Blog

  • Sosok Nabi yang Punya Mukjizat Air Zamzam-Sosok Penunggang Kuda Pertama

    Sosok Nabi yang Punya Mukjizat Air Zamzam-Sosok Penunggang Kuda Pertama


    Jakarta

    Nabi Ismail AS adalah nabi dan rasul yang wajib diimani dalam Islam. Beliau merupakan keturunan seorang nabi juga yaitu Ibrahim AS.

    Menukil dari Ibrahim Khalilullah: Da’iyah At-Tauhid wa Din Al-Islam wa Al-Uswah Al-Hasanah oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi yang diterjemahkan Muhammad Misbah, ibu dari Ismail AS adalah Siti Hajar. Kala itu, Nabi Ibrahim AS belum juga dikaruniai keturunan meski sudah puluhan tahun pindah ke Palestina.

    Sang nabi lalu berdoa sebagaimana tercantum dalam surah Ash-Shaffat ayat 100-101. Berikut bunyinya,


    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّلِحِينَ * فَبَشَّرْنَهُ بِغُلَمٍ حَلِيمٍ

    Artinya: “(Ibrahim berdoa), ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun.”

    Kelahiran Nabi Ismail AS

    Kelahiran Nabi Ismail AS disambut dengan bahagia. Meski demikian, kelahirannya ini juga menjadi ujian bagi Ibrahim AS dan sang istri.

    Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membawa Siti Hajar dan Ismail AS bayi ke sebuah lembah tandus, yaitu Makkah. Kala itu, Makkah masih belum berpenghuni.

    Saking tandusnya, lembah itu bahkan tanpa tanaman dan air. Hanya ada batu dan pasir kering yang terlihat di sana.

    Siti Hajar dan Nabi Ismail AS diuji dengan rasa haus karena tak adanya air. Pada kondisi tersebut, Siti Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air hingga akhirnya malaikat Jibril tiba dan air zamzam memancar dari tanah dekat kaki Ismail AS.

    Perintah Menyembelih Nabi Ismail AS

    Masih dari sumber yang sama, Nabi Ibrahim AS menerima wahyu lainnya dari Allah SWT dalam mimpi. Ia diperintahkan menyembelih sang putra, Nabi Ismail AS yang masih remaja.

    Mendengar hal itu, Nabi Ismail AS rela menerima nasib sebagai bentuk kepatuhan terhadap Allah SWT. Kisah ini termaktub dalam surat As Saffat ayat 102,

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

    Ibrahim AS lantas membawa Ismail AS ke tempat yang ditentukan. Ketika ia hendak menyembelih putranya, tiba-tiba Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor hewan. Peristiwa tersebut menjadi asal muasal ibadah kurban yang kini dilakukan oleh umat Islam.

    Diterangkan dalam Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid, ulama nasab dan sejarah peperangan mengatakan bahwa Nabi Ismail AS adalah orang pertama yang naik kuda. Sebelumnya, kuda merupakan hewan liar dan dijinakkan oleh Ismail AS untuk ditunggangi.

    Sa’id bin Yahya Al-Umawi menuturkan dalam Al Maghazi sebagai berikut, “Seorang syaikh Quraisy bercerita kepada kami, Abdul Malik bin Abdul Aziz bercerita kepada kami, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Pergunakan kuda (sebagai tunggangan) naiklah secara bergantian , karena ia adalah warisan ayah kalian, Ismail.”

    Wafatnya Nabi Ismail AS

    Nabi Ismail AS semasa hidupnya membimbing suku Amalika di Yaman. Selama lebih dari 50 tahun masa kenabian beliau, Ismail AS menyampaikan firman Allah SWT kepada orang-orang musyrik. Ia mengajak mereka untuk memeluk Islam dan mempercayai keberadaan Allah SWT.

    Berkat jasanya itu, Islam menyebar luas di Yaman. Beliau lalu kembali ke Makkah setelah sebagian besar masyarakat Yaman memeluk Islam.

    Nabi Ismail AS wafat pada usia 137 tahun, tepatnya pada 1779 SM di Makkah, Arab Saudi. Beliau dimakamkan di dekat ibunya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan dalam Al-Qur’an

    Kisah Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan dalam Al-Qur’an


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW dianugerahi sejumlah mukjizat di sepanjang kenabiannya oleh Allah SWT. Salah satunya adalah mukjizat membelah bulan dengan jarinya yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

    Menurut surah Al Qamar ayat 1-3, Allah SWT menurunkan firman-Nya mengenai keajaiban ini:

    (1) اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ


    (2) وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ

    (3) وَكَذَّبُوْا وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ

    Artinya: Hari Kiamat makin dekat dan bulan terbelah. Jika mereka (kaum musyrik Makkah) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.” Mereka mendustakan (Nabi Muhammad) dan mengikuti keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya.”

    Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Jilid 7 yang diterjemahkan Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, ayat di atas menceritakan tentang penduduk Makkah pernah meminta Rasulullah SAW untuk menunjukkan tanda kekuasaan Allah SWT. Untuk itulah, bulan pernah terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah SAW.

    Meski demikian, para golongan kafir Quraisy di Makkah menolak tunduk atau meyakini tanda-tanda yang sudah ditunjukkan kepada mereka. Sebaliknya, mereka beranggapan bahwa tanda tersebut semata hanya pertunjukkan sihir.

    Kisah Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan

    Diceritakan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW karya Fuad Abdurahman, kisah ini bermula saat Abu Jahal mengirim surat undangan kepada Habib ibn Malik, seorang raja di Syam. Habib berangkat bersama 12.000 pasukan berkuda menuju Makkah.

    Saat tiba, Abu Jahal beserta para pembesar Quraisy menyambutnya dengan memberikan budak dan perhiasan.

    Setelah duduk berhadapan, Habib bertanya kepada Abu Jahal tentang Nabi Muhammad SAW, namun Abu Jahal membantahnya, “Tuan, bertanyalah tentang bani Hasyim!” pinta Abu Jahal.

    Habib menukas, “Siapakah Muhammad?”

    Pembesar Quraisy yang menemui Abu Jahal menjawab, “Kami mengenalnya sejak kecil sebagai orang yang jujur dan bisa dipercaya. Saat berusia 40 tahun, ia berbalik menghina dan merendahkan Tuhan kami. Ia dakwahkan agama baru yang berbeda dari agama kami!”

    “Bawalah ia ke hadapanku dengan suka rela! Bila tidak mau, paksalah!” kata Habib.

    Kemudian, seseorang pergi memanggil Rasulullah SAW yang tanpa rasa takut sedikit pun datang menemui Habib ditemani sahabat setianya, Abu Bakar, dan istrinya, Khadijah.

    Ketika Rasulullah SAW tiba di hadapan Habib, wajah beliau tampak bercahaya sehingga Habib tertegun dan berkata, “Hai Muhammad, engkau tahu bahwa setiap nabi memiliki mukjizat. Apakah kau juga memilikinya?”

    “Apa yang engkau inginkan?” tanya Rasulullah SAW.

    Habib berkata, “Aku ingin kau membuat matahari terbenam dan bulan merendah ke bumi, terbelah menjadi dua. Kemudian bulan itu bersatu lagi di atas kepalamu dan bersaksi atas kerasulanmu! Setelah itu, bulan kembali lagi ke langit dan bercahaya seperti purnama dan selanjutnya terbenam kembali serta matahari muncul seperti sedia kala!”

    Mendengar permintaan Habib, Abu Jahal tersenyum jahat dan berkata, “Sungguh benar apa yang Tuan katakan! Permintaan Tuan sungguh luar biasa!”

    Rasulullah SAW pergi meninggalkan Habib menuju Jabal Abu Qubaisy dan mendirikan salat dua rakaat. Setelah itu, beliau berdoa kepada Allah SWT.

    Kemudian, Jibril datang dan berkata, “Assalamualaikum, ya Rasulullah. Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman, ‘Kekasihku, janganlah kau bersedih dan bersusah hati! Aku selalu bersamamu. Pergilah temui mereka! Kuatkan hujahmu. Ketahuilah, Aku telah menundukkan matahari dan bulan, juga siang dan malam’.”

    Saat itu hari beranjak sore dan matahari condong ke barat hingga akhirnya terbenam di ufuk barat. Semesta diliputi kegelapan, kemudian muncul bulan purnama.

    Setelah bulan berada tepat di atas Rasulullah SAW, beliau memberi isyarat dengan jarinya. Bulan itu bergerak turun dan berhenti di hadapan beliau.

    Lalu ia terbelah dua bagian. Selanjutnya, bulan berpadu lagi di atas kepala beliau dan bersaksi, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

    Setelah itu bulan kembali naik ke langit dan matahari muncul kembali seperti semula, karena saat itu belum datang waktunya untuk terbenam.

    Meskipun mukjizat ditampakkan begitu nyata di hadapan Abu Jahal, tetap saja Abu Jahal dan para pengikutnya menganggapnya sebagai sihir. Mereka tetap tak mau beriman.

    Dikutip dari buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim, kisah ini juga diriwayatkan dalam salah satu hadits,

    “Pada zaman Rasulullah SAW, bulan terbelah menjadi dua. Orang-orang kafir Makkah ikut menyaksikannya.” (HR Bukhari)

    Dilansir dari buku Misteri Kedua Belah Tangan dalam Shalat, Dzikir, dan Doa karya Dr. KH. Bachruddin Hasyim Subky, untuk menjawab semua keraguan tentang kemungkinan terjadinya peristiwa luar biasa ini Imam Razi berpendapat dari berbagai hadits bahwa peristiwa tersebut mirip dengan gerhana bulan, di mana separuh bulan tampak di langit.

    Namun, para ulama sepakat bahwa tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran hadits-hadits Nabi tentang pembelahan bulan menjadi dua bagian. Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Perang Mu’tah, Pertempuran Dahsyat Tentara Muslim dan Pasukan Heraklius

    Kisah Perang Mu’tah, Pertempuran Dahsyat Tentara Muslim dan Pasukan Heraklius



    Jakarta

    Perang Mu’tah adalah salah satu pertempuran dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi pada 629 M pada Jumadil Awwal tahun ke-8 Hijriyah.

    Menurut buku Para Panglima Perang Islam tulisan Rizem Aizid, Perang Mu’tah dilatarbelakangi dengan terbunuhnya utusan Rasulullah SAW oleh seseorang bernama Shurabhil bin Amr. Mendengar kabar itu, umat Islam yang sudah berada di Madinah marah. Nabi Muhammad SAW lantas mengirim sejumlah pasukan untuk menyerang pasukan Ghassanid.

    Diterangkan dalam Jami’us Sirah oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang diterjemahkan Abdul Rosyad Shiddiq, utusan Rasulullah SAW itu bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi. Ia merupakan salah seorang dari keluarga besar bani Lahab yang pergi ke Syam.


    Al-Harits mengantarkan sepucuk surat kepada penguasa Bushra yang tunduk kepada penguasa Romawi, seperti dikutip dari Ghazawat Ar-Rasul Durus Wa ‘Ibra Wa Fawa ‘Id karya Ali Muhammad Ash-Shallabi terjemahan Masturi Irham.

    Sayangnya, ia dicegat dan diringkus oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, seorang gubernur Ghassanid di bawah Kekaisaran Bizantium kala itu. Menurut Sirah Nabawiyah oleh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri yang diterjemahkan Suchail Yuti, Syurahbil adalah penguasa yang mendapat mandat dari Kaisar atas Provinsi Balqa’, salah satu daerah Syam.

    Al-Harits diborgol dan dihadapkan kepada Kaisar yang kemudian menebas batang lehernya. Padahal, pembunuhan terhadap utusan atau delegasi termasuk bentuk kriminal paling keji dan melebihi pernyataan kondisi perang pada saat itu.

    Dalam Perang Mu’tah, Nabi Muhammad SAW menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandannya. Namun, sebelum pasukannya berangkat ia berpesan,

    “Kalau nanti terjadi sesuatu pada Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib yang akan menggantikan posisinya sebagai komandan pasukan. Dan jika terjadi sesuatu kepada Ja’far, maka kan diambil alih Abdullah bin Rawahah.”

    Sebanyak 3.000 pasukan muslim siap berperang. Mereka bergerak sampai berhenti di daerah Ma’an. Di situlah tentara muslim mendengar informasi bahwa Heraklius yang merupakan kaisar tertinggi Byzantium Romawi sudah berada di daerah Balqa’ dengan membawa 100.000 pasukan Romawi.

    Selain itu, orang-orang dari suku Lakham, suku Jadzam, suku Balqin, suku Bahra’, dan suku Billi ikut bergabung dengan pasukan Heraklius yang jumlahnya 100.000. Secara total, tentara Heraklius ini berjumlah 200.000 yang mana sangat jauh berbeda dengan pasukan umat Islam.

    Mengetahui hal itu, pasukan umat Islam memilih tinggal di daerah Ma’an selama dua hari untuk menunggu perkembangan apa yang akan terjadi. Salah seorang dari mereka mengatakan,

    “Kita harus menulis surat kepada Rasulullah SAW untuk melaporkan besarnya pasukan musuh. Kita berharap beliau mengirimkan tambahan pasukan, dan kita tunggu apa perintahnya lebih lanjut kepada kita.”

    Singkat cerita, pada Perang Mu’tah sahabat-sahabat yang diamanahkan Nabi Muhammad SAW untuk memimpin semuanya wafat. Pasukan muslim awalnya bingung menunjuk pemimpin perang, lalu seorang tentara muslim bernama Tsabit bin Arqam maju mengambil bendera Islam dan menunjuk Khalid bin Walid sambil berkata,

    “Ambillah wahai Khalid. Sebab engkau yang lebih tahu mengenai strategi dalam perang dan tahu tentang muslihat peperangan. Dan demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kecuali aku serahkan kepadamu!”

    Tsabit bin Arqam kemudian berteriak ke arah pasukan muslim, “Bersediakah kalian wahai pasukan muslimin berada di bawah pimpinan Khalid?”

    Mendengar hal itu, para tentara muslim menyetujui penunjukkan Khalid bin Walid untuk memerangi tentara Heraklius. Sebagaimana diketahui, Khalid adalah salah satu panglima ternama dan selalu memenangi peperangan.

    Waktu itu, Perang Mu’tah adalah pertempuran pertama yang diikuti Khalid setelah memeluk Islam. Dengan sigap ia menata barisan pasukan muslim dan menyusun strategi dengan melakukan tipu muslihat.

    Khalid bin Walid memerintahkan tentara muslim di barisan belakang agar pindah ke depan dan pasukan sayap kiri berpindah ke sayap kanan, begitu sebaliknya. Pasukan di belakang terus bergerak menuju depan sampai debu-debu berterbangan dan mengganggu penglihatan musuh.

    Akibatnya, musuh pada Perang Mu’tah mengira tentara muslim sebagai pasukan mereka. Oleh sebab itu, tentara Heraklius tidak gegabah menggempurnya.

    Akhirnya Perang Mu’tah dimenangkan oleh pasukan muslim. Qutbah bin Qatadah yang merupakan komandan sayap kanan tentara membunuh jenderal pasukan musuh yaitu Ghasan Malik. Kematiannya menyebabkan tentara Heraklius menahan serangan, ini jadi peluang pasukan tentara muslim melakukan konsolidasi. Secara perlahan dan tertata, pasukan muslim mengundurkan diri dari peperangan akibat jumlah yang tak seimbang.

    Pasukan musuh tidak berani mengejar sampai memutuskan untuk menghentikan pertempuran. Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW menyampaikan rasa bangganya kepada pasukan muslim karena telah berhasil mengalahkan musuh.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Syits, Sosok yang Diwasiatkan Jaga Nur Rasulullah SAW


    Jakarta

    Nabi Syits AS adalah putra dari Nabi Adam AS. Tapi, Nabi Syits AS tidak termasuk dalam 25 Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

    Menukil buku Akidah dan Akhlak untuk Kelas VII MTs oleh Taofik Yusmansyah, sebenarnya jumlah Nabi dan Rasul lebih dari 25. Pada sebuah riwayat dikatakan, jumlah Nabi dan Rasul mencapai 124 ribu, 312 di antaranya adalah rasul.

    Dari Abi Dzar Al-Ghifari RA, Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi. “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.”


    Para sahabat bertanya lagi, “Lalu berapa jumlah rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312).” (HR At Tirmizi)

    Mengutip dari buku Qashash al-Anbiyaa yang diterjemahkan oleh Saefullah MS, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa makna nama Syits adalah anugerah dari Allah SWT. Nama itu diberikan oleh Nabi Adam dan istrinya, Hawa, kepada Nabi Syits yang baru lahir setelah terbunuhnya Habil di tangan saudara sendiri.

    Meski tidak setenar nabi lain, Nabi Syits AS mendapatkan 50 lembar suhuf dari Allah SWT agar disampaikan kepada umat manusia. Suhuf adalah kumpulan lembaran yang berisi firman Allah SWT.

    Awal Kehidupan Nabi Syits AS

    Mengutip buku Akhlak Para Nabi oleh Taj Langroodi, ketika Nabi Syits AS dilahirkan, Nabi Adam AS sudah berusia 930 tahun.

    Nabi Adam AS sengaja memilih Nabi Syits AS untuk melanjutkan perjuangannya, sebab anak Nabi Adam AS yang satu ini memiliki kelebihan dari segi keilmuan, kecerdasan, ketakwaan, dan kepatuhan dibandingkan anak lainnya.

    Nabi Syits AS adalah pelaksana wasiat Nabi Adam setelah beliau kehilangan putra kesayangannya, Habil. Ia lahir lima tahun setelah Qabil membunuh Habil, tepatnya 235 tahun setelah Nabi Adam AS diturunkan dari langit ke bumi.

    Nabi Syits AS memilih bertempat tinggal di Makkah, tempat dia bisa secara terus menerus melaksanakan haji kecil (umrah) dan haji besar di sana. Ia membangun kembali Ka’bah menggunakan lumpur kental dan tumpukan batu.

    Diwasiatkan Menjaga Nur Nabi Muhammad SAW

    Nabi Syits AS adalah penerus setelah Nabi Adam AS dan Hawa yang dipercaya untuk menjaga nur Nabi Muhammad SAW.

    Menukil buku Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan karya Kyai Abdullah Alif, pada sebuah riwayat dikatakan bahwa Allah SWT pertama kali menciptakan nur Nabi Muhammad sebelum Dia menciptakan Adam, Hawa, alam semesta beserta isinya.

    Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam Kitab Hujatullah menyebutkan bahwa sebelumnya nur Nabi Muhammad SAW selalu tampak bersinar di wajah Nabi Adam, bercahaya seperti matahari yang bersinar terang.

    Kemudian, Allah SWT mengambil sumpah perjanjian dari Nabi Adam AS agar selalu menjaga nur tersebut. Nabi Adam AS menerimanya dengan suka cita, kemudian nur itu bersemayam di dalam diri Siti Hawa.

    Setelah itu, lahirlah seorang putra yang bernama Nabi Syits.

    Awalnya nur yang berada di dalam diri Hawa kemudian dipindahkan ke dalam Nabi Syits AS. Nur tersebut tampak pada wajah Nabi Syits AS, sehingga Nabi Adam AS selalu memperhatikan dan menjaga Nabi Syits AS.

    Nabi Syits AS tumbuh menjadi pribadi dengan akhlak yang mulia. Bahkan, Allah SWT mengirimkan seorang bidadari yang cantik dan rupawan untuknya.

    Mengacu pada buku The Prophet: Kisah Hikmah 25 Nabi Allah karya Diah Noviyanti, wafatnya Nabi Syits AS terjadi ketika beliau jatuh sakit. Sebagai gantinya, ia menunjuk putranya yang bernama Anush untuk melaksanakan wasiatnya.

    Nabi Syits AS meninggal pada usia 912 tahun dan dimakamkan di samping makam kedua orang tuanya, yaitu di Gua Gunung Abu Qubais.

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Burung Hudhud dan Nabi Sulaiman yang Diabadikan dalam Al-Qur’an


    Jakarta

    Kisah burung hudhud dan Nabi Sulaiman AS tidak hanya memiliki cerita yang menarik tetapi juga mengandung hikmah. Dalam kisah ini, burung hudhud berperan penting kepada Nabi Sulaiman AS.

    Kisah tersebut tercantum dalam surah An-Naml ayat 20-28 dan dijelaskan para ulama tafsir dalam kitabnya. Berikut selengkapnya.

    Burung Hudhud Bawa Kabar pada Nabi Sulaiman

    Dikutip dari Qashash al-anbiyaa karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid, Nabi Sulaiman AS adalah seorang raja yang dianugerahi Allah SWT dengan berbagai keistimewaan, termasuk kemampuan untuk memahami bahasa binatang. Di antara pasukannya, terdapat sekelompok burung yang bertugas seperti prajurit pada umumnya.


    Salah satu burung yang memiliki peran penting adalah hudhud, yang menurut riwayat Ibnu Abbas, memiliki tugas khusus untuk mencari sumber air. Allah SWT memberi burung hudhud kemampuan istimewa untuk mendeteksi keberadaan air di dalam tanah, sehingga sangat berguna bagi pasukan Nabi Sulaiman AS saat melakukan perjalanan di padang pasir.

    Suatu hari, Nabi Sulaiman AS tidak melihat burung hudhud di antara pasukannya. Ia pun bertanya, “Mengapa aku tidak melihat hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?”

    Nabi Sulaiman AS kemudian mengancam akan menghukum burung hudhud jika tidak memiliki alasan yang jelas atas ketidakhadirannya. Ia berkata, “Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”

    Tidak lama kemudian, burung hudhud kembali dengan membawa berita penting. Ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.”

    Burung hudhud melaporkan bahwa ia menemukan sebuah kerajaan dari negeri yang sangat jauh. Tak hanya itu, negeri itu pun juga sangat luas, makmur, dan aman. Diketahui negeri itu bernama Saba’.

    Negeri Saba’ dipimpin oleh seorang ratu bernama Balqis. Namun, yang mengejutkan adalah ratu dan rakyatnya menyembah matahari, bukan Allah SWT.

    Merujuk pada sumber sebelumnya, Ats-Tsa’labi meriwayatkan dari jalur Sa’id bin Basyir dari Qatadah, dari Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nahik, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Salah satu di antara kedua orang tua Balqis berasal dari bangsa jin.”

    Mendengar laporan dari burung hudhud, Nabi Sulaiman AS memutuskan untuk menguji kebenaran perkataan burung hudhud dengan memerintahkannya untuk membawa surat kepada Ratu Balqis. Isi surat tersebut mengajak Ratu Balqis dan rakyatnya untuk berserah diri kepada Allah SWT dan tidak berlaku sombong.

    Di sinilah peran burung hudhud yang kedua ditampakkan. Dirinya selain menjadi pembawa berita adanya kerajaan yang penuh kemusyrikan, ia juga berperan sebagai pengantar surat yang menghubungkan Nabi Sulaiman AS dengan Ratu Balqis.

    Tawaran Ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman

    Setelah menerima pesan dari Nabi Sulaiman AS melalui Hud-hud, Ratu Balqis menawarkan solusi damai kepada Nabi Sulaiman AS dengan mengirimkan hadiah. Namun, Nabi Sulaiman AS dengan tegas menolak hadiah tersebut.

    Nabi Sulaiman AS menegaskan tujuannya agar Ratu Balqis dan rakyatnya menyembah Allah SWT dan meninggalkan kemusyrikan mereka. Nabi Sulaiman as tidak membutuhkan hadiah karena kerajaan yang dimilikinya sudah sangat kaya dan megah.

    Mendengar tentang keagungan kerajaan Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis tertarik untuk mengunjungi kerajaan tersebut.

    Pengakuan Keimanan Ratu Balqis

    Sesampainya di kerajaan Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis sangat terkejut oleh kemegahan dan kekayaan yang dimiliki Nabi Sulaiman AS. Ia semakin tidak menyangka ketika mendapati bahwa singgasana miliknya sudah ada di sana.

    Setelah menyaksikan segala kemegahan dan kelebihan yang dimiliki oleh kerajaan Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis menyadari bahwa kekayaan dan kesombongannya selama ini tidak ada artinya. Ia kemudian mengakui kekalahannya dan menyatakan keimanannya kepada Allah SWT.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mukjizat Nabi Musa AS yang Diceritakan di dalam Al-Qur’an


    Jakarta

    Nabi Musa AS adalah salah satu nabi yang diberikan keistimewaan luar biasa oleh Allah SWT untuk memperlihatkan kebesaran dan kekuasaan-Nya kepada umat manusia. Mukjizat yang dimilikinya menjadi bukti nyata atas kenabiannya dan wujud pertolongan Allah dalam menghadapi kaumnya yang durhaka.

    Salah satu mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Musa adalah kemampuan membelah laut dengan tongkatnya, yang menjadi jalan keselamatan bagi Bani Israel dari kejaran Fir’aun.

    Selain itu, apa saja mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa? Dalam hal ini, Allah SWT menjelaskan mukjizat Nabi Musa dalam beberapa ayat Al-Qur’an.


    Mukjizat Nabi Musa

    Nabi Musa diberikan sejumlah mukjizat dan keistimewaan oleh Allah sebagai tanda untuk memperlihatkan kebesaran Allah di hadapan kaumnya. Dirangkum dari Tafsir Qashashi Jilid II oleh Syofyan Hadi, berikut ini adalah mukjizat Nabi Musa AS.

    1. Tongkatnya Membelah Laut Merah

    Tongkat Nabi Musa, atas izin Allah, memiliki kekuatan untuk membelah lautan. Ketika lautan terbelah, jalan terbuka bagi Nabi Musa dan pengikutnya untuk melarikan diri dari kejaran Fir’aun dan pasukannya.

    Setelah Nabi Musa dan kaumnya berhasil mencapai daratan di seberang, Fir’aun dan tentaranya masih berada di tengah lautan yang terbelah tersebut. Namun, tiba-tiba lautan kembali menyatu, menenggelamkan Fir’aun beserta seluruh pasukannya.

    Mukjizat ini diceritakan dalam Al-Qur’an, Surah Asy-Syuara ayat 63-66.

    فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِۚ ۝٦٣

    Artinya: Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.

    وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَۚ ۝٦٤

    Artinya: Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain.

    وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَۚ ۝٦٥

    Artinya: Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya.

    ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَۗ ۝٦٦

    Artinya: Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.

    2. Tongkatnya Menjadi Ular

    Allah mengutus Nabi Musa kepada sebuah kaum yang sangat menguasai ilmu sihir. Pada masa itu, sihir berkembang pesat dan menjadi kebanggaan masyarakat Bani Israil. Sebagai tanda kekuasaan-Nya, Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Musa berupa kemampuan mengubah tongkatnya menjadi seekor ular.

    Suatu ketika, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya ke tanah. Begitu dilempar, tongkat tersebut langsung berubah menjadi ular besar, yang membuat Nabi Musa merasa takut. Namun, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mengambilnya kembali, dan ular tersebut kembali menjadi tongkat seperti semula.

    Saat Nabi Musa berdakwah mengajak kaumnya kepada kebenaran, Fir’aun menentang ajarannya dan memerintahkan para penyihir untuk melawan Musa dengan membuat ilusi tali dan tongkat yang tampak seperti ular. Atas perintah Allah, Nabi Musa pun melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular besar dan memakan ular-ular ilusi yang diciptakan para penyihir.

    Mengenai mukjizat ini, Allah SWT menceritakannya dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 31:

    وَاَنْ اَلْقِ عَصَاكَۗ فَلَمَّا رَاٰهَا تَهْتَزُّ كَاَنَّهَا جَاۤنٌّ وَّلّٰى مُدْبِرًا وَّلَمْ يُعَقِّبْۗ يٰمُوْسٰٓى اَقْبِلْ وَلَا تَخَفْۗ اِنَّكَ مِنَ الْاٰمِنِيْنَ ۝٣١

    Artinya: Lemparkanlah tongkatmu!” Maka, ketika dia (Musa) melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular kecil yang gesit, dia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman,) “Wahai Musa, kemarilah dan jangan takut! Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman.

    3. Tangan Nabi Musa Memancarkan Cahaya

    Allah memperlihatkan kepada Nabi Musa keistimewaan yang dianugerahkan kepadanya. Nabi Musa diperintahkan oleh Allah SWT untuk memasukkan tangannya ke dalam kantong bajunya. Ketika tangannya dikeluarkan, tiba-tiba tampak cahaya putih terang memancar, bersinar seperti rembulan yang bercahaya.

    Hal ini dikisahkan melalui Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 108,

    وَّنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِيَ بَيْضَاۤءُ لِلنّٰظِرِيْنَࣖ ۝١٠٨

    Artinya: Dia menarik tangannya, tiba-tiba ia (tangan itu) menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihat(-nya).

    4. Doa Nabi Musa kepada Umat Firaun

    Sejumlah mukjizat Nabi Musa ini disebutkan oleh Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 133:

    فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍۗ فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ ۝١٣٣

    Artinya: Maka, Kami kirimkan kepada mereka (siksa berupa) banjir besar, belalang, kutu, katak, dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas dan terperinci. Akan tetapi, mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum pendurhaka.

    Banyaknya belalang yang menyerang tanaman Bani Israil menyebabkan mereka mengalami kekurangan pangan.

    Selain itu, muncul pula kutu yang menggigit mereka, membuat mereka sulit tidur. Katak-katak memenuhi lumbung dan dapur mereka, sementara air minum mereka tercemar darah, sehingga mereka tidak memiliki air bersih untuk diminum atau digunakan.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Ali bin Abi Thalib Ragu Meminang Fatimah Putri Rasulullah


    Jakarta

    Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang sahabat sekaligus sepupu yang setia menemani Rasulullah SAW. Pada bulan Dzulhijjah, 2 Hijriah, ia menikahi Fatimah Az-Zahra, putri Rasul SAW yang telah ia kagumi sedari kecil.

    Namun perjalanannya ke jenjang pernikahan tidak semulus cerita cinta di luar sana. Kondisinya yang miskin dengan hanya memiliki sebuah zirah atau baju besi, sempat membuat Ali ragu untuk meminang gadis pujaan hatinya itu. Bagaimana kisahnya?

    Ali Ragu Melamar Fatimah Putri Rasulullah

    Mengutip buku Ali bin Abi Thalib RA karya Abdul Syukur Al-Azizi, diriwayatkan sempat terbesit keraguan di hati Ali sebelum ia meminang Fatimah. Kala itu, ia sadar dirinya hanyalah pemuda miskin yang tidak mempunyai apa pun untuk diberikan kepada gadis pujaan hatinya.


    Di tengah kebimbangan hatinya itu, terdengar kabar bahwa sahabat Abu Bakar telah lebih dulu meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk menikahi putrinya. Ia pun ikhlas jika cinta yang dipendamnya selama ini harus kandas.

    Ali merasa tak sebanding dengan kedudukan Abu Bakar yang menjadi sahabat istimewa dan selalu menemani Nabi SAW selama hijrah dan dakwah beliau. Dari sisi finansial, Abu Bakar juga termasuk saudagar kaya sehingga ia semakin tak percaya diri.

    Namun ternyata, Rasulullah SAW hanya diam saat Abu Bakar datang. Beliau menolak secara halus lamaran sahabat karibnya itu. Mendengar kabar itu, Ali bin Abi Thalib merasa senang sebab menurutnya ia masih memiliki kesempatan untuk meminang Fatimah.

    Tidak sampai di situ, seorang laki-laki lain datang kembali untuk melamar putri kesayangan Rasulullah SAW. Ialah Umar bin Khattab, lelaki gagah dan pemberani yang membuat setan berlari ketakutan dan musuh-musuh bertekuk lutut.

    Ali pun kembali sadar bahwa dirinya tak sebanding dengan Umar, dan ia pun hanya bisa bertawakal kepada Allah SWT agar ikhlas tegar menghadapi kenyataan. Cintanya pun kembali ia simpan rapi dalam lubuk hati terdalam. Namun tak disangka-sangka, lamaran Umar juga ditolak oleh Rasul SAW

    Mengetahui itu, Ali bin Abi Thalib merasa girang. Di sisi lain, ia bingung akan menantu macam apa yang kiranya dikehendaki oleh sang utusan Allah SWT tersebut.

    Di tengah kegalauannya, teman-teman Ali dari kalangan Anshar berkata kepadanya, “Mengapa kamu tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya fırasat, kamulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”

    “Aku?” tanya Ali bin Abi Thalib tak yakin.

    Ali tidak yakin sebab dirinya sadar bahwa ia hanya pemuda miskin yang tidak punya apa-apa. Ia merasa banyak dari sahabat Rasulullah SAW yang lebih pantas meminang Fatimah daripada dirinya. Di sisi lain, ia mencintai putri kesayangan Rasul SAW itu dan tidak bisa meminta Fatimah untuk menantikannya hingga siap.

    Akhirnya, Ali bin Abi Thalib memberanikan diri menghadap Rasulullah SAW untuk menyampaikan keinginannya menikahi Fatimah Az-Zahra.

    Ali Menjual Zirah Satu-satunya Demi Menikahi Fatimah

    Sesampainya di rumah Rasulullah SAW, Ali hanya duduk di samping beliau dan tertunduk diam cukup lama. Beliau pun bertanya, “Wahai putra Abu Thalib, apa yang kamu inginkan?”

    Dengan suara bergetar, ia menjawab, “Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah.”

    Mendengar jawaban Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW tidak terkejut karena beliau tahu bahwa Ali RA telah lama mencintai putrinya. Beliau tidak langsung menerima lamaran Ali RA, tetapi menanyakannya terlebih dahulu kepada Fatimah.

    Rasulullah SAW meninggalkan Ali bin Abi Thalib dan menemui putrinya untuk bertanya. Saat ditanya tentang kesediaannya atas lamaran Ali, Fatimah hanya terdiam. Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah sebagai isyarat kesetujuannya. Sebab beliau tahu kalau putrinya juga mencintai Ali.

    Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, apakah ia mempunyai sesuatu yang bisa dijadikan mahar. Ali malu karena ia tidak memiliki apa pun yang bisa dijadikan mahar.

    Dikisahkan dalam riwayat dari Ummu Salamah RA, wajah Rasulullah SAW kala itu tampak berseri-seri. Sambil tersenyum, beliau bertanya kepada Ali, “Wahai Ali, apakah kamu mempunyai sesuatu yang bisa dijadikan maskawin?”

    “Demi Allah! Anda sendiri mengetahui keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak Anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang, dan seekor unta.”

    Rasulullah SAW menanggapi Ali, “Tentang pedangmu itu. Kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT. Dan untamu itu kamu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan kamu memerlukannya dalam perjalanan jauh.”

    “Oleh karena itu, aku hendak menikahkan kamu dengan maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas dengan maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu,” tutur Nabi SAW.

    Lebih lanjut, Rasul SAW mengatakan, “Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkanmu di langit sebelum aku menikahkan kamu di bumi.”

    Ali bin Abi Thalib pun menjual baju besinya itu dengan harga 500 dirham kepada Utsman bin Affan dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW. Beliau kemudian membagi uang tersebut menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, sebagian untuk wewangian, dan bagian lainnya dikembalikan kepada Ali untuk jamuan makan bagi tamu yang menghadiri pernikahan.

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Utsman bin Affan yang membeli zirah itu, memberikannya kembali kepada Ali sebagai hadiah pernikahannya.

    Pernikahan Ali dan Fatimah

    Pada bulan Dzulhijjah, tahun kedua Hijriah, Nabi SAW menikahkan putri kesayangannya dengan Ali bin Abi Thalib seraya membacakan ijab, “Wahai Ali, sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan aku menikahimu dengan Fatimah. Sungguh, aku telah menikahkanmu dengannya dengan mas kawin 400 dirham.”

    Lantas Ali mengucapkan qabul, “Aku ridha dan puas hati, wahai Rasulullah.”

    Selesai akad, Ali bin Abi Thalib langsung sujud syukur kepada Allah SWT. Usai pemberian mahar, Rasul SAW berkhutbah dan mengumumkan pernikahan keduanya di depan para tamu yang hadir.

    Setelah dinikahkan, Rasulullah SAW mendoakan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri kesayangannya, dengan bacaan berikut:

    بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ

    Arab latin: Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khairi.

    Artinya: “Semoga Allah memberkahimu, semoga Allah memberkahi engkau dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR Sa’id bin Manshur, Abu Dawud, & At-Tirmidzi).

    (azn/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Pertolongan Allah Saat Raja Namrud Membakar Nabi Ibrahim Hidup-hidup


    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui umat Islam. Kisah hidupnya tercantum dalam banyak ayat Al-Qur’an.

    Dalam buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa nama asli Nabi Ibrahim AS adalah Ibrahim bin Tarikh. Ibunya bernama Buna binti Karbita bin Kartsi. Nabi Ibrahim AS juga termasuk rasul yang mendapatkan gelar ulul azmi, yaitu gelar untuk rasul-rasul yang memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah SWT.

    Selain itu, Nabi Ibrahim AS juga dikenal dengan sebutan Abul Anbiya, yang berarti ayah para nabi, karena putra-putranya, Nabi Ismail AS dari pernikahannya dengan Siti Hajar dan Nabi Ishaq AS dari pernikahannya dengan Siti Sarah.


    Beliau dianugerahi sejumlah mukjizat, salah satunya adalah selamat dari api saat dibakar. Peristiwa ini terjadi setelah beliau menghancurkan patung-patung berhala yang berada di dalam sebuah bangunan.

    Kisah Nabi Ibrahim AS yang selamat dari api ketika dibakar oleh kaumnya menunjukkan bahwa keimanan dan keteguhan dalam membela kebenaran akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Berikut ini kisah selengkapnya.

    Kisah Nabi Ibrahim Dibakar Api

    Diceritakan dalam buku Kisah 25 Nabi dan Rasul karya Yudho Pramoko, pada masa itu, Raja Namrud bersama para pengikutnya sedang pergi melaksanakan upacara keagamaan, sehingga gedung tempat berhala-berhala berada menjadi sepi.

    Nabi Ibrahim AS memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke gedung tersebut dan menghancurkan semua berhala, kecuali satu berhala besar yang sengaja ia sisakan. Setelah menghancurkan berhala-berhala, ia menggantungkan kapak yang digunakan di leher berhala besar tersebut, lalu pulang ke rumah.

    Saat Raja Namrud dan para pengikutnya kembali, mereka sangat terkejut melihat berhala-berhala yang disembah telah hancur.

    Setelah mengetahui bahwa Nabi Ibrahim AS adalah pelakunya, Raja Namrud segera menangkap beliau. Di pengadilan yang disaksikan oleh masyarakat, Raja Namrud bertanya kepada Nabi Ibrahim AS apakah ia yang menghancurkan berhala-berhala tersebut.

    Nabi Ibrahim menjawab, “Bukan!” Tapi Raja Namrud yang geram terus mendesaknya untuk mengaku.

    Nabi Ibrahim AS kemudian berkata, “Baiklah, kita sama-sama berakal. Di hadapan kita ada berhala besar yang kapak tergantung di lehernya, mungkin dialah pelakunya!”

    Ucapan ini membuat Raja Namrud semakin marah. Ia berteriak bahwa patung tidak mungkin bisa bicara dan Ibrahim AS dianggap bodoh.

    Namun, Nabi Ibrahim AS dengan tegas menjawab bahwa yang bodoh bukan dirinya, melainkan Raja Namrud dan rakyatnya. Ia menegaskan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah tidak bisa bicara, melihat, atau mendengar, bahkan tak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri.

    Mendengar logika Nabi Ibrahim, Raja Namrud dan rakyatnya terpojok, namun karena kemarahan mereka, Nabi Ibrahim AS akhirnya ditangkap dan hendak dibakar api secara hidup-hidup.

    Ketika api besar dinyalakan, atas izin Allah SWT, api tersebut tidak membakar Nabi Ibrahim AS. Justru, api itu menjadi dingin dan sejuk baginya, sebagai salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada beliau.

    Diceritakan dalam Al-Quran

    Kisah mukjizat Nabi Ibrahim yang tidak hangus ketika dibakar api hidup-hidup juga diceritakan di dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya’ ayat 68-70,

    (68) قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

    (69) قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ

    (70) وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ

    Artinya: “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.”

    Melihat kejadian luar biasa itu, Raja Namrud beserta semua orang yang hadir terpana. Akhirnya, Raja Namrud memerintahkan untuk menghentikan pembakaran dan membebaskan Nabi Ibrahim AS.

    Doa Nabi Ibrahim

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafid Abu Ya’la, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim AS akan dilemparkan ke dalam api yang berkobar, beliau berdoa dengan doa khusus kepada Allah.

    اللهُمَّ أَنْتَ الْوَاحِدُ فِي السَّمَاءِ وَأَنَا الْوَاحِدُ فِي الْأَرْضِ لَيْسَ اَحَدٌ يَعْبُدُكَ غَيْرِي حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ

    Arab latin: Allahumma antalwahidu fissama’i wa anal wahidu fil ardi laisa ahadun ya ‘buduka gairī hasbiyallahu wani’mal wakil.

    Artinya: Ya Allah! Engkau Esa di langit dan aku sendirian di bumi. Tiada seorang pun yang taat kepada-Mu selain aku. Bagiku cukuplah Allah sebaik-baik tempat berserah diri.

    Doa yang dibacakan Nabi Ibrahim AS tersebut juga terdapat di dalam potongan surat Ali Imran ayat 173, Allah SWT berfirman,

    ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ

    Latin: Alladzina qaa la lahumun-nasu innan-nasa qad jama’ụ lakum fakhsyauhum fazādahum īmānaw waqālụ ḥasbunallāhu wani’mal-wakīl

    Artinya: (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Lahirnya Nabi Muhammad SAW bersama 4 Wanita Mulia



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW lahir sebagai manusia paling mulia. Momen kelahirannya pun diliputi hal menakjubkan. Aminah, sang ibunda, ditemani oleh empat wanita mulia saat proses persalinan.

    Nabi Muhammad SAW lahir hari Senin, 12 Rabiul Awal pada tahun gajah.

    Dalam Kitab Maulid ad-Diba’i, Syekh Abdurrahman ad Diba’i mengatakan saat malam kelahiran Nabi Muhammad SAW, langit seketika bergetar yang diliputi kebahagiaan. Disebutkan, lapisan langit dipenuhi cahaya terang dan para malaikat bergemuruh mengucapkan pujian kepada Allah SWT.


    Merangkum buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim dikisahkan bahwa Aminah tidak pernah merasa kelelahan dan letih selama mengandung Nabi Muhammad SAW. Di malam jelang persalinan, Allah SWT mengutus empat wanita agung yang membantu Aminah.

    Keempat wanita ini adalah Siti Hawa, Siti Sarah istri Nabi Ibrahim RA, Asiyah binti Muzahim dan Siti Maryam, ibunda Nabi Isa AS.

    Siti Hawa berkata kepada Aminah, “Sungguh beruntung engkau, wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan nabi agung junjungan alam semesta, Al Musthafa SAW. Kenalilah olehmu, sesungguhnya aku ini Hawa, ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menemanimu.”

    Tak lama kemudian, hadirlah Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS. Ia berkata, “Sungguh, berbahagialah engkau, wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi, engkau akan melahirkan Nabi agung, seorang Nabi yang dianugerahi kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya.

    Nabi agung yang ilmunya sebagai sumber ilmunya para nabi dan para kekasih-Nya. Nabi agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan, ketahuilah olehmu, wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Sarah, istri Nabiyullah Ibrahim AS. Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menemanimu.”

    Selanjutnya hadir diiringi aroma harum semerbak, seraya berkata, “Sungguh, berbahagialah engkau, wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi, engkau akan melahirkan Nabi agung, kekasih Allah SWT yang paling agung dan insan sempurna yang paling utama mendapatkan pujian dari Allah SWT dan seluruh makhluk-Nya. Aku adalah Asiyah binti Muzahim, yang diperintahkan oleh Allah SWT menemanimu.”

    Wanita keempat yang hadir dengan kecantikannya adalah Siti Maryam, ibunda Nabi Isa AS. Ia berkata, “Sungguh, berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau.

    Sebentar lagi, engkau akan melahirkan Nabi agung yang dianugerahi Allah SWT mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa. Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk beliau semata segala bentuk sholawat Allah SWT dan salam sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam, ibunda Nabi Isa AS.”

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Muhammad SAW Lahir dari Keluarga Bani Hasyim di Makkah

    Nabi Muhammad SAW Lahir dari Keluarga Bani Hasyim di Makkah


    Jakarta

    Kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW memiliki makna penting bagi umat Islam karena beliau adalah nabi terakhir pembawa rahmat bagi seluruh alam. Beliau berasal dari keluarga dengan nasab mulia.

    Menurut kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri yang diterjemahkan Faris Khairul Anam, Nabi Muhammad SAW lahir dalam keluarga bani Hasyim di Makkah, pada Senin pagi, di tahun peristiwa gajah.

    Para ulama berbeda pendapat terkait tanggal kelahirannya, ada yang menyebut 9 Rabiul Awal dan ada pula yang berpendapat 12 Rabiul Awal. Namun, mayoritas dari mereka mengatakan Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal.


    Penelitian ulama terkenal, Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri, dan peneliti astronomi Mahmud Basya memperkirakan bahwa kelahiran Nabi bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M.

    Bani Hasyim Punya Sifat-sifat Unggul

    Keluarga Nabi Muhammad SAW, bani Hasyim, menjadi salah satu keturunan kebanggakan suku Quraisy. Dijelaskan dalam buku Nabi Muhammad SAW: Kisah Manusia Paling Mulia di Dunia karya Neti dkk, bani Hasyim memiliki keistimewaan dan keunggulan di antara kaumnya. Mereka dikaruniai keteguhan iman, kecerdasan akal, kesederhanaan dalam segala hal, jauh dari sifat zalim, pengasih dan pennyayang terhadap kaum lemah, pemurah, dan pemberani.

    Tak heran jika bani Hasyim dipercaya sebagai Kota Makkah dan pemelihara Baitullah karena sifat-sifat unggul yang mereka miliki.

    Peristiwa Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW

    Sejumlah peristiwa besar terjadi menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beberapa di antaranya runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah oleh Majusi, dan runtuhnya gereja-gereja di sekitar Buhairah. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, meskipun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Al-Ghazali.

    Terlahir Tanpa Seorang Ayah

    Nabi Muhammad SAW lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Abdullah, ayah Rasulullah SAW, adalah seorang saudagar yang sering melakukan perjalanan ke Negeri Syam dan merupakan anak dari pemimpin suku Quraisy yang sangat dihormati.

    Sementara itu, Aminah berasal dari bani Zuhrah, suku yang memiliki status mulia dalam keturunan dan kedudukan di kalangan Quraisy, seperti yang disebutkan dalam karya Sirah Nabawiyah oleh Abul Hasan al-Ali Hasani an-Nadwi.

    Qadarullah, Abdullah meninggal dunia ketika Aminah baru mengandung Nabi Muhammad SAW selama dua bulan, sehingga Nabi Muhammad SAW lahir tanpa kehadiran ayahnya.

    “Abdullah meninggal dunia, sedangkan Aminah, ibunda Rasulullah SAW, sedang mengandung beliau. Ketika itu, ia telah menyaksikan tanda-tanda dan jejak-jejak yang menunjukkan bahwa anaknya memiliki kemuliaan,” tulis buku tersebut

    Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah SAW melihat cahaya keluar setelah kelahiran beliau yang menyinari istana-istana di Syam.

    Wanita yang Menyusui Rasulullah SAW

    Sesuai tradisi Arab kala itu, anak yang baru lahir harus disusukan kepada wanita lain. Mengacu sumber sebelumnya, wanita pertama yang menyusui Nabi Muhammad SAW adalah Tsuwaibah, hamba sahaya Abu Lahab.

    Saat itu, Tsuwaibah juga sedang menyusui anaknya yang bernama Masruh, dan sebelumnya pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib (Paman Nabi). Tsuwaibah juga menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi.

    Selanjutnya, seperti tradisi umum di kalangan Arab, keluarga mencari wanita dari pedesaan untuk menyusui bayi mereka, dengan tujuan menjauhkan anak dari penyakit di perkotaan dan memperkuat tubuh serta bahasa Arab mereka.

    Abdul Muththalib kemudian memilih Halimah binti Abu Dzu’aib dari Bani Sa’d bin Bakr untuk menyusui Nabi Muhammad SAW. Halimah bersama suaminya, Al-Harits bin Abdul Uzza, yang dikenal dengan julukan Abu Kabsyah, berasal dari kabilah yang sama.

    Peristiwa Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW

    Pada saat Rasulullah beranjak ke umur empat atau lima tahun. Saat itu, di tengah masa Rasulullah SAW disusui oleh Halimah binti Abu Dzu’aib, terjadilah peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW.

    Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa suatu ketika Rasulullah SAW sedang bermain dengan beberapa anak kecil lainnya, kemudian Malaikat Jibril datang menghampiri beliau. Malaikat Jibril memegang beliau, membaringkannya, lalu membelah dada beliau dan mengeluarkan segumpal darah, sambil berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada padamu.”

    Malaikat Jibril kemudian mencuci gumpalan darah beliau dalam sebuah baskom emas dengan air zamzam, merapikannya kembali, dan memasukkannya ke tempat semula.

    Anak-anak yang menyaksikan peristiwa tersebut berlarian menemui ibu susuan Rasulullah SAW, mengatakan bahwa Muhammad telah dibunuh. Namun saat ketika mereka datang, mereka mendapati wajah beliau semakin bercahaya berseri.

    Nabi Muhammad SAW Dikembalikan ke Sang Ibu

    Halimah merasa khawatir akan keselamatan Nabi Muhammad SAW setelah peristiwa pembelahan dada. Karena itulah, ia memutuskan untuk mengembalikan Nabi Muhammad SAW kepada ibunya, Aminah. Nabi Muhammad SAW kemudian tinggal bersama ibunya hingga usianya mencapai enam tahun.

    Aminah, yang merindukan suaminya yang telah wafat, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi makam suaminya. Ia melakukan perjalanan sejauh 500 kilometer dari Makkah, ditemani oleh Nabi Muhammad SAW yang masih kecil serta pembantu mereka, Ummu Aiman.

    Perjalanan ini direstui oleh Abdul Muththalib, kakek Nabi. Setelah tinggal sebulan di Madinah, Aminah dan rombongannya memutuskan untuk kembali ke Makkah. Namun, dalam perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit dan meninggal di daerah Abwa, yang terletak di antara Makkah dan Madinah.

    Nabi Muhammad SAW Diasuh Sang Kakek

    Setelah wafatnya ibunda tercinta, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, di Makkah. Perasaan kasih sayang Abdul Muththalib terhadap cucunya yang kini menjadi yatim piatu semakin dalam. Ia merasa iba melihat cucunya harus menghadapi cobaan berat setelah sebelumnya kehilangan ayahnya. Abdul Muththalib begitu menyayangi Nabi Muhammad SAW hingga ia menganggap cucunya lebih penting daripada anak-anaknya sendiri.

    Ibnu Hasyim meriwayatkan bahwa ada dipan yang diletakkan di dekat Ka’bah khusus untuk Abdul Muththalib. Keluarganya duduk di sekeliling dipan itu tanpa ada yang berani duduk di atasnya, sebagai bentuk penghormatan kepada Abdul Muththalib.

    Namun, ketika Nabi Muhammad SAW yang masih kecil duduk di atas dipan tersebut, paman-pamannya mencoba mencegahnya. Saat melihat ini, Abdul Muththalib berkata, “Biarkanlah cucuku. Demi Allah, dia akan memiliki kedudukan yang agung.”

    Lalu, ia membiarkan Nabi Muhammad SAW duduk bersamanya di dipan itu, sambil mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang, merasa gembira atas setiap tindakan cucunya.

    Nabi Muhammad SAW Diasuh Pamannya hingga Dewasa

    Pada usia delapan tahun, dua bulan, dan sepuluh hari, Nabi Muhammad SAW kehilangan kakeknya, Abdul Muththalib, yang meninggal dunia di Makkah. Sebelum wafat, Abdul Muththalib berpesan agar Nabi Muhammad SAW diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, saudara kandung dari ayah beliau.

    Abu Thalib menjalankan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab, memperlakukan Nabi Muhammad SAW seperti anaknya sendiri. Ia mengutamakan kepentingan Nabi Muhammad SAW di atas anak-anaknya sendiri, menunjukkan perhatian dan penghormatan yang besar.

    Abu Thalib melindungi Nabi Muhammad SAW hingga usia lebih dari empat puluh tahun, menjalin persahabatan dan bermusuhan dengan orang lain demi membela beliau.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com