Tag: kisah

  • Kisah Masuk Islamnya Khalid bin Walid, Panglima Islam Tersohor pada Masanya



    Jakarta

    Dalam sejarah kemiliteran Islam, sosok Khalid bin Walid RA dikenal akan kehebatannya dalam panglima perang. Saking hebatnya Khalid RA, ia menyandang julukan Pedang Allah yang Terhunus.

    Mengutip buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah oleh Wulan Mulya Pratiwi dkk, Khalid bin Walid RA lahir pada tahun 592 M. Ayahnya bernama Walid bin al-Mughirah, sementara ibunya ialah Lubabah binti al-Harith.

    Khalid bin Walid RA termasuk kerabat Rasulullah SAW karena bibinya yang bernama Maimunah merupakan istri dari Nabi Muhammad. Selain itu, Khalid RA juga merupakan sepupu dari Umar bin Khattab RA, bahkan keduanya memiliki kemiripan wajah dan postur tubuh.


    Mulanya, Khalid RA memusuhi Nabi SAW seperti suku Quraisy kebanyakan yang memegang teguh agama lama mereka. Bahkan dirinya turut serta dalam memerangi kaum muslimin, salah satunya ketika Perang Uhud.

    Saat Perang Uhud, Khalid bin Walid RA sebagai panglima pasukan berkuda suku Quraisy berhasil mengalahkan pasukan muslim. Akibatnya, tentara Islam kalah telak.

    Seiring berjalannya waktu, Allah SWT memberi hidayah pada Khalid bin Walid RA hingga akhirnya ia memeluk Islam. Dijelaskan dalam buku Para Panglima Perang Islam susunan Rizem Aizid, setelah masuk Islam Khalid RA menjadi juru tulis Nabi SAW yang bergelar Abu Sulaiman.

    Melalui Kitab Al-Maghzi Muhammad karya Al-Waqidi, disebutkan Khalid RA mengatakan bahwa Allah SWT memberinya hidayah.

    “Aku telah menyaksikan tiga perang, yang semuanya melawan Muhammad. Di setiap pertempuran yang kusaksikan, aku pulang dengan perasaan bahwa aku berada di sisi yang salah, dan bahwa Muhammad pasti akan menang,” ucapnya.

    Hatinya semakin tersentuh setelah menerima surat dari saudaranya yang terlebih dulu masuk Islam, yaitu Walid bin Al Walid. Ia mengingatkan Khalid RA bahwa banyak kesempatan baik yang terlewat olehnya. Dengan demikian, Khalid RA memutuskan untuk memeluk Islam.

    Ketika di bulan Safar 8 H, pada masa gencatan senjata setelah Perjanjian Hudaibiyah, Khalid RA bersama Amr bin Al Ash RA dan Utsman bin Thalhah RA menemui Nabi SAW untuk memeluk Islam.

    Ia berkata kepada Rasulullah SAW untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Sang nabi lantas berdoa:

    “Ya Allah, aku memohon agar Engkau mengampuni Khalid bin Al-Walid atas tindakannya menghalangi jalan-Mu pada masa lalu,”

    Setelah masuk Islam, Khalid bin Walid RA banyak memimpin berbagai pertempuran antara lain Perang Mu’tah, Fathu Makkah, Pertempuran Hunain, Pengepungan Thaif, Pertempuran Tabuk, dan Haji Wada’.

    Perang Mu’tah menjadi awal mula karier kemiliteran Khalid bin Walid RA setelah masuk Islam. Kala itu, ia melawan suku Ghassan.

    Sebelumnya, Khalid RA tidak ditugaskan untuk memimpin Perang Mu’tah. Namun karena kematian para pemimpin perang, akhirnya Tsabit bin Arqam RA meminta Khalid RA untuk memimpin pasukan muslim.

    Sebagai sosok yang dikenal hebat dalam pertempuran, Khalid RA lantas menyusun strategi untuk melakukan tipu muslihat. Khalid RA memberi perintah agar barisan pasukan belakang berpindah ke depan, lalu pasukan sayap kiri berpindah ke sayap kanan, begitu sebaliknya.

    Pasukan yang berada di barisan belakang terus menerus bergerak menuju bagian depan sehingga debu-debu berterbangan. Hal ini tentu mengganggu penglihatan pasukan musuh.

    Strategi Khalid RA yang brilian itu mengakibatkan pasukan musuh mengira kaum muslimin mendapat tambahan bala tentara baru. Karenanya, pasukan musuh tidak berani berbuat gegabah dalam menggempur kaum muslimin.

    Taktik yang Khalid RA lakukan membuat pasukan muslim memenangkan perang tersebut. Begitu pula pada pertempuran-pertempuran lainnya yang diikuti Khalid RA setelah memeluk Islam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Hud AS Berdakwah kepada Kaum ‘Ad yang Sombong



    Jakarta

    Nabi Hud AS memiliki garis keturunan yang sama dengan Nabi Nuh AS. Allah SWT mengutus Hud AS kepada kaum Ad. Kaum Ad adalah kelompok yang musyrik dan ingkar kepada Allah SWT. Sebab mereka menyembah 3 berhala, yaitu Shamda, Shamud, dan Hira.

    Mengutip buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul susunan Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, kaum Ad dikaruniai oleh Allah SWT berbagai kekayaan. Mulai dari tanah yang subur, sumber-sumber air yang mengalir dari berbagai penjuru dan memudahkan mereka bercocok tanam, serta tempat tinggal mereka yang dikelilingi dengan kebun bunga.

    Kaum Ad hidup dengan makmur, sejahtera, serta bahagia. Mereka bahkan menjadi suku terbesar di antara suku-suku yang hidup di sekelilingnya.


    Tak sampai di situ, Allah SWT bahkan menganugerahkan kaum Ad tubuh yang kuat dan kekar sehingga memudahkan mereka untuk bekerja keras. Mereka juga memiliki pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi.

    Dengan ragam kenikmatan yang Allah SWT berikan, mereka tidak pernah bersyukur. Tingginya ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak membuat mereka percaya akan keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa.

    Kaum Ad meyakini bahwa patung-patung yang mereka sembah merupakan Tuhan mereka. Nabi Hud AS diutus pada kaum yang banyak menyimpang dari nabi-nabi sebelumnya.

    Allah SWT menugaskan Hud AS untuk mengingatkan kembali ajaran-ajaran nabi yang sebelumnya agar mereka kembali ke jalan yang benar. Sebab, kaum Ad sudah tidak menyembah Allah SWT dan melakukan berbagai perbuatan syirik serta tahayul.

    Dakwah Nabi Hud AS ditolak oleh kaum Ad dengan ragam alasan, bahkan mereka tak segan melontarkan tuduhan, ejekan, serta hinaan kepada sang nabi. Sebagai utusan Allah, Hud AS bersabar atas apa yang dikatakan oleh kaumnya.

    Kaum Ad berdalih tidak akan mengubah kebiasaan mereka menyembah berhala karena hal itu merupakan warisan nenek moyang mereka. Bahkan, mereka mengatakan seharusnya Nabi Hud AS kembali kepada aturan nenek moyang dan menyembah berhala.

    Meski tidak menyerah dalam menyampaikan dakwah, kaum Ad tidak menggubris Nabi Hud AS. Mereka menghina dan merendahkan Hud AS hingga mengatakan beliau tidak memiliki kelebihan apapun dibanding mereka.

    Nabi Hud AS lalu berkata bahwa Allah akan segera menurunkan azabnya bagi kaum Ad yang tidak beriman kepada-Nya. Alih-alih percaya pada peringatan Hud AS, kaum Ad justru semakin sombong dan kufur sambil menyebut mereka tidak akan ditimpa azab.

    Azab Allah SWT kepada Kaum Ad

    Merujuk pada sumber yang sama, Allah menurunkan azab kepada kaum Ad melalui dua tahap. Pertama, ladang-ladang dan kebun mereka mengalami kekeringan.

    Pada keadaan itu, Nabi Hud AS berusaha meyakinkan kaumnya bahwa kekeringan tersebut merupakan azab yang Allah berikan. Namun tetap saja, perkataan Nabi Hud AS tidak digubris oleh kaum Ad, mereka bahkan berdoa dan memohon perlindungan kepada berhala-berhala yang mereka sembah.

    Selanjutnya, tahapan kedua dari azab yang Allah timpa pada kaum Ad adalah munculnya gumpalan awan dan awan hitam yang tebal di atas mereka. Melihat hal itu, kaum Ad sempat gembira karena menganggap akan turun hujan dan membasahi ladang mereka yang mengalami kekeringan.

    Menyaksikan hal itu, Nabi Hud AS lalu berkata bahwa awan hitam tersebut bukanlah awan rahmat, melainkan membawa kehancuran sebagai balasan Allah yang dijanjikan. Dalam surat Al Ahqaf ayat 24, Allah SWT berfirman:

    فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

    Artinya: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,”

    Allah SWT memberikan kaum Ad azab berupa angin topan dan badai hebat. Saking dahsyatnya, bencana itu berlangsung hingga 8 hari 7 malam yang berujung melenyapkan kaum Ad tanpa sisa.

    Dalam peristiwa itu, Nabi Hud AS beserta sahabatnya yang beriman mendapat perlindungan dari Allah SWT. Setelah cuaca tenang, Hud AS pergi hijrah ke Hadramaut dan menghabiskan sisa hidupnya di sana hingga wafat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Utsman bin Affan Masuk Islam di Usia 34 Tahun



    Jakarta

    Utsman bin Affan RA termasuk golongan pertama yang masuk Islam (Assabiqunal Awwalun). Kisah Utsman bin Affan RA masuk Islam diceritakan dalam sejumlah riwayat.

    Disebutkan dalam Biografi Utsman bin Affan karya Ali Muhammad Ash-Shalabi, pemilik nama lengkap Utsman bin Affan bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab ini nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Abdi Manaf. Adapun dari jalur ibu, ia adalah cucu bibi Nabi SAW.

    Utsman bin Affan RA terlahir dari suku Quraisy dari silsilah Bani Umayyah yang merupakan keluarga kaya dan berpengaruh. Utsman bin Affan RA adalah seorang pedagang, hartawan, dan bangsawan Quraisy yang mengorbankan hartanya dalam jumlah besar untuk Islam.


    Dikutip dalam buku Meneladani Kepemimpinan Khalifah karya Abdullah Munib El-Basyiry, Utsman bin Affan RA masuk Islam pada awal-awal Islam tepatnya sebelum Rasulullah SAW memasuki rumah Al-Arqam ibn Abi Al-Arqam, tempat berkumpulnya Rasulullah SAW dan para sahabat.

    Utsman bin Affan RA masuk Islam atas ajakan Abu Bakar RA, salah seorang sahabat nabi yang lebih dulu masuk Islam. Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi mengatakan dalam Mukhtashar Hayatus Shahabah, tidak ada riwayat yang shahih tentang dakwah Nabi SAW kepada Utsman bin Affan RA.

    Namun, ada suatu riwayat yang menceritakan tentang kisah Utsman bin Affan RA masuk Islam atas ajakan Abu Bakar RA. Riwayat ini dipaparkan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah dari Al-Hafizh Ibnu Asakir.

    Dalam penggalan riwayat itu diceritakan, Utsman bin Affan RA berpapasan dengan Abu Bakar RA. Abu Bakar RA berkata, “Celaka kau wahai Utsman, engkau adalah orang yang dikenal teguh hati, tidak ada kebenaran yang tidak bisa kau bedakan dari kebatilan. Apalah artinya berhala-berhala yang disembah kaum kita, bukankah berhala-berhala itu terbuat dari batu yang bisu, tidak bisa mendengar dan melihat, tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat?”

    “Memang begitulah,” kata Utsman bin Affan RA.

    “Demi Allah memang begitulah,” kata Abu Bakar RA. Ia melanjutkan, “Demi Allah, bibimu telah mengatakan apa adanya kepadamu. Ini dia Rasul Allah, Muhammad bin Abdullah, yang telah diutus Allah kepada makhluk-Nya dan membawa risalah-Nya. Lalu apakah engkau juga akan menemuinya?”

    Dalam riwayat tersebut juga dikatakan, setelah pertemuan dengan Abu Bakar RA itu, Utsman bin Affan RA berkumpul di tempat Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Wahai Utsman, penuhilah hak Allah. Sesungguhnya aku adalah rasul Allah yang diutus kepadamu dan kepada semua makhluk-Nya.”

    Utsman bin Affan RA berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu menahan diri semenjak mendengar perkataan beliau itu, untuk masuk Islam dan mengucapkan syahadatain.”

    Dikutip dalam buku Utsman bin Affan RA karya Abdul Syukur al-Azizi bahwa Utsman bin Affan RA masuk Islam saat berusia 34 tahun. Ia mengajak ibu dan saudara-saudaranya untuk memeluk Islam, hanya ayahnya yang menjadi penentang Rasulullah SAW.

    Dijelaskan dalam buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Periode Klasik, Pertengahan, dan Modern karya Rizem Aizid bahwa tidak lama setelah turunnya wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, Utsman bin Affan RA menikah dengan Ruqayyah RA, putri Nabi Muhammad SAW.

    Namun tidak lama setelah Utsman bin Affan RA dan Ruqayyah RA menikah, Ruqayyah RA sakit keras hingga ajal datang menjemput. Setelah Ruqayyah RA wafat, Nabi Muhammad SAW kembali menikahkan Utsman bin Affan RA dengan putri beliau yang bernama Ummu Kultsum RA.

    Maka dari itu, Utsman RA mendapat gelar “Dzun Nurain” yang berarti “yang memiliki dua cahaya”.

    Itulah sepenggalan kisah Utsman bin Affan RA ketika masuk Islam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Yusuf AS Digoda Istri Tuannya dan Dituduh Bermaksiat



    Jakarta

    Nabi Yusuf AS adalah utusan Allah yang berasal dari keturunan Nabi Yaqub AS. Kisah mengenai dirinya diceritakan dalam Al-Qur’an pada surat Yusuf.

    Mengutip kitab Qashash al-Anbiya susunan Ibnu Katsir, dikatakan ketika kecil Nabi Yusuf AS diberi banyak perhatian oleh sang ayah. Karenanya, saudara kandungnya merasa dengki.

    Mereka berencana membuang Nabi Yusuf AS ke dasar sumur agar dipungut oleh musafir. Benar saja, setelah rencana itu berhasil Nabi Yusuf duduk di dalam sumur sambil menunggu pertolongan.


    Lalu datanglah musafir ke sumur tersebut yang merupakan rombongan pedagang dari Syam dan hendak pergi ke Mesir. Salah satu dari mereka mengambil air sumur dengan mengulurkan tali timba ke dalam lalu menariknya kembali.

    Di saat itu juga, Nabi Yusuf AS menggelantungkan diri pada tali tersebut. Melihat hal itu, para musafir merasa senang karena dapat menjadikan beliau sebagai barang dagangan.

    Akhirnya, para pedagang itu menjual Yusuf AS sebagai budak sesampainya di Mesir dengan harga murah. Namun, yang membeli Nabi Yusuf justru merupakan seseorang yang terkenal dan terhormat yaitu seorang menteri dengan jabatan tinggi bernama al-Aziz dan istrinya Zulaikha.

    Usai dibeli, Yusuf AS tinggal di rumah tuannya untuk melayani mereka. Ketika usianya dewasa, ketampanan Nabi Yusuf AS mulai terlihat.

    Satu waktu, istri tuannya yang bernama Zulaikha itu merayu dan mengajak Yusuf AS untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Padahal, Zulaikha merupakan wanita cantik, berkedudukan tinggi, dan kaya raya.

    Dikisahkan, Zulaikha menutup pintu kamar yang di dalamnya hanya ada Yusuf AS dan dirinya. Ia kerap menggoda namun Nabi Yusuf AS terus menghindar dan pergi dari kamar tersebut.

    Ketika lari menuju pintu untuk menjauh, istri dari tuannya itu justru menarik baju Yusuf AS dari belakang hingga robek. Pada saat yang bersamaan pula, al-Aziz datang dan memergoki keduanya.

    Zulaikha yang enggan diketahui perbuatannya lantas menuduh Nabi Yusuf AS. Merasa terpojok dengan tuduhan tersebut, Yusuf AS membela diri dan berkata sejujurnya.

    Suasana itu membuat al-Aziz bingung, kemudian ada seorang yang berpendapat, “Jika baju gamisnya (Yusuf AS) koyak di depan, wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta,”

    Maksudnya, Yusuf AS berusaha melarikan diri. Sementara istrinya terus mengejar hingga menarik baju Yusuf AS dari belakang.

    Mendengar hal tersebut dan melihat baju Yusuf AS yang robek, al-Aziz menegur sang istri. Ia lalu meminta Nabi Yusuf AS tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapa pun.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Panglima Perang Termuda dalam Sejarah Islam, Diangkat pada Usia 18 Tahun



    Jakarta

    Usamah bin Zaid merupakan salah satu panglima perang Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW. Sosoknya juga disebut sebagai sahabat dekat Rasulullah SAW.

    Dalam sejarah Islam, Usamah bin Zaid adalah panglima termuda dan terakhir yang ditunjuk langsung oleh Nabi SAW. Ia lahir pada tahun ke-7 sebelum Hijriyah dan merupakan anak dari Zaid bin Haritsah, seperti dinukil dari buku Jika Sungguh-sungguh Pasti Berhasil susunan Amirullah Syarbini M Ag dkk.

    Saat diangkat sebagai panglima usia Usamah masih 18 tahun. Karena usianya yang muda, banyak sahabat Rasulullah yang tidak yakin akan kemampuan Usamah bin Zaid.


    Bahkan, mereka meragukan keputusan sang rasul sampai akhirnya desas-desus itu sampai ke telinga Umar bin Khattab.

    Mengutip buku Para Panglima Perang Islam oleh Rizem Aizid, Umar RA lalu menemui Nabi SAW dan menyampaikan permasalahan itu. Hal tersebut membuat Rasulullah SAW sangat marah, ia menemui para sahabat yang tidak puas akan keputusan beliau. Nabi Muhammad berusaha meyakinkan para sahabat untuk meredak ketidakpuasan mereka.

    Meski menjadi panglima termuda, tugas yang diberikan kepada Usamah bin Zaid pada kali pertamanya cukup berat. Nabi SAW memerintahkan Usamah untuk mengusir pasukan Romawi yang mengancam keutuhan masyarakat muslim kala itu.

    Pada pasukan tersebut, ada sejumlah sahabat senior seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lainnya. Rasulullah SAW mengangkat Usamah bin Zaid memimpin seluruh pasukan tersebut.

    Pada saat itu, Usamah bin Zaid diperintahkan untuk berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Darum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum (Romawi). Dalam perang itu, Usamah berhasil membawa kemenangan bagi kaum muslimin.

    Kemenangan yang diraihnya menjadi bukti bagi orang-orang yang sebelumnya meragukan Usamah bin Zaid. Selama 40 hari, mereka kembali ke Madinah dengan perolehan harta rampasan perang yang besar tanpa satu korban jiwa.

    Dari kemenangan itu pula, Usamah bin Zaid menjadi sosok yang disegani oleh para sahabat. Diceritakan dalam buku Kisah-kisah Pilihan Muslim Cilik Teladan karya M Kholiluddin, Usamah bahkan berhasil mendesak mundur pasukan Romawi dari negeri Syam, Palestina, serta Mesir.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Zaid bin Tsabit, Sahabat Nabi SAW yang Menghimpun Mushaf Al-Qur’an



    Jakarta

    Zaid bin Tsabit adalah salah satu sahabat Nabi SAW. Sebagai sosok yang dikenal cerdas, Zaid pernah mempelajari bahasa Ibrani dan menguasainya hanya dalam waktu singkat.

    Dikisahkan dalam buku Sosok Para Sahabat Nabi susunan Dr Abdurrahman Raf’at Al-Basya dan Abdulkadir Mahdamy, kecerdasan dan kejujuran yang dimiliki Zaid menjadikan dirinya sebagai penulis wahyu Nabi Muhammad SAW. Berkat jasa Zaid, kini umat Islam dapat membaca Al-Qur’an secara utuh.

    Menukil buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas X tulisan H Abu Achmadi dan Sungarso, pemilik nama lengkap Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari lahir pada 612 M. Dirinya merupakan keturunan Bani Kazraj yang mulai menetap bersama Nabi SAW ketika beliau hijrah ke Madinah.


    Zaid bin Tsabit berhasil meriwayatkan 92 hadits yang 5 di antaranya disepakati bersama Imam Bukhari dan Muslim. Bukhari juga meriwayatkan 4 hadits lainnya yang bersumber dari Zaid, sementara Muslim meriwayatkan 1 hadits lain dari Zaid, seperti dikutip dari buku Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah karya Harjan Syuhada dan Fida’ Abdillah.

    Zaid bin Tsabit diangkat sebagai ulama di Madinah pada bidang fikih, fatwa, dan faraidh atau waris. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Zaid diangkat menjadi bendahara.

    Sementara itu, pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, Zaid ditugaskan sebagai pengurus Baitul Maal. Bahkan, Umar dan Utsman melantik Zaid sebagai pemegang jabatan khalifah sementara ketika mereka menunaikan ibadah haji.

    Dikutip dari buku Ikhtisar Tarikh Tasyri’ oleh Dr H Abdul Majid Khon MAg, perang yang pertama diikuti oleh Zaid bin Tsabit adalah perang Khandaq. Sedangkan pada Perang Tabuk, dirinya dipercaya oleh Nabi SAW untuk membawa bendera bani Malik bin Najjar yang dipegang oleh Imarah bin Hazm.

    Imarah lalu bertanya kepada Rasulullah, “Apakah sampai kepada engkau tentang aku?”

    Nabi SAW menjawab,

    “Tidak, tetapi Al-Qur’an didahulukan dan Zaid lebih banyak mengambilnya daripada kamu.” (HR Al Hakim dalam Al-Mustadrak)

    Dalam riwayat lainnya, Nabi SAW bahkan menyebut Zaid bin Tsabit sebagai orang yang paling alim. Berikut bunyi sabdanya,

    “Orang yang paling alim ilmu faraidh di antara kamu adalah Zaid bin Tsabit.” (HR Ahmad)

    Ridha Anwar dalam buku Seri Sahabat Rasulullah: Zaid bin Tsabit menyebut bahwa Zaid memiliki tulisan yang indah. Dengan kemampuan Zaid yang cerdas dan hebat itu, Nabi SAW bisa mengirim surat perjanjian kepada para pemuka kaum Yahudi dengan menggunakan bahasa mereka.

    Bahkan ketekunan Zaid dalam mencatat dan mengumpulkan wahyu Nabi SAW ia susun dengan rapi. Catatan itu Zaid tulis di pelepah daun kurma, kulit hewan, atau pun tulang hewan.

    Selepas Nabi Muhammad meninggal dunia, para penghafal Al-Qur’an satu per satu gugur di medan perang. Umar bin KHattab kala itu khawatir Al-Qur’an akan hilang bersama para penghafalnya.

    Akhirnya, ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk menghimpun. Mereka sepakat mengumpulkan lembaran ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf dan mengutus Zaid untuk melaksanakan tugas tersebut.

    Zaid mendatangi para penghafal Al-Qur’an yang masih hidup. Dengan cermat, ia mencocokkan catatan dan hafalan mereka hingga akhirnya terciptalah mushaf Al-Qur’an yang dapat dibaca oleh umat Islam. Begitu besar jasa Zaid bin Tsabit bagi kaum muslimin.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi & Para Sahabat yang Kesiangan Sholat Subuh



    Yogyakarta

    Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pernah mengalami kesiangan saat sholat Subuh. Ada hikmah dari peristiwa ini yang sekaligus menjadi pembelajaran bagi umat muslim sepeninggal Nabi Muhammad SAW.

    Sholat fardhu merupakan kewajiban seluruh umat muslim yang ditetapkan Allah SWT, seperti firman-Nya dalam beberapa ayat Al-Qur’an, salah satunya terdapat dalam surat an-Nisa ayat 103,

    فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ١٠٣


    Artinya: “Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”

    Ketika ketika mengawali hari, sholat subuh adalah yang pertama dilaksanakan. Dikutip dari buku Shalat Subuh dan Shalat Dhuha oleh Muhammad Khalid, bahwa sholat subuh merupakan pembuka hari dan pintu rahmat.

    Dalam perjalanan Islam, terdapat kisah yang menarik tentang Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang pernah kesiangan dalam menunaikan sholat subuh.

    Meskipun merupakan momen keterlambatan, kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang ketekunan, taqwa, dan komitmen terhadap ibadah.

    Kisah Nabi dan Para Sahabatnya Kesiangan Sholat Subuh

    Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya adalah insan beriman yang tak luput dari kesalahan.

    Dikutip dari buku Jangan Bersedih Aku Bersamamu Sayang karya Achmad Farid, menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya pernah mengalami bangun kesiangan ketika hendak melaksanakan sholat subuh.

    Pada saat itu, dikisahkan Nabi SAW dan para sahabat memutuskan beristirahat hingga menjelang pagi di suatu tempat ketika mereka sedang melakukan perjalanan di malam hari.

    Saat itu Nabi SAW berkata,

    “Aku khawatir kalau kalian tidak bangun saat pagi sehingga melewatkan waktu subuh.”

    Lalu seorang sahabat, Bilal RA berkata,

    “Aku yang akan membangunkan kalian.”

    Kendati demikian, Bilal pun ternyata ikut tertidur pulas bersama Nabi SAW dan sahabat yang lain.

    Ketika Nabi Muhammad SAW terbangun, beliau kaget karena Bilal masih tertidur padahal matahari telah merangkak naik. Kemudian Nabi membangunkannya.

    Bilal pun mengatakan bahwa dia tidak pernah tidur selelap itu.

    Kemudian Nabi SAW memberikan nasihat kepada Bilal bahwa Allah SWT dapat mengambil nyawa kita kapan saja, dan dapat mengembalikannya kapan pun sesuai kehendak-Nya.

    Lalu, Nabi SAW memerintahkan Bilal untuk adzan dan mendirikan sholat Subuh dengan para sahabat meskipun matahari sudah meninggi.

    Pelajaran dari Kisah Nabi dan Para Sahabat yang Bangun Kesiangan

    Terdapat beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat di ambil dari kisah di atas, yaitu:

    Ketekunan dalam beribadah

    Nabi Muhammad dan para sahabatnya menunjukkan ketekunan luar biasa dalam menjalankan sholat, meskipun dalam kondisi yang sulit. Mereka tidak memandang lelah atau keterlambatan sebagai alasan untuk menghindari ibadah.

    Ketaqwaan dan kesadaran

    Meskipun kesiangan, mereka tetap mengutamakan ketaqwaan dan kesadaran akan Allah. Mereka menyadari bahwa kewajiban ibadah tidak dapat ditunda, bahkan dalam situasi yang tidak ideal.

    Inspirasi bagi umat

    Kisah ini menjadi inspirasi sekaligus pembelajaran bagi umat Islam untuk mengatasi keterlambatan atau kesulitan dalam ibadah. Sholat merupakan hal yang penting dan tidak boleh ditinggalkan. Ketika bangun kesiangan saat sholat Subuh maka hendaklah bergegas wudhu dan mendirikan sholat.

    Seperti Nabi dan para sahabatnya, kita juga dapat menghadapi tantangan dengan semangat dan tekad dalam menjalankan ibadah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah Jari Rasulullah SAW Bisa Mengeluarkan Air?



    Jakarta

    Mukjizat adalah karunia yang Allah SWT berikan kepada nabi dengan tujuan untuk mempermudah utusan-Nya mengemban tugas. Rasulullah SAW adalah salah satu yang dikaruniai mukjizat memancarkan air dari sela-sela jarinya.

    Kisah pertama mukjizat Nabi Muhammad SAW ini terabadikan dalam riwayat hadits pada Kitab Fadha’il ash Shahabah yang diceritakan Anas bin Malik. Berikut bunyi haditsnya:

    عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا بِمَاءٍ فَأُتِيَ بِقَدَحٍ رَحْرَاحٍ فَجَعَلَ الْقَوْمُ يَتَوَضَّؤُونَ فَحَزَرْتُ مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى الثَّمَانِينَ. قَالَ: فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى الْمَاءِ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ. رواه مسلم


    Artinya: “Dari Anas RA bahwasannya Nabi SAW pernah meminta air, lalu diberikan kepada beliau sebaskom air. Maka berwudhulah kaum muslimin dengan air itu. Aku memperkirakan jumlah mereka berkisar antara enam puluh sampai delapan puluh orang. Dan aku menyaksikan sendiri air itu keluar dari sela-sela jari beliau.” (HR. Muslim).

    Dikutip dari buku Mukjizat Nabiku Muhammad karya Muhammad Ash-Shayyim, ada berbagai kisah menyebutkan mukjizat Rasulullah SAW yang mampu mengeluarkan air dari celah jarinya. Berikut hadits lain yang menceritakan kisah tersebut:

    عن أنس رضي الله عنه قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وحانت صلاة العصر وهو بالزوراء (موضع بسوق المدينة) فالتمس الناس الوضوء فلم يجدوه فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم بوضوء في إناء فوضع يده في ذلك الإناء. فأمر الناس أن يتوضؤوا منه فرأيت الماء ينبع من بين أصابعه صلى الله عليه وسلم. فتوضأ الناس حتى توضؤوا عن آخرهم. قيل لأنس: كم كنتم فقال: كنا زهاء ثلاثمئة.

    Artinya: Dari Anas bin Malik RA, dia mengatakan mengatakan: “Aku melihat Rasulullah SAW ketika waktu Ashar, beliau berada di dekat pasar Madinah, telah tiba dan orang-orang sedang mencari air wudhu, namun mereka belum mendapatkannya. Lantas dibawakan air wudhu kepada Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW meletakkan tangannya ke dalam bejana tersebut. Beliau pun memerintahkan orang-orang untuk berwudhu darinya. Anas berkata: Aku melihat air mengalir dari bawah jari-jari beliau (Nabi SAW), sehingga mereka berwudhu sampai orang yang terakhir.” Anas ditanya, berapa jumlah mereka ketika itu. Anas menjawab, “Kurang lebih 300 orang.” (HR Muslim).

    Dikisahkan Nabi Muhammad SAW ketika itu berada di Zawra atau tempat yang agak tinggi di Masjid Nabawi. Beliau diketahui memasukkan tangannya ke dalam sebuah ember.

    Atas izin Allah SWT, air secara tiba-tiba memancar dari jari-jemari beliau. Para kaum muslimin saat itu pun berwudhu dari air tersebut.

    Qatadah yang mendengar kisah ini pun bertanya pada Anas, “Berapa jumlah kalian saat itu?”

    Anas menjawab, “Sekitar tiga ratus orang,” (HR Bukhari dan Muslim).

    Bukti lainnya terangkum dalam sejumlah kitab shahih terutama dari shahih Bukhari dan Muslim. Dalam sebuah riwayat yang berasal dari Salim bin Abi al Ju’d dari Jabir bin Abdillah al Anshari RA yang berkata,

    “Pada saat melakukan perjalanan Hudaibiyah, para sahabat mengalami kehausan. Sementara, di hadapan Nabi Muhammad SAW terdapat kantong dari kulit. Kemudian beliau berwudhu.”

    Melihat Nabi Muhammad SAW berwudhu lewat kantong tersebut, para sahabat pun menghampiri beliau. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

    Kemudian, para sahabat menjawab, “Kami tidak memiliki air untuk berwudhu dan untuk minum kecuali yang ada di depanmu ini.”

    Lantas, Nabi Muhammad SAW pun memasukkan tangannya ke dalam kantong air tersebut. Seketika air memancar dari jari jemari layaknya sumber mata air. Para sahabat pun mengambil air untuk wudhu dan minum dari pancaran air tersebut.

    Salim bertanya pada Jabir, “Berapa jumlah kalian waktu itu?”

    Jabir berkata, “Andaikan jumlah kami 100 ribu tentu masih cukup. Namun, ketika itu, jumlah kamihanya seribu lima ratus orang.” (HR Bukhari dan Muslim dalam Bab al Manaqib, al Maghzai, dan al Imarah).

    Peristiwa serupa juga disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Saat itu, Rasulullah SAW dan para sahabat tengah melakukan perjalanan pada suatu pagi dan ternyata, mereka telah kehabisan persediaan air.

    Seseorang pun mengadukan hal itu pada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, persediaan air di kalangan para prajurit telah habis,”

    Kemudian beliau bertanya, “Apakah kamu mempunyai sedikit air?”

    “Ya,” jawab orang itu.

    “Kalau begitu bawa air itu padaku,” Setelahnya, orang tersebut membawa sebuah wadah kepunyaannya yang berisi sedikit air.

    Nabi Muhammad SAW pun terlihat meletakkan jari jemari tangannya di bibir wadah sambil merenggangkannya. Tiba-tiba, ada sumber air memancar dari sela-sela jarinya.

    Lalu, beliau pun meminta Bilal bin Rabbah untuk menyerukan panggilan wudhu pada muslim yang lain, “Panggilah orang-orang untuk berwudhu dari air yang diberkahi ini.” (HR Ahmad dan Al Baihaqi).

    Wallahu’alam.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Masuk Islamnya Hamzah di Hadapan Kaum Quraisy



    Jakarta

    Hamzah bin Abdul Muthalib adalah paman Nabi Muhammad SAW yang dijuluki singa Allah. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pemberani.

    Meski disebut sebagai paman Nabi Muhammad, usia Hamzah dan Rasulullah SAW tidak terpaut jauh. Tahun kelahiran Hamzah hampir sama dengan sang nabi, seperti dinukil dari buku 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur’an.

    Hamzah sangat disegani oleh kaum Quraisy, termasuk para pemukanya. Sebagai sosok yang tegas, dia bahkan selalu menjadi orang paling pertama yang maju jika Nabi SAW dihina.


    Hubungan Hamzah dengan Rasulullah SAW sangat dekat. Saking sayangnya Hamzah terhadap sang nabi, ia selalu melindunginya dari segala marabahaya.

    Mengutip buku Sirah Nabawiyah susunan Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Hamzah bin Abdul Muthalib masuk islam pada penghujung tahun keenam kenabian Rasulullah SAW, yaitu pada bulan Dzulhijjah. Hal ini mengacu pada mayoritas pendapat ulama.

    Kisah masuk Islamnya Hamzah bermula ketika Abu Jahal berjalan melewati Nabi Muhammad SAW di Bukit Shafa. Kala itu, Abu Jahal mengganggu dan mencaci Rasulullah.

    Alih-alih membalas cacian Abu Jahal, Nabi Muhammad hanya terdiam dan tidak berbicara. Melihat hal itu, Abu Jahal menghantam kepala sang nabi menggunakan batu hingga mengeluarkan banyak darah.

    Pada waktu yang sama, budak perempuan Abdullah bin Jad’an menyaksikan perbuatan Abu Jahal kepada Nabi Muhammad SAW. Budak tersebut lantas memberitahu Hamzah yang baru pulang berburu sambil menenteng busur panahnya.

    Mendengar hal itu, Hamzah sangat murka. Ia langsung pergi menghampiri Abu Jahal yang tengah berkumpul dengan kaum Quraisy. Saat memasuki Masjidil Haram, Hamzah segera berhadapan dengan Abu Jahal.

    “Wahai orang hina dina, engkau berani mencela anak saudaraku padahal aku sudah menganut agamanya?”

    Setelah menyatakan hal itu, Hamzah memukul Abu Jahal menggunakan busur panah hingga menghasilkan sejumlah luka menganga di wajahnya. Orang-orang dari Bani Makhzum yang merupakan suku Abu Jahal bangkit karena merasa murka akan tindakan Hamzah.

    Begitu pula dengan orang-orang Bani Hasyim dari suku Hamzah yang terpancing emosinya. Abu Jahal lalu melerai kedua suku tersebut sambil berkata,

    “Biarkanlah Abu Imarah. Memang aku tadi telah mencaci maki anak saudaranya dengan cacian yang menyakitkan.”

    Keislaman Hamzah mualnya berasal dari pelampiasannya yang tidak terima bahwa harga diri keluarganya dihina. Namun Allah SWT memberikannya hidayah hingga akhirnya Hamzah berpegag teguh agama Islam.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang Jarang Tidur Demi Hajat Rakyatnya



    Jakarta

    Semasa menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab terkenal sebagai pemimpin yang rajin beribadah demi hajatnya. Bahkan dirinya jarang terlelap baik di siang maupun malam hari.

    Mengutip buku Kisah Hidup Umar ibn Khattab susunan Mustafa Murrad, pada suatu hari Mu’awiyah bin Khudayj mendatangi Umar saat waktu Zuhur. Beliau lalu berkata kepadanya,

    “Sungguh celaka ucapanku, atau sungguh celaka prasangkaku. Jika aku tidur siang hari, aku telah menyia-nyiakan amanat rakyatku. Jika aku tidur malam hari, aku telah menyia-nyiakan kesempatanku dengan Tuhanku. Bagaimana aku bisa tidur di kedua waktu ini, wahai Mu’awiyah?”


    Mu’awiyah bin Khudayj merupakan seorang Jenderal Suku Kindah. Melihat keadaan Umar yang sangat kelelahan dan mengantuk ketika duduk, ia lantas bertanya dengan nada iba.

    “Tidakkah kau tidur, wahai Amirul Mukminin?”

    Umar kembali menjawab dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana mungkin aku bisa memejamkan mataku? Jika aku tidur di waktu malam, aku akan menyia-nyiakan kesempatanku dengan Allah,”

    Bukan hanya Mu’awiyah yang menjadi saksi seberapa sayang Umar bin Khattab terhadap rakyatnya. Seorang sahabat Nabi SAW yang namanya tidak dapat disebutkan juga menceritakan hal yang sama.

    “Umar bin Khattab adalah tetangga terdekatku. Aku tidak pernah mempunyai tetangga dan orang-orang di sekitarku sebaik Umar. Malam-malam Umar adalah salat dan siang harinya adalah puasa demi hajat rakyatnya,”

    Umar bin Khattab juga merelakan waktu tidurnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Dikisahkan bahwa Umar pernah meminta istrinya untuk menyiapkan bejana air pada suatu malam.

    Bejana berisi air itu ternyata bertujuan untuk membuatnya tetap terjaga demi berdzikir sepanjang malam.

    “Selepas salat Isya, Umar menyuruhku (istri Umar) meletakkan bejana berisi air di samping kepalanya. Ketika terjaga, ia akan mencelupkan tangannya ke dalam air, lalu mengusap wajah dan kedua tangannya untuk kemudian berzikir sampai ia terkantuk dan tertidur lagi. Lalu Umar terjaga lagi, sampai tiba waktu ia benar-benar terbangun,” bunyi keterangan dari buku Kisah Hidup Umar ibn Khattab.

    Umar bin Khattab menjadi khalifah pada tahun 634 M menggantikan Abu Bakar. Rasulullah SAW memberinya julukan Al-Faruq (sang pembeda) atau berarti sebagai orang yang mampu membedakan antara yang haq (kebenaran) dan yang bathil (kesesatan). Selain itu, Umar juga menjadi orang pertama yang digelari dengan Amir al-Mu’minin (pemimpin orang beriman).

    Sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat, Umar bin Khattab dikenal sebagai musuh umat Islam yang ditakuti. Namun, setelah masuk Islam, Umar mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi dakwah Rasulullah hingga menjadi orang terpercaya sekaligus penasihat Rasulullah SAW.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com