https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-7852519/ingat-berani-tarik-utang-wajib-lunasi-ya?single=1
Sumber : finance.detik.com
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-7852519/ingat-berani-tarik-utang-wajib-lunasi-ya?single=1
Sumber : finance.detik.com
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Mengatur keuangan selama bulan Ramadan sangat penting untuk dilakukan. Sebab, pengeluaran saat bulan puasa terkadang lebih boros dari bulan-bulan lainnya.
Selama Ramadan, kebutuhan seseorang cenderung meningkat dari biasanya, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hal ini yang membuat pengeluaran lebih boros karena membeli barang yang diinginkan, bukan dibutuhkan.
Apalagi jika sudah mendapatkan THR. Barang apapun yang terlihat bagus langsung dibeli. Tanpa sadar, uang THR langsung habis dalam sekejap. Sedih bukan?
Maka dari itu, penting untuk mengatur keuangan selama Ramadan agar tidak boros pengeluaran. Bagaimana caranya? Simak tips mengatur keuangan selama Ramadan dalam artikel ini.
Ada sejumlah cara untuk memastikan pengelolaan keuangan tetap terjaga selama Ramadan. Simak tips mudah mengatur keuangan selama Ramadan yang dikutip dari catatan detikFinance:
Tips yang pertama adalah memiliki perencanaan keuangan selama Ramadan. Langkah ini dapat mempermudah detikers untuk mengatur uang sesuai dengan pos-pos yang telah ditentukan.
Selain itu, cara ini juga mempermudah dalam menyusun alokasi pengeluaran selama bulan Ramadan, mulai dari belanja bulanan, sahur, buka puasa, bersedekah, bayar zakat, membagikan THR, dan lain sebagainya.
Penting untuk mencatat setiap pengeluaran, meskipun jumlah uangnya kecil. Cara ini dilakukan untuk mengetahui secara detail pengeluaran selama Ramadan.
Apabila tidak dicatat, terkadang kita suka lupa karena terlalu asyik berbelanja. Alhasil, ketika mengecek saldo di rekening ternyata uangnya sudah habis.
Langkah ini juga dapat mengerem hasrat untuk berbelanja yang tidak dibutuhkan. Sebab, jika jumlah pengeluaran sudah cukup besar maka saatnya untuk setop belanja dahulu.
Agar tidak boros pengeluaran selama Ramadan, penting untuk menerapkan sikap disiplin dalam berbelanja. Misalnya, memastikan uang yang dikeluarkan sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan.
Lalu, usahakan membeli barang yang harganya sesuai atau di bawah budget kamu. Jika membeli barang yang harganya jauh di bawah budget, sisa uangnya bisa dimanfaatkan untuk menabung atau dialokasikan guna membeli barang lainnya.
Jangan tergiur dengan barang-barang yang harganya mahal dan melebihi budget. Jika berniat untuk membeli barang tersebut, sebaiknya ditahan dahulu hingga uangnya sudah terkumpul.
Saat bulan puasa, kebutuhan bahan pokok untuk rumah tangga justru lebih banyak dari bulan-bulan lainnya. Agar tidak boros pengeluaran, sebaiknya belanja kebutuhan secara bertahap.
Mengutip laman Bank Muamalat, sebaiknya terapkan strategi belanja secara bertahap agar seluruh kebutuhan dapat terpenuhi. Misalnya, sebelum bulan puasa dapat membeli bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, kurma, dan bahan makanan lainnya.
Ketika memasuki Ramadan, beli bahan-bahan makanan seperti sayur, daging, ikan, ayam, dan buah-buahan untuk memenuhi asupan saat sahur dan berbuka puasa.
Ketika mendekati Lebaran, saatnya untuk berbelanja kebutuhan seperti pakaian muslim baru, membeli kue kering, atau memberikan hampers kepada saudara dan teman-teman.
Saat Ramadan dan menjelang Lebaran, biasanya ada banyak promo-promo menarik yang ditawarkan, mulai dari diskon hingga cashback. Manfaatkan promo tersebut untuk membantu menjaga keuangan tetap sehat.
Misalnya, kamu sudah menyiapkan dana sebesar Rp 1 juta untuk membeli sepatu baru. Jika ada toko yang menawarkan diskon hingga 30%, jangan ragu untuk segera membeli sepatu tersebut karena kamu dapat menghemat pengeluaran.
(ilf/fds)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Generasi Sandwich menjadi persoalan yang dihadapi banyak keluarga saat ini. Kondisi ini biasa dialami oleh seseorang yang banyak menyisihkan penghasilannya untuk orang tua dan anak. Pada titik tertentu, kondisi ini akan membawa tantangan besar bagi kesiapan finansial seseorang.
Namun begitu, ada banyak cara untuk memitigasi kondisi tersebut terjadi di kemudian hari. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui akun resmi Instagram yang dikelolanya @sikapiuangmu memberikan tips untuk menghindari himpitan generasi sandwich.
Pertama, seseorang perlu memetakan prioritas keuangan. Hal itu penting dilakukan untuk memisahkan kebutuhan harian mendesak yang perlu dipenuhi dengan keinginan yang sifatnya sementara.
“Buat kategori pengeluaran yang mendesak dan yang bisa ditunda, urutkan berdasarkan urgensi,” tulis unggahan @sikapiuangmu, Minggu (9/2/1015).
Kedua, perlunya menyiapkan dana darurat dan dana pensiun. Hal ini perlu dilakukan dengan cara menyisihkan dana darurat dengan dana harian atau tabungan jangka panjang. Idealnya, 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.
Jika memiliki waktu bertahun-tahun sebelum pensiun, seseorang perlu menggunakan waktu ini untuk menabung atau berinvestasi untuk menghindari risiko generasi sandwich di masa mendatang.
Ketiga, memiliki asuransi dan proteksi. Seseorang perlu menyiapkan diri untuk berasuransi yang ditujukan untuk biaya pengobatan yang tidak membebani keuangan keluarga. Begitu juga asuransi jiwa dan proteksi lainnya yang perlu segera disiapkan untuk mengurangi risiko finansial yang besar.
Keempat, mulai melakukan komunikasi terbuka dengan keluarga. Langkah ini perlu dilakukan untuk memberi gambaran tentang kondisi finansial kepada orang tua dan pasangan. Dalam hal ini seseorang perlu membahas hal-hal prioritas dan apa saja pengeluaran yang dapat diubah maupun efisiensi.
“Cari solusi bersama seperti pembagian tanggung jawab dengan anggota keluarga lainnya dalam memenuhi kebutuhan,” imbau OJK.
Adapun risiko besar dari kondisi generasi sandwich berupa kerentanan finansial yang melempar seseorang pada posisi yang sulit menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Selain itu, kondisi terhimpit akan menekan emosional dan finansial yang memicu stres.
Risiko besar lain dari himpitan ini juga akan terus berulang lantaran tidak adanya rencana finansial yang dibangun. Karenanya, seseorang perlu segera menyiapkan keuangan sedini mungkin untuk menghindari kondisi sandwich ini.
“Mulai atur keuangan dari sekarang agar lebih siap menghadapi tantangan ini,” tulis unggahan tersebut.
(kil/kil)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Biaya hidup yang semakin meningkat membuat masyarakat kelas menengah ke bawah di Tanah Air kian menjerit. Sebagian dari mereka kini tidak lagi bisa mengandalkan pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi menabung untuk masa depan, sehingga penghasilan tambahan kian dicari.
Ada sejumlah cara efektif menambah penghasilan, mulai dari bekerja freelance hingga berjualan secara online. Kalau sedang mencari pekerjaan sampingan untuk tambahan pendapatan, simak sederet caranya di bawah ini.
Dilansir Nerdwallet dan Bankrate, berikut sederet cara menambah penghasilan bagi masyarakat kelas menengah:
Kalau memiliki hobi atau minat terhadap sesuatu, detikers dapat mengembangkannya untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Misalnya, hobi berjalan-jalan atau traveling, detikers dapat merekam perjalananmu itu. Kemudian menunjukkan lokasi atau aktivitas menariknya menggunakan ponsel atau kamera khusus.
Usai mendapatkan rekaman, detikers dapat mengolahnya menjadi serangkaian konten melalui proses pengeditan dan lainnya.
Setelah itu, kamu bisa mengunggahnya ke saluran YouTube yang telah didaftarkan AdSense. Nantinya, konten yang ditonton banyak orang akan menghasilkan uang.
Bila punya keahlian tertentu, kamu bisa memperoleh penghasilan dari situ. Caranya dengan membuka kelas kursus secara online. Detikers bisa membuat materi pengajaran dalam bentuk video dan mendistribusikannya di situs seperti Udemy atau Coursera.
Untuk menarik peserta, materi gratis dapat disediakan. Barulah bisa dikenakan biaya apabila mereka tertarik untuk mengetahui informasi lebih banyak.
Kamu juga dapat membuka kelas online sendiri secara berbayar dengan mengadakan pertemuan. Pertemuan dapat dilakukan selama beberapa hari atau berkala setiap minggu.
Peserta yang berhasil mengikutinya dapat diberikan sertifikat penyelesaian atau sertifikat keahlian berstandar.
Lewat program afiliasi, detikers dapat memperoleh komisi dari setiap transaksi produk yang berhasil dilakukan. Cara ini dilakukan dengan menyertakan link ke penjualan produk.
Kamu perlu terlebih dahulu mempromosikan produk pihak ketiga di akun media sosial dengan menyertakan tautan ke produk tersebut. Nantinya, orang akan mengklik link darimu jika tertarik membelinya. Dari situlah kamu bisa mendapatkan penghasilan tambahan.
Kalau punya rumah atau sebagian ruangan yang kosong, detikers bisa menyewakannya kepada orang lain menjadi kontrakan atau kos.
Kamu dapat menyewakannya secara bulanan atau tahunan dengan bayaran nominal tertentu. Selain itu, bangunan kosong juga dapat disewakan menjadi tempat usaha.
Kini banyak orang lebih tertarik dengan pembelian online melalui e-commerce. Nah, detikers dapat memanfaatkannya untuk berjualan online. Kamu bisa menjual barang-barang produksi sendiri seperti makanan, pakaian, atau barang-barang lain yang mudah didapat.
Kamu bisa juga menjadi reseller yang memasok barang dari orang lain. Menjadi reseller umumnya bisa dimulai dengan budget yang minim tanpa harus mengeluarkan anggaran besar.
Kalau memiliki keterampilan menulis atau desain grafis, kamu dapat melakukan pekerjaan freelance untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Detikers bisa menemukan lowongan pekerjaan lepas ini di platform seperti Upwork atau Fiverr. Dengan bekerja freelance, kamu bahkan bisa mendapatkan proyek dari luar negeri yang upahnya dalam mata uang USD lho.
Di zaman sekarang banyak orang memiliki mobil tetapi rumahnya tidak memiliki halaman cukup untuk memarkirkan kendaraannya. Jika detikers punya halaman kosong, maka kamu dapat mengubahnya menjadi lahan parkir sewaan.
Dengan membayar nominal secara harian atau bulanan, pemilik kendaraan yang tidak punya area parkir di tempat tinggalnya, dapat memarkirkan mobilnya di sana.
Franchise kian digandrungi karena menawarkan pembukaan bisnis dengan praktis. Dengan sistem franchise, detikers dapat membuka usaha dengan nama, merek dagang, produk, prosedur, hingga bahan baku dari bisnis yang telah ada.
Sistem franchise diminati karena kamu tidak perlu pusing merencanakan bisnis dari nol. Bisa dibilang hanya perlu paham cara mengelolanya dengan benar. Dari situ, detikers akan memperoleh cuan yang banyak.
Kalau punya mobil dan senang berjalan-jalan, detikers bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan memasangkan iklan di kendaraanmu.
Nantinya agen periklanan akan mengevaluasi kebiasaan berkendara dan jarak yang ditempuh. Jika sesuai persyaratan, maka mereka akan membungkus mobilmu dengan stiker iklan.
Detikers yang hobi memotret bisa mencoba cara yang satu ini. Dengan menjual stok foto ke platform seperti Getty Images atau Shutterstock, kamu dapat memperoleh pemasukan tambahan.
Stok foto bisa berupa pemandangan atau objek tertentu. Tentunya setiap foto yang dijual harus berkualitas tinggi untuk diterima platform-platform tersebut. Maka dari itu, kamu perlu mempersiapkannya sedemikian rupa.
Nah, itu tadi sederet cara mudah menambah penghasilan bagi kelas menengah di Indonesia. Detikers tertarik dengan cara yang mana nih?
(azn/inf)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-7557619/hati-hati-berutang-jangan-jorjoran-giliran-bayar-sulit?single=1
Sumber : finance.detik.com
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Film Home Sweet Loan sedang populer di kalangan masyarakat lantaran menginspirasi pekerja kelas menengah untuk memiliki tabungan ratusan juta. Tokoh utama dalam film tersebut, Kaluna, memiliki tabungan Rp 330 juta dengan gaji sekitar Rp 6 juta.
Kaluna diceritakan sebagai sosok pekerja menengah ibu kota yang memiliki tanggungan keluarga. Dengan gajinya tak jauh dari UMR Jakarta, Kaluna dihadapi banyak tantangan untuk bisa bertahan sekaligus membiayai keluarga. Meski berat, namun Kaluna bisa punya tabungan Rp 330 juta.
Bisakah hal itu direalisasikan di dunia nyata?
Menurut Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, pekerja bergaji Rp 6 juta dengan tabungan hingga ratusan juta seperti Kaluna bukan hal yang tak mungkin dilakukan. Terlebih jika pekerja tersebut masih tinggal di rumah orang tua.
Andy menilai pengeluaran yang perlu ditekan adalah di bagian transportasi dan makan sehari-hari.
“Dia kan tinggal di rumah sama orang tua, kalo hitungan saya itu kalo sebulan dia bisa menyisihkan Rp 4 juta, katakanlah Rp 500 ribu itu untuk kasih orang tua dan tinggal kita mengelola dengan baik sisanya itu,” kata Andy saat dihubungi detikcom, Jumat (11/10/2024).
Pola hidup Frugal Living, kata Andy, jadi hal yang tepat dilakukan jika ingin menabung. Frugal living adalah konsep hidup sadar pengeluaran dan fokus pada prioritas keuangan. Sederhananya, frugal living adalah gaya hidup hemat. Andy pun memberikan hitung-hitungan kebutuhan yang bisa dialokasikan oleh pekerja dengan gaji Rp 6 juta.
“Frugal Living itu kan si Kaluna nggak neko-neko dan sederhana saja ya, jadi perkiraan ku dari Rp 1.500.000 itu dipergunakan untuk toiletries Rp 100.000, skincare Rp 100.000, dan paket internet bulanan Rp 100.000, serta uang transportasi bulanan kalau 22 hari kerja aja itu berarti Rp 7.000 x 22. Sekitar Rp 154.000,” katanya.
“Total semuanya kan Rp 450.000-an, nah sisanya ini dipergunakan untuk makan sehari hari jadi Rp 1.150.000 sisanya itu dibagi 30 hari sekitar Rp 30 ribuan per harinya,” sambung Andy
Baginya, kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat terhindarkan, mengingat itu hal primer yang wajib mengeluarkan uang untuk bertahan hidup di Jakarta.
Menurutnya, keuntungan pola hidup yang frugal tersebut dapat menekan pengeluaran. Yang perlu diperhatikan dalam menjalani hidup frugal living adalah konsistensi dan memperhatikan detail pengeluaran di luar dugaan.
“Kaluna 7 tahun kerja punya tabungan Rp 300 jutaan dengan nabung Rp 4 juta per bulan itu masih realistis sih kalau menurut saya dan masih bisa diterapkan. Dengan catatan, gajinya tidak berubah sama sekali selama tujuh tahun itu, dan tidak sakit,” tutupnya
(fdl/fdl)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan berupaya mewujudkan masyarakat yang memiliki indeks literasi keuangan tinggi (well literate). Dengan begitu, masyarakat dapat memanfaatkan produk dan/atau layanan jasa keuangan secara bijak dan optimal.
Seiring dengan upaya meningkatkan literasi keuangan, LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) menyelenggarakan Financial Festival di dua daerah. Setelah sukses digelar di Surabaya pada 6-7 Agustus 2025, LPS Financial Festival akan digelar di Medan pada 20-21 Agustus.
LPS Financial Festival akan berlangsung di Regale International Convention Centre, Jalan Haji Adam Malik, Silalas, Medan. LPS Financial Festival kali ini sekaligus merayakan 80 tahun HUT Kemerdekaan Indonesia dan peringatan 20 tahun LPS.
Ikuti keseruan LPS Financial Festival Medan yang menghadirkan sejumlah tokoh terkenal sekaligus berbagi pengalaman sukses berbisnis dan investasi, melalui kegiatan seperti business talk dan educational class.
Khusus sesi kelas akan hadir aktris Raline Shah berbagi jurus mengelola keuangan. Dalam LPS Financial Festival Medan ini, Raline Shah akan membawa materi dengan tema Beauty in Budgeting.
Selain Raline Shah, Herjunot Ali akan hadir sebagai pembicara dengan tema Atur Duit Agar Cepat Cuan. Ada pula kelas bersama Michael Yeoh, professional trader dan trading coach, dengan tema Jurus Cuan Maksimal dari Saham.
Dapatkan e-certificate eksklusif setelah mengikuti Educational Class hingga selesai. Tempat terbatas, segera daftar GRATIS sekarang, langsung klik link ini!
Agar lebih jelas soal acaranya, berikut rincian acara LPS Financial Festival Medan 20-21 Agustus:
Opening Remarks:
• Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa
Keynote Speech:
• Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution
Panel Discussion 1:
• Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa
• Founder CT Corp, Chairul Tanjung
• Ketua Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakhun
Panel Discussion 2:
• Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank, Didik Madiyono
• Wadirut Bank Mandiri, Henry Panjaitan
• Wadirut BNI, Alexandra Askandar
Educational Class:
• Aktor, Herjunot Ali
• Trader & Trading Coach, Michael Yeoh
Penampilan Musik dan Hiburan:
• Agak Laen
• RAN
• Wali
Keynote Speech:
• Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas
Panel Discussion:
• Rektor Universitas Sumatera Utara, Muryanto Amin
• Ketua Kadin Sumut & Komisaris Bank Sumut, Firsal Ferial Mutyara
• Dirut PT Inalum, Melati Sarnita
Inspirational Speech:
• Tokoh Nasional Sumatera Utara, Chairul Tanjung
Educational Class:
• Aktris & Stafsus Komdigi, Raline Shah
Penampilan Musik dan Hiburan:
• Agak Laen
• Judika
• Setia Band
Simak juga Video: Eks Mendikbud Ungkap Pentingnya Atur Keuangan Sejak Muda
(hns/hns)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Seringkali terjadi fenomena suami mencicil rumah atas nama istri, atau juga sebaliknya, istri mencicil rumah atas nama suami. Namun, sebenarnya siapa yang justru memiliki rumah ini pada akhirnya?
Menurut Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini, rumah tersebut menjadi pemilik dari nama yang tertera di dalam sertifikat rumah. Hal ini terlepas dari entah itu si suami, atau si istri yang melunasi cicilannya.
“Kalau rumah tersebut atas nama istri, suami yang mencicil. Berarti rumah tersebut sah atas nama istrinya. Jadi, atas nama siapa yang tercatat di sertifikat rumahnya. Namun begini, jika salah satu pasangan walaupun namanya tidak tercatat, bukan pemilik sahnya, tapi dia membayar cicilannya: secara moral dan finansial kontribusinya yang harus dihargai,” ujar Mike saat dihubungi detikcom, Sabtu (9/8/2025).
Menghargai kontribusi pasangan dalam memberikan tempat tinggal, meskipun bukan nama dia yang tercantum di sertifikat, perlu dilakukan untuk menghindari konflik rumah tangga. Mike menyarankan untuk mendokumentasikan kesepakatan antara suami-istri terkait kepemilikan rumah tersebut.
“Disarankan untuk mendokumentasikan kesepakatan mereka terkait kepemilikan atas rumah tersebut. Baik melalui perubahan sertifikat atau perjanjian tertulis. Jadi, sertifikatnya diubah jadi atas nama bersama, bukan atas nama satu orang. Itu bisa dilaksanakan. Ini prosesnya pasti keluar duit lagi,” beber Mike.
Mike bilang, hal itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi konflik yang mungkin terjadi dengan memperhitungkan kontribusi moral dan finansial. Namun, ada opsi lain selain dari pengubahan nama pada sertifikat.
“Boleh bikin perjanjian tertulis, nanti dicatat di notaris. Bahwa walaupun rumah ini atas nama istri, tapi suami yang bayar, atau sebaliknya, rumah ini atas nama suami, tapi istrinya yang bayar. Itu dibikin perjanjian tertulis. Konsultasi ke notaris, mungkin bayar Rp 2,5 juta. Tapi bisa jadi lebih murah daripada sertifikat atas nama bersama,” terangnya.
Dalam perjanjian tertulis yang didampingi notaris, Mike bilang, bisa disampaikan bahwa antara suami atau istri yang menjadi pembayar rumah berkontribusi secara finansial meskipun tidak tercantum dalam sertifikat. Nantinya, surat perjanjian ini yang menjadi bukti kuat bahwa rumah tersebut adalah aset bersama, bukan punya salah satu orang saja.
“Di perjanjian tertulis di hadapan notaris ini, menyatakan bahwa kontribusinya itu dikenali, dihargai secara moral dan finansial, diakui sebagai harta bersama setelah pernikahan. Sehingga nanti ke depanya, akan diperhitungkan jika terjadi terkait dengan meninggal dunia, terkait dengan misalnya perceraian,” tutupnya.
(fdl/fdl)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Menjadi pasangan suami-istri ternyata perlu selalu punya transparansi, salah satunya soal finansial. Bisa jadi, baik suami atau istri timbul rasa curiga atau bahkan marah kalau tahu pasangannya punya tabungan tanpa sepengetahuannya. Istilah ini bisa disebut sebagai perselingkuhan finansial.
Survei dari Bankrate menunjukkan, sebesar 40% pasangan menikah di Amerika Serikat (AS) telah melakukan selingkuh secara finansial terhadap pasangan mereka. Menghabiskan terlalu banyak uang menjadi salah satu alasan perselingkuhan finansial ini.
Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini, tidak menyarankan pasangan suami-istri memiliki tabungan rahasia satu sama lainnya. Alasan di balik dari timbulnya keinginan merahasiakan tabungan, bisa jadi kata Mike karena sifat pasangan yang agak ‘berbahaya’.
“Mungkin ada sifat dari pasangan yang menurut suami atau istri itu agak berbahaya, mungkin boros. Tapi merahasiakan itu ada tantangannya juga, ada negatifnya juga. Nah, kalau ada tabungan yang dirahasiakan sementara ada kebutuhan rumah tangga, itu jadi tidak bisa diakses. Apalagi kalau terjadi meninggal dunia,” ujar Mike kepada detikcom, Sabtu (9/8/2025).
Untuk menghindari merahasiakan tabungan karena alasan pasangan yang boros, Mike menyarankan tabungan investasi harus dilakukan atas nama suami-istri. Hal ini supaya arus keluar-masuknya uang bisa diketahui, dan dilakukan atas persetujuan satu sama lain.
“Sehingga suami atau istri yang boros atau punya sifat yang suka ambil (uang) sendiri, itu tidak bisa akses tanpa tanda tangan istrinya atau suaminya. Itu baru menomorsatukan keamanan dari pasangan sendiri,” terang Mike.
(fdl/fdl)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |