Tag: iucn

  • Apakah Harimau Sumatera Sudah Punah? Penjual Kulitnya Ditangkap

    Apakah Harimau Sumatera Sudah Punah? Penjual Kulitnya Ditangkap



    Jakarta

    Laki laki inisial SB (36) ditangkap di Nagan Raya, Aceh ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam jaringan perdagangan satwa dilindungi. Ia sebelumnya diketahui hendak menjual kulit harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

    “Penindakan tersebut merupakan hasil pengembangan dari kasus sebelumnya yang terjadi di Aceh Tenggara, saat terduga pelaku hendak melakukan transaksi jual beli satwa liar dilindungi berupa kulit harimau Sumatera, pada Rabu 16 Juli lalu,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Aceh, Kombes Zulhir Destrian, Rabu (8/10/2025), melansir detikSumut.

    Polisi menyita kulit serta tulang belulang harimau. (Dok. Polda Aceh)Polisi menyita kulit serta tulang belulang harimau. (Dok. Polda Aceh) Foto: Polisi menyita kulit serta tulang belulang harimau. (Dok. Polda Aceh)


    Sejumlah barang bukti antara lain selembar kulit Harimau Sumatera, 16 kuku, dua taring, satu tulang jari, dua tulang pinggul, satu tulang sendi, satu tulang kepala, dan dua unit handphone.

    “Pelaku diduga kuat merupakan bagian dari jaringan perdagangan satwa liar yang memperjualbelikan organ tubuh harimau Sumatera, salah satu spesies yang dilindungi dan terancam punah,” kata Zulhir.

    Berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), harimau Sumatera berstatus kritis dan sangat terancam punah.

    Sementara itu, benarkah harimau Sumatera masih ada di wilayah Indonesia?

    Apakah Harimau Sumatera Sudah Punah?

    Berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan, setidaknya terdapat 42 individu harimau Sumatera yang terdeteksi di bentang alam Provinsi Bengkulu. Mereka hidup di Bukit Balai Rejang Selatan, Seblat, dan Bukit Balai Rejang.

    Data tersebut diperoleh dari hasil pemantauan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung menggunakan kamera trap dan patroli lapangan 2020-2025.

    Survei periode Maret-Mei 2025 yang menggunakan kamera trap 52 hari di kawasan Seblat menunjukkan aktivitas harimau Sumatera di Hutan Produksi Air Rami, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis, dan HPT Ipuh I.

    Namun, Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung Himawan Sasongko mengakui ancaman kepunahan harimau Sumatera masih tinggi lantaran perburuan liar, perambahan hutan, dan menyusutnya habitat alami sehingga satwa ini berkonflik dengan manusia.

    Peran Penting Harimau Sumatra

    Himawan mengatakan keberadaan harimau Sumatra berperan penting dalam menjaga ekosistem hutan Sumatera. Berdasarkan hasil monitoring, daerah aktivitas satwa liar ini juga dihuni oleh tapir, kijang, rusa sambar, gajah Sumatera, macan dahan, kucing emas, dan anjing hutan atau ajak.

    “Hasil ini menunjukkan bahwa kawasan Seblat masih menjadi habitat penting bagi harimau Sumatera dan satwa liar lainnya yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem,” ucapnya, Senin (4/8/2025) lalu.

    “Harimau Sumatera adalah spesies kunci. Menjaga mereka berarti menjaga kesehatan ekosistem hutan Sumatera,” imbuh Himawan.

    Dikutip dari laman Restorasi Ekosistem Riau (RER), harimau Sumatera merupakan spesies kunci, yaitu makhluk hidup yang memainkan peran penting terharap berfungsinya, keseimbangan, atau runtuhnya sebuah ekosistem.

    “Predator puncak menjaga berbagai spesies mangsanya pada tingkat yang terkendali, sehingga tidak ada spesies mangsa yang menjadi dominan. Hal ini pada gilirannya berdampak pada keanekaragaman dan kesehatan tumbuhan di hutan,” terang Chela Powell, Manajer Restorasi RER.

    (twu/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Untuk Pertama Kalinya, Aksi Bayi Dugong Terekam di Pantai Alor

    Untuk Pertama Kalinya, Aksi Bayi Dugong Terekam di Pantai Alor



    Alor

    Untuk pertama kalinya, aksi bayi dugong terekam kamera sedang bermain di dekat kapal nelayan di pantai Mali, Alor, NTT.

    Mawar, dugong (Dugong dugon) berkelamin jantan yang dikenal sebagai penghuni perairan Pantai Mali, Alor, terekam kamera sedang bermain dengan satu individu bayi dugong.

    Penampakan langka ini berhasil diamati oleh Engky Bain, anggota Forum Komunikasi Nelayan Kabola, yang melihat bayi dugong tersebut berenang bersama Mawar dan Melati (dugong betina).


    Dalam video pendek berdurasi kurang dari satu menit itu, Mawar tampak menggendong bayi dugong di punggungnya, lalu berenang kembali bersama satu dugong dewasa lainnya, seperti sedang bermain.

    Penemuan ini dikonfirmasi oleh Ketua Forum Komunikasi Nelayan Kabola, Onesimus La’a atau yang biasa disapa Pak One.

    “Saya sudah sempat melihat bayi dugong itu, namun seringnya dia dan dugong Melati menghindari kapal, tidak seperti Mawar. Akhirnya kemarin anggota Forum berhasil mendokumentasikan kemunculan ketiga ekor dugong tersebut bermain di dekat kapal. Jadi kami ingin pastikan lamunnya cukup untuk tiga ekor dugong, Mawar itu kan selalu berada di wilayah ini karena makanannya melimpah. Kalau perlu dilakukan rehabilitasi lamun, kelompok kami siap membantu,” ujar Pak One dalam keterangannya, Jumat (10/10/2025).

    Ranny R. Yuneni, Koordinator Nasional Program Spesies Laut Dilindungi dan Terancam Punah, Yayasan WWF-Indonesia mengatakan Kehadiran dua individu dugong lain selain Mawar membuktikan bahwa bahwa ekosistem lamun di Pantai Mali, Alor memiliki kualitas ekologis yang mampu menyediakan ruang hidup dan sumber pakan bagi dugong.

    “Sebagai langkah lanjutan, WWF-Indonesia bersama mitra pemerintah dan masyarakat berencana melaksanakan survei mamalia laut di Alor pada tahun ini, mencakup pemantauan populasi dugong, lumba-lumba, dan paus di perairan Alor. Survei ini akan memperkuat dasar ilmiah pengelolaan habitat mamalia laut di Alor, dengan mengaitkan data populasi dan perilaku dugong serta mamalia laut lainnya dengan kondisi padang lamun sebagai habitat utamanya,” imbuh dia.

    Upaya konservasi lamun di Alor telah dilakukan oleh WWF-Indonesia bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelola Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya yang merupakan perpanjangan tangan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Tahun 2024, WWF-Indonesia telah melaksanakan survei awal untuk mendukung program rehabilitasi lamun di perairan Pantai Mali. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi padang lamun di kawasan ini termasuk dalam kategori padat hingga sangat padat (kategori kaya/sehat) dengan tutupan 73-76%.

    Sebanyak delapan jenis lamun dari dua famili teramati, termasuk jenis makanan favorit Mawar, Halophila ovalis. Peningkatan aktivitas wisata di sekitar habitat dugong pun perlu diimbangi dengan penerapan kode etik wisata secara ketat untuk mencegah gangguan terhadap perilaku alami spesies tersebut.

    “Keseimbangan antara konservasi dan pariwisata menjadi kunci. Wisata berbasis konservasi harus memastikan bahwa interaksi dengan dugong tetap aman, berjarak, dan tidak mengubah pola makan atau migrasinya. Termasuk pengaturan jumlah kapal, kecepatan, serta etika pengamatan harus diterapkan dengan disiplin,” ujar Ranny.

    Kemunculan bayi dugong ini menjadi simbol keberhasilan konservasi berbasis masyarakat di Alor. Hal ini menunjukkan bahwa manusia dan satwa laut dapat hidup berdampingan secara harmonis bila habitatnya dijaga bersama.

    “Dugong merupakan biota perairan dilindungi nasional dengan status Vulnerable menurut daftar merah IUCN. Adanya dua individu baru dugong di Alor adalah bukti nyata bahwa upaya menjaga ekosistem laut, khususnya padang lamun, membuahkan hasil. KKP terus berkomitmen untuk memperkuat konservasi dugong melalui pengelolaan kawasan konservasi perairan, pemantauan populasi dan pengawasan, serta peningkatan kesadaran masyarakat. Kami juga memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat, mitra, dan lembaga yang selama ini konsisten menjaga laut Alor, sehingga dugong dapat tetap hidup dan berkembang biak di habitat alaminya,” ujar Sarmintohadi, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 6 Spesies Hewan Terlangka di Dunia, Ada yang Tersisa Dua Ekor

    6 Spesies Hewan Terlangka di Dunia, Ada yang Tersisa Dua Ekor


    Jakarta

    Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam atau International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat lebih dari 47.000 spesies telah dinilai terancam punah. Beberapa spesies bahkan jumlahnya sangat langka.

    Kepunahan spesies berkaitan dengan intensitas sumber daya masyarakat modern, ruang alam semakin menyempit, dan aktivitas manusia. Laporan Living Planet 2024 menunjukkan bahwa rata-rata populasi satwa liar telah turun drastis sebesar 73% sejak 1970.

    Manajer Riset Konservasi di People’s Trust for Endangered Species, Nida Al-Fulaij, memiliki data-data spesies yang keberadaannya sangat langka. Salah satunya lumba-lumba vaquita yang gempal dan berbentuk unik.


    Berikut ini beberapa spesies hewan terlangka di dunia menurut data Nida Al-Fulaij dan dan World Wide Fund for Nature (WWF).

    Daftar 6 Spesies Hewan Terlangka di Dunia

    1. Badak Putih Utara

    Spesies terlangka di dunia adalah badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni). Menurut laporan, hanya dua betina yang tersisa di Cagar Alam Ol Pejeta, Kenya.

    Secara fungsional, hewan ini akan punah karena hanya tersisa betina. Namun, para ilmuwan sedang mengeksplorasi teknologi reproduksi canggih untuk mencegah kepunahannya.

    2. Ular Albany Adder

    Albany adder (Bitis cornuta albanica) di Afrika Selatan merupakan spesies ular dwarf adder yang sangat langka. Sejauh ini, tercatat hanya ada 17 yang diketahui. Spesies ini mendekati kepunahan karena habitat mereka dijadikan penambangan terbuka, turbin angin, dan pembangunan jalan.

    3. Langur Emas (Lutung)

    Lutung atau Langur Emas (Trachypithecus geei) dianggap sebagai salah satu dari 25 primata paling terancam punah di dunia. Populasi lutung emas telah menurun hingga 60% di Bhutan.

    Primata ini memiliki bentuk unik dengan tangan dan wajah mereka yang hitam pekat, sangat kontras dengan bulu berwarna krem mereka yang berkilau keemasan di bawah sinar matahari.

    4. Lumba-lumba Vaquita

    Lumba-lumba vaquita (Phocoena sinus) diketahui hanya 10 ekor yang tersisa di alam liar. Para ahli di Whale and Dolphin Conservation, menyebut vaquita kecil membutuhkan keajaiban untuk selamat dari kepunahan.

    Vaquita endemik (hanya ditemukan) di satu wilayah kecil seluas 2.235 km² di utara Teluk California (Laut Cortez), di lepas pantai Meksiko. Wilayah ini merupakan wilayah yang paling terbatas untuk paus, lumba-lumba, atau porpoise.

    5. Black-and-chestnut Eagle

    Black-and-chestnut eagle (Spizaetus isidori) yang hidup di Amerika, memiliki jumlah populasi dewasa yang sangat langka. Diketahui, hanya ada kurang dari 250 ekor di alam liar.

    Salah satu raptor terbesar di Andes, raja udara ini memiliki lebar sayap hampir dua meter. Hidup di dataran tinggi hutan pegunungan dari Kolombia hingga Argentina, burung-burung ini memburu mamalia berukuran sedang seperti tupai, oposum, dan landak, serta burung.

    Karena cukup sering memangsa ayam dan ternak para petani setempat, konflik dengan manusia menjadi tak bisa terhindarkan.

    6. Buaya Siam

    Buaya Siam (Crocodylus siamensis) dulunya tersebar luas di sebagian besar daratan Asia Tenggara. Kini, buaya ini telah punah di 99% wilayah jelajahnya.

    Jumlah total buaya Siam dewasa diperkirakan telah menurun hingga sekitar 250 ekor di alam liar. Spesies yang langka, baru dilestarikan dengan beberapa individu secara kebetulan di Pegunungan Cardamom, Kamboja, melalui program konservasi.

    Buaya menjadi langka akibat hilangnya habitat akibat perluasan lahan sawah, perburuan liar yang terus berlanjut, tersangkut alat tangkap ikan, dan pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air.

    (faz/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Macan Tutul dan Jaguar, Beda atau Sama?

    Macan Tutul dan Jaguar, Beda atau Sama?



    Jakarta

    Macan tutul merupakan jenis kucing besar yang dikenal memiliki corak atau bintik khas pada tubuhnya. Namun tak hanya macan tutul, ternyata jaguar memiliki bintik khas. Lantas apa beda macan tutul dan jaguar?

    Macan tutul (Panthera pardus) dan jaguar (Panthera onca) merupakan jenis hewan yang berbeda, meski sama-sama memiliki ciri berbintik di tubuh orennya. Sekilas, akan sulit membedakan keduanya, tapi wilayah habitat dan detail ciri fisik menunjukkan perbedaan.


    Perbedaan Macan Tutul dan Jaguar

    Mengutip AZ Animals, macan tutul banyak ditemukan di Afrika dan Asia. Persebarannya membentang dari utara ke selatan di sebagian besar benua Afrika kecuali Sahara, dan dari timur ke barat di Asia, dari timur Turki hingga barat China dan Rusia, dan hingga ke selatan hingga Indonesia.

    Sementara jaguar banyak ditemukan di Amerika Selatan atau Tengah. Persebarannya sampai ke Meksiko utara, bahkan ada beberapa individu di Arizona selatan dan New Mexico di Amerika Serikat, hingga Argentina utara dan sebagian Brasil selatan.

    Macan tutul memiliki jangkauan luas karena mampu beradaptasi dengan beragam habitat. Karena paling melimpah di hutan, padang rumput, sabana, dan hutan, mereka juga dapat hidup di habitat semak belukar, semak belukar, gurun, berbatu, dan bahkan pegunungan pada ketinggian hingga 5.200 meter.

    Macan tutul juga telah belajar hidup berdampingan dengan manusia, tidak hanya di daerah pinggiran kota, tetapi juga di daerah perkotaan yang padat. Misalnya, terdapat populasi macan tutul di Mumbai pusat, India, sebuah kota berpenduduk lebih dari 12 juta jiwa dan salah satu dari sepuluh kota terbesar di dunia.

    Berbeda dengan macan tutul yang adaptif, jaguar bergantung pada tutupan lahan yang lebat, sumber air, dan cukup mangsa untuk diburu. Namum, mereka mahir berenang, sehingga sering berada di dekat perairan seperti sungai, anak sungai, dan rawa.

    Jaguar biasanya menghindari hutan pegunungan, tetapi pernah terdeteksi di ketinggian hingga 3.800 m. Beda dengan macan tutul, jaguar juga belum beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan manusia dan kecil kemungkinannya ditemukan bahkan di daerah pinggiran kota.

    Perbedaan Bintik

    Jika dilihat dari dekat, bintik di tubuh macan tutul dan jaguar memiliki ‘bintik-bintik’ hitam, yang sebenarnya merupakan roset. Roset ini berbentuk oval dengan batas hitam tebal, tetapi kosong di dalamnya.

    Jaguar memiliki bintik-bintik hitam kecil di dalam roset mereka yang lebih besar, sedangkan macan tutul tidak. Meskipun sangat langka, macan tutul telah diamati pada kamera jebak memiliki bintik-bintik di dalam roset mereka yang mirip dengan jaguar.

    Namun, secara umum, macan tutul dan jaguar memiliki karakteristik yang sama, yaitu variasi warna dan pola bulu, yang seringkali berkorelasi dengan habitatnya. Misalnya, warna bulu kuning muda cenderung muncul di habitat yang lebih kering, sedangkan warna bulu yang lebih gelap dan lebih kemerahan lebih menonjol di hutan yang lebih lebat.

    Setiap macan tutul atau jaguar memiliki pola roset yang unik, yang digunakan para ilmuwan dalam penelitian untuk mengidentifikasi individu dan memperkirakan ukuran populasi.

    Berdasarkan fisiknya, jaguar secara keseluruhan lebih besar, tampak lebih kuat, dan lebih berat daripada macan tutul. Sementara macan tutul merupakan spesies kucing besar terkecil, panjang tubuhnya bisa lebih panjang dari jaguar, dari hidung hingga ujung ekor.

    Panjang macan tutul berkisar antara 1,6-2,3 meter, sedangkan jaguar bisa mencapai 1,5-1,9 meter. Jaguar bisa dua kali lebih berat daripada macan tutul, antara 68-136 kg, dibandingkan berat macan tutul yang hanya 17-65 kg.

    Mangsa Macan Tutul dan Jaguar

    Macan tutul dan jaguar merupakan karnivora yang gemar menyergap di lokasi tersembunyi. Bintik-bintik mereka bertujuan untuk kamuflase alami di alam.

    Berburu mangsa yang lebih besar, termasuk antelop, rusa, rusa, ternak domestik, babi, dan primata untuk macan tutul, serta pekari, tapir, dan rusa untuk jaguar. Keduanya, secara umum, menjadi korban perburuan manusia untuk diambil bulunya.

    Di alam liar, macan tutul cenderung aktif di malam hari, terutama bagi populasi yang hidup lebih dekat dengan manusia. Jaguar lebih krepuskular, paling aktif saat senja dan fajar, tetapi mereka dapat aktif kapan saja sepanjang hari.

    Sayangnya, baik macan tutul maupun jaguar dianggap hampir terancam populasinya oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

    (faz/nwk)



    Sumber : www.detik.com