Tag: generasi sandwich

  • 50% Orang Indonesia Jadi Sandwich Generation, Gimana Cara Hematnya?


    Jakarta

    Fenomena sandwich generation banyak dibicarakan generasi muda saat ini. Dalam sebuah studi dari Asian Development Bank (ADB) bertajuk Aging Well In Asia yang dirilis Mei 2024, angka ketergantungan hidup lansia di Indonesia mencapai 50 persen.

    Berdasarkan data tersebut, banyak lansia masih mengandalkan transfer uang dari keluarga untuk kelangsungan hidupnya, terutama dari anak. Hal ini pun mau tak mau berdampak pada tingginya angka generasi muda yang menjadi sandwich generation. Mereka harus menanggung kehidupan orang tua ditambah anak sendiri bagi yang sudah berkeluarga.

    Meski belum bisa sepenuhnya merdeka secara finansial, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan anak muda untuk berhemat sebagai sandwich generation. Berikut sejumlah tipsnya dilansir dari berbagai sumber:


    1. Review Budget dan Pos Keuangan

    Seorang sandwich generation biasanya memiliki berbagai tanggungan dan tagihan yang harus dibayarkan setiap waktunya. Untuk itu, review rutin mengenai budget dan pos keuangan penting dilakukan agar tidak boncos.

    Dengan me-review budget dan pos keuangan secara berkala, kamu tahu berapa saja uang yang harus dikeluarkan untuk membayar tagihan orang tua, tagihan keluarga, maupun kebutuhan anak. Serta menentukan jumlah uang untuk asuransi, tabungan, dan lain sebagainya dengan tetap menghindari ‘bocor halus’ dan menerapkan gaya hidup yang ‘stay on budget’.

    2. Komunikasikan pada Orang Tua

    Meski harus menanggung pengeluaran orang tua, ada baiknya untuk tetap mengkomunikasikan situasi keuangan secara berkala dengan orang tua. Hal ini mungkin tidak nyaman di awal, tapi seiring waktu dapat membangun kepercayaan dan keterbukaan dengan orang tua. Di saat yang sama, kamu pun dapat menanyakan kondisi keuangan orang tua yang penting untuk diketahui, mulai dari utang, pendapatan pensiun, dan lain sebagainya.

    3. Sisihkan Dana Pensiun

    Hal ini bisa jadi terasa sulit mengingat tanggungan sandwich generation yang tak sedikit. Kendati begitu, dana pensiun harus tetap kamu siapkan untuk memutus rantai sandwich generation. Dengan menyisihkan sedikit demi sedikit dana pensiun, kamu pun bisa hidup lebih tenang di masa depan.

    4. Tetap Prioritaskan Menabung

    Sesulit apapun kondisi keuanganmu, tetap usahakan untuk menabung ya. Menabung sebaiknya dilakukan di awal, bukan menunggu sisa pengeluaran yang kamu miliki. Dengan menabung, kamu dapat menyimpan dana darurat, menyiapkan biaya pendidikan anak di masa mendatang, hingga mewujudkan berbagai impian lainnya.

    Itulah sejumlah cara yang bisa kamu perhatikan untuk lebih berhemat meski jadi sandwich generation. Biar makin hemat saat kirim-kirim uang ke orang tua atau keluarga, kamu juga bisa andalkan aplikasi yang bebas biaya admin seperti dompet digital DANA. Dengan DANA, kamu bisa selalu gratis kirim uang tanpa minimum transaksi.

    Promo DANAPromo DANA Foto: dok. DANA

    Selain hemat, tentunya kamu bisa kirim uang dengan praktis dan aman. Bebas biaya admin yang diberikan DANA ini pun membuatmu bisa mengalokasikan biaya admin yang nominalnya bisa Rp 2.500- Rp 6.500 per transaksi untuk kebutuhan lain, mulai dari menabung atau untuk jajan demi menyenangkan diri sendiri.

    Uang yang kamu miliki pun bisa dikirim ke mana saja, baik ke sesama akun DANA, kirim ke rekening bank, atau kirim antar rekening bank. Cara mudah ini bisa kamu lakukan karena kamu bisa transfer pakai kartu bank yang sudah disimpan di DANA secara langsung. Tunggu apa lagi? Download aplikasi DANA sekarang juga.

    (anl/ega)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Dear Anak Muda, Simak Tips Ini buat Putus Mata Rantai Generasi Sandwich


    Jakarta

    Generasi Sandwich menjadi persoalan yang dihadapi banyak keluarga saat ini. Kondisi ini biasa dialami oleh seseorang yang banyak menyisihkan penghasilannya untuk orang tua dan anak. Pada titik tertentu, kondisi ini akan membawa tantangan besar bagi kesiapan finansial seseorang.

    Namun begitu, ada banyak cara untuk memitigasi kondisi tersebut terjadi di kemudian hari. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui akun resmi Instagram yang dikelolanya @sikapiuangmu memberikan tips untuk menghindari himpitan generasi sandwich.

    Pertama, seseorang perlu memetakan prioritas keuangan. Hal itu penting dilakukan untuk memisahkan kebutuhan harian mendesak yang perlu dipenuhi dengan keinginan yang sifatnya sementara.


    “Buat kategori pengeluaran yang mendesak dan yang bisa ditunda, urutkan berdasarkan urgensi,” tulis unggahan @sikapiuangmu, Minggu (9/2/1015).

    Kedua, perlunya menyiapkan dana darurat dan dana pensiun. Hal ini perlu dilakukan dengan cara menyisihkan dana darurat dengan dana harian atau tabungan jangka panjang. Idealnya, 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

    Jika memiliki waktu bertahun-tahun sebelum pensiun, seseorang perlu menggunakan waktu ini untuk menabung atau berinvestasi untuk menghindari risiko generasi sandwich di masa mendatang.

    Ketiga, memiliki asuransi dan proteksi. Seseorang perlu menyiapkan diri untuk berasuransi yang ditujukan untuk biaya pengobatan yang tidak membebani keuangan keluarga. Begitu juga asuransi jiwa dan proteksi lainnya yang perlu segera disiapkan untuk mengurangi risiko finansial yang besar.

    Keempat, mulai melakukan komunikasi terbuka dengan keluarga. Langkah ini perlu dilakukan untuk memberi gambaran tentang kondisi finansial kepada orang tua dan pasangan. Dalam hal ini seseorang perlu membahas hal-hal prioritas dan apa saja pengeluaran yang dapat diubah maupun efisiensi.

    “Cari solusi bersama seperti pembagian tanggung jawab dengan anggota keluarga lainnya dalam memenuhi kebutuhan,” imbau OJK.

    Adapun risiko besar dari kondisi generasi sandwich berupa kerentanan finansial yang melempar seseorang pada posisi yang sulit menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Selain itu, kondisi terhimpit akan menekan emosional dan finansial yang memicu stres.

    Risiko besar lain dari himpitan ini juga akan terus berulang lantaran tidak adanya rencana finansial yang dibangun. Karenanya, seseorang perlu segera menyiapkan keuangan sedini mungkin untuk menghindari kondisi sandwich ini.

    “Mulai atur keuangan dari sekarang agar lebih siap menghadapi tantangan ini,” tulis unggahan tersebut.

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Stop Lakukan 5 Kesalahan Ini Jika Mau Lepas dari Jeratan Generasi Sandwich


    Jakarta

    Sandwich generation merupakan istilah yang kerap digunakan untuk mereka yang harus menanggung beban dalam membiayai orang tuanya, dirinya sendiri, dan juga anak-anaknya. Bagi mereka, bukan perkara mudah untuk bisa merdeka secara finansial.

    Meski tidak semua orang mengeluh menjadi sandwich generation, namun sebagian besar orang cenderung ingin terbebas dari sandwich generation. Apalagi bagi mereka yang baru meniti karier, lulusan baru, hingga orang tua baru.

    5 Kesalahan Keuangan:

    1. Tidak Membuat Anggaran/Budgeting

    Tidak membuat anggaran sebenarnya adalah salah satu kesalahan terbesar dalam manajemen keuangan. Hal ini merupakan yang paling sederhana namun paling sering diabaikan.


    Buat kebiasaan baru dan mulai catat pengeluaran-pengeluaranmu, sampai sekecil apa pun seperti bayar parkir di minimarket, jajan makanan lewat aplikasi online, hingga top up e-wallet, dengan menggunakan aplikasi, software di komputer, atau secara manual di buku tulis, apapun cara yang paling nyaman.

    Dengan mencatat pengeluaran, kamu bisa langsung mengidentifikasi kategori pengeluaran yang perlu kamu perhatikan. Setelah itu, buat budgeting dan pastikan setiap bulannya kamu tidak jauh melebihi angka yang sudah kamu tentukan.

    Jika pengeluaran kamu sudah stick to the budget, pasti akan lebih mudah untuk menyisihkan uang untuk ditabung.

    2. Mengabaikan Dana Darurat

    Memang, bukan sesuatu yang mudah untuk menyiapkan dana darurat, apalagi kalau pengeluaran tidak diatur. Tapi dana darurat itu penting banget! Simpanan uang ini lah yang akan melindungi dari berbagai kejadian yang tak terduga.

    Misalnya kehilangan pekerjaan tetap, gadget atau alat elektronik di rumah yang rusak, atau juga keadaan darurat medis. Dana darurat sendiri sebaiknya tidak boleh digabungkan dengan tabungan, karena sifatnya adalah pendukung keadaan darurat.

    Saat keadaan keuangan sudah stabil, coba perlahan sisihkan uang untuk dana darurat. Idealnya jumlah dana darurat adalah 1 tahun pendapatan, namun jika masih terasa berat, kamu bisa mulai perlahan dari tiga bulan pendapatan sampai enam bulan pendapatan.

    Selain itu, coba juga untuk menyimpan dana darurat di instrumen keuangan yang bisa memberikan bunga namun dengan minim risiko, tapi pastikan juga dana bisa ditarik kapan saja karena dana darurat harus bisa ditarik secara mendadak.

    3. Tidak Merencanakan Masa Depan

    Motto YOLO (You Only Live Once) memang bagus untuk mereka yang ingin berpetualang dan mencoba banyak kesempatan. Namun demikian, hal ini tidak untuk urusan keuangan.

    Sama halnya dengan membuat anggaran, merencanakan masa depan juga penting. Memproyeksikan keinginan baik jangka pendek, menengah, dan panjang dapat membantu untuk lebih memprioritaskan anggaran-anggaran bulananmu.

    Dari hal kecil seperti ganti gadget, sampai hal yang besar seperti membeli rumah, pendidikan anak-anak, dan merencanakan pensiun. Tanpa rencana keuangan yang jelas, kamu akan kebingungan dan ragu untuk mengambil langkah yang tepat saat keadaan keuangan kamu sudah stabil. Ambil waktu untuk menetapkan tujuan keuanganmu dan buat rencana untuk mencapainya.

    4. Pengelolaan Utang yang Tidak Baik

    Hutang beragam bentuknya, namun yang paling sering ditemui adalah hutang kepada bank melalui kartu kredit. Penggunaan kartu kredit yang tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan tagihan yang menggunung karena bunga yang tinggi.

    Saat pengeluaran bulanan sudah stabil, upayakan untuk membayar tagihan kartu kredit secara penuh setiap bulan dan hindari mengambil hutang tambahan kecuali benar-benar diperlukan. Prioritaskan pelunasan hutang untuk menghindari siklus hutang yang berkepanjangan. Untuk mengambil keputusan keuangan yang ‘lebih serius’, pastikan utang-utangmu sudah terlunasi.

    5. Tidak Berinvestasi

    Mungkin sebagian orang berpikir, investasi itu hanyalah untuk mereka yang paham akan saham, reksa dana, dan instrumen-instrumen lainnya. Namun sebenarnya, ada cara sederhana untuk berinvestasi.

    Jika kondisi keuangan sudah stabil, kamu bisa mulai mempertimbangkan langkah-langkah sederhana yang dapat membantu keuangan ‘bertumbuh’ seiring waktu melalui investasi. Bisa dengan membuka deposito atau sejenisnya, yang bisa memberikanmu bunga yang cukup signifikan.

    Dalam mengelola keuangan, penting untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas agar tabungan tetap aman dan berkelanjutan. Dengan memperbaiki kebiasaan keuangan, perlahan tapi pasti, kamu dapat mencapai kestabilan keuangan dalam jangka panjang.

    Jangan mewariskan hutang atau beban ke anak cucu, wariskanlah good financial habit! Bye, sandwich generation, Hello financial freedom!

    (shc/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • THR Nggak Bikin Kantong Aman Saat Lebaran? Awas ‘Penyakit’ Turunan Ini


    Jakarta

    Merasakan keuangan tetap goyang saat Lebaran meski tunjangan hari raya (THR) sudah didapatkan? Bisa jadi kamu punya ‘penyakit turunan’ ini.

    Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan, ‘penyakit’ tersebut adalah sandwich generation. Generasi ini biasanya menghadapi beberapa masalah keuangan. Bahkan sekalipun dibantu adanya THR, ia harus pintar-pintar membaginya ke orang tua hingga memenuhi keperluan Lebaran.

    Sandwich generation sendiri merupakan istilah yang disematkan buat mereka yang memiliki peran memenuhi kebutuhan diri, orang tua dan anak-anaknya sekaligus. Dalam peranannya, mereka kerap dipusingkan himpitan kebutuhan finansial apalagi di masa Lebaran seperti ini.


    “Ketika menerima THR, dalam pikirannya langsung akan dibagi tiga yaitu untuk THR orang tua, kebutuhan berlebaran keluarganya sendiri dan kebutuhan untuk disimpan,” kata Andy kepada detikcom, Selasa (9/4) lalu.

    Belum lagi jika banyak keluarga yang harus diberikan angpau Lebaran. Di sisi lain berusaha untuk tetap bisa menabung dari THR yang didapat.

    “Merasa nggak enakan kalau memberi angpau THR kepada sanak saudara hanya sekedarnya. Di sisi lain berusaha untuk tetap bisa menabung dari THR yang didapat,” ucapnya.

    Jika punya kampung halaman sebenarnya ada rasa keinginan untuk mudik. Hanya saja permasalahannya harus memikirkan biaya perjalanan.

    “Ingin mudik pulang kampung namun uangnya diperkirakan tidak cukup untuk meng-cover biaya perjalanannya plus kebutuhan pasca berlebaran,” tutur Andy.

    Untuk keluar dari himpitan keuangan, diperlukan kebiasaan baru dan mulai mencatat pengeluaran-pengeluaran sekecil apa pun. Dengan mencatat pengeluaran, kamu bisa langsung mengidentifikasi kategori pengeluaran yang perlu diperhatikan.

    Setelah itu, buat budgeting dan pastikan setiap bulannya tidak jauh melebihi angka yang sudah ditentukan. Jika pengeluaran kamu sudah stick to the bujet, pasti akan lebih mudah untuk menyisihkan uang untuk ditabung.

    (eds/eds)



    Sumber : finance.detik.com