Tag: penyebab kanker

  • 10 Makanan Pemicu Kanker yang Harus Dibatasi Mulai Sekarang

    Jakarta

    Salah satu penyebab kanker adalah faktor makanan dan minuman yang dikonsumsi. Ada sejumlah makanan yang menjadi pemicu atau meningkatkan risiko kanker. Sel kanker akan semakin berkembang jika sering mengkonsumsi makanan tersebut.

    Simak artikel ini untuk mengetahui 10 makanan pemicu kanker yang mulai sekarang harus dibatasi konsumsinya.

    10 Makanan yang Bisa Menyebabkan Kanker

    Berikut ini 10 jenis makanan yang bisa menyebabkan kanker, dilansir dari situs Kementerian Kesehatan, Healthline, dan Medical News Today:


    1. Daging Olahan

    Yang dimaksud daging olahan adalah daging yang diolah dan diawetkan dengan cara diasapi, diasinkan, atau dikalengkan. Daging olahan biasanya menggunakan daging merah. Contohnya antara lain hot dog, sosis, ham, daging kornet, dan dendeng sapi.

    Proses pengawetan dengan nitrit dapat memunculkan senyawa karsinogen N-nitroso. Mengasapi daging juga dapat menimbulkan karsinogenik polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH).

    Senyawa tersebut memicu tumbuhnya sel kanker. Kanker yang dikaitkan dengan daging olahan adalah kanker usus, kanker perut, dan kanker payudara.

    2. Makanan yang Digoreng

    Kalau kamu suka gorengan, maka harus hati-hati. Makanan bertepung yang dimasak dengan suhu tinggi membentuk senyawa akrilamida. Contohnya produk kentang goreng, seperti french fries dan keripik kentang.

    Akrilamida ini dapat merusak DNA dan menginduksi apoptosis, atau kematian sel. Selain itu, makanan ini juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas. Kondisi tersebut juga semakin meningkatkan risiko kanker.

    3. Makanan yang Terlalu Matang

    Makanan yang dimasak terlalu lama hingga terlalu matang bisa menghasilkan karsinogen. Ini terjadi terutama pada daging yang dipanggang, dibakar, atau ditumis terlalu lama.

    Akan lebih sehat jika kamu memasak dengan cara merebus, memanggang pada suhu yang lebih rendah, atau menggunakan slow cooker.

    4. Daging Merah

    Mengkonsumsi daging merah terlalu banyak dapat menyebabkan banyak masalah, termasuk kanker. Daging merah ini termasuk daging sapi, babi, domba, kambing.

    Batasi konsumsi daging merah hingga 3 porsi per minggu, dengan total berat yang dimasak 12-18 ons.

    5. Makanan Diasap dan Diasamkan

    Makanan yang diasap dan diasamkan juga meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung. Makanan yang diasamkan ini misalnya acar.

    6. Alkohol

    Alkohol banyak disebutkan sebagai penyebab berbagai penyakit, termasuk pemicu kanker. Hati akan memecah alkohol menjadi asetaldehida, suatu senyawa karsinogenik.

    Asetaldehida dapat meningkatkan kerusakan DNA dan stres oksidatif, serta mengganggu fungsi kekebalan tubuh, sehingga menyulitkan tubuh Anda untuk menargetkan sel prakanker dan kanker.

    7. Makanan Laut yang Tercemar Merkuri

    Makanan laut banyak disarankan sebagai pengganti daging merah. Namun makanan laut kini perlu diwaspadai karena cemaran logam berat seperti merkuri. Ini juga berdampak pada kerang, ikan, dan hasil laut lainnya. Kandungan merkuri ini meningkatkan risiko kanker usus dan kanker ginjal.

    8. Makanan dengan Zat Kimia

    Produk makanan kini semakin modern dan semakin banyak menggunakan bahan kimia, baik sebagai pewarna, perasa, hingga pengawet.

    Kamu perlu berhati-hati dengan makanan berpewarna karena meningkatkan faktor risiko kanker lambung, kanker usus, kanker hati, dan kanker pankreas.

    Selain itu, makanan dan minuman yang mengandung kontaminan seperti aflatoxin, dioksin, melamin, dan lain sebagainya, dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya kanker paru, kanker perut, kanker ginjal, kanker rektum, kanker kolon, dan kanker hati.

    9. Produk Susu

    Produk susu juga terbukti bisa meningkatkan risiko kanker prostat. Produk susu ini termasuk susu kemasan, keju, hingga yogurt. Mengkonsumsi produk susu meningkatkan kadar faktor pertumbuhan mirip insulin 1 (IGF-1) yang dapat meningkatkan proliferasi.

    10. Gula

    Gula memang tidak secara langsung meningkatkan risiko kanker. Namun konsumsi gula yang terlalu besar akan berdampak pada risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan peradangan kronis. Kondisi ini adalah faktor risiko terjadinya kanker.

    Nah, itulah tadi 10 makanan dan minuman pemicu kanker. Mulai sekarang, kamu harus membatasi konsumsinya untuk meminimalkan risiko kanker.

    (bai/inf)



    Sumber : food.detik.com

  • Skrining Kanker Payudara RI Rendah, Warga Takut Periksa-Lebih Pilih Alternatif

    Skrining Kanker Payudara RI Rendah, Warga Takut Periksa-Lebih Pilih Alternatif


    Jakarta

    Kementerian Kesehatan mengungkapkan skrining pemeriksaan dini adalah salah satu faktor utama dalam penanganan kanker payudara. Seringkali, pasien menjadi lebih sulit sembuh akibat kanker baru ditemukan pada stadium lanjut, padahal jika ditemukan lebih cepat, kemungkinan untuk remisi menjadi lebih besar.

    Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan angka skrining kanker payudara di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini membuat prevalensi kasus kanker payudara di Indonesia menjadi paling tinggi dibanding jenis kanker lain.

    Dari sebanyak 41 juta perempuan Indonesia yang ditargetkan Kemenkes, hanya 10,8 persen yang akhirnya melaksanakan skrining kanker payudara.


    “Jadi masih sedikit sekali,” ujar Nadia ketika ditemui awak media di Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2025).

    “Nah, bayangkan dari harusnya 41 juta, kita baru ketemu sekitar, 4 jutaan perempuan Indonesia,” sambungnya.

    Menurut Nadia, ada beberapa faktor yang membuat angka skrining kanker payudara di Indonesia masih sangat rendah. Misalnya, pemeriksaan payudara yang masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.

    Selain itu, masih ada kecenderungan masyarakat untuk mencari pengobatan alternatif untuk menangani masalah kesehatan. Jika masalah payudaranya tak kunjung sembuh, baru akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.

    “Jadi jalan (berobat) ke mana-mana dulu, pengobatan tradisional ya. Kemudian ada denial, bahwa ‘saya ini takut kalau harus memeriksakan benjolan saya’,” ujarnya.

    “Tentunya kita dorong ya, dari program Cek Kesehatan Gratis, masyarakat terutama perempuan-perempuan, ibu-ibu, untuk melakukan skrining lagi, gratis,” tandas Nadia.

    Kapan Harus Periksa?

    Spesialis onkologi radiasi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof dr Soehartati A Gondhowiardjo, SpOnkRad(K) mengungkapkan semua wanita yang memiliki faktor risiko sebaiknya mulai melakukan pemeriksaan dini. Beberapa faktor risiko yang dimaksud seperti adanya riwayat keluarga, tidak menyusui, haid dini, dan lain-lain.

    Jika memiliki faktor risiko kanker payudara, Prof Soehartati mengatakan skrining dini bisa dilakukan mulai usia 35-40 tahun di fasilitas kesehatan.

    “Pada kelompok wanita yang mempunyai faktor resiko diharapkan, dia memeriksakan payudara dengan lebih dini, itu katakanlah sekitar usia 40 tahun, 35 tahun, 45 tahun sudah mulai memeriksakan diri,” ujar Prof Soehartati.

    Untuk pemeriksaan awal di rumah, skrining bisa dilakukan dengan Sadari (pemeriksaan payudara sendiri) untuk menemukan adakah benjolan atau kondisi tidak wajar lain pada area payudara.

    (avk/up)



    Sumber : health.detik.com