Postingan foto OOTD Paula saat liburan mendapatkan banjir pujian dari warganet. โCantiknyaaa ๐๐,” puji @fasyarafasyabelva. “Super model emg beda. . Tabrak warna aja. . Kece bgt. . Apa kbr sma aku. . Jdi kue lapis kynya. . ๐sehat selalau mamapau,” saut akun @tie_sky1509. “Masya Allahh cantiknyaaa ๐๐๐,” kagum akun @aamy1524. Foto: Dok. Instgram @paula_verhoeven.
Tag: belanda
-
Jejak Pahlawan Maluku di Ruang Literasi Blok M
Jakarta –Dari kisah heroik pejuang Maluku hingga semangat literasi anak muda, sebuah ruang baca di Blok M menghadirkan pertemuan sejarah dan modernitas dalam satu napas. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.
taman itu terletak di Jl. Sisingamangaraja No. 2, Selong, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Lokasinya strategis di kawasan Blok M yang dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Taman itu dirancang sebagai ruang publik yang menggabungkan nuansa hijau dengan kegiatan literasi. Ada juga fasilitas keren seperti perpustakaan terbuka, sampai kafe yang bikin taman ini hidup dengan berbagai aktivitas kreatif dan edukatif.
Kalau kamu sedang jalan-jalan ke kawasan Blok M, jangan sampai melewatkan satu spot keren ini: Taman Literasi Christina Martha Tiahahu. (Grandyos Zafna)“Di taman ini sering diselenggarakan acara, mulai dari workshop, ngobrolin buku, sampai pertunjukan seni atau konser ada di sini, biasanya ada di tengah taman pengunjung bisa duduk untuk menonton pertunjukan,” kata Muti, pemandu wisata dari Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Selatan pada Kamis (25/9/2025).
Sejarah Penamaan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu
Berdasarkan penjelasan dari Muti, pemandu wisata Sudin Parekraf Jakarta Selatan, nama taman ini diambil dari sosok pahlawan nasional asal Maluku, Martha Christina Tiahahu. Dia adalah pahlawan yang berani melawan penjajahan Belanda.
Martha ditawan Belanda pada 1818. Saat ditawan Martha memilih tidak makan hingga akhirnya meninggal, dan jenazahnya bahkan dibuang ke laut.
Atas keberaniannya, pemerintah menetapkan Martha Christina Tiahahu sebagai pahlawan nasional pada 1969. Semangat juang Marta Tiahahu menjadi filosofi taman ini, diharapkan dengan adanya taman ini, generasi muda berani berkarya dan belajar lewat literasi.
Peresmian Taman Literasi Martha Christina Tiahahu
Dulu, taman ini bernama Taman Martha Tiahahu. Kemudian, saat kawasan Blok M direvitalisasi bersamaan dengan pembangunan Cakra Selaras Wahana (CSW), taman ini ikut direnovasi dan diresmikan pada 2021 oleh Gubernur Jakarta Anis Baswedan dengan nama barunya ‘Taman Literasi Martha Christina Tiahahu’.
Taman Literasi Blok M (Andhika Prasetia)“Taman ini sempat berganti nama, awalnya bernama Taman Martha Tiahahu terus diganti sama bapak Gubernur jadi Taman Literasi Martha Christina Tiahahu dengan harapan warga Jakarta bisa mengakses literasi walau sedang di Taman dan pembangunan taman ini berbarengan dengan CSW,” kata Muti.
Di taman ini mayoritas ada kafe kopi. Kopi yang paling mahal adalah kopi gajah dari hasil fermentasi gajah. Harga satu cangkir kopi mencapai Rp 50 ribu.
“Asal mula kopi itu berasal dari kambing yang menari-nari, awal mulanya ada pengembala kambing asal Ethiopia yang melihat kambingnya begitu semangat setelah memakan buah beri merah dari pohon kopi,” kata Muti.
Rute Menuju Taman Literasi
Berkunjung ke Taman Literasi, traveler bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Berikut rute transportasi umum dan kendaraan pribadi yang berhasil detik travel dapatkan untuk detikers gunakan menuju Taman Literasi.
TransJakarta:
Jika traveler berangkat dari pusat kota Jakarta, traveler bisa menggunakan TransJakarta koridor 1, lalu turun di Halte Blok M, dan bisa berjalan kaki 450 meter menuju Taman Literasi. Jika traveler berangkat dari arah Tangerang Selatan, traveler bisa menggunakan TransJakarta koridor s21, lalu turun di Bus Stop Hotel Melawai dan berjalan 450 meter menuju Taman Literasi.
MRT:
Traveler bisa menggunakan MRT menuju Taman Literasi, lalu turun di Stasiun Blok M BCA, dan berjalan 350 meter menuju Taman Literasi.
Kalau detikers dari Jakarta Pusat menuju Taman Literasi menggunakan kendaraan pribadi, detikers dapat menempuh perjalanan sepanjang 8,9 km melalui jalur arteri dengan melintasi Jalan Jenderal Sudirman.
Taman Literasi Martha Christina Tiahahu bukan hanya ruang hijau untuk bersantai, tetapi juga wadah bagi generasi muda untuk belajar dan berkarya. Dengan perpaduan sejarah, literasi, dan aktivitas kreatif, taman ini menjadi destinasi publik yang patut dikunjungi di Jakarta Selatan.
(fem/fem)

image : unsplash.com / Thomas Tucker -
5 Pantai Terdekat dari Jakarta dan Rute Menuju ke Lokasi
Jakarta –Menjelang akhir pekan, saatnya berburu wisata pantai yang tak jauh dari Jakarta. Simak 5 pantai berikut ini dan rute menuju ke lokasi ya!
Pantai-pantai terdekat dari Jakarta ini aksesnya mudah dijangkau, serta memiliki banyak fasilitas dari tempat makan hingga penginapan yang memudahkan pengunjung jika mereka mau sambil staycation.
Berikut 5 Pantai yang Jaraknya Relatif Dekat dengan Jakarta:
1. Pantai Ancol
Pantai Ancol di Jakarta Utara Foto: Pradita UtamaMenyebut pantai terdekat dari Jakarta, nama Ancol tentu harus masuk ke dalam daftar. Berlokasi di Jakarta Utara, Ancol selalu jadi favorit bagi wisatawan yang mau liburan ke pantai di ibu kota.
Wisatawan bisa main air di pantai ini. Ombaknya relatif landai. Anak-anak paling suka main pasir dan lari-lari di pantai Ancol.
Untuk menuju ke sini, traveler bisa menggunakan mobil pribadi dan transportasi umum. Kalian bisa naik bus Transjakarta dengan tujuan akhir Halte Transjakarta Ancol.
2. Pantai Pasir Putih PIK 2
Pantai Pasir Putih PIK 2 Foto: Rachman_FotoSelanjutnya ada Pantai Pasir Putih PIK 2 yang memiliki hamparan pasir putih dan pemandangan laut yang menenangkan. Wisatawan bisa menikmati aneka aktivitas di pantai ini seperti berjemur, berfoto-foto di spot instagramable yang tersedia, serta bermain voli pantai.
Pasir putih di pantai yang merupakan area reklamasi ini terhampar seluas 4 km. Kawasan pasir putih PIK 2 juga sudah dilengkapi dengan aneka wisata kuliner, sehingga kamu tak usah repot-repot membawa makanan dari rumah.
Traveler disarankan datang saat sore hari agar bisa menikmati udara yang sejuk dan menyaksikan sunset yang cantik. Untuk menuju ke sini, traveler bisa naik transportasi umum.
Naiklah bus TransJakarta yang menuju ke Halte Balai Kota. Dari halte Balai Kota, perjalanan dilanjutkan dengan busway Koridor 1A (Balai Kota-Pantai Maju). Dari halte Pantai Maju, tinggal naik transportasi online sampai ke Pantai Pasir Putih PIK 2.
3. Pulau Bidadari
Pulau Bidadari Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPantai Pulau Bidadari terletak di Kepulauan Seribu, Jakarta. Anda bisa memulai perjalanan ke pantai ini dari dermaga Marina Ancol.
Untuk waktu tempuhnya sekitar 20-30 menit menyesuaikan armada kapal yang nantinya digunakan. Apabila ingin menginap, Pantai Bidadari menyediakan resor hingga cottage.
Ada banyak kegiatan yang bisa dijelajahi di sini. Seperti bersepeda, banana boat, jet ski, sampai mengunjungi Benteng Martello peninggalan Belanda.
Supaya puas menjelajah Pulau Bidadari, Anda dapat memilih paket tur yang harganya relatif terjangkau bahkan bisa beramai-ramai bersama keluarga atau teman.
4. Pantai Pulau Perak
Wisata pantai berikutnya ada Pantai Pulau Perak. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari ibu kota Jakarta bahkan disebut-sebut sebagai pantai tak berpenghuni.
Menuju ke Pantai Perak bisa menggunakan jalur keberangkatan dari dermaga Kali Adem atau Muara Angke, Jakarta Utara.
Letak Pantai Perak masih dalam lingkup Kepulauan Seribu. Selain sering digunakan untuk snorkeling, atau diving, pantainya cocok dijadikan tempat berkemah.
Jika minat berkemah di pantai ini, Anda bisa booking langsung ke pengelola di sekitar pantai supaya dipersiapkan semua keperluan menginap. Untuk harganya mulai dari Rp50 ribu.
5. Pantai Pasir Perawan
Wisatawan menikmati keindahan Pantai Pasir Perawan yang terletak di Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. File/detikFoto. Foto: Agung PambudhyPantai dekat Jakarta berikutnya masih berada di Kepulauan Seribu yaitu Pantai Pasir Perawan yang berada di Pulau Pari. Untuk mencapai pulau ini dibutuhkan waktu tempuh sekitar 1,5 jam perjalanan laut dari kota Jakarta.
Selain cocok dijadikan tempat untuk healing, Anda dapat melihat langsung pesona pantai yang mempunyai pasir putih bersih dan bening.
Kawasan Pantai Pasir Perawan dikelilingi hutan bakau sehingga Anda bisa menaiki sampan untuk berkeliling santai di tempat ini.
(wsw/wsw)

image : unsplash.com / Thomas Tucker -
5 Kota Tua di Indonesia yang Cantik untuk City Walk Murah
Jakarta –Berwisata di kawasan kota tua jadi pilihan wisatawan yang suka berjalan kaki sambil melihat-lihat pemandangan. Berikut lima pilihan yang bisa dicoba:
Kawasan kota tua tak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga pemandangan indah yang menarik untuk diabadikan. Traveler bisa foto-foto Instagramable di lima kawasan kota tua berikut ini:
1. Kota Tua Jakarta
Yang pertama ada Kota Tua Jakarta. Di sini, traveler bisa menjelajahi aneka gedung bersejarah peninggalan zaman kolonial Belanda. Dari Museum Fatahillah hingga Museum Wayang semuanya menarik untuk dikunjungi.
Kunjungi juga Museum Bank Indonesia (BI) dan Museum Bank Mandiri yang menyimpan sejarah perbankan Indonesia. Di sini, traveler bisa melihat mata uang dari zaman Nusantara sampai sekarang. Museum ini sering dijadikan tempat wisata edukatif oleh para pelajar.
2. Kota Lama Semarang
Wisata sejarah menjadi salah satu magnet di kawasan Kota Lama Semarang. Kota ini juga sering disebut Outstadt atau Little Netherland, karena bangunan-bangunan berusia 200-300 tahun sejak zaman kolonial Belanda.
Bahkan, bangunannya banyak yang masih berdiri megah. Selain estetik, Kota Lama Semarang merupakan wisata edukatif. Traveler bisa sambil jalan-jalan di kawasan memiliki luas total sebesar 31 hektar.
Kota Lama Semarang Foto: (Gandung Adi Wibowo/d’Traveler)Di sekitar kawasan Kota Lama Semarang juga banyak tersedia kafe, resto, dan bar yang menawarkan banyak menu kuliner. Bahkan sampai malam kota ini tetap hidup dan ramai dengan adanya tempat hiburan malam seperti Taman Srigunting, Museum Kota Lama, Gedung Marabunta, dan Gedung Marba.
3. Kota Tua Ampenan
Arsitektur bangunan ala kolonial masih berdiri kokoh di sepanjang jalan Kota Tua Ampenan. Bangunan-bangunan bergaya Belanda nampaknya meninggalkan banyak kenangan bagi warga yang bermukim di Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kota Tua Ampenan pernah menjadi satu-satunya pintu masuk ke pulau Lombok sejak abad 18 hingga abad 19. Pada masa itu, bangunan-bangunan ala Belanda itu sudah berdiri kokoh di sepanjang jalan menuju pantai Ampenan. Kota Ampenan pernah menjadi kota pelabuhan dan pusat perdagangan pada sekitar tahun 1924 hingga sekitar tahun 1960.
4. Kayutangan Heritage
Di Malang, Jawa Timur ada Kayutangan Heritage, kawasan kota tua dengan bangunan-bangunan bergaya klasik yang bisa dijelajahi traveler. Di sini juga ada banyak kafe-kafe estetik yang bisa disinggahi.
Salah satunya adalah Cafe Kios Mera untuk merasakan sensasi nongkrong yang berbeda dari cafe lainnya. Dilengkapi dengan mini library dan barang-barang antik, membuat kafe tersebut terasa lebih vintage dan instagrammable untuk dijadikan spot foto.
5. Kawasan Jalan Braga
Terakhir ada kawasan Jalan Braga di Bandung yang asyik buat jalan-jalan. Jalanan ini dipenuhi dengan bangunan klasik yang Instagramable.
Selain berbagai hotel, restoran, kafe, dan mal, bangunan bergaya bergaya arsitektur Art Deco, kolonial Belanda, dan Indische, seperti Gedung Landmark dan Gedung Merdeka, yang masih berdiri kokoh menjadi daya pikat di jalan Braga.
(wsw/wsw)
-
5 Tempat Wisata di Kepulauan Seribu yang Masih Sepi dan Murah
Jakarta –Kepulauan Seribu adalah wajah lain Jakarta yang jauh dari hiruk-pikuk dan kebisingan. Cocok untuk rehat, ini pulau-pulau wisata yang sepi dari wisatawan.
Seperti namanya, Kepulauan Seribu merupakan untaian pulau-pulau kecil di utara Jakarta. Saking banyaknya, maka diberi nama Pulau Seribu.
Meski jauh dari daratan, pulau-pulau ini berpenghuni dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Jakarta. Pulau yang paling banyak diminati adalah Pulau Tidung dan Pulau Pramuka.
Jangan cuma tahu dua pulau itu, detikTravel akan kasih kamu 5 rekomendasi pulau wisata yang masih sepi dari wisatawan dan tentu saja murah!
5 Tempat Wisata di Pulau Seribu Yang masih Sepi dan Murah
1. Pulau Harapan
– Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
– Harga tiket: Rp 40.000-75.000
– Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
– Keunikan: Terumbu karang yang indah dan memiliki taman biota laut yang jadi tempat konservasi.2. Pulau Kelor
– Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
– Harga tiket: Rp 40.000-75.000
– Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
– Keunikan: Pantainya tenang dan jernih. Selain itu terdapat benteng peninggalan Belanda.3. Pulau Untung Jawa
– Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
– Harga tiket: Rp 40.000-75.000
– Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
– Keunikan: Pantai pasir putih yang indah dan hutan mangrove yang rindang.4. Pulau Putri
– Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
– Harga tiket: 40.000-75.000
– Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
– Keunikan: Terowongan kaca bawah laut yang unik. Fasilitas penginapan yang nyaman dan aktivitas watersport yang lengkap.5. Pulau Sepa
– Lokasi: Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
– Harga tiket: Rp 40.000-75.000
– Aktivitas: Snorkeling, diving, berenang, dan berjalan-jalan di pantai
– Keunikan: Pantainya memiliki pasir putih yang masih terjaga. Suasananya sangat tenang, cocok untuk rileksasi.Tips:
– Pastikan untuk memeriksa cuaca sebelum berangkat
– Bawa perlengkapan yang diperlukan seperti kacamata renang, sepatu, dan tabir surya
– Jangan lupa untuk membawa kamera untuk mengabadikan momen-momen indah
– Jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.(bnl/ddn)
-
Yuk, Ziarah ke Rumah Legenda Si Pitung, Sang Jawara Betawi
Jakarta –Si Pitung, jawara legendaris Betawi, bukan sekadar kisah masa lalu, namanya masih menggema hingga kini. Jejak hidupnya bisa disusuri langsung di Rumah Si Pitung di Marunda, saksi bisu perjuangan sang Robin Hood-nya Jakarta.
Konon, Si Pitung disebut sebagai jawara asal Jakarta yang banyak membela masyarakat dan berani menentang Belanda. Selain itu, jejak peninggalan Pitung juga bisa ditelusuri di Rumah Si Pitung yang berada di Jakarta Utara.
Objek wisata itu kerap dikunjungi oleh para pelajar hingga mahasiswa yang ingin melihat bangunan rumah panggung tersebut. Dengan sejarah yang melekat pada bangunan ini, jadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang berkunjung ke Rumah Si Pitung.
Fakta-fakta Rumah Si Pitung:
1. Bukan Rumah Si Pitung Asli
Kendati namanya Rumah Si Pitung, ternyata bangunan itu bukan rumah yang ditinggali oleh si Pitung. Rumah Si Pitung dulu adalah rumah milik Haji Marsani. Dulu rumah itu disinggahi Pitung untuk menghindar dari kejaran Belanda.
2. Siapakah Sebenarnya si Pitung
Banyak versi berkembang tentang legenda si Pitung. Ada yang menyebut Pitung merupakan nama atau julukan dari seseorang, tetapi ada juga yang menyebut bahwa si Pitung ini merupakan nama sebuah kelompok.
Nah jika penasaran dengan versi-versi cerita si Pitung ini bisa langsung datang ke Rumah Si Pitung dan minta untuk dijelaskan oleh guide di sana tentang cerita-cerita legenda si Pitung ini.
3. Rumah Si Pitung Bukan Rumah Adat Betawi
Karena si Pitung merupakan legenda asal Betawi dan nama objek wisata ini Rumah Si Pitung, bukan berarti rumah tersebut bergaya arsitektur rumah khas orang Betawi. Rumah itu merupakan rumah khas orang-orang Kalimantan.
4. Sering Terkena Banjir, Rumah Si Pitung Ditinggikan
Berada di wilayah yang kerap langganan banjir, Rumah Si Pitung pun beberapa kali ditinggikan untuk dasar rumahnya. Bukan tinggi tiang panggungnya yang semakin tinggi, namun ada penambahan beton di bawah rumah tersebut agar tidak dimakan oleh banjir.
5. Dipelopori Ali Sadikin
Rumah itu diberi nama Rumah Si Pitung dan menjadi cagar budaya pada saat Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Pada 1970-an, Ali mencari bangunan-bangunan tua untuk dijadikan cagar budaya dan ditemukan rumah itu. Saat perwakilan Pemprov DKI melakukan survey didapatilah rumah itu dan dinilai memenuhi syarat untuk jadi cagar budaya dan kebetulan juga pernah punya cerita sempat disinggahi si Pitung.
Rumah itu pun kemudian dibeli oleh pemerintah dan diberi nama Rumah Si Pitung itu untuk daya tarik pengunjung.
6. Alamat
Rumah Si Pitung berada di Jalan Kampung Marunda Pulo, RT.2/RW.7, Marunda, Kecamatan Cilincing, Kota Jakarta Utara. Lokasinya berada di kawasan wisata Marunda, Jakarta Utara, dan merupakan salah satu dari sedikit rumah panggung Betawi yang tersisa.
(fem/fem)
-
Pondok Mayit-Pondok Demit, 2 Pos Gunung Raung yang Paling Mistis
Banyuwangi –Mendaki gunung Raung, para pendaki akan melewati pos Pondok Mayit dan Pondok Demit yang nuansanya mistis. Bagaimana kisahnya?
Gunung Raung tak hanya dikenal karena kaldera raksasanya dan medan pendakian ekstrem yang menantang. Di balik megahnya salah satu gunung tertinggi di Jawa Timur ini, tersimpan dua spot yang paling banyak dibicarakan para pendaki, yaitu Pondok Mayit dan Pondok Demit.
Keduanya bukan sekadar tempat istirahat, tapi dipercaya menyimpan kisah gaib yang membuat jalur pendakian Gunung Raung semakin mencekam. Dari penampakan mayat misterius tergantung di pohon, hingga suara pasar gaib yang muncul tiba-tiba di tengah hutan.
Cerita tentang dua pos bernama seram ini akan terus hidup di kalangan pendaki dan masyarakat lokal. Tak sedikit pendaki yang mengaku mengalami kejadian di luar nalar saat melewati dua pos pendakian tersebut.
Asal Usul Nama Pos Pondok Mayit
Nama Pondok Mayit seolah sudah menjelaskan aura yang menyelimutinya. Tak sedikit pendaki yang merasa tidak nyaman saat melintasi kawasan ini, bahkan ketika matahari masih tinggi.
Pondok Mayit memang dikenal sebagai lokasi yang menyeramkan karena pernah ditemukan jasad misterius yang tergantung di pohon di area ini.
Beberapa cerita menyebut mayat tersebut adalah bangsawan Belanda yang dihukum gantung oleh para pejuang lokal pada masa penjajahan. Kejadian tersebut masih menjadi bagian dari catatan sejarah tak resmi yang dipercayai masyarakat sekitar Gunung Raung.
Dari nama Pondok Mayit saja itu sudah cukup untuk menghadirkan suasana mencekam. Sebutan itu seolah menyiratkan tempat yang identik dengan kematian, membuat siapa pun yang mendengarnya langsung merasakan hawa dingin merambat ke tubuh.
Dilansir dari pemberitaan detikcom, banyak pendaki menggambarkan bagaimana rasa merinding kerap datang, bahkan sebelum tiba di lokasi tersebut. Di sekitar kawasan ini, cerita-cerita mistis tak lagi sekadar bisikan.
Pernah terjadi kejadian di mana salah satu pendaki mendadak berteriak di tengah malam, seakan kesurupan. Suaranya berubah menjadi berat dan menggelegar, jauh dari suara aslinya.
Situasi semakin mencekam hingga akhirnya ada yang menenangkan dengan bacaan ayat-ayat suci, dan suasana kembali tenang. Kisah semacam ini memperkuat anggapan bahwa Pondok Mayit bukan sekadar nama, tapi bagian dari misteri nyata yang menyelimuti Gunung Raung.
Pondok Demit dan Munculnya Pasar Gaib di Tengah Hutan
Jika Pondok Mayit dikenal lewat kisah jasad misterius dan aura kematian, Pondok Demit menawarkan misteri yang lebih surreal, yaitu keramaian pasar makhluk halus di tengah hutan sunyi.
Masyarakat setempat mempercayai Pondok Demit sebagai “pasar” tempat makhluk halus melakukan transaksi di waktu-waktu tertentu. Hal ini sejalan dengan kisah para pendaki yang mengaku mendengar keramaian layaknya pasar malam, tawa perempuan, gamelan, suara tawar-menawar, hingga langkah kaki banyak orang, padahal di tengah hutan.
Beberapa pendaki yang bermalam di sekitar pos ini juga mengaku mengalami gangguan. Mulai dari mimpi buruk hingga perasaan diawasi sepanjang malam tanpa sebab yang jelas.
Aura ganjil yang menyelimuti Pondok Demit semakin memperkuat reputasinya sebagai salah satu pos paling mistis di jalur pendakian Gunung Raung.
Nama Pondok Demit sendiri berasal dari kata demit yang dalam bahasa Jawa berarti makhluk halus atau jin. Nama ini tak muncul begitu saja, tapi dibentuk dari rangkaian kisah-kisah ganjil yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Cerita-cerita yang tak terdokumentasi resmi, namun dipercaya secara luas oleh masyarakat lokal maupun pendaki veteran. Keberadaan Pondok Mayit dan Pondok Demit bukan hanya legenda yang hidup dari mulut ke mulut.
Keduanya sudah menjadi bagian dari narasi besar Gunung Raung, gunung dengan empat puncak dan kaldera kering terbesar di Pulau Jawa.
Di balik keindahan dan tantangan fisiknya, Gunung Raung juga menjadi ruang di mana kepercayaan, sejarah, dan pengalaman spiritual berpadu menjadi satu.
Bagi para pendaki, melintasi dua pos ini bukan hanya soal fisik dan stamina. Tapi juga kesiapan mental. Sebab bukan hanya tubuh yang diuji, melainkan keberanian menghadapi yang tak kasat mata.
Meski begitu, kisah-kisah ini tidak serta-merta membuat Gunung Raung ditinggalkan. Justru sebaliknya, nuansa misterius itu menambah daya tarik tersendiri dari gunung itu.
——–
Artikel ini telah naik di detikJatim.
(wsw/wsw)
-
Ulasan Destinasi Bersejarah di Jogja, dari Benteng Vredeburg-Monjali
Yogyakarta –Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seperti namanya kota ini begitu istimewa dan selalu punya cerita. Yogyakarta juga punya andil besar dalam kemerdekaan RI dengan bukti tinggalan sejarahnya.
Berbagai situs bersejarah terkait perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah masih terawat. Bahkan, kini ada museum untuk mengenang perjuangan itu.
Bangunan atau tempat bersejarah bahkan dibuka sebagai tempat wisata. Mulai dari peninggalan keraton sampai penjajahan Belanda, wisata sejarah Jogja punya banyak pilihan.
5 Wisata Sejarah Jogja
1. Museum Benteng Vredeburg
Museum Benteng Vredeburg, Jogja. (Anandio Januar-Novi Vianita/detikJogja)Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta
Buka: Setiap hari Selasa – Minggu (08.00 WIB – 15.00 WIB)
Harga tiket masuk: Rp 2.000 (anak), Rp 3.000 (dewasa), dan Rp 10.000 (turis asing)
Museum Benteng Vredeburg dibangun pada 1765 oleh pemerintah Belanda. Museum ini awalnya adalah benteng pertahanan dari serangan Kraton Yogyakarta.
Di dalam museum ini, kamu akan menemukan sejumlah koleksi, seperti diorama yang menceritakan perjuangan rakyat pra-proklamasi, bangunan-bangunan peninggalan Belanda, serta benda-benda bersejarah lainnya yang sangat khas dengan budaya masa lalu.
2. Situs Warungboto
Situs Warungboto Jogja. (Anandio Januar/detikJogja)Lokasi: Jalan Veteran No. 77, Kalurahan Warungboto, Kรชmantrรจn Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Buka: Setiap hari (08.00 WIB – 17.00 WIB)
Harga tiket masuk: Gratis
Situs Warungboto merupakan wisata sejarah yang memiliki banyak nama lain, yakni Umbul Warungboto, Pesanggrahan Warungboto, dan Pesanggrahan Rejowinangun. Banyaknya nama ini bisa jadi karena situs ini berada di dua kalurahan yang berbeda.
Dikutip dari website resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, situs bersejarah ini dulunya dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono II ketika beliau sedang menjadi putra mahkota pada periode 1765-1792. Selain menjadi tempat beristirahat, Pesanggrahan Rejowinangun juga merupakan sebuah benteng pertahanan dari sisi timur Keraton Ngayogyakarta.
Pesanggrahan ini juga dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, dan kebun di sisi timur. Sementara, di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dan dua kolam pemandian.
3. Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta (Pradita Utama/detikTravel)Lokasi: Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta
Buka: Setiap hari (08.30 WIB – 14.00 WIB)
Harga tiket masuk: mulai dari Rp 5.000 – Rp 15.000 per orang.
Salah satu wisata sejarah di Jogja yang wajib kamu kunjungi tentu saja Keraton Yogyakarta. Tempat wisata sekaligus salah satu ikon kota ini memiliki nama asli Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hingga kini, istana ini masih dihuni oleh para keturunan raja-raja Yogyakarta.
Tidak hanya melihat bangunan bersejarah saja, kamu juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan atau upacara adat yang masih sering dilakukan oleh pihak keraton. Jika masuk ke dalam, kamu juga akan menemukan barang-barang pusaka peninggalan zaman dulu.
Barang-barang pusaka tersebut misalnya seperti kereta kencana, keris, tombak, ampilan, panji-panji, pelana kuda, dan regalia. Tak heran, lokasi ini juga sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia.
4. Taman Sari Keraton Yogyakarta
Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)Lokasi: Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta
Buka: Setiap hari (09.00 WIB – 15.00 WIB)
Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.
Wisata sejarah di Jogja lainnya yang wajib kamu kunjungi adalah Kampung Wisata Taman Sari. Bangunan yang sudah ada sejak abad ke-17 ini dibangun pada masa kesultanan Hamengkubuwono I dengan lama waktu pengerjaan sekitar 9 tahun (1758 hingga 1765).
Dulunya, bangunan ini memiliki luas awal 10 hektar dengan 57 bangunan, yang terdiri dari kompleks kolam pemandian, pulau buatan, danau buatan, jembatan gantung, taman, lorong bawah tanah, kanal air, serta beberapa gedung dengan beragam arsitektur.
Kini, salah satu bangunan yang masih tersisa dan bisa kamu nikmati adalah masjid bawah tanah. Masjid yang sangat populer di kalangan wisatawan ini sukses menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen liburan yang menyenangkan.
5. Monumen Yogya Kembali
Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016 (Sukma Indah P/detikcom)Lokasi: Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman
Buka: Setiap hari Selasa – Minggu pukul 08.00 – 16.00 WIB.
Harga tiket masuk: mulai dari Rp 10.000 – Rp 15.000 per orang.
Museum ini mulai dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto.
Museum ini didirikan dengan tujuan untuk memperingati peristiwa sejarah ditariknya tentara kolonial Belanda dari Ibu Kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949, yang sekaligus juga menjadi penanda berfungsinya kembali Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia yang direbut dari penjajah Belanda.
Gagasan awal pendirian Museum Monjali disampaikan oleh Kolonel Sugiarto dalam peringatan Yogya Kembali yang diselenggarakan pada 29 Juni 1983.
Keunikan Museum Monjali terletak pada struktur bangunannya. Bangunan Monjali berbentuk kerucut yang terdiri dari 3 lantai. Bentuk bangunan yang unik ini sangat ikonik dan telah menjadi ciri khas dari Museum Monjali.
Selain itu, keunikan lain dari Museum Monjali adalah bangunan induk museum yang dikelilingi oleh kolam ikan.
(bnl/fem)













