Tag: panutan

  • Atalia Praratya Saksikan Aksi Peserta Audisi Emeron Hijab Hunt 2024 di Bandung

    Bandung

    Atalia Praratya menyaksikan penampilan peserta audisi Emeron Hijab Hunt 2024. Ia memberikan apresiasi dan semangat untuk para kontestan audisi.

    Ibu Cinta, panggilan akrabnya, hadir di Audisi Bandung Emeron Hijab Hunt 20204 di Parkir Barat Trans Studio Mall, Bandung (20/7/2024). Ia pun menyambut baik di acara audisi Emeron Hijab Hunt 2024.

    “Saya senang sekali hadir dan bersama wanita-wanita hebat sudah membuat kegiatan yang luar biasa menarik. Saya sendiri mendorong wanita Bandung untuk menunjukkan potensinya. Apalagi yang berhijab. Anggapannya susah cari kerja dan tidak ada ruang. Menunjukkan banyak anak-anak muda menghargai nilai budaya,” jelasnya.


    Atalia Praratya menyaksikan penampilan peserta audisi Emeron Hijab Hunt 2024.Atalia Praratya menyaksikan penampilan peserta audisi Emeron Hijab Hunt 2024. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

    Dalam kesempatan itu, Atalia bicara soal remaja muda yang melewati masa pubertas dan tantangan globalisasi saat ini. Menurutnya, mereka harus jadi karakter yang tangguh dan menjadi panutan.

    “Di zaman saya belum banyak wanita berhijab tahun 90-an jarang sekali yang berhijab. Jadi saya itu baru mengunakan hijab pada usia 28 tahun. Nah, kebetulan waktu itu jarang ada kegiatan kompetisi yang sifatnya meluas,” ungkapnya.

    “Saya ikut hobi ikutan kursus mulai menari, musik, makeup, termasuk bela diri. Kalau kata Kang Emil itu tidak dilanjutkan dan difokuskan. Karena pada saat itu kita mau coba-coba semua. Pada akhirny tidak tahu mau menjadi apa tapi tidak menjadi expert. Jadi kalian semua harus bisa fokus pada satu bidang,” tambahnya.

    Atalia menyaksikan penampilan Safira yang menampilkan modern dance dan sudah mempunyai anak. Safira menyajikan tarian khas Timur Tengah dengan campuran modern.

    “Keren sekali Safira semoga tetap menginspirasi muslimah lainnya. Saya surprise dengan energinya,” ucapnya kagum.

    Atalia Prataya di audisi Emeron Hijab Hunt 2024Atalia Prataya di audisi Emeron Hijab Hunt 2024 Foto: Septian Bima Bagaskara/DetikJabar

    Di acara audisi tersebut, istri dari Gubernur Jawa Barat ke-14, Ridwan Kamil ini juga mengungkap kisah hidupnya. Ia mengaku pernah beberapa kali cameo,”Ternyata aku tidak cocok dan menunggu lama. Menurut saya di masa muda banyak peluang dan jika ada peluang itu yang saya kejar. Bedanya adalah keburu dilamar oleh Kang Emil. Harus tetap sabar dan konsisten,” pungkasnya.

    Kamu yang ingin ikut audisi, yuk langsung datang hari ini ke Parkir Barat Trans Studio Mall Bandung. Kamu bisa mengajak semua anggota keluarga, saudara dan teman kamu untuk memeriahkan Emeron Hijab Hunt 2024 secara gratis!

    Acara ini didukung oleh Emeron Hijab Shampoo, Social Media KipasKipas, EZnet by Telkomsel Internet Mudah Murah Untuk Seisi Rumah dan GIS Travel Sahabat Umrah dan Haji Anda.

    (gaf/gaf)



    Sumber : wolipop.detik.com

  • Orangutan Sumatera Kuasai Teknik Bangun Sarang dengan Amati-Tiru-Modifikasi

    Orangutan Sumatera Kuasai Teknik Bangun Sarang dengan Amati-Tiru-Modifikasi



    Jakarta

    Tak hanya manusia yang belajarnya dengan teknik ‘ATM’ alias amati-tiru-modifikasi. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) pun ternyata ‘ATM’ juga buat menguasai teknik membangun sarang, menurut riset selama 17 tahun ini.

    Keahlian Orangutan Dirikan Sarang

    Para ahli primata dari Universitas Warwick Inggris bersama Institut Max Planck Jerman mengemukakan bahwa keahlian orang utan muda untuk membuat sarang merupakan hasil dari mengamati secara dekat orang utan lain dan kemudian mempraktikkannya. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan orang utan dalam membangun sarang bukan sekadar naluri saja melainkan kemampuan mereka dalam observasi atau mengamati.

    Bagi spesies hewan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan atau arboreal, sarang yang kokoh sangatlah penting untuk bertahan hidup serta melindungi diri dari predator. Dengan membangun sarang di tempat yang tinggi dapat membantu mereka memperoleh kehangatan bahkan dapat terhindar dari gigitan nyamuk. Bagaimana tepatnya orangutan bisa menguasai kemampuan rumit ini, selama ini masih menjadi tanda tanya.


    Rahasia di Balik Sarang Orangutan

    Para peneliti dari Universitas Warwick telah mengkonfirmasi bahwa orangutan Sumatera yang masih muda mempelajari teknik membangun sarang yang rumit dengan ‘mengintip’ hasil karya induk mereka dengan cermat dan saksama.

    “Membangun sarang sangat penting untuk kelangsungan hidup orangutan, tetapi anehnya tidak menjadi fokus banyak penelitian. Kami sebelumnya melaporkan bahwa butuh beberapa tahun bagi orangutan muda untuk belajar membuat sarang, tetapi berdasarkan 17 tahun data observasi, makalah ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran ini sangat bergantung pada hewan muda yang dengan cermat memperhatikan pembuatan sarang oleh individu lain,” ujar penulis utama dalam studi tersebut Dr Ani Permana dari Departemen Psikologi dari Universitas Warwick dikutip Senin (20/10/2025).

    Di alam liar, orangutan Sumatera membangun dua jenis sarang. Sarang siang cenderung berupa kerangka praktis dasar, tetapi sarang malam berupa platform tidur yang rumit yang sering kali dibangun setinggi 20 meter di tajuk pohon dan dilengkapi elemen kenyamanan seperti ‘bantal’, ‘selimut’, kasur (pelapis), dan atap untuk melindungi dari kondisi buruk cuaca.

    Dengan mengamati orangutan dalam jangka waktu yang lama selama bertahun-tahun, kelompok peneliti berhasil menunjukkan bahwa orangutan muda mengamati (sengaja mengamati) induk mereka membuat sarang untuk mempelajari cara melakukannya. Ketika pengamatan dilakukan, orangutan yang belum dewasa lebih cenderung menindaklanjuti dengan berlatih membangun sarang sendiri.

    Jika orangutan yang belum dewasa berada di dekat induk mereka ketika membangun sarang tetapi tidak mengamati, misalnya karena teralihkan, mereka umumnya tidak melanjutkan berlatih sendiri. Hal ini berarti pengamatan aktif kemungkinan penting untuk mengembangkan keterampilan tersebut, yang sangat mendukung gagasan bahwa ini adalah pembelajaran sosial observasional.

    Orangutan yang belum dewasa juga terbukti memberikan perhatian khusus pada bagian-bagian yang lebih rumit dari konstruksi sarang. Seperti menambahkan elemen kenyamanan atau membangun di atas beberapa pohon, dan berlatih lebih banyak setelah mengamati tindakan-tindakan ini.

    Seiring bertambahnya usia orangutan, mereka mulai mengamati dan belajar dari individu lain selain induk mereka, memilih panutan baru yang dapat membantu mendiversifikasi pengetahuan mereka tentang pohon mana yang akan digunakan, menunjukkan bahwa baik cara membangun, maupun dengan apa membangun, dipelajari secara sosial.

    “Orangutan muda tidak hanya belajar cara membuat sarang, tetapi juga tahu bahan apa yang paling cocok. Mereka belajar memilih jenis pohon dari induknya dan cenderung menggunakan jenis yang sama,” ucap penulis senior studi Dr Caroline Schuppli dari Max Planck Institute of Animal Behavior.

    Uniknya, orangutan dewasa justru ‘balik lagi’ menggunakan bahan sarang yang sama seperti induknya. Seolah ada tradisi turun-temurun, pola ini jadi bukti adanya budaya dalam kehidupan orangutan liar. Tapi hati-hati, budaya unik ini bisa lenyap kalau spesies dan habitatnya tak dilindungi.

    Riset selama 17 tahun ini sudah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications Biology dengan judul ‘Observational social learning of “know-how” and “know-what” in wild orangutans: evidence from nest-building skill acquisition’ yang diterbitkan 7 Juni 2025.

    *) Siti Nur Salsabilah Silambona, adalah peserta Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama di detikcom

    (nwk/nwk)



    Sumber : www.detik.com