Jakarta –
Kopi dan teh merupakan dua jenis minuman populer untuk mengawali pagi. Di antara keduanya, mana yang lebih sehat? Begini penjelasan ahli gizi.
Selama berabad-abad, kopi dan teh dinikmati oleh banyak orang di dunia. Keduanya memiliki beragam manfaat sehat.
Namun dari sisi nutrisi, sebenarnya lebih sehat ngopi atau ngeteh? Dikutip dari Eating Well (9/8/2025), ahli gizi Lauren Manaker mengungkap penjelasannya.
Manfaat Sehat Kopi
Kopi adalah sumber antioksidan yang penting dalam melindungi tubuh dari kerusakan sel akibat paparan radikal bebas. Secara khusus, kopi mengandung antioksidan kuat bernama asam klorogenat yang baik untuk kesehatan usus, meningkatkan kontrol gula darah, melindungi dari penurunan kognitif, hingga menjaga kesehatan jantung.
Konsumsi kopi juga dikaitkan dengan risiko lebih rendah mengalami penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Sebuah studi menemukan minum 1-2 cangkir kopi per hari dikaitkan dengan risiko 32% lebih rendah terkena penyakit Alzheimer.
Ahli gizi Toby Amidor mengungkap alasan kopi dapat melindungi seseorang dari penurunan kognitif adalah karena kafein di dalamnya meningkatkan neurotransmitter seperti dopamin dan norepinefrin. Keduanya dapat meningkatkan fungsi otak.
Tak kalah penting, konsumsi kopi juga dikaitkan dengan kesehatan jantung yang lebih baik. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara konsumsi kopi rutin dengan penurunan risiko gagal jantung dan kadar kolesterol yang lebih baik.
Manfaat Sehat Teh
Tak kalah populer dari kopi, ada teh yang jadi pilihan banyak orang. Teh yang berasal dari tumbuhan Camellia sinensis ini kaya polifenol, terutama katekin dan flavonoid yang memiliki manfaat antioksidan kuat.
Seperti kopi, teh juga bagus untuk mendukung kesehatan jantung. Sebuah tinjauan studi menunjukkan konsumsi teh hijau dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung dengan mengurangi faktor risiko utama, seperti menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik serta kadar kolesterol jahat.
Beberapa jenis teh juga punya manfaat lain yaitu mendukung kesehatan pencernaan. Kamu bisa mendapatkannya dari konsumsi teh peppermint dan teh jahe.
Keduanya bermanfaat meredakan kembung, meningkatkan motilitas usus, dan bahkan mengurangi rasa mual. “Senyawa dalam beberapa teh herbal dapat membantu pencernaan dan bisa menjadi pilihan yang tepat untuk diminum setelah makan,” kata Amidor.
Berbeda dengan kopi yang sering dipuji karena efek energinya, sebaliknya teh justru cenderung memiliki efek menenangkan berkat senyawa L-theanine. Asam amino ini mendorong relaksasi dengan meningkatkan aktivitas gelombang otak alfa dan meningkatkan neurotransmitter penenang yang terkait dengan fokus dan pengurangan stres.
Lantas, Lebih Sehat Kopi atau Teh?
Untuk memutuskan mana yang lebih sehat antara kopi atau teh, tidak ada jawaban yang pasti. Keduanya memiliki manfaat unik yang menjadikannya pilihan yang sangat baik, tergantung pada tujuan dan preferensi kesehatan masing-masing individu.
“Kopi dan teh sama-sama memiliki manfaat kesehatan yang didukung penelitian, tetapi kuncinya adalah moderasi,” jelas Jaclyn London, M.S., RDN.
Kebanyakan ahli menyarankan untuk membatasi konsumsi maksimal 3 hingga 4 cangkir per hari. Waspadai juga tambahan gula atau krimer tinggi lemak yang dapat mengurangi efek positifnya.
Tips Minum Kopi dan Teh Sehat
Untuk kopi, pilihlah kopi hitam atau tambahkan sedikit susu. Idealnya, hindari sirup gula dan krim kocok tinggi lemak. Jika kamu lebih menyukai rasa yang lebih lembut dan tidak terlalu asam, cobalah cold brew.
Untuk teh, bisa pilih teh hijau atau teh hitam. Diminum begitu saja atau tambahkan perasan lemon atau madu sebagai penambah rasa.
Pada intinya, penting untuk ‘mendengarkan’ tubuh masing-masing. Beberapa orang merasa paling nyaman minum teh, sementara yang lain menoleransi kopi dengan baik. Namun, jika kopi membuat kamu merasa gelisah atau cemas, menggantinya dengan teh yang menenangkan bisa jadi solusi.
(adr/adr)
Ladies! 5 Pola Diet Ini Ampuh Jaga Kesehatan Miss V
Jakarta –
Menjaga keseimbangan pH dan kesehatan miss v juga dipengaruhi oleh diet yang diterapkan. Ahli ginekologi menyarankan pola diet untuk menjaga kesehatan vagina.
Bagian organ intim kewanitaan sensitif dengan pH atau tingkat keasaman. Normalnya pH vagina berada pada 3,8 – 5.0.
Tak hanya menjaga kebersihannya, tetapi kesehatan vagina juga dapat dipengaruhi oleh pola diet dan hidup sehat. Ahli ginekologi yang mempelajari cabang kedokteran pada sistem reproduksi wanita secara keseluruhan menyarankan beberapa pola diet.
Tujuan pola diet sehat untuk menjaga kesehatan vagina adalah memberikan lingkungan untuk bakteri lactobacilli tumbuh subur. Dilansir dari Very Well Health, (25/3/2025), ada beberapa makanan yang dapat berdampak besar pada kesehatan vagina.
Baca juga: Eksklusif! Yuk Belajar Roasting Biji Kopi Bareng Jawaranya Langsung
Berikut ini 5 pola diet yang disarankan ginekologi untuk kesehatan miss V:
Mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dapat mengganggu kesehatan miss v. Foto: Getty Images/vchal |
1. Kurangi Lemak Jenuh
Konsumsi lemak jenuh tak dapat dipungkiri dapat mengganggu kesehatan tubuh. Selain memicu obesitas, konsumsi lemak jenuh juga berdampak pada kesehatan organ intim wanita.
Kebiasaan makan tinggi lemak tidak disarankan oleh ginekologi. Ladies diharapkan dapat meminimalisir asupan daging merah, mentega, dan goreng-gorengan.
Asupan lemak jenuh yang tinggi dapat memicu kenaikan pH pada vagina. Dampak nya mikroflora pada vagina yang seharusnya menjaga kesehatan akan berubah.
2. Hindari Asupan Gula
Ngidam makanan manis, terutama ketika menjelang menstruasi sering dialami wanita. Ternyata rasa ngidam tersebut juga harus tetap dikendalikan.
Alasannya konsumsi gula yang berlebihan dapat memicu kenaikan kadar pH pada vagina. Sebagaimana gula disukai oleh ragi, begitu pula dengan dampaknya pada mikrobiologi pada vagina.
Konsumsi makanan manis yang berlebihan dapat menyebabkan kenaikan pesat bakteri pada vagina yang dapat memicu infeksi.
3. Konsumsi Makanan Prebiotik
Makanan prebiotik tidak hanya baik untuk pencernaan. Menurut ahli ginekologi, prebiotik juga dibutuhkan wanita untuk menjaga kesehatan organ intimnya.
Ternyata makanan prebiotik terbukti dapat membantu pertumbuhan bakteri baik. Seperti memberikan Lactobacillus yang menjaga keseimbangan pH pada vagina.
Adapun makanan tinggi prebiotik yang disarankan juga mudah didapatkan. Seperti pisang, bawang putih, asparagus, dan sayuran hijau lainnya.
Diet ovo-vegetarian lebih disarankan ginekologi untuk wanita yang ingin menjaga kesehatan vaginanya. Foto: Getty Images/vchal |
4. Meniru Diet Ovo-Vegetarian
Diet vegetarian salah satu yang paling populer diterapkan oleh pegiat kesehatan. Ternyata untuk wanita, ahli ginekologi lebih menyarankan pola diet ovo-vegetarian.
Berbeda dengan vegetarian, diet ini masih memperbolehkan pelakunya mengonsumsi makanan yang lebih seimbang. Salah satunya telur dan beberapa turunan hewani lainnya.
Dibandingkan dengan hanya mengonsumsi sayuran, memadukannya dengan sumber protein hewani lebih baik untuk kesehatan vagina. Diet ovo-vegetarian cocok untuk membentuk lingkungan yang sehat untuk Lactobacillus tumbuh di dalam vagina.
5. Cukupi Hidrasi
Hidrasi memiliki peran yang penting bagi tubuh. Tidak hanya kelembapan atau mencegah dehidrasi, memenuhi hidrasi mampu menjaga kesehatan organ tubuh.
Minum banyak air dapat membantu mencuci racun dan mengeluarkan toksin dari dalam tubuh. Begitu pula dengan dampaknya terhadap ekosistem pada miss v.
Kebutuhan hidrasi seorang wanita disebut ahli ginekologi juga pengaruhi oleh kondisi seksual. Misalnya ketika kehamilan, melahirkan, dan keaktifan seksual punya kadar asupan hidrasi yang disarankan dalam jumlah berbeda.
Baca juga: Keren! Wanita Ini Sukses Bikin Kafe Sendiri usai Nekat Resign dari Kantor
(dfl/adr)
Suka Pisang? Waspadai 5 Efek Samping saat Konsumsinya Berlebihan
Jakarta –
Pisang menjadi pilihan populer untuk sarapan maupun camilan sehat. Mengonsumsi pisang mendatangkan manfaat sehat, tapi kalau kebanyakan justru memicu efek samping berikut ini.
Pisang merupakan salah satu buah paling populer di dunia. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis alami membuat pisang disukai kalangan anak-anak hingga orang tua.
Pisang juga kaya manfaat karena mengandung beragam vitamin dan mineral, seperti potassium, vitamin B6, magnesium, dan serat. Konsumsi pisang bisa menyediakan pasokan energi secara instan.
Batas aman konsumsi pisang adalah 1-2 buah per hari. Pisang pun bisa menjadi bagian dari pola makan sehat sehari-hari. Namun, pastikan kamu tidak mengonsumsi pisang berlebihan karena tidak baik untuk kesehatan.
Dikutip dari Times of India (14/8/2025), inilah 5 efek samping dari konsumsi pisang berlebihan:
1. Pencernaan tidak nyaman
Pisang adalah sumber serat larut yang menyerap air dalam saluran pencernaan dan bantu mengatur pergerakan usus. Satu buah pisang ukuran sedang mengandung 5 gram serat. Jika dikonsumsi secukupnya dapat mendukung kesehatan pencernaan.
Sebaliknya, jika berlebihan, maka pisang dapat membebani sistem pencernaan dan membuatnya tidak nyaman. Kelebihan asupan serat larut dapat memperlambat proses cerna makanan yang memunculkan efek samping, seperti kembung, perut bergas, dan nyeri perut.
2. Kelebihan potassium
Makan buah pisang tidak boleh berlebihan agar tidak memicu efek samping. Foto: Getty Images/iStockphoto/bhofack2 |
Potassium adalah mineral penting untuk kesehatan jantung, saraf, dan fungsi otot. Pisang pun menjadi salah satu sumber potassium andalan. Satu buah pisang ukuran sedang menyediakan sekitar 326 miligram (mg) potassium. Jumlah ini memenuhi 1/7 hingga 1/10 rekomendasi asupan potassium harian.
Karena itu pastikan bijak konsumsi pisang. Perhatikan juga asupan makanan lain. Jika sama-sama kaya potassium, maka kadar potassium dalam darah bisa berlebihan. Kondisi ini dikenal sebagai hiperkalemia. Gejalanya seperti detak jantung tak beraturan, lemah otot, mual, dan muntah.
3. Lonjakan gula darah
Pisang mengandung gula alami dan karbohidrat yang dapat memengaruhi kadar gula darah. Menurut studi yang dipublikasikan dalam NIH, konsumsi pisang matang secara khusus dapat meningkatkan lonjakan gula darah. Karena pisang ini mengandung indeks glikemik tinggi, sekitar 60.
Efeknya akan makin kuat untuk individu yang mengalami diabetes atau resistensi insulin. Jadi, hindari makan pisang matang dalam jumlah banyak sekaligus. Solusi lain, kombinasikan asupan pisang dengan sumber protein atau lemak sehat, seperti selai kacang dan yogurt.
4. Migrain
Pisang bisa picu migrain karena kaya tiramin. Foto: Getty Images/Domepitipat |
Pisang mengandung tiramin, senyawa alami yang terbentuk ketika buah matang. Menurut American Migraine Foundation, tiramin bisa memengaruhi fungsi pembuluh darah di otak dan memicu migrain pada mereka yang sensitif akan sakit kepala sebelah ini.
Untuk diketahui, pisang matang mengandung tiramin paling tinggi dan mungkin bisa memicu migrain pada beberapa orang. Terlebih jika dimakan bersama makanan tinggi tiramin lain, seperti keju, kacang, yogurt, dan buah citrus.
5. Gigi rusak
Siapa sangka, efek samping makan pisang juga berpengaruh pada kerusakan gigi. Ini karena kandungan gula alami dan pati pada pisang yang bisa memicu pertumbuhan bakteri di gigi dan mulut. Sehingga potensi kerusakan gigi semakin tinggi.
Tidak seperti gula sederhana yang cepat larut, gula dan pati pada pisang dipecah perlahan. Alhasil partikelnya akan tersisa di gigi lebih lama dan memberi waktu lebih banyak untuk bakteri memproduksi asam yang mengikis email gigi. Untuk meminimalisir efek ini, kamu bisa sikat gigi atau membilas mulut usai makan pisang.
(adr/adr)
Nggak Usah Khawatir Lagi! Makan Telur Tiap Hari Justru Turunkan Kolesterol
Jakarta –
Selama ini telur sering ‘disalahkan’ sebagai makanan yang bikin kadar kolesterol tinggi. Namun, studi terbaru mengungkap fakta sebaliknya. Konsumsi telur setiap hari justru bagus untuk kadar kolesterol.
Telur yang merupakan sumber protein favorit orang Indonesia kerap dikambinghitamkan sebagai penyebab kadar kolesterol jahat tinggi dalam darah. Hal ini lantaran dalam satu kuning telur mengandung sekitar 186 mg kolesterol, seperti dikutip dari Alodokter.
Selain itu, telur juga tinggi lemak. Jumlahnya bisa berbeda tergantung jenis telur. Contohnya 100 gram telur ayam kampung mengandung 14 gram lemak dan 100 gram telur ayam negeri mengandung 31,9 gram lemak. Lemak diketahui sebagai bahan baku pembuatan kolesterol.
Karena fakta kandungan lemak dan kolesterol pada telur yang cukup tinggi, banyak orang akhirnya beranggapan sering makan telur akan berdampak pada kenaikan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.
Namun, studi terbaru yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition seolah meluruskan anggapan tersebut. Dikutip dari Eating Well (5/8/2025), peneliti mencoba menjawab pertanyaan utama: Apakah konsumsi telur sendiri yang menjadi penyebab kolesterol, atau makanan yang kerap menyertai olahan telur, seperti bacon, butter, dan keju?
Untuk mencari tahu, peneliti di University of South Australia menjalankan eksperimen melibatkan 61 orang dewasa dalam rentang usia 18-60 tahun. Semua peserta memiliki kadar kolesterol LDL (yang sering disebut kolesterol jahat) normal pada awal penelitian dan tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi lipid darah.
Studi terbaru ungkap makan telur tiap hari justru menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Foto: Getty Images/DjelicS |
Mereka kemudian menjalani 3 fase diet yang berbeda, masing-masing berlangsung selama 5 minggu. Pertama, fase Control Diet (makan hanya 1 telur per minggu). Kedua, fase Egg (makan 2 butir telur per hari). Ketiga, fase Egg-Free (tidak makan telur).
Pada setiap fase, peserta mengonsumsi jumlah kalori yang sama. Mereka juga dipantau secara cermat oleh ahli gizi. Kemudian urutan fase diet diacak dan kadar lipid darah diukur di akhir setiap fase.
Hasilnya, fase Egg secara signifikan menurunkan kolesterol LDL, kolesterol total, dan ApoB yaitu penanda jumlah partikel lipoprotein aterogenik, dibanding fase Control Diet. Sementara itu, fase Egg-Free memang membuat kadar kolesterol peserta rendah, tapi tidak mengubah penanda lain secara signifikan.
Pada intinya, peneliti menemukan kalau asupan kolesterol dari makanan, seperti telur, tidak membuat kadar kolesterol LDL dalam tubuh meningkat. Tidak seperti asupan dari lemak jenuh yang memang meningkatkan kolesterol jahat tersebut.
Konsumsi 2 butir telur sehari sebagai bagian dari diet rendah lemak jenuh disebut dapat menurunkan kolesterol LDL. Meski begitu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama pada populasi yang lebih besar dan lebih beragam.
Keterbatasan lain pada studi ini adalah fokusnya pada populasi orang dewasa yang sehat, sehingga membatasi generalisasi. Selain itu, studi ini didanai oleh Egg Nutrition Center yang dapat menimbulkan bias. Meski begitu, para peneliti mencatat sponsor tidak berperan dalam desain atau analisis studi.
(adr/adr)
Sudah Diet Tapi Berat Badan Nggak Turun? Ini 7 Penyebab Utamanya!
Jakarta –
Banyak orang sudah diet mati-matian, tapi berat badannya tak kunjung turun. Ternyata penyebabnya bisa jadi karena hal sepele, seperti pilihan makanan yang kurang tepat hingga melewatkan waktu makan.
Usaha menurunkan berat badan terbilang susah-susah gampang. Ada orang yang dengan mudah memangkas bobot tubuhnya, tapi ada juga yang berat badannya seolah ‘stuck’, padahal sudah berusaha diet.
Penyebab gagal diet bisa jadi karena pola makan yang tidak tepat hingga manajemen stress yang kurang baik. Coba perhatikan hal-hal kecil ini yang sering kali menjadi penyebab berat badan sulit turun.
Dikutip dari Health Shots (21/7/2025), inilah 7 hal yang menghambat penurunan berat badan:
1. Mengabaikan prinsip defisit kalori
Sudah makan banyak protein dan serat, berat badan tetap ‘stuck’? Bisa jadi karena kamu tidak mengindahkan prinsip defisit kalori. Faktanya, berat badan bisa turun jika terjadi defisit kalori dimana kalori yang masuk harus lebih sedikit dibanding kalori yang dibakar tubuh.
Ahli gizi Dr Pratayksha Bhardwaj mengatakan, defisit kalori penting diperhatikan. Caranya dengan memerhatikan setiap makanan yang dikonsumsi. Pantau agar tak berlebihan dan lebih sedikit dari yang biasanya.
2. Asupan zat gizi makro tidak seimbang
Nasi merah, salah satu sumber karbohidrat kompleks. Foto: Getty Images/iStockphoto/arto_canon |
Saat diet, jangan hanya mengandalkan asupan protein. Kamu perlu mengasup zat gizi makro, secara seimbang, termasuk dari lemak sehat dan karbohidrat kompleks.
Dengan begitu, tubuh dapat berfungsi maksimal dan mempertahankan energi dengan lebih baik. “Jangan meniadakan asupan karbohidrat karena bisa memicu lemas dan metabolisme tubuh melambat, membuat berat badan naik,” kata Dr Bhardwaj.
3. Tidak mencukupi kebutuhan serat
Selain protein, asupan serat juga berperan penting dalam manajemen berat badan. Serat mempertahankan rasa kenyang lebih lama dan gula darah lebih stabil.
Percuma jika konsumsi makanan tinggi protein, tapi seratnya tidak cukup. Rasa lapar akan cepat datang dan kamu berakhir makan lebih banyak. Usahakan makan sumber serat, seperti buah dan sayur, setiap hari.
4. Kebanyakan makan protein
Saat diet kamu perlu menyiasati pola makan, termasuk mencukupi kebutuhan protein. Jangan terlalu banyak mengonsumsi protein karena efeknya juga kurang bagus. Protein bakal disimpan sebagai lemak.
Menurut sebuah penelitian di Clinical Nutrition, mengganti asupan karbohidrat dengan protein (tapi tanpa lemak), berkaitan dengan kenaikan berat badan seiring waktu. Jadi, moderasi adalah kuncinya. Kombinasikan asupan protein rendah lemak dengan karbohidrat dan lemak sehat untuk hasil terbaik.
5. Melewatkan waktu makan
Melewatkan makan terdengar seperti membantu mengurangi kalori, tetapi sebenarnya bisa menjadi bumerang. “Terlalu lama membiarkan tubuh tidak makan dapat memperlambat metabolisme dan menyebabkan makan berlebihan selanjutnya,” ujar Dr. Bhardwaj.
Cobalah makan makanan dalam porsi lebih kecil dan seimbang setiap 3-4 jam sekali. Cara ini bisa menjaga gula darah tetap stabil dan tingkat energi tetap tinggi.
6. Tidak minum cukup air
Tidak minum cukup air putih bisa menghambat penurunan berat badan. Foto: Getty Images/KTStock |
Hidrasi punya banyak manfaat, mulai dari menyehatkan pencernaan dan menekan nafsu makan. Hidrasi yang kurang merupakan salah satu penyebab berat badan tidak turun.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Nutrition, minum cukup air dapat membantu meningkatkan metabolisme dan mengurangi asupan kalori. Penurunan berat badan pun akan lebih mudah. Targetkan setidaknya 8 gelas sehari dan tingkatkan asupannya jika kamu tergolong aktif atau tinggal di daerah beriklim panas.
7. Kekurangan vitamin D
“Kekurangan vitamin D justru dapat menghambat upaya penurunan berat badan Anda,” ungkap Dr. Bhardwaj. Vitamin yang larut dalam lemak ini membantu mengatur hormon, kadar energi, dan bahkan metabolisme lemak.
Sebuah studi dari Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism menemukan kadar vitamin D yang rendah berkaitan dengan lemak tubuh dan Indeks Massa Tubuh yang lebih tinggi. Coba rutin makanan kaya vitamin D seperti telur, salmon, dan produk susu yang diperkaya vitamin tersebut.
(adr/adr)
5 Makanan yang Harus Dihindari agar Asthma Tak Sering Kambuh
Jakarta –
Gangguan pernapasan seperti asthma ternyata juga sensitif pada asupan makanan. Ada beberapa makanan yang wajib dihindari agar tak mudah kambuh.
Asupan makanan berpengaruh besar pada kesehatan secara umum. Baik memicu penyakit baru maupun memicu penyakit bawaan menjadi kambuh.
Bahkan gangguan pernapasan seperti asthma sekalipun juga dipengaruhi oleh asupan makanan. Ada kandungan tertentu dalam makanan yang dapat memicu kambuhnya asthma, seperti sulfat, makanan bergas, hingga potensi inflamasi.
Beberapa makanan ini tidak disarankan oleh pakar kesehatan untuk dikonsumsi penderita asthma. Sebagian di antara daftarnya ada yang sering ditemukan dalam makanan sehari-hari.
Dilansir dari Greatist, (25/10/2024), berikut ini 5 makanan yang tak cocok untuk penderita asthma:
Hewan bercangkang memiliki kandungan sulfit yang tinggi dan dapat memicu asthma. Foto: Getty Images/LukaTDB |
1. Udang
Hewan laut yang bercangkang selain dapat memicu alergi juga tak disarankan untuk penderita asthma. Alasannya terletak pada kandungan sulfit di dalamnya.
Pada udang, hewan yang berkulit keras tanpa cangkang sekalipun, kadar sulfitnya cukup tinggi. Para peneliti menyebut kondisi alergi dan asthma dapat disebut serupa.
Mengonsumsi makanan bercangkang akan lebih cepat memicu asthma untuk kambuh. Dalam penelitian, ilmuwan menyimpulkan sebagian besar penderita asthma alergi terhadap hewan bercangkang.
2. Cuka
Cuka sering digunakan untuk bantuan menghilangkan amis pada makanan atau sumber rasa asam segar. Namun cuka melalui proses fermentasi dalam pembuatannya.
Proses tersebut memicu pembentukan sulfit dalam cuka. Misalnya seperti cuka apel dan beberapa cuka lainnya, memiliki kandungan sulfit akibat terbentuk secara alami.
Pakar kesehatan menyarankan pasien asthma tidak mengonsumsi cuka. Sebagai gantinya dapat memilih perasan jeruk lemon segar untuk alternatifnya.
3. Acar
Alasan acar dilarang untuk pasien asthma mirip dengan cuka. Acar melalui proses fermentasi untuk membuatnya terasa asam, bahkan menggunakan bantuan cuka.
Acar memiliki kadar sulfit yang tinggi. Pada penelitian tahun 2010, terbukti konsumsi sulfit yang tinggi seperti pada acar dapat memicu asthma kambuh.
Acar buah, acar sayur, hingga acar bawang-bawangan sangat tidak direkomendasikan untuk penderita asthma. Jika masih dilanggar, pakar kesehatan khawatir kambuhnya asthma akan terus berulang.
Buah kering dalam pengolahannya menggunakan zat tambahan yang meningkatkan kandungan sulfit. Foto: Getty Images/LukaTDB |
4. Buah Kering
Ketika mendengar buah, persepsi buah sebagai asupan makanan yang sehat akan terlintas. Kandungan nutrisi dan vitamin yang tiggi menjadikan buah pilihan asupan makanan dalam berbagai kondisi kesehatan.
Faktanya buah kering justru tidak direkomendasikan untuk penderita asthma. Buah kering melalui proses pengolahan yang panjang dan ada yang menggunakan tambahan pengawet.
Terutama pada buah-buahan kering kemasan yang banyak dijual di supermarket. Zat tambahan tersebut menjadi sumber masuknya sulfit ke dalam buah segar yang diolah menjadi buah kering.
5. Olahan Susu
Walaupun susu menyehatkan, tetapi tidak semua tubuh dapat menerima susu dengan baik. Kondisi alergi makanan yang banyak tak disadari ialah intoleran laktosa baik dari tahap ringan maupun berat.
Konsumsi susu dan produk olahannya dapat memicu kambuhnya asthma. Seperti yoghurt, krim, mentega, dan olahan susu lainnya.
Perut yang terasa kembung setelah minum susu sebenarnya menjadi pertanda orang tersebut intoleran laktosa. Apalagi pada pasien asthma, efeknya akan lebih mengerikan.
(dfl/adr)
Pencinta Kopi dan Teh Wajib Tahu, Hindari 3 Waktu Terburuk Meminumnya
Jakarta –
Kopi dan teh tidak cocok diminum pada setiap waktu. Kenali waktu terburuk untuk meminumnya agar tidak merugikan kesehatan.
Kopi dan teh merupakan jenis minuman populer yang umum dikonsumsi setiap hari. Meminumnya mendatangkan banyak manfaat sehat untuk tubuh.
Agar manfaatnya maksimal, perhatikan beberapa aspek dalam menikmati kopi dan teh. Dilansir dari Food NDTV (22/7), ternyata mengonsumsi kopi dan teh ada waktu terbaik dan terburuknya.
Hal ini diungkapkan oleh ahli gizi Dr Dixa Bhavsar Savaliya dalam unggahan video Reels Instagram. Berikut 3 waktu terburuk untuk minum kopi dan teh:
1. Saat Perut Kosong
Kopi dan teh adalah minuman yang mengandung kafein tinggi. Oleh karenanya tak baik jika langsung dikonsumsi saat pagi hari ketika perut masih kosong.
Dr Savaliya juga menyarankan tidak mengonsumsi kopi dan teh pada waktu tersebut. Karena, kafein yang dikonsumsi saat perut kosong dapat mengganggu produksi kortisol, hormon stres utama, dan memunculkan rasa cemas, serta hilang keseimbangan.
Minum kopi dan minum teh ada waktu idealnya agar bermanfaat maksimal untuk kesehatan. Foto: Getty Images/krblokhin |
2. Saat Makan
Kopi dan teh sebaiknya tidak dijadikan minuman pendamping makan. Karena, kopi dan teh bersifat asam yang dapat menghambat pencernaan.
Jika mengonsumsinya bersamaan dengan makanan yang mengandung protein tinggi, maka akan menghambat proses pencernaan. Hal ini dikarenakan kafein bersifat asam.
Selain itu, teh juga dapat mengganggu penyerapan zat besi jika dikonsumsi segera setelah makan. Untuk mengoptimalkan pencernaan dan penyerapan nutrisi, sebaiknya menghindari kopi atau teh dalam kurun waktu 1 jam sebelum dan sesudah makan.
3. Sore Hari setelah Pukul 16.00
Kopi dan teh sebaiknya juga dihindari saat sore hari, terutama setelah pukul 16.00. Bagi mereka yang menikmati secangkir minuman di malam hari, kafein dapat memberikan dampak yang buruk.
Dr Savaliya merekomendasikan untuk menghindari kafein dari kopi dan teh setidaknya 10 jam sebelum tidur. Hindari mengonsumsinya setelah pukul 16.00, karena dapat meningkatkan kualitas tidur, mendukung detoksifikasi hati, mengurangi kadar kortisol, hingga meningkatkan pencernaan.
Batas Aman Konsumsi Kopi dan Teh
Menurut Indian Council of Medical Research (ICMR), baik kopi maupun teh mengandung kafein. Kandungan ini dapat merangsang sistem saraf pusat dan menyebabkan ketergantungan.
Batas harian mengonsumsi kopi dan teh tidak disarankan melebihi 300 miligram. Secangkir kopi seduh (150 ml) mengandung 80-120 mg kafein. Lalu, kopi instan mengandung sekitar 50-65 mg kafein, sedangkan secangkir teh mengandung 30-65 mg kafein.
(adr/adr)
Konsumsi Dark Chocolate Bisa Turunkan Risiko Diabetes Tipe 2
Jakarta –
Sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang yang mengonsumsi dark chocolate memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2. Ini penjelasannya!
Dark chocolate atau cokelat hitam dikenal sebagai makanan yang menyehatkan. Dark chocolate mengandung senyawa polifenol yang punya banyak manfaat.
Mulai dari melawan peradangan, menurunkan tekanan darah, hingga meningkatkan suasana hati. Selain itu, rutin makan dark chocolate juga menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2.
Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard T.H. Chan School of Public Health. Peneliti tersebut menganalisis data dari sekitar 192.000 peserta.
Peserta tersebut sudah menyelesaikan kuesioner diet selama bertahun-tahun, termasuk berapa banyak dan jenis cokelat yang mereka konsumsi, lapor NPR. (5/12/24).
Cokelat hitam mengandung senyawa penting. Foto: Getty Images/iStockphoto/bhofack2 |
Studi yang diterbitkan di The British Medical Journal tersebut menemukan bahwa orang yang mengonsumsi cokelat susu (milk chocolate), yang memiliki lebih banyak gula dan lebih sedikit kakao, tidak mengalami penurunan risiko diabetes.
Selama penelitian berlangsung, pemakan cokelat susu cenderung mengalami penambahan berat badan dan ini berkontribusi terhadap risiko diabetes.
Sementara itu, hal yang berbeda ditemukan pada orang yang memakan dark chocolate. Mereka tidak mengalami penambahan berat badan. Justru mereka memiliki risiko yang lebih rendah terkena diabetes tipe 2 sebanyak 21%.
Dark chocolate juga memiliki senyawa penting yang bisa meningkatkan kesehatan jantung. Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Heart juga menemukan hal yang sama.
Para ilmuwan telah menemukan senyawa tanaman bioaktif yang ditemukan dalam biji kakao, yang disebut flavanol. Senyawa itu terbukti mendorong memproduksi oksida nitrat dalam tubuh.
Rutin makan cokelat hitam 28 gram per hari bisa membantu menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2. Foto: Getty Images/eternalcreative |
Selain itu, senyawa tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah terbuka atau melebar, sehingga mengonsumsi dark chocolate juga dikaitkan dengan sedikitnya penurunan tekanan darah.
“Vasodilatasi tampaknya menjadi mekanisme penurunan tekanan darah. Tekanan darah yang lebih rendah ini membantu menurunkan risiko jantung,” tutur peneliti Dr. JoAnn Manson.
Studi selama 20 tahun yang lalu juga menunjukkan bahwa konsumsi dark chocolate dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin pada orang sehat.
Sensitivitas insulin adalah ukuran seberapa baik sel seseorang merespon insulin, yaitu hormon yang mengatur gula darah. Namun, mengonsumsi cokelat hitam juga perlu dibatasi.
Menurut peneliti Qi Sun maupun Jeffery Tessem, cokelat hitam dapat bermanfaat jika dikonsumsi tidak berlebihan. Mereka menyarankan agar mengonsumsi cokelat hitam sekitar 28 gram per hari.
Dark chocolate mengandung kakao yang lebih tinggi dibandingkan cokelat susu. Karenanya para peneliti tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang jenis flavanol tertentu yang ditemukan dalam kakao, termasuk epikatekin yang dikenal dengan sifat antioksidannya.
(raf/odi)
![]() |
||
Source : unsplash.com / Dan Gold
5 Mitos Soal Makan Saat Liburan Ini Jangan Dipercaya Jakarta – Liburan Natal dan akhir tahun kerap membuat banyak orang lupa diri soal pola makan. Jangan sampai mempercayai 5 mitos ini yang bisa bikin kesehatan terganggu. Tak ada salahnya bersenang-senang saat liburan, termasuk dengan menikmati makanan enak. Namun jangan sampai berlebihan hingga membuat stress sampai mengganggu kesehatan. Pasalnya makanan yang dinikmati saat liburan kerap kali makanan tinggi kalori, sodium, sampai lemak. Alih-alih membuat diri senang, kebiasaan makan yang tak terkontrol ini justru tak bagus untuk kesehatan.
Hindari pula mempercayai mitos-mitos soal kebiasaan makan saat liburan yang bisa bikin diri terlena. Juga mitos terkait kebiasaan lainnya, seperti yang dirangkum Healthline berikut: 1. Saat liburan tak akan stressMusim liburan identik dengan hal-hal menyenangkan, tapi bukan berarti kamu tak akan mengalami stress. Kegiatan yang terlalu penuh justru bisa memicu stress berlebih. Karenanya kamu harus bisa menemukan cara untuk rileks dan mengisi kembali energi yang hilang. Cara utamanya dengan tetap memastikan tidur 7-9 jam. Lalu lakukan hobi yang bikin rileks, seperti jalan kaki santai, baca buku, atau menonton film. Jika suka yoga atau meditasi juga bagus dilakukan. “Dan yang sama pentingnya adalah menetapkan batasan dengan tidak mengatakan ya untuk semua hal dan membuat rencana realistis tentang apa yang benar-benar dapat dilakukan tanpa merasa kewalahan,” ujar kardiolog Laxmi Mehta. 2. Melewatkan waktu makan bakal menghemat asupan kalori
Banyak orang masih meyakini mitos ini. Mereka tidak makan sarapan, makan siang, atau makan malam demi menghemat asupan kalori untuk waktu makan lainnya. Ternyata cara ini tidak efektif. Beberapa penelitian menunjukkan melewatkan waktu makan justru bisa membuat seseorang merasa lebih lapar, yang akhirnya memicu makan berlebih. Bahkan sebuah penelitian menemukan melewatkan waktu makan terkait risiko kematian yang lebih tinggi. Kardiolog Daniel Hermann menyimpulkan, yang terbaik adalah menjalani pola makan dan gaya hidup yang ramah untuk kesehatan jantung. 3. Tak usah pantau asupan sodiumMengonsumsi sodium berlebihan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gagal jantung, pembengkakan jantung, hingga serangan jantung. Hal ini perlu diwaspadai sebab sodium terkandung di dalam banyak makanan. American Heart Association mengungkap makanan tinggi sodium, termasuk roti, pizza, sandwich, camilan keripik, keju, hingga olahan telur. Penting untuk membaca label makanan kemasan dan hindari yang tinggi sodium. Hindari pula menambahkan banyak garam dapur ke makanan. Sebagai gantinya, perbanyak makan buah dan sayur. Selengkapnya di halaman selanjutnya. 4. Tak olahraga tak masalah
Saat liburan sering kali olahraga atau aktivitas fisik terabaikan, padahal olahraga sangat penting. Mehta mengungkap olahraga bantu mengalihkan pikiran kamu dari makanan dan mengimbangi asupan kalori berlebih. Coba tetap olahraga rutin saat musim liburan. Tak perlu olahraga berat, sesederhana jalan kaki ke restoran atau rumah teman yang mengadakan pesta, bisa jadi pilihan. Mehta juga mengingatkan bukan berarti kalau sudah olahraga, maka boleh bebas konsumsi makanan tak sehat. Sebab olahraga tidak dapat sepenuhnya mengimbangi pola makan yang tidak sehat. 5. Bebas konsumsi alkoholMusim liburan juga membuat orang kerap lupa diri menenggak minuman alkohol. Kebiasaan ini berbahaya untuk jantung. Menurut Hermann, minuman beralkohol tinggi kalori, gula, dan garam. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis pernyataan pada tahun 2022. Pihaknya mengatakan dalam hal konsumsi alkohol, tidak ada jumlah aman yang tidak memengaruhi kesehatan. “Jika berlebihan, jelas beracun. Konsumsi minuman alkohol terkait dengan penyakit jantung, hipertensi, kardiomiopati, dan obesitas,” kata WHO. Jika ingin tetap mengonsumsinya, batasi 1 gelas saja di pesta. Lalu beralih ke soda, minuman rendah kalori, atau minuman bebas alkohol lainnya. (adr/odi) |
![]() |
|||
Source : unsplash.com / Dan Gold
Agar Rambut Tak Rontok Rutinlah Konsumsi 5 Makanan Enak Ini Jakarta – Rambut rusak dan rontok dapat terjadi karena beberapa faktor. Kondisi tersebut dapat dipulihkan dengan rutin mengonsumsi makanan kaya zat besi dan lemak sehat. Rambut rontok merupakan masalah umum yang dapat disebabkan karena faktor genetika, perubahan hormonal, kondisi medis, dan stres. Kondisi ini dapat dialami siapa saja. Sebenarnya tidak ada obat ajaib yang sepenuhnya dapat menghentikan kerontokan rambut, tetapi kondisi ini bisa diatasi dengan pola makan yang baik.
Rutin makan makanan yang kaya akan zat besi, lemak sehat, dan vitamin dapat membantu menyehatkan rambut dan kulit kepala, sehingga mencegah kerontokan. Dikutip dari Healthera (12/12/24), berikut makanan yang dapat mencegah rambut rontok.1. Salmon
Salmin kaya akan asam lemak omega-3 yang penting untuk menjaga kesehatan kulit kepala. Selain itu, nutrisi tersebut juga dapat meningkatkan pertumbuhan rambut. Omega-3 pada salmon tersebut berperan menutrisi folikel rambut, sehingga membuat rambut lebih kuat dan kecil kemungkinan terjadinya patah atau rontok. Salmon juga kaya akan protein dan vitamin D, keduanya bagus untuk membuat rambut kuat dan sehat secara menyeluruh. 2. BayamBayam merupakan sumber nutrisi yang bermanfaat untuk kesehatan rambut. Baya, dikemas dengan zat besi yang akan membentuk sel darah merah membawa oksigen ke folikel rambut. Selain itu, bayam juga meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan rambut. Terdapat kandungan vitamin A dan C yang berperan memproduksi sebum. Sebum sendiri adalah minyak alami yang melembabkan kulit kepala dan menjaga kesehatan rambut. Makanan untuk kesehatan rambut ada di halaman selanjutnya.3. Telur
Tak hanya protein, telur juga mengandung biotin yang sangat baik. Baik protein maupun biotin sangat bagus untuk kesehatan rambut. Protein bagus untuk pertumbuhan dan perbaikan rambut. Sementara itu, biotin berperan untuk meningkatkan kekuatan dan tekstur rambut. Biotin bereaksi dengan enzim khusus. Kemudian memproduksi asam amino untuk memproduksi protein. Rutin makan telur bisa membantu mencegah kerusakan rambut dan meningkatkan pertumbuhan rambut baru. 4. Ubi JalarUbi jalar kaya akan beta-karoten, yang kemudian diubah menjadi vitamin A. Vitamin tersebut lah yang akan memproduksi sebum, sehingga menjaga rambut agar tidak kering dan rapuh. Vitamin A pada ubi jalar juga membantu mempercepat laju pertumbuhan rambut dan mendorong perkembangan rambut lebih tebal. Selain itu, juga ada vitamin C yang tinggi. Vitamin C tersebut dapat merangsang produksi kolagen, yakni protein yang ada pada rambut dan kulit. Kolagen yang optimal juga dapat mencegah rambut kering. 5. Kacang dan Biji-bijian
Kacang-kacangan dan biji-bijian, seperti almond, walnut, dan biji rami dikemas dengan nutrisi penting untuk kesehatan rambut. Mulai dari vitamin E, seng, dan selenium. Vitamin E tersebut berperan sebagai antioksidan yang memperbaiki dan membangun jaringan dan meningkatkan pertumbuhan rambut. Sementara kandungan seng dan seleniumnya berkontribusi pada kesehatan kulit kepala dan mengurangi risiko kerontongan rambut. Kacang-kacangan juga mengandung asam lemak omega-3 yang dapat membantu menambah ketebalan rambut. (raf/odi) |
![]() |
| Source : unsplash.com / Dan Gold
|


















