Tag: hikmah

  • Kisah Nabi Adam Berpisah dengan Hawa Selama Ratusan Tahun



    Jakarta

    Nabi Adam AS berpisah dengan Siti Hawa saat diturunkan ke bumi. Menurut sejumlah pendapat, keduanya berpisah selama ratusan tahun.

    Sebelum diturunkan ke bumi, Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga. Menurut Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa, jumhur ulama berpendapat bahwa surga yang ditinggali oleh Nabi Adam AS adalah surga yang ada di langit, yaitu Surga Ma’wa atau surga keabadian.

    Hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman,


    وَيٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ١٩

    Artinya: “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di surga (ini). Lalu, makanlah apa saja yang kamu berdua sukai dan janganlah kamu berdua mendekati pohon yang satu ini sehingga kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah: 35)

    Ibnu Katsir menjelaskan, Alif lam pada kata “al-jannah” (surga) tidak menunjukkan untuk makna umum dan tidak juga dikenali secara lafadz, namun dikenali secara akal yakni Surga Ma’wa yang sering digunakan dalam syariat.

    Imam Muslim juga meriwayatkan dalam Kitab Shahih-nya, dari Abu Malik Al-Asyja’i dari Abu Hazim Salamah bin Dinar, dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah dan Abu Malik, dari Rib’i, dari Hudzaifah, mereka berkata, Rasulullah bersabda,

    “Hari itu Allah akan mengumpulkan seluruh manusia. Kemudian orang- orang yang beriman berdiri ketika surga sudah semakin menjauh dari mereka, lalu mereka datang kepada Nabi Adam dan berkata, “Wahai bapak kami, mintalah agar pintu surga dibukakan untuk kami” Lalu Nabi Adam berkata, “Apakah kalian dikeluarkan dari surga hanya karena kesalahan bapak kalian saja?” dan seterusnya hingga akhir hadits.

    Namun, terdapat pula ulama lain yang mengatakan bahwa surga yang ditinggali oleh Nabi Adam AS ketika itu bukanlah surga keabadian.

    Hal itu dikarenakan di sana Nabi Adam AS masih mendapat pelarangan, yaitu untuk tidak mendekati pohon terlarang. Nabi Adam AS juga tidur di sana dan dikeluarkan dari sana, bahkan iblis pun masuk ke dalamnya. Ini semua menunjukkan bahwa surga yang dimaksud bukanlah surga keabadian (Surga Ma’wa).

    Penafsiran tersebut disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas, Wahab bin Munabbih, Sufyan bin Uyainah, dan diunggulkan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitabnya, Al-Ma’arif.

    Lama Nabi Adam Berpisah dengan Hawa

    Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Abu Zur’ah, dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Atha, dari Said, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi Adam mendarat di suatu tempat yang disebut Dahna.” Tempat ini terletak di antara Kota Makkah dan Thaif.

    Sedang riwayat dari Hasan menyebutkan, “Nabi Adam mendarat di wilayah India, lalu Hawa di Jeddah, dan iblis di Dastimaisan, beberapa mil dari Kota Basrah, sedangkan ular di Asfahan.” Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Hatim.

    Adapun As-Suddi mengatakan, “Nabi Adam mendarat di wilayah India, ia diturunkan bersama Hajar Aswad dan segenggam daun dari surga, lalu daun itu ditebarkan di India hingga tumbuh pepohonan yang tercium aroma harum di sana

    Dan riwayat dari Ibnu Umar menyebutkan, bahwa Nabi Adam mendarat di Bukit Shafa, sedang Hawa mendarat di Bukit Marwah Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

    Nabi Adam AS dan Siti Hawa berpisah selama 200 tahun saat diturunkan ke bumi, sebagaimana dikatakan Abdul Mutaqin dalam buku Kain Ihram Anak Kampung. Akhirnya keduanya bertemu di Arafah, yang saat ini dijadikan tempat pertemuan umat Islam setiap tahun.

    Pada saat wukuf, Arafah berarti pembebasan. Seperti dalam riwayat Imam Tirmidzi, “Tidak ada hari paling banyak Allah memerdekakan hamba-Nya dari neraka dari pada hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekati dan membanggakan mereka kepada para Malaikat seraya berkata, “Apa saja yang mereka inginkan akan Aku kabulkan.”

    Ada pendapat lain yang menyebut, Nabi Adam AS berpisah dengan Siti Hawa selama 500 tahun, 300 tahun, bahkan ada yang mengatakan 40 tahun. Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Keteladanan Kisah Ashabul Kahfi, Sekelompok Pemuda yang Teguh Akidahnya



    Jakarta

    Terdapat sejumlah keteladanan yang bisa dipetik dari pemuda Ashabul Kahfi. Kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Kahfi ayat 9-26 menceritakan tentang sekelompok pemuda dengan keteguhan agama yang luar biasa.

    Dalam buku Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta tulisan Sunarto dkk dijelaskan, Ashabul Kahfi terdiri dari dua kata yaitu Ashab dan Al-Kahfi. Ashab artinya penghuni, sementara Al-Kahfi adalah gua. Secara sederhana, Ashabul Kahfi dimaknai penghuni gua.

    Dikisahkan kala itu, terdapat tujuh pemuda yang berasal dari kalangan rakyat biasa negeri Afasus. Mereka sangat teguh dalam mempertahankan keimanannya dari kezaliman seorang raja yang bernama Dikyanus atau Decius.


    Raja Dikyanus ini digambarkan sebagai sosok pemimpin yang angkuh, biadab, dan khianat terhadap rakyatnya. Kaisar yang berasal dari bangsa Romawi itu berkuasa pada periode 249 M-251 M.

    Sebelum mengetahui tentang keteladanan dari para pemuda Ashabul Kahfi, berikut akan dibahas terlebih dahulu mengenai kisah singkatnya.

    Kisah Singkat Ashabul Kahfi

    Saking zalimnya Raja Dikyanus, ia memerintahkan rakyatnya untuk meninggalkan agama yang mereka anut dan beralih untuk menyembah berhala. Bahkan, ia tak segan membunuh siapapun yang menentang perintahnya.

    Alhasil, rakyat yang takut mau tak mau menuruti untuk menganut agama yang diminta oleh Dikyanus. Namun, lain halnya dengan kelompok pemuda Ashabul Kahfi ini.

    Mereka berkeyakinan hanya Allah SWT yang pantas disembah. Karenanya, Raja Dikyanus sangat murka terhadap para pemuda itu.

    “Mengapa kalian tidak mau menyembah Tuhanku?” tanya Raja Dikyanus.

    Para pemuda Ashabul Kahfi lantas menjawab dengan tegas hanya Allah SWT yang wajib disembah. Ini tercantum dalam surat Al Kahfi ayat 14 yang berbunyi:

    وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا۟ فَقَالُوا۟ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهًا ۖ لَّقَدْ قُلْنَآ إِذًا شَطَطًا

    Arab latin: Wa rabaṭnā ‘alā qulụbihim iż qāmụ fa qālụ rabbunā rabbus-samāwāti wal-arḍi lan nad’uwa min dụnihī ilāhal laqad qulnā iżan syaṭaṭā

    Artinya: “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran,”

    Mendengar jawaban itu, Raja Dikyanus sangat marah. Ia kemudian memberikan para pemuda itu waktu untuk berpikir.

    Akhirnya, ketujuh pemuda Ashabul Kahfi tersebut berpikir dan berunding. Mereka memilih untuk menyelamatkan keimanannya.

    Tanpa ragu, kelompok pemuda itu menyelamatkan diri dari kezaliman Raja Dikyanus dengan mencari tempat berlindung di dalam gua. Letak gua itu di Gunung Naikhayus, dekat kota Upsus.

    Mereka berdoa di dalam gua untuk bersembunyi. Allah SWT memperlihatkan kekuasaannya, para pemuda itu ditidurkan selama 309 tahun, dalam surat Al Kahfi ayat 25 Allah SWT berfirman:

    وَلَبِثُوا۟ فِى كَهْفِهِمْ ثَلَٰثَ مِا۟ئَةٍ سِنِينَ وَٱزْدَادُوا۟ تِسْعًا

    Arab latin: Wa labiṡụ fī kahfihim ṡalāṡa mi`atin sinīna wazdādụ tis’ā

    Artinya: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi),”

    Ketika sang raja tahu bahwa kelompok pemuda Ashabul Kahfi bersembunyi di dalam gua, ia lalu memerintahkan rakyat untuk menangkapnya. Namun, tak seorang pun yang berani masuk ke alam gua itu.

    Akhirnya, Raja Dikyanus menutup gua tersebut agar kelompok pemuda tersebut mati kelaparan dan tidak mampu keluar. Bahkan setelah mereka terbangun dari tidur panjang, tidak ada satu pun yang mengetahui berapa lama mereka tertidur di dalamnya.

    Kemudian, salah satu dari mereka pergi ke kota untuk membeli makanan dengan membawa mata uang yang berlaku pada masa Raja Dikyanus. Pedagang tersebut heran dan menolak uang itu, si pemuda lalu bercerita mengenai temannya yang berada di gua.

    Pedagang itu lalu memberitahu bahwa Raja Dikyanus telah meninggal ratusan tahun lalu. Salah satu petugas kerasaan lalu menanyai pemuda Ashabul Kahfi yang bercerita tadi, ia juga memberi tahu bahwa kini raja yang berkuasa adalah Raja Theodosius yang beriman kepada Allah SWT.

    Kejadian tentang pemuda Ashabul Kahfi dilaporkan kepada Raja Theodosius, kemudian beliau mengadakan upacara penyambutan keluarnya tujuh pemuda yang berasal dari gua selama 309 tahun.

    Keteladanan yang Bisa Dipetik dari Kisah Ashabul Kahfi

    Menukil dari buku Pendidikan Agama Islam karya Drs H Masan AF M Pd, keteladanan yang dapat diambil dari kisah tujuh pemuda Ashabul Kahfi yaitu:

    1. Kebenaran akidah Islam harus dipertahankan meski mendapat banyak cobaan dan godaan
    2. Selalu ingat kepada Allah SWT di mana pun dan kapan pun dengan selalu menjalani perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya
    3. Kebatilan harus dicegah dengan cara yang santun dan bijaksana
    4. Yakin akan kekuasaan dan kasih sayang Allah yang selalu melindungi hamba-Nya
    5. bersyukur atas kemudahan dan kenikmatan yang Allah berikan
    6. Selalu berhati-hati dalam melakukan berbagai pekerjaan
    7. Harus berpegang teguh terhadap pendirian yang benar

    Demikian keteladanan yang bisa dipetik dari kisah tujuh pemuda Ashabul Kahfi. Semoga bermanfaat.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Cerita Romantis Aisyah Istri Rasulullah, Bisa Jadi Teladan bagi Pasutri



    Jakarta

    Kisah rumah tangga Aisyah RA bersama Rasulullah SAW dipenuhi dengan keberkahan dan kasih sayang. Aisyah merupakan istri yang romantis kepada Rasulullah SAW, begitupun sebaliknya.

    Disebutkan dalam buku Rumah Tangga Seindah Surga oleh Ukasyah Habibu Ahmad, Aisyah RA di usianya yang relatif muda telah menunjukkan tanda-tanda luar biasa sebagai pendamping seorang nabi. Ia mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi sehingga mengangkat derajat dan martabatnya di kalangan wanita seusianya.

    Dua tahun setelah wafatnya Khadijah RA, turunlah waktu kepada Rasulullah SAW untuk menikahi Aisyah RA. Mendengar kabar tersebut Abu Bakar ash-Shiddiq selaku ayah dari Aisyah bersama istrinya begitu bahagia. Tak lama setelah itu, Rasulullah SAW menikahi Aisyah dengan mahar sebesar 500 dirham.


    Aisyah merupakan satu-satunya istri Rasulullah SAW yang dinikahi dalam keadaan masih gadis. Meskipun usianya tergolong muda, ia tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan sang Nabi, sebab tingkat keilmuan dan kecerdasannya terbilang sangat tajam.

    Dalam kehidupan Rasulullah SAW, Aisyah RA termasuk istri yang sangat istimewa dan romantis karena sangat paham cara membahagiakan suami. Selain itu, ia juga memberikan kontribusi besar terhadap perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

    Keromantisan Aisyah Istri Rasulullah SAW

    Mengutip dari buku Agungnya Taman Cinta Sang Rasul karya Ustadzah Azizah Hefni, berikut beberapa cerita keromantisan Aisyah istri Rasulullah SAW bersama suaminya.

    Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Aisyah RA pernah berkata, “Suatu ketika aku minum dan aku sedang haid, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah SAW, lalu beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain, aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR Muslim).

    Hal itu menunjukkan bahwa antara Rasulullah SAW dan Aisyah membangun rumah tangga dengan saling mengasihi dan memanjakan. Kesibukan Rasulullah SAW dalam memperjuangkan dan menyebarkan agama Allah SWT tidak menjadikan beliau lupa untuk menjalin kemesraan bersama istri tercinta.

    Keromantisan Aisyah dengan Rasulullah SAW juga ditunjukkan tatkala mereka pernah mandi bersama dalam satu bejana. Dalam sebuah hadits, Aisyah RA pernah berkata,

    “Aku dan Rasulullah pernah mandi bersama dalam satu wadah (kami bergantian menciduk airnya). Beliau sering mendahuluiku dalam mengambil air sehingga aku mengatakan, ‘Sisakan untukku, sisakan untukku!’” (HR Bukhari Muslim).

    Kasih sayang dan kemesraan Rasulullah SAW dengan Aisyah tidak hanya ditunjukkan dari tindakan beliau, tetapi juga melalui ekspresi verbal. Rasulullah SAW memberikan panggilan khusus kepada Aisyah RA.

    Beliau kerap memanggil Aisyah dengan sebutan ‘humaira’, artinya pipi yang kemerah-merahan sebab kulit Aisyah yang sangat putih hingga terlihat kemerahan saat tertimpa sinar matahari.

    Selain panggilan humaira, terkadah Rasulullah SAW juga memanggil Aisyah dengan sebutan ‘aisy’. Dalam budaya Arab, pemenggalan huruf terakhir dari nama menunjukkan sebagai tanda kasih sayang.

    Salah satu sikap manja Aisyah yang sangat menyenangkan Rasulullah SAW yaitu Aisyah selalu menyisir rambut Rasulullah SAW sebab beliau senang dengan rambut yang rapi. Hal ini disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Aisyah pernah berkata, “Aku menyisir rambut Rasulullah, padahal aku sedang haid.” (HR Bukhari).

    Aisyah selalu menyisir rambut Rasulullah SAW dengan hati-hati, begitu lembut dan penuh cinta. Aisyah pernah mengungkapkannya, “Bila aku mengurakkan rambut Rasulullah, aku belah orakan rambut beliau dari ubun-ubunnya dan aku uraikan di antara kedua pelipis beliau.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

    Meskipun Rasulullah SAW disibukkan dengan dakwah dan mengurus kepentingan umat, beliau turut membantu pekerjaan Aisyah ketika di rumah. Beliau tidak segan menambal pakaian sendiri, memerah susu, dan mengurus keperluan sendiri.

    Mengenai kebiasaan Rasulullah SAW di rumah, Aisyah RA juga pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah?” Lalu Aisyah menjawab, “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR Bukhari).

    Keromantisan dari cerita Aisyah RA bersama Rasulullah SAW tersebut bisa dijadikan sebagai teladan bagi pasangan suami istri.

    Dengan segala kerendahan hatinya, Rasulullah SAW tidak segan membantu pekerjaan rumah tangga dan tidak membebankan pekerjaan rumah tangga kepada sang istri. Begitu pula sikap Aisyah RA sebagai istri Rasulullah yang senantiasa melayani beliau dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kala Rasulullah SAW Meminta Saran dari Sang Istri, Ummu Salamah



    Jakarta

    Rasulullah SAW sering melibatkan orang-orang di sekitarnya ketika hendak mengambil keputusan. Termasuk sang istri, Ummu Salamah yang pernah diajak bermusyawarah untuk mendapatkan saran terbaik.

    Sikap bijaksana ditunjukkan Rasulullah SAW setiap kali menghadapi persoalan. Beliau selalu mengutamakan musyawarah demi mendapatkan keputusan yang baik.

    Dalam ajaran Islam, musyawarah dianjurkan untuk dilakukan tatkala menemui perbedaan pendapat. Musyawarah dilakukan untuk menjauhi perselisihan.


    Dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 159, Allah SWT berfirman,

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

    Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

    Kisah Rasulullah SAW Meminta Saran dari Ummu Salamah

    Mengutip buku Rumah Tangga Seindah Surga : Kisah Keseharian Rumah Tangga Nabi oleh Azkiya Khikmatiar dan Ulummudin, dijelaskan sebuah kisah yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang mengutamakan musyawarah. Dalam kisah ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW selalu melibatkan orang-orang di sekitarnya dalam pengambilan keputusan.

    Walaupun Nabi Muhammad SAW seorang rasul, tetapi bukan berarti beliau terbebas dari berbagai problematika hidup. Meskipun demikian, Nabi Muhammad mampu mengatasinya dengan cara-cara bijak yang dapat menjadi pedoman bagi kita semua.

    Jalan keluar dari berbagai persoalan salah satunya adalah dengan jalan musyawarah.

    Suatu hari sesaat setelah Rasulullah SAW menandatangani Perjanjian Hudaibiyah yang salah satu isinya adalah bahwa umat Islam tidak diperkenankan untuk berhaji tahun ini, Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada para sahabatnya,

    “Bangkitlah! Sembelihlah hewan kurban lalu bercukurlah!”

    Namun, tak ada seorang pun yang berdiri. Bahkan, setelah Rasulullah SAW mengulanginya sampai tiga kali pun, para sahabat tetap tidak ada yang berdiri. Tampaknya, mereka kecewa karena tidak dapat melaksanakan ibadah haji.

    Ketika seruan Nabi Muhammad SAW tidak direspons oleh para sahabatnya, beliau pergi menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian, Ummu Salamah memberikan solusi dengan mengatakan, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin hal itu terjadi (mereka bangkit, memotong kurban, dan bercukur)? Keluarlah, jangan bicara satu kata pun dengan siapa pun dari mereka, sembelihlah hewan kurbanmu, lalu panggillah tukang cukur supaya dia mencukur rambutmu!”

    Nabi Muhammad SAW pun keluar dan mengikuti saran sang istri, Ummu Salamah. Maka, ketika para sahabat melihat Nabi Muhammad SAW melakukan itu, mereka pun bangkit, menyembelih hewan kurban, dan saling mencukur rambut temannya.

    Nabi Muhammad SAW membuat gebrakan yang sangat dahsyat dalam tatanan kehidupan masyarakat Arab dengan memberi tempat yang terhormat bagi perempuan. Sikap seperti ini juga yang seharusnya menjadi contoh bagi umatnya.

    Sebagaimana kita ketahui, perempuan Arab sebelum datangnya lslam menempati posisi yang kurang beruntung. Mereka dianggap mempunyai akal yang lemah, sehingga tidak pantas dilibatkan dalam persoalan yang berhubungan dengan orang banyak.

    Melalui kisah ini, Nabi Muhammad SAW membuktikan bahwa istri adalah partner hidup yang dapat memainkan peranan yang sangat penting. Ketika seorang suami mempunyai masalah, maka mereka harus berdiskusi dengan istri mereka untuk menemukan jalan keluarnya.

    Melibatkan istri dalam mengatasi persoalan merupakan langkah tepat karena mereka adalah orang yang paling dekat dengan keseharian kita. Istri juga akan merasa dihargai dan dibutuhkan jika suami mengajak mereka untuk berdiskusi dan bermusyawarah tentang persoalan yang sedang dihadapi. Hal ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kala Suara Merdu Nabi Daud AS buat Kagum Alam Semesta



    Jakarta

    Di antara mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Daud AS adalah suaranya yang merdu. Ada riwayat menarik mengenai keindahan suaranya, di mana makhluk alam semesta termenung saat mendengarnya.

    Menukil Qashash Al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir, Daud AS merupakan seorang nabi-Nya sekaligus khalifah di daerah Baitul Maqdis, wilayah bani Israil. Ia memiliki anak yang juga nabi yakni Sulaiman AS. Selain itu, ia juga masih memiliki darah keturunan Ibrahim AS, dari anaknya Ishaq AS.

    Nabi Daud AS termasuk salah satu dari utusan Allah SWT yang mendapat wahyu berupa kitab suci, Allah SWT menurunkan kitab Zabur kepadanya. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah An-Nisa ayat 163: “Kami telah memberikan (kitab) Zabur kepada Daud.”


    Dengan diwahyukannya Zabur, Daud AS senantiasa membacanya dengan suaranya yang merdu. Terdapat sebuah riwayat di mana makhluk seperti manusia, burung, gunung, hingga sungai terbuat kagum oleh suara indah milik Daud AS.

    Burung hingga Gunung Ikut Bertasbih bersama Nabi Daud AS

    Kisah ini diceritakan dalam Kitab Qashash Al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan Saefullah MS.

    Allah SWT menganugerahkan suara merdu kepada Daud AS, dan Dia tidak memberikan suara indah seperti itu kepada seorang pun selainnya. Ketika Nabi Daud AS membaca kitab Zabur, burung-burung di udara melandai ke bawah untuk mendengarkan suaranya.

    Kerumunan burung itu turut bertasbih mengikuti bacaan tasbih Daud AS. Begitu juga gunung-gunung yang bertasbih bersamanya di waktu pagi dan petang hari.

    Al-Auza’i mengatakan, “Abdullah bin Amir menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Nabi Daud diberi suara paling merdu yang belum pernah diberikan oleh Allah SWT kepada siapa pun.

    (Saat Daud AS melantunkan suaranya,) burung-burung dan binatang liar berhenti karena takjub di sekelilingnya untuk mendengar suara yang sangat merdu. Sampai-sampai mereka mati kehausan dan kelaparan. Bahkan, air sungai pun berhenti mengalir!”

    Wahab bin Munabbih mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang mendengarkan kemerduan suara Nabi Daud, melainkan ia akan berjalan dengan sebelah kakinya seperti sedang berdansa. Daud AS juga membaca kitab Zabur dengan suara merdunya yang belum pernah terdengar oleh seorang pun seperti nya, sehingga manusia dan segala jenis hewan rela berhenti untuk mendengarkan kemerduan suaranya, hingga-hingga sebagian hewan itu mati kelaparan.”

    Selain suaranya yang merdu, Nabi Daud AS juga cepat dalam membaca kitab Zabur. Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Daud AS sangat lincah dalam membaca (Kitab). Beliau pernah memerintahkan seseorang memasang pelana kudanya sementara beliau sendiri membaca Kitab. Sebelum pelana kuda itu selesai dipasang, beliau lebih dulu selesai membaca Al-Qur’an (Kitab)-nya. Beliau juga tidak makan, kecuali dari hasil kerjanya sendiri.” (HR Bukhari dalam Shahih-nya, dan Ahmad dalam Al-Musnad.)

    Ibnu Katsir menjelaskan maksud Al-Qur’an dalam hadits tersebut adalah kitab Zabur yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Daud AS. Adapun Daud AS cepat dalam membaca kitab Zabur, tapi ia tetap merenungkan isi dan melagukannya dengan suara indahnya itu, sehingga ia mencapai penghayatan yang khusyuk.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pohon Kurma yang Menangis pada Hari Jumat, Kenapa?



    Jakarta

    Semasa Rasulullah SAW masih berdakwah, banyak sekali kisah yang menarik untuk kita dengarkan dan ambil pelajarannya. Salah satunya adalah sebuah kisah pohon kurma yang menangis pada hari Jumat.

    Kisah ini diabadikan dalam salah satu riwayat dari Jabir bin Abdullah RA. Mengutip Mukhtashar Shahih al-Bukhari oleh Imam Zainuddin az Zubaidi, Jabir berkata,

    “Apabila Rasulullah khutbah, beliau biasa berdiri di bawah pohon kurma. Ketika sebuah mimbar disediakan untuk beliau, kami mendengar pohon kurma itu menangis seperti tangisan unta betina yang hamil maka beliau turun dari mimbar dan mengelus pohon tersebut.” (HR Bukhari)


    Kisah Pohon Kurma Menangis pada Hari Jumat

    Kisah ini dapat diawali dengan menengok kembali tugas dan pekerjaan Rasulullah SAW sesudah berhijrah dari Makkah ke Madinah. Mengutip tulisan Ustaz Dr. Miftahur Rahman El-Banjary dalam buku Cinta Seribu Dirham Merajut Kerinduan kepada Rasulullah Al-Musthafa. Pekerjaan pertama Rasulullah SAW sesampainya di Madinah adalah membangun masjid.

    Masjid itu diberi nama Masjid Nabawi yang didirikan tepat dimana unta Rasulullah berhenti. Tanah tempat unta itu berhenti adalah miliki anak yatim bersaudara.

    Selanjutnya, diketahui bahwa tanah yang telah dibeli tersebut berbentuk seperti bujur sangkar dengan luas hanya sekitar 1.060 meter persegi. Masjid yang didirikan pada awal masa itu pun sangat sederhana, hanya berupa tanah lapang yang dikelilingi tembok tanah liat menyerupai lingkaran.

    Saat masjid ini sudah beroperasi, Rasulullah SAW seringkali melakukan dakwah dengan berdiri menghadap ke arah jamaah. Beliau berdiri di bagian masjid paling depan dengan bersandar pada satu batang pohon kurma, di bagian kanan yang sekarang kita kenal sebagai mihrab nabi.

    Ketika jumlah jemaah semakin bertambah banyak, orang-orang berdesakan memenuhi masjid. Mereka yang duduk di barisan belakang atau paling jauh dari Rasulullah SAW tidak bisa melihat wajah beliau.

    Para sahabat saat itu juga kasihan melihat Rasulullah SAW yang kelelahan jika berdiri terlalu lama saat berdakwah. Sebagian sahabat ada yang mengusulkan untuk membuat mimbar khusus bagi Rasulullah.

    Di atas mimbar itu, Rasulullah akan dapat sesekali duduk beristirahat atau bahkan menyampaikan khutbahnya sambil duduk. Di samping itu pula, para sahabat yang berada di posisi paling belakang tetap bisa menyaksikan wajah Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW kemudian menyetujuinya.

    Pada suatu hari Jumat ketika mimbar yang dibuat khusus untuk Rasulullah selesai, Beliau keluar dari pintu kamarnya. Beliau berjalan menuju mimbar dengan melewati sebuah pohon kurma itu.

    Ketika Rasulullah SAW menaiki mimbar untuk berkhutbah, seketika para sahabat yang hadir di masjid itu mendengar bunyi rintihan memelas seperti menangis. Bahkan, debu-debu dari tembok masjid itu berguguran.

    Suara tangisan itu terdengar semakin lama semakin kencang. Para sahabat yang mencari sumber suara tangisan itu merasa semakin kebingungan.

    Rasulullah SAW kemudian turun dari mimbar dan mendekati pohon kurma yang sering beliau gunakan sebagai sandaran. Beliau meletakkan tangannya yang mulia pada batang pohon kurma itu kemudian mengusap dan memeluknya.

    Atas izin Allah SWT, perlahan-perlahan suara tangisan tersedu sedu itu perlahan mereda. Belum terjawab rasa penasaran dalam diri para sahabat yang hadir, Rasulullah SAW pun mengajak berbicara kepada pohon kurma itu.

    Rasulullah berkata, “Maukah kamu aku pindahkan ke kebun kamu semula, berbuah dan memberikan makanan kepada kaum mukminin atau aku pindahkan kamu ke surga, setiap akar kamu menjadi minuman dari minuman-minuman di surga, lalu para penghuni surga menikmati buah kurmamu.”

    Pohon kurma tanpa keraguan memilih pilihan yang kedua. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Af’al insya Allah! Demi Allah, yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, jika tidak aku tenangkan dia, niscaya dia akan terus merintih hingga hari kiamat karena kerinduannya kepadaku.”

    Dalam redaksi lain, mengutip Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dalam Hadza al Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb, diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah terlihat berbicara dengan sebatang pohon kurma. Kemudian, wanita dari Anshar berkata kepada beliau,

    “Wahai Rasulullah, aku memiliki anak seorang tukang kayu. Bolehkah aku menyuruhnya membuatkan mimbar untuk engkau dari pohon itu untuk berkhutbah?”

    Rasulullah menjawab, “Ya, boleh.” Maka si tukang kayu membuatkan beliau mimbar dari pohon kurma tersebut.

    Pada suatu Jumat, Rasulullah SAW sudah mulai berkhutbah di atas mimbar, bukan lagi di atas potongan pohon kurma seperti pada masa awal pendirian masjid. Tiba-tiba batang kurma yang dijadikan mimbar itu menangis seperti tangis seorang bayi.

    Rasulullah SAW berkata, “Batang pohon ini menangis karena merasa telah dilupakan.” demikian diterjemahkan Iman Firdaus dalam buku My Beloved Prophet.

    Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Batang kurma tersebut berteriak seperti teriakan seorang bayi. Rasulullah lalu turun dari mimbar itu dan memeluknya, sementara mimbar dari pohon kurma itu terus menangis. Rasulullah berkata, “Pohon kurma ini menangis karena mendengar zikir diucapkan di atasnya.”

    Menurut Syaikh Abu Bakar, pohon kurma tersebut menangis karena mendengar zikir Rasulullah SAW dan sedih karena berpisah dengan Beliau yang selalu berkhutbah di atasnya. Padahal pohon kurma tersebut merupakan benda mati yang tak memiliki roh dan akal.

    Hal ini, kata Syaikh Abu Bakar, menjadi tanda dan bukti yang menunjukkan kenabian Muhammad SAW dan kebenaran risalahnya. Dan hal ini juga merupakan mukjizat besar yang hanya dimiliki oleh Rasulullah SAW.

    Ibnu Hajar dalam pendapat yang dikutip Imam An Nawawi melalui Syarah Riyadush Shalihin Jilid 3 menambahkan, hadits tentang kisah pohon kurma yang menangis tersebut menjadi bukti bahwa Allah SWT terkadang memberi nalar pada benda mati bak seekor hewan bahkan seperti seekor hewan yang mulia. Wallahu’alam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Syits AS, Sosok Penjaga Nur Nabi Muhammad SAW



    Jakarta

    Setelah Nabi Adam wafat, Allah mengangkat seorang nabi yang bernama Syits AS. Beliau merupakan anak dari Nabi Adam.

    Menukil dari buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul karya M Arief Hakim, Nabi Syits berdakwah dan menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada umat manusia. Dakwah yang disampaikan juga lembut, komunikatif dan tidak dengan cara memaksa.

    Meski tidak termasuk ke dalam 25 nabi yang wajib diketahui, Nabi Syits mengajak umat manusia untuk beribadah kepada Allah SWT. Tidak hanya sekadar melakukan ritual, melainkan juga ibadah sosial seperti hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.


    Menurut buku Qashash al-Anbiyaa terjemahan Saefullah MS, Ibnu Katsir menuturkan bahwa arti dari nama Syits ialah anugerah Allah. Nama tersebut diberikan oleh Adam dan Hawa setelah mendapat Syits usai terbunuhnya Habil di tangan saudaranya sendiri.

    Nabi Syits AS mendapatkan 50 lembar suhuf dari Allah agar disampaikan kepada umat manusia. Suhuf merupakan lembaran-lembaran yang berisi firman Allah SWT.

    Taaj Langroodi dalam Akhlak Para Nabi mengemukakan bahwa Nabi Syits dilahirkan 5 tahun setelah peristiwa dibunuhnya Habil oleh Qabil. Allah SWT menunjuk Syits sebagai nabi, dia menetap di Mekkah dan membacakan kandungan suhuf-suhuf yang dianugerahkan Allah kepada Bani Adam.

    Nabi Syits Sebagai Sosok Penjaga Nur Rasulullah SAW

    Dalam buku Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan yang disusun oleh Kyai Abdullah Alif, Nabi Syits merupakan orang pertama setelah Nabi Adam dan Hawa yang dipercaya untuk menjaga Nur Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Allah pertama kali menciptakan Nur Nabi Muhammad sebelum Dia menciptakan Adam, Hawa, alam semesta beserta isinya.

    Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani melalui Kitab Hujatullah menyebutkan sebelumnya Nur Nabi Muhammad SAW senantiasa terlihat bersinar di wajah Nabi Adam. Cahayanya nampak seperti matahari yang bersinar terang benderang.

    Maka, Allah pun mengambil sumpah perjanjian kepada Nabi Adam agar senantiasa menjaga Nur tersebut dengan berfirman:

    “Hai Adam, berjanjilah (kepada-Ku) untuk senantiasa benar-benar menjaga Nur Nabi Muhammad SAW (yang telah Kuletakkan dalam dirimu). Janganlah sekali-kali kamu letakkan kecuali kepada orang-orang yang suci mulia,”

    Nabi Adam menerimanya dengan senang hati. Kemudian, Nur ini bersemayam di dalam diri Siti Hawa. Tak lama setelahnya, lahirlah seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Nabi Syits.

    Nur yang semula terdapat di dalam tubuh Hawa dipindah ke dalam Nabi Syits. Nur tersebut terlihat pada wajah Syits, karenanya Nabi Adam selalu memperhatikan dan menjaga Syits.

    Nabi Syits tumbuh sebagai pribadi dengan akhlak yang baik. Bahkan, Allah SWT mengirimkan sosok bidadari yang cantik dan rupawan untuk Nabi Syits.

    Mengacu pada buku yang sama, yaitu Akhlak Para Nabi, wafatnya Nabi Syits terjadi ketika beliau jatuh sakit. Sebagai gantinya, ia menetapkan sang putra yang bernama Anush untuk melaksanakan wasiatnya.

    Nabi Syits meninggal di usia 912 tahun dan dikuburkan tepat di samping makam kedua orang tuanya, yakni di Gua Gunung Abu Qubais.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bertemu Malaikat Munkar dan Nakir, Umar bin Khattab: Siapa Tuhan Kalian?



    Jakarta

    Sayyidina Umar bin Khattab termasuk salah satu sahabat Rasulullah SAW yang setia dan berani. Bahkan keberaniannya pun dibawa sampai ke alam kubur ketika bertemu Malaikat Munkar dan Nakir.

    Setiap manusia yang meninggal dunia maka akan memasuki alam kubur. Di alam kubur ini ada dua malaikat yakni Munkar dan Nakir yang bertugas menyampaikan pertanyaan yang harus dijawab.

    Tugas dari malaikat Munkar dan Nakir dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,


    إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ

    Artinya: “Apabila mayat atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Munkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata: Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)? Maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia…” (HR Tirmidzi).

    Setiap orang yang beriman akan dengan mudah menjawab pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Sebaliknya, bagi orang yang zalim maka mereka akan kesulitan menjawabnya.

    Kisah Umar bin Khattab Bertemu Malaikat Munkar dan Nakir

    Mengutip laman NU Online (6/5/2023) dijelaskan Imam Jalaludin As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hâwî lil Fatâwî menuliskan sebuah riwayat dari Al-Jazuli dalam kitab Syarhur Risâlah, bahwa satu ketika Rasulullah berbicara kepada para sahabat perihal Munkar dan Nakir.

    Digambarkannya malaikat Munkar dan Nakir akan mendatangi seorang mayit di kuburan dalam bentuk yang begitu menyeramkan; berkulit hitam, seram, keras, dan sifat-sifat buruk dan menakutkan lainnya. Lalu kedua malaikat itu akan menanyai si mayit ketika di alam kubur.

    Mendengar penuturan Rasulullah itu Umar bin Khattab bertanya, “Rasul, apakah saat di kuburan nanti aku sebagaimana sekarang ini?” “Ya,” jawab Rasul.

    “Kalau begitu,” timpal Umar kemudian, “demi Allah akan aku lawan kedua malaikat itu!”

    Keberanian Umar bin Khattab memang tidak bisa diragukan. Dalam membela Islam, ia selalu berada di deretan terdepan. Tak ada yang ia takuti kecuali Allah SWT.

    Konon, ketika Sayyidina Umar bin Khattab meninggal dunia putra beliau yang bernama Abdullah bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu Abdullah menanyakan tentang keadaan sang ayah di alam kubur.

    Oleh Umar pertanyaan anaknya itu dijawab, “Aku didatangi dua malaikat. Keduanya bertanya kepadaku, siapa Tuhanmu, siapa nabimu? Aku jawab, Tuhanku Allah dan nabiku Muhammad. Lalu kepadanya aku tanyakan, kalian berdua, siapa Tuhanmu? Mendapat pertanyaan seperti itu kedua malaikat itu saling berpandangan. Salah satunya berkata, ini Umar bin Khattab. Lalu keduanya pergi meninggalkanku.”

    Malaikat Munkar dan Nakir justru pergi meninggalkan Umar bin Khattab yang justru bertanya balik. Tingkat keimanan yang tinggi menjadikan Umar bin Khattab berani dan bisa melontarkan pertanyaan tersebut.

    Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir

    Mengutip buku At-Tadzkirah Jilid 1 Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi oleh Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa sebelum bertemu dengan malaikat Munkar dan Nakir, roh seseorang akan diminta untuk mencatat amal perbuatannya. Setelah itu barulah datang Malaikat Munkar dan Nakir yang akan mengajukan pertanyaan.

    Maka kedua malaikat tersebut, Munkar dan Nakir lantas menyuruh mayit itu duduk, dan memulai pertanyaannya dengan keras. Mereka membentaknya dengan bengis, padahal tanah bagi mayit itu sudah seperti air saja, ke mana dia bergerak, tanah itu tembus.

    Kedua malaikat itu bertanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Apa kiblatmu?”

    Barangsiapa mendapat pertolongan Allah dan dimantapkan dengan perkataan yang teguh, maka dia bisa balik bertanya, “Siapa yang menugaskan kalian berdua datang kemari? Siapa yang mengutus kalian kepadaku?” Tapi, ini hanya bisa dikatakan oleh para ulama pilihan.

    Maka salah satu dari malaikat itu berkata kepada temannya, “Dia benar. Dia dilindungi dari keburukan kita.”

    Kemudian kedua malaikat itu membangun kubur mayit, dijadikan seperti kubah yang besar, dan mereka bukakan untuknya sebuah pintu menuju ke surga di sebelah kanannya. Lalu mereka hamparkan pula untuknya permadani dari sutra surga, ditaburi wewangian surga.

    Kemudian melalui pintu itu berhembuslah angin lembut dari surga, kesegaran dan wewangiannya. Sesudah itu datanglah kepadanya amalnya sendiri dalam rupa manusia yang paling dia sukai. Amal itu menghiburnya, mengajaknya bicara dan memenuhi cahaya dalam kuburnya.

    Oleh karenanya, mayit itu selalu gembira dan bahagia sepanjang umur dunia, sampai datangnya hari kiamat kelak. Bahkan dia bertanya-tanya, kapankah datangnya kiamat. Karena tidak ada yang lebih dia sukai selain datangnya kiamat.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Musa Menerima Wahyu di Gunung Sinai, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Nabi Musa menerima wahyu berupa kitab Taurat pertama kali di Gunung Sinai (Thur Sinai). Gunung tersebut berada di Mesir, tepatnya di Semenanjung Sinai sebagaimana disebutkan dalam buku Quranku Sahabatku Jilid 2 oleh H Prof Dr Arif Muhammad.

    Dalam Al-Qur’an, Gunung Sinai dikatakan sebagai tempat Nabi Musa AS berdialog dengan Allah SWT. Hal ini tercantum pada surat Al A’raf ayat 143,

    وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ


    Arab latin: Wa lammā jā`a mụsā limīqātinā wa kallamahụ rabbuhụ qāla rabbi arinī anẓur ilaīk, qāla lan tarānī wa lākininẓur ilal-jabali fa inistaqarra makānahụ fa saufa tarānī, fa lammā tajallā rabbuhụ lil-jabali ja’alahụ dakkaw wa kharra mụsā ṣa’iqā, fa lammā afāqa qāla sub-ḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu`minīn

    Artinya: “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman,”

    Menukil dari buku Fi Zhilal Al-Qur’an tulisan Sayyid Quthb, Gunung Sinai menjadi tempat yang penting dalam sejarah Nabi Musa. Bahkan, saking istimewanya Gunung Sinai, dalam surat At Tin disebutkan juga mengenai gunung tersebut.

    وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيْتُونِ

    Arab latin: wat-tīni waz-zaitụn
    Artinya: 1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,

    وَطُورِ سِينِينَ

    Arab latin: wa ṭụri sīnīn
    Artinya: 2. dan demi bukit Sinai,

    Kisah Nabi Musa Menerima Wahyu di Gunung Sinai

    Kala itu Nabi Musa dipanggil Allah ke Gunung Sinai untuk menerima wahyu yaitu kitab Taurat seperti dikisahkan dalam buku Mengenal Tuhan susunan Bey Arifin. Selama 40 hari 40 malam di Gunung Sinai, Nabi Musa berdialog dengan Allah SWT hingga timbul keinginan untuk melihat wujud Allah SWT.

    Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al A’raf ayat 143, Allah kemudian memperlihatkan diri-Nya. Namun, ketika wujud Allah muncul, justru gunung tersebut menjadi cair dan lenyap sepenuhnya dari permukaan Bumi.

    Kejadian itu lantas membuat Nabi Musa AS pingsan. Setelah sadar, ia kemudian bersimpuh menyembah dan meminta ampun kepada Allah SWT seraya berkata, “Mahasuci Engkau Tuhan, aku tobat minta ampun, dan ya akulah orang yang benar-benar percaya kepada-Mu,”

    Menurut buku Peradaban Prasejarah Nusantara Berdasarkan Kisah Para Nabi karya Ki Jambalawuh, setelah menerima wahyu di Gunung Sinai, Nabi Musa meminta agar Harun saudara sepupunya diangkat menjadi rasul untuk menemani dirinya berdakwah kepada Fir’aun karena ia lebih fasih dalam berbicara. Ini disebabkan Musa kecil sempat memakan bara api hingga lidahnya terbakar dan mengakibatkan dia tidak fasih dalam berbicara.

    Isi dari Kitab Taurat

    Kitab Taurat berisikan 10 pokok peraturan atau perintah. Perintah itu bertujuan untuk mengesakan Allah SWT, menghormati ayah ibu, dan menyucikan hari Sabtu.

    Adapun larangan di dalamnya meliputi menyembah berhala, menyebut nama Allah SWT dengan sia-sia, membunuh manusia, berzina, mencuri, menjadi saksi palsu, dan mengambil hak orang lain. Berikut isi kitab Taurat seperti dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam oleh Tuti Yustiani:

    1. Jangan ada pada Tuhan lain di kehadirat-Ku
    2. Jangan membuat patung ukiran dan jangan pula menyembah patung karena Aku Tuhan Allahmu
    3. Jangan kamu menyebut Tuhan Allahmu dengan sia-sia
    4. Ingatlah kamu akan hari sabat (Sabtu), supaya kamu sucikan dia
    5. Berilah hormat kepada ibu bapakmu
    6. Jangan membunuh sesama manusia
    7. Jangan berzina
    8. Jangan mencuri
    9. Jangan menjadi saksi palsu
    10. Jangan berkeinginan memiliki hak orang lain

    Cerita Singkat Nabi Musa dan Fir’aun

    Kemudian, Nabi Musa meneruskan perjalanannya ke Mesir. Sesampainya di Mesir, beliau menemui ibu dan saudaranya yaitu Nabi Harun sambil menyampaikan bahwa Allah telah mengirim wahyu kepadanya. Selanjutnya, Musa dan Harun berangkat menemui Fir’aun untuk mengajaknya menyembah Allah.

    Sayangnya, Fir’aun menolak dan mengajukan tantangan kepada Musa untuk menunjukkan mukjizat sebagai bukti akan kenabian dan kerasulan dirinya. Bahkan, Fir’aun menyuruh tukang sihir untuk melemparkan tali mereka dan seketika tali-tali itu berubah menjadi ular.

    Allah lalu mewahyukan kepada Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya, atas izin Allah maka tongkat itu berubah menjadi ular besar dan memakan ular-ular tukang sihir Fir’aun. Kejadian itu membuat Fir’aun marah dan menyebut Musa sebagai penyihir.

    Singkat cerita, Fir’aun meminta mukjizat yang lain, akhirnya Nabi Musa memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan kembali. Dengan kuasa Allah, tangan Musa mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan pandangan Fir’aun dan bala tentaranya, sampai-sampai ia meminta Nabi Musa untuk memasukkan tangannya kembali.

    Meski telah dibuktikan dengan berbagai mukjizat, tetap saja Fir’aun yang ingkar tidak percaya kepada Musa yang merupakan nabi sekaligus rasul Allah. Dalam buku Cerita Teladan 25 Nabi dan Rasul tulisan Lip Syarifah, akhirnya Nabi Musa mengajak para pengikutnya untuk keluar dari Mesir, hal itu sampai ke telinga Fir’aun dan bala tentaranya.

    Mereka mengejar Nabi Musa dan kaumnya yang beriman hingga ke Laut Merah. Maha Suci Allah, Nabi Musa dan pengikutnya selamat karena mukjizatnya yang dapat membelah lautan ketika tongkat Musa dipukulkan ke Laut Merah. Sementara itu, Fir’aun dan tentaranya hanyut di Laut Merah karena mencoba menyebrangi lautan.

    Itulah kisah mengenai Nabi Musa yang menerima wahyu di Gunung Sinai beserta informasi terkaitnya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Daud Diangkat Menjadi Raja yang Adil dan Bijaksana



    Jakarta

    Nabi Daud diangkat menjadi raja menggantikan Raja Thalut. Usai wafatnya Raja Thalut, Bani Israil dipimpin oleh salah satu putranya.

    Sayangnya, sang putra pengganti Raja Thalut bukan pemimpin yang baik. Dia justru sering bertindak tidak adil hingga berujung munculnya perpecahan, seperti dikisahkan dalam buku Kisah Teladan & Menakjubkan 25 Nabi yang disusun oleh Ariany Syurfah M Hum M Ag.

    Pada perpecahan tersebut, muncul dua kubu yang dipimpin oleh Nabi Daud dan putra Raja Thalut. Peperangan antar keduanya dimenangkan oleh kubu Daud hingga akhirnya beliaulah yang diangkat menjadi raja untuk menempati kekuasaan.


    Kisah mengenai Nabi Daud AS diabadikan dalam sejumlah surat di Al-Qur’an, seperti surat Al Baqarah, Al Anbiya, An Naml, Saba’ dan Shad.

    Masa Kepemimpinan Nabi Daud sebagai Seorang Raja

    Mengacu pada sumber yang sama, Nabi Daud memerintah rakyatnya berdasarkan hukum Allah dan membela orang-orang yang tertindas. Karenanya, rakyat menjalani kehidupan yang bahagia semasa kepemimpinannya.

    Kerajaan Nabi Daud sangatlah kuat dan sulit dikalahkan oleh musuh. Disebutkan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul tulisan Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, kerajaan beliau selalu memperoleh kemenangan atas semua musuhnya.

    Nabi Daud AS menetap di Kota Bethlehe, Palestina dan memimpin Bani Israil. Dirinya merupakan seorang raja yang bijak dan adil.

    Alih-alih terlena akan kekayaannya sebagai seorang raja, Nabi Daud justru selalu bersyukur kepada Allah atas semua yang ia miliki. Mengutip dari buku Kisah-kisah Terbaik Al-Qur’an karangan Kamal As-Sayyid, Nabi Daud AS juga dikaruniai suara yang indah. Siapa saja yang mendengar suara beliau akan merasa terkesima.

    Bergabungnya Nabi Daud dalam Pasukan Raja Thalut

    Sebelum Raja Thalut wafat, dirinya menyusun kekuatan militer untuk mengumpulkan pemuda dan orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentara. Nantinya, pasukan tersebut dilatih untuk menghadapi bangsa yang terkenal kuat, berani, dan telah lama menguasai Palestina.

    Dijelaskan dalam buku Dahsyatnya Doa Para Nabi oleh Syamsuddin Noor, Nabi Daud dan dua orang kakaknya diminta sang ayah untuk bergabung ke barisan laskar Thalut. Ia meminta Nabi Daud berada di barisan belakang karena usianya sangat muda dan belum memiliki pengalaman perang.

    Setelah menjalani pelatihan, tibalah waktu di mana pasukan Raja Thalut menghadapi musuh yang dipimpin oleh panglima bernama Jalut. Panglima Jalut terkenal berani, terlatih dan tidak pernah kalah dalam peperangan.

    Kala itu, rombongan pasukan Jalut berjumlah 8.000 orang, sementara pasukan Raja Thalut hanya 300 tentara dan Nabi Daud termasuk ke dalam salah satunya. Meski merasa takut, mereka bertawakal dan beriman kepada Allah serta mengucap doa dalam surat Al Baqarah ayat 250.

    وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Arab latin: Wa lammā barazụ lijālụta wa junụdihī qālụ rabbanā afrig ‘alainā ṣabraw wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

    Artinya: “Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir,”

    Ketika pertempuran dimulai, panglima Jalut menantang pasukan Raja Thalut. Tidak seorang pun di antara mereka berani keluar, alhasil Jalut mengejek dan menghina mereka.

    Melihat hal itu, Nabi Daud lupa pesan ayahnya untuk berada di barisan belakang. Ia lantas menawarkan diri kepada Raja Thalut untuk melawan Jalut.

    Meski merasa ragu-ragu karena Nabi Daud bertubuh kecil, Thalut akhirnya mengizinkannya dan memberikan Nabi Daud perlengkapan perang. Kala itu, Nabi Daud enggan memakainya karena berat dan tidak terbiasa menggunakan perlengkapan tersebut.

    “Bagaimana engkau dapat bertarung dengan hanya bersenjatakan tongkat, ketapel, dan batu-batu melawan Jalut yang bersenjatakan pedang, panah, dan pakaian perang yang lengkap?” tanya Raja Thalut yang heran.

    Mendengar hal itu Nabi Daud menjawab, “Tuhan yang telah melindungiku. Taring singa dan kuku beruang juga akan melindungiku dari sabetan pedang dan panah Jalut yang durhaka itu,”

    Ketika Nabi Daud menuju Jalut, dia berkata,

    “Untuk apa tongkat yang engkau bawa itu? Untuk mengejar anjing atau untuk memukul anak-anak yang sebaya dengan engkau? Di mana pedang dan zirahmu? Rupanya engkau sudah bosan hidup dan ingin mati, padahal engkau masih muda. Engkau belum merasakan suka-dukanya kehidupan. Engkau masih harus banyak belajar dari pengalaman. Majulah engkau ke sini! Aku akan habiskan nyawamu dalam sekejap mata. Dagingmu akan kujadikan makanan yang lezat bagi binatang- binatang di darat dan burung-burung di udara,”

    Nabi Daud AS menjawab, “Engkau boleh bangga dengan zirah dan topi bajamu. Engkau boleh merasa kuat dan ampuh dengan pedang dan panahmu. Akan tetapi, ingatlah! Ia tidak akan sanggup menyelamatkan nyawamu dari tanganku yang masih halus dan bersih ini. Aku datang ke sini dengan nama Allah SWT, Tuhan Bani Israil yang telah lama engkau hinakan, engkau jajah, dan engkau tundukkan. Sebentar lagi, engkau akan mengetahui, apakah pedang dan panah yang akan mengakhiri hayatku atau kehendak dan kekuasaan Allah SWT yang akan merenggut nyawamu dan mengirimkan engkau ke neraka Jahanam?”

    Ketika Jalut hendak melangkah mendekati Nabi Daud, dilemparkanlah batu dengan ketapel tepat ke arah kening Jalut. Darah mengalir deras dari kepala Jalut hingga menutupi kedua matanya.

    Atas izin Allah SWT, pada lemparan batu kedua dan ketiga oleh Nabi Daud, Jalut lalu terjatuh. Ia tersungkur di atas tanah dan mengembuskan nafasnya yang terakhir. Matinya Jalut membuat tentaranya mundur dan lari karena dikejar oleh Raja Thalut.

    Atas keberhasilan Nabi Daud itulah, Raja Thalut menjadikan beliau sebagai menantu dan dinikahkan dengan putrinya, bernama Mikyal. Sesuai janji Thalut bahwa putrinya akan dinikahkan dengan orang yang bisa mengalahkan Jalut.

    Demikian pembahasan mengenai Nabi Daud yang diangkat menjadi raja menggantikan Raja Thalut. Semoga bermanfaat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com