Blog

  • Kisah Israfil, Malaikat Peniup Sangkakala dengan Tiga Jenis Tiupan


    Jakarta

    Israfil merupakan salah satu dari 10 nama malaikat yang penting bagi umat Islam untuk diketahui. Terdapat banyak riwayat yang membahas tentang malaikat Israfil, seperti halnya 9 malaikat lainnya yang memiliki tugas-tugas mereka masing-masing. Demikian pula, Israfil juga memiliki tugas yang ditetapkan baginya.

    Rasulullah SAW pernah membahas mengenai malaikat Israfil. Sabda Rasulullah SAW:

    “Bagaimanakah saya ingin bersenang-senang, sedangkan pemilik sangkakala telah memegang sangkakala, mengerutkan dahi, pendengarannya siap siaga menunggu bilakah akan diperintahkan untuk meniup sangkakala itu.” Para sahabat bertanya, “Lantas apakah yang mesti kita lakukan wahai Rasulullah?” Baginda menjawab, “Bacalah oleh kamu, ‘hasbunallahu wani’mal wakiil, tawakkalna ‘alallaahi rabbina’ (cukuplah Allah bagi kami, juga sebagai sebaik-baiknya wakil, hanya kepada Allah kami bertawakal).”


    Pada hadits lainnya riwayat dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya, bola mata malaikat yang bertugas meniup sangkakala senantiasa memperhatikan ke arah sekitar ‘Arasy karena dia khawatir mendapatkan perintah saat mengedipkan mata. Kedua matanya bagaikan dua bintang yang terus-menerus bercahaya.” (HR Hakim).

    Mengutip buku Ensiklopedia Kiamat karya Tim Gema Insani dijelaskan bahwa Israfil adalah malaikat yang mendapatkan mandat untuk meniupkan terompet Sangkakala di Hari Kiamat nanti. Sesuai dengan hadits di bawah ini.

    Hal ini sebagaimana juga riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. bahwa malaikat Israfil adalah malaikat yang diberi mandat untuk meniupkan sangkakala.

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِى الله قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: جِبْرِيلُ عَنْ يَمِينِهِ وَمِيكَابِيلُ عَنْ يَسَارِهِ وَهُوَ صَاحِبُ الصُّوْرِ يَعْنِي إِسْرَافِيلُ.

    “Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saw. bersabda, Jibril berada di sebelah kanannya, Mikail di sebelah kirinya, sedangkan dia (yang di tengah) adalah pemegang sangkakala, yaitu Israfil.” (HR Ahmad dan al-Baihaqi).

    Selain hadits tersebut, para ulama juga telah mencapai kesepakatan (ijmak) bahwa Malaikat Israfil adalah malaikat yang bertugas sebagai peniup sangkakala pada hari Kiamat, sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Qurthubi RA.

    “Ulama kami berkata bahwa umat telah bersepakat bahwa yang akan meniup sangkakala adalah Israfil a.s.”

    Sebagaimana juga yang diungkap oleh al-Hafiz Ibnu Hajar, “Peringatan: yang masyhur bahwa pemegang sangkakala adalah Israfil. Al-Halimi menukilkan ijmak dalam masalah ini.”

    Dari beberapa penjelasan di atas, sesungguhnya Israfil adalah malaikat yang memiliki tugas meniup sangkakala kelak di saat hari Kiamat telah tiba.

    Tahapan Tiupan Sangkakala

    Mengutip buku Hebatnya Malaikat karya Prime Studio disebutkan ada 3 tahapan tiupan malaikat Israfil, yaitu:

    1. Tiupan Faza tiupan yang amat menakutkan hingga mampu menghancurkan seluruh alam semesta dan isinya.

    2. Tiupan Sho’aq, tiupan untuk mematikan seluruh makhluk hidup, kecuali beberapa makhluk hidup yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk tetap hidup.

    3. Tiupan Baats, Tiupan yang mampu membangkitkan manusia dari alam kubur yang nantinya akan dikumpulkan di Padang Mahsyar.

    Malaikat yang Dikecualikan Tetap Hidup Sesudah Sang Kakala Ditiup

    Mansur Abdul Hakim dalam buku Israfil A.S Dan Peristiwa Kiamat menjelaskan Israfil adalah salah satu makhluk yang tetap diizinkan hidup oleh Allah SWT ketika tiupan yang membuat semua makhluk meninggal.

    Malaikat Israfil dikehendaki oleh Allah SWT untuk tetap hidup. Surah Az-Zumar ayat 68:

    وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ ٦٨

    Artinya: “Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu (keputusan Allah).”

    Ayat di atas dikuatkan oleh hadits dari pendapat Anas bin Malik RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara mereka yang diberi pengecualian oleh Allah?” Baginda menjawab, “Mereka yang dikecualikan ialah Jibril, Mikail, Malaikat maut, Israfil a.s dan para malaikat pemikul arasy…”5 al-Hadith.

    Dalam riwayat al-Baihaqi, daripada Anas bin Malik RA, hadith ini marfu’ (sampai kepada Rasulullah SAW).

    Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:

    “Antara yang dikecualikan oleh Allah SWT adalah tiga malaikat, iaitu Jibril, Mikail dan Malaikat Maut.”

    Itulah penjelasan Israfil sebagai Malaikat peniup sangkakala di hari Kiamat nanti. Bahkan Israfil adalah salah satu malaikat yang diizinkan tetap hidup saat sangkakala ditiup ketika seluruh makhluk hidup telah binasa.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Ini Setia Bela Nabi Meski Tak Pernah Masuk Islam


    Jakarta

    Pada fase awal dakwah, Rasulullah SAW selalu mendapatkan tindakan diskriminatif dari kaum kafir Quraisy, Tak tinggal diam, seluruh keluarga Rasulullah SAW selalu mendukung dan melindungi beliau, termasuk sang paman, meski hingga akhir hayatnya tidak juga memeluk Islam.

    Paman yang setia membela Rasulullah SAW ini bernama Abu Thalib. Dijelaskan dalam buku Ali Bin Abi Thalib karya Sayyid Sulaiman Nadwi, Abu Thalib merupakan salah seorang tokoh yang paling berpengaruh dan terhormat di Makkah.

    Rasulullah SAW tumbuh besar di pelukan kasih sayang dan tangan Abu Thalib. Abdul Muthalib, kakek dan pelindung Rasulullah SAW, telah menitipkan Rasulullah SAW kepada Abu Thalib, putranya.


    Awal periode kehidupan Nabi Muhammad SAW berlalu di rumah pamannya ini. Abu Thalib juga membawa Nabi Muhammad SAW berdagang ke Syam. Nabi Muhammad SAW kecil telah merasakan kasih sayang serta perlindungan yang ikhlas dan tulus dari Abu Thalib.

    Meski tetap memeluk agama nenek moyangnya, hal itu tidak mengurangi kasih sayang yang dia berikan kepada Nabi Muhammad SAW. Telah berkali-kali orang musyrik Mekah melaporkan kepada Abu Thalib ingin mengenyahkan Nabi Muhammad SAW dari muka bumi. Meskipun telah diminta berkali-kali agar berhenti memberikan perlindungan kepada keponakannya itu, Abu Thalib tidak pernah meninggalkannya.

    Sang paman juga tidak malu untuk menunjukkan pengorbanan diri di jalan ini. Berbagai penganiayaan yang dilakukan musyrik Quraisy, dengan memboikot Abu Thalib dan keluarganya, memutuskan segala hubungan, dan mengucilkan mereka, tidak menghentikan keputusan Abu Thalib untuk melindungi Nabi Muhammad SAW.

    Abu Thalib Sebagai Pelindung Nabi Muhammad SAW

    Dikisahkan dalam buku Agungnya Taman Cinta Sang Rasul karya Ustazah Azizah Hefni, suatu hari, Rasulullah SAW datang menemui Abu Thalib dengan wajah yang dipenuhi kesedihan. Melihat kondisi keponakan tercintanya, Abu Thalib yang merasa cemas segera bertanya tentang apa yang telah terjadi. Rasulullah SAW kemudian menceritakan bahwa saat sedang bersujud di Ka’bah, beliau dilempari kotoran dan darah oleh orang-orang Quraisy. Mendengar hal ini, kemarahan Abu Thalib pun membuncah.

    Dengan segera, Abu Thalib bangkit sambil menggenggam sebilah pedang di tangan kanannya, dan tangan kirinya menggandeng Rasulullah SAW. Mereka berdua bergegas menuju Ka’bah. Sesampainya di sana, mereka mendekati gerombolan kaum kafir Quraisy. Dengan suara lantang, Abu Thalib berkata, “Demi Dzat yang diimani Muhammad! Jika ada di antara kalian yang berani berdiri, aku akan segera menghabisi kalian dengan pedangku!”

    Kemudian, dengan penuh kasih sayang, Abu Thalib mengusap kotoran dan darah yang masih menempel di tubuh Rasulullah SAW, dan melemparkannya ke wajah para pelaku. Wajah-wajah para kafir Quraisy yang telah menghina Rasulullah SAW seketika menjadi kotor. Mereka dihina dan ditertawakan oleh semua orang yang berada di sekitar Ka’bah.

    Dalam buku Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik karya Faisal Ismail, dikisahkan pula para pemuka Quraisy pernah datang menemui Abu Thalib sambil membawa seorang pemuda tampan bernama Umarah bin Walid bin Mughirah. Mereka menawarkan Umarah sebagai anak angkat bagi Abu Thalib, dengan syarat Abu Thalib harus menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada mereka. Namun, Abu Thalib dengan tegas menolak tawaran tersebut.

    Merasa tidak berhasil, para pembesar Quraisy itu kembali menemui Abu Thalib, dengan nada yang lebih keras, mereka berkata, “Engkau adalah orang yang terhormat di kalangan kami. Kami telah meminta agar engkau menghentikan keponakanmu itu, namun kau tidak melakukannya. Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang menghina nenek moyang kami, tidak menghargai harapan-harapan kami, dan mencela berhala-berhala kami. Suruh dia diam atau kita akan melawan dia sampai salah satu pihak binasa.”

    Abu Thalib berada dalam dilema yang berat. Di satu sisi, ia merasa berat hati untuk bermusuhan dengan kaumnya. Namun di sisi lain, ia tidak tega untuk menyerahkan keponakannya, Nabi Muhammad SAW, kepada para pemuka Quraisy.

    Setelah desakan yang terus-menerus, Abu Thalib memanggil Nabi Muhammad SAW. Ia menceritakan maksud para pembesar Quraisy dan berkata, “Jagalah aku, begitu juga jagalah dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.”

    Nabi Muhammad SAW, dengan keteguhan hatinya, menjawab, “Paman, demi Allah! Walaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu: di tanganku, atau aku binasa karenanya.”

    Sesudah mengucapkan pernyataan yang bernada puitis itu, Nabi Muhammad SAW dengan ekspresi sedih menundukkan wajah seraya menangis meneteskan air mata. Ketika Nabi Muhammad SAW membalikkan badan hendak pergi, Abu Thalib memanggil, “Menghadaplah kemari, Anakku!”

    Nabi Muhammad SAW pun menghadap ke arah Abu Thalib. Berkatalah pamannya kepada beliau, “Pergilah dan lakukanlah apa yang kamu kehendaki. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan kamu kepada mereka karena alasan apa pun untuk selama-lamanya.” Pernyataan Abu Thalib ini sangat membesarkan dan meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW untuk secara konsisten melaksanakan gerakan dakwahnya.

    Abu Thalib Tidak Memeluk Islam hingga Akhir Hayatnya

    Kembali merujuk buku Ali bin Abi Thalib, menjelang wafat, Rasulullah SAW sangat berharap pamannya tercinta mengucapkan kalimat syahadat. Namun, Abu Thalib khawatir kaum Quraisy akan menuduhnya takut mati sehingga mengubah agamanya.

    Meski ada riwayat lemah dari Paman Nabi, Abbas, yang menyebut Abu Thalib mengucapkan syahadat di akhir hayatnya, kemungkinan besar ia memilih menyembunyikan keislamannya. Sebab bila Abu Thalib menerima Islam secara terbuka, posisinya di kalangan Quraisy akan terancam, dan ia tidak akan bisa melindungi Rasulullah SAW sekuat sebelumnya. Pengorbanan, kesabaran, dan keberanian Abu Thalib dalam melindungi Rasulullah tetap dikenang dengan hormat dalam sejarah Islam.

    Karena tak mengakui keesaan Allah SWT hingga wafat, Abu Thalib termasuk ke dalam golongan kafir dan neraka merupakan tempat kembali baginya. Disebutkan dalam sebuah riwayat, Abu Thalib mendapat siksa yang paling ringan di neraka. Hal ini berkat syafaat Nabi Muhammad SAW.

    Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari, Al-Abbas bin Abdul Muththalib RA bertanya kepada Nabi SAW, “Apakah pertolonganmu (manfaat) bagi Abu Thalib yang telah mengasuh dan membelamu, bahkan ia marah karenamu?”

    Nabi SAW menjawab, “Ia kini berada di atas permukaan neraka, dan andaikan bukan karena aku niscaya ia berada di neraka paling bawah.” (HR Bukhari)

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Panglima Perang Islam yang Berhasil Taklukan Andalusia



    Jakarta

    Thariq bin Ziyad adalah salah satu panglima perang Islam yang paling tersohor pada masanya. Bahkan, namanya diabadikan sebagai nama selat yang memisahkan Maroko dan Spanyol (Selat Gibraltar dalam bahasa Spanyol).

    Mengutip buku Para Panglima Perang Islam susunan Rizem Aizid, Thariq termasuk panglima terkuat Islam. Ia berasal dari Kerajaan Umawiyah atau Bani Umayyah dan dikenal sebagai penakluk Andalusia.

    Nama lengkapnya adalah Thariq bin Abdullah bin Wanamu Az-Zanati. Ada juga yang menyebut namanya Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Wwalghu bin Warfajum bin Nabarghasan bin Walhas bin Yatufat bin Nafzaw.


    Thariq bin Ziyad lahir pada 50 H atau 670 M di Khenchela, Aljazair dari kabilah Nafzah. Pendapat lain mengatakan Thariq berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko. Ada juga yang menyebut Thariq keturunan Bani Hamdan di Persia hingga bangsa Vandals.

    Meski demikian, Thariq bin Ziyad bukan berasal dari Arab Saudi. Namanya dikenal sebagai panglima perang Islam pada masa Kekhalifahan Umayyah.

    Thariq bin Ziyad memimpin perang ekspansi ke Andalusia, Spanyol. Pada ekspansi itu, Thariq tampil sebagai pahlawan Islam yang sukses menaklukan Andalusia.

    Turut diceritakan dalam buku Peradaban Islam di Eropa dari Penaklukan Andalusia hingga Runtuhnya Kekhalifahan Umayyah oleh Ari Ghorir Atiq, penaklukan Andalus telah lama direncanakan dalam pemerintahan Islam. Musa bin Nushair lalu memerintahkan Thariq untuk berangkat ke Andalus.

    Pada 711 M, Thariq menjadi pemimpin dalam penaklukan atas wilayah Al-Andalus. Ia beserta pasukannya mendarat di gunung yang disebut Jabal Thariq.

    Sebelum peperangan bermula, Thariq memerintahkan pasukannya membakar kapal setelah pendaratan. Tujuannya agar tidak ada pilihan baginya dan pasukannya untuk mundur.

    Setelahnya, Thariq berpidato di depan bala tentaranya. Pidato itu membuat pasukannya semakin semangat dan menggebu-gebu untuk menaklukan Andalusia.

    Akhirnya, ia membagi para tentara menjadi beberapa kelompok dan menuju ke tempat yang telah ditentukan. Walau jumlah pasukannya kalah besar dengan musuh yang dihadapi, mereka yakin kemenangan berpihak pada mereka.

    Strategi yang ia gunakan untuk penaklukan Andalusia cukup menarik. Thariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok yaitu pasukan pemanah yang berada di garda depan, pasukan berkuda yang bertugas menggempur musuh dari sayap kiri, pasukan pejalan kaki yang menyebrang dari sayap kanan dan pasukan yang dipimpin oleh Thariq.

    Benar saja, peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Thariq dan Andalus berhasil ditaklukan. Thariq bin Ziyad menorehkan sejarah monumental yang belum pernah terjadi di tanah Andalus maupun negeri-negeri Maghribi atau lima negara di Afrika Utara.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Thalhah bin Ubaidillah, Perisai Nabi Hari Uhud yang Dijamin Masuk Surga


    Jakarta

    Ada banyak sahabat nabi yang bisa menjadi teladan bagi umat Islam. Salah satunya sosok Thalhah bin Ubaidillah RA. Ia dengan sigap menjadi perisai Rasulullah SAW dalam Perang Uhud.

    Dijelaskan dalam buku Manusia-manusia yang Dirindukan Surga karya As’ad Muhammad Thalhah RA memiliki nama lengkap Thalhah bin Abdillah bin Utsman bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ai bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin an-Nadlar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudlor.

    Thalhah RA termasuk sepuluh sahabat nabi yang pertama masuk Islam. Kisah keislamannya bermula dari pertemuannya dengan rahib.


    Kisah Thalhah bin Ubaidillah Masuk Islam

    Thalhah RA merupakan pemuda muslim yang cerdas, mempunyai kelebihan dalam berdagang hingga bisa mengalahkan pedagang-pedagang lainnya yang lebih dahulu terjun di dunia usaha.

    Pada suatu hari Thalhah RA dan rombongan dagangnya pergi ke Syam. Saat di Basrah, Thalhah RA menjumpai momen yang membuat hatinya penasan. Ketika ia sedang asyik berdagang, tiba-tiba ada seorang rahib berteriak-teriak, “Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari Kota Makkah?”

    “Ya, aku penduduk Makkah,” sahut Thalhah RA.

    “Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanya rahib tersebut.

    “Ahmad siapa?” tanya Thalhah RA.

    “Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, bulan ini pasti muncul sebagai nabi penutup para nabi. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. la akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaik- nya engkau segera menemuinya wahai anak muda,” kata rahib tersebut.

    Apa yang disampaikan oleh rahib tersebut sangat membekas di hati Thalhah RA. Tanpa berpikir panjang, ia segera meninggalkan Bashrah untuk kembali ke Makkah.

    Sesampainya di Makkah, ia segera mencari informasi kepada penduduk Makkah, “Apakah ada peristiwa penting ketika aku sedang pergi berniaga?”

    “Iya, Muhammad bin Abdillah telah memproklamirkan diri sebagai nabi, dan ia telah diikuti oleh Abu Bakar,” kata penduduk Makkah.

    Mendengar jawaban tersebut, Thalhah RA segera mencari Abu Bakar RA lalu bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah mengikuti pemuda ini (Muhammad) wahai Abu Bakar?”

    “Iya,” jawab Abu Bakar RA.

    Setelah mendengar jawaban dari Abu Bakar RA tersebut, Thalhah RA segera mencari Nabi Muhammad SAW, lalu mengikuti beliau memeluk Islam.

    Keluarganya dan orang-orang satu sukunya berusaha membujuk Thalhah RA untuk meninggalkan Islam dan kembali ke agama sebelumnya. Pada awalnya, mereka hanya mencoba dengan bujuk rayu, tetapi karena pendirian Thalhah RA sangat kuat, mereka akhirnya menggunakan kekerasan.

    Siksaan demi siksaan mulai menimpa tubuh pemuda itu. Sekelompok pemuda menggiringnya dengan tangan terbelenggu di leher, sementara orang-orang berlari sambil mendorong, mencambuk, dan memukuli kepalanya.

    Naufal bin Khuwailid menyeret Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan Thalhah bin Ubaidillah RA, kemudian mengikat keduanya menjadi satu. Karena peristiwa ini, Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan Thalhah bin Ubaidillah RA diberi gelar al-Qarinain, yang berarti sepasang sahabat yang mulia.

    Thalhah bin Ubaidillah dalam Perang Uhud

    Thalhah RA dikenal sebagai sosok perisai Rasulullah SAW saat Perang Uhud berkecamuk. Diceritakan dalam ar-Rahiqul Makhtum Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri yang diterjemahkan Abu Ahsan, Thalhah RA menjadikan dirinya pagar di depan Rasulullah SAW dan membusungkan dadanya untuk menjaga beliau dari panah-panah musuh.

    Anas berkata, “Ketika Perang Uhud terjadi orang-orang menjauhi Rasulullah SAW. Abu Thalhah berdiri di depan beliau untuk melindunginya dengan perisai kulitnya, ia adalah seorang pemanah yang sangat lihai.”

    Keteladanan Thalhah bin Ubaidillah

    Sosok Thalhah RA bisa menjadi teladan bagi umat Islam. Mengutip buku 10 Sahabat Rasul Penghuni Surga karya Ariany Syurfah, kepandaian Thalhah RA dalam berdagang membuatnya kaya, tetapi kekayaannya justru menjadikannya semakin rajin bersedekah. Ia sering membagikan hartanya hingga habis tidak tersisa.

    Atas kedermawanannya itu, Thalhah RA mempunyai banyak julukan. Di antaranya Thalhah al-Khair (Thalhah yang baik), Thalhah al-Fayyadh (Thalhah yang murah hati), dan Thalhah al-Jud (Thalhah yang dermawan). Rasulullah SAW juga mengabarkan bahwa Thalhah bin Ubaidillah RA termasuk sahabat yang dijamin masuk surga.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Nabi Isa Salat Berjamaah Bersama Imam Mahdi


    Jakarta

    Menjelang datangnya hari kiamat, Nabi Isa AS akan turun dari langit untuk menyelesaikan misinya di bumi. Disebutkan pula dalam beberapa hadits, Nabi Isa AS akan salat berjamaah bersama Imam Mahdi. Ia sebagai makmum.

    Menurut penjelasan dalam buku Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat sejak Adam A.S Hingga Muhammad SAW karya Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams, Nabi Isa AS akan mengenakan pakaian dua lapis berwarna merah ketika turun ke bumi.

    Sebagaimana yang diterangkan pada sebuah hadits berikut. Rasulullah SAW bersabda,


    “Tidak ada seorang Nabi pun antara aku dan Isa AS. Sesungguhnya, ia benar-benar akan turun dari langit. Ketika kamu melihatnya, ketahuilah bahwa ia adalah seorang pria dengan tubuh berperawakan sedang dan kulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun mengenakan dua lapis pakaian yang dicelup berwarna merah, dan kepalanya terlihat seperti meneteskan air meskipun sebenarnya tidak basah.” (HR Abu Dawud)

    Nabi Isa AS Jadi Makmum Imam Mahdi

    Masih merujuk buku yang sama, turunnya Nabi Isa AS ke bumi untuk menyerukan manusia agar mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa hal pertama yang dilakukan Nabi Isa AS setelah turun dari langit ialah menunaikan salat.

    Nabi Isa AS akan melaksanakan salat yang dipimpin oleh Imam Mahdi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits-hadits berikut.

    Rasulullah SAW bersabda, “Sekelompok dari umatku akan terus berperang demi kebenaran secara terang-terangan hingga hari kiamat. Saat Isa Ibn Maryam turun, pemimpin mereka (Al Mahdi) akan berkata, ‘Datanglah dan pimpinlah salat kami.’ Namun, Isa akan menjawab, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai kehormatan yang diberikan Allah kepada umat ini (umat Islam)’.” (HR Muslim dan Ahmad)

    Lalu, diterangkan dalam hadits serupa yang berbunyi,

    “Tiba-tiba Isa AS sudah berada di antara mereka dan panggilan salat dikumandangkan. Kemudian, seseorang berkata kepadanya, ‘Majulah dan pimpinlah salat, wahai ruh Allah.’ Isa menjawab, ‘Biarlah pemimpin kalian yang maju dan mengimami salat’.” (HR Muslim & Ahmad)

    Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa Nabi Isa AS menolak menjadi imam salat dan mempersilahkan Imam Mahdi memimpin salat karena kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadanya.

    Misi Nabi Isa AS di Bumi

    Ustaz Khalillurrahman El-Mahfani dalam buku Kemunculan Dajjal & Imam Mahdi Semakin Dekat menjelaskan bahwa misi Nabi Isa AS turun ke bumi ialah untuk membunuh Dajjal dan menumpas Ya’juj dan Ma’juj.

    Setelah misi tersebut tuntas, Nabi Isa AS akan tetap tinggal di bumi selama empat puluh tahun. Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah berikut,

    Rasulullah SAW bersabda, “Para nabi bersaudara karena beberapa alasan. Agama mereka sama, tetapi ibu mereka berbeda-beda. Aku adalah orang yang lebih berhak bersaudara dengan Isa bin Maryam karena tidak ada nabi di antara aku dan ia, dan ia akan turun. Jika kalian melihatnya, kenalilah bahwa ia memiliki tubuh sedang, kulitnya kemerah-merahan, berambut lurus, seolah-olah kepalanya meneteskan air meskipun tidak basah, dan mengenakan pakaian berwarna kekuning-kuningan. Ia akan menghancurkan salib, memusnahkan babi, menghapuskan pajak, dan mengajak orang-orang masuk dalam agama Islam.

    Pada zaman Isa, Allah akan menghapuskan semua agama selain Islam. Ia juga akan membunuh Al-Masih Dajjal. Dunia akan menjadi aman dan tenteram sehingga unta bisa hidup berdampingan dengan singa, harimau dengan sapi, serigala dengan domba, dan anak-anak bisa bermain dengan ular tanpa bahaya. Isa akan tinggal di bumi selama empat puluh tahun sebelum meninggal, dan umat muslim akan menyalati jenazahnya.” (HR Ahmad dalam musnadnya)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Masuk Islamnya Sa’ad bin Abi Waqqash yang Sempat Ditentang sang Ibu



    Jakarta

    Sa’ad bin Abi Waqqash adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk termasuk Assabiqunal Awwalun atau sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Sosoknya dikenal sebagai pemanah handal.

    Mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga tulisan Abu Zaein, Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam pada usia 17 tahun. Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash Wuhaib bin Abdi Manaf.

    Sa’ad hidup di bani Zuhrah yang merupakan paman-paman Nabi Muhammad SAW dari pihak ibu. Allah SWT menganugerahi Sa’ad dengan kesempurnaan jasmani, posturnya kokoh, ototnya keras, cengkeramannya kuat, matanya tajam dan jiwanya berani.


    Menurut buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Luthfi Yansyah, ciri fisik Sa’ad digambarnya mirip dengan Ali bin Abi Thalib. Putri Sa’ad yang bernama Aisyah berkata,

    “Ayahku adalah seorang laki-laki pendek, kekar, mempunyai tubuh yang keras dan kuat dengan otot yang besar. Ia memiliki kepala yang besar, jari-jari yang besar dan pendek, dan memiliki banyak bulu.”

    Ada kisah menarik mengenai Sa’ad bin Abi Waqqash saat dirinya memutuskan untuk masuk Islam. Menukil dari Nafahat ‘Athirah fi Sirah Shahabath Rasulullah SAW oleh Muhammad Raji Hasan Kinas terjemahan Nurhasan Humaedi dkk, sang ibu menentang Sa’ad ketika masuk Islam.

    Ibu Sa’ad bersumpah tidak akan makan, minum atau berbicara dengannya sampai putranya itu kembali ke agama leluhur mereka. Walau demikian, Sa’ad tidak menuruti sang ibu.

    Meski ibunya sakit, Sa’ad tetap berpegang teguh pada keputusannya untuk masuk Islam. Ia tetap merawat dan menjaga sang ibu selayaknya anak yang berbakti.

    Semua ia lakukan dengan baik walaupun ibunya terus menentang Sa’ad yang masuk Islam. Melalui kelembutan yang Sa’ad berikan, ibu Sa’ad akhirnya mengalah.

    Allah SWT menjadikan Sa’ad orang yang menyebabkan turunnya surah Luqman ayat 15. Allah SWT berfirman,

    وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

    Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Sahabat Nabi SAW yang Dijuluki Kepercayaan Umat



    Jakarta

    Abu Ubaidah bin al-Jarrah namanya. Sahabat Nabi Muhammad SAW yang satu ini dikenal dengan pribadinya yang cerdas dan pemalu.

    Mengutip dari 99 Kisah Menakjubkan di Alquran oleh Ridwan Abqary, Abu Ubaidah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Dirinya merupakan sosok yang baik hati, taat beribadah, serta rendah hati.

    Abu Ubaidah berasal dari suku Quraisy keturunan Fihir. Karena keberaniannya itu, ia tidak pernah tertinggal saat umat Islam dan kafir Quraisy berperang.


    Abu Ubaidah terus membela umat Islam dengan gagah untuk menjunjung kebenaran. Ia menjadi orang pertama yang digelari Amirul Umara yang artinya Perdana Menteri.

    Dikisahkan dalam buku Ensiklopedia Biografis Sahabat Nabi susunan Muhammad Raji Hasan Kinas, Abu Ubaidah menjadi orang yang berdiri tegap di barisan Nabi Muhammad SAW saat Perang Badar berlangsung. Sementara itu, sang ayah yang bernama Abdullah bin Al Jarrah berada di barisan pasukan musyrikin.

    Meski demikian, Abu Ubaidah terus menghindari sang ayah saat peperangan berlangsung. Sayangnya, ia ditakdirkan berhadapan dengan ayahnya sendiri dan harus mengalahkannya.

    Sosoknya yang berani ini juga terlihat saat dirinya mengikuti Perang Uhud. Abu Ubaidah menolong Rasulullah SAW yang terkena serpihan besi akibat lemparan musuh.

    Dengan gagah, Abu Ubaidah mencabut serpihan besi itu dengan giginya. Ini menyebabkan kedua giginya tanggal. Setelah kejadian ini, Abu Ubaidah digelari Amin al-Ummah yang berarti kepercayaan umat oleh Nabi Muhammad SAW.

    Julukan lainnya yang diperoleh Abu Ubaidah adalah al-Qawiy al-Amin yang artinya yang kuat yang terpercaya. Gelar tersebut ia dapatkan karena mengikuti seluruh peperangan bersama sang rasul.

    Abu Ubaidah juga sering ditunjuk sebagai pemimpin. Diceritakan oleh Urwah bin Az Zubair RA, ketika Perang Dzatus Salasil, Nabi Muhammad SAW mengangkat Amr bin Ash sebagai komandan pasukan.

    Pasukan tersebut memasuki Syam dari arah Bala. Sementara itu, satu pasukan lainnya menyusul dari arah Qudha’ah. Melihat jumlah musuh yang sangat banyak membuat Amr bin Ash mengirim utusan menghadap Rasulullah SAW untuk meminta bantuan.

    Mendengar hal itu, Nabi SAW lalu mengirim pasukan yang terdiri dari orang-orang Muhajirin. Di antara pasukan tersebut, sang rasul menunjuk Abu Ubadiah sebagai komandan.

    Ketika pasukan Abu Ubadiah bertemu pasukan Amr, maka Amr bin Ash berkata,

    “Aku adalah komandan karena aku yang meminta pasukan tambahan kepada Rasulullah SAW,”

    Mendengar hal itu, orang-orang Muhajirin tidak setuju. Mereka lalu berkata,

    “Bolehlah engkau menjadi komandan pasukanmu, tapi Abu Ubaidah tetap menjadi komandan pasukan Muhajirin,”

    Amr lalu membantah, “Kalian adalah bala bantuan yang kuminta,”

    Di tengah ketegangan itu, Abu Ubaidah menenghi mereka seraya berkata,

    “Wahai Amr, harap engkau ketahui bahwa Rasulullah SAW berpesan kepadaku, ‘Jika engkau sudah bertemu rekanmu, hendaklah kalian saling mematuhi.’ Kalau memang engkau tidak mau patuh padaku, akulah yang akan patuh kepadamu,”

    Selanjutnya, Abu Ubaidah menyerahkan kepemimpinan kepada Amr bin Ash. Sosok Abu Ubaidah yang lembut itu menandakan dirinya bijak dan tidak egois.

    Abu Ubaidah wafat karena sakit kolera. Diterangkan dalam buku 125 Sahabat Nabi Muhammad oleh Mahmudah Mastur, ketika terjadi penaklukan negeri Syam, Abu Ubaidah juga ditujuk sebagai pemimpin.

    Di sana, ia menetap cukup lama sebelum akhirnya wabah kolera merebak. Umar bin Khattab memerintahkannya untuk segera keluar dari sana, tapi Abu Ubaidah mengirim surat kepada Umar yang berisi:

    “Wahai Umar, aku tidak ingin memikirkan diriku sendiri, sementara banyak orang lain yang tertimpa penyakit. Aku tidak ingin meninggalkan mereka sampai Allah putuskan perkara ini,”

    Umar bin Khattab menangis membaca surat dari Abu Ubaidah. Setelahnya, ia meninggal dunia akibat kolera yang dideritanya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Masa Kecil dan Remaja hingga Wafat


    Jakarta

    Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Rasulullah yang namanya sangat masyhur. Sejak kecil, Umar mempunyai tubuh tinggi besar dan watak yang keras.

    Umar lahir dari suku Quraisy, sehingga pada awalnya ia sangat membenci dan menentang agama baru yang diajarkan Rasulullah SAW. Pada suatu ketika, Umar juga sempat berniat untuk membunuh Rasulullah SAW karena geram.

    Namun, masuknya Umar di agama Islam memberikan dampak yang begitu besar bagi perkembangan umat Islam selanjutnya. Komitmen Umar yang begitu teguh dan tulus untuk mengkokohkan tiang-tiang agama Islam ini pernah ia sampaikan ke Rasulullah SAW.


    Masa Kecil dan Remaja Umar bin Khattab

    Menurut buku Fashlu al-Khathab fii Siirat ibnu al-Khathab ‘Umar bin al-Khathab karya Ali Muhammad Ash-Shalabi yang diterjemahkan Khoirul Amru Harahap dan Akhmad Faozan, Umar bin Khattab lahir pada tahun 13 setelah tahun Gajah. Ia adalah putra Al-Khathab bin Nufail. Kakek Umar, Nufail bin Abd Al-‘Uzza adalah seorang hakim kaum Quraisy.

    Kaum keluarga Umar sangat disegani karena selalu bertindak sebagai juru damai jika terjadi sengketa. Pengaruh mereka terhadap suku-suku lain sangat besar, maka tidak mengherankan jika dalam perundingan mereka tampil sebagai pembuat keputusan yang adil.

    Merangkum buku Umar bin Khattab karya K. Usman, Umar memiliki tubuh yang besar, kelar dan kuat, tubuhnya bongsor meskipun masih kecil. Umar terkenal paling berani di antara anak-anak kecil lainnya.

    Meskipun bermain di antara anak bangsawan kaya raya suku Quraisy, Umar tidak iri hati. Sebab, ia memiliki hal yang dapat dibanggakan yaitu, otak yang cerdas, berani, tegas, pandai bercerita dan memiliki tubuh yang bongsor.

    Saat remaja, Umar sering disebut ‘si garang’ oleh teman-teman sebayanya. Bila bepergian, ia membawa pedang yang digantungkan di bahu kirinya yang bidang.

    Sewaktu Umar remaja, sudah memasuki tahun ke-6 kenabian Rasulullah SAW. Ia adalah salah seorang yang menentang agama baru yang dibawa dan diajarkan Rasulullah SAW.

    Umar sangat geram pada Rasulullah SAW, sebab agama baru yang diajarkan Rasulullah SAW telah memecah belah kesatuan suku Quraisy. Umar sempat membentak dan memaki Lubainah, budak yang ada di rumahnya saat mengetahui Lubainah telah memeluk Islam.

    Kisah Keislaman Umar bin Khattab

    Meski sosok Umar memiliki watak yang keras, tubuh yang tinggi dan besar sehingga nampak kasar, namun pada nurani terdalamnya sosok Umar adalah manusia yang penuh dengan kasih sayang. Hal ini dapat terlihat dalam kisah proses Umar merasakan cahaya keislaman.

    Merangkum buku Jejak Langkah Umar bin Khattab oleh Abdul Rohim, suatu hari, Umar hendak pergi untuk membunuh Rasulullah SAW. Tapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah yang menasehati Umar untuk mengurungkan niatnya.

    Nu’aim dan Umar saling berpendapat dengan keras dan nada yang semakin meninggi. Ketika Nu’aim melihat bahwa emosi Umar belum berakhir, ia memberitahukan kalau Fatimah, adiknya Umar dan suaminya Fatimah telah memeluk Islam. Saat Umar mendengar bahwa adik perempuannya dan suaminya telah memeluk Islam, dia menjadi sangat marah dan langsung mendatangi mereka.

    Singkat cerita, saat tiba di rumah Fatimah dan suaminya, Umar mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dan melihat mereka memegang kitab Al-Qur’an. Bacaan tersebut membuat hatinya luluh dan memutuskan bertemu dengan Rasulullah SAW untuk menyatakan ingin memeluk Islam.

    Jasa-Jasa Umar bin Khattab sebagai Khalifah

    Salah satu dari banyak jasa yang dilakukan Umar bin Khattab sebagai khalifah yakni penetapan kalender Hijriah. Sebelum meninggal, Abu Bakar Ash-Shiddiq menulis wasiat bahwa ia menyerahkan wewenang kekhalifahan kepada Umar bin Khattab.

    Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas X karya Abu Achmadi dan Sungarso, Umar bin Khattab RA dipilih karena memiliki akhlak dan akidah yang sangat baik. Selain itu, ia selalu menjadi penasihat bagi Khalifah Abu Bakar RA selama memimpin umat Islam.

    Akhirnya, setelah Abu Bakar wafat, Umar langsung dibaiat untuk dikukuhkan menjadi khalifah umat Islam. Selama menjabat sebagai khalifah, Umar dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.

    Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas VII karya Fida’ Abdilah dan Yusak Burhanudin, dijelaskan bahwa Umar menyumbang banyak sekali jasa kepada umat Islam dan pemerintahannya. Berikut jasa-jasa Umar bin Khattab:

    • Perluasan wilayah Islam.
    • Perbaikan sistem pemerintahan.
    • Penetapan kalender Hijriyah.
    • Menjaga Al-Qur’an.
    • Salat tarawih 20 rakaat pertama.

    Wafatnya Umar bin Khattab

    Menukil dari buku Kisah Hidup Umar bin Khattab oleh Mustafa Murrad, wafatnya Umar bin Khattab disebabkan karena dendam pribadi seorang budak yang fanatik yaitu Abu Lukluk Fairuz. Umar bin Khattab meninggal dunia setelah diserang oleh Abu Lukluk saat sedang memimpin salat Subuh pada Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H. Ada yang berpendapat tanggal 4 atau 3 Dzulhijjah tahun 23 H.

    Abu Lukluk adalah seorang Persia yang memeluk Islam setelah wilayah Persia ditaklukkan oleh Umar bin Khattab dalam upaya perluasan wilayah Islam. Pembunuhan tersebut dipicu oleh rasa sakit hati Abu Lukluk atas kekalahan Persia, negara adidaya pada saat itu.

    Sementara, Afdhal dkk dalam bukunya yang berjudul Sejarah Peradaban Islam mengatakan, sebelum Abu Lukluk melancarkan aksinya, terdapat penyebaran konspirasi yang dirancang oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Persia. Menurut berbagai sumber, Umar bin Khattab ditusuk dengan belati beracun.

    Dalam Tarikh Abu Zur’ah terdapat riwayat dari Jarir Al-Bajali dari Mu’awiyahdan dia berkata, “Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun, Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, dan Umar dibunuh pada usia 63 tahun.”

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketika Nabi Ibrahim Berdebat dengan Kaumnya Soal Tuhan yang Harus Disembah



    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS merupakan satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui kaum muslimin. Sebagai utusan Allah SWT, banyak pelajaran dan hikmah dari kisah hidupnya selama menjadi nabi dan rasul.

    Menurut Qashash al-Anbiyaa oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Saefullah MS, nama lengkap Nabi Ibrahim AS adalah Ibrahim bin Tarikh. Ia merupakan keturunan dari keluarga Nahur, Shrug, Raghu, Faligh, ‘Abir, Syalih, Arfakhsyadz, Sam, dan Nuh.

    Nabi Ibrahim AS juga disebut sebagai rasul ulul azmi yang mana gelar ini diberikan bagi rasul Allah SWT yang kedudukannya tinggi. Selain itu, ia juga dijuluki Abun Anbiya yang artinya ayahanda para nabi.


    Ada kisah menarik terkait Nabi Ibrahim AS yang dikisahkan dalam surah Al An’Am ayat 75-83. Ini mengenai Ibrahim AS yang berdebat dengan kaumnya terkait Tuhan yang berhak disembah.

    Allah SWT berfirman,

    “Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

    Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”

    Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

    Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

    Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”

    Bagaimana mungkin aku takut kepada yang kamu sekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut menyekutukan sesuatu dengan Allah yang Dia (sendiri) tidak pernah menurunkan kepadamu alasan apa pun. Maka, golongan yang manakah dari keduanya yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka) jika kamu mengetahui?”

    Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.

    Itulah keterangan yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS Al An’am: 75-83)

    Ibnu Katsir menafsirkan, dialog di atas dalam surah Al An’am merupakan sanggahan yang Nabi Ibrahim AS ajukan kepada kaumnya terkait keyakinan mereka yang menyembah benda-benda langit seperti bintang. Ibrahim AS menjelaskan bahwa benda-benda tersebut tidak layak dijadikan Tuhan karena mereka makhluk ciptaan Allah SWT.

    Benda-benda langit itu bisa muncul dan tenggelam serta lenyap dari alam ini. Sementara Tuhan yang Maha Esa kekal dan abadi, tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Allah SWT.

    Nabi Ibrahim AS mengatakan kepada kaumnya bahwa bintang-bintang tersebut tidak mungkin dijadikan Tuhan. Ada yang menyebut bintang yang dimaksud adalah Lucifer atau Bintang Fajar.

    Lebih lanjut Ibrahim AS juga menerangkan tentang bulan yang bercahaya lebih besar daripada bintang. Penjelasan ia tingkatkan lagi pada matahari yang bersinar paling terang di antara benda langit lain.

    Nabi Ibrahim AS menjelaskan seluruh benda langit itu tunduk, digerakkan, dan dikuasai berdasarkan kehendak Tuhan sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Fushilat ayat 37.

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika hanya Dia yang pantas untuk disembah.” (QS Fushshilat: 37)

    Dalam surah Al An’am ayat 78-80, Allah SWT berfirman:

    “Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

    Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

    Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (QS. Al-An’am: 78-80)

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, melalui ayat tersebut Nabi Ibrahim AS menyampaikan bahwa ia tidak peduli tuhan-tuhan yang kaumnya sembah kecuali Allah SWT. Ia mengatakan semua tuhan yang kaumnya sembah tidak memiliki manfaat, tidak dapat mendengar, dan tidak memiliki akal. Mereka hanyalah benda-benda yang diatur dan dikendalikan oleh Tuhan layaknya seperti bintang dan benda langit lainnya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Perjalanan Hijrah Nabi SAW, Sembunyi di Gua Tsur Bersama Abu Bakar



    Jakarta

    Perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah penuh rintangan. Beliau kala itu sampai bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kejaran kaum kafir Quraisy.

    Diceritakan dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 1 susunan Moenawar Khalil, banyak tantangan yang dilalui Rasulullah SAW saat berdakwah di Makkah. Kaum kafir Quraisy tak segan mengusir umat Islam dari kota tersebut dengan harapan Rasulullah SAW berubah pikiran.

    Dalam buku Kisah Teladan dan Inspiratif 25 Nabi & Rasul oleh Anita Sari dkk, dikisahkan bahwa suatu ketika kondisi di Makkah dirasa sudah tidak aman bagi umat Islam. Rasulullah SAW lalu memerintahkan kaum muslim berhijrah ke Madinah. Mulanya, beliau berangkat secara diam-diam ditemani oleh Abu Bakar RA.


    Dalam perjalanannya ini, beliau bersembunyi di dalam Gua Tsur dari kejaran kaum kafir Quraisy. Atas izin Allah, muncul laba-laba dan burung merpati di gua tersebut.

    Ribuan laba-laba secara tiba-tiba membuat sarang di muka Gua Tsur. Begitu pula dengan burung merpati liar yang bersarang dan bertelur di gua tersebut.

    Kondisi Gua Tsur yang seperti itu menyebabkan kafir Quraisy yang mengejar Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar mengurungkan niat untuk masuk ke Gua Tsur. Meski jejak kaki sang rasul dan sahabatnya berhenti di depan gua tersebut, mereka beranggapan jika keduanya berada di dalam seharusnya sarang laba-laba hancur dan telur-telur merpati pecah.

    Salah seorang kafir Quraisy berkata, “Kita perlu mencoba masuk bersama-sama, coba marilah!”

    Seseorang bernama Ummayah bin Khalaf membalas, “Mengapa kamu hendak masuk ke dalamnya? Kalau Muhammad telah masuk, tentu sarang laba-laba itu telah luluh bukan? Ya, kalau di dalam gua itu tidak ada binatang liar dan buas atau ular berbisa. Kalau ada, tentu akan mencelakakan kamu bukan?”

    Mendengar itu, kaum kafir Quraisy mengurungkan niat untuk masuk ke Gua Tsur. Abu Bakar lalu mengangkat kepalanya ke atas gua dan berkata, “Oh, jika mereka melihat kakinya ke bawah atau menundukkan kepalanya ke bawah, tentu dengan segera melihat kita ada di sini bukan?”

    Rasulullah SAW pun berkata, “Janganlah engkau menyangka bahwa aku ini sendirian bersama engkau, tetapi sesungguhnya Allah selalu bersama kita, selamanya Ia akan melindungi kita. Adapun jika mereka nanti masuk ke dalam gua ini dengan jalan melalui pintu gua itu, nanti kita melepaskan diri melalui ini (Nabi menunjukkan jarinya ke sebelah belakang).”

    Allah SWT berfirman dalam surah At Taubah ayat 40,

    إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,”

    Dengan kuasa Allah SWT, ketika Abu Bakar menoleh ke belakang terlihat pintu lebar di belakang gua yang dapat digunakan untuk melarikan diri. Padahal, sebelumnya gua itu tidak berpintu.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com