Blog

  • Sosok Orang Terakhir yang Masuk Surga, Kisahnya Bikin Rasulullah Tertawa



    Jakarta

    Penghuni surga dan neraka merupakan rahasia Allah SWT. Namun, ada hadits yang menyebut orang terakhir yang masuk surga dikatakan adalah orang terakhir keluar dari neraka.

    Kisah tentang orang yang terakhir keluar neraka dan terakhir masuk surga diceritakan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud RA yang meriwayatkan dari Rasulullah SAW. Saat menceritakan kisah ini, Rasulullah SAW tertawa hingga tampak gigi gerahamnya.

    Hadits ini diceritakan dalam kitab At-Tadzkirah karya Imam Syamsuddin Al-Qurthubi yang diterjemahkan oleh Anshori Umar Sitanggal. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda,


    “Sesungguhnya aku benar-benar tahu penghuni neraka yang terakhir kali keluar darinya, dan penghuni neraka yang terakhir kali masuk surga. Yaitu seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan merangkak, maka Allah Ta’ala berkata, ‘Pergilah dan masuk ke surga.’

    Maka, orang itu pun datang ke surga, tetapi terbayang olehnya bahwa surga telah penuh, maka dia berkata, ‘Ya Tuhanku, hamba dapati surga telah penuh.’

    Maka Allah berkata, ‘Pergilah dan masuk ke surga.’

    Maka, dia pun datang ke surga, tetapi terbayang lagi olehnya bahwa surga telah penuh, maka dia kembali lagi seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, hamba dapati surga telah penuh.’

    Maka (sekali lagi) Allah berkata, ‘Pergilah dan masuk ke surga. Sesungguhnya kamu akan memperoleh seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya.’ Atau, ‘Sesungguhnya kamu akan memperoleh sepuluh kali lipat dunia.’

    Maka, orang itu berkata, ‘Apakah Engkau mengejekku?’ Atau, ‘Engkau menertawakan hamba, padahal Engkau Raja’?”

    Abdullah bin Mas’ud mengatakan melihat Rasulullah SAW tertawa sampai tampak gigi gerahamnya, seraya bersabda, “Mengenai orang itu dikatakan, ‘Itulah ahli surga yang paling rendah derajatnya’.”

    Dalam riwayat yang lain, Ibnu Mas’ud mengatakan mengapa Rasulullah SAW tertawa. Kemudian beliau menjawab, “Karena Tuhan semesta alam pun tertawa, lalu berkata, ‘Aku tidak mengolok-olok kamu, tetapi Aku Maha Kuasa atas apapun yang Aku kehendaki’.”

    Masih dari At-Tadzkirah, mengenai sabda Rasulullah SAW, “Apakah Engkau mengejekku?”, adalah terjemahan dari “Atastahzi u bi?” atau dalam riwayat lain, “Ataskharu bi?” Artinya sama, yaitu mengejek.

    Mengenai maksud dari kata-kata ini ada dua takwil.

    Pertama, kata Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, perkataan ini keluar dari orang tersebut, saking gembiranya, sehingga meremehkan Allah SWT. Jadi, seperti halnya orang yang keliru mengatakan, “Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Tuhanmu.” (HR Muslim)

    Kedua, maksudnya, “Apakah Engkau hendak membalas kepadaku atas kelakuanku di dunia, di mana aku tidak banyak memperhatikan perbuatan-perbuatanku, bahkan tidak peduli denganya?” Jadi, orang tersebut menyangka Allah SWT akan membalas ejekan yang telah dia lakukan terhadap-Nya dulu, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala ketika menceritakan perkataan orang-orang munafik pada Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 14-15.

    وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ ١٤ اَللّٰهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ ١٥

    Artinya: “Apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Akan tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya pengolok-olok.” Allah akan memperolok-olokkan dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.”

    Imam Syamsuddin Al-Qurthubi mengatakan, hadits tentang orang terakhir yang keluar dari neraka dan terakhir masuk surga riwayat dari Abdullah bin Mas’ud ini adalah hadits shahih. Hadits ini menerangkan betapa hinanya derajat dunia dan betapa luasnya rahmat Allah SWT.

    Adapun dalam riwayat lain Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, Rasulullah SAW bersabda,

    “Orang yang terakhir kali masuk surga adalah seorang lelaki dari Juhainah, namanya Juhainah. Para penghuni surga berkata, ‘Pada Juhainah ada berita meyakinkan’.” (HR Al-Mayanisyi Abu Hafsh Umar bin Abdul Majid Al-Qurasyi dalam kitab Al-Ikhtiyar Lahu Fi Al-Milah Min Al- Akhbar wa Al-Atsar)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Wajah Ahli Puasa Terbakar, hingga Aisyah Disihir


    Jakarta

    Ada sejumlah kisah tentang mimpi yang nyata. Salah satunya adalah kisah seorang ahli puasa yang wajahnya menghitam karena mengakhirkan berbuka puasa. Wajahnya menghitam setelah bermimpi wajahnya terbakar.

    Ada juga kisah Thalhah bin Ubaidillah yang bermimpi melihat dua sahabat yang masuk surga. Selain itu, ada kisah tentang istri Rasulullah SAW, Siti Aisyah ra yang disihir. Aisyah mendapatkan petunjuk lewat mimpi tentang siapa yang melakukan sihir.

    Simak kisah selengkapnya berikut ini.


    Kisah Ahli Puasa yang Wajahnya Menghitam

    Kisah ini dikutip dari buku Perjalanan Ruh terjemahan Masrukhin dan M Yusni Amru Al-Ghozali dari Al-Ruh karya Ibnu Qayyim Al-Jauzy.

    Dikisahkan oleh Al-Qairuwani, dia menerima kabar dari seorang syekh yang memiliki banyak keutamaan. Syekh itu menerima kabar dari seorang ahli fiqih.

    Dikisahkan, dahulu kala mereka mempunyai sahabat seorang lelaki ahli puasa. Lelaki tersebut banyak berpuasa, bahkan berpuasa tanpa henti.

    Namun, lelaki itu terbiasa mengakhirkan berbuka. Padahal Rasulullah mengajarkan agar setiap orang berpuasa untuk menyegerakan berbuka.

    Pada suatu malam, lelaki itu tidur kemudian bermimpi melihat dua orang hitam yang seolah menarik lengan atasnya dan bajunya untuk dibawa ke perapian dengan api menyala. Dia lalu dilemparkan ke dalamnya hingga wajahnya terbakar.

    Ahli puasa itu bertanya, “Kenapa kalian melakukan ini?”

    “Karena engkau menyalahi sunnah Rasulullah SAW. Sesungguhnya ia memerintahkan untuk mendahulukan berbuka, sedangkan engkau mengakhirkannya,” kata kedua orang hitam itu.

    Keesokan paginya, wajah lelaki ahli puasa itu menghitam seperti terbakar api. Dia pun menutup wajahnya di hadapan orang-orang.

    Kisah Thalhah Bermimpi Dua Sahabat Masuk Surga

    Dilansir dari situs Kemenag Kepulauan Riau, ada kisah tentang mimpi seorang sahabat Nabi, yaitu Thalhah Bin Ubaidillah. Thalhah pada suatu malam bermimpi tentang dua orang sahabat yang sudah meninggal.

    Dua orang sahabat ini termasuk orang bertakwa dari suku Qudha’ah. Mereka ringan tangan membantu dengan harta maupun tenaga untuk dakwah Islam. Keduanya juga berjihad dengan ikut berperang, sehingga dijamin masuk surga.

    Kemudian salah satunya mati syahid dalam perang tersebut. Satu orang lainnya pulang membawa kemenangan. Kemudian dia meninggal satu tahun kemudian karena sakit.

    Dalam mimpi, Thalhah melihat dua sahabat tersebut dipanggil untuk masuk ke dalam surga. Tetapi sahabat yang mati karena sakit diizinkan masuk lebih awal, baru kemudian terdengar suara memanggil sahabat yang mati syahid untuk masuk surga.

    Lalu terdengar suara yang berkata kepada Thalhah, “Kembalilah karena belum waktumu masuk surga.” Setelahnya, Thalhah terbangun dari tidurnya.

    Thalhah pun menceritakan mimpi itu kepada sahabat-sahabat lainnya. Para sahabat tidak percaya karena meyakini sahabat yang mati syahid seharusnya masuk surga terlebih dahulu.

    Rasulullah yang mendengar kabar itu memanggil Thalhah. Rasulullah membenarkan mimpi Thalhah hingga membuat para sahabat heran.

    “Mengapa sahabat yang meninggal terakhir masuk surga lebih dahulu dari pada temannya yang meninggal karena mati syahid?” tanya para sahabat.

    Rasulullah saw balik bertanya: “Bukankah temannya itu masih hidup setahun setelah kematiannya?” Mereka menjawab: “Betul.”

    Rasulullah lalu bertanya: “Dan bukankah ia masih mendapati Ramadhan, lalu ia berpuasa, melakukan salat ini dan itu selama satu tahun itu?” Mereka menjawab: “Betul.”

    Maka Rasulullah berkata: “Maka jarak antara mereka lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

    Hal ini juga sesuai dengan sebuah riwayat tentang Rasulullah yang ditanya sahabat: “Siapakah manusia yang paling baik?” Rasulullah menjawab: “Siapa saja yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

    Kisah Aisyah Disihir

    Dikisahkan bahwa istri Rasulullah pernah disihir. Imam Malik meriwayatkannya dari Abu Ar-Rijal, dari ‘Amrah, dari Aisyah, bahwa istri Rasulullah tersebut bermimpi ada seorang pelayan masuk ke kamar Aisyah yang sedang sakit.

    Pelayan tersebut memberi tahu bahwa Aisyah sedang disihir. Aisyah bertanya siapakah yang menyihir dirinya. Pelayan itu menjawab, “Seorang budak perempuan yang di kamarnya ada anak kecil yang mengencinginya.”

    Saat terbangun dari mimpi, Aisyah memanggil budak perempuannya. Budak perempuan tersebut berkata, “(Aku akan datang) setelah aku cuci dahulu kencing di bajuku.”

    Merasa hal tersebut sesuai dalam mimpinya, Aisyah lalu bertanya padanya, “Apakah engkau menyihirku?” Budak perempuan itu pun mengakuinya.

    Aisyah bertanya lagi, “Apa yang membuatmu melakukan itu?” Budak perempuan itu berkata, “Aku ingin segera dimerdekakan.”

    Aisyah kemudian memerintahkan saudara lelakinya untuk menjual budak perempuan itu kepada orang Badui yang bersikap buruk pada budak yang dimilikinya. Maka dijuallah budak tersebut.

    Aisyah kemudian bermimpi lagi. Dalam mimpi dia mandi dari air tiga sumur. Dia mengambil air dari masing-masing sumur itu dan mandi dengannya. Seketika ia sembuh dari sakitnya.

    Itulah tadi beberapa kisah mimpi yang nyata, mulai dari wajah ahli puasa yang menghitam terbakar, mimpi Thalhah tentang dua sahabat masuk surga, serta kisah Aisyah yang disihir oleh budaknya. Wallahu a’lam.

    (bai/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Sahabat Nabi yang Dikenal Pemalu, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Sosok sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal pemalu adalah Utsman bin Affan. Meski begitu, Utsman memiliki pribadi yang cerdas dan dermawan.

    Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan silsilah Utsman bin Affan. Namanya adalah Utsman bin Afan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.

    Sementara itu, ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Nama ibu Arwa (nenek Utsman bin Affan dari jalur ibu) adalah Ummu Hukaim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, saudara perempuan sekandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah Rasulullah.


    Ada yang mengatakan bahwa Ummu Hukaim dan Abdullah adalah dua anak kembar Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, seperti dikisahkan oleh Az-Zubair bin Bikar.

    Mengutip buku Kisah Seru Para Sahabat Nabi susunan Lisdy Rahayu, sifat Utsman yang pemalu ini menyebabkan orang-orang sekitarnya juga menjadi malu kepadanya. Suatu ketika, Rasulullah SAW kedatangan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

    Sang nabi lantas mempersilahkan mereka untuk masuk. Namun ketika Utsman bin Affan datang, ia langsung membenarkan dulu letak jubahnya karena malu kepada Utsman.

    Nabi SAW bersabda dalam haditsnya, “Bagaimana aku tidak merasa malu kepada orang yang malaikat saja malu kepada dia.” (HR Muslim)

    Diterangkan dalam buku Kisah Hidup Utsman ibn Affan oleh Mustafa Murrad, di kalangan sahabat Rasulullah, Utsman bin Affan termasuk orang yang paling banyak tahu tentang Al-Qur’an dan hadits. Utsman juga termasuk salah satu penghafal Al-Qur’an.

    Ia selalu mengikuti petunjuk Nabi, Abu Bakar, dan Umar RA yakni para sahabat sekaligus Khalifah sebelum dirinya, ketika hendak mengambil keputusan. Utsman bin Affan yang memiliki gelar Dzunnurain (Pemilik Dua Cahaya) selalu mendampingi Nabi sehingga ia mendapatkan banyak ilmu dan petunjuk dari beliau.

    Selain dikenal sebagai sahabat nabi, Utsman bin Affan juga seorang Khalifah ketiga menggantikan Umar bin Khattab pada tahun 644 Masehi. Ia menjalankan kenegaraan dengan penuh kesederhanaan.

    Pada masa kepemimpinannya, kaum muslimin banyak menaklukkan negeri-negeri, seperti pula Cyprus, negara Khurasan, Armenia, dan negeri Maroko. Selain itu, penulisan kembali ayat-ayat Al-Qur’an juga terjadi pada masa kekhalifahan Utsman.

    Saat itu, Utsman membuat ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf. Karenanya, sampai saat ini mushaf yang terkenal dan banyak digunakan adalah mushaf Utsmani.

    Utsman bin Affan wafat pada 12 Zulhijjah tahun 35 Hijriah. Ia meninggal di usia ke-81 dan dimakamkan di bukit sebelah timur pemakaman Al-Baqi.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ayyub AS Hadapi Ujian Berat Belasan Tahun hingga Dikucilkan



    Jakarta

    Nabi Ayyub AS mendapat ujian berat dari Allah SWT selama belasan tahun. Sejumlah riwayat menyebut ia menderita penyakit kulit yang tak kunjung sembuh hingga orang-orang meninggalkannya.

    Nabi Ayyub AS adalah salah satu nabi sekaligus rasul yang kisahnya termaktub dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa’ ayat 163,

    اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ


    Artinya: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.”

    Sebagai seorang utusan Allah SWT, Ayyub AS dikenal sebagai pribadi yang sangat sabar. Saking sabarnya, ia bahkan tidak mengeluh ketika diberi ujian berupa penyakit kulit yang mendera tubuhnya selama bertahun-tahun.

    Dijelaskan dalam kitab Qashash al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir terjemahan Umar Mujtahid, Ayyub AS adalah seseorang yang kaya raya. Sebelum ditimpa musibah, ia memiliki harta yang berlimpah mulai dari binatang ternak, budak, hingga tanah yang terbentang dari Tsaniyah sampai Hauran. Nabi Ayyub AS memiliki banyak anak dan seorang istri.

    Allah SWT mengujinya dengan penyakit kulit dan mengambil seluruh kenikmatan Ayyub AS. Berbagai musibah kian menghampiri sang nabi, mulai dari anak-anaknya yang meninggal hingga hartanya yang habis tak bersisa.

    Penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub AS membuatnya dikucilkan oleh masyarakat. Bahkan, Anas meriwayatkan bahwa Ayyub AS dibuang di tempat sampah milik bani Israil hingga tubuhnya dikerumuni lalat dan berbagai macam serangga lainnya.

    Tak seorang pun merasa kasihan kepada Nabi Ayyub AS selain sang istri yang setia mendampinginya. As Saddiy menceritakan,

    “Daging yang melekat pada tubuh Ayyub mulai berjatuhan hingga tidak ada yang tersisa di tubuhnya, kecuali tulang belulang dan otot-ototnya saja. Sementara itu, istrinya tiada henti menemui beliau sembari membawa abu gosok sebagai alas untuk berbaring.”

    Dalam kondisi yang memprihatinkan itu, istri Nabi Ayyub AS bekerja pada orang lain agar dapat mencukupi kebutuhan hidup bersama suaminya. Ketika tidak mendapatkan seorang pun yang mau menerimanya bekerja, sang istri menjual salah satu dari dua kepang rambutnya kepada putri seorang pejabat dan ditukarkan dengan makanan yang sangat banyak.

    Mengetahui hal itu, Nabi Ayyub AS lantas berdoa kepada Allah SWT sebagaimana tercantum dalam surah Al-Anbiya ayat 83,

    وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

    Singkat cerita, penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub AS akhirnya sembuh atas pertolongan dari Allah SWT dengan mengabulkan doa-doanya. Kala itu, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ayyub AS agar menghentakkan kakinya ke tanah hingga terpancarlah air yang dapat digunakannya untuk mandi dan meminumnya.

    Allah SWT berfirman dalam surah Shad ayat 42,

    ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

    Artinya: (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”

    Setelah Nabi Ayyub AS mandi dan minum dengan air tersebut, seketika penyakit kulit yang menimpanya sembuh, badannya sehat kembali, dan wajahnya pun tampak lebih segar dan berseri.

    Tak sampai di situ, Ayyub AS kembali dianugerahi dengan kekayaan seperti sedia kala. Ia hidup bahagia bersama sang istri dan bersyukur kepada Allah SWT.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Cerita Rasulullah SAW tentang 2 Orang Penghuni Surga dan Neraka



    Jakarta

    Semasa hidupnya, Rasulullah SAW banyak mengisahkan cerita yang bisa menjadi pelajaran. Cerita ini didapatkan Rasulullah SAW melalui wahyu dari Allah SWT.

    Seperti kisah dua orang di masa lampau yang kemudian menjadi penghuni surga dan neraka. Seorang yang masuk neraka karena tidak sabar pada ujian dan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sementara seorang lainnya menjadi penghuni surga karena rasa takutnya kepada Allah SWT.

    Cerita Rasulullah SAW ini dituliskan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan Dalam Hidup Rasulullah oleh Fuad Abdurrahman.


    Rasulullah SAW sering bercerita kepada umatnya tentang kisah umat-umat terdahulu, umat para nabi sebelum beliau. Rasulullah SAW mengetahui semua kisah itu melalui wahyu dari Allah SWT.

    Suatu hari Rasulullah SAW dikelilingi para sahabat. Tak lama kemudian beliau bercerita, “Ada seorang laki-laki sebelum kalian yang menderita sakit. Karena tidak sabar menahan penyakitnya, ia memotong urat nadinya hingga mengalirlah darahnya tanpa henti. Akhirnya, laki-laki itu mati.”

    Kemudian Allah SWT berfirman, “Hambaku ini mempercepat kematiannya (bunuh diri) sehingga haram baginya surga.”

    Dalam hadits dari Abu Zaid Tsabit bin Adh-Dhahhak Al-Anshari, Rasulullah SAW bersabda tentang larangan dan balasan bagi orang yang bunuh diri,

    وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ، عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Artinya: “Barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu.” (Muttafaq Alaih)

    Sakit merupakan ujian dari Allah SWT yang harus dijalani. Bahkan dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa Allah SWT memberikan obat dari setiap penyakit.

    Dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 57, Allah SWT berfirman,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

    Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

    Lalu dalam kesempatan berbeda, Rasulullah SAW bercerita lagi, “Ada seorang laki-laki yang berlebih-lebihan memperlakukan dirinya sendiri. Ketika ia merasa bahwa kematiannya telah dekat, ia berpesan kepada anak-anaknya: ‘Nanti, jika aku telah mati meninggalkan kalian, bakarlah tubuhku hingga menjadi abu. Lalu biarkan angin menerbangkan abu jasadku itu. Demi Allah, sekiranya Allah berkenan menyiksaku, tentu aku akan disiksa dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada selainku.”

    Rasulullah SAW melanjutkan, “Setelah ia mati, anak-anaknya benar-benar melaksanakan wasiatnya. Kemudian Allah SWT memerintahkan bumi agar mengumpulkan seluruh abu jasadnya yang telah berhamburan di muka bumi. Lalu, bumi menjalankan perintah-Nya, dan tiba-tiba tubuh laki-laki itu berdiri tegak seperti sedia kala.

    Allah SWT bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu melakukan itu?

    Laki-laki itu menjawab, “Karena rasa takutku kepadaMu, wahai Tuhanku.”

    Akhirnya, apa yang terjadi dengan laki-laki tersebut? Rasulullah SAW mengakhiri ceritanya, “Kemudian Allah mengampuni dosa orang itu (karena rasa takutnya kepada Allah)” (HR Bukhari-Muslim).

    Kisah ini menjadi penegasan bahwa Allah SWT maha pengampun dan akan memberikan ampunan pada hamba-Nya yang bertakwa.

    Sebagaimana termaktub dalam Surat Az-Zumar ayat 53,

    ۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Kemudian dalam Surat An-Nisa ayat 48, Allah SWT berfirman,

    اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

    Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.”

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Malaikat Malu kepada Utsman bin Affan?



    Jakarta

    Khulafaur Rasyidin adalah julukan kepada empat sahabat yaitu Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Namun diantara para sahabat Rasulullah SAW, ada salah satu sahabat membuat malaikat menjadi malu. Kenapa malaikat malu kepada Utsman bin Affan?

    Riwayat dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam agama Allah adalah Umar, yang paling jujur dan malu adalah Utsman, yang paling tahu halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling ahli qira’ah adalah Ubay, dan yang paling mengetahui faraidh (ilmu tentang warisan) adalah Zaid bin Tsabit. Tiap-tiap umat ada orang yang terpercayanya dan orang yang terpercaya umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarah.”


    Dari buku Rasulullah SAW: The Untold Story karya Ali Abdullah, Utsman adalah sahabat pilihan Rasulullah SAW, diantara para sahabat yang dijamin masuk Surga, maka Utsman adalah salah satunya.

    Suatu kisah Abu Bakar As-Siddiq datang ke rumah Rasulullah SAW, beliau bersikap biasa saja. Umar bin Khattab pun datang kepada Rasulullah SAW, tetapi beliau juga tetap bersikap biasa saja.

    Ketika Utsman bin Affan datang, Rasulullah SAW tampak memberikan perhatian khusus. Beliau duduk dan membenarkan pakaian yang beliau kenakan.

    Kisah ini pernah diriwayatkan oleh Aisyah RA:

    عَنْ عَائِشَة قالت: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُصْطَجعًا فِي بَيْتِي، كَاشِفَا عَنْ فَخِذَيْهِ، أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأذِنَ أَبُو بَكْرٍ فَأذِنَ لَهُ، وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الحال، فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ، وَهُوَ كَذلِكَ، فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَسَوَّى ثِيَابَهُ – قَالَ مُحَمَّدٌ: ولا أقولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ، فَلَمَّا خَرَجَ قالتْ عَائِشَة دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ : أَلا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ.

    Artinya: “Dari Aisyah, dia berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW., berbaring di rumahku dalam keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau. Kemudian Abu Bakar meminta izin menemui beliau. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau masih dalam keadaan sebagaimana adanya. Lalu Abu Bakar bercakap- cakap dengan beliau. Kemudian Umar datang meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau tetap demikian keadaannya. Mereka pun berbincang-bincang. Kemudian Utsman datang minta izin untuk menemui beliau. Beliau langsung duduk dan membenahi pakaian beliau. Utsman pun masuk dan berbincang-bincang. Ketika Utsman pulang, Aisyah berkata, ‘Abu Bakar masuk menemui engkau, tapi engkau tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya. Begitu pula ketika Umar masuk menemui engkau. Engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya. Ketika Utsman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaian engkau.’ Rasulullah saw., menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim).

    Kenapa malaikat malu kepada Utsman bin Affan?

    Dari buku The Great Figure of Utsman bin Affan Kisah Teladan Sang Ahli Sedekah yang Menjalani Sifat Zuhud karya A.R. Shohibul Ulum dijelaskan Nabi Muhammad SAW menghormati Utsman bin Affan bukan karena usia, sebab Utsman lebih mudah dari Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW menghormati Utsman karena kemuliaan akhlak Utsman yang berada di atas rata-rata manusia umumnya.

    Rasa malu Utsman juga bukan malu yang dibuat-buat atau hanya menjaga image saja. Akan tetapi sifat malunya sudah mendarah daging bersatu dengan jiwanya.

    Rasa malunya membuat dia takut berbicara, segan berdialog, dan berdebat lama-lama. Tetapi Utsman tetaplah orang yang gigih dan tidak mudah menyerah. Sehingga rasa malunya inilah yang memberikan kebaikan, keberkahan, kelembutan, dan kasih sayang.

    Dan sungguh, “Malu kepada Allah, yaitu dengan menjaga apa yang di kepala, menjaga apa isi perut, dan selalu ingat dengan kematian serta meninggalkan gemerlapnya dunia,” tutur Ibnu Mas’ud ketika menjelaskan makna malu yang hakiki.

    Selain itu, Al-Junaid rahimahullah berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.”

    Karena rasa malu Utsman bin Affan yang begitu dalam, dan juga telah menjaga dirinya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang merupakan aurat bisa dilihat orang lain, maka malaikat pun malu kepadanya.

    Demikianlah kisah luar biasa dari Utsman bin Affan yang dapat membuat para malaikat merasa malu terhadapnya. Karena rasa malu membuatnya terhindar dari keburukan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Pemuda Jerman Ini Bersepeda ke Masjid Al Aqsa selama 2 Bulan, Ada Apa?



    Jakarta

    Seorang pemuda berusia 27 tahun asal Jerman bernama Billal Higo melakukan perjalanan dari Jerman ke Palestina pada Idul Fitri lalu. Perjalanan sejauh kurang lebih 3.500 kilometer tersebut ditempuhnya hanya menggunakan sepeda.

    Billal melakukan perjalanan tersebut untuk mengunjungi Masjid Al Aqsa yang berada di Palestina. Ia menjelaskan tujuannya bersepeda ke Masjid Al Aqsa untuk menghabiskan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan sekaligus merayakan Idul Fitri di sana.

    “Aku ke sini untuk menghabiskan sepuluh malam terakhir Ramadan di rumah kita (Palestina),” kata Billal kepada TRT World, dikutip Jumat (26/4/2024).


    Billal mulai mengayuh sepedanya dari kota Munich, Jerman menuju Palestina selama dua bulan. Sebelum melakukan perjalanan, ia mengaku telah berlatih selama dua sampai tiga tahun sebagai bentuk persiapan.

    Selama perjalanan tersebut, Billal telah melintasi 14 negara. Dimulai dari Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Bosnia, Serbia, Kosovo, Makedonia, Bulgaria, Yunani, Turki, Siprus, Yordania, dan destinasi akhir Palestina. Setibanya di Masjid Al Aqsa, Billal mengunggah foto dirinya sembari mengangkat sepedanya dengan caption, “Selamat Idul Fitri, teman-teman! 3.500 km dan 2 bulan bersepeda demi ke sini pada 10 malam terakhir Ramadan dan Idul Fitri. Beberapa pengalaman memang tidak bisa dibeli dengan uang tetapi pengorbanan,”

    Billal kemudian membagikan pengalamannya selama melakukan perjalanan panjang dengan sepeda melalui unggahan video selama 1 menit 8 detik. Ia mengawalinya dengan menggambarkan perjalanan yang panjang ia tempuh merupakan bentuk representasi dari kehidupan.

    “Aku bisa bilang bahwa perjalanan ini merupakan seperti bentuk representasi dari kehidupan yang dijalani. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari tetapi kamu terus lewati dengan usaha terbaik dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT,” ungkapnya.

    Kemudian, ia juga memberikan tantangan terbesar selama melakukan perjalanan jauhnya dengan hanya bermodal sepeda. “Aku pikir bagian terberat dari perjalanan ini adalah harus menjaga kondisi tubuh selalu sehat dan tetap termotivasi apabila perjalanan tidak sesuai rencana,” ujarnya.

    Billal pun menutup video itu dengan ucapan yang dapat memotivasi banyak orang. “Ketika kamu harus mengorbankan segala untuk pergi ke suatu tempat, kamu akan lebih menghargainya,” pungkasnya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Bilal bin Rabah, Seorang Budak yang Dijamin Masuk Surga


    Jakarta

    Bicara mengenai sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menemani beliau memperjuangkan dakwah Islam, terdapat salah satu kisah sahabat nabi yang amat menginspirasi. Inilah kisah Bilal bin Rabah, budak jadi ahli Surga.

    Dari buku Bilal bin Rabah karya Abdul Latip Talib menceritakan kisah perjalanan hidup sahabat Rasulullah yakni Bilal bin Rabah.

    Bilal Bin Rabah lahir di daerah as-Sarah terletak di pinggiran kota Makkah, mempunyai ayah bernama Rabah, dan ibunya bernama Hamamah, seorang wanita berkulit hitam. Oleh karena itu, ada yang memanggil Bilal bin Rabah dengan sebutan Ibnus-Sauda’, atau putra warna hitam.


    Kemudian beranjak dewasa, Bilal dibesarkan di Makkah sebagai seorang hamba milik keluarga Bani Abdul Dar, lalu sesudah ayahnya meninggal dunia, Bilal diserahkan kepada Umayyah bin Khalaf, tokoh penting kaum Quraisy.

    Bilal termasuk kalangan yang awal memeluk Islam, Umayah pun tahu karena hal itu dia menyiksa Bilal tanpa belas kasihan.

    Bilal bin Rabah disiksa Umayah tanpa henti, pertama dia dipukul, sampai diarak keliling kota Makkah. Karena Bilal masih bertahan, dia dijemur di atas pasir terik panas matahari, tanpa makan dan minum.

    Ketika mataahari tepat di atas kepala dan padang pasir menjadi panas sekali, Bilal dipakaikan baju besi, dan dibiarkan berjemur di bawah terik cahaya matahari, dadanya pun ditimpa batu. Dalam keadaan kepayahan itu, iman Islam Bilal bin Rabah tidak goyah sedikitpun.

    Umayah memaksa Bilal menyebut al-Latta dan al-Uzza, tetapi mulut Bilal tetap saja menyebut, “Allah… Allah… Allah.”

    Berita mengenai siksaan Bilal akhirnya sampai dimulut Abu Bakar As-Sidiq, lalu beliau membeli Bilal dan memerdekannya dari Umayah dengan harga sembilan uqiyah emas.

    Bagi Umayah jika Abu Bakar membeli Bilal dengan harga 1 uqiyah emas pun akan diberikan, namun bagi Abu Bakar andai Umayah memasang harga 100 uqiyah emas, Abu Bakar akan tetap membebaskannya.

    Muadzin Pertama Umat Islam

    Dari buku The Great Sahaba karya Rizem Aizid dijelaskan kisah muadzin pertama umat Islam.

    Selama di Madinah, Bilal Bin Rabah selalu berada di samping Nabi Muhammad SAW, ketika menunaikan ibadah shalat, ataupun berjihad, saking dekatnya Bilal dengan Rasulullah SAW, sampai dia dijuluki bayangan Nabi Muhammad SAW.

    Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah kemudian mengisyaratkan mengumandangkan adzan sebelum mendirikan shalat. Namun, yang menjadi pertanyaan siapa yang dapat menjadi muadzin?

    Dari semua sahabat yang hadir, Nabi Muhammad SAW pun menunjuk Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan. Oleh karena itu, Bilal menjadi orang pertama diantara umat Islam yang menjadi muadzin, hingga suaranya terdengar kencang ke seluruh Madinah, gelarnya adalah Muadzin ar-Rasul. Hingga masa kini banyak orang-orang memanggil muadzin dengan nama Bilal.

    Pensiunnya Bilal Bin Rabah

    Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Bilal menjadi salah satu sahabat nabi yang sangat terpukul akibat kepergian Rasulullah SAW, hingga dirinya memutuskan pensiun dari menjadi muadzin.

    Suatu ketika Khalifah Abu Bakar RA, meminta Bilal bin Rabah supaya menjadi muadzin kembali, namun dengan perasaan yang masih sedih, dia berkata, “Aku hanya menjadi muadzin Rasulullah. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

    Sejak saat itu Bilal bin Rabah tidak lagi mengumandangkan adzan, kecuali hanya sebanyak dua kali, kemudian Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah, dan tinggal di Homs, Syria.

    Menurut kisah Bilal bin Rabah hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari, selalu sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullahaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Kemudian Bilal langsung menangis tersedu-sedu.

    Demikianlah kisah Bilal bin Rabah dari budak jadi ahli Surga. Semoga detikers mendapatkan pelajaran dari cerita tersebut.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tempat Diturunkannya Nabi Adam dan Hawa ke Bumi


    Jakarta

    Nabi Adam AS adalah nabi pertama sekaligus manusia pertama yang Allah SWT ciptakan di alam semesta ini, hingga akhirnya melalui tulang rusuk Adam, Allah SWT hadirkan Siti Hawa seorang wanita sebagai pasangannya.

    Kisah mengenai nabi Adam AS diceritakan dalam Al-Qur’an yakni surah Al-Baqarah. Berikut penjelasan surah Al-Baqarah ayat 30:

    وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠


    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Dan surah Al-Baqarah ayat 31:

    وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٣١

    Artinya: “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”

    Nabi Adam AS dan Siti Hawa Memakan Buah Khuldi

    Dari buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul karya Aifa Syah dikisahkan mengenai iblis yang dibantu oleh ular untuk masuk ke Surga, kemudian bertemu dengan nabi Adam AS dan Siti Hawa.

    Iblis pun merayu mereka, “Mengapa kalian tidak memakan buah khuldi ini? Tahukah kalian buah ini bisa membuat kalian tetap tinggal di Surga.”

    Nabi Adam AS dan Siti Hawa pada awalnya mampu menahan godaan tersebut, namun iblis terus saja merayu mereka, hingga keduanya tergoda untuk memakan buah tersebut. Padahal Allah SWT melarang keduanya untuk memakan buah khuldi.

    Ketika nabi Adam AS dan Siti Hawa makan buah tersebut maka tampaklah aurat keduanya yang selama ini tidak terlihat, “Ya Allah kami telah melakukan dosa besar, ampuni kami ya Allah.” Ujar nabi Adam AS dan Siti Hawa.

    Mereka berdua menyesal, namun Allah SWT tetap menurunkan nabi Adam AS dan Siti Hawa ke Bumi, keduanya tidak dapat lagi menikmati apapun yang ada di Surga, dan mereka mesti berusaha mencari makanan di Bumi.

    Tempat Diturunkannya Adam dan Hawa

    Dari buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul karya Ahmad Fatih, S.Pd. disebutkan tempat turunnya nabi Adam AS dan Siti Hawa ke Bumi.

    Surah Al-Arah ayat 24:

    قَالَ اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚوَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ ٢٤

    Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang telah ditentukan.”

    Nabi Adam AS dan Siti Hawa tidak diturunkan dalam satu tempat yang sama di Bumi. Nabi Adam diturunkan di Sri Lanka tepatnya di puncak bukit Sri Pada, sementara Siti Hawa diturunkan di daerah Arab.

    Keduanya terpisah, hingga akhirnya dipertemukan kembali oleh Allah SWT di Jabal Rahmah. Mereka pun memulai kehidupan barunya di Bumi, banyak hal baru yang dipelajari oleh Nabi Adam AS.

    Hikmah kisah Adam dan Hawa

    · Manusia sebagai khalifah di Bumi harus senantiasa menjaga kelestarian alam, menghindari permusuhan

    · Iblis akan selalu menentang perintah Allah SWT dan menyesatkan manusia

    · Hindari sikap sombong, sebab Allah SWT telah mengutuk iblis karena kesombongannya

    · Segera bertobat ketika melakukan kesalahan, seperti nabi Adam AS dan Siti Hawa yang memohon ampunan kepada Allah SWT saat memakan buah Khuldi.

    Demikian penjelasan tempat diturunkannya Adam dan Hawa, mulai dari kisah keduanya memakan buah Khuldi, hingga hikmah yang bisa diambil. Semoga detikers bisa mengambil pelajaran dari cerita di atas.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Durhakanya Kaum Tsamud terhadap Nabi Saleh AS



    Jakarta

    Kaum Tsamud adalah sekelompok masyarakat yang menyembah berhala. Mereka hidup di suatu dataran bernama Al-Hijir.

    Ridwan Abdullah Sani melalui bukunya yang berjudul Hikmah Kisah Nabi dan Rasul menjelaskan bahwa kaum Tsamud menempati daerah yang letaknya antara Hijaz dan Syam (daerah antara barat laut Arab Saudi dan daerah Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon). Sebelum dikuasai kaum Tsamud, daerah tersebut sempat diduduki suku ‘Ad yang yang merupakan leluhur mereka.

    Allah SWT mengutus Nabi Saleh AS untuk mengajak kaum Tsamud ke jalan yang benar. Sang nabi tak henti-hentinya mengingatkan rahmat yang mereka miliki adalah hasil pemberian Allah SWT.


    Kaum Tsamud dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Sayangnya, hal tersebut tidak menjadikan mereka beriman kepada Allah SWT.

    Dakwah ajakan Nabi Saleh kepada Kaum Tsamud untuk beriman kepada Allah SWT dijelaskan dalam surah Hud ayat 61,

    وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِوَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

    Artinya: “Kepada (kaum) Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya). Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”

    Gaya hidup kaum Tsamud senang berfoya-foya, mabuk-mabukan, berzina dan tak segan melakukan tindak kejahatan. Meski demikian, ajakan Saleh AS tidak digubris. Kaum Tsamud justru marah dan berkata,

    “Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan. Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Sesungguhnya, kami ragu dan khawatir terhadap agama yang kamu serukan kepada kami,” (QS Hud: 62).

    Meski ada sekelompok kecil dari Kaum Tsamud yang menerima ajaran Nabi Saleh, sebagian besar penduduk yang memiliki kekayaan berlimpah dan kedudukan tinggi justru bersikeras menolak ajakan Nabi Saleh AS.

    Saleh AS tidak patah semangat dan terus berjuang. Ia lantas memohon kepada Allah SWT untuk memberikannya mukjizat agar kaum Tsamud percaya dan bertobat.

    Lalu, Allah SWT meminta Nabi Saleh memukulkan tangannya ke atas permukaan batu yang ada di depannya hingga muncul seekor unta betina dengan ukuran besar dan gemuk. Melihat peristiwa tersebut, kaum Tsamud terperanjat. Sebagian dari mereka mengakui Nabi Saleh AS sebagai utusan Allah, tetapi ada juga yang menganggap mukjizat tersebut hanya permainan sihir.

    Nabi Saleh AS mengizinkan warga kaum Tsamud untuk memerah dan meminum susu dari unta betina tersebut. Sayangnya, ada beberapa warga yang khawatir akan keberadaan unta itu karena meminum banyak air dari sumber air kaum Tsamud.

    Lantas, dua pemuda Kaum Tsamud yang bernama Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif membunuh unta betina tersebut.

    Tindakan tersebut membuat Nabi saleh sedih dan mengatakan bahwa akan datang azab bagi kaum Tsamud apabila enggan kembali ke jalan Allah. Tanda-tanda dari datangnya azab tersebut ialah pada hari pertama, wajah mereka berubah menjadi kuning saat terbangun dari tidur.

    Hari kedua, warna wajah kembali berganti menjadi merah. Selanjutnya di hari keempat berubah lagi menjadi hitam.

    Hingga akhirnya pada hari keempat, turunlah azab Allah. Sebelum hari datangnya azab, Nabi Saleh dan pengikutnya pergi meninggalkan daerah Kaum Tsamud.

    Walau sudah begitu, ancaman Nabi Saleh AS justru membuat kaum Tsamud semakin murka. Mereka bahkan berencana membunuh sang nabi.

    Atas izin Allah, ketika mereka hendak membunuh Nabi Saleh maka turunlah petir menggelegar dan gempa bumi yang dahsyat disertai batu-batu besar yang entah dari mana asalnya menimpa kepala mereka.

    Naudzubillah min dzalik.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com