Tag: politik

  • Lomba Debat Mahasiswa Nasional 2025 Digelar, Ini Tema yang Diangkat

    Lomba Debat Mahasiswa Nasional 2025 Digelar, Ini Tema yang Diangkat


    Jakarta

    Lomba debat mahasiswa Indonesia 2025, yakni National University Debating Championship (NUDC) dan Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) digelar 20-25 Oktober 2025. Ajang debat nasional paling bergengsi ini berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Jawa Tengah.

    NUDC dan KDMI merupakan lomba debat yang digelar oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswa, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Ajang tahunan ini menjadi ruang kompetisi, pembelajaran, serta jejaring intelektual bagi mahasiswa Indonesia.

    Menjadi tuan rumah, Unsoed dibanjiri delegasi mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia. Dikutip dari Guidebook NUDC & KDMI 2025, Senin (20/10/2025) berikut serba-serbi Lomba Debat Indonesia 2025


    Tema NUDC – KDMI 2025

    Tema besar NUDC dan KDMI adalah:

    “Dari Panggung Hebat, Mewujudkan Kampus Berdampak, untuk Masyarakat Hebat”

    Adapun makna dari tema ini yakni:

    Dari Panggung Hebat

    Memaknai bahwa panggung melambangkan tempat di mana ide dan kreativitas dapat diekspresikan. Dalam konteks ini, debat merupakan ruang untuk menyampaikan argumen dan perspektif yang beragam.

    Untuk Masyarakat Hebat

    Kalimat ini memaknai bahwa tujuan akhir dari panggung debat dan aktivitas intelektual mahasiswa tidak berhenti pada capaian pribadi. Namun, setiap gagasan dan argumen yang lahir dari ruang debat menjadi bagian kontribusi nyata mahasiswa bagi masyarakat luas.

    Mewujudkan Kampus Berdampak

    Debat dan pertukaran opini mahasiswa diharapkan dapat menghasilkan pemikiran yang konstruktif dan menciptakan solusi nyata. Tidak hanya adu argumen, debat melatih mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap permasalahan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

    NUDC-KDMI diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan kampus melalui ide-ide segar dan gagasan yang inovatif.

    Manfaat Lomba Debat Indonesia 2025

    Ada empat manfaat dari Lomba Debat Indonesia 2025, yakni:

    1. Menguji dan mengasah keterampilan kritis dan retorika.

    2. Ajang prestisius bagi mahasiswa tingkat nasional.

    3. Membangun jejaring intelektual lintas universitas.

    4. Kontribusi nyata bagi pengembangan budaya akademik Indonesia.

    Jadwal Kegiatan NUDC – KDMI 2025

    Hari Pertama, 20 Oktober 2025

    • Opening Ceremony: 14.00-17.00 WIB di Graha Widyatama Unsoed

    Hari Kedua, 21 Oktober 2025

    • Round 1 NUDC & KDMI: 08.00-11.00 WIB
    • Round 2 NUDC & KDMI: 12.15-15.15 WIB
    • Round 3 NUDC & KDMI: 15.30-18.30 WIB

    Hari Ketiga, 22 Oktober 2025

    • Round 4 NUDC & KDMI: 08.00-11.00 WIB
    • Round 5 NUDC & KDMI: 12.15-15.15 WIB
    • Round 6 (silent) NUDC & KDMI: 15.30-18.00
    • Pengumuman tim terbaik NUDC & KDMI: 18.30-19.30 WIB

    Hari Keempat, 23 Oktober 2025

    • Babak 23 Besar NUDC & KDMI: 08.00-11.00 WIB
    • Babak 16 Besar NUDC & KDMI: 12.15-15.00 WIB
    • Babak 8 Besar NUDC & KDMI: 15.00-18.00 WIB

    Hari Kelima, 24 Oktober 2025

    • Final Novice KDMI: 13.30-14.45 WIB
    • Final Pratama NUDC: 14.45-16.00 WIB
    • Final Utama KDMI: 16.00-17.16 WIB
    • Final Open NUDC: 17.15-18.30 WIB
    • Closing Ceremony: 19.30-22.00 WIB

    Demikianlah informasi tentang lomba debat Indonesia 2025 untuk mahasiswa. Selamat bertanding detikers!

    (det/twu)



    Sumber : www.detik.com

  • Pakar Sorot Dominasi Buzzer di Medsos, Sedangkan Akademisi Absen

    Pakar Sorot Dominasi Buzzer di Medsos, Sedangkan Akademisi Absen


    Jakarta

    Media sosial menjadi medan tempur narasi yang didominasi buzzer dan bot. Hal ini disampaikan oleh pakar analisis media sosial pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi.

    Di sisi lain, ia juga menyorot absennya peran akademisi dalam membentuk narasi di ruang publik digital di negeri ini. Melalui penjelasannya yang bertajuk “Siapa Pemilik Narasi? Data, Disinformasi, dan Hilangnya Suara Akademisi” dalam “The 2025 International Conference on Computer, Control, Informatics, and Its Application (IC3INA) pada Rabu (15/10/2025), ia mengutarakan suara akademisi yang berbasis data dan kebenaran malah hilang dan tertinggal di belakang jurnal-jurnal ilmiah.

    Perbandingan Aktivitas Kampus Terkemuka di AS dan Indonesia

    Ismail Fahmi dalam acara ini memaparkan hasil analisis jaringan sosial (Social Network Analysis). Analisis ini membandingkan aktivitas digital universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat (AS) seperti Stanford University, Harvard University, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan tiga universitas terkemuka di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).


    Ia menemukan ada perbedaan aktivitas digital universitas-universitas di kedua negara. Di universitas-universitas di AS, jejaring akun institusi dan akademisi sangat aktif. Pembahasan yang dibangun bersifat global dan mencakup isu-isu kritis seperti COVID-19, politik internasional, serta penemuan sains. Para akademisi AS, seperti tampak pada saat pandemi, menjadi influencer pengetahuan yang aktif berdebat dan mengedukasi publik di media sosial.

    Sementara, ia menemukan Universitas Indonesia memiliki keterlibatan di media sosial yang sangat minim dan cenderung bersifat institusional atau lokal. Berdasarkan analisis Drone Emprit, jejaring diskusi seputar UI justru sangat dekat dengan isu politik.

    “Universitas kita tidak memiliki naratifnya sendiri di media sosial. Kita hanya ditarik oleh buzzer dan isu politik ke dalam naratif mereka,” jelasnya, dikutip dari BRIN pada Senin (20/10/2025).

    Namun, Ismail Fahmi juga mengakui ada kendala yang membuat akademisi di Indonesia enggan bersuara, termasuk ketakutan akan kekerasan politik; tekanan institusional; sampai risiko hukum dan reputasi.

    Saran Strategi Komunikasi untuk Akademisi

    Maka dari itu, ia menawarkan strategi komunikasi yang aman serta konstruktif yang dapat dilakukan para akademisi. Ia menegaskan agar para akademisi Tanah Air fokus pada data, bukan politik; mengadopsi jurnalisme konstruktif; serta memanfaatkan kecerdasan buatan.

    “Jika kita akademisi dan peneliti tetap menjadi penonton, maka siapa yang akan menjadi pemandu intelektual publik berbasis data? Data harus berada di ruang publik, bukan hanya di jurnal dan kelas”, ucapnya.

    Ia berharap forum akademik dapat menjadi kekuatan intelektual publik dengan memastikan hasil penelitian mempunyai tujuan gand,a yakni literasi sains dan informasi real-time untuk masyarakat.

    (nah/twu)



    Sumber : www.detik.com

  • Pimpinan Ponpes Buntet Cirebon Kritik Pansus Haji DPR: Banyak Unsur Politisnya



    Cirebon

    Pimpinan Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat KH Adib Rofiuddin Izza mengkritisi pembentukan Panitia Khusus Angket Pengawasan Haji oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. KH Adib menilai pembentukan Pansus ini lebih banyak unsur politik.

    “Kalau saya lihat fenomena dari keseluruhan, masalah Pansus (Angket DPR) itu lebih besar unsur politisnya. Jadi saya pikir kalau masalah haji itu ya jangan dipolitisir lah,” kata KH Adib kepada wartawan di Cirebon Jawa Barat, Jumat (19/7/2024).

    Menurut Adib penyelenggaraan haji tahun 2024 ini sangat baik. Kementerian Agama di bawah Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dinilai berhasil mengantisipasi dan mengatasi semua kemungkinan terkait pelaksanaan ibadah haji.


    Kalau pun ada kekurangan sedikit, Adib menyebut hal itu masih dalam batas yang wajar dan bisa diantisipasi. Persoalan di Mina misalnya, luas area tidak bertambah sementara jumlah jemaah terus meningkat.

    Begitu juga soal konsumsi. Jumlah jemaah haji Indonesia secara keseluruhan mencapai lebih dari 200 ribu orang. Menangani konsumsi untuk 200 ribu jemaah tentu bukan hal yang mudah. Ketika mungkin ada 5 atau 10 konsumsi yang mungkin basi masih bisa dimaklumi. Apalagi petugas haji cepat merespons saat menemukan makanan atau konsumsi yang tidak layak saji.

    “Artinya sampai pemerintah Indonesia dari Pak Menag Gus Yaqut itu sudah mengantisipasi segala macam kemungkinan dan begitu secara kejadian semacam itu sudah ter-counter semua,” kata Adib.

    Terkait kemungkinan adanya kekurangan atau kelemahan dalam penyelenggaraan haji, Adib mengakui itu pasti ada. Namun sebaiknya hal itu dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan.

    Adib mengakui sudah bertemu dengan Menag Gus Yaqut. Kepada Menag, Adib menyampaikan agar kritik dan saran terkait penyelenggaraan haji bisa dijadikan evaluasi untuk perbaikan.

    “Saya sudah menyampaikan lagi kepada beliau (Menag). Kata saya, Gus, kalau Njenengan (Anda) masih dipercaya lagi untuk memimpin Departemen Agama atau Kemenag, harus segera dibenahi lagi (penyelenggaraan haji). Beliau Menag bilang, ‘siap-siap’,” kata Adib.

    Sehingga Adib meminta siapa pun khusus para politikus untuk tidak mempolitisir masalah penyelenggaraan haji. Apalagi membawa bawa kepentingan pribadi dengan membentuk Pansus Angket. Kritik dan saran sebaiknya disampaikan langsung ke Kementerian Agama untuk semangat perbaikan.

    “Tolonglah. Masalah (haji) ini jangan dipolitisir. Jangan dipolitisir, itu enggak bagus. Ini karena masalahnya umat, umat masalahnya,” kata Adib.

    Apalagi, lanjut Adib, masih banyak persoalan yang semestinya bisa di-Pansuskan. “Misalnya soal kasus judi online,” kata Adib.

    Diketahui, DPR RI menyepakati pembentukan Pansus Angket Haji dalam rapat paripurna ke-21 pada Selasa, 9 Juli 2024 lalu.

    Usulan pembentukan Pansus Angket Haji disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina. Selly menyampaikan sederet pertimbangan pembentukan Pansus yang salah satunya terkait ketidaksesuaian pembagian kuota haji.

    “Bahwa kuota haji khusus ditetapkan sebesar 8 persen dari kuota haji Indonesia sehingga keputusan Menag No 118 Tahun 2024 tentang petunjuk pelaksanaan pemenuhan kuota haji khusus tambahan dan sisa kuota haji 2024 bertentangan dengan UU dan tak sesuai dengan hasil kesimpulan rapat Panja Komisi VIII dengan Menag terkait penetapan BPIH,” kata Selly.

    Anggota Fraksi PDI-P itu juga menyampaikan ada 35 anggota DPR RI yang sudah menandatangani hak angket.

    Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar atau Cak Imin selaku pimpinan rapat kemudian meminta persetujuan kepada semua anggota DPR. Anggota DPR menjawab setuju.

    (erd/kri)



    Sumber : www.detik.com