Tag: tutul

  • Macan Tutul dan Naga Jawa Ada di Gunung Sanggabuana, Kok Bisa?


    Karawang

    Gunung Sanggabuana menjadi saksi keberagaman hewan asli Indonesia yang merupakan kekayaan alam. Wilayah hutan di Karawang, Jawa Barat ini menjadi rumah bagi 20 macan tutul yang tertangkap kamera dalam ekspedisi Tim Macan Tutul Kostrad TNI AD dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).

    Sebelumnya dalam ekspedisi tahun 2022, tim SCF dan Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) menemukan naga Jawa di balik bebatuan aliran sungai di Gunung Sanggabuana. Xenodermus javanicus ini adalah ular ramping dengan panjang 50 cm yang penampilannya mirip naga.

    “Di rimba Gunung Sanggabuana, tumbuh harapan jejak kehidupan yang hampir punah. Indonesia adalah rumah bagi keajaiban alam. Mari kita rawat dan jaga bersama,” tulis republikindonesia yang merupakan akun Instagram resmi Indonesia dilihat detiktravel.


    Beristirahat di sebuah air terjun ditengah hutan belantara, sebuah bonus dalam perjalananHutan Sanggabuana di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat (dok. detik)

    Tentu ada alasan hewan eksotis tersebut hidup di gunung setinggi 1.300 mdpl ini. Apalagi, gunung yang tidak terlalu tinggi ini juga menjadi tempat tinggal satwa nyaris punah owa Jawa dan Elang Jawa seperti ditulis dalam akun Instagram gunungsanggabuana dari Sanggabuana Wildlife Ranger.

    Arsip detikTravel menjelaskan kawasan Pegunungan Sanggabuana sebetulnya adalah Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang dikelola oleh Perum Perhutani. Kendati begitu, sebagai tempat latihan Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad AD) ini memiliki kekayaan alam berlimpah.

    Eksplorasi Sanggabuana Wildlife Expedition tahun 2020 menemukan 157 titik mata air yang ada di sepanjang Pegunungan Sanggabuana. Sebanyak 60% aliran air mengisi Waduk Jatiluhur di Purwakarta, sedangkan 40% mengalir di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Mata air ini memungkinkan tanaman tumbuh dan mengawali siklus rantai makanan di Gunung Sanggabuana.

    Keberadaan Gunung Sanggabuana dan hewan eksotis nyaris punah, sebetulnya kontras bagi Karawang yang merupakan sentra industri. Keberadaannya memungkinkan kabupaten ini masih punya kantong air dan oksigen di hutan hujan tropis untuk melanjutkan kehidupannya. Tentu dengan catatan, asal hutan Sanggabuana tetap lestari.

    Habitat Naga Jawa dan Macan Tutul

    Situs Animalium BRIN menjelaskan, naga Jawa hidup di tempat bersih dan sejuk kurang lebih di ketinggian 1.000 mdpl. Ular ini hidup di balik bebatuan pinggir aliran sungai dengan airnya yang bening bebas polusi. Naga Jawa ini seolah malu memperlihatkan dirinya, hingga memilih hidup sendiri di balik batu.

    Sedikit beda dengan naga Jawa, macan tutul adalah hewan yang sangat adaptif yang mampu hidup di hutan, padang rumput, pegunungan, dan gurun. Untuk macan tutul Jawa, habitat utamanya adalah hutan tropis dan pegunungan. Habitat lainnya adalah area hutan alam primer, sekunder, dan hutan produksi.

    Macan tutul Jawa di Pegunungan Sanggabuana.Macan tutul Jawa di Pegunungan Sanggabuana. Foto: Dok. Sanggabuana Conservation Foundation

    Macan tutul suka hutan dengan batang pohon tinggi besar dengan tajuk lebar sebagai tempatnya, plus semak yang rapat untuk tempatnya berburu. Meski terlihat sangar dan buas, macan tutul sebetulnya hewan yang sangat menghormati wilayah kekuasaan hewan sejenis lain. Dia tidak akan masuk dan melanggar wilayah yang sudah ditandai macan tutul lain.

    (row/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kenapa Bisa Ada Macan Tutul dan Naga Jawa di Sanggabuana

    Kenapa Bisa Ada Macan Tutul dan Naga Jawa di Sanggabuana



    Jakarta

    Artikel terpopuler Rabu 1 Oktober 2025 masih seputar Gunung Sanggabuana yang menjadi saksi keberagaman hewan asli Indonesia yang merupakan kekayaan alam.
    Wilayah hutan di Karawang, Jawa Barat ini menjadi rumah bagi 20 macan tutul yang tertangkap kamera dalam ekspedisi Tim Macan Tutul Kostrad TNI AD dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).

    Sebelumnya dalam ekspedisi tahun 2022, tim SCF dan Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) menemukan naga Jawa di balik bebatuan aliran sungai di Gunung Sanggabuana. Xenodermus javanicus ini adalah ular ramping dengan panjang 50 cm yang penampilannya mirip naga.

    Tentu ada alasan hewan eksotis tersebut hidup di gunung setinggi 1.300 mdpl ini. Apalagi, gunung yang tidak terlalu tinggi ini juga menjadi tempat tinggal satwa nyaris punah owa Jawa dan Elang Jawa seperti ditulis dalam akun Instagram gunungsanggabuana dari Sanggabuana Wildlife Ranger.


    Keberadaan Gunung Sanggabuana dan hewan eksotis nyaris punah, sebetulnya kontras bagi Karawang yang merupakan sentra industri. Keberadaannya memungkinkan kabupaten ini masih punya kantong air dan oksigen di hutan hujan tropis untuk melanjutkan kehidupannya. Tentu dengan catatan, asal hutan Sanggabuana tetap lestari.

    Situs Animalium BRIN menjelaskan, naga Jawa hidup di tempat bersih dan sejuk kurang lebih di ketinggian 1.000 mdpl. Ular ini hidup di balik bebatuan pinggir aliran sungai dengan airnya yang bening bebas polusi.

    Naga Jawa ini seolah malu memperlihatkan dirinya, hingga memilih hidup sendiri di balik batu. Sedikit beda dengan naga Jawa, macan tutul adalah hewan yang sangat adaptif yang mampu hidup di hutan, padang rumput, pegunungan, dan gurun.

    Selain mengenai satwa di Gunung Sanggabuana, artikel terpopuler lainnya adalah mengenai persiapan MotoGP Mandalika yang akan berlangsung akhir pekan ini.

    Berikut daftar berita terpopuler lainnya:

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Fakta Macan Tutul dan Naga Jawa di Balik Gunung Sanggabuana

    Fakta Macan Tutul dan Naga Jawa di Balik Gunung Sanggabuana



    Jakarta

    Gunung Sanggabuana menjadi saksi keberagaman hewan asli Indonesia yang merupakan kekayaan alam di sana. Ada macan tutul hingga naga jawa di balik gunung itu.

    Wilayah hutan di Karawang, Jawa Barat ini menjadi rumah bagi 20 macan tutul yang tertangkap kamera dalam ekspedisi Tim Macan Tutul Kostrad TNI AD dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).

    Sebelumnya dalam ekspedisi tahun 2022, tim SCF dan Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) menemukan naga Jawa di balik bebatuan aliran sungai di Gunung Sanggabuana.


    Xenodermus javanicus adalah ular ramping dengan panjang 50 cm yang penampilannya mirip naga. Tentu ada alasan hewan eksotis tersebut hidup di gunung setinggi 1.300 mdpl ini.

    Apalagi, gunung yang tidak terlalu tinggi ini juga menjadi tempat tinggal satwa nyaris punah owa Jawa dan Elang Jawa seperti ditulis dalam akun Instagram gunungsanggabuana dari Sanggabuana Wildlife Ranger.

    Keberadaan Gunung Sanggabuana dan hewan eksotis nyaris punah, sebetulnya kontras bagi Karawang yang merupakan sentra industri. Keberadaannya memungkinkan kabupaten ini masih punya kantong air dan oksigen di hutan hujan tropis untuk melanjutkan kehidupannya. Tentu dengan catatan, asal hutan Sanggabuana tetap lestari.

    Situs Animalium BRIN menjelaskan, naga Jawa hidup di tempat bersih dan sejuk kurang lebih di ketinggian 1.000 mdpl. Ular ini hidup di balik bebatuan pinggir aliran sungai dengan airnya yang bening bebas polusi.

    Naga Jawa ini seolah malu memperlihatkan dirinya, hingga memilih hidup sendiri di balik batu. Sedikit beda dengan naga Jawa, macan tutul adalah hewan yang sangat adaptif yang mampu hidup di hutan, padang rumput, pegunungan, dan gurun.

    Selain mengenai satwa di Gunung Sanggabuana, artikel terpopuler lainnya adalah mengenai persiapan MotoGP Mandalika yang akan berlangsung akhir pekan ini.

    Itulah berita terpopuler detikTravel Sabtu (4/10) kemarin. Selain itu, ada juga berita tentang lokasi pembangunan vila super mewah Amankila yang disegel hingga cantiknya Davina Karamoy liburan di Dubai.

    Berikut Daftar Berita Terpopuler detikTravel, Sabtu (4/10/2025):

    1. Kenapa Bisa Ada Macan Tutul dan Naga Jawa di Sanggabuana

    2. Keris Naga Siluman Itu Bakal Pulang Kampung dari Belanda ke Indonesia

    3. Pesawat Delay, Penumpang Berjoget Bareng di Ruang Tunggu Bandara

    4. Menteri AHY Umumkan All Indonesia Berlaku di Seluruh Bandara dan Pelabuhan

    5. Vila Amankila yang Super Mewah Itu Disegel, Izinnya Diduga Bermasalah

    6. Liburan ke Singapura Ala Gading, Gisel, Gempi

    7. Hindari Badai Tropis, Kapal Pesiar Jadi Penyelamat Orang Terdampar

    8. MotoGP Bikin Jumlah Penumpang Melonjak, Ada Extra Flight Citilink ke Lombok

    9. Potret Tasya Farasya di Dubai, Mewah… Memang Beda Kelas

    10. Davina Karamoy Liburan di Dubai, Warganet: Masya Allah Cantiknya

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • BBKSDA Belum Bisa Pastikan Macan Tutul Masuk Hotel Itu Kabur dari Lembang Zoo

    BBKSDA Belum Bisa Pastikan Macan Tutul Masuk Hotel Itu Kabur dari Lembang Zoo



    Bandung

    Balai Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat belum bisa memastikan macan tutul yang masuk ke dalam hotel Bandung itu macan tutul yang sama yang kabur dari Lembang Park and Zoo.

    Seekor macan tutul nyasar dan masuk ke dalam sebuah hotel di Kecamatan Sukasari, Kota Bandung pada Senin (6/10/2025). Tim gabungan pun melakukan proses evakuasi yang berlangsung cukup cepat.

    Namun petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk mengangkat dan menurunkan kandang besi untuk mengangkut macan tutul itu karena jalur menuju lokasi cukup sempit.


    Setelah berhasil diamankan, satwa liar dilindungi itu akan menjalani observasi di Lembang Park and Zoo, sebelum kemudian direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) Sukabumi.

    Pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat belum dapat memastikan apakah macan tutul tersebut merupakan satwa yang sebelumnya dilaporkan kabur dari Lembang Park and Zoo.

    “Belum, kita nggak sampai ke situ dulu ya. Karena dilihat dari lokasi dan rentang waktu itu terlalu jauh ya,” kata Humas BBKSDA Jabar Ery Mildranaya kepada wartawan.

    Ery menegaskan, identitas satwa itu masih perlu diteliti lebih lanjut.

    “Jadi kita belum bisa pastikan apakah itu macan tutul yang sama atau sejenis, kita belum bisa pastikan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, jarak antara Lembang Park and Zoo dengan lokasi penemuan di Sukasari mencapai sekitar lima hingga enam kilometer, dan medan yang harus dilalui cukup berat.

    “Kalau dari jarak antara LPK (Lembang Park and Zoo) dengan lokasi sini, jaraknya kira-kira 5,6 kiloan, lebih gitu ya. Itu harus masuk lewat menyusur perkebunan, area masyarakat. Itu kita belum bisa berspekulasi terlebih dari itu,” tambahnya.

    Ketika disinggung kemungkinan satwa tersebut merupakan hewan peliharaan warga, Ery juga belum bisa memastikan.

    “Nggak bisa, kami belum bisa seperti itu,” ucapnya.

    Sebelumnya, macan tutul itu pertama kali ditemukan warga sekitar pukul 06.30 WIB. Tim gabungan tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB, dan proses evakuasi selesai sekitar pukul 10.00 WIB.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Fakta-fakta Macan Tutul Masuk ke Hotel Bandung: Asal Usul hingga Evakuasi

    Fakta-fakta Macan Tutul Masuk ke Hotel Bandung: Asal Usul hingga Evakuasi



    Bandung

    Kabar seekor macan tutul yang nyasar dan masuk ke dalam sebuah hotel di Bandung bikin warga gempar. Berikut fakta-fakta menarik insiden tersebut:

    Seekor macan tutul dilaporkan masuk ke dalam hotel di Kota Bandung. Peristiwa ini terjadi di Hotel Anugerah yang berada di Jalan Padasaluyu, Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Senin (6/10/2025).

    Tentu saja peristiwa itu bikin heboh masyarakat setempat. Warga pun bertanya-tanya, dari mana asal macan tutul itu dan bagaimana cara mengevakuasi hewan buas itu.


    Berikut fakta-fakta insiden macan tutul masuk hotel di Bandung:

    1. Macan Tutul Duduk di Depan Pintu Kamar

    Dalam video yang beredar di media sosial, hewan yang tubuhnya berwarna gelap dengan totol-totol itu sedang duduk di depan pintu kayu kamar hotel. Macan itu terlihat dalam kondisi yang lemas.

    Namun di akhir video berdurasi 6 detik, macan tampak menyeringai. Taringnya tajam seperti hendak menyerang.

    Beberapa orang terlihat mendekat dan mengabadikan macan itu dengan ponselnya. Belakangan diketahui, macan tutul itu berada di hotel Anugerah yang terletak di Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung.

    2. Penjaga Hotel Kaget Bukan Main

    Sekitar pukul setengah tujuh, Nasimah, penjaga hotel, berjalan seperti biasa memeriksa area belakang bangunan. Tak disangka, langkahnya terhenti oleh pemandangan tak biasa, seekor macan tutul tiba-tiba muncul dari arah belakang hotel.

    “Kejadian tadi jam setengah 7 pagi, macannya dari bawah, naik ke atas,” kata Nasimah.

    Nasimah sempat terpaku. Tubuh satwa itu besar, langkahnya tenang namun sigap. Ia mengira sekilas hanya seekor kucing besar, sebelum akhirnya sadar itu adalah predator liar yang sesungguhnya.

    “Kaget, dia lagi jalan, kaya kucing gitu, enggak melawan (menerkam),” ujarnya.

    Tanpa membuat suara keras, macan tutul itu terus melangkah menaiki tangga hotel, menyusuri lorong menuju lantai dua. Napas Nasimah tercekat ketika melihat hewan itu berhenti di depan salah satu kamar.

    “Langsung masuk ke kamar, ini hotel, tapi sudah kosong,” ucapnya.

    3. Akhirnya Petugas Evakuasi Datang

    Proses evakuasi berlangsung cepat, namun petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk mengangkat dan menurunkan kandang besi karena jalur menuju lokasi cukup sempit.

    Setelah berhasil diamankan, satwa liar dilindungi itu akan menjalani observasi di Lembang Park and Zoo, sebelum kemudian direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) Sukabumi.

    4. Asal-usul Macan Tutul

    Meski demikian, pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat belum dapat memastikan apakah macan tutul tersebut merupakan satwa yang sebelumnya dilaporkan kabur dari Lembang Park and Zoo.

    “Belum, kita nggak sampai ke situ dulu ya. Karena dilihat dari lokasi dan rentang waktu itu terlalu jauh ya,” kata Humas BBKSDA Jabar, Ery Mildranaya kepada wartawan.

    Ery menegaskan, identitas satwa itu masih perlu diteliti lebih lanjut.

    “Jadi kita belum bisa pastikan apakah itu macan tutul yang sama atau sejenis, kita belum bisa pastikan,” ujarnya.

    5. Macan Tutul Dibawa ke Lembang

    Ery menjelaskan, setelah berhasil diamankan, macan tutul tersebut akan dibawa lebih dulu ke Lembang Park and Zoo untuk menjalani observasi.

    “Jadi untuk tindakan selanjutnya kami akan lakukan observasi terlebih dahulu karena bagaimanapun ini satwa liar, dia pun akan mengalami stres sama seperti kita ya,” ungkapnya.

    “Jadi akan diobservasi terlebih dahulu, setelah diobservasi direncanakan sesuai arahan pimpinan,” tambahnya.

    6. Direhabilitasi di Sukabumi

    Observasi dilakukan untuk memastikan kondisi fisik dan psikologis satwa dalam keadaan stabil. Setelah tahap itu selesai, macan tutul akan dipindahkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) di Sukabumi untuk menjalani proses rehabilitasi.

    “Kita akan lakukan rehabilitasi sementara di Cikananga,” ujarnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kondisi Macan Tutul Nyasar di Hotel Oke, Kini Direhabilitasi di PPS Cinangka

    Kondisi Macan Tutul Nyasar di Hotel Oke, Kini Direhabilitasi di PPS Cinangka



    Jakarta

    Seekor macan tutul nyasar di sebuah hotel di Kecamatan Sukasari, Bandung dan sudah ditangkap. Macan itu dikirim ke Pusat Pelestarian Satwa Cikananga (PPSC) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bagaimana kondisinya kini?

    Humas BBKSDA Jabar Ery Mildrayana mengatakan bahwa satwa liar dilindungi itu diberangkatkan ke Sukabumi, Senin (6/10) malam dan tiba di Sukabumi, Selasa (7/10) pagi.

    “Berdasarkan hasil observasi dokter hewan dan Balai Besar KSDA Jabar, serta koordinasi dengan dokter hewan PPSC, macan tutul dinyatakan cukup fit dan sanggup untuk menempuh perjalanan, kemudian pada pukul 22.15 WIB macan dievakuasi dan dititip rawat ke PPS Cikananga dan tiba pada pukul 05.42 WIB,” kata Ery dilansir detikjabar.


    Ery mengatakan perjalanan dilakukan sehati-hati mungkin dengan kecepatan rendah dan secara berkala kendaraan berhenti untuk melakukan checking kesehatan, posisi aman macan tutul, memberi minum atau memastikan air diminum di dalam kandang.

    “Berdasarkan pemantauan tim sepanjang perjalanan, macan tutul dalam kondisi normal, namun demikian perjalanan panjang tetap beresiko terhadap kesehatan di antaranya letih dan stres,” kata dia.

    Pemantauan pada pukul 10.00 WIB kondisi macan tutul membaik dengan indikasi di antaranya saturasi dan respon terhadap gerakan. Pada pukul 12.14 WIB kondisi macan tutul cenderung menurun namun pada pukul 13.50 WIB setelah macan tutul diberikan vitamin, kondisinya berangsur membaik.

    “Hingga pukul 14.26 WIB hasil pemantauan berangsur membaik,” kata dia.

    “Per pukul 16.30 WIB dilaporkan tim dokter posisi satwa masih tertidur dan sempat berganti posisi, pergantian posisi dengan pemindahan kaki depan, belum terlihat bisa berdiri dengan kaki belakang. Indikasi banyaknya pergerakan menandakan macan tutul membaik,” ujar dia.

    Macan tutul itu ditemukan berada did alam hotel pada Senin oleh staf hotel. Macan itu tidak melukai siapapun.

    Oleh tim gabungan macan tutul itu berhasil ditangkap setelah pencarian selama tiga jam.

    ***

    Selengkapnya klik di sini.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Macan Tutul yang Masuk Hotel di Bandung Itu Bakal Dilepasliarkan

    Macan Tutul yang Masuk Hotel di Bandung Itu Bakal Dilepasliarkan



    Bandung

    Seekor macan tutul bikin heboh setelah masuk gedung hotel di kawasan Sukasari, Kota Bandung pada Senin (6/10/2025). Macan itu akan dilepasliarkan ke habitat aslinya.

    Macan tutul tersebut saat ini tengah dirawat di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC), Sukabumi setelah dievakuasi. Kondisinya disebut terus membaik karena sebelumnya sempat diberi obat bius saat proses evakuasi.

    “Alhamdulillah sampai dengan hari ini sudah berubah. Kesehatannya sudah mulai membaik. Mulai melakukan penyesuaian. Ya akhirnya sudah terjadi peningkatan terhadap kondisinya di lokasi rehab yang ada saat ini,” ujar Kepala BBKSDA Jawa Barat, Agus Arianto, dilansir detikJabar Sabtu (11/10/2025).


    Agus mengatakan satwa dilindungi yang masuk ke area hotel itu merupakan jenis macan tutul jawa dengan panjang tubuh antara 1-1,5 meter. Agus menyebut macan tutul itu merupakan satwa endemik yang banyak tersebar di Pulau Jawa.

    “Jadi kalau morfologi macan tutul Jawa kan dia spesies macan tutul endemik yang ada di Pulau Jawa. Kalau panjang tubuh ya sekitar 100-150 sentimeter di luar ekor,” kata dia.

    Agus menyatakan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) No. 17 Tahun 2025, macan tutul itu harus dikembalikan ke alam liar. Namun dia belum bisa memastikan lokasi mana yang akan dipilih untuk melepas macan tutul itu.

    “Ya pastinya akan dilepasliarkan kembali kalau memang sudah benar-benar pulih kondisinya,” kata Agus

    Agus mengungkapkan saat ini BKSDA juga tengah melakukan pendataan populasi macan tutul Jawa di berbagai wilayah konservasi. Upaya ini dilakukan bersama lembaga konservasi SINTAS Indonesia, guna memetakan persebaran spesies langka tersebut.

    “Jadi yang sudah selesai enam kantong. Kantong itu maksudnya habitat macan tutul yang sudah kita lakukan populasi-nya bersama teman-teman dari SINTAS,” kata Agus.

    “Nanti ada beberapa kantong lagi yang masih dilanjutkan sampai 2026, dan beberapa sedang kita analisis untuk mengetahui populasi macan tutul yang ada di wilayah tersebut,” kata dia.

    ***

    Selengkapnya klik di sini.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Harimau-Macan Tutul Muncul di Permukiman, Pakar BRIN: Itu Alarm Ekologis!

    Harimau-Macan Tutul Muncul di Permukiman, Pakar BRIN: Itu Alarm Ekologis!



    Jakarta

    Fenomena tak biasa terjadi di dua daerah berbeda di Indonesia belakang ini. Seekor macan tutul jawa tiba-tiba masuk ke hotel di kawasan Bandung, Jawa Barat.

    Selain itu, seekor harimau sumatra juga tertangkap kamera berada di sekitar kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Agam, Sumatera Barat. Kejadian tersebut seketika ramai karena diunggah di media sosial.

    Pertanda apa hewan-hewan liar dan buas tersebut mendekati wilayah pemukiman manusia? Menurut Peneliti Ahli Utama bidang konservasi keanekaragaman hayati Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof Hendra Gunawan, dua kejadian tersebut adalah sinyal bahaya tentang keseimbangan alam yang sedang terganggu.


    “Kalau mereka sekarang muncul di kebun, jalan raya, bahkan hotel, itu bukan perilaku alami, tapi Itu tanda mereka terpaksa keluar dari hutan untuk bertahan hidup,” kata Hendra dikutip dari laman BRIN, Rabu (22/10/2025).

    Penyebab Satwa Liar Masuk Pemukiman Manusia

    Ia menambahkan, perilaku aneh satwa ini bisa terjadi karena beberapa sebab. Pertama karena kerusakan habitat akibat pembukaan lahan, pembangunan jalan, dan perluasan permukiman.

    Kedua karena mereka tengah mengejar mangsanya. Monyet ekor panjang atau babi hutan biasanya tinggal di tepi hutan sehingga kemungkinan mengejar mereka pun bisa terjadi.

    Macan-Harimau Kehilangan Orientasi Arah

    Penyebab selanjutnya bisa terjadi akibat hewan memang tersesat. Mereka kemudian mengalami disorientasi spasial atau kehilangan orientasi karena tak tahu dengan lingkungan tersebut.

    “Kalau mereka sekarang muncul di kebun, jalan raya, bahkan hotel, itu bukan perilaku alami, tapi Itu tanda mereka terpaksa keluar dari hutan untuk bertahan hidup,” kata Hendra.

    “Begitu ia masuk ke bangunan beton tanpa vegetasi, ia kehilangan arah dan bisa panik. Inilah yang terjadi ketika macan masuk hotel atau kantor,” lanjutnya.

    Hendra menegaskan bahwa fragmentasi hutan merupakan akar masalah di balik meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. Fragmentasi terjadi ketika hutan besar terpecah menjadi potongan kecil yang terisolasi oleh ladang, jalan, atau permukiman.

    “Fragmentasi lebih berbahaya daripada sekadar pengurangan luas hutan,” tegasnya.

    Predator Puncak Berebut Wilayah

    Menyempitnya habitat hewan akibat pemukiman manusia mengakibatkan predator puncak seperti harimau sumatera dan macan tutul jawa membutuhkan wilayah jelajah lebih luas untuk mencari mangsa dan berkembang biak.

    Ketika ruang hidupnya menyempit, satwa-satwa ini terpaksa berebut wilayah. Dalam berebut, mereka biasanya keluar dari hutan menuju area manusia.

    BRIN mencatat sedikitnya 137 kasus konflik manusia-harimau di Sumatera Barat antara tahun 2005-2023. Terutama di kawasan yang hutannya sudah terfragmentasi parah seperti Lanskap Cagar Alam Maninjau.

    Kehadiran Satwa Liar di Pemukiman Jadi Alarm Serius

    Hendra menilai bahwa solusi jangka panjang bukan sekadar mengevakuasi satwa yang muncul, tapi menata ulang kebijakan tata ruang dan pembangunan berbasis ekologi.

    Selain itu, Hendra mendorong penerapan pendekatan human-wildlife coexistence atau hidup berdampingan secara berkelanjutan dengan empat tahapan utama yakni:

    Avoidance (Penghindaran): Mencegah kontak langsung lewat perencanaan ruang dan pengamanan ternak.

    Mitigation (Mitigasi): Mengurangi dampak konflik tanpa melukai satwa.

    Tolerance (Toleransi): Menumbuhkan empati masyarakat terhadap keberadaan satwa liar.

    Coexistence (Koeksistensi): Menciptakan manfaat bersama melalui kegiatan seperti ekowisata berbasis komunitas.

    “Kalau masyarakat bisa melihat harimau bukan sebagai ancaman, tapi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem, kita bisa hidup berdampingan dengan damai,” ujarnya.

    Menurut Hendra, harimau di kantor BRIN dan macan tutul di hotel seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan alarm ekologis. Ia mengingatkan bahwa sebenernya hewan-hewan tersebut bukanlah musuh manusia.

    “Harimau bukan musuh kita, mereka adalah cermin dari kesehatan hutan. Jika harimau hilang, itu artinya ekosistem kita runtuh. Menjaga harimau berarti menjaga masa depan kita sendiri,” katanya.

    (cyu/nah)



    Sumber : www.detik.com

  • Apakah Harimau dan Macan Sama?

    Apakah Harimau dan Macan Sama?


    Jakarta

    Harimau kerap diidentikkan dengan macan karena bentukan fisik dan karakter yang mirip. Keduanya juga berasal dari satu genus yaitu Panthera sp yang artinya harimau dan macan memiliki beberapa kesamaan.

    Namun, harimau dan macan kenyataannya berbeda meski keduanya nyaris sama. Dikutip dari Nature Safari India, berikut perbedaan harimau dan macan

    Beda Harimau dan Macan

    Berikut beberapa perbedaan fisik pada dua hewan pemuncak rantai makanan ini


    1. Nama ilmiah

    Harimau: Panthera tigris

    Macan: Panthera pardus

    2. Corak

    Harimau: belang kombinasi oranye dan hitam, ada yang putih tapi sangat jarang

    Kenapa Harimau Takut sama Kucing? Simak FaktanyaKenapa Harimau Takut sama Kucing? Simak Faktanya (dok. A G/Unsplash)

    Macan: tutul-tutul dengan kombinasi keemasan, coklat, dan hitam

    Evakuasi macan tutul di Sukasari, Kota Bandung.Evakuasi macan tutul di Sukasari, Kota Bandung (dok. Wisma Putra/detikJabar)

    3. Ukuran dan berat tubuh

    Harimau: dengan bobot bisa mencapai 300 kg adalah yang terbesar di genus Panthera sp

    Macan: bobot maksimal adalah 90 kg adalah yang terkecil di genus Panthera sp namun sangat lincah

    4. Jenis

    Harimau: tipe hewan ini terdiri dari Harimau Siberia, Bengal, Kaspia, Cina Selatan, Indochina, Malaya, Jawa, Bali dan Sumatra

    Macan: tipenya terdiri dari Macan Tutul Afrika, India, Jawa, Arab, Persia, Indochina, dan Sri Lanka

    5. Habitat

    Harimau: Asia Timur dan Selatan dalam hutan yang lebat

    Macan: Sub-Sahara Afrika, semenanjung Arab, Turki barat daya dan timur, kaki bukit Himalaya dan Asia Selatan di hutan, pegunungan, hingga gurun.

    Harimau dan tiger sama-sama kerap disebut tiger walaupun keduanya jelas berbeda. Meski begitu, keduanya sama-sama masuk kelompok hewan langka dan dilindungi karena nyaris punah.

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Macan Tutul dan Jaguar, Beda atau Sama?

    Macan Tutul dan Jaguar, Beda atau Sama?



    Jakarta

    Macan tutul merupakan jenis kucing besar yang dikenal memiliki corak atau bintik khas pada tubuhnya. Namun tak hanya macan tutul, ternyata jaguar memiliki bintik khas. Lantas apa beda macan tutul dan jaguar?

    Macan tutul (Panthera pardus) dan jaguar (Panthera onca) merupakan jenis hewan yang berbeda, meski sama-sama memiliki ciri berbintik di tubuh orennya. Sekilas, akan sulit membedakan keduanya, tapi wilayah habitat dan detail ciri fisik menunjukkan perbedaan.


    Perbedaan Macan Tutul dan Jaguar

    Mengutip AZ Animals, macan tutul banyak ditemukan di Afrika dan Asia. Persebarannya membentang dari utara ke selatan di sebagian besar benua Afrika kecuali Sahara, dan dari timur ke barat di Asia, dari timur Turki hingga barat China dan Rusia, dan hingga ke selatan hingga Indonesia.

    Sementara jaguar banyak ditemukan di Amerika Selatan atau Tengah. Persebarannya sampai ke Meksiko utara, bahkan ada beberapa individu di Arizona selatan dan New Mexico di Amerika Serikat, hingga Argentina utara dan sebagian Brasil selatan.

    Macan tutul memiliki jangkauan luas karena mampu beradaptasi dengan beragam habitat. Karena paling melimpah di hutan, padang rumput, sabana, dan hutan, mereka juga dapat hidup di habitat semak belukar, semak belukar, gurun, berbatu, dan bahkan pegunungan pada ketinggian hingga 5.200 meter.

    Macan tutul juga telah belajar hidup berdampingan dengan manusia, tidak hanya di daerah pinggiran kota, tetapi juga di daerah perkotaan yang padat. Misalnya, terdapat populasi macan tutul di Mumbai pusat, India, sebuah kota berpenduduk lebih dari 12 juta jiwa dan salah satu dari sepuluh kota terbesar di dunia.

    Berbeda dengan macan tutul yang adaptif, jaguar bergantung pada tutupan lahan yang lebat, sumber air, dan cukup mangsa untuk diburu. Namum, mereka mahir berenang, sehingga sering berada di dekat perairan seperti sungai, anak sungai, dan rawa.

    Jaguar biasanya menghindari hutan pegunungan, tetapi pernah terdeteksi di ketinggian hingga 3.800 m. Beda dengan macan tutul, jaguar juga belum beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan manusia dan kecil kemungkinannya ditemukan bahkan di daerah pinggiran kota.

    Perbedaan Bintik

    Jika dilihat dari dekat, bintik di tubuh macan tutul dan jaguar memiliki ‘bintik-bintik’ hitam, yang sebenarnya merupakan roset. Roset ini berbentuk oval dengan batas hitam tebal, tetapi kosong di dalamnya.

    Jaguar memiliki bintik-bintik hitam kecil di dalam roset mereka yang lebih besar, sedangkan macan tutul tidak. Meskipun sangat langka, macan tutul telah diamati pada kamera jebak memiliki bintik-bintik di dalam roset mereka yang mirip dengan jaguar.

    Namun, secara umum, macan tutul dan jaguar memiliki karakteristik yang sama, yaitu variasi warna dan pola bulu, yang seringkali berkorelasi dengan habitatnya. Misalnya, warna bulu kuning muda cenderung muncul di habitat yang lebih kering, sedangkan warna bulu yang lebih gelap dan lebih kemerahan lebih menonjol di hutan yang lebih lebat.

    Setiap macan tutul atau jaguar memiliki pola roset yang unik, yang digunakan para ilmuwan dalam penelitian untuk mengidentifikasi individu dan memperkirakan ukuran populasi.

    Berdasarkan fisiknya, jaguar secara keseluruhan lebih besar, tampak lebih kuat, dan lebih berat daripada macan tutul. Sementara macan tutul merupakan spesies kucing besar terkecil, panjang tubuhnya bisa lebih panjang dari jaguar, dari hidung hingga ujung ekor.

    Panjang macan tutul berkisar antara 1,6-2,3 meter, sedangkan jaguar bisa mencapai 1,5-1,9 meter. Jaguar bisa dua kali lebih berat daripada macan tutul, antara 68-136 kg, dibandingkan berat macan tutul yang hanya 17-65 kg.

    Mangsa Macan Tutul dan Jaguar

    Macan tutul dan jaguar merupakan karnivora yang gemar menyergap di lokasi tersembunyi. Bintik-bintik mereka bertujuan untuk kamuflase alami di alam.

    Berburu mangsa yang lebih besar, termasuk antelop, rusa, rusa, ternak domestik, babi, dan primata untuk macan tutul, serta pekari, tapir, dan rusa untuk jaguar. Keduanya, secara umum, menjadi korban perburuan manusia untuk diambil bulunya.

    Di alam liar, macan tutul cenderung aktif di malam hari, terutama bagi populasi yang hidup lebih dekat dengan manusia. Jaguar lebih krepuskular, paling aktif saat senja dan fajar, tetapi mereka dapat aktif kapan saja sepanjang hari.

    Sayangnya, baik macan tutul maupun jaguar dianggap hampir terancam populasinya oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

    (faz/nwk)



    Sumber : www.detik.com