Blog

  • Fatimah Az-Zahra, Putri Nabi Muhammad SAW yang Jadi Teladan Para Istri



    Jakarta

    Fatimah Az-Zahra adalah putri Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah binti Khuwailid r.a. Kepribadiannya menjadi sosok teladan bagi para Istri dan kaum wanita.

    Disebutkan dalam buku The Great Sahaba karya Rizem Aizid, Fatimah az-Zahra lahir lima tahun sebelum Rasulullah SAW mendapat wahyu pertama. Fatimah juga menjadi anak kesayangan Rasulullah SAW.

    Rasa cinta dan sayang Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-Zahra diungkapkan melalui perkataan beliau yang menyatakan bahwa putrinya merupakan bagian dari tubuhnya. Barang siapa yang menyebabkan seorang Fatimah marah, berarti ia telah menyebabkan Rasulullah SAW marah.


    Pernikahan Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib

    Kehidupan Fatimah Az-Zahra r.a. tidak pernah jauh dari Rasulullah SAW, kecuali setelah dirinya dinikahkan dengan Ali bin Abi Thalib r.a. Keduanya dinikahkan pada tahun 2 Hijriah.

    Konon, diceritakan sebelum Ali bin Abi Thalib datang melamar putri Rasulullah SAW, ada dua orang sahabat Nabi yang lebih dulu melamarnya. Kedua sahabat tersebut Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

    Akan tetapi, lamaran kedua sahabat Rasulullah SAW yang sangat berjasa besar dalam hidup beliau ditolak. Lalu, tibalah Ali bin Abi Thalib datang melamar putri beliau. Tanpa disangka-sangka, Rasulullah SAW langsung menyetujuinya.

    Pernikahan Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib berlangsung sejahtera dan bahagia. Selama Fatimah Az-Zahra masih hidup, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memadu Fatimah atau menikahi wanita lain.

    Kedua pasangan tersebut turut dikaruniai empat orang anak, yaitu dua orang putra dan dua orang putri. Nama kedua putra mereka adalah Hasan dan Husain. Keduanya menjadi cucu yang sangat disayangi Rasulullah SAW. Sedangkan nama kedua putri mereka yaitu Zainab dan Ummu Kultsum.

    Fatimah Az-Zahra sebagai Sosok Teladan Para Istri

    Sebagai seorang istri dan ibu, sifat dan perilaku Fatimah Az-Zahra patut menjadi teladan para istri. Ibnu Marzuqi Al-Gharani dalam bukunya The Great Mothers menyebutkan, Fatimah merupakan wanita yang sederhana dan bersahaja.

    Fatimah tidak pernah mementingkan kecantikan maupun kemegahan, melainkan lebih mementingkan keridhaan Allah SWT. Kehidupan rumah tangga yang sederhana membuatnya merasa cukup dan bahagia.

    Sikap qana’ah dalam diri Fatimah juga menjadi suatu hal istimewa bagi anak-anaknya. Ia telah mendidik putranya, Hasan dan Husein, untuk tumbuh menjadi generasi utama yang tidak terlena dengan kemewahan harta.

    Kepandaian Fatimah Az-Zahra dalam mengasuh buah hatinya tidak terlepas dari naluri kewanitaannya yang begitu halus. Kebersamaannya bersama ayahanda tercinta, Nabi Muhammad SAW, telah mendidik Fatimah untuk memiliki perasaan yang halus.

    Selain itu, Fatimah juga sering memberikan pujian kepada putra-putranya. Hal tersebut dilakukan untuk membentuk kepercayaan diri kedua anaknya.

    Wafatnya Fatimah Az Zahra

    Sayangnya, kehidupan Fatimah Az Zahra tidak dikaruniai umur yang panjang. Dikisahkan dalam buku Ali bin Abi Thalib Ra oleh Abdul Syukur al-Azizi, setelah wafatnya Rasulullah SAW, Fatimah seperti tak kuasa lagi hidup lama.

    Kesedihan selalu muncul setiap kali mendengar adzan, terlebih saat dikumandangkan lafal ‘asyhadu anna muhammadar rasulullah’. Kerinduannya untuk bertemu ayahanda semakin menyesakkan dadanya.

    Sampai pada tanggal 3 Ramadan 11 H (632 M) atau beberapa bulan setelah Rasulullah SAW wafat, Fatimah Az-Zahra akhirnya turut memejamkan mata untuk selama-lamanya.

    Sebelum wafat, Fatimah berwasiat kepada suaminya dalam usia 28 tahun (ada riwayat lain yang mengatakan usia 27 atau 29 tahun). Ia berwasiat tentang anak-anaknya yang masih kecil dan berwasiat agar dikuburkan secara rahasia.

    Fatimah dimakamkan di tengah kegelapan malam secara sembunyi-sembunyi oleh Ali bin Abi Thalib beserta kedua putranya, Hasan dan Husein, serta terdapat beberapa sahabat terdekat. Hingga saat ini, konon keberadaan makamnya masih misterius.

    Demikian kisah fatimah Az Zahra putri Nabi Muhammad SAW yang menjadi sosok teladan para Istri. Bagi muslimah yang meneladani dan mencontoh sosok Fatimah, diharapkan dapat menjadi sosok istri dan ibu yang bermartabat di hadapan Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Qilabah, Sahabat Nabi yang Selalu Bersyukur dan Sabar



    Jakarta

    Abu Qilabah adalah seorang sahabat Nabi yang dikenal selalu bersyukur. Nama lengkapnya, yaitu Abdullah bin Zaid al-Jarmi. Beliau termasuk seorang perawi yang banyak meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik.

    Mengutip dari buku Kearifan Islam karya Maulana Wahiduddin Khan, Abu Qilabah berasal dari kota Bashrah dan wafat di Syam pada tahun 104 H. Ia juga merupakan seorang yang masyhur sebagai ahli ibadah dan zuhud.

    Sosok Abu Qilabah memiliki kepribadian selalu bersyukur terhadap rahmat Allah dan selalu haus akan ilmu.


    Suatu hari, Abu Qilabah pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling kaya?” Kemudian ia menjawab, “Orang yang paling kaya adalah orang yang bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya.”

    “Lalu siapakah orang yang paling berilmu?” tanya seseorang itu lagi.

    Abu Qilabah menjawab, “Orang yang selalu meningkatkan pengetahuannya melalui (pemberian) itu.”

    Kisah Abu Qilabah yang Selalu Bersyukur dan Sabar dalam Setiap Keadaan

    Kisah Abu Qilabah yang selalu bersyukur dikisahkan dalam buku Rahasia Dahsyat di Balik Kata Syukur karya Yana Adam, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Muhammad.

    Abdullah bin Muhammad pernah mengatakan, “Suatu hari, aku pernah berada di daerah perbatasan, wilayah Arish di negeri Mesir. Aku melihat sebuah kemah kecil yang dari bentuknya menunjukkan bahwa pemiliknya orang yang sangat miskin.

    Lalu, aku pun mendatangi kemah yang berada di padang pasir tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Aku melihat ada seorang laki-laki, tetapi bukan laki-laki biasa.

    Kondisi laki-laki itu sedang berbaring dengan tangan dan kakinya yang buntung, telinganya sulit mendengar, matanya buta, dan tidak ada yang tersisa selain lisannya yang berbicara.

    Dari lisannya, orang tersebut mengucapkan, “Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Dan Engkau sangat memuliakan aku dari ciptaan-Mu yang lain.”

    Lantas aku pun menemuinya dan berkata kepada orang itu, “Wahai saudaraku, nikmat Allah mana yang engkau syukuri?”

    Sang laki-laki pemilik kemah menjawab, “Wahai saudara, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah datangkan lautan, niscaya laut tersebut akan menenggelamkanku atau gunung apa yang pasti aku akan terbakar atau dijatuhkan langit kepadaku yang pasti akan meremukkanku. Aku tidak akan mengatakan apapun kecuali rasa syukur.”

    Aku kembali bertanya, “Bersyukur atas apa?”

    Laki-laki pemilik kemah menjawab lagi, “Tidakkah engkau melihat Dia telah menganugerahkan aku lisan yang senantiasa berdzikir dan bersyukur. Di samping itu, aku juga memiliki anak yang waktu sholat ia selalu menuntunku untuk ke masjid dan ia pula yang menyuapiku. Namun, sejak tiga hari ini dia tidak pulang kemari. Bisakah engkau tolong carikan dia?”

    Aku pun menyanggupi permohonannya dan pergi untuk mencari anaknya. Setelah beberapa saat mencari, aku mendapati jenazah yang sedang dikerubungi oleh singa. Ternyata, anak laki-laki tersebut telah diterkam oleh kumpulan singa.

    Mengetahui tragedi itu, aku pun bingung bagaimana cara mengatakan kepada laki-laki pemilik kemah itu. Aku lalu kembali dan berkata kepadanya untuk menghiburnya.

    “Wahai saudaraku, sudahkah engkau mendengar kisah tentang Nabi Ayyub?”

    Lelaki itu menjawab, “Iya, aku tahu kisahnya.”

    Kemudian aku bertanya lagi, “Sesungguhnya Allah telah memberinya cobaan dalam urusan hartanya. Bagaimana keadaannya dalam menghadapi musibah itu?”

    Ia menjawab, “Ia menghadapinya dengan sabar.” Aku bertanya kembali, “Wahai saudaraku, Allah telah menguji Ayub dengan kefakiran. Bagaimana keadaannya?”

    Lagi-lagi ia menjawab, “Ia bersabar.” Aku kembali memberi pertanyaan, “Ia pun diuji dengan tewasnya semua anak-anaknya, bagaimana keadaannya?”

    Ia menjawab, “Ia tetap bersabar.” Aku kembali bertanya yang terakhir kali, “Ia juga diuji dengan penyakit di badannya, bagaimana keadaannya?”

    Ia menjawab dan balik bertanya, “Ia tetap bersabar. Sekarang katakan padaku dimana anakku?”

    Lalu aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau.”

    Selanjutnya, laki-laki pemilik kemah itu berkata, “Alhamdulillah, yang Dia tidak meninggalkan keturunan bagiku yang bermaksiat kepada Allah sehingga ia di azab di neraka.”

    Kemudian ia menarik napas panjang lalu meninggal dunia. aku pun membaringkannya di tangan, kututupi dengan jubahku, dan meminta bantuan kepada empat orang laki-laki yang lewat mengendarai kuda untuk mengurus jenazahnya.

    Keempat laki-laki tersebut ternyata mengenali jenazah yang tinggal di kemah kecil, mereka berkata, “Ini adalah Abu Qilabah, sahabat dari Ibnu Abbas. Laki-laki ini pernah dimintai oleh khalifah untuk menjadi seorang hakim. Namun, ia menolak jabatan tersebut.”

    Dikatakan dalam riwayat lain, Abu Qilabah merupakan sahabat terakhir Rasulullah SAW terakhir pada masa itu sehingga khalifah ingin menjadikannya seorang hakim. Itu merupakan jabatan yang mulia, tetapi Abu Qilabah menolaknya dan pergi ke wilayah Mesir hingga wafat dalam keadaan seperti ini.

    Demikianlah kisah Abu Qilabah, sahabat nabi yang senantiasa selalu bersyukur dan bersabar. Semoga, sifat mulianya tersebut dapat diteladani oleh umat muslim.

    Belajar dari sosok sahabat nabi Abu Qilabah, detikers juga bisa tantang diri kamu untuk mengucap rasa syukur hari ini lewat program Alhamdullah Challenge yang ada DI SINI. Tak hanya itu, kamu turut berkesempatan untuk memenangkan hadiah smartphone dan uang jutaan rupiah kalau rutin bersyukur. Yuk, ceritakan hal-hal yang kamu syukuri hari ini!

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Firaun Disebut dengan Raja yang Zalim?



    Yogyakarta

    Firaun dikenal sebagai raja yang zalim, kejam, dan kerap berbuat sewenang-wenang. Ia merupakan pemimpin di negeri Mesir pada zamannya. Rakyatnya hidup dalam rasa ketakutan dan selalu dalam keadaan gelisah.

    Kekejaman Firaun disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 4, Allah SWT berfirman:

    إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ


    Artinya: “Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

    Firaun disebut dengan raja yang zalim sebab ia mengakui dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh seluruh rakyat di kerajaannya. Sebagaimana disebutkan dalam buku 99 Kisah Menakjubkan di Alquran oleh Ridwan Abqary, siapa pun yang tidak menganggap Firaun sebagai tuhan pada masa itu akan dibunuh tanpa ampun.

    Selama berkuasa di negeri Mesir, Firaun juga telah menindas dan memecah belah rakyat. Rakyatnya dengan sengaja dibeda-bedakan berdasarkan strata sosial dan kelompok tertentu. Salah satu kelompok yang paling sering ditindas dan dilemahkan oleh Firaun, yaitu kaum Bani Israil.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Perang Uhud pada Bulan Syawal yang Gugurkan Banyak Kaum Muslim



    Jakarta

    Perang Uhud termasuk perang besar dalam Islam. Menurut sejumlah riwayat, perang melawan kaum kafir Quraisy ini terjadi pada bulan Syawal.

    Perang Uhud pada bulan Syawal ini merupakan salah satu dari tiga perang besar yang pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW.

    Ibrahim Al-Qurabi dalam Tarikh Khulafa, menjelaskan mengenai kapan terjadinya Perang Uhud. Menurut Ibnu Katsir, yang valid adalah pendapat mayoritas ulama bahwa Perang Uhud terjadi pada bulan Syawal tahun ketiga.


    Turut diceritakan pula dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri, Perang Uhud ini terjadi dilatarbelakangi kebencian yang begitu besar dari kaum kafir Quraisy terhadap orang-orang muslim karena kekalahannya di Perang Badar.

    Dalam Perang Badar banyak sekali pemimpin dan bangsawan Quraisy terbunuh. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas.

    Bahkan, kaum Quraisy melarang semua penduduk Makkah meratapi korban Perang Badar dan tidak perlu terburu-buru menebus tawanan. Hal tersebut bertujuan supaya kaum Muslimin tidak merasa di atas angin karena mengetahui kesedihan hati mereka.

    Setelah Perang Badar selesai, semua orang Quraisy sepakat untuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap orang-orang Muslim, agar kebencian mereka bisa terobati dan dendam mereka bisa tersuapi.

    Setelah genap setahun, persiapan Quraisy pun sudah matang, prajurit yang dipersiapkan mencapai 3000 dan sudah berhimpun bersama dengan sekutu-sekutu serta kabilah kecil.

    Mereka juga membawa 3000 unta, 200 penunggang kuda, dan 700 baju besi. Setelah dirasa cukup mereka bergerak menuju Madinah.

    Sementara itu, dari pihak Nabi Muhammad SAW sudah mengetahui rencana dari kaum Quraisy dan mempersiapkan pasukannya pula. Setiap pintu gerbang di Madinah pasti terdapat sekumpulan penjaga.

    Ada pula sekumpulan orang Muslim yang bertugas memata-matai, mereka berputar-putar di setiap jalur yang bisa dilalui oleh kaum Quraisy.

    Namun, Abdullah bin Ubay yang semula menjadi bagian dari pasukan Muslim mendadak membelot dengan alasan karena Rasulullah SAW tidak mendengarkan alasannya. Oleh karena itu, sisa pasukan dari Nabi Muhammad SAW hanya 700 prajurit.

    Rasulullah SAW lalu pergi menuju bukit Uhud, hingga tiba di kaki bukit Uhud pasukan Muslimin mengambil tempat dengan posisi menghadap ke arah Madinah dengan memunggungi Uhud. Dengan posisi ini, pasukan musuh berada di tengah antara mereka dan Madinah.

    Rasulullah SAW lalu membagi tugas pasukannya dan membariskan mereka sebagai persiapan untuk menghadapi pertempuran. Di bagian depan ia menempatkan para pemanah ulung dan Rasulullah SAW juga melarang semua pasukan untuk melancarkan serangan kecuali atas perintah beliau.

    Meskipun kaum Quraisy sempat untuk menghasut para kaum Muslimin sebelum peperangan dimulai dengan cara mengirim surat, namun hal itu tidak mempan dan tidak membuat pasukan Muslimin merasa goyah.

    Hingga akhirnya perang pun pecah, secara bergantian orang-orang bani Abdid-Dar yang menjadi bagian pasukan Quraisy bertugas membawa bendera. Hingga 10 kali semua yang membawa bendera berhasil di bunuh oleh orang Muslimin. Hingga tidak ada lagi yang mau untuk membawa bendera.

    Di sisi lain pertempuran juga terjadi di beberapa titik, Abu Dujanah merupakan orang Muslimin yang dengan gagah berani maju ke depan menuju pasukan Quraisy. Siapa pun orang musyrik yang berpapasan dengannya pasti dibabatnya hingga meninggal.

    Abu Dujanah berhasil menyusup hingga ke tengah barisan kaum Quraisy, ketika hendak mengayunkan pedangnya ia berhenti ketika mengetahui bahwa yang dihadapinya adalah seorang wanita. Ia menganggap bahwa pedang yang diberikan Rasulullah SAW terlalu mulia untuk membunuh seorang wanita.

    Di lain sisi Hamzah bin Abdul Muthalib bertempur bagaikan singa yang sedang mengamuk, ia menyusup ke tengah barisan tanpa mengenal rasa takut. Dia terus menerjang dan mengejar tokoh-tokoh musuh, hingga akhirnya dia terbunuh di barisan paling depan. Ia terbunuh layaknya orang baik-baik yang terbunuh di tengah kegelapan malam.

    Perang ini menjadi salah satu perang yang besar dan banyak menelan korban. Disebutkan dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad II karya Moenawar Chalil, menurut Ibnu Hisyam pasukan kaum Muslimin yang gugur dalam Perang Uhud ada 70 orang. Adapun, menurut Ibnu Ishaq jumlahnya ada 70. Mereka terdiri dari golongan Anshar dan Muhajirin.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Perang Uhud Dipimpin oleh Nabi Muhammad Langsung, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Perang Uhud dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Perang tersebut menjadi kenangan penting dalam sejarah islam.

    Sebab, pada peperangan tersebut kaum muslimin yang hanya berjumlah 1.000 pasukan harus melawan kaum kafir Quraisy sebanyak 3.000 pasukan. Dijelaskan dalam buku Sang Panglima Tak Terkalahkan “Khalid Bin Walid” karya Hanatul Ula Maulidya, pasukan Quraisy terdiri dari 200 pasukan berkuda, 700 pasukan berkendara unta, dan sisanya pasuka pemanah serta pejalan.

    Sementara itu, 1.000 pasukan muslimin terdiri dari gabungan orang Makkah dan Madinah. Namun, dalam perjalanan menuju Gunung Uhud, Abdullah bin Ubay salah satu pemimpin bani terbesar di kaum Quraisy membelot dan membawa 300 pasukan muslimin, karenanya sisa dari prajurit muslim yang ada hanya 700 orang.


    Meski Abdullah bin Ubay berkhianat, Nabi SAW tetap fokus pada kaum muslimin dan tidak mengambil pusing pembelotan tersebut. Rasulullah SAW sebagai pemimpin dari perang tersebut melakukan persiapan matang untuk menghadapi kaum kafir Quraisy.

    Mahdi Rizqullah Ahmad dkk dalam Biografi Rasulullah menjelaskan, Perang Uhud meletus pada tanggal 15 bulan Syawal tahun ketiga Hijriah. Perang ini terjadi sekitar setahun setelah Perang Badar, dan umat Islam meraih kekalahan dari Perang Uhud.

    Nabi Muhammad SAW menempatkan 50 pasukan pemanah di atas Gunung Uhud untuk melakukan serangan jikalau pasukan berkuda kaum Quraisy menyerbu. Beliau juga berpesan kepada para prajurit muslim agar tidak meninggalkan tempatnya apapun yang terjadi saat perang.

    Sementara itu, pasukan kafir Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Perang Uhud berlangsung selama 7 hari, pada awal pertempuran perang masih dikuasai oleh pasukan muslimin.

    Sayangnya, karena ada kesalahan yang dilakukan oleh pasukan pemanah di atas bukit maka kaum muslimin mengalami kekalahan. Kekalahan itu bermula ketika beberapa dari prajurit muslim berteriak,

    “Harta rampasan, harta rampasan… Kita sudah menang! Apalagi yang kita tunggu?”

    Teriakan tersebut lantas membuat pasukan pemanah yang berada di atas bukit ikut turun ke bawah untuk mengambil harta rampasan perang. Karena itu pula, komandan pasukan pemanah kaum muslim yaitu Abdullah bin Jubair berkata,

    “Apakah kalian lupa pesan Nabi Muhammad kepada kalian?”

    Peringatan dari sang komandan tidak digubris. Akibatnya, pasukan pemanah yang turun untuk mengambil harta rampasan itu justru dimanfaatkan oleh prajurit kafir Quraisy untuk menyerang pasukan muslim.

    Hal itu pula yang jadi penyebab kaum kafir Quraisy yang dikomandoi Khalid bin Walid menguasai keadaan dan mengepung pasukan muslimin dari berbagai arah. Menurut buku Islam at War karya George F. Nafziger, Strategi Khalid membuat pasukan muslim kalah dalam Perang Uhud.

    Singkat cerita, Khalid bin Walid kemudian menjadi tangan kanan Rasulullah SAW setelah masuk Islam. Dirinya bahkan dikenal sebagai panglima yang berhasil dan menjadi andalan Nabi Muhammad SAW.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kan’an Tercatat di Al-Qur’an, Putra Nabi Nuh yang Tenggelam saat Banjir Bandang



    Jakarta

    Nabi Nuh diberi mukjizat untuk membangun sebuah kapal besar yang menyelamatkan Ia dan kaum beriman lainnya dari azab Allah SWT. Ketika banjir bandang melanda dan membinasakan kaum Nabi Nuh yang ingkar, salah satu yang tak selamat adalah Kan’an, putra tertua Nabi Nuh.

    Nabi Nuh dikaruniai empat orang anak yakni Kan’an, Yafith, Sam dan Ham. Sebagai putra tertua, Kan’an dikenal sebagai sosok yang zalim dan durhaka kepada orangtuanya. Ia akhirnya binasa bersama kaum yang ingkar.


    Dikutip dari buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul oleh Ahmad Fatih, disebutkan bahwa Kan’an berpura-pura menjadi orang beriman padahal ia menyembunyikan rasa benci yang teramat dalam pada sang ayah. Bahkan Kan’an dan ibunya yang merupakan istri Nabi Nuh sering menghina dan mencemooh Nabi Nuh.

    Nabi Nuh Mengajak Kan’an Naik Bahtera

    Ketika Nabi Nuh mengumpulkan seluruh umatnya, beliau teringat akan putra tertuanya yaitu Kan’an. Beliau meminta agar Kan’an naik ke bahtera bersama pengikutnya yang lain. Namun dengan angkuhnya Kan’an justru menolak dan tetap pada pendiriannya tidak ingin beriman kepada Allah.

    Peristiwa ini tercatat dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 42

    وَهِىَ تَجْرِى بِهِمْ فِى مَوْجٍ كَٱلْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبْنَهُۥ وَكَانَ فِى مَعْزِلٍ يَٰبُنَىَّ ٱرْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Artinya: Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.

    Kecintaan Nabi Nuh pada sang putra ditunjukkan bahkan ketika air bah mulai meninggi. Nabi Nuh terus membujuk agar putranya mau naik ke atas bahtera. Namun bujukan sang ayah justru diingkari. Kan’an lebih memilih untuk berlindung di gunung.

    Dalam Surat Hud ayat 43, Allah SWT berfirman,

    قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ

    Artinya: Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

    Kan’an Tenggelam saat Banjir Bandang

    Banjir kemudian semakin meninggi dan Kan’an tetap tidak mau masuk ke dalam kapal dan ingin menyelamatkan diri dengan cara berenang menuju puncak gunung yang belum tersentuh air. Kan’an menganggap bahwa air tidak akan sampai ke puncak gunung tersebut.

    Dugaannya ternyata salah, air banjir bahkan menenggelamkan puncak gunung tertinggi sekalipun.

    Disela percakapan antara keduanya, muncullah gelombang besar yang memisahkan antara bahtera Nabi Nuh dengan Kan’an. Seketika Kan’an lenyap dari penglihatan Nabi Nuh. Nabi Nuh berusaha mencari keberadaan putra sulungnya akan tetapi sia-sia.

    Sebagai seorang ayah dan darah dagingnya, beliau sangat sedih karena putra yang amat disayanginya tenggelam oleh azab Allah. Pada saat Kan’an tenggelam, Nabi Nuh sempat memohon kepada Allah agar putranya diselamatkan karena Nabi Nuh mengingat bahwa Allah telah menjanjikan keselamatan bagi seluruh keluarganya.

    Nabi Nuh kemudian bertanya-tanya mengapa putranya tidak selamat dari azab tersebut dan Allah menjawab bahwa putranya telah durhaka dan bukan termasuk keluarga yang dijanjikan Allah untuk selamat.

    Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 45-46.

    Surat Hud Ayat 45

    وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ٱبْنِى مِنْ أَهْلِى وَإِنَّ وَعْدَكَ ٱلْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ ٱلْحَٰكِمِينَ

    Artinya: Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.

    Surat Hud Ayat 46

    قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيْرُ صَٰلِحٍ ۖ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

    Artinya: Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.

    Nabi Nuh kemudian menyadari kesalahannya dan segera memohon pengampunan kepada Allah SWT. Nabi Nuh kemudian mengikhlaskan kepergian putra dan istrinya yang zalim serta seluruh umatnya yang lebih memilih menyembah berhala yang merupakan perbuatan musyrik.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wanita Pelacur Bani Israil Lahirkan 7 Nabi usai Bertobat



    Jakarta

    Ada suatu kisah tentang wanita nakal dari bani Israil yang melahirkan tujuh nabi dari rahimnya. Hal itu terjadi usai dirinya benar-benar tobat.

    Kisah tersebut diceritakan oleh Ibnu Qudamah, seorang imam, ahli fikih, dan zuhud, dalam Kitab at-Tawwabin dan turut dinukil Ibnu Watiniyah dalam buku Nisa’ul Auliya’: Kisah Wanita-wanita Kekasih Allah.

    Ibnu Qudamah menceritakan, wanita bani Israil tersebut menggoda laki-laki dengan kecantikan parasnya. Setiap hari ia membiarkan pintu rumahnya terbuka. Ia duduk-duduk di atas ranjang yang letaknya berhadapan dengan pintu rumahnya.


    Setiap pria yang lewat di depan rumahnya pasti tergoda akan kecantikannya. Ia lantas membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin bersenang-senang bersamanya dengan membayar 100 dinar.

    Pada suatu hari, ada seorang pemuda ahli ibadah yang melintas di depan rumah wanita tersebut. Seperti pria lainnya, sang ‘abid juga tergoda begitu melihat wanita itu. Namun, ia lantas berdoa kepada Allah SWT supaya menghilangkan hawa nafsunya dari hatinya.

    Namun, nafsu tersebut tak kunjung hilang. Hingga akhirnya pemuda itu tergoda untuk menuruti hawa nafsunya. Ia bekerja keras mengumpulkan uang untuk membayar 100 dinar agar bisa bersenang-senang dengan wanita itu.

    Setelah terkumpul, ia bergegas pergi ke rumah wanita itu dan menyerahkan uangnya kepada wakil si wanita. Si wanita lantas menyiapkan waktu khusus untuk menyambut tamunya itu.

    Tiba pada waktu yang telah ditentukan, pemuda ahli ibadah itu menemui si wanita. Wanita itu pun telah siap segalanya, ia berdandan dan duduk di atas ranjang yang berlapis emas.

    “Sesungguhnya engkau telah memikatku sehingga aku bekerja keras untuk mendapatkan 100 dinar agar bisa mendapatkanmu,” kata pemuda itu.

    Dengan senyuman hangat, wanita pelacur itu lantas memintanya untuk masuk. Tak lama kemudian, si pemuda yang telah tergoda ini mengulurkan tangannya. Namun, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dari berkah ibadah serta tobat yang dilakukan pemuda itu.

    “Sungguh Allah melihat perbuatan ini dan melebur semua amalmu,” kata pemuda itu dalam hatinya.

    Seketika ia teringat akan menemui Tuhannya dan berdiri di hadapan-Nya. Ia lantas dilanda ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya gemetar dan raut wajahnya berubah.

    “Biarkan aku keluar dari sini dan 100 dinar ini milikmu,” ucap laki-laki itu.

    Melihat keadaan yang aneh ini, si wanita bertanya, “Apa yang terjadi denganmu? Bukankah engkau kumpulkan uang itu untuk bisa bersenang-senang denganku? Tetapi ketika sudah tercapai apa yang engkau inginkan, engkau tinggalkan begitu saja?”

    “Aku takut kepada Allah. Sungguh uang yang telah aku berikan kepadamu itu halal untukmu. Tolong izinkan aku keluar!” ucap laki-laki itu.

    Wanita itu kembali bertanya, “Apakah kamu tidak akan berbuat apa pun kepadaku?”

    “Tidak!” jawabnya.

    “Kalau demikian, maka sungguh tidak ada yang pantas menjadi suamiku melainkan dirimu,” ucap wanita itu dengan nada penuh penyesalan dan tobat.

    “Tinggalkan aku, biarkan aku keluar!” teriak laki-laki itu dengan tetap memaksa pergi.

    Lelaki itu mendesak agar bisa segera meninggalkan rumah si wanita itu. Namun, wanita itu tidak mengizinkan hingga laki-laki itu mau menjadikannya istri.

    Singkat cerita, laki-laki itu pun pergi meninggalkan rumah si wanita dengan penuh penyesalan. Sebelum pergi, ia sempat memberi tahu nama dan rumahnya.

    Sejak ditinggal oleh pemuda ahli ibadah itu, wanita nakal itu diselimuti rasa takut karena mendapatkan berkah dari sang pemuda. Dalam hatinya ia berkata, “Ini adalah dosa yang pertama kali yang dilakukannya, dan ia sangat merasa takut. Sedangkan aku telah melakukan dosa ini selama satu tahun. Tuhan yang ditaatinya adalah Tuhanku juga. Dan seharusnya rasa takutku melebihi rasa takutnya.”

    Wanita bani Israil itu lantas bertobat. Hingga pada suatu ketika ia memutuskan untuk menemui lelaki itu dengan penampilan tertutup dan memakai cadar. Setelah bertanya ke sana ke mari kepada penduduk desa, ia pun bertemu dengan lelaki itu.

    Namun, begitu lelaki itu mengetahui bahwa yang datang adalah wanita pelacur yang pernah membuatnya tergoda, ia lantas terkejut, menjerit dengan keras lalu meninggal dunia.

    Setelah kejadian itu, si wanita bertambah sedih. Ia pun bertanya kepada penduduk di sana, “Aku keluar hanya untuk ia dan kini ia telah meninggal. Apakah ada di antara keluarganya yang membutuhkan seorang perempuan untuk dinikahi?”

    Penduduk desa kemudian memberitahu bahwa lelaki tersebut memiliki saudara laki-laki yang saleh tetapi miskin. “Ya ada. Pemuda itu mempunyai saudara laki-laki yang saleh, akan tetapi ia miskin tidak memiliki harta,” jawab salah seorang di antara mereka.

    “Tidak masalah, karena aku memiliki banyak harta,” ucap wanita yang telah bertobat itu

    Singkat cerita, wanita tersebut akhirnya menikah dengan laki-laki saleh itu karena kecintaannya kepada saudaranya. Menurut cerita, di antara keturunan mereka terdapat tujuh nabi dari bani Israil. Jumlah nabi sendiri disebut sangat banyak dan hanya 25 di antaranya yang wajib kita ketahui.

    Ada pendapat yang menyebut eks pelacur bani Israil yang akhirnya melahirkan tujuh nabi tersebut bernama Al Malikah.

    Kisah tentang wanita pelacur yang bertobat juga banyak terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Salah satunya seorang wanita dari Juhainah yang mendatangi Rasulullah SAW dalam keadaan hamil karena berzina.

    Wanita tersebut meminta hukuman rajam atas perbuatannya. Singkat cerita, setelah mendapatkan hukuman, Rasulullah SAW menyalatkan dan mendoakannya. Beliau mengatakan bahwa wanita tersebut telah melakukan tobat yang luas.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Persaudaraan Usman bin Affan dengan Aus bin Tsabit saat Hijrah ke Madinah



    Jakarta

    Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya antara kaum Muhajirin dan Anshar. Salah satu sahabatnya yang dipersaudarakan saat itu adalah Usman bin Affan.

    Saat hijrah ke Madinah Usman bin Affan dipersaudarakan dengan Aus bin Tsabit bin al-Mundzir. Aus bin Tsabit adalah saudara bani Najjar.

    Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah menceritakan kisah persaudaraan tersebut. Dikatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Bersaudaralah kalian karena Allah SWT; dua saudara, dua saudara.” Lalu beliau menggenggam tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda, “Ini saudaraku.”


    Persaudaraan antara dua kaum yang dilakukan Rasulullah SAW ini turut diceritakan dalam ar-Rahiq al-Makhtum karya Syafiyurrahman al-Mubarakfuri. Dikatakan, Rasulullah SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik.

    Saat itu, jumlah mereka ada 90 orang laki-laki, sebagian dari Muhajirin dan sisanya dari Ansar. Alasan Rasulullah SAW mempersaudarakan mereka agar saling membantu dan mewarisi setelah meninggal, di luar bagian warisan karena kekerabatan. Kebijakan tersebut berlaku hingga meletusnya Perang Badar.

    Kisah Persaudaraan Usman bin Affan

    Luthfi Yansyah dalam buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga: Membangun Karakter Anak dengan Meneladani Kisah Sahabat Rasulullah Pilihan, menceritakan Rasulullah SAW yang memutuskan untuk hijrah.

    Ketika jumlah kaum muslimin terus bertambah, dakwah pun semakin tumbuh hal itu membuat Islam semakin kokoh.

    Namun, di sisi lain kaum Quraisy semakin marah dan semakin menjadi-jadi, mereka pun semakin meningkatkan siksaan dan gangguannya terhadap orang-orang yang beriman.

    Rasulullah SAW merasa kasihan melihat sahabatnya dan akhirnya memerintahkan mereka untuk hijrah. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang ikut hijrah adalah Usman bin Affan.

    Usman bin Affan mendampingi Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan yang beliau lakukan. Bahkan tidak ada satu perang pun yang terlewatkan selain Perang Badar karena harus merawat istrinya yang sedang sakit.

    Masuknya Usman bin Affan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada kaum Muslimin kepada Islam.

    Hingga saat hijrah ke Madinah, Usman bin Affan tinggal di rumah Aus bin Tsabt al-Anshari, sudara Hassan, sang penyair Rasulullah SAW.

    Allah SWT menurunkan ayat yang berkenaan dengan Aus bin Tsabit al-Anshari. Dia berfirman,

    لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا

    Artinya: “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS An-Nisa: 7)

    Saat Aus bin Tsabit al-Anshari meninggal dunia, ia meninggalkan seorang istri yang bernama Ummu Kajah dan tiga orang anak perempuan.

    Selain itu, ada dua orang laki-laki yang merupakan sepupu laki-laki si mayit dari pihak ayah yang bernama Suwaid dan Arfajah.

    Keduanya mengambil harta Aus bin Tsabit dan tidak memberikan sedikit pun kepada istri Aus dan anak-anaknya.

    Hal itu dikarenakan pada zaman Jahiliah orang-orang musyrik tidak memberi warisan kepada wanita, termasuk anak-anak meskipun laki-laki.

    Persaudaraan Kaum Muhajirin dan Anshar Mengharukan

    Buya Hamka dalam Tafsir al-Ahzar menyebut bahwa persaudaraan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW ini banyak yang mengharukan jika membaca riwayatnya.

    Diceritakan pula bahwa masa hijrah dari Makkah ke Madinah itu dihitung menjadi dua gelombang. Gelombang pertama ialah yang bersama hijrah dengan Rasulullah SAW, gelombang yang pertama itu enam tahun lamanya.

    Kemudian datang gelombang kedua, yaitu sesudah perdamaian Hudaibiyah, di mana kaum Musyrikin bersikeras mengusulkan supaya kalau ada orang Makkah yang pindah ke Madinah, hendaklah segera dikembalikan.

    Tetapi, kalau orang yang telah ada di Madinah pergi ke Makkah, orang Makkah tidak bertanggung jawab untuk mengembalikannya ke Madinah. Rasulullah SAW menyetujui perjanjian itu, meskipun kelihatannya pincang.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Malaikat Malik Bertemu Rasulullah SAW Tanpa Tersenyum



    Jakarta

    Malaikat Malik merupakan malaikat yang bertugas menjaga pintu neraka. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa Malaikat Malik bermuka masam ketika bertemu Rasulullah SAW.

    Pertemuan tersebut terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Isra Mi’raj. Imam Al-Qusyairi dalam Kitab al-Mi’raj, menceritakan mengenai kisah Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan suci tersebut.

    Saat melakukan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW diajak oleh Malaikat Jibril untuk menaiki Buraq. Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW melihat malaikat yang banyak sekali jumlahnya. Beliau melihat tangga yang menjulang dari Bayt al-Muqaddas ke langit dunia.


    Kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan perjalanan hingga sampai ke langit dunia yang disebut al-raqi. Ketika memasukinya, semua malaikat senantiasa tersenyum gembira. Sampai akhirnya Rasulullah SAW bertemu dengan satu malaikat yang juga menyambutnya seperti yang lainnya, tetapi tanpa tersenyum dan tidak tampak kegembiraan di wajahnya.

    Malaikat Jibril lalu berkata tentangnya, “Seandainya dia tersenyum selain kepada selainmu, tentu dia akan tersenyum padamu.”

    Akan tetapi dia tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, dia adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sama sekali, mukanya selalu masam, cemberut, marah, dan menyeramkan karena begitu marahnya kepada para penghuni neraka sebagaimana Tuhan marah kepada mereka.

    Lalu, Rasulullah SAW bertanya, “Hai Jibril, maukah kamu menyuruhnya untuk menunjukkan neraka kepadaku?”

    Jibril menjawab, “Ya.” Lalu Jibril berkata, “Hai Malik, Muhammad Rasul Allah ingin melihat neraka.”

    Malaikat Malik lalu membukakan penutup neraka dan terlihatlah neraka yang bergolak dan mendidih, sangat hitam, berasap, dan apinya juga hitam pekat.

    Ada yang meronta-ronta dan menggelegak hampir pecah lantaran marah. Begitulah gambaran neraka.

    Sebelum bertemu dengan Malaikat Malik dan saat menaiki tangga di sebelah kanan Rasulullah SAW ada 400 ribu malaikat, di sebelah kirinya juga ada 400 ribu malaikat, di depannya 1000 malaikat dan di belakangnya juga 1000 malaikat.

    Setiap malaikat mempunyai dua sayap berwarna hijau. Kemudian, Malaikat Jibril membimbing Nabi Muhammad SAW menaiki tangga. Pada setiap tangga ada satu malaikat yang bermahkotakan cahaya dengan dua sayap berwarna hijau.

    Setiap malaikat itu disertai lima ratus malaikat lainnya. Semuanya berkata, “Selamat datang bagimu wahai Muhammad.”

    Ada pendapat yang menyebut, jarak antar anak tangga sejauh perjalanan selama 40 tahun lamanya dan begitu seterusnya hingga terdapat 55 anak tangga.

    Nabi Muhammad SAW kemudian melihat malaikat di udara yang jumlahnya tidak terhingga bertanya kepada Malaikat Jibril tentang mereka. Lalu Malaikat Jibril menjawab, “Mereka adalah para malaikat yang layang-layang di udara sejak langit dan bumi diciptakan.”

    Kepala malaikat yang melayang di udara itu berada di bawah sayapnya. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat tubuhnya masing-masing, karena mereka demikian takut kepada Allah SWT. Mereka selalu membaca tasbih dan menangis, namun tidak diketahui ke mana jatuhnya air mata mereka.

    Kisah Malaikat Malik bertemu Rasulullah SAW turut diceritakan oleh Nur Syam dalam buku Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal.

    Dijelaskan bahwa Malaikat Malik yang bertugas menjaga neraka, digambarkan tidak pernah tertawa, bahkan juga ketika bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga Nabi SAW pun bertanya kepada Malaikat Jibril.

    Lalu Malaikat Jibril menjawab, kalau Malaikat Malik tertawa maka hawa panas neraka akan berkurang sehingga membuat senang orang-orang yang di neraka.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Nawas yang Menjual Raja untuk Dijadikan Budak



    Jakarta

    Abu Nawas dikenal sebagai sufi cerdas sekaligus pujangga sastra Arab klasik. Ia lahir sekitar tahun 757 di Provinsi Ahwaz, Khuzistan sebelah barat daya Persia.

    Dijelaskan dalam buku Abu Nawas: Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka karya Muhammad Ali Fakih, Abu Nawas telah ditinggal wafat ayahnya sejak kecil. Sang ibu membawanya ke sebuah kota di Irak karena alasan ekonomi.

    Abu Nawas kecil dititipkan kepada seseorang bernama Attar untuk melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan anak kecil. Walau begitu, Attar memperlakukan Abu Nawas dengan baik, ia disekolahkan di sekolah A-Qur’an hingga menjadi seorang hafiz.


    Nah, berkaitan dengan sosok Abu Nawas, ada sebuah kisah menarik dan jenaka darinya. Suatu hari, dia berencana untuk menjual sang raja yang kala itu bernama Khalifah Harun ar-Rasyid.

    Alasannya sendiri karena Khalifah tersebut pantas dijual menurutnya. Mengutip dari buku Jangan Terlalu Berlebihan dalam Beribadah hingga Melupakan Hak-hak Tubuh karya Nur Hasan, akibat rencana tersebut lantas Abu Nawas menghadap Khalifah Harun ar-Rasyid seraya berkata,

    “Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada paduka yang mulia,”

    Mendengar hal itu, Khalifah tersebut menjawab dengan rasa penasaran,

    “Apa itu wahai Abu Nawas?”

    “Sesuatu yang hamba yakin tidak pernah terlintas di dalam benak paduka yang mulia,”

    “Oke, kalau begitu cepatlah ajak saya ke sana untuk menyaksikannya,”

    Abu Nawas memang terkenal sebagai sosok yang selalu membuat orang penasaran akan sesuatu. Karenanya, ia kembali berkata,

    “Tapi baginda…”

    “Tetapi apa?” Jawab sang raja yang sudah tidak sabar dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Abu Nawas.

    “Oke, baginda. Jadi begini, baginda harus menyamar sebagai rakyat biasa, supaya orang-orang tidak banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu,”

    Sang raja yang sudah sangat penasaran lantas mengiyakan anjuran Abu Nawas. Ia bersedia menyamar sebagai seorang rakyat biasa dan keduanya pergi ke sebuah hutan.

    Sesampainya di sana, Abu Nawas mengajak mendekat ke sebuah pohon yang rindang dan memohon kepada sang raja untuk menunggu di situ. Lalu, Abu Nawas menemui seorang badui yang merupakan penjual budak, ia mengajaknya untuk melihat calon budak yang ingin dijual namun Abu Nawas mengaku tak tega menjual budak di depan matanya langsung, ia mengaku budak tersebut merupakan temannya.

    Setelah dilihat dari kejauhan, badui tersebut merasa cocok dengan orang yang ingin dijual Abu Nawas. Usai kesepakatan terjalin beserta kontrak, Abu Nawas mendapat beberapa keping uang mas.

    Sang raja yang tidak tahu menahu terus menunggu Abu Nawas. Sayangnya, beliau justru tak kunjung menampakkan dirinya, malahan terdapat seorang penual budak yang menghampiri raja.

    “Siapa engkau?” tanya raja.

    “Aku adalah tuanmu sekarang,” ujar badui tersebut yang menghampiri sang raja tanpa mengetahui bahwa yang ada di depannya sekarang merupakan seorang raja.

    “Apa maksud perkataanmu tadi?” jawab sang raja dengan wajah yang memerah.

    Dengan enteng, penjual budak itu mengeluarkan surat kuasa seraya menjawab, “Abu Nawas telah menjualmu kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya,”

    “Apa??? Abu Nawas menjual diriku kepadamu?”

    “Yaaa!” jawab sang badui dengan nada membentak.

    Merasa makin geram, sang raja lantas berkata, “Tahukah engkau siapa sebenarnya diriku ini?”

    “Tidak. Itu tidak penting dan tidak perlu,” ujar sang badui singkat. Ia kemudian menyeret bahu budak barungnya ke belakang rumah.

    Sesampainya di sana, badui tersebut memberikan parang kepada Khalifah Harun ar-Rasyid dan memintanya untuk membelah serta memotong kayu. Melihat tumpukan kayu yang banyak, sang raja memandangnya dengan ngeri, apalagi beliau harus membelahnya.

    Sayangnya, sang raja tidak mampu membelah kayu tersebut dengan baik. Malahan, ia menggunakan bagian parang yang tumpul ke arah tumpukan kayu.

    Sang badui kemudian memarahi Khalifah Harun ar-Rasyid. Dengan begitu, si raja membalik parangnya sehingga bagian yang tajam mengarah ke kayu dan berusaha membelahnnya.

    Menurutnya, pekerjaan tersebut terasa aneh. Dalam hati ia bergumam, seperti inikah derita orang-orang miskin demi mencari sesuap nasi? Harus bekerja keras lebih dulu.

    Badui tersebut kerap memandang Khalifah Harun ar-Rasyid dengan tatapan heran dan berujung marah. Dirinya merasa menyesal telah membeli seorang budak bodoh. Si raja lalu berkata,

    “Hei badui! Semua ini sudah cukup, aku tidak tahan,”

    Mendengar hal itu, sang badui semakin marah. Ia lalu memukul raja seraya berkata,

    “Kurang ajar kau budakku. Kau harus patuh kepadaku!”

    Khalifah Harun ar-Rasyid yang tidak pernah disentuh oleh orang lain tiba-tiba menjerit keras akibat pukulan dengan kayu yang dilakukan oleh si badui. Karena tidak kuat, ia lalu berkata sambil memperlihatkan tanda kerajaannya,

    “Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultann Harun ar-Rasyid!”

    Melihat hal itu, sang badui langsung menjatuhkan diri sambil menyembah sang raja yang habis dipukulnya. Walau begitu, sang raja mengampuninya karena si badui tidak tahu menahu mengenai dirinya yang merupakan seorang raja. Sementara itu, Khalifah Harun ar-Rasyid sangat murka kepada Abu Nawas dan ingin segera menghukumnya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com