiang penyangga. Jalan itu melintas di atas rawa tanpa harus menimbun atau merusak tanah di bawahnya. Karena jalannya berada di ketinggian, aktivitas seperti membangun warung atau rumah di pinggir jalan otomatis tidak bisa dilakukan. Dengan begitu, lingkungan tetap terjaga, dan pembangunan tidak memicu kerusakan lanjutan.

    “Contohnya di Kalimantan, kan di sana rawa ya landscape-nya. Kalau pembuatan jalan itu di atas permukaan tanah, bisa saja pembangunan itu memancing aktivitas manusia di sekitarnya, di pinggir-pinggir jalan tumbuh warung-warung, kemudian tumbuh kota dan lainnya. Dan lahan jadinya rusak,” kata Destika.

    “Tetapi akhirnya konsep jalan itu dibuat tidak di-ground. Jalan itu bisa melewati rawa dan lingkungan terjaga dengan jalan dibangun menggunakan tiang-tiang penyangga. Jadinya, seperti jalan layang. Nah, tak mungkin di sepanjang jalan tumbuh pemukiman, kan?” ujar dia lagi.

    “Kendati belum tahu lokasi pembangunan bandara Bali utara, tapi konsep yang menyesuaikan dengan landscape tanpa merusak dan merubah lahan ini harus dipertimbangkan,” dia menegaskan.

    Lebih lanjut, Destika juga menyarankan ke pemerintah Bali untuk menerapkan ‘one island one management‘ supaya satu kebijakan diterapkan untuk seluruh kawasan Bali.

    “Bali itu pulau kecil dan terbagi beberapa kabupaten-kabupaten. Nah, sementara di pulau kecil itu DAS (daerah aliran sungai) dan sub-dasnya itu melewati batas-batas administrasi? Jadi satu das satu das tapi misalnya dua kabupaten atau tiga kabupaten. Nah, jadi kadang-kadang antara bupati yang satu dengan bupati yang lain ini kan beda kebijakannya,” kata dia.

    “Nah, kalau ‘one island one management‘, jadi bisa utuh pengelolaannya dan pengembangan Bali mau dibawa ke mananya itu lebih utuh,” ujar dia.

    Ya, desain bandara Bali Utara telah dikenalkan ke publik, namun hingga saat ini belum jelas lokasi pasti yang akan menjadi titik pembangunan. Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Perhubungan Bali, Nusakti Yasa Weda, menekankan bahwa Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025 tidak secara eksplisit menyebutkan lokasi pembangunan bandara tersebut.

    “Lampiran IV Perpres tentang Arah Pembangunan Kewilayahan untuk Provinsi Bali, memang tercantum sejumlah rencana intervensi strategis, termasuk pembangunan Bandara Internasional Bali Baru/Bali Utara, namun, dokumen tersebut tidak memuat penetapan lokasi maupun nama resmi bandara,” kata dia.

    Nusakti menjelaskan bahwa penetapan lokasi bandara Bali utara tidak mungkin dilakukan tanpa adanya studi yang solid, master plan yang telah disepakati pemerintah, serta ketersediaan lahan yang sudah dikuasai oleh pemrakarsa.

    Oleh sebab itu, Pemprov Bali mengajak masyarakat tak terpengaruh dan ikut memahami bahwa saat ini statusnya masih arahan pembangunan tanpa ada keputusan lokasi.

    (sym/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Lorong Rahasia Kaisar di Colosseum, Italia Kini Dibuka untuk Umum

    Lorong Rahasia Kaisar di Colosseum, Italia Kini Dibuka untuk Umum



    Jakarta

    Sebuah lorong tersembunyi yang dulunya hanya bisa diakses oleh kaisar Romawi kini dibuka buat umum untuk pertama kalinya. Indah nan menakjubkan.

    Lorong tersebut dikenal dengan nama Commodus Passage. Penamaan itu merujuk pada Kaisar Commodus, tokoh kontroversial yang juga digambarkan dalam film Hollywood populer Gladiator. Lorong eksklusif itu dulu memungkinkan sang kaisar memasuki arena Colosseum tanpa harus berbaur dengan penonton.

    Commodus Passage dipahat di fondasi Colosseum antara akhir abad ke-1 dan awal abad ke-2 Masehi, sebagai tambahan dari struktur asli amfiteater yang diresmikan pada tahun 80 M.


    “Jalan ini sekarang terbuka untuk umum, ini pertama kalinya. Jadi, pengunjung bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang kaisar,” ujar arkeolog Barbara Nazzaro dikutip dari Reuters, Kamis (9/10/2025).

    Jejak Sejarah Kaisar Commodus

    Lorong itu diyakini berkaitan dengan Kaisar Commodus berdasarkan catatan sejarah yang menyebutkan ia pernah selamat dari percobaan pembunuhan di jalur bawah tanah tersebut. Commodus Passage pertama kali ditemukan pada abad ke-19, dan sejak saat itu dikaitkan dengan sang kaisar.

    “Sangat mudah untuk membuat koneksi,” kata Nazzaro yang memimpin proyek restorasi sebelum lorong ini dibuka untuk publik.

    Menurut keterangan dari Taman Arkeologi Colosseum, dinding lorong itu awalnya dilapisi marmer, namun kemudian diganti dengan plester yang dihiasi pemandangan alam. Beberapa bagian masih mempertahankan ukiran semen yang menggambarkan adegan mitologi di bagian kubah, serta tontonan khas arena seperti pertarungan beruang dan aksi akrobat yang diukir pada ceruk di pintu masuk.

    Meskipun kondisi lorong yang lembap menyulitkan upaya konservasi, sebagian dekorasi masih bisa dilihat hingga kini. Untuk membantu pengunjung membayangkan seperti apa suasananya di masa lalu, pihak pengelola menampilkan rekonstruksi virtual melalui sebuah tayangan video di area tersebut.

    Langkah itu menjadi bagian dari upaya pelestarian sekaligus edukasi sejarah agar pengunjung dapat merasakan langsung atmosfer kejayaan Kekaisaran Romawi di balik tembok Colosseum yang megah.

    (upd/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kisah di Balik Lukisan Tangkuban Perahu SBY yang Dilelang di ITB

    Kisah di Balik Lukisan Tangkuban Perahu SBY yang Dilelang di ITB



    Bandung

    Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono memamerkan lukisan karyanya di ITB. Ada satu lukisan Tangkuban Perahu dengan kisah yang menarik di baliknya.

    Lukisan berjudul “Tangkuban Perahu: The Legend and The Beauty” tersebut menggambarkan keindahan pemandangan Gunung Tangkuban Perahu di bawah naungan langit oranye, dengan bingkai pepohonan.

    SBY mengatakan lukisan tersebut baru dibuat pada Selasa kemarin, dan berhasil diselesaikan dalam beberapa jam saja. Memori yang indah akan tempat tersebut menjadi salah satu pemacunya untuk dapat berkarya tanpa terhalang waktu.


    “Jadi mengalir saja alhamdulillah, kalau mood melukis itu kuat, ada motivasi yang tinggi, ada good memory dan urusan hati. Makanya beberapa jam bisa saya selesaikan, tentu dengan segala kekurangannya,” ungkap SBY saat ditemui selepas menyerahkan lukisan tersebut kepada pihak kampus ITB, Rabu (8/10/2025).

    Penyerahan lukisan SBY kepada ITB merupakan bagian dari rangkaian pameran dan penggalangan dana “Adicitra Ganesha 2025”. Dalam pameran ini, lebih dari 50 maestro, seniman dan desainer nasional memamerkan karya mereka dalam satu wadah.

    Beberapa nama seniman yang ikut berpameran di antaranya adalah I Nyoman Nuarta, A.D. Pirous, Ahmad Sadali, dan sebagainya. Nantinya, karya-karya mereka akan dilelang secara live maupun online kepada khalayak.

    Dana hasil pelelangan tersebut akan diserahkan menjadi dana abadi ITB, yang salah satunya dipergunakan sebagai dana beasiswa. Lukisan SBY tersebut menjadi salah satu karya seni yang ikut dilelang.

    “Ini adalah karya saya yang baru 5 tahun melukis. Saya serahkan kepada ITB, barangkali bisa bikin lelang kecil dan hasilnya dimasukkan ke dana lestari. Mudah-mudahan ini bisa menjadi sumbangsih untuk memperkuat dana lestari ITB,” ujar SBY seraya menyerahkan lukisan akrilik di atas kanvas tersebut pada Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara.

    Terinspirasi 15 Tahun di Bandung

    Saat ditanya perihal inspirasinya dalam membuat lukisan tersebut, ia mengatakan bahwa dirinya yang sempat bertugas cukup lama di Kota Bandung menjadi alasan. Selama 15 tahun bertugas di Bandung, banyak serba-serbi soal Bandung yang menarik perhatiannya.

    “Pertama kali saya 30 tahun bertugas sebagai prajurit, 15 tahun berada di Bandung. Jadi saya mengetahui banyak keindahan, banyak legenda, banyak mitos, banyak warisan atau heritage yang ada di Bandung dan Jawa Barat ini,” jelas SBY.

    Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan lukisan berjudul Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan lukisan berjudul “Tangkuban Perahu: The Legend and The Beauty” kepada Rektor ITB Tatacipta Dirgantara di Aula Barat ITB, Rabu (8/10/2025). Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Ia dan keluarganya pun sempat beberapa kali berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu. Pemandangannya yang indah menjadi inspirasinya dalam membuat lukisan berukuran 122 x 91,5 cm tersebut.

    “Saya dengan keluarga saya waktu itu berkunjung beberapa kali ke vulkano dari Tangkuban Perahu , yang saya lukis itu, dengan surroundingnya (sekelilingnya) yang so beautiful (sangat indah),” ujarnya.

    Tak hanya lukisan, dalam kesempatan tersebut SBY juga menyumbangkan buku antologi puisi karya pribadinya kepada ITB. Buku tersebut bertitel “Garis Waktu Tak Bertepi : Kumpulan 76 Puisi Ekspresi Hati”.

    Buku tersebut dibuat dalam rangka ulang tahun SBY ke-76 pada 9 September lalu. Isinya adalah puisi-puisi karya pribadi yang menggambarkan isi hati.

    “Dari kelas 5 SD saya sudah menulis puisi dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia,” ungkap SBY.

    Selain lukisan Tangkuban Perahu, ia juga melelang karya lukis lainnya yang saat ini dipajang di Galeri Soemardja ITB. Di antaranya adalah lukisan bertitel “Amazing Beach I Used to Enjoy” (2025) dan “Klayar Beach” (2025).

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Profil Amran Sulaiman, Mentan Lulusan Unhas yang Diangkat Jadi Kepala Bapanas

    Profil Amran Sulaiman, Mentan Lulusan Unhas yang Diangkat Jadi Kepala Bapanas



    Jakarta

    Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman resmi menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional Indonesia (Bapanas). Amran Sulaiman menggantikan Kepala Bapanas sebelumnya, Arief Prasetyo Adi.

    Bapanas adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang memiliki tugas merumuskan kebijakan, koordinasi, dan pelaksanaan urusan pangan nasional untuk mencapai kedaulatan, ketahanan, dan kemandirian pangan. Kewenangan utama Bapanas, antara lain ketersediaan pangan, stabilisasi pasokan dan harga, hingga kerawanan pangan dan gizi, demikian dikutip laman resmi Bapanas.

    Lantas seperti apa profil Amran Sulaiman yang memimpin Bapanas sekarang?


    Profil Amran Sulaiman dan Pendidikannya

    Amran Sulaiman lahir di Bone, Sulawesi Selatan pada 27 April 1968. Ia dikenal sebagai tokoh Sulsel yang menjabat di pemerintahan.

    Pendidikannya banyak dihabiskan di Makassar dengan menempuh studi bidang pertanian. Dengan gelarnya, ia memiliki nama lengkap Dr Ir H Andi Amran Sulaiman, MP.

    Berikut pendidikan tingginya.

    1. S1 di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (1988-1993)

    2. S2 Pertanian Universitas Hasanuddin (2002)

    2. S3 Ilmu Pertanian (2008-2012)

    Amran menyelesaikan gelar doktoralnya dengan predikat terpuji atau cumlaude. Kiprahnya di bidang pertanian pun mendapatkan penghargaan.

    Dikutip dari detikNews, Amran mendapatkan penghargaan dari Presiden RI berupa Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian. Ia juga pernah mendapatkan penghargaan FKPTPI Award di Bali dan Bintang Mahaputera Adipradana dari Presiden RI pada 2020.

    Karier Amran Sulaiman

    – Berkarier di PTPNXIV

    – Direktur dan Founder Tiran Group

    – Menteri Pertanian (Mentan) periode 2014-2019

    – Dosen Universitas Hasanuddin

    – Anggota ex-officio MWA Unhas sebagai Ketua IKA Unhas

    – Mentan periode ke-2 Presiden Jokowi (2023)

    – Mentan Kabinet Merah Putih

    – Kepala Bapanas (2025)

    (faz/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Negara Irak Dulu Namanya Apa? Ini Sejarah Panjang dari Mesopotamia hingga Modern

    Negara Irak Dulu Namanya Apa? Ini Sejarah Panjang dari Mesopotamia hingga Modern



    Jakarta

    Irak merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang memiliki sejarah peradaban panjang. Jauh sebelum Irak modern ada, peradaban kuno yang maju pernah ada di tanah itu. Bangsa apa yang menghuni?

    Kawasan yang kini disebut Irak, ternyata dulunya merupakan wilayah peradaban Mesopotamia. Peradaban tersebut mencakup wilayah di antara dua sungai besar, Tigris dan Efrat.

    Irak di Masa Lalu: Mesopotamia, Cradle of Civilization

    Mengutip Britannica, Mesopotamia berarti tanah di antara dua sungai, yakni Tigris dan Efrat. Mesopotamia juga disebut sebagai cradle of civilization karena di sinilah lahir kota-kota kuno seperti Sumer, Akkad, Babilonia, dan Assyria.


    Banyak sejarawan menyebut, Mesopotamia merupakan tempat lahirnya peradaban manusia pada masa dulu.

    Peradaban Mesopotamia, ada sekitar 6.000 SM. Pada masa itu, orang-orang mulai menetap, bertani, beternak, hingga membangun permukiman.

    Bangsa yang menghuni wilayah Mesopotamia yakni bangsa Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asyur. Peradaban di wilayah ini, berkembang seiring waktu hingga membentuk cikal bakal bahasa tulis hingga pendidikan.

    Penemuan bahasa tertulis terjadi paling awal dari Mesopotamia, tepatnya di Sumeria sekitar 3.400 SM. Tulisan tersebut dimulai sebagai piktograf sederhana pada lempengan tanah liat.

    Seiring waktu, penulisan berkembang ke tulisan paku atau runcing. Ini digunakan untuk mencatat berbagai hal mulai dari urusan kerajaan, puisi, cerita keagamaan, hingga bisnis.

    Kuil-kuil juga mulai dibangun untuk mendidik anak laki-laki sebagai juru tulis dan tokoh agama. Bisa dikatakan, ini salah satu cikal bakal pendidikan formal dalam sejarah peradaban manusia.

    Nama Irak dari Waktu ke Waktu

    Dulunya, pada masa Kekaisaran Sasanian, wilayah barat yang sekarang menjadi Irak disebut Khvarvaran. Setelah penaklukan Islam, wilayah ini kemudian dikenal sebagai al-‘Irāq, sebuah istilah yang membedakan antara Irak Hulu (Al-Jazirah) dan Irak Hilir (Al-Sawād).

    Sejak abad pertengahan, istilah Irak semakin populer dipakai untuk menunjuk wilayah ini, meski belum menjadi nama negara resmi.

    Dikutip dari EtymOnline, nama Iraq (atau Irak) diperkirakan berasal dari bahasa Arab yang berarti daerah berair/lembap dan/atau berasal dari nama kota kuno Uruk di Sumeria.

    Namun, dalam beberapa literatur disebutkan bahwa nama Irak juga dianggap berasal dari istilah dalam bahasa Arab yang merujuk pada kondisi geografis lembah subur di sekitar Tigris dan Efrat.

    Bisa dikatakan, asal-usul nama Irak dapat ditelusuri baik ke unsur linguistik maupun sejarah kota Uruk.

    Dari Ottoman hingga Republik

    Memasuki masa modern, Inggris menyatukan tiga provinsi Ottoman yakni Mosul, Baghdad, dan Basra ke dalam satu wilayah bernama Irak pada 1920-an. Kemudian, negara ini meraih kemerdekaan pada 1932.

    Dalam catatan sejarah, ditegaskan bahwa Irak modern dibentuk melalui intervensi kolonial Inggris dan baru memperoleh identitas negaranya sendiri pada abad ke-20. Dengan demikian, nama Irak yang sebelumnya hanya istilah regional akhirnya menjadi nama resmi sebuah negara.

    Jadi bisa dikatakan, sebelum dikenal sebagai Irak, wilayah ini pernah disebut Mesopotamia, Khvarvaran, hingga al-‘Iraq. Dari peradaban kuno hingga pembentukan negara modern, Irak menjadi saksi sejarah panjang peradaban manusia.

    Negara dengan ibu kota Baghdad ini, masih terus dipelajari dan diakui dunia sebagai wilayah yang memiliki sejarah peradaban kuno.

    *Penulis adalah peserta magang Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama

    (faz/faz)



    Sumber : www.detik.com

  • Goa Purba di Pulau Kunti dan Mitos Anti Jomlo

    Goa Purba di Pulau Kunti dan Mitos Anti Jomlo



    Sukabumi

    Di Pulau Kunti, Geopark Ciletuh ada sebuah goa yang dipercaya bisa mendatangkan jodoh. Goa ini memang sudah lama lekat dengan mitos anti jomlo.

    Ombak sore itu datang berulang, memukul sisi perahu kayu yang perlahan mendekati tebing. Anginnya membawa aroma asin dan suara serak burung laut yang melintas rendah.

    Dari jauh, tampak rongga hitam di dinding batu mulut gua yang terbuka menghadap laut. Orang-orang di sini menyebutnya Gua Anti Jomblo.


    Saman, pemandu wisata lokal yang mengantar ke lokasi tersebut, berdiri di haluan sambil menunjuk ke arah tebing.

    “Nah, ke sebelah sananya lagi, ada namanya gua purba Pulau Kunti,” ujarnya, suaranya setengah tenggelam oleh deru ombak, Minggu (5/10).

    “Usianya 60 juta tahun, terbentuk dari gunung bibir pantai yang dihantam terus sama gelombang laut, akhirnya ada proposal ke dalam 15 meter, tingginya 9 meter,” katanya menambahkan, matanya tak lepas dari dinding batu di kejauhan.

    Ia diam sebentar sebelum menambahkan. “Di dalam gua itu tidak ditemukan batuan selektif atau salak mid karena gua kering, cuman di sini ada mitos siapa aja yang masuk ke gua purba Pulau Kunti, pulangnya suka cepat dapat jodoh katanya,” tuturnya pelan, lalu tertawa kecil. “ini baru mitos,” lirihnya.

    Angin sore menampar lembut wajah, sementara sinar matahari jatuh miring ke mulut gua yang tampak keemasan di bawah cahaya senja.

    Saman tersenyum kecil sebelum melanjutkan penjelasannya, tangannya menepuk haluan perahu yang basah oleh percikan air.

    “Ya setahu saya itu kalau misalkan punten dalam artian yang punya keyakinan, kayaknya saya sering mengantar yang seperti itu, mungkin keyakinannya seperti itu” ujarnya pelan, berhati-hati memberikan penjelasan.

    “Cuman kalau yang lain biasanya dia hanya berdoa tapi bukan minta ke batu atau ke gua tapi mintanya ke pemilik batu atau gua, yang setahu saya, memang kalau uang meyakini memang seperti itu, dilaksanakan ritual di sana,” katanya menutup penjelasan.

    Cerita soal Gua Anti Jomblo kemudian diperkaya oleh Piat Supriatna, petugas Balawista yang juga Geopark Ranger dari Badan Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

    “Ok saya ceritakan dari awal dulu prosesnya, takutnya ada sedikit ini mispersepsi juga dari masyarakat, khususnya pengunjung,” ujarnya membuka percakapan.

    Goa Itu Sudah Berusia Jutaan Tahun

    “Sebenarnya ini ada gua Pulau Kunti, gua tersebut itu sebetulnya secara ilmiah terbentuknya oleh abrasi laut selama jutaan tahun. Sebenarnya ini kan daratan yang terangkai di dasar samudra ke permukaan nih, dan itu kan ketika terbentuk ke permukaan bebatuan tersebut atau bukit itu belum terbentuk gua sebelumnya dulunya,” tuturnya.

    Piat berbicara sambil menatap jauh ke laut, suaranya tenang.

    “Nah, selama jutaan tahun tergerus oleh abrasi laut, sehingga terkikis, terbentuklah gua. Makanya gua tersebut disebut Pulau Kunti karena ketika dihantam gelombang setinggi lima meter atau musim badai menggema seperti orang tertawa maka dibilanglah Pulau Kunti,” kisahnya.

    Mitos Anti Jomlo

    Ia lalu tersenyum kecil, soal gua yang kemudian dikenal dengan nama Gua Anti Jomblo.

    “Nah ada cerita dari masyarakat sekitar sini, Pulau Kunti ini banyak yang cerita bahwa bisa dikatakan nih gua jomblo, bisa dikatakan dalam arti jika masuk ke sana katanya bisa punya, dapat pasangan,” katanya sambil mengangkat bahu.

    Piat sempat terdiam, menatap ke laut yang mulai memantulkan warna keemasan sore.

    “Sebenernya kalau sekarang banyak orang lebih ke modernisasi, tapi ada saja, sampai saat ini,” ujarnya pelan,

    “Tapi itu dulu saya sempat ke sana, banyak ditemukan orang simpan sesajen itu kan, ada seperti dupa itu menemukan, tapi sampai saat ini, walaupun karena sudah modernisasi masih ada orang percaya akan hal itu,” katanya menutup pembicaraan.

    ——-

    Artikel ini telah naik detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kafe Unik Konsep Jepang di Bandung Bikin Netizen Penasaran

    Kafe Unik Konsep Jepang di Bandung Bikin Netizen Penasaran

    Bandung

    Tempat nongkrong yang asyik di Bandung seakan tak ada habisnya. Ada satu tempat yang berhasil mencuri perhatian dan menjadi perbincangan, terutama di media sosial.

    Namanya Hahakohi, sebuah kafe kecil di kawasan Cilengkrang yang menawarkan konsep unik dan berbeda dari kafe lain pada umumnya. Berlokasi di tikungan jalan, Hahakohi justru memiliki daya tarik tersendiri.

    Nuansanya yang adem, terutama di pagi dan sore hari, membuat pengunjung betah berlama-lama. Menurut salah satu pengunjung, Gilang, tempat ini sangat cocok untuk bersantai.


    “Senang sih, nuansanya. Suasananya, meskipun di pinggir jalan di tikungan,” ujarnya.

    Hahakohi tidak hanya viral di media sosial. Banyak pengunjung yang datang kembali karena suka dengan menu dan suasana yang ditawarkan. Daya tarik utama kafe ini adalah konsepnya yang kental dengan nuansa jalanan Jepang.

    Hal ini terlihat dari dekorasi yang tidak biasa, seperti ornamen kaca cembung layaknya di setiap sudut jalanan Jepang dan mesin penjual otomatis (vending machine) yang otentik.

    Lutfi alias Adit, pemilik Hahakohi, menjelaskan bahwa konsep ini terinspirasi dari pengalamannya saat sering bolak-balik ke Jepang. Ia ingin membawa “vibe” urban street di sana ke Bandung.

    “Jadi, saya coba gambar, coba desain seperti ini. Nama Hahakohi sendiri punya makna yang tak kalah unik. Haha diambil dari bahasa Jepang yang artinya ibu, sementara kohi adalah kopi. Jadi, Hahakohi berarti kopi buatan ibu. Sederhananya, itu saja,” kata Adit sambil tertawa.

    Meskipun baru berusia empat bulan, kafe yang berdiri sejak Juni 2025 ini berhasil menarik berbagai kalangan, tidak hanya Gen Z yang menjadi target awal mereka. Millenial bahkan generasi Alpha pun ikut penasaran. Menurut Adit, hal ini tidak lepas dari peran media sosial. Berkat konten digital marketing yang kuat, Hahakohi bisa viral di luar ekspektasi.

    “Tantangan terbesar yang dihadapi Hahakohi adalah menyesuaikan selera rasa Jepang yang tidak terlalu manis dengan lidah orang Indonesia yang umumnya menyukai rasa manis. Namun, seiring berjalannya waktu, para pengunjung mulai memahami esensi rasa dari menu-menu yang disajikan,” jelas Adit.

    —-

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Anda melalui tautan ini



    Sumber : travel.detik.com

  • Kota Kuno Al-Natah di Tengah Gurun Arab Simpan Jejak Peradaban 4.000 Tahun

    Kota Kuno Al-Natah di Tengah Gurun Arab Simpan Jejak Peradaban 4.000 Tahun



    Jakarta

    Para arkeolog dari Prancis dan Arab Saudi mengumumkan penemuan sisa-sisa kota kuno berusia sekitar 4.000 tahun di barat laut Arab Saudi. Kota itu dikenal dengan nama Al-Natah.

    Dilansir dari Arab News, Minggu (12/10/2025), temuan itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS ONE. Peneliti menyebut reruntuhan Al-Natah menggambarkan masa transisi penting dalam sejarah manusia di kawasan tersebut, yakni saat masyarakat Arab mulai beralih dari kehidupan nomaden menjadi penduduk menetap dengan sistem sosial dan ekonomi yang lebih teratur.

    Penemuan itu menjadi tonggak besar dalam studi arkeologi Timur Tengah karena menunjukkan bahwa peradaban di wilayah Arab berkembang jauh lebih awal dari yang selama ini diyakini.


    Penemuan kota Al-Natah dilakukan lewat Proyek Arkeologi Khaibar Longue Durée, yang dipimpin oleh Dr. Guillaume Charloux dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS) dan Dr. Munirah AlMushawh dari Komisi Kerajaan untuk AlUla (Royal Commission for AlUla/RCU).
    RCU menyebut temuan itu sebagai bukti komitmen Arab Saudi dalam menjaga warisan budaya, memperkuat kerja sama internasional, serta mendukung misi Visi Saudi 2030 untuk menjadikan warisan arkeologis sebagai kebanggaan nasional.

    Penelitian tersebut juga menantang pandangan lama bahwa masyarakat Jazirah Arab bagian barat laut pada awal Zaman Perunggu hanyalah penggembala dan pengembara. Sebaliknya, hasil survei menunjukkan bahwa wilayah seperti Khaibar sudah memiliki pusat-pusat perkotaan yang mapan, dengan kehidupan pertanian dan perdagangan yang aktif.

    Struktur Kota dan Kehidupan Masyarakat Al-Natah

    Oasis Khaibar dikelilingi oleh tembok batu sepanjang 15 kilometer yang berfungsi melindungi wilayah subur dari kerasnya gurun pasir. Situs kota Al-Natah mencakup area sekitar 2,6 hektar dan diperkirakan dihuni oleh sekitar 500 orang antara tahun 2400-300 SM.

    Reruntuhan dinding kota setinggi lima meter menunjukkan adanya otoritas lokal yang kuat. Fondasi bangunannya cukup kokoh untuk menopang rumah berlantai satu hingga dua, dengan jalan-jalan sempit yang menghubungkan rumah menuju pusat kota. Lantai dasar digunakan sebagai gudang penyimpanan, sedangkan lantai atas menjadi tempat tinggal keluarga.

    Tim juga menemukan makam-makam yang berisi barang berharga seperti tembikar, batu akik, serta senjata logam berupa kapak dan belati. Temuan ini menunjukkan adanya stratifikasi sosial serta kemampuan tinggi dalam bidang logam dan kerajinan.

    Penduduk kota dikenal sebagai pembuat tembikar, pedagang, dan perajin manik-manik. Pola makan mereka terdiri dari daging domba dan biji-bijian, yang dianggap sebagai bukti bahwa mereka telah mahir mengelola sumber daya alam di sekitar oasis.

    Dilindungi Alam, Ditemukan Kembali Ribuan Tahun Kemudian

    Lapisan batu vulkanik hitam (basalt) yang menutupi kawasan ini membuat Al-Natah terlindungi dari kerusakan selama ribuan tahun. Lokasi kota pertama kali diidentifikasi pada Oktober 2020, dan baru terungkap lebih jelas setelah dilakukan survei lapangan serta pencitraan beresolusi tinggi pada Februari 2024.

    Penggalian lanjutan diharapkan dapat memberi gambaran lebih mendalam tentang sistem sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Al-Natah.
    Penemuan ini merupakan bagian dari rangkaian riset yang telah dilakukan sejak 2018 di kawasan AlUla dan Khaibar. Sebelumnya, tim yang sama juga menemukan struktur batu raksasa seperti mustatil, jalur pemakaman, serta jebakan batu kuno – semua menandakan bahwa peradaban Zaman Perunggu di barat laut Jazirah Arab jauh lebih kompleks dari yang diduga.

    Selain nilai ilmiah, wilayah Khaibar juga memiliki makna historis dan religius penting bagi umat Islam. Daerah ini dikenal sebagai lokasi Perang Khaibar, salah satu peristiwa besar pada masa Rasulullah SAW.

    Penemuan kota kuno di wilayah ini menjadi pengingat bahwa setiap jengkal tanah di Jazirah Arab menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, kebijaksanaan, dan perkembangan peradaban manusia.

    ***

    Selengkapnya klik di detikHikmah.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com