Blog

  • Kisah Nabi Nuh AS yang Menangis selama 300 Tahun



    Jakarta

    Nabi Nuh AS pernah menangis selama 300 tahun setelah ditegur Allah SWT. Beliau diutus untuk berdakwah kepada Bani Rasib selama ratusan tahun

    Semasa kenabiannya, Nuh AS memperoleh kurang lebih 70 orang pengikut beserta 8 anggota keluarganya. Nabi Nuh AS memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa, karenanya ia termasuk rasul Ulul Azmi, seperti disebutkan dalam buku Sang Rasul Terkasih oleh Khalid Muhammad Khalid terjemahan Ganny Pryadharizal Anaedi.

    Bani Rasib memperlakukan Nuh AS dengan sangat hina. Mereka bahkan tak segan menyekutukan Allah SWT dan memiliki sifat congkak sekaligus zalim.


    Adapun, teguran yang diperoleh Nabi Nuh AS dari Allah SWT berkaitan dengan sang anak yang bernama Kan’an. Melansir buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul susunan Ustaz Fatih, Kan’an adalah putra pertama Nuh AS. Ia sangat durhaka dan menyembunyikan rasa benci pada ayahnya.

    Kan’an bahkan tak segan untuk pura-pura beriman. Kala itu, saat Nabi Nuh AS diminta untuk mengumpulkan seluruh umatnya di bahtera besar, ia memanggil Kan’an agar ikut dengannya.

    Kan’an yang angkuh menolak ajakan sang ayah, ia tidak ingin beriman kepada Allah SWT begitu pula untuk ikut sang nabi naik ke bahtera. Sebagai seorang ayah, Nuh AS terus membujuk Kan’an meski air bah sudah mulai meninggi.

    Percakapan keduanya termaktub dalam surah Hud ayat 43,

    قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ

    Artinya: “Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang yang ditenggelamkan.”

    Saat keduanya sedang berdebat, muncul gelombang besar yang memisahkan antara bahtera Nuh AS dan anaknya, Kan’an. Gelombang itu melenyapkan Kan’an dari pandangan Nabi Nuh AS.

    Sang nabi memohon kepada Allah SWT untuk menyelamatkan putra sulungnya itu. Lalu Allah SWT berfirman dalam surah Hud ayat 46,

    قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ ٤٦

    Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.”

    Bunyi ayat itu merupakan teguran Allah SWT terhadap Nabi Nuh AS. Setelah itu, Nuh AS menangis berkepanjangan hingga 300 tahun lamanya, seperti dikisahkan dalam riwayat Imam Ahmad dalam Kitab Az-Zuhud yang dikutip dari buku Tuhan Izinkan Aku Menangis Padamu: 200 Kisah Air Mata yang Menetes karena Takut pada Allah tulisan Majdi Fathi Sayyid terbitan Mirqat Publishing Group.

    Saking sayangnya Nabi Nuh AS terhadap Kan’an, tangisannya selama ratusan tahun itu menyebabkan kedua matanya seperti ada garis bekas aliran air mata.

    Wallahu a’lam

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Keberanian Khadijah Nyatakan Cinta pada Rasulullah SAW


    Jakarta

    Kisah cinta Khadijah dengan Rasulullah SAW sepertinya perlu diketahui muslim. Tak hanya kebahagiaan akan tetapi pengorbanan sampai pada akhirnya keduanya menikah.

    Dr. Muhammad Abduh Yamani dalam bukunya Khadijah Binti Khuwailid Cinta Sejati Rasulullah menjelaskan bahwa Khadijah berasal dari keluarga yang harmonis, dan lingkungan bermartabat. Keluarganya berasal dari nasab yang tinggi, berkedudukan, dan kaya raya.

    Sayyidah Khadijah mempunyai ayah bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul Uza, ibunya bernama Fatimah binti Zaidah, dan juga memiliki saudara laki-laki bernama Abdul Manaf.


    Pertemuan Pertama Khadijah RA dengan Muhammad SAW

    Mengutip buku Khadijah Cinta Sejati Rasulullah karya Abdul Mun’im Muhammad Umar,
    suatu hari Khadijah akan mengirimkan kafilah dagangnya ke Syam. Untuk itu ia mencari seseorang yang dapat dipercaya supaya mengawasi dan memimpin rombongan dagangnya.

    Saat itu penduduk Makkah sedang ramai membicarakan seseorang pemuda bernama Muhammad Ibnu Abdillah yang memiliki kejujuran dan keluhuran budi pekerti diantara orang-orang seumurannya yang sibuk berfoya-foya.

    Lantas Khadijah berpikir sebaiknya Muhammad SAW saja yang diutus untuk mengurusi urusan perdagangan di negeri Syam. Namun Khadijah belum pernah mendengar mengenai pengalaman berdagang Muhammad SAW.

    Akhirnya Khadijah pun memanggil Muhammad SAW dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dari sanalah Khadijah menyadari Muhammad adalah orang yang cerdas, santun, dan pandai menjaga diri serta penampilannya.

    Khadijah RA Menyatakan Perasaannya

    Ibnu Watiniyah dalam buku Menjadi istri seperti Khadijah menjelaskan bahwa Sayyidah Khadijah RA lah yang pertama kali mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah SAW.

    Suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW akan pulang setelah melaksanakan tawaf bertemu dengan pelayan dari Sayyidah Khadijah RA. Pelayan itu mengundang Rasulullah ke rumah majikannya (Rumah Khadijah). Beliau pun menyanggupi permintaan pelayan tersebut.

    Ketika keduanya duduk berhadapan Khadijah bertanya, “Wahai Muhammad apakah kamu tidak ingin menikah?”

    “Dengan siapa?” tanya Rasulullah.

    “Denganku.” Jawab Khadijah.

    “Tetapi aku tidak setara denganmu. Engkau adalah pemuka wanita Quraisy, sedangkan aku hanyalah anak yatim yang tidak punya apa-apa.” Kata Nabi Muhammad SAW.

    Khadijah pun menjawab, “Wahai putera pamanku, aku telah menyukaimu sejak lama karena kekerabatan, kemuliaan, dan kemuliaan akhlak mu, dan karena kau dikenal sebagai orang yang jujur dan terpercaya di tengah-tengah kaummu.”

    Mendengar hal ini, Rasulullah SAW menerima tawarannya, Khadijah pun berkata, “Pergilah kepada pamanmu, mintalah agar ia dan pemuka keluargamu untuk melamarku. Dan katakan padanya, segerakan pernikahan kita besok.”

    Pernikahan Khadijah RA dengan Muhammad SAW

    Mengutip dari buku The Golden Stories of Ummahatul Mukminin karya Ukasyah Habibu Ahmad pernikahan Khadijah RA dan Nabi Muhammad SAW dilaksanakan.

    Khadijah RA segera menemui pamannya, Amr bin Asad, untuk mengabarkan hal tersebut. Di sisi lain, Abu Thalib bersiap untuk mengajukan lamaran kepada Khadijah RA untuk keponakannya, Muhammad SAW. Bersama dengan Hamzah bin Abdul Muthalib dan beberapa anggota keluarga Bani Hasyim, Abu Thalib menyampaikan niatnya kepada Amr bin Asad. Setelah perundingan, kedua keluarga setuju untuk menikahkan Muhammad SAW dengan Khadijah RA. Dan mahar 20 ekor unta (atau menurut pendapat lain, 500 dirham).

    Pernikahan tersebut kemudian diadakan. Menurut para ulama dan sejarawan Muslim, peristiwa ini terjadi sekitar dua bulan setelah Muhammad SAW kembali dari ekspedisi dagang ke Syam. Saat itu, Khadijah RA berusia sekitar 40 tahun, sementara Rasulullah SAW baru berusia sekitar 25 tahun. Acara pernikahan dihadiri oleh keluarga dari Bani Hasyim dan tokoh-tokoh dari Bani Mudhar.

    Demikianlah kisah cinta Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah RA. Sebuah cerita kisah yang sangat romantis, penuh pembelajaran sehingga patut diteladani.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abdurrahman bin Auf Sahabat Rasulullah SAW yang Gemar Bersedekah


    Jakarta

    Dahulu dalam berdakwah Rasulullah SAW didampingi oleh sahabat-sahabat yang luar biasa dengan masing-masing kelebihannya. Seperti Abdurrahman bin Auf sahabat nabi kaya raya yang dermawan. Berikut kisah Abdurrahman bin Auf yang senang bersedekah meraih pahala dari Allah SWT.

    Mengutip buku Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, dan Jihad Para Sahabat Nabi yang Kaya Raya karya Ustadz Imam Mubarok Bin Ali, dijelaskan Abdurrahman bin Auf salah satu sahabat nabi yang kaya raya sebab jago berdagang. Beliau bahkan dijuluki “Manusia bertangan Emas.”

    Nama asli Abdurrahman bin Auf di masa jahiliyah adalah Abdu Amru, ada juga yang berpendapat nama aslinya Abdul Ka’bah, lalu Rasulullah SAW baru mengganti namanya menjadi seperti nama yang dikenal sekarang.


    Abdurrahman memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Auf Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah Al-Quraisy Al-Zuhri. Dikenal juga sebagai sosok sahabat nabi yang gemar bersegera dalam berinfak dan pandai berdagang.

    Beliau dilahirkan pada tahun kesepuluh dari tahun gajah atau 581 M, Abdurrahman bin Auf sepuluh tahun lebih muda dari Rasulullah SAW.

    Kisah Kedermawanan Abdurrahman bin Auf

    Mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein dijelaskan suatu hari Rasulullah SAW pergi ke Tabuk untuk menghadapi ancaman bangsa Romawi. Namun kala itu buah-buahan belum matang, sehingga kaum Muslimin belum bisa menjualnya dan menyedekahkannya ke pasukan Muslim. Semua mengeluh akan kondisi ini.

    Karena perintah Allah SWT wajib ditegakkan, Abu Bakar memberikan seluruh hartanya, Umar juga memberikan separuh hartanya, tidak ketinggalan juga Utsman yang menyerahkan harta semampunya. Sayangnya jumlah harta yang terkumpul masih belum cukup.

    Dalam kerisauan itu, Abdurrahman bin Auf datang membawa sebuah kantong yang berisi dua ratus keping emas. Beliau menyerahkan kantong itu kepada Rasulullah SAW. Membuat semua sahabat keheranan, bahkan Umar bin Khattab menduga Abdurrahman melakukan perbuatan dosa, dan ingin bertobat dengan cara menyerahkan hartanya.

    Lantas Allah SWT menunjukkan kemurnian hati Abdurrahman melalui pertanyaan Rasulullah SAW, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?”

    Jawab Abdurrahman, “Banyak wahai Rasulullah. Lebih banyak daripada apa yang aku sedekahkan ini.”

    Rasulullah kembali bertanya, “Berapa banyak yang kamu tinggalkan untuk mereka?”

    Abdurrahman menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasulnya untuk mereka.” Lalu Rasulullah dan para sahabat pun kagum dengan sikap ikhlas Abdurrahman bin Auf.

    Kisah kedermawanan Abdurrahman bin Auf lainnya. Bermula pada suatu hari, semua penduduk Madinah mendengar suara keras. Mereka mengira suara itu muncul dari pasukan musuh yang menyerang Madinah.

    Ternyata suara tersebut adalah suara kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang berjumlah tujuh ratus unta sambil membawa berbagai barang dagangan.

    Saat itu Aisyah RA berkata,” Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merayap.” Mendengar perkataan ini, Abdurrahman segera menyedekahkan kafilahnya.

    Abdurrahman percaya kepada perkataan Aisyah RA, sambil berkata, “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai saksi bahwa kafilah ini beserta seluruh muatannya, pelana, dan alas pelananya, telah aku sedekahkan di jalan Allah SWT.”

    Selain itu, Abdurrahman bin Auf juga pernah menjadi imam shalat yang diantara makmumnya ada Rasulullah SAW. Maka Abdurrahman bin Auf menjadi orang beruntung yang telah menyedekahkan hartanya, berjihad, dan menjadi imam Rasulullah dan umat Islam.

    Pesan Abdurrahman bin Auf

    Masih mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein, sebelum Abdurrahman bin Auf meninggal dunia, dirinya berpesan supaya kaum Muslimin dalam perang Badar yang masih hidup mendapatkan 400 dinar dari harta warisannya.

    Serta berpesan sebagian hartanya diberikan untuk istri-istri Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Aisyah RA berdoa, “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di Surga.”

    Demikianlah kisah Abdurrahman bin Auf seorang yang luar biasa ikhlas untuk menyedekahkan hartanya pada jalan Allah SWT. Abdurrahman bin Auf meninggal di usia 75 tahun, jenazahnya dishalati Utsman bin Affan dan para sahabat lainnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketabahan Urwah bin Zubair dalam Menghadapi Musibah yang Menimpanya



    Jakarta

    Ada banyak kisah-kisah Islami dari orang-orang beriman di masa lalu yang menunjukan sisi positif sehingga bisa diteladani. Seperti kisah seorang yang tetap sabar dan tabah saat ditimpa sakit dan anaknya meninggal. Inilah kisah Urwah bin Zubair.

    Mengutip buku Cahaya Abadi Muhammad Saw. 3 karya M. Fethullah Gulen disebutkan bahwa Urwah bin Zubair adalah putra dari sahabat Rasulullah SAW bernama Zubair bin Awwam RA yang merupakan anak dari bibi Rasulullah SAW bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib.

    Sementara itu, ibu Urwah bin Zubair bernama Asma’ RA yang merupakan saudara kandung dari Sayyidah Aisyah RA, putri Abu Bakar As-Siddiq. Maka Urwah tumbuh besar diantara orang-orang mulia membuatnya memiliki keimanan dan keutamaan.


    Kisah Urwah bin Zubair

    Mengutip buku Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi karya Imron Mustofa keutamaan Urwah bin Zubair juga dijelaskan oleh anaknya bernama Hisyam yang menuturkan:

    “Ia (Urwah bin Zubair) terkena penyakit kanker pada kakinya, dan seseorang pernah berkata, ‘Maukah Anda aku panggilkan tabib?’ Ia berkata, Jika kamu berkenan.’ Lalu, sang tabib datang dan berkata, ‘Aku akan memberikan minuman kepada Anda dan minuman itu menghilangkan kesadaran Anda untuk beberapa saat.’ Mendengar itu, Urwah berkata, ‘Urus saja dirimu, aku tidak yakin kalau ada seseorang yang mau meminum obat yang menghilangkan kesadarannya, sehingga ia tidak ingat lagi kepada Tuhannya.”

    Ia berkata, “Kemudian sang tabib itu akhirnya memotong lutut- nya tanpa obat bius, dan kami semua berada di sekelilingnya me- nyaksikan. Hebatnya, ia tidak mengeluh sedikitpun. Ketika kakinya telah terpotong, ia berkata, ‘Kalaulah memang Engkau Ya Allah telah mengambil kakiku, Engkau pun telah menyisakan hidup kepadaku. Kalaulah engkau memberikan cobaan sakit kepadaku, Engkau pun telah memberikan kesembuhannya. Dan hebatnya, pada malam itu juga ia tidak meninggalkan rutinitasnya, yaitu melakukan shalat malam dengan membaca seperempat al-Qur’an.”

    Dari ‘Am bin Shalih dari Hisyam bin Urwah mengatakan bahwa ayahnya pergi menghadap Khalifah al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ketika sampai di lembah Qura, ia mendapati kakinya terkena sesuatu dan terluka. Kemudian, ia pun merasakan sakitnya semakin parah.

    Sesampainya di hadapan Khalifah al-Walid, ia (al-Walid) berkata, “Wahai Abu Abdillah, potong saja kakimu itu!” Urwah berkata, “Boleh saja.” Lalu, sang khalifah memanggilkan tabib untuknya. Tabib itu berkata, “Minumlah ramuan yang mengandung obat tidur.” Namun ia (Urwah) tidak mau meminumnya. Kemudian, tanpa obat bius, tabib itu memotongnya sampai sebatas lutut dan tidak lebih.”

    Setelah itu, Urwah berkata, “Cukup, cukup!” Al-Walid berkata, “Aku sama sekali belum pernah melihat orang tua yang kesabarannya seperti ini.”

    Apalagi disaat Urwah melakukan perjalanan, ia ditimpa musibah sebeba putranya bernama Muhammad meninggal dunia (Diserang keledai saat berada di kandang) namun dia tidak berkomentar apapun hingga di lembar Qura, Urwah bin Zubair pun berkata (Kutipan surah Al-Kahfi ayat 62):

    لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا ٦٢

    Artinya: “Bawalah kemari makanan kita. Sungguh, kita benar-benar telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

    Selanjutnya urwah bin Zubair pun berkata, “Ya Allah, aku telah mempunyai tujuh keturunan dan Engkau telah mengambil satu dari mereka dan Engkau masih meninggalkan yang enam. Aku juga mempunyai anggota tubuh yang empat, dan Engkau telah mengambil salah satunya, dan Engkau masih tinggalkan yang tiga. Jikalau Engkau memberikan cobaan sakit, Engkau pun telah menyembuhkannya. Jikalau Engkau telah mengambilnya (kaki), Engkau masih memberikan hidup.”

    Hikmah Kisah Urwah bin Zubair

    Mengutip buku 88 Kisah Orang-Orang Berakhlak Mulia karya Harlis Kurniawan hikmah yang bisa dipetik dari kisah ketabahan Urwah bin Zubair adalah.

    Siapa saja yang ridha dengan takdir Allah SWT, maka dia adalah hamba yang bersyukur. Karena dia senantiasa melihat nikmat Allah SWT yang banyak daripada melihat berkurangnya nikmatnya yang sedikit.

    Demikianlah kisah ketabahan Urwah bin Zubair dalam menghadapi cobaan yang diberikan Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Prajurit Muslim yang Menjadi Ahli Neraka



    Jakarta

    Di zaman Rasulullah SAW, hidup seorang pemuda yang berjuang di jalan Allah SWT dengan menjadi prajurit perang. Sayangnya, ia justru menjadi seorang ahli neraka.

    Kisah prajurit ini diceritakan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan Dalam Hidup Rasulullah yang ditulis Fuad Abdurrahman.

    Suatu ketika pasukan muslimin yang dipimpin Rasulullah berhadapan dengan pasukan musyrik dalam sebuah peperangan. Ketika sebagian orang beristirahat, Rasulullah SAW pergi ke markas pasukan muslim.


    Di antara banyaknya pasukan muslim saat itu, ada seorang laki-laki yang tampak sangat bersemangat dalam peperangan. Ia tidak membiarkan seorang musuh pun lepas dari sabetan pedangnya.

    Melihat kegigihan dan keberaniannya, para sahabat berkomentar tentang orang ini, “Betapa besar pahala si fulan itu pada hari ini dibandingkan kita.”

    Mendengar komentar para sahabat, Rasulullah SAW menanggapinya, “Sesungguhnya ia termasuk ahli neraka.”

    Mendengar perkataan Rasulullah SAW, banyak yang kemudian heran karena tidak percaya. Mereka yakin bahwa setiap yang berjuang di jalan Allah SWT untuk membela agama Islam maka akan mendapatkan keutamaan.

    Karena heran mendengar ucapan Rasulullah SAW, salah seorang sahabat berkata, “Aku adalah temannya dan aku akan mengikuti gerak-geriknya.”

    Kemudian, ia pergi memperhatikan segala gerak-gerik pemuda yang disebut sebagai ahli neraka itu. Jika pemuda itu maju, ia pun maju, dan jika temannya itu berhenti, ia juga berhenti.

    Selang beberapa waktu, pemuda yang disebut ahli neraka itu mendapat luka yang sangat parah akibat tebasan senjata musuh. Namun, alih-alih bersabar, ia malah mempercepat kematiannya dengan menancapkan pangkal pedangnya ke tanah dan mengarahkan hulu pedangnya yang runcing ke ulu hatinya, dan ia hempaskan tubuhnya ke pedang itu. Ternyata, ia memilih jalan pintas untuk bunuh diri.

    Setelah melihat apa yang dilakukan pemuda itu, sahabat yang tadi mengawasi dan mengikutinya segera menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Aku bersaksi, engkau adalah utusan Allah.”

    Rasulullah SAW bertanya, “Ada apa?”

    “Tentang laki-laki yang engkau sebutkan sebagai ahli neraka tadi sehingga orang-orang terkejut mendengarnya. Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku akan mengikutinya dan mengabarkan keadaannya. Maka, aku mengawasi gerak-geriknya hingga ia terluka parah. Namun, ia mempercepat kematiannya dengan cara menancapkan pedangnya ke tanah dan mengarahkan hulunya ke ulu hatinya, lalu menghempaskan tubuhnya ke pedang itu hingga ia tewas akibat bunuh diri.”

    Mendengar cerita sahabat itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada laki-laki yang tampak oleh manusia melakukan amal ahli surga, tetapi sebenarnya ia termasuk ahli neraka. Dan sesungguhnya ada laki-laki yang tampak oleh manusia melakukan amal ahli neraka, tetapi sebenarnya ia termasuk ahli surga.”

    Bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An Nisa ayat 29,

    …وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا –

    Artinya: “… Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

    Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Zaid Tsabit bin Adh-Dhahhak Al-Anshari, Rasulullah SAW bersabda,

    وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ، عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Artinya: “Barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu.” (Muttafaq Alaih)

    Neraka adalah tempat kembali bagi orang-orang yang putus asa dan melakukan bunuh diri.

    Rasulullah SAW mengatakan dalam hadits riwayat Abu Hurairah, “Barang siapa membunuh dirinya dengan menggunakan besi, maka besi tersebut akan ditempelkan pada perutnya di neraka jahanam selama-lamanya. Dan barang siapa membunuh dirinya dengan menggunakan racun maka racun yang berada di tangannya akan ia rasakan selama-lamanya di neraka jahanam. Dan barang siapa menjatuhkan diri dari puncak gunung sehingga ia meninggal dunia maka ia akan dijatuhkan di neraka jahanam selama-lamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Wallahu ‘alam.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Pertama Rasulullah SAW yang Masuk Islam


    Jakarta

    Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan agama Islam. Rasulullah SAW berdakwah dan mengajak para sahabat dan juga siapa saja untuk masuk Islam.

    Menurut catatan sejarah, Rasulullah SAW adalah pria dengan kepribadian luar biasa, sehingga bisa menarik berbagai orang untuk dekat dan mengikutinya. Merekalah yang disebut sebagai sahabat Rasulullah SAW. Dan orang pertama masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar As-Siddiq.

    Biografi Abu Bakar As-Siddiq

    Mengutip dari buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Sujai Fadil dijelaskan secara menyeluruh mengenai Abu Bakar As-Siddiq dan bagaimana dia mendapatkan julukan As-Siddiq.


    Berdasarkan pendapat shahih nama asli Abu Bakar Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi. Beliau memiliki kunyah atau sebuah nama panggilan yang biasa digunakan oleh masyarakat Arab untuk panggilan kehormatan.

    Beliau mendapatkan julukan As-Siddiq karena pernah membenarkan kabar bahwa Nabi Muhammad SAW naik ke langit tujuh dalam momen Isra Miraj dengan penuh percaya diri.

    Orang-orang kafir bertanya kepadanya, “Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam.”

    Abu Bakar pun menjawab, “Jika ia berkata demikian, maka itu benar.” Karena itu Allah SWT menyebutnya sebagai As-Siddiq.

    Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 33,

    وَالَّذِيْ جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ٣٣

    Artinya: “Orang yang membawa kebenaran (Nabi Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

    Ayat di atas menjelaskan maksud dari orang yang membawa kebenaran adalah Nabi Muhammad SAW, dan orang yang membenarkannya adalah Abu Bakar As-Siddiq.

    Julukan As-Siddiq juga didapatkan Abu Bakar sebab beliau adalah orang pertama yang membenarkan dan beriman kepada Allah SWT.

    Selain itu, mengutip buku Biografi Abu Bakar ash-Shiddiq Khalifah Pertama yang Menentukan Arah Perjalanan Umat Islam Sepeninggal Rasulullah karya Dr. Muhammad Husain Haikal, sebelum masuk Islam Abu Bakar punya nama lain yakni Abdul Kab’bah.

    Baru setelah masuk Islam, Rasulullah SAW merubah namanya menjadi Abdullah, semakin dewasa Abdul Kab’ah berubah menjadi Atik.

    Dalam riwayat Aisyah RA menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW pernah melihat Abu Bakar sambil berkata, “Inilah Atik Allah dari Api Neraka.”

    Pada kesempatan lainnya Rasulullah SAW melihat Abu Bakar dan berkata, “Barang siapa yang senang melihat kepada orang yang lolos (Atik) dari api neraka, maka lihatlah kepadanya (Abu Bakar).”

    Ciri-ciri Abu Bakar As-Siddiq

    Mengutip buku 150 Kisah Abu Bakar Al-Shiddiq karya Ahmad Abdul `Al Al-Thahtawi dijelaskan oleh Aisyah RA mengenai ciri-ciri fisik Abu Bakar As-Siddiq.

    Dari ‘Aisyah RA bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya, “Gambarkanlah kepada kami ciri- ciri fisik Abu bakar.”

    Kemudian, ‘Aisyah menjawab, “Dia adalah seorang lelaki yang berkulit putih, berbadan kurus, dadanya tidak terlalu lebar, punggungnya tidak bungkuk, tulang pinggangnya kecil sehingga tidak dapat menahan kain yang dipakainya, wajahnya kurus, kedua matanya cekung, dahinya lebar, dan urat- urat tangannya tampak jelas. Begitulah ciri-ciri fisik beliau.”

    Keutamaan Abu Bakar As-Siddiq

    Masih mengutip buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Sujai Fadil disebutkan keutamaan-keutamaan Abu Bakar As-Siddiq:

    1. Abu Bakar As-Siddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad SAW dari golongan umat beliau.

    كنا نخير بين الناس في زمن النبي ﷺ ، فنخير أبا بكر ، ثم عمر بن

    الخطاب ، ثم عثمان بن عفان

    Artinya: “Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Muhammad SAW. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan RA.” (HR Bukhari)

    2. Abu Bakar As-Siddiq adalah orang yang menemani Rasulullah SAW di gua ketika dikejar kaum Quraisy.

    3. Ketika kaum muslimin hendak hijrah Abu Bakar As-Siddiq menyumbangkan seluruh hartanya.

    4. Abu Bakar As-Siddiq dipilih menjadi khalifah berdasarkan nash.

    5. Umat Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar As-Siddiq

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر

    Artinya: “Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, hadits ini shahih)

    6. Abu Bakar As-Siddiq adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW

    ‘Amr bin Al Ash RA bertanya kepada Nabi Muhammad SAW,

    أي الناس أحب إليك ؟ قال : عائشة . قال : قلت : من الرجال ؟ قال : أبوها

    Artinya: “Siapa orang yang kau cintai? Rasulullah menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya lagi, ‘Kalau laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar).” (HR Muslim)

    Itulah kisah sahabat pertama Rasulullah SAW yakni Abu Bakar As-Siddiq RA. Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Cicit Rasulullah SAW yang Pingsan saat Bertalbiyah Haji


    Jakarta

    Salah satu cicit Rasulullah SAW dikisahkan sampai pingsan ketika hendak bertalbiyah dalam ibadah hajinya. Cicit Rasulullah SAW yang dimaksud ialah Ali Zainal Abidin.

    Dikutip dari buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah karya Abdurrahman Ahmad, Ali bin Abi Thalib RA menikahkan putranya Husain dengan Shahrbanu Syah Zinan seorang putri dari Yazdajird, Raja Persia kala itu.

    Dari pernikahan tersebut, lahirlah Ali bin Husain RA yang kemudian dikenal dengan Ali Zainal Abidin. Ia merupakan anak bungsu yang selamat dari pembunuhan keluarga Rasulullah SAW, sedangkan kakak-kakaknya dan kedua orang tuanya terbunuh sebagai syuhada.


    Selama hidupnya, Ali Zainal Abidin juga diasuh oleh anggota keluarga lain. seperti kakeknya, Ali bin Abi Thalib selama dua tahun dan dua belas tahun tahun bersama pamannya, Hasan RA. Kemudian, 23 tahun tinggal bersama ayahnya, Husain RA.

    Hal itu membuat Ali Zainal Abidin tumbuh menjadi pemuda yang kaya dengan ilmu dan ketakwaan. Atas kepribadiannya, kaumnya memberi julukan Zainal Abidin (hiasan para ahli ibadah).

    Kisah Cicit Rasulullah SAW yang Pingsan saat Bertalbiyah Haji

    Dijelaskan dalam buku Kisah Teladan Ulama-Ulama Besar Dunia karya Jaka Perdana Putra, Ali Zainal Abidin merupakan orang yang dermawan. Suatu saat, ia hendak menunaikan ibadah haji. Sukainah, adiknya, memberinya makanan untuk bekal selama perjalanan.

    Ali Zainal Abidin pun membawa bekal yang terbilang cukup banyak karena makanan tersebut dibeli seharga seratus dirham. Ketika di tengah perjalanan, Ali Zainal Abidin melihat orang fakir miskin lalu memberikan bekalnya kepada mereka.

    Ia memang terkenal sangat dermawan dan sering kali ia bersedekah secara rahasia tanpa diketahui satu orang pun. Sebab, kebiasaan bersedekah secara sembunyi-sembunyi itu ia sampai dikira orang-orang sebagai seseorang yang kikir.

    Bahkan Ali Zainal Abidin juga sering memikul karung berisi makanan untuk dibagikan para fakir miskin secara diam-diam pada malam hari seraya berkata, “Sedekah secara rahasia itu memadamkan murka Allah SWT.”

    Singkat cerita, sesampainya di tujuan, Ali Zainal Abidin pun memulai ibadah haji dengan berihram. Namun, ketika hendak ingin mengucapkan kalimat talbiyah, tiba-tiba tubuhnya gemetar dan warna kulitnya berubah menjadi kuning pucat. Ia pun tidak dapat mengucapkan talbiah.

    “Mengapa engkau tidak mengucapkan talbiyah?” tanya orang-orang dengan heran. “Aku takut ketika mengucapkan talbiyah (labbaik), Allah SWT menjawab, ‘Engkau tidak disambut.”

    Ketika dipaksakan mengucap talbiyah, dia jatuh pingsan dan jatuh dari untanya. Ia mengalami kejadian seperti itu terus-menerus sampai menuntaskan ibadah hajinya.

    Masih melansir sumber sebelumnya, Imam Malik RA bercerita bahkan saat Ali Zainal Abidin menyebut lafal labbaik, ia terjatuh dari untanya dan pingsan hingga tulangnya patah.

    Ali Zainal Abidin Sang Ahli Ibadah

    Merujuk sumber yang sama, Ali Zainal Abidin juga dijuluki As-Sajjad karena kebiasaan sujudnya yang sangat lama, juga dijuluki Az-Zaky karena kebersihan jiwanya.

    Ali Zainal Abidin memang dikenal sangat khusyu dalam salatnya. Ia bahkan pernah melaksanakan salat sunah sebanyak seribu rakaat dalam semalam.

    Pada suatu ketika, setelah berwudhu dan berniat salat, tiba-tiba tubuhnya gemetar dan warna kulitnya menjadi kuning pucat. Saat ditanya penyebabnya, ia menjawab, “Tahukah kalian, di depan siapakah aku berdiri? Kepada siapakah aku akan bermunajat?”

    Dalam salatnya, Ali Zainal Abidin mengatakan jika ia benar-benar merasa melihat Allah SWT di hadapannya sehingga membuatnya gemetaran dan pucat. Itulah kualitas salat hamba Allah yang sudah sangat tinggi derajatnya.

    Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rasulullah SAW yang Anjurkan dan Contohkan Berbuat Baik pada Hewan



    Jakarta

    Hewan termasuk makhluk ciptaan Allah SWT yang harus mendapatkan kasih sayang. Manusia hidup berdampingan dengan berbagai hewan, jadi sudah sepatutnya untuk berbuat baik dan melindungi hewan yang hidup di sekitar kita.

    Semasa hidupnya, Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang menyayangi hewan, termasuk kucing.

    Saking cintanya dengan hewan, Rasulullah SAW bersabda,


    “Barang siapa yang menganiaya binatang, maka ia akan mendapat laknat dari Allah, malaikat, dan semua manusia.” (HR Thabrani)

    Hadits ini menegaskan bahwa manusia harus menyayangi hewan dan dilarang untuk menganiayanya.

    Dalam buku 115 Kisah Menakjubkan Dalam Hidup Rasulullah karya Fuad Abdurrahman, dituliskan banyak kisah Rasulullah SAW yang mencontohkan sikap berbuat baik kepada hewan.

    Suatu hari Rasulullah SAW dan para sahabat menempuh perjalanan. Di tengah perjalanan, Rasulullah memisahkan diri sebentar dari rombongan untuk suatu keperluan.

    Para sahabat melihat dua ekor anak burung hammarah (burung merah), lalu mengambilnya. Tidak lama kemudian, induknya datang dan tampak gelisah karena tidak menemukan kedua anaknya. Ketika Rasulullah SAW datang dan melihat induk burung itu, beliau bertanya, “Siapakah yang telah menyusahkan burung ini? Segera kembalikan anak-anaknya!”

    Di lain kesempatan, ketika melihat sarang burung yang dibakar, beliau bertanya, “Siapakah yang telah membakar sarang ini?”

    Para sahabat menjawab, “Kami.”

    “Hanya Rabb Al-Nar (Sang Pemilik Api, yakni Allah) yang pantas mengazab dengan api.”

    Kebaikan Rasulullah SAW terhadap hewan juga dapat dilihat dari kisah Rasulullah SAW ketika melihat seseorang menginjak perut seekor kambing, menajamkan pisaunya, dan memperlihatkan pisau itu di depan mata si kambing ketika hendak menyembelih.

    Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kau ingin membunuhnya dengan dua kematian? Asahlah pisaumu itu sebelum kau merebahkannya!”

    Dalam hadits lain, beliau berpesan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan kebaikan atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (menyembelih), perbaguslah caranya. Tajamkanlah pisau kalian dan senangkanlah sembelihan kalian.” (HR Muslim).

    Imam Al-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memiringkan bejana untuk seekor kucing agar ia bisa meminum airnya, kemudian beliau berwudhu dengan sisa air dari bejana itu.

    Suatu saat Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabat bahwa dulu ada seorang pelacur yang merasa sangat kehausan sehingga ia bergegas mendekati sumur untuk mendapatkan air. Namun, di dekat sumur, pelacur itu melihat seekor anjing berjalan lemah mengitari sumur. Sepertinya, anjing itu pun kehausan.

    Ia ingin minum air dari sumur itu tetapi tidak bisa mengambilnya. Akhirnya, ia hanya bisa menjulur-julurkan lidahnya.

    Pelacur itu merasa iba sehingga ia segera membuka sepatunya, mengikat sepatu itu dengan selendangnya, lalu menurunkannya ke dalam sumur. Ujung lain selendang itu ia ikatkan pada tubuhnya. Setelah sepatunya terisi air, ia menariknya, lalu minum air dari sepatu itu dan kemudian memberi minum anjing itu hingga hausnya hilang.

    Karena kebaikannya itulah Allah SWT mengampuni dosa-dosanya sebagai pelacur. Amal salehnya (bersedekah pada anjing) telah menghapus dosa-dosa yang ia lakukan di masa silam (HR Muslim).

    Dari kisah-kisah tersebut, dapat dipetik pelajaran bahwa menyayangi hewan adalah tanda seorang mukmin.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Cucu Abu Bakar yang Wafat saat Haji dengan Jalan Kaki


    Jakarta

    Ketika zaman Rasulullah SAW, menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki merupakan hal yang lazim. Hal ini juga yang dilakukan oleh cucu sahabat Nabi SAW yaitu Al-Qasim bin Muhammad.

    Mengutip buku Mendidik Anak Mendidik Anak dengan Al Quran Sejak Janin karya Bunda Fathi, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah cucu Abu Bakar RA sekaligus keponakan Ummul Mukminin Aisyah RA. Ayahnya ialah Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. kemudian ibunya merupakan putri Yazdajird, raja Persia yang terakhir.

    Al-Qasim dikaruniai ketakwaan dan ilmu. Ia tumbuh menjadi seorang yang cendekiawan.


    Al-Qasim menjadi salah satu di antara tujuh fuqaha (ahli hukum Islam) Madinah, yang mewarisi sifat, akhlak, ilmu, bentuk fisik, keteguhan iman, dan kezuhudan kakeknya, Abu Bakar RA. Pada zamannya, ia adalah orang yang paling utama dalam ilmu, paling tajam kecerdasan otaknya, dan paling terpuji sifatnya.

    Kisah Al-Qasim yang Wafat ketika Haji dengan Jalan Kaki

    Dikisahkan dalam buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, pada saat itu Al-Qasim yang berusia sekitar 72 tahun menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki.

    Meskipun terdengar sudah tua renta, tetapi ia masih memiliki kondisi yang terlihat kuat. Hal itu terbukti ia masih mampu menunaikan ibadah haji menuju Makkah dan Madinah dengan berjalan kaki.

    Namun, ketika dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, ajal pun menjemput Al-Qasim. Ketika merasa ajalnya sudah dekat, Al-Qasim berpesan kepada putranya, “Apabila aku mati kafanilah aku dengan pakaian yang biasa dipakai untuk salat, gamisku, kainku dan serbanku,” ucapnya.

    Al-Qasim mengatakan kepada anaknya bahwa ia ingin dikafani seperti kakeknya, Abu Bakar RA dengan pakaian yang biasa dipakai salat sehari-hari. “Seperti itulah kafan kakekmu, Abu Bakar Ash-Shiddiq,” katanya.

    Tidak hanya itu, Al-Qasim meminta kepada keluarganya agar tidak meratapi kepergiannya dengan berlebihan ketika proses pemakamannya. Ia meminta anaknya untuk segera meninggalkan makam setelah proses pemakaman selesai.

    “Maka tutup makamku dengan tanah dan segera kembalilah kepada keluarga. Jangan engkau berdiri di atas makamku seraya berkata, ayahku begini dan begitu karena aku bukanlah apa-apa,” itulah pesan terakhir Qasim kepada anaknya.

    Sebelum wafat saat melaksanakan ibadah haji, Al-Qasim sempat terlibat pertikaian dengan seseorang ketika membagi-bagikan harta sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ia berusaha membagikan harta sedekah dengan adil.

    Namun, ada seorang laki-laki yang tidak terima dengan bagiannya. Karena merasa tidak puas, orang tersebut langsung menghampiri Al-Qasim di masjid.

    Laki-laki itu langsung datang di hadapan Al-Qasim yang tengah salat. Seolah tidak menghiraukan Al-Qasim yang sedang salat, laki-laki itu langsung membahas persoalan harta sedekah. Ia menuduh Al-Qasim tidak adil dalam membagikan harta sedekah.

    Putra Al-Qasim yang tak terima mendengarnya tuduhan tersebut langsung membentak balik laki-laki tersebut, “Demi Allah! Engkau telah melemparkan tuduhan kepada orang yang tidak sepeser pun mengambil bagian dari harta sedekah itu dan tidak makan darinya walaupun sebutir kurma.”

    Setelah Al-Qasim menyelesaikan salatnya, ia kemudian menoleh kepada putranya dan berkata, “Wahai putraku mulai hari ini janganlah engkau berbicara tentang masalah yang tidak engkau ketahui.”

    Bukannya memarahi orang yang mengkritiknya, Al-Qasim malah menegur anaknya sendiri. Meski begitu, putranya memang benar kalau tuduhan itu salah, tetapi Al-Qasim hanya ingin mendidik putranya agar tidak mencampuri urusan orang lain yang ia tidak ketahui.

    Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Perjuangan Maryam Melahirkan Nabi Isa di Bulan Dzulhijjah


    Jakarta

    Nabi Isa AS adalah salah satu dari 5 nabi bergelar Ulul Azmi (Nabi Muhammad SAW, Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS, dan Nabi Nuh AS) karena keimanan dan ujian yang mereka dapatkan.

    Dilansir dalam buku Ulul Azmi: 5 Kisah Nabi yang Luar Biasa karya Nurul Ihsan disebutkan bahwa Nabi Isa AS merupakan keturunan dari Daud. Beliau dilahirkan tanpa adanya seorang ayah. Nabi Isa AS lahir dari rahim seorang wanita bernama Maryam. Banyak orang menuduh kalau Maryam berbuat zina karena lahirnya Nabi Isa AS.

    Proses kelahiran Nabi Isa AS terabadikan dalam Al-Qur’an surah Maryam ayat 22-26:


    فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُنِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25) فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَينَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (26)

    Artinya: “Maryam pun mengandung (Nabi Isa), kemudian ia pergi ke tempat yang jauh. Saat ia ditimpa sakit akan melahirkan, ia bersandar di batang pohon kurma seraya berkata: Duhai seandainya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan. Makhluk yang berada di bawahnya berseru: Janganlah engkau bersedih. Rabbmu telah membuatkan aliran sungai kecil di bawahmu. Goyangkanlah pohon kurma itu, niscaya akan berjatuhan kurma-kurma muda yang mudah dijangkau. Silakan makan, minum, dan senangkan hatimu. Apabila ada seseorang yang melihatmu, isyaratkanlah dengan menyatakan bahwa aku bernadzar puasa kepada ar-Rahmaan (Allah Yang Maha Penyayang) sehingga aku tidak berbicara (dahulu) dengan manusia siapapun.” (Q.S Maryam ayat 22-26).

    Kelahiran Nabi Isa AS

    M. Faizi dalam buku Kisah Nyata 25 Nabi dan Rasul menjelaskan bahwa kelahiran Nabi Isa AS adalah pertanda berakhir seorang nabi diutus dari Bani Israil dan tanda berawalnya tahun Masehi.

    Nabi Isa AS lahir sekitar tahun 622 tahun sebelum hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Makkah ke kota Madinah. Beliau lahir di Baitlahm (Betlehem), dekat Baitul Maqdis, daerah Palestina di bulan Dzulhijjah.

    Nabi Isa AS lahir dari seorang ibu bernama Maryam binti Imran. Lahir tanpa seorang ayah dalam artian bahwa Allah SWT memberikan mukjizatnya kepada Maryam dalam keadaan perawan dapat melahirkan seorang anak tanpa ayah.

    Saat Maryam hamil dia merasa cemas dan khawatir, karena di masa itu hamil tanpa suami adalah aib yang dapat mencoreng nama baiknya, maka mendekati kehamilannya, Maryam pun meninggalkan rumahnya. Di bawah sebatang pohon kurma kering, jauh dari rumahnya, Maryam melahirkan Isa AS.

    Sekalipun sudah berusaha meninggalkan rumahnya, berita kelahirannya tetap sampai di telinga para penduduk, hingga dia dituduh berzina oleh mereka.

    Mukjizat pertama dari Allah SWT pun turun kepada Nabi Isa AS yang saat itu masih balita. Ketika seharusnya manusia seumur nya belum mampu berbicara, Isa AS kecil diberikan kemampuan untuk mengucapkan kebenaran.

    Perkataan Nabi Isa AS disebutkan dalam surah Maryam ayat 30-34:

    قَالَ إِنِّى عَبْدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِىَ ٱلْكِتَٰبَ وَجَعَلَنِى نَبِيًّا

    Artinya: 30. “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,”

    وَجَعَلَنِى مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَٰنِى بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

    Artinya: 31. “dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.”

    وَبَرًّۢا بِوَٰلِدَتِى وَلَمْ يَجْعَلْنِى جَبَّارًا شَقِيًّا

    Artinya: 32. “dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

    وَٱلسَّلَٰمُ عَلَىَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

    Artinya: 33. “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

    ذَٰلِكَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ ٱلْحَقِّ ٱلَّذِى فِيهِ يَمْتَرُونَ

    Artinya: 34. “Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”

    Isa AS mengatakan bahwa ibunya (Maryam) tidak melakukan kesalahan apapun, kelahirannya semata-mata karena kemampuan dan izin dari Allah SWT.

    Bagaimana Maryam Hamil?

    Mengutip buku Nabi Isa Dan Bunda Maryam dalam Pandangan Ulama Islam karya Abu Utsman Kharisman dijelaskan proses kehamilan Maryam tanpa peran seorang pria.

    Dari Wahb bin Munabbih (Seorang Tabi’i):”Kemudian (Malaikat Jibril) meniupkan di kerah baju Maryam hingga sampailah tiupan itu ke rahimnya, hingga ia hamil.” (Diriwayatkan oleh AtThobariy dalam tafsirnya)

    Percakapan Maryam dengan Yusuf an-Najjar yang sama-sama mengurus rumah ibadah pada zaman itu. Yusuf yang mengathui bahwa Maryam adalah wanita sholehah lagi baik imannya bertanya dengan kata-kata kiasan kepada Maryam.

    · Apakah mungkin tumbuh tanaman tanpa adanya benih?

    · Apakah mungkin tumbuh pohon tanpa adanya hujan yang mengiringinya?

    · Apakah bisa terlahir seorang anak tanpa ada ayahnya?

    Maka terjadilah percakapan antara Maryam dan Yusuf.

    Maryam menjawab, “Ya, tidakkah Anda mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menumbuhkan tanaman pada hari penciptaannya tanpa didahului dengan benih? Sedangkan benih yang ada saat ini adalah berasal dari tanaman yang Allah tumbuhkan tanpa bermula dari benih sebelumnya.”

    Selanjutnya Maryam berkata, “Tidakkah Anda mengetahui bahwasanya Allah dengan kekuasaan-Nya menumbuhkan pohon tanpa hujan. Dan Dia dengan kekuasaan itu menjadikan hujan sebagai penyebab kehidupan bagi pohon setelah Dia menciptakan masing- masing secara tersendiri. Ataukah Anda berkata: Allah tidak menumbuhkan pohon hingga harus minta pertolongan pada air, yang kalau tanpa air Dia tidak mampu menumbuhkannya?”

    Yusuf an-Najjar berkata, “Aku tidak berkata demikian. Namun aku mengetahui bahwasanya Allah Tabaroka Wa Ta’ala dengan Maha Berkehendak sesuai kekuasaan-Nya, Dia berfirman: Jadilah, maka akan terjadi.”

    Maryam pun menjawab, “Tidakkah Anda mengetahui bahwasanya Allah Tabaroka Wa Ta’ala menciptakan Adam dan istrinya tanpa ada induk wanita maupun laki (sebelumnya)?”

    Yusuf pun yakin bahwa apa yang terjadi pada Maryam adalah sesuai kehendak dan kekuasaan Allah. Ia pun tidak bertanya lebih lanjut.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com