https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-7225887/mau-mulai-nabung-simak-dulu-nih-tipsnya?single=1
Sumber : finance.detik.com
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-7225887/mau-mulai-nabung-simak-dulu-nih-tipsnya?single=1
Sumber : finance.detik.com
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Consumer Business Community Manager Bank Jago yang juga Certified Financial Planner (CFP), Edo Velandika membagikan tips mengelola keuangan di depan mahasiswa Universitas Tarumanegara (Untar). Berdasarkan pengalamannya konsultasi dengan financial planner, hal pertama yang perlu dimiliki adalah tujuan.
“Financial planner waktu dulu bilang punya tujuan dulu. 1 tahun ke depan harus punya tujuan, saya harus terbang ke Everest. Caranya pisahkan segini setiap bulan,” katanya dalam d’Preneur detikcom Acara ini berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Untar, Jakarta, Selasa (5//3/2024).
Pria yang akrab disapa Dika ini mengatakan, masyarakat kini dimudahkan dengan banyaknya platform investasi yang terjangkau. Hal ini berbeda dengan dulu, yang mana literasi keuangan belum terlalu baik.
Adapun Dika bercerita kerap menyisihkan Rp 200 ribu dari penghasilan yang didapatkan. Penghasilan di sini, kata dia, tidak terbatas pada gaji bulanan saja.
“Waktu itu pokoknya sisihkan Rp 200 ribu tiap dapat penghasilan. Jadi bukan setiap income, setiap dapat penghasilan. Saya waktu itu freelance fasilitator outbound waktu itu, seminggu sekali saya bantuin, saya sisihkan Rp 200 ribu untuk menabung,” tuturnya.
Meskipun wishlist-nya untuk pergi ke Everest tidak langsung terwujud di tahun pertama dan kedua, kata dia, namun Dika menyebut menabung menjadi kebiasaan. Ia menyatakan menabung bukanlah soal jumlah uangnya, tapi soal aktivitas yang jadi kebiasaan.
“Jadi saya belakangan berpikir kenapa waktu kecil orang tua ada yang ngasih THR itu pasti ‘sini mama simpan’, kan bisa jadi itu investasi bodong. Tapi yang saya sadari yang mau diajarkan adalah menabung itu habit, bukan soal jumlah uangnya,” sebutnya.
“Kalau nggak bisa habit nabung dengan uang kecil, nant dengan uang besar bisa nggak? Masalahnya menabung itu soal habit, untuk membangun itu goalsnya apa? Makanya harus punya tujuan dulu,” pungkasnya.
Simak juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun
(ily/kil)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Mengelola keuangan tidak semudah seperti dibayangkan. Para mahasiswa juga pernah mengalami waktu uang saku bulanan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perencana Keuangan Nadia Harsya mengatakan hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengalokasikan kebutuhan prioritas saat pertama kali mendapatkan uang saku. Misalnya, kebutuhan mahasiswa seperti uang fotokopi, makan, hingga biaya transportasi.
“Pertama kalau dapat uang jajan sampai uang jajan berikutnya. Jadi, step satu dapat gajian dapat uang, bereskan dulu tuh bayar kosan beli token,” kata dia di d’Preneur detikcom acara ini berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Untar, Jakarta, Selasa (5//3/2024).
Kemudian, Nadia bilang perlu mengalokasikan anggaran yang tersisa secara mingguan. Sebab, kalau dilihat secara bulanan, kita akan merasa mempunyai banyak uang.
Dengan alokasi mingguan, kamu dapat mempunyai kontrol diri yang lebih disiplin. Nadia menilai kontrol diri ini menjadi hal penting karena agar tidak mengambil dana yang lain. Selain itu, dengan alokasi mingguan ini juga dapat menumbuhkan kebiasaan menghabiskan uang sesuai dengan besaran.
“Paling penting disiplin sama self-control ya. Dengan pengingat ini, aku merasa punya jatah dam batasnya tiap Minggu segini. Misalnya, seminggu Rp 500 ribu operasionalnya. Jadi, punya habit menghabiskan yang jatahnya,” jelasnya.
Lihat juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun
(kil/kil)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Sebagai mahasiswa tentunya pernah merasa perlu mengapresiasi diri atau self rewards. Kamu dapat memberi kebahagiaan diri sendiri dengan self rewards.
Perencana Keuangan Nadia Harsya mengatakan self rewards dapat dilakukan asalkan semua kewajibannya telah dipenuhi. Dia juga menekankan self rewards ini sebagai bentuk apresiasi diri karena telah berhasil mengerjakan sesuatu.
“Kalau bikin analogi nih, lagi lari 10 km, berhenti di water station. Self rewards dianalogikan water, kita lari dulu baru akhirnya boleh dapat sesuatu. Kalau nggak ngapain tahu-tahu rewards itu namanya self sabotage,” kata Nadia dalam acara d’Preneur detikcom yang berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Universitas Tarumanagara, Selasa (5/3/2024).
Lebih lanjut, dia bilang self rewards setiap orang berbeda. Untuk itu, perlu untuk mengenal self rewards masing-masing. Apa membutuhkan nominal besar atau tidak.
Nadia mengatakan perlu menabung untuk bentuk self rewards yang membutuhkan nominal besar. Dia menekankan self rewards menjadi prioritas yang terakhir ketika semua kebutuhan dapat dipenuhi, mulai dari bayar cicilan hingga menabung dapat dilakukan.
“Biasanya gini ada yg self rewards kecil-kecil kebetulan budget minggu ini sisa Rp 50 ribu cukup nongkrong di mana. Ada yang self rewards-nya, nggak bisa nih harus nonton konser di Singapura,” jelasnya.
Lihat juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun
(kil/kil)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
Consumer Business Community Manager Bank Jago yang juga Certified Financial Planner (CFP) Edo Velandika, mengingatkan pentingnya mengelola keuangan. Jika ada anggapan bahwa menabung tidak membuat kaya, kata dia, apalagi kalau tidak menabung.
“Menabung nomor satu. Banyak yang bilang menabung nggak bikin kaya, apalagi nggak menabung,” katanya dalam d’Preneur detikcom yang berkolaborasi dengan BANK JAGO, di Universitas Tarumanagara, Jakarta, Selasa (5//3/2024).
Ia menjelaskan, Bank Jago menawarkan fitur kantong yang memfasilitasi penggunanya untuk menabung. Menurutnya ada 60 kantong yang setara dengan 60 rekening.
Dengan begitu, pria yang akrab disapa Dika itu menyebut pengguna Bank Jago bisa memecah kebutuhan uangnya tanpa harus membuka banyak rekening. Pengguna juga bisa mengatur jumlah uang yang ingin ditabung pada setiap kantongnya sesuai keinginan.
“Di Jago, 1 akun bisa bikin 60 kantong, sama dengan 60 rekening. Dengan 1 aplikasi Jago bisa 60 rekening. Artinya punya 60 tujuan keuangan itu bisa dipisahin semuanya dalam 1 aplikasi Jago, sesuai kemauan,” bebernya.
Ia menambahkan, Bank Jago juga menawarkan fitur autosave, atau menabung otomatis. Waktunya bisa diatur satu hari hingga 30 hari.
“Katakanlah mau nabung Rp 300 ribu tiap bulan. Misalnya setiap tanggal 3 uangnya langsung dipisahkan, misalnya untuk liburan kita buat kantong liburan. Setiap tanggal yang kita tentukan, uangnya dipisahkan ke kantong itu. Kalo berat bisa di-set mingguan. Atau kalau terlalu berat bisa harian,” tuturnya.
Pada kesempatan itu ia juga menjamin keamanan menyimpan uang di Bank Jago, sebab sudah mengikuti regulasi Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kalau pun ada kendala umumnya disebabkan karena gangguan yang bersifat teknologi.
“Tapi ada kejadian misalnya, namanya teknologi, bukan uangnya tidak bisa diambil tapi lupa password. Pindah akun dari HP, itu juga banyak kejadian. Curhatnya uang nggak bisa diambil, padahal ada masalah teknis di teknologinya. Kemudian ada masalah koneksi,” imbuhnya.
Adapun Dika menyarankan untuk membagi pos tabungan ke dalam 4 kantong. Pertama adalah memenuhi kebutuhan pokok sebesar 50-60%, kedua untuk tabungan jangka pendek 10-20%, ketiga tabungan jangka panjang sekitar 20%, dan terakhir tabungan guilt free, atau yang ang bisa dihabiskan tanpa merasa bersalah.
Simak juga Video: Kisah Penggembala Bebek Naik Haji Setelah Menabung 18 Tahun
(ily/kil)
![]() |
| Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya |
Jakarta –
d’Preneur detikcom digelar hari ini, Selasa 5 Maret 2024 di Auditorium Gedung Utama Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta. d’Preneur kali ini mengangkat tema ‘Modal Uang Jajan Wishlist 2024 Jalan’, acara ini berkolaborasi dengan BANK JAGO.
Ketua Yayasan Tarumanagara Profesor Ariawan Gunadi mengatakan, acara d’Preneur bermanfaat baik bagi mahasiswa, khususnya yang ingin belajar soal perencana keuangan. Menurutnya perencanaan keuangan dibutuhkan saat masuk dunia usaha atau dunia kerja.
“Acara hari ini perencana keuangan pribadi menurut saya sangat baik karena nanti mahasiswa atau yang hadir, ini bisa banyak belajar perencanaan keuangan dari mulai pribadi sampai nanti manage kalau masuk dunia usaha atau kerja,” katanya dalam d’Preneur detikcom, di Untar, Jakarta, Selasa (5//3/2024).
Ia mengatakan, mengelola keuangan punya mindset yang berbeda tergantung nominalnya. Semakin tinggi uang yang diterima bukan berarti semakin sedikit uang yang keluar.
“Saya banyak belajar mengenai perencanaan keuangan sejak dulu. Begitu masuk industri, mengelola uang mulai dari Rp 1, Rp 100 sampai Rp 100 miliar punya mindset beda. Semakin tinggi uang yang kita dapat bukan berarti semakin sedikit yang keluar,” tuturnya.
Sebab, ada uang yang perlu diinvestasikan, baik yang bersifat liquid maupun fixed asset. Pemahaman seperti ini, kata dia, perlu dipahami sejak muda.
“Mungkin ada yang kita investasikan, mungkin ada yang liquid, fixed asset, itu musti tahu dari sejak muda untuk punya kelola uang yang baik,” imbuhnya.
Sebagai informasi, sejumlah perencana keuangan bersertifikat akan menjadi pembicara pada event ini, yakni Edo Velandika CFP (Consumer Business Community Manager Bank Jago) dan Nadia Harsya CFP (influencer). Acara ini bakal dipandu langsung oleh host Indi Arisa.
(ily/kil)