Blog

  • Kisah Orang Pasar Ramai ke Masjid usai Dengar Warisan Rasulullah Dibagikan


    Jakarta

    Ada suatu kisah tentang pembagian warisan Rasulullah SAW di sebuah masjid. Orang-orang di pasar sampai berbondong-bondong usai mendengar kabar tersebut.

    Kisah ini diceritakan Imam al-Ghazali dalam salah satu kitabnya, Mukasyafatul Qulub, yang diterjemahkan Jamaludin. Diriwayatkan, Abu Hurairah RA masuk pasar dan berkata, “Aku melihat kalian di sini, sedangkan warisan Rasulullah sedang dibagi-bagikan di dalam masjid.”

    Orang-orang kemudian berangkat ke masjid dan meninggalkan pasar. Lalu, mereka berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku tidak melihat ada warisan sedang dibagi-bagikan di masjid.”


    Abu Hurairah berkata, “Lalu kalian melihat apa?”

    Mereka menjawab, “Kami melihat kaum yang sedang berzikir kepada Allah SWT dan membaca Al-Qur’an.”

    Abu Hurairah menjawab, “Itulah warisan Rasulullah SAW.”

    Imam al-Ghazali dalam kitabnya juga memaparkan sejumlah riwayat tentang keutamaan berzikir kepada Allah SWT. Para malaikat yang berjalan di bumi disebut akan mendatangi majelis zikir dan mengajak yang lain berkumpul di sana.

    Jika mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah SWT, mereka saling berteriak, “Ayo ke sini, ini tujuan kalian.” Maka malaikat pun berdatangan dan mengelilingi mereka hingga ke langit.

    Terkait bacaan zikir yang utama sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang paling utama, yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah ‘Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya’.”

    Bacaan yang dimaksud sebagai berikut:

    لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

    Laa ilaahaillallah wahdahu laa syariikalahu

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya.”

    Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar yang diterjemahkan Ulin Nuha mengatakan, dianjurkan memperbanyak zikir dan doa tersebut. Zikir ini juga dianjurkan dibaca pada hari Arafah.

    Rasulullah Tidak Meninggalkan Warisan Harta

    Warisan Rasulullah SAW bukan berupa harta. Begitu pula para nabi, mereka disebut tidak mewariskan harta. Hal ini diterangkan dalam sebuah hadits dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyah karya Imam at-Tirmidzi yang tahqiq Syekh Maher Yasin Fahl dan diterjemahkan Rusdianto.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan Siti Fatimah RA pernah mendatangi Abu Bakar, dan berkata, “Siapakah yang akan mendapatkan warisan darimu?” Abu Bakar menjawab, “Keluargaku dan keturunanku.” Siti Fatimah RA berkata, “Mengapa aku tidak mendapatkan warisan dari ayahku?” Abu Bakar menjawab, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Kami (para nabi) tidak meninggalkan warisan.’ Tetapi aku akan menanggung kehidupan orang-orang yang ditanggung oleh Rasulullah SAW dan aku akan memberikan nafkah untuk orang-orang yang diberikan nafkah oleh Rasulullah SAW.”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah 7 Pemuda yang Tidur Selama Ratusan Tahun di Gua



    Jakarta

    Kisah pemuda yang tidur selama ratusan tahun di dalam gua atau yang dikenal dengan sebutan Ashabul Kahfi dalam Al-Qur’an adalah salah satu cerita penuh hikmah. Kisah ini diabadikan dalam surah Al-Kahfi ayat 9-26.

    Ashabul Kahfi yang berarti “Para Penghuni Gua” adalah sekelompok pemuda beriman yang memilih bersembunyi di dalam gua untuk menghindari penguasa zalim pada masa itu. Allah SWT menidurkan mereka selama ratusan tahun sebagai bentuk perlindungan.

    Dalam surah Al-Kahfi, Allah SWT menjelaskan bahwa pemuda-pemuda ini tidak hanya diselamatkan dari ancaman penguasa, tetapi juga dijadikan tanda kebesaran-Nya bagi umat manusia. Kisah ini mengajarkan tentang iman, keteguhan hati, dan kebesaran Allah SWT yang mampu menjaga hamba-hamba-Nya dalam kondisi apa pun.


    Awal Mula Kisah Ashabul Kahfi

    Mengutip dari buku Inspirasi Kisah Ashabul Kahfi yang ditulis oleh Muhammad Atim, kisah Ashabul Kahfi dimulai dari sekelompok pemuda yang hidup di bawah tekanan kemungkaran yang meluas di tengah kaumnya. Pada masa itu, seorang raja yang zalim bernama Dekianus menguasai salah satu negeri Romawi yang disebut Thorthus.

    Dekianus memerintah dengan kekerasan, memaksa rakyatnya untuk menyembah berhala dan mengingkari Tuhan yang sebenarnya. Masyarakat yang takut akan ancaman sang raja pun mengikuti ajarannya, hingga perbuatan menyembah berhala dan meninggalkan iman menjadi hal yang lumrah.

    Namun, para pemuda ini, yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ashabul Kahfi, bertekad untuk mempertahankan keimanan mereka dan menolak segala bentuk penyembahan berhala. Mereka merasakan kesedihan yang mendalam melihat kerusakan moral dan spiritual yang terjadi di sekitar mereka.

    Pada suatu hari, saat kaumnya mengadakan sebuah perayaan besar untuk menyembah berhala, para pemuda ini tidak hanya menolak untuk bergabung, tetapi juga menyampaikan teguran kepada kaumnya. Mereka menegaskan bahwa penyembahan tersebut adalah bentuk kemungkaran yang nyata.

    Menyadari mereka berada dalam bahaya karena perlawanan mereka terhadap ajaran raja, para pemuda Ashabul Kahfi akhirnya memutuskan untuk melarikan diri demi menjaga keimanan mereka. Allah SWT mengabadikan bagian kisah ini dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam surah Al-Kahfi ayat 9-13.

    Dakwah kepada Raja yang Zalim

    Selanjutnya dalam surah Al-Kahfi ayat 14-15 diceritakan para pemuda yang beriman ini berkumpul secara tak terduga di bawah sebuah pohon. Mereka datang satu per satu tanpa saling mengenal, namun hati mereka terpaut dalam keimanan yang sama.

    Awalnya, mereka diam karena takut dan khawatir akan adanya perbedaan pandangan. Namun, seorang dari mereka memberanikan diri untuk berbicara tentang akidah dan keimanan dan dilanjut dengan jawaban oleh pemuda lain yang satu keimanan juga.

    Hingga, kabar keberadaan mereka yang beriman kepada Allah SWT ini akhirnya terdengar oleh sang raja yang zalim. Raja yang penasaran akan keyakinan para pemuda ini lantas memerintahkan mereka untuk datang ke istananya.

    Saat dihadapkan dengan sang raja, mereka dengan penuh keberanian dan tanpa keraguan mengumumkan keimanan mereka di depan penguasa yang kejam itu. Bahkan mereka menyampaikan kalimat dakwah kebenaran.

    Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda tentang pentingnya menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang jihad yang paling utama, lalu Rasulullah SAW menjawab, “Kalimat kebenaran di hadapan raja yang zalim” (HR An-Nasa’i)

    Mencari Tempat Aman Lalu Tertidur Selama Ratusan Tahun

    Setelah para pemuda Ashabul Kahfi berani berdakwah di hadapan raja zalim dan tetap menolak beribadah kepada selain Allah SWT, sang raja menanggapi dengan ancaman. Dia mengultimatum mereka untuk meninggalkan keyakinan atau menghadapi hukuman. Meski dihadapkan pada intimidasi untuk kembali pada ajaran kaumnya, para pemuda itu tidak gentar.

    Malam itu, Allah SWT memberi kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri, dan mereka pun memutuskan mencari tempat aman. Mereka bergerak menuju sebuah gua yang letaknya sekitar dua farsakh (sekitar 6 kilometer) dari istana, sebagai tempat perlindungan dari kejaran sang raja.

    Keesokan paginya, raja mengirim pasukannya untuk mengejar mereka hingga ke pintu gua. Namun, dengan pertolongan Allah SWT, para pemuda ini terselamatkan. Allah SWT meneguhkan hati mereka dalam persembunyian tersebut, mirip dengan kisah Rasulullah SAW dan Abu Bakar saat bersembunyi di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

    Di dalam gua, Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya dengan menidurkan para pemuda ini selama 309 tahun. Hal ini sesuai dengan penggalan dari surah Al-Kahfi ayat 16-18, yang mengisahkan bagaimana Allah SWT menjaga mereka sepanjang waktu.

    Cahaya matahari yang masuk ke gua pun diatur sedemikian rupa agar tidak langsung mengenai tubuh mereka. Ketika matahari terbit, sinarnya condong ke kanan, dan ketika terbenam, condong ke kiri, menunjukkan bahwa pintu gua tersebut menghadap ke utara. Dengan demikian, tubuh mereka tetap aman dari paparan cahaya langsung yang bisa membahayakan.

    Allah SWT juga menjaga tubuh mereka agar tidak kaku atau rusak. Di dalam gua yang luas, tubuh mereka dibiarkan berbalik-balik dari kanan ke kiri, menjaga mereka dari kemungkinan digerogoti tanah.

    Bangun dari Tidur hingga Wafatnya

    Setelah tertidur selama ratusan tahun, para pemuda Ashabul Kahfi akhirnya terbangun dalam keadaan yang tidak berubah sedikit pun pada diri mereka. Mereka tidak menyadari bahwa mereka telah tertidur selama 309 tahun. Pemuda-pemuda ini mengira mereka hanya tidur sebentar, mungkin sehari atau setengah hari saja sesuai penggalan surah Al-Kahfi ayat 19-20.

    Setelah terbangun, fokus utama mereka adalah mencari makanan. Dengan rasa lapar yang mulai terasa, mereka menyuruh salah seorang di antara mereka untuk pergi ke kota terdekat, kota yang dulunya bernama Deqsus.

    Mereka berpesan agar pemuda ini berhati-hati dalam melangkah. Mereka juga mengingatkan agar ia tidak mengungkapkan keberadaan mereka kepada siapa pun, sebab khawatir akan ancaman penguasa yang mungkin masih berkuasa.

    Dalam kehati-hatiannya, pemuda tersebut memasuki kota dengan penuh waspada. Namun, yang ia temui justru adalah perubahan besar. Kota yang dulunya penuh dengan ketidakadilan kini berbeda. Ketika ia memberikan uang perak kuno untuk membeli makanan, penjual yang menerimanya langsung menolak dan tampak terkejut melihat bentuk uang tersebut. Pemuda ini pun mulai heran dengan reaksi orang-orang sekitar yang tampak kebingungan.

    Ketika ditanya tentang asal uang tersebut, pemuda tersebut menjelaskan bahwa ia adalah penduduk kota itu dan baru saja pergi semalam dari kota di bawah kekuasaan Raja Dekianus. Namun, mendengar nama Raja Dekianus membuat orang-orang semakin heran, sebab raja tiran tersebut sudah lama tiada. Beberapa orang yang ada di sekitar bahkan berpikir bahwa pemuda itu gila. Setelah mendengar penjelasan, akhirnya mereka membawa pemuda tersebut menghadap penguasa baru yang saleh dan beriman, Raja Tedosis.

    Raja Tedosis bersama rombongan pasukannya pun mendatangi gua tempat para pemuda lainnya menunggu. Saat sampai di gua, mereka menyaksikan para pemuda Ashabul Kahfi sedang melaksanakan salat, sebagai bentuk ketakwaan mereka kepada Allah SWT yang telah menjaga mereka. Setelah mereka menyelesaikan salat, Raja Tedosis pun mengajak mereka untuk berbincang hingga akhirnya Allah SWT mewafatkan mereka.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Abdullah ibn Jubair, Komandan Pasukan Pemanah yang Syahid Tepati Janji ke Nabi


    Jakarta

    Abdullah ibn Jubair adalah salah satu sahabat nabi yang berasal dari kalangan Anshar keturunan suku Aus. Sebelum meletusnya Perang Uhud, Rasulullah SAW memilih 50 pemanah yang dipimpin oleh Abdullah ibn Jubair.

    Melansir buku Fikih Sirah yang ditulis Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, Perang uhud terjadi karena beberapa tokoh Quraisy yang tidak terbunuh dalam perang Badar Kurba sepakat menuntut balas atas kematian teman-teman mereka. Untuk memerangi Rasulullah SAW mereka menggalang kekuatan dengan barang-barang berharga yang dulu dibawa kafilah pimpinan Abu Sufyan.

    Abdullah Ibn Jubair Selalu Menjaga Janji

    Abdullah ibn Jubair telah berjanji untuk selalu taat kepada Nabi Muhammad SAW, karena taat kepada Rasulullah SAW berarti taat kepada Allah.


    Sedikit pun tidak ada keraguan dalam hatinya, apalagi niat untuk menggantikan rasa cintanya kepada beliau. Ia selalu mendahulukan kepentingan Nabi SAW dalam segala urusan dibanding kepentingan dirinya sendiri.

    Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi yang ditulis Muhammad Raji Hasan Kinas menjelaskan bahwa sebelum perang berkecamuk, Rasulullah SAW telah berpesan kepada pasukan pemanah, “Jangan pernah meninggalkan posisi kalian ketika kalian melihat kami terdesak oleh serangan musuh!”

    Perintah Nabi SAW itu sangat jelas dan mudah dipahami. Terlebih lagi, perintah itu keluar dari lisan seorang nabi yang tidak akan berbicara kecuali dengan petunjuk Allah.

    Saat perang mulai berkecamuk, pasukan muslim berada di atas angin. Mereka dapat mendesak dan menghancurkan barisan musuh.

    Saat itu, semua muslim merasa yakin, mereka akan segera meraih kemenangan besar seperti yang didapatkan di Badar. Tak sedikit pasukan musyrik lari menjauhi medan perang, meninggalkan berbagai perlengkapan dan perbekalan mereka.

    Menyaksikan keadaan itu, kaum muslim menyangka bahwa perang telah usai dan mereka meraih kemenangan. Maka, nyaris semua orang berlari ke sana kemari memperebutkan harta rampasan dengan wajah yang ceria seraya meneriakkan pekik kemenangan.

    Saat yang sama, pasukan pemanah memperhatikan dari atas apa yang terjadi di bawah. Mereka mengira, perang telah usai ketika melihat kawan-kawan mereka berlarian mengambil rampasan perang.

    Mereka khawatir tidak kebagian barang yang ditinggalkan pasukan musyrik atau dari korban yang tewas. Semakin lama semakin gelisah. Sementara, mereka tak juga menerima perintah baru dari Rasulullah SAW tidak mau menunggu lebih lama, mereka membubarkan diri dan berlari menuruni bukit.

    Mereka tak menghiraukan komandan mereka, Abdullah ibn Jubair, yang berteriak mengingatkan mereka agar bertahan di atas bukit. Mereka tak peduli meskipun Ibn Jubair mengingatkan mereka akan perintah Rasulullah SAW. Mereka seolah-olah tuli karena pikiran mereka dipenuhi keinginan untuk mendapatkan rampasan perang. Mereka lupa, sesungguhnya harta dunia pasti akan sirna dan akhirat merupakan pilihan yang terbaik dan abadi.

    Tak semua pemanah beranjak meninggalkan posisi mereka. Ada sepuluh orang yang bertahan di puncak bukit, termasuk komandan mereka, Abdullah ibn Jubair. Mereka berdiri kukuh, mematuhi perintah Nabi SAW, panglima perang tertinggi. Sedikit pun tak terlintas di hati mereka untuk menukar ketaatan kepada Rasulullah SAW dengan harta dunia.

    Ketidaktaatan pasukan pemanah harus dibayar mahal. Divisi kavaleri Quraisy, di bawah komando Khalid ibn al-Walid, wira perang yang sangat cakap, menantikan saat-saat itu di balik bukit. Mereka menunggu kaum muslim lengah.

    Saat menyaksikan bukit tak lagi terjaga dengan baik, Khalid menyerbu dari balik bukit, lalu menyerang tangkas pasukan pemanah yang tersisa dan menumbangkan mereka semua.

    Kavaleri Quraisy itu kemudian berderap menuruni bukit, menebas kaum muslim yang berlari serabutan karena tak menduga musuh berbalik menyerang. Abdullah ibn Jubair, komandan pasukan pemanah, yang setia pada perintah, gugur sebagai syahid.

    Semoga Allah merahmatinya

    (lus/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat mulia dan menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Hati beliau sangat suci, bebas dari segala sifat buruk seperti kesombongan, iri, dengki, dan syirik.

    Sejak kecil, Allah SWT telah membersihkan hati Nabi Muhammad SAW dengan cara yang luar biasa. Salah satunya melalui kisah pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril berikut ini.

    Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW

    Diceritakan dalam buku Kisah Manusia Paling Mulia yang disusun oleh Neti S, pada masa kecilnya, Nabi Muhammad SAW menghabiskan waktunya di pedalaman Bani Sa’ad ikut ibu sepersusuannya. Beliau tumbuh menjadi anak yang sehat, berhati baik, dan fasih dalam berbahasa.


    Nabi Muhammad SAW hidup dengan rukun dan penuh kasih sayang bersama saudara sepersusuannya. Kesehariannya, mereka bermain dan menggembala kambing bersama di padang penggembalaan Bani Sa’ad.

    Pada suatu ketika, saat Nabi Muhammad SAW menggembala kambing bersama saudara sepersusuannya, datanglah Malaikat Jibril menghampiri Nabi Muhammad SAW dalam wujud manusia. Malaikat Jibril lantas memegang tangan mungil Nabi Muhammad SAW, hingga membuat beliau terkejut dan pingsan.

    Malaikat Jibril kemudian meletakkan Nabi Muhammad SAW yang tak sadarkan diri di atas batu. Di saat ini pula, Jibril mulai membelah dada Nabi SAW. Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam dari hati beliau yang telah dibelah, kemudian membuangnya.

    Setelah itu, hati Nabi Muhammad SAW dibersihkan dengan air zamzam yang disimpan dalam wadah emas. Setelah hati Nabi Muhammad SAW bersih, Jibril meletakkannya kembali ke tempat semula.

    Melihat kejadian ini, para saudara persusuan Nabi Muhammad SAW sangat ketakutan. Mereka kemudian berlari pulang dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya, Halimah.

    “Ibu…ibu…Muhammad….dibunuh! Muhammad dibunuh!” kata mereka dengan menjerit-jerit.

    “Ada apa dengan saudaramu?” tanya Halimah cemas.

    “Muhammad…. ada orang yang ingin melukainya,” jawab mereka dengan terbata-bata.

    Halimah yang terkejut dan cemas setelah mendengarnya, segera mendatangi padang gembalaan tempat Nabi Muhammad SAW berada.

    Sesampainya di sana, Halimah melihat Nabi Muhammad SAW sedang menggembalakan kambing dalam kondisi yang baik-baik saja dan tidak ada luka atau goresan yang mengkhawatirkan pada diri anak susuannya itu. Bahkan, wajah Nabi Muhammad SAW terlihat lebih cerah dari biasanya.

    “Apa yang telah terjadi padamu, wahai anakku?” tanya Halimah.

    “Dua orang laki-laki berjubah putih telah mengambil sesuatu dari tubuhku,” Nabi Muhammad SAW menjawab dengan polosnya.

    “Apa itu?” tanya Halimah dengan wajah khawatir. “Aku tidak tahu,” jawab Nabi Muhammad SAW.

    “Kamu tidak apa-apa?” tanya Halimah sambil memeriksa tubuh Nabi Muhammad SAW untuk memastikan kembali keadaan anak susuannya itu. Namun, ia tetap tidak menemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan pada diri Nabi Muhammad SAW.

    Halimah pun segera membawa Nabi Muhammad SAW dan anak-anaknya pulang dengan rasa waswas akan keselamatan anak susuannya tersebut. Peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW di padang gembalaan itu benar-benar telah mengganggu pikiran Halimah.

    Dalam beberapa riwayat, yang dikutip dari buku The 10 Habits of Rasulullah karya Rizem Aizid, air yang digunakan untuk membersihkan hati Rasulullah SAW tersebut bukan air zamzam, melainkan air dari surga. Peristiwa pembelahan dada ini pun terjadi dua kali, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW berusia empat tahun dan sepuluh tahun.

    Dalam buku Meneladani Rasulullah melalui Sejarah karya Sri Januarti Rahayu disebutkan bahwa, tidak lama setelah kejadian pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril, Halimah mengembalikan beliau kepada sang ibu, Aminah.

    Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW merasakan kebahagiaan karena bisa hidup bersama ibunda. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama, karena sang ibu, Aminah, meninggal dunia saat Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Cerita Qabil dan Habil, Anak Nabi Adam AS yang Membunuh Saudara Kembarnya

    Cerita Qabil dan Habil, Anak Nabi Adam AS yang Membunuh Saudara Kembarnya



    Jakarta

    Qabil dan Habil merupakan anak kembar laki-laki dari Nabi Adam AS. Siti Hawa melahirkan dua pasang anak kembar laki-laki dan perempuan, yaitu Qabil, Habil, Iqlima dan Labuda.

    Menukil dari Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid dkk, Qabil adalah saudara kembar dari Iqlima. Sementara itu, Habil merupakan saudara kembar dari Labuda.

    Ketika mereka sudah baligh, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Adam AS agar menikahkan anak-anaknya yang tidak sekandung. Jadi, Habil dinikahkan dengan Iqlima sementara Qabil dengan Labuda.


    Namun, Qabil merasa dengki terhadap Habil. Sebab, paras Labuda tidak secantik Iqlima yang mana merupakan saudara kembar Qabil.

    Setan dengan segala tipu daya dan bisikannya menghasut Qabil untuk membunuh Habil. Karena tidak mau mengalah dan hatinya dipenuhi rasa iri, akhirnya Adam AS meminta kedua putranya untuk berkurban agar mendapat pilihan terbaik. Langkah ini dilakukan Nabi Adam AS agar tidak melanggar anjuran dari Allah SWT.

    Qabil mempersembahkan kurban berupa hasil pertanian yang buruk, sementara Habil memberikan kurban berupa seekor kambing gemuk dengan kualitas baik. Atas kuasa Allah SWT, muncul api menyambar kurban Habil yang menandakan kurbannya diterima sang Khalik. Sebaliknya, kurban Qabil ditolak karena api membiarkan miliknya begitu saja.

    Melihat hal itu, Qabil menjadi marah dan berkata ingin membunuh Habil jika benar-benar menikahi Iqlima. Jawaban Habil atas gertakan Habil diceritakan dalam surah Al Maidah ayat 28,

    لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَدِىَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Artinya: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

    Qabil yang gelap mata akhirnya memutuskan untuk membunuh Habil. Ulama berpendapat bahwa Qabil memanggul jenazah Habil selama satu tahun setelah membunuh saudaranya.

    Ulama lain ada yang mengatakan selama 100 tahun sampai akhirnya Allah SWT mengutus dua ekor burung gagak yang bertarung hingga salah satunya mati. Burung gagak yang masih hidup menggali tanah dan memasukkan bangkai burung gagak yang telah mati ke dalamnya, ketika itu Qabil menyaksikan pergulatan kedua burung gagak tersebut dan meniru apa yang dilakukan mereka.

    Ada lagi yang berpendapat bahwa Qabil membunuh Habil dengan batu yang dilempar hingga mengenai kepalanya ketika ia terlelap. Pendapat lain menyebutkan Qabil mencekek leher Habil sekuat-kuatnya dan menggigitnya seperti layaknya binatang buas hingga Habil meninggal dunia.

    Sewaktu Qabil menyaksikan Habil yang terkapar tidak berdaya, ia bingung dan menyesali perbuatannya. Qabil teringat bahwa Habil merupakan saudara yang baik.

    Allah SWT tidak langsung mengazab Qabil di dunia, namun ia menanggung dosa besar. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya,

    “Tidaklah seorang jiwa dibunuh secara zalim, kecuali anak Adam yang pertama (Qabil) ikut menanggung darahnya, karena ia adalah orang yang pertama mencontohkan pembunuhan.” (HR Bukhari)

    Wallahu a’lam

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Bangsa Rum yang Mengkhianati Islam saat Akhir Zaman

    Kisah Bangsa Rum yang Mengkhianati Islam saat Akhir Zaman


    Jakarta

    Bangsa Rum atau yang dikenal sebagai Romawi dalam sejarah, disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu bangsa besar yang akan berperan penting dalam peristiwa akhir zaman.

    Keberadaan dan peran mereka dalam perjalanan sejarah umat Islam juga telah menjadi bagian dari tafsir dan hadits. Khususnya dalam peristiwa-peristiwa yang dikaitkan dengan akhir zaman.

    Asal-usul Bangsa Rum

    Seperti dijelaskan oleh Musa Cerantonio dalam bukunya Which Nation Does Rum in The Ahadith of the Last Days Refer To? merujuk pada Kekaisaran Bizantium atau Kekaisaran Romawi Timur.


    Nama ini diambil dari ibu kota mereka, Byzantion yang kemudian lebih dikenal sebagai Konstantinopel.

    Kekaisaran Bizantium merupakan kelanjutan dari Kekaisaran Romawi yang sejak berdirinya di Roma, meluas ke sebagian besar wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Wilayah kekaisaran yang luas ini akhirnya dibagi menjadi dua bagian administratif, yaitu Kekaisaran Romawi Barat yang berpusat di Roma dan Kekaisaran Romawi Timur di Konstantinopel.

    Setelah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476 M akibat serangan bangsa Jermanik, Kekaisaran Romawi hanya tersisa sebagai Romawi Timur, yang berpusat di Konstantinopel.

    Bangsa inilah yang dimaksud dalam surat Ar-Rum ayat 2, di mana tafsir Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan bahwa bangsa Rum adalah Romawi Timur yang saat itu beragama Nasrani.

    Pada masa itu, bangsa Rum dipimpin oleh Flavius Heraclius Augustus, atau Heraklius, yang memerintah dari tahun 610 hingga 641 M.

    Menurut tafsir Ibnu Katsir, volume 6, Dr. Abdullah mengemukakan bahwa bangsa Rum merupakan keturunan al-‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim, lebih spesifiknya dari Bani Ashfar yang notabene adalah salah satu cabang Bani Israil.

    Pengkhianatan Bangsa Rum

    Peristiwa yang dialami bangsa Rum dijelaskan secara rinci oleh Allah SWT dalam pembukaan Surat Ar-Rum, tepatnya pada ayat 1 hingga 6.

    الۤمّۤۚ ۝١
    alif lâm mîm
    Alif Lām Mīm.

    غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ ۝٢
    ghulibatir-rûm
    Bangsa Romawi telah dikalahkan,

    فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ ۝٣
    fî adnal-ardli wa hum mim ba’di ghalabihim sayaghlibûn
    di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang

    فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُۗ وَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ ۝٤
    fî bidl’i sinîn, lillâhil-amru ming qablu wa mim ba’d, wa yauma’idziy yafraḫul-mu’minûn
    dalam beberapa tahun (lagi). Milik Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang mukmin

    بِنَصْرِ اللّٰهِۗ يَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ۝٥
    binashrillâh, yanshuru may yasyâ’, wa huwal-‘azîzur-raḫîm
    karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

    وَعْدَ اللّٰهِۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ وَعْدَهٗ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ۝٦
    wa’dallâh, lâ yukhlifullâhu wa’dahû wa lâkinna aktsaran-nâsi lâ ya’lamûn
    (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

    Mansur Abdul Hakim dalam bukunya, Ghulibat Ar-Rum Dzat Al-Qurun, memaparkan bahwa peristiwa perang besar antara Persia dan Romawi menjadi latar belakang utama turunnya Surat Ar-Rum.

    Konflik antara Persia dan Romawi ini memicu polarisasi dukungan di kalangan masyarakat Arab. Kaum musyrik cenderung berpihak pada Persia, sedangkan umat Islam berharap kemenangan berpihak pada Romawi, yang notabene adalah pemeluk agama samawi.

    Pada akhirnya, bangsa Persia memenangkan pertempuran, yang membuat kaum musyrik bersuka cita, sedangkan umat Islam merasa sedih. Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir, kemenangan telak yang diraih oleh Raja Persia Sabur atas pasukan Romawi mengakibatkan penguasaan wilayah Syam dan sebagian besar teritori Romawi. Akibatnya, Kaisar Heraklius terpaksa mundur dan mencari tempat perlindungan.

    Sementara itu, Menurut Muslih Abdul Karim dalam bukunya Isa dan al-Mahdi di Akhir Zaman, kemunculan al-Mahdi akan diawali dengan pertempuran antara umat Islam dan Bani Ashfar atau bangsa Rum.

    Pada awalnya, umat Islam dan Bangsa Rum bersekutu untuk menghadapi musuh bersama. Namun, di tengah perjalanan, Bani Ashfar melanggar perjanjian damai dan berbalik melawan umat Islam.

    Dalam beberapa haditsnya, Rasulullah SAW merujuk pada bangsa Rum (Romawi) dalam konteks peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman. Beliau bersabda,

    “Kalian akan menyerang Jazirah Arab hingga Allah SWT menaklukkannya, kemudian Persia hingga Allah berkenan menaklukkannya, kemudian kalian menyerang Romawi hingga Allah berkenan menaklukkannya, dan setelah itu kalian menyerang Dajjal hingga Allah berkenan menaklukkannya.” (HR Ahmad dan Muslim)

    Dalam kitab kumpulan hadits Misykah Al-Mashabih, terdapat sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa di masa depan, bangsa Romawi akan melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Rasulullah SAW bersabda,

    “Kalian akan mengadakan perjanjian damai dengan bangsa Romawi selama beberapa lama. Lalu kalian akan menyerang ketika mereka menjadi musuh di belakang kalian. Kemudian kalian akan dimenangkan, mendapat ghanimah, dan kalian selamat. Setelah itu, kalain turun di padang rumput bernama Dzi Tulul. Kemudian seorang lelaki dari Romawi ke sana untuk mengibarkan bendera salib seraya berkata, ‘Ingatlah, salib telah menang”.

    Mengetahui seruan kaum salib tersebut membuat muslim yang murka mendekati dan memukulnya (membunuhnya). Saat itulah bangsa Romawi berkhianat dan bersiap untuk memobilisasi pasukannya sebagai persiapan pertempuran dahsyat.

    Lalu umat Islam mengobarkan perang melawan mereka hingga terjadi pertempuran dan Allah memuliakan golongan tersebut dengan kesyahidan.

    Tempat tinggal umat Islam dalam pertempuran di akhir zaman ini terletak di Al-Ghauthah. Hal ini disebutkan dalam riwayat Abu Darda RA.

    Rasulullah SAW bersabda, “Pada saatnya nanti umat Islam akan terkepung di Madinah Al-Munawwarah hingga mereka berada jauh dari benteng-benteng mereka di Silah.” (Shahih Al-Jami. Silah dalam riwayat ini adalah sebuah tempat dekat Khaibar)

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ibrahim AS Hancurkan Berhala hingga Dibakar Hidup-hidup

    Kisah Nabi Ibrahim AS Hancurkan Berhala hingga Dibakar Hidup-hidup



    Jakarta

    Ibrahim AS adalah salah satu utusan Allah SWT yang kisahnya tertuang dalam beberapa ayat suci Al-Qur’an. Sebagai seorang nabi dan rasul, banyak rintangan yang beliau hadapi sepanjang berdakwah menegakkan agama Allah SWT.

    Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin shrug bin Raghu bin Faligh bin Abir bin Shalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh, seperti disebutkan dalam Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid. Nama ibunya adalah Buna binti Karbita bin Karatsi yang merupakan keturunan Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

    Nabi Ibrahim AS berdakwah kepada penduduk Babilonia yang menyembah berhala. Allah SWT berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 25,


    وَقَالَ إِنَّمَا ٱتَّخَذْتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ أَوْثَٰنًا مَّوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ ثُمَّ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُم بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُم بَعْضًا وَمَأْوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ

    Artinya: “Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.”

    Ibrahim AS menentang penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaumnya itu. Ia bahkan bertanya kepada kaumnya apakah berhala-berhala itu dapat mendengar mereka berdoa atau memberi manfaat.

    Meski begitu, mereka tetap menyembah para berhala karena mengikuti jejak nenek moyang. Ibrahim AS lantas berkata seperti tertuang dalam surat Asy-Syu’ara ayat 75-77,

    “Apakah kamu memerhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu? Sesungguhnya, mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Rabb seluruh alam.” (QS Asy-Syu’ara: 75-77)

    Demi menyadarkan kaumnya, Nabi Ibrahim AS menyusun siasat. Ketika kaumnya merayakan hari besar di luar perkampungan, Ibrahim AS tidak ikut dengan alasan dirinya sedang sakit.

    Ibrahim AS lalu pergi secara diam-diam menuju tempat para berhala itu berada. Dengan tangan kanannya, Nabi Ibrahim AS menghancurkan berhala-berhala itu menggunakan kapak sampai hancur berkeping-keping.

    Menurut salah satu riwayat, Ibrahim AS meletakkan kapak di tangan berhala yang paling besar untuk memberi kesan bahwa ia cemburu jika ada Tuhan kecil lainnya yang disembah bersamanya.

    Benar saja, ketika kaumnya pulang dari perayaan hari besar mereka terkejut melihat kondisi berhala-berhala yang mereka sembah. Mereka kemudian menunjuk Nabi Ibrahim AS sebagai pelakunya karena beliau lah yang kerap mencemooh para berhala itu. Terlebih, Ibrahim AS tidak mengikuti perayaan hari besar di luar perkampungan.

    Ketika Nabi Ibrahim AS ditanya tentang perlakuannya terhadap berhala-berhala itu, ia berkata:

    “Maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.” (QS Al Anbiya: 62-63).

    Mendengar hal tersebut, kaum Ibrahim AS menundukkan kepalanya. Menurut tafsir Qatadah, mereka bingung dan menunduk sambil berkata ‘Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.”

    Saat itulah Nabi Ibrahim AS menjawab, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudharat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” (QS Al Anbiya: 66-67)

    Karena kalah dalam perdebatan, akhirnya kaum Nabi Ibrahim AS menggunakan kekuatan dan kekuasaan untuk membela kebodohan mereka. Ibrahim AS lantas dihukum oleh kaumnya dengan dibakar hidup-hidup.

    Atas kuasa Allah SWT, api tersebut menjadi dingin. Ini sesuai dengan firman-nya dalam surat Al Anbiya ayat 69, “Kami (Allah) berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!”

    Menyaksikan peristiwa itu, seluruh orang di sana tercengang. Akhirnya, pembakaran dihentikan dan Ibrahim AS dibebaskan.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Berdakwah kepada Kaum yang Menyembah Berhala

    Berdakwah kepada Kaum yang Menyembah Berhala


    Jakarta

    Nabi Ilyas AS adalah salah satu nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk membimbing kaum Bani Israil, yang pada saat itu tersesat dalam penyembahan berhala bernama Baal.

    Sebagai keturunan keempat dari Nabi Harun AS, Nabi Ilyas memiliki tugas mulia untuk mengajak kaumnya kembali kepada jalan yang benar, yaitu menyembah Allah SWT dan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan.

    Kehadiran Nabi Ilyas dalam sejarah merupakan salah satu ketetapan Allah untuk menegakkan tauhid di tengah-tengah kaum yang sudah jauh dari ajaran yang benar. Meskipun tantangan yang dihadapi begitu besar, Nabi Ilyas tetap teguh dalam menyampaikan risalah-Nya.


    Kisah perjuangan dan keteguhan Nabi Ilyas AS ini menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam untuk selalu berpegang pada kebenaran, meski berada di tengah kesesatan.

    Kisah Nabi Ilyas

    Menukil buku Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir, terdapat dua pandangan mengenai garis keturunan Nabi Ilyas. Pendapat pertama menyatakan bahwa Nabi Ilyas adalah putra dari Yasin bin Pinehas bin Eleazar bin Harun.

    Ada juga pandangan lain yang mengatakan bahwa beliau adalah keturunan Azer bin Eleazar bin Harun bin Imran. Nabi Ilyas diutus oleh Allah untuk membimbing kaum Bani Israil yang berada di wilayah Ba’labak, yang terletak di sebelah barat Damaskus.

    Kisah Nabi Ilyas dan kaumnya tercantum dalam Surah As-Saffat ayat 123-128, Allah SWT berfirman,

    وَاِنَّ اِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ ۝١٢٣

    اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۝١٢٤

    اَتَدْعُوْنَ بَعْلًا وَّتَذَرُوْنَ اَحْسَنَ الْخٰلِقِيْنَۙ ۝١٢٥

    اللّٰهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ ۝١٢٦

    فَكَذَّبُوْهُ فَاِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ ۝١٢٧

    اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ ۝١٢٨

    123. Sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk para rasul.
    124. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
    125. Apakah kamu terus menyeru Ba’al dan meninggalkan sebaik-baik pencipta,
    126. Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”
    127. Mereka kemudian mendustakannya (Ilyas). Sesungguhnya mereka akan diseret (ke neraka),
    128. Kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah SWT mengutus Nabi Ilyas kepada kaum Bani Israil untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran-Nya, karena saat itu mereka sedang menyembah berhala yang dikenal dengan nama Ba’al.

    Meskipun Nabi Ilyas melaksanakan tugasnya dengan tekun, kaumnya tetap menolak dan raja mereka bahkan mengancam akan membunuhnya. Karena ancaman tersebut, Nabi Ilyas memutuskan untuk bersembunyi di Gunung Qasiyun.

    Ia tinggal di sebuah gua selama sepuluh tahun hingga raja yang mengancamnya meninggal dan digantikan oleh raja yang baru. Setelah itu, Nabi Ilyas keluar dari persembunyian bersama seorang yang diyakini sebagai Nabi Ilyasa AS.

    Ia kembali menyeru raja baru Bani Israil kepada ajaran tauhid, meskipun banyak dari rakyatnya, sekitar sepuluh ribu orang, yang bersedia beriman. Namun, raja tersebut tetap menolak ajaran Nabi Ilyas dan memerintahkan pasukannya untuk membunuh siapa saja dari Bani Israil yang mengikuti ajaran Allah SWT.

    Kaum yang Menyembah Berhala

    Kaum Nabi Ilyas AS, yang menyembah berhala, dikenal sebagai penduduk Ba’labak, atau yang juga disebut kota Baalbek. Menurut Imam Ibnu Katsir dalam bukunya Kisah Para Nabi, Nabi Ilyas AS berusaha dengan gigih mengajak Bani Israil untuk meninggalkan penyembahan berhala mereka, Ba’l, dan kembali menyembah Allah.

    Namun, meskipun Nabi Ilyas telah berusaha keras, tidak ada satu pun dari kaumnya yang mau beriman.

    Kemudian, Nabi Ilyas memohon kepada Allah SWT agar memberikan pelajaran kepada kaumnya, dan akibatnya terjadi kekeringan selama tiga tahun karena hujan tidak turun.

    Kekeringan yang berkepanjangan tersebut menjadi bencana yang sangat berat bagi kaumnya, dan mereka akhirnya meminta bantuan Nabi Ilyas dengan berjanji akan beriman jika hujan kembali turun.

    (hnh/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Syuaib AS yang Diutus Berdakwah kepada Penduduk Madyan

    Kisah Nabi Syuaib AS yang Diutus Berdakwah kepada Penduduk Madyan



    Jakarta

    Nabi Syuaib AS diutus untuk berdakwah kepada kaum Madyan. Penduduk ini termasuk bangsa Arab yang menempati kota Madyan di salah satu Ma’an, perbatasan Syam yang berbatasan langsung dengan Hijaz.

    Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya terjemahan Umar Mujtahid menyebutkan bahwa Madyan adalah kabilah yang terkenal. Mereka berasal dari bani Madyan bin Madyan bin Ibrahim Al-Khalil.

    Sementara itu, mengenai nasab Nabi Syuaib AS terdapat perbedaan pendapat. Ada yang menyebut nama lengkap Syuaib AS adalah Syuaib bin Yasykhar bin Lawi bin Ya’qub, kemudian pendapat lain mengatakan namanya Syuaib bin Nuwaib bin Aifa bin Madyan bin Ibrahim. Yang lain mengatakan namanya Syuaib bin Shaifur bin Aifa bin Tsabit bin Madyan bin Ibrahim.


    Penduduk Madyan adalah orang-orang musyrik yang gemar merampok, meneror serta menyembah Aikah; yaitu sebuah pohon di dalam hutan dengan semak-semak rindang di sekitarnya. Mereka juga kerap berperilaku curang dalam kegiatan berbisnis, mengurangi takaran dan timbangan hingga meminta lebih tetapi mengurangi saat memberi.

    Allah SWT mengutus Nabi Syuaib AS untuk memperbaiki akhlak penduduk Madyan. Sebagai seorang nabi dan rasul, Syuaib AS terus menyerukan kebenaran dan meminta kaum Madyan untuk beribadah kepada Allah SWT.

    Sebagian dari penduduk Madyan mempercayai Nabi Syuaib AS dan kembali ke jalan yang benar. Tetapi, tak sedikit juga dari kaum Madyan yang tetap ingkar.

    Allah SWT berfirman dalam surat Al A’raf ayat 85,

    وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

    Artinya: “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”

    Nabi Syuaib AS berdakwah kepada umatnya agar berlaku adil dan melarang berbuat lalim. Ia juga mengancam penduduk Madyan yang melanggar hal tersebut.

    Ishaq bin Bisyr meriwayatkan dari Juwaibir dari Dhahhak dari Ibnu Abbas, ia mengatakan:

    “Mereka adalah kaum yang melampaui batas, duduk di setiap jalan, berbuat curang pada sesamanya yaitu memungut pajak, dan mereka adalah orang pertama yang memberlakukan ketentuan seperti itu.”

    Meski terus diperingati oleh Nabi Syuaib AS, penduduk Madyan yang ingkar masih saja berbuat kecurangan dalam timbangan. Sang nabi mengingatkan mereka bahwa Allah SWT akan mencabut nikmat yang diberikan dan menyiksanya dengan azab pedih di akhirat kelak.

    Sepanjang berdakwah kepada kaumnya, Syuaib AS menyampaikan dalam tutur kata yang lembut. Mulanya ia berdakwah dengan metode yang berisi anjuran.

    Lama kelamaan, metode dakwahnya berubah menjadi peringatan. Namun, tetap saja kaum Madyan enggan mendengarkan dan tetap berada dalam kesesatan.

    Akhirnya, Nabi Syuaib AS memohon kepada Allah SWT untuk memberi siksaan kepada kaumnya yang tidak mau beriman.

    Saat matahari terbenam, dan hari menjadi gelap. Tiba-tiba tanah berguncang dengan hebat akibat gempa bumi dan diiringi dengan petir yang menyambar. Keadaan semakin mengerikan ketika semua rumah di Madyan runtuh hingga membinasakan kaum Madyan.

    Azab tersebut mulanya diturunkan dalam beberapa tahap, seperti hembusan udara panas yang kering dan membuat mereka dahaga, terjadinya gempa dahsyat, hingga akhirnya membinasakan kaum Madyan. Ini dikisahkan dalam buku Kisah-kisah Terbaik Al-Qur’an susunan Kamal as-Sayyid.

    Para mufassir menyebut penduduk Madyan tertimpa panas hebat. Allah SWT menahan angin agar tidak berhembus selama tujuh hari, begitu pula dengan air.

    Akhirnya mereka lari meninggalkan tempat menuju dataran luas. Di sana, mereka berkumpul dengan awan hitam.

    Ketika semuanya sudah berada di sana, Allah SWT mengirimkan kobaran api bersama awan hitam tersebut. Bumi diguncang dengan hebat hingga suara menggelegar datang dari langi mencabut nyawa mereka.

    Nabi Syuaib AS dan pengikutnya yang beriman diselamatkan oleh Allah SWT. Ini disebutkan dalam surat Hud ayat 94-95,

    “Ketika putusan Kami tiba, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sementara orang-orang yang berbuat zalim dihancurkan oleh suara yang menggelegar, sehingga mereka mati berserakan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah tinggal di sana. Ingatlah, begitulah binasa penduduk Madyan, dan seperti yang telah terjadi pada kaum Tsamud juga.” (QS Hud: 94-95)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Wujud Batu dari Surga yang Ada di Makkah, Kini Berubah Warna

    Wujud Batu dari Surga yang Ada di Makkah, Kini Berubah Warna


    Jakarta

    Batu surga yang ada di Makkah, dikenal sebagai Hajar Aswad, adalah batu yang dipercaya berasal langsung dari surga.

    Menurut sejarahnya, batu ini awalnya berwarna putih bersih, bahkan lebih terang dari susu. Namun, seiring waktu, warna Hajar Aswad berubah menjadi hitam pekat akibat dosa-dosa manusia yang menyentuhnya.

    Menariknya, perubahan warna Hajar Aswad tidak mengurangi kemuliaannya. Batu ini tetap menjadi salah satu simbol kebesaran Allah SWT yang dijaga dan dihormati oleh umat Islam.


    Ingin tahu lebih banyak tentang kisah, asal usul, dan keutamaan batu suci ini? Berikut adalah informasi yang sudah kami rangkum dari Buku Sejarah Hajar Aswad & Maqam Ibrahim: Kisah Lengkap Batu dari Surga dan Jejak Kaki Nabi Ibrahim karya Prof.Dr.Said Muhammad Bakdasy, yuk, baca selengkapnya dalam artikel ini.

    Sejarah Batu Surga, Sejak Zaman Nabi Ibrahim AS

    Menurut riwayat Al-Azraqi yang mengutip dari Ibnu Ishaq, ketika Nabi Ibrahim AS membangun Ka’bah dan bangunannya semakin tinggi, Nabi Ismail AS menyediakan Maqam (tempat berdiri) agar ayahnya bisa berdiri di atasnya untuk menyelesaikan pembangunan.

    Maqam tersebut dipindahkan oleh Nabi Ismail AS ke setiap sudut Ka’bah hingga tiba di Rukun Hijir. Saat itulah Nabi Ibrahim AS meminta Nabi Ismail AS untuk mencari sebuah batu yang akan dijadikan tanda awal untuk memulai thawaf bagi umat manusia. Ismail pun berangkat untuk mencari batu tersebut bagi ayahnya.

    Nabi Ibrahim AS berkata kepada Nabi Ismail AS, “Ambilkan saya sebuah batu untuk diletakkan di sini, agar nanti menjadi tanda dimulainya tawaf untuk umat manusia.”

    Sebelum Nabi Ismail AS kembali, malaikat Jibril sudah lebih dahulu mendatangi Nabi Ibrahim AS dengan membawa batu surga atau Hajar Aswad. Batu tersebut telah dititipkan oleh Allah SWT kepada Gunung Abu Qubais pada saat bumi ditenggelamkan di zaman Nabi Nuh.

    Allah berfirman kepada gunung itu, “Jika kau melihat kekasih-Ku sedang membangun rumah-Ku, maka keluarkanlah Hajar Aswad untuknya.” Ketika Nabi Ismail AS tiba membawa batu yang telah ditemukan sebelumnya, dia bertanya, “Wahai ayahku, dari mana engkau mendapatkan batu ini?” Nabi Ibrahim AS menjawab, “Batu ini didatangkan oleh orang yang tidak membuatku harus bersusah payah untuk mendapatkan batumu. Batu ini dibawa oleh Jibril.”

    Ketika Jibril meletakkan batu tersebut di tempatnya, dan Nabi Ibrahim AS mulai membangun Ka’bah, batu itu tiba-tiba memancarkan cahaya yang sangat terang. Pancaran cahayanya begitu kuat hingga menerangi seluruh penjuru, dari Timur ke Barat, bahkan mencapai Yaman dan Syam. Al-Azraqi mencatat bahwa sinar itu menyebar sampai ke seluruh batas al-Haram, menerangi setiap sudutnya.

    Karakteristik Bentuk dari Batu Surga

    Merujuk kepada sumber sebelumnya, Batu surga atau Hajar Aswad adalah batu yang dipercayai turun dari langit, seperti disebutkan dalam berbagai hadits Nabi Muhammad SAW. Batu ini diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim AS dan ditempatkan di sudut tenggara Ka’bah sebagai penanda awal bagi umat Islam dalam melakukan thawaf. Sudut ini kini dikenal sebagai Rukun.

    Awalnya, batu surga atau Hajar Aswad memiliki warna putih yang cemerlang, bahkan lebih terang daripada salju dan susu. Namun, seiring waktu, batu ini berubah menjadi hitam akibat dosa-dosa kaum musyrik.

    Berdasarkan riwayat, ukurannya sekitar satu hasta, seperti yang disebutkan oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash RA diriwayatkan “Hajar Aswad dahulu lebih putih dari susu dan panjangnya seukuran tulang hasta.”.

    Kini, hanya bagian depan yang terlihat menghitam, sementara bagian lainnya masih tertanam dalam struktur Ka’bah, mempertahankan warna aslinya yang putih.

    Menurut riwayat Al-Fakihi yang dikutip dari Mujahid, Dia berkata, “Aku melihat Rukun saat Ibnu Zubair merobohkan Ka’bah. Tampak seluruh bagian batunya yang terdapat di bagian dalam Ka’bah berwarna putih.”

    Keistimewaan Batu Surga

    Batu surga atau Hajar Aswad memiliki sejumlah keistimewaan, namun jika tidak memungkinkan untuk menyentuh atau menciumnya, umat Islam dapat melakukan isyarat dengan melambaikan tangan ke arahnya sebagai bentuk penghormatan. Berikut adalah keistimewaan dari batu surga:

    1. Tangan kanan Allah SWT di muka bumi

    Al-Azraqi dan Ibnu Abu Umar, melalui sanad sahih, meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas RA berkata, “Sesungguhnya rukun ini adalah tangan kanan Allah di muka bumi, ia disalami oleh hamba-hamba-Nya layaknya seseorang yang menyalami saudaranya.”

    Pada kesempatan lain, saat tiba di sudut batu surga atau Hajar Aswad, Ibnu Hisyam bertanya, “Wahai Abu Muhammad, apa alasanmu mendatangi Rukun Aswad ini?” Atha’ menjawab, “Abu Hurairah RA menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang menyentuhnya, seakan-akan dia sedang menyentuh tangan Tuhan Yang Maha Penyayang.”

    2. Disunnahkan mencium batu surga atau Hajar Aswad atau melambaikan tangan ke arahnya sebagai tanda dimulainya thawaf.

    3. Batu surga atau Hajar Aswad dipercaya akan memberikan syafaat pada hari kiamat bagi mereka yang menyentuhnya.

    4. Memulai thawaf dari batu surga atau Hajar Aswad merupakan bagian dari syariat yang ditetapkan dalam ibadah haji dan umrah.

    5. Batu surga atau Hajar Aswad terletak di bagian paling mulia dari Ka’bah, menjadikannya simbol yang sangat dihormati.

    6. Bagian dari batu yakut Surga

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Rukun dan Maqam Ibrahim merupakan dua batu yakut yang menjadi bagian dari batu yakut surga. Jika saja Allah tidak menghapus cahayanya, maka kedua batu itu akan menerangi Timur dan Barat.” Yang dimaksud dengan Rukun adalah batu surga atau Hajar Aswad, sedangkan Maqam adalah batu yang dipijak Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah.

    Peristiwa Bersejarah yang Pernah Berkaitan dengan Batu Surga

    Batu surga atau Hajar Aswad, batu yang dipercaya berasal dari surga, telah melalui berbagai peristiwa bersejarah yang meninggalkan jejak fisik padanya. Berbagai insiden, termasuk pencurian dan kerusakan, menyebabkan batu surga atau Hajar Aswad mengalami retakan dan pecahan.

    Berikut adalah beberapa peristiwa penting yang pernah menimpa batu surga ini dan berkontribusi pada kondisinya saat ini:

    1. Baitullah al-Haram (Ka’bah) pernah dilanda dua kebakaran besar. Kebakaran pertama terjadi pada masa pra-Islam di era Quraisy, yang mengakibatkan batu surga atau Hajar Aswad semakin menghitam setelah tersambar api. Kebakaran kedua terjadi di era Islam, tepatnya saat kepemimpinan Abdullah bin Zubair RA, di mana Ka’bah dikepung oleh al-Hashin bin Numair al-Kindi, yang menyebabkan kerusakan lebih dalam.

    2. Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Harun al-Rasyid, lapisan perak yang melindungi batu surga atau Hajar Aswad mulai menipis dan terkikis, hingga menyebabkan batu tersebut tidak lagi berada dengan kokoh di tempatnya semula.

    3. Kisah sekte Qaramithah yang mencuri batu surga atau Hajar Aswad merupakan salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Islam.

    4. Pada tahun 363 H/974 M, seorang Nasrani dari Kekaisaran Romawi melakukan aksi vandalisme yang mengejutkan, di mana ia memukul batu surga atau Hajar Aswad menggunakan martil.

    5. Pada tahun 413 H/1022 M, Masjidil Haram mengalami serangan yang mengejutkan ketika seseorang berusaha merusak batu surga atau Hajar Aswad. Dengan pedang dan tongkat pemukul di tangannya, ia mencoba menghancurkan batu suci tersebut.

    6. Pada tahun 990 H/1582 M, seorang pria asal Irak, yang bukan dari keturunan Arab, tiba di Masjidil Haram dengan tampak tergesa-gesa. Dalam aksinya yang tiba-tiba, ia menghantam batu surga atau Hajar Aswad menggunakan tongkat besi yang dibawanya.

    7. Pada tahun 1351 H/1932 M, seorang pria asal Persia dari wilayah Afghanistan melakukan tindakan berani di Baitullah. Dia mencuri satu potongan batu surga atau Hajar Aswad, serta mengambil kain penutup Ka’bah. Tidak hanya itu, pria tersebut juga mencuri potongan perak dari tangga Ka’bah yang berada di antara sumur Zamzam dan pintu Bani Syaibah.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com