Blog

  • Detik-detik Terbunuhnya Utsman bin Affan saat Baca Al-Qur’an



    Jakarta

    Utsman bin Affan merupakan salah satu dari 4 sahabat Rasulullah SAW yang dijuluki Khulafaur Rasyidin. Meninggal dalam keadaan syahid kala menghadapi orang-orang Islam Munafik. Di bawah ini kisah Utsman bin Affan terbunuh di rumahnya.

    Mengutip buku Biografi Utsman bin Affan karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, menjelaskan biografi lengkap Utsman bin Affan.

    Utsman bin Affan bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf. Sedang ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay.


    Utsman bin Affan mendapatkan gelar Dzunnurain (Pemilik dua cahaya), dan semasa hidupnya beliau mempunyai nama panggilan Abu ‘Amru. Kemudian, ketika Utsman bin Affan mempunyai anak dari Ruqayah binti Rasulullah yang diberi nama Abdullah, maka Utsman pun dipanggil Abu Abdillah.

    Kisah Terbunuhnya Utsman bin Affan

    Penulis M. Syaikuhudin dalam buku Sahabat Rasulullah Utsman bin Affan, mengisahkan kejadian terbunuhnya Utsman bin Affan di rumahnya ketika mengaji bersama istrinya.

    Kisah bermula ketika Muhammad bin Abu Bakar As-Siddiq merencanakan pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan. Sedangkan yang melaksanakan pembunuhannya adalah Aswadan bin Hamrab, Al Ghafiki, dan Sudan bin Hamram.

    Malam itu, ketika Muhammad bin Abu Bakar bersama kedua temannya memanjat dinding belakang rumah Khalifah Utsman bin Affan. Saat Khalifah sedang membaca Al-Qur’an yang ditemani oleh istrinya bernama Na’ilah.

    Sesudah berhasil menyusup masuk ke kamar Khalifah, mereka segera menyergap Utsman bin Affan. Muhammad bin Abu Bakar memulai pertama dengan memegang janggut Khalifah sambil berkata, “Hah Na’sal, Allah telah menghinamu.”

    Utsman sempat membalas omongannya, “Saya bukan Na’sal, tetapi saya hamba Allah Amirul Mu’minin.”

    Muhammad bin Abu Bakar tetap saja merenggut janggut Utsman bin Affan sambil berkata, “Muawiyah tidak akan dapat menolong anda, begitu juga Abdullah bin Amir dan surat-suratmu itu!”

    Utsman bin Affan pun berkata, “Lepaskanlah janggut ku. Ayahmu pun tidak akan memperlakukan aku, seperti yang kamu lakukan ini. Kalau ayahmu melihat perbuatanmu, ia pun tidak akan setuju.”

    Muhammad bin Abu Bakar menjawab: “Saya tidak ingin menggenggam janggutmu lebih keras lagi.”

    Utsman menjawab dengan sabar dan tabah: “Atas perbuatanmu ini saya meminta pertolongan Allah dan kepada- Nya aku berlindung.”

    Mendengar ucapan Utsman, hati Muhammad bin Abu Bakar terharu, cair, dan luluh. Tanpa disadari, tangan yang sedang memegang erat janggut memutih itu mengendor perlahan-lahan dan lepaslah. Tetapi malang, dua orang teman Muhammad yang turut masuk menyerbu tidak dapat menguasai hatinya masing-masing.

    Kemudian salah satu dari mereka mengangkat anak panah dan menghunjamkannya ke pangkal telinga Utsman sampai tembus ke tenggorokan, lalu menghantamnya dengan pedang.

    Utsman bermaksud hendak menangkis pedang itu dengan tangannya sampai tangannya putus. Begitu juga dengan istrinya Na’ilah, jarinya terputus ketika ia menelungkup kepada suaminya hendak mengambil pedang itu dengan tangannya.

    Kemudian, Utsman dihantam pada bagian rusuknya sehingga ia jatuh tersungkur. Seketika itu juga Utsman gugur. Na’ilah yang menyaksikan peristiwa itu berteriak dan menjerit-jerit histeris bersamaan dengan melesatnya tiga orang pemuda itu lari melompat jendela.

    Na’ilah terus-menerus menjerit: “Amirul Mukminin terbunuh! Amirul Mukminin terbunuh!”

    Segera setelah mendengar berita tentang terbunuhnya Khalifah Utsman, Ali bin Abi Thalib masuk menuju ke kamar Utsman. Duka hatinya yang mendalam terpancar terang sekali

    Peristiwa pembunuhan Utsman tersebut terjadi pada tanggal 18 bulan Zulhijah, tahun 35 Hijriyah, yaitu waktu Khalifah Utsman genap berusia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. la dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

    Alasan Munculnya Kudeta Terhadap Pemerintahan Utsman bin Affan

    Mengutip buku Kitab Sejarah Lengkap Khulafaur Rasyidin karya Ibnu Katsir, dijelaskan mengenai seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang menjadi sebab kudeta terjadi.

    Abdullah bin Saba berpura-pura masuk Islam dan pergi ke daerah Mesir, untuk menyebarkan pemikiran dan propaganda nya sendiri kepada masyarakat disana.

    Ia mengatakan, “Bukankah Isa bin Maryam akan kembali ke dunia?”

    Jawab orang itu, “Ya!”

    Ia berkata lagi, “Rasulullah SAW lebih baik dari Isa. Apakah kamu mengingkari bahwa beliau akan kembali ke dunia, sementara beliau lebih mulia daripada Isa bin Maryam?”

    Kemudian ia berkata, “Beliau telah memberikan wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib. Muhammad Nabi terakhir dan Ali penerima wasiat yang terakhir.”

    Lanjutnya, “Berarti Ali lebih berhak untuk menjabat sebagai khalifah daripada Utsman bin Affan dan Utsman telah merampas hak yang bukan miliknya.”Maka, mulailah orang-orang mengingkari kepemimpinan Utsman bin Affan.

    Demikianlah sejarahnya, Khalifah Utsman bin Affan syahid di rumahnya ketika sedang membaca Al-Qur’an bersama istri tercinta. Beliau pun dikuburkan di kota yang sama dengan tempat tinggalnya, yakni kota Madinah.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sejak Kapan Nabi Muhammad Diangkat Menjadi Rasul?


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang penting dalam ajaran agama Islam yang juga memiliki perjalanan hidup yang penuh makna. Salah satu momen paling krusial dalam sejarah Islam adalah ketika beliau diangkat menjadi Rasul.

    Peristiwa agung ini menjadi titik balik bagi umat manusia, membawa ajaran-ajaran Islam yang membawa kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam. Lantas, sejak kapan tepatnya Nabi Muhammad SAW menerima panggilan suci untuk menjadi utusan Allah SWT?

    Nabi Muhammad Diangkat Menjadi Rasul

    Dalam buku karya Ajen Dianawati berjudul Kisah Nabi Muhammad SAW, diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 Masehi. Pada momen tersebut, beliau mendapatkan wahyu pertamanya dari malaikat Jibril saat berada di Gua Hira.


    Nabi Muhammad SAW ditunjuk sebagai rasul saat menerima wahyu pertama, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5, di Gua Hira. Menjelang usia 40 tahun, beliau mulai sering menyendiri di gua tersebut, yang terletak di Jabal Nur, karena merasa banyak masyarakatnya saat itu yang bertentangan dengan nilai kebenaran.

    Selama mengasingkan diri, Nabi Muhammad SAW membawa persediaan air dan roti gandum, dan berdiam di gua berukuran kecil tersebut yang panjangnya 4 hasta dan lebarnya sekitar 1,75 hasta.

    Di bulan Ramadhan, beliau menggunakan waktu tersebut untuk beribadah dan merenung tentang keagungan ciptaan Allah. Serta ketidaksesuaian kehidupan sosial sekitarnya yang masih dipenuhi dengan praktik syirik.

    Selama periode ini, beliau merasakan kebutuhan akan petunjuk lebih lanjut dalam menghadapi situasi tersebut tanpa mengetahui cara yang benar memiliki untuk mengubah keadaan.

    Turunnya Wahyu Pertama

    Moenawar Khalil dalam bukunya berjudul Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, menjelaskan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yang menjadi penanda awal kenabian dan kerasulannya, didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.

    Aisyah RA berkata, “Yang pertama sekali apa (wahyu) yang dimuliakan pada Rasulullah SAW itu adalah impian yang baik dalam tidur. Beliau tidak melihat impian itu melainkan terang cuaca datang seperti terang cuacanya waktu subuh. Kemudian kepada beliau rasa amat suka bersembunyi (menyendiri) dan beliau juga menyendiri di Gua Hira maka beliau ber-tahannuts di dalamnya, yaitu beribadah dalam beberapa malam yang berbilangan sebelum beliau kembali pulang kepada ahli keluarganya, dan bersedia untuk yang demikian itu kemudian beliau kembali kepada Khadijah lalu mengambil perbekalan yang seperti itu sehingga datanglah Haq (kebenaran), sedang beliau ada di Gua Hira. Maka datanglah malaikat kepada beliau lalu berkata, ‘Bacalah!’

    Beliau berkata, “Aku bukan pembaca.”

    Lalu Jibril memegang beliau, lantas memeluknya dengan sekeras-kerasnya sampai payahlah beliau, lalu Jibril melepaskan beliau lantas berkata, “Bacalah!”

    Beliau berkata, “Aku bukan pembaca.”

    Lalu jibril memegang beliau lantas memeluknya yang kedua kalinya sampai merasa payahlah beliau, lalu melepaskan beliau lantas berkata, “Bacalah!”

    Maka beliau berkata, “Aku bukan pembaca.”

    Lalu Jibril memegang beliau lantas memeluk beliau dengan sekeras-kerasnya, kemudian melepaskan beliau lalu berkata, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari darah yang beku! Bacalah olehmu dan Tuhanmu Maha Mulia yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia tentang barang yang ia belum mengetahui.”

    Wahyu Pertama Nabi Muhammad

    Menurut buku Kisah Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Ajen Dianawati, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad sebagai tanda kenabiannya adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Berikut ini adalah bunyi wahyu pertama Rasullah SAW:

    اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥

    iqra` bismi rabbikalladzi khalaq, khalaqal-insana min ‘alaq, iqra` wa rabbukal-akram, alladzi ‘allama bil-qalam, ‘allamal-insana maa lam ya’lam

    Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al ‘Alaq: 1-5)

    Setelah wahyu pertama tersebut, wahyu-wahyu berikutnya diturunkan secara bertahap. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 106:

    وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا

    Artinya: “Al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap.” (QS Al Isra: 106).

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengenal Al Khawarizmi, Sosok Muslim Jenius di Bidang Matematika



    Jakarta

    Al Khawarizmi adalah salah satu ilmuwan muslim di bidang matematika. Cendekiawan yang satu ini memiliki peran besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

    Menukil dari buku Al-Khawarizmi: Bapak Aljabar dan Algoritma yang ditulis Hamid Sakti Wibowo, nama lengkap Al Khawarizmi adalah Ibn Musa Al Khawarizmi. Tidak hanya ahli di bidang matematika, ia juga merupakan astronom sekaligus ahli geografi pada abad ke-9.

    Menurut catatan sejarah, Al Khawarizmi lahir di kota Khawarizm sekitar tahun 780. Kini, kota tersebut merupakan wilayah Uzbekistan.


    Al Khawarizmi bersama keluarganya kemudian pindah ke Baghdad, Irak. Di sana, ia bekerja sebagai astronom di Bayt Al-Hikmah, sebuah pusat kebudayaan dan ilmiah di Baghdad.

    Dari situlah awal mula Al Khawarizmi dikenal sebagai ilmuwan. Menjadi anggota di Bayt Al-Hikmah membuatnya bertemu banyak ilmuwan muslim terkemuka. Ini menjadikan dirinya terus belajar ilmu pengetahuan, khususnya matematika dan ilmu alam.

    Turut disebutkan dalam buku Kisah Ulul Azmi dan Tokoh Islam Hebat oleh Tethy Ezokanzo, masyarakat barat memanggil Al Khawarizmi dengan nama Algorism. Nama tersebut merupakan penghormatan terhadap Al Kahawarizmi yang telah menemukan salah satu bidang matematika yang sangat penting, yaitu algoritma.

    Selain itu, Al Khawarizmi juga merupakan disebut sebagai Bapak Aljabar. Ini disebabkan karya-karyanya di bidang matematika, terutama dalam pengembangan aljabar dan algoritma.

    Adapun, keahliannya dalam bidang geografi adalah merevisi pandangan Ptolemaios dan mengoreksinya secara detail. Sekitar 70 ahli geografi bekerja di bawah kepemimpinan Al Khawarizmi dan berhasil membuat peta pertama bola dunia pada 830 M.

    Menurut buku Pengantar Ilmu Falak susunan Watni Marpaung, Al Khawarizmi juga melahirkan banyak karya di bidang astronomi. Ia membuat tabel untuk mengelompokkan ilmu perbintangan serta memperbaiki data astronomis yang ada pada buku terjemahan Sindhind.

    Lalu, Al Khawarizmi juga menemukan zodiak atau ekliptika miring sebesar 23,5 derajat terhadap equator.

    Al Khawarizmi wafat pada 232 H atau sekitar 845-850 M. Namanya dikenang sebagai pemikir ilmiah paling penting dalam budaya Islam awal.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Wajah Nabi Muhammad SAW Menurut Para Sahabat



    Jakarta

    Rasulullah SAW adalah nabi akhir zaman. Sosoknya begitu dikagumi dan dicintai oleh umat Islam. Keindahan akhlak dan kepribadian beliau telah menjadi panutan bagi seluruh manusia.

    Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana gambaran fisik Rasulullah SAW? Meskipun tidak ada potret resmi beliau, terdapat beberapa riwayat yang menggambarkan wajah rupawan Nabi Muhammad SAW.

    Gambaran Wajah Nabi Muhammad SAW

    Dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim, karakteristik dan penampilan fisik Nabi Muhammad SAW dijelaskan melalui hadits.


    Hadits tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang fisik beliau tanpa membutuhkan representasi dalam bentuk gambar atau lukisan.

    “Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW, meriwayatkan, ‘Saya pernah bertanya kepada paman saya, Hindun ibnu Abi Halah-yang dikenal sangat mahir dalam menggambarkan sesuatu-tentang karakteristik fisik Rasulullah SAW. Saya ingin ia menjelaskan sifat-sifat beliau yang mirip dengan sifat-sifat saya.’

    Hindun menjawab, “Tubuh Rasulullah SAW besar. Wajah beliau bersinar seperti bulan purnama. Postur tubuh beliau lebih tinggi dari rata-rata tetapi tidak setinggi orang yang sangat jangkung atau kurus. Kepala beliau besar dan rambut beliau bertekstur ikal. Ketika rambut beliau mulai panjang, beliau menyisirnya. Jika tidak disisir, rambut beliau yang tergerai tidak pernah melebihi bagian bawah daun telinga.

    Kulit beliau cerah, putih kemerah-merahan. Dahi beliau lebar, dengan alis yang melengkung dan panjang, kedua alisnya hampir menyatu. Di antara kedua alis tersebut terdapat urat yang tampak merah saat beliau marah. Beliau memiliki hidung mancung dengan bagian atas yang bercahaya, sehingga orang yang tidak memperhatikan dengan seksama mungkin akan mengira hidung beliau bengkok.

    Jenggot beliau lebat dan kedua pipi beliau datar. Mulut beliau lebar, dengan jarak yang terlihat antara gigi-giginya, dan dada beliau tertutup oleh bulu halus. Leher beliau jenjang dan indah. Postur tubuh beliau bagus dan gemuk ideal. Perut beliau sama rata dengan dada. Dada beliau lebar. Tubuh antara dua bahu beliau juga lebar. Persendian tubuh beliau besar, sementara bagian tubuh yang tidak berbulu tampak bersinar.

    Di antara bagian atas dada dan pusar beliau, terdapat bulu halus yang membentuk garis. Namun, kedua payudara dan perut beliau tidak berbulu. Tangan, pundak, dan bagian atas dada beliau ditutupi oleh bulu tipis. Tangan beliau panjang dengan telapak tangan yang lebar, telapak tangan dan jari-jari beliau tebal, serta jari-jemari beliau panjang.

    Di tengah-tengah telapak kaki beliau tidak menyentuh tanah. Kedua telapak kaki beliau sangat halus sehingga air tidak menempel padanya; air yang menyentuhnya langsung menghilang tanpa meninggalkan bekas. Saat berjalan, tubuh beliau sedikit bergoyang. Beliau melangkah dengan tenang dan langkah yang lebar, seolah-olah sedang menuruni permukaan yang landai.

    Ketika menoleh, beliau menoleh (berbalik) dengan seluruh badan beliau. Beliau sering menundukkan pandangan, beliau lebih sering memandang ke bawah daripada mendongak. Beliau selalu melihat sesuatu dengan penuh perhatian. Ketika berjalan bersama para sahabat, beliau selalu membiarkan mereka berjalan di depan. Dan, setiap kali bertemu dengan seseorang, beliau selalu mengucapkan salam terlebih dahulu.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Sa’ad, Baihaqi, dan Ibnu Adi).

    Berdasarkan hadits tersebut, wajah Nabi Muhammad SAW bersinar seperti bulan purnama, dengan alis yang panjang dan melengkung. Hidungnya mancung dan kulitnya terang dengan sedikit kemerahan. Beliau memiliki jenggot yang lebat dan senyuman yang lebar, menampilkan kesan ramah dan lembut.

    Dalam hadits lainnya, para sahabat semakin menekankan bahwa wajah Nabi Muhammad terang benderang dan diibaratkan seperti sebuah bulan yang begitu indah.

    Jabir bin Samurah meriwayatkan, “Saya melihat Rasulullah SAW pada sebuah malam yang terang benderang oleh cahaya bulan. Beliau mengenakan baju berwarna merah. Saya menatap beliau dan memandang bulan. Sungguh, menurutku, beliau lebih indah daripada bulan.” (HR. Tirmidzi, Darimi, Abu Syekh, Hakim, dan Thabrani).

    Diriwayatkan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Bara’ ibnu Azib, “Apakah wajah Rasulullah SAW (berkilau) seperti pedang?” Bara’ menjawab, “Tidak. Wajah beliau bagaikan bulan.” (HR. Tirmidzi, Bukhari, Darimi, dan Ahmad).

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kehidupan Utsman bin Affan Bersama Al-Qur’an sampai Akhir Hayat



    Jakarta

    Kecintaan Utsman bin Affan pada Al-Qur’an berawal ketika ia mendengar Rasulullah SAW membacanya. Ayat-ayat Al-Qur’an tersebut telah menyucikan kalbu Utsman bin Affan.

    Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya Biografi Utsman bin Affan menjelaskan bahwa Abu Abdirrahman As-Sulami meriwayatkan, dia berkata, “Orang-orang yang membaca Al-Qur’an kepada kami- seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan selainnya- bercerita kepada kami bahwa ketika mereka belajar Al-Qur’an kepada Nabi SAW sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya ke ayat berikutnya kecuali mereka telah mempelajari kandungannya dari ilmu dan praktiknya.

    Mereka berkata, “Karena faktor inilah, mereka membutuhkan waktu yang lama untuk menghafal satu surat dalam Al-Qur’an.”


    Allah SWT berfirman dalam surah Sad ayat 29:

    كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

    Artinya: “(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

    Utsman bin Affan adalah manusia yang senantiasa memelihara Kitab Allah (Al-Qur’an) dengan membacanya. Ketika sedang di kamar, dia hampir tidak lepas dari mushaf Al-Qur’an. Ketika ditanya mengenai hal tersebut, maka Utsman menjawab, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu penuh berkah dan ia datang banyak membawa berkah.”

    Dikisahkan bahwa Utsman bin Affan membaca Al-Qur’an pada suatu malam dalam satu rakaat, dia tidak salat selain salat itu. Dalam kasus ini, telah terbukti apa yang difirmankan Allah SWT, dalam surah Az-Zumar ayat 9:

    اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

    Artinya: “(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ulul albab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.”

    Sesungguhnya Al-Qur’an telah mengakar kuat dalam jiwa Utsman, karena ia telah menimba Al-Qur’an secara langsung dari Rasulullah SAW. Dan dari Al-Qur’an inilah Utsman mengetahui siapakah Tuhan yang sebenarnya wajib disembah.

    Detik-detik wafatnya Utsman bin Affan juga diceritakan dalam Kisah 10 Pahlawan Surga oleh Abu Zein, suatu hari terjadi fitnah pada masa pemerintahan Utsman. Fitnah ini menyebabkan lelaki Yahudi berpura-pura masuk Islam, padahal ia membencinya.

    Lelaki tersebut bernama Abdullah bin Saba. Akhirnya para pemberontak terpengaruh dengan fitnah dan rumah Utsman dikepung. Pengepungan terjadi selama 40 hari hingga akhirnya penyusup berhasil masuk ke rumah Utsman.

    Utsman pun tetap membaca Al-Qur’an dan tidak menghiraukan si penyusup. Hal ini menyebabkan seseorang memukul Utsman hingga terjatuh dan wafat.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nyata Pengamal Tasbih Nabi Yunus 40 Hari Dikabulkan Allah



    Jakarta

    Doa Nabi Yunus yang juga dikenal dengan tasbih Nabi Yunus adalah doa yang mustajab. Hal ini dibuktikan dari kisah pengamal tasbih Nabi Yunus selama 40 hari.

    Bacaan tasbih Nabi Yunus terdapat dalam Al-Qur’an surah Al Anbiya’ ayat 87. Al Anbiya’ adalah surah ke-21 dalam urutan mushaf Al-Qur’an yang terdiri dari 112 ayat.

    Bacaan Tasbih Nabi Yunus

    لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ


    Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minaz-zaalimiin

    Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”

    Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, doa tersebut dipanjatkan Nabi Yunus AS saat berada di perut ikan besar. Allah SWT menerangkan Nabi Yunus AS kala itu tengah berada dalam kegelapan. Menurut tafsir, kegelapan yang dimaksud adalah berada dalam perut ikan yang gelap, dalam laut yang dalam dan gelap, dan di malam hari yang gelap gulita.

    Ulama tafsir sekaligus ahli hadits, Imam Ibnu Katsir, dalam kitab Qashashul Anbiya yang diterjemahkan Umar Mujtahid memaparkan sejumlah riwayat dan pendapat para ahli tafsir yang menceritakan kisah Nabi Yunus AS saat mengamalkan tasbih tersebut.

    Dikisahkan, Allah SWT mengutus Nabi Yunus AS kepada penduduk Nainawi, sebuah perkampungan di Mosul, dekat Kufah. Penduduk kampung itu berada dalam kekafiran.

    Nabi Yunus AS menyeru kepada penduduk Nainawi untuk beribadah kepada Allah SWT. Bukannya mengikuti Nabi Yunus AS, mereka justru mendustakan dan bertindak semena-mena kepada rasul utusan Allah SWT itu. Mereka tetap berada dalam kekafiran dan terus menentang Nabi Yunus AS.

    Kondisi tersebut berlangsung lama. Akhirnya Nabi Yunus AS memutuskan pergi meninggalkan perkampungan mereka seraya mengancam azab akan menimpa mereka setelah tiga hari kepergiannya.

    Sejumlah ulama salaf termasuk Ibnu Mas’ud, Mujahid, Sa’id bin Jubair, dan Qatadah menceritakan, saat Nabi Yunus AS pergi, penduduk Nainawi yakin akan tetimpa azab. Pada kondisi demikian, rupanya Allah SWT memberikan hidayah kepada mereka untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

    Penduduk Nainawi lantas berteriak kencang memanggil-manggil Allah SWT, berdoa sepenuh hati, merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka semua menangis. Bahkan, hewan-hewan ikut bersuara.

    Allah SWT dengan kekuatan, kasih sayang, dan rahmat-Nya kemudian melenyapkan azab dari mereka. Azab yang sedianya turun itu hanya berputar-putar di atas penduduk Nainawi seperti malam yang gelap.

    Di sisi lain, Nabi Yunus AS yang berniat pergi mengalami kejadian tak terduga saat berada di kapal. Kapal yang ia naik terombang-ambing karena keberatan muatan dan nyaris tenggelam. Mereka kemudian sepakat untuk mengurangi satu penumpang dengan cara diundi.

    Pengundian pertama, nama Nabi Yunus AS yang keluar. Mereka kembali mengundi dan lagi-lagi yang keluar nama Nabi Yunus AS. Pun dengan pengundian yang ketiga. Akhirnya Nabi Yunus AS terpaksa dilemparkan ke lautan.

    Allah SWT kemudian mengirimkan ikan besar dan langsung menelan Nabi Yunus AS. Allah SWT memerintahkan ikan itu untuk tidak memakan daging dan mematahkan tulang Nabi Yunus AS. Ikan tersebut kemudian membawa Nabi Yunus AS berkelana di lautan.

    Menurut para mufassir, Nabi Yunus AS sempat mengira dirinya sudah mati saat berada di perut ikan. Ia lalu menggerak-gerakkan tubuhnya. Begitu tahu masih hidup, Nabi Yunus AS langsung bersujud kepada Allah SWT.

    Nabi Yunus AS tak hentinya berdoa, berdzikir (tasbih) selama di perut ikan. Bacaan tasbih Nabi Yunus yakni laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minaz-zaalimiin (Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim).

    Doa tersebut naik sampai bawah ‘Arasy. Para malaikat berkata, “Ya Rabb! Suara lemah dan tidak asing berasal dari tempat yang tidak diketahui.” Allah bertanya, “Apa kalian tidak mengenali suara itu?” Mereka menjawab, “Tidak ya Rabb. Siapa dia?” Allah menjawab, “Hamba-Ku, Yunus.”

    Para malaikat kemudian berkata, “Hamba-Mu Yunus yang amalannya selalu dibawa naik dan doanya selalu dikabulkan?” Mereka juga mengatakan, “Ya Rabb kami! Mengapa Engkau tidak mengasihi apa yang ia lakukan pada saat lapang, sehingga Kau selamatkan dia dari musibah?” “Ya.,” kata Allah. Allah kemudian memerintahkan ikan besar yang menelan Nabi Yunus AS itu untuk memuntahkannya di daratan tandus. Hadits ini turut diriwayatkan Ibnu Jarir dari Yunus, dari Ibnu Wahab.

    Menurut riwayat Sa’id bin Abu Hasan dan Abu Malik, Nabi Yunus AS berada di perut ikan selama 40 hari. Ada juga yang menyebut 7 hari dan ada juga yang mengatakan tiga hari. Para ahli tafsir berbeda pendapat terkait hal ini. Namun yang pasti, hanya Allah SWT yang mengetahui berapa lama Nabi Yunus AS berada dalam perut ikan.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ismail Lengkap dari Lahir hingga Wafat


    Jakarta

    Kisah Nabi Ismail AS, putra Nabi Ibrahim AS, adalah salah satu cerita inspiratif dalam sejarah Islam. Dari bayi yang ditinggalkan di padang pasir bersama ibunya, Siti Hajar, hingga menjadi seorang nabi yang mulia, perjalanan hidup Ismail penuh dengan mukjizat dan ujian iman.

    Kisah ini tidak hanya menarik untuk dipelajari, tetapi juga mengandung banyak hikmah yang relevan hingga saat ini.

    Dirangkum dari buku Seri Kisah Nabi: Kisah Nabi Ismail A.S., oleh Rina Dewi, berikut ini adalah ringkasan kisah perjalanan hidup Nabi Ismail dari kelahirannya hingga wafat.


    Kelahiran Bayi Nabi Ismail

    Kisah kelahiran Nabi Ismail AS bermula ketika Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim AS, belum dikaruniai anak. Atas dorongan Siti Sarah, Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar, yang kemudian mengandung dan melahirkan Nabi Ismail AS.

    Kelahiran Nabi Ismail AS tidak hanya membawa suka cita, tetapi juga menjadi ujian bagi Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim AS membawa Siti Hajar dan Nabi Ismail AS yang masih bayi ke sebuah lembah yang tandus, yaitu Makkah yang saat itu belum berpenghuni.

    Di lokasi yang sekarang menjadi Masjidil Haram, unta Nabi Ibrahim AS berhenti, menandai akhir dari perjalanannya. Di tempat itulah Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar bersama putranya dengan hanya membawa sedikit persediaan makanan dan minuman.

    Lingkungan di sekitarnya sangat tandus, tanpa tanaman, tanpa air mengalir, hanya batu dan pasir kering yang tampak sejauh mata memandang.

    Di sana, Siti Hajar diuji dengan kesabarannya ketika dia dan anaknya merasa kehausan karena tidak ada air. Dalam kondisi terdesak ini, dengan keimanan yang kuat, Siti Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah mencari air, hingga akhirnya malaikat Jibril datang dan menuntun air zamzam memancar dari tanah dekat kaki Nabi Ismail AS.

    Allah SWT mencatat kisah Hajar yang bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwa dalam Surat Al Baqarah ayat 158:

    إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

    Artinya: Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

    Perintah untuk Menyembelih Nabi Ismail

    Cerita ini bermula ketika Nabi Ibrahim AS menerima wahyu dari Allah SWT dalam mimpinya, di mana ia diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS yang saat itu sudah memasuki usia remaja.

    Sebagai seorang hamba yang taat, Nabi Ibrahim AS merasa sangat berat hati, namun ia berserah diri kepada kehendak Allah SWT. Ketika ia memberitahukan perintah ini kepada Nabi Ismail AS, putranya menunjukkan keimanan yang luar biasa, dengan rela menerima nasibnya sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah SWT.

    Kisah kesetiaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terhadap perintah Allah tertulis dalam surat As Saffat ayat 102,

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

    Ketika tiba saatnya untuk melaksanakan perintah tersebut, Nabi Ibrahim AS membawa Nabi Ismail AS ke tempat yang telah ditentukan.

    Saat Nabi Ibrahim AS hendak menyembelih putranya, Allah SWT menguji ketaatan mereka dan menggantikan Nabi Ismail AS dengan seekor hewan.

    Peristiwa ini menunjukkan ketaatan mutlak Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kepada Allah SWT, dan menjadi asal muasal dari ibadah kurban yang dilakukan umat Islam hingga sekarang.

    Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim Membangun Ka’bah

    Beberapa tahun setelah Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail AS di Makkah, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk kembali ke Makkah. Ketika tiba di sana, Nabi Ibrahim AS menemukan bahwa Nabi Ismail AS telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan taat.

    Allah SWT kemudian memberikan perintah kepada mereka berdua untuk membangun sebuah rumah ibadah yang akan menjadi pusat tauhid, yaitu Ka’bah.

    Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dengan penuh ketulusan dan pengabdian memulai pembangunan Ka’bah di lokasi yang sekarang dikenal sebagai Masjidil Haram. Mereka bekerja bersama-sama, mengangkat batu dan meletakkannya di tempat yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

    Setelah menentukan posisi yang tepat, Nabi Ibrahim AS mulai membangun pondasi Ka’bah. Kemudian, ia meminta bantuan Nabi Ismail AS untuk mencari batu terbaik yang akan dijadikan tanda bagi umat manusia.

    Nabi Ismail AS bertemu dengan malaikat Jibril yang memberinya sebuah batu hitam yang kini dikenal sebagai Hajar Aswad. Dengan gembira, Nabi Ismail AS segera membawa batu tersebut kepada ayahnya. Nabi Ibrahim AS begitu bahagia hingga mencium batu tersebut berulang kali.

    Setelah meletakkan batu tersebut, Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS berdoa kepada Allah SWT agar banyak orang datang ke Makkah untuk mengunjungi Ka’bah.

    Doa mereka dikabulkan oleh Allah, dan kunjungan ke Makkah untuk menunaikan haji menjadi bagian dari rukun Islam yang kelima bagi mereka yang mampu. Jejak kaki Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah dikenang dengan nama Maqam Ibrahim.

    Kenabian Nabi Ismail

    Sebagai putra Nabi Ibrahim AS yang dikenal dengan akhlak yang mulia, Nabi Ismail AS dianugerahi tugas kenabian oleh Allah SWT sebagai penghargaan atas kesetiaannya dalam mendampingi Nabi Ibrahim AS dalam menyiarkan ajaran Islam.

    Sepanjang hidupnya, Nabi Ismail AS membimbing suku Amalika di Yaman dan menghabiskan lebih dari lima puluh tahun masa kenabiannya untuk menyampaikan firman Allah SWT kepada kaum musyrik, mengajak mereka memeluk agama Islam dan mempercayai keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Berkat perjuangannya, ajaran Islam menyebar merata di negeri Yaman.

    Wafatnya Nabi Ismail

    Setelah sebagian besar masyarakat Yaman memeluk Islam, beliau kembali ke Makkah. Nabi Ismail AS wafat pada 1779 SM di Makkah, Arab Saudi, pada usia 137 tahun.

    Setelah meninggal, Nabi Ismail AS dimakamkan di dekat makam ibunya. Setelah kepergiannya, tugas dakwah yang telah dirintisnya dilanjutkan oleh putra-putrinya, yang kemudian bermigrasi ke berbagai wilayah di Jazirah Arab dengan tujuan menyebarkan agama Islam.

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Nabi Zakaria AS yang Sabar, Dikaruniai Anak di Usia Senja


    Jakarta

    Nabi Zakaria AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dalam Islam. Ia merupakan keturunan dari Nabi Sulaiman AS.

    Sebagai utusan Allah SWT, Nabi Zakaria AS berdakwah kepada bani Israil dan menyerukan untuk menyembah sang Khalik semata. Alih-alih patuh, bani Israil justru membangkang dan enggan beriman kepada Allah SWT.

    Mengutip dari buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul yang disusun oleh Ridwan Abdullah Sani, kisah terkait Nabi Zakaria AS tercantum dalam surah Maryam ayat 2-15 serta surah Ali Imran ayat 38-41. Ia sangat mendambakan seorang keturunan untuk meneruskan dakwahnya, karena di usia senja Zakaria AS belum juga dikaruniai seorang anak.


    Nabi Zakaria AS Berdoa agar Memiliki Keturunan

    Sang nabi terus berdoa kepada Allah SWT memohon agar diberi keturunan untuk meneruskan tugas dan dakwahnya memimpin bani Israil. Nabi Zakaria AS khawatir jika sewaktu-waktu ia wafat, tidak ada yang menggantikannya dan kaumnya kehilangan pemimpin hingga berujung ingkar kepada Allah SWT.

    Selayaknya manusia, Nabi Zakaria AS juga tidak ingin keturunannya terputus.

    Nabi Zakaria AS bermunajat kepada Allah SWT. Doanya tercantum dalam surah Maryam ayat 4-6,

    “Ya Tuhanku berikanlah aku seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian dari keluarga Yaqub, yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Israil. Aku khawatir bahwa sepeninggalku nanti anggota-anggota keluargaku akan rusak kembali aqidah dan imannya bila aku tinggalkan mereka tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikan aku. Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang istriku adalah seorang perempuan yang mandul, namun kekuasaan-Mu adalah di atas segala kekuasaan dan aku tidak jemu-jemunya berdoa kepadamu memohon rahmat-Mu mengaruniakan kepadaku seorang putra yang saleh yang Engkau ridai.” (QS Maryam 4-6)

    Atas kuasa sang Khalik, Allah SWT menjawab doa Nabi Zakaria AS sebagaimana tersemat dalam surah Maryam ayat 7,

    “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS Maryam: 7)

    Benar saja, ia dikaruniai keturunan yang juga merupakan seorang nabi yaitu Yahya AS. Padahal, selain usia Nabi Zakaria AS yang menginjak 90 tahun, istrinya yang bernama Hanna juga mandul.

    Namun, atas kuasa Allah SWT justru beliau diberikan keturunan yang saleh sekaligus utusan Allah SWT. Nama Yahya diberikan langsung oleh Allah SWT.

    Wafatnya Nabi Zakaria AS

    Terkait wafatnya Nabi Zakaria AS ada berbagai versi keterangan yang berbeda. Menukil dari Qashash Al-Anbiyaa oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan H Dudi Rosyadi, Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa sang nabi meninggal secara wajar, namun sebagian mengatakan ia dibunuh.

    Abdul Mun’im bin Idris bin Sinan dari ayahnya yang meriwayatkan dari Wahab bin Munabbih dari Mukhtashar Tarikh Dimasyqa menceritakan kala itu Nabi Zakaria AS sedang melarikan diri dari penganiayaan kaumnya.

    Tempat pelariannya adalah kebun yang ditumbuhi pepohonan di Baitul Maqdis. Pepohonan itu memanggilnya, “Wahai Nabi Allah, silakan datang ke dekatku.”

    Tanpa pikir panjang, Nabi Zakaria AS mendekat. Pepohonan tersebut membuka dirinya dan memungkinkan Nabi Zakaria AS bersembunyi di dalamnya.

    Saksi mata, iblis, melihat ini dan mengambil sepotong kain dari pakaian Nabi Zakaria AS. Ia membawa kain tersebut keluar dari tumbuhan untuk membuktikan keberadaan Nabi Zakaria AS kepada kaum yang mencarinya.

    Akhirnya, kaumnya yang mengetahui keberadaan Nabi Zakaria AS memutuskan untuk menebang pohon dengan menggergajinya.

    “Setelah kaumnya mengetahui bahwa dia berada dalam pohon tersebut, mereka mengambil gergaji dan mulai menebang pohon itu,” demikian cerita dari Wahab.

    Hingga saat gergaji tersebut hampir mengenai Nabi Zakaria AS, Allah SWT memberikan wahyu untuknya, “Apabila eranganmu tidak berhenti, maka Aku akan membalikkan negerimu dan semua orang yang ada di atasnya.”

    Pada saat itulah, erangan Nabi Zakaria AS berhenti dan pohon pun terbelah menjadi dua bersamaan dengan Nabi Zakaria AS.

    Namun, pada pendapat lainnya dari Ishaq bin Bisyr yang meriwayatkan dari Idris bin Sinan, dari Wahab bin Munabbih. Wahab mengatakan, “Orang yang diselubungi oleh pohon tersebut adalah Yesaya, sementara Zakaria meninggal dunia secara wajar. Wallahu a’lam.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah di Balik 5 Pedang Milik Rasulullah SAW, Salah Satunya Peninggalan Sang Ayah


    Jakarta

    Selain berdakwah, Rasulullah SAW semasa hidupnya juga mengikuti berbagai perang untuk melawan musuh-musuh Islam yang memeranginya dan para pengikutnya. Karenanya, ia memiliki sejumlah pedang yang digunakan sebagai senjata.

    Menukil dari buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW tulisan Abdurrahman bin Abdul Karim, setidaknya ada beberapa pedang yang ia gunakan. Apa saja? Simak bahasannya berikut ini.

    Kisah di Balik Pedang-pedang Rasulullah SAW

    1. Pedang Dzulfikar

    Pedang Dzulfikar atau Dzul Faqar cukup populer diketahui oleh muslim. Pedang ini diperoleh sang rasul dari harta rampasan Perang Badar. Menurut beberapa sumber, pedang Dzulfikar diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, sehingga beliau dan keluarganya memiliki pedang tersebut.


    Namun, pedang tersebut dikembalikan oleh Ali RA ketika Perang Uhud. Penamaan Dzulfikar sendiri berasal dari kata fiqar yang artinya pembedaan atau pembagian.

    Dzulfikar merupakan pedang yang sangat tajam. Dijelaskan dalam buku Terperangkap di Dimensi Lain susunan Iyhan Samudera, pedang ini pernah digunakan Nabi Musa AS untuk membelah Laut Merah.

    2. Pedang Hatf

    Kedua ada pedang Hatf. Pedang ini diperoleh Nabi Muhammad SAW dari hasil rampasan Bani Qainaqa. Mulanya, pedang tersebut hasil buatan Nabi Daud AS yang diberi mukjizat melunakkan besi.

    Nabi Daud AS sempat menggunakan pedang Hatf sebelum berakhir di tangan Rasulullah SAW. Kini, pedang Hatf disimpan di salah satu museum Istanbul, yaitu Museum Topkapi.

    3. Pedang Al Qadib

    Berbeda dengan pedang lainnya, pedang Al Qadib digunakan untuk pertahanan ketika bepergian. Jadi, pedang ini tidak digunakan untuk berperang.

    Tak ada catatan sejarah yang menyebut Rasulullah SAW menggunakan pedang Al Qadib saat perang. Pedang disimpan di rumah Rasulullah SAW yang kemudian hanya digunakan oleh Khalifah Fatimid. Bentuk pedang ini tipis seperti tongkat dengan ukiran dari perak yang berbunyi kalimat syahadat.

    4. Pedang Al Mikhdzam

    Selanjutnya ada pedang Al Mikhdzam. Banyak perbedaan pendapat mengenai kepemilikan pendang Al Mikhdzam ini.

    Sebagian mengatakan, pedang tersebut milik Rasulullah SAW yang diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan kepada anak-anaknya. Pendapat lainnya menyebut pedang itu milik Ali RA sebagai hasil rampasan pada serangan yang ia pimpin di Syria.

    5. Pedang Al Ma’tsur

    Pedang Al Ma’tsur juga dikenal dengan nama Ma’tsur al-Fijar. Pedang milik Rasulullah SAW itu dimiliki sebelum beliau menerima wahyu pertama di Makkah.

    Sebagai peninggalan dari ayahnya, dekat pegangan pedang tersebut ada tulisan Arab yang mengukir nama ayah Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib. Pedang Al Ma’tsur merupakan pedang yang menemaninya hijrah dari Makkah ke Madinah, sampai akhirnya dikumpulkan kembali bersama peralatan perang lain yang disimpan Ali bin Abi Thalib.

    Wallahu ‘alam bishawab.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Amalan Sederhana Imam Ghazali Lewat Seekor Lalat



    Jakarta

    Ada amalan sederhana yang dilakukan ulama besar Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath-Thusi asy-Syafi’i al-Ghazali atau yang masyhur dikenal dengan Imam Ghazali. Amalan sederhana ini menjadi bekalnya saat menghadap Allah SWT yang dikabarkan lewat mimpinya.

    Kisah ini termaktub dalam Nashaihul ‘Ibad karangan Syekh Nawawi Al Bantani yang diterjemahkan A R Shohibul Ulum. Imam Ghazali menceritakan mimpinya menerima deretan pertanyaan tentang keimanannya.

    Hingga akhirnya sang ahli tasawuf ini ditanyai bekal apa yang dibawanya sebelum menghadap Allah SWT. Ia pun ini lantas menyebutkan seluruh amal kebaikan yang pernah diperbuatnya selama di dunia.


    Pengarang kitab Ihya’ Ulumuddin mengatakan ternyata amalan-amalan tersebut tertolak Allah SWT sampai ia menyebutkan satu amal sederhana yang pernah dilakukannya. Amalan itu adalah menolong seekor lalat.

    M Ghofur Al Lathif dalam buku Hujjatul Islam Al Ghazali menjelaskan, pertolongan yang dimaksud kepada lalat tersebut adalah tidak membunuh hewan itu saat hewan itu sedang minum.

    Saat itu, Imam Ghazali tengah menulis sebuah kitab. Tiba-tiba ada seekor lalat yang hinggap di ujung pena yang digunakannya untuk menulis.

    Imam Ghazali lantas menghentikan kegiatannya. Ia menunggu dan membiarkan lalat tersebut hingga benar-benar puas meminum dan menyerap isi tinta miliknya.

    “Al Ghazali pun merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya,” demikian keterangan buku terbitan Araska tersebut.

    Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menyayangi hewan. Orang-orang yang menyayangi hewan pada posisi yang mulia di sisi Allah SWT.

    Landasan ini bersumber dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ

    Artinya: “Orang-orang yang ada rasa Rahim akan dirahmati oleh Tuhan yang maha Rahman, yang memberikan berkat dan Mahatinggi, sayangilah makhluk yang ada di muka bumi, niscaya engkau akan disayangi makhluk yang ada di langit.” (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan al Hakim)

    (rah/kri)



    Sumber : www.detik.com