Tag: serikat

  • Nvidia Mulai Produksi Chip AI Blackwell di AS

    Nvidia Mulai Produksi Chip AI Blackwell di AS


    Jakarta

    Nvidia mengumumkan wafer pertama untuk chip AI Blackwell yang dibuat di Amerika Serikat. Produksi ini dilakukan di fasilitas manufaktur TSMC di Phoenix, Arizona, dan menjadi langkah strategis di tengah melonjaknya permintaan komputasi AI global.

    Selama ini, sebagian besar chip Nvidia diproduksi di Taiwan. Dengan produksi di AS, Nvidia menegaskan upaya memperkuat rantai pasok semikonduktor sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap manufaktur luar negeri.

    Dalam pernyataan resminya, Nvidia menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya mengamankan kepemimpinan teknologi AI Amerika Serikat. Perusahaan menilai onshoring produksi akan mempercepat distribusi chip dan memastikan teknologi AI tetap berada dalam kendali ekosistem domestik.


    Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang mendorong kedaulatan manufaktur dan teknologi AS, terutama di sektor strategis seperti AI dan semikonduktor, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Minggu (19/10/2025).

    TSMC Arizona akan memproduksi chip dengan teknologi fabrikasi dua, tiga, dan empat nanometer, termasuk lini A16. Semua teknologi ini krusial untuk kebutuhan AI, komputasi performa tinggi, hingga telekomunikasi generasi terbaru.

    Fasilitas Arizona adalah salah satu investasi terbesar TSMC di luar Taiwan dan kini menjadi bagian dari ekosistem manufaktur chip untuk perusahaan-perusahaan AS, termasuk Nvidia, AMD, dan Broadcom.

    Industri AI Dorong Dorongan Baru

    Permintaan chip AI terus meningkat seiring ambisi perusahaan teknologi mengembangkan kecerdasan buatan setara atau melampaui kemampuan manusia. Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi gelombang investasi besar antara perusahaan AI dan pembuat chip seperti Nvidia, AMD, dan Broadcom untuk memperluas kapasitas pusat data.

    TSMC sendiri baru saja mencatat keuntungan tertinggi sepanjang sejarah dan menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya karena optimisme terhadap belanja AI global.

    Dengan produksi Blackwell di dalam negeri, Nvidia tak hanya memperkuat pasokan, tapi juga mengirim sinyal bahwa kompetisi AI kini tak lagi sekadar soal performa teknologi–melainkan juga soal kedaulatan manufaktur dan keberlanjutan rantai pasok.

    (asj/asj)



    Sumber : inet.detik.com

  • Apple Kuasai Hak Siar F1 di AS, Modal Baru Perang Streaming

    Apple Kuasai Hak Siar F1 di AS, Modal Baru Perang Streaming


    Jakarta

    Apple resmi mengamankan hak siar Formula 1 di Amerika Serikat untuk lima tahun ke depan. Kesepakatan ini jadi langkah strategis raksasa teknologi asal Cupertino dalam memperkuat layanan streaming Apple TV, yang selama ini belum mampu menandingi skala pemain besar seperti Netflix dan Disney+.

    Nilainya tidak diumumkan ke publik, namun CNBC melaporkan kontraknya mencapai sekitar USD 140 juta per tahun. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding biaya yang dibayar ESPN selama ini–sekitar USD 90 juta per musim sejak 2018. Kontrak baru ini mulai berlaku tahun depan, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Minggu (19/10/2025).

    Eddy Cue, Senior Vice President of Services Apple, menyebut kerja sama ini sebagai perluasan dari hubungan mereka dengan Formula 1. Apple akan menayangkan seluruh sesi balap, termasuk latihan, kualifikasi, Sprint, hingga Grand Prix. Menariknya, beberapa sesi dan balapan terpilih akan bisa disaksikan secara gratis melalui aplikasi Apple TV.


    Langkah Apple datang di momen yang tepat. Popularitas F1 di Amerika sedang melejit, apalagi setelah film “F1: The Movie” produksi Apple yang dibintangi Brad Pitt meraup lebih dari USD 628 juta secara global. Film itu sendiri akan tayang perdana secara streaming di Apple TV pada 12 Desember mendatang.

    Masuknya Formula 1 ke Apple TV menambah portofolio olahraga perusahaan tersebut, setelah sebelumnya mengamankan hak siar Major League Soccer dan Friday Night Baseball. Di industri streaming, hak siar olahraga kini menjadi senjata utama untuk menarik pelanggan baru, mengurangi churn, dan memperkuat pendapatan iklan.

    Data Nielsen Sports menunjukkan F1 menambah hampir 90 juta penggemar baru tahun lalu. Lonjakan terbesar datang dari China setelah balapan kembali digelar di Shanghai pascapandemi. Dengan basis penonton global yang terus tumbuh, Formula 1 kini jadi salah satu aset olahraga paling seksi untuk platform digital.

    Di sisi lain, kesepakatan ini juga mempertegas strategi Apple dalam menyajikan konten eksklusif yang bernilai tinggi, sekaligus mengerek daya saing Apple TV yang sudah mengoleksi 22 Emmy Awards tahun ini, namun masih tertinggal secara jumlah pelanggan.

    Dengan masuknya F1, perang konten di layanan streaming semakin panas. Bukan hanya soal film dan serial orisinal, tetapi juga tentang siapa yang bisa membawa pengalaman olahraga paling premium ke layar para pelanggan.

    (asj/asj)



    Sumber : inet.detik.com

  • Senjata China untuk Hadapi Dominasi Chip Amerika

    Senjata China untuk Hadapi Dominasi Chip Amerika


    Jakarta

    China semakin agresif memperkuat kemandirian chip nasional di tengah tekanan Amerika Serikat yang terus memperketat ekspor teknologi semikonduktor. Langkah terbaru datang dari sejumlah kota besar yang beramai-ramai membentuk dana jumbo untuk riset, desain, hingga produksi chip.

    Shenzhen, yang kerap dijuluki Silicon Valley-nya China, baru saja meluncurkan dana semikonduktor senilai 5 miliar yuan atau sekitar Rp 11 triliun. Dana ini akan difokuskan untuk pengembangan desain chip, komponen penting, peralatan produksi, hingga teknologi advanced packaging.

    Dana tersebut dibiayai langsung oleh pemerintah kota dan badan investasi negara di kawasan industri semikonduktor Shenzhen. Programnya dirancang berjalan selama 10 tahun sebagai upaya mempercepat dominasi lokal di sektor chip strategis.


    Pengamat teknologi dari Guangdong Society of Reform, Peng Peng, mengatakan langkah Shenzhen adalah bagian dari “perlombaan antarkota” untuk menjadi pusat industri chip nasional. Menurutnya, kecerdasan buatan dan semikonduktor kini menjadi “garis depan kompetisi” di dalam dan luar negeri.

    Tak hanya Shenzhen, kota hi-tech lain ikut tancap gas. Shanghai, misalnya, membentuk dana 1,5 miliar yuan bersama AMEC untuk memecahkan kebuntuan teknologi chip. Pemerintah kota itu juga menyuntik lebih dari 70% modal untuk private equity fund senilai 5,7 miliar yuan khusus semikonduktor.

    Hangzhou, yang naik daun sebagai pusat inovasi baru, menggandeng investor pemerintah daerah untuk membentuk dana 10 miliar yuan yang akan diarahkan ke penguatan rantai pasok chip, demikian dikutip detikINET dari SCMP, Minggu (19/10/2025).

    Di wilayah tengah, provinsi Hubei ikut mendanai proyek 20,7 miliar yuan bersama YMTC, produsen memori lokal. Fokusnya meliputi seluruh rantai industri, dari desain hingga penjualan.

    Dorongan ini muncul di saat Washington semakin keras membatasi akses China terhadap teknologi chip canggih. Pekan lalu, Senat AS meloloskan aturan yang mewajibkan Nvidia dan AMD memprioritaskan pasokan chip AI ke perusahaan Amerika. Tak lama kemudian, Presiden Donald Trump mengancam akan membatasi ekspor “seluruh perangkat lunak penting”, termasuk yang dipakai untuk desain chip.

    Sebagai respons, Beijing mempercepat swasembada semikonduktor dengan dukungan pemerintah daerah dan badan investasi negara. Data National High-tech Industrial Innovation Center menunjukkan nilai industri chip China sudah mencapai 1,8 triliun yuan pada 2024, dengan Shenzhen, Shanghai, dan Beijing sebagai episentrum.

    Meski sudah mengejar di bidang desain dan peralatan chip, laporan pusat riset pemerintah itu mengingatkan bahwa China masih menghadapi kendala di teknologi manufaktur tingkat lanjut dan packaging canggih.

    Namun, lewat suntikan dana triliunan yuan dan gerak cepat kota-kota utama, Beijing kini membangun “senjata finansial dan teknologi” untuk menandingi dominasi chip Amerika sembari memperkuat pertahanan ekonomi digitalnya di tengah perang teknologi global.

    (asj/asj)



    Sumber : inet.detik.com

  • China Tuding Amerika Bobol Pusat Waktu Nasional

    China Tuding Amerika Bobol Pusat Waktu Nasional


    Jakarta

    Ketegangan digital antara Amerika Serikat dan China kembali naik level. Pemerintah China menuduh Badan Keamanan Nasional AS (NSA) melakukan operasi penyusupan siber jangka panjang terhadap National Time Service Center, lembaga yang menjadi penjaga waktu standar nasional Negeri Tirai Bambu.

    Dalam pernyataan resmi di akun WeChat Kementerian Keamanan Negara China, Beijing menyebut ditemukan bukti pencurian data dan kredensial sejak 2022. Informasi itu disebut digunakan untuk memata-matai perangkat seluler dan sistem jaringan internal para staf lembaga tersebut.

    Yang bikin meresahkan, operasi itu disebut tidak hanya berupa pengintaian. China mengklaim serangan juga menyasar sistem komunikasi dan infrastruktur sensitif. Jika berhasil, dampaknya bisa mengganggu jaringan finansial, pasokan listrik, telekomunikasi, hingga sinkronisasi waktu internasional yang dipakai sistem digital global.


    Menariknya, kementerian tidak menyebut merek ponsel yang menjadi celah serangan, hanya mengatakan NSA mengeksploitasi kerentanan dari layanan pesan milik “produsen smartphone asing” untuk masuk ke perangkat karyawan, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Senin (20/10/2025).

    Pusat waktu nasional berada di bawah Chinese Academy of Sciences dan bertugas menjaga, menghasilkan, serta menyiarkan waktu standar resmi China. Menurut penyelidikan internal, percobaan peretasan juga terjadi pada sistem penentuan waktu presisi berbasis darat pada 2023 dan 2024.

    Hingga kini, Kedutaan AS belum memberikan komentar. Namun tudingan ini muncul di tengah suasana yang sudah panas lebih dulu, terutama setelah kedua negara saling menuding sebagai ancaman siber utama dalam beberapa tahun terakhir.

    Situasinya diperkeruh dengan tensi dagang yang kembali naik, mulai dari kebijakan kontrol ekspor mineral langka hingga ancaman kenaikan tarif baru dari Washington terhadap produk China. Persaingan teknologi–dari chip hingga infrastruktur komputasi–kini merembet ke wilayah sensitif keamanan siber.

    (asj/afr)



    Sumber : inet.detik.com

  • Kelebihan Teknologi Chengdu J-10C yang Mau Dibeli RI, Pernah Libas Rafale

    Kelebihan Teknologi Chengdu J-10C yang Mau Dibeli RI, Pernah Libas Rafale


    Jakarta

    Jet tempur Chengdu J‑10 akan menjadi andalan baru militer Indonesia. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa telah menyetujui anggaran pembelian fighter jet atau jet tempur dari China tersebut, sekitar US$9 miliar atau berkisar Rp146 triliun untuk 42 unit ChengduJ-10.

    Artinya, dari angka itu, secara hitungan sederhana, rata‑rata biaya per unit (termasuk paket dukungan, logistik, pelatihan, dan infrastruktur) bisa mencapai sekitar US$214 juta atau sekitar Rp3,54 triliun per unitnya.Unit yang dibeli kemungkinan adalah Chengdu J-10C.

    Chengdu J10C ini sejauh ini baru dioperasikan Angkatan Udara China dan Angkatan Udara Pakistan. Nah pada Mei 2025 saat konflik antara Pakistan dan India, Chengdu J10C jadi berita besar lantaran disebut mampu menjatuhkan jet tempur Rafale asal Perancis yang sebelumnya dinilai lebih hebat.


    “Jet tempur kami menembak jatuh tiga Rafale India. Jet tempur kami adalah J-10C,” cetus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar ketika itu. Rafale rontok konon dengan rudal PL-15 yang juga buatan China.

    Dikutip detikINET dari Newsweek, Senin (20/10/2025) J-10C ini adalah varian baru dari J-10 dengan berbagai macam peningkatan, yang memang ditujukan agar lebih menarik untuk ekspor ke negara lain.

    “Dulu, ketika orang-orang membicarakan jet tempur Tiongkok, kesan yang muncul kebanyakan adalah efektivitas biayanya. Namun kini, J-10C telah membuktikan kehebatan tempurnya yang sesungguhnya melalui pengalaman operasional di dunia nyata,” kata Zhang Xuefeng, pengamat militer China.

    Kepala perancang J-10C menonjolkan kemampuan angkut senjata di jet itu yang telah ditingkatkan. Pesawat tempur ini, yang mulai beroperasi di militer China pada tahun 2017, dapat dilengkapi dengan lebih dari 40 jenis persenjataan, meningkat dari hanya 10 jenis pada J-10 versi awal. Itu menawarkan fleksibilitas lebih besar untuk misi udara, darat, dan maritim.

    Dari segi desain rangka pesawat, J-10C diuntungkan oleh sistem pemasukan udara yang meningkatkan aliran udara ke mesin, yang diklaim meningkatkan keandalannya dan mengurangi penampang radar.

    Sementara itu, canard yang dipasang di bagian depan, yaitu kendali kecil seperti sayap, meningkatkan stabilitas dan kemampuan manuver di kecepatan tinggi, memberi keunggulan dibanding pesawat tempur JF-17 yang juga dibuat Chengdu Aircraft Corporation. Desain itu juga disebut membuatnya setara F-16 buatan Amerika Serikat.

    Salah satu peningkatan paling signifikan adalah radar array terpindai elektronik aktif, yang menggantikan sistem pemindaian mekanis lama. Radar AESA memungkinkan deteksi dan pelacakan target yang lebih cepat, sehingga pilot dapat menghadapi beberapa musuh secara bersamaan sekaligus lebih sulit untuk diganggu atau dideteksi.

    Pesawat tempur ini juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik canggih yang meningkatkan kewaspadaan situasional pilot dan mengurangi kemungkinan posisi pesawat terdeteksi oleh radar musuh.

    (fyk/fay)



    Sumber : inet.detik.com

  • Bukan Elon Musk atau Jeff Bezos, Ini Sosok Pemilik Tanah Terluas di Amerika!

    Bukan Elon Musk atau Jeff Bezos, Ini Sosok Pemilik Tanah Terluas di Amerika!



    Jakarta

    Tanah merupakan aset berharga karena luas lahan tidak akan bertambah, tetapi kebutuhannya dari tahun ke tahun meningkat. Oleh karena itu, banyak orang melabeli orang yang memiliki banyak tanah sebagai sosok yang memiliki banyak harta.

    Berbeda dengan properti, memiliki banyak tanah terkadang sulit untuk dilacak. Namun, di Amerika hal ini mudah dilakukan bahkan pihak swasta ada yang memantau penjualan dan kepemilikan tanah per tahunnya. Kira-kira siapa ya sosok tuan tanah dengan aset terbesar di Amerika Serikat?

    Land Report melaporkan pemilik lahan terbesar di Amerika Serikat bukan deretan orang terkaya di dunia seperti Elon Musk ataupun Jeff Bezos, melainkan Red Emmerson. Red dan keluarganya memiliki 2,5 juta hektar lahan di California, Oregon, dan Washington melalui perusahaan produk kayu mereka, Sierra Pacific Industries.


    Ia telah menduduki posisi teratas tersebut sejak 2021 ketika mereka mengakuisisi 175.000 hektar lahan di Oregon dari Seneca Timber Company. Dengan akuisisi tersebut, keluarga Emmerson melampaui kepemilikan Ketua Liberty Media, John Malone, yang memiliki 2,2 juta hektar lahan. Lalu menandingi jumlah aset Pendiri CNN, Ted Turner, yang memiliki lahan seluas 2 juta hektar di wilayah Tenggara, Great Plains, dan di seluruh wilayah Barat.

    Seneca Timber Company merupakan perusahaan produsen perkakas, jendela, kayu, dan energi terbarukan terbesar di Amerika. Sierra Pacific merupakan perusahaan produksi kayu swasta terbesar di negara ini, dengan 14 pabrik penggergajian kayu di California, Oregon, dan Washington.

    Profil Red Emmerson

    Sosok pemilik lahan terbesar di Amerika ini lahir di Grand Ronde, Oregon. Semula ia tinggal dan besar di Washington Timur, kemudian pindah ke California dan bekerja di industri kayu dan penggergajian kayu. Ia bergabung dengan mendiang ayahnya, Curly Emmerson, untuk mendirikan Sierra Pacific pada 1949.

    Menurut Forbes, perusahaan Seneca Timber Company go public pada tahun 1969, tetapi empat tahun kemudian mereka membeli saham mitra mereka dan menjadikannya perusahaan privat.

    Sierra Pacific memasuki generasi ketiga kepemilikan keluarga. Red Emmerson kini resmi menjadi ketua emeritus berdasarkan keputusan dari Komisi Pemilihan Umum Federal. Putra-putranya, George dan Mark, juga mendapatkan menjabat sebagai presiden perusahaan dan ketua atau kepala keuangan. Putri Emmerson Carolyn Dietz menjadi presiden yayasan filantropi Sierra Pacific, menurut situs web yayasan tersebut.

    Meskipun mengantongi label orang dengan koleksi lahan terbesar di Amerika, Emmerson tidak menduduki 10 orang terkaya di dunia. Ia hanya berada di peringkat 225 dan masuk dalam Forbes 400 dengan kekayaan US$ 5,7 miliar atau Rp 94 triliun.

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • iPhone 17 Laris Manis! Penjualan Tembus 31% Lebih Tinggi dari iPhone 16

    iPhone 17 Laris Manis! Penjualan Tembus 31% Lebih Tinggi dari iPhone 16


    Jakarta

    iPhone 17 mencatatkan permintaan yang luar biasa di pasar global. Menurut laporan terbaru Counterpoint Research, penjualan lini terbaru Apple itu melampaui kinerja pendahulunya, iPhone 16 Series, dengan pertumbuhan signifikan pada dua pasar utama, yakni Amerika Serikat dan China.

    Dalam sepuluh hari pertama penjualan terbuka, iPhone 17 Series terjual 14% lebih banyak dibandingkan seri sebelumnya pada periode yang sama. Data yang dirilis menunjukkan bahwa iPhone 17 Pro dan iPhone 17 Pro Max mencatat peningkatan penjualan sekitar 12% dibandingkan dengan iPhone 16 Pro dan 16 Pro Max.

    Sementara itu, model dasar iPhone 17 justru menjadi bintang utama dengan lonjakan permintaan hingga 31% dibandingkan iPhone 16 standar. Bahkan model tambahan, iPhone Air, juga berhasil mengungguli kinerja iPhone 16 Plus sejauh ini, menandakan minat pasar yang kuat terhadap seluruh lini produk baru Apple tersebut.


    Analis Counterpoint menilai, lonjakan permintaan ini tidak semata-mata karena peningkatan spesifikasi, melainkan juga karena faktor psikologis dan siklus pembaruan perangkat. Banyak pengguna yang membeli iPhone selama masa pandemi COVID-19 kini mulai masuk ke periode upgrade.

    Setelah lebih dari tiga tahun menggunakan perangkat yang sama, kelompok pengguna ini menjadi pendorong utama penjualan generasi terbaru iPhone. Selain itu, Apple tampaknya berhasil membangun persepsi nilai yang lebih tinggi pada lini iPhone 17.

    Varian standar kini menawarkan fitur-fitur yang sebelumnya eksklusif untuk model Pro, seperti layar ProMotion 120Hz dan peningkatan kecerahan hingga 3.000 nits. Hal ini membuat pengguna merasa mendapatkan “nilai premium” dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga mendorong penjualan model dasar secara signifikan.

    Penjualan iPhone 16 vs 17 di AS dan ChinaPenjualan iPhone 16 vs 17 di AS dan China Foto: CounterpointResearch

    Keberhasilan iPhone 17 Series juga didukung oleh kesiapan rantai pasokan Apple yang semakin baik. Tahun-tahun sebelumnya, peluncuran iPhone kerap diwarnai keterbatasan stok di sejumlah wilayah, terutama untuk model Pro.

    Namun kali ini, Apple tampak mampu memenuhi permintaan tinggi sejak awal distribusi. Pasar China dan Amerika Serikat, yang selama ini menjadi barometer penjualan global, menunjukkan tren positif yang dapat berimplikasi global termasuk di kawasan Asia Tenggara..

    Fenomena ini juga berpotensi memengaruhi harga dan ketersediaan perangkat Apple di pasar gadget. Dengan meningkatnya permintaan global, harga ritel bisa lebih stabil, sementara perangkat lama seperti iPhone 16 dan 15 kemungkinan mengalami penurunan harga lebih cepat.Bagi distributor dan operator lokal, tren ini menjadi sinyal untuk memperkuat stok dan promosi, terutama menjelang musim belanja akhir tahun.

    iPhone 17iPhone 17 Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

    Peningkatan minat terhadap seri iPhone 17 juga menjadi tantangan bagi produsen Android. Merek seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, dan Vivo akan semakin agresif meluncurkan flagship baru untuk menandingi dominasi Apple. Persaingan di segmen premium pun diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa bulan mendatang.

    Kesuksesan awal iPhone 17 Series menunjukkan bahwa strategi Apple dalam memperluas daya tarik di segmen menengah-atas berjalan efektif. Dengan peningkatan fitur, desain yang lebih tipis, serta varian baru seperti iPhone Air yang menawarkan keseimbangan antara gaya dan performa, Apple tampak berhasil menjangkau konsumen yang lebih luas.

    Melihat tren positif di dua pasar terbesar, Counterpoint yakin Apple akan mempertahankan momentum ini hingga musim liburan akhir tahun. Jika tren permintaan berlanjut, seri iPhone 17 berpotensi menjadi salah satu peluncuran tersukses Apple dalam beberapa tahun terakhir – dan sekaligus menjadi bukti bahwa loyalitas pengguna terhadap iPhone masih belum tergoyahkan di tengah persaingan ketat industri smartphone global.

    (afr/afr)



    Sumber : inet.detik.com

  • Trump Renovasi Gedung Putih, Tambah Ballroom Raksasa Bisa Tampung 999 Tamu

    Trump Renovasi Gedung Putih, Tambah Ballroom Raksasa Bisa Tampung 999 Tamu



    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjalankan proyek besarnya untuk menambahkan ballroom di sisi timur Gedung Putih. Pada Selasa (21/10), bagian gedung itu sudah mulai dibongkar.

    Dilansir dari AP News, rencananya ballroom tersebut akan memiliki luas 90.000 kaki persegi atau 8.361 meter persegi. Ruangan itu digadang-gadang bisa menampung hingga 999 orang, 4 kali lebih banyak dibandingkan ukuran aslinya.

    Trump melakukan pembongkaran itu bukan tanpa alasan. Ia sudah beberapa kali menyebutkan butuh ruang hiburan yang lebih luas dan mengeluhkan ukuran bagian Sayap Timur Gedung Putih, yang merupakan ruangan terluas di sana, terlalu kecil karena hanya bisa menampung 200 orang. Ballroom itu nantinya akan digunakan sebagai area yang digunakan tamu untuk bercengkerama sekaligus makan bersama.


    Rencananya, bagian jendela di ruangan tersebut juga akan dibongkar untuk membuat jalur masuk dan keluar dari ballroom.

    Untuk merenovasi gedung tersebut, Trump mengucurkan dana sebesar US$ 250 juta atau Rp 4,1 triliun (kurs Rp 16.617). Meski butuh dana besar, Trump mengatakan tidak akan menggunakan uang dari pajak melainkan donasi dan dari perusahaannya.

    Di sisi lain, pembongkaran bagian Gedung Putih tersebut menuai kritik karena pada awalnya Trump mengatakan tidak akan merobohkan Sayap Timur Gedung Putih. Selain itu, proses peninjauan seharusnya dilakukan sebelum pembongkaran dimulai.

    Dilansir dari Reuters, pihak Gedung Putih bermaksud untuk menyerahkan rencana tersebut kepada Komisi Perencanaan Ibu Kota Nasional (National Capital Planning Commission/NCPC) yang mengawasi pembangunan federal di Washington dan negara-negara bagian terdekat.

    “Rencana konstruksi belum diserahkan ke Komisi Perencanaan Ibu Kota Nasional tetapi akan segera diserahkan,” ujar pejabat NCPC, dikutip dari Reuters, Rabu (22/10/2025).

    Terkait pembongkaran dinding Sayap Timur, pihak Gedung Putih mengatakan perlu merobohkan bagian tersebut karena akan dimodernisasi sebagai bagian dari pembangunan ballroom itu.

    “Ruang lingkup dan ukuran selalu dapat berubah seiring perkembangan proyek,” katanya.

    Diperkirakan, penambahan ballroom di Sayap Timur Gedung Putih akan rampung pada Januari 2029.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Jauh Sebelum Trump, Gedung Putih Pernah Direnovasi Gegara Mau Roboh

    Jauh Sebelum Trump, Gedung Putih Pernah Direnovasi Gegara Mau Roboh



    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah menjadi sorotan karena menjalankan proyek besar untuk merenovasi Gedung Putih (White House). Proyek ini untuk menambahkan ballroom di sisi timur Gedung Putih.

    Rencananya, ballroom tersebut akan memiliki luas sekitar 90.000 kaki persegi atau 8.361 meter persegi. Ruangan itu digadang-gadang dapat menampung hingga 999 orang, 4 kali lebih banyak dibandingkan ukuran aslinya.

    Trump melakukan renovasi Gedung Putih karena butuh ruang hiburan yang lebih luas. Ia juga mengeluhkan sisi Sayap Timur Gedung Putih, yang merupakan ruangan terluas di sana, dinilai terlalu kecil karena hanya bisa menampung 200 orang.


    Menariknya, ini bukan jadi yang pertama kali Gedung Putih dilakukan renovasi. Sejak dibangun mulai 1792-1800, bangunan bersejarah di AS itu telah direnovasi sampai beberapa kali.

    Dilansir situs New York Post, renovasi yang pertama dilakukan pada 1820-an. Kala itu, Gedung Putih sudah hangus terbakar akibat invasi yang dilakukan tentara Inggris pada 1814.

    James Hoban yang merupakan arsitek Gedung Putih ditugaskan untuk memantau rekonstruksi bangunan tersebut. Setelah direnovasi total, Hoban menambahkan Portico Selatan pada 1824 dan Portico Utara pada 1829.

    Puluhan tahun kemudian, Gedung Putih kembali direnovasi. Presiden AS kala itu Theodore Roosevelt menunjuk arsitek Charles F. McKim untuk melakukan renovasi Gedung Putih pada 1902.

    Roosevelt menginginkan Gedung Putih tampak lebih besar dan megah karena Washington DC sudah mulai banyak dikunjungi pejabat tinggi dari seluruh dunia. Di sisi lain, White House juga sudah menjadi landmark di AS.

    Renovasi Gedung Putih kala itu menghasilkan Sayap Barat yang kini dikenal sebagai Ruang Oval. Bangunan tersebut baru selesai pada 1909 dan Presiden AS William Howard Taft jadi presiden pertama yang menghuninya.

    Selain itu, McKim dan tim arsiteknya juga membangun ruangan khusus untuk area gala di Gedung Putih. Ruangan tersebut sangat besar di zamannya dan dapat menampung hingga lebih dari 100 tamu.

    Selama renovasi Gedung Putih di era Roosevelt, semua rancangan interior harus mendapat persetujuan dari Ibu Negara Edith Roosevelt. Bahkan, kain dan furniture yang ditempatkan di White House juga harus melalui persetujuan darinya.

    Renovasi Gedung Putih saat jabatan Presiden Roosevelt ditaksir mencapai US$ 65.000. Jika menggunakan kurs saat ini, total biayanya mencapai US$ 2,2 juta.

    Memasuki era Perang Dunia II, Presiden Franklin D. Roosevelt kembali merenovasi Gedung Putih dengan menambahkan bangunan di Sayap Timur untuk ruang kantor tambahan bagi para staf. Namun, pembangunan Sayap Timur Gedung Putih jadi kontroversi karena saat itu sedang terjadi perang.

    Meski begitu, pembangunan Sayap Timur Gedung Putih bukan tanpa alasan. Ternyata ada bunker bawah tanah yang digunakan oleh presiden dan pejabat tinggi untuk berlindung. Kini, area tersebut dikenal sebagai Pusat Operasi Darurat Kepresidenan (Presidential Emergency Operations Center).

    Gedung Putih Sempat Diprediksi Bakal Roboh

    Jika era sebelumnya hanya merenovasi desain interior dan menambah bangunan di Sayap Barat dan Timur, memasuki era 1948-1952 dilakukan renovasi besar-besaran. Sebab, para insinyur menemukan bahwa Gedung Putih berada dalam bahaya roboh karena balok kayu sudah mulai lapuk.

    Rekonstruksi total dilakukan pada bagian interior Gedung Putih. Bagian dalam ruangan dibangun kembali dengan material beton dan baja yang jauh lebih kokoh dan modern, sedangkan dinding luar bangunan tetap dipertahankan keasliannya.

    Biaya rekonstruksi Gedung Putih kala itu menelan biaya US$ 5,7 juta atau US$ 77,91 juta pada saat ini. Besarnya biaya untuk perbaikan Gedung Putih mendapat kritik dari masyarakat karena AS masih dalam pemulihan ekonomi pasca Perang Dunia II.

    Meski mendapat kritik tajam dari publik, tapi hingga kini Gedung Putih tetap berdiri kokoh dan menjadi simbol penting bagi AS. Renovasi tersebut jadi yang paling besar dalam sejarah White House.

    Sejak saat itu, hanya dilakukan renovasi kecil-kecilan pada interior Gedung Putih. Pada awal 1960-an, saat era Presiden John F Kennedy diperbolehkan merokok di Ruang Negara. Ada juga Taman Mawar yang terkenal dan menjadi salah satu daya tarik White House.

    Saat kepemimpinan Presiden Bill Clinton, dilakukan sedikit perubahan pada layout Gedung Putih. Dapur pelayan diubah menjadi dapur untuk makan keluarga. Lalu, Ruang Oval mendapat ubahan dengan tirai dan karpet baru berwarna emas yang dipadukan dengan kelir biru tua sebagai lambang kepresidenan.

    Pada 2009, Presiden Barack Obama merenovasi lapangan tenis untuk digunakan sebagai lapangan basket dan kegiatan lainnya. Terbaru, Donald Trump akan membangun ballroom yang sangat luas dan bisa menampung ratusan tamu.

    (ilf/das)



    Sumber : www.detik.com

  • iPhone 17 Laris, Saham Apple Melejit ke Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

    iPhone 17 Laris, Saham Apple Melejit ke Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

    Jakarta

    Saham Apple kembali mencetak sejarah. Pada perdagangan Senin siang (20/10/2025) waktu New York, nilai saham Apple (AAPL) melesat menembus level USD 262,42, menjadi rekor tertinggi sepanjang masa.

    Kenaikan ini sekaligus melampaui rekor penutupan sebelumnya di USD 259,02 dan rekor intraday USD 260,10 yang tercatat pada akhir 2024. Lonjakan tajam ini terjadi di tengah permintaan luar biasa terhadap iPhone 17 Series dan strategi diplomasi global yang jitu dari CEO Apple, Tim Cook.


    iPhone 17 Jadi Penggerak Utama

    Para analis menyebut kenaikan saham Apple didorong oleh tiga faktor kunci: penjualan iPhone 17 yang sangat kuat, proyeksi laba positif untuk kuartal mendatang, serta optimisme terhadap stabilitas ekonomi Amerika Serikat.

    Menurut laporan Counterpoint Research, seri iPhone 17 mencatat performa penjualan terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Walau Apple belum merilis data resmi, analis memperkirakan permintaan awal melonjak hingga dua digit dibanding generasi sebelumnya. Model iPhone 17 Pro dan 17 Pro Max disebut menjadi primadona, terutama di pasar Amerika Serikat dan China.

    Kesuksesan ini juga tidak lepas dari langkah Apple memperkuat rantai pasokan globalnya. Sepanjang 2025, Apple gencar memindahkan sebagian produksi dari Tiongkok ke India dan Vietnam, mengurangi ketergantungan terhadap satu negara. Langkah ini dinilai memperkuat stabilitas logistik Apple di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.

    Strategi ini berhasil memulihkan harga saham Apple yang sempat tertekan akibat kekhawatiran tarif impor dan perang dagang di awal tahun. Kini, sebagian besar penurunan tersebut sudah terhapus, menjadikan 2025 sebagai tahun pemulihan signifikan bagi raksasa teknologi asal Cupertino tersebut.

    Saham AppleSaham Apple Foto: Apple Insider

    Diplomasi Tim Cook dan Investasi Jumbo

    Peran CEO Tim Cook turut menjadi sorotan utama. Dengan diplomasi yang cermat, Cook mampu menjaga hubungan dagang dengan Tiongkok sembari memperkuat dukungan dari pemerintahan Amerika Serikat.

    Apple bahkan mengumumkan rencana investasi USD 100 miliar untuk bisnis dan infrastruktur di AS, sebagai bagian dari strategi memperkuat citra perusahaan di mata publik dan pemerintah.
    Langkah itu juga dinilai sebagai manuver cerdas menghadapi tekanan dari pemerintahan Trump yang mendorong perusahaan teknologi AS untuk “memulangkan” produksi dari luar negeri.

    Sementara itu, kekhawatiran terhadap posisi Apple dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) mulai mereda. Investor kini optimistis dengan rencana peluncuran Siri generasi baru berbasis model bahasa besar (LLM) pada awal 2026. Integrasi fitur ini akan menjadi bagian dari Apple Intelligence, platform AI lintas perangkat yang diyakini mampu menyaingi ekosistem AI milik Google dan Microsoft.

    Dengan harga saham yang terus meroket, Apple kini berada di ambang pencapaian bersejarah: kapitalisasi pasar USD 4 triliun. Untuk menembus tonggak ini, saham Apple hanya perlu naik ke kisaran USD 268,26. Banyak analis meyakini target ini akan tercapai dalam waktu dekat mengingat momentum positif yang tengah berlangsung.

    Lonjakan saham Apple mencerminkan kepercayaan investor terhadap ketangguhan Apple dalam menghadapi tantangan global – dari fluktuasi ekonomi, ketegangan politik, hingga persaingan teknologi AI. Dengan kombinasi strategi rantai pasokan yang adaptif, inovasi produk yang terus berlanjut, serta kepemimpinan Tim Cook yang stabil, Apple tampaknya siap mempertahankan dominasinya di pasar global.

    Ke depan, seluruh mata kini tertuju pada laporan keuangan kuartal berikutnya yang akan menjadi tolok ukur nyata atas keberhasilan Apple mempertahankan momentum luar biasa ini. Jika tren positif terus berlanjut, 2025 bisa tercatat sebagai tahun kebangkitan baru bagi perusahaan dengan logo apel tergigit tersebut, demikian dilansir dari Apple Insider.

    (afr/afr)



    Sumber : inet.detik.com