Tag: olahan

  • Berproduksi Selama 140 Tahun, Cap Meong Jadi Legenda Tauco Cianjur



    Jakarta

    Kelezatan tauco Cap Meong bertahan sejak 1880 hingga sekarang. Dirintis suami – istri asal Tionghoa, usaha ini dikelola generasi kelima.

    Saat traveler pelesiran ke Cianjur, Jawa Barat tak afdol kiranya bila tak menjadikan tauco sebagai oleh-oleh. Sebab, di kota inilah bumbu masak berbahan dasar fermentasi kacang kedelai ini pertama kali diproduksi, yakni sejak 1880.

    Tak heran bila pemerintah daerah setempat sampai membuatkan tugu khusus berupa empat botol tauco berukuran jumbo di persimpangan Jalan Dr Muwardi dan Jalan HOS Cokroaminoto.

    Orang yang pertama kali memperkenalkan tauco adalah pasangan imigran asal tionghoa, Tan Kei Hian (Babah Tasma) dan Tjoa Kim Nio. Suami istri itu memulai usaha tauconya dari industri rumahan.


    Nah, setelah masyarakat mulai menggemari, barulah produksi diperbanyak. Uniknya, Tan dan Tjoa membuat tauco dengan rasa berbeda. Kalau Babah Tasma rasa tauconya cenderung manis, Ny. Tasma lebih menyerap selera lokal, menyuguhkan rasa asin.

    Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

    “Saat mereka bercerai, Babah Tasma memberi label produksi tauconya Cap Gedong, sedangkan Nyonya Tasma menggunakan Cap Meong,” tutur Rachmat Fajar saat memandu 50 anggota Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Bogor yang berkunjung ke toko tauco Cap Meong di Jalan HOS Cokroaminoto No 160 Cianjur, Rabu (20/8/2025).

    Sejak bertahun lalu, Cap Gedong sudah jarang ditemui di pasaran. Mungkin sudah tak diproduksi lagi. Begitu juga dengan tauco merek lain seperti Biruang, Badak, dan Harimau. yang meredup sejak beroperasinya jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) pada 2005.

    Bentuk bangunan toko Cap Meong tampak sederhana, khas rumah toko milik orang Tionghoa tempo dulu. Di depannya terpampang papan nama bertuliskan ‘Tauco No. 1 buatan Nyonya Tasma Cap Meong’. Penggunaan kata dan gambar Meong menurut cerita turun-temurun warga sekitar, kata Fajar, karena pada suatu hari di kediaman Babah dan Nyonya Tasma terdapat bekas tapak hewan tersebut.

    “Meong itu sebetulnya bukan kucing, dia ukurannya lebih besar tapi juga tidak sebesar macan atau harimau,” kata Fajar yang merupakan cucu buyut Bupati Cianjur ke-10, RA Aria Prawiradiredja.

    Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

    Terkait asal usul tauco di Nusantara, Darma Ismayanto menuliskannya dalam Majalah Historia No. 11 Tahun I yang terbit pada 2013. Ia antara lain merujuk ‘History of Miso and Soybean Chiang’ karya William Shurtleff and Akiko Aoyagi. Di Nusantara, referensi pertama mengenai tauco dapat dirunut dari tulisan seorang ilmuwan Belanda, Prinsen Geerligs pada 1895-1896. Geerligs menyebutnya tao tsioe dalam artikel Belanda pada 1895 dan tao tjiung dalam artikel Jermannya pada 1896.

    Dalam tulisannya, Shurtleff and Aoyagi juga mengatakan kalau tauco masih berhubungan dengan jiang, bumbu masak asal Tiongkok. Diperkirakan berasal sebelum Dinasti Chou (722-481 SM), jiang diklaim sebagai bumbu tertua yang diketahui manusia. Awalnya dikembangkan sebagai cara melestarikan makanan kaya protein hewani untuk digunakan sebagai bumbu.

    Dari situ, bangsa-bangsa Asia Timur juga menemukan bahwa ketika seafoods dan daging (kemudian kedelai) yang asin atau direndam dalam campuran garam dan anggur beras (atau air), protein mereka dipecah oleh enzim menjadi asam amino, yang pada gilirannya dapat merangsang selera makan manusia, serta dapat digunakan sebagai penambah rasa makanan lain.

    Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

    Saat ini manajemen pengelolaan tauco Cap Meong sudah oleh generasi kelima. Namanya Stefany Tasma, putri Harun Tasma (generasi keempat) yang lebih banyak tinggal di Tangerang. “Tapi dia lebih sering tinggal di Tangerang,” kata Abdul Raup, yang mengaku telah 35 tahun bekerja di Nyonya Tasma.

    Sebagai generasi penerus berlatar pendidikan manajemen perguruan tinggi, Stefany disebut memberikan sentuhan kekinian dalam pemasaran, seperti kemasan yang berwarna, desain label yang lebih modern, diversifikasi produk olahan berbahan tauco, membuka outlet baru yang lebih luas dan strategis di Gn Lanjung Km 5, Cugenang, memperkenalkan sistem penjualan online, hingga mempromosikan seluk belum tauco lewat media sosial seperti Instagram.

    (jat/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kolaborasi RI-Jepang, Ubah Sampah Plastik Jadi Produk Konstruksi

    Kolaborasi RI-Jepang, Ubah Sampah Plastik Jadi Produk Konstruksi


    Jakarta – Industri bahan bangunan nasional mulai memasuki era baru seiring langkah kolaboratif antara PT Sirkular Karya Indonesia (SKI)-anak usaha PT Impack Pratama Industri Tbk-dengan dua raksasa Jepang, PT Marubeni Indonesia dan PT DNP Indonesia.

    Ketiganya sepakat mengembangkan proyek industri berskala besar pertama di Indonesia yang berfokus pada pengolahan limbah plastik menjadi material bangunan berkelanjutan. Kolaborasi ini menandai penguatan praktik ekonomi sirkular di sektor manufaktur, sekaligus mendukung pelaksanaan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

    Melalui kemitraan ini, limbah plastik dari fasilitas produksi DNP yang sebelumnya diolah melalui insinerasi kini dikumpulkan dan diproses oleh SKI menjadi produk bangunan inovatif, tahan lama, serta dapat didaur ulang. Produk hasil olahan tersebut akan dipasarkan secara nasional dengan merek Alduro Roof untuk kebutuhan atap dan Alduro Board untuk partisi dinding.

    Direktur Utama PT Sirkular Karya Indonesia, Sugiarto Romeli, mengatakan inisiatif ini mencerminkan semangat perusahaan dalam memperkuat industri hijau melalui pendekatan kolaboratif dan teknologi pengolahan material berkelanjutan.

    “Kami percaya limbah bukanlah akhir dari siklus, melainkan awal dari nilai baru yang bisa kita ciptakan bersama,” ujar Sugiarto, dalam keterangannya, Kamis (23/10/2025).

    “Melalui proyek ini, kami ingin menghadirkan solusi material bangunan yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga terjangkau dan inklusif,” tambahnya.

    Kolaborasi ini juga mempertemukan kekuatan dari tiga sisi: SKI dengan kapabilitas manufaktur dan inovasi di sektor bahan bangunan, Marubeni Indonesia dengan jejaring global serta pengalaman dalam pengembangan bisnis berkelanjutan, dan DNP Indonesia dengan komitmen tinggi terhadap pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.

    Selain berkontribusi pada pengurangan limbah plastik di dalam negeri, proyek ini juga membuka peluang ekspor produk bangunan hijau ke pasar global.

    Kemitraan ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperluas penerapan ekonomi sirkular di Indonesia dan menunjukkan bahwa produk daur ulang dapat bersaing dari sisi kualitas maupun nilai ekonomi.

    Kolaborasi ini sekaligus memperkuat posisi PT Impack Pratama Industri Tbk sebagai salah satu pemain utama dalam industri bahan bangunan berkelanjutan di kawasan, yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan jangka panjang.

    (rrd/rir)



    Sumber : finance.detik.com

  • BRI Peduli Beri Pelatihan Pengolahan Limbah Minyak Jelantah di Bogor

    BRI Peduli Beri Pelatihan Pengolahan Limbah Minyak Jelantah di Bogor


    Jakarta – Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah Indonesia. Setiap harinya, jutaan ton sampah dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, industri, dan perkantoran, namun belum seluruhnya terkelola dengan baik. Sampah yang tidak tertangani tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem.

    Melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan atau Corporate Social Responsibility BRI Peduli – Yok Kita Gas, BRI terus melakukan berbagai inisiatif dalam mengatasi persoalan sampah melalui berbagai program yang secara nyata dapat membantu mengatasi masalah sampah di berbagai wilayah di Indonesia.

    Kali ini, BRI Peduli Yok Kita Gas kembali dilaksanakan melalui kegiatan Pelatihan Pengolahan Limbah Minyak Jelantah yang dilaksanakan di Bank Sampah Azalea, Kel. Babakan, Kec. Bogor Tengah, Kab. Bogor yang melibatkan anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kel. Babakan serta pengurus dan anggota bank sampah.

    Corporate Secretary BRI, Dhanny mengungkapkan bahwa melalui pelatihan ini, masyarakat diajak untuk lebih bijak dan kreatif dalam mengelola limbah rumah tangga, khususnya minyak bekas. Dengan diolah menjadi sabun cuci tangan, limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini memiliki nilai tambah dan fungsi baru yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

    “Proses ini tidak hanya mengurangi potensi pencemaran, tetapi juga mendukung prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah diolah kembali menjadi produk yang berguna,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/10/2025).

    Dalam pelatihan ini, para peserta dibekali materi pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat yaitu sabun cuci piring maupun cuci tangan. Tidak hanya dibekali materi, para peserta juga melakukan praktik langsung tentang cara pembuatan sabun cuci dari minyak jelantah.

    Selain manfaat lingkungan, Dhanny menegaskan bahwa kegiatan ini juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya bagi ibu rumah tangga atau pelaku UMKM, karena produk sabun hasil olahan ini dapat dikembangkan menjadi produk usaha ramah lingkungan yang bernilai jual.

    “Tentunya pelatihan ini membawa dampak positif ganda, baik dari sisi pelestarian lingkungan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” imbuhnya.

    Dhanny menambahkan, BRI Peduli Yok Kita Gas yang menyelenggarakan ‘Pelatihan Pengolahan Limbah Minyak Jelantah’ di Bogor tidak hanya menciptakan lingkungan bersih dan penguatan ekonomi, tetapi juga menciptakan nilai sosial, di mana program ini dapat memperkuat kesadaran sosial mengenai pentingnya kolaborasi antar masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan melalui pengelolaan limbah rumah tangga.

    Pada kesempatan berbeda, pengurus Bank Sampah Azalea Bogor, Endah Diana mengungkapkan bahwa bagi anggota Bank Sampah Azalea, pelatihan dari BRI Peduli memberikan manfaat yang banyak, baik bagi anggota maupun masyarakat.

    Dengan adanya pelatihan tersebut juga pada akhirnya mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Hal ini terlihat dari jumlah warga yang menabung minyak jelantah di Bank Sampah Unit (BSU) Azalea yang terus meningkat.

    “Selama ini, kami menjual minyak jelantah tersebut ke bank sampah induk. Namun, setelah mengikuti pelatihan ini, kami dapat mengolah minyak jelantah sendiri menjadi produk yang bisa kami gunakan kembali. Hasil olahan tersebut juga nantinya bisa memberikan keuntungan yang cukup besar apabila kami jual,” ungkap Endah.

    Langkah-langkah nyata ini tidak hanya berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal. Upaya BRI menjadi bukti bahwa kolaborasi dan inovasi dapat menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah di Indonesia secara berkelanjutan.

    Sebagai informasi, BRI Peduli Yok Kita Gas telah digulirkan sejak 2021 dan telah dilaksanakan di 41 lokasi di wilayah Indonesia yang terdiri dari 5 lokasi di pasar tradisional dan 35 lokasi di lingkungan masyarakat. Program ini diimplementasikan dalam dua bentuk, yaitu Yok Kita Gas – Pasar Tradisional dan Yok Kita Gas – Stand Alone Location, dimana penyaluran program dilakukan di lokasi bank sampah atau Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang telah dikelola oleh masyarakat dan berlokasi di daerah padat penduduk, baik di kota maupun desa.

    Program ini juga telah menyasar 38 bank sampah dengan total tabungan bank sampah sejumlah Rp 1,79 miliar. Selain itu, program ini juga mampu memproduksi 155 karung pupuk kompos, 1.250 kemasan pupuk organik cair (POC), 6.921,5 maggot, dan 777 eco-enzyme.

    Selain itu, program ini juga telah memberikan manfaat dalam mendorong kelestarian lingkungan, di mana jumlah sampah organik terserap sebanyak 108.860 kg dan sampah anorganik sebanyak 88.449,4 kg, dengan potensi reduksi emisi gas metan dan karbon dioksida untuk sampah organik mencapai sebanyak 5.442.000 kg CH₄e dan 4.803.505.000 kg CO₂e, serta potensi reduksi emisi gas metan dari sampah anorganik sebanyak 221.123,5 kg CO₂e.

    (akd/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Ngeri! Ditemukan Topeng Berusia 5.000 Tahun Terbuat dari Tulang Manusia

    Ngeri! Ditemukan Topeng Berusia 5.000 Tahun Terbuat dari Tulang Manusia


    Jakarta

    Cawan dan topeng terbuat dari tulang manusia ditemukan di antara tumpukan tulang manusia berusia 5.000 tahun yang dibuang di China, menurut sebuah studi baru.

    Tengkorak yang dipahat itu ditemukan bercampur dengan tembikar dan sisa-sisa hewan, tetapi tujuan dari benda-benda mengerikan itu sejauh ini belum diketahui para ahli.


    Tulang-tulang ini berasal dari budaya Liangzhu, yang mencakup kota tertua di Asia Timur, menurut penelitian yang diterbitkan 26 Agustus di jurnal Scientific Reports. Koleksi tulang tersebut telah dikarbonisasi dan diperkirakan berasal dari antara 3000 dan 2500 SM, pada periode Neolitikum China.

    Beberapa pemakaman Liangzhu telah ditemukan di masa lalu, tetapi tidak satu pun di antaranya memiliki tulang pahatan. Para arkeolog menemukan lebih dari 50 tulang manusia dari kanal dan parit di lima situs yang menunjukkan tanda-tanda ‘diolah’, yakni dibelah, dilubangi, dipoles, atau digiling dengan alat.

    “Fakta bahwa banyak tulang manusia yang diolah tidak selesai dan dibuang di kanal menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap orang mati,” kata penulis utama studi Junmei Sawada, seorang antropolog biologi di Niigata University of Health and Welfare di Jepang, dikutip dari Live Science.

    Tidak ada jejak tulang yang berasal dari orang yang meninggal karena kekerasan, atau tanda-tanda bahwa kerangka tersebut telah dipisahkan. Artinya, tulang-tulang tersebut kemungkinan besar diproses setelah mayat membusuk, kata Sawada.

    Para peneliti menemukan bahwa tulang yang paling umum dikerjakan adalah tengkorak manusia. Mereka menemukan empat tengkorak dewasa yang telah dipotong atau dibelah secara horizontal untuk membentuk ‘mangkuk tengkorak’, dan empat tengkorak lainnya yang dibelah dari atas ke bawah untuk membentuk objek seperti kerangka topeng.

    arkeologiPara arkeolog menemukan empat cawan tengkorak di situs Neolitikum di China. Foto: Scientific Reports

    Cawan tengkorak manusia sebelumnya telah ditemukan dari pemakaman budaya Liangzhu yang berstatus tinggi, tulis para peneliti dalam penelitian tersebut, yang menunjukkan bahwa cawan itu mungkin dibuat untuk tujuan keagamaan atau ritualistik.

    Namun, tengkorak wajah yang menyerupai topeng itu tak tertandingi. Jenis-jenis tulang olahan lain yang dibuang, termasuk tengkorak berlubang di bagian belakang dan rahang bawah yang sengaja diratakan, juga unik.

    “Kami menduga bahwa kemunculan masyarakat perkotaan, dan pertemuan yang dihasilkan dengan ‘lingkungan sosial’ di luar komunitas tradisional, mungkin menjadi kunci untuk memahami fenomena ini,” kata Sawada.

    Karena banyak tulang yang diolah belum selesai, hal ini menunjukkan bahwa tulang manusia tidak terlalu langka atau bernilai tinggi, menurut penelitian tersebut, yang menyoroti transformasi persepsi orang mati selama budaya Liangzhu yang berkembang pesat.

    Ketika orang tidak lagi mengenal semua tetangga mereka atau menganggap mereka sebagai kerabat, mungkin akan lebih mudah untuk memisahkan tulang dari orang-orang yang memilikinya, menurut para penulis penelitian.

    “Hal yang paling menarik dan unik dari temuan ini adalah fakta bahwa tulang-tulang manusia yang telah diolah ini pada dasarnya adalah sampah,” ujar Elizabeth Berger, seorang bioarkeolog di University of California, Riverside.

    Berger sependapat dengan para peneliti bahwa perlakuan yang tidak lazim terhadap tulang-tulang tersebut mungkin berkaitan dengan meningkatnya anonimitas masyarakat urban. Praktik budaya Liangzhu dalam mengolah tulang manusia muncul tiba-tiba, berlangsung setidaknya selama 200 tahun berdasarkan penanggalan radiokarbon, dan kemudian menghilang.

    “Masyarakat Liangzhu mulai menganggap beberapa tubuh manusia sebagai bahan mentah yang tidak aktif. Tapi apa yang menyebabkan hal itu terjadi dan mengapa hal itu hanya bertahan selama beberapa abad?,” tanyanya.

    Sawada mengatakan bahwa studi-studi mendatang dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, terutama dengan mengungkap kapan dan bagaimana orang-orang mendapatkan tulang-tulang tersebut. Analisis tambahan ini dapat membantu para peneliti mengungkap makna di balik praktik tersebut dan hubungannya dengan perubahan ikatan sosial dan kekerabatan di China pada masa Neolitikum.

    (rns/rns)



    Sumber : inet.detik.com

  • Wamenkes Bagikan Kabar Terbaru Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan

    Wamenkes Bagikan Kabar Terbaru Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan


    Jakarta

    Sudah lebih dari satu dekade berlalu, wacana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan belum juga terlaksana. Wakil Menteri Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono menyebut rencana tersebut masih dalam pembahasan.

    Meski begitu, pemerintah disebutnya tidak tinggal diam dalam upaya pemberian edukasi kepada masyarakat terkait bahaya konsumsi tinggi gula, yang juga tersebar di pangan olahan maupun pangan siap saji.

    Menurut Prof Dante, penerapan cukai MBDK juga tak akan berjalan efektif bila tidak dibarengi dengan edukasi masif di masyarakat.


    “Nah nanti urusan cukai masih kita dalam proses pembahasan. Tetapi kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi potensi obesitas dan diabetes, tinggal mengurangi makanan bergula, tinggi kalori, dan sebagainya,” tutur Prof Dante saat ditemui di Mall of Indonesia (MOI), Jakarta Utara, Rabu (15/10/2025).

    “Yang paling penting adalah sekarang adalah edukasi. Cukainya kita naikin kalau edukasinya tidak masif juga tidak akan berhasil,” lanjutnya.


    Ia juga menekankan sejumlah fasilitas kesehatan perlu lebih banyak meningkatkan layanan promotif dan preventif. Bukan tanpa sebab, hal ini dinilai bisa menekan angka kematian lebih banyak saat identifikasi atau diagnosis penyakit diketahui dan ditangani lebih awal.

    Salah satunya melalui skrining faktor risiko yang kerap memicu penyakit tidak menular dengan bebas kasus tertinggi di Indonesia seperti jantung, masalah ginjal, hingga stroke.

    “Jadi edukasi menjadi sangat penting. Seperti rumah sakit primaya sekarang melakukan terapi kuratif, mereka juga melakukan terapi promotif dan preventif untuk melakukan dan mengedukasi masyarakat,” pungkasnya.

    (naf/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kisah Rasulullah SAW Hendak Diracun Lewat Hidangan Paha Kambing



    Jakarta

    Kisah ini terjadi setelah peristiwa penaklukan Khaibar. Seseorang hendak meracuni dan mencelakai Rasulullah SAW lewat makanan berbahan paha kambing.

    Hidangan olahan paha kambing ini dibawa kepada Rasulullah SAW oleh seorang wanita Yahudi. Ternyata hidangan ini telah dibubuhi racun.

    Dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW oleh Abdurrahman bin Abdul Karim, Anas bin Malik menuturkan, “Ada seorang wanita Yahudi yang datang menemui Rasulullah SAW dengan membawa seekor kambing yang telah diracun. Lalu, beliau memakannya. Kemudian wanita itu ditangkap dengan bukti daging kambing tersebut. Sejak saat itu, aku senantiasa melihat bekas racun tersebut pada langit-langit mulut Rasulullah SAW.”


    Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2 menuliskan kisah ini lewat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA.

    Hadits ini menceritakan peristiwa buruk yang hampir terjadi pada Rasulullah SAW.

    “Ketika Khaibar takluk, Rasulullah SAW diberi hadiah berupa daging kambing yang sudah diracuni. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan, “Kumpulkan semua orang-orang Yahudi yang ada di sini.”

    “Mereka pun berkumpul lalu Rasulullah SAW berkata, “Aku akan menanyakan sesuatu pada kalian, apakah kalian akan menjawab dengan jujur?” Mereka menjawab, “Ya wahai Abu Qasim.”

    Rasulullah SAW bertanya, “Siapa ayah kalian?” Mereka menjawab, “Ayah kami fulan.” Rasulullah SAW berkata, “Kalian dusta, ayah kalian adalah fulan.” Mereka berkata, “Kau benar dan bagus.”

    Rasulullah SAW berkata, “Aku akan menanyakan sesuatu pada kalian apakah kalian akan menjawab dengan jujur?” Mereka menjawab, “Ya, Abu Qasim. Jika kami berdusta engkau pasti tahu seperti halnya engkau mengetahui ayah kami yang sebenarnya.”

    Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, “Siapa penghuni neraka itu?” Mereka menjawab, “Kami berada di sana selang beberapa lama setelah itu kalian menggantikan kami.”

    Rasulullah SAW berkata, “Masuklah kalian ke sana, demi Allah kami tidak akan menggantikan kalian di sana selamanya.”

    Rasulullah SAW kembali berkata, “Aku akan menanyakan sesuatu pada kalian apakah kalian akan menjawab dengan jujur?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Abu Qasim.”

    Beliau bertanya, “Apa kalian meracuni daging kambing ini?” Mereka menjawab, “Ya”

    Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang mendorong kalian melakukan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami ingin istirahat darimu jika kau berdusta, dan jika kau memang Nabi, itu tidak membahayakanmu.”

    Dalam buku 55 Kisah dari hadis oleh Ad-Dien Abdul Kadir disebutkan bahwa peristiwa ini membuat Rasulullah SAW memaafkan Yahudi tersebut dan tidak menghukumnya.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com