Blog

  • Terjadinya Nuzulul Qur’an, Benarkah Diturunkan Secara Bertahap?



    Yogyakarta

    Nuzulul Quran adalah salah satu peristiwa yang paling penting di dalam sejarah umat Islam. Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya Al-Qur’an yang terjadi di bulan Ramadan dan selalu diperingati oleh masyarakat muslim khususnya Indonesia.

    Lalu, bagaimanakah kisah nuzulul Quran itu terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menilik beberapa pendapat khususnya mengenai cara diturunkannya Al-Qur’an.

    Sebelumnya, penurunan Al-Qur’an ini difirmankan oleh Allah SWT melalui surah Al Qadr ayat 1-5 yang berbunyi,


    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan apakah kamu mengetahui mengenai malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dibandingkan dengan seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (dipenuhi) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5)

    Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama mengenai cara turunnya Al-Qur’an diturunkan. Berikut adalah pendapat beberapa ulama dikutip dari Buku Permata Al-Qur’an karya Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin yaitu:

    Pertama,

    Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada malam lailatul qadar secara sekaligus, artinya lengkap dari awal hingga akhir. Kemudian, Al-Qur’an yang lengkap tersebut diturunkan secara bertahap dengan tempo selama 23 tahun sesuai dengan masa kenabian Rasulullah SAW.

    Pendapat ini berpegangan pada riwayat at-Thabari melalui Ibnu Abbas yaitu,

    “Al-Qur’an itu diturunkan dalam lailatul qadar di bulan Ramadan ke langit dunia sekaligus semuanya, kemudian dari sana diturunkan sedikit demi sedikit ke dunia.” Dari segi isnad, menurut informasi yang diolah oleh Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin disebutkan bahwa riwayat tersebut tidak kuat.

    Kedua,

    Pendapat kedua menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam 23 Lailatul Qadar selama 23 tahun.

    Ketiga,

    Pendapat ketiga menyebutkan bahwa permulaan turunnya Al-Qur’an adalah pada malam lailatul qadar, kemudian diturunkan dengan berangsur-angsur dalam berbagai waktu selama 23 tahun.

    Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril sebagai utusan-Nya. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa dan atau kebutuhan Rasulullah SAW.

    Allah SWT berfirman dalam beberapa ayat surat Al-Qur’an yaitu,

    Kitab Al-Qur’an itu diturunkan dari Allah Yang Mahaagung dan Bijaksana. (QS. Al Jatsiyah: 2); Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al Isra: 106).

    Dari penjelasan ayat di atas dibahas oleh Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin untuk arti menurunkan, semuanya menggunakan kata tanzil bukan inzal. Hal ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur.

    Berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya, yakni Taurat, Injil, dan Zabur yang turun sekaligus, Al-Qur’an turun bertahap, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,

    “Dan berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al Furqa: 32)

    Dilansir dalam Aneka Keistimewaan Al-Qur’an karya Zakiyal Fikri, ayat di atas, menurut jumhur ulama dan mufasirin adalah dalil penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur yakni dengan menyesuaikan dan mengiringi peristiwa terjadi saat itu supaya meneguhkan hati Muhammad dan manusia tatkala menerimanya. Dan tentu, ini merupakan keistimewaan Al-Qur’an yang tak dimiliki oleh kitab manapun.

    Begitulah pembahasan kali ini mengenai kisah nuzulul Qur’an yang diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur dengan beberapa dalil dan pembahasan. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan sekaligus iman kita kepada Allah SWT. Amiin yaa Rabbalalamiin.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Idris Melihat Surga dan Neraka



    Jakarta

    Nabi Idris AS adalah salah satu nabi yang terkenal karena kesalehan dan ketaatannya dalam beribadah. Nabi Idris AS mendapatkan mukjizat dari Allah, yakni “bertamasya” ke surga dan neraka.

    Nabi Idris AS dipuji oleh Allah SWT karena dua hal. Pertama, Nabi Idris AS dijuluki “asad al-asad” (singa dari segala singa) karena berani, gagah, cekatan dalam menunggang kuda, dan tidak pernah berputus asa dalam menjalankan perintah Allah.

    Kedua, Nabi Idris AS dijuluki “harmasul haramisah” (ahli perbintangan). Konon, ia menguasai banyak bahasa dan mahir dalam berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu perhitungan, ilmu alam, ilmu perbintangan, dan lain sebagainya.


    Salah satunya diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 56-57,

    وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِدْرِيْسَۖ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا ۙ وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

    Artinya: Ceritakanlah (Nabi Muhammad kisah) Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang sangat benar dan membenarkan lagi seorang nabi. Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

    Terdapat beberapa tafsir bahwa ‘martabat yang tinggi’ berarti adalah peristiwa ketika Allah mengangkat Nabi Idris AS ke surga setelah kunjungannya. Berikut ceritanya.

    Mukjizat untuk Mengunjungi Surga dan Neraka

    Mengutip buku Kisah Luar Biasa 25 Nabi & Rasul karya Henni Nur’aeni, pada suatu ketika, Nabi Idris AS didatangi Malaikat Izrail yang menyamar sebagai seorang laki-laki tampan atas izin Allah SWT.

    Kedatangan Malaikat Maut tersebut bukan untuk mencabut nyawa Nabi Idris AS, melainkan sekadar bertamu karena ia kagum terhadap Nabi Idris AS yang ahli ibadah dan selalu berzikir kepada Allah SWT.

    Singkat cerita, Nabi Idris AS pun menanyakan siapa sebenarnya lelaki tampan yang mengunjunginya itu. Akhirnya Malaikat Izrail pun mengakui siapa dirinya dan menyampaikan maksud kedatangannya.

    Nabi Idris AS mengajukan sebuah permintaan, yakni ingin mengetahui tentang bagaimana surga dan neraka untuk mengingatkannya akan azab Allah.

    Malaikat Izrail lantas meminta izin kepada Allah untuk membawa Nabi Idris AS ke neraka. Permintaan itu dikabulkan oleh Allah. Mereka lalu pergi untuk melihat neraka. Ketika hampir sampai, Nabi Idris AS langsung pingsan sebab melihat malaikat penjaga neraka yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang mendurhakai Allah semasa hidup di dunia.

    Ternyata Nabi Idris AS tidak sanggup menyaksikan berbagai macam siksaan yang mengerikan itu. Seumur hidupnya, tidak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan dengan dahsyatnya api neraka. Api yang sangat panas berkobar-kobar disertai bunyi bergemuruh yang menakutkan.

    Ia tidak bisa membayangkan apabila hal itu menimpa umatnya kelak. Oleh karenanya Nabi Idris AS semakin giat berdakwah agar tidak ada umatnya yang tersesat dari jalan Allah dan tergulung oleh api neraka.

    Nabi Idris AS kemudian meninggalkan neraka dengan tubuh lemas dan penuh rasa takut. Bayangan api neraka dan segala siksaan di dalamnya masih menghantui dirinya. Namun, dengan hal itu Nabi Idris AS semakin menguatkan tekad dan imannya untuk selalu patuh pada perintah Allah SWT.

    Nabi Idris Takjub dengan Pesona Surga

    Setelah mengunjungi neraka, Malaikat Izrail mengantarkan Nabi Idris AS ke surga. Di sana, ia juga nyaris pingsan. Ahmad Fatih menyebutkan dalam bukunya Menengok Kisah 25 Nabi dan Rasul bahwa Nabi Idris AS bukan pingsan karena ketakutan melainkan terpesona oleh segala keindahan yang tampak di depan matanya.

    Nabi Idris AS melihat sungai-sungai yang begitu bening airnya, seperti kaca. Sementara itu, di pinggir sungai terdapat pohon-pohon yang bagian batangnya terbuat dari emas dan perak. Ia pun melihat-lihat istana yang disediakan untuk para penghuni surga.

    Sepanjang mata memandang Nabi Idris AS menemui begitu banyak pohon yang menghasilkan buah-buahan yang segar, ranum, dan harum. Setelah puas berkeliling, Malaikat Izrail mengajak Nabi Idris AS untuk pulang ke bumi. Namun, Nabi Idris AS enggan pulang.

    Malaikat Izrail lantas memberinya peringatan, “Kamu boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti. Setelah semua amal ibadah dihisab oleh Allah SWT, barulah kamu bisa menghuni surga bersama para nabi dan orang beriman lainnya.”

    Awalnya Nabi Idris AS teguh pendirian tidak ingin meninggalkan surga. Namun, pada akhirnya Nabi Idris AS pun mengangguk dan bertekad akan selalu beribadah kepada Allah sampai pada hari kiamat tiba. Adapun Allah Yang Maha Pengasih terutama kepada nabi-Nya kemudian mengaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit.

    Ahmad Sobiriyanto dalam bukunya Dipuji dan Dihina Allah mengatakan, Nabi Idris AS pun menjadi satu-satunya nabi yang menghuni surga (tepatnya di langit keempat) tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Idris AS berusia 82 tahun.

    Kelak, ketika Rasulullah SAW melakukan mi’raj ke langit menghadap Allah bersama malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Idris AS. Rasulullah menghampiri Nabi Idris AS dan singgah sejenak sebelum akhirnya naik ke langit paling atas. Hal tersebut didasarkan pada hadits berikut,

    Rasulullah bersabda, “Gerbang telah terbuka, dan ketika aku pergi ke surga keempat, di sana aku melihat Idris. Jibril berkata (kepadaku), ‘Ini adalah Idris; berilah ia salammu.’ Maka, aku mengucapkan salam kepadanya, dan ia mengucapkan, ‘Selamat datang, wahai saudaraku yang alim dan nabi yang shalih’, sebagai balasan salamnya kepadaku.” (HR Bukhari)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sahabat Nabi yang Diberi Julukan ‘Pintu Ilmu’, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Sahabat yang disebut Nabi sebagai pintu ilmu adalah Ali bin Abi Thalib. Sebagai salah satu sahabat, Ali bin Abi Thalid dianugerahi gelar Babul ‘Ilm atau pintu ilmu pengetahuan karena kepribadian dan dedikasinya yang luar biasa di mata Rasulullah SAW.

    Kisah yang terkait dengan Ali bin Abi Thalib sebagai pintu ilmu, disampaikan salah satunya melalui Buku Oase Spiritual 1 karya M. Syaiful Bakhri. Kisah tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

    Kisah Ali bin Abi Thalib, Sang Pintu Ilmu

    Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan, “Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya.” Ketika orang-orang Khawarij (penentang Ali bin Abi Thalib) mendengar hadits ini, mereka menjadi tidak suka kepada Ali. Sepuluh orang pembesar Khawarij segera berkumpul.


    Mereka semua kemudian berkata, “Kami hendak bertanya kepada Ali tentang satu masalah agar bisa meyakinkan kami, bagaimana kira-kira jawaban Ali. Apabila Ali dapat menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang berlainan, maka kami percaya bahwa Ali adalah seorang yang banyak pengetahuannya, sebagaimana ucapan Nabi Muhammad SAW.”

    Kemudian datanglah satu demi satu dari mereka dan bertanya, “Ya Ali, manakah yang lebih utama apakah ilmu ataukah harta?” Ali lantas menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.” Kemudian orang itu bertanya lagi “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Ilmu adalah peninggalan para Nabi sedangkan harta adalah warisan Qarun, Syaddat, Fir’aun, dan lain- lainnya.”

    Setelah mendengar jawaban tersebut, kemudian orang kedua Khawarij datang dan bertanya sebagaimana pertanyaan orang pertama, kemudian Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang itu bertanya lagi, “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Ilmu akan menjaga dirimu, sedangkan harta engkaulah yang harus menjaganya.”

    Orang ketiga dari mereka kemudian datang mengajukan pertanyaan sebagaimana pertanyaan orang pertama dan kedua, lalu Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang yang datang ketiga itu menjawab balik, “Tunjukkan dasarnya.” Ali kemudian menjawab, “Kepada si pemilik harta akan mempunyai banyak musuh dan kepada orang yang memiliki banyak ilmu akan mempunyai banyak teman.’

    Datanglah orang keempat yang kemudian dia bertanya ilmu ataukah harta yang lebih utama? Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Laki-laki itu minta ditunjukkan dasarnya. Ali menjawab, “Apabila kamu memberikan harta kepada orang lain maka sesungguhnya harta itu menjadi berkurang dan apabila kamu memberikan ilmu maka ilmu itu akan bertambah.”

    Kemudian datang orang kelima, dia mengajukanpertanyaan sebagaimana pertanyaan teman-temannya. Ali menjawab bahwasanya ilmu lebih utama daripada harta. Dia juga meminta dasar yang menunjukkan pendapat tersebut. Ali lalu menunjukkan, “Orang yang mempunyai harta mendapat julukan bakhil (pelit) dan tercela, sedangkan orang yang berilmu mendapatkan sebutan terhormat dan mulia.”

    Selanjutnya datang lagi orang keenam dan bertanya masih mengenai persoalan yang sama. Maka Ali menjawab, “Ilmu adalah lebih utama daripada harta.” Orang itu bertanya “Tunjukkan dasarnya.” Ali menjawab, “Harta itu perlu dijaga dari para pencuri sedangkan ilmu tidak perlu dijaga dari pencuri.” Maka orang itu pun pergi dengan membawa jawaban.

    Kemudian datang lagi orang ketujuh dan bertanya dengan soal yang sama, selanjutnya setelah terjawab mereka bertanya, “Mana dasarnya?” Ali menjawab, “Orang yang mempunyai harta akan dihisab kelak di hari kiamat, sedangkan ilmu akan memberikan pertolongan pada hari kiamat.”

    Lalu datang lagi orang kedelapan dan bertanya, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali menjawab, “Harta akan menjadi musnah jika diendapkan terlalu lama, sedangkan ilmu tidak akan musnah dan tidak menjadi busuk.”

    Berikutnya datang lagi orang urutan kesembilan sembari bertanya dengan pertanyaan yang sama, Ali tetap menjawab ilmu lebih utama. Orang itu bertanya, “Apa dasarnya?” Ali menjelaskan bahwa harta dapat mengeraskan hati sedangkan ilmu akan menerangi hati.

    Kemudian datang orang terakhir atau kesepuluh, dia kemudian bertanya tentang perihal yang sama. Ali menjawab,”Ilmu lebih utama daripada harta.” Lalu dia juga melanjutkan pertanyaan, “Apa dasarnya?” Ali menjelaskan bahwa, “Orang yang memiliki harta mengagung-agungkan diri karena hartanya, sedangkan ilmu menjadikan manusia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Andaikan semua orang Khawarij bertanya kepadaku tentang pertanyaan di atas, maka akan aku jawab dengan masing-masing jawaban yang berlainan pula sepanjang hidupku, maka justru merekalah yang akan datang dan menjalankan Islam dengan benar.” Subhanallah.

    Itulah kisah mengenai sahabat yang disebut Nabi sebagai pintu ilmu yaitu Ali bin Abi Thalib. Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan sekaligus bermanfaat bagi kita semua. Amiin yaa Rabbalalamiin.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Paman Nabi Muhammad yang Merawat dan Mengajaknya Berdagang



    Yogyakarta

    Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad yang mengasuh dan merawatnya selepas meninggalnya sang kakek, Abdul Muththalib. Abu Thalib juga menjadi sosok yang mengajak dan mengajari Nabi Muhammad untuk berdagang, berikut kisahnya.

    Nabi Muhammad di Bawah Asuhan Sang Paman

    Diceritakan dalam buku Sirah Nabawiyah oleh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Nabi Muhammad SAW dulunya lahir tanpa seorang ayah. Beliau juga hanya diasuh oleh ibu kandungnya dalam waktu yang sangat singkat.

    Dalam tradisi bangsa Arab saat itu, anak yang baru lahir tidak boleh disusui oleh ibunya sehingga mereka mencari wanita yang bisa menyusui anaknya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari penyakit yang bisa menjalar di daerah perkotaan serta agar tubuh bayi menjadi kuat.


    Pada usia enam tahun, Nabi Muhammad SAW baru diserahkan kembali kepada ibunda kandungnya. Tatkala perjalanan pulang dari makam ayahnya di Kota Yatsrib, ibunda Nabi, Siti Aminah, jatuh sakit dan meninggal dunia di kota Abwa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah.

    Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW telah menjadi seorang yatim piatu di usianya yang keenam tahun. Kemudian ia hidup bersama kakeknya, Abdul Muthalib, di kota Makkah. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Di usia delapan tahun, Abdul Muthalib wafat dan Muhammad kecil kembali kehilangan kasih sayang dari kakek tercintanya.

    Sepeninggalan kakeknya, Abdul Muththalib, Nabi Muhammad SAW dirawat oleh pamannya, Abu Thalib. Sebelum meninggal, Abdul Muththalib sudah berpesan sebelumnya untuk menitipkan pengasuhan sang cucu kepada pamannya, Abu Thalib, saudara kandung ayah beliau.

    Abu Thalib melaksanakan hak pengasuhan anak saudaranya dengan sepenuh hati dan menganggap Nabi Muhammad seperti anaknya sendiri. Bahkan, Abu Thalib lebih mendahulukan kepentingan beliau daripada anak-anaknya sendiri.

    Sikap Abu Thalib tetap sama hingga Nabi Muhammad berusia lebih dari empat puluh tahun. Beliau mendapatkan kehormatan di sisi Abu Thalib, hidup di bawah penjagaannya, rela menjalin persahabatan dan bermusuhan dengan orang lain demi membela beliau.

    Abu Thalib Mengajak Nabi Muhammad Berdagang ke Syiria dan Bertemu dengan Bahira

    Mengutip dari buku Muhammad di Makkah dan Madinah karya Tabari, suatu hari Abu Thalib melakukan perjalanan dagang ke Syiria dengan kelompok Quraisy. Ketika semua persiapannya telah selesai dan siap untuk pergi, Rasulullah SAW tidak mau ditinggal oleh pamannya.

    Abu Thalib yang merasa kasihan padanya lalu berkata, “Sungguh, aku akan membawanya bersamaku dan kita tidak boleh saling terpisah.”

    Abu Thalib mengajak Nabi Muhammad pergi berdagang bersamanya ke Syiria di usianya yang masih sembilan tahun. Tatkala rombongan pedagang berhenti di Bushra, Syria, di sana terdapat seorang rahib bernama Bahira yang tinggal dalam biaranya.

    Di dalam biara tersebut, ada seorang biarawan beragama Kristen yang memiliki pengetahuan tentang tanda-tanda kenabian yang tertulis dalam kitab terdahulu. Saat rombongan pedagang tersebut berhenti di biaranya dan singgah di sana, Bahira menyiapkan hidangan yang banyak.

    Bahira dapat melihat Rasulullah SAW yang selalu dipayungi oleh awan sehingga membuatnya terlihat mencolok di antara orang-orang dalam rombongannya. Ketika melihat Rasulullah SAW dari dekat, Bahira mengamati beliau dengan sungguh-sungguh. Ciri-ciri fisik pada diri Nabi Muhammad benar-benar persis dengan yang tertulis dalam kitabnya.

    Seusai rombongan tersebut selesai makan, rahib itu bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang hal-hal yang telah terjadi, baik ketika beliau sedang terjaga maupun sedang tidur. Ketika mengamati punggung Rasulullah SAW, Bahira dapat melihat tanda (cincin) kenabian di antara kedua pundak beliau.

    Bahira pun bertanya kepada Abu Thalib paman Rasulullah SAW, “Apa hubungan anak laki-laki ini denganmu?”

    Abu thalib menjawab, “Anakku.”

    “Ia bukan anakmu. Ayah anak itu tidak mungkin masih hidup” ucap Bahira.

    “Ia anak saudara laki-lakiku,” terang Abu Thalib.

    Bahira lalu bertanya kembali, “Apa yang terjadi pada ayahnya?”

    “Ayahnya meninggal ketika ia masih ada di dalam kandungan ibunya,” jawab Abu Thalib.

    “Kamu mengatakan hal yang sebenarnya. Bawa anak itu kembali ke negaramu dan jadilah pelindungnya dari kaum Yahudi. Sebab, demi Tuhan, jika mereka melihatnya dan mengenali apa yang aku temukan pada dirinya, mereka akan berusaha membinasakannya. Hal-hal luar biasa tersimpan dalam diri anak ini. Maka, segeralah bawa ia kembali ke negaramu,” kata Bahira.

    Hal tersebut lantas membuat Abu Thalib segera membawa Nabi Muhammad SAW kembali ke kota Makkah. Sejak saat itulah, Abu Thalib menjadi sosok paman yang selalu melindungi Nabi Muhammad dan membelanya tatkala mendapat perlawanan dari kafir Quraisy.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ahli Ibadah Sahur di Dunia, Buka Puasa di Surga



    Jakarta

    Ada suatu kisah dari salah seorang ahli ibadah yang sahur di dunia dan buka puasa di surga. Ia merupakan sosok yang kedatangannya dinantikan bidadari surga.

    Adalah Sa’id bin al-Harits. Ia merupakan salah satu pejuang muslim dalam perang melawan Kekaisaran Romawi pada 38 H. Perang tersebut dikenal dengan Perang Yarmuk, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Al-Buldan Futuhuha wa Ahkamuha karya Syaikh Al-Baladzuri.

    Kisah Sa’id bin Al-Harits yang berbuka puasa di surga ini diceritakan oleh Hisyam bin Yahya al-Kinani dalam buku Qiyam Al-Lail wa Al-Munajat ‘inda Al-Sahr karya Sallamah Muhammad Abu Al-Kamal. Kisah ini turut dinukil oleh Ahmad Zacky El-Syafa dalam buku Ia Hidup Setelah Mati 100 Tahun.


    Diceritakan, Hisyam bin Yahya al-Kinani dan rombongannya melakukan peperangan di negeri Romawi. Pemimpin mereka saat itu bernama Maslamah bin Abdul Malik. Mereka berteman dengan penduduk Bashrah.

    Selama di sana, mereka saling bergiliran melayani pasukan, berjaga, mencari bekal, dan mempersiapkan makanan dalam satu tempat. Di antara rombongan mereka ada Sa’id bin al-Harits.

    Selama di medan jihad, Sa’id bin al-Harits berpuasa pada siang hari dan mengerjakan salat pada malam harinya. Hisyam bin Yahya al-Kinani mengaku setiap siang maupun malam melihat Sa’id bin al-Harits sangat sabar dalam beribadah. Di luar waktu salat atau ketika sedang dalam perjalanan, ia tidak pernah berhenti berzikir dan membaca Al-Qur’an.

    Hisyam pun mengatakan kepada Sa’id agar menyayangi dirinya. Namun, Sa’id menjawab, “Saudaraku, napas bisa dihitung, umur ada batasnya, dan hari-hari pun akan berakhir. Aku sedang menunggu kematian, dan tak lama lagi nyawaku akan dicabut.”

    Jawaban tersebut membuat Hisyam menangis dan ia berdoa kepada Allah SWT agar menganugerahkan pertolongan dan keteguhan kepada Sa’id. Ia lalu meminta Sa’id untuk istirahat di kemah dan ia yang berjaga.

    Saat tidur tersebut, Sa’id berbicara dan tertawa dengan mata tetap terlelap. Ia mengatakan ‘Aku tidak ingin kembali.’ Kemudian, ia mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu. Kemudian, ia menarik kembali tangannya dengan pelan sambil tertawa. Ia lalu berkata, “Malam ini saja!”

    Setelah itu ia terbangun dengan tubuh gemetar. Ia menengok ke kanan dan kiri, lalu diam hingga kesadarannya pulih. Dia kemudian bertahlil, bertakbir, dan memuji Allah SWT. Hisyam kemudian memintanya menceritakan apa yang tengah dialaminya.

    Sa’id menceritakan didatangi oleh dua orang laki-laki dengan wajah rupawan. Mereka berkata, “Bangunlah agar kami bisa memperlihatkan nikmat yang Allah sediakan untukmu.”

    Sa’id lalu menceritakan, dalam tidurnya, ia melihat istana dan bidadari-bidadari yang menyambutnya. Ia berjalan-jalan dalam istana itu sampai ke sebuah kasur yang di atasnya terdapat satu bidadari yang seolah-olah ia adalah permata yang disimpan.

    Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah cukup lama aku menantimu.”

    Sa’id bertanya, “Siapa kamu?”

    Bidadari menjawab, “Aku adalah istrimu yang abadi.”

    Sa’id kemudian mengulurkan tangan kepadanya, namun bidadari itu menampiknya dengan lembut seraya berkata, “Hari ini belum bisa. Sebab engkau masih harus kembali ke dunia.”

    Sa’id lalu berkata kepadanya, “Aku tidak ingin kembali.”

    Bidadari itu menjawab, “Engkau harus kembali. Engkau masih harus tinggal di dunia selama tiga hari. Pada malam ketiga, engkau akan berbuka bersama kami. Insya Allah.”

    Sa’id kemudian berkata, “Malam ini saja!” Namun bidadari itu menjawab, “Perkara ini telah ditetapkan.” Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan saat itulah Sa’id terbangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar. Ia kemudian keluar kemah untuk mandi dan bersuci lalu memakai kain kafannya.

    Pada pagi harinya, ia menyerang musuh dengan sangat hebat dalam kondisi berpuasa. Ia mencari kematian di jalan Allah SWT. Setelah tiba waktu sore ia berbuka. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama. Hingga tibalah pada hari ketiga.

    Ketika matahari hampir terbenam, salah seorang prajurit Romawi melemparkan anak panah dan mengenai Sa’id. Ia pun tersungkur. Hisyam lalu berlari mendekatinya seraya berkata, “Selamat berbahagia! Engkau akan berbuka di istana itu pada malam hari ini. Aduhai, andai saja aku bisa ikut bersamamu.”

    Mendengar itu Sa’id pun tertawa. Kemudian ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kita.”

    Sa’id pun syahid dalam keadaan masih berpuasa. Petang itu, ia berbuka bersama bidadari di surga. Wallahu a’lam.

    (kri/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kaum Sodom, Umat Nabi Luth AS yang Diazab Hujan Batu



    Jakarta

    Islam banyak menceritakan riwayat nabi dan rasul terdahulu beserta umatnya, di antara kisah yang populer adalah tentang Nabi Luth AS bersama kaum Sodom.

    Ibnu Katsir dalam buku Qashash Al-Anbiya menjelaskan bahwa Luth AS merupakan anak dari saudara Nabi Ibrahim AS, yang bernama Haran.

    Kemudian Allah SWT mengirim Luth AS melalui Ibrahim AS ke kota Sodom, ibu kota negeri Gharzaghar. Diutusnya Nabi Luth ke sana untuk menyeru penduduknya yang kala itu termasuk orang-orang paling jahat dan kafir supaya bertaubat dan menyembah-Nya.


    Kaum Sodom begitu diketahui akan kejahatannya lantaran mereka menjalani kehidupan dengan merampok, sodomi hingga mengerjakan maksiat di tempat terbuka. Dan mereka terkenal enggan menghentikan perbuatan mungkarnya itu.

    Umat Luth AS ini pula yang pertama kali melakukan hubungan seks sejenis (homoseksual), yang bahkan belum pernah ada sebelumnya. Penduduk laki-lakinya menolak untuk menikahi (menggauli) kaum wanita dari kalangan mereka.

    Kedatangan Nabi Luth untuk memperingatkan mereka agar beribadah kepada Allah SWT, tetapi tidak ada yang menerima dan beriman. Luth AS juga mengajak mereka meninggalkan kebiasaannya itu, justru membuat kaum Sodom makin menjadi-jadi dengan kesesatan dan kemungkaran mereka.

    Dakwah Luth AS tak membuahkan hasil baik. Penduduk Sodom malah mengusirnya dari hadapan mereka. Lebih dari itu, mereka menantang Nabi Luth untuk mendatangkan azab dan siksa sangat pedih bagi mereka.

    Atas segala peringatan yang telah diberi Nabi Luth, seluruh ajakan akan bertaubat dan beribadah kepada Allah SWT, sampai perlakuan mereka terhadapnya, ketika itulah Luth AS berdoa kepada-Nya agar menolong ia dari kaumnya itu.

    Malaikat Mendatangi Nabi Luth AS dengan Wajah Rupawan

    Allah SWT pun mengijabah doa Luth AS dan meresponnya dengan mengirim utusan mulia dari kalangan malaikat. Mereka menyerupai pria tampan nan rupawan.

    Sebelum menuju kediaman Nabi Luth. Para utusan ini pergi terlebih dahulu ke rumah Ibrahim AS untuk menyampaikan kabar gembira, lalu mengabarkan kepada Nabi Ibrahim pula akan masalah dan bencana besar yang akan ditimpakan kepada Luth AS.

    Setelahnya, rombongan malaikat meninggalkan rumah Ibrahim AS dan langsung menuju negeri Sodom untuk menghampiri kediaman Luth AS. Para malaikat bertamu saat matahari terbenam, tetapi Nabi Luth khawatir jika tamunya tak bisa ia jamu dengan baik.

    Tak ada yang mengetahui kedatangan tamu itu kecuali anggota keluarga Luth AS sendiri. Kemudian keluarlah istri Nabi Luth untuk memberi tahu kaumnya itu, bahwa di rumahnya ada beberapa lelaki yang ketampanannya belum pernah dilihat siapa pun.

    Mendengarnya, bergegaslah penduduk laki-laki kaum Sodom mendatangi rumah Luth AS. Nabi Luth melarang umatnya untuk masuk ke kediamannya, tetapi mereka tetap mendesak dengan berusaha mendobrak pintu rumah. Dari sisi pintu lainnya, Luth AS mencegah dan menasihati mereka.

    Kemudian sebagaimana Surat Hud ayat 81, para malaikat berkata, “Wahai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggumu.”

    Ahli tafsir ada yang menerangkan, malaikat Jibril keluar rumah untuk menemui umatnya Nabi Luth dan segera memukul wajah mereka dengan kepakan sayapya, hingga ada yang mengatakan bahwa mata mereka menjadi buta permanen.

    Akhirnya mereka pulang dengan meraba dinding sambil mengancam Luth AS akan membalas dendam mereka.

    Perintah agar Nabi Luth AS Meninggalkan Negerinya

    Rombongan malaikat yang datang menyampaikan dua perintah kepada Luth AS, memerintahkan beliau dan keluarganya agar pergi meninggalkan kaum dan negeri Sodom itu pada akhir malam, sekitar waktu Subuh.

    Perintah lainnya supaya orang-orang yang Luth AS bawa jangan sampai tertinggal dan menoleh ke belakang. Kemudian dikatakan kepada Nabi Luth untuk berjalan di belakang keluarga dan pengikutnya agar menjadi pelindung bagi mereka.

    Namun Allah SWT di sini mengecualikan istri Luth AS, agar ia tak dibawa serta ketika meninggalkan negerinya. Nama istri Nabi Luth ada yang mengatakan Walihah.

    Menjelang waktu Subuh, Nabi Luth mengajak keluarganya keluar wilayah tersebut. Dan tak lama Subuh tiba dan matahari terbit, Allah SWT pun mengirim azab-Nya kepada kaum Sodom.

    Azab Kaum Sodom: Hujan Batu dan Tanah yang Dibalikkan

    Melalui Surat Hud ayat 82-83, Allah SWT berfirman: “Maka, ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkannya (negeri kaum Lut) dan Kami menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi. (Batu-batu itu) diberi tanda dari sisi Tuhanmu. Siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang zalim.”

    Ibnu Katsir menerangkan maksud ayat di atas, “‘Sijjil’ adalah batu yang sangat keras dan kuat. Adapun ‘mandhud’ artinya bertubi-tubi. Maksudnya, batu yang diturunkan serentak dan susul menyusul dari langit hingga menimpa mereka. Pada setiap batu itu tertulis nama orang yang menjadi sasarannya.”

    Allah SWT mengazab kaum Sodom dengan membalikkan bumi di mana mereka pijak hingga hancur lebur. Juga Dia mengirim hujan batu yang terbakar, keras dan kuat secara bertubi-tubi kepada umat Nabi Luth itu. Yang mana di setiap batunya terdapat nama orang yang menjadi tujuannya.

    Ahli tafsir ada yang menjelaskan, “(Malaikat) Jibril menghancurkan negeri Sodom dengan sayapnya. Negeri itu terdiri atas tujuh kota yang dihuni oleh beberapa orang penduduk. Ada yang mengatakan bahwa jumlah penduduknya 400 jiwa. Ada pula yang mengatakan bahwa jumlahnya 400.000 jiwa, tidak termasuk dengan hewan-hewan yang mereka miliki.

    Penduduk negeri kaum Luth AS itu semuanya diangkat tinggi-tinggi ke langit hingga para malaikat mendengar suara kokok ayam dan gonggongan anjing milik penduduk. Setelah diangkat tinggi-tinggi, negeri itu pun dibalik hingga bagian atas berada di bawah dan bagian bawah berada di atas.”

    Kisah Nabi Luth AS beserta kaum Sodom banyak ditemukan pada ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga peringatan akan kemaksiatan dan kesesatan yang mereka lakukan nyata adanya dan benar akan azabnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Julaibib, Sahabat Nabi yang Dirindukan Bidadari Surga



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW memiliki seorang sahabat yang tak begitu terkenal namun ia dirindukan bidadari-bidadari surga. Ia bernama Julaibib.

    Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam Kitab Mausu’ah min Akhlaq Rasulillah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan, menurut riwayat Abu Barzah Al-Aslami, Julaibib adalah pria dari kalangan Anshar dan seorang dari sahabat nabi.

    Julaibib termasuk sahabat nabi yang mulia. Diceritakan dalam buku Kisah-kisah Inspiratif Sahabat Nabi karya Muhammad Nasrulloh, pernah suatu ketika Rasulullah SAW menanyakan kepada Julaibib kenapa ia tidak menikah.


    Julaibib mengatakan dirinya tidak yakin akan ada wanita yang mau menikah dengannya. Sebab, ia tahu bahwa dirinya bukanlah pria bernasab, tidak rupawan, dan tidak memiliki harta.

    Kisah mengenai Julaibib sebagai sahabat yang dirindukan bidadari surga ini turut diceritakan dalam buku Tarbiyah Cinta Imam Al-Ghazali karya Yon Machmudi dkk.

    Dikatakan, Julaibib merupakan nama yang tidak biasa di kalangan bangsa Arab, namanya juga tidak lengkap dan tidak bernasab. Julaibib terlahir tanpa tahu siapa kedua orang tuanya.

    Semua orang pun tak tahu atau tak mau tahu tentang dia, tentang nasabnya, atau dari suku apa ia berasal.

    Tampilan fisiknya membuat tak ada yang mau berdekat-dekatan dengannya. Wajahnya jelek, posturnya pendek dan bungkuk, kulitnya hitam, miskin, pakaiannya lusuh, dan kakinya pecah-pecah karena tak beralas.

    Julaibib adalah orang yang tidak diharapkan. Namun, bila Allah SWT berkehendak menurunkan kasih sayang-Nya, tak ada yang kuasa menghalanginya.

    Allah SWT memuliakan Julaibib dengan hidayah, yang semula hina di antara penduduk bumi menjadi mulia di antara penduduk langit.

    Julaibib selalu berada di shaf terdepan dalam salat dan jihad. Meski kebanyakan orang tetap menganggapnya tiada, tapi tidak dengan Rasulullah SAW yang selalu menunjukkan perhatian dan cinta kepada umatnya.

    Julaibib yang tinggal di selasar Masjid Nabawi suatu hari ditegur oleh Rasulullah SAW, “Julaibib, tidakkah engkau menikah?” lembut suara Nabi SAW memekarkan bunga jiwa Julaibib.

    “Siapakah orangnya, ya Nabi, yang mau menikahkan anaknya dengan diriku ini?” Julaibib menjawab dengan senyuman. Tidak ada kesan ia menyesali dan menyalahkan takdir. Rasulullah juga tersenyum, dan ia kembali menanyakan hal yang sama kepada Julaibib hingga tiga hari berturut-turut.

    Pada hari ketiga itulah Rasulullah SAW mengajak Julaibib ke rumah salah satu pemimpin Anshar. Betapa bahagianya tuan rumah menerima kunjungan kehormatan dari sang Nabi Allah SWT.

    “Aku ingin menikahkan putri kalian,” kata Rasulullah SAW kepada pemilik rumah.

    “Masya Allah, alangkah indah dan berkahnya. Duhai betapa kehadiranmu akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami”, si wali mengira bahwa Rasulullah akan meminang anak gadisnya.

    “Bukan untukku,” aku pinang putrimu untuk Julaibib” kata Rasulullah SAW.

    Ayah sang gadis tentu sangat terkejut mendengarnya, sedang istrinya berseru, “Dengan Julaibib? Bagaimana mungkin? Julaibib yang jelek dan hitam, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah, tidak! Tidak akan pernah anak kita menikah dengannya!”

    Sementara itu, anak gadisnya yang mendengar percakapan mereka dari balik tirai angkat bicara. Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan segalanya.

    Ia menerima pinangan dari Rasulullah SAW dan setuju untuk menikah dengan Julaibib. Cintanya kepada Allah SWT ditunjukkan dengan taat dan patuh kepada Rasul-Nya.

    Namun, kebersamaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Julaibib harus gugur saat berperang dan Rasulullah SAW sangat kehilangan.

    “Apakah kalian kehilangan seseorang?” kata Rasulullah SAW usai pertempuran.

    “Tidak, ya Rasulullah,” serempak para sahabat menjawab.

    “Apakah kalian kehilangan seseorang?” kata Rasulullah SAW bertanya lagi. Wajahnya mulai memerah.

    “Tidak, ya Rasulullah,” Sebagian sahabat menjawab dengan ragu dan was-was, beberapa melihat sekeliling dan memastikan tidak kehilangan seseorang.

    Terdengar helaan nafas yang berat, “Aku kehilangan Julaibib, carilah Julaibib!” kata beliau.

    Para sahabat tersadar dengan sosok yang dicari Rasulullah SAW, akhirnya mereka menemukan Julaibib. Ia gugur penuh luka, di sekitarnya terdapat tujuh musuh yang telah ia bunuh. Rasulullah SAW dengan tangannya sendiri mengkafani Julaibib dan mensalatinya.

    Julaibib telah lama dirindukan oleh para bidadari surga, meski di dunia ia memiliki istri yang salihah. Julaibib lebih diperhatikan oleh penduduk langit daripada penduduk bumi.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Dijuluki Singa Allah, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Hamzah bin Abdul Muthalib namanya. Sosok sahabat Nabi Muhammad yang satu ini merupakan paman sekaligus saudara sepersusuan beliau.

    Mengutip dari buku 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur’an oleh Ridwan Abqary, tahun kelahiran Hamzah dan Rasulullah SAW hampir sama karena usia keduanya tidak jauh berbeda. Hamzah dikenal sebagai sosok pemberani dan mahir dalam berperang.

    Karenanya, banyak kaum Quraisy yang takut terhadap Hamzah. Bagaimana tidak? Hamzah dikenal sebagai sosok yang tidak segan mengajak berkelahi siapapun, meski lawannya adalah pemuka dari kaum Quraisy.


    Dijelaskan dalam buku 40 Sahabat Nabi yang Memiliki Karamah karya Abdul Wadud Kasyful Humam, Hamzah merupakan anak kedua Abdul Muthalib dengan Haulah binti Wuhaib dari bani Zuhrah. Ia memiliki saudara dari istri yang berbeda berjumlah 16 dengan rincian sepuluh laki-laki dan enam perempuan.

    Hamzah merupakan sosok yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Saking sayangnya beliau kepada Rasulullah, tak ada satu hari pun Hamzah tidak melindungi Nabi SAW.

    Tidak ada seorang pun yang Hamzah biarkan menghina atau menganiaya keponakannya itu. Jika nekat, maka orang tersebut harus berhadapan dengan Hamzah.

    Pembelaan Hamzah kepada Rasulullah dibuktikan ketika ia mendengar Abu Jahal menghina dan mengejeknya. Mengetahui hal itu dari seorang budak perempuan yang melaporkan kepada Hamzah.

    Apa yang Hamzah perbuat? Meledaklah amarahnya. Ia lantas mendatangi Abu Jahal yang tengah mengadakan pertemuan dengan para pemuka Quraisy.

    Tidak peduli akan situasi, dengan satu tarikan tangan diseretnya Abu Jahal dari tengah-tengah kaumnya. Wajah Abu Jahal menjadi pucat pasi melihat siapa yang datang dan berlaku kasar kepadanya.

    “Berani sekali engkau sudah bertindak keji pada saudaraku, Muhammad!” teriak Hamzah.

    Setelah itu, dipukulnya Abu Jahal dengan keras hingga darah mengalir dari pelipisnya. Berkali-kali Hamzah memukul pria itu di depan para kaum Quraisy.

    Pemuka Quraisy yang turut hadir di sana merasa kaget dan ketakutan. Hamzah terlihat sungguh-sungguh akan ucapannya.

    “Sekarang, kalian tahu bahwa aku berada di pihak Muhammad!” ujarnya ketus sebelum meninggalkan kaum Quraisy.

    Sejak saat itu, Hamzah menyatakan keislamannya di depan Rasulullah. Ia selalu mendampingi dan melindungi Nabi SAW ke manapun ia pergi.

    Karena keberaniannya itulah Hamzah memperoleh julukan “Singa Allah dan Rasul”. Sayangnya, Hamzah wafat karena salah seorang yang bernama Hindun memiliki dendam yang amat kuat terhadapnya.

    Ketika Hamzah turut serta dalam Perang Badar, ia membunuh banyak musuh salah satunya ayah dari Hindun. Sebab itu, ketika Perang Uhud pecah, Hindun dengan rencananya yang matang berusaha membunuh Hamzah, ia menyewa budak yang bernama Wahsyi.

    Wahsyi lalu membidik tombaknya ketika Hamzah lengah. Akibatnya, Hamzah tewas seketika hingga membuat Rasulullah dan kaum muslimin berduka.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Wanita yang Diabadikan Al-Qur’an, Terkenal karena Durhakanya



    Jakarta

    Al-Qur’an memuat banyak riwayat yang mengandung hikmah. Di antaranya ada yang mengabarkan tentang wanita pilihan, seperti yang dikenal karena kedurhakaannya. Siapa saja?

    Dr. Mushthafa Murad melalui bukunya Mi’ah Qishshah min Hayah Al-Shalihin wa Al-Shalihat menyebut terdapat beberapa nama wanita durhaka yang diabadikan dalam Al-Qur’an beserta kisah yang menyertainya.

    1. Istri Nabi Nuh AS

    Di antara orang yang tak mengimani dan mengikuti dakwah Nuh AS adalah istrinya. Ketika azab berupa banjir bandang menimpa kaum Nuh AS, istrinya itu ditelan banjir bandang bersama orang-orang yang tidak beriman lain-nya. Dia binasa bersama dengan mereka yang binasa.


    Istri Nuh AS tersebut diketahui merupakan wanita yang melahirkan empat anak Nabi Nuh, yaitu Ham, Sam, Yafis, dan Yam. Nama anak Nuh AS lainnya yang disebut Kan’an, ikut tertelan azab banjir besar tersebut.

    Riwayat Nuh AS banyak diabadikan Al-Qur’an dalam sejumlah ayatnya. Meski demikian, kabar terkait Istri Nabi Nuh yang kufur itu diberitakan Al-Qur’an melalui Surat At-Tahrim, yakni ayat 10:

    “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Luth.keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang sholeh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

    2. Istri Nabi Luth AS

    Istri Luth AS dikenal membangkang kepada Allah SWT dan enggan mengikuti dakwah suaminya itu. Ia diketahui malah bersekongkol dengan kaum Sodom dan memberitahukan kepada mereka bahwa Luth AS kedatangan tamu berwajah tampan.

    Tamu-tamu itu sebenarnya adalah para malaikat yang Allah SWT kirim kepada Luth AS dengan menyerupai manusia. Mereka datang untuk mengabarkan azab yang akan menimpa bangsa Sodom akibat perbuatan mereka sebelumnya, yakni tanah yang terbalik dan hujan batu terbakar yang bertubi.

    Para malaikat utusan Allah SWT itu menyuruh Luth AS membawa keluarga dan pengikutnya yang beriman untuk pergi dari kotanya itu di akhir malam. Mereka juga memberitahu Luth AS untuk meninggalkan istrinya karena ia termasuk orang kafir.

    Lantaran istri Luth AS telah menyebarkan info kedatangan tamu tampan, yang kemudian membuat penduduk Sodom berbondong-bondong menghampiri rumah dan mendesak untuk masuk dengan mendobrak pintu rumah.

    Diketahui Allah SWT mengutus Luth AS ke kota Sodom, ibu kota negeri Gharzaghar, karena penduduknya termasuk orang-orang paling jahat dan kafir supaya bertaubat dan menyembah-Nya.

    Kala itu, kaum Sodom begitu dikenal dengan kejahatannya seperti merampok, sodomi hingga mengerjakan maksiat di tempat terbuka. Dan mereka terkenal enggan menghentikan perbuatan mungkarnya itu.

    Mereka ini pula yang pertama kali melakukan hubungan seks sejenis (homoseksual), yang bahkan belum pernah ada sebelumnya. Penduduk laki-lakinya menolak untuk menikahi (menggauli) kaum wanita dari kalangan mereka.

    Istri Luth AS yang berkhianat ini diabadikan Al-Qur’an dalam sejumlah ayat, di antaranya pada Surat Al-A’raf ayat 83: “Maka, Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk (orang-orang kafir) yang tertinggal.”

    Dalam Surat An-Naml ayat 57 dikatakan, “Kami menyelamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan (istri)-nya termasuk (orang-orang kafir) yang tertinggal.”

    Juga melalui Surat Al-Ankabut ayat 33 dikabarkan, “Ketika para utusan Kami datang kepada Luth, ia sedih karena (kedatangan) mereka dan merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melindunginya. Mereka pun berkata, “Janganlah takut dan jangan sedih. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu. Dia termasuk (orang-orang kafir) yang tertinggal.”

    Itulah kisah dua wanita durhaka yang diceritakan dalam Al-Qur’an.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kala Nabi Muhammad dan Para Sahabat ‘Mudik’ ke Makkah



    Jakarta

    Pulang kampung atau mudik menjadi tradisi tahunan yang dilakukan masyarakat menjelang akhir Ramadan. Tujuannya sendiri untuk berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman sambil menikmati momen Idul Fitri.

    Sebagai tradisi yang mengakar pada masyarakat muslim Indonesia, banyak dari mereka yang berbondong-bondong melakukan persiapan untuk pulang ke kota asalnya. Nah, berkaitan dengan itu, Rasulullah SAW ternyata juga pernah melangsungkan ‘mudik’.

    Mengutip dari buku Pengantin Ramadan tulisan Muchlis Hanafi, mudiknya Rasulullah ke Makkah berlangsung hingga 19 hari. Beliau bersama para sahabatnya pulang ke Makkah setelah 8 tahun meninggalkan kota tersebut.


    Meski konteksnya berbeda dengan mudik yang dilaksanakan kaum muslim Indonesia, Nabi SAW dan sahabatnya melakukan mudik untuk menaklukkan Makkah atau Fathu Makkah. Dengan demikian, ia tidak hanya sekadar mengunjungi kampung halamannya.

    Fathu Makkah merupakan peristiwa pembebasan Makkah yang berlangsung pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi. Rasulullah SAW memimpin dan berjuang bersama kaum muslimin. Menurut Susmihara dan Rahmat dalam Sejarah Islam Klasik, peristiwa tersebut disebabkan adanya pelanggaran-pelanggaran kaum Quraisy terhadap perjanjian damai Hudaibiyah.

    Rasulullah bersama para sahabat merayakan Hari Raya Idul Fitri ke-6 di Makkah yang tak lain merupakan kota kelahirannya. Disebutkan pada laman NU Online, beliau membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin.

    Bagaimana tidak? Nabi SAW bahkan memaafkan semua musuh-musuhnya yang dahulu menentang dakwah Islam. Selain itu, Rasulullah juga menghancurkan seluruh berhala di Kakbah yang menjadi sesembahan warga Makkah.

    Jika ditotal, jumlah berhala yang Nabi Muhammad musnahkan mencapai 360 buah. Ini termasuk tiga berhala terbesar, yaitu Hubal, al-Latta, dan al-Uzza.

    Dijelaskan oleh Marting Ling dalam bukunya yang berjudul Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Rasulullah mengumumkan bahwa setiap orang di seluruh kota yang memiliki berhala di rumahnya agar segera dihancurkan. Setelah menyelesaikan urusannya di Makkah, Nabi SAW kembali ke Madinah.

    “Tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Makkah, yang ada tinggal niat tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya),” (HR Bukhari dan Muslim).

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com