Tag: perbatasan

  • Setel Sound Horeg sampai Dilaporkan ke PBB

    Setel Sound Horeg sampai Dilaporkan ke PBB



    Bangkok

    Thailand melakukan aksi provokasi di perbatasan Kamboja. Mereka menyetel suara-suara keras memakai sound horeg sampai-sampai dilaporkan ke PBB.

    Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Kamboja menyebut Thailand menggunakan sound dengan nada tinggi atau kerap disebut sound horeg di perbatasan untuk memicu perang psikologis.

    Surat tersebut disampaikan eks Perdana Menteri sekaligus senat presiden Kamboja, Hun Sen ke Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk pada 11 Oktober 2025.


    Dalam surat tersebut, Komnas HAM Kamboja menyatakan suara dari sound horeg berupa nada yang dibuat-buat seperti hantu, ratapan anak-anak, lolongan anjing, rantai berderak, dan helikopter yang menderu. Suara-suara itu diputar melalui pengeras suara pada malam hari sejak 10 Oktober.

    “Tindakan ini merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang melibatkan penggunaan suara-suara yang mengganggu sebagai bentuk intimidasi dan gangguan psikologis,” demikian dalam surat tersebut dikutip The Independent, Kamis (16/10).

    “Suara-suara ini, yang digambarkan sebagai suara keras dan bernada tinggi yang berlangsung lama, telah mengganggu tidur, memicu kecemasan, dan menyebabkan ketidaknyamanan fisik di antara penduduk, termasuk perempuan, anak-anak, lansia, orang sakit, dan penyandang disabilitas,” lanjut mereka.

    Komisi Hak Anak Kamboja juga menyatakan kampanye kebisingan dari Thailand berdampak buruk ke kesehatan mental anak dan memicu trauma serta kecemasan.

    Direktur Eksekutif Komnas Hak Anak, Yan Lay, mengatakan bisingan terutama suara yang dianggap menakutkan dan tak aman bisa mengganggu tidur mereka. Suara yang keras dan menakutkan kerap membuat anak-anak mimpi buruk dan mengalami serangan panik di malam hari.

    Gangguan tersebut juga berdampak ke pendidikan anak. Banyak anak-anak takut pergi ke sekolah di pagi atau sore hari.

    “Mereka takut, mereka tak bisa fokus di sekolah,” kata Yan Lay.

    Hubungan Kamboja dan Thailand tengah memanas usai kedua negara ini terlibat perang di perbatasan selama empat hari pada Juli lalu. Ketika itu, kedua negara saling tuding melakukan provokasi dan menyerang terlebih dahulu.

    Akibat perang tersebut, sejumlah orang tewas dan ribuan orang terpaksa mengungsi. Akhirnya, Thailand dan Kamboja sepakat gencatan senjata yang dimediasi Malaysia dengan bantuan China dan Amerika Serikat.

    Namun, lagi-lagi kedua negara saling tuding masing-masing telah melanggar kesepakatan gencatan senjata tersebut.

    ———

    Artikel ini telah tayang di CNN Indonesia.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kisah Turis Nyasar 2 Minggu di Hutan Thailand, Makan Semut dan Kulit Pohon

    Kisah Turis Nyasar 2 Minggu di Hutan Thailand, Makan Semut dan Kulit Pohon



    Bangkok

    Turis Inggris berusia 19 tahun akhirnya ditemukan selamat setelah dua minggu tersesat di hutan lebat dekat perbatasan Thailand-Myanmar.

    Selama 14 hari, ia bertahan hidup hanya dengan makan semut dan kulit pohon. Remaja bernama Lawrence itu ditemukan pada 11 Oktober malam di sebuah kuil di Desa Phra Chedi Sam Ong, wilayah Sangkhla Buri, Provinsi Kanchanaburi., Thailand.

    Pencarian dilakukan oleh pasukan gabungan dari warga, militer, dan relawan yang telah menghabiskan waktu selama dua minggu.


    Niat Jalan-Jalan, Malah Tersesat

    Melansir Khaosod, Selasa (21/10/2025) kisah Lawrence bermula dari keinginan untuk menjelajah. Ia berangkat dari Bangkok menuju perbatasan, tepatnya ke kawasan Sangkhla Buri, setelah membaca tentang Payathonzu, sebuah kota kecil di Myanmar yang terletak tak jauh dari garis perbatasan Thailand.

    Namun saat tiba di pos imigrasi Phra Chedi Sam Ong, ia diberi tahu bahwa perbatasan ditutup untuk wisatawan. Petugas mengarahkan Lawrence kembali ke terminal van untuk pulang ke Bangkok.

    Tapi Lawrence memutuskan tetap tinggal dan berjalan kaki menyusuri alam sekitar. Di sinilah petualangan berubah menjadi perjuangan bertahan hidup.

    Saat sedang berjalan di jalan desa, ia bertemu tiga pria lokal yang mengira Lawrence sedang mencari penginapan. Mereka membawanya ke sebuah resort kecil, tapi Lawrence tak punya cukup uang.

    Ia kemudian meninggalkan tempat itu dan tanpa sadar masuk semakin dalam ke area perkebunan karet.

    Hidup dengan Semut dan Kulit Pohon

    Selama 14 hari berikutnya, Lawrence tersesat di tengah hutan tanpa sinyal, tanpa makanan, tanpa arah. Tak ada kompas, peta, apalagi bantuan.

    “Saya hanya bisa makan semut dan kulit pohon untuk bertahan hidup,” kata Lawrence kepada penyelidik setelah diselamatkan.

    Ia juga mengatakan bahwa ia sempat mendaki bukit dan menyeberangi beberapa aliran sungai kecil, berharap menemukan jalan kembali. Namun, upayanya sia-sia hingga akhirnya warga desa menemukan sosok kurus dan lelah berjalan sendirian tak jauh dari kuil.

    Pencarian dimulai sejak 27 September setelah ibunya, Kulnara, melapor ke polisi di Pattaya bahwa anaknya hilang. Ia khawatir putranya mungkin terjebak dalam jaringan penipuan atau bahkan diselundupkan ke Myanmar.

    Militer Thailand pun turun tangan. Poster orang hilang disebar di pos-pos perbatasan dan koordinasi dilakukan hingga ke pihak militer Myanmar dan kelompok etnis bersenjata di wilayah itu.

    Semua pihak berupaya melacak jejak Lawrence, pencarian meluas hingga ke penginapan dan hotel di Sangkhla Buri. Rekaman CCTV ditelusuri, bahkan Gubernur Kanchanaburi saat itu, Athisan Intara, ikut memerintahkan pengecekan di titik-titik rawan di sekitar perbatasan.

    Akhirnya, tanggal 11 Oktober, upaya itu membuahkan hasil. Setelah ditemukan, Lawrence langsung dibawa ke kuil untuk mendapatkan makanan dan perawatan awal.

    Ia kemudian diserahkan ke One Sky Foundation, organisasi lokal yang fokus membantu anak-anak dan keluarga rentan di perbatasan Thailand-Myanmar. Sementara itu, ibunya yang sejak awal sangat khawatir, hanya bisa menyampaikan rasa syukur.

    “Saya sangat lega. Saya hanya ingin memeluk anak saya secepat mungkin,” ungkapnya dengan penuh haru.

    Lawrence kini dalam masa pemulihan dan masih dalam pengawasan pihak berwenang untuk keperluan penyelidikan. Polisi ingin memastikan tidak ada unsur penipuan atau ajakan ilegal yang membuatnya sampai ke perbatasan.

    (upd/wsw)



    Sumber : travel.detik.com