Tag: jumatan

  • 20 Puisi Hari Santri yang Penuh Semangat dan Makna Perjuangan

    20 Puisi Hari Santri yang Penuh Semangat dan Makna Perjuangan


    Jakarta

    Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang perjuangan para santri yang ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan ajaran Islam di Indonesia. Peringatan ini juga menjadi pengingat agar semangat belajar dan keikhlasan santri tetap hidup di hati generasi muda.

    Dalam buku Puisi adalah Senjata karya Gagak Lumayung disebutkan bahwa penetapan Hari Santri dilakukan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015.

    Untuk memeriahkan Hari Santri, banyak kegiatan digelar di pesantren dan sekolah, salah satunya pembacaan puisi. Lewat puisi, semangat dan perjuangan santri bisa disampaikan dengan cara yang menyentuh.


    Berikut beberapa puisi bertema Hari Santri yang bisa dijadikan inspirasi, yang dirangkum dari buku Kepergian Sang Cinta susunan Ilzha Nifadzatiz Zulfa, dkk, Untaian Sajak di Balik Bilik Pesantren karya Tim Mediasantri, Kumpulan Puisi Santri MAWI oleh Santri MAWI Kebarongan, Segalanya Santri, Santri Segalanya susunan Coretsyav dkk, Puisi adalah Senjata tulisan Gagak Lumayung, dan Puisi “Selamat Hari Santri” karya Tito Dhani Muharam.

    Kumpulan Puisi Hari Santri

    1. Kang Santri

    Oleh: Gagak Lumayung

    Kang Santri
    Kau yang menimba ilmu agama suci
    Kau yang bertekad dalam hati
    Tuk perluas wawasan Islami.

    Kang Santri
    Kau, kusebut demikian
    Kau istiqomah dalam mengaji
    Kau perjuangkan kemuliaan.

    Kang Santri…
    Kau menjaga tata krama
    Kau hormati para Kiai
    Kau penerus para Ulama.

    O engkau, kusebut Kang Santri…
    Namamu ranum di dalam hati
    Kau tegakkan kalam Ilahi
    Kau pewaris perjuangan Nabi.

    2. Selamat Hari Santri

    Oleh: Tito Dhani Muharam

    Selamat Hari Santri
    Seluruh hariku dimulai dengan rapi
    Diatur dan dididik dengan baik
    Di suatu tempat yang sangat apik.

    Di saat hari masih gelap gulita
    Saat semuanya masih terlelap dalam tidurnya
    Kupaksakan tubuhku untuk terbangun
    Demi mencari ganjaran baik di dunia.

    Kumandangkan azan dari surau lawas yang masih berdiri kokoh
    Tatkala suara azan dari lisanku menggema
    Bangunlah setiap muslim dari tidurnya
    Mulailah hari seorang santri dengan menjalankan salat
    Tak lupa zikir dan berdoa kepada Sang Pencipta yang Maha Agung.

    Selamat Hari Santri
    Setiap hariku selalu menimba ilmu, mengaji, dan tak lupa mengabdi
    Diajarkan untuk tunduk dan berbakti pada Sang Kiai
    Demi mengharap berkah dan barokah dari ilmu yang kita raih.

    Diriku adalah seorang santri
    Kita tidak diarahkan hanya untuk bersolek dan berpangku tangan
    Kita merangkul kitab suci Al-Qur’an dan Hadis Nabi
    Sebagai pedoman untuk menjadi penerus bangsa yang bermoral dan berakhlakul karimah.

    Jalanku sebagai santri
    Hanya ingin menjadi manfaat bagi orang lain
    Bisa menerapkan ilmu islami dalam lembar-lembar kehidupan
    Menjadi seorang pemimpin yang berpikiran bersih, pemberani, dan berhati luhur.

    Kuatkan ikatan sarungmu
    Mari kita berjuang untuk memutus mata rantai kekacauan di negara yang tercinta ini.
    Selamat Hari Santri!

    3. Akulah Santri

    Oleh: Indah Sari Putri

    Akulah santri…
    Ku kan berjanji
    Untuk mengabdikan diri
    Tuk agama dan negeri ini.

    Ku bertekad dan bersumpah
    Untuk mati dalam keadaan muslim
    Lurus di atas kebenaran yang nyata
    Menentang orang-orang yang sesat lagi menyesatkan.

    Tak pernah ada rasa sedih
    Tak kenal lelah dan letih
    Sebelum impian dapat kuraih
    Dengan hati tulus dan jernih.

    Ya Allah…
    Setiap hembus nafasku adalah dzikirku kepada-Mu
    Setiap denyut nadiku adalah doaku pada-Mu
    Setiap jantungku adalah tasbihku kepada-Mu
    Setiap langkahku, ku selalu mengingat-Mu
    Setiap sujudku, kubersujud akan nikmat-Mu.

    Ya Allah…
    Penuhilah hatiku dengan cahaya-Mu
    Lapangkanlah dadaku dengan kelimpahan iman pada-Mu
    Hidupkanlah hatiku dengan ma’rifat kepada-Mu.

    Ya Allah…
    Ku serahkan seluruh hidupku hanya pada-Mu
    Ku serahkan jiwa dan ragaku hanya pada-Mu
    Karena semua itu milik-Mu.

    4. Pembela Agama dan Negara

    Oleh: Alfarida

    Santri harapan bangsa
    Penerus para ulama
    Pembela agama
    Pemersatu umat di nusantara.

    Hati yang begitu suci
    Di dalam terdapat jiwa Qur’ani
    Untuk selalu mengimani
    Kepada Ilahi Rabbi.

    Keinginan untuk berusaha
    Setia semangat yang luar biasa
    Demi menjadi santri yang berguna
    Untuk menegakkan bangsa dan negara.

    Di tengah malam yang begitu sunyi
    Kau terbangun sendiri
    Untuk melakukan sembahyang kepada Allahu Rabbi
    Agar mendapat ridha kelak di akhir nanti.

    Pengorbanan yang kau berikan
    Demi kehidupan di masa depan
    Rela menahan sebuah kerinduan
    Yang ingin selalu berada di kampung halaman.

    Kau tak pernah lelah
    Dalam bermuroja’ah
    Agar hidup menjadi sejarah
    Menuju jalan yang cerah.

    Perjuanganmu begitu berat
    Tetapi kau lalui dengan semangat dan kuat
    Agar menjadi santri yang bermanfaat.

    Wahai para santri!
    Marilah kita berkarya
    Dalam hal yang luar biasa
    Untuk membangun Indonesia
    Agar menjadi sejahtera.

    Santri bagaikan mentari
    Yang akan menyinari negeri ini
    Dengan keimanan di dalam hati
    Terpancar dalam sanubari
    Dan kesungguhan dalam mempertahankan NKRI.

    Wahai para santri!
    Marilah kita bangkit bersama
    Dengan rasa semangat yang membara
    Meskipun jauh dari orang tua
    Tapi buktikan kita bisa mencapai cita-cita
    Dan menjadi pribadi insan yang mulia.

    Wahai santri
    Kau laksana cahaya
    Seperti di dalam lentera
    Yang akan menyinari seluruh Indonesia
    Bahkan sampai ke penjuru dunia.

    5. Seutas Makna Santri

    Oleh: Wahyu Hidayaul K.

    Ketika goresan tinta memenuhi kertas putih
    Dengan segenap tekad yang menjalar bersih
    Semangat menuntut ilmu diraih dengan gigih
    Walau keringat bercucuran tak kenal letih.

    Bagaikan bulan yang menyinari bumi
    Menyalurkan kehangatan di malam yang sunyi
    Sebuah insan dengan akhlak budi pekerti
    Mengerahkan jiwa raga untuk kesatuan NKRI.

    Suatu insan yang memiliki makna sejati
    Dengan iman, Islam, dan ihsan yang terpatri dalam hati
    Sebuah nama yang terukir dalam sanubari
    Dialah santri, masa depan kebanggaan negeri.

    6. Ikhlas Menjadi Santri

    Oleh: Selfiana Jamil

    Ikhlasku menjadi santri
    Mengabdi pada agama dan negeri
    Memantapkan hati
    Di jalan Sang Ilahi.

    Ketika zaman semakin gila
    Peraturan sudah dianggap tiada
    Santri akan tetap setia
    Meluruskan setiap pertentangan yang ada.

    Ikhlasku mengabdi pada negeri
    Mencari ridha Sang Ilahi
    Meski rintangan tak mau menepi
    Hanya Allah lah penyemangat hati.

    7. Santri

    Oleh: Rizka Amalia R.

    Azan Subuh telah dikumandangkan
    Pertanda sang fajar menggantikan sinar rembulan.
    Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang begitu menyenangkan
    Menyejukkan hati, menjernihkan pikiran.

    Kulangkahkan kaki tanpa keraguan
    Dengan semangat jiwa yang menggelegar.
    Hati ini kumantapkan pada jalan kebenaran
    Dengan penuh keikhlasan, tiada paksaan.

    Kugerakkan anganku untuk menjadi kenyataan
    Menimba ilmu guna meraih tahta di masa depan.
    Meraih kesuksesan dengan penuh keyakinan
    Tanpa ingkar atas segala nikmat yang Tuhan berikan.

    8. Santri Harus Bertekad di Jalannya

    Oleh: Siti Nur Azizah

    Aku bangga menjadi seorang santri
    Jauh dari orang tua dan keluarga tak menjadikanku sepi.
    Aku bahagia dalam mencari ilmu dan mengaji,
    Itu pun untuk masa depanku nanti.

    Jadi santri tidaklah sulit untuk masa kini,
    Di mana santri harus beraktivitas setiap hari,
    Dalam mencari ilmu yang pasti
    Dan berijtihad di dalamnya dengan setulus hati.

    Aku bangga menjadi santri,
    Karena santri harapan negeri,
    Menuntut ilmu kepada ridha Sang Ilahi,
    Dan punya wawasan yang tinggi.

    9. Suluk Santri Peradaban Santri

    Oleh: Nova Putri Diana

    Fajar kidzib menjadi saksi jihad santri,
    Mendekap tenang,
    Menghadap nahi,
    Diam dalam remang.

    Semesta menjadi saksi semangat juang santri,
    Semangat kebangsaan melebur dalam nurani,
    Mengakar dalam hati.

    Santri adalah penggerak,
    Bergerak membawa perubahan,
    Bergerak untuk pertahanan,
    Bergerak membangun peradaban
    Untuk agama dan negeri,
    Menuju Indonesia yang hakiki.

    10. Kamar Kenangan

    Oleh: Muhammad Fathurrozaq

    Sayup kornea tak pernah ingkar,
    Ia butuh janji yang perlu ditepati.
    Bersama bulan, bersama dinginnya malam,
    Selimut engkau siapkan,
    Wewangian engkau haturkan,
    Untuk rebahku,
    Untuk tenangku.

    Tembok itu jadi saksi,
    Kalam Ilahi menengok senyapku.
    Yang mengira pulas tidurku,
    Tapi sejatinya aku memikirkanmu.

    11. Terompah Kiai

    Oleh: Dwi Dian Wigati

    Kecil, mungil, dan aneh wujudmu,
    Terakit kuat kayu dan karet.
    Walau ribuan kilo jarak,
    Kau tetap kokoh,
    Bagaikan wejangan kiai.

    Tak lekang oleh waktu,
    Tak lapuk oleh hujan.

    Terompah,
    Aku cemburu padamu,
    Ke sana kemari bersama kiai, serentak.
    Andai dunia berputar seperti bola,
    Aku ingin sepertimu,
    Bahkan selaksa tanah.

    Sahabat karib dakwah pengharap ridha-Nya,
    Arif nan bijaksana,
    Sabar nan tawadlu’.

    12. Catatan Santri

    Oleh: Mahalasari

    Menjadi santri juga pelajar adalah pilihan,
    Sembari memilah-milah haluan masa depan.
    Jika perjuangan merupakan kawan,
    Bisakah idealisme menjadi sebuah kemewahan?

    Katanya… masa depan ialah harapan
    Yang akan dipenuhi dengan semangat para pahlawan muda.
    Lantas, akan dilukis tinta seperti apa periode kalian?

    Semuanya memang masih terkesan semu,
    Namun, apa makna hidup pelajar tanpa terpelajar?
    Manfaatkanlah waktu, jangan hanya sekadar berselancar,
    Seperti kegiatan setiap menit bahkan detik berlalu
    Dengan hanya menatap layar.

    Nikmatilah proses dengan menghilangkan kebiasaan merunduk,
    Jangan menjadi generasi penunduk.
    Sebab prestasi bukan hanya sekadar eksistensi,
    Apalagi jika hanya sebagai pengakuan diri.

    Namun prestasi adalah pengabdian diri terhadap bangsa ini,
    Menuju generasi milenial yang mandiri.
    Santri sekaligus pembelajar…
    Jangan hanya menunduk kaku,
    Menyelami layar gadget dengan tangan berpangku.

    Mari tegakkan dagu,
    Sebab santri terpelajar akan selalu ingin tahu.
    Dengan membaca beragam buku-buku,
    Bukan hanya satu macam namun bertumpuk-tumpuk.

    Bukan hanya menyebar berita hoaks melulu,
    Generasi cerdas adalah mereka yang selalu ingin menjadi yang terdepan.
    Menegakkan pandangan dengan penuh keyakinan,
    Bahwa masa depan ada dalam genggaman.

    Jangan takut dan gentar,
    Dengan terjatuh kalian akan utuh.
    Dengan terbentur kalian akan bersyukur,
    Sebab Indonesia memang harus dimerdekakan
    Oleh para pemuda yang berkorban dan dikatakan
    Sebagai pejuang kemerdekaan.

    Demi lestarinya budaya Nusantara
    Yang dinamakan Indonesia Raya.
    Merdeka!

    13. Untaian Permata

    Oleh: Kamalia Puspitasari

    Suara khas, menoreh dalam pendengaran,
    Menyentuh hati yang beku,
    Seketika merasuk dalam benih kalbu,
    Hingga keruh menjadi sejernih air wudu.

    Untaian permata serta dalil-dalilnya
    Benar-benar nyata,
    Terbawa aku dalam perahu petuah
    Dengan berbagai jurus ahlinya.

    Hingga terus mendayung, temukan permata,
    Rintangan menjadi penyangga
    Yang patut dikalahkan
    Demi seuntai permata yang berharga.

    Yang nantinya menjadi wujud nasihat
    Bagi jiwa santri seperti kami,
    Butuh siraman rohani dari kiai,
    Apalagi sudah ikut dalam perahu petuahnya.

    14. Sandal Perjuangan

    Oleh: Silva A.F.

    Kang, sandalmu, kang,
    Masih setiakah kau pakai melangkah menyusuri jalanan,
    Menuju masjid di lampu merah perempatan?
    Atau kini sudah hilang, saat bolos diniyah malam-malam?

    Sandalmu, kang,
    Masih setiakah kau bawa berangkat jumatan di shaf paling depan?
    Atau malah kau pakai nongkrong di warung mi ayam seberang jalan,
    Lalu pulang membawa sandal orang?

    Sandalmu, kang,
    Masih setiakah menemanimu ro’an dan piket keamanan?
    Atau kini tak lagi sepasang?
    Hilang, sesaat setelah kau taruh serampangan.

    Di tengah kegalauan, kau putuskan berjalan dengan kaki telanjang,
    Agar tak merugikan orang, tak membuat berang, dan melatih kesabaran.
    Bukan karena tak punya uang.

    Jika itu yang kau lakukan,
    Maka kuucapkan selamat, kang.
    Engkau telah menemukan hakikat keikhlasan, ruh perjuangan.
    Sandalmu telah menghantarkanmu menjadi
    Seorang pejuang yang tak patah arang,
    Dan nafsu dunia tak lagi membuatmu terkekang.

    15. Lambang Kami dengan Arti

    Oleh: Muhammad Fathurrozaq

    Hijau kami tanda kesuburan,
    Kesan bakti dengan kesejukan.
    Kuning kami berarti himmah,
    Juang terus di dalam lillah.

    Bulat kami tanpa sudut,
    Tekad kami tanpa surut.
    Tiga titik jadi acuan,
    Gapai mimpi dengan harapan.

    Enam garis, tak diragukan,
    Dua kitab, tak direndahkan.
    Bulu angsa bersilang mantap,
    Waris sintesa tanpa sekap.

    Jaya kami adalah senyum umat,
    Sedih kami berarti sesal rakyat.
    Keringat berkucur untuk akibat,
    Lelah ini tanpa suatu sebab.

    Bangunlah, wahai perwira muda,
    Agama dan negara bergantung kita.
    Rapatkan barisan tanpa mundur,
    Serta tercapai adil makmur.

    16. Hijaiyah Cinta

    Oleh: Dwi Dian Wigati

    Setiap detik,
    menyelami kalam firman-Mu, anugerah.
    Setiap hijaiyah dari-Mu sepuluh kebaikan yang merekah,
    satu hijaiyah menumbuhkan semerbak cinta dalam kalbu,
    melukis langit biru nan indah,
    membangun rumah di surga nantinya.

    Setiap dentang jam muroja’ah,
    setiap detik dan menit muroja’ah,
    menghantam milyaran penyakit yang memforsir pikiran sendu,
    mengajari kesabaran dan memberikan ketenangan syahdu.

    Fuadku selalu tersenyum dan berkata,
    sungguh agung nan mulia firman-Nya.
    Bagaimana mungkin aku tak cinta,
    jika hati yang menjerit, menangis darah,
    mampu terobati, tenang,
    bagai disiram air telaga surga Kautsar.

    Bagaimana mungkin aku tak cinta,
    jika akal dan pikiran gelap gulita
    menjadi terang benderang.
    Bagaimana mungkin aku tak cinta,
    jika karenamu aku mendapat ridha-Nya.

    Hamba, hanya insan lemah pengharap berkah dan rahmat-Nya,
    hanya dengan bismillah daku melangkah,
    meniti lembah-lembah firman-Nya.

    17. Lalaran

    Oleh: Kamalia Puspitasari

    Senandung syair karya santri,
    terdengar syahdu serta fasih.
    Gendangannya dari mulut sendiri,
    elok dan juga mudah diingat.

    Paduan suaranya antik,
    penyanyi dangdut pun kalah.
    Masih asyik lalaran santri,
    nadzomannya, nadanya,
    berpadu dalam satu alunan,
    menghayati serta mengingat
    dalam setiap lariknya.

    18. Santri dan Tinggi

    Oleh: Dwi Dian Wigati

    Tak ada sekat,
    sahabat karib di malam senyap.
    Hitam pekat mulut penghujat,
    makan darah-darah muda,
    makan darah-darah muda,
    makan darah-darah muda.

    Darah para santri dirgantara,
    perut hamil, kulit memerah,
    bak pulkadot dalam merah jingga.
    Tiada kata sudah,
    memetik gitar kala jam berdentang,
    menghias langit dengan ritme nan rupawan.
    Itulah kita,
    santri dan tinggi.

    19. Santri

    Oleh: Ilzha Nifadzatiz Zulfa, dkk

    Engkau bagaikan bintang,
    yang menunggu hadirnya sang malam,
    untuk menerangi seluruh alam
    yang terjebak dalam kegelapan,
    yang terjebak dalam perihnya kedzaliman,
    yang terjebak dalam lembah kemaksiatan.

    Namun sinarnya sang bintang
    bebas dari kegelapan.
    Jeruji besi akan menjadi jeruji kesucian,
    yang akan mencuci hati penuh dengan kotoran,
    mengubah kedzaliman menjadi kebaikan,
    mengubah kebodohan menjadi kealiman.

    Malam pun akan menjadi terang,
    membawa menuju syurga
    yang penuh dengan keindahan.

    20. Santri Pergi ke Penjuru Dunia

    Oleh: Jujun Junaedi

    Santri pergi ke penjuru dunia,
    hanya untuk mencari cita-cita,
    yang tinggi setinggi langit.

    Dari mulai kaki kanan melangkah,
    janganlah memikirkan perkara
    yang tidak penting.

    Pikirkanlah satu hal saja,
    belajar, belajar, dan belajar.
    Dan ingatlah tujuan dari rumahmu…

    Semangat!

    (inf/kri)



    Sumber : www.detik.com