Tag: sastra

  • Spot Jakarta Versi Lebih Tenang dan Nyastra, di Perpus HB Jassin Tempatnya



    Jakarta

    Jakarta Pusat memiliki spot yang pas buat berburu koleksi karya sastra sekaligus begitu tenang. Adalah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini.

    PDS HB Jassin berada di lantai 5 Gedung Panjang, TIM. Di sini, traveler bakal dilempar ke vibe yang tenang, sepi, dan nyastra. Itulah yang dirasakan detiktravel saat mengunjungi PDS HB Jassin pada Selasa (16/9/2025) sore selepas azan Salat Asar.

    Di dalam ruangan itu terdapat begitu banyak rak buku dengan beragam karya sastra modern lintas zaman. PDS HB Jassin ini menyimpan manuskrip asli dan dokumen tulisan tangan karya sastrawan besar Indonesia seperti Chairil Anwar dan WS Rendra, ribuan karya sastra (puisi, cerpen, novel), biografi pengarang, Sastra Melayu Tionghoa, berbagai macam majalah, naskah kuno, serta kumpulan surat-surat korespondensi sastrawan.


    Ya, ruangan itu lekat sastrawan, baik dalam bentuk foto atau kutipan. Termasuk, foto HB Jassin, yang memiliki nama lengkap Hans Bague Jassin. Beliau wafat pada 11 Maret 2000 dalam usia 83 tahun.

    Dikutip dari antara, budayawan sekaligus Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2015-2024) Hilmar Farid menilai HB Jassin sebagai sosok penulis kritik sastra yang tekun melahirkan berjilid-jilid karya tulis sehingga dikenal dengan julukan Paus Sastra.

    HB Jassin berperan sebagai seorang arsiparis. Menurut catatan, dia sudah mulai mengumpulkan arsip sejak awal tahun 1930-an. Dia menyimpan penerbitan sastra dalam berbagai bentuk, berupa surat dan dokumen pribadi, makalah seminar, makalah diskusi yang tidak diterbitkan dan berbagai macam bentuk dokumentasi lainnya.

    Perpustakaan ini adalah pusat dokumentasi sastra terbesar di Indonesia dan menjadi rujukan vital bagi penelitian sastra dan humaniora nasional maupun internasional.

    PDS HB JassinPDS HB Jassin (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

    detiktravel menelusuri rak demi rak di perpus yang berawal dari inisiatif Sang Paus Sastra–julukan untuk HB Jassin–dan menemukan banyak pengunjung duduk di lantai. Mereka sibuk membaca, bekerja dengan laptop, atau melihat-lihat aneka koleksi ari dataran Eropa, Asia, dan Amerika.

    Di seputar area PDS HB Jassin memang tidak terdapat tempat duduk atau meja kerja. Pengunjung yang ingin membaca, menulis, atau bekerja dengan laptop duduk di lantai dan melakukan kegiatannya. Nah, mereka yang ingin duduk mau tidak mau harus keluar ruangan PDS HB Jassin lebih dulu.

    Dengan koleksi buku-buku sastra itu, PDS HB Jassin cukup emnjadi oase bagi pencari ketenangan dan ilmu di jantung kota Jakarta. Untuk sementara, pengunjung diajak menyelami pemikiran dan wawasan para pegiat sastra. Paduan diksi yang tepat adalah pemandangan indah bagi pecinta sastra.

    Koleksi lain PDS HB JassinKoleksi lain PDS HB Jassin (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

    Buat traveler yang ingin memuaskan hobi baca, sekadar ingin meningkatkan pengetahuan, atau memang mendalami sastra, PDS HB Jassin adalah pilihan yang tepat. Traveler dijamin menemukan dunia baru yang sangat memukau dan bisa jadi menimbulkan ketagihan literasi.

    (fem/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Inilah Pemenang Nobel Sastra 2025, Penulis dari Hungaria

    Inilah Pemenang Nobel Sastra 2025, Penulis dari Hungaria



    Jakarta

    Hadiah Nobel Sastra 2025 dianugerahkan kepada penulis Hungaria, László Krasznahorkai.

    “Atas karyanya yang memikat dan visioner, yang, di tengah teror apokaliptik, menegaskan kembali kekuatan seni,” tulis The Nobel Prize, dikutip dari laman resmi pada Kamis (9/10/2025).

    Berkenalan dengan László Krasznahorkai

    Penulis László Krasznahorkai lahir pada 1954 di kota kecil Gyula di tenggara Hungaria, dekat perbatasan Rumania. Daerah pedesaan terpencil yang serupa menjadi latar novel pertama Krasznahorkai, Sátántangó, yang terbit pada 1985 (Satantango, 2012).


    Karya tersebut menjadi sensasi sastra di Hungaria dan merupakan karya terobosan sang penulis. Novel itu menggambarkan, dengan kata-kata yang sangat sugestif, sekelompok penduduk miskin di sebuah pertanian kolektif terbengkalai di pedesaan Hungaria tepat sebelum runtuhnya komunisme.

    Novel ini diadaptasi menjadi film pada 1994 melalui kolaborasi dengan sutradara Béla Tarr.

    László Krasznahorkai adalah seorang penulis epik besar dalam tradisi Eropa Tengah. Karyanya dicirikan oleh absurdisme dan ekses grotesk.

    Namun, ada lebih banyak keahlian yang dimilikinya. Ia juga akan segera beralih ke Timur dengan mengadopsi nada yang lebih kontemplatif dan terkalibrasi dengan cermat. Hasilnya adalah serangkaian karya yang terinspirasi oleh kesan mendalam yang ditinggalkan dari perjalanannya ke China dan Jepang.

    Karya-karya László Krasznahorkai terbit dalam berbagai bahasa di antaranya Hungaria, Inggris, Jerman, Swedia, dan Prancis. Juga terdapat film-film hingga karya opera.

    (nah/pal)



    Sumber : www.detik.com