Tag: defensive driving

  • Kenapa Ada Sopir Arogan Bawa Jabatan-Pangkat Saat Konflik di Jalan?



    Jakarta

    Belum lama ini viral sopir Fortuner mengaku adik Jenderal terlibat cekcok dengan pengendara lain di Tol Jakarta-Cikampek. Kenapa ada orang terlibat konflik sampai membawa jabatan atau pangkat?

    Dalam pemberitaan detikcom sebelumnya, mobil Toyota Fortuner berpelat dinas Mabes TNI viral di media sosial setelah dinarasikan bersikap arogan hingga menyerempet pemobil lain di Tol Japek. Sopir tersebut bahkan mengaku sebagai adik Jenderal.

    Pengendara yang mobilnya ditabrak oleh sopir Fortuner melapor ke Bareskrim Polri. Laporan yang dilayangkan itu teregister dengan nomor LP/B/115/IV/2024/SPKT/BARESKRIM POLRI tertanggal 16 April 2024. Laporan itu dilayangkan oleh pelapor bernama Marcellina Irianti Deca, sementara terlapor masih dalam lidik.


    Namun faktanya sopir Fortuner itu ternyata menggunakan pelat dinas yang bukan semestinya. Pemilik nomor pelat dinas asli juga tidak kenal dengan pengemudi Fortuner.

    Andry Berlianto, Praktisi Keselamatan Berkendara dari Global Defensive Driving Consulting (GDDC) mengungkapkan sebab perilaku pengemudi yang terlibat konflik lalu membawa jabatan, salah satunya bisa merasa paling superior.

    “Benar sekali, karena strata tinggi biasanya membawa seseorang menjadi lebih pede untuk bisa berlaku arogan, mereka beranggapan lawan bicara mereka pasti akan takut atau kalah,” kata Andry kepada detikcom, Rabu (17/4/2024).

    “Sama seperti misal kita bawa mobil besar, contoh: Fortuner dan kawan-kawan, pasti secara mentalitas kita pasti merasa ‘kuat’ jika berdampingan dengan mobil kecil, contoh: Brio dkk, bukan?” tambah dia.

    “Bawaan manusia untuk merasa besar dan sombong, tinggal bagaimana manusia tersebut mengendalikan egonya,” jelas Andry.

    Senada dengan Andry, psikolog klinis Nuzulia Rahma Tristinarum dari Pro Help Center mengungkapkan bahwa konflik yang berujung membawa nama jabatan memang kerap terjadi karena ada kecenderungan rasa inferioritas.

    “Sehingga dengan bawa jabatan, merasa lebih superior, superioritas ini bisa mengintimidasi atau mengambil benefit tertentu,” terang Rahma kepada detikcom, beberapa waktu yang lalu.

    Jika menghadapi kasus serupa, Rahma mengingatkan hal wajib yaitu tetap bersikap tenang. Tidak langsung merespons sikap yang ditujukan seseorang, dan menghindari terbawa emosi yang meledak-ledak.

    “Sebaiknya pihak yang merasa lebih sehat mental, lebih mampu berpikir jernih dan tenang. Kita pertimbangkan dulu baik baik apa yang akan dilakukan untuk merespons. Kita tak perlu impulsif dan ikut terbawa emosi meledak ledak dalam merespons-nya,” beber Rahma.

    Andry mengatakan perlunya sikap defensive driving. Ini merupakan perilaku mengemudi yang dapat menghindarkan dari masalah, baik yang disebabkan oleh orang lain maupun diri sendiri.

    “Tidak mudah terpancing dan jauhi TKP agar terhindar dari konflik lanjutan. Kita tidak pernah tahu hasil akhirnya, kita bisa menang, kita bisa juga kalah… Ini yang merugikan,” jelas dia lagi.

    “Defensive driving tidak belajar bagaimana kita mengatasi masalah tapi belajar bagaimana agar kita tidak masuk ke dalam masalah,” kata Andry.

    (riar/rgr)



    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari Pajero Seruduk Yamaha Aerox sampai Terguling



    Jakarta

    Kecelakaan lalu lintas melibatkan mobil Mitsubsihi Pajero Sport dengan sepeda motor. Pajero Sport itu menabrak motor di Jalan Pajajaran, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat sehingga menyebabkan tiga orang terluka.

    “Berdasarkan keterangan saksi dan olah TKP (tempat kejadian perkara), kendaraan Pajero bernopol F-1538-AS datang dari arah Jalan Sholeh Iskandar menuju arah Pajajaran,” kata Kasat Lantas Polresta Bogor Kota Kompol Ardi Wibowo dikutip detikNews.

    Lalu, Pajero menabrak sepeda motor Yamaha Aerox bernopol F-2703-AAA. Saat kejadian, sepeda motor itu sedang terparkir di bahu jalan.


    “Kemudian menabrak tiang listrik sehingga kendaraan Pajero mengalami terguling,” jelasnya.

    Dia mengatakan pengendara dan penumpang Pajero, serta pengendara sepeda motor mengalami luka-luka.

    Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 06.30 WIB pagi tadi. Sopir Pajero Sport diduga mengantuk hingga mengalami microsleep.

    “Diduga pengemudi kendaraan Pajero saat mengemudikan kendaraannya mengalami microsleep, kemudian hilang kendali,” jelasnya.

    Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) microsleep adalah kejadian kehilangan kesadaran yang berlangsung selama sepersekian detik hingga 10 detik. Penyebab utamanya adalah merasa lelah atau mengantuk.

    Microsleep dapat berbahaya bagi pengendara karena dapat menyebabkan arah kemudi yang keluar dari jalur, hilang fokus, hingga kehilangan kontrol postur tubuh.

    Apabila microsleep terjadi ketika mengemudi atau mengoperasikan sebuah mesin, tentu saja itu bisa sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kecelakaan. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari bahaya microsleep adalah tidak mengemudi ketika mengantuk.

    Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan saking singkatnya, microsleep sering kali seseorang tak menyadari telah tertidur. Terkadang, microsleep terjadi dengan mata terbuka.

    “Ada dua, ABS (auto behavior syndrome) dan microsleep, kalau microsleep itu tingkat keletihan akibat monoton, kejenuhan yang biasanya terjadi pada highway tol, kalau ABS itu keletihan yang memang letih karena sudah berjam-jam membawa mobil, sebelum melakukan perjalanan kurang tidur dari 7 sampai 8 jam,” kata Jusri beberapa waktu yang lalu.

    Untuk menghindari microsleep, Jusri menyarankan pengendara harus memiliki stamina yang baik. Hal itu diperoleh dari istirahat yang cukup dan asupan nutrisi yang baik.

    Jusri sangat menyarankan agar pengendara tidak mengabaikan kondisi microsleep yang berawal dari kelelahan ini. Selain asupan nutrisi, salah satu yang perlu diperhatikan adalah dengan beristirahat yang terjadwal.

    “Pada saat mengemudi, istirahatnya harus dibuat terpola, maksimal setiap 2 jam melakukan perjalanan harus berhenti untuk istirahat, waktunya 2 jam pertama 15-30 menit, dan seterusnya minimal 30 menit sampai 1 jam,” ungkap Jusri.

    “Usahakan pada istirahat kedua, tidur yang namanya power nap,” tambah Jusri.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Kenapa Pengendara Motor Wanita Kerap Kesulitan saat Putar Balik?


    Jakarta

    Berkendara di jalan raya tak hanya sekadar lurus dan belok saja, tapi ada kalanya harus putar balik. Meski terlihat mudah, akan tetapi banyak pengendara yang kesulitan saat putar balik, khususnya bagi sejumlah wanita.

    Beberapa waktu lalu, sebuah video viral di media sosial yang menampilkan mobil ambulans terhalang oleh seorang pengendara motor wanita yang tengah melakukan putar balik. Video tersebut diunggah oleh akun @memomedos di Instagram.

    Pengendara motor wanita putar balik di jalan raya, tapi malah menghambat laju ambulans yang sedang terburu-buru.Foto: Tangkapan layar/Instagram @memomedos

    Dalam video tersebut, terlihat pengendara motor ingin putar balik di salah satu ruas jalan. Namun, ketika putar balik ia justru menghalangi laju mobil ambulans yang tengah terburu-buru. Selain itu, tas milik pemotor wanita sempat terjatuh ketika putar balik, sehingga makin menghambat laju ambulans.


    Hal ini tentu menjadi pelajaran bagi pengendara, baik pria maupun wanita, untuk tetap waspada dan memperhatikan kondisi di sekitar. Jika tidak memungkinkan untuk putar balik, maka sebaiknya tidak memaksakan diri dan beri ruang bagi pengendara lain untuk melintas terlebih dahulu.

    Berbicara soal banyak pengendara motor wanita yang sulit putar balik di jalan raya, hal itu juga dibenarkan oleh Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu.

    “Banyak ditemui pengendara wanita, tapi tidak semua ya, mereka agak kesusahan ketika melakukan manuver di jalan raya, seperti saat putar balik contohnya,” kata Jusri saat dihubungi, Senin (9/9/2024).

    Perihal mengapa wanita sulit melakukan manuver putar balik di jalan raya, Jusri mengatakan perlu dilakukan riset dan penelitian lebih lanjut mengenai hal itu. Sebab, ada sejumlah faktor yang diyakini menjadi pemicu sejumlah pemotor wanita sering kikuk saat manuver putar balik.

    “Bisa jadi karena faktor psikologi atau fisik tubuh pengendara, karena kan wanita memiliki perbedaan fisik dengan pria. Makanya perlu diteliti lebih lanjut kenapa banyak pengendara motor wanita sulit melakukan putar balik,” paparnya.

    Tingkat Kewaspadaan Wanita di Jalan Raya Harus Ditingkatkan

    Tak hanya sekedar menguasai teknik putar balik di jalan raya, Jusri mengatakan bahwa masih banyak pemotor wanita yang kurang waspada saat di jalan raya. Berkaca dari kasus yang viral, seharusnya pemotor tersebut paham jika ada ambulans yang sedang melintas.

    “Wanita harus merubah mindset-nya ketika berkendara di jalan raya. Mereka harus mengantisipasi hal-hal terburuk yang bisa terjadi ketika berkendara. Mereka tidak menyadari jika kurangnya kewaspadaan saat berkendara justru bisa memicu kecelakaan,” ujar Jusri.

    Lebih lanjut, Jusri menambahkan jika masih ada sejumlah pengendara motor wanita yang kurang tepat dalam mengambil keputusan. Hal ini tentu berisiko karena keputusan yang tidak tepat bisa memicu kecelakaan, baik untuk dirinya maupun orang lain.

    “Banyak pengendara wanita yang kemampuan evaluasi terhadap bahaya di sekitar menurun, sehingga kurang waspada. Selain berbahaya untuk dirinya, dia juga bisa membahayakan orang lain,” jelasnya.

    Kebiasaan seperti sein belok kiri tapi ternyata belok kanan, berhenti secara mendadak, hingga berkendara tanpa memperhatikan pengendara lain merupakan beberapa contoh kebiasaan buruk yang masih sering dilakukan pemotor wanita.

    Jusri menghimbau kepada pengendara motor, baik pria maupun wanita, untuk tetap waspada dan selalu hati-hati saat berkendara di jalan raya. Tingkat kewaspadaan yang kurang disertai gaya berkendara yang berbahaya sangat berisiko menyebabkan kecelakaan.

    “Pengendara harus merubah mindset-nya ketika melakukan perjalanan. Sebelum jalan sudah siap baik secara fisik dan mental, kalau di jalan harus tenang dan sabar. Intinya harus tetap waspada dan jangan sampai lengah,” pungkas Jusri.

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Cara Ini Bisa Buat Kamu Selamat, Saat Hendak Balik dari Mudik


    Jakarta

    Keselamatan berkendara mutlak hukumnya saat berada di jalanan, terlebih saat hendak balik ke Jakarta setelah mudik ke kampung halaman. Namun banyak dari pengendara yang meremehkan hal tersebut, padahal agar selamat di jalan itu sangat mudah jika mengetahui tips berkendara.

    Seperti yang disampaikan Andry Berlianto, Praktisi Keselamatan Berkendara Global Defensive Driving Consulting (GDDC), ada 5 tips yang bisa dilakukan agar pengendara bisa selamat sampai rumah kembali setelah balik ke kampung halaman.

    1. Pribadi sehat fisik dan mental

    Tekanan tinggi pada perjalanan mudik memaksa pemudik harus dalam kondisi fit dan bugar guna mengantisipasi bahaya dan risiko yang mungkin terjadi selama perjalanan.


    Pastikan fisik dan mental siap untuk berada di belakang kemudi.

    2. Kendaraan yang sehat dan laik jalan

    Perjalanan panjang menuntut kendaraan berperforma maksimal tanpa hambatan karena kondsi tersebut dapat menurunkan risiko terjadinya insiden di tengah perjalanan.

    3. Atur waktu perjalanan

    Atur rute dan jam perjalanan serta turunkan risiko kecelakaan serendah mungkin. Utamakan istirahat dan hindari mengemudi saat tubuh sudah kelelahan.

    4. Devensive Driving dan Riding

    – Ikuti arahan dan himbauan petugas saat berada di perjalanan karena itu adalah arahan untuk keselamatan diri Anda dan keluarga.

    – Atur barang bawaan agar tidak melebihi batas muatan pada kendaraan.

    – Mengemudilah sewajarnya dan hindari membuka ruang konflik di perjalanan.

    – Pantau batas kecepatan, jaga jarak aman antar kendaraan
    Bersabar.

    5. Evaluasi

    Evaluasi kembali perjalanan yang sudah dilakukan saat berangkat dan pelajari hal-hal apa saja yang perlu dikoreksi atau perlu ditingkatkan karena masih akan ada perjalanan pulang kembali ke kota asal

    Pastikan mampu mengantisipasi bahaya dari risiko target Zero Accident saat balik ke rumah tercinta.

    (lth/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Duh! Tak Ada yang Ngalah, Voxy vs Gran Max Saling Senggol di Jalan

    Duh! Tak Ada yang Ngalah, Voxy vs Gran Max Saling Senggol di Jalan



    Jakarta

    Heboh Daihatsu Gran Max dan Toyota Voxy terlibat aksi senggolan di Jalan Jembatan Dua, Jelambar arah Pesing, Jakarta Barat. Aksi road rage ini mencuri perhatian pengendara jalan.

    Video yang direkam oleh pengendara motor menunjukkan kedua mobil berwarna hitam tersebut terlibat aksi saling senggol dan adu bodi di tengah jalan.

    “Ribut nih, ribut.. tabrak terus, tabrak,” ujar suara dalam video tersebut.


    “Di daerah Jembatan dua, arah ke Pesing, ugal-ugalan, tabrak-tabrakan,” tambahnya lagi.

    Dalam video yang diunggah ke akun instagram @dashcam_owners_indonesia terlihat jelas bagaimana mobil Gran Max dan Voxy saling berdekatan.

    Sejurus kemudian pengemudi Voxy tampak menyalip dan kemudian sengaja mengarahkan mobilnya hingga bersentuhan dengan bodi Gran Max. Toyota Voxy melaju tidak terlihat lagi setelah beradu dengan Gran Max.

    Bodi Gran Max itu terlihat jelas mengalami kerusakan parah di sisi kiri mobil, mulai dari bagian depan hingga belakang. Pintu dan panel bodi mobil tampak ringsek dan penyok akibat benturan berulang kali. Ban mobil depan kiri juga terlihat kempis.

    Sementara itu, Toyota Voxy yang terlibat dalam aksi tersebut kemungkinan juga mengalami kerusakan pada bemper belakang kiri.

    Aksi road rage bukan pertama kali terjadi, melainkan sudah ada beberapa kejadian serupa yang dipicu arogansi pengendara. Sayangnya, aksi tersebut masih terus berulang. Pengendara seolah tak belajar dari kejadian yang sudah-sudah.

    Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana pernah mengungkap aksi road rage ini tak akan bisa hilang di jalan.

    “Karena itu bagian dari ketidakmampuan sebagian dari mereka dalam me-manage emosi dan egonya,” terang Sony beberapa waktu lalu.

    Adapun saat menghindari road rage, kata Sony, sebaiknya memilih untuk menghindar dan mengalah supaya jauh dari masalah. Pikirkan risiko buruk yang akan terjadi sebelum salah bertindak.

    “Melayani mereka dengan asumsi jangka pendek dan panjang berubah menjadi seperti mereka,” kata Sony.

    Di lain pihak, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu pernah mengungkap beberapa pemicu road rage di jalan. Pertama, kesadaran aturan hukum dan tata tertib berlalu lintas di jalan yang lemah. Kedua, kesadaran empati yang lemah. Ketiga, penegakan hukum pasca kejadian kebanyakan kurang tegas.

    (riar/rgr)



    Sumber : oto.detik.com