Tag: suzuki

  • Pentingnya Fitur ESP saat Musim Hujan Tiba



    Jakarta

    Libur akhir tahun 2023 sudah di depan mata nih, pasti banyak di antara detikers yang ingin pergi liburan. Tapi ingat ya detikers, menjelang akhir tahun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan di Indonesia akan terus mengalami peningkatan hingga Februari 2024 mendatang.

    Nah jika detikers pergi berlibur akhir tahun dengan mengendarai mobil, detikOto ingatkan agar lebih waspada dan lebih memanfaatkan fitur terbaik pada kendaraan detikers. Seperti yang diingatkan Asst. to Service Dept. Head PT Suzuki Indomobil Sales, Hariadi dalam siaran resmi yang diterima detikOto.

    Hariadi menerangkan selain berhati-hati dalam menyetir, pengemudi juga bisa meningkatkan keselamatan berkendaranya dengan memanfaatkan fitur Electronic Stability Program (ESP) seperti fitur yang ada pada mobil Suzuki. Soalnya Fitur ini punya peran signifikan untuk menjaga mobil tetap stabil dan memberi kontrol lebih pada pengemudi dalam kondisi berbahaya.


    “Fitur ESP ini sangat penting peranannya dalam menjaga keselamatan saat berkendara. Di jalan banyak ditemui kejadian tidak terduga, terlebih pada saat hujan. Dengan membiarkan fitur ESP aktif, pengemudi dapat lebih rileks saat mengemudi karena ESP akan berperan cepat mendeteksi kondisi perjalanan dan manuver mobil, serta secara otomatis melakukan koreksi dari sistem pengereman maupun kestabilan jika diperlukan untuk mendapatkan traksi terbaik yang memberikan rasa aman bagi pengemudi. Sebagian besar model mobil penumpang Suzuki juga telah dilengkapi ESP seperti Grand Vitara, New XL7 Hybrid, All New Ertiga Hybrid, Baleno, Jimny, Ignis hingga S-Presso,” tutur Hariadi.

    Tapi apa sih fitur ESP (Electronic Stability Program)? Secara umum, ESP merupakan sebuah sistem keselamatan aktif yang dirancang untuk membantu menjaga stabilitas saat menikung jika roda depan atau roda belakang tergelincir, serta mempertahankan traksi pada saat terjadi percepatan pada permukaan jalan yang tidak rata atau licin.

    Dengan kata lain, ketika Electronic Stability Program(ESP) mendeteksi potensi selip atau kehilangan traksi pada roda, maka sistem ESP akan secara otomatis merespon dengan cara mengurangi tenaga mesin atau membagi tenaga pada roda penggerak yang lebih memerlukan, serta mengendalikan tekanan pengereman kepada roda secara selektif sehingga mengurangi resiko kecelakaan.

    Fitur ESP pada Grand VitaraFitur ESP pada Suzuki Grand Vitara Foto: dok. Suzuki Indomobil Sales

    Keragaman Fungsi pada Fitur ESP

    Fitur ESP dapat mengendalikan 4 sistem keselamatan aktif, antara lain Anti-lock Brake System (ABS), Sistem Brake Assist, Sistem Kontrol Traksi, dan Sistem Kontrol Stabilitas yang masing-masing menunjang kinerja sistem deselerasi maupun penerus tenaga ke setiap roda yang secara otomatis aktif ketika kendaraan mendeteksi terjadinya kondisi abnormal pada kecepatan roda mobil.

    Sistem ABS berperan untuk menghindari terkuncinya sistem rem dan roda sehingga pengemudi dapat menjaga arah mobil saat melakukan pengereman keras di jalan licin atau pengereman mendadak.

    Di saat yang bersamaan pengemudi melakukan pengereman darurat, maka sistem Brake Assist akan langsung aktif memberikan bantuan tekanan pengereman lebih besar agar kendaraan berhenti lebih cepat. Pada kondisi jalan yang licin akibat hujan atau media penghambat lainnya, sensor pada sistem Kontrol Traksi akan secara otomatis aktif untuk membatasi putaran roda sehingga mencegah selip saat kendaraan mulai bergerak. Sedangkan, Sistem Kontrol Stabilitas yang akan memberikan pengendalian terpadu pada rem, kontrol traksi, dan kontrol mesin agar kestabilan kendaraan tetap terjaga sekalipun pada kondisi setir kemudi diputar secara mendadak.

    Hariadi menambahkan keberadaan ESP pada mobil modern sangat diperlukan karena banyak manfaat yang bisa didapatkan berkaitan dengan keselamatan berkendara, seperti membantu respon pengemudi dan mencegah kehilangan kontrol mobil pada situasi yang darurat, mencegah understeer (kecenderungan mobil meluncur lurus saat berbelok di tikungan) maupun oversteer (kondisi bagian belakang mobil kehilangan traksi dan keluar dari sisi tikungan), hingga mereduksi resiko aqua planing (berkurangnya traksi roda diakibatkan lapisan air yang berada di atas permukaan jalan).

    (lth/rgr)



    Sumber : oto.detik.com

  • Apa Itu Kiprok? Ini Fungsi dan Ciri-cirinya Saat Sudah Rusak


    Jakarta

    Sepeda motor terdiri dari banyak macam komponen, salah satunya adalah kiprok. Peranti yang satu ini memiliki fungsi penting bagi sistem kelistrikan motor.

    Sama seperti komponen motor lainnya, seiring penggunaan kiprok lama-lama akan rusak dan harus diganti. Jika kamu tak segera mengganti kiprok, hal ini dapat mempengaruhi kelistrikan sepeda motor.

    Lantas, apa fungsi kiprok di sepeda motor? Lalu seperti apa ciri-ciri jika kiprok sudah mulai rusak? Simak pembahasannya dalam artikel ini.


    Fungsi Kiprok

    Kiprok atau disebut rectifier regulator adalah komponen kelistrikan di sepeda motor yang memiliki peran krusial. Mengutip laman Suzuki, kiprok berpengaruh besar terhadap keawetan aki motor.

    Fungsi utama kiprok adalah menstabilkan arus dan tegangan yang mengalir dan selanjutnya dialihkan ke aki. Apabila arus listrik ke aki terlalu besar, hal ini menyebabkan over charge.

    Begitu pun dengan arus yang mengalir ke aki terlalu kecil, hal tersebut menyebabkan aki jadi mudah tekor. Oleh sebab itu, tegangan dan arus yang mengalir ke aki perlu seimbang.

    Fungsi lain dari kiprok adalah mengubah arah arus menjadi satu arah. Jadi, arus AC (Alternating Current) yang dihasilkan oleh spul kemudian diubah menjadi arus DC (Direct Current). Hal ini terjadi karena arus yang masuk ke aki harus dalam keadaan arus DC.

    Kiprok juga berfungsi untuk menstabilkan arus ke lampu sepeda motor. Apabila arus yang masuk terlalu berlebih, kiprok dapat mengaturnya secara otomatis agar lampu tidak mudah putus.

    Komponen di Dalam Kiprok

    Dilansir laman Astra Motor, kiprok terdiri dari berbagai macam komponen di dalamnya, yaitu:

    • Resistor
    • Dioda
    • IC
    • Transistor

    Komponen tersebut menjadi penghubung dengan spul dan mengarahkan arus listrik. Apabila terdapat kerusakan di kiprok, hal ini dapat mempengaruhi kelistrikan sepeda motor.

    Ciri-ciri Kiprok Sudah Rusak

    Seperti komponen motor lainnya, seiring waktu kiprok dapat mengalami kerusakan. Hal tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti kurang perawatan atau memang sudah aus sehingga perlu diganti.

    Namun, banyak pengendara yang kurang ngeh kalau kiprok sudah rusak. Lantas, apa ciri-ciri kiprok mulai rusak? Simak di bawah ini:

    1. Lampu Motor Beberapa Kali Mati

    Ciri-ciri kiprok sudah rusak yang pertama adalah lampu motor beberapa kali mati. Biasanya, kondisi ini terjadi saat kamu tengah melaju dalam kecepatan tinggi. Alhasil, kiprok tidak bisa membatasi tegangan arus yang masuk ke lampu dan akhirnya menyebabkan lampu putus.

    2. Sepeda Motor Tiba-tiba Mogok

    Apabila sepeda motor tiba-tiba mogok, hal ini bisa disebabkan oleh kiprok yang sudah rusak. Sebab, kiprok yang berfungsi mengalirkan arus listrik ke aki sudah tidak optimal, sehingga tegangan aki menjadi drop dan sepeda motor bisa mogok bahkan mati total.

    3. Komponen Aki Tekor

    Tanda-tanda selanjutnya adalah komponen aki sudah tekor. Ketika komponen kelistrikan rusak, hal ini membuat input listrik tidak bisa menutup kelistrikan motor secara sempurna.

    Dampaknya, listrik di dalam baterai menjadi terkuras sehingga menyebabkan aki jadi drop. Alhasil, kamu akan kesulitan untuk menyalakan motor, lampu terlihat redup, dan klakson yang mengeluarkan suara sember.

    Tak hanya aki yang tekor, kondisi ini juga terjadi akibat kiprok sudah rusak. Maka dari itu, bila terjadi masalah di kelistrikan jangan terburu-buru mengganti aki, sebaiknya cek dahulu komponen kiprok apakah masih bagus atau sudah aus.

    Itu dia fungsi kiprok pada sepeda motor serta ciri-cirinya saat sudah rusak. Semoga artikel ini dapat membantu detikers agar selalu merawat kiprok.

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Untuk Hindari Kecelakaan, Begini Tips Mengerem Motor Secara Optimal



    Jakarta

    Rem pada motor berfungsi mengurangi laju roda, juga menghentikannya. Tapi pemotor belum banyak yang tahu, bagaimana cara mengerem yang optimal dan maksimal. Ini tipsnya seperti dijelaskan Suzuki dalam keterangan resminya.

    1. Jaga Posisi Motor

    Saat berkendara, berjaga-jagalah dan atur etika postur berkendara yang benar, yaitu posisi duduk yang tegak dan rileks, serta kedua tangan memegang kendali pada setang kemudi dengan siku sedikit dibengkokkan agar memiliki kontrol lebih saat mengendalikan motor. Saat dihadapkan dengan situasi tak terduga dan memerlukan pengereman, jaga arah roda motor tetap berada pada keadaan lurus agar keseimbangan tetap terjaga dan memastikan traksi maksimal pada ban motor saat melakukan pengereman.


    2. Jangan Panik

    Saat berhadapan dengan situasi darurat, ingat bahwa pengereman harus dilakukan secara bertahap. Misalnya, menarik tuas rem depan dan disusul dengan tuas rem belakang dengan bertahap, serta interval yang konstan agar kecepatan motor menurun secara bertahap tanpa mengunci roda atau menghindari kampas rem menjadi panas.

    3. Ketahui Interval Waktu

    Menjaga jarak antar kendaraan sangat krusial, untuk memberi waktu pengambilan keputusan pengereman yang baik. Pada umumnya jarak pandang mata normal seseorang sejauh 30 m. Jarak ini merupakan situasi ideal untuk dapat membaca, memprediksi, dan mengambil keputusan saat berkendara.

    Seringkali saat dihadapkan pada kondisi mengejutkan seperti ada penyeberang dadakan atau kendaraan yang memotong arah, pengemudi butuh waktu lebih lama, di mana pengendara biasanya akan mencerna sinyal bahaya dalam waktu 1,5 detik dan memutuskan untuk melakukan pengereman pada detik berikutnya. Faktor lain seperti kondisi jalan kering atau basah, bobot kendaraan, hingga tingkat visibilitas, semuanya akan menjadi faktor pertimbangan sebelum mengambil keputusan di jalan.

    4. Sadar Kondisi Sekitar

    Menurut TMC Polda Metro Jaya, semakin rendah kecepatan berkendara, maka makin kecil pula jarak yang harus diterapkan, begitu pula sebaliknya. Misalnya untuk kecepatan sekitar 30 km/jam maka jarak aman adalah 30 m, sedangkan untuk kecepatan 80 km/jam maka jarak aman adalah 80 m. Untuk mengetahui jarak yang sebaiknya diterapkan, pengendara dapat memperhatikan angka kecepatan sepeda motor.

    5. Pastikan Kondisi Tubuh Prima

    Kegagalan respons terhadap bahaya sehingga mengakibatkan kecelakaan biasanya disebabkan oleh kondisi pengendara yang kelelahan. Untuk menghindari kelelahan sebelum dan saat perjalanan, sebaiknya pengemudi melindungi diri dari cuaca dengan menggunakan pakaian yang melindungi diri dari paparan angin dan matahari langsung. Hindari pula berkendara pada larut malam atau di luar jam beraktivitas, dan tidak sedang mengonsumsi obat-obatan yang memiliki efek samping pada tubuh. Apabila pengendara merasa kurang bugar atau mengantuk, disarankan untuk beristirahat sejenak dan tidak melanjutkan perjalanan hingga kondisi badan kembali pulih dan segar.

    6. Lakukan Pemeriksaan Ringan

    Motor yang digunakan dalam aktivitas harian perlu perhatian berkala khususnya pada alat kendali dan ban. Di awal berkendara lakukan tes pengereman depan dan belakang untuk memastikan tiap rem dapat menghentikan motor dengan baik saat melaju. Selain itu setiap minggunya pemeriksaan tekanan dan tapak ban juga baik untuk dilakukan sehingga dapat mengantisipasi resiko yang bisa timbul akibat ban yang telah berdegradasi kualitas. Pemilik motor juga dianjurkan melakukan service berkala motornya ke bengkel resmi yang dapat menjamin kualitas alat, teknisi, dan orisinalitas parts yang digunakan.

    (lua/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Ini 5 Dampak Menggunakan Oli Palsu, Mesin Mobil Bisa Jebol!


    Jakarta

    Mengganti oli mesin wajib dilakukan secara berkala. Beberapa pengendara memilih mengganti oli di bengkel resmi, namun sebagian lebih memilih di bengkel umum.

    Nah, detikers perlu hati-hati ketika ingin mengganti oli mesin. Sebab, ada beberapa oknum bengkel nakal yang menjual oli palsu kepada konsumen.

    Penggunaan oli palsu sangat berbahaya bagi kesehatan mobil, terutama pada komponen mesin. Hal tersebut akan mempengaruhi performa mobil ketika berkendara di jalan.


    Lantas, apa saja dampak yang ditimbulkan dari oli palsu? Berikut penjelasannya.

    Dampak Menggunakan Oli Palsu

    Ada sejumlah dampak yang ditimbulkan dari penggunaan oli palsu untuk mesin mobil. Dilansir laman Suzuki, berikut sejumlah dampaknya:

    1. Tarikan Mesin Terasa Berat

    Dampak yang paling mudah dirasakan adalah tarikan mesin terasa lebih berat. Hal ini terjadi karena oli palsu menghasilkan endapan kotoran yang membuat komponen di dalam mesin, seperti piston, klep, dan lain sebagainya tidak bisa berfungsi secara optimal.

    2. Mesin Cepat Panas

    Oli palsu tentunya tidak bekerja secara optimal dibandingkan oli asli bawaan pabrikan. Dalam jangka panjang, penggunaan oli palsu menyebabkan mesin jadi cepat panas (overheat).

    Kondisi itu disebabkan karena oli palsu tidak mampu memberikan pelumasan yang maksimal di mesin. Alhasil, terjadi gesekan antara komponen hingga menimbulkan panas yang berlebihan pada mesin.

    3. Mesin Mobil Sulit Dihidupkan

    Dampak selanjutnya adalah mesin mobil jadi sulit untuk dihidupkan. Umumnya, kondisi ini terjadi ketika kamu ingin memanaskan mobil di pagi hari sebelum beraktivitas.

    Selain sulit dihidupkan, suara dari mesin juga terdengar kasar. Kalau dibiarkan secara terus-menerus, bukan tak mungkin mesin mobil mengalami kerusakan parah.

    4. Mesin Jebol

    Penggunaan oli yang asli akan membuat usia mesin lebih panjang dan performanya tetap stabil. Lain halnya jika menggunakan oli palsu, hal ini menyebabkan umur mesin jadi pendek karena sering mengalami kerusakan.

    Dalam jangka panjang, penggunaan oli palsu bisa menyebabkan mesin jebol. Soalnya, oli palsu tidak mampu untuk melumasi berbagai komponen di dalam mesin.

    5. Terdapat Endapan Lumpur di Dalam Mesin

    Ketika mesin sudah jebol, biasanya terdapat endapan lumpur atau gumpalan oli yang tebal di dalam rongga mesin. Kondisi ini disebut sebagai oil sludge.

    Oil sludge disebabkan oleh kotoran hasil oksidasi yang terbentuk karena adanya endapan, sisa pembakaran, atau kerak oli yang bercampur dengan pelumas baru. Sisa pembakaran tersebut akan menggumpal dan menempel di permukaan komponen mesin.

    Adanya oil sludge di dalam mesin dapat menyumbat saluran oli mesin yang kecil, sehingga mesin tidak dapat bekerja secara optimal. Maka dari itu, dampaknya bisa membuat komponen mesin cepat rusak hingga berpotensi jebol.

    Cara Membedakan Oli Asli dan Palsu

    Sebagian dari detikers mungkin ada yang kesulitan dalam membedakan oli asli dan palsu. Sebenarnya, cara membedakan kedua oli tersebut cukup mudah jika kamu teliti.

    Dilansir situs Auto2000, berikut cara membedakan oli asli dan palsu:

    1. Cek nomor produksi di botol oli, jika yang tertera di tutup dan botol kemasan berbeda, ada indikasi oli tersebut palsu.
    2. Cek segel kemasan di botol oli, pastikan masih tersegel dengan baik.
    3. Lihat label dan hologram di botol oli, jika cetakan labelnya punya kualitas rendah maka dicurigai oli tersebut palsu.
    4. Lihat warna olinya, jika kuning cerah tandanya oli tersebut asli dan masih baru. Kalau warna oli cenderung cokelat kehitaman, ada indikasi oli tersebut palsu.

    Itu dia dampak menggunakan oli palsu pada mesin mobil. Jadi, tetap waspada saat membeli oli agar tidak mendapatkan oli palsu.

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • 7 Perlengkapan Motor yang Dibutuhkan Saat Hujan, Jangan Sampai Lupa!



    Jakarta

    Hujan menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara motor. Jalanan yang licin dan pandangan yang terbatas menjadi faktor kenyamanan dan keselamatan ketika berkendara.

    Sehingga, pemilihan perlengkapan motor yang tepat sangat penting untuk memastikan keamanan dan kenyamanan selama berkendara. Lantas, apa saja perlengkapan motor yang dibutuhkan saat hujan? Adakah tips untuk berkendara motor saat hujan?

    Perlengkapan Motor yang Dibutuhkan Saat Hujan

    Ada beberapa perlengkapan motor yang akan dibutuhkan saat hujan turun. Mulai jas hujan yang tahan air, helm yang dapat menjaga pandangan tetap baik, hingga sepatu dan sarung tangan yang kedap air.


    1. Jas Hujan

    Saat musim hujan, perlengkapan pertama yang harus dibawa oleh pengendara motor adalah jas hujan. Mengutip laman Suzuki, selain dapat melindungi diri dari basah air hujan, penggunaan jas hujan juga bisa memberi kenyamanan ketika berkendara.

    Kamu bisa memilih jas hujan yang sesuai dengan kebutuhan. Ada jas hujan ponco, ponco tandem, overcoat, jas hujan rok, mantel, jas hujan gamis, hingga setelan/training.

    Jas hujan training dapat lebih melindungi badan sementara jas hujan ponco tandem bisa digunakan untuk kamu yang sering membawa penumpang. Pastikan jas hujan sesuai dengan ukuran tubuh dan tidak menghalangi pergerakanmu ya.

    2. Helm

    Helm adalah perlengkapan wajib yang harus digunakan ketika berkendara. Sehingga, saat hujan barang ini tidak boleh ketinggalan.

    Pilih helm yang cocok digunakan saat musim hujan. Menurut laman Planet Ban, pastikan kaca helmnya bisa melindungi mata dan tetap dapat menjaga pandangan dalam kondisi yang baik. Kamu bisa menggunakan pelapis kaca helm agar air tidak menempel di bagian kaca.

    3. Sarung Tangan

    Selanjutnya, perlengkapan yang harus dimiliki yaitu sarung tangan. Pilih sarung tangan yang kedap air, sehingga air tidak merembes ke dalam dan membuat tangan basah. Dengan sarung tangan yang tidak licin, pengendara juga dapat mempertahankan cengkraman pada kontrol stang kendaraan.

    4. Sepatu

    Saat hujan, kaki menjadi bagian yang rentan terkena cipratan air. Sehingga, kamu perlu menggunakan sepatu dengan jahitan tertutup dan dari bahan anti air.

    Dengan sepatu ini, kaki akan tetap kering dan aman terlindungi. Pastikan kamu memilih ukuran yang pas agar air hujan tidak masuk ke dalam sepatu. Adapun alternatif lain untuk melindungi kaki adalah menggunakan pelindung kaki (wiper) yang tahan air.

    5. Rompi Pelindung Hujan

    Perlengkapan selanjutnya yang bisa kamu gunakan saat hujan adalah rompi pelindung hujan atau tahan air. Meski tak wajib dimiliki, tapi rompi ini bisa memberikan lapisan pelindung tambahan bagi tubuh.

    6. Pelapis Tahan Air

    Kalau kamu memiliki box motor, bagasi, atau tas pelana pada motor, lengkapi perlindungan tambahan seperti pelapis tahan air. Barang ini menjaga barang bawaan dari terkena air hujan.

    7. Sarung Penutup Motor

    Sarung penutup motor berfungsi untuk melindungi motor dari hujan ketika sedang diparkir. Selain motor terbebas dari air hujan dan kelembaban, sarung penutup motor juga mencegah rembesan air hujan masuk ke komponen penting motor. Pilih sarung motor dengan ukuran yang pas dengan bahan berkualitas.

    Tips Berkendara Motor Ketika Hujan

    Selain menggunakan beberapa perlengkapan yang telah disebutkan, ada beberapa tips yang perlu kamu ketahui ketika berkendara motor saat hujan.

    1. Atur Kecepatan Motor

    Kondisi jalan akan lebih licin ketika hujan. Jadi, kamu harus mengatur kecepatan dengan hati-hati.

    Jangan lupa untuk memperhatikan batas kecepatan. Sehingga, saat ada genangan, kamu bisa segera memperlambat laju kendaraan.

    2. Pastikan Kondisi Rem

    Selain mengatur kecepatan motor, proses pengereman juga harus dilakukan dengan benar ketika hujan.

    Pastikan rem dalam kondisi yang baik dan hindari mengerem secara mendadak yang bisa menyebabkan ban motor slip. Selain itu, perhatikan jarak dengan kendaraan depan agar mampu melakukan pengereman.

    3. Hindari Genangan Air

    Hindari melewati genangan air yang terlalu dalam. Cara ini juga untuk menghindari jika ternyata genangan tersebut adalah lubang besar.

    4. Nyalakan Lampu Utama

    Fungsi lampu utama adalah memberi visibilitas yang baik bagi pengendara lain. Menyalakan lampu utama dapat membuat pengendara lain bisa melihatmu dengan jelas. Sebab, saat hujan, kondisi jalan menjadi lebih gelap.

    5. Tingkatkan Kewaspadaan

    Jarak pandang menjadi terbatas ketika hujan. Jadi, tingkatkan kewaspadaan saat berkendara. Perhatikan kondisi jalan dan pengendara di sekitar.

    Itulah beberapa perlengkapan motor yang diperlukan saat hujan. Jangan lupa selalu berhati-hati dalam berkendara ya detikers.

    (elk/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • Cara Aman Jumper Aki Mobil, Lakukan dengan Benar!


    Jakarta

    Ada kalanya kondisi aki mobil sudah habis umur pemakaiannya atau soak. Sehingga, salah satu solusi terbaik untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan cara jumper aki mobil.

    Jumper aki mobil dilakukan untuk memancing agar aki yang soak dapat bekerja lagi. Lantas, bagaimana cara jumper aki mobil yang benar dan aman?

    Cara Jumper Aki Mobil

    Jumper aki mobil adalah mengisi ulang kembali aku yang sudah habis usia pemakaiannya. Akan tetapi, perlu diketahui bawa aki yang dapat diisi ulang daya listriknya adalah aki yang soak.


    Untuk melakukan jumper aki, kamu membutuhkan aki lain untuk donor bagi aki yang soak. Kamu bisa mendapatkan ak tersebut dari mobil lain atau menggunakan ak yang memang tidak digunakan tapi dalam kondisi baik. Berikut cara jumper aki mobil mengutip laman Suzuki dan Auto2000:

    1. Persiapan

    • Untuk transisi otomatis, pastikan posisi tuas transmisi berada di posisi p, sementara untuk mobil transmisi manual, transmisi tuas ada di kondisi netral.
    • Bagi mobil yang mogok, jangan lupa mengaktifkan rem tangan atau parkir
    • Matikan semua komponen kelistrikan pada mobil. Lebih baik lagi jika kunci mobil dicabut. Lepaskan benda apapun di cigarette lighter semisal bluetooth receiver maupun aksesori lain
    • Cari posisi aki pada mobil. Ketahui di mana posisi kutub negatif dan posisi kutub positif
    • Cari kabel jumper berkualitas bagus supaya tidak terjadi kesalahan saat melakukan jumper.
    • Mencari kendaraan lain atau aki lain yang bagus.

    2. Atur Posisi Mobil

    Dekatkan mobil dengan lokasi aki donor. Buka kedua kap mobil, lalu posisikan saling berhadapan. Hal ini dilakukan karena biasanya kabel yang digunakan untuk jumper aki tidak terlalu panjang. Pastikan sekali lagi kondisi rem tangan mobil telah aktif dan kedua transmisi mobil berada di P atau netral.

    3. Hubungkan Kedua Aki dengan Kabel Jumper

    Hubungkan kedua aki menggunakan kabel jumper. Perlu diketahui bahwa kabel jumper memiliki penjepit di kedua ujungnya. Untuk menghubungkan keduanya, kamu perlu berhati-hati.

    Pahami dan teliti posisi kutub terminal positif dan negatif dari kedua aki. Posisi kutub aki biasanya ditandai dengan simbol (+) dan (-).

    Kutub terminal positif dihubungkan dengan terminal positif, begitupun sebaliknya. Kutub positif menggunakan kabel jumper warna merah dan negatif menggunakan jumper hitam. Pastikan penjepit kabel benar-benar telah terhubung pada kutub-kutub tersebut.

    4. Hidupkan Mesin Mobil

    Hidupkan mesin mobil yang menjadi pendonor arus listrik. Tunggu beberapa saat sekitar 1-2 menit. Injak gas tipis hingga 2.000 RPM untuk meningkatkan putaran mesin.

    Jika sudah stabil, lanjutkan dengan menghidupkan mobil yang akinya soak. Apabila belum berhasil, tunggu 2-3 menit dan coba hidupkan mesin lagi.

    5. Lepas Kabel

    Setelah mesin sudah menyala, biarkan selama kurang lebih 5 menit sambil menginjak pedal gas sampai putaran 2.000 RPM. Lepas semua kabel jumper yang digunakan.

    Cara melepasnya dimulai dari melepas bagian kabel negatif pada mobil yang soak sebelumnya. Lalu, lepas kabel negatif di mobil pendonor. Setelah itu, lepas kabel positif. Biarkan mesin menyala sampai 10 menit tapi dalam posisi idle.

    Itulah cara jumper aki mobil dengan aman. Sangat disarankan untuk menggunakan sarung tangan ketika melakukan jumper aki ya detikers. Semoga informasi ini membantumu.

    (elk/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • 5 Penyebab Aki Mobil Meledak, Pengguna Wajib Hati-hati


    Jakarta

    Aki adalah salah satu komponen yang vital dalam mobil. Saat tidak terawat, aki bisa mengganggu kerja mobil dan berisiko meledak.

    Hal ini disebabkan karena aki adalah salah satu komponen kelistrikan yang menghasilkan energi reaksi kimia dan salah satu outputnya berupa gas hidrogen. Lantas, apa saja penyebab aki mobil meledak?

    5 Penyebab Aki Mobil Meledak

    Aki mobil yang meledak bisa disebabkan adanya sentuhan antar-pelat, kotornya kutub-kutub aki dan kabel motor, hingga tersumbatnya lubang vent plug battery. Begini penjelasannya.


    1. Sentuhan Antar Plat

    Faktor internal yang bisa memicu adanya percikan api adalah sentuhan antar-pelat. Menurut Technical Support Department Head PT GS Battery, Atmahadi Widodo, kepada detikOto, bertambahnya usia pakai aki, serta larutan asam semakin berkurang dan pelat tidak lagi terendam menyebabkan pelat melengkung.

    Sehingga, ketika kunci start diputar, permintaan tenaga listrik yang besar untuk menggerakkan motor start menyebabkan pelat bengkok menjadi lentur. Hal ini kemungkinan akan membuatnya bersentuhan dengan pelat lain, sehingga menimbulkan percikan api.

    2. Kutub-kutub Aki dan Kabel Kotor

    Selain faktor dari dalam, faktor eksternal yang menyebabkan aki mobil meledak saat menyalakan mobil adalah saat kutub-kutub aki dan kabel kotor. Sehingga, kotoran tersebut menghambat jalannya arus listrik dan menyebabkan loncatan bunga api.

    3. Kebiasaan Menjumper yang Kurang Tepat

    Kebiasaan men-jumper yang kurang tepat menjadi salah satu hal riskan membuat aki meledak. Banyak pengendara yang salah kaprah dengan memasang kabel jumper ke aki yang bagus, lalu menyambungkan ke aki yang lemah. Padahal hal ini bisa menyebabkan timbulnya percikan api.

    4. Tersumbatnya Lubang Vent Plug Battery

    Penyebab lainnya yaitu lubang vent plug battery yang tersumbat. Lubang tersebut bertindak sebagai safety valve ketika tekanan dalam aki meningkat karena terbentuk uap air akibat proses hidrolisis saat proses charging berlangsung. Apabila vent plug dalam kondisi yang kotor, maka potensi tersumbatnya vent plug semakin besar.

    5. Aki Dibiarkan Kering

    Banyak yang mempercayai bahwa aki bisa meledak jika dibiarkan kering. Menurut laman Suzuki, pada faktanya hal ini bisa terjadi. Sehingga pengguna mobil harus melakukan pengisian ulang air aki. Namun, jangan sampai melebihi kapasitas yang dianjurkan.

    Tips Mencegah Aki Meledak

    Setelah mengetahui beberapa penyebab aki meledak, ketahui tips pencegahannya. Apa saja?

    1. Cek dan bersihkan aki secara teratur
    2. Biasakan untuk memasang kabel jumper pada aki yang lemah sebelum disambungkan ke aki yang bagus.
    3. Berikan perhatian lebih untuk memeriksa kebocoran elektrolit, korosi konektor, keretakan pada tutup atau kotak aki dan kerenggangan pada komponen aki

    Itulah berbagai penyebab aki mobil meledak dan tips pencegahannya. Perlu diketahui bahwa pemeriksaan secara rutin bisa mempengaruhi usia dan kinerja aki. Semoga informasi ini membantumu.

    (elk/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • Begini Cara Ngerem Motor Matic yang Benar agar Aman di Jalan


    Jakarta

    Mengendarai motor matic tak hanya sekadar menarik gas saja, tetapi juga harus paham bagaimana teknik pengereman yang benar. Sebab, masih ada pengendara motor matic yang salah dalam hal pengereman.

    Perlu diingat, teknik mengerem yang salah berisiko menyebabkan kecelakaan. Apalagi jika detikers melewati jalanan yang menurun, risikonya lebih besar lagi.

    Untuk itu, sebaiknya pahami bagaimana cara mengerem motor matic yang benar. Agar lebih paham, simak penjelasannya dalam artikel ini.


    Cara Mengerem Motor Matic yang Benar

    Dilansir situs Suzuki, cara mengerem motor matic yang benar adalah dengan menggunakan rem depan dan rem belakang secara bergantian. Jadi, gunakan rem belakang terlebih dahulu baru kemudian menggunakan rem depan.

    Pengereman menggunakan kedua rem dapat mempercepat proses pengereman sekaligus membuat sepeda motor berhenti lebih stabil. Kombinasi rem depan dan belakang juga membuat tekanan rem terbagi secara merata, sehingga dapat menghindari terjadinya ban belakang terkunci dan mengalami selip. Selain itu, teknik pengereman ini juga membantu mencegah rem yang aus pada salah satu sisi saja.

    Lalu, bagaimana jika motor matic melalui jalanan yang menurun? Cara mengerem yang benar adalah dengan menarik tuas rem depan. Teknik ini dapat menahan daya dorong motor ke depan karena saat melintasi jalanan menurun, daya dorong motor ke depan jauh lebih besar. Jadi, dibutuhkan rem depan untuk menahan laju motor.

    Sedangkan saat melalui jalanan menurun panjang, hindari untuk mengerem secara terus menerus dalam waktu lama. Hal ini bisa membuat komponen rem motor menjadi panas sehingga fungsi rem kurang optimal. Kalau detikers sudah merasakan rem kurang pakem, sebaiknya berhenti sejenak untuk membiarkan suhu rem turun.

    Kesalahan yang Sering Dilakukan saat Mengerem

    Melakukan pengereman ketika berkendara memang bukanlah hal yang sulit. Namun, jika dilakukan dengan cara yang salah maka berisiko menyebabkan kecelakaan dan kerusakan pada komponen rem.

    Mengutip laman Wahana Honda, berikut kesalahan yang sering dilakukan saat melakukan pengereman:

    1. Hanya Memakai Satu Rem

    Banyak pengendara motor matic yang sering memakai satu rem saja. Biasanya rem belakang lebih sering digunakan daripada rem depan. Padahal, cara ini bisa membuat laju kendaraan sulit dikendalikan serta rem menjadi cepat aus.

    2. Mengerem Secara Mendadak

    Mengerem secara mendadak bisa membuat roda terkunci dan motor jadi tidak stabil. Hal tersebut sangat berisiko menyebabkan kecelakaan.

    3. Kurang Memperhatikan Jarak Pengereman

    Salah satu alasan kenapa banyak pengendara motor yang sering ngerem mendadak karena kurang memperhatikan jarak aman pengereman. Perlu diingat, semakin jauh jarak pengereman maka semakin baik teknik mengerem yang dipakai.

    Sebab, jarak pengereman yang aman dapat menyisakan ruang lebih untuk berhenti secara perlahan. Kalau jarak pengereman terlalu dekat bisa menyebabkan rem mendadak hingga menimbulkan kecelakan beruntun.

    Demikian penjelasan mengenai cara mengerem motor matic yang benar agar aman di jalan. Semoga dapat bermanfaat.

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Kapan Ganti Oli Mobil yang Tepat? Awas Kelewat, Efeknya Bisa Begini


    Jakarta

    Oli mobil harus rutin diganti untuk menjaga kualitas mesin dan kinerjanya. Sebagai pelumas, oli mencegah gesekan antara komponen satu dengan lainnya. Tanpa oli, komponen akan saling bergesekan sehingga rentan rusak.

    Karena fungsi oli sangat vital, maka kita tidak boleh terlambat mengganti oli. Lantas kapan waktu yang tepat mengganti oli mobil agar mesin tetap awet? Simak penjelasannya di bawah ini, lengkap dengan tanda-tanda oli butuh diganti dan akibatnya jika telat ganti oli.

    Kapan Seharusnya Mengganti Oli Mobil?

    Ganti oli mobil umumnya dilakukan ketika jarak tempuhnya sudah mencapai 10.000 km. Dikutip dari situs Hyundai, jarak ini biasanya dicapai pada waktu 6 bulan.


    Namun, waktu yang tepat mengganti oli mobil bergantung pada jarak tempuh mobil yang ditandai dengan jumlah kilometernya. Selain itu, penggantian oli juga bisa berdasarkan jangka waktu penggunaan.

    Pada mobil yang sering dipakai, tentunya akan mencapai jarak 10.000 km tak sampai 6 bulan. Jika mobil jarang dipakai, oli sebaiknya tetap diganti 6 bulan sekali, meski belum mencapai jarak 10.000 km.

    Berdasarkan situs Suzuki, mobil yang sering dipakai untuk jarak jauh dan menempuh medan berat, seperti tanjakan, kemacetan, muatan lebih berat, maka direkomendasikan untuk mengganti oli setiap 7.500 km.

    Selain itu, detikers juga harus mengetahui kondisi mobil kamu. Mobil dengan masalah tertentu kemungkinan akan lebih cepat menghabiskan oli, sehingga harus ganti oli lebih cepat dari biasanya.

    Tanda Mobil Harus Ganti Oli

    Pemilik mobil juga harus peka dengan kondisi mobilnya. Dikutip dari situs Astra-Daihatsu, berikut ini tanda-tanda mobil harus ganti oli:

    Salah satu tanda oli harus segera diganti adalah ketika kualitasnya sudah menurun. Kamu harus mengecek kondisi oli untuk mengetahui kualitasnya.

    Oli baru memiliki tekstur yang licin, lengket, dan berwarna jernih. Ketika oli sudah berputar ke seluruh komponen dalam waktu lama, maka warnanya akan berubah menjadi keruh dan coklat gelap.

    Warna oli yang gelap ini dikarenakan oli membersihkan permukaan dinding silinder mesin yang berkerak akibat oksidasi. Ketika sudah sangat keruh, maka itu tandanya oli mobil sudah harus segera diganti.

    2. Akselerasi Terasa Lambat

    Tanda lainnya adalah ketika akselerasi mobil sudah terasa lambat. Kualitas oli yang menurun akan menyebabkan gesekan yang lebih tinggi dalam mesin. Ini akan menyebabkan kinerja mesin menjadi kurang responsif karena mesin harus bekerja lebih keras.

    3. Mesin Bergetar Lebih Kuat

    Ketika mesin dalam keadaan idle, yaitu dalam kondisi diam tetapi mesin menyala, coba rasakan getarannya. Jika getaran mesin lebih kuat dari biasanya, maka kemungkinan menjadi tanda bahwa ada masalah dengan oli mesin.

    Ketika oli mesin sudah diganti, biasanya getaran mesin akan terasa halus kembali. Pemilik mobil harus lebih sensitif terhadap getaran mesin, baik dalam kondisi idle maupun saat berjalan.

    4. Suara Kerja Mesin Lebih Kasar

    Selain getarannya, pemilik mobil juga harus peka dengan suara mobil. Saat mobil dinyalakan, cek apakah suaranya kasar atau tidak. Jika terdengar kasar atau berisik, maka kemungkinan oli sudah butuh diganti.

    Akibat Terlambat Ganti Oli

    Penting bagi pemilik untuk mencatat kapan dan pada jarak berapa terakhir kali mengganti oli. Jangan sampai lupa untuk mengganti oli jika sudah tiba waktunya. Dikutip dari situs Suzuki, berikut ini beberapa akibat jika terlambat ganti oli:

    1. Mesin Cepat Panas

    Ketika terlambat ganti oli, maka mesin akan menjadi cepat panas. Sebab oli yang buruk tidak akan melumasi mesin dengan baik, sehingga gesekan meningkat dan menyebabkan mesin overheating atau cepat panas. Jika ini bertahan dalam waktu lama, maka akan merusak komponen mesin dan bahkan bisa menyebabkan kebakaran.

    Ketika komponen sering bergesekan karena oli sudah kotor, maka mesin akan terasa berat saat bekerja. Hal ini mengakibatkan akselerasi menjadi lambat dan suara mesin menjadi kasar. Bahkan saat oli habis, mesin tidak akan bisa dinyalakan sama sekali.

    3. Bahan Bakar Semakin Boros

    Kualitas oli yang sudah turun membuat mesin bekerja lebih keras, konsumsi bahan bakar pun jadi meningkat. Kamu pun akan semakin sering mengisi bahan bakar.

    4. Kerusakan Turbocharger

    Pada mobil dengan turbocharger, oli yang sudah kotor juga bisa merusak komponen ini. Turbo bekerja pada suhu tinggi, sehingga membutuhkan pelumas yang baik. Jika telat ganti oli, maka bisa membuatnya cepat rusak dan biaya perbaikannya mahal.

    5. Penyumbatan Katalisator

    Saat telat ganti oli, pembakaran mesin menjadi tidak sempurna. Hal ini membuat katalisator tersumbat dan rusak, sehingga mobil bisa jadi tidak lolos uji emisi.

    6. Penurunan Performa Sistem Lainnya

    Berbagai komponen mobil juga membutuhkan oli sebagai pelumas. Jika kekurangan pelumas atau oli kotor, maka bisa mempengaruhi pelumas lain, seperti oli transmisi dan gardan, sehingga menurunkan performa sistem lainnya.

    Nah, sekarang detikers sudah tahu kan kapan waktu yang tepat untuk mengganti oli? Waspada jika kinerja mesin mobil terasa turun, yang bisa jadi mengindikasikan oli harus segera diganti.

    (row/row)



    Sumber : oto.detik.com

  • 5 Penyebab Klakson Motor Tidak Bunyi dan Cara Memperbaikinya di Rumah


    Jakarta

    Klakson termasuk komponen penting pada sepeda motor. Komponen ini berfungsi untuk memberi peringatan atau isyarat kepada kendaraan dan pengguna jalan lain selama berkendara.

    Sebelum bepergian, hendaknya mengecek kondisi klakson. Adakalanya komponen ini tidak berfungsi dengan baik, sehingga suaranya mengecil bahkan bunyi tidak terdengar sama sekali.

    Kalau hal ini terjadi, detikers tidak perlu buru-buru ke bengkel. Sejumlah komponen yang berkaitan dengan klakson dapat dicek terlebih dahulu dan ditangani sendiri selagi bisa. Ketahui penyebab klakson tidak bunyi dan cara mudah memperbaikinya di bawah.


    Penyebab Klakson Motor Mati

    Klakson yang tidak berbunyi bisa disebabkan banyak faktor. Mengutip laman Wahana Honda dan Suzuki, berikut sejumlah penyebab dan cara mengatasinya.

    1. Aki Melemah

    Aki merupakan sumber energi dari sistem kelistrikan motor. Aki menyuplai arus listrik agar komponen seperti starter, lampu, hingga klakson dapat menyala.

    Namun, aki yang bermasalah juga bisa mempengaruhi komponen lainnya. Contohnya, klakson menjadi tidak bersuara atau bunyinya tidak nyaring.

    Solusinya, aki dapat diisi ulang dayanya. Jika masalahnya serius, aki bisa diganti baru.

    2. Masalah pada Kabel Klakson

    Posisi kabel klakson yang tidak presisi dapat menyebabkan bunyi yang keluar tidak lantang. Kabel yang terlepas, putus, atau terbuka juga bisa mempengaruhi suara klakson.

    Bila kabel lepas, detikers dapat menyambungkannya kembali. Kalau bunyinya masih kurang terdengar atau melengking, kabel bisa diikat lebih kuat lagi.

    Namun jika kabel putus atau terkelupas, maka perlu diganti yang baru agar klakson dapat berfungsi dengan normal.

    3. Posisi Baut Platina Berubah

    Posisi baut platina yang terletak di bagian belakang klakson bisa berubah, contohnya saat motor melewati jalan tidak rata. Nah, posisi yang berubah ini dapat mempengaruhi kinerja klakson.

    Untuk mengatasinya, detikers bisa menyetel ulang baut platina dengan membuka mur pengunci menggunakan tang dan memutar baut tersebut memakai obeng. Tekan tombol klakson sambil memperbaikinya agar posisinya dapat presisi.

    4. Sakelar Klakson Kotor

    Cek saklar klakson dan lihat apakah kondisinya kotor atau tidak. Sakelar yang berkerak dan karatan mampu menghalangi arus listrik sehingga suara klakson bisa terdengar kecil bahkan tidak berbunyi.

    Solusinya, detikers dapat melepas sakelar dan membersihkannya menggunakan ampelas halus. Cairan anti karat boleh ditambahkan untuk mencegah karatan muncul kembali.

    5. Baut Klakson Kendur

    Baut klakson yang kurang dipasang dengan kencang bisa membuat bunyi yang keluar tidak terdengar lantang. Agar klakson berfungsi dengan baik, detikers dapat melepaskan baut dan memposisikan ulang dengan benar.

    Nah, itu tadi sederet penyebab Klakson motor tidak berbunyi dan cara memperbaikinya sendiri dengan mudah di rumah.

    (azn/inf)



    Sumber : oto.detik.com