Tag: konsumsi gula

  • Jangan Kebanyakan! Segini Batas Konsumsi Gula Sehari


    Jakarta

    Konsumsi gula perlu dibatasi setiap harinya. Terlalu banyak makan makanan mengandung gula dapat mengakibatkan banyak masalah kesehatan.

    Saat mood buruk atau tak semangat, asupan makanan dan minuman mengandung gula seolah dapat menjadi solusi. Sebab energi terasa meningkat, pun dengan mood yang tadinya anjlok.

    Namun hati-hati konsumsi gula terlalu banyak karena dapat merugikan kesehatan. “Hal ini dapat menyebabkan penambahan berat badan, penumpukan lemak visceral, dan peningkatan risiko penyakit jantung, yang merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia,” kata pakar kesehatan Wan Na Chun mengutip Eat This Not That.


    Berikut 7 efek samping terlalu banyak konsumsi gula:

    1. Kenaikan gula darah
    Karbohidrat, termasuk gula, dengan cepat dicerna dan dilepaskan ke aliran darah. Gula adalah salah satu molekul karbohidrat terkecil, sehingga tidak butuh waktu lama sebelum memasuki aliran darah dan dapat menyebabkan lonjakan gula darah.

    Peningkatan konsumsi gula dalam makanan dapat menyebabkan peningkatan gula darah seiring berjalannya waktu yang dapat membuat seseorang berisiko terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan risiko stroke.

    2. Tekanan darah tinggi

    Ilustrasi tekanan darah tinggi atau hipertensiIlustrasi tekanan darah tinggi atau hipertensi Foto: Getty Images/iStockphoto/Everyday better to do everything

    Konsumsi gula dalam makanan yang berlebihan juga dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. Hal ini bisa jadi karena kualitas pola makan, jika Anda banyak mengonsumsi gula maka Anda mungkin tidak banyak mengonsumsi makanan sehat lainnya.

    Bisa juga dari efek langsung kenaikan gula darah yang mempengaruhi tekanan darah. Ketika gula darah naik, tekanan darah pun meningkat.

    3. Masalah kesehatan mental
    “Terlalu banyak asupan gula dikaitkan dengan efek negatif pada suasana hati dan kesehatan mental, kata ahli nutrisi Katie Drakeford.

    Selain gejala fisik yang mungkin dialami seseorang seperti fluktuasi gula darah dan peningkatan kadar kortisol yang menyebabkan “kerusakan” energi, konsumsi gula berlebih juga ada kaitannya dengan perasaan mudah tersinggung, lelah, sedih, hingga gejala depresi.

    Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) menyatakan bahwa minuman yang dimaniskan dengan gula, seperti soda khususnya, mungkin dikaitkan dengan tantangan kesehatan mental.

    4. Kenaikan berat badan

    Minum Kopi Hitam di Pagi Hari Bisa Bantu Turunkan Berat Badan Berat Badan Foto: Ilustrasi iStock

    Asupan gula yang berlebihan, terutama yang berasal dari minuman berpemanis, telah dikaitkan dengan berat badan yang lebih tinggi dan kemungkinan obesitas yang lebih besar.

    Minuman manis seperti soda merupakan jenis minuman dengan “kalori kosong” dan mudah dikonsumsi secara berlebihan tanpa membuat kita kenyang.

    5. Risiko sakit jantung
    Gula dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dengan menciptakan abrasi mikro di dalam arteri. Goresan kecil ini lama-lama dapat “menangkap” partikel seperti kolesterol yang dapat tersangkut dan menumpuk.

    Proses penumpukan plak ini, juga dikenal sebagai aterosklerosis, merupakan faktor risiko utama penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi.

    6. Lemak di hati
    Gula dalam jumlah yang banyak akan dicerna dan disimpan sebagai lemak tubuh. Kelebihan lemak tubuh dikaitkan dengan peningkatan timbunan lemak di hati yang juga dikenal sebagai fatty liver non-alkohol (NAFLD).

    Selain dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan, NAFLD dapat menempatkan Anda pada risiko lebih besar terkena diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung.

    7. Perubahan hormon
    Sejumlah kondisi kesehatan terkait hormon seperti Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) dapat dipengaruhi oleh pola makan dan pilihan gaya hidup. Secara khusus, nampaknya ada hubungan yang kuat antara resistensi insulin dan manajemen gejala PCOS.

    Ahli diet PCOS, Bess Berger berbagai pengalaman saat menangani wanita yang menderita masalah gula darah, dan bagaimana kelebihan gula memengaruhi hormon.

    “Mengurangi asupan gula dapat sangat meningkatkan keseimbangan hormon dalam tubuh kita,” jelasnya.

    8. Tingkatkan risiko kanker

    World Childhood cancer Day. Girl patient listening to a doctor in medical office. Foto: Getty Images/iStockphoto/Choreograph

    Sebuah studi pada 2020 di National Library of Medicine menunjukkan bahwa tambahan gula dalam makanan penutup, produk susu, dan minuman dapat berkontribusi terhadap risiko kanker, terutama kanker payudara.

    Lantas berapa batas konsumsi gula per hari yang ideal?

    Batas konsumsi gula, garam, dan lemak yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan RI (Kemkes) per orang per hari yaitu 50 gram(4 sendok makan) gula.

    Sedangkan untuk garam batasnya adalah 2000 miligram natrium/sodium atau 5 gram garam (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 gram (5 sendok makan minyak).

    Artikel ini sudah tayang di CNN Indonesia dengan judul “Awas Kebanyakan, Ini Batas Konsumsi Gula Per Hari!”

    (sob/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Mudah Ditiru! 7 Kebiasaan Ahli Gizi untuk Jaga Asupan Gula Harian


    Jakarta

    Konsumsi gula harian yang terlalu banyak tak baik untuk kesehatan. Untuk menjaga asupan gula tak berlebih, kamu bisa mengikuti 7 kebiasaan ahli gizi berikut ini.

    Konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan banyak risiko kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung. Karenanya penting untuk seseorang, apalagi yang punya masalah kesehatan serius, untuk membatasi asupan gula.

    Rekomendasi Kementerian Kesehatan RI (Kemkes) mengenai konsumsi gula harian per orang per hari yaitu 50 gram (4 sendok makan). Namun sayang, gula terkandung dalam banyak makanan sehari-hari sehingga sering membuat orang kalap mengonsumsinya.


    Untuk mencegah hal itu, kamu bisa mengikuti kebiasaan ahli gizi ini. Berikut informasinya seperti dikutip dari Livestrong (5/10/2023):

    1. Menghindari minum manis

    Minuman manis yang saat ini banyak di pasaran memang nikmat, tapi ahli gizi menghindari konsumsinya karena tinggi gula. Dalam sekaleng minuman soda, misalnya, bisa mengandung 55 gram gula tambahan.

    Jumlah itu tentu sudah menyita ‘jatah’ konsumsi gula harian yang ideal. Hindari juga konsumsi jus kemasan, minuman energi, minuman vitamin, kopi kemasan, hingga teh kemasan karena juga mengandung gula.

    Ahli gizi Marina Chaparro mengatakan ia selalu pilih minuman bebas gula atau kalori. Jika tak ingin air putih, biasanya ia minum sparkling water atau infused water dengan irisan buah.

    2. Makan buah segar

    Cara menyimpan buah potongFoto: Getty Images/iStockphoto

    Buah sering dihindari konsumsinya karena dianggap tinggi gula, padahal menurut ahli gizi, konsumsi buah tidak masalah. Memang benar ada kandungan gula pada buah, tapi jenisnya adalah gula alami.

    Hanya saja dalam konsumsi buah juga dianjurkan tidak berlebihan. Ahli gizi Rachel Brief merekomendasikan untuk smoothies, pakai 1/2 cangkir buah berisi 1-2 jenis buah saja. Misal paduan blueberry dan setengah pisang. Lalu untuk menghaluskannya, pakai susu segar tanpa gula agar tidak menambah kalori.

    3. Perhatikan porsi dan baca label nutrisi

    Ahli gizi tak memungkiri bahwa makanan manis perlu dikonsumsi untuk menjaga hubungan baik seseorang dengan makanan. Namun, ingat untuk perhatikan porsi saat mengonsumsinya.

    Saat beli cokelat kemasan di supermarket, misalnya, selalu perhatikan label nutrisi. Pilih cokelat yang kandungan gula tambahannya tak terlalu banyak.

    4. Tak usah pilih makanan bebas gula

    Buah rendah gulaFoto: Getty Images

    Banyak orang merasa konsumsi produk makanan rendah atau bebas gula adalah pilihan terbaik, tapi faktanya tidak seperti itu. Produk tersebut memang benar tidak mengandung banyak gula, tapi konsumsinya dapat mengganggu metabolisme glukosa.

    Dampaknya seseorang bakal mengidamkan makanan manis lebih besar dari biasanya. Chaparro mengatakan lebih baik pilih makanan yang mengandung gula alami atau gula tambahan, tapi sedikit saja. Praktikkan juga prinsip mindful eating saat mengonsumsinya.

    Selengkapnya di halaman selanjutnya.

    5. Makan manis dengan paduan protein atau lemak sehat

    Kebiasaan lain yang kerap dilakukan ahli gizi untuk menjaga asupan gula harian adalah dengan mengonsumsi makanan manis bersama sumber protein atau lemak sehat. Zat gizi tersebut bakal membantu tubuh mencerna glukosa dengan lebih lambat.

    Chaparro bilang, cara ini juga bisa membuat ia merasa lebih puas. Misalnya dengan menyandingkan cookies favorit bersama Greek yogurt tawar sebagai sumber protein atau makan buah kering dengan keju sebagai sumber lemak sehat.

    6. Beri rasa manis sendiri

    5 Fakta Infused Water untuk Diet, Benarkah Berkhasiat?Foto: Getty Images/iStockphoto/Valeriy_G

    Alih-alih beli makanan manis kemasan yang sudah diberi gula tambahan, ahli gizi menyarankan tambahkan rasa manis itu sendiri. Contohnya, beli Greek yogurt tawar, lalu campurkan buah beku atau buah segar sendiri. Rasanya tak kalah enak.

    Pun untuk oatmeal. Kamu bisa beli oatmeal tawar yang kaya serat, lalu tambahkan rasa manis dari penggunaan buah kering atau bubuk kayu manis. Tak usah juga beli minuman vitamin atau jus kemasan di supermarket. Lebih baik siapkan air sendiri lalu tambahkan irisan jeruk, lemon, atau mentimun sesuai selera.

    7. Waspadai pemakaian bumbu dengan tambahan gula

    Selain makanan dan minuman yang memang jamak dikenal sebagai produk manis, gula juga bisa ‘bersembunyi’ di balik komposisi bumbu kemasan. Contohnya saus tomat, saus salad, atau saus pasta yang kerap ditambahkan banyak gula.

    Para ahli gizi selalu mewaspadai produk ini. Mereka akan memilih produk bumbu kemasan dengan cermat. Tentunya yang minim gula tambahan.

    (adr/odi)



    Sumber : food.detik.com

  • Waspada! Ini 7 Tanda Kondisi Tubuh Jika Terlalu Banyak Makan Gula


    Jakarta

    Konsumsi gula yang berlebihan tak bagus untuk kesehatan. Waspadai konsumsi hariannya dan kenali tanda-tanda jika kamu terlalu banyak mengonsumsi gula.

    Gula dibutuhkan untuk mendorong energi. Namun mengonsumsinya terlalu banyak tak bagus untuk kesehatan karena bisa memicu obesitas hingga diabetes.

    Sayangnya gula terkandung dalam banyak makanan dan minuman, dari yang alami sampai yang kemasan. Mewaspadai konsumsinya patut dilakukan agar tak berisiko untuk kesehatan.


    Jangan sampai kamu berakhir makan banyak gula. Penting untuk mengetahui tanda-tanda jika kamu kebanyakan makan gula seperti yang dikutip dari Eat This, Not That! (4/11/2023) berikut ini:

    1. Terus menerus ngidam gula

    Tanda kebanyakan makan gula adalah kamu terus menerus menginginkan makanan manis. Ahli gizi Amy Goodson mengungkap ini terjadi karena kadar gula darah melonjak dalam tubuh.

    Hal ini erat kaitannya dengan Indeks Glikemik pada makanan. Makanan mengandung Indeks Glikemik tinggi, yang banyak ditemukan pada makanan manis, memang menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat. Berbeda dengan makanan yang Indeks Glikemik-nya rendah dimana mereka mengandung serat yang membuat tubuh lebih lambat dan ideal dalam mencerna makanan.

    2. Energi naik turun

    badan lemasFoto: shutterstock

    Lonjakan gula darah akibat konsumsi makanan tinggi gula juga menyebabkan kadar energi yang naik turun. “Jika kamu mengalami fluktuasi energi yang sering, merasa hiperaktif dan tiba-tiba pusing, itu bisa jadi tanda kelebihan makan banyak gula,” kata Goodson.

    Untuk mengatasinya, jaga keseimbangan kadar gula darah. Caranya dengan mengonsumsi sumber karbohidrat tinggi serat berbarengan dengan sumber protein. Protein bantu melambatkan pencernaan dan menstabilkan kadar gula darah.

    3. Gigi berlubang

    Tanda kebanyakan makan gula selanjutnya terkait kesehatan gigi. Makanan ini bisa menyebabkan kerusakan gigi dan gigi berlubang, kata Goodson.

    Penelitian Frontiers in Oral Health mengungkap konsumsi gula berlebih adalah penyebab nomor satu gigi berlubang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bakteri mulut mengambil gula dan memetabolismenya hingga menghasilkan asam yang melemahkan enamel gigi.

    4. Berat badan naik

    Ilustrasi TimbanganFoto: Getty Images/iStockphoto/Andrii Zorii

    Masalah berat badan naik erat kaitannya dengan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula. Hal ini lantaran gula mengganggu metabolisme tubuh dan dapat merusak ekosistem mikrobioma pada usus.

    Ahli gizi Courtney D’Angelo mengungkap, “Ketika semakin banyak gula dikonsumsi, maka semakin besar pula tubuh menganggap butuh gula. Kondisi ini pada akhirnya membuat kamu lapar dan memicu kenaikan berat badan,” katanya.

    Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

    5. Nyeri kronis

    Efek samping lain yang mungkin dialami akibat konsumsi gula berlebih adalah nyeri kronis. Sebuah laporan dalam Journal of Clinical Medicine menunjukkan bahwa terlalu banyak konsumsi lemak dan gula pada pasien osteoartritis dapat meningkatkan rasa sakit kronis. Penelitian lain juga mengungkap gula menjadi penyebab peradangan yang memicu penyakit kronis.

    Ahli gizi Trista Best mengatakan gula tambahan adalah pemicu besar kondisi nyeri kronis dalam tubuh. “Gula tambahan tergolong bahan yang sangat menyebabkan peradangan tubuh,” kata Best.

    6. Selalu lapar

    Makanan atasi laparFoto: Getty Images

    Konsumsi gula membuat tubuh cepat kenyang, tapi sifatnya semu. Tak heran jika seseorang merasa lapar terus menerus. Tubuh membakar gula dengan cepat karena kurang nutrisi seperti protein, serat, dan lemak sehat.

    Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula juga berkaitan dengan kerja hormon leptin yang bertugas mengatur rasa lapar. Kekurangan leptin dapat memicu rasa lapar dan selera makan berlebih.

    7. Tekanan darah tinggi

    Satu lagi tanda kebanyakan makan gula yang perlu diwaspadai. Beberapa orang mungkin mengalami tekanan darah tinggi. Sebuah studi dalam jurnal Nutrients menemukan ada kaitan kuat antara konsumsi gula tambahan dengan tekanan darah yang tinggi pada partisipan berusia 65-80 tahun.

    Best menjelaskan, “Jika Anda menyadari adanya peningkatan tekanan darah, Anda mungkin mengonsumsi terlalu banyak gula tambahan. Jenis gula ini meningkatkan asam urat dalam tubuh, yang pada gilirannya menghambat produksi oksida nitrat. Nitric oxide (NO) diperlukan untuk menjaga kelenturan pembuluh darah dan bila terjadi penurunan NO dalam tubuh, maka tekanan darah akan naik.”

    (adr/odi)

    Sumber : food.detik.com

    Alhamdulillah Makan Minum Makanan Minuman Sehat Wal Afiyat di JumatBerkah.Com اللهم صلّ على محمد
    Source : unsplash / Ella Olsson
  • Kafein vs Gula, Mana yang Lebih Berbahaya untuk Tubuh?

    Kafein vs Gula, Mana yang Lebih Berbahaya untuk Tubuh?


    Jakarta

    Konsumsi kopi dengan gula masih menuai kontroversi akibat efek samping dan manfaatnya. Kira-kira mana yang lebih berbahaya, kafein atau gula ya?

    Kopi yang segar memberikan rasa pahit yang tidak disukai oleh sebagian penikmat kopi. Namun berkat penambahan gula, pemanis, dan berbagai jenis sirup yang memperkaya rasanya sehingga kopi kini lebih bisa diterima berbagai kalangan.

    Sayangnya perpaduan antara kopi dan pemanis masih menuai kontroversi. Alasannya efek samping kesehatan dan manfaat yang bisa ditimbulkan dari konsumsi kopi dengan pemanis.


    Misalnya tren es kopi susu gula aren yang menjamur memiliki rasa yang menyegarkan, diakui meningkatkan penjualan kafe, tetapi apakah cukup sehat untuk dikonsumsi? Ternyata baik kafein maupun gula dalam segelas kopi tetap harus diwaspadai.

    Baca juga: Ngeunah! 5 Tempat Makan Enak di Bandung Ini Berlokasi di Perumahan

    Kafein vs Gula, Mana yang Lebih Berbahaya untuk Tubuh?Kafein walaupun memiliki banyak manfaat tetapi juga ada efek sampingnya yang harus diperhatikan. Foto: Coffee Affection

    Melansir Coffee Affection (25/1) kafein merupakan stimulan alami yang terbentuk melalui proses pertumbuhan pohon kopi. Begitu pula asupan gula yang juga tetap dibutuhkan oleh tubuh tetapi dalam batasan dan kadar tertentu.

    Pada beberapa kondisi, kafein dapat menyebabkan beberapa dampak fisik yang cukup mengganggu. Misalnya jantung yang berdebar lebih cepat, kenaikan gula darah, sakit kepala, hingga diare dan mual yang akan dialami usai konsumsi kopi.

    Selain itu konsumsi kopi juga dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang dan suasana hati konsumennya. Walaupun dapat meningkatkan fokus otak tetapi juga dapat menyebabkan perasaan yang lebih sensitif hingga sesekali rasa kebingungan.

    WebMD juga melaporkan bahwa konsumsi kopi empat cangkir sehari dapat membantu menurunkan risiko kanker mulut. Sayangnya efek samping dari penambahan gula dalam kopi juga harus diperhatikan.

    Baca juga: 10 Tempat Makan Enak di Pasar Baru yang Legendaris hingga Kekinian

    Kafein vs Gula, Mana yang Lebih Berbahaya untuk Tubuh?Gula sebagai bahan alami tetapi juga banyak risikonya jika dikonsumsi berlebihan. Foto: Coffee Affection

    Mengutip Sugar Association, gula atau sukrosa merupakan karbohidrat sederhana yang terbentuk secara alami melalui tumbuhan. Walaupun alami, konsumsi gula tetapi harus diatur secara ketat termasuk melalui konsultasi dokter agar mendapatkan porsi yang seharusnya.

    Konsumsi gula dan makanan manis secara tak langsung dapat meningkatkan risiko obesitas. Konsumsi gula yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit jantung.

    Efek samping yang paling instan dialami oleh konsumen makanan manis yaitu tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang meningkat, hingga inflamasi pada pembuluh darah. Gejala-gejala ini yang akan meningkatkan risiko untuk berkembangnya penyakit jantung.

    Sama halnya dengan kafein, konsumsi gula juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Suasana hati yang mudah berubah, hingga perasaan yang lebih sensitif daripada energi yang ditimbulkan dari usai mengonsumsi gula dan pemanis.

    Maka, dapat dikatakan bahwa konsumsi gula dalam kadar yang berlebihan akan jauh lebih berbahaya daripada kafein. Namun kedua komponen ini juga tetap harus diwaspadai konsumsinya berdasarkan anjuran batas harian yang ditetapkan ahli kesehatan.

    (dfl/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • 5 Cara Konsumsi Gula yang Tepat, Ada Batas dan Alternatifnya!

    5 Cara Konsumsi Gula yang Tepat, Ada Batas dan Alternatifnya!


    Jakarta

    Kebutuhan gula tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, tetapi butuh disesuaikan. Perhatikan cara yang tepat untuk meminimalisir efek negatifnya.

    Banyak dipercaya bahwa konsumsi gula dapat menimbulkan efek berbahaya untuk tubuh. Padahal gula tidak bisa dipangkas habis konsumsinya maupun dihilangkan sepenuhnya dalam makanan.

    Berbagai penyakit metabolik yang disebabkan oleh konsumsi gula berlebihan menjadi momok yang menakutkan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan batas konsumsi gula harian tidak lebih dari 50 gram atau 4 sendok makan.


    Laman National Health Service United Kingdom, selaku lembaga yang memerhatikan kesehatan nasional di Inggris punya tips mengonsumsi gula yang tepat.

    Baca juga: Beli Hotpot Gratis Handphone! Wanita Hampir Celaka Gegara Makanannya

    Berikut ini 5 tips mengonsumsi gula untuk meminimalisir efek sampingnya:

    5 Tips Kurangi Konsumsi Gula Agar Berat Badan Secara Turun EfektifKenali berbagai jenis gula agar mudah mengenalinya pada daftar bahan kemasan makanan. Foto: Getty Images/iStockphoto/BrianAJackson

    1. Pahami Jenis Gula

    Gula tidak hanya dalam bentuk gula pasir atau gula merah yang sering ditemukan di dapur rumah. Namun ada banyak jenis gula yang dapat ditemukan di dunia.

    Melansir Harvard Health (20/10/23) ada beberapa jenis gula yang secara alami terbentuk pada sayur dan buah. Adalah fruktosa, glukosa, dan sukrosa yang tidak bisa dihilangkan pada buah dan sayur.

    Pada produk susu sekalipun mengandung gula alaminya yang berjenis laktosa. Sementara pada kecambah dan biji-bijian terkandung gula dalam jenis maltosa.

    2. Batasi Takarannya

    Laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (30/1/24) mencatat takaran aman yang perlu diperhatikan ketika konsumsi gula. Takarannya menjadi satu padu pada batas konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).

    Setiap satu orang dewasa dianjurkan untuk hanya mengonsumsi 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan gula. Jika lebih dari itu dikhawatirkan akan memicu risiko gangguan kesehatan jantung hingga diabetes yang tinggi.

    Merujuk pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018 terjadi peningkatan obesitas penduduk usia 18 tahun ke atas. Begitupula dengan prevalensi obesitas pada anak-anak yang meningkat hingga 6,1%.

    Tips mengonsumsi gula dengan tepat berlanjut di halaman berikutnya.

    3. Aturan Konsumsi Gula

    Laman The Nutrition Source sendiri menyebut ada cara terbaik untuk megonsumsi gula dengan bijak. Ialah dengan selalu memperhatikan label makanan.

    Terutama pada label makanan kemasan, ada peraturan di mana produsen harus menuliskan kandungan gula di dalamnya. Maka penting bagi konsumen untuk mengenali istilah-istilah gula tersembunyi.

    Konsumsi gula juga perlu disesuaikan dengan berat badan. Ketika tubuhmu sudah memiliki berat badan yang berlebih upayakan untuk meminimalisir asupan makanan mengandung gula.

    Diperkenalkan Belanda, Ini Sejarah Konsumsi Gula di IndonesiaKonsumsi gula tetap aman dilakukan asalkan harus diseimbangi dengan nutrisi pelengkap lainnya. Foto: Getty Images/hoozone

    4. Kombinasikan dengan Nutrisi Lain

    Konsumsi gula alami sekalipun tetap perlu mempertimbangkan kombinasi makanan pendampingnya. Misalnya seperti buah yang tinggi gula harus diseimbangkan dengan bahan makanan lain, seperti yang dikutip dari laman Lingo.

    Memadukannya dengan protein dapat menjadi cara termudah untuk dilakukan. Seperti membuat smoothie dengan campuran yoghurt tinggi protein dan lemak sehat.

    Nasi yang secara alami mengandung gula di dalamnya juga bisa tetap disajikan sebagai makanan sehat. Caranya dengan memadukannya bersama tumisan sayur dan sumber protein.

    5. Cari Alternatifnya

    Dibandingkan menambahkan gula pasir, gula merah, atau pemanis buatan seperti sirup, pilihlah gula yang lebih alami, saran dari laman John Hopkins Medicine.

    Penggunaan gula pasir dapat diganti dengan stevia. Rasanya yang tak berbeda namun stevia memiliki kalori yang lebih rendah dan lebih aman untuk gula darah.

    Beberapa makanan juga dapat diandalkan sebagai sumber asupan pengganti gula. Misalnya buah, sayur, susu, protein rendah lemak, hingga kcang dan biji-bijian.

    Namun ada satu hal yang tetap harus diingat. Memangkas habis asupan gula untuk tubuh sangat tidak disarankan oleh ahli gizi.

    (dfl/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Wamenkes Bagikan Kabar Terbaru Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan

    Wamenkes Bagikan Kabar Terbaru Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan


    Jakarta

    Sudah lebih dari satu dekade berlalu, wacana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan belum juga terlaksana. Wakil Menteri Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono menyebut rencana tersebut masih dalam pembahasan.

    Meski begitu, pemerintah disebutnya tidak tinggal diam dalam upaya pemberian edukasi kepada masyarakat terkait bahaya konsumsi tinggi gula, yang juga tersebar di pangan olahan maupun pangan siap saji.

    Menurut Prof Dante, penerapan cukai MBDK juga tak akan berjalan efektif bila tidak dibarengi dengan edukasi masif di masyarakat.


    “Nah nanti urusan cukai masih kita dalam proses pembahasan. Tetapi kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi potensi obesitas dan diabetes, tinggal mengurangi makanan bergula, tinggi kalori, dan sebagainya,” tutur Prof Dante saat ditemui di Mall of Indonesia (MOI), Jakarta Utara, Rabu (15/10/2025).

    “Yang paling penting adalah sekarang adalah edukasi. Cukainya kita naikin kalau edukasinya tidak masif juga tidak akan berhasil,” lanjutnya.


    Ia juga menekankan sejumlah fasilitas kesehatan perlu lebih banyak meningkatkan layanan promotif dan preventif. Bukan tanpa sebab, hal ini dinilai bisa menekan angka kematian lebih banyak saat identifikasi atau diagnosis penyakit diketahui dan ditangani lebih awal.

    Salah satunya melalui skrining faktor risiko yang kerap memicu penyakit tidak menular dengan bebas kasus tertinggi di Indonesia seperti jantung, masalah ginjal, hingga stroke.

    “Jadi edukasi menjadi sangat penting. Seperti rumah sakit primaya sekarang melakukan terapi kuratif, mereka juga melakukan terapi promotif dan preventif untuk melakukan dan mengedukasi masyarakat,” pungkasnya.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kemenkes RI Update Wacana Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan

    Kemenkes RI Update Wacana Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan


    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berbicara soal rencana penerapan cukai khusus untuk minuman manis dalam kemasan (MBDK). Program ini diharapkan nantinya bisa menjadi salah satu cara untuk menekan konsumsi gula pada masyarakat Indonesia.

    Seperti yang diketahui, kasus penyakit tidak menular yang berkaitan dengan konsumsi gula berlebih cukup di tinggi di Indonesia. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan penerapan cukai MBDK saat ini masih berada di tahap pembahasan.

    Ia menuturkan kajian terkait kebijakan ini sudah berada di kajian Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia menuturkan pihak Kemenkeu yang akan mempersiapkan apakah kebijakan tersebut memang sudah waktunya diterapkan atau tidak.


    “Hitungannya mereka (Kemenkeu) sudah siap sih. Tinggal, tapi kan untuk cukai itu kan masuk di dalam APBN ya kan. Kalau di dalam APBN kemarin kan sempat jadi perhitungan. Tapi apakah itu akan dilaksanakan di 2026, kan nanti masih prosedur lagi dengan DPR ya penetapannya,” kata Nadia ketika ditemui awak media di Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2025).

    Meski belum bisa memberi kepastian terkait kapan kebijakan ini akan pasti dilaksanakan, Nadia menuturkan pihaknya akan terus mendorong program ini agar berlanjut. Ia menuturkan pihak Kemenkes siap untuk memberikan data-data yang diperlukan, seperti studi atau penelitian yang sudah dilakukan.

    “Kalau untuk (target) cukai, itu kembali lagi. Kita tentunya karena ini pengaturan di bidang fiskal, ini kewenangan Kementerian Keuangan, tapi kita tetap mendorong untuk memberikan data-data,” tandas Nadia.

    Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 menunjukkan 68 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) setidaknya sekali dalam sepekan. Angka tertinggi tercatat di wilayah Jawa Barat (88 persen), diikuti DKI Jakarta (87,4 persen) dan Banten (83,6 persen).

    (avk/naf)



    Sumber : health.detik.com