Tag: lava

  • dari Bawah Laut Hingga Puncak Gunung



    Jakarta

    Hari Kemerdekaan RI ke-80 akan segera tiba. Upacara bendera untuk merayakannya tak selalu di lapangan, banyak juga tempat unik untuk melakukannya.

    Masyarakat Indonesia memiliki beberapa tradisi upacara bendera yang unik. Entah siapa dalangnya, tapi upacara kemerdekaan HUT RI pernah dilakukan di tempat-tempat yang tidak biasa, bahkan ekstrem.

    Tak hanya darat, di dalam laut pun pernah dilakukan. Berikut lima upacara bendera paling untuk di Indonesia.


    Upacara Unik HUT RI

    1. Upacara di Puncak Gunung

    Bendera Merah Putih 1.000 Meter Hiasi Puncak Gunung PenanggunganBendera Merah Putih 1.000 Meter Hiasi Puncak Gunung Penanggungan (Istimewa)

    Upacara di puncak gunung sering dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Kebanyakan gunung di Indonesia biasanya juga dipenuhi pendaki saat HUT RI. Mereka biasa naik pada 16 Agustus dan menjalankan upacara pada 17 Agustus pagi.

    Gunung-gunung yang biasanya menjadi tujuan adalah Gunung Prau, Gunung Batur, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, hingga Gunung Papandayan.

    2. Upacara di bawah laut

    Upacara di KRI Siwar dan penanaman terumbu karang (Bahtiar/detikcom) dan pengibaran bendera di bawah laut (istimewa).Upacara di KRI Siwar dan penanaman terumbu karang (Bahtiar/detikcom) dan pengibaran bendera di bawah laut (istimewa).

    Upacara di bawah laut juga sering diberitakan. Salah satunya di Pulau Sangiang, Banten yang diikuti oleh ratusan penyelam. Upacara pada HUT ke-74 Kemerdekaan RI itu dipimpin oleh Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Banten Letkol Laut (P) Golkariansyah.

    Upacara seperti ini sangat menarik dilakukan di berbagai daerah yang memiliki keindahan bawah laut, misalnya Pulau Derawan, Bunaken, Raja Ampat, dan Karimunjawa.

    3. Upacara di Sungai

    Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung gelar upacara bendera peringatan HUT RI. Upacara berlangsung di tengah sungai.Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung gelar upacara bendera peringatan HUT RI. Upacara berlangsung di tengah sungai. (Adhar Muttaqin)

    Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung menggelar upacara bendera peringatan HUT RI ke-76 pada 17 Agustus 2021. Upacara ini berlangsung di tengah sungai yang berlokasi di Kelurahan Tertek, Tulungagung ini.

    Baik petugas maupun peserta upacara menceburkan diri dan rela berbasah-basahan demi mengikuti upacara ini. Meskipun setengah bagian tubuhnya terendam air, tetapi upacara tetap berjalan lancar dan khidmat.

    4. Upacara di dalam Goa

    PurbalinggaGoa Lawa, Purbalingga (Vandi Romadhon/detikcom)

    Tak habis-habis kekayaan alam Indonesia untuk dijadikan sebagai tempat upacara. Memperingati HUT RI ke-76, objek wisata Goa Lava di Purbalingga mengadakan acara upacara bendera anti mainstream. Di dalam goa dilakukan pengibaran bendera merah putih pada tiang yang sebelumnya sudah disiapkan.

    Layaknya upacara pada umumnya, dalam kegiatan ini juga ada petugas dan peserta upacara yang terdiri dari karyawan dan pengelola Goa Lava. Sebanyak 30 orang mengikuti upacara di dalam goa ini. Penerangan berupa lampu juga ikut dipasang di dalam goa.

    5. Upacara di Sawah/Kebun

    Petani juga bisa ikut merayakan upacara di kebun atau sawah mereka. Seperti yang dilakukan anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kegiatan upacara kemerdekaan ini dilakukan rutin setiap tahun.

    Mereka mengibarkan bendera dengan memakai pakaian kerja mereka sehari-hari. Selain Tani Sumber Rejeki, ada pula Tani Lewu Taheta yang juga melakukan upacara kemerdekaan setiap tahunnya.

    (bnl/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Selo, Gerbang Pendakian ke Gunung Merapi



    Boyolali

    Selo di Boyolali dikenal sebagai pintu gerbang pendakian ke gunung Merapi. Mari mengenal lebih dekat jalur pendakian ini:

    Selo adalah nama salah satu kecamatan di kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Bagi para pendaki, Selo adalah pintu gerbang pendakian ke beberapa gunung sekaligus, mulai dari gunung Merbabu hingga Merapi.

    Di Selo, ada basecamp yang kerap disambangi para pendaki sebelum mulai mendaki gunung Merapi. Meski saat ini pendakian gunung Merapi masih ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan, tapi tidak ada salahnya mengenal jalur pendakian Selo.


    Jalur pendakian gunung Merapi via Selo dikenal memiliki lintasan terpendek. Trek awal yang harus pendaki lalui adalah jalan aspal yang tidak begitu panjang, tapi cukup menguras tenaga.

    Setelah melewati gardu pandang New Selo, para pendaki akan memasuki jalur pendakian yang didominasi oleh ladang penduduk. Saat sampai batas ladang, kalian akan disambut oleh gerbang pendakian gunung Merapi.

    Traveler harus melanjutkan perjalanan sampai ke Patok 1 atau Pos 1 Merapi. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Pos Joglo II di atas desa Plalangan.

    Jalur ini punya medan yang terus menanjak dan hanya dapat dilalui oleh satu orang pendaki saja. Di pos 2, para pendaki bisa mendirikan tenda untuk beristirahat.

    Selepas pos 2, para pendaki akan sampai di batas vegetasi. Artinya, kalian tidak bisa menjumpai pepohonan, yang ada hanya bebatuan besar. Itu tandanya kalian sudah dekat dengan pos berikutnya yaitu Pasar Bubrah.

    Di Pasar Bubrah, para pendaki bisa melihat Puncak Gunung Merapi yang menjulang tinggi. Di pos inilah batas aman pendakian Gunung Merapi. Setelah pasar Bubrah, pendaki akan mendaki sampai ke puncak.

    Pendakian ke puncak gunung Merapi saat ini masih dilarang untuk dilakukan. Gunung Merapi sampai saat ini adalah siaga (level III).

    Pada level ini, potensi bahayanya antara lain guguran lava dan awan panas, meliputi Sungai Boyong maksimal 5 km; Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km; Sungai Woro maksimal 3 km; dan Sungai Gendol 5 km.

    Di samping itu, lontaran material vulkanik dapat menjangkau sejauh 3 km dari puncak jika ada letusan eksplosif.

    Pihak Taman Nasional Gunung Merapi pun sudah memasang papan larangan pendakian di pintu masuk pendakian Selo, serta mengecek berkala jalur pendakian.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Wisata Alternatif yang Bisa Dijajal Traveler di Sekitar Gunung Merapi



    Yogyakarta

    Kawasan Gunung Merapi memang punya pesonanya sendiri. Sehingga banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke sana.

    Meski dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, daya tariknya justru terletak pada perpaduan antara keindahan alam, sejarah letusan yang dramatis, hingga kehidupan masyarakat yang tetap berdiri tegak di sekitarnya.

    Namun, sebelum traveler tergoda menyusun rencana liburan ke sana, ada baiknya menyimak perkembangan terkini. Hingga September 2025 ini, status Gunung Merapi masih berada di siaga level III.


    Pendakian ke puncak melalui jalur seperti Selo dan Sapu Angin masih ditutup total sejak 2018, dan belum ada tanda-tanda akan dibuka kembali dalam waktu dekat. Kondisi ini dipertegas oleh laporan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) serta sejumlah media nasional.

    Nah jangan khawatir traveler, sebagai alternatifnya, di sekitar kaki Gunung Merapi juga ada banyak pilihan destinasi yang bisa dikunjungi tanpa harus menantang bahaya. Kawasan seperti Kaliurang, Kaliadem, dan Cangkringan tetap menyimpan segudang pengalaman seru yang aman dinikmati oleh wisatawan.

    Salah satu yang paling populer tentu saja adalah Lava Tour Merapi. Naik jeep terbuka, kamu akan diajak menyusuri bekas aliran lava erupsi 2010. Di sepanjang perjalanan, pemandangan dramatis bekas rumah-rumah yang luluh lantak, sungai kering yang jadi jalur lahar, hingga batu-batu besar yang terlontar dari kawah menjadi saksi bisu dahsyatnya Merapi.

    Jika ingin suasana yang lebih tenang, Kaliurang bisa jadi pilihan tepat. Udaranya sejuk, banyak penginapan bergaya klasik Jawa, dan cocok untuk wisata keluarga. Di sana juga ada Ullen Sentalu Museum, tempat yang tak hanya menyimpan benda-benda bersejarah dari Dinasti Mataram, tapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang begitu mendalam.

    Tak jauh dari sana, ada juga Bunker Kaliadem. Tempat ini dulu digunakan sebagai tempat perlindungan saat erupsi, namun sekarang menjadi spot favorit wisatawan untuk menikmati panorama Merapi dari kejauhan. Saat cuaca cerah, puncak Merapi terlihat jelas berdiri megah di balik kabut tipis.

    Selain itu, buat traveler yang ingin menikmati sisi edukatif dari bencana Merapi, ada Museum Sisa Hartaku di Desa Petung. Museum kecil itu menampilkan sisa-sisa rumah, motor, peralatan rumah tangga, hingga kerangka hewan ternak yang tak sempat diselamatkan saat erupsi.

    Semuanya ditata secara apa adanya, membuat pengunjung bisa merasakan langsung bagaimana dahsyatnya letusan Merapi saat itu.

    Jangan lupa, kawasan ini berada di zona rawan bencana, dan cuaca di pegunungan bisa berubah cepat. Maka dari itu, selalu cek prakiraan cuaca sebelum berangkat, dan ikuti arahan dari petugas atau pemandu lokal.

    (upd/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • NASA Temukan ‘Bukti’ Baru di Mars, Benarkah Ada Potensi Kehidupan?

    NASA Temukan ‘Bukti’ Baru di Mars, Benarkah Ada Potensi Kehidupan?



    Jakarta

    Benarkah Mars pernah menyimpan rahasia kehidupan? Pertanyaan ini terus menjadi misteri bagi para ilmuwan. Sejak lama, para ilmuwan telah melakukan eksplorasi luar angka ke Mars untuk mencari tanda-tanda kehidupan.

    Sejauh ini, belum ada bukti valid apakah ada kehidupan di Mars atau tidak. Namun, penemuan NASA dari misi rover Perseverance 2024 mengungkapkan fakta baru.

    Para ilmuwan, menemukan potensi biosignature (tanda-tanda kehidupan) dari inti batu lumpur yang dibor di Sapphire Canyon, Kawah Jezero. Dari situ, terdapat mineral yang jika di Bumi sering dikaitkan dengan aktivitas mikroba.


    ‘Bukti’ Misterius di Batu Mars

    Pada Juli 2024, Perseverance berhasil mengebor batu bernama Air Terjun Chevaya di saluran sungai kuno Neretva Vallis. Analisis sampel dari pengeboran ini menunjukkan adanya dua mineral penting yaitu vivianit (besi fosfat) dan greigit (besi sulfida).

    Kedua mineral ini cukup istimewa. Di Bumi, mereka biasanya terbentuk di lingkungan kaya air namun minim oksigen, tempat mikroba kerap beraktivitas.

    Tekstur batunya pun menunjukkan pengendapan dari air, bukan dari lava. Temuan ini membuat ilmuwan semakin bersemangat, karena kondisi tersebut mirip dengan habitat yang bisa memungkinkan atas kehidupan sederhana.

    Masih Potensi, Bukan Bukti

    Meski cukup memberi petunjuk, para peneliti tetap berhati-hati. Mineral dan pola kimia ini memang menyerupai jejak mikroba di Bumi, tetapi belum dipastikan berasal dari makhluk hidup. Ada kemungkinan reaksi kimia nonbiologis juga menghasilkan pola yang sama.

    “Itu bukan kehidupan itu sendiri, tapi bisa jadi tanda biologis potensial,” jelas Nicky Fox, Administrator Asosiasi untuk Direktorat Misi Sains NASA, dikutip dari Earth.com.

    Pejabat Administrator NASA, Sean Duffy, bahkan menyebut temuan ini sebagai “indikasi paling jelas yang pernah kami dapatkan tentang kemungkinan kehidupan di Mars”. Namun, ia menegaskan NASA masih perlu melalui banyak tahap verifikasi sebelum bisa memastikan.

    Jika terbukti hasil dari hal itu merupakan metabolisme mikroba, berarti Mars pernah memiliki lingkungan layak huni dengan siklus kimia mirip Bumi. Sebaliknya, jika terbentuk secara nonbiologis, temuan ini tetap penting karena membuka jendela baru untuk memahami bagaimana unsur-unsur penting (seperti besi, fosfor, dan sulfur) bereaksi di Planet Merah.

    Dengan kata lain, apa pun hasil akhirnya, batuan Mars ini menyimpan hal berharga tentang sejarah kimia planet tetangga Bumi.

    Sampel Akan Dibawa ke Bumi

    Sementara untuk sampel batu lumpur sudah disegel rapi oleh Perseverance untuk kemudian dikirim ke Bumi. Nantinya, para ilmuwan bisa melakukan uji isotop, analisis karbon, hingga mikrotekstur untuk membedakan apakah jejak itu biologis atau murni reaksi kimia.

    Selama menunggu misi pengembalian sampel, rover akan terus memetakan area lain yang berpotensi menyimpan petunjuk serupa. Dengan instrumen seperti SHERLOC dan PIXL, NASA berharap bisa menemukan pola konsisten yang memperkuat bukti.

    Penemuan ini memang belum bisa disebut sebagai bukti kehidupan di Mars. Namun, hal ini menjadi langkah besar dari pertanyaan, apakah makhluk hidup di Bumi sendirian di alam semesta, atau ada kemungkinan kehidupan pernah muncul di planet lain?

    Satu hal pasti, setiap lapisan batu Mars yang dibawa Perseverance mendekatkan pada pengetahuan baru.

    *Penulis adalah peserta magang Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama

    (faz/faz)



    Sumber : www.detik.com