Tag: muntah

  • 10 Cara Alami agar Tidak Mabuk Saat Naik Mobil, Tak Perlu Obat


    Jakarta

    Perjalanan naik mobil sering menjadi hal menakutkan bagi orang yang punya masalah mabuk perjalanan. Mereka sering khawatir mengalami mual dan muntah di tengah perjalanan.

    Biasanya mereka mengatasi dengan minum obat antimabuk. Namun bagaimana jika lupa membeli obat? Detikers bisa mencoba cara alami agar tidak mabuk saat naik mobil. Cara ini juga bisa dibiasakan agar tidak bergantung pada obat antimabuk.

    Cara Alami agar Tidak Mabuk Saat Naik Mobil

    Dilansir dari situs Kementerian Kesehatan dan rumah sakit swasta, berikut ini 10 cara alami agar tidak mabuk saat naik mobil:


    1. Istirahat Cukup

    Cegah mabuk perjalanan dengan beristirahat yang cukup sebelum memulai perjalanan. Perjalanan jauh membutuhkan tubuh yang bugar. Jika kurang istirahat, maka kemungkinan kondisi kamu menjadi tidak fit, merasa pusing, dan mual saat perjalanan.

    2. Jangan Terlalu Kenyang

    Cara alami agar tidak mabuk saat naik mobil selanjutnya adalah mencegah perut terlalu kenyang. Jadi, jangan makan terlalu banyak sesaat sebelum naik mobil. Guncangan mobil di perjalanan lebih mudah menyebabkan mual pada perut yang penuh.

    3. Atur Posisi Duduk

    Jika detikers punya riwayat mabuk perjalanan, maka atur posisi duduk dengan tepat. Biasanya posisi menghadap belakang dan samping biasanya lebih mudah menyebabkan pusing dan gejala mabuk.

    Usahakan duduk di posisi yang bisa melihat jalan dan menghadap depan. Jika memungkinkan, pilih tempat duduk yang minim guncangan, jangan berada di atas ban bus.

    4. Makan Snack

    Sediakan makanan ringan atau snack kering saat hendak naik mobil. Cara ini ampuh untuk mengatasi mabuk perjalanan. Snack yang cocok antara lain keripik, makanan manis atau buah-buahan untuk mencegah dan mengurangi perasaan mual.

    5. Mengonsumsi Jahe atau Permen Mint

    Minum air jahe atau mengunyah permen mint juga merupakan cara alami agar tidak mabuk saat naik mobil. Cara ini ampuh untuk mencegah dan meredakan mual dan muntah karena mabuk perjalanan.

    6. Alihkan Perhatian

    Terkadang orang mengalami mabuk perjalanan karena terlalu fokus berpikir bahwa dirinya akan mual ketika naik mobil. Nah, cara yang bisa kamu lakukan adalah dengan mengalihkan perhatian, misalnya dengan mendengarkan musik, bernyanyi, mengobrol, dan sebagainya.

    7. Jangan Lihat Buku atau HP

    Jangan mengalihkan perhatian dengan membaca buku dan bermain HP. Hal ini justru memicu rasa mual dan pusing, Ketika mata fokus pada satu titik yang dekat, sementara mobil terus bergerak, maka terjadi ketidakselarasan antara mata dan telinga.

    8. Pejamkan Mata

    Memejamkan mata juga ampuh untuk mengatasi mabuk perjalanan saat naik mobil. Pejamkan mata sejenak dan ambil napas perlahan. Jika bisa tidur, akan lebih mudah bagi kamu untuk mencegah mabuk perjalanan.

    9. Hirup Udara Segar

    Salah satu penyebab mual dan pusing adalah udara di dalam mobil yang kurang segar atau bau parfum mobil yang kurang cocok. Untuk mengatasinya, buka jendela mobil atau berhenti sebentar untuk keluar dari mobil.

    10. Aromaterapi

    Terakhir, cara alami agar tidak mabuk saat naik mobil adalah dengan memasang aromaterapi atau minyak angin. Aroma yang bisa membantu seperti kayu putih, lavender, lemon, atau rempah-rempah.

    Sepuluh cara alami agar tidak mabuk saat naik mobil ini dapat menjadi alternatif dalam perjalanan. Sebelumnya, pastikan tubuh dalam kondisi cukup sehat untuk menempuh perjalanan jauh.

    (bai/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • Klopp Yakinkan Thiago Alcantara untuk Jadi Pelatih


    Jakarta

    Eks Liverpool dan Barcelona Thiago Alcantara sedang mengejar karier sebagai pelatih usai pensiun. Thiago menyebut Juergen Klopp punya pengaruh besar dalam pilihannya ini.

    Thiago gantung sepatu pada musim panas 2024. Liverpool menjadi klub terakhirnya sebelum pensiun.

    Thiago lantas memutuskan untuk kembali ke Barcelona. Bukan untuk bermain, tapi masuk staf kepelatihan Hansi Flick.


    Bicara soal peran barunya ini, Thiago menyebut bahwa Klopp punya peran penting. Mantan manajer Liverpool itu lah yang meyakinkan Thiago untuk menjadi pelatih.

    “Saya bisa bikin daftar semua pelatih yang memberi manfaat dalam hidup saya: Pep Guardiola, Hansi Flick, Luis Enrique, Carlo Ancelotti, Juergen Klopp, Jupp Heynckes,” ujar Thiago seperti dilansir Mirror.

    “Saya merasakan manfaatnya terutama menjelang akhir karier saya. Saya tidak tahu apakah itu karena Juergen sudah melihat uban saya, atau karena kami menggunakan sebagian waktu kami di lapangan untuk bicara dan memimpin, tapi Juergen lah yang bilang kepada saya bahwa saya akan jadi pelatih.”

    Thiago berharap bisa mewarisi sifat Klopp yang tenang dalam menghadapi situasi. Ia juga menekankan pentingnya intensitas, sesuatu yang identik dengan Klopp.

    “Bersama Klopp, tidak ada situasi buruk, hanya momen yang perlu disalurkan dengan cara yang membuatnya jadi menguntungkan tim Anda dan dia meraihnya lewat energi, ketenangan, atau bahkan tawa di momen yang seharusnya tidak lucu,” ucap Thiago.

    “Dia berhasil menanamkan aliran energi itu sehingga semua orang mengikutnya. Terlepas dari intensitas di sesi latihan, hal terbaik yang bisa saya tularkan dari Juergen ke tim saya adalah gagasan bahwa, meski Anda hanya ingin fokus mengasah pergerakan tertentu, permainan tidak pernah berakhir, tetap berjalan.”

    “Anda tidak bisa menuntaskan latihan finishing tanpa mempunyai bola ekstra jaga-jaga kalau ada bola muntah, kehilangan penguasaan bola, atau Anda perlu melakukan transisi.”

    (nds/cas)



    Sumber : sport.detik.com

  • Dosen IPB Tegaskan Ikan Hiu Bukan Bahan Pangan yang Aman bagi Anak!

    Dosen IPB Tegaskan Ikan Hiu Bukan Bahan Pangan yang Aman bagi Anak!



    Jakarta

    Dosen Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah menegaskan bahwa ikan hiu bukanlah bahan pangan yang aman bagi anak-anak. Hal ini diungkapnya usai kasus keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 12 Benua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat.

    Rosyda menyebut ikan hiu mengandung logam berat di dalam tubuhnya karena perannya sebagai predator puncak. Untuk itu, daging ikan hiu berbahaya jika dikonsumsi manusia, apalagi anak-anak.

    “Hiu adalah predator puncak yang mudah mengakumulasi merkuri, arsenik, dan timbal melalui proses biomagnifikasi. Akumulasi ini menjadikan daging hiu berbahaya jika dikonsumsi manusia,” tutur Rosyda dikutip dari laman resmi IPB University.


    Dampak Memakan Daging Ikan Hiu pada Anak

    Dalam rantai makanan, ada sebuah proses yang disebut dengan biomagnifikasi atau keadaan ketika konsentrasi zat beracun meningkat. Merkuri yang ada di laut umumnya terserap oleh tumbuhan laut lalu berpindah ikan.

    Lantaran hiu adalah predator puncak yang memakan ikan lain, merkuri yang ada di proses sebelumnya akan terkumpul dalam jumlah tinggi di tubuh hiu. Kandungan merkuri pada daging hiu bersifat racun yang dapat menimbulkan mual hingga gangguan saraf serius.

    Rosyda menekankan, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap efek ini. Oleh karena itu, seharusnya pengolahan daging hiu tidak jadi pilihan pada MBG.

    “Kandungan metil merkuri pada hiu bersifat toksik, dapat menimbulkan mual, muntah, sakit kepala, hingga gangguan saraf serius,” jelas Rosyda.

    Tidak hanya daging, sirip ikan hiu juga mengandung merkuri dan arsenik dalam kadar tinggi. Paparan arsenik dapat merusak hati, ginjal, kulit, dan paru-paru.

    Jenis logam terakhir yang ada di daging hiu adalah timbal. Jika dikonsumsi, timbal bisa menimbulkan gejala kejang, koma, bahkan kematian.

    “Pemilihan ikan hiu sebagai bahan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) jelas tidak tepat, apalagi untuk konsumsi anak sekolah,” tegasnya.

    Makanan MBG Harus Aman

    Tidak sembarangan, penyusunan makanan anak-anak di MBG harus mengikuti konsep B2SA, yakni beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Konsep ini bisa memastikan anak memperoleh energi dan gizi yang cukup tanpa risiko kesehatan.

    Bila konsepnya siap diterapkan, Rosyda mengingatkan agar bahan makanan yang dibeli harus bisa diterima anak-anak dengan tetap menyesuaikan kemampuan daya beli masyarakat

    Sorot Kebersihan Dapur dan Distribusi Makanan

    Hal penting lainnya yang tak luput dari sorotan Rosyda yaitu kebersihan dapur dan distribusi makanan. Ia menekankan, dapur pembuatan MBG harus selalu bersih, bebas kontaminasi, memiliki fasilitas cuci tangan, serta memenuhi standar pengendalian hama.

    Sedangkan distribusi makanan MBG ke sekolah diharapkan tepat waktu. Terlambatnya distribusi berpengaruh pada keamanan pangan.

    Kasus yang terjadi di Ketapang, baginya merupakan sebuah pembelajaran yang harus diperhatikan. Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam memilih serta mengelola pangan.

    “Anak-anak tidak boleh dijadikan korban dari kelalaian dalam penyusunan menu dan pengelolaan makanan. Konsep B2SA harus menjadi pedoman utama,” pungkasnya.

    (det/twu)



    Sumber : www.detik.com

  • Pakar UGM Ungkap Beda Alergi dan Keracunan Serta Cara Menanganinya

    Pakar UGM Ungkap Beda Alergi dan Keracunan Serta Cara Menanganinya


    Jakarta

    Pakar sekaligus Guru Besar Mikrobiologi Klinik Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Tri Wibawa soroti banyaknya kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Terlebih korban dari kasus ini berasal dari kalangan siswa yang menjadi sasaran MBG.

    Tri menjelaskan selain menyoroti kasusnya, masyarakat dan tenaga pendidik perlu memahami tentang perbedaan alergi dan keracunan makanan. Pemahaman ini diperlukan agar masyarakat bisa mengambil langkah pertolongan pertama yang tepat bila hal itu terjadi.

    Lalu apa perbedaan diantara keduanya? Dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (9/10/2025) berikut informasinya.


    Perbedaan Alergi dan Keracunan Makanan

    Alergi dijelaskan Tri sebagai reaksi yang diberikan sistem kekebalan tubuh setelah mengonsumsi makanan tertentu. Reaksi ini bisa timbul bahkan ketika seseorang memakan makanan pemicu alergi sekecil apapun.

    “Makanan pemicu alergi dapat menyebabkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran pernapasan yang memicu asma, hingga gangguan pencernaan,” tuturnya.

    Alergi makanan yang menimpa seseorang tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini bisa terjadi karena dalam beberapa kasus reaksi alergi dapat berujung pada kondisi yang mengancam jiwa atau dikenal sebagai anafilaksis.

    Berbeda dengan alergi, keracunan makanan tidak berhubungan dengan reaksi sistem imun manusia. Keracunan makanan bisa terjadi karena masuknya kuman atau zat berbahaya dari makanan/minuman yang dikonsumsi.

    Ketika seseorang mengalami keracunan makanan, biasanya ada gejala yang ditimbulkan. Gejala yang dimaksud seperti sakit perut, muntah, dan diare yang muncul beberapa jam hingga hari setelah mengonsumsi makanan.

    Sebagian besar kasus keracunan makanan bersifat ringan, sehingga bisa sembuh tanpa pengobatan khusus. Tetapi, dalam kondisi tertentu kasus ini bisa berakibat serius jika tidak ditangani, terlebih bila pemicunya adalah bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli (E. coli).

    Bakteri Salmonella sp bisa bertahan dalam tubuh, terhindar dari asam lambung, dan bisa menyerang mukosa usus. Dengan begitu, bila keracunan karena bakteri ini, biasanya seseorang akan merasa sakit perut karena terjadi peradangan serta luka pada dinding usus.

    Sedangkan, bakteri E coli mampu menghasilkan toksin Shiga (Shiga toxin-producing E. coli / STEC). Toksin ini dapat menyebabkan penyakit tular makanan yang parah.

    Tri menegaskan setiap kasus keracunan memiliki penanganan yang berbeda-beda. Penangan yang dimaksud sesuai dengan jenis bakteri yang menyerang tubuh.

    “Meskipun gejalanya mirip, mekanisme penyebabnya berbeda-beda tergantung jenis bakterinya,” ungkapnya.

    Tips Beri Pertolongan Pertama Saat Keracunan Makanan

    Dalam konteks MBG, Tri memberikan tips beri pertolongan pertama saat keracunan makanan, yakni:

    1. Cegah Dehidrasi

    Jika gejala keracunan yang timbul adalah muntah dan diare, korban bisa kehilangan cairan dan elektrolit. Untuk itu langkah paling penting yang harus dilakukan adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang agar mencegah korban dehidrasi.

    Ia menyarankan agar penderita banyak minum air putih. Jika dirasa kurang, orang tersebut juga bisa diberikan suplemen elektrolit.

    “Jika muntah masih terjadi, minumlah sedikit demi sedikit. Dan jika kondisi memburuk, segera cari pertolongan dari petugas kesehatan,” tambahnya.

    2. Jangan Panik Kalau Demam

    Selain muntah dan diare, demam bisa menjadi salah satu gejala yang mungkin muncul saat keracunan. Ketika hal ini terjadi, detikers diharapkan tidak panik.

    Demam disebutkan Tri menjadi mekanisme alami tubuh dalam melawan infeksi. Peningkatan suhu tubuh dapat membantu memperlambat pertumbuhan bakteri serta mengoptimalkan kerja sistem imun.

    “Demam membantu mengendalikan infeksi dengan memberi tekanan panas pada patogen dan meningkatkan efektivitas sistem kekebalan tubuh,” paparnya.

    Meski ada langkah pertolongan pertama ketika keracunan makanan datang, Tri mengingatkan mencegah adalah langkah paling baik. Diperlukan pengawasan yang ketat terhadap seluruh rantai produksi makanan MBG.

    Menurutnya, setiap tahap proses baik dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi dapat menjadi titik masuk bagi bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Oleh karena itu, standar kebersihan harus diterapkan secara optimal.

    Tri berpesan agar masyarakat juga harus paham perbedaan antara alergi dan keracunan, serta upaya preventif terjadinya keracunan makanan. Keduanya merupakan kunci untuk mecegah risiko fatal dari keracunan makanan.

    “Kata kuncinya adalah menjaga mutu bahan dan proses, menaati standar kebersihan, dan segera bertindak tepat ketika gejala muncul,” tandasnya.

    (det/pal)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Tanaman Beracun di Dunia dan Ciri-cirinya, Jangan Asal Sentuh!

    6 Tanaman Beracun di Dunia dan Ciri-cirinya, Jangan Asal Sentuh!



    Jakarta

    Seperti halnya hewan, sejumlah spesies tumbuhan juga mengembangkan mekanisme perlindungan diri. Bedanya, tumbuhan tidak memiliki kemampuan untuk melarikan diri, sehingga mereka harus mengandalkan strategi lain.

    Pertahanan tersebut bisa berbentuk perlindungan fisik, seperti duri atau rambut tajam pada batang dan daun. Namun, banyak pula tumbuhan yang menggunakan pertahanan kimiawi, yakni dengan memproduksi racun.

    Racun ini menimbulkan efek mulai dari iritasi ringan hingga kematian bagi hewan pemakan tumbuhan. Tanaman beracun tidak hanya tumbuh di hutan liar, tapi juga bisa ditemukan di taman atau pekarangan rumah. Dari Oleander yang sering jadi tanaman hias, hingga Manchineel yang dijuluki “pohon kematian”.


    Berikut 6 tanaman yang dikenal paling berbahaya di dunia seperti dikutip dari BBC Wildlife. Yuk, kenali ciri-cirinya supaya detikers tidak salah sentuh dan bisa lebih waspada saat berinteraksi dengan alam!

    1. Deadly Nightshade (Atropa belladonna)

    Sekilas, tanaman ini tampak cantik dengan bunga ungu keunguan dan buah beri hitam mengkilap. Namun jangan tertipu! Atropa belladonna mengandung atropine dan scopolamine, dua racun yang bisa melumpuhkan sistem saraf.

    Nama tanaman ini berasal dari kata Yunani “Atropos” dan merujuk pada salah satu dari tiga Dewi Takdir dalam mitologi Yunani seperti dikutip dari Science Direct. Adapun “Bella-donna” adalah frasa Italia yang berarti “wanita cantik”.

    Ciri-ciri:

    • Bunga berbentuk lonceng berwarna ungu kecoklatan.
    • Buah berupa beri bulat kehitaman, mirip blueberry, dengan permukaan mengkilap.
    • Tinggi tanaman bisa mencapai 1,5 meter.
    • Tumbuh di daerah lembap Eropa dan Asia Barat.
    • Efek racunnya dapat menyebabkan pupil melebar, halusinasi, jantung berdebar, hingga kematian bila dikonsumsi dalam jumlah besar. Di masa Romawi, racun ini bahkan pernah digunakan untuk meracuni musuh.

    Namun, kandungan yang dimiliki tanaman ini juga bisa dimanfaatkan untuk pengobatan dengan takaran yang tepat.

    2. Manchineel (Hippomane mancinella)

    Disebut sebagai pohon paling berbahaya di dunia, Manchineel tumbuh di kawasan tropis Amerika Tengah dan Kepulauan Karibia. Dikutip dari laman University of Florida, nama “manchineel” berasal dari bahasa Spanyol “manzanilla”, yang berarti “apel kecil” mengacu pada daun dan buah pohon apel. Namun, karena sifatnya yang sangat beracun, orang Spanyol juga menjuluki pohon ini “arbol de la muerte” yang berarti “pohon kematian”.

    Ciri-ciri:

    • Kulit batang abu-abu dengan getah putih kental yang sangat beracun.
    • Daunnya hijau mengkilap, buah kecil mirip apel, aromanya manis menipu.
    • Biasanya tumbuh di tepi pantai berpasir atau hutan mangrove.
    • Efek getahnya mengandung phorbol ester yang bisa menyebabkan kulit melepuh. Asap dari pembakaran rantingnya dapat membuat mata dan tenggorokan terbakar.
    • Air hujan yang menetes dari daunnya saja bisa menimbulkan luka bakar kimia di kulit!

    3. Rosary Pea (Abrus precatorius)

    Menurut Extension Gardner, tanaman merambat ini sering dijumpai di daerah tropis Asia, termasuk Indonesia, dan dikenal dengan nama Saga Gunung atau Saga Pohon. Bijinya berwarna merah mengkilap dengan titik hitam, sering dijadikan manik-manik gelang, padahal sangat beracun!

    Ciri-ciri:

    • Daun kecil majemuk, mirip daun saga biasa.
    • Biji berwarna merah cerah dengan bintik hitam di salah satu ujungnya.
    • Merambat di pagar, pepohonan, atau semak.
    • Bijinya mengandung abrin, racun yang lebih mematikan daripada racun ular kobra. Mengunyah satu biji saja bisa menyebabkan gagal ginjal dan kematian. Meski cangkangnya keras, saat pecah racunnya mudah masuk ke tubuh.

    4. Oleander (Nerium oleander)

    Bunga oleander sering menghiasi taman karena warnanya yang indah-merah muda, putih, atau kuning. Tapi di balik tampilannya, semua bagian tanaman ini mengandung oleandrin, racun yang menyerang jantung.

    Ciri-ciri:

    • Bunga berwarna cerah dengan kelopak tebal dan aroma lembut.
    • Daun memanjang, hijau pekat, tersusun berhadapan.
    • Batangnya berkayu dan dapat tumbuh hingga 3 meter.
    • Efek racunnya menyebabkan muntah, pusing, detak jantung tidak teratur, bahkan henti jantung jika tertelan. Hewan peliharaan seperti kucing dan anjing juga bisa keracunan bila menggigit daunnya.

    Di beberapa daerah, tanaman ini sering disalah artikan sebagai tanaman yang aman karena banyak dijual sebagai tanaman hias.

    5. Bunga Bakung Gunung (Convallaria majalis)

    Si mungil beraroma manis ini kerap dipakai dalam buket pernikahan, tapi siapa sangka ia menyimpan racun jantung yang berbahaya.

    Ciri-ciri:

    • Bunga putih kecil berbentuk lonceng, menggantung pada tangkai panjang.
    • Daunnya lebar dan hijau cerah, menyerupai daun pisang mini.
    • Berbuah merah jingga saat musim panas.
    • Mengandung cardiac glycosides seperti convallatoxin yang bisa mengganggu ritme jantung. Gejala umum yang dapat ditimbulkan antara lain: mual, muntah, dan detak jantung tidak teratur.

    Meski baunya harum, sebaiknya jangan menyentuh atau mencium terlalu dekat bila kamu memiliki kulit sensitif.

    6. Monkshood (Aconitum spp.)

    Disebut juga “wolf’s bane”, tanaman ini punya bunga ungu kebiruan yang elegan, sering jadi favorit di taman bergaya Eropa. Namun, racunnya, aconitine, termasuk salah satu neurotoksin paling kuat di dunia.

    Ciri-ciri:

    • Bunga menyerupai tudung biksu (itulah asal nama Monkshood).
    • Daunnya menjari dengan tepi bergerigi halus.
    • Tumbuh di daerah pegunungan atau dataran tinggi yang sejuk.
    • Efek racunnya dapat menyebabkan mati rasa, kesemutan, gangguan pernapasan, hingga henti jantung hanya dalam waktu 30 menit jika tertelan. Bahkan menyentuh akarnya tanpa sarung tangan bisa menimbulkan iritasi.

    Para ilmuwan menyebut tanaman-tanaman ini sebagai contoh mekanisme pertahanan alami yang ekstrim. Racun pada tumbuhan sejatinya berevolusi untuk melindungi diri dari herbivora dan serangga, bukan untuk menyerang manusia. Namun, pengetahuan tentang ciri dan bahayanya penting agar kita bisa menghargai alam tanpa mengundang risiko.

    (pal/pal)



    Sumber : www.detik.com

  • Stroke Bisa Menyerang Usia Muda, Ini Tanda Peringatan yang Harus Dikenali

    Stroke Bisa Menyerang Usia Muda, Ini Tanda Peringatan yang Harus Dikenali


    Jakarta

    Stroke bisa menyerang siapa pun, termasuk orang dewasa berusia 30-an dan 40-an, hingga anak-anak. Perubahan gaya hidup dan faktor seperti stres berkontribusi pada peningkatan kasus stroke yang lebih muda.

    Sehingga, harus diketahui bahwa stroke tak hanya menyerang lansia. Tanda peringatannya perlu dikenali agar kondisi tidak semakin memburuk.

    Mengapa Stroke Bisa Menyerang Usia Muda?

    Dikutip dari laman Times of India, faktor risiko stroke, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, koleserol tinggi, obesitas, merokok, hingga kurang olahraga tidak hanya dialami oleh lansia, tapi juga orang dewasa muda.


    Sementara itu, ada juga faktor lainnya seperti stres, gangguan tidur, migrain, depresi, hingga paparan polusi lingkungan yang menjadi penyebab penting stroke pada orang yang lebih muda.

    Tanda-tanda Peringatan Stroke yang Harus Diwaspadai Usia Muda

    Mengenali tanda-tanda stroke sejak dini sangatlah penting. Pada orang dewasa muda, gejalanya kadang samar atau salah diartikan. Berikut beberapa anda peringatan yang perlu diwaspadai:

    • Mati rasa atau lemas mendadak, terutama di satu sisi tubuh, memengaruhi wajah, lengan, atau kaki. Gejalanya bisa berupa mulut yang terkulai atau tidak bisa mengangkat lengan sepenuhnya.
    • Kesulitan berbicara, bicara tidak jelas, atau kesulitan memahami percakapan.
    • Penglihatan kabur secara tiba-tiba, penglihatan ganda, atau kehilangan penglihatan sementara pada satu atau kedua mata
    • Sakit kepala hebat tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya. Terkadang disertai muntah dan pusing
    • Kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba, kesulitan berjalan.

    Gejala ringan atau sementara pun harus diwaspadai. Mengabaikannya bisa menyebabkan komplikasi serius, termasuk cacat permanen atau kematian.

    Bagaimana Cara Mencegah Stroke?

    Meski beberapa faktor risiko tidak bisa diubah, pilihan gaya hidup bisa mengurangi risiko stroke secara signifikan. Mulai dari menjaga pola makan seimbang, olahraga secara teratur, menghindari alkohol, mengelola stres, dan mengendalikan kondisi kronis, seperti diabetes dan hipertensi menjadi strategi pencegahan yang utama.

    (elk/kna)



    Sumber : health.detik.com