Blog

  • Mengenal Istri-istri Nabi Ibrahim yang Melahirkan Para Nabi

    Mengenal Istri-istri Nabi Ibrahim yang Melahirkan Para Nabi


    Jakarta

    Dalam sejarah besar umat Islam, kisah Nabi Ibrahim AS tidak bisa dipisahkan dari dua perempuan yang luar biasa yang begitu salihah, yakni Siti Sarah dan Siti Hajar. Keduanya bukan hanya istri dari seorang nabi besar, tetapi juga ibu dari para nabi yang menjadi penerang bagi umatnya.

    Melalui Siti Sarah, lahir Nabi Ishaq AS yang kelak menurunkan Nabi Yakub AS dan para nabi kalangan bani Israil. Sementara itu, dari rahim Siti Hajar, lahir Nabi Ismail AS, leluhur Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam untuk umat akhir zaman.

    Berikut ini adalah kisah para istri Nabi Ibrahim yang begitu hebat dan salihah.


    Kisah Siti Sarah dan Ketabahannya

    Dalam buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi karya Rizem Aizid, diceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS bersama istri pertamanya, Siti Sarah, awalnya tinggal di Babilonia. Sarah dikenal sebagai wanita yang sangat cantik, baik dari segi fisik maupun akhlak dan budi pekertinya.

    Sarah begitu taat kepada suaminya dan mengikuti ajarannya untuk beriman kepada Allah SWT. Namun, suatu hari, Sarah mengalami cobaan ketika memasuki wilayah Mesir karena kecantikannya yang mempesona.

    Kecantikan Sarah yang luar biasa menarik perhatian Raja Mesir, yang berniat menjadikannya sebagai selir. Namun, berkat keimanan yang kokoh dan doa-doanya yang tulus, Sarah berhasil terhindar dari niat buruk sang raja.

    Bahkan, Raja Mesir akhirnya mempersilakannya pulang dan memberikan hadiah berupa seorang budak bernama Hajar.

    Seiring berjalannya waktu, Sarah semakin menua, namun belum juga dikaruniai keturunan oleh Allah SWT dari pernikahannya dengan Nabi Ibrahim AS. Dengan ikhlas dan atas petunjuk dari Allah SWT, Sarah kemudian menawarkan suaminya untuk menikahi Hajar dengan harapan mereka akan dianugerahi keturunan.

    Sarah berkata kepada suaminya, “Wahai suamiku, kekasih Allah, inilah Hajar, aku serahkan dia kepadamu. Semoga Allah memberikan kita keturunan darinya.”

    Akhirnya, Nabi Ibrahim AS menikah dengan Hajar, dan dari pernikahan tersebut, lahirlah putra pertama mereka yang diberi nama Ismail.

    Dalam Buku Tafsir Qashashi Jilid IV: Umat Terdahulu, Tokoh, Wanita, Istri dan Putri Nabi Muhammad SAW karya Syofyan Hadi, dikisahkan bahwa Sarah telah menikah dengan Nabi Ibrahim AS selama 80 tahun namun belum juga dikaruniai anak.

    Setelah Sarah memberikan izin kepada Ibrahim untuk menikahi Hajar yang kemudian melahirkan Ismail, barulah 12 tahun kemudian Sarah pun hamil.

    Meskipun usianya sudah lanjut, Sarah akhirnya melahirkan seorang anak dari Nabi Ibrahim AS, yang diberi nama Ishaq. Nabi Ishaq AS juga menjadi hamba Allah SWT yang istimewa karena menjadi nabi yang menyiarkan ajaran Allah SWT kepada umatnya.

    Kisah Siti Hajar dan Perjuangannya

    Diceritakan dalam buku Spiritualitas Haji oleh Nur Kholis, setelah Nabi Ismail AS lahir dari Hajar, Sarah merasa khawatir dan cemburu. Sarah mulai merasa khawatir akan masa depannya dan sering menginginkan agar Nabi Ibrahim AS membawa Hajar pergi jauh dari kehidupannya.

    Akhirnya, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membawa Hajar dan putra mereka, Ismail, ke tempat yang jauh dari Palestina, dan Nabi Ibrahim AS pun menjalankan perintah tersebut.

    Setelah berminggu-minggu menempuh perjalanan melintasi padang pasir yang tandus, panas di siang hari, dan dingin di malam hari, mereka tiba di sebuah dataran rendah yang hanya memiliki satu pohon besar.

    Di tempat itulah, Nabi Ibrahim AS meninggalkan istri dan anak yang sangat ia cintai, di sebuah lokasi terpencil yang jauh dari peradaban manusia. Kisah ini menandai awal mula munculnya mata air Zamzam, yang tidak akan pernah kering hingga akhir zaman.

    Dalam Sejarah Terlengkap 25 Nabi, Rizem Aizid menceritakan bahwa setelah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS, persediaan makanan dan perlengkapan Hajar dan anaknya mulai menipis, sehingga kehidupan mereka menjadi semakin sulit.

    Kondisi ini semakin berat karena Nabi Ismail AS yang masih menyusu pada Hajar, mulai menangis terus-menerus karena kelaparan, sementara air susu Hajar semakin berkurang.

    Mendengar tangisan Nabi Ismail AS yang menyayat hati, Hajar menjadi bingung, panik, dan cemas. Ia mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan atau air yang bisa diminum dengan berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT.

    Allah SWT kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menolong Hajar dan Ismail. Ketika Nabi Ismail AS menangis dan menghentakkan kakinya di atas pasir, muncullah sebuah mata air dari tempat tersebut.

    Hajar sempat merasa takut karena kemunculan air itu disertai bunyi seperti suara binatang buas. Namun, ia segera menyadari bahwa itu adalah mata air yang mengalir deras, dan ia segera menampung air tersebut.

    Ketika air ini muncul, Hajar mengucapkan kata, “Zamzam… Zamzam…” yang berarti “Berkumpul… Berkumpul.” Ini kemudian menjadi nama mata air Zamzam yang airnya tidak pernah kering hingga kini.

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Wafatnya Rasulullah SAW di Pangkuan Istri pada 12 Rabiul Awal

    Wafatnya Rasulullah SAW di Pangkuan Istri pada 12 Rabiul Awal



    Jakarta

    Sejumlah riwayat mengisahkan Rasulullah SAW wafat di pangkuan salah satu istrinya yang bernama Aisyah RA. Beliau wafat di usianya yang menginjak ke-63 tahun.

    Menurut Tarikh Al-Khulafa’ karya Imam As Suyuthi terjemahan Samson Rahman, Rasulullah SAW wafat pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Duka itu menyelimuti umat Islam di Madinah hingga kesedihan mendalam bagi para sahabat seperti Umar bin Khattab RA dan Abu Bakar Ash Shiddiq RA.

    Sebelum wafat, Rasulullah SAW menderita sakit selama beberapa hari. Menurut Abu Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi dalam Sirah Nabawiyah terjemahan Muhammad Halabi Hamdi, Rasulullah SAW mulai jatuh sakit pada akhir bulan Safar tahun ke-11 Hijriah.


    Berdasarkan cerita Aisyah RA, Rasulullah SAW jatuh sakit setelah mengunjungi pemakaman para sahabatnya di Baqi’ al Gharqad. Sepulang dari pemakaman, beliau menemui Aisyah RA di rumahnya.

    Namun, justru Aisyah RA yang lebih dulu mengeluhkan sakit. Ia mengeluh sakit di kepalanya.

    Setelahnya, Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan, demi Allah, kepalaku lebih sakit, wahai Aisyah.” Itu merupakan keluhan pertama Rasulullah SAW terkait sakit yang dideritanya.

    Nabi Muhammad SAW kemudian memanggil istri-istrinya dan meminta izin tinggal di rumah Aisyah RA selama sakit. Di rumah Aisyah RA inilah Rasulullah SAW wafat.

    “Maut datang kepada Rasulullah ketika kepala Beliau berada di pangkuanku,” kata Aisyah RA.

    Sebelum wafat, dikisahkan Rasulullah SAW sempat pingsan sebentar, lalu tersadar. Saat sadar pandangan beliau mengarah ke atap rumah dan berkata, “Allahumma ar-rafiqal a’la (Ya Allah Dzat yang Maha Tinggi).”

    Setelah mengucapkan kalimat itu, Rasulullah SAW wafat.

    Menurut riwayat, Aisyah RA kemudian mengambil bantal lalu meletakkan kepala Rasulullah SAW di bantal itu. Aisyah RA lalu mengumumkan berita duka itu dengan suara keras.

    Dikutip dari Said Al-A’zhawi An-Nadawi dalam buku Aisyah yang diterjemahkan Ghozi Mubarok, ada hadits dari riwayat Imam Ahmad mengisahkan tentang hal ini.

    “Rasulullah SAW meninggal dunia di atas pangkuanku. Kuperhatikan wajah Beliau. Ternyata pandangan Beliau tertuju ke atas. Kemudian kutaruh kepala Beliau di atas bantal. Aku pun menangis bersama wanita-wanita lain sambil memukul dada dan wajahku.” (HR Ahmad)

    Pendapat lain mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW wafat di pangkuan Ali bin Abi Thalib RA. Dikutip dari M Quraish Shihab dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad, hal ini dikemukakan Al Waqidi yang dikutip oleh Ibnu Sa’sd dalam Thabaqat-nya meski beberapa ulama tidak menerima riwayatkan karena dikenal tidak akurat dalam periwayatannya.

    Rasulullah SAW dikisahkan meminta Ali RA mendekat lalu beliau bersandar padanya.

    Ali RA bercerita, “Sampai-sampai sebagian ludah beliau mengenai badanku. Tidak lama kemudian, Rasulullah SAW terjatuh memberati pangkuanku maka aku berteriak memanggil al Abbas.” Ia pun membaringkan Rasulullah SAW.

    Wallahu a’lam.

    (rah/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mukjizat Nabi Harun AS dan Kisah Wafatnya

    Mukjizat Nabi Harun AS dan Kisah Wafatnya


    Jakarta

    Mukjizat Nabi Harun AS termasuk anugerah yang ia peroleh sebagai utusan Allah SWT. Harun AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani umat Islam.

    Kisah mengenai Nabi Harun AS tak dapat dipisahkan dengan Nabi Musa AS. Keduanya adalah sosok yang selalu berdampingan dalam menegakkan agama Allah SWT.

    Dijelaskan dalam buku Mengenal Mukjizat 25 Nabi tulisan Eka Satria dan Arif Hidayah, keduanya memerangi Firaun yang kala itu menjadi pemimpin zalim. Firaun enggan beriman kepada Allah SWT.


    Turut diterangkan oleh Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya yang diterjemahkan Umar Mujtahid, para mufassir menyebutkan Nabi Harun AS lahir pada tahun sebelum hukuman mati bagi bayi lelaki berlaku, berbeda dengan Nabi Musa AS yang lahir ketika hukuman tersebut diberlakukan.

    Dakwah Harun AS bersama Musa AS memerangi Firaun tercantum dalam surah Thaha ayat 47-48. Allah SWT berfirman,

    فَأْتِيَاهُ فَقُولَآ إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ ۖ قَدْ جِئْنَٰكَ بِـَٔايَةٍ مِّن رَّبِّكَ ۖ وَٱلسَّلَٰمُ عَلَىٰ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلْهُدَىٰٓ إِنَّا قَدْ أُوحِىَ إِلَيْنَآ أَنَّ ٱلْعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

    Artinya: “Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.”

    Mukjizat Nabi Harun AS

    Berikut mukjizat yang Allah SWT karuniai kepada Nabi Harun AS sebagaimana merujuk pada sumber yang sama.

    1. Kemampuan Bicara yang Hebat

    Nabi Harun AS dianugerahi lisan yang fasih. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai berbicara, karenanya dakwah yang ia sampaikan mudah diterima.

    Selain itu, Nabi Harun AS juga sangat piawai dan tegas dalam berdakwah menyampaikan ajaran tauhid. Dialah sosok yang membantu Nabi Musa AS berdebat dengan raja Firaun kala itu.

    2. Tongkat yang Berbunga

    Mukjizat Nabi Harun AS lainnya adalah tongkat yang berbunga. Kala itu, bani Israil sedang memutuskan siapa orang yang bisa memimpin mereka sampai-sampai timbul perdebatan.

    Atas perintah Allah SWT, setiap suku bani Israil diminta meletakkan tongkat di tempat suci. Begitu pula dengan Nabi Harun AS yang meletakkan tongkatnya.

    Dengan kuasa Allah SWT, tongkat Nabi Harun AS ditemukan bertunas dan berbunga keesokan harinya. Inilah yang jadi pertanda bahwa ia terpilih sebagai pemimpin bani Israil.

    3. Janggut Dua Warna

    Nabi Harun AS dimukjizati janggut yang terdiri dari dua warna. Nasikin Purnama dalam buku Iman dan Takwa Peraih Muflihun menyebut warna janggut beliau adalah hitam dan putih.

    Warna putih itu diperoleh Nabi Harun AS ketika Nabi Musa AS menarik janggutnya. Kala itu, Musa AS marah karena pengikutnya menyembah patung lembu dari emas ketika ia pergi.

    Secara tiba-tiba, warna janggut yang ditarik berubah menjadi putih. Sementara itu, bagian janggut yang tidak ditarik masih berwarna hitam. Sejak saat itu, warna janggut sang nabi menjadi dua warna.

    Wafatnya Nabi Harun AS

    Mengacu pada Qashashul Anbiya, kisah wafatnya Nabi Harun AS diterangkan dalam sebuah riwayat. As Suddi meriwayatkan dari Abu Malik dan Abu Shalih dari Ibnu Abbas dari Marrah dari Ibnu Mas’ud dari sejumlah sahabat mereka berkata,

    “Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, ‘Sungguh, Aku mewafatkan Harun. Bawalah dia ke gunung ini dan itu.’

    Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS lalu pergi ke gunung yang dimaksud. Mereka berada di hadapan sebuah pohon asing yang belum pernah terlihat pohon seindah itu.

    Tanpa diduga, mereka berada di sebuah rumah yang sudah dibangun. Mereka kemudian berada di atas kasur bertahtakan hamparan, lalu ada angin sepoi-sepoi menerpa.

    Saat harun melihat gunung, rumah dan semua yang membuatnya kagum, ia berkata, ‘Hai Musa! Aku ingin tidur di atas kasur ini,’

    Musa AS berkata padanya, ‘Silahkan!’

    Nabi Harun AS mengatakan, ‘Aku takut jika tuan pemilik rumah ini datang lalu marah padaku.’

    Musa AS berkata padanya, ‘Jangan takut, biar aku yang mengurus tuan pemilik rumah ini. Tidur saja kamu!’

    Harun AS berkata, ‘Hai Musa! Mari tidur bersamaku. Jika tuan pemilik rumah ini datang, biar kita berdua kena marah,’

    Saat keduanya tertidur, Harun AS dicabut nyawanya. Ketika merasakan kematian, Nabi Harun AS berkata, ‘Hai Musa! Kau telah menipuku,’

    Setelah nyawa Harun AS dicabut, rumah tersebut dicabut dan pohon itu ikut lenyap bersamaan dengan kasur yang diangkat ke langit.

    Wallahu a’lam

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mukjizat Nabi Yusuf, Benarkah Mampu Menafsirkan Mimpi?

    Mukjizat Nabi Yusuf, Benarkah Mampu Menafsirkan Mimpi?


    Jakarta

    Nabi Yusuf AS adalah salah satu dari 25 nabi dan Rasul disebut dalam Al-Qur’an dan wajib kita ketahui. Ia adalah putra dari Nabi Yakub AS dan merupakan keturunan Nabi Ibrahim AS melalui garis keturunan Nabi Ishaq AS, putra Nabi Ibrahim AS.

    Nabi Yusuf AS adalah salah satu manusia yang paling mulia. Hal ini mengacu pada salah satu sabda Nabi Muhammad SAW.

    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang yang mulia, anak dari seorang yang mulia, cucu dari seorang yang mulia, cicit dari seorang yang mulia, yaitu Yusuf bin Yakub bin Ishaq bin Ibrahim.” (HR Bukhari & Ahmad)


    Nabi Yusuf AS dikenal memiliki sejumlah mukjizat yang menunjukkan kebesaran dan kuasa Allah SWT. Mukjizat-mukjizat tersebut menjadi bukti nyata keistimewaan beliau sebagai seorang nabi dan menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia sepanjang masa.

    Mukjizat Nabi Yusuf

    Nabi Yusuf AS dianugerahi beberapa mukjizat yang mencerminkan keagungan dan keajaiban dari Allah SWT. Keberadaan mukjizat-mukjizat ini menegaskan kedudukannya sebagai seorang nabi.

    1. Wajah yang Tampan

    Dikutip dari buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul oleh Aifa Syah, salah satu mukjizat Nabi Yusuf AS adalah memiliki wajah yang sangat tampan. Ketampanan Nabi Yusuf AS tersebut dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surat Yusuf ayat 31,

    فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ اَرْسَلَتْ اِلَيْهِنَّ وَاَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَـاً وَّاٰتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّيْنًا وَّقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۚ فَلَمَّا رَاَيْنَهٗٓ اَكْبَرْنَهٗ وَقَطَّعْنَ اَيْدِيَهُنَّۖ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًاۗ اِنْ هٰذَآ اِلَّا مَلَكٌ كَرِيْمٌ ٣١

    Artinya: “Maka, ketika dia (istri al-Aziz) mendengar cercaan mereka, dia mengundang wanita-wanita itu dan menyediakan tempat duduk bagi mereka. Dia memberikan sebuah pisau kepada setiap wanita (untuk memotong-motong makanan). Dia berkata (kepada Yusuf), “Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka sangat terpesona (dengan ketampanannya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri seraya berkata, “Mahasempurna Allah. Ini bukanlah manusia. Ini benar-benar seorang malaikat yang mulia.” (QS Yusuf: 31)

    Menurut buku Takdir dan Mukjizat Manusia Tertampan Yusuf Alaihi Salam yang ditulis oleh Sulistyawati Khairu, Nabi Yusuf AS memulai dakwahnya saat berada di penjara. Ia dipenjara oleh majikannya, Al-Aziz, karena memiliki paras tampan.

    Ketampanan Nabi Yusuf AS membuat Al-Aziz merasa terganggu. Sebab, banyak wanita Mesir datang ke rumahnya hanya untuk melihat wajah Nabi Yusuf AS.

    Bahkan Siti Zulaikha, seorang wanita yang sudah bersuami, pun tergoda oleh ketampanan Nabi Yusuf AS. Rasulullah SAW pernah menggambarkan keindahan Nabi Yusuf AS seolah mencakup setengah dari keindahan seluruh alam semesta, sedangkan setengahnya lagi dibagikan kepada semua manusia di bumi.

    2. Mampu Menafsirkan Mimpi

    Allah SWT memberikan mukjizat kepada Nabi Yusuf AS dengan kemampuannya dalam menafsirkan mimpi. Mukjizat Nabi Yusuf AS ini diceritakan Allah dalam surat Yusuf ayat 43,

    وَقَالَ الْمَلِكُ اِنِّيْٓ اَرٰى سَبْعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعَ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍۗ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ اَفْتُوْنِيْ فِيْ رُءْيَايَ اِنْ كُنْتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُوْنَ٤٣

    Artinya: “Raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus serta tujuh tangkai (gandum) yang hijau (dan tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai para pemuka kaum, jelaskanlah kepadaku tentang mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkannya!

    Dalam buku Takdir dan Mukjizat Manusia Tertampan Yusuf Alaihi Salam yang ditulis oleh Sulistyawati Khairu, dijelaskan bahwa Nabi Yusuf AS memanfaatkan mukjizatnya untuk berdakwah. Beliau mengajarkan kepada orang-orang yang meminta tafsir mimpinya untuk beribadah hanya kepada Allah SWT.

    Mukjizat ini diceritakan digunakan dalam penafsiran mimpi Raja Mesir. Awalnya, Nabi Yusuf AS menafsirkan mimpi Raja Mesir kepada dua mantan pelayan kerajaan yang juga menjadi tahanan, dan mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa kagum.

    Penjelasan Nabi Yusuf AS mengejutkan kedua tahanan tersebut karena beliau memperkenalkan ajaran agama Nabi Ibrahim AS dan mengajak mereka untuk tidak menyekutukan Allah SWT.

    Karena berita tentang kemampuan tafsir mimpi Nabi Yusuf AS menyebar di kalangan istana, Raja Mesir memanggilnya untuk menjelaskan mimpi-mimpinya yang terkait angka tujuh. Nabi Yusuf AS menafsirkan bahwa tujuh sapi gemuk melambangkan masa kemakmuran dan kesuburan, sedangkan tujuh sapi kurus melambangkan masa kemalangan dan kekeringan.

    Nabi Yusuf AS menafsirkan mimpi itu sebagai tanda tujuh tahun masa panen melimpah yang akan diikuti oleh tujuh tahun kekeringan panjang.

    Selain itu, biji gandum dalam mimpi tersebut melambangkan hasil pertanian. Nabi Yusuf AS menyarankan agar selama tujuh tahun masa panen, pemerintah dan rakyat menabung sebagian hasil pertanian untuk menghadapi tujuh tahun kekeringan yang akan datang.

    Mendengar tafsiran ini, Raja Mesir segera memerintahkan pembuatan lumbung untuk menyimpan cadangan pangan yang cukup untuk menghadapi tujuh tahun kekeringan seperti yang diramalkan Nabi Yusuf AS.

    Berkat tafsirannya yang tepat, Nabi Yusuf AS akhirnya dibebaskan dari penjara dan diangkat sebagai bendahara kerajaan Mesir.

    3. Baju Nabi Yusuf Membuat Nabi Yakub Bisa Melihat

    Kembali mengutip dari buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul oleh Aifa Syah, mukjizat Nabi Yusuf AS yang lainnya adalah bajunya yang bisa membuat ayahnya Nabi Yakub AS bisa melihat kembali setelah kehilangan penglihatannya.

    Pada masa itu, Nabi Yusuf AS disingkirkan oleh saudara-saudaranya yang merasa iri dan dengki terhadapnya. Hal ini disebabkan karena Nabi Yusuf AS adalah putra kesayangan Nabi Yakub AS dan istrinya.

    Saudara-saudaranya kemudian merencanakan jebakan dengan mengajak Nabi Yusuf AS pergi berburu ke hutan. Setibanya di sana, mereka menanggalkan pakaiannya dan melemparkan Nabi Yusuf AS ke dalam sumur yang kering.

    Ketika kembali ke rumah, mereka membawa pakaian Nabi Yusuf AS yang sudah dilumuri dengan darah domba. Mereka berbohong kepada Nabi Yakub AS dengan mengatakan bahwa Nabi Yusuf AS telah dimangsa serigala, sambil menunjukkan pakaian berlumuran darah itu sebagai bukti.

    Karena sangat berduka, Nabi Yakub AS terus menangisi kepergian Nabi Yusuf AS hingga menjadi buta. Namun, kesedihannya berubah menjadi kegembiraan ketika ia mengetahui bahwa Nabi Yusuf AS masih hidup.

    Dengan izin Allah SWT, ketika Nabi Yakub mengusap wajahnya dengan baju Nabi Yusuf AS, penglihatannya kembali pulih. Peristiwa ini tercatat dalam Surah Yusuf ayat 96.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Diserang Belalang, Katak, Kutu hingga Darah



    Jakarta

    Firaun era Nabi Musa AS adalah seorang raja yang ingkar dan enggan beriman kepada Allah SWT. Ia dan kaumnya ditimpa azab berupa serangan belalang, katak dan kutu.

    Kisah tentang azab yang menimpa Firaun ini terjadi pada masa Nabi Musa AS dan termaktub dalam Al-Qur’an surah Al A’Raf ayat 130-133. Allah SWT berfirman yang artinya,

    “Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.” Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”


    Azab bagi Firaun

    Dalam buku Qashash Al-Anbiyaa’ karya Imam Ibnu Katsir yang diterjemahkan Dudi Rosyadi dijelaskan adanya bencana yang melanda Firaun dan kaumnya yakni masyarakat Mesir. Bencana tersebut berupa musim paceklik yang mengeringkan tanah Mesir sehingga tidak ada tanaman yang tumbuh dan tidak ada susu hewan yang dapat dimanfaatkan.

    Meskipun telah dilanda musibah ini selama bertahun-tahun, Firaun dan kaumnya tetap enggan beriman. Mereka tetap kufur dan ingkar.

    Ketika kebaikan datang kepada mereka, yakni berupa kesuburan, mereka berkata “Ini adalah karena (usaha) kami.”

    Firaun dan kaumnya tidak mengakui bahwa kebaikan ini diterima karena keimanan Nabi Musa AS dan kaumnya. Pada masa itu Firaun dan Nabi Musa AS hidup berdampingan.

    Apabila Firaun ditimpa kesusahan maka mereka akan melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa AS dan pengikutnya. Bila datang kesusahan maka mereka menyalahkan orang-orang beriman.

    Dalam surah Al A’raf ayat 133, Allah SWT berfirman, “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

    Mengenai ath thufan (topan), sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa maksudnya adalah hujan deras yang diturunkan dengan kapasitas tinggi, hujan yang menyebabkan banjir, dan hujan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dan pepohonan.

    Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Utsman An Nahdi, dari Salman Al Farisi, ia berkata, “Nabi SAW pernah ditanya mengenai belalang, lalu beliau menjawab, “Belalang adalah salah satu jenis tentara Allah yang paling banyak jumlahnya. Aku tidak memakannya namun aku juga tidak mengharamkannya.”

    Ayat ini juga menyebutkan jaraad (belalang) sebagai bencana bagi Fir’aun dan kaumnya sebagai hewan yang menyerang tanaman mereka hingga tidak tersisa sayuran, buah, dedaunan atau rerumputan.

    Ayat ini juga menyebutkan al-qummal (kutu). Ibnu Abbas menjelaskan maksudnya adalah sejenis ulat yang keluar dari hasil tanaman, terutama gandum.

    Azab bagi Firaun juga berupa dhafadi (katak). Maksud dari katak sebagai bencana adalah hewan yang menyerbu istana Fir’aun dan rumah-rumah kaumnya hingga masuk ke bejana dan makanan. Bahkan ketika seorang ingin menyuap makanan maka seekor katak akan melompat lebih dulu ke dalam mulutnya.

    Adapun terkait damm (darah) sebagai bencana adalah bercampurnya darah ke dalam air-air yang mereka gunakan untuk minum, mandi, dan lain sebagainya sehingga mereka tidak dapat memanfaatkan air Sungai Nil, air sumur dan sumber air lainnya.

    Meskipun bencana itu diturunkan untuk seluruh masyarakat Mesir, tapi bani Israil kaum Nabi Musa AS sama sekali tidak merasakannya. Ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada orang-orang beriman.

    Wallahu a’lam.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Usia Rasulullah SAW Menikah dan Pertemuannya dengan Cinta Pertama


    Jakarta

    Rasulullah SAW bertemu dengan cinta pertamanya, Khadijah, pada waktu mereka berdagang. Dalam Sirah Nabawiyah, Khadijah menurut riwayat Ibn al-Atsir dan Ibn Ishaq adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya raya.

    Ia sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Kala itu, ia mendengar kabar kejujuran Nabi SAW dan kemuliaan akhlaknya. Khadijah coba mengamati Nabi SAW yang membawa barang dagangannya ke Syam.

    Dikutip dalam buku Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad dalam Kajian Sosial-Humaniora karya Dr. Ajid Thohir disebutkan bahwa Khadijah menitipkan barang dagangan yang lebih dari apa yang dibawakan orang lain. Dalam perjalanan dagang ini, Nabi SAW ditemani Maisarah, seorang pegawai kepercayaan Khadijah.


    Nabi Muhammad SAW menerima tawaran ini dan berangkat ke Syam bersama Maisarah untuk meniagakan barang-barang Khadijah. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah terhadapnya.

    Selama perjalanan tersebut Maisarah sangat mengagumi akhlak dan kejujuran Nabi. Semua sifat dan perilaku itu dilaporkan oleh Maisarah kepada Khadijah.

    Khadijah tertarik pada kejujurannya, dan ia pun terkejut oleh berkah yang diperoleh dari perniagaan Nabi SAW. Khadijah kemudian menyatakan keinginan untuk menikah dengan Nabi SAW dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi menyetujuinya, hingga kemudian beliau menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya.

    Pernikahan Pertama Rasulullah SAW

    Setelah itu, mereka meminang Khadijah untuk Nabi SAW kepada paman Khadijah, Amr bin Asad. Ketika menikahi Khadijah, Rasulullah SAW berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

    Sebelum menikah dengan Nabi SAW, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan Atiq bin A’idz at-Tamimi dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi, yang juga dikenal dengan Hindun bin Zurarah.

    Khadijah menjadi istri yang sosoknya sangat berpengaruh terhadap kehidupan Nabi SAW. Disebutkan dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali RA pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    “Sebaik-baik wanita (langit) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita (bumi) adalah Khadijah binti Khuwailid.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi SAW kecuali kepada Khadijah, sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Rasulullah SAW apabila menyembelih kambing, maka ia berpesan, ‘Kirimkan daging ini kepada teman-teman Khadijah. Pada suatu hari, aku marah kepada beliau, lalu aku katakan, ‘Khadijah?’ Maka Nabi SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku telah dikaruniai cintanya.’

    Sementara Ahmad dan Ath-Thabarani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah RA, ia berkata, “Hampir Rasulullah SAW tidak pernah keluar rumah sehingga menyebut Khadijah dan memujinya. Pada suatu hari, beliau menyebutnya, sehingga membuatku cemburu. Lalu aku katakan, ‘Bukankah ia hanya seorang wanita tua dan Allah telah mengganti dengan orang yang lebih baik darinya untuk engkau?’ Rasulullah SAW seketika marah seraya bersabda, ‘Demi Allah, Allah tiada menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakanku, dia membelaku dengan hartanya ketika orang- orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya, sementara aku tidak dikaruniai anak sama sekali dari istri-istriku yang lain.’

    Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah ini berlangsung hingga Khadijah meninggal dunia, tepatnya pada usia 65 tahun, sementara Rasulullah SAW telah mendekati usia 50 tahun.

    Dalam rentang waktu tersebut, beliau tidak pernah berpikir untuk menikah dengan wanita atau gadis lain.

    (lus/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Keledai Nabi Uzair Hidup Lagi Meski Tinggal Tulang Selama Ratusan Tahun



    Jakarta

    Kisah Nabi Uzair dan keledainya diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 259. Keledai Nabi Uzair yang telah menjadi tulang belulang bisa kembali hidup dan utuh.

    Kisah ini termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 259,

    أَوْ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْىِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُۥ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِا۟ئَةَ عَامٍ فَٱنظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَٱنظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَٱنظُرْ إِلَى ٱلْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ


    Artinya: Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minuman yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

    Dijelaskan dalam buku 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Quran karya Ridwan Abqary, Uzair adalah seorang nabi dari kaum bani Israil. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an dan disebutkan sebagai orang yang tertidur selama 100 tahun lamanya.

    Tidurnya Nabi Uzair ini terjadi atas kuasa Allah SWT. Bersama Nabi Uzair, ada seekor keledai yang mati. Setelah 100 tahun, tulang belulang keledai ini kembali berkumpul, terlapisi daging dan kembali hidup atas kehendak Allah SWT. Peristiwa ini disaksikan oleh Nabi Uzair.

    Nabi Uzair Tertidur 100 Tahun

    Merangkum kitab Qashash al-Anbiyaa karya Imam Ibnu Katsir yang diterjemahkan Dudi Rosyadi, suatu hari Nabi Uzair berteduh usai memetik buah-buahan, ia ditemani seekor keledai.

    Nabi Uzair beristirahat di sebuah tempat tua sambil menikmati sepotong roti dan air perasan anggur yang baru saja ia petik. Sambil menyandarkan kaki, ia merenungi pemandangan rumah yang atap-atapnya hampir roboh karena ditinggal penghuninya.

    Ia juga melihat tulang belulang yang tergeletak di sana seraya berkata, “Bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Ia tidak meragukan bahwa Allah dapat menghidupkan kembali negeri itu. Ia berkata seperti itu karena merasa takjub dengan kuasa Allah SWT.

    Di saat itu juga, Allah SWT mengutus malaikat maut untuk mencabut nyawanya, lalu ia dimatikan selama seratus tahun. Keledai Nabi Uzair pun mati beberapa hari setelahnya karena ia tak mendapatkan makan dan minum sementara ia diikat dengan kuat.

    Kisah Keledai Nabi Uzair

    Dalam kurun waktu 100 tahun itu, banyak peristiwa yang telah terjadi. Kemudian Allah SWT mengutus kembali malaikat untuk menghidupkan Nabi Uzair.

    Semua anggota tubuh Nabi Uzair mulai dihidupkan kembali. Pertama akalnya agar ia dapat berpikir, lalu matanya agar ia dapat melihat bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali orang yang sudah mati.

    Malaikat yang bertugas menghidupkan Nabi Uzair lantas berseru, “Sekarang lihatlah keledaimu.” Lalu Nabi Uzair segera melihat ke arah keledainya yang ternyata tinggal tulang belulang.

    Malaikat tersebut berseru kepada tulang belulang itu untuk bersatu kembali, lalu tulang belulang itu pun menyatu dan membentuk seekor keledai.

    Makailat itu menunggangi tulang belulang yang membentuk seekor keledai, sementara Uzair memperhatikannya.

    Keledai itu kemudian dibungkus dengan urat-urat syaraf, lalu dibungkus dengan daging, kemudian dibungkus lagi dengan kulit dan bulu, kemudian ditiupkan kembali nyawanya. Keledai itu pun dapat bergerak lagi dan langsung menghadapkan kepala dan kedua telinganya ke atas langit karena mengira Hari Kiamat telah tiba.

    Firman Allah SWT, “Tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.”

    Peristiwa ini membuat Nabi Uzair kemudian berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Wallahu a’lam.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Orang-orang Jurhum yang Menimbun Sumur Zamzam


    Jakarta

    Sumur Zamzam terletak sekitar 21 meter dari lokasi Ka’bah. Kedalaman sumur ini mencapai 30 meter yang terbagi dalam tiga bagian, dari arah bukit Shafa, Ka’bah dan bukit.

    Sumur Zamzam pernah ditimbun oleh penguasa Jurhum yang kalah dalam peperangan melawan Khuza’ah agar musuh mereka tidak dapat memanfaatkannya. Dilansir dalam buku Haji dan Umrah Bersama MQS yang ditulis oleh M Quraish Shihab dijelaskan bahwa Zamzam baru ditemukan kembali oleh kaki Nabi SAW, Abdul Muththalib.

    Beberapa sejarawan, seperti halnya Ibnu Hisyam, meriwayatkan bahwa ‘Abdul Muththalib suatu ketika berbaring dekat Hijr Ismail dan bermimpi bahwa ia diperintahkan untuk menggali Zamzam sambil ia diisyaratkan lokasinya. “Penimbunan Zamzam oleh Jurhum dan penemuannya kembali oleh Abdul Muththalib adalah sekitar 300 tahun,” tulis Quraish Shihab dalam bukunya.


    Dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam yang ditulis Abu Muhammad dan diterjemahkan oleh Fadhli Bahri diceritakan tentang orang-orang Jurhum dan penimbunan sumur Zamzam.

    Pengelola Baitullah Berasal dari Keturunan Ismail

    Ibnu Hisyam berkata, “Pembahasan tentang orang-orang Jurhum, penimbunan Sumur Zamzam oleh mereka, kepergian mereka dari Makkah, dan pihak yang menguasai Makkah sepeninggal mereka hingga Abdul Muththalib menggali Sumur Zamzam adalah seperti yang dikatakan kepada kami oleh Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq yang berkata, bahwa ketika Ismail bin Ibrahim wafat, maka sepeninggalnya Baitullah dikelola anaknya yang bernama Nabit bin Ismail selama jangka waktu tertentu, kemudian pengelolaan Baitullah sesudahnya dilanjutkan Mudzadz bin Amr Al-Jurhumi.”

    Ibnu Hisyam berkata, “Konon ada yang mengatakan, Midzadz bin Amr Al-Jurhumi.”

    Konflik antara Jurhum dengan Qathura’

    Karena kebiasaan orang-orang Yaman, jika mereka keluar dari Yaman, mereka tidak keluar kecuali dipimpin orang yang mengurusi segala persoalan mereka.

    Ibnu Ishaq berkata, “Anak-anak Ismail, anak-anak Nabit bersama kakek mereka, Mudzadz bin Amr, paman-paman mereka dari jalur ibu dari Jurhum, Jurhum, dan Qathura’ adalah penduduk Makkah ketika itu.”

    Jurhum dan Qathura’ adalah saudara misan dan datang dari Yaman. Keduanya ikut rombongan musafir.

    Orang-orang Jurhum dipimpin Mudzadz bin Amr, dan orang-orang Qathura’ dipimpin As-Samaida’. Salah seorang dari mereka, tiba di Makkah.

    Jurhum dan Qathura’ melihat daerah yang kaya air, Mudzadz bin Amr dan orang-orang Jurhum yang ikut bersamanya singgah di Makkah atas, tepatnya di Qu’aiqi’an dan tidak keluar darinya.

    Sedangkan As-Samaida’ singgah di Makkah bawah, tepatnya di Jiyad dan tidak keluar daripadanya.

    Mudzadz memungut uang sepersepuluh bagi orang yang masuk Makkah dari Makkah atas. As-Samaida’ juga memungut uang sepersepuluh bagi siapa saja yang memasuki Makkah dari Makkah bawah. Masing-masing dari keduanya berada di kaumnya masing-masing dan tidak masuk kepada yang lain.

    Dalam perjalanan waktu, Jurhum dan Qathura’ saling serang terhadap yang lain dan bersaing memperebutkan jabatan raja. Ketika itu, Mudzadz didukung anak keturunan Ismail dan anak keturunan Nabit. Mudzadz mempunyai hak mengelola Baitullah dan bukannya As-Samaida’.

    Sebagian dari mereka berjalan menuju sebagian yang lain. Mudzadz bin Amr berangkat dari Qu’aiqi’an bersama pasukannya dengan tujuan As-Samaida’. Pasukannya bersenjatakan tombak, perisai, pedang, dan tempat anak panah yang menimbulkan suara gemerincing.

    Konon Qu’aiqi’an dinamakan Qu’aiqi’an karena kejadian tersebut (suara gemerincing). As-Samaida’ juga keluar dari Jiyad dengan membawa kuda dan pasukannya.

    Konon, Ajyad tidak dinamakan Ajyad melainkan karena keluarnya kuda-kuda bersama As- Samaida’ dari Ajyad. Kedua belah pihak bertemu di Fadhih, kemudian mereka bertempur dalam perang yang sengit.

    As-Samaida’ tewas dalam pertempuran tersebut dan orang-orang Qathura’ dikecam habis-habisan. Konon Fadhih tidak dinamakan Fadhih kecuali karena kecaman tersebut.

    Setelah itu, kedua belah pihak mengajak berdamai. Mereka berjalan hingga tiba di Al-Mathabikh, jalan di antara dua bukit di Makkah atas.

    Mereka berdamai di sana dan menyerahkan permasalahannya kepada Mudzadz. Ketika pengelolaan Makkah diserahkan kepada Mudzadz, dan ia menjadi raja di Makkah, ia menyembelih hewan untuk manusia, memberi mereka makan, menyuruh manusia masak, dan makan.

    Konon, Al-Mathabikh tidak dinamakan Al-Mathabikh melainkan karena kejadian tersebut. Sebagian orang-orang berilmu menduga, bahwa Al-Mathabikh dinamakan Al-Mathabikh, karena orang-orang Tubba’ (Yaman) menyembelih hewan di tempat tersebut, memberi makan warganya, dan tempat tersebut adalah tempat kediaman mereka. Apa yang terjadi antara Mudzadz dengan As-Samaida’ adalah kezaliman pertama di Makkah, menurut sebagian besar orang.

    Kemudian Allah SWT menyebarkan anak keturunan Ismail di Makkah, dan paman-paman mereka dari Jurhum menjadi pengelola Baitullah dan penguasa di Makkah tanpa ada satu pun dari anak keturunan Ismail yang memprotesnya, karena orang-orang Jurhum adalah paman mereka, dan kerabat mereka, serta karena menjaga keagungan Makkah agar tidak terjadi pelanggaran dan peperangan di dalamnya.

    Ketika Makkah terasa sempit bagi anak keturunan Ismail, mereka berpencar-pencar ke banyak negeri. Jika mereka diperangi musuh, Allah SWT menolong mereka karena agama mereka hingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan menguasai negeri mereka.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Cerita Aminah Selama Mengandung Nabi, Disebut Tak Kelelahan

    Cerita Aminah Selama Mengandung Nabi, Disebut Tak Kelelahan


    Jakarta

    Aminah binti Wahab dinikahkan dengan seorang lelaki bernama Abdullah. Pernikahan sah keduanya melahirkan seorang nabi panutan umat Islam yakni Nabi Muhammad SAW.

    Menurut Sirah Nabawiyah Jilid 1 oleh Ibnu Hisyam terjemahan Fadhli Bahri, saat itu, Abdul Muthalib pergi bersama putranya, Abdullah, ke kediaman Wahb bin Abdu Manaf. Dia adalah sosok bani Zuhrah terhormat yang paling baik nasabnya.

    Abdul Muthalib kemudian menikahkan putranya dengan putri dari Wahb bin Abdu Manaf, Aminah binti Wahb. Tak lama setelah keduanya menikah, Aminah mengandung seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Muhammad.


    Banyak riwayat yang mengisahkan selama Aminah mengandung dan melahirkan Rasulullah SAW. Salah satunya diriwayatkan dari Yazid bin Abdillah bin Wahab bin Zam’ah yang meriwayatkan dari bibinya. Dia bercerita bahwa Aminah pernah berkata padanya saat sedang mengandung Rasulullah SAW.

    Saat Aminah Mengandung Rasulullah SAW

    Dinukil dari Shifatush Shafwah Edisi Indonesia oleh Ibnu Al Jauzi yang diterjemahkan Wawan Djunaedi Soffandi, Aminah mengaku tidak pernah merasa kesulitan sebagaimana wanita hamil pada umumnya. Aminah berkata,

    “Sesungguhnya aku tidak merasa kalau sedang mengandung, sebab aku sama sekali tidak merasakan berat sebagaimana yang dirasakan kebanyakan wanita yang sedang hamil. Hanya saja, aku tidak bisa mengingkari terputusnya darah haidku (sebagai tanda kehamilan).”

    Aminah kemudian bercerita, ada seseorang yang datang kepadanya saat dia berada di antara kondisi terjaga dan tidur. Orang tersebut bertanya padanya apa yang dirasakan Aminah selama mengandung.

    Hingga kemudian orang tersebut berkata, “Sesungguhnya kamu sedang mengandung sayyid dan nabinya umat ini.”

    Singkat cerita, pada masa persalinan hampir tiba, orang tersebut kembali mendekati Aminah. Ia berkata, “Ucapkanlah lafaz Uiidzuhu bil waahidish-shamad min syarri kulli haasid (aku memohon perlindungan terhadap bayi ini kepada Dzat Yang Maha Tunggal lagi Dzat yang menjadi tempat bergantung dari kejahatan segala sesuatu yang memiliki sifat hasud)’.”

    Riwayat lainnya menyebut, Aminah didatangi orang misterius tersebut di dalam mimpinya. Ia berkata, “Sesungguhnya engkau mengandung pemimpin umat ini. Jika engkau melahirkannya, ucapkan, ‘Aku meminta perlindungan untuknya kepada Allah Yang Mahakuasa dari keburukan semua pendengki dan beri nama dia Muhammad’.”

    Selama mengandung Rasulullah SAW, Aminah juga bersaksi ia melihat seberkas sinar keluar dari perutnya. Dengan sinar-sinar tersebut, Aminah bisa melihat istana Busra di Syam.

    Sayangnya, belum sempat sang suami menyaksikan kelahiran putranya, ajal sudah lebih dulu menjemput Abdullah. Tepatnya saat usia kandungan Aminah menginjak ke- 6 bulan. Ibnu Ishaq berkata,

    “Tidak lama kemudian, Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Rasulullah SAW meninggal dunia ketika ibunda Rasulullah SAW sedang mengandung beliau.”

    Menurut Syekh Shafiyur Rahman al-Mubarakpuri dalam Sirah Nabawiyah terjemahan Abd Hamid, Abdullah pergi ke Yatsrib (Madinah) atau Syria untuk urusan perdagangan. Namun, saat perjalanan pulang, Abdullah menderita sakit hingga kemudian meninggal dunia di Yatsrib dan dimakamkan di Nabgha Dzabyani.

    Lahirnya Rasulullah SAW

    Menurut riwayat Ibnu Ishaq, Rasulullah SAW lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun gajah. Aminah pun mengutus seseorang kepada mertuanya, Abdul Muthalib, untuk mengabarkan berita kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Abdul Muthalib pun bergegas mendatangi Aminah. Setelahnya, Aminah bercerita kepada Abdul Muthalib apa pun yang dilihatnya selama mengandung Rasulullah SAW hingga perintah untuk menamai bayi tersebut dengan nama Muhammad.

    Dikisahkan Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam kitab Hadza al Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb terjemahan Iman Firdaus, Rasulullah SAW dilahirkan dalam kondisi telah dikhitan. Ia tidak perlu dikhitan seperti layaknya anak-anak lain. Abdul Muthalib, sang kakek, turut merasa aneh dan heran. Ia pun berkata,

    “Anakku ini kelak akan membawa perkara besar, dengannya aku akan mendapatkan kedudukan yang paling mulia.”

    Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Dar al-Maulid yang dikenal sebagai rumah Muhammad ibn Yusuf, saudara al-Hajjaj ibn Yusuf. Saat ini, rumah tersebut dijadikan Maktabah ‘Ammah (perpustakaan umum) di Makkah.

    (rah/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Dakwah Nabi Nuh Dicemooh oleh Umatnya Sendiri

    Saat Dakwah Nabi Nuh Dicemooh oleh Umatnya Sendiri


    Jakarta

    Dalam sejarah Islam, cerita Nabi Nuh AS dikenal sebagai salah satu Rasul yang menghadapi tantangan terbesar dalam menyebarkan ajaran tauhid. Selama ratusan tahun, beliau berdakwah dengan penuh kesabaran, namun sayangnya, hanya sedikit orang yang bersedia mengikuti ajarannya dan beriman kepada Allah SWT.

    Umatnya sering kali mencemooh dan menolak pesan-pesan yang disampaikannya, menganggap dakwahnya sebagai sebuah kebodohan.

    Kisah Nabi Nuh Berdakwah

    Nabi Nuh AS memiliki nama lengkap Nuh bin Lamik bin Muttawsyalakh bin Khanukh (Idris AS) bin Yarid bin Mahylayil bin Qanin bin Anusy bin Syaits bin Adam AS dan lahir 146 tahun setelah wafatnya Nabi Adam AS.


    Diceritakan dalam buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul oleh M. Arief Hakim, bahwa kaum Nabi Nuh AS, yang dikenal sebagai bani Rasib, terkenal dengan sifat congkak dan zalim.

    Mereka terperangkap dalam kemewahan yang dikaruniakan oleh Allah SWT dan menjadikan kekayaan sebagai ukuran utama martabat dan harga diri manusia. Pada masa itu, kaum fakir miskin sering diremehkan dan mengalami penindasan.

    Bahkan, saking besarnya kesombongan mereka, para budak dan hewan pun menjadi saksi dari ketidakadilan tersebut. Meski begitu, Nabi Nuh AS tetap berdakwah dengan penuh kesabaran untuk mengajak kaumnya kembali kepada ajaran tauhid.

    Menurut Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiyaa yang diterjemahkan oleh H. Dudi Rosyadi, Nabi Nuh AS diutus untuk menghapus kesesatan dan kegelapan yang melanda kaumnya, bani Rasib, yang juga menyembah patung-patung orang saleh seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, serta meminta berkah dan rezeki dari mereka.

    Dakwah Nabi Nuh AS berlangsung sangat lama, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Ankabut ayat 14.

    وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٤

    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.”

    Selama 950 tahun, Nabi Nuh AS berdakwah dengan segala usaha, tanpa mengenal waktu, baik siang maupun malam, dalam keadaan sepi atau ramai, dengan membawa kabar gembira maupun peringatan. Meskipun demikian, kaum Nuh AS tetap saja berada dalam kesesatan dan berlaku kejam.

    Banyak di antara mereka yang justru menolak Nabi Nuh AS. Merasa putus asa, Nabi Nuh AS akhirnya berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam surah Asy-Syu’ara ayat 117-118.

    قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ ١١٧ فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ١١٨

    Artinya: Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”

    Akhirnya, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membangun sebuah bahtera besar agar beliau dan para pengikutnya dapat diselamatkan dari azab yang akan diturunkan. Selama proses pembangunan bahtera, Nabi Nuh AS terus-menerus mendapatkan ejekan dan cemoohan dari bani Rasib.

    Meskipun begitu, beliau tidak pernah merasa putus asa dan tetap bersemangat menyelesaikan kapal tersebut.

    Setelah bahtera itu selesai, Allah SWT memenuhi janji-Nya. Bahtera yang besar itu tidak hanya membawa kaum muslimin, tetapi juga berbagai jenis hewan.

    Kemudian, Allah SWT menurunkan hujan deras dari langit selama 40 hari 40 malam, dan memerintahkan bumi untuk mengeluarkan air dari segala penjuru sehingga seluruh permukaan bumi tertutup oleh air. Banjir yang sangat besar ini menyebabkan air naik tinggi hingga membentuk gelombang seperti gunung. Bahtera itu terombang-ambing di tengah banjir yang menenggelamkan kaum kafir.

    Istri dan Anak Nabi Nuh yang Durhaka

    Nabi Nuh AS memiliki istri dan anak yang durhaka, keduanya menolak ajaran tauhid yang dibawanya. Meskipun Nabi Nuh AS berusaha sekuat tenaga untuk mengajak mereka ke jalan yang benar, mereka tetap berpaling dan tidak mau menerima dakwahnya.

    Dikutip dari buku Ulumul Qur’an: Kajian Kisah-kisah Wanita dalam Al-Qur’an karya Muhammad Roihan Nasution, kisah pembangkangan istri Nabi Nuh diceritakan Allah SWT dalam surah At-Tahrim ayat 10:

    ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

    Artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam jahanam bersama orang-orang yang masuk (neraka jahanam)’.”

    Istri Nabi Nuh AS yang durhaka juga melahirkan anak yang membangkang kepada ayahnya. Anak Nabi Nuh AS, seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an, menolak untuk naik ke dalam bahtera, sehingga ia akhirnya terseret dalam banjir besar. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Hud ayat 43:

    قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ

    Artinya: “Anaknya menjawab ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang’. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com