Tag: pengelolaan keuangan

  • Milenial Jago Kelola Uang, Atur Limit Transaksi Kartu Debit Pakai BRImo


    Jakarta

    Generasi milenial seringkali dicap sulit mengelola uang lantaran gaya hidup yang konsumtif dan cenderung boros. Padahal, manajemen keuangan merupakan skill penting yang mesti dimiliki semua orang, tak terkecuali anak-anak muda.

    Dengan kemampuan perencanaan keuangan, kamu akan semakin mahir dalam mengatur skala prioritas serta merencanakan pengeluaran. Yuk simak tips pintar kelola finansial untuk para milenial berikut ini.

    1. Melek dengan Kondisi Keuangan Saat Ini


    Langkah paling utama, anak muda harus memahami kondisi finansial yang dimiliki. Apakah keuangan kamu sudah sehat atau malah boncos? Selain itu mengetahui kondisi dompet juga dapat mempermudah kamu untuk mencatat apa saja pengeluaran yang bisa dihemat.

    2. Utamakan Menabung

    Selagi muda, perbanyak menabung dan investasi. Setidaknya sisihkan sekitar 5-10% dari total penghasilan setiap bulan untuk ditabung.

    Meskipun nanti penghasilan bertambah, tetap utamakan menabung ya. Jangan sampai gaji naik, pengeluaran ikut membengkak. Untungnya sekarang kamu bisa dengan mudah mengatur pengeluaran dengan BRImo. Aplikasi ini punya fitur yang dapat membantu mengelola kebutuhan limit transaksi BRImo dan Debit BRI-mu. Caranya:

    1. Login aplikasi BRImo

    2. Klik Akun, Lalu Klik Pengelolaan kartu dan Pilih kartu

    3. Pilih menu Atur Limit Debit

    4. Pilih jenis transaksi yang ingin diatur limitnya

    5. Atur Limit sesuai kebutuhan lalu klik ok atur limit

    6. Masukan Pin, dan Limit baru sudah aktif

    Dengan BRImo, kamu bebas mengatur limit kartu tarik tunai, kartu transfer sesama BRI, kartu transfer antar bank, hingga limit kartu pembayaran, limit kartu pembelian dalam negeri, dan limit kartu pembelian pulsa. Praktis ya!

    Yuk segera download BRImo melalui App Store, Play Store, dan Huawei AppGallery sekarang juga! Untuk informasi lebih lanjut, follow Instagram @bankbri_id. BRImo lebih mudah dan serba bisa! #BRImo #BRImoMudahSerbaBisa.

    (anl/ega)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Minim Literasi, Mudah Terjebak Tren


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa indeks literasi keuangan dan inklusi keuangan generasi Z atau Gen-Z menjadi yang terendah dalam skala nasional. Bahkan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Frederica Widyasari Dewi, Agustus lalu mengungkapkan kelompok usia 15-17 tahun memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang paling rendah.

    Hal ini senada dengan hasil riset kredit Karma pada 2018 lalu dimana ditemukan bahwa sebanyak 39% Gen-Z memiliki utang untuk mengikuti tren dalam komunitasnya. Sedangkan berdasarkan Research Institute pada 2019, alokasi tabungan dari pendapatan pada Gen-Z hanya 10,17%. Ini menekankan bahwa mereka juga minim investasi, meski secara umum mereka dianggap mengerti tentang pengetahuan menabung.

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, Gen-Z, juga tumbuh dengan internet dan kecenderungan mencari solusi finansial yang cepat dan efisien, sehingga menghadapi tantangan besar dalam mengelola keuangan secara bijak. Mencermati hal tersebut, platform literasi investasi Tumbuh Makna bekerja sama dengan Universitas Serang Raya mengadakan webinar bersama puluhan mahasiswa dengan tema “Financial Cerdas Gen-Z: Strategi Kelola Dana dan melek Digital Menuju Masa Depan Sejahtera”.


    Benny Sufami, Co-Founder Tumbuh Makna, memberikan sejumlah tips penting agar Gen-Z dapat mengelola keuangan dengan benar, yakni melalui membangun kebiasaan finansial yang sehat, dan menghindari risiko kerugian di masa depan.

    “Keberhasilan finansial tidak datang dalam semalam, melainkan melalui kebiasaan yang dibentuk secara konsisten, seperti menabung, mengelola pengeluaran, dan merencanakan keuangan dengan disiplin. Kebiasaan yang sehat akan menjadi fondasi kuat bagi kestabilan keuangan di masa mendatang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (17/11/2024).

    Benny menekankan bahwa memiliki anggaran atau budgeting yang jelas adalah kunci menuju kebebasan finansial, sekaligus pentingnya pemahaman terhadap investasi. Ia mencatat banyak investor muda yang sering kali mengalami kerugian karena terjebak dalam tren investasi tanpa mempertimbangkan profil risiko pribadi.

    “Banyak yang ikut-ikutan membeli saham hanya karena melihat orang lain melakukannya,” ungkapnya. Benny mengingatkan bahwasetiap individu memiliki toleransi risiko yang berbeda, sehingga penting untuk menyesuaikan jenis investasi dengan profil risiko masing-masing agar terhindar dari kerugian besar.

    Menurutnya, pemahaman risiko sebelum berinvestasi adalah hal krusial agar keputusan yang diambil lebih cerdas dan minim risiko. “Pastikan kamu memahami dengan jelas apa saja risiko yang terlibat,” jelas Benny. Selain itu, ia mengimbau agar setiap keputusan keuangan selalu didasarkan pada prinsip-prinsip yang legal dan logis. “Mindset yang perlu ditanamkan bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan uang, tetapi juga bagaimana mengelolanya dengan tepat dan bijaksana. Pastikan setiap langkah finansial yang diambil mematuhi aturan yang berlaku dan tidak tergoda oleh iming-iming keuntungan instan,” pungkasnya.

    Sementara itu Direktur Utama PT. Persero Batam, Arham S. Torik, mengingatkan bahwa salah satu prinsip dasar dalam pengelolaan keuangan adalah menjaga pengeluaran agar tidak melebihi pemasukan.

    “Mereka harus membuat anggaran yang sesuai dengan gaya hidup. Perencanaan ini penting, khususnya untuk Gen-Z, karena hari ini kamu kerjakan, itu akan menentukan masa depan. Karena tantangan ke depan akan lebih dinamis,” ujarnya. Ia menekankan perlunya kesadaran diri dalam membatasi pengeluaran agar sesuai dengan anggaran yang ada.

    Arham juga menggarisbawahi pentingnya bagi Gen-Z untuk menetapkan anggaran yang realistis, yang mencerminkan kebutuhan mereka secara jujur tanpa mengikuti gengsi atau keinginan semata.

    “Banyak dari Gen-Z mungkin belum memiliki perencanaan yang matang, biasa disebut besar pasak daripada tiang. Untuk itu, kawan-kawan harus tahu pendapatan bersih, kemudian ukur pendapatan dan menyesuaikan pengeluaran. Jangan terlalu banyak keinginan. Prioritaskan kebutuhan, bukan keinginan,” tegasnya.

    Menurutnya, strategi perencanaan keuangan adalah upaya untuk melakukan perencanaan masa depan, termasuk membangun dana darurat secara terukur dan realistis. “Dana darurat ini penting sebagai perlindungan dari risiko tak terduga. Buat rekening terpisah untuk dana darurat, agar dana ini tidak tercampur dan sulit nantinya diakses, sehingga bisa dicairkan dengan segera. Lalu buat otomatis transfer untuk dana darurat,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa perencanaan adalah kunci dari semuanya sehingga harus dibuat dengan baik dan benar sesuai kebutuhan.

    Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Serang Raya, Endang Tri Santi, menekankan pentingnya literasi bagi Gen Z yang tumbuh di era digital. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk memilah informasi yang valid dari yang menyesatkan, terutama agar generasi ini terhindar dari keputusan finansial yang berisiko. “Di tengah tsunami informasi saat ini, sikap kritis sangat diperlukan. Kita harus selalu cek data dan verifikasi sumber dengan teliti, karena hal ini akan membantu kita terhindar dari keputusan finansial yang merugikan,” tegasnya.

    Santi juga mengingatkan bahaya Fear of Missing Out (FOMO) yang sering kali memicu kebiasaan buruk dalam pengelolaan keuangan. “FOMO sering mendorong keputusan impulsif yang justru merugikan, seperti membeli barang-barang viral tanpa pertimbangan matang. Kebiasaan ini bisa jadi bumerang karena menumbuhkan dorongan untuk selalu mengikuti arus,” ujarnya. Ia menasihati agar Gen-Z tidak mudah terpengaruh tren tanpa memahami risikonya dan lebih selektif dalam membuat keputusan keuangan.

    Lebih jauh, Santi mengajak generasi muda untuk memanfaatkan teknologi secara produktif dan positif. Menurutnya, era digital harus dimanfaatkan dengan literasi yang baik, bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai kreator yang dapat menghasilkan produk sendiri. “Mari manfaatkan era digital untuk menjadi lebih kreatif dan produktif,” tambahnya, menggarisbawahi bahwa literasi yang baik bisa membuka banyak peluang bagi Gen-Z untuk berkarya.

    (fdl/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Gaji Rp 5 Juta Tapi Masih Nanggung Cicilan? Ini Tipsnya

    Jakarta

    Mengatur keuangan dengan bijak menjadi kunci agar penghasilan bulanan tak lewat begitu saja. Misalnya, jika kamu memiliki penghasilan Rp 5 juta per bulan namun masih memiliki cicilan, tentu butuh pengelolaan keuangan yang tepat untuk tetap hidup secara layak.

    Pada dasarnya, permasalahannya tidak selalu terletak pada besarnya penghasilan, melainkan pada cara seseorang mengatur pengeluaran hariannya. Di sinilah pentingnya perencanaan keuangan yang cermat dan disiplin.

    Hidup dengan gaji Rp 5 juta tetap bisa terasa cukup, bahkan memungkinkan untuk menabung, asalkan kita mampu menentukan prioritas dan menekan pengeluaran yang tidak perlu. Beberapa strategi ini dapat diterapkan agar kebutuhan tetap terpenuhi dan kewajiban cicilan tidak terabaikan.


    5 Tips Kelola Gaji Rp 5 Juta Meski Punya Cicilan

    1. Susun Rencana Pengeluaran

    Langkah pertama adalah membuat rencana pengeluaran dengan memprioritaskan kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, cicilan, sewa tempat tinggal, hingga asuransi dan tabungan. kamu juga bisa menghitung kebutuhan bulanan secara harian.

    Misalnya, sisihkan Rp100.000 per hari untuk mengamankan dana sewa kos di akhir bulan. Selain itu, gunakan cara seperti 40% untuk kebutuhan harian, 30% untuk cicilan, 20% untuk tabungan/investasi, dan 10% untuk sedekah.

    2. Tetapkan Pos Anggaran

    Begitu gaji diterima, langsung pisahkan sesuai pos-pos yang telah dibuat. Jangan menunda pembagian ini karena uang bisa saja terpakai untuk hal-hal di luar rencana. Disiplin membagi anggaran adalah langkah penting untuk menghindari kebocoran finansial.

    3. Tetap Siapkan Dana Darurat

    Pandemi mengajarkan pentingnya memiliki dana cadangan. Dana darurat ini bisa menyelamatkan saat masa-masa sulit, seperti kehilangan pekerjaan atau kondisi darurat lainnya. Idealnya, siapkan dana minimal enam kali pengeluaran bulanan.

    4. Catat Semua Pengeluaran

    Agar rencana pengeluaran tetap pada jalurnya, catat semua transaksi harian kamu. Dengan begitu, kamu bisa mengevaluasi mana pengeluaran yang perlu dikurangi atau dialihkan. Evaluasi rutin akan membantu mengontrol belanja dan merapikan arus kas setiap bulannya.

    5. Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi

    Selain menabung, mulailah berinvestasi agar uang yang dimiliki bisa berkembang. Keduanya bertujuan untuk membangun masa depan finansial yang lebih stabil. Jika dana terbatas, pilih mana yang lebih mendesak, tabungan atau investasi.

    Misalnya, kamu bisa menyisihkan gaji bulanan dengan berinvestasi emas. Dengan konsisten dan disiplin menjalankan tips ini, keuangan akan lebih sehat dan siap menghadapi masa depan tanpa khawatir gaji habis di awal bulan.

    Hindari Beli Barang-barang Ini!

    Perencana Keuangan Risza Bambang berpendapat penting bagi pekerja dengan gaji Rp 5 juta untuk mengontrol gaya hidup, termasuk memilih barang-barang yang dibeli.

    “Banyak orang membuang dana untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kebutuhan pokok contohnya merokok, jajan tidak terkontrol, pilihan tempat tinggal dan transportasi yang tidak efisien walau kelihatannya baik dan rekreasi berlebihan. Tanpa disadari hal-hal seperti di atas akan menghabiskan anggaran yang sudah cekak tersebut,” sambung Risza.

    Sebagai contoh alih-alih membeli kopi dari brand internasional dengan harga yang relatif mahal, yang bersangkutan dapat membeli kopi dari brand lokal dengan harga yang lebih terjangkau. Kemudian yang bersangkutan juga bisa membawa bekal dari rumah daripada membeli makan siang di luar, dan lain sebagainya.

    Risiko Jika Tak Atur Gaji dengan Baik

    Fungsi utama dari mengatur gaji Rp 5 juta atau setara UMP Jakarta adalah untuk ngebantu kamu supaya bisa mengambil keputusan-keputusan keuangan dengan lebih baik, termasuk juga keputusan untuk ke mana saja mengalokasikan uang yang kamu punya dalam jangka waktu tertentu.

    Dengan mengatur gaji atau kerap disebut sebagai personal budgeting kamu bisa menghindari berbagai persoalan finansial ke depan. Berdasarkan situs resmi gopay, berikut Hal-hal yang bisa terjadi kalau tak mengatur gaji dengan baik.

    1. Selalu Merasa Kekurangan

    Tanpa personal budgeting atau mengatur gaji bulanan, akan mudah sekali buat kamu kehilangan kepekaan terhadap pendapatan dan pengeluaran, dan membuat kamu selalu merasa kekurangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jika hal ini berulang, maka bisa menjadi penyebab stres yang berkelanjutan.

    2. Terlambat dalam Membayar Tagihan

    Mengelola jadwal pembayaran tagihan bisa menjadi tak terkontrol tanpa budgeting yang baik, dan bisa berimbas pada munculnya kewajiban untuk membayar denda keterlambatan pembayaran.

    3. Terjebak Dalam Utang yang Tidak Terkendali

    Karena sering mengalami kekurangan untuk memenuhi kebutuhan, banyak kemudian di antara kita yang akhirnya harus berutang tanpa disertai kemampuan untuk membayar sesuai kesepakatan. Jika dibiarkan terus menerus, maka siklus gali lobang tutup lobang menjadi sulit banget buat dihindari.

    4. Nggak Punya Tabungan Cukup untuk Keperluan Darurat

    Tanpa punya personal budgeting, keperluan mendadak seperti reparasi kendaraan, biaya berobat dan biaya mengantisipasi musibah, bisa membuat keuangan kamu goyang dengan mudah.

    5. Sulit Mencapai Tujuan-tujuan Keuangan

    Nggak akan terbayang gimana caranya untuk bisa mewujudkan tujuan-tujuan keuangan yang lebih besar seperti membeli kendaraan untuk keluarga, hunian, biaya pendidikan anak, ataupun dana persiapan pensiun, tanpa diawali kebiasaan mengelola personal budgeting.

    Tonton juga video: Kesulitan Bayar Cicilan Kendaraan

    (ily/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya
  • Financial Freedom Jadi Target Banyak Orang, Bagaimana Cara Menggapainya?


    Jakarta

    Financial freedom alias kebebasan finansial menjadi target banyak orang. Saat kebebasan finansial dicapai, seseorang bisa memiliki ketenangan pikiran karena kondisi keuangan yang stabil dan semua kebutuhan pokok terpenuhi.

    Salah satu cara untuk menempuh kebebasan finansial adalah dengan cara mencari pemasukan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus tabungan. Namun nyatanya, terkadang saat seseorang pendapatannya naik terus tapi kehabisan finansialnya tak kunjung tercapai.

    Lantas apa yang salah? Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam unggahan resmi di akun Instagram @kontak157, Minggu (2/11/2025), disebutkan ada beberapa hal yang jadi kesalahan banyak orang sehingga kebebasan finansial sulit dicapai. Salah satunya adalah cara pengelolaan uang yang berantakan.


    “Terkadang, bukan uangnya yang kurang tapi caramu mengelola keuangan yang berantakan. Jangan tunggu nanti buat siapin dana darurat dan investasi,” tulis OJK dalam unggahan resminya.

    OJK merangkum setidaknya ada lima kesalahan umum yang membuat seseorang tak mampu meraih financial freedom. Pertama, gaya hidup yang terus naik saat pendapatan sedang naik.

    Kedua, tak punya rencana keuangan yang matang. Ketiga, kebiasaan berutang untuk kebutuhan konsumtif dan membayarnya dengan uang gaji. Keempat, seringkali tak menyiapkan dana darurat. Terakhir, latah berinvestasi tanpa melihat risikonya.

    Bicara financial freedom sendiri, menurut OJK, setiap orang bisa mengartikan masing-masing di posisi seperti apa financial freedom itu tercapai. Misalnya saja ada orang yang beranggapan kebebasan finansial telah tercapai saat punya uang untuk hidup tanpa banyak bergantung pada gaji.

    Ada lagi yang beranggapan kebebasan finansial telah tercapai saat hidup bisa tenang tanpa utang dan banyak tagihan. Ada juga yang bilang bebas finansial adalah saat seseorang bisa belanja dan membeli apapun sesukanya tanpa perlu takut uang habis.

    Semua orang bebas mengartikan. Namun, apapun definisinya, yang jelas mengatur rencana keuangan itu penting.

    “Uang nggak bisa beli bahagia… tapi bisa bikin hidup nggak banyak drama,” tulis OJK dalam unggahannya.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Ekonomi Lagi Nggak Stabil, Masyarakat Perlu Punya Dana Darurat


    Jakarta

    Di tengah ketidakpastian ekonomi-politik belakangan ini membuat setiap pengeluaran terasa sangat berat. Harga-harga komoditas meningkatkan, termasuk beras yang merupakan salah satu barang kebutuhan pokok masyarakat.

    Belum lagi maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menipisnya lapangan kerja baru membuat daya beli masyarakat, membuat mereka kesulitan untuk belanja karena tak ada dana. Lantas bagaimana cara untuk menjaga keuangan tetap aman di tengah ketidakpastian ini?

    Financial Planner Mega Capital, Mirna Elok, mengatakan salah satu cara yang paling ampuh untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi adalah dengan memiliki dana darurat. Sebab dana ini tidak hanya dapat digunakan saat terjadi situasi tidak terduga, namun juga bisa digunakan untuk kelebihan pengeluaran imbas kenaikan harga barang-barang pokok.


    “Memang dana darurat itu nanti mungkin akan kepakai di pada saat seperti sekarang ini. Makanya kita memang harus waspada saja sih dengan pengeluaran yang kita lakukan setiap harinya. Jadinya lebih rigid gitu loh, lebih rigid saja,” kata Mirna kepada detikcom dalam program detikSore beberapa waktu lalu, ditulis Jumat (5/9/2025).

    Dalam hal ini Mirna menyarankan sebaiknya masyarakat mulai mengelola pengeluaran dengan baik, dan menyisihkan sebagian uang untuk tabungan dana darurat tadi. Namun hal ini bisa juga dilakukan dengan menjual sejumlah barang yang belum banyak dibutuhkan sekarang ini.

    “Memang save your cash itu kan bisa berarti mungkin barang-barang yang belum kita pake sekarang itu bisa dijual dulu gitu, sebelahnya mungkin cut loss ya. Kalau mobil lagi nggak terlalu dipakai terus ada kebutuhan yang lain itu bisa dijual katakanlah,” paparnya.

    Lebih lanjut, Mirna menyarankan untuk menyimpan dana darurat tersebut dapat sebagainya dilakukan di instrumen-instrumen investasi. Dengan begitu yang bersangkutan tidak hanya bisa menabung, namun juga mendapatkan keuntungan lebih dari hasil bunga/return.

    “Jadi masih ada return lah, jangan sampai taruh di tabungan saja. Karena biasanya ada, ya sekarang lagi issue hacker juga, jadi jangan taruh duit terlalu banyak di bank gitu,” jelas Mirna.

    “Ada juga grup di telegram itu yang menjanjikan investasi return yang sangat tinggi dalam satu hari, udah bisa tuh 3%, lu jangan ikut-ikut kayak gitu deh,” tegasnya.

    (igo/eds)



    Sumber : finance.detik.com

  • Siapkan Dana Darurat Biar Hidup Nggak Melarat


    Jakarta

    Tak ada yang pernah tahu masalah keuangan apa yang akan dialami seseorang di masa depan. Karenanya memiliki dana darurat menjadi salah satu langkah penting dalam memastikan kestabilan keuangan.

    Dalam hal ini dana darurat dapat berfungsi sebagai cadangan keuangan atau bantalan ekonomi saat menghadapi berbagai situasi mendesak seperti biaya berobat, kehilangan pekerjaan, kebutuhan perbaikan rumah, atau kebutuhan mendadak lainnya.

    Sehingga kepemilikan dana darurat ini tak lagi sekadar pilihan, namun kebutuhan guna melindungi diri secara finansial dari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika tidak dilakukan, besar kemungkinan uang yang dimiliki bisa habis dalam sekejap saat terjebak masalah keuangan tertentu.


    “Rumah bocor, jadi boncos karena nggak punya dana darurat? Belum lagi kalau sakit, kendaraan rusak, atau masalah lainnya yang tidak terduga. Yuk, jadi Sobat cerdas keuangan yang tanggap mengatasi masalah dengan dana darurat!” imbau OJK dalam unggahan Instagram resminya (@sikapiuangmu), Minggu (19/10/2025).

    Berikut 3 cara menyiapkan dana darurat yang perlu dilakukan segera ‘ala’ Otoritas Jasa Keuangan:

    1. Hitung rata-rata pengeluaran bulanan
    2. Alokasikan 10%-20% dari gaji bulanan selama 10 bulan ke depan untuk ditabung.
    3. Lakukan penghematan dengan memangkas pengeluaran yang tidak perlu.

    Simak juga Video: Dengerin Deh! Alasan Kamu Perlu Serius Siapin Dana Darurat

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tips Atur Gaji Rp 5 Juta biar Nggak Habis di Tengah Bulan

    Jakarta

    Mengelola keuangan pribadi menjadi sebuah keharusan di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Terlebih jika gaji yang dimiliki hanya setara UMP Jakarta atau sekitar Rp 5 jutaan saja. Kalau tidak akan sulit bagi pekerja untuk hidup layak, bahkan berpotensi kehabisan dana di tengah bulan.

    Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menyebut cara terbaik agar gaji setara UMP Jakarta cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup layak dan tak kehabisan uang tengah bulan adalah dengan mengatur gaya hidup atau pengeluaran yang bersangkutan.

    Sebab sebesar apapun gaji yang diterima, jika pengeluaran yang bersangkutan tidak dikelola dengan baik maka akan ada saja kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi. Namun jika setiap pengeluaran dapat dikelola dengan bijaksana, maka dengan gaji sekitar Rp 5 juta atau UMP Jakarta tak akan habis begitu saja di tengah bulan.


    “Yang namanya untuk dapat hidup layak lebih pada bagaimana kita bisa mengatur gaya hidup dan pengeluaran kita menyesuaikan dengan income yang masuk. Mau sebesar apapun income kita, kalau kita boros dan tidak cakap mengelolanya tentu membuat akan ada kebutuhan-kebutuhan yang tidak tercukupinya juga,” kata Andy kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Andy mengatakan cara terbaik untuk mengatur gaji agar cukup memenuhi kebutuhan hidup hingga akhir bulan adalah dengan mengatur skala prioritas pengeluaran. Dalam hal ini gaji yang diterima digunakan untuk pos-pos pengeluaran penting terlebih dahulu.

    Adapun pos-pos pengeluaran penting ini dapat diatur sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Semisal yang pertama digunakan untuk bayar cicilan utang jika ada atau membayar utilitas dan tempat tinggal lebih dulu. Baru setelah itu sisa dana yang ada digunakan untuk kebutuhan dasar lain seperti makan dan ongkos transportasi kerja.

    “Cara mengatur pengeluarannya gunakan skala prioritas. Artinya pengeluaran diutamakan untuk hal-hal yang bersifat kewajiban, penting dan urgent,” kata Andy.

    Hindari Beli Barang-barang Ini!

    Senada, Perencana Keuangan Risza Bambang berpendapat penting bagi pekerja dengan gaji setara UMP Jakarta atau sekitar Rp 5 juta untuk mengontrol gaya hidup, termasuk memilih barang-barang yang dibeli.

    “Banyak orang membuang dana untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kebutuhan pokok contohnya merokok, jajan tidak terkontrol, pilihan tempat tinggal dan transportasi yang tidak efisien walau kelihatannya baik dan rekreasi berlebihan. Tanpa disadari hal-hal seperti di atas akan menghabiskan anggaran yang sudah cekak tersebut,” sambung Risza.

    Sebagai contoh alih-alih membeli kopi dari brand internasional dengan harga yang relatif mahal, yang bersangkutan dapat membeli kopi dari brand lokal dengan harga yang lebih terjangkau. Kemudian yang bersangkutan juga bisa membawa bekal dari rumah daripada membeli makan siang di luar, dan lain sebagainya.

    Menurutnya pilihan gaya hidup seperti ini akan sangat berpengaruh terhadap besaran pengeluaran yang bersangkutan. Kemudian Riszal berpendapat akan lebih baik jika yang bersangkutan juga memiliki sifat disiplin dan memiliki pengetahuan keuangan untuk membantu menjaga gaya hidup tadi.

    Alokasikan Dana Untuk Menabung dan Investasi

    Andy menyarankan jika pekerja masih ada sisa dana di luar pos pengeluaran bulan tadi, sebaiknya dana digunakan untuk menabung atau berinvestasi. Terlebih jika besaran gaji yang diterima tercatat lebih besar dari rata-rata pengeluaran setiap bulan.

    Menurutnya jika pengeluaran setiap bulan sudah terukur dengan baik, penting untuk menyisihkan dana untuk menabung atau investasi terlebih dahulu dari pos pengeluaran yang ada. Dengan begitu yang bersangkutan meminimalisir potensi menggunakan dana tabungan atau investasi untuk keperluan lain.

    “Bila masih ada lebih, maka simpan sebagai tabungan atau investasi. Bila dari awal kita sudah bisa berhitung akan ada kelebihannya dari pengeluaran rata-rata bulanan kita, maka sebaiknya menabung itu dilakukan dengan menyisihkan uang penghasilan dari awal,” imbuh Andy.

    Sementara itu Risza juga menyarankan jika yang bersangkutan memiliki dana lebih, maka sisa dana yang dimiliki sebaiknya digunakan untuk menabung atau berinvestasi. Atau bisa juga yang bersangkutan sudah mengalokasikan lebih dulu besaran dana yang ingin ditabung atau diinvestasikan lebih dahulu.

    “Anggaran menabung atau investasi berkisar minimal 10% sampai dengan ideal 30%. Tentunya disesuaikan dengan arus kas masing-masing individu,” pungkas Risza.

    Risiko Jika Tak Atur Gaji dengan Baik

    Fungsi utama dari mengatur gaji Rp 5 juta atau setara UMP Jakarta adalah untuk ngebantu kamu supaya bisa mengambil keputusan-keputusan keuangan dengan lebih baik, termasuk juga keputusan untuk ke mana saja mengalokasikan uang yang kamu punya dalam jangka waktu tertentu.

    Dengan mengatur gaji atau kerap disebut sebagai personal budgeting kamu bisa menghindari berbagai persoalan finansial ke depan. Berdasarkan situs resmi gopay, berikut Hal-hal yang bisa terjadi kalau tak mengatur gaji dengan baik.

    1. Selalu merasa kekurangan

    Tanpa personal budgeting atau mengatur gaji bulanan, akan mudah sekali buat kamu kehilangan kepekaan terhadap pendapatan dan pengeluaran, dan membuat kamu selalu merasa kekurangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jika hal ini berulang, maka bisa menjadi penyebab stres yang berkelanjutan.

    2. Terlambat dalam membayar tagihan

    Mengelola jadwal pembayaran tagihan bisa menjadi tak terkontrol tanpa budgeting yang baik, dan bisa berimbas pada munculnya kewajiban untuk membayar denda keterlambatan pembayaran.

    3. Terjebak dalam hutang yang tidak terkendali

    Karena sering mengalami kekurangan untuk memenuhi kebutuhan, banyak kemudian di antara kita yang akhirnya harus berhutang tanpa disertai kemampuan untuk membayar sesuai kesepakatan. Jika dibiarkan terus menerus, maka siklus gali lobang tutup lobang menjadi sulit banget buat dihindari.

    4. Nggak punya tabungan cukup untuk keperluan darurat

    Tanpa punya personal budgeting, keperluan mendadak seperti reparasi kendaraan, biaya berobat dan biaya mengantisipasi musibah, bisa membuat keuangan kamu goyang dengan mudah.

    5. Sulit untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan

    Nggak akan terbayang gimana caranya untuk bisa mewujudkan tujuan-tujuan keuangan yang lebih besar seperti membeli kendaraan untuk keluarga, hunian, biaya pendidikan anak, ataupun dana persiapan pensiun, tanpa diawali kebiasaan mengelola personal budgeting.

    Tonton juga “Kurangi Risiko Galbay, Score Credit Masuk ke Slip Gaji?” di sini:

    (igo/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Begini Cara Cerdas Atur Keuangan & Transfer Uang Murah saat Kuliah di LN!


    Jakarta

    Kuliah di luar negeri adalah impian banyak mahasiswa Indonesia. Selain membuka peluang akademik dan pengalaman budaya baru, kesempatan ini juga menantang kemampuan kamu dalam manajemen keuangan.

    Siapa yang tidak mau, kan? Namun, tantangan utama sering kali datang dari pengelolaan biaya hidup yang jauh berbeda dari Indonesia, pengeluaran tak terduga, hingga kebutuhan transfer uang antarnegara.

    Namun, kamu tidak perlu khawatir. Dengan perencanaan yang matang dan memanfaatkan teknologi yang ada, bisa kok melewati semua ini dengan lebih mudah. Yuk, simak lima tips simpel dan praktis supaya keuanganmu tetap aman selama kuliah di luar negeri!


    1. Buat Anggaran Bulanan yang Realistis

    Langkah pertama yang wajib kamu lakukan adalah memahami biaya hidup di negara tujuan. Cari tahu perkiraan biaya tempat tinggal, makan, transportasi, hingga hiburan.

    Setelah itu, buatlah daftar pengeluaran wajib dan tetapkan batasan untuk kebutuhan lainnya. Dengan begitu, kamu bisa lebih mudah mengontrol pengeluaran.

    Supaya lebih praktis, gunakan aplikasi keuangan untuk melacak pengeluaran harian dan memastikan anggaran tetap on track. Jangan lupa, selalu sisihkan dana darurat, ya. Dana ini penting untuk berjaga-jaga kalau ada kebutuhan mendadak yang perlu segera ditangani.

    2. Cari Diskon dan Promosi untuk Mahasiswa

    Sebagai mahasiswa, kamu bisa memanfaatkan diskon khusus, mulai dari potongan harga transportasi umum, toko buku, hingga langganan aplikasi streaming. Jangan ragu untuk memanfaatkan kartu mahasiswa internasional seperti ISIC (International Student Identity Card) agar bisa menikmati berbagai penawaran menarik.

    Belanja cerdas itu penting. Tapi ingat, cerdas bukan berarti pelit, lho. Fokuslah pada kebutuhan utama, bukan keinginan sesaat, supaya keuangan tetap sehat.

    3. Gunakan Fitur Transfer Valas untuk Terima Kiriman Uang

    Jika kamu kuliah di luar negeri, kebutuhan mendesak sering kali muncul. Misalnya, uang sewa tempat tinggal atau biaya kesehatan yang harus segera dibayar. Dengan fitur Transfer Valas di Livin’ by Mandiri, orang tua di Indonesia bisa mengirim uang ke rekeningmu secara cepat dan aman.

    Fitur ini menawarkan:

    • Transfer hingga 18 mata uang asing tujuan.

    • Jangkauan luas hingga 180 negara.

    • Transfer USD ke seluruh dunia

    • Pengiriman uang secara real-time untuk beberapa mata uang tertentu.

    • Kurs yang kompetitif dan biaya transfer murah.

    • Akses 24/7 kapan saja dan di mana saja.

    Jadi, saat ada kebutuhan mendesak, tidak perlu menunggu lama. Uang dari orang tua bisa langsung diterima dan digunakan.

    4. Pantau Nilai Tukar Mata Uang

    Nilai tukar mata uang sering berubah-ubah, dan ini bisa mempengaruhi jumlah uang yang kamu terima atau kirim. Kalau rutin mendapat kiriman uang dari keluarga di Indonesia atau sebaliknya, pantau kurs secara berkala.

    Dengan begitu, bisa memilih waktu transfer yang paling menguntungkan. Fitur Transfer Valas di Livin’ by Mandiri juga memberikan kemudahan dengan kurs yang murah dan proses yang simpel. Jadi, kamu tidak perlu cemas uang akan biaya transfer yang mahal.

    5. Manfaatkan Teknologi untuk Pengelolaan Keuangan

    Di zaman sekarang, teknologi adalah teman terbaik untuk mengatur keuangan. Gunakan aplikasi keuangan untuk mencatat pengeluaran harian, merencanakan tabungan, hingga memantau investasi kecil-kecilan. Dengan bantuan teknologi, kamu bisa lebih disiplin dan terorganisir.

    Nah, super app Livin’ by Mandiri adalah solusi pasti valuta asing andalan untuk memenuhi kebutuhan transaksi global. Dengan fitur Transfer Valas, proses pengiriman uang menjadi mudah, cepat, dan terjangkau. Pengelolaan keuangan pun terasa lebih nyaman.

    Dengan langkah-langkah ini, kamu bisa menjalani masa kuliah di luar negeri dengan keuangan yang lebih stabil dan terencana.

    Solusi Pasti Transfer Uang dari Indonesia ke Luar Negeri

    Kuliah di luar negeri pasti membawa banyak pengalaman seru, tapi kebutuhan transfer uang sering kali jadi tantangan tersendiri. Untungnya, sekarang ada fitur Transfer Valas di Livin’ by Mandiri yang bikin hidup lebih mudah.

    Proses kirim uang dari Indonesia ke luar negeri jadi super praktis dan yang paling penting, uang yang dikirim akan sampai secara real-time ke kamu tanpa biaya tambahan. Tinggal fokus saja ke studi dan menikmati pengalaman di negara baru.

    Mengelola keuangan saat kuliah di luar negeri memang butuh usaha ekstra, tapi kalau tahu cara yang tepat, semuanya jadi terasa lebih ringan. Salah satunya, pastikan kamu pakai fitur Transfer Valas di Livin’ by Mandiri untuk urusan kirim uang antarnegara. Livin’ by Mandiri bisa di-download di sini.

    Dengan pengelolaan keuangan yang baik dan dukungan teknologi canggih, kuliah di luar negeri bisa terasa lebih nyaman. Yuk, siapkan diri dengan matang, nikmati setiap momennya, dan jadikan pengalaman ini tak terlupakan.

    (anl/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tips Kelola Duit THR Biar Nggak Menguap Begitu Saja


    Jakarta

    Para pekerja akan menerima tunjangan hari raya (THR) keagamaan sebesar satu bulan upah sesuai ketentuan pemerintah. THR tersebut cair paling lambat H-7 Lebaran sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto.

    Nah setelah nanti mengantongi THR, dana yang diperoleh bukan untuk dihamburkan untuk sesuatu yang tidak prioritas. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan tiga tips agar uang THR tidak menguap begitu saja.

    1. Jangan Langsung Belanja

    Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghindari foya-foya dan langsung membelanjakan uang THR. Langsung kalap dan ingin segera berbelanja hanya akan membuat uang THR habis dengan cepat.


    “STOP! Jangan langsung foya-foya. THR datang tangan gatal langsung check out di marketplace? Santai dulu! Tunggu 2-3 hari sebelum belanja biar nggak kalap. Jangan sampai THR Rekanaker malah menghilang lebih cepat dari gebetan yang ghosting,” tulis Kemnaker di Instagramnya @kemnaker, Selasa (18/3/2025).

    Pekerja disarankan untuk menyimpan dulu uang THR selama 48 jam sebelum beli barang yang tidak terlalu mendesak. Disarankan juga untuk membuat wishlist, lalu urutkan barang-barang apa yang benar-benar perlu dibeli.
    % buat tabungan atau investasi kecil. Kalau nggak sekarang, kapan lagi? 30% tabungan darurat, 10% investasi ringan,” jelas Kemnaker.

    2. Atur Alokasi Prioritas

    Memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan juga perlu dilakukan pekerja. Jika sudah memegang THR, pekerja disarankan untuk mengurutkan prioritas penggunaan THR mulai dari bayar utang hingga kewajiban zakat.

    “Beli kebutuhan dulu, keinginan belakangan! THR itu bukan uang sulap, sekali swap langsung hilang! Biar nggak rugi urutin prioritas belanja,” tulis Kemnaker. Berikut rincian urutan penggunaaan THR yang disarankan Kemnaker:

    – Bayar utang
    – Kebutuhan lebaran seperti zakat, sedekah, keluarga
    – Sisihkan buat tabungan dan investasi
    – Baru deh treat yourself, tapi jangan kalap!

    “Kalau sudah habis duluan buat barang-barang impulsif, siap-siap lebaran makan mie instan!” tutur Kemnaker

    3. Sisihkan Buat Tabungan dan Investasi Kecil-kecilan

    Uang THR sebenarnya bisa menjadi penyelamat jika pengelolaannya dilakukan dengan benar. Pekerja dapat melakukan beberapa tips seperti menyisihkan sebagian dari uang THR untuk investasi atau mengalokasikannya untuk tabungan darurat.

    Masa depan butuh jaminan bukan cuma kenangan. Gaji habis buat keperluan sehari-hari? THR bisa jadi penyelamat! Coba sisihkan 30-40

    (ily/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Kena PHK? Simak Tips Atur Pesangon Biar Nggak Habis Cuma-cuma!


    Jakarta

    Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) banyak terjadi belakangan ini. Menurut data dari Kementerian Ketenagakerjaan, PHK terjadi di 15 provinsi di Indonesia. Total 18.160 orang atau tenaga kerja kehilangan pekerjaannya selama dua bulan pertama 2025. Meningkat tajam, sekitar 15.285 orang dibandingkan data jumlah PHK pada Januari 2025 sebanyak 3.325 orang saja.

    Terkait PHK, pekerja acap kali diberikan uang pesangon dari tempatnya bekerja. Kendati demikian, Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, bilang soal pentingnya bagi eks karyawan agar mengelola uang pesangon.

    Ia merinci, ‘korban’ PHK yang mendapatkan pesangon penting untuk memiliki skala prioritas perihal apa saja yang perlu dibayarkan terlebih dulu dengan uang pesangon. Supaya ke depannya, masalah utang ini tidak lagi mengganggu kondisi keuangan yang masih fluktuatif.


    “Apakah ada utang yang bisa kita lunasi dulu seperti pinjol (pinjaman online), pay later, kartu kredit, KTA (kredit tanpa agunan). Karena ini biasanya cukup mengganggu. Kalau ada, yuk, kita lunasi saja utang-utang ini,” katanya berbincang kepada detikcom, Senin (5/5/2025).

    Lalu, hal kedua yang perlu diperhatikan, perlu menghitung anggaran bulanan dengan mode hemat, kata Tejasari. Hal ini melingkupi pengeluaran pribadi dan pengeluaran rutin, dan menentukan anggaran yang efisien.

    “Hitung budget bulanan dengan mode berhemat, kurangi pengeluaran pribadi dan pengeluaran rutin. Dicek apakah masih bisa dihemat. Tentukan budget per bulan yang efisien tapi kita juga masih bisa berpikir dengan positif,” tambahnya.

    Lebih lanjut ia mengelaborasi, pentingnya untuk mengecek pengeluaran lainnya yang perlu dibayarkan di tahun berjalan. Misalnya, perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), asuransi, atau pembayaran lainnya.

    “Nah, masukkan dalam budget yang harus kita siapkan, karena kita jatuh tempo. Jangan sampai kita tidak bisa bayar,” tegasnya.

    Setelah menghitung kebutuhan anggaran bulanan dan pembayaran lainnya, bandingkan dengan dana darurat yang kita punya, lalu ditambah dengan pesangon yang kita dapat.

    “Selanjutnya, bisa bertahan berapa bulan, ya, kita tanpa bekerja ? Nah, inilah yang jadi patokan kita untuk mengejar alternatif pekerjaan berikutnya. Usahakan langsung ambil keputusan, apakah mau cari pekerjaan tetap, atau kah sambil cari pekerjaan part time, atau kah berbisnis,” bebernya.

    “Jangan berlama-lama ambil keputusan. semakin lama kita memutuskan, maka semakin habis dana darurat kita, lho,” tutupnya.

    Simak juga “Kemnaker Catat 24 Ribu Pekerja Kena PHK Selama Januari-April 2025” di sini:

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com