Tag: andy nugroho

  • Gaji Rp 6 Juta, Harus Nabung Berapa Lama biar Punya Tabungan Rp 300 Juta?


    Jakarta – Mengatur keuangan bagi pekerja kelas menengah menjadi hal penting dan menantang karena uang yang terbatas. Kaluna, tokoh utama dalam film Home Sweet Loan menginspirasi masyarakat lantaran bisa memiliki tabungan Rp 300 juta dengan gaji sekitar Rp 6 juta. Kira-kira butuh waktu berapa lama buat punya tabungan segitu?

    Dengan gaji satu digit, Kaluna yang hidup di Jakarta butuh waktu tujuh tahun untuk memiliki tabungan Rp 300 juta. Dirinya menerapkan pola hidup frugal living untuk menekan pengeluaran dan menabung sekitar Rp 4 juta setiap bulan.

    Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, mengatakan hal tersebut masih realistis untuk diterapkan dengan hidup serba hemat guna menekan pengeluaran. Menurut Andy, mendapatkan uang tabungan Rp 300 bisa saja dalam waktu 6 tahun.

    “Kaluna bisa menabung Rp 4 juta per bulan ya selama 7 tahun dapat lah angka Rp 330 juta seperti itu tadi. Maksud saya, sebenarnya bisa lebih smart lagi kalau dia nabungnya itu nggak cuma sekadar nabung di rekening bank,” kata Andy saat dihubungi detikcom, Jumat (11/10/2024).

    “Karena menabung dia jangka panjang, nabungnya itu di reksadana dan campuran di pasar saham. Jadi artinya kita dengan demikian untuk pertambahan nilai ini bisa lebih cepat lagi,” sambungnya.

    Menurutnya hal itu sangat efektif karena mendapatkan bunga yang lebih besar daripada hanya menabung di pasar saham. Adapun jika targetnya Rp 300-an juta itu dapat mempersingkat waktu tidak selama 7 tahun seperti Kaluna dalam film tersebut.

    “Mungkin nggak perlu nunggu 7 tahun, 6 tahun aja dia udah mencapai yang angka Rp 300 jutaan tadi. Jadi, selain nampung secara konvensional, dia juga bisa split masuk di reksa dana juga yang mana hal itu akan bikin pertumbuhan nilai dia bisa lebih cepat lagi,” tutupnya.

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Bisakah Gaji Rp 6 Juta Punya Tabungan Rp 300 Juta Seperti Kaluna?


    Jakarta

    Film Home Sweet Loan sedang populer di kalangan masyarakat lantaran menginspirasi pekerja kelas menengah untuk memiliki tabungan ratusan juta. Tokoh utama dalam film tersebut, Kaluna, memiliki tabungan Rp 330 juta dengan gaji sekitar Rp 6 juta.

    Kaluna diceritakan sebagai sosok pekerja menengah ibu kota yang memiliki tanggungan keluarga. Dengan gajinya tak jauh dari UMR Jakarta, Kaluna dihadapi banyak tantangan untuk bisa bertahan sekaligus membiayai keluarga. Meski berat, namun Kaluna bisa punya tabungan Rp 330 juta.

    Bisakah hal itu direalisasikan di dunia nyata?

    Menurut Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, pekerja bergaji Rp 6 juta dengan tabungan hingga ratusan juta seperti Kaluna bukan hal yang tak mungkin dilakukan. Terlebih jika pekerja tersebut masih tinggal di rumah orang tua.


    Andy menilai pengeluaran yang perlu ditekan adalah di bagian transportasi dan makan sehari-hari.

    “Dia kan tinggal di rumah sama orang tua, kalo hitungan saya itu kalo sebulan dia bisa menyisihkan Rp 4 juta, katakanlah Rp 500 ribu itu untuk kasih orang tua dan tinggal kita mengelola dengan baik sisanya itu,” kata Andy saat dihubungi detikcom, Jumat (11/10/2024).

    Pola hidup Frugal Living, kata Andy, jadi hal yang tepat dilakukan jika ingin menabung. Frugal living adalah konsep hidup sadar pengeluaran dan fokus pada prioritas keuangan. Sederhananya, frugal living adalah gaya hidup hemat. Andy pun memberikan hitung-hitungan kebutuhan yang bisa dialokasikan oleh pekerja dengan gaji Rp 6 juta.

    “Frugal Living itu kan si Kaluna nggak neko-neko dan sederhana saja ya, jadi perkiraan ku dari Rp 1.500.000 itu dipergunakan untuk toiletries Rp 100.000, skincare Rp 100.000, dan paket internet bulanan Rp 100.000, serta uang transportasi bulanan kalau 22 hari kerja aja itu berarti Rp 7.000 x 22. Sekitar Rp 154.000,” katanya.

    “Total semuanya kan Rp 450.000-an, nah sisanya ini dipergunakan untuk makan sehari hari jadi Rp 1.150.000 sisanya itu dibagi 30 hari sekitar Rp 30 ribuan per harinya,” sambung Andy

    Baginya, kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat terhindarkan, mengingat itu hal primer yang wajib mengeluarkan uang untuk bertahan hidup di Jakarta.

    Menurutnya, keuntungan pola hidup yang frugal tersebut dapat menekan pengeluaran. Yang perlu diperhatikan dalam menjalani hidup frugal living adalah konsistensi dan memperhatikan detail pengeluaran di luar dugaan.

    “Kaluna 7 tahun kerja punya tabungan Rp 300 jutaan dengan nabung Rp 4 juta per bulan itu masih realistis sih kalau menurut saya dan masih bisa diterapkan. Dengan catatan, gajinya tidak berubah sama sekali selama tujuh tahun itu, dan tidak sakit,” tutupnya

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Ikuti 4 Tips Ini Sebelum Kasih THR Lebaran ke Orang Tua, Anak, Keponakan


    Jakarta

    Memberi angpau atau THR Lebaran kepada anggota keluarga dan sanak saudara sudah menjadi salah satu tradisi di masyarakat Indonesia. Namun, tidak sedikit yang masih merasa bingung terkait seberapa besar uang yang perlu diberikan dalam angpau Lebaran itu.

    Jika tidak diperhitungkan dengan baik, keinginan untuk berbagi kebahagiaan ini malah jadi pengeluaran berlebih dan bikin kantong kering.

    Nah buat detikers yang masih bingung tentukan besaran angpau Lebaran ini, berikut beberapa tips yang bisa digunakan.


    1. Tentukan Penerima

    Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Asad, menyarankan kepada yang ingin membagikan THR Lebaran untuk membuat daftar penerima. Misalkan saja untuk orang tua, anak, saudara, hingga keponakan.

    “Pertama kita biasanya kasih orang tua, nah itu biasanya yang paling gede. Terus yang kedua siapa nih? misalnya kakak-adik sudah pada kerja ngapain dikasih? jadi kasih ke yang belum kerja, biasanya keponakan sih. Atau misalnya punya adik yang masih kecil belum kerja, mau dikasih boleh. Jadi berdasarkan level keluarga aja,” kata Teja kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Senada dengan Teja, perencana keuangan Andy Nugroho juga menyarankan untuk menentukan penerima angpau dan estimasi nilainya. Biasanya besaran THR Lebaran yang diberikan, berbeda-beda tergantung tingkatan dalam keluarga.

    “Nah urutannya paling banyak saya akan kasih ke siapa? ke orang tua pertama, terus kemudian habis itu level berikutnya yang lebih kecil jumlahnya tuh saya kasihkan ke misalnya anak atau ke anaknya saudara-saudara saya,” kata Andy.

    2. Sesuaikan Usia dan Kebiasaan di Keluarga

    Untuk nilai uang yang dibagikan, Teja tidak bisa menetapkan besaran pasti. Sebab menurutnya setiap individu atau keluarga memiliki perhitungannya masing-masing seperti tingkat ekonomi keluarga, usia, hingga wilayah tempat tinggal.

    “Misalnya kasih keponakan Rp 50 ribu pantes nggak? Tapi ternyata di kalau di kampung kasih Rp 5 ribu sudah cukup, kasih Rp 20 ribu sudah cukup, gimana tuh? Jadi tergantung situasi,” terang Teja.

    “Itu juga kadang ada yang serba salah tuh, ada yang masih TK, SD, SMP, SMA. Kalau TK dikasih Rp 1.000 dua puluh biji (Rp 20 ribu) senang tuh, kalau SMA dikasih Rp 1.000 dua puluh biji marah-marah nanti,” tambahnya.

    3. Sesuaikan Bujet

    Teja mengatakan pemberian angpau Lebaran bisa disesuaikan dari jumlah THR yang diterima. Dengan begitu perhitungan angpau dapat lebih mudah dan tidak begitu memberatkan pemberi.

    “Pertama adalah menyesuaikan dengan budget kita. Misalnya kita kasih budget ‘oke saya mau kasih THR Lebaran buat saudara-saudara misalnya Rp 1 juta deh semuanya. Karena saya dapat THR Rp 3 juta, masa semua dibagi-bagikan?’ Nanti habis dong,” jelas Teja.

    “Bisa juga dibujet maksimal berapa nih? 20% kah dari THR kah, 30% kah. Misalnya oke 20%, anggap saja Rp 1 juta, ya dibagi-bagi lah jumlah keponakan ada berapa, saudara ada berapa, siapa saja yang mau dikasih,” tambahnya lagi.

    4. Jangan Kejar Gengsi

    Terakhir yang tak kalah penting, menurut Andy saat menentukan besaran budget atau nilai dari masing-masing angpau Lebaran harus disesuaikan dengan kemampuan, bukan demi mengejar gengsi.

    Disarankan agar jumlah pemberian tidak berdasarkan gengsi. Hal ini justru bisa melebihi anggaran, bahkan malah harus berutang untuk menutup kekurangan tersebut.

    “Kadang misalnya kita pemudik, apalagi dari Jakarta kan ‘wah pasti tajir nih, orang kaya, sudah sukses’ nah kadang ditodong untuk ngasih angpau lebih besar,” kata Andy.

    “Sebenarnya pun kalau kita bersikukuh ‘ya saya memberinya segini’, masa iya yang dikasih terus nego nggak mau Rp 20 ribu dong, maunya Rp 50 ribu misalnya,” tambahnya lagi.

    (igo/hns)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Gaji Rp 5 Juta Kerja 5 Tahun Bisa Punya Rumah? Begini Hitungannya


    Jakarta

    Memiliki rumah sendiri menjadi mimpi banyak orang. Tak terkecuali bagi orang-orang yang memiliki gaji pas-pasan, misalnya saja para pekerja dengan gaji Rp 5 juta per bulan.

    Seberapa besar sih kemungkinan orang bergaji Rp 5 juta per bulan bisa mendapatkan rumah dalam waktu yang tak begitu lama, misalnya 5 tahun?

    Melansir detikProperti, orang bergaji Rp 5 juta per bulan sangat mungkin untuk mendapatkan rumah dengan cicilan KPR. Setidaknya yang pertama harus dilakukan adalah mencicil KPR selama 5 tahun.


    Menurut Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho, seseorang bisa menyisihkan 10-30% pendapatan untuk menabung DP rumah yang akan dibeli. Nantinya, saat DP bisa dipenuhi dan lolos KPR, alokasi 10-30% tadi digeser untuk memenuhi cicilan dan juga urusan lain untuk rumah.

    Misalnya, ada rumah dengan harga sekitar Rp 350 juta. Biasanya, untuk DP KPR perlu dibayar 10-30% dari harga rumah. Apabila DP yang harus dibayar 20% saja dari Rp 350 juta, maka jumlahnya Rp 70 juta.

    Nah, untuk bisa bayar DP Rp 70 juta dengan gaji Rp 5 juta per bulan, 25% dari gaji bisa disisihkan setiap bulan, jumlahnya sekitar Rp 1,25 juta per bulan.

    Tentukan Cicilan yang Terjangkau

    Menentukan besar cicilan sesuai kemampuan adalah langkah krusial dalam menabung untuk beli rumah, apalagi dengan gaji yang terbatas. Andy menyarankan untuk mengikuti hitungan slik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu maksimal 30% dari penghasilan, kurang lebih sama seperti saat menyisihkan pendapatan untuk mencicil DP KPR.

    Andy menyarankan sebisa mungkin jangan mengambil cicilan dengan batas maksimal karena masih ada perabotan yang harus dibeli setelah beli rumah.

    Belum lagi harus memperhitungkan biaya tambahan saat memulai cicilan KPR, asuransi, pajak, biaya perawatan, biaya surat menyurat dan lainnya.

    “Kadang karena kita beli rumah pertama atau rumah impian, cicilannya dipentokin sampai 30% dari penghasilan. Kita lupa kan beli rumah masih kosongan, belum ada isinya. Padahal di sisi yang lain perlu beli furniture untuk isi rumah,” tutur Andy.

    Masyarakat juga bisa mempertimbangkan membeli rumah subsidi yang biaya DP dan cicilannya lebih murah. KPR subsidi sendiri bisa digunakan oleh orang yang batas maksimum gajinya yaitu Rp 8.000.000 atau Rp 10.000.000 khusus wilayah Papua dan Papua Barat, baik untuk gaji tetap maupun tidak tetap.

    Cari Penghasilan Tambahan

    Nah bila sudah mulai mencicil KPR, seseorang dengan gaji Rp 5 juta per bulan disarankan untuk mencari penghasilan tambahan. Bisa saja dengan mencari pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama.

    Bisa juga dengan melakukan investasi dari uang bonus. Namun, penting untuk memilih jenis investasi yang tepat dan perhatikan faktor risiko dari setiap jenis investasi

    Disarankan juga bagi orang dengan penghasilan Rp 5 juta per bulan saat mencicil rumah tidak punya utang yang lain, hal ini dilakukan agar bisa fokus membayar cicilan rumah.

    (hal/eds)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tips Atur Gaji Rp 5 Juta biar Nggak Habis di Tengah Bulan

    Jakarta

    Mengelola keuangan pribadi menjadi sebuah keharusan di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Terlebih jika gaji yang dimiliki hanya setara UMP Jakarta atau sekitar Rp 5 jutaan saja. Kalau tidak akan sulit bagi pekerja untuk hidup layak, bahkan berpotensi kehabisan dana di tengah bulan.

    Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menyebut cara terbaik agar gaji setara UMP Jakarta cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup layak dan tak kehabisan uang tengah bulan adalah dengan mengatur gaya hidup atau pengeluaran yang bersangkutan.

    Sebab sebesar apapun gaji yang diterima, jika pengeluaran yang bersangkutan tidak dikelola dengan baik maka akan ada saja kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi. Namun jika setiap pengeluaran dapat dikelola dengan bijaksana, maka dengan gaji sekitar Rp 5 juta atau UMP Jakarta tak akan habis begitu saja di tengah bulan.


    “Yang namanya untuk dapat hidup layak lebih pada bagaimana kita bisa mengatur gaya hidup dan pengeluaran kita menyesuaikan dengan income yang masuk. Mau sebesar apapun income kita, kalau kita boros dan tidak cakap mengelolanya tentu membuat akan ada kebutuhan-kebutuhan yang tidak tercukupinya juga,” kata Andy kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Andy mengatakan cara terbaik untuk mengatur gaji agar cukup memenuhi kebutuhan hidup hingga akhir bulan adalah dengan mengatur skala prioritas pengeluaran. Dalam hal ini gaji yang diterima digunakan untuk pos-pos pengeluaran penting terlebih dahulu.

    Adapun pos-pos pengeluaran penting ini dapat diatur sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Semisal yang pertama digunakan untuk bayar cicilan utang jika ada atau membayar utilitas dan tempat tinggal lebih dulu. Baru setelah itu sisa dana yang ada digunakan untuk kebutuhan dasar lain seperti makan dan ongkos transportasi kerja.

    “Cara mengatur pengeluarannya gunakan skala prioritas. Artinya pengeluaran diutamakan untuk hal-hal yang bersifat kewajiban, penting dan urgent,” kata Andy.

    Hindari Beli Barang-barang Ini!

    Senada, Perencana Keuangan Risza Bambang berpendapat penting bagi pekerja dengan gaji setara UMP Jakarta atau sekitar Rp 5 juta untuk mengontrol gaya hidup, termasuk memilih barang-barang yang dibeli.

    “Banyak orang membuang dana untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kebutuhan pokok contohnya merokok, jajan tidak terkontrol, pilihan tempat tinggal dan transportasi yang tidak efisien walau kelihatannya baik dan rekreasi berlebihan. Tanpa disadari hal-hal seperti di atas akan menghabiskan anggaran yang sudah cekak tersebut,” sambung Risza.

    Sebagai contoh alih-alih membeli kopi dari brand internasional dengan harga yang relatif mahal, yang bersangkutan dapat membeli kopi dari brand lokal dengan harga yang lebih terjangkau. Kemudian yang bersangkutan juga bisa membawa bekal dari rumah daripada membeli makan siang di luar, dan lain sebagainya.

    Menurutnya pilihan gaya hidup seperti ini akan sangat berpengaruh terhadap besaran pengeluaran yang bersangkutan. Kemudian Riszal berpendapat akan lebih baik jika yang bersangkutan juga memiliki sifat disiplin dan memiliki pengetahuan keuangan untuk membantu menjaga gaya hidup tadi.

    Alokasikan Dana Untuk Menabung dan Investasi

    Andy menyarankan jika pekerja masih ada sisa dana di luar pos pengeluaran bulan tadi, sebaiknya dana digunakan untuk menabung atau berinvestasi. Terlebih jika besaran gaji yang diterima tercatat lebih besar dari rata-rata pengeluaran setiap bulan.

    Menurutnya jika pengeluaran setiap bulan sudah terukur dengan baik, penting untuk menyisihkan dana untuk menabung atau investasi terlebih dahulu dari pos pengeluaran yang ada. Dengan begitu yang bersangkutan meminimalisir potensi menggunakan dana tabungan atau investasi untuk keperluan lain.

    “Bila masih ada lebih, maka simpan sebagai tabungan atau investasi. Bila dari awal kita sudah bisa berhitung akan ada kelebihannya dari pengeluaran rata-rata bulanan kita, maka sebaiknya menabung itu dilakukan dengan menyisihkan uang penghasilan dari awal,” imbuh Andy.

    Sementara itu Risza juga menyarankan jika yang bersangkutan memiliki dana lebih, maka sisa dana yang dimiliki sebaiknya digunakan untuk menabung atau berinvestasi. Atau bisa juga yang bersangkutan sudah mengalokasikan lebih dulu besaran dana yang ingin ditabung atau diinvestasikan lebih dahulu.

    “Anggaran menabung atau investasi berkisar minimal 10% sampai dengan ideal 30%. Tentunya disesuaikan dengan arus kas masing-masing individu,” pungkas Risza.

    Risiko Jika Tak Atur Gaji dengan Baik

    Fungsi utama dari mengatur gaji Rp 5 juta atau setara UMP Jakarta adalah untuk ngebantu kamu supaya bisa mengambil keputusan-keputusan keuangan dengan lebih baik, termasuk juga keputusan untuk ke mana saja mengalokasikan uang yang kamu punya dalam jangka waktu tertentu.

    Dengan mengatur gaji atau kerap disebut sebagai personal budgeting kamu bisa menghindari berbagai persoalan finansial ke depan. Berdasarkan situs resmi gopay, berikut Hal-hal yang bisa terjadi kalau tak mengatur gaji dengan baik.

    1. Selalu merasa kekurangan

    Tanpa personal budgeting atau mengatur gaji bulanan, akan mudah sekali buat kamu kehilangan kepekaan terhadap pendapatan dan pengeluaran, dan membuat kamu selalu merasa kekurangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jika hal ini berulang, maka bisa menjadi penyebab stres yang berkelanjutan.

    2. Terlambat dalam membayar tagihan

    Mengelola jadwal pembayaran tagihan bisa menjadi tak terkontrol tanpa budgeting yang baik, dan bisa berimbas pada munculnya kewajiban untuk membayar denda keterlambatan pembayaran.

    3. Terjebak dalam hutang yang tidak terkendali

    Karena sering mengalami kekurangan untuk memenuhi kebutuhan, banyak kemudian di antara kita yang akhirnya harus berhutang tanpa disertai kemampuan untuk membayar sesuai kesepakatan. Jika dibiarkan terus menerus, maka siklus gali lobang tutup lobang menjadi sulit banget buat dihindari.

    4. Nggak punya tabungan cukup untuk keperluan darurat

    Tanpa punya personal budgeting, keperluan mendadak seperti reparasi kendaraan, biaya berobat dan biaya mengantisipasi musibah, bisa membuat keuangan kamu goyang dengan mudah.

    5. Sulit untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan

    Nggak akan terbayang gimana caranya untuk bisa mewujudkan tujuan-tujuan keuangan yang lebih besar seperti membeli kendaraan untuk keluarga, hunian, biaya pendidikan anak, ataupun dana persiapan pensiun, tanpa diawali kebiasaan mengelola personal budgeting.

    Tonton juga “Kurangi Risiko Galbay, Score Credit Masuk ke Slip Gaji?” di sini:

    (igo/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • 6 Strategi Jualan di Bulan Ramadan agar Sukses dan Untung

    Jakarta

    Selama Ramadan, banyak masyarakat yang mulai berjualan untuk menambah penghasilan. Sebelum memulai usaha, penting untuk mengetahui strategi jualan di bulan Ramadan.

    Usaha yang muncul saat Ramadan tidak jauh dari makanan dan kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya takjil, hampers, kue kering, hingga baju muslim untuk Lebaran. Harganya pun juga beragam, mulai dari yang murah hingga mahal sekalipun.

    Sayangnya, tidak semua orang mengetahui strategi berjualan yang tepat saat Ramadan. Bukannya meraup untung besar, justru malah buntung karena dagangan sepi dan tidak laku.


    Untuk mencegah hal itu terjadi, simak sejumlah strategi jualan di bulan Ramadan secara lengkap dalam artikel ini.

    Strategi Jualan di Bulan Ramadan Agar Cuan

    Penting untuk mengetahui strategi jualan selama Ramadan agar detikers bisa meraup cuan. Mengutip catatan detikFinance, berikut sejumlah strateginya:

    1. Mengetahui Calon Pembeli

    Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari mengatakan, penting untuk mengetahui target pembeli dari usaha yang akan dijalankan. Hal itu nantinya akan berpengaruh pada beberapa aspek bisnis, seperti menentukan harga jual.

    “Kenali calon pembeli kita, baik yang sudah membeli selama ini. Maupun orang-orang yang akan menjadi target pangsa pasar kita,” kata Tejasari kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Setelah mengenali calon pembeli, penentuan harga jual dapat disesuaikan dengan target pembeli kota.

    “Penentuan harga jual juga bandingkan dengan harga jual pesaing,” ujarnya.

    2. Menjual Produk yang Berbeda

    Sementara itu, Perencana Keuangan Andy Nugroho mengatakan, sebisa mungkin produk yang akan dijual memiliki perbedaan dengan produk pesaingnya. Misalnya, dari segi rasa, kualitas, hingga kemasannya.

    “Sebisa mungkin membuat hal yang berbeda dibandingkan dengan kompetitor. Misal dari kualitas, rasa, tampilan kemasan,” jelasnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Senada dengan Andy, Tejasari mengungkapkan produk yang berbeda dengan para pesaing dapat memiliki keunikan tersendiri, sehingga dapat bersaing dengan harga yang baik.

    3. Promosi

    Lebih lanjut, Tejasari mengatakan perlu mempersiapkan rencana promosi sebagian dari strategi jualan. Hal ini penting agar semakin banyak orang yang mengenali produk kita.

    Promosi bisa dilakukan lewat berbagai cara, mulai dari memasang iklan, berjualan di tempat-tempat strategis, atau melalui media sosial. Selain itu, pelaku usaha juga perlu menjelaskan keunggulan produk dan memberikan kualitas terbaik agar para pembeli semakin tertarik.

    4. Stok Produk yang Cukup

    Strategi berikutnya adalah dengan menyediakan stok produk yang cukup untuk dijual. Alhasil, ketika permintaan mengalami peningkatan, maka produknya sudah siap untuk dijual.

    5. Menawarkan Promo Khusus

    Mengutip laman CIMB Niaga, para pelaku usaha biasanya juga menawarkan berbagai promo menarik selama bulan Ramadan. Apalagi saat menjelang Lebaran, promo yang ditawarkan semakin menggiurkan.

    Kamu bisa menerapkan strategi khusus selama Ramadan. Selain menawarkan diskon menarik, kamu juga bisa menerapkan strategi promosi lainnya, seperti bundling takjil untuk buka puasa atau beli 2 gratis 1.

    6. Manfaatkan Platform Online

    Agar penjualan semakin maksimal, cobalah memanfaatkan platform online untuk berjualan. Kamu bisa membuka toko online di berbagai e-commerce agar bisa melayani pembeli dari berbagai daerah di Indonesia.

    Jika kamu fokus berjualan makanan, minuman, atau camilan, daftarkan tempat usahamu ke aplikasi ojek online agar bisa dipesan secara daring. Hal ini dapat membantu meningkatkan penjualan karena pembeli bisa datang dari berbagai wilayah di kota mu.

    Tonton juga Video Warga Berburu Takjil di Pasar Benhil

    (ilf/fds)



    Sumber : finance.detik.com

  • Berapa Angpau Lebaran untuk Keponakan dan Tetangga?

    Jakarta

    Angpau Lebaran adalah sebutan untuk sejumlah uang yang diberikan pada saudara dan kerabat saat Idul Fitri. Tradisi angpau Lebaran biasa diterapkan pada anak-anak atau remaja yang belum bekerja.

    Besaran angpau Lebaran biasanya bergantung pada kebijakan pemberi uang. Namun, pemberi biasanya ingin angpau Lebaran diberikan dalam jumlah yang tidak terlalu besar atau kecil.

    Berapa Angpau Lebaran untuk Keponakan dan Tetangga?

    Besarnya uang angpau bergantung pada beberapa faktor, misal usia kedekatan dengan pemberi. Semakin dekat keponakan dan tetangga pada pemberi, biasanya angpau makin besar.


    • Keponakan jauh: Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.
    • Keponakan dekat: Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.
    • Tetangga: Rp 2 ribu hingga Rp 20 ribu.

    Tentunya jumlah ini bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial pemberi serta jumlah tetangga dan keponakan yang hendak diberi angpau. Jangan sampai tradisi angpau memberatkan pihak yang ingin memberi uang Lebaran.

    Tips Membagi Angpau Lebaran

    Bagi detikers yang masih bingung soal jumlah angpau Lebaran, tips dari penjelasan Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Asad, dan Perencana keuangan Andy Nugroho ini mungkin bisa membantu.

    1. Jumlah Terbesar untuk Orang Tua

    Pemberian kepada orang tua bisa dalam bentuk apa saja, salah satunya adalah uang. Jika memberikan uang untuk orang tua, tentu jumlahnya paling besar. Baru setelahnya bisa dibagi untuk keponakan dan lain-lain.

    “Pertama kita biasanya kasih orang tua, nah itu biasanya yang paling gede. Terus yang kedua siapa nih? misalnya kakak-adik sudah pada kerja ngapain dikasih? jadi kasih ke yang belum kerja, biasanya keponakan sih. Atau misalnya punya adik yang masih kecil belum kerja, mau dikasih boleh. Jadi berdasarkan level keluarga aja,” kata Teja berdasarkan catatan detikcom.

    2. Sesuaikan Kebiasaan di Kampung

    Soal nominal, sebetulnya tidak ada aturan yang mengikat. Hal ini bisa disesuaikan dengan kebiasaan di kampung. Sebab kebiasaan di kota besar bisa berbeda dengan di desa.

    “Misalnya kasih keponakan Rp 50 ribu pantes nggak? Tapi ternyata di kalau di kampung kasih Rp 5 ribu sudah cukup, kasih Rp 20 ribu sudah cukup, gimana tuh? Jadi tergantung situasi,” terang Teja.

    3. Beri Berdasarkan Usia dan Kedekatan

    Selanjutnya, detikers bisa memberikan angpau berdasarkan usia, misalnya dibedakan sesuai jenjang sekolah. Selain itu, juga dibedakan berdasarkan kedekatan, misalnya paling besar untuk anak sendiri, kemudian keponakan, sedangkan anak tetangga paling sedikit.

    “Itu juga kadang ada yang serba salah tuh, ada yang masih TK, SD, SMP, SMA. Kalau TK dikasih Rp 1.000 dua puluh biji (Rp 20 ribu) seneng tuh, kalau SMA dikasih Rp 1.000 dua puluh biji marah-marah nanti,” tambahnya.

    4. Sesuaikan Budget

    Terakhir dan terpenting adalah detikers harus menyesuaikan dengan budget. Angpau ini biasanya diberikan dari uang THR pemberi yang hendak dihabiskan atau diambil sebagian.

    Disarankan agar jumlah pemberian tidak berdasarkan gengsi. Hal ini justru bisa melebihi anggaran, bahkan malah harus berutang untuk menutup kekurangan tersebut.

    (bai/row)



    Sumber : finance.detik.com

  • Ini Rekomendasi Investasi Jika Gajimu Rp 6 Juta Seperti Kaluna


    Jakarta

    Kaluna, tokoh utama dalam film Home Sweet Loan memiliki gaji Rp 6 juta per bulan mampu memiliki tabungan Rp 330 juta dalam 7 tahun. Dirinya menabung Rp 4 Juta tiap bulannya di rekening bank. Ternyata masih ada tempat berinvestasi yang paling ideal untuk menambah nilai uangmu detikers, ini rekomendasinya!

    Perencana Keuangan Andy Nugroho mengatakan bahwa untuk berinvestasi itu kita harus membuat skala prioritas dengan membagi kedua hal mana membedakan kebutuhan dan keinginan.

    “Kebutuhan seperti kos, makan, internet, dan transportasi itu kebutuhan dan kalau keinginan itu seperti kita pengin jalan-jalan misalnya. Pokoknya jangan dibalik, pentingin kebutuhan dulu baru keinginan,” kata Andy saat dihubungi detikcom, Jumat 11/10/2024.


    Menurutnya, idealnya berinvestasi itu 10% dari penghasilan kita. Misal dengan gaji Rp 6 juta itu nominal yang dapat diinvestasikan sebesar RP 600 ribu.

    “Ada empat tempat yang ideal untuk investasikan uangmu diantaranya reksadana, pasar saham, logam mulia, dan obligasi negara ritel (ORI),” kata Andy.

    Jika di reksadana, menurutnya lebih aman dan murah karena reksadana itu dibelinya mulai dari Rp 100.000 di aplikasi fintech. Adapun menginvestasikannya di pasar saham dengan memerhatikan fundamental perusahaannya.

    Apabila di logam mulia itu menurutnya juga ideal mengingat konsepnya juga sama seperti menabung namun lebih prospektif. Terakhir ada obligasi negara ritel (ORI) yang bisa masuk mulai dari satu jutaan.

    “Misalnya kita punya 4 juta per bulan, udah masukin ke (ORI) aja. Itu nanti kita bakal dapet bunganya lebih tinggi daripada deposito. Tapi perlu dicatat, kalo investasi itu sesuai profil kita kan ada yang agresif, moderat, dan konservatif. Kita mesti paham diri kita, baru kemudian kita cari produk yang sesuai dengan profil psiko kita itu,” tutupnya.

    Simak: Gaji UMR, Cukup Nggak Sih Buat Hidup Enak?

    [Gambas:Video 20detik]

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com