Tag: nobel

  • Konstruksi Molekuler yang Bisa Panen Air dari Udara Gurun

    Konstruksi Molekuler yang Bisa Panen Air dari Udara Gurun


    Jakarta

    Peraih Nobel Kimia 2025 telah diumumkan. Susumu Kitagawa, Richard Robson, dan Omar Yaghi mendapatkan anugerah tersebut.

    Mereka telah mengembangkan bentuk baru arsitektur molekuler.

    Dikatakan dalam laman resmi Nobel, para peraih Nobel Kimia 2025 telah menciptakan konstruksi molekuler dengan ruang luas yang memungkinkan gas dan zat kimia lainnya mengalir. Konstruksi ini, yang disebut sebagai kerangka logam-organik atau metal-organic frameworks (MOF), dapat digunakan untuk memanen air dari udara gurun, menangkap karbon dioksida, menyimpan gas beracun, atau mengkatalisis reaksi kimia.


    Konstruksi molekuler ini memungkinkan para ilmuwan menyaring bahan kimia abadi dari air, menyusupkan obat ke dalam tubuh, dan bahkan memperlambat pematangan buah.

    Apa Itu Kerangka Logam-Organik?

    Seorang profesor yang mempelajari kerangka logam-organik (MOF) di Universitas Cambridge, David Fairen-Jimenez, memiliki permisalan untuk penemuan ini. Kepada AFP ia menyebut, bayangkan ketika menyalakan air panas untuk mandi pagi, cermin di kamar mandi berembun karena molekul air berkumpul di permukaannya yang datar. Namun, cermin ini hanya dapat menyerap air dalam jumlah terbatas.

    Jika cermin ini terbuat dari bahan yang sangat berpori, penuh lubang-lubang kecil, dan lubang-lubang ini seukuran molekul air, maka material ini akan mampu menampung air atau gas-gas lain jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan.

    Pada upacara Nobel, kemampuan penyimpanan rahasia ini dibandingkan dengan tas tangan ajaib Hermione dalam seri Harry Potter.

    Ruang di dalam beberapa gram MOF tertentu menampung area seluas lapangan sepak bola, kata pihak Nobel dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Phys.org.

    Ross Forgan, seorang profesor kimia material di Universitas Glasgow, mengatakan kepada AFP untuk menganggap MOF sebagai padatan yang penuh lubang.

    MOF pada dasarnya mungkin terlihat seperti garam dapur. Meski begitu, MOF memiliki kapasitas penyimpanan yang sangat tinggi di dalamnya karena berongga. MOF juga dapat menyerap molekul lain seperti spons.

    Bagaimana Penemuan Ini Dilakukan?

    Pada 1980-an, Robson mengajar mahasiswanya di Universitas Melbourne, Australia, tentang struktur molekul menggunakan bola kayu yang berperan sebagai atom. Bola kayu ini dihubungkan oleh batang-batang yang mewakili ikatan kimia.

    Suatu hari, hal ini menginspirasinya untuk mencoba menghubungkan berbagai jenis molekul. Pada 1989, ia telah menggambar struktur kristal yang mirip dengan berlian. Hanya saja, struktur tersebut penuh dengan lubang-lubang besar.

    Peneliti Prancis, David Farrusseng, membandingkan struktur MOF dengan Menara Eiffel.

    “Dengan mengunci semua balok besi-horizontal, vertikal, dan diagonal-kita melihat adanya rongga,” ujarnya kepada AFP.

    Namun, struktur berlubang Robson tidak stabil dan butuh waktu bertahun-tahun sebelum siapapun dapat menemukan cara untuk mengatasinya.

    Pada 1997, Kitagawa akhirnya berhasil menunjukkan bahwa MOF dapat menyerap dan melepaskan metana dan gas-gas lainnya.

    Yaghi-lah yang kemudian menciptakan istilah kerangka logam-organik dan menunjukkan kepada dunia, betapa luasnya ruang yang terdapat dalam material yang terbuat darinya.

    (nah/twu)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Ilmuwan Peraih Hadiah Nobel Kimia 2025, Ada Eks Pengungsi Palestina

    3 Ilmuwan Peraih Hadiah Nobel Kimia 2025, Ada Eks Pengungsi Palestina


    Jakarta

    The Royal Swedish Academy of Sciences atau Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia resmi mengumumkan peraih Hadiah Nobel Kimia 2025. Para penerima penghargaan tertinggi di bidang pengetahuan ini adalah Susumu Kitagawa, Richard Robson, Omar M Yaghi.

    Hadiah Nobel Kimia 2025 didapatkan ketiganya melalui penelitian tentang pengembangan kerangka logam-organik. Mereka menciptakan sebuah konstruksi molekuler dengan ruang yang luas, sehingga memungkinkan gas dan zat kimia lainnya bisa mengalir.

    Konstruksi ini kemudian disebut dengan “kerangka logam-organik” yang bisa digunakan untuk berbagai manfaat, seperti memanen air dari udara guru, menangkap karbon dioksida, menyimpan gas beracun, hingga mengkatalisis reaksi kimia.


    Profil Peraih Nobel Kimia 2025

    Adapun profil peraih Nobel Kimia 2025, yakni:

    1. Susumu Kitagawa

    Susumu Kitagawa lahir tahun 1951 di Kyoto, Jepang. Ia meraih gelar PhD tahun 1979 dari Universitas Kyoto, Jepang dan kini menjadi seorang profesor di Universitas Kyoto, Jepang.

    2. Richard Robson

    Robson diketahui lahir tahun 1937 di Glusburn, Inggris. Gelar PhD berhasil diraihnya pada tahun 1962 dari Universitas Oxford, Inggris.

    Kini, ia beranjak dari tanah kelahirannya dan menjadi profesor di Universitas Melbourne, Australia.

    3. Omar M. Yaghi

    Lahir tahun 1965 di Amman, Yordania, Omar M Yaghi meraih gelar PhD tahun 1990 dari University of Illinois Urbana-Champaign, AS. Kini, ia berstatus sebagai profesor di University of California, Berkeley, AS.

    Yaghi lahir di Amman, Yordania pada tahun 1965. Keluarganya dulu adalah pengungsi Palestina yang pindah ke Amman usai perang Arab-Israel 1948. Hidupnya di masa kecil jauh dari kata mudah. Ia harus berbagi kamar sempit bersama sembilan saudaranya dan hewan ternak di rumah tanpa listrik.

    “Aku tumbuh dalam keluarga pengungsi. Aku berjalan sejauh tiga mil setiap hari ke sekolah, pergi dan pulang. Aku mengalami masa-masa sulit,” kata Yaghi dikutip dari aa.com.

    Para pemenang Hadiah Nobel mendapat dana sebesar 11 juta Krona Swedia dibagi rata atau sekitar Rp 19,4 miliar (kurs 1 Krona Swedia=Rp 1.763,84).

    Penelitian Pemenang Nobel Kimia 2025

    Kitagawa, Robson, dan Omar Yaghi dianugerahi Hadiah Nobel Kimia 2025 melalui pengembangan bentuk baru arsitektur/konstruksi molekuler. Dalam alat yang mereka ciptakan itu, ion logam berfungsi sebagai landasan yang dihubungkan dengan molekul organik panjang berbasis karbon.

    Bersama-sama keduanya bisa terorganisir untuk membentuk kristal yang mengandung rongga-rongga besar. Material berpori/berongga-rongga besar ini disebut dengan metal-organic frameworks (MOF) atau kerangka logam-organik.

    Dengan memvariasikan blok penyusun yang digunakan dalam MOF, ahli kimia dapat menangkap dan menyimpan zat-zat tertentu. MOF juga dapat berguna untuk menghadirkan reaksi kimia atau menghantarkan listrik.

    Studi ini berawal pada 1989 kala Robson menguji pemanfaatan sifat-sifat inheren atom dengan cara baru. Cara yang ia lakukan kala itu adalah menggabungkan ion tembaga bermuatan positif dengan molekul berlengan empat (molekul dengan gugus kimia yang tertarik pada ion tembaga di ujung setiap lengannya).

    Ketika digabungkan, Robson menemukan mereka terikat membentuk kristal yang teratur dan lapang. Hal ini digambarkannya sebagai berlian yang dipenuhi rongga-rongga tak terhitung jumlahnya.

    Robsen segera menyadari potensi konstruksi molekulernya, tetapi saat itu ciptaannya tidak stabil dan mudah rubuh. Di kesempatan berbeda, Susumu Kitagawa dan Omar Yaghi memberikan fondasi yang kokoh bagi metode konstruksi ini (antara tahun 1992-2003).

    Ketiganya secara terpisah menghasilkan serangkaian penemuan yang revolusioner. Dalam studi Kitagawa ditemukan bila gas dapat mengalir masuk dan keluar dari konstruksi dan memprediksi bahwa MOF dapat dibuat secara fleksibel.

    Sedangkan Yaghi menciptakan MOF yang sangat stabil dan menunjukkan bahwa inovasi tersebut dapat dimodifikasi dengan desain rasional. Dengan begitu konstruksi bisa menghasilkan sifat-sifat baru yang diinginkan.

    Setelah penemuan ketiganya, para ahli kimia telah membangun puluhan ribu MOF yang berbeda dan dapat memecahkan beberapa tantangan terbesar umat manusia. Seperti menguraikan jejak obat-obatan di lingkungan, menangkap karbon dioksida, atau memanen air dari udara guru.

    Terkait hal ini, Ketua Komite Nobel untuk Kimia Heiner Linke memberikan apresiasi. Penemuan ini memiliki potensi yang sangat besar untuk memberikan manfaat kepada manusia.

    “Kerangka logam-organik memiliki potensi yang sangat besar, menghadirkan peluang yang sebelumnya tak terduga untuk material yang dibuat khusus dengan fungsi baru,” tandasnya.

    (det/faz)



    Sumber : www.detik.com

  • Inilah Pemenang Nobel Sastra 2025, Penulis dari Hungaria

    Inilah Pemenang Nobel Sastra 2025, Penulis dari Hungaria



    Jakarta

    Hadiah Nobel Sastra 2025 dianugerahkan kepada penulis Hungaria, László Krasznahorkai.

    “Atas karyanya yang memikat dan visioner, yang, di tengah teror apokaliptik, menegaskan kembali kekuatan seni,” tulis The Nobel Prize, dikutip dari laman resmi pada Kamis (9/10/2025).

    Berkenalan dengan László Krasznahorkai

    Penulis László Krasznahorkai lahir pada 1954 di kota kecil Gyula di tenggara Hungaria, dekat perbatasan Rumania. Daerah pedesaan terpencil yang serupa menjadi latar novel pertama Krasznahorkai, Sátántangó, yang terbit pada 1985 (Satantango, 2012).


    Karya tersebut menjadi sensasi sastra di Hungaria dan merupakan karya terobosan sang penulis. Novel itu menggambarkan, dengan kata-kata yang sangat sugestif, sekelompok penduduk miskin di sebuah pertanian kolektif terbengkalai di pedesaan Hungaria tepat sebelum runtuhnya komunisme.

    Novel ini diadaptasi menjadi film pada 1994 melalui kolaborasi dengan sutradara Béla Tarr.

    László Krasznahorkai adalah seorang penulis epik besar dalam tradisi Eropa Tengah. Karyanya dicirikan oleh absurdisme dan ekses grotesk.

    Namun, ada lebih banyak keahlian yang dimilikinya. Ia juga akan segera beralih ke Timur dengan mengadopsi nada yang lebih kontemplatif dan terkalibrasi dengan cermat. Hasilnya adalah serangkaian karya yang terinspirasi oleh kesan mendalam yang ditinggalkan dari perjalanannya ke China dan Jepang.

    Karya-karya László Krasznahorkai terbit dalam berbagai bahasa di antaranya Hungaria, Inggris, Jerman, Swedia, dan Prancis. Juga terdapat film-film hingga karya opera.

    (nah/pal)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok 3 Profesor Peraih Nobel Ekonomi 2025 dan Sumbangsih Pemikirannya

    Sosok 3 Profesor Peraih Nobel Ekonomi 2025 dan Sumbangsih Pemikirannya


    Jakarta

    The Royal Swedish Academy of Sciences memberikan Penghargaan Sveriges Riksbank dalam Ilmu Ekonomi untuk Mengenang Alfred Nobel 2025 kepada Joel Mokyr, Philippe Aghion, dan Peter Howitt.

    Mereka diberi penghargaan atas penjelasannya tentang pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh inovasi.

    Hadiah diberikan dengan separuh penghargaan diberikan kepada Joel Mokyr dari Universitas Northwestern, Evanston, IL, AS, Sekolah Ekonomi Eitan Berglas, Universitas Tel Aviv, Israel atas identifikasi prasyarat pertumbuhan berkelanjutan melalui kemajuan teknologi.


    Kemudian separuh penghargaan lainnya diberikan kepada Philippe Aghion dari College de France dan INSEAD, Paris, Prancis, Sekolah Ekonomi dan Ilmu Politik London, Inggris dan Peter Howitt dari Universitas Brown, Providence, RI, AS atas teori pertumbuhan berkelanjutan melalui destruksi kreatif.

    Bagaimana Sumbangsih Ketiganya?

    Joel Mokyr menggunakan sumber-sumber sejarah sebagai salah satu cara untuk mengungkap penyebab pertumbuhan berkelanjutan menjadi kenormalan baru. Ia menunjukkan agar inovasi dapat saling menggantikan dalam proses yang saling menghasilkan.

    Berdasarkan pemaparan panitia Nobel dalam laman resminya, kita tidak hanya perlu tahu bahwa sesuatu berhasil, tetapi juga perlu memiliki penjelasan ilmiah tentang alasannya. Penjelasan ilmiah ini seringkali kurang sebelum revolusi industri, sehingga sulit untuk membangun berdasarkan penemuan dan inovasi baru. Mokyr juga menekankan pentingnya masyarakat terbuka terhadap ide-ide baru dan membiarkan perubahan.

    Philippe Aghion dan Peter Howitt juga mempelajari mekanisme di balik pertumbuhan berkelanjutan. Dalam sebuah artikel dari 1992, mereka membangun model matematika untuk yang disebut sebagai destruksi kreatif, yakni ketika produk baru dan lebih baik memasuki pasar, perusahaan yang menjual produk lama akan merugi.

    Inovasi tersebut merepresentasikan sesuatu yang baru dan karenanya kreatif. Namun, inovasi tersebut juga destruktif, karena perusahaan yang teknologinya sudah ketinggalan zaman akan kalah bersaing.

    Dengan cara yang berbeda, para pemenang menunjukkan bagaimana destruksi kreatif menciptakan konflik yang harus dikelola secara konstruktif. Jika tidak, inovasi akan dihambat oleh perusahaan-perusahaan mapan dan kelompok-kelompok kepentingan yang berisiko dirugikan.

    “Karya para pemenang menunjukkan pertumbuhan ekonomi tidak bisa dianggap remeh. Kita harus menegakkan mekanisme yang mendasari destruksi kreatif, agar kita tidak terjerumus ke dalam stagnasi,” ujar John Hassler, Ketua Komite untuk penghargaan di bidang ilmu ekonomi.

    Profil Penerima Nobel Ekonomi 2025

    Joel Mokyr

    Joel Mokyr lahir pada 1946 di Leiden, Belanda. Ia meraih gelar doktor (PhD) pada 1974 dari Universitas Yale, New Haven, CT, AS.

    Mokyr merupakan profesor di Universitas Northwestern, Evanston, IL, AS dan Sekolah Ekonomi Eitan Berglas, Universitas Tel Aviv, Israel.

    Philippe Aghion

    Philippe Aghion lahir pada 1956 di Paris, Prancis. Aghion meraih gelar doktor (PhD) pada 1987 dari Universitas Harvard, Cambridge, MA, AS.

    Ia merupakan profesor di Collège de France dan INSEAD, Paris, Prancis dan Sekolah Ekonomi dan Ilmu Politik London, Inggris.

    Peter Howitt

    Peter Howitt lahir pada 1946 di Kanada. Ia mencapai gelar Doktor (PhD) pada 1973 dari Universitas Northwestern, Evanston, IL, AS.

    Howitt merupakan profesor di Universitas Brown, Providence, RI, AS.

    (nah/pal)



    Sumber : www.detik.com

  • Pengembangan AI Super Makin Mengerikan, Diminta Dihentikan

    Pengembangan AI Super Makin Mengerikan, Diminta Dihentikan


    Jakarta

    Ratusan tokoh termasuk ilmuwan pemenang Nobel, mantan pemimpin militer, seniman, dan keluarga kerajaan Inggris, menandatangani pernyataan yang menyerukan larangan atas karya yang dapat mengarah pada superintelijen, tahap kecerdasan buatan yang menurut mereka suatu hari nanti dapat menimbulkan ancaman bagi umat manusia.

    Pernyataan tersebut mengusulkan larangan atas pengembangan superintelijen hingga ada konsensus ilmiah yang luas bahwa hal itu akan dilakukan dengan aman dan terkendali dan dukungan publik yang kuat.

    Diorganisir peneliti AI yang prihatin dengan laju kemajuan teknologi yang cepat, pernyataan itu meraup lebih dari 800 tanda tangan. Para penandatangan termasuk peraih Nobel dan peneliti AI Geoffrey Hinton, Kepala Staf Gabungan Mike Mullen, rapper Will.i.am, mantan ajudan Gedung Putih Trump Steve Bannon dan Pangeran Harry dari Inggris dan istrinya, Meghan Markle.


    Pernyataan itu menambah daftar seruan untuk perlambatan AI saat AI mengancam mengubah sebagian besar ekonomi dan budaya. OpenAI, Google, Meta, dan perusahaan teknologi lain menuangkan miliaran dolar ke model AI baru dan data center, sementara para pebisnis mencari cara menambahkan fitur AI ke berbagai macam produk dan layanan.

    Beberapa peneliti AI percaya sistem AI berkembang cukup cepat sehingga segera akan mencapai kecerdasan umum buatan atau kemampuan melakukan tugas intelektual seperti manusia. Dari sana, peneliti dan eksekutif teknologi percaya yang terjadi selanjutnya mungkin adalah kecerdasan super, di mana model AI berkinerja lebih baik dari manusia terahli sekalipun.

    Pernyataan itu adalah produk Future of Life Institute, kelompok nirlaba yang menangani risiko skala besar seperti nuklir, bioteknologi, dan AI. Di antara pendukung awalnya adalah Elon Musk, yang sekarang menjadi bagian dari perlombaan AI dengan startup xAI. Donatur terbesarnya baru-baru ini adalah Vitalik Buterin, salah satu pendiri blockchain Ethereum.

    Direktur eksekutifnya, Anthony Aguirre, fisikawan di University of California, mengatakan perkembangan AI terjadi lebih cepat daripada yang dapat dipahami publik tentang apa yang sedang terjadi atau apa yang akan muncul selanjutnya.

    “Pada tingkat tertentu, kita telah memilih jalur ini untuk kita oleh perusahaan dan pendiri AI dan sistem ekonomi yang mendorong mereka, tapi tidak ada yang benar-benar bertanya kepada hampir semua orang soal apakah ini yang kita inginkan?’” cetusnya.

    “Cukup mengejutkan bagi saya bahwa ada lebih sedikit diskusi langsung tentang apakah kita menginginkan hal-hal ini? Apakah kita menginginkan sistem AI yang menggantikan manusia?’” katanya. “Ini agak diartikan sebagai: Ya, inilah arahnya, jadi kencangkan sabuk pengaman dan kita harus menghadapi konsekuensinya. Tapi saya rasa bukan seperti itu kenyataannya. Kita punya banyak pilihan tentang bagaimana kita mengembangkan teknologi, termasuk yang satu ini.”

    Pernyataan itu tidak ditujukan pada satu organisasi atau pemerintah tertentu. Aguirre berharap pembahasan tentang bahaya AI tidak hanya mencakup perusahaan AI besar, tapi juga politisi di Amerika Serikat, China, dan di tempat lain.

    “Ini bukan yang diinginkan publik. Mereka tidak ingin berlomba-lomba untuk ini,” katanya. Mungkin pada akhirnya perlu ada perjanjian internasional tentang AI canggih, seperti halnya untuk teknologi berpotensi berbahaya lainnya.

    (fyk/fay)



    Sumber : inet.detik.com

  • Tak Ada Nobel Matematika, Tapi Ada Penghargaan Bergengsi Ini!

    Tak Ada Nobel Matematika, Tapi Ada Penghargaan Bergengsi Ini!


    Jakarta

    Setiap tahun, dunia menantikan siapa saja penerima hadiah Nobel, penghargaan paling bergengsi bagi mereka yang dianggap berkontribusi besar bagi kemanusiaan. Namun, dari semua kategori yang ada, mulai dari fisika, kimia, kedokteran, sastra, hingga perdamaian, ada satu bidang penting yang tak pernah masuk daftar, yaitu matematika.

    Lalu, mengapa matematika tidak masuk ke dalam kategori penerima Nobel, bukankah ilmu ini penting bagi keberlangsungan hidup manusia? Simak penjelasan berikut ini ya detikers!

    Asal-Usul Hadiah Nobel

    Hadiah Nobel pertama kali digagas oleh Alfred Nobel, penemu dinamit sekaligus industrialis asal Swedia.


    Dalam wasiatnya, Nobel mengamanatkan agar sebagian besar kekayaannya digunakan untuk memberikan penghargaan kepada individu yang memberi manfaat besar bagi umat manusia. Hal ini dilakukannya, karena ia memiliki visi untuk mendorong penemuan dan ide yang punya dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar teori.

    Kenapa Matematika Tak Masuk Daftar?

    Meski matematika adalah “bahasa universal” ilmu pengetahuan, Nobel justru tidak memasukkan bidang ini ke dalam daftar penerima penghargaan. Sejumlah spekulasi pun bermunculan.

    Menurut catatan dari University of Waterloo, keputusan Nobel bukan karena alasan pribadi atau dendam seperti yang sering diceritakan dalam mitos populer. Banyak yang menduga Nobel bersaing dengan seorang matematikawan atau merasa cemburu, tapi tak ada bukti sejarah yang mendukung kisah itu.

    Penjelasan yang lebih masuk akal adalah, Nobel ingin fokus pada ilmu yang berdampak langsung bagi manusia, seperti fisika dan kedokteran. Pada zamannya, matematika dianggap terlalu abstrak dan belum banyak menunjukkan manfaat praktis.

    Selain itu, sejarawan juga menyebutkan bahwa pada masa tersebut, sudah ada penghargaan bergengsi di bidang matematika, yang dibuat oleh matematikawan Swedia Gösta Mittag-Leffler. Jadi, mungkin Nobel merasa tak perlu membuat versi lain.

    Matematika Tetap Diakui Lewat Bidang Lain

    Walaupun tidak ada kategori Nobel khusus Matematika, para matematikawan tetap mendapat pengakuan melalui bidang-bidang lain. Contohnya, John Nash, tokoh di balik teori permainan (game theory), menerima hadiah Nobel Ekonomi pada 1994. Karyanya membuktikan bagaimana konsep matematika bisa diterapkan dalam dunia nyata dan berdampak luas pada ekonomi modern.

    Medali Fields: “Nobel-nya Dunia Matematika”

    Untuk menutup kekosongan itu, komunitas matematika menciptakan penghargaan tersendiri. Salah satu yang paling bergengsi adalah Medali Fields, yang pertama kali diberikan pada 1936.

    Medali ini sering disebut sebagai “Hadiah Nobel untuk Matematika” karena prestisenya. Bedanya, penghargaan ini diberikan setiap empat tahun sekali kepada matematikawan berusia di bawah 40 tahun yang telah memberikan kontribusi besar, menurut International Mathematical Union (IMU).

    Hadiah Abel: Bentuk Penghormatan Seumur Hidup bagi Ahli Matematika

    Selain Fields, ada juga Hadiah Abel yang diberikan pertama kali pada 2002 oleh Akademi Sains dan Sastra Norwegia. Berbeda dari Medali Fields, Abel Prize tidak memiliki batasan usia dan diberikan setiap tahun sebagai penghargaan seumur hidup. Nilai hadiahnya pun hampir setara dengan Nobel.

    Kini, Medali Fields dan Hadiah Abel menjadi simbol tertinggi pengakuan dunia terhadap para matematikawan, memastikan bahwa kecemerlangan dalam bidang ini tetap dirayakan di panggung global.

    Jadi, meskipun tidak ada Hadiah Nobel untuk Matematika, para ahli matematika tetap memiliki wadah untuk dihargai dan dirayakan. Dua penghargaan besar, Medali Fields dan Hadiah Abel menjadi bukti bahwa peran matematika tetap krusial dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

    Pada akhirnya, meski Nobel “melewatkan” matematika, dunia tidak pernah berhenti merayakan keindahan logika dan rumus yang membentuk peradaban manusia tersebut.

    Sekarang detikers sudah tahu kan, penyebab matematika tidak masuk dalam daftar penghargaan bergengsi Nobel.

    Penulis adalah peserta program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom.

    (nah/nah)



    Sumber : www.detik.com